Humor –Gagal?

Romance –Nga jelas *nangis*

Aneh –so pasti karena yang bikin juga aneh

Absurb – sangat jujur diakui…IYA!

Disclaimer : KHR not mine and never *nangis lagi*

OOC, GAJE, AU, ERROR dengan bahasa yang acak-acakan. Penuh keributan nga jelas selama proses syuting dan hal-hal gaje lainnya. Jika anda sakit kepala karena fic ini disarankan nga periksa ke dokter karena hanya akan dikatai gila *dikroyok masa*.

.

.

.

~Normal Pov~

"A-aapa?" Tsuna merasa kakinya tidak menginjak bumi, serasa jatuh ke lubang tak berdasar. "Me-, Xa-, AKU?!" Dina tak bisa menahan gemas melihat Tsuna yang kebingungan, kaget, gugup yah, kacau.

.

Sungguh sang brunette terlihat masih sangat polos di matanya, belum pernah tahu apa pun tentang dunia yang selama ini menjadi tempat hidupnya dan Xanxus. Tapi, di sisi lain dia melihat kalau Tsuna dengan alami telah berbaur dengan Vongola, diterima oleh para Guardian termasuk Xanxus sendiri. They treasure her, love her, layaknya sudah bersama sejak awal, membuat sang Don Decima Cavalone agak iri.

.

"Ah, apa aku ini te-" derap langkah dari dalam rumah membuat keduanya menoleh. Hibari dan Gokudera menghampiri Tsuna dengan tergesa-gesa. Dino tak mengenal Hibari namun dia tahu siapa Gokudera "Hayato?"

"Kau..."Pemilik surai silver merasa dunianya yang telah damai makin mendekati kehancuran, pertama Xanxus, sekarang Dina Cavallonne. Tak bisakah dirinya menjauh dari dunia yang dibencinya? "Dina...Cavallonne..."

Dina menatap Gokudera lekat-lekat, meski sekian tahun tak bertemu, dia tahu benar siapa gadis kecil yang ada di hadapannya. Lagipula tak banyak pemilik surai silver yang dia kenal dan memiliki lekuk wajah dan mata yang khas "Setelah menghilang sekian lama, tak kusangka ternyata kau di sini, unwanted girl Gokudera Hayato. "

"Tak diinginkan? Apa maksudnya itu Ha-"

"Mau apa kau kemari?!" Gokudera seakan mau menangis ketika mendengar kata 'unwanted girl' dari si pirang. Alis Hibari terangkat merasa ada nada panik dari Gokudera setelah melihat wanita asing yang berkunjung ke rumah Tsuna. Walau Hibari tahu semua masa lalu Gokudera, termasuk dirinya yang dibuang oleh ayahnya sendiri dan tidak diterima oleh famiglia maupun kelompok manapun di Negara asalnya tapi tak pernah gadis bersurai silver itu terlihat takut seperti sekarang semengancam nyawa pun kondisi di sekitarnya. Gokudera menarik Tsuna ke belakang mereka, seakan melindunginya dari hewan buas.

"Hayato, apa maksudnya itu?"

"Kumohon hime, jangan tanya…"

"Oh, kau merahasiakannya yah, tapi kurasa cepat atau lambat mereka akan tahu." Dina menyerigai melihat perubahan air muka Gokudera.

"Siapa herbivore ini?" meski samar, Hibari bisa merasakan kalau wanita bersurai pirang itu bukan orang biasa. Ada aura predator di balik wajah cantiknya, like an Omnivore.

"Ah, aku cuma datang untuk bertemu Tsuna-chan." Ketiga remaja itu menyimpulkan kalau Dina adalah tipe yang selalu sok akrab dengan orang asing. "Ah, tolong dipikirkan ya Tsu-chan!" Dina melambaikan tangan sambil lalu menuju mobilnya.

'Sekarang dia pakai Tsu-chan?!' jerit Gokudera dan Tsuna dalam hati, sementara Kyouya mengernyit tak suka.

"Herbivore, apa yang dia maksud itu?"

"Etto...dia..."

"Hime, apapun yang dia katakan jangan diambil pusing!"

"Tapi dia-"

"Anda tak punya kewajiban menuruti kata-katanya!"

