Title: The Time

Author: Besajoy

Disclaimer: The poster and the story belong to ME and the casts belong to GOD.

Genre: Romance, Friendship, AU, etc.

Rating: T

Cast:

Main cast:

Cho Kyuhyun (Namja)

Lee Sungmin (Yeoja)

Support cast: Find by yourself.

Summary: Ketika pertemuan antara Kyuhyun dengan Sungmin menjadi suatu malapetaka bagi keduanya, namun akankah anggapan itu akan berlaku untuk selamanya di kehidupan mereka?

Warning:

This is a genderswitch fanfiction that changes the uke's gender from "boy" to "girl". So if you don't like this kind of fanfiction, better you don't read this and then go away.

Important note: the characters have different age gaps with others in a few characters.


Keempat roda mobil sebuah taksi menghentikan pekerjaannya yang menggelinding di jalanan dan membawa badan mobil yang terdapat orang-orang di dalamnya ke tempat yang dituju di depan sebuah kafe besar yang terlihat cukup mewah. Selanjutnya, salah satu pintu mobil terbuka dan keluarlah sepatu berhak tinggi yang berwarna merah mengkilap dari dalam. Wanita yang mengenakan sepatu itu pun segera muncul keluar tidak lama setelahnya, dengan tubuhnya yang dibalut baju putih bercardigan ungu serta celana jeans model pensil berwarna coklat muda. Syal hijau pun melingkari leher wanita itu dan kacamata hitam turut bertengger di atas hidungnya mentamengi kedua mata besarnya. Tidak lupa pula tas tangannya yang berwarna biru safir itu terjinjing di tangan kanannya. Setelah sepenuhnya keluar wanita itu segera menutup pintu taksi yang telah mengantarnya dan kemudian berbalik badan ke depan pintu kafe untuk masuk.

Udara sejuk hasil kerja keras dari beberapa air conditioner yang berada di ruangan langsung menyambut kedatangan sang wanita begitu ia melangkah masuk. Dengan santai ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke tujuan selanjutnya, yaitu ruangan staf kafe.

Mendadak kedua matanya menangkap siluet seseorang yang begitu familiar sedang duduk di antara bangku-bangku kafe bersama dengan seseorang yang sejenis dengannya. "Anak itu kesini juga rupanya," gumamnya pelan, lalu melanjutkan kedua langkah kakinya yang sempat terhenti akibat memergoki namja itu.

Para pegawai kafe yang berpapasan dengan wanita itu langsung membungkukkan badan dengan rasa hormat dari mereka. Namun ia terus berjalan acuh tak acuh tanpa membalas mereka, hingga akhirnya sampai di ruangan staf kafe.

"Selamat pagi, nyonya," sapaan hangat dari seluruh pegawai yang ada di dalam ruangan staf itu langsung didapati oleh wanita itu begitu ia membuka pintu ruangan. Merekapun membungkukkan badan 90 derajat sebagai bentuk rasa hormat kepadanya.

"Pagi," balas wanita itu singkat. "Kibum, saya minta laporan dari jalannya kafe seminggu ini. Segera ke ruangan saya," titahnya tanpa berbasa-basi dan ia pun pergi lagi menuju ke ruangan berikutnya, yaitu ruangan-nya.

Wanita itu memasuki ruangan berikutnya, dan udara yang lebih dingin langsung menerpa tubuhnya. Setelah menutup pintu, dengan segera kakinya melenggang menuju ke salah satu meja kerja dan duduk di kursi empuk yang berada di dekat meja tersebut. Punggungnya langsung dijatuhkannya pada senderan kursi dan kacamata serta tasnya pun ia letakkan di atas meja.

Baru saja wanita itu menghela nafasnya untuk membuang rasa penatnya akibat membawa tubuhnya pergi ke tempat ini, suara ketukan pintu ruangan terdengar di telinganya. "Masuk," ucapnya.

Seorang wanita lain berambut pendek sebahu dengan mengenakan baju kerja yang sewajarnya sebagai seorang staf serta name-tag melangkah masuk setelah membuka dan menutup pintu, dengan sebuah map yang berada di tangan kanannya. Orang yang tadi dipanggil untuk ke ruangan ini pun lantas melangkah mendekat lalu mengambil posisi duduk tepat di depannya.

"Mana laporannya?" tanya sang wanita kepada Kibum—stafnya itu—yang baru saja datang menghampirinya. Kibum pun menyerahkan map yang tadi ia pegang kepadanya dan dicek dengan teliti.

Namun tiba-tiba saja wanita itu memelototkan matanya. "Mwoya?! Ada pianis kafe yang mengundurkan diri?!" nada bicaranya pun meninggi karena terkejut.

