Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya. Beberapa OC baik karakter manusia atau makhluk mitologi diambil dari legenda dan mitologi nyata dengan pengubahan seperlunya.

Rated : T

Warning : Alternate Universe, Original Characters. Maybe contains some Out of Characters and Typographical Error

About this fic : Ini merupakan sekuel dari fic Paradox –by Itami Shinjiru

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance. Little bit of Mystery

Any Little Note: Tebak sendiri POV dalam tiap chapter


~ PARADOX 2 ~

The Blood of Pomegranate

パラドックス 2 - ザクロの血液

CHAPTER SEPULUH:

Topaz


Blocade of Kori no Kuni

Aku heran kenapa Demetra mau ditunggangi Deavvara. Plus naga langka yang masih cilik.

Tapi sudahlah. Omong-omong, karena kami makin jauh ke utara, udara kian dingin. Kurasa aku harus mampir ke toko tempat aku dan 'Tim Paradox' berbelanja baju musim dingin setahun silam, meskipun aku tidak ingat lagi dimana toko itu berada—atau apakah toko itu masih ada.

Kurama berjengit diantara kepakan-kepakan sayapnya. "Aku mencium bau masalah."

Deavvara menuding arah jam sebelas. "Badai salju."

"Dari jarak sedekat ini?" Aku menggerutu. "Wivereslavia paling nggak suka dingin."

"Betul," Kurama mengiyakan. "Aku nggak suka dingin sama seperti aku nggak suka bau daging busuk. Lebih baik kita mendarat sekarang."

"Masalahnya kita tidak menemukan gua seperti dulu, Kurama," balas ayahku sambil celingukan ke bawah. "Lebih baik kuperiksa sekarang. Apa badai salju itu akan mendekati kita? Kalau kekuatannya melemah seiring lajunya ke daerah semitropis, lebih baik kita menembusnya saja."

"Kurasa tidak," gerutu Deavvara. "Ah, ingin sekali kulelehkan awan itu, tapi sekalinya ini Kurama benar."

"Sekalinya ini?" Protes Kurama.

"Turun," titahku. "Demetra, kita cari tempat bernaung."

Di bawah kami hanya ada hutan konifera dan cemara berdaun jarum. Sebagian sudah putih terkena salju. Beberapa sungai kecil bercabang-cabang membelah hutan, dengan beberapa naga kecil yang tidak kuketahui jenisnya beterbangan kabur ke udara begitu melihat sepasang naga oranye besar bertampang sangar.

Tentu saja, kupikir akan semudah itu. Nyatanya tidak. Meskipun yah, aku sudah sering mendapat perkara sulit akhir-akhir ini.

Baru hendak menjejakkan kaki, kami disambut oleh raungan yang menggema sepanjang hutan. Salju mulai berguguran. Angin bertiup ke sembarang arah seolah berusaha melarikan diri dari sesuatu. Seluruh rambut di tubuhku berdiri. Seakan-akan sesuatu yang buruk akan datang—jauh lebih buruk ketimbang sekedar badai salju.

Deavvara mengertakkan gigi. Kurama dan Demetra mendarat. Lelaki beriris ungu itu memandang sekeliling dengan gelisah seolah dia mengetahui ada selusin harimau yang sedang mengintai kami.

"Deavvara?" Panggilku. Ia menoleh tanpa ekspresi.

"Kau merasakannya juga?"

Ia mengangguk. "Apapun itu, yang jelas itu buruk sekali," ia menelan ludah. "Lebih buruk daripada Saxoen Angelo," kemudian Angelo kecil di belakangnya menggigit-gigit rambutnya. "Hentikan!"

Sang Yondaime menatap sekeliling. "Ini aneh. Kukira karena aku Edo Tensei, aku tidak bisa merasakan aura atau chakra apapun, tapi ternyata tubuh mati seperti ini pun bisa merasakannya," ia meremas-remas tangannya sendiri. "Sensasi chakra ini benar-benar ... lain."

Aku mengangguk. Aku belum pernah merasakan chakra serupa dengan yang satu ini sebelumnya—jangankan serupa, sejenis pun tidak. Yah, oke. Pernah dua kali, tapi menurutku yang dua itu sekalipun masih kurang mengintimidasi kalau dibandingkan yang ini.

"Jalan," gerutu Kurama. "Angin di tempat ini lama-lama membuat tulangku seperti diamplas!"

Kedua Wivere melipat sayap, berjalan dengan keempat kaki agak gemetar seperti kuda terserang flu. Tak urung aku kasihan juga pada dua naga ngejreng ini. Mudah-mudahan kami cepat menemukan tempat berteduh.

Ayahku menuding asap yang membubung melampaui tinggi pepohonan. "Mungkin berasal dari api unggun atau perapian rumah," cetusnya. "Kali ini keberuntungan datang pada kita."

Aku mencibir. "Atau bisa-bisa itu suku kanibal pemakan Dracovetth."

"Kumakan mereka sebelum mereka memakanku," imbuh Deavvara. "Haha. Baiklah, kita kesana."

"Deavvara," panggilku.

"Apa?"

"Yang barusan itu nggak lucu."

Sang Ortodoks melempar segenggam bola salju tepat ke kepalaku.

.

Perkiraan ayahku benar: kami menjumpai sebuah rumah. Rumah panggung berdinding kayu, beratap genting tanah liat, berpagar besi, dengan halaman yang lumayan luas, tapi tanaman-tanamannya sekalipun tampak tidak tumbuh dengan baik. Jendela-jendelanya kusam. Mungkin si pemilik rumah malas merawat huniannya, atau lebih buruk lagi—itu rumah hantu.

Dari kejauhan, aku bisa melihat sebuah plang kayu diatas pintu, bertuliskan huruf kanji berwarna merah. Bunyinya begini: 'DATANGI SEBELUM MELANJUTKAN PERJALANAN'.

"Kalian mungkin bisa beristirahat di kolong rumah," saranku pada Kurama dan Demetra. "Kami akan mencoba mencaritahu siapa pemiliknya."

Mereka tidak protes. Aku, ayahku, dan Deavvara turun dan mengecek rumah. Angelo kecil membuntuti dua benda oranye bergerak itu, meringkuk di kolong rumah sambil mencicit-cicit kasar. Umpatan dalam bahasa naga, mungkin.

"Deavvara-san, menurutmu kita telah menempuh berapa jauh?" Ayahku bertanya pada Sang Ortodoks.

Ia terdiam sejenak. "Sepertiga perjalanan," jawabnya, "semata-mata karena Takigakure dekat dengan Kori no Kuni. Kita sudah memasuki wilayah Negeri Salju, tapi tempat yang kita cari berada jauh di pelosok, tersembunyi diantara gunung-gunung. Yah, pokoknya keberadaan rumah berpenghuni mungkin cukup menyuplai makanan kita."

Pintu kayu antik itu terbuka bahkan sebelum kami menjejak anak tangga ketiga.

Yang muncul seorang perempuan. Ia mengenakan kimono ramping berwarna hijau kekuningan, rambut hitam panjang, dan sepatu seperti juru kendo. Kulitnya nyaris seputih salju. Matanya yang tajam menusuk kami bertiga, seolah berusaha mengamati apakah kami kelompok perampok salju atau bukan.

"Jangan kuil itu," gerutunya. "Katakan kalian tidak akan mengunjungi kuil itu."

"Hei, Non," labrak Deavvara, "kami tidak mengerti apa maksudmu. Kami hanya mencari tempat berteduh dari badai salju sebentar, oke?"

Perempuan itu mengerucutkan bibir. "Kalau tidak salah ... kalian pasti dari daerah tropis. Konohagakure dan semacamnya? Terserah. Aku sudah muak menasihati orang-orang yang tidak percaya. Tidakkah kau lihat keadaan yang menyedihkan ini? Memuakkan."

"Jangan begitu, Haku," suara yang lebih berat terdengar dari dalam rumah. "Anggap saja mereka tamu. Lagipula mereka takkan menetap disini lama-lama."

Dia keluar. Pria jangkung berotot berambut hitam, hidung dan mulutnya ditutupi perban sampai leher yang sekilas mengingatkanku pada Kakashi-sensei. "Dari Konohagakure? Kemana tujuan kalian?"

"Korigakure," jawabku bohong. "Kami harus mengambil sesuatu yang penting disana," lanjutku setengah jujur. "Kami, ehm, cuma butuh tempat bernaung sebentar."

"Tunggu sebentar," Haku berjengit, memperhatikan ayahku. "Kalau tidak salah, bukannya kau ... Yondaime Hokage? Si Kilat Kuning? Seluruh dunia bilang kalau kau tewas."

"Aye, Nona," cengir ayahku. "Aku ini Edo Tensei. Jutsu yang membuat orang mati kembali hidup."

"Itu tidak adil," gerutu Haku. "Kenapa melanggar hukum alam?"

"Haku, tidak baik bicara di luar," sergah pria besar itu, "mari masuk. Omong-omong, kalian bertiga tangguh sekali bisa berjalan jauh di cuaca dingin seperti ini, aku kagum."

"Sebenarnya kami bersama naga," aku berdehem, lantas menuding kolong rumah. Kedua orang itu buru-buru menuruni tangga dan menyaksikan dua ekor Wivereslavia dan seekor Saxoen Angelo kecil mendengkur.

"Oh, bagus," gerutu Haku. "Fuu baru mencuri beberapa binatang ternak beberapa hari lalu. Mungkin bisa kita umpankan pada mereka."

Deavvara mengernyit. "Fuu yang—"

Si pria besar mendorong kami bertiga masuk sebelum ia sempat melanjutkan.

Ruang tamu mereka lumayan luas, dengan kursi-kursi kayu antik yang dilapisi bulu binatang. Haku dengan cepat menyajikan tiga cangkir teh panas dan tiga mangkuk sup. Bukan ramen, tapi setidaknya ada makanan.

"Namaku Zabuza," si pria besar mengenalkan diri. "Ini muridku Haku. Dan ..."

Seorang gadis berjaket oranye tua, dengan rambut berwarna hijau dan kulit kecokelatan berderap memasuki ruangan, mulutnya mengepulkan uap pernapasan. Deavvara berjengit. Aku menggaruk kepala, tidak mengerti.

"Fuu," gadis itu memperkenalkan diri, padahal tadinya kukira dia cuma meniupkan angin. "Senang bertemu dengan—AH!" Dia menuding Deavvara. "Kau si monster itu! Yang membantai—dan AH! Itu kan Edo Tensei Yondaime Hokage!" Pekiknya sambil mengarahkan telunjuknya ke ayahku. "Demi Kuil Topaz, mimpi apa aku semalam?!"

"Fuu," bentak Zabuza, "pertama, bersikaplah sopan pada tamu—sekalipun itu orang mati. Kedua, jangan pernah sebut-sebut nama tempat itu lagi, oke?"

Gadis itu menghela napas malas. "Baiklah. Silakan nikmati ... err ... apa saja yang bisa dinikmati. Dan, Deavvara-san, kuharap kau tidak kemari untuk mencari tempat itu."

"Kuil Topaz, maksudmu?" Labrakku.