"...iya juga." 'Tak usah dipikirkan.' batin Tsuna.

.

Hibari sendiri mencatat dalam kepala untuk menjauhkan Dina dari Tsuna, dia belum rela 'adik'nya terkontaminasi kebodohan lebih lanjut setelah tertular dari Gokudera dan Yamamoto karena tanpa mereka pun Tsuna sudah cukup bodoh_hei, Gokudera kan jenius meski agak OON dan LEBAY *author dibombarda*

.

Sayangnya kegilaan Dina tak sampai di sana saja. Donna Ciavaronne itu bahkan setiap hari menemui Tsuna dengan menunggu di depan gerbang sekolah, jika Tsuna berhasil kabur maka dia akan datang ke rumah. Jika Tsuna tak ada di rumah maka si pirang akan mencarinya -dengan memerintahkan anak buahnya- hingga ketemu. Dan...sudah seminggu ini seorang Tsuna Sawada merasa bagai buronan yang harus ngumpet kesana kemari dari kejaran seekor kuda jingkrak bernama Dina Cavallonne (?). Gokudera sendiri tak luput dari kesialan karena dia juga dikejar karena dikira menyembunyikan Tsuna.

.

"PAMAN! Tolong akuuuuu!" jerit Tsuna di telpon. Kini dia dan Gokudera mengungsi di rumah Hibari karena hanya tempat ini yang belum bisa digrebek oleh pasukan (?) Dina. Yang di telpon cuma menghela nafas memijit diantara pangkal alisnya, pusing oleh ulah tunangannya dan teriakan Tsuna. Baru saja seorang Xanxus kembali -terpaksa- ke Italia dia sudah mendapat telepon berisi keluhan atau lebih tepatnya protes dari Tsuna.

"Itu bukan urusanku, dan AKU BUKAN PAMANMU BOCAH!" bentak Xanxus tak terima untuk ke ekian kalinya.

"Dasar tak bertanggungjawab! Kau senang ya aku menderita atas ulahmu?!"

"..." Xanxus jadi ingat dialog telenovela yang ditonton Lussuria ketika mereka ada di dalam pesawat. "Memangnya kau diapakan?"

"Disuruh menikah denganmu!" jerit Tsuna antara malu dan frustasi. Tapi perasaan tak nyaman karena terus dibuntuti Dina lebih mendominasi dari pada harga diri untuk merasa malu.

.

Di seberang sana Xanxus mematung karena kaget sampai-sampai gelas minumannya lepas dari tangan. Semua Guardian Vongola yang membantunya mengerjakan papperwork -hukuman dari Nono karena membiarkan Xanxus kabur- menatap bingung boss mereka. Squalo sudah mendapat gelagat tak enak tapi berusaha mengacuhkannya.

.

"Apa dosaku hingga dapat masalah begini?"

"Banyak!" seru para Guardian Xanxus -kecuali Levi- yang membuat Xanxus makin dongkol.

.

.

.

"Habis nelpon siapa?" Hibari yang tadinya mau meminta telepon yang dipinjam Tsuna malah mendapati telepon malang itu telah menjadi abu. Kalian nga salah baca kok, telepon itu memang menjadi abu dan jangan Tanya kenapa bias karena author nga sempet liat! Sang brunette nga menjawab, namun aura kelam di sekitarnya cukup untuk menjawab. "Memangnya paman itu tak mau bantu?"

"Nga tau." Jawab Tsuna ketus, Hibari jadi ikut-ikutan manggil Xanxus paman karena ketularan kebiasaan Tsuna. Padahal awalnya Hibari menujuluki Xanxus hidung belang *author ngakak* karena mendapati Tsuna dan Xanxus dalam keadaan yang nga cocok dengan kata 'paman dan ponakan' "Hayato mana?"

"Masih di kamarnya, ayo makan dulu." Dengan malas Tsuna mengikuti seniornya

.

.

.

"Rasanya seperti buronan saja." Rutuk Tsuna "Kenapa Hayato tak makan bareng kita?" setelah menunggu cukup lama tak terlihat sang gadis berdarah italia muncul untuk makan bersama. Yang ada malah Kusakabe muncul dengan menghela nafas.

"Dia menolak makan bersama jadi saya bawakan ke kamarnya."