"N—ne, nyonya," balas Kibum dengan gugup. Bisa dipastikan bahwa ia akan segera mendapat omelan dari atasannya itu.

"Dan—" wanita itu membaca lagi dokumen itu dengan gerak mata yang begitu cepat. "Alasan macam apa ini?! Mengapa anda tidak laporkan ke saya sebelumnya?!" ia pun mengalihkan pandangannya kepada Kibum dengan memasang mimik muka yang cukup sangar.

"Mianhamnida, nyonya. Itu semua karena kecerobohan saya," jawab sang pegawai dengan menundukkan kepalanya—rasa takutnya pun kian membesar.

"Kyuhyun sudah tahu hal ini?" bos kafe itu pun bertanya.

"Sudah, nyonya," jawab Kibum—masih dengan kepalanya yang tertunduk. "Adik anda sudah tahu."

"Tsk! Anak itu seenaknya sekali. Memangnya hanya dia yang punya kafe ini?! Harusnya dia cerita hal ini padaku karena aku punya wewenang juga disini."

—o0o—

Pasca kedua kaki Sungmin mendarat di atas tanah yang sudah berlabel nama jalan yang ia cari, ia lantas mulai merogoh saku celana jeans ungu panjang yang ia kenakan untuk mengambil ponselnya yang bersemayam di dalam sana. Begitu ponselnya itu berhasil ia raih, ia segera mengeluarkannya dan mulai mengutak-atiknya untuk sebentar saja. Melihat alamat dari sebuah bangunan yang ia cari saat ini. Ketika ia sudah membaca alamat tersebut, ia mengangguk sebagai pertanda bahwa informasi penting itu sudah masuk ke dalam otaknya lalu kembali meletakkan ponselnya itu kembali ke tempat yang sebelumnya.

Sungmin mulai menyusuri jalan dengan begitu hati-hati, agar bangunan yang menjadi targetnya untuk dikunjungi itu segera ditemukan olehnya. Ia memang tidak mengetahui tentang jalan serta lingkungan ini sebelumnya, karena ia bahkan belum pernah melewati jalan ini, baru kali ini saja. Tapi berhubung tekadnya sudah bulat untuk bekerja dan menggantikan posisi ibunya sebagai wanita karir—walaupun dengan pekerjaan yang berbeda—dan kebetulan ia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria yang dia miliki, pada akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi tempat yang membuka lowongan yang menggiurkan itu, walau harus mencari letaknya terlebih dahulu dengan alamat dari bangunan itu—yang berada di dalam ponselnya—sebagai petunjuknya.

Ketika dua buah bola matanya menangkap berkas cahaya yang menggambarkan sebuah kafe besar yang tampak elit namun tidak bertingkat dari kejauhan, Sungmin langsung mengembangkan senyum, merasa begitu yakin bahwa kafe itulah yang menjadi tujuannya kali ini. Ia lantas mempercepat langkahnya menuju ke sana.

Begitu sudah berada di depan kafe, Sungmin menelisik setiap sudut untuk memastikan kembali bahwa tempat itu memang merupakan tujuannya. Dan hatinya pun mengatakan demikian, maka kemudian ia mulai mengambil langkahnya kembali untuk masuk ke dalamnya.

Suasana sejuk kafe langsung menyamankan raga Sungmin usai berpanas-panasan di luar tadi. Rupanya kondisi di dalam kafe jauh lebih elit lagi, dengan arsitektur bergaya klasik yang begitu kental. Meskipun ramai, namun dengan alunan lagu jazz yang berasal dari sekumpulan orang yang bermain di atas panggung bisa meredam polusi suara yang timbul dari mulut-mulut para pengunjung yang berkicau sehingga tidak mengganggu ketentraman. Pengunjungnya pun kelihatannya rata-rata berasal dari golongan kelas atas, dengan berbagai usia. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal elit seperti ini cukup membuat Sungmin merasa rendah diri menginjakkan kakinya di tempat ini. Akankah ia berhasil mendapatkan pekerjaan di tempat yang seelit ini? Entahlah, ia begitu gugup menghadapinya.

Namun, dengan kebulatan tekadnya untuk mencari uang dengan jerih payahnya sendiri serta memegang keoptimisan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, pada akhirnya Sungmin memutuskan untuk melangkah kembali ke depan dan melamar pekerjaan. Persetan dengan hasil apa yang akan ia terima nantinya, ia memutuskan untuk tidak memedulikannya dulu. Setidaknya ia telah berusaha dan mencoba.

Ketika Sungmin sudah melangkahkan kakinya kembali dan tiba-tiba saja melihat ada pelayan wanita yang sedang berjalan dengan tangan kosong, segeralah ia menghampiri pelayan itu untuk bertanya. "Eum—permisi, ruang manajer kafe ini dimana? Saya ingin melamar kerja disini. Saya dengar disini dibuka lowongan pekerjaan."

