Hallo hallo balik lagi nih sama saya, maaf ya atas lamanyaaa update chapter ini. Tugas semester ini membuat saya guilaaaa:S
Ini balasan reviewnya yaaa:
Vii Violetta Anois : Thx.. ini udah update ya..:)
Monica.sakayu25: Nih chap 10nya sudaah ku coba buat panjang yaaa:)
Nafla.putriamelia: Hihi:3 maaf ya kalau baru update.. ini udah diusahain cepat *nunduk*
guestern: iyaa..iyaa.. diusahain kazurinnya lebih gimana gitu... hehee...:p
tharissa: ini udah lanjut ya:)
edogawa conan: duh jadi maloeee:3 ini chapter 10nya udh diusahain panjang yaaa:D ah maap kan saya atas banyaknya typo yg bertebaran di chap dulu-dulu *pipumerah* thx udah mau baca *senyumnampakgigi*
Kujyou Uchiha: ini udah update ya:))
nisa-chan: iya..iya.. ini udah update kok:)
Guest: Nih chap 10nya kupersembahkan untuk menjawab penasaranmu:D
ruru: ini sudah lanjut ya:)
Hinata-chan: Hihi aku juga penasaran pasangan Kazusa bagusnya siapa ya? ini sudah lanjut ya Hinata-chan:)
Kirigaya Zikarishika: iya ini chapter selanjutnya. selamat membaca.
dark knight : iya maap:( banyak tugas kuliah, jadi gak sempet-sempet buat nulis chapter selanjutnya. tapi ini udah update kok.:)
Kazurin: Nih dah lanjut. maap ya agak lama:D selamat membaca:)
Silent reader: Nih dah update ya:))
Judul: I Love You
Chapter 10: Ada Reaksi Kimia diantara Kita
Cerita: I Love You © Chieya
Nilai: T
Genre: Persahabatan; Romantis
Pairing: KazuRin
Peringatan: AU, OOC, OC, Ancur, Gaje, typo dll.
.
.
~ Selamat Membaca ~
"Aku kan, sudah bilang, nanti aku akan mengantarmu," gumam Kazune.
"Aku tidak mau merepotkanmu," ujarku dengan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Aku melepaskan tangannya dan bersikeras tetap berdiri.
Lelaki itu dengan lancang memegang tanganku lagi dan menarikku. Untungnya aku tidak sampai kehilangan keseimbangan. Lalu bersikap biasa seakan-akan genggaman tangannya itu hanya menimbulkan efek seperti anggukan ramah. Dia tidak tahu, tindakannya menimbulkan sengatan listrik yang membuat perutku kram. Perasaanku campur-aduk dan nyaris menimbulkan migren. Perlahan dan tak kentara, kutarik tanganku dari genggamannya. Menyelamatkan jantungku dari serangan stoke. Reaksi kimia, heh?
"Aku bersedia kamu antar…"
Kazune memotong cepat, "Namun, mengapa aku merasa kamu akan mengajukan syarat? Aku bisa mendengar kata 'tapi' yang terpantul dari kepalamu."
Laki-laki ini bisa membaca pikiranku. Sambil memasang wajah tak berdosa, aku tersenyum setulus mungkin, "Tepat sekali. Aku hanya ingin kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur."
"Pertanyaan apa?"
"Selain Criminal Minds, apa lagi yang bisa membuatmu menangis? Bagaimana dengan Oprah?"
Kazune pasti ingin menelanku bulat-bulat.
"Kadang-kadang," jawabnya dengan suara rendah, seolah tidak ingin aku mendengar kalimatnya.
"Yang lainnya?" selidikku lagi.
"Tidak ada lagi yang lain."
Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak kusangka kalau kamu bisa menangis hanya karena menonton Criminal Minds! Ya Tuhan, apa yang terjadi kalau media tahu?" tawaku pecah.
Kazune berubah pucat.
"Kamu tidak berencana untuk mengambil keuntungan dariku, kan?"
Kata-katanya menyalakan api dalam diriku. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk tidak marah.
"Apa kamu selalu mengira kalau orang ingin mendapatkan keuntungan darimu? Tidak adakah hal yang tulus di dunia ini menurutmu?"
