Cieeee yang nunggu sebulan akhirnya update juga #dezigh

Baca pelan – pelan kawan..

Dan jangan lupa baca Penjelasan SIngkat dan Note Author

Semoga kalian suka

.

.

Sehun tersenyum pelan saat Joonmyeon memberikannya secangkir teh panas. Saking panasnya asapnya mengepul dengan begitu tebalnya. Sehun tidak mau lidahnya melepuh jadi ia menghembuskan angin utara. Tapi sebelum Sehun menyesap tehnya ia menemukan Joonmyeon duduk tepat disampingnya.

"Ayah tidak bergabung dengan mereka?" Sehun menatap Joonmyeon yang tengah menyeruput pelan teh panasnya.

Mereka maksud Sehun adalah Yifan dan cucu perempuannya. Tepatnya seorang wanita yang terlihat sangat tangguh dan mengagumkan dalam waktu yang bersamaan. Sehun yang sudah memiliki Yixing saja betah memandang wajah wanita itu.

"Tidak, mereka sedang asyik mengobrol."

Sehun sebenarnya sejak tadi duduk sendirian di beranda yang menghadap taman. Ini lebih tepat disebut perkebunan mungil milik Joonmyeon. Satunya lagi memiliki ketertarikan yang berbeda, ayah mertuanya yang senang dipanggil Dady itu merupaka pria pencinta furniture. Saking sukanya, Daddynya itu sampai berpikir untuk meletakkan bangku ayunan yang cukup lebar di tengah-tengah perkebunan pasangannya. Dan kebetulan kedua orang yang tidak bisa dibayangkan sebagai kakek dan cucu itu tengah berinteraksi di bangku ayunan favorit kedua setelah sofa ruang tengah Yifan.

"Dia jadi yang paling cantik disini." Joonmyeon melirik Sehun yang menganggukkan kepalanya. Sehun setuju karena memang hanya dia wanita yang ada di rumah ini. Yang lainnya bergender pria.

Tapi tanpa sadar Sehun tersenyum kecil melihat interaksi antara kakek muda dengan cucuknya itu. Keduanya seolah menikmati perannya sebagai seorang kakek dan seorang cucu.

"Aku seperti melihat kakek berumur 70 tahunan yang tengah mendengar ocehan cucu mungilnya." Sehun sebenarnya tidak bermaksud melucu. Tapi Joonmyeon malah tertawa dengan keras. Untungnya Joonmyeon belum menyeruput teh panasnya lagi.

"Sehun!" ini suara panggilan Yixing. Saking menggelegarnya suara Yixing hingga membuat Sehun dan Joonmyeon refleks menengok dengan gerakan sangat cepat. "Aku harus menemui Asclepius (Dewa Pengobatan)."

"Aku rasa kau juga akan menemui para Algea (kelompok dewa pembawa rasa sakit)," Sehun menatap Yixing dengan tampang cemberut hingga Joonmyeon ikut mengerutkan dahinya. Keheranan. "Aku juga harus menemui para Anemoi (empat dewa angin)."

Joonmyeon mengerti Sehun cemberut karena Sehun ingin ikut dengan Yixing. Sayangnya Sehun sudah punya janji. Joonmyeon jadi ingat hanya pasangan ini yang memiliki kekuatan bersumber lebih dari satu dewa. Dan Yixing satu-satunya Anchis yang mendapatkan kekuatan dari dua hal yang bertentangan penyembuh dan penderitaan.

"Xing, kau jangan terlalu dekat dengan para Algea ya?" Joonmyeon jelas mengatakannya dengan hati-hati. Takut Yixing tersinggung. Tapi ternyata Yixing hanya tertawa mendengarnya.

Mau bagaimana lagi, Joonmyeon kan hanya khawatir. Dulu Yixing itu menakutkan bukan main karena kekuatannya. Untungnya Yifan bisa membujuk Asclepius untuk memberikan sebagian kekuatannya untuk Yixing. Sayangnya, yang Joonmyeon tahu Yixing itu sangat akrab dengan para Algea bahkan sebelum bertemu dengan saudara dan kedua ayahnya ini.

"Aku hanya akan bertemu dengan Asclepius," Yixing sempat mengangguk, ceritanya ia ingin terlihat menjadi anak baik yang menuruti perkataan orang tuanya. "Bagaimana kalo kita pergi bersama?" Kini Yixing menatap Sehun yang tengah merenggut.

Oh! Yixing harus mengatasi semuanya sekaligus. Sehun yang merajut dan Joonmyeon yang siap-siap akan menceramahinya. Sebelum Joonmyeon membuka mulutnya. Yixing langsung menarik Sehun untuk berdiri.

"Daddy! Rebecca! Kami pergi dulu ya!" saking kerasnya teriakan Yixing. Joonmyeon sampai menutup telinganya. Yixingnya sendiri tampak tak berdosa dan melambaikan tangannya dengan semangat.

"Hati-hati Om!" Rebecca rupanya tak kalah keras berteriak.

Dan sampai kapan pun Yixing terutama Sehun tidak akan pernah terbiasa dipanggil seperti itu oleh Rebecca. Karena Rebecca merupakan salah satu tetua dan rentan umur mereka sangatlah jauh.

.

.

.

Berbeda dengan Zitao yang panas dingin. Kyungsoo malah tampak menikmati winenya dengan santai, seolah si pria bertubuh mungil ini tidak peduli dengan suasana hati pasangannya. Meski pun awalnya Kyungsoo terkejut setengah mati, setelah Zitao bercerita bahwa ia memiliki kekasih yang sudah bersuami dan memiliki dua anak. Padahal Kyungsoo pikir kekasih Zitao itu wanita muda yang sangat cantik. Oh ayolah~ Zitao itu memiliki wajah tampan kan?

Tapi untuk kali ini Zitao panas dingin bukan karena takut Kyungsoo marah padanya. Zitao hanya memiliki berbagai bayangan reaksi Kyungsoo saat bertemu dengan Bakehyun dan Suaminya.

"Bastet (Dewi Kucing)!" mulut Kyungsoo langsung menganga dengan lebar. Jelas sekali Kyungsoo kehilangan kata-katanya. "Ptah juga?!" namun Kyungsoo langsung membekap mulutnya. "Maaf maksudku Tartaros."