"Oh—" pelayan itu nampak terkejut dengan salah seorang pengunjung yang datang menghampirinya secara mendadak dan langsung menanyakan sesuatu. Namun pelayan itu tersenyum kala mendengar pertanyaan yang diajukan padanya. "Jalan ke sana terus belok kiri. Cari saja pintu yang bertuliskan manager room," jawabnya seraya menunjuk sebuah lorong jalan menggunakan tangan kanannya.

"Ah oke. Gamsahamnida," Sungmin ikut tersenyum pada sang pelayan, lalu dengan seenaknya meninggalkannya dan berjalan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pelayan itu.

—o0o—

"Jadi begitu," ucap salah seorang pemuda usai mendengar ucapan panjang lebar dari teman sesama jenisnya yang berada di depannya. Ia kemudian menyeruput teh yang berada di dalam sebuah cangkir kecil di atas meja kafe di depannya. "Tapi kupikir kau cukup berlebihan untuk membencinya sampai seperti itu. Dia hanya dua kali mengalahkanmu sementara—"

"Hanya dua kali kau bilang?!" sang lawan bicara memotong pembicaraan, emosinya merangkak naik begitu mendengar argumen yang bertolak belakang dengan pola pikirnya. "Donghae, masalahnya dia itu anak baru. Dia baru jadi murid di sekolah kita saja sudah berhasil mengalahkanku bahkan sampai dua kali. Hanya dia yang berhasil dari sekian ratus murid lama yang ada di angkatan kita. Dan dia itu yeoja, yeoja! Bagaimana saya tidak malu?! Bagaimana saya tidak marah?!"

"Kyuhyun, tenanglah sedikit. Ini di tempat umum," ucap Donghae—pemuda itu, memperingatkan. Teman di depannya ini memang susah sekali mengendalikan emosinya jika sedang marah. "Aku tahu bagaimana perasaanmu, Kyu. Tapi menurutku lebih baik kau mengambil langkah yang lebih tepat, misalnya menjadikan kekalahanmu itu sebagai motivasi untuk berusaha lebih giat lagi dalam belajar dan bisa juga jadi bahan sebagai balas dendam untuk menang lagi dan mengalahkan balik Sungmin nantinya. Marah-marah hanya membuang waktu dan tenaga dan tidak baik untuk emosimu sendiri, Kyu."

"Itu sudah pasti kulakukan. Mana mungkin aku mau kalah terus. Aku itu sang juara, dan akan selalu seperti itu," ucap Kyuhyun dengan angkuhnya. Ia lalu mengambil secangkir coklat panas yang berada di atas meja yang semeja pula dengan Donghae—atau tepatnya didepannya—dan meminumnya sedikit.

"Sombong sekali," celetuk Donghae. "Tapi—semoga saja begitu, amen," ia kemudian membentuk seulas senyum di bibirnya. Biar bagaimanapun Kyuhyun itu teman dekatnya dan sekaligus ia anggap pula sebagai adik kecilnya, jadi ia tetap mendoakan yang terbaik.

"Harus. Harus begitu," sahut Kyuhyun seraya memperlihatkan smirk-nya.

Donghae mengedarkan pandangannya sejenak ke arah sekeliling kafe, hanya iseng saja untuk mengetahui keadaan sekitar. Rupanya suasananya sudah lebih ramai dibandingkan saat ia dan Kyuhyun baru masuk kafe belasan menit yang lalu. Mungkin karena faktor hari weekend juga, jadi pengunjung bertambah lebih cepat.

Namun tiba-tiba indra penglihatannya menangkap bayangan wajah seseorang yang cukup ia tahu. Pemilik wajah itu sedang berdiri saja di depan pintu masuk kafe. Donghae pun terperanjat. "Eh—itu Sungmin bukan?"

"Mwo?! Sungmin?!" Kyuhyun kaget pula mendengar Donghae menyebut-nyebut nama yang baru saja menjadi bahan pembicaraan mereka itu seraya melihat ke suatu arah. "Mana?" ia segera mengikuti arah pandang Donghae.

"Itu yang pakai jaket merah muda dan celana ungu di depan pintu masuk," Donghae mendeskripsikan dengan singkat penampilan sosok itu, masih dengan keterkejutannya.

Kyuhyun bisa menemukan sosok yang dimaksud Donghae, tapi sialnya ia hanya bisa melihatnya dari sudut belakang sehingga yang terlihat hanya rambut panjang hitam lurusnya saja. "Aku tidak bisa melihat wajahnya, hanya rambutnya saja yang kelihatan dari sini," namun Kyuhyun ingat bahwa rambutnya Sungmin juga lurus hitam panjang. Jangan-jangan memang benar? Tapi banyak juga orang yang mempunyai rambut seperti itu.