Haku seperti sedang berusaha keras untuk tidak melempar nampan ke wajahku. "Dengar, Bocah. Sudah kubilang sebaiknya kalian jangan sebut nama tempat itu. Kita gunakan kata ganti 'tempat itu', setuju? Letaknya tidak begitu jauh dari sini, tapi karena itulah kami mendirikan rumah disini. Kami memperingatkan siapa saja yang mendekati kuil itu. Tempat itu ... seram."

"Aku sudah pernah pergi ke tempat yang puluhan kali lebih seram daripada sekedar kuil," gerutuku. "Kau belum pernah pergi ke pulau raksasa dengan naga-naga yang bisa mencaplok rumah, kan?"

"Jangan pamer," potong Deavvara. "Ya, kami hanya mencari naungan semata. Jangan permasalahkan itu," sesaat kemudian dia melirik ayahku. "Kau nggak makan supnya?"

Si Kilat Kuning meringis. "Aku Edo Tensei. Tidak perlu makan, kan?"

Aku meneguk ludah. "Kalau begitu boleh aku ..."

Ayahku menggeser cangkir teh dan mangkuk supnya ke hadapanku. Zabuza memerintahkan Fuu untuk memasakkan beberapa kilogram daging ternaknya untuk naga-naga di kolong rumah mereka. Gadis itu sepertinya tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Aku jadi merasa sedikit tidak nyaman karena mereka terlalu baik, tapi sudahlah. Mestinya mereka bakal berterimakasih juga karena kami akan menyelamatkan hidup semua orang di Bumi kalau misi kami berhasil.

Tentu saja, kukira sesederhana itu.

.

Badai salju belum mereda hingga malam tiba. Aku berdiri di belakang jendela luar, menatap bosan bongkahan salju yang bagai dicurahkan dari langit, mengubah semuanya jadi abu-abu dan putih.

"Susah tidur?" Zabuza bersua di belakangku sambil membawa dua gelas cokelat panas. "Atau memikirkan sesuatu?"

"Memikirkan sesuatu, lebih tepatnya," ujarku sembari menerima segelas cokelat panas.

Kami terdiam beberapa detik.

"Umm ... aku ingin tahu soal kuil itu. Kenapa menyebutkan namanya saja tidak boleh?" Aku tak urung bertanya.

Zabuza mengelus dagunya yang diperban. "Hmm. Kuil itu membawa aura chakra yang begitu besar. Kekuatannya mengacaukan beberapa kehidupan yang rentan. Apa sejauh ini kau melihat makhluk hidup selain pepohonan dan naga-naga kecil?"

Aku menggeleng.

"Orang-orang menyebutnya Kuil Topaz,"—ia merendahkan suaranya ketika menyebutkan nama tempat tersebut—"Entah kenapa, sih. Kusarankan kalian tidak pergi kesana, kalau itu bukan tujuan kalian. Yang kalah akan mati. Yang menang akan jadi gila. Tidak ada untungnya."

Aku mengernyit. "Apa maksud Paman?"

Zabuza mendesah. "Kuil itu dialiri chakra kuno yang sangat besar—terlampau besar bagi kebanyakan Dracovetth. Aku pernah mencoba masuk kesana, dan pikiranku langsung disergap oleh bermacam-macam hal mengerikan; yang intinya tentang kemusnahan massal. Tapi aku tidak tahu apa yang menyebabkan itu, seolah-olah dunia berusaha menghancurkan diri sendiri. Aku terbaring sekarat di tempat tidur selama seminggu setelah itu."

Jam berdentang dua belas kali.

"Nah," pria besar itu menepuk pundakku. "Tidurlah. Kalian butuh energi untuk melanjutkan perjalanan besok."

Aku menguap. Sekalinya ini, dia benar—atau sentuhannya bisa menyebabkan kantuk, aku tidak peduli. Aku beranjak ke kamar tamu yang sudah disediakan Haku (dengan menggerutu, karena dia harus tidur sekamar dengan Fuu) dan jatuh dengan wajah lebih dulu. Aku baru memejamkan mata ketika tiba-tiba: aku sudah tidak di kamar itu lagi.

Aku berada di tempat yang entah apa namanya, bahkan tidak terlihat seperti di Bumi: langitnya berwarna kehijauan alih-alih biru, dan awan-awannya mempunyai semburat merah jambu. Aneh mengingat waktu sedetik lalu masih malam. Di sekitarku, tanaman berdaun lebar setinggi rumah dengan bercak-bercak aneh tumbuh berimpitan. Persis di depanku, terdapat sebuah kolam raksasa dengan air terjun berwarna kecokelatan yang mengalir dari mulut ... patung kodok?

"Naruto-chan!" Seru sebuah suara. Didengar dari frekuensi—apalah—kuyakin itu suara kakek-kakek.

Begitu aku mengetahui siapa yang bicara, aku langsung tahu firasatku benar. Tapi tidak sepenuhnya juga, sih. Dia berjenggot dan punya alis abu-abu lebat diatas mata kuning pucat berpupil hitam horizontal.

Seekor kakek katak. Aku terlonjak bangun meskipun berusaha mengendalikan diri.

"Katak bisa bicara!" Pekikku. "S-siapa sih kau ini?"

"Aku Fukasaku!" Kakek katak balas memekik. "Fukasaku-sama! Sennin Katak dari Gunung Myoboku! Aku yang memanggilmu kemari, Naruto-chan!"

"Bukan urusanku kalau kau mau memanggilku!" Aku memprotes. "Kembalikan aku! Memangnya apa mau kalian? Menyuruhku mengusir sekawanan ular dan elang?"

Kakek katak itu mendecih. "Tidak mungkin kami memanggilmu dengan alasan seremeh itu. Kemarilah! Tetua Katak punya ramalan untukmu, Naruto-chan!"

Aku melongo. "Aku masih tidak mengerti apa yang kau bicarakan kecuali sedikit. Ini ... Gunung Myoboku? Myobokuzan? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tidak asing. Dan Sennin Katak ... hei! Itu kan mode sennin-ku—Sennin tipe Katak!"

"Memang," balasnya santai. "Tanpa sadar kau telah membuat kontrak dengan Myobokuzan. Aku bisa memanggilmu dari duniamu kemari kapan saja menggunakan Byaku Kuchiyose, tapi aku takkan melakukannya kecuali ada sesuatu yang penting! Selagi aku masih mengingatnya, cepatlah. Sudah kubilang Tetua Katak punya ramalan untukmu!"

"Tapi—"

"Penjelasannya di jalan saja!"

Coba tebak mana yang lebih cepat, katak atau manusia? Aku berjalan santai sambil mengamati lingkungan sekitar seakan baru diteleportasikan ke planet lain sementara Kakek Fukasaku melompat-lompat di depanku. Agaknya semua ini terasa aneh, tapi kuputuskan untuk tutup mulut. Biarlah sesampainya di hadapan Tetua Katak, kutanyakan semuanya.

"Tetua, saya sudah bawa anak itu," Kakek Fukasaku berhenti di sebuah altar. Diatas benda berbentuk mangkuk raksasa, seekor katak raksasa berwarna cokelat muda kemerahan, dengan kalung mutiara serta topi toga (serius) memandangku penuh selidik. Perkiraanku sih begitu, pasalnya mata katak ini terpejam, entah memang dia sedang tidur atau karena saking tuanya.

"Tetua?" Selidik Kakek Fukasaku lagi. "Saya sudah membawa anak itu!"

"Oh, bagus, bagus," Tetua Katak akhirnya bicara dengan suara kakek (lagi) yang terdengar lebih tua, dan entah mengapa terdengar lebih bijaksana—abaikan itu. Untuk sesaat, wajahnya terlihat bingung. "Anak siapa?"

Aku cengo.

"Tetua, dia ini Anak-yang-Diramalkan!" Kakek Fukasaku memekik. "Anda sendiri yang mengatakannya!"

"Oh, ingat. Aku ingat," jawab kodok sepuh itu sambil terkekeh-kekeh (katak dan kodok beda nggak, sih? Tolong beritahu aku). Tetua Katak menerawang ke langit-langit dan menggeram pelan. "Kau ini, sebentar," ia tampak berusaha mengingat-ingat. "Uzumaki Naruto dari Konohagakure kah?"

Aku mengangguk malas. "Ya, Kek."

"Bagus, bagus," ia manggut-manggut. "Nah, dengarkan Nak. Di mimpiku, kau telah menjadi seseorang yang hebat, yang namanya dikenal di berbagai penjuru dan belahan dunia selepas menyelamatkan dunia dari cengkeraman kegelapan yang mengancam kenyataan," mendadak ia berbicara serius. "Apa aku salah soal itu, Anak Muda?"

"Tidak, Kek."

"Selanjutnya, kau menapaki tahap-tahap paling berbahaya dalam hidupmu," desisnya. "Keputusan yang kau ambil akan menentukan keputusan lainnya setelah itu. Dalam mimpiku, kau akan menemukan kebenaran dari masa lalu yang terkait dengan kehidupanmu di masa kini dan masa yang akan datang. Kau akan bertemu dengan bulan dan bintang, Anak Muda. Kemudian ketika saatnya tiba, kau akan dibingungkan oleh sebuah perkara dan memaksamu mengambil tindakan secepat mungkin. Dan yang terakhir ..."

"...aku tidak begitu jelas melihatnya, tapi kau akan melihat seseorang yang mempercayaimu lebih dari hampir siapapun di dunia ini mati. Orang tersebut, yang selalu memperhatikanmu sejak dulu, yang membantu perjuanganmu dan yang rela mengorbankan nyawanya untukmu, akan menghadapi pertarungan paripurnanya. Singkatnya ..."

"Ootsutsuki dan Uzumaki, bersama-sama, mereka akan menghadapi pertarungan paripurna mereka dan meninggalkan dunia."

Aku terdiam. Kakek Fukasaku meneguk ludah kecut.

"Apa maksudmu?" Aku berusaha tetap mengendalikan diri. "Pertarungan paripurna? Siapa yang akan kami lawan? Apa maksud Kakek?" Tuntutku.

Sang Tetua Sennin membuka sedikit matanya. Hawa energi alam yang sangat kental dan murni mengaliri tubuhku. Aku memaksa melawan dan mencoba terus berdiri, menatap matanya, menunggu jawaban.

"Kau akan bertemu dengan seorang gadis berambut perak," katanya lirih, "dan kalian akan saling mencoba mengakhiri hidup bersama-sama. Kalian juga akan melawan sesuatu yang tidak pernah dilawan sebelumnya, sesuatu yang tiada apapun di dunia ini dapat melampaui kegelapannya. Sesuatu yang begitu jahat dan perkasa, lagi purba. Sesuatu yang begitu tua hingga dilupakan oleh dunia."

Aku mengertakkan gigi. Ambigu benar kakek katak ini. "Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?"

"Itu terserah dirimu," katanya tegas. "Tapi ingatlah, tiap hembusan napas jelas membawa seseorang makin dekat kepada kematiannya. Kehancuran seseorang bergantung pada sekuat apa dia mencoba untuk tidak hancur dan terbawa arus. Menyerah jelas bukan pilihan. Satu keputusan akan mempengaruhi keputusan yang lain."