Kyungsoo jadi lumayan mengerti kenapa Zitao mengajaknya bertemu dengan kedua orang yang sebenarnya bukan orang ini di sebuah restoran yang memiliki fasilitas VVIP.

"Kau kok jadi mungil begini sih?" Tartaros tidak bisa untuk tidak terdengar seperti mencemooh. "Kau beneran Anubis (Dewa Anjing Hitam)?" Kali ini bahkan Tartaros terlihat meragukan pria mungil yang langsung menatapnya dengan tajam.

"Sembarangan!" sewot Kyungsoo. Awalnya Kyungsoo ingin membalas perkataan Tartaros tapi ada yang aneh dengan seseorang disamping Tartaros. "Eee.. Batet, sejak kapan kau berubah jadi pria?" Kyungsoo menatap Baekhyun dengan terperangah. Soalnya dulu ia memiliki suatu hubungan juga dengan Bastet sebelum akhirnya Bastet menikah dengan Ptah (Dewa Banteng).

"Dan Zitao.." Kyungsoo langsung menatap Zitao dengan penasaran. "..kekasihmu itu yang mana?"

"Bastet lah!" bukan hanya Zitao yang berseru dengan sewot, Tartaros juga.

Dan itu membuktikan bahwa hubungan Tartaros dan Zitao tidak cukup baik. Ya, bagaimana bisa baik jika salah satunya berselingkuh terang-terangan dengan suaminya. Suami~ rasanya kepala Kyungsoo mendadak nyut-nyutan hanya karena Bastet berubah jadi pria.

"Gila~ ini pertemuan paling gila yang pernah aku temui," Kyungsoo tampak memijat pelipisnya dengan pelan. "Suami!" Kyungsoo jelas menunjuk Tartaros yang tampak bengis. "Selingkuhan!" wajah Zitao tidak kalah kusutnya. "Mantan!" Kyungsoo tentu menunjuk dirinya sendiri. "Dan pelaku transgender!" Kyungsoo tertawa saat Baekhyun melotot dengan mata kucingnya. "Bercanda~ cantik!"

Namun sayangnya guyonannya itu tidak mencairkan suasan yang suram. Ini bukan sekedar masalah perselingkuhan. Kyungsoo tahu itu. Ini pasti masalah yang lebih besar. Bisa jadi kejadian masa lalu kembali terulang lagi. Kyungsoo langsung menghela nafas dengan keras.

"Aku tahu, ini bukan tentang perselingkuhan biasa," Kyungsoo yang biasanya terlihat santai kini terlihat begitu sangat serius. Meski bertubuh mungil dan berwajah cukup imut. Aura Anubinya cukup membuat ketiganya tersentak kaget. Hingga Tartaros si Dewa Penguasa Alam Bawah dari Barat tampak sungkan untuk menatap langsung mata Dewa Kematian dari Timur Tengah. "Jelaskan padaku sekarang juga, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?!"

.

.

.

"Opung!"

Seruan Rebecca disampingnya membuat Yifan yang sejak tadi melamun langsung tersadar. Dengan perhatian penuh dan senyuman hangat, Yifan langsung menatap Rebecca. Seolah bertanya Ada apa, sayang?

"Opung percaya dengan Alien?" pertanyaan Rebecca tentu membuat Yifan kebingungan. Beberapa detik sebelum menggelengkan kepala, Yifan sempat menatap Rebecca dengan tatapan kosong. Ekspresi tertolol yang paling membuat Joonmyeon gemas. "Aku pecaya!" Rebecca yang begitu semangat membuat Yifan ikut bersemangat.

"Coba jelaskan pada Opung!"

Dan ngomong-ngomong tentang Opung. Wajah Yifan itu masih pantas untuk dipanggil 'oppa' loh! Jadi.. rasanya ia begitu sangat tua jika dipanggil Opung. Tapi Rebecca juga merasa dianggap seperti anak kecil berumur lima tahun oleh Yifan. Meski demikian, Rebecca tetap menikmati cara Yifan menunjukkan perhatiannya.

"Manusia itu alien." Lagi, untuk sekian kalinya Rebecca membuat Yifan menunjukkan ekspresi colohoknya (red. bengong). Sebelum Yifan bertanya, Rebecca langsung menyela dengan nada antusias. "Opung ingat cerita Adam dan Eve?"

"Manusia pertama?"

Rebecca langsung mengangguk dengan bersemangat.

"Alien itu sebutan untuk makhluk asing diluar Bumi," Rebecca sudah bersiap-siap bercerita panjang lebar dan Yifan pun juga sama siapnya menjadi pendengar. "Adam dan Eve dulunya tidak lahir dan hidup di bumi, mereka hidup bahagia di luar Bumi, namun karena mereka membuat Tuhan murka, akhirnya Adam dan Eve dijatuhkan ke bumi."

"…" Yifan mengerjapkan matanya dengan cepat. Kentara sekali tengah mencerna kata-kata cucunya yang ternyata tak terlalu panjang kali lebar kali tinggi.

"Berarti manusia itu alien kan Opung?" tanya Rebecca dengan nada memaksa. "Karena kakek dan nenek moyang manusia sebenarnya juga pendatang."

"Masuk akal." Gumam Joonmyeon yang tiba-tiba duduk disamping Rebecca dan membuat bangku ayunan itu berayun agak keras.

Rebecca tersenyum bukan hanya karena Joonmyeon setuju dengan pendapatnya tapi juga karena Joonmyeon memberikannya secangkir teh hangat. Cara menikmati liburan yang menyenangkan.

"Tapi Opa penasaran dengan ayahmu," Joonmyeon tahu Rebecca tengah menikmati teh buatannya. Dan Joonmyeon juga tahu Rebecca tentu mendengar pekataannya dengan jelas. "Dulu ayahmu juga pernah jadi buronan para Dewa Dewi sampai akhirnya bersembunyi dibelakang Gaia (Dewi Bumi)."

"Apa yang ingin Opa tanyakan?" Rebecca sengaja memanggil Joomyeon dengan sebutan Opa supaya tidak membuat keduanya bingung hanya karena masalah sebutan.

"Kenapa Dewa dan Dewi itu mengejar ayahmu?"