"Apa benar Sungmin atau hanya perasaanku saja," gumam Donghae yang masih bisa didengar Kyuhyun. Tentunya Kyuhyun berharap bahwa itu hanya perasaan Donghae saja. Lagipula jika benar itu Sungmin, pertanyaan yang selanjutnya adalah—mau apa dia ke kafenya itu?

Dua namja itu masih tak ingin melepas pandangan dari sosok yang dikira Donghae sebagai Sungmin itu. Sosok itu mulai bergerak melangkah dan kemudian tampak mengobrol sebentar dengan seorang pelayan, lalu setelah itu berjalan kembali menuju ke sebuah lorong dan menghilang.

Seketika Kyuhyun tersentak menyadari hal itu.

Lorong jalan itu bukan sembarang lorong. Lorong itu merupakan celah awal untuk memasuki ruangan-ruangan khusus para pegawai dan pemilik kafe. Mau apa yeoja misterius itu main masuk ke lorong yang begitu khusus itu?! Masalahnya juga Kyuhyun tidak mendapat pemberitahuan apapun lagi kalau ada penyanyi atau band ataupun hal-hal lain yang semacam itu yang ingin mengisi panggung kafe. Lagipula jikalau ada hal seperti itu, maka sang manajer dari penyanyi ataupun band kafe itu haruslah menghubunginya dulu lewat media elektronik, tidak bisa semena-mena begitu.

Sepertinya Kyuhyun harus segera turun tangan ke sana.

"Donghae, kau mau tetap disini atau tidak? Aku ada urusan sekarang, dan aku tidak tahu akan lama atau tidak," titah Kyuhyun seraya beranjak dari duduknya.

Meski bingung dengan ucapan Kyuhyun yang mendadak itu, namun Donghae tetap berusaha mengerti akan keadaan itu. Ia lantas menjawab seraya berdiri pula. "Sepertinya aku pulang saja agar kau bisa mengurus urusanmu dengan tenang."

"Mianhae tidak bisa menemanimu lama," ucap Kyuhyun lagi, dengan rasa bersalah. "Aku duluan. Jangan lupa hati-hati pulangnya," ia lantas meninggalkan Donghae dan pergi ke tempat lain tanpa menunggu balasan apapun lagi.

"Dasar anak itu," gumam Donghae seraya memandang Kyuhyun yang semakin menjauh darinya itu. Ia tidak habis pikir dengan watak dan kelakuan dari orang yang satu itu. Di satu sisi Kyuhyun bisa tampak tak peduli dengan keadaan sekitar dan bersikap ketus, namun di sisi lain ia bisa bersikap peduli juga walaupun kelihatannya ia masih ketus. Di satu sisi ia akan merasa sangat puas apabila suatu hal yang ia inginkan tercapai, tetapi di sisi lain ia bisa sangat marah jika ada orang yang mengusik kehidupannya. Bagai dua sisi koin yang bertolak belakang namun tetap saja mereka berada dalam satu tubuh yang sama, yaitu koin tersebut.

Tapi itulah Kyuhyun, dengan wataknya yang bagai dua sisi koin itu ia menjadi pribadi yang tangguh dan gigih menjalani tantangan di kehidupannya dibalik topeng malas yang selama ini terlihat di muka umum dengan menjadikan PSP sebagai alat utama. Donghae pun diam-diam bersyukur bisa mempunyai teman yang unik sepertinya.

—o0o—

Masih dengan tingkat siaga yang tinggi, Sungmin terus mencari-cari pintu yang menjadi sasaran utama diantara pintu-pintu yang lain, yaitu pintu dengan tulisan manager room. Rupanya pintu yang tersedia cukup banyak, dan ia harus jeli menemukannya atau ia akan mengulang pencarian. Jantungnya terus berpacu cepat seiring dengan itu, dan Sungmin tak menampik jika ia makin gugup sekarang. Dan bersamaan itu pula ia semakin memantapkan dirinya untuk menghadap ke kepala kafe, untuk mengajukan lamaran kerja.

Dan akhirnya ia menemukannya. Ruangan manajer itu sudah berada di depannya.

Sungmin mengambil sejenak oksigen di udara dengan mengunakan hidungnya begitu banyak, dan kemudian membuang sisa-sisa pernafasannya secara perlahan lewat alat yang sama. Berusaha untuk membuang rasa gugup yang hinggap di benaknya yang semakin menumpuk saja. Walaupun masih ada perasaan laknat itu yang tersisa, namun Sungmin memutuskan untuk membiarkannya dan kemudian mengetuk pintu dengan memakai buku-buku jari tangan kanannya.