Kakek Fukasaku mengajakku keluar. Barangkali untuk meminimalisir efek stres. Tapi tidak. Setelah digempur dengan berbagai peristiwa yang bikin depresi, mendengar ramalan sudah cukup bagiku. Aku sendiri pernah mendengar si tua bangka Shinjuu mengucapkan ramalan, dan pernah membaca versi aslinya yang dicari kakek Neredox.

Ramalan yang itu butuh jutaan tahun untuk terjadi, aku menghibur diri. Bisa jadi ramalan si katak lansia itu butuh waktu bertahun-tahun juga untuk terjadi. Tapi ... Ootsutsuki dan Uzumaki? Gadis berambut perak? Satu-satunya yang terpikir di benakku hanya dia seorang, Ootsutsuki Ardhalea. Aku bertanya-tanya dimana dia sekarang, atau apakah dia telah dipengaruhi—ah! Aku mengenyahkan pikiran itu. Tidak mungkin Ardhalea berubah melawanku. Tidak mungkin.

"Kakek Fukasaku," desisku.

"Ya, Naruto-chan?"

"Apa ramalan Tetua Katak pernah meleset sebelumnya?"

"Tetua Katak pernah meramal Jiraya," kata Fukasaku. "Gurumu, kan? Dia meramalkan Jiraya akan berkeliling dunia dan menulis novel, dan menjadi seseorang yang genit. Pada waktunya, dia akan menemukan muridnya sendiri, yang entah mengantar dunia pada kehancuran atau kestabilan. Dialah yang akan membimbing jalan itu, meskipun untuk waktu yang singkat. Dan itu terjadi, bukan?"

Aku mengangguk.

"Tidak pernah," kata Fukasaku lagi. "Sejauh ini ramalan Tetua Katak tidak pernah meleset."

"Sejauh ini," kataku penuh harap, "bolehkah aku berharap ramalan itu meleset padaku?"

"Kau adalah bocah yang termasuk dalam Ramalan Besar Shinjuu, kan, Naruto?" Fukasaku terkekeh. "Kau gampang diterawang, Naruto-chan! Kalau pohon saja bisa meramalmu, apalagi seekor katak agung dari Myobokuzan?"

Kami terdiam.

"Yah, pasti ada kesempatan bicara lagi lain kali," ucap Fukasaku, "maaf sudah merenggutmu begitu saja dari duniamu—ha! Lama-lama kau akan terbiasa. Masih ada yang ingin kutunjukkan, tapi untuk sekarang cukup sampai disini saja."

Ia melakukan Byaku Kuchiyose dan tubuhku diselubungi asap putih, dalam sepersekian detik sudah kembali ke tempat tidurku. Waktu masih malam, untungnya. Aku memejamkan mata dan tertidur, berusaha mati-matian untuk tidak memikirkan ramalan itu.


The Prison

Menma melakukan kuchiyose lagi. Kali ini yang dipanggilnya adalah Gari—ahli Bakuton dari Iwa. Edo Tensei tersebut berlari ke pintu dan meninjunya, menghasilkan serangkaian ledakan besar yang menggetarkan satu ruangan. Pintu itu tebal—butuh dua kali ledakan untuk bisa membuat celah, dan setelah itu peti mati mengurungnya lagi.

Ardhalea menatap Menma dengan pandangan sengit. Menma mendengus. "Orang-orang sudah lama memanfaatkanku. Kali ini akulah yang akan memanfaatkan mereka. Setidaknya mereka harus merasa bersyukur karena mereka tidak kumanfaatkan saat mereka masih hidup," ia mengulurkan tangan kanannya. "Ayo pergi."

Ardhalea mendengus. "Kau pikir aku butuh bantuan untuk berjalan sendiri?" Meskipun kedua pergelangan kaki dan tangannya pegal-pegal, ia memaksakan diri berlari, melewati celah, dan mendapat ratusan anak tangga batu landai untuk dinaiki.

"Berhati-hatilah," Menma memperingatkan, "ada ratusan penjaga, dan mereka semua antek-antek Pararryon yang menyebalkan."

Kemudian mereka menjumpai para penjaga itu ketika berada di anak tangga terakhir—manusia-setengah-naga, mulut mereka berbusa, meneteskan liur. Beberapa dari mereka punya sayap, dan ekor mereka mengibas-ngibas gelisah di belakang pantat mereka, tak sabar mengoyak daging baru.

"Itu menjijikan," komentar Ardhalea. Ia maju selangkah sebelum mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia tak bersenjata.

Menma melakukan handseal.

"召喚:江戸転生 !"

Kuchiyose: Edo Tensei

(Teknik pemanggil: Edo Tensei)

DRAK!

DRAK!

DRAK!

DRAK!

"Sepertinya aku mesti berpikir panjang tadi," gerutu Menma, "Sandaime Raikage seharusnya tidak kuhilangkan begitu saja dan aku tinggal memanggil tiga peti sisanya ..."

"Nidaime Tsuchikage ..."

"Nidaime Mizukage ..."

"...dan Yondaime Kazekage. Empat Kage terdahulu dari tiap desa. Sekarang habisi manusia-naga sialan itu."

Mata keempat Kage memutih, berada dalam kendali sepenuhnya, dan tanpa ba-bi-bu mereka berempat merangsek maju, menghamburkan pasir, petir, debu, dan minyak ke segala penjuru.

Dalam waktu singkat, semua manusia-naga berhasil diatasi. Menma menepuk-nepuk telapak tangannya seperti baru membuang sampah. "Apa pendapatmu tentang yang barusan itu, Ardhalea?"

Ardhalea terdiam sejenak. "Suram."

Menma mendecih. Mereka berdua maju, dikawal empat Kage Edo Tensei di samping kanan-kiri dan depan-belakang, maju di sepanjang lorong besi sampai ...

GRAAA! Satu manusia-naga menyerang dari atas, nyaris merobek lengan Menma. Nidaime Tsuchikage membuyarkan kepalanya dengan Jinton, tapi lusinan dari mereka menampakkan diri dan menyerang lagi.

"Mereka bisa berkamuflase!" Pekik Ardhalea. "Meniru beberapa naga."

Tepat setelah itu, seekor muncul di sebelahnya dan menggigit tangan kanannya. Beruntung, si sialan itu cuma berhasil menggigit lengan bajunya, dan Ardhalea menariknya robek, menendang muka manusia-naga, tapi tidak berefek apa-apa. Menma menebasnya dengan tongkat besi, satu lagi muncul di belakangnya dan menggigit kerah bajunya, melemparkannya ke tiang besi, dan beralih ke Ardhalea.

JRAS-JRAASS!

"Ardhalea-sama," sapa suara itu. "Kau baik?"

Gadis berambut perak itu mengangguk. "Biar kutebak. Menma menyebutmu asisten. Padahal aku yakin kau seusia dia."

Sosok di depannya mengangguk, meletakkan sepasang sabit besarnya, membantu Ardhalea berdiri. "Namaku Akahana. Akahana Furudo." Dua ekor manusia-naga menerjangnya dan ia mengatasinya dengan gagang sabitnya, mengayun-ayun dua senjata jumbo itu tanpa kesulitan, memenggal kedua target.

"Akahana, tepat waktu," cicit Menma. "Temani Ardhalea ke bas. Mungkin ada beberapa pakaian dan senjata yang bisa digunakannya disana," dia melirik keempat Kage dan area pertarungan, "aku akan atasi sampah-sampah ini."

Gadis berambut hitam keabu-abuan itu mengangguk patuh, lantas menatap Ardhalea. "Kita harus ke bas. Aku akan membukakkan jalan."

.

.

Akahana mendobrak pintu besi bas yang setebal brankas tanpa kesulitan, yang membuat Ardhalea bertanya-tanya dengan cara apa gadis itu dibesarkan, atau apakah dia mewarisi gen tertentu.

"Aku akan berjaga di luar," kata Akahana, "silakan kau pilih senjata atau apapun."

Pakaian, Ardhalea membatin. Lengan kanan bajunya sudah terurai, dan ia benci penampilan seperti itu. Kalau saja Deavvara yang mengalami ini, dia pasti sudah mencak-mencak dan membabat habis semua manusia-naga itu tanpa ampun. Ardhalea nyaris tertawa saat memikirkan itu.

Baju zirah? Terlalu berat, pikirnya. Ia butuh pakaian yang bisa membuatnya bergerak bebas. Ia bukan Sang Paradoks lagi—setidaknya tidak ada kekuatan Paradox lagi dalam dirinya, tapi Taijutsunya bagus. Ia harus mempertimbangkannya lagi.

Gadis itu menemukan pakaian ninja kamuflase hijau-hitam, tapi kebesaran. Ia menemukan kostum karate yang longgar dan nyaman, tapi terlalu kecil. Ardhalea bertanya-tanya tempat apaan yang dijadikan Pararryon sebagai penjaranya, tapi setidaknya bunker mereka punya cukup banyak koleksi kostum.

Mata abu-abu badainya tertuju pada sebuah pakaian berwarna merah tua, dan ketika merabanya, ia mengenali bahannya—lembut seperti sutera, kokoh seperti nilon, agak tebal, tapi tidak membuat pemakainya kepanasan. Ini seperti ... pakaiannya ketika masih dialiri kekuatan Paradox. Cuma masalahnya ...

"Terlalu ketat," gumamnya. Celana panjangnya seperti melahap kakinya dan bajunya menekan punggungnya, tapi ia tak punya pilihan lain. Tubuhnya—atau pakaian itu, lama-lama akan terbiasa. Bajunya hanya menutupinya sampai diafragmanya, membiarkan perutnya terbuka. Ada tambahan penutup yang bisa dipakai di lengan bagian bawahnya, membentuk sarung tangan dengan ujung jari terbuka, benar-benar pas untuk tampilan pendekar pedang, tapi dia belum menemukan senjata yang tepat.

Ardhalea mendobrak bas senjata dan menemukan sebuah belati yang terbuat dari potongan sisik Jӧrmungandr—entah dari mana atau bagaimana mereka mendapatkannya, tapi belati itu bisa memotong dengan akurat, jadi dia menyambar wadah belati, mengikatnya di paha kanannya, dan memasukkan belatinya ke sarungnya.

Ia menyambar sebuah pisau besar bermata satu, melengkung, dan mengikat wadahnya melintang dari bahu ke dadanya. Terakhir, Ardhalea menjatuhkan pilihannya pada sebuah pedang perak sepanjang satu meter yang berbentuk mirip pedangnya saat ia masih memilikinya dalam wujud setengah-naga, mengikat sarung pedang itu di pinggang kirinya.

Akahana terbius ketika gadis berambut perak itu keluar bas. "Oh," dia menelan ludah. "Aku nyaris tidak mengenalimu, Ardhalea-sama. Apa ... tiga senjata tidak terlalu ... merepotkan?"

"Akan lebih baik kalau aku berjaga-jaga," balasnya cepat. "Bisa saja aku tanpa sengaja meninggalkan salah satu senjata."

Menma menyusul mereka, empat Kage-nya sudah dinonaktifkan. "Jadi ..."

Ardhalea memandangnya galak. "Apa?"