"Perebutan wilayah kekuasaan." Rebecca tanpa ragu-ragu menjawabnya dengan tenang. Berbanding terbalik dengan Yifan dan Joonmyeon yang terlihat kebingungan. Namun Rebecca malah menujukkan telapak tangannya. Hal yang tidak terduga terjadi, telapak tangan Rebecca tiba-tiba dipenuhi air jenih yang langsung merembes dan mengalir melewati sela-sela jarinya. "Wilayah Timur-Tengah yang ingin dikuasai oleh Penguasa Wilayah Barat." Rebecca menghela nafas dengan suram. "Hal itu terjadi saat para Titan memimpin daerah Barat."

Sepertinya ini merupakan cerita terpanjang yang akan Rebecca ceritakan..

.

.

.

Minseok meletakkan kopi tepat dihadapan Luhan yang selalu mengunjunginya di tempat kerja. Luhan tersenyum saat Minseok tampak menatap Luhan dengan tatapan terganggu. Luhan memang tidak sememaksa dulu tapi keposesifan Luhan semakin terasa.

"Kekasihmu mengunjungimu lagi?" Bos yang lumayan akrab dengan Luhan tampak menggoda Minseok yang baru saja menaruh pesanan Luhan. "Dan kenapa pada akhirnya dia tidak meminum minumannya?"

"Karena dia tidak bisa meminumnya." Jawab Minseok seadanya dan itu cukup membuat Bossnya yang hobi menggonta-ganti mudel kaca mata itu termenung.

"Terserah!" seru Bossnya itu dengan riang sambil menghampiri Luhan. "Dia yang bayar, aku yang minum."

"Dan aku yang membuat." Sungut Minseok dengan nada sedikit kesal.

Waktunya untuk istirahat. Dan Minseok makan siang dan duduk disamping Luhan yang tengah mengobrol dengan Bossnya itu. Ini hari libur, jadi ia menjadi pelayan café seharian.

"Sepertinya kau itu sangat menyukai Minseok." Sebenarnya Boss Kacamata ini bermaksud menggoda Minseok. Omong-omong tentang nama. Minseok sampai saat ini juga tidak tahu siapa nama asli Bossnya ini. Yang ia tahu hanyalah pria berumur setengah abad ini dipanggil Boss Kacamata.

"Aku tidak menyukainya." Luhan menjawabnya dengan sangat lugas hingga membuat Minseok sendiri tersentak kaget. Boss kacamata pun tampak menatap keduanya dengan serba salah. "Aku mencintainya."

Maafkan Minseok jika dia melakukan hal yang kelewat tidak sopan. Menyemburkan makan siangnya tepat dihadapan Bossnya sendiri. SIal, Luhan mau sampai kapan menggombali Minseok yang suka mendadak merinding jika mendengar rayuan. Apa lago kalau yang mengatakannya itu orang macam Luhan yang kadang sok kecakepan.

"Miriplah~" Boss Kacamata itu sendiri tampak sedikit kesal dengan perkataan Luhan. Maklum sampai sekarang, pria ini masih saja tak memiliki pasangan hidup.

"Bedalah~" sewot Luhan. Boss Kacamata itu tampak menatap Luhan dengan dahi berkerut. "Layaknya bunga, jika kau menyukainya kau hanya akan memetiknya, tapi jika kau mencintai bunga tersebut kau akan memberikannya air setiap hari."

"Siapa yang mengerti ini, akan mengerti arti dari kehidupan." Sambung Minseok yang membuat Luhan terperangan. "Itu ajaran Buddha kan?"

Luhan mengangguk saat Minseok tersenyum miring. Dan hal itu membuat Boss Kacamata itu langsung menyingkir. Rasanya menyebalkan menjadi penonton dari cerita percintaan anak muda.

"Tahu dari mana?"

"Quote dari Facebook." Jawab Minseok pelan.

Ekspresi Luhan saat ini? Tertawa sampai terbahak-bahak. Mau tidak mau Minseok juga tertawa pelan. Itu merupakan Quote yang tidak sengaja ia baca dari status penulis favoritnya Paulo Coelho. Luhan tanpa sadar menghela nafas pelan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat Minseok tertawa. Dan kini mereka tengah tertawa bersama.

"Kau banyak berubah." Ucapan Luhan cukup membuat Minseok menghentikan tawanya.

"Kau juga." Untuk kali ini Minseok mengatakannya sambil tersenyum dengan sebegitu lebarnya.

Itu kesalahan pertama Minseok yang membuat Luhan tidak kuat untuk menahannya. Tapi Minseok entah kenapa tidak terlalu terkejut. Saat Luhan meraup bibirnya dengan bibir lembut Luhan. Oh! Minseok cukup terkejut saat mengetahui bibir Luhan sangat lembut. Ia sempat berpikir jika bibir Luhan mungkin akan sekeras bongkahan batu. Luhan tengah menikmati arumanisnya yang langsung melumer di mulut dan kerongkongannya. Sayangnya Minseok hanya diam tidak membalas maupun menolak. Berkat itu juga Luhan tidak terlalu lama mengulum bibir bawah Minseok.

"Berikan aku alasan yang tepat, kenapa kau menciumku?" tanpa basa basi sama sekali dan tanpa terlihat kikuk sama sekali. Minseok langsung bertanya dengan tatapan tajam meski tidak ada kilatan marah dari matanya.

"Ciuman adalah bahasa dari cinta." Luhan kini tampak mengusap pelan bibir bawah Minseok yang mengkilap.

Minseok tampak berpikir pelan sebelum bertanya..

"Jadi.. bagaimana dengan sebuah percakapannya?"

Mata Luhan membulat sedangkan Minseok malah tertawa terbahak-bahak. Luhan bingung, Minseok menggodanya atau hanya memancingnya saja. Bisa jadi ini kesalahan selanjutnya yang dilakukan Minseok. Jika ciuman sebuah bahasa maka percakapan itu..

"Minseok! Kerja!" teriakan Boss Kacamata itu membuat imajinasi Luhan buyar. Minseok masih tertawa sedangkan Luhan hanya merenggur pura-pura marah. Satu hal lagi yang diketahui Luhan tentang Minseok. Minseok suka juga mengerjai orang.

.

.

.