"Masuk," terdengar suara teriakan orang dari dalam ruangan yang masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Sungmin meski bernada rendah. Dengan hati-hati Sungmin mulai menarik kenop pintu dan membuka pintu itu, seraya melangkah masuk setapak demi setapak.

Alangkah terkejutnya ketika Sungmin melihat sosok yang begitu akrab dengannya sedang duduk di sebuah singgasana dengan gaya layaknya seorang bos. Reflek ia menutup mulutnya untuk menghindari teriakan yang bisa saja lolos dari mulutnya itu.

"Astaga—Heechul ahjum—eh, eonnie?!" gumam Sungmin pelan, yang sedikit meralat sapaan panggilan itu karena ia belum terbiasa memakai sapaan itu. Jadi yang punya kafe ini—astaga, mengapa dunia sesempit ini?! batinnya yang masih terkejut.

Namun ia pun merasa bersyukur karena ia tidak perlu takut lagi untuk melamar kerja.

"Eoh—Sungmin?!" rupanya Heechul pun terperanjat dengan kedatangan Sungmin yang tiba-tiba ke kafenya itu—dan seingatnya ia belum pernah memberitahu Sungmin kalau ia punya kafe ini. Tapi ia cukup senang anak yang sudah ia anggap sebagai adik keduanya itu bisa datang menemuinya karena seharian ini ia belum bertemu lagi dengannya. "Ada apa? Ayo sini masuk!" Heechul pun dengan ramahnya segera mengajak Sungmin mendekat ke arahnya.

"Eum—tapi sepertinya eonnie masih ada urusan dengan staf kafe," ucap Sungmin ketika baru menyadari bahwa Heechul tidak sendiri, ada pegawai lain yang duduk di depannya.

"Ah aniya—urusanku sudah selesai," balas Heechul. Ia kemudian menoleh ke arah pegawai yang berada di depannya. "Kibum, gamsahamnida atas laporannya. Terus pantau jalannya kafe dan jangan lalai lagi."

"Baik, nyonya," ucap Kibum. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan.

Sungmin memperhatikan pegawai yang baru saja selesai berurusan dengan Heechul itu. Rambutnya pendek sebahu dan berwajah oriental. Berkulit putih dan tinggi badannya sedang, serta berbadan ramping. Cukup cantik untuk ukuran seorang pegawai kafe. Dan ketika mereka berpapasan, pegawai itu segera membungkukkan sedikit badannya dan mengucap kata "Permisi," padanya seraya tersenyum ramah. Menambah nilai baik pada pegawai itu karena telah bersikap sopan padanya. Sungmin pun membalas senyumnya walau tidak mengucap sepatah kata pun, dan setelah itu ia berjalan mendekat ke tempat Heechul berada.

"Duduklah Sungmin," tawar Heechul setelah Sungmin sudah ada di depannya. Sungmin mengangguk dan kemudian segera menjatuhkan bokongnya pada salah satu kursi diantara dua kursi itu. Ia pun melepas tas selempang kulitnya yang berwarna plum dan ditaruh di atas kedua pahanya. "Ada apa kau datang kemari, Minnie?" sebuah pertanyaan langsung diutarakan Heechul begitu ia sudah mendapati Sungmin duduk.

Kedua tangan Sungmin mulai memainkan jemari-jemari tangannya satu sama lain, cukup ragu sekaligus malu apakah ia harus mengutarakan niatnya atau tidak. "Eum… sebenarnya—" namun ia memutuskan untuk mengatakannya, lagipula Heechul juga sudah tahu kalau ia ingin mencari nafkah. "—aku ingin melamar kerja disini."

Heechul langsung tersenyum lebar, senang mengetahui bahwa ternyata Sungmin ingin bekerja disini. Dengan begitu ia bisa membantu banyak Sungmin dalam kehidupannya, sekaligus menghargai kerja keras Sungmin sehingga Sungmin tidak akan merasa seperti mengemis padanya lagi.

Akan tetapi ketika Heechul baru saja ingin angkat suara, tiba-tiba—

—BRAK!

Pintu baru saja terbuka dengan tempo cepat sehingga menimbulkan suara dentuman yang seakan meledak. Mengagetkan dua orang yang berada di dalam ruangan itu.

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah—siapa yang baru saja membuat ulah tersebut.

Jantung Sungmin kembali berdetak cepat. Khawatir—tentu saja. Astaga, dia lagi! Batinnya yang begitu merutuki kedatangan orang itu.

"Noona?! Noona kapan datang?" sebuah pertanyaan terlontar dari mulut orang itu seraya berjalan mendekat ke tempat Heechul dan Sungmin berada.

"Tadi," jawab Heechul. "Dan jangan menatapku horor seperti itu seolah aku itu hantu, Kyuhyun," lanjutnya yang merasa risih karena mendapat tatapan yang sedemikian intensnya dari sang namdongsaeng yang baru saja datang dengan indahnya.