"Nggak," kilah Menma, "anu, kau memilih tiga senjata untuk mengintimidasi lawan kah? Membuat mereka berpikir mereka tidak bisa mengalahkanmu meskipun pada dasarnya kau—"

Tiga manusia-naga melompat dari atap. Ardhalea menebas yang pertama dengan pedang, membuatnya terhuyung ke belakang. Dua sisanya menyerang bersamaan, tapi muka mereka mendapat tikaman belati dan pisau ekstra. Belati Jӧrmungandr merobek mulut salah satunya, dan Ardhalea menendang selangkangannya, membuatnya memekik. Sisanya berusaha merenggutnya dengan cakar, tapi gadis itu berkelit ke bawah dan mengiris kedua kakinya di bagian belakang lutut, membuatnya jatuh terduduk, dan menusukkan pedangnya tepat ke seberang jantung manusia-naga. Darah mengucur.

Manusia-naga pertama pulih dari keterkejutannya, hanya menderita luka tebas panjang di dada. Ia menyerang, Ardhalea bersalto ke udara dan mendarat di punggungnya, memenggal kepalanya dengan pedang peraknya. Yang terakhir tersisa mendapatkan tikaman di leher, dada, dan perut dengan tiga senjata, dan ia ambruk tanpa memberikan perlawanan.

Ardhalea berdiri, mengambil ketiga senjatanya, mengibaskan darah yang masih melekat di bilah-bilahnya. Ia memandang Menma sinis. "Kau mau menyebutku lemah?"

"Eh," ucap Menma kikuk, "bagaimana mengatakannya, ya."

Akahana masuk ke bas dan menyerahkan sebuah jubah berwarna cokelat gelap pada Ardhalea. "Mungkin itu akan membantu di luar," katanya, dan gadis berambut perak itu menerimanya dengan senang hati.

"Aku bisa melakukan hal yang sama, Menma," gertak Ardhalea, "padamu. Tapi aku sedang baik hati sekarang," Ardhalea menepuk pundak lelaki itu dan berjalan keluar.

Akahana mengangkat bahu. "Apa dia selalu seperti itu?"

Menma terdiam. "Gadis cantik yang membunuh tiga monster dengan sadis," gumamnya. "Dia sehebat yang kubayangkan. Ayo."

.

Menma berharap mereka bertiga bisa kabur dari penjara ini tanpa bertemu cacing putih bersisik dengan medan gaya itu.

Dia salah.

Begitu sampai di halaman, Pararryon mewujud dari api keunguan yang berkobar, membakar rumput. Ia masih sama seperti terakhir kali Menma lihat, tak terlihat bertambah tua atau kewalahan, meskipun kerutan di wajahnya tampaknya bertambah satu-dua selagi ia memandangi tiga makhluk merepotkan yang baru lolos dari sel.

"Kau meremehkanku, Pararryon," gertak Menma. "Aku bisa memanggil puluhan mayat hidup Edo Tensei untuk mencincangmu sekarang."

Naga itu mendengus. Uap keluar dari kedua lubang hidungnya. "Silakan saja, sialan."

Ardhalea meneguk ludah. Ia baru menyadari dimana penjara ini terletak—puncak sebuah gunung, mungkin ketinggiannya lebih dari tiga ribu meter, karena udara terasa begitu sejuk dan dingin, bahkan lapisan tipis salju tampak di atap-atap. Rerumputan berwarna kombinasi antara hijau tua dan putih serta abu-abu. Ia memakai jubahnya.

Pararryon memandangnya sinis. "Jadi, hime. Kau memilih bergabung dengan pasukan naga yang mulia atau dengan dua pemberontak tak berharga ini—yang mayatnya bahkan tak sudi kuumpankan pada manusia-manusia nagaku?"

Ardhalea menggeram. "Jadi mereka itu ..."

"Tidak perlu banyak penjelasan," sergah Pararryon. "Biar kuhabisi mereka disini!"

"Takkan terjadi!" Ardhalea berseru, melesat ke depan dengan pedang terhunus. Pararryon tidak bergeser barang sesenti, dan pedang itu menghantam sebuah pelindung tak kasat mata, menghantarkan gelombang kejut. Kekuatan tikaman barusan pasti cukup untuk menyula seekor harimau, tapi aksi itu bahkan tak menimbulkan retakan di perisai tak terlihatnya.

"Gaya Koroiois tak bisa dinonaktifkan, Nona," desis Pararryon, "kecuali kalau aku mati." Ia menggulung tubuhnya, menyabetkan ekornya ke tanah. Ardhalea berguling menghindar. Menma berseru, dan empat mayat hidup meloncat dari dalam penjara—empat Kage terdahulu yang tadi dia bangkitkan.

Sandaime Raikage menyerang dengan pukulan petir, yang mestinya sanggup memotong tubuh Pararryon jadi dua, tapi serangan tersebut mental begitu mengenai Gaya Koroioisnya, dan Pararryon menggigit kaki Sandaime, melontarkannya hingga menubruk Nidaime Mizukage.

Pasir emas membuncah ke udara, berusaha mengurung dan meremas tubuh Naga Gatpura itu dari luar, tapi ada selubung tak terlihat yang membatasinya. Nidaime Tsuchikage menyerang dengan Jinton, tapi Kekkei Touta sekalipun sia-sia. Serangan itu berbelok ke menara penjara, memenggalnya sampai jatuh ke tanah dengan suara berdebum.

"Bagaimana kau menangani sesuatu yang tidak bisa kau sentuh, bodoh?" Umpat Pararryon. "Tanpa Edo Tensei, sebuah jarum saja cukup untuk membunuhmu!"

Menma mendecih. "Aku ... tidak selemah perkiraanmu." Ia melakukan handseal.

"為鉄: 鉄電磁波の術!"

Koton: Tetsudejinha no Jutsu

(Elemen Besi: Jurus gelombang besi)

Tanah meledak di belakang Menma, membentuk lingkaran. Jeruji-jeruji tajam tumbuh dengan kecepatan luar biasa, membentuk gelombang setinggi gedung tiga lantai—hanya saja kali ini terbuat dari ratusan pipa besi, sesuatu yang terlihat seperti mata pedang karatan, jarum-jarum logam raksasa, potongan asbes dan seng, serta lembaran-lembaran baja tajam.

Gelombang mengguyur Pararryon, menimbunnya dalam berton-ton rongsokan logam, tapi ia menembakkan semuanya keluar. Menma bergerak zigzag ke depan dan mengeluarkan sepasang besi berbentuk tabung di kedua tangannya, menusuk Pararryon.

"Tolol!" Umpat Pararryon. "Gelombang besi sebesar itu saja tak bisa menggoresku, dan kau berniat melukaiku dengan—AUW!"

Besi tabung Menma menyasar menembus medan gaya tak kasat mata tersebut, melubanginya semudah memecahkan kaca, dan mengenai sisik Pararryon. Naga itu mengaduh, susah payah melepaskan besi Menma dan menggulung tubuhnya menjauh.

"Bagaimana-bisa?!" Raungnya. "Jadi gelombang tadi cuma pengalihan?"

"Aku sudah memperingatkanmu," gertak Menma, "tidak ada yang boleh meremehkanku. Naga Gatpura tertua sekalipun—Paradox sekalipun!" Ia merentangkan tangannya, menembakkan besi-besi tabung. Beberapa meretakkan Gaya Koroiois Pararryon, membuatnya kewalahan menangkisnya dengan ekornya, dan ia menyemburkan api—api kuning dengan bercak ungu sehingga seolah tampak lucu dibanding mengerikan, dan Menma melakukan handseal, mendirikan dinding baja yang melindunginya dari api.

DRAK!

Pararryon membelalak ketika Ardhalea menggores medan gayanya dengan pedang dobelnya. Gadis itu mendecih, berusaha menendang medan tak terlihat di depannya, tapi sia-sia.

"Kenapa kau ikut campur?" Geramnya. "Aku tidak berencana membunuhmu. Tapi dua kutu ini—" Pararryon mengernyit. "Mana kutu yang satu lagi?"

"RAAAAAAARRRR!"

Naga itu mendongak dan menyaksikan seekor naga berwarna abu-abu dengan rahang sempit dan sekujur tubuh disesaki duri, menghantam kepalanya. Lebih tepatnya, lapisan Gaya Koroiois di atas kepalanya. Naga itu menyemburkan api, mencakar-cakar pelindung tanpa daya. Pararryon menggigit sayap si naga dan melemparkannya ke sembarang arah.

Naga yang barusan itu tidak asing, pikir Ardhalea. Mendadak, ia tersentak. Demi Saxoen Angelo—itu naga yang sama yang melakukan serangan dadakan di rumah Naruto ketika mereka pulang jalan-jalan di taman ... ketika berusaha memecahkan sandi Pararryon berbau kunyit itu. Apa sejak awal dia sudah dimata-matai?

Sebelum ia menyerang, Menma sudah mengambil langkah cepat-cepat dan meninju dada Pararryon, Taijutsu berkekuatan penuh.

Usaha yang sia-sia, pikir Ardhalea lagi. Kenapa kau nggak pernah belajar dari pengalaman? Kau ...

...kau seperti Naruto.

.

Kali ini dia keliru.

Gaya Koroiois Pararryon meretak hebat di sekeliling tinju Menma. Naga tersebut meraung hingga tanah berguncang, melontarkan pemuda bertopeng itu hingga merangsek sepanjang halaman penjara, tapi retakan perisainya menjalar begitu cepat dan hebat, lantas pecah berkeping-keping. Kejadian tadi begitu cepat dan sepintas terlihat mustahil hingga Ardhalea nekad menggores jari kelingking kirinya dengan pisaunya sendiri, memastikan dia tidak sedang dalam mimpi.

"Tikus!" Umpat Pararryon. "Kau akan merasakan—kemarahanku!"

Menma berusaha bangkit, tapi gerakan lengan kirinya aneh. Ia menatap Ardhalea, dan mengangguk.

Bodohnya dia! Ardhalea mengertakkan gigi, lantas berlari secepat antelop ke arah Pararryon. Tanpa perisai. Tanpa medan gaya. Tanpa perhatian. Ia melompat tinggi, memusatkan semua kekuatan yang tersisa ke kedua lengannya, mengayunkan pedang peraknya.

JRAAS!

Pararryon menggerung. Salju berguguran dari atap dan pepohonan. Lehernya teriris, dalam dan panjang, mengucurkan darah. Ardhalea terjatuh ke tanah dan pedangnya luput dari genggamannya. Tubuh gelendong Pararryon yang setebal bus cuma berjarak beberapa senti darinya. Sedikit gerakan, dan ia bisa gepeng.

"MENMA!" Pararryon memekik. "Kau akan membayar ini! Semua orang yang kau sayangi—aku akan membinasakan mereka semua!"

"Kau tidak beruntung," ucap Menma, suaranya menggigil, "kau berhadapan dengan orang yang salah. Dan, Pararryon, kau tidak bisa melukaiku. Tidak ada orang yang kusayangi dan tidak ada orang yang menyayangiku. Kau tidak bisa menumbangkanku," tegasnya.