Kazune segera tahu kalau aku serius. Ketegangan di wajahnya mengendur. Dia menghela napas panjang.
"Aku tidak bersahabat dengan media. Selama ini sebisanya aku menghindari pemberitaan. Rasanya wajar kalau aku khawatir kamu benar-benar membongkar masalah ini. Masalah konyol seperti ini bisa menjadi bencana," suaranya terkendali lagi. Tenang dan datar.
Aku paham maksudnya. Tapi, tidak seharusnya dia begitu serius menanggapi candaanku.
"Maaf. Kamu terlalu serius menanggapi kata-kataku. Apakah sebelumnya tidak ada yang bercanda padamu?"
"Kamu juga selalu serius menanggapi ucapanku. Untuk hal-hal yang sangat remeh, kamu gampang marah."
Kami bertukar pandang dan sedetik kemudian tertawa. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kami dari perdebatan. Dan sapertinya begitulah takdir kami.
"Aku selalu lebih sabar saat bersama orang lain. Tapi denganmu? Aku berubah jadi pemarah," aku menggeleng kepala karena tidak habis pikir.
Dia seperti tidak mendengar kata-kataku. "Kamu lucu kalau sedang tertawa."
"Lucu? Kamu kira aku pelawak?" protesku.
"Matamu menyipit sampai tinggal garis dan pipimu menjadi merah jambu. Lucu. Aku suka melihatnya."
"Baiklah, aku anggap itu pujian," balasku salah tingkah.
"Memang itu pujian."
"Oh iya, kamu belum menjawab pertanyaanku. Pacarmu tahu kamu ada di sini?"
Aku mendengus, "Bukan urusanmu!"
"Aku hanya ingin tahu."
"Bicara tentang ingin tahu, ceritakan tentang keluargamu!" aku mengubah topic tiba-tiba.
"Kamu mau mendengarnya? Aku yakin, kamu akan cepat bosan. Tidak ada skandal yang bisa menarik perhatian!"
Aku cemberut lagi.
"Aku tidak tertarik dengan skandal. Aku bukan tukang gossip. Aku hanya ingin tahu tentang keluargamu. Di mana orang tuamu? Waktu aku ke rumahmu, sepertinya mereka tidak ada di sana."
Kazune menggeleng, "Memang tidak. Mom dan Dad saat ini sedang di Inggris. Mereka orang tua yang suka jalan-jalan. Rumah yang kutinggali memang rumah keluarga, tapi mereka sangat jarang berada di rumah."
"Mereka berjalan-jalan berdua saja?"
"Tentu. Mereka tidak butuh diawasi. Dad masih gagah dan fit, Mom juga. Usia Dad sudah 65 tahun dan Mom hanya tiga tahun lebih muda. Kalau bertemu mereka, kamu tidak akan menyangka umur mereka sudah setua itu. Dad masih sangat suka melihat perempuan cantik," guraunya, membuatku ikut tersenyum.
Tanpa sadar aku mencari-cari potret di ruangan itu yang memberi gambaran tentang ayah dan ibunya. Tapi, tidak ada.
"Dari mana kamu mendapatkan mata biru itu? Apa rasanya punya mata berwarna seperti itu?"
"Mom orang Inggris. Jangan bilang kamu terpesona dengan mataku," candanya. "Barusan kamu tanya rasanya? Aku malah ingin tahu, bagaimana dengan matamu yang hijau itu? Apa rasanya berbeda dengan mata berwarna hitam atau coklat?" ucap Kazune tidak karuan.
"Pertanyaan bodoh!" sergahku.
Pria itu tertawa lagi. "Kamu duluan yang mengajukan pertanyaan aneh. Mataku biru atau hijau, kurasa tak ada bedanya. Oh ya, kamu terpesona dengan mataku, kan? Kalau begitu, kamu harus mengantri. Bukan cuma kamu yang…."
Aku buru-buru menyergah cepat, "Jangan terlalu pede! Bagaimana dengan kakak-kakakmu?"
Kazune menatapku, seakan menegur pembelokan topic pembicaraan yang kulakukan.