"Memang. Habisnyahantu jelek ini selalu saja muncul tiba-tiba," balas Kyuhyun dengan seenak jidat, yang langsung mendapat pukulan tangan dari Heechul

"YA! Dasar dongsaeng kurang ajar!" Heechul kesal sendiri pada Kyuhyun yang sudah mengejeknya di depan orang lain. Beruntunglah bukan di depan tamu yang berkepentingan ataupun para staf-staf bawahannya.

Sungmin mengerutkan dahinya menyaksikan dialog antara Heechul dan Kyuhyun yang berujung pertengkaran kecil itu. Bingung mendapati sapaan panggilan khusus yang terlontar diantara kedua belah pihak tersebut.

Noona? Dongsaeng?

Menyadari suatu hal, Sungmin kembali terperanjat.

Astaga! Jadi mereka kakak-beradik?!

Tanpa sadar Sungmin membelalakan matanya. Ia sangat tidak menyangka jika orang yang bagaikan malaikat penolong keluarganya ternyata bersaudara dengan orang yang menjelma menjadi setan yang terus mengusik kehidupannya.

Sungmin benar-benar tidak tahu lagi ia harus menanggapi apalagi selain kaget. Permasalahannya terletak pada bagaimana ia berinteraksi dengan kedua orang itu yang kenyataannya jelas-jelas sangat berbeda, dan ketika ternyata mereka berada dalam satu ruang lingkup yang sama dan ternyata pula mereka akrab satu sama lain padahal ia menangkap karakter yang begitu bertolak belakang dari keduanya, tentu ini menjadi sangat membingungkan baginya yang menyaksikan interaksi diantara mereka berdua itu. Tapi bisa-bisanya dunia menjadi sangat sempit seperti ini.

"Tapi bukankah noona harusnya berangkat ke luar negeri hari ini?" tanya Kyuhyun heran ketika teringat suatu hal yang berkaitan dengan pekerjaan kakaknya itu.

"Ne. Memang, setelah ini," jawab Heechul seraya mengangguk. "Kau harus mengantarku ke bandara, Kyunnie…" lanjutnya yang mulai menyelipkan nada manja pada adik kecilnya itu, seraya menyunggingkan senyumnya.

Kyuhyun mendengus. "Ogah! Berangkat saja sendiri. Biasanya juga noona pergi seenaknya bahkan tanpa memberitahuku dulu."

"Itu hukuman untukmu karena kau berusaha menyembunyikan apa yang terjadi di kafe ini padaku," ujar Heechul.

"Mwoya?! Menyembunyikan apa?!" kedua alis Kyuhyun mengernyit bersamaan dengan dua matanya yang melotot sedikit, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Heechul itu.

"Memangnya aku tidak tahu kalau ada pianis kafe yang keluar, hm?" Heechul menyunggingkan senyum miringnya, seraya mengangkat salah satu alisnya.

Kyuhyun terperangah. Ia baru sadar akan hal itu. "Oh itu—aku memang lupa, bukan menyembunyikan," beruntunglah ia cepat menemukan kata yang tepat untuk menampik fakta bahwa ia memang menyembunyikan kasus ini dari kakaknya yang satu itu. Ia malas sekali mendengar ceramah dengan nada yang menjengkelkan dari sang noona jika ia ketahuan melakukan kesalahan.

Gelak tawa singkat keluar dari mulut Heechul mendengar pernyataan adiknya itu. "Pembohong. Aku tahu daya ingatmu tajam, Kyu," sebagai seorang noona yang sudah hidup bersama namdongsaeng-nya itu selama belasan tahun, Heechul tentu tahu karakteristik yang dimiliki Kyuhyun termasuk kegeniusannya itu. "Seharusnya kau—"

"—Yang penting sekarang noona sudah tahu, bukan?" ucap Kyuhyun yang segera memotong pembicaraan Heechul karena ia tahu noona-nya itu akan berceloteh panjang lebar.

Helaan nafas singkat keluar secara reflek dari hidung Heechul, merasa jengkel karena sang namdongsaeng sudah menyela perkataannya. Ia memandangi Kyuhyun dengan sedikit kesal sejenak sebelum ia memutuskan untuk pasrah dan menyahut ucapan Kyuhyun padanya. "Ne," ia pun mengangguk.

Akan tetapi senyum Heechul kembali merekah saat suatu hal secara mendadak terlintas di kepalanya. "Ah—dan untungnya kita sudah temukan penggantinya disini," ucapnya riang seraya melirik Sungmin yang sedari tadi mengunci mulutnya dan menonton ocehan dua bersaudara itu dengan heran karena begitu akrab sehingga seakan melupakan tamu lain yang berada di sana. Sungmin pun sedikit terperanjat karena tiba-tiba ditatap Heechul.