Tubuh naga itu terbakar dalam api, menyisakan sedikit kepingan salju dan bau belerang, serta ceceran darah di rumput kelabu. Pertarungan selesai. Mereka menang—setidaknya untuk saat ini.

Ardhalea berusaha bangkit. Punggungnya seperti baru ditabrak naga kayu milik Hashirama (dia pernah mengalami itu), tapi ia bergegas mendatangi Menma, membantunya berdiri.

"Kau tak apa?" Tanyanya klise.

"Tangan kiriku patah."

"Bagus banget."

"Ya. Mestinya seluruh tulangku yang patah."

Ardhalea membopong Menma di bahu kanannya seolah lelaki itu cuma sekarung jagung. "Kita harus pergi secepatnya."

"Hei," protes Menma. "Aku masih bisa jalan. Dan semestinya aku yang berada di posisimu sekarang—seorang gadis membopong laki-laki? Ini penghinaan. Seharusnya aku yang menggendongmu. Dengan bridal style."

Ardhalea ingin menyumpalkan setengah kilo salju ke mulut pemuda ini, tapi biarlah. Ia mengambil pedangnya dengan tangan kiri selagi tangan kanannya menahan berat Menma, menyarungkan senjata itu lagi tanpa membersihkan darahnya.

"Ugh," Akahana menggerutu, mendadak sudah berada di dekat mereka. "Yang tadi itu sakit. Gigitan Pararryon membuat tanganku memar."

Ardhalea mengernyit. "Kau naga yang tadi itu?"

Akahana mengangguk. "Maaf mengejutkanmu. Aku tahu mungkin aku tidak bisa memberikan pengaruh pada Pararryon kalau bertarung dengan wujud manusia, jadi aku bertransformasi menjadi—"

"Naga," potong Ardhalea. "Kau manusia setengah naga. Kau juga bisa berubah ke versi ... manusia bersayap dan bertanduk?"

Akahana terlihat terkejut. "Kau tahu?"

"Aku juga sama," cetusnya. "Kau pikir Paradox hanya punya wujud naga? Ini wujud manusiaku, hanya saja sekarang tanpa kekuatan selain fisik. Ketika aku masih dialiri kekuatan Paradox, aku bisa berubah menjadi manusia bersayap dan bertanduk, setengah-naga. Aku tidak pernah melihat manusia-naga lain selain kakakku dan Naruto."

"Uzumaki Naruto juga bisa berubah jadi—ehm, naga?" Tanya Menma.

Ardhalea mengangguk. "Karena kekuatanku, tapi ya ampun, Akahana Furudo ... apa-apaan kau?"

Akahana tertunduk. "Iya. Aku ... menjijikan, ya?"

Gadis berambut perak itu mengernyit. "Yang benar saja. Kau luar biasa, Akahana. Aku tidak tahu kalau ada makhluk seperti keluargaku di dunia ini."

"Kau menyebut makhluk seolah-olah itu lebih mirip alien," komentar Menma, "omong-omong kau kan tidak bisa jadi naga lagi, Non."

Ardhalea mendengus. "Sebentar lagi itu akan terjadi dan aku akan melemparmu ke Gunung Batuwara," desisnya. "Cepatlah. Kita harus berjalan ke ... mana?"

"Kori no Kuni," kata Akahana. "Mungkin lebih cepat kalau terbang, Ardhalea-sama. Kalian berdua naiklah punggungku," Akahana menyarungkan sepasang sabit besarnya dan bertransformasi menjadi naga, naga abu-abu berkulit duri dengan sayap seperti jalinan rantai dan moncong sempit, matanya merah seperti matanya ketika dalam wujud manusia.

"Hebat," gumam Ardhalea, dan ia menurunkan Menma ke punggung Akahana. Dalam hitungan detik, mereka mengangkasa.


Konohagakure

Aku memejamkan mata. Semilir angin khas Hi no Kuni menyapu wajahku, dedaunan bergemerisik seperti memainkan lagu tidur. Rerumputan seolah berubah jadi tumpukan kapuk. Kelopak mataku seperti dirantai, sulit dibuka lagi. Rasanya sudah lama tidak kurasakan sensasi sedamai ini—sedamai-damainya Dracovetth yang sedang defisiensi tugas.

Rahangku mengeras. Mestinya aku tidak merasakan sensasi ini. Tidak ketika sensei meninggal.

"Bangun, PEMALAS!"

Satu mataku terbuka, memindai seorang gadis berambut kuning berkepang empat, mata hijau kebiruannya memandangku seperti anjing yang kepergok menggondol sandal tetangga. "Aku kemari bukan untuk—"

"Sudah kuselesaikan semua proposal dan rencana anggarannya," bantahku. "Bisa nggak menunggu sebentar?"

"Sebentar bagimu dan sebentar bagiku itu beda, Pemalas. Cepat bangun. Kita harus melapor pada Tsunade-sama."

"Dan jangan panggil aku pemalas," aku bangun, meregangkan tubuh, menguap. Temari menghela napas. Kami berjalan ke Kantor Hokage dengan membawa beberapa berkas untuk Ujian Chunnin tahun ini—dimana kami jadi ketua panitia. Tugas membosankan yang biasa.

"Jadi bagaimana persiapan Sunagakure?" Tanyaku, basa-basi.

"Ada setidaknya dua lusin yang mengikuti ujian tahun ini," jawabnya datar, "lebih banyak dari tahun lalu. Sunagakure rata-rata mengalami peningkatan. Sudah banyak Dracovetth hebat yang kami hasilkan sejak ... perang itu."

Aku menguap. "Semuanya baik-baik saja setelah itu," cetusku, "dunia ini damai, stabil. Atau lebih tepat disebut stagnan. Umumnya, orang-orang akan beropini untuk apa mendirikan kekuatan militer yang kuat dengan banyak Dracovetth berbakat ketika dunia sudah tidak terancam lagi? Ketika perdamaian menguasai dunia, mereka mengendurkan kewaspadaan, berpikir semua akan baik-baik saja. Membosankan."

"Tidak ada yang tidak membosankan bagimu," gerutu Temari. "Aku penasaran apa yang membuat Gaara dan Tsunade-sama sependapat tentang aku dan kau harus jadi ketua panitia."

Kami berjalan dalam hening selama tiga menit setelah itu.

"Oh, Shikamaru."

"Hm?"

"Aku turut berduka soal Asuma-sensei."

Aku terdiam. "Bukan jadi soal. Pembunuhnya akan mendapatkan balasannya."

Temari memandangku simpatik. "Kau serius? Dia membunuh Dua Belas Dracovetth penjaga, Shikamaru. Kau tahu sendiri itu gelar yang ... elit. Mereka bisa dibilang Jounin-Jounin terbaik di Hi no Kuni. Dikalahkan oleh satu orang ... tidakkah kau berpikir kemungkinan orang itu bisa disebut Madara kedua?"

"Jangan singgung-singgung nama itu lagi, tolong," pintaku. "Atau kematian Asuma. Aku baik-baik saja. Yang kita butuhkan hanya waktu untuk memulihkan diri dari tragedi dan menyusun rencana baru untuk menghadapi ancaman baru."

"Yeah, mungkin kau benar," Temari menatap langit. "Aku juga merasa janggal soal keadaan belakangan. Seakan kedamaian ini terasa ... asing."

Percakapan kami mengantar kami ke depan Kantor Hokage. Kami berdua masuk, dan aku berharap Tsunade-sama sedang tidak ada kunjungan atau tamu, jadi kami bisa segera menyelesaikan urusan kami secepatnya dan pulang. Mungkin setelah ini aku akan melatih Kage Nui milikku atau apalah. Tidur, mungkin. Lebih masuk akal.

Aku mengetuk pintu.

Butuh beberapa detik sebelum suara sang Hokage terdengar dari dalam. "Masuk."

Temari membuka pintu kantor.

Sesaat kukira aku tidak mengenali pemuda yang sedang bicara dengan Tsunade-sama. Dia mengenakan jubah abu-abu kehijauan, tapi rambut hitamnya yang seperti pantat ayam itu ...

Tsunade sama berhenti bicara. "Ujian Chunnin itu, ya." Kali ini dia bicara tanpa antusiasme.

"Uchiha Sasuke," kataku, "ada apa kemari?"

"Baguslah kau datang," timpal Sasuke. "Sepertinya aku butuh bantuanmu."

Aku mengernyit. Tsunade-sama menghela napas. "Berusahalah tetap tenang setelah kalian mendengarkan Sasuke."

Sasuke menggaruk kepala malas, jelas sekali tidak suka menjelaskan sesuatu yang sama dua kali. "Konoha terancam hancur."

Hening.

Dasar Uchiha, gerutuku. Tidak pandai basa-basi. Kok bisa dia langsung tikam di tempat—mengatakan Konoha terancam hancur? Eh, tunggu. Apa?

"Konoha apa?" Selidik Temari.

"Persoalan Madara dan Laramidia sudah selesai setahun lalu, tapi kali ini ada ancaman baru lagi," jelas Sasuke. "Kutebak Konohagakure—tidak. Kutebak Lima Negara Besar belum tahu, setidaknya belum menyebar luas. Naga Gatpura tertua, Pararryon, muncul dan mengungkapkan rencana baru untuk membuat planet baru bagi naga. Intinya, memisahkan naga dengan manusia."

Temari menggeleng. "Satu lagi rencana gila dari naga gila," komentarnya.

"Teruskan," kataku.

"Jadi, Pararryon mungkin bersekutu dengan seseorang yang menguasai jutsu ciptaan Nidaime Hokage, Edo Tensei. Jutsu yang membawa orang mati kembali hidup, kekal, chakra tak berbatas. Dan orang itu telah berhasil membangkitkan seseorang yang ... tidak pernah kita lihat sebelumnya. Seseorang yang sangat kuat, terlampau kuat hingga dapat mengalahkan puluhan Uchiha sekali datang. Ada asumsi kuat bahwa Edo Tensei yang sama telah menghabisi Dua Belas Dracovetth penjaga Hi no Kuni."

Seseorang seakan telah menusuk punggungku dengan Chidori. "Maksudmu ..."

Sasuke mengangguk pelan. "Kemungkinan besar si pengguna Edo Tensei ini berkoalisi dengan Pararryon. Sejauh yang kami tahu, dia telah membangkitkan Hanzo no Sashuoo dari Amegakure dan Uchiha Shisui dari Perkampungan Uchiha, keduanya tewas di perang tahun lalu," katanya. "Dia pasti telah membangkitkan orang-orang kuat lainnya. Bisa jadi para Kage terdahulu."

"Dan kenapa kau berpendapat Konoha akan hancur?" Tanya Temari.

"Dua Belas Dracovetth penjaga dan Perkampungan Uchiha adalah kekuatan sentral Hi no Kuni," celetukku. "Umum-umum saja jika kita berpendapat bahwa kalau dua kekuatan itu dihancurkan, Konohagakure bisa jadi ... ehm, sasaran empuk."