"Yang sulung, Daichi. Dia punya sebuah restoran yang lumayan besar. Lalu Cloud, dia memilih bekerja kantoran, dan sukses. Kemudian Hiroto. Dia memiliki perusahaan iklan. Sisanya, Kazusa dan aku. Kami memiliki mata yang agak berbeda. Daichi dan Hiroto punya mata abu-abu. Cloud biru, sama seperti ku dan Kazusa."
Aku tersenyum kecil, "Mengapa hanya kamu dan Kazusa yang mengelola perusahaan otomotif milik keluargamu?"
Mata biru Kazune menatapku. "Kamu lebih mirip wartawati."
"Jawab saja pertanyaanku! Apa sih susahnya?"
Laki-laki itu terkekeh.
"Baiklah, Bos. Begini, kakak-kakakku punya gengsi yang tinggi. Mereka tidak mau mengelola perusahaan keluarga karena tidak mau hidup di bawah bayang-bayang nama Kujyou."
"Tapi, kamu tidak sependapat, kan?"
"Ya. Aku merasa tidak ada salahnya meneruskan apa yang sudah dibangun dengan begitu susah payah oleh Dad. Aku tak peduli dengan pendapat orang lain. Mungkin aku dinilai hanya sebagai orang yang mendapat keuntungan dari keringat Dad. Tapi, coba saja jujur. Siapa yang tidak ingin mendapat kemudahan dalam hidup? Lagi pula, aku harus memikirkan nasib ribuan orang yang bergantung pada perusahaan ini. Jadi, aku tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri."
Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar penuturannya. Laki-laki ini agak mengejutkanku.
"Aku tidak mau membuat Dad sedih. Aku tahu dia dan saudara-saudaranya membangun perusahaannya dengan susah payah. Lalu kenapa harus diserahkan kepada orang lain? Jadi, aku lebih memilih memandang masalah ini dari segi yang menguntungkan. Aku tidak peduli nama keren atau pujian orang."
"Wah, ternyata kamu sangat mulia," gurauku meski kata-kata yang kuucapkan tidak dimaksudkan untuk mengejeknya. Aku tulus mengatakan kalimat itu, hanya saja aku merasa perlu membalutnya dalam sebuah candaan. "Tidak semua orang memiliki pemikiran sepertimu. Kebanyakan orang memiliki idealisme sendiri."
"Aku juga punya idealisme, tapi aku juga punya akal sehat."
Ponsel Kazune berbunyi, memutus sementara pembicaraan pembuatan debat di antara kami. Dari pembicaraan yang kutangkap, telepon itu dari Kazusa yang menanyakan keadaan Suzune.
Baru saja aku akan membuka mulut, ponsel yang baru dua detik sebelumnya diletakkan di atas meja, berbunyi lagi. Kazune sempat mengernyitkan alisnya saat melihat nama yang tertera di layar. Kali ini Kazune bangkit dan menjauh dariku sebelum menjawab dengan "Halo".
Sementara, aku menyaksikan di layar televisi bagaimana kejeniusan Dr. Reid dimanfaatkan untuk memecahkan kasus pembunuhan sadis di sebuah daerah perumahan elite. Lebih dari lima menit kemudian, baru Kazune kembali dan duduk di sampingku. Wajahnya tampak berubah keruh dengan pelipis yang bergerak-gerak perlahan. Ponselnya pun nyaris dibanting. Aku tahu ini bukan urusanku, tapi aku tak bisa menahan rasa penasaran yang menguasai.
"kenapa kamu marah sekali? Apa Kazusa memberi kabar yang kurang baik?" tanyaku pelan.
"Bukan Kazusa, tapi Kim."
Kazune menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kepala menengadah. Jari-jarinya meremas rambut dengan gelisah.
"Siapa Kim?" desakku lagi, sambil berusaha mengingat-ingat apakah nama itu akrab di telingaku. Tapi, hasilnya adalah nol besar. Ketika melihat ekspresi Kazune yang makin kacau, aku buru-buru menambahkan, "Tak masalah kalau kamu tak mau membahasnya denganku. Aku lebih baik pulang saja. Sepertinya kamu butuh istirahat. Besok kita bertemu lagi, ya? Aku akan bawa brownies untuk malaikatmu. Bye."