"Mwo?!" kedua alis Kyuhyun kembali mengernyit, kembali bingung dengan perkataan Heechul yang kurang jelas itu. Namun pandangannya menangkap kedua manik mata Heechul tidak lagi ke arahnya, maka ia pun mengikuti arah tujuan dua mata itu ke sisi mana. Mata onyx Kyuhyun pun mulai menajam ketika ia mengetahui yang dimaksud Heechul itu adalah Sungmin, yang masih bertahan di bangku tempat ia duduk yakni di depan kakaknya itu. "Maksud noona orang itu? Memangnya dia bisa?!" ucapnya sinis kepada sang noona. "Memangnya noona sudah melihat kemampuannya?" lanjutnya seraya berpindah tatapan lagi ke arah Heechul dengan cara yang biasa lagi seperti semula.

Mendapati perlakuan sinis Kyuhyun membuat Sungmin geram. Ia tak akan membiarkan namja sialan itu menginjak-injak harga dirinya—lagi—apalagi di depan orang yang lebih tua darinya itu. "Anda jangan seenaknya bicara. Saya bisa membuktikannya langsung jika anda tak keberatan," ucapnya dengan nada menantang seraya menatap Kyuhyun dengan garang.

"Oh begitu?!" sengit Kyuhyun dengan nada ringannya yang cukup menyebalkan di telinga Sungmin, belum lagi smirk andalannya yang semakin menjengkelkan itu. "Sombong sekali anda. Dan sayangnya saya keberatan."

"Kyuhyun! Jaga sikapmu!" tegur Heechul yang mendapati adiknya bersikap yang tidak selayaknya pada orang lain—padahal ia pikir seharusnya Kyuhyun sadar posisinya di kafe ini sebagai apa, yang sepatutnya menjunjung tinggi wibawa, bukannya malah menjatuhkan orang lain apalagi terhadap calon pegawai.

"Mengapa keberatan? Bukankah kafe ini sedang butuh pianis?" Sungmin lebih memilih untuk meladeni ajakan adu mulut dari Kyuhyun yang dijatuhkan padanya secara tidak langsung karena batinnya sudah mulai memanas. Enak saja orang itu bersikap seenaknya kepadanya.

"Memangnya anda pianis? Anda pelajar, nona. Bukan pianis," dengan ringannya mulut Kyuhyun kembali berkilah, seolah-olah sudah terbiasa membalas setiap kalimat yang bernilai runcing.

Secara reflek Sungmin menorehkan smirk meremehkan, seolah menganggap bahwa ucapan yang Kyuhyun lontarkan terdengar konyol. "Saya tahu, tapi setidaknya saya bisa bermain piano."

Kini giliran Heechul yang menonton dialog antara kedua orang yang kemudian disadari olehnya bahwa mereka sudah saling mengenal dari cara Sungmin yang malah membalas perkataan Kyuhyun di awal yang seakan menjatuhkannya, bukannya diam dan takut akan adiknya yang kadang bermulut tajam itu. Namun lama-lama ia gerah juga lantaran dialog mereka makin kesini makin terasa seperti perdebatan panas di sidang parlemen dimana keduanya saling berargumen satu sama lain dan tidak mau mengalah. "Hei berhenti—"

"Bisa bermain piano saja tidak cukup, nona," dengan acuhnya Kyuhyun malah melanjutkan pertandingan debat tanpa menggubris kakaknya itu sedikit pun, seraya ikut memamerkan senyum miringnya dan tak lupa pula sebelah alisnya pun terangkat. "Anda harus memenuhi persyaratan yang lain," dan tanpa sadar ia memasukkan kedua tangannya pada dua saku depan celana jeans yang dikenakannya sekarang.

"Saya rasa saya sudah memenuhinya. Dan saya membawa bukti-bukti pemenuhan persyaratan itu," ucap Sungmin dengan enaknya.

"Bukti seperti apa?" tanya Kyuhyun cepat, masih mempertahankan gayanya yang seperti pada ucapan sebelumnya. "Dalam bentuk materi saja tidaklah cukup."

"Lalu apa?!" nada bicara Sungmin meninggi, merasa semakin kesal karena Kyuhyun terus memancing emosinya. "Saya akan tunjukkan semua bukti dalam bentuk apapun!"

"Heh! Sopan sekali anda pada saya," merasa tersinggung lantaran Sungmin sudah menggertaknya di tempat dimana ia memegang kuasa, Kyuhyun segera membentaknya balik. "Disini jabatan saya berada di atas anda, nona!"