Semua Anchis dan makhluk berumur panjang di dunia ini tahu permasalah para penguasa yang senang dipanggil Dewa dan Dewi. Namun untuk lebih terperincinya lagi, Zitao hanya berani berdiskusi dengan Yixing. Hal ini dikarenakan hanya Yixing satu-satunya yang tidak terikat dengan dewa utama. Meski Yixing diberikan kekuatan lebih dari dua dewa sekaligus. Setidaknya dewa personifikasi tidak bisa berhubungan langsung dengan Yixing. Meskipun Yixing mendapatkan kekuatan dari sebagian kekuatan mereka. Sama halnya dengan Zitao yang mencuri salah satu kekuatan Dewa.

"Bisa jadi Anchis memang hanya sebuah alat." Ucap Asclepius (Dewa Pengobatan) sambil merebahkan tubuhnya diatas padang rumput yang luas.

Yixing hanya menggeram kesal meski akhirnya ikut merebahkan tubuhnya disamping dewa sekaligus sahabat dekatnya. Mereka tengah bersantai di halaman depan rumah Dewa Pengobatan ini. Tapi Yixing baru sadar jika akhirnya bisa merasakan tekstur rumput hijau yang masih segar dengan telapak tangannya. Oh! Block Blood tak selalu mengerikan rupanya.

Sahabat dekatnya ini memang sedari dulu mejadi dokter umum. Memiliki klinik umum yang sepi pelanggan karena penampilannya yang tidak karuan. Rambut pirang panjang sepinggang yang diikat asal. Kemeja putih lengan panjang, dua kancing atasnya tidak dikacing, lengannya pun tidak digulung maupun dikancing. Dan celana kain hitamnya itu makin membuat orang tak percaya jika dia seorang dokter. Padahal tampangnya lumayan tapi janggutnya itu loh yang membuat orang gemas ingin mencukur habis.

"Aku dengar, dulu Bumi memiliki fungsi sebagai wilayah netral, layaknya OASIS di padang pasir. " Yixing bertanya sambil menatap langit yang tertutup awan tipis.

"Dunia ini memiliki beribu-ribu galaksi yang saling berhubungan, disetiap galaksi setidaknya ada satu planet yang memiliki sumber daya berlimpah," jelas Asclepius. "Siapa pun yang ingin beristirahat boleh menetap di pelanet tersebut dengan syarat planet itu merupakan tempat netral."

"Sayangnya galaksi kalian musnah," Yixing menyambung diskusi mereka dengan begitu santai. "Lalu kalian datang dan berlagak menjadi Dewa dan Dewi."

"Penguasa Timur Tengah juga seperti itu. Lagi pula manusia juga pendatang, meski katanya karena mereka diusir." Celetukan Asclepius membuat Yixing mendengus. Manusia itu makhluk berumur pendek yang memiliki daya produksi yang tinggi. Lahir dan mati hanya dalam kurun waktu yang begitu sangat mengagumkan.

"Mereka memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, pengganti makhluk bumi sebelumnya," ucap Yixing dengan nada mengantuk. Kalau rebahan macam ini, ia bisa terlelap tidur hanya dalam sekejab. "Kau tahu mereka menggantikan siapa?"

"Siapa?"

"Bangsa Nisnas." Yixing tahu Asclepius akan tertawa mendengar bangsa tersebut.

"Bangsa yang terkenal akan kejeniusannya tapi kejeniusannya pula yang membuat Bumi hampir hancur."

"Dan mereka jadi penguasa wilayah Utara sekarang." Yixing tidak bermaksud mengejutkan Asclepius. Karena Yixing pikir Asclepius sudah tahu. Hingga Asclepius terduduk dan menatap Yixing dengan mata membulat. "Kenapa?" tanya Yixing dengan nada bingung.

"Apa yang kau rencanakan?" tanya Asclepius dengan tatapan tajamnya.

"Membuat pasukan untuk menghentikan Penguasa Barat."

"Kau akan menghancurkan Penguasa Barat?" Asclepius bertanya dengan nada frustasi karena dirinya merupakan salah satu keturunan Penguasa Wilayah Barat. "Jangan main-main dengan kami Xing!"

"Kami tidak main-main, ini harus dilakukan sebelum bangsa kalian menghancurkan Bumi persis seperi Bangsa Nisnas." Yixing tahu Asclepius merupakan orang yang bisa diajak bicara baik-baik. Ia mengatakan hal ini bukan untuk mengajak sahabat baiknya ini bergabung dengannya. Yixing hanya ingin menunjukkan rasa hormatnya sebagai murid. "Kau tahu betul sifatku, aku tidak mungkin menghancurkan Bangsa Kalian, aku hanya melindungi yang lain."

"Kau tidak punya hak atas itu."

"Aku punya, bukan.. kami punya" jawab Yixing dengan nada tajam. "Kami para Anchis, salah satunya memiliki pasangan dari Penguasa Timur Tengah, kami juga sebagaian besar merupakan murid dan memiliki kontrak dengan Penguasa Barat salah satunya merupakan satu-satunya murid dari pemimpin Penguasa Barat pertama, dan salah satu dari pasangan Anchis merupakan keturunan asli Penguasa Selatan."

"Siapa Penguasa Wilayah Selatan?" tanya Asclepius dengan penasaran.

"Bangsa Lemuria." Yixing kini melirik Asclepius yang tengah mengangguk dengan takzim. "Dibandingkan Penguasa Barat dan Timur Tengah, Penguasa Utara dan Selatan lebih suka disebut Bangsa dari pada Dewa Dewi." Sindir Yixing yang tidak berefek apa pun pada Asclepius.

"Lagi pula ini terjadi karena kesempronoan Tartaros," keluh Asclepius yang membuat Yixing terkikik. Yixing cukup setuju sebenarnya. Tapi Yixing tahu Asclepius mengatakan hal ini untuk mengubah topik pembicaraan. "Dia membuat status wilayah kekuasaan semakin mengabur." Namun Asclepius langsung menatap Yixing yang masih saja rebahan. Tartaros malah menikah dengan Penguasa Timur Tengah yang akan dikuasai Wilayah Barat.

"Penguasa Utara." Gumam Yixing pelan. "Menurutmu apa aku bisa mengajak Bangsa Nisnas untuk bergabung?" Jawaban yang diharapkan Yixing tidak ada. Karena Asclepius hanya mengangkat kedua bahunya derngan ringat yang berarti mana aku tahu.