"Aku akan ke-"

"Tetap di tempatmu." Perintah Hibari sebelum Tsuna sempat bangun dari kursinya. "Aku yang akan mengurusnya nanti."

"Eh? Kalian kan nga akrab, nanti malah bertengkar seperti biasa."

"Kali ini tidak akan terjadi apapun karena dia takkan bisa membantah padaku."

.

Tsuna mengerjap tak mengerti dengan maksud Hibari, sejak kapan Hayato bisa diam kalo di dekat HIbari? Nyaris tak pernah karena mereka selalu berkelahi baik adu fisik maupun cemoohan. Namun yah, mungkin ada hal yang tak harus dia ketahui seperti hubungan Gokudera dengan Yamamoto. Meski merasa agak tersisih, Tsuna tak punya hak memaksa sahabatnya bicara tentang hal pribadi mereka jika yang bersangkutan tak ingin.

.

.

.

Gokudera meringkuk di atas futonnya tanpa menyentuh makanan yang dibawakan oleh Kusakabe. Niatnya untuk makan benar-benar hilang sejak bertemu dengan Dina, bahkan jika mengingat kata-kata sang Decima dia merasa telah menjadi makhluk paling tak berguna di dunia ini. Dia tak Ingin masalalunya diketahui oleh Tsuna, sang Brunette dan keluarganya adalah yang pertama menerimanya tanpa ada tatapan curiga dan tak peduli akan masa lalunya. Mereka adalah keluarganya sekarang.

.

"Masih tak mau makan?" tanpa disadarinya Hibari telah masuk lewat pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Hibari. Kamar Tsuna ada di sisi lain kamar Hibari dan sama-sama memiliki pintu penghubung sehingga mudah saja bagi sang skylark untuk keluar masuk karena hanya bisa dikunci dari satu sisi. "Dia khawatir padamu."

"…." Hibari mengacak pelan surai pirang Gokudera tanpa peduli tatapan tak suka gadis yyang lebih muda darinya "Mengasuh kalian berdua memang menyusahkan."

"Sejak kapan aku jadi diasuh olehmu?" Hibari tersenyum tipis, menarik Gokudera dalam pelukannya, membuat dadanya dan punggung Gokudera beradu "Hei!"

"Karena kalian memang masih kecil dan memang lebih kecil dariku kan?"

"Ugh, sok tua! Kau hanya lebih tua 2 tahun jangan seperti kakek-kakek deh!"

"Serius mengataiku kakek-kakek?" Hibari mengeratkan pelukannya membuat Gokudera tak bisa berbalik menatapnya.

"Salah ya…harusnya tante-tante…." PLAK! "AW!" Gokudera meringgis mengusap kepalanya yang kena cium tonfa, Hibari mendengus mengambil sebuah telur gulung dan memaksanya masuk ke mulut Gokudera.

"Makan, kalau kau sakit aku yang repot!" perintahnya sambil lalu, Gokudera tak menggubris. Matanya menatap punggung Hibari hingga hilang menghilang dari pandangannya.

"Dasar sok tua dan galak." Perlahan dikunyahnya telur itu dan terpaku, rasa dari masakan itu beda dengan apa yang diingatnya dr masakan Kusakabe yang biasanya telur itu terasa manis "Huh…ini dia yang buat ya?" Senyum pun muncul di wajah Gokudera, Hibari bilang Tsuna mengkhawatirkannya, tapi kalau seperti ini bukankah sang skylark sama saja? "Arigatou, Kyouya-nee."

.

.

.

TBC

.

Ya elah….makin lama makin gaje aja ni cerita. Siapa yang kemaren yang bilang jodohin aja Dina apa Hibari? Aku kan nga suka yuri dan dapat kesimpulan dari mana Hibari itu cowok? Kan aku nga pernah nulis kata 'pemuda' untuk menggambarkan Hibari *dikroyok reader. Maaf, karena nga bisa jawab review tapi aku seneng deh masih ada yang berkenan mereview dan memfollow maupun pave fic ini dan fic yang lain. Maaf juga atas keterlambatannya untuk update, sampai jumpa chapter mendatang! *Ketok palu 3 kali*

REVIEW PLEASE~~~~! *kedip-kedip gaje*