"Kyuhyun, cukup!" gertak Heechul dengan cepat sebelum suasana semakin memanas. Meski ia tidak mengerti mengapa kelihatannya hubungan pertemanan diantara adik kandungnya serta adik jadi-jadiannya itu kurang baik, namun ia rasa ia harus segera ambil tindakan untuk mencegah pertengkaran di antara mereka berdua semakin berlanjut. Apalagi ia tahu akan sifat Kyuhyun yang mudah terpancing emosi dan akan berbuat kasar pada siapapun jika emosinya sudah meledak, dan sekarang ini namdongsaeng-nya itu sudah membawa-bawa jabatan untuk bisa leluasa bertindak seenaknya yang jelas-jelas itu sudah keterlaluan apalagi kepada yeoja yang bahkan sudah ia anggap sebagai adik keduanya itu. "Kau harus jaga sikap juga, Kyu. Apalagi kau juga atasan disini."

"Tapi dia yang bentak saya duluan, noona! Dia harusnya tahu diri," Kyuhyun menunjuk ke arah Sungmin seraya menatap ke arah Heechul dengan ekspresi kesalnya.

"Tapi kau juga jangan mentang-mentang jabatanmu itu bos kedua disini bukan berarti kau bisa seenaknya. Apalagi dia itu yeoja, tidak sepatutnya kau bersikap kasar seperti itu," tukas Heechul seraya mengarahkan kepalanya pada Sungmin pada saat mengucapkan kata dia. "Dan kasih dia kesempatan juga untuk bekerja disini. Pianis kafe untuk shift sore harus segera diisi. Lagipula dia sudah bilang kalau dia sudah memenuhi syarat dan dia akan membuktikannya jadi berilah ia kesempatan untuk itu."

Lagi-lagi Kyuhyun menyunggingkan senyum meremehkan. "Apa noona bilang?! Kasih dia kesempatan?! Memangnya dia benar-benar bisa?! Noona percaya kalau dia sudah benar-benar memenuhi syarat?!"

"Anda meremehkan saya?!" tiba-tiba Sungmin angkat suara kembali, membentak Kyuhyun dengan volume yang teramat tinggi. Bagaimana tidak? Orang menyebalkan itu sudah merendahkan Sungmin di depan Heechul dan itu jelas-jelas terdengar di telinganya. Menghujam organ hatinya dan itu cukup menyakitkan.

"Tentu saja!" dengan cepat Kyuhyun segera membalas ucapan Sungmin yang terdengar mendadak itu. "Karena anda itu pelajar, bukan pianis yang benar-benar pianis. Anda tidak mengerti juga?! Otak anda dimana sehingga yang begini saja tidak kau mengerti, hah?! Apa perlu saya jabarkan lebih lanjut?!"

TBC


A/N:

Siders everywhere. But it's still okay. I hope you enjoy this (trashy) fanfiction. ^_^

Masih dalam kungkungan ujian praktik dan TO nih. Ditambah lagi masalah Sungmin mulai panas lagi. Otak saya keruh. Huhuhu T_T

Tapi FF ini cepet updatenya, soalnya ini FF sebenarnya juga udah lama banget. Sejauh ini saya udah nyelesaiin sampai part belasan di Word saya. Tapi masih saya simpan karena dimatangin dulu part-partnya. Ini FF emang harus diselesaikan step by step agar sesuai sama plot yang udah saya kembangin di otak saya. Udah sampe ending kok yang di otak, tinggal nuanginnya aja yang susah banget. Emang sih ini lahir dari ide saya yang sederhana, tapi saya gak mau sesederhana itu. Eh tapi malah jadi kebablasan, bikin yang rumit sekalian. Ya udah deh T_T

((Sok banget padahal nih FF jelek banget))

Buat FAQ yang sering dilontarin ke saya sampai sejauh ini tentang FF ini... Kapan Kyuhyun sama Sungmin akur? Kalau benar-benar akur, jawabannya masih lama. Di sini saya mau gambarin mereka itu benar-benar gak akur. Gak melulu dari berantem terus tiba-tiba saling suka. Saya mau prosesnya yang dimatangin di sini. Emang sih bertele-tele banget, yah tapi kan #DUNIAITUKERAS dan karma untuk masalah ini pun bisa berlaku bisa enggak. Tapi... Untuk mereka "mulai" akur, bentar lagi kok. Saya udah siapin satu part penuh yang isinya itu. Yah kalo ada yang mau. Eh gak deng, saya mah tetep nulis aja. I've decided to keep writing because of my passion. Urusan ke-real-an OTP mah belakangan. Yang penting muasin hasrat dengan bikin cerita apapun itu bentuknya, termasuk Fan Fiction.

Also, thank you for all the comments! It makes my spirit getting much higher to keep writing, even when I'm preparing for my graduation plus going to the university.

And the last... Review if you want. If you don't, I hope you still like this fucking FF. ^_^