"Tapi.. setahuku, Bangsa Nisnas memiliki harga diri yang sangat tinggi."

"Kau benar."

"Kenapa kau melakukan hal sejauh ini?" tanya Asclepius yang kembali merebahkan tubuhnya. Mungkin dewa ini sudah sedikit tenang, karena Yixing tidak bermaksud menghancurkan bangsanya.

"Aku rasa Anchis diciptakan bukan hanya sebagai monster pemakan aura yang diciptakan Penguasa Barat," jelas Yixing dengan nada tenang. "Kami juga bukan sekedar senjat yang diberikan kekuatan oleh Penguasa Barat."

"Tapi?"

"Kau tahu film Dragon Blade yang menceritakan pasukan pelindung Jalur Sutra?" tanya Yixing yang membuat Asclepius memiringkan kepalanya dengan heran. "Mungkin saja kami diciptakan untuk melindung Jalur Sutra itu atau seperti pengelana di Gurun Pasir yang ganas, menjaga daerah OASIS sebagai daerah netral bukan daerah yang dikuasai oleh satu kelompok."

"Tidak ada daerah netral, sobat!" seru Asclepius yang membuat Yixing menghela nafas dengan pelan. "Kita tidak bisa menghentikan kerakusan."

"Akan ada masa dimana, perdamaian bukan hanya omong kosong yang tidak ada artinya." Yixing tersenyum pelan sambil menatap sahabatnya yang terlihat tertawa mengejek. "Menjadi naïf bukan hal yang terlalau buruk juga."

"Drias!" panggil Asclepius tiba-tiba. Tumben Asclepius menyebut namanya. Nama pertamanya lagi. "Karena kau sudah mengalami Block Blood aku berarti bisa melakukan ini." Ucapnya sambil menjambak rambut Yixing. Padahal mereka masih rebahan

"Sakit!" seru Yixing tidak terima.

"Kau tahu, sejak kau pertama datang kemari, aku ingin sekali menjambak rambut panjangmu itu," keluh Asclepius yang membuat Yixing mengerutkan dahi. Dulu saat ia pertama kali bertemu dengan Asclepius rambutnya memang masih panjang. "Kau itu selain kurang ajar, sombongnya minta ampun."

Yixing ingat dulu karena penampilan Asclepius yang berantakan. Membuat Yixing tidak percaya bahwa Asclepius itu seorang dewa meski hanya dewa personifikasi. Tapi untungnya karena Asclepius itu Dewa Personifikasi maka Asclepius tidak bisa menyentuh Yixing karena itu bisa membuat auranya terserap oleh Yixing.

"Jangan salahkan aku, salahkan saja penampilanmu!" sungut Yixing yang malah memancing Asclepius untuk menjambak lagi rambut Yixing yang pendek.

Dan sore ini mereka habiskan untuk saling menjambak rambut dengan posisi terlentang. Sudah seperti perkelahian anak perempuan saja mereka..

.

.

.

Sudah tahu kan kalau Chanyeol itu mudah iri. Chanyeol rasanya ingin mengeluh sepanjang hari saat menemukan ayah dan semua saudaranya memiliki pasangan masing-masing. Kebetulan sekarang bulan tengah mengganti tempat matahari. Bahkan Luhan pun sudah berbaikan dengan Minseok. Meski Minseok tetap pada pendiriannya untuk menjadi manusia biasa. Ini menyebalkan dan..

"Tangkap!" seru suara wanita yang membuat Chanyeol refleks menangkap sesuatu.

Semangka.

Chanyeol langsung menatap pelaku si pelempar. Ah~ rupanya ponakannya yang cantik. Chanyeol bisa melihat, ponakannya itu tengah membelah semangka lain menjadi dua. Lalu mengambil sendok dan memeluk setengah bulatan semangka. Cara makan yang paling tidak wanita sekali untuk wanita secantik Rebecca.

"Sia-sia saja gender dan wajahmu itu." Celetuk Chanyeol sambil melirik Rebecca yang masa bodoh. Chanyeol sendiri tampak seperti orang bodoh yang memeluk semangka yang lambat sekali menyusutnya.

"Aku dengar, Anchis tidak bisa menyerap air." Rebecca jelas mengatakan hal itu pada Chanyeol. Karena Anchis yang lain sedang sibuk sendiri. Jadi Rebecca memilih duduk disampaing Chanyeol diatas karpet. "Semangka kan banyak mengandung air mungkin itu yang membuatmu susah menyerapnya."

"Kami memang tidak bisa menyerap air tapi kami tetap bisa menyerap kandungan air yang ada di dalam makhluk hidup."

Kali ini keduanya saling diam dan malah menatap anchis lain yang sibuk dengan pasangannya masing-masing.

"Om! Ayo kita keluar!" sarah Rebecca yang merasakan rasa kesal Chanyeol. "Jadi penonton itu menyebalkan."

"Ayo! Om traktir minum kopi." Ucap Chanyeol yang langsung melocat dari sofa saat semangka yang ia peluk sudah benar-benar menghilang dan terserap.

Jangan salahkan Rebecca yang memiliki wajah cantik bak model. Dan jangan salahkan Chanyeol yang memiliki wajah yang keterlaluan tampannya. Mereka jadi layak disebut pasangan muda mudi dibandingkan paman dan ponakan. Karena risih pada akhirnya mereka memilih untuk melewati gang sempit dan gelap.

"Susah ya Om.." gumam Rebecca pelan.

"Susah apanya?"

"Susa jadi orang cantik, mau kemana pun pasti di perhatikan banyak orang." Sempat-sempatnya Rebecca mengibas rambutnya yang sontak membuat Chanyeol mencibir pelan.

Namun obrolan ringan mereka terpotong. Saat keduanya merasakan segerombolan benda melesat cepat ke arah mereka. Panah.

"Awas!" Teriak Rebecca dan Chanyeol bersamaan.

Chanyeol refleks mengeluarkan apinya dari tangan untuk membakar panah-panah yang tidak terjangkau oleh tameng es beku ciptaan Rebecca. Chanyeol bisa melihat panah itu dikelilingi oleh bayangan hitam yang pekat.