"Ujian Chunnin tahun ini terancam gagal lagi," Tsunade-sama akhirnya bicara. "Namun kita harus merahasiakan ini dari masyarakat sebelum kevalidannya bisa dipercaya. Sasuke, kuserahkan Perkampungan Uchiha padamu. Temari, mungkin ada baiknya kau pulang ke Suna dan beritahu Gaara tentang ini. Shikamaru ... aku ingin kau mendirikan pasukan khusus penyelidik perkara ini."

"Masalahnya, Hokage-sama, kita tidak tahu dimana Edo Tensei itu akan muncul lagi," kilah Sasuke.

"Apa kita bisa mengira-ngira siapa dia?" Gumamku. "Apa ciri-cirinya? Mungkin ada satu atau beberapa orang dari Lima Negara Besar yang mengenalnya. Apa itu Kage terdahulu, pengguna Kekkei Genkai, atau apalah."

Kening Sasuke berkerut. "Aku ragu. Dari penampilannya, dia sudah tua. Kutaksir usianya empat atau lima puluh tahun, tapi aku tidak bisa memastikannya karena orang itu ... diselimuti api. Api berwarna putih yang jauh lebih panas dari api biasa, dan senjatanya adalah sebuah katana bernama Zankokutsuchi."

"Zankokutsuchi," kataku. "Batu kejam? Nama yang aneh. Mungkin divisi sandi bisa mengecek daftar nama senjata di Lima Negara Besar. Apa lagi?"

"Pakaiannya sedikit kuno," ceritanya. "Dan dia memiliki chakra abnormal yang begitu kuat hingga bisa disetarakan dengan Madara. Masalahnya, aku tidak bisa mengenali chakra klan mana yang mengalir dari dalam dirinya. Lebih banyak dari Uzumaki, terlalu terang bagi Uchiha, dan lebih luas dari Hyuuga. Juga tidak terasa seperti chakra khusus milik Akamichi, Nara, Yamanaka, atau Aburame. Dan meskipun ia mempunya jutsu api yang hebat, chakra api tersebut secara kasarnya sepuluh sampai dua belas kali chakra Sarutobi Hiruzen."

"Sepuluh sampai dua belas kali lebih kuat ketimbang Sandaime Hokage?" Gerutu Tsunade-sama. "Itu ... menakutkan. Madara saja cukup buruk."

"Dia tidak menguasai Dojutsu," kata Sasuke yakin. "Aku bisa pastikan. Kemungkinan dia juga tidak bisa menggunakan Genjutsu, tapi Taijutsu dan Kenjutsu—teknik pedang—berada di level atas. Selain itu, dia bisa mengeluarkan jutsu juga, ya ... entah kenapa rasanya aneh. Seperti seolah dia ... bukan manusia."

"Manusia yang terlalu kuat memang bisa dianggap bukan manusia," simpulku. "Singkatnya, dia bukan orang normal. Tapi dia Edo Tensei. Kalau memang benar, berarti hanya butuh serangan kuat yang cukup mengejutkannya agar kita bisa menyegelnya?"

"Itachi hampir menyegelnya dengan Totsuka no Tsurugi," akunya. "Tapi aku mencegahnya karena berpikir kami bisa dapat info tentang dirinya. Aku salah. Dia jauh lebih kuat dari perkiraanku."

"Divisi intel akan menyelidiknya," kata Tsunade-sama. "Akan kuperintahkan Ibiki untuk pencarian informasi. Buka gulungan-gulungan lama."

Aku menghela napas malas. "Kenapa kita nggak pergi ke Perpustakaan Alexandriana saja?"

Sasuke, Tsunade-sama, dan Temari menatapku seolah baru teringat fakta itu. Aku mengedikkan bahu. "Perpustakaan itu sudah sangat tua, sangat awet. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun mencari informasi tentang orang itu diantara jutaan buku yang terdapat disana, tapi kita kan kenal baik Oedipus."

Tsunade-sama menyeringai, seolah menyukai ide itu. "Jadi siapa yang akan pergi?" Dia melirikku. "Shikamaru, kau bisa?"

"Bisa-bisa saja sih," gumamku. "Terserah Anda, Tsunade-sama."

"Kita butuh Dracovetth berotak cemerlang," simpulnya. "Sasuke?"

Sasuke menggeleng. "Aku harus membantu perkampungan. Saat ini situasinya sedang tidak bagus. Omong-omong, Hokage-sama, boleh aku bertandang ke rumah Yamanaka? Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Inoichi-san."

Aku mengernyit. "Soal apa?"

"Naruto belum tahu informasi ini," kata Sasuke datar. "Eh, maksudku soal ... terjemahan Tablet Batu Uchiha. Uzumaki Nagato dari Amegakure berhasil membaca sebagian besar informasi penting yang terpahat di tablet tersebut, dan Naruto harus mengetahuinya."

"Si blonde itu nggak kelihatan di desa," selidik Temari curiga. "Apa dia sedang pergi menjalani misi atau apa?"

"Naruto mungkin sedang pergi bersama Paradox ke belahan dunia lain," aku berasumsi. "Itu lumrah-lumrah saja terjadi kalau kau punya partner seorang—atau seekor—naga—atau manusia-setengah-naga yang begitu ... ekstrem."

Temari menggerutu. "Kurasa ekstrem bukan kata-kata yang tepat."

"Partner juga," usul Sasuke. "Tapi mungkin iya, mereka sedang berkelana entah kemana, jadi Shintenshin no Jutsu milik Yamanaka-lah satu-satunya yang bisa mengantarkan pesan dengan tepat dan cepat."

"Omong-omong," kataku, penasaran. "Apa yang kalian dapat dari Tablet Batu Uchiha kalian? Kecuali itu rahasia yang cuma boleh diketahui Draco P atau apalah, tapi aku ingin tahu saja."

Sasuke mengangguk. "Ootsutsuki Ardhalea bukan Paradox pertama. Setidaknya itulah spekulasi kami."

Tsunade-sama terperanjat. "Kenapa demikian?"

"Pasal 69 menegaskan bahwa Ootsutsuki Kaguya, manusia pertama yang memakan buah chakra Shinjuu, mempunyai suami bernama Neredox, dan Neredox adalah ... putra Sang Paradoks. Itu tidak mungkin—Ardhalea sendiri bercerita pada kami bahwa Neredox adalah ayahnya."

"Nasab yang membosankan," gerutuku. "Selalu. Mereka seperti binatang purba saja. Tidak diketahui ini-itu. Setiap kali kita mengira persoalannya sudah selesai, timbul yang baru. Nak, ternyata ayahmu adalah Si Pengguncang Bumi. Oh, hadapi kakekmu yang jahat itu, Si Pelahap Barbeque."

Temari terkekeh. "Tidakkah itu justru menarik bagimu, Pemalas? Jadi ... intinya saya harus ke Suna lagi, Hokage-sama?"

Tsunade-sama memainkan gelas tehnya. "Sepertinya begitu. Bahkan mungkin aku akan berkoordinasi dengan Daimyo dan keempat Kage yang lain untuk mengadakan rapat darurat lagi, menyangkut masalah keutuhan dunia lagi. Hah! Apa ada yang salah dengan pemerintahanku? Masalah besar terus muncul silih berganti."

"Kalau tidak, tidak seru," tanggapku, melempar pandangan ke luar jendela, mengamati awan-awan yang bebas berlayar di samudera angkasa biru. Tidak memikirkan ancaman. Tidak memikirkan kematian.

Kami bertiga keluar dari ruang Hokage.

.

.

"Jadi ... bagaimana, Shikamaru? Apa kau akan membentuk tim untuk menyelidiki Edo Tensei itu?" Tanya Temari penasaran. "Soalnya ini berhubungan dengan, kau tahu."

Aku meneguk ludah. "Ketika berbicara tentang Kinjutsu semacam itu, mestinya kita mempertimbangkan untuk mencari penggunanya. Meskipun Edo Tensei tidak bisa digagalkan jika kita membunuh penggunanya, setidaknya kita harus tahu siapa dalang dibalik kerusuhan tingkat dunia ini. Yah, tapi karena musuh yang dibangkitkan kali ini teramat kuat, mencari info tentangnya kira-kira sama pentingnya dengan mencari info tentang pengguna teranyar ini."

"Kau tidak berpikir untuk membalaskan dendam Asuma, kan?" Kali ini Sasuke yang bertanya. Intonasinya datar khas Uchiha, dan kedengaran acuh tak acuh seolah kalau aku tidak memberi jawaban selamanya, dia takkan protes, tapi tetap saja namanya pertanyaan.

"Mungkin ini satu-satunya kesempatan. Setidaknya aku akan meninju wajah si pengendali satu kali," jawabku sekenanya. "Kematian Asuma membuat Tim 10 dorman beberapa waktu."

"Soal Perpustakaan Alexandriana bagaimana?" Temari mengungkit topik lagi.

"Akan kupikirkan. Aku sudah punya calon-calon orang yang akan kuajak. Tempatnya jauh, sih, jadi aku butuh pertimbangan."

.

.

.

Menma's Team

Masakan kombinasi Akahana dan dirinya enak sekali sampai-sampai Ardhalea ingin memejamkan mata, bergelung di batu dan rerumputan, dinaungi pohon-pohon perdu, mendengarkan suara alam: gemerisik air terjun dan sungai kecil di dekat perkemahan malam mereka, bunyi retihan api unggun, suara-suara serangga malam. Atau apa itu akibat perjalanan panjang dan juga pertarungan pagi.

Gadis itu memaksa matanya terbuka. Mereka baru saja menikmati seekor rusa panggang. Ardhalea jadi teringat pengembaraannya mencari kekuatan Paradox. Selama berdekade-dekade mencari pengendara demi pengendara, dia praktis hampir tidak punya waktu untuk mempraktikkan keahlian yang selama itu dicarinya. Sekarang, semua keahlian itu bukannya memudar, justru terasa makin tajam seiring kekuatan naganya hilang.

Ia ingin ngobrol dengan seseorang—siapa sajalah agar matanya bisa memaksa terbuka, tapi Akahana sudah meringkuk di tendanya seperempat jam yang lalu. Berubah jadi naga terlalu lama menguras energinya, apalagi setelah terbang menempuh udara dingin dan jarak ratusan kilometer sekaligus nyaris nonstop dalam sehari.

Menma?

Ia melirik tenda sebelah. Pintunya terbuka, berkibar-kibar diterpa angin. Penghuninya meninggalkan jejak di tanah berpasir basah, yang mengarah ke sungai berbatu.

.

.

.

"Sedang mencoba menangkap ikan?"

Menma terhenyak, buru-buru memakai topengnya lagi. Untungnya baginya—sialnya bagi Ardhalea—gadis itu tak sempat melihat wajahnya. "Aku sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini," desis Menma. "Tapi takkan semudah itu, Nona Merah Putih."

Ardhalea merapatkan jubahnya. "Bukan aku yang memilih baju ini."

"Ya, kau memilihnya."

"Keadaan yang memaksaku memilihnya."

"Kau memaksa keadaan memilihkannya."

"Kau tahu apa yang orang-orang katakan? Perempuan selalu menang."

"Iya deh," Menma melempar batu ke sungai, menghasilkan bunyi berkecipak yang terdengar nyaring di tengah heningnya malam dingin.

.

"Menma."

"Hm?"

"Ada yang ingin kutanyakan."