"Siapa?" Sergah Rebecca dengan kesal. "Keluar!"

Chanyeol berdecak kesal saat tahu jika kekuatan Tartaros masih juga tertanam di tubuhnya. Saat ia menjentikan jari api itu tidak muncul. Tapi saat ia memaksakan api dalam tubuhnya keluar. Ia bisa mengeluarkannya. Pantas saja ia merasa masih terhubung dengan Tartaros.

"Om! Ini bukan saatnya untuk bermain-main dengan apimu!" Erang Rebecca dengan kesal. Karena sedari tadi Chanyeol tampak menjentikkan jarinya terus menerus. Menyalakan dan memadamkam api di tangannya.

Namun suara langkah kaki yang mendekat membuat keduanya mendadak waspada. Meski Chanyeol tahu siapa pelakunya.

"Aku pikir kau akan memilih untuk bersembunyi," ucapan dengan suara rendah itu jelas ditujukan pada Chanyeol. "Kali ini aku tidak akan melepaskanmu."

"Rebecca!" Teriak Chanyeol saat ponakannya itu malah berlari menerja Jongin. Iya itu Jongin!

Jongin sudah berniat untuk menghindar. Tapi saat Jongin menemukan wajah siapa yang akan menerjangnya. Niatannya itu berubah karena saking terkejutnya. Namun Chanyeol lebih terkejut saat menemukan Rebecca ternyata memeluk Jongin bukan menyerangnya.

" Choshek!" Seru Rebecca dengn histeris. "Sejak kapan kau? Bagaimana kau bisa disini? Aku pikir kau sudah.." Mata Rebecca sudah berkaca-kaca. Ia ingat bagaimana Chosek dan kakaknya dikirim ke xαος. Itu hari yang begitu mengerikan karena disaat bersamaan ibunya tewas tertelan badai.

Chanyeol tentu kebingungan. Tapi untuk pertamakalinya ia melihat Jongin kehilangan kata-katanya dan menatap Rebecca dengan lekat. Dibandingkan cemburu Chanyeol malah lebih penasaran dengan ekspresi Jongin yang sepertinya ingin menangis.

"Ke.. Kebechet?" Jongin menatap wanita dihadapannya dengan perasaan membucat. "Kakakku!" Seru Jongin sambil mencekram bahu Rebecca. "Tolong.." tapi suaranya tersekat saat menemukan Chanyeol yang tampak mengamati mereka dari belakang Rebecca.

Tiba-tiba Jongin menghilang begitu saja hingga Rebecca sontak meneriaki nama Jongin. Kemudian Rebecca hanya bisa menatap sekelilingnya dengan panik.

"Tenanglah!" Seru Chanyeol dengan nada membentak. "Kakaknya kenapa?"

"Kakaknya terkurung di xαος." Buka Rebecca yang menjawab tapi suara lain yang dikenal betul oleh Chanyeol. "Dia ingin menukarmu untuk kakaknya."

"Adikmu berarti kan, Tartaros?" Tanya Chanyeol dengan senyum miring. "Adikmu baru saja akan menagkapku lagi."

Rebecca tampak kebingungan melihat keduanya. Choshek hanya memiliki satu kakak dan orang dihadapannya ini ayahnya bukan kakaknya. Saat Rebecca akan membuka mulutnya. Tartaros langsung meletakkan telunjuknya tepat didepan kedua bibirnya. Seketika mulut Rebecca serasa membeku.

"Chanyeol.. boleh aku pinjam keponakanmu sebentar?" Tanya Tartaros dengan nada yang cenderung lembut, tidak seperti biasanya. Mungkin karena ada Rebecca disini.

"Omong kosong!" Seru Chanyeol yang membuat Tartaros lumayan terkejut hingga menaikan sebelah alisnya. "Mau sampai kapan kau menganggapku bodoh?" Tanya Chanyeol dengan nada tenang. "Jongin itu anakmu kan? Kau mau membodohiku?"

"Kau tahu dari mana?"

"Kita terhubung," ucap Chanyeol pelan. Chanyeol tertawa saat melihat ekspresi Tartaros yang datar-datar saja. "Kalau akau bodoh apa mungkin aku bisa memimpin beribu pasukan untuk menghancurkan pasukan persia yang dipimpin istrimu? Ah.. maksudku suamimu." Chanyeol tentu mengatakan hal itu untuk mengejek Tartaros yang selalu saja diremehkan. "Dan jika aku bodoh aku sudah mati ditangan anakmu."

"Aku tahu kau tidak bodoh," ucap Tartaros dengan senyuman miringnya. "Aku hanya muak dengan caramu yang menghindari masalah dengan pura-pura bodoh."

Rebecca yang merasa sebentar lagi akan terjadi perkelahian langsung cepat-cepat menghampiri Tartaros. Ini tidak benar dan jika tidak dihindari perkelahian mereka pasti akan sangat mencolok.

"Pa.. paman.." panggil Rebecca pelan. Tartaros tentu langsung menatap Rebecca dengan cara yang berbeda. "Ada apa ini?" Tanya Rebecca sambil menghapiri Tartaros.

Tapi Tartatos malah langsung menghadap keatas dan menemukan hujan timah panas yang berasal dari senjata api. Sontak Tartaros mendorong Rebecca untuk menjauh. Tartaros kadang suka lupa dengan kekuatan yang ia punya. Rebecca yang melayang membuat Chanyeol cepat-cepat menangkap tubuh ponakannya itu. Saking kerasnya lemparan, Chanyeol dan Rebecca sampai harus berguling-guling diatas aspal.

"Sial!" Keluh Chanyeol yang baru sadar seharusnya ia tidak menyentuh Rebecca. "Loh kok?" Tidak hanya Rebecca yang heran. Chanyeol juga.

"Lihat ke atas!" seru Tartaros yang membuat keduanya langsung berdiri. "Lindungi Kebechet!"

Chanyeol sontak mengeluarkan lidah api yang dapat melelehkan timah panas itu. Serangan yang ini jelas berbeda dengan serangan Jongin, dari arah pelurunya saja, jelas mengarah pada Rebeca bukan Chanyeol. Tapi Rebecca sendiri sibuk mengeluarkan es tipis yang bisa membelah peluru. Dan yang paling mencolok tentu saja Tartaros. Senjatanya memang sekali tebas langsung membuat pelurunya hancur. Hanya saja ukurannya terlalu berlebihan.

"Tidak cukup!" keluh Chanyeol pelan saat merasakan tubuhnya mulai melemas. Ini pasti karena kekuatan yang ditinggalkan Tartaros terlampau dikit. Dan hari ini ia hanya makan dengan sebuah semangka. "Tartaros!"

"Apa?!"

"Cepat berikan kekuatanmu!" seru Chanyeol dengan keras.

Tartaros menatap Chanyeol dengan heran. Kemarin minta dicabut sekarang minta ditanam. Sebenarnya mau Chanyeol itu apa sih?

"Jangan banyak berpikir!" seru Chanyeol sambil mendekati Tartaros.

"Tapi ini terlalu berbahaya!" karena kalau jarak mereka terlalu jauh. Dan sulur antara Chanyeol dan Tartaror sampai terputus. Bisa menimbulkan ledakan, atau jangan-jangan Chanyeol berpikir untuk melakukan ledakan.

"Kalian sedang apa sih?!" seru Rebecca dengan histeris. Mereka bisa-bisanya berdiskusi ditengah hujan peluru.

"Satu detik saja cukup, yang penting tubuh kita bersentuhan."

Tartaros langsung menatap Chanyeol dengan alis terangkat meski tangannya masih sibuk membelah peluru. Sepertinya peluru ini tidak akan ada habisnya jika mereka terus bertahan dengan cara yang sama. Daaan.. kata-kata Chanyeol cukup ambigu sebenarnya.

"Tangan!" seru Chanyeol sambil mengulurkan tangan kirinya. Karena tangan kanannya sibuk menggerakan lidah apinya yang kalau ditilik-tilik lumayan mirip cambuk. "Besentuhan dengan tangan saja! Bodoh!" teriak Chanyeol yang mengerti dengan cara pandang Tartaros.

Tartaros harus bersabar untuk tidak menyabit Chanyeol. Kini tidak hanya Chanyeol saja yang mencoba mempersempit jarak. Tartaros juga. Rasanya akan sangat mudah jika tidak ada peluru yang terus-terusan berjatuhan. Sekali tepuk antar tangan, Chanyeol langsung berteriak dengan keras.

"Merunduk!" seru Chanyeol sambil merentangkan kedua tangannya. "Lebih merunduk!"

Seketika diatas kepala mereka dilingkupi pusaran api merah yang membawa hawa yang sangat panas. Cara paling ampuh untuk menghentikan hujan peluru meski hanya sementara. Tartaros sudah tengkurap tapi tidak dengan Rebecca.

"Om! Panas!" jerit Rebecca sambil merunduk dengan posisi menungging.

"Lebih merunduk!" seru Chanyeol yang heran sendiri pada Rebecca yang lebih sibuk dengan jeritan tak berarti. Tak ayal, Chanyeol langsung mendorong pantat Rebecca dengan kakinya.

"Tuhan!" jerit Rebecca yang jatuh terporosok dengan posisi tak menyenangkan.

"Rebecca! Kabutnya!" teriak Chanyeol yang membuat Rebecca yang tadinya tengkurap langsung terlentang. dan mengeluarkan kabut tebal yang mengandung titik air. Tepat setelah pusaran api Chanyeol mereda. "Setelah ini apa?"

"Lariii!" teriak Chanyeol sambil menarik tangan Rebecca untuk berdiri. Dan berlari diantara kabut tebal.

Tentu saja cara mereka berlari berbeda dengan manusia biasa. Hingga akhirnya mereka bisa keluar dari gang sempit dan menyatu dengan kerumunan padat manusia. Mereka sudah bisa berjalan dengan kecepatan yang sama. Tartaros dan Chanyeol langsung berjaga dikanan kiri Rebecca. Pasti ada sesuatu yang istimewa dengan Rebecca hingga diburu macam itu.

"Kira-kira tadi siapa yang menyerang ya Om?" tanya Rebecca pada Chanyeol. Mungkin Rebecca masih mengira jika Chanyeol yang menjadi target.

"Tidak tahu." Jawab Chanyeol sambil mengangkat kedua bahunya masa bodoh atau memang bodoh atau pura-pura bodoh. "Ngomong-ngomong sepertinya adrenalinku baru terpacu lagi setelah sekian lama." Gumam Chanyeol yang diangguk setuju oleh Rebecca. Keduanya kini malah saling melakukan high five sambil tertawa. Seolah sudah melewati hal yang menyenangkan. Padahal mereka baru saja menghadapi peristiwa yang bisa melenyapkan nyawa mereka.

"Tadi keren sekali!" seru Rebecca dengan bersemangat. "Tapi tidak untuk adegan jatuh karena pantatku ditendang." Keluh Rebecca yang hanya mengundang tawa Chanyeol. Meski akhirnya mereka kembali tertawa.

Tartaros hanya bisa diam membiarkan keduanya tertawa seperti orang bodoh. Atau memang mereka bodoh? Tartaros juga tidak tahu..

Tidak ada yang tidak terkejut melihat penampilan Chanyeol dan Rebecca. Karena mereka berdua tadi bilang, ingin keluar untuk minum kopi bukan untuk berguling-guling di tanah. Tapi yang lebih mengherankan adalah Tartaros yang juga datang dengan wajah serius. Berbeda sekali dengan Chanyeol dan Rebecca yang tampak senang-senang saja. Meski pakaian ketiganya sama kusut dan kotornya.

"Bagus! Semuanya berkumpul!" ucap Tartaros dengan mata menatap sekeliling rumah para Anchis. "Untungkah kalian dan pasangan kalian sedang berkumpul disini." Ucap Tartaros sambil menatap Joonmyeo, Sehun, Kyungsoo dan Minseok.

"Pasanganku tidak ada." celetuk Chanyeol yang kembali dalam mode Anchis bodohnya.

"Om, pasangan dengaku saja mau?" ucap Rebecca dengan bersemangat sambil memeluk salah satu lengan Chanyeol.

Chanyeol langsung melirik Rebecca dan mendorong dahi Rebecca dengan tangannya. Sontak Rebecca langsung cemberut. Omnya ini tidak ada lembut-lembutnya, ia jadi ingat lagi kalau pantatnya ditendang oleh Chanyeol.