"Silakan."

"Tinjumu menghancurkan Gaya Koroiois Pararryon," kata Ardhalea hati-hati. "Bagaimana ... bisa? Maksudku, aku tahu Taijutsu mampu melawan gaya itu, tapi hanya Taijutsu level atas. Mungkin Hachimon Tonkou bisa meremukkan Gaya Koroiois, tapi selepas itu penggunanya tamat. Kau meninju medan gaya tadi dengan begitu mudah."

Menma terdiam.

"Hei, sebaiknya kau cepat beritahu aku alasannya."

"Kalau tidak?"

"Kulempar kau ke sungai."

"Sungai ini dalamnya cuma selutut."

"Jatuh dengan kepala lebih dulu," Ardhalea mengertakkan jemarinya.

"Itu bukan Taijutsu, Ardhalea," jawab Menma akhirnya, terdengar sedikit terpaksa. "Itu bukan Taijutsu—setidaknya bukan Taijutsu kosong. Itu ... itu semacam Gedojutsu. Jurus Samsara."

Ardhalea meneguk ludah. "Bukannya jutsu itu cuma bisa dilakukan oleh ..."

Udara terasa dua kali lebih dingin dari sebelumnya. Angin bertiup seolah bukan dari langit, tapi dari tubuh Menma, berusaha mengisi wujud apapun di sekitarnya dengan kengerian. Awan menutupi sinar bulan.

Menma memakukan pandangannya pada sebuah batu di seberang sungai. "Sekarang kau tahu kebenarannya," desahnya. "Kalau kau mau meninggalkanku dan bersikeras mencari Darah Delima sendiri, aku takkan terkejut. Kupikir ... benda ini bisa membuatku bertambah kuat dan lebih diakui, tapi ternyata semua orang yang melihatnya justru makin ketakutan."

"Kau punya ..." suara Ardhalea tercekat.

"Hanya satu," potong Menma. "Satunya lagi normal."

"Jadi besi tabung itu juga bukan Koton. Itu kemampuan Gedojutsu. Paham. Semua terasa masuk akal sekarang. Apa kau pikir Gaya Koroiois Pararryon runtuh selamanya?" Tanya Ardhalea tenang.

Menma memalingkan pandangan padanya. "Kok kau nggak terkejut?"

"Aku terkejut sekali," cetus Ardhalea datar. "Sungguh. Tapi yah, sebentar saja. Sekarang jawab pertanyaanku atau kubelah topengmu jadi dua."

"Kupikir tidak," kata Menma lirih, "medan itu akan memulihkan diri selang beberapa jam setelah kehancuran, soalnya Pararryon juga kuat secara fisik. Aku nyaris mengucurkan semua kekuatan Gedo ke sebagian jutsu tadi pagi. Kalau benar-benar ingin meruntuhkan Gaya Koroiois sekuat itu dalam waktu lama, butuh kekuatan Gedo lebih besar."

"Apa Senjutsu tidak mempan pada medan gaya semacam itu? Gedojutsu ... satu-satunya yang bisa mengimbangi Gedojutsu hanya Senjutsu, kan? Energi alam."

Menma menghela napas. "Bayangkan bahwa Senjutsu adalah segala elemen kehidupan yang terdapat di permukaan planet ini. Gedojutsu adalah kekuatan yang membentuk elemen kehidupan tersebut. Keduanya saling mendukung, tentu saja. Tapi jika ada kekuatan lain yang serupa dengan Gedojutsu, Gaya Koroiois-lah jawabannya. Gaya tersebut bisa diibaratkan musuh Ninshuu—ajaran kuno Rikudo Sennin. Orang-orang cenderung menginterpretasikan Ninshuu sebagai Ninjutsu, tapi itu adalah kumpulan dari semua jutsu: Ninjutsu, Genjutsu, Taijutsu, Kenjutsu, Senjutsu, dan Gedojutsu."

Ardhalea mengangguk. Semua ini sama dengan apa yang diberitahukan Hagaromo tentang salah perspeksi dari manusia tentang ajarannya.

Aku mengajarkan mereka Ninshuu agar mereka bisa saling percaya, katanya waktu itu. Agar tiap orang memiliki kekuatan untuk melindungi yang mereka kasihi. Membela yang lemah, melawan kebatilan.

"Bagaimana dengan para naga?" Ardhalea bertanya lagi.

"Maksudmu?"

"Yeah ... para naga mengembangkan jutsu juga. Kau tahu Ryooton? Elemen naga? Itu sungguh ada—beberapa naga tingkat tinggi menguasainya. Chakra mereka berbeda dengan chakra manusia—Rikudo Sennin sekalipun. Apa Ryooton mampu mengalahkan Gaya Koroiois, karena kau bilang Gaya Koroiois hanya bisa dikalahkan oleh kekuatan sebanding, sementara kita bisa asumsikan bahwa gaya tersebut juga merupakan Ryooton? Seperti Ninjutsu melawan Ninjutsu."

Menma menggeleng. "Aku tak pernah berpikir seperti itu. Mana bisa level berpikirku disandingkan dengan seorang Paradox? Tapi jika kau mengatakan begitu ... mudah-mudahan sih bisa," Menma menjuput sebutir kerikil dan melemparnya lagi ke sungai. "Selepas kau memperoleh kekuatan Darah Delima, kau bisa gunakan Ryooton untuk menjotos wajah jelek Pararryon."

Ardhalea tertawa. "Selera humormu buruk sekali," setelah itu ia menguap, lantas berjalan ke tendanya, diikuti Menma.

"Tidurlah," katanya, "kau harus memulihkan kekuatanmu."

"Tidak," tolak Menma. "Masa aku akan membiarkanmu berjaga? Aku satu-satunya laki-laki di tim ini. Aku yang berjaga."

"Jangan keras kepala," suara Ardhalea mendadak tercekat, "lakukan saja apa yang kukatakan."

"Baiklah. Kalau begitu kita berdua yang berjaga."

"Lalu kau tertidur saat berada di punggung Akahana besok siang? Tidak. Kau bisa menggelinding dan jatuh bebas nanti. Percayalah."

"Aku tahu motifmu," gerutu Menma. "Kau akan membuka topengku saat aku lelap, kan?"

Ardhalea berjengit. "Mana mungkin. Aku tidak memiliki niat itu."

Anehnya, Menma percaya. Ia bergelung dalam tendanya, menolak menutup pintu. Ardhalea berjaga di batu besar di depan tenda mereka berdua, hanya ditemani pedang-pedang dan pisaunya serta retihan api unggun.

Menma hanya tidur lima menit, kemudian terjaga lagi. Ia memperhatikan gadis itu dari belakang, rambut perak panjangnya berkilau diterpa sinar rembulan. Kesannya ngeri sekaligus menenangkan. Dalam keadaan seperti itu, Ardhalea terlihat seperti gadis biasa kecuali kau nekad mengajaknya tanding judo.

Lelaki berambut hitam itu meringis. Ia mencoba menghitung sudah berapa kali ia meyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai siapapun. Semuanya busuk di matanya. Semuanya mengkhianati kepercayaannya. Tidak ada yang benar di matanya. Ardhalea lain.

Apakah ini akhirnya? Pikir Menma. Tempo hari aku mencoba menguji kartu as-ku dengan Naruto dan Minato. Sang Ortodoks datang, tak terduga, jadi aku terpaksa menariknya lagi. Aku masih belum mengetahui apa sisi istimewa dari Uzumaki Naruto. Bisakah pertanyaan itu terjawab saat aku bertemu dengannya?

Menma tahu, jika dia dan Ardhalea bertemu Naruto dan Menma memilih jalan yang berseberangan, dia bisa habis digempur keduanya. Tapi dia masih memiliki itu, kartu as-nya, dan juga senjata rahasia lain, meskipun Ardhalea sudah menelanjangi hampir semuanya dalam kurun waktu hanya sehari. Itu artinya, jika ia memang ingin (atau harus) bertemu Uzumaki Naruto, Draco P, dia harus datang sebagai kawan.

Tiga pahlawan membunuh Pararryon, batin Menma. Ketika itu terjadi, apa yang akan kau lakukan, Uzumaki Naruto?

.

.

.

.

.

.

Pagi harinya, mereka meneruskan perjalanan. Pertama-tama dengan berjalan kaki, tapi lama-lama Akahana merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Teman-teman," periksanya, "lihat."

Gadis itu menuding tumpukan batu. Di lerengnya, tergeletak seonggok tengkorak manusia. "Itu peringatan buat kita," celetuknya. Mereka bertiga memanjat gundukan batu dan melihat tanah terbuka di depan, sepertinya bekas adegan pembantaian bertahun-tahun lamanya. Tulang-tulang kecokelatan bertebaran. Beberapa masih menyisakan bau anyir, meskipun tidak tajam.

"Kita berada di teritorinya," sungut Menma. "Haruskah kita ambil jalur udara sekarang?"

Ardhalea mengernyit. "Jangan. Tunggu. Maju."

Menma bingung kenapa tiga kata itu mesti mempunyai jeda dua detik, tapi mereka maju pelan-pelan, berusaha tidak menginjak remah-remah tulang. Entah itu makan siang atau sekedar camilan. Yang di depan sana pasti bukan manusia.

Kira-kira lima belas meter dari kaki mereka, terentang sebuah spanduk dari kulit, bertuliskan darah kering, terbentang diantara dua rerimbunan cemara besar berduri, menambah suasana angker.

'INGIN MENGETAHUI SECERDIK APA ISI KEPALAMU? BUKTIKAN SEGERA! KAU LOLOS, KAU LEWAT! KAU GAGAL, OTAKMU DI PIRINGKU!'

Akahana menenggak ludah kecut. "Apa-apaan?"

"Aku tahu ini," desis Ardhalea. "Kita tidak bisa lewat jalur udara, sayangnya. Tidak ada yang bisa mematahkan kekuatan magis itu kecuali—"

"Kau menjawab pertanyaanku."

Menma tersentak. Di sebelah kiri mereka, dibalik rerimbunan cemara cebol dan semak, muncullah sosok manusia—eh, sebentar, itu manusia bukan?

Kepalanya memang iya, berupa kepala wanita muda dengan bibir merah, empat taring seperti drakula, mata hijau berbinar, dan rambut cokelat pucat bergelombang sepanjang punggung, tapi tubuhnya sebesar singa lengkap dengan keempat kaki kekar bercakar, berwarna keunguan, dan memiliki sepasang sayap elang di punggungnya. Di ekornya tertanam seekor ular berwarna hijau cerah, lidahnya menjulur mencicip udara.

Rahang Akahana mengeras. "Sphinx."

Monster itu menyeringai. "Ya, Non. Jawab pertanyaan-pertanyaanku dan kalian bertiga boleh lewat. Kalau tidak, kalian akan dimakan!"

Menma mendengus. "Habisi saja wanita singa sinting ini dan kita pergi."

"Tidak, Menma," cegah Ardhalea. "Sphinx memiliki kekuatan magis. Dia tak bisa dibunuh kecuali kita menjawab pertanyaannya dengan benar. Dan kita tidak bisa melarikan diri dari sini kecuali melakukan hal yang sama."