"LOH?! LOH?! LOH?!" seru semua orang dengan terkejut. Kyungsoo saja terkejut saat Rebecca baik-baik saja bersentuhan dengan Chanyeol. "Kau bukan pasangannya Chanyeol kan? Anchis tidak bisa melakukan poligami kan?" tanya Kyungsoo dengan nada histeris.

"Tidak!" jawab Chanyeol dengan nada tersinggung. "Aku tidak bisa menyerap auranya, sama seperti aku tidak bisa menyerap aura dia dan ayah." Jelas Chanyeol sambil menunjuk Tartaros dan Joonmyeon.

"Kok bisa?" tanya Yixing dengan heran.

"Tidak tahu!" jawab Rebecca dan Chanyeol bersamaan. Sikap kemasabodohan Rebecca dan Chanyeol membuat Yixing ingin sekali menjitak keduanya dengan keras.

"Bukan saatnya untuk bercanda!" geram Tartaros dengan kesal.

"Penguasa Barat terutama Dewa Utama bisa menyentuh Anchis, sedangkan untuk Penguasa Timur Tengah dan lainnya hanya Dewa Dewi Utama yang tengah menduduki Tahta Utama saja yang bisa menyentuh Anchis, karena Anchis diciptakan oleh tangan manusia yang dibantu salah satu Dewi dari Penguasa Barat," jelas Tartaros sebelum ada yang kembali bertanya. "Dan ini berartI Rebecca akan menggantikan kedudukan Anubis dan Anput."

Tartaros kini menatap Rebecca yang sudah tampak begitu terkejut. Dan dari semua orang yang ada, Kyungsoo yang tampak paling frustasi. Ini menyangkut keselamatan anaknya. Hal itu juga yang membuat Tartaros menghela nafas dengan pelan.

"Mereka memburuku?" tanya Rebecca dengan nada ketakutan. "Sama seperti dulu saat ibu dibunuh?"

"Jadi, apa yang sudah kalian lalui tadi?" tanya Kyungsoo sambil menarik Rebecca untuk mendekat. Mengajak Rebecca untuk duduk di sofa. Karena Rebecca kentara sekali tertekannya.

"Dia diburu anak buat para Titan," perkataan Tartaros tentu membuat Kyungsoo semakin frustasi. Kini bahkan Kyungsoo memeluk anaknya dengan erat. "Kita harus menyembunyikannya dan mencari ahli waris lain dari Pengedali Timur Tengah yang pertama."

"Kenapa kami harus melakukannya?" tanya Joonmyeon dengan pelan saking kalutnya dan tentu saja bingung. Ini menyangkut keselamatan cucu kesayangannya.

"Mungkin itu alasannya kenapa Anchis lahir." Jawab Yifan dengan sangat tenang. Semua orang selalu terpukau dengan ketenangan Yifan. "Dimana kita harus menyembunyikan Rebecca?" Ucap Yifan sambil menepuk pelan kepala Rebecca.

"Di daerah Penguasa Selatan, mereka punya hutang budi pada Penguasa Timur Tengah," ucap Yixing tiba-tiba. "Dan aku tahu persis siapa yang bisa kita andalkan," ucap Yixing sambil tersenyum pada salah satu anggota keluarganya. "Yakan?"

Cara tatap Yixing yang tajam pada satu titik, membuat semua orang menatap pria yang tampak kebingungan. Namun pada akhirnya Yixing tersenyum puas. Saat orang yang dia maksud langsung tertawa pelan.

"Tahu dari mana jika aku keturunan Lemuria?" tanyanya yang membuat semua orang terkejut. Tentu saja terkejut karena mereka tidak ada yang menyangka.

"Asal tebak saja." Celetuk Yixing sambil tersenyum puas.

"Kalian membicarakan apa sih?" tanya Chanyeol dengan nada kebingungan. "Penguasa Barat? Timur Tengah? BangsaLemuria?"

"Jangan pura-pura bodoh!" teriak ketiga saudaranya pada Chanyeol.

"Tapi aku beneran bingung." Gumam Sehun sambil mengangkat tangannya.

.

.

.

BTC

Nah loh!

Coba tebak siapa keturunan Bangsa Lemuria?

Udah ada cluenya tuh.. (walau pun gak terlalu jelas)

.

.

.

PENJELASAN SINGKAT

Wehe.. mulai dari sini kita akan fokus sama tema sebenernya ya.. Tema yang sangat biasa untuk gendre fantasi. Pertama, untuk Bangsa Nisnas adalah bangsa yang diperkirakan merupakan bangsa pertamaa sebelum adanya manusia. Ada banyak pendapat tentang bangsa ini. Tapi kalo penasaran boleh browsing sendiri karena nyangkut sama pendapar para ahli agama. Untuk bangsa Lemuria sendiri disebut sebagai bangsa yang hilang, mereka datang ke bumi dari galaksi Gliese. Penjelasan mengenai dua bangsa ini akan saya jelaskan dengan perlahan demi perlahan di chap selanjutnya. Termasuk keterkaitan hubungan antara Rebecca, Jongin dan kakaknya. Btw, kira-kira siapa ya Bangsa Lemuria yang dimaksud Yixing? hahahaha

Kalo buat manusia yang dibilang alien sama Rebecca hahaha sebenernya saya cuman keinget diskusi absurd saya sama guru matematika di SMP.

NOTE AUTHOR

Sekali lagi saya tegaskan.. ini bukan fanfic yang full romance yang menebar keromantisan semua pasangan. Gendrenya lebih ke fantasi dari pada romance. Saya ambil romance karena fanfic ini ada sisi romance dengan adanya pasangan untuk anchis. Bisa jadi saya malah membuat salah satu dari mereka menduda, karena kehilangan pasangannya.. (BOOM!)

Oia, maaf ya buat yang belum dikirim fanfic lewat emailnya. Soalnya email kalian gak kebaca. Jadi kalau masih minat bisa langsung reques fanfic apa yang ingin dikirimin dan tulis email kalian seperti ini.. berlin dot azizah at gmail dot com.

Dan saya bahagia bisa bikin Yifan jadi seorang OPUNG! *nari ular