"Jadi?" Si Sphinx menjilat bibir. "Mana yang mau mati—eh, menjawab pertanyaan-pertanyaanku? Siapa saja boleh."

Ardhalea maju dua langkah. Akahana membelalak padanya, tapi ia memutuskan untuk diam.

Menma berusaha melemaskan kaki-kakinya. Mana mungkin dia gagal? Batinnya, menenangkan diri. Dia ini Paradox. Kecuali kalau Sphinx bertanya berapa jumlah bintang di langit atau apa yang baru saja dia makan untuk sarapan pagi.

Sang Sphinx tersenyum getir. "Alangkah malangnya. Aku akan mengajukan tiga pertanyaan, Nona. Ketiganya harus benar."

Ardhalea mengernyit. "Kau memecah satu pertanyaan jadi tiga?"

"Apa maksudmu?" Balas Sphinx.

"Teka-teki itu," pungkas Ardhalea. "Kukira kau akan menanyakan teka-teki apa yang berjalan dengan empat kaki di pagi hari, dua di siang hari—"

"Itu teka-teki Sphinx dari Gunung Phicium," gerutu Sphinx di depannya. "Teka-tekiku beda! Ada banyak Sphinx di dunia ini, Non, tapi yang paling terkenal ya, yang di Phicium itu, soalnya dia paling rakus dan paling cerewet. Nah, sudah tidak bisa ditarik lagi. Kau bersedia menjawab pertanyaanku dan mati paling dulu kalau kau salah?"

Ardhalea mengangguk. "Asal kau memberiku waktu," jawabnya tenang.

Sphinx menegakkan badan, merapatkan sepasang sayapnya. "Sebutkan kepadaku dua hal yang berlawanan tetapi memiliki kesamaan: semakin banyak mereka, semakin mereka tak bisa dilihat. Pertanyaan keduanya: Sebutkan kepadaku hal tertua di dunia, hal yang ada sebelum keberadaan alam semesta. Pertanyaan terakhir: Sebutkan kepadaku muara tiap kehidupan."

Ardhalea tersenyum menantang. "Itu saja?"

Sphinx mengangguk, lalu duduk. "Waktumu tiga menit, Gadis Manis. Tiga menit untuk tiap pertanyaan."

.

.

.

.

.

Zabuza's House

Aku bangun dengan cengekeraman dingin di sepanjang tulang belakangku. Tubuhku menggigil, yang nggak biasanya. Aku segera pergi ke dapur dan menemukan dua mangkuk ramen panas. Deavvara duduk di salah satu kursi dan sibuk bercakap-cakap dengan Zabuza. Aku curiga mereka mengambil topik yang sama seperti pembicaraanku tadi malam, tapi siapa peduli. Aku menandaskan ramen dalam waktu lima menit.

Pintu terbuka. Kukira ada tamu lagi yang minta izin untuk 'tur' ke kuil itu, tapi yang datang ayahku.

"Darimana?" Aku otomatis bertanya.

"Menjaga Kurama, Demetra, dan Angelo kecil," jawabnya. "Aku tidak tidur semalaman. Edo Tensei nggak butuh itu, kan?" Cengirnya.

Deavvara mengangguk pada Zabuza. "Maaf merepotkanmu. Kami harus pergi sekarang," katanya tiba-tiba. Aku tidak begitu mengerti, tapi tujuan kami memang bukan bertamu di Negeri Salju, jadi aku ikut mengangguk. Zabuza bisa memaklumi kami, untungnya.

"Masih dingin, tapi tak ada badai," bujukku pada Kurama. "Setidaknya kau bisa jalan, kan?"

Kurama menggeleng. "Terbang saja, tapi jangan terlalu tinggi. Kaki-kakiku gemetar ketika menginjak es terlalu lama."

Kami mengudara. Zabuza dan Haku (yang baru bangun) melambai tangan dari rumah mereka. Kami meneruskan perjalanan ke arah utara, jauh ke jantung Kori no Kuni demi menemukan Lembah Emas dan mendapatkan Darah Delima.

Nah, Ardhalea, pikirku. Kami sedang dalam perjalanan mencari sumber kekuatanmu. Kalau kau sampai berani membunuhku, mungkin aku takkan mau menciummu lagi.

Ah, tapi apa gunanya itu. Kita lihat saja nanti.

Kurama dan Demetra terbang dengan kecepatan hampir separuh kecepatan kemarin. Aku jadi sedikit khawatir kalau-kalau kami tidak bisa sampai tepat waktu, tapi aku tidak bisa memaksa mereka. Inilah resikonya, tapi bukan itu yang jadi perhatian utamaku. Chakra purba aneh yang kami rasakan kemarin, makin lama makin terasa kuat dan nyata, seolah kami adalah sekelompok merpati yang sedang terbang mendekati sarang elang.

Sekitar seperempat jam kemudian, Demetra menurunkan altitud. Deavvara menoleh padaku. "Kita akan periksa tempat itu!" Pekiknya.

Aku mengernyit. "Maksudmu ..."

"Ya," balas Deavvara tak sabar. "Kuil Topaz!"

"Hei, Paman Zabuza bilang kita tidak boleh mendekati tempat itu! Ada banyak chakra aneh di sekelilingnya!"

"Kau pikir itu cukup untuk menakut-nakutiku?" Gerutu Deavvara jengah. "Aku ini Ortodox! Tidak ada yang bisa menakut-nakutiku! Ayo, Naruto. Ini takkan makan waktu lama. Jika beruntung, kita bisa memperoleh informasi lebih tentang Darah Delima, para naga, atau apa saja. Keberadaan chakra kuno yang kuat di sekelilingnya bisa jadi hanya barikade penghalang secara psikologis untuk memperingatkan apapun di sekitarnya dan melindungi rahasia tertentu!"

Demetra tidak berkomentar apa-apa, dan ia menukik turun. Aku menyuruh Kurama melakukan hal yang sama, berharap semoga tak ada kejadian buruk atau zombi atau mumi penunggu kuil yang bangkit.

"Deavvara tahu apa yang dilakukannya," hibur ayahku. "Semoga saja kali ini juga."

Kuil Topaz berada diantara tiang-tiang batu runcing setinggi puluhan meter, batu-batu cadas putih tajam bergerigi, ditumbuhi paku-pakuan dan tanaman aneh lain yang asing alih-alih cemara dan konifer, dan dikelilingi hutan tak berdaun. Kuil tersebut kelihatan berwarna jingga kecokelatan, seperti ... seperti batu topaz atau karat besi yang ditaburi emas. Kondisinya sudah mengenaskan di bagian luar—lubang-lubang seperti bekas bom atau gigitan rayap dan semut ekstra besar, tanaman rambat, dan batu-batu runcing. Benar-benar pas untuk tempat syuting film horor.

Kami mendarat di beranda kuil, diantara dua tiang batu runcing yang saling bersilang seperti baru roboh ke arah berlawanan. Kami—bersama Kurama, Demetra, dan Angelo yang mendesis-desis tak tenang, berjalan menaiki undakan tangga yang berlumut. Mengherankan, di kuil ini tidak terdapat salju—hanya selapis es tipis yang menyelubungi beberapa bagian kuil. Udaranya juga terasa lebih kuno, lebih panas, dan lebih menyeramkan.

"Chakra kuno yang begitu besar," kagum ayahku. "Lebih besar daripada milikmu, Deavvara."

Sang Ortodoks mendecih. "Aku benci mengakui ini, tapi memang iya sih. Tempat ini entah bagaimana menyimpan kekuatan yang begitu purba dan begitu kuat. Terlalu kuat malah, untuk ukuran kuil keramat. Kuil Etatheon saja tidak mengandung aura chakra sekuat ini."

Sebenarnya tempat apaan sih ini?! Pikirku. Kepalaku entah bagaimana terasa makin pening, dan kulitku seperti digelitik oleh sesuatu yang tidak terlihat. Hei, kuburan mati, jangan bikin orang-orang jadi gila, dong! Apa ini sebabnya Zabuza melarang kami pergi ke tempat ini?

Kami tiba di tengah kuil. Ruangan ini kira-kira seluas lapangan kasti, dihiasi stalaktit dan stalagmit yang entah kenapa terlihat seperti buatan, air terjun dengan air sedingin es yang entah mengalir ke mana, dan tiang-tiang pualam kusam berjumlah lima, satu yang di tengah lebih tinggi daripada empat tiang di sebelahnya. Tiang paling kiri berwarna hitam, yang tengah berwarna seperti karat, dan sisanya sudah retak-retak dan begitu kusam sehingga warnanya hampir abu-abu kehijauan.

Di kaki tiang, tertancap masing-masing sebutir batu mulia. Di tiang paling kiri terdapat obsidian, di sebelahnya terdapat berlian putih. Di tiang tengah terdapat sebonggol topaz, dan di sebelah kanannya tertancap sebuah safir, lantas tiang paling kanan mempunyai zamrud. Keempat batu tersebut kusam semua kecuali safir dan zamrud, yang berkilau dengan cahaya hijau dan biru.

Deavvara mengernyit. "Ada yang tahu apa maksudnya ini?"

Aku dan ayahku menggeleng kompak.

"Mungkin sebaiknya kita pergi," gerutu Demetra. "Aku bisa merasakan sesuatu yang jahat disini."

Saxoen Angelo kecil menggonggong dingin.

BUNUH, mendadak sebuah suara bergaung di kepalaku. Pengelihatanku berkunang-kunang. Mendadak, raungan menggema sepanjang penjuru kuil, meruntuhkan bebatuan, dalam sekejap mengubah warna air jadi keruh dan angin ribut berembus ke ruangan dalam kuil.

"Naruto!" Ayahku memekik. "Apa yang terjadi?!"

Aku berlutut, bertumpu pada satu kaki. Seluruh sendiku rasanya mencair. Aku kehilangan fokus.

KUBURAN MATI, suara itu datang lagi, seakan berusaha menghancurkan tengkorakku. BIAR KULIHAT SETANGGUH APA ENGKAU, DASAR MANUSIA RINGKIH.

Sekelilingku menggelap. Deavvara dan ayahku memanggil-manggil namaku, tapi semata-mata yang kurasakan adalah kegelapan, mencaplokku dengan satu suapan besar dan melumpuhkan pancainderaku.

.

.

.

.

Bersambung


Author's Note (2):

Chapter 10 selesai! Sori ya updatenya lama. Kembali sibuk dengan rutinitas, nih.

Disini Haku saya buat perempuan—rasanya masih agak aneh Haku itu laki-laki, but that's no problem for any genderbender. Kazuuto dan Renynola belum kelihatan. Naruto, Deavvara, dan Minato memasuki kuil di Kori no Kuni yang penuh chakra kuno. Kira-kira kuil untuk siapakah itu? Dan apakah Ardhalea dapat menjawab ketiga pertanyaan yang diajukan Sphinx? Nantikan kelanjutannya di chapter depan—yang nggak tahu dipublish kapan. Omong-omong ada nggak readers yang bisa nebak teka-teki Sphinx? Beda jauh dari teka-teki Sphinx di Paradox pertama dong!

See you again on chapter 11!

-Still_Itami_Shinjiru-