"Jangan!" Kazune menarik tanganku untuk ketiga kalinya. Pandangannya tampak penuh permohonan. Aku segera menyimpulkan kalau laki-laki ini sangat putus asa sehingga membutuhkan perempuan asing sepertiku untuk menemaninya. Kali ini, aku tak berminat berdebat.
"Baiklah, aku tidak jadi pulang sekarang." Aku kembali duduk. Tanganku masih digenggamnya, membuat isi perutku terasa diaduk-aduk demikian hebat. Perlahan, aku berusaha "menyelamatkan" tangan dan perasaanku. Mengapa hari ini Kazune sangat suka memegang tanganku?
Apa pula yang sebenarnya terjadi pada diriku? Aku tidak mungkin didera perasaan asing karena kedekatan kami secara fisik, kan? Aku sangat yakin, pasti ada penjeasan yang logis untuk semua ini. Reaksi tubuhku sama sekali tidak kukhendaki. Rekasi tubuhku menentang otakku. Dan aku baru saja menyadari kalau itu terjadi sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini!
"Itu istriku," bisik Kazune dengan suara parau. Aku bisa melihat ketidakberdayaan di wajahnya.
"Istri? Bukankah kalian sudah bercerai sejak dua tahun lalu?" Aku bisa merasakan ada perasaan asing yang dingin merayapi tulang belakangku. Menakutkan dan seperti mencengkeram perasaanku yang murni. Aku ternyata peduli pada kata-katanya, lebih dari yang kuyakini.
"Bercerai, tapi tak bercerai."
"Maksudmu?" aku kebingungan.
Kazune tak berani menatapku.
"Kami belum berpisah secara resmi, baru secara agama. Aku hanya menjatuhkan talak satu. Tadinya mau buru-buru mengurus gugatan ke pengadilan agama, tapi dia terlanjur minggat ke Paris bersama pacarnya. Perlahan-lahan, masalah ini terlupakan begitu saja. Dan, beginilah akhirnya. Aku belum melegalkan perceraian kami …"
Ya Tuhan, aku rasanya lebih menyukai ada bom di dekat telingaku ketimbang mendengar pengakuan mengejutkan ini. Tapi, aku buru-buru menghantam perasaan asing di dadaku dengan kejam. Siapa aku yang harus merasa terganggu dengan statusnya yang masih beristri?
"Kamu lupa? Astaga, ini bukan tentang janji makan siang dengan seorang yang menyebalkan," aku menepuk keningku. Lidahku tidak kuasa dikekang dan melontarkan hujan kata begitu saja. Bagaimana mungkin ada seseorang yang lupa mengurus perceraian setelah dikhianati?
Kazune mengepalkan jemarinya.
"Ini memang salahku. Aku lalai dan… bodoh. Harusnya aku tetap memasukkan gugatan dan bukannya malah membiarkannya sampai begini lama. Kukira dia sudah melupakanku dan Suzune. Lagi pula, kami toh sudah bercerai secara agama. Dan, sebelumnya aku tidak yakin akan menikah lagi…"
Aku bisa merasakan kekesalan yang menggumpal di dada laki-laki ini. Aku juga merasa Kazune berhak mendapatkan minimal sebuah bogem di wajahnya. Untuk semua keteledorannya.
"Jadi, kamu sekarang berpikir untuk menikah lagi?" tanyaku dengan tusukan rasa dingin yang menjadi-jadi. Ada apa dengan diriku? Mengapa lelaki ini menimbulkan reaksi yang tidak nyaman ini?
"Setidaknya, aku mulai memikirkan kemungkinan itu. Apalagi, Kazusa akan menikah. Aku membutuhkan orang yang akan menjaga dan mengasihi Suzune. Tadinya, kukira aku sudah menyerah untuk urusan cinta."
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyiksanya dengan sebuah ejekan, "Jadi, sekarang kamu berubah pikiran, ya? Kamu ini sungguh membuaku kesal. Mungkin Cuma kamu yang bisa lupa mengurus perceraian dengan alasan seperti itu. Ya Tuhan, tahukah kamu kalau itu kebodohan besar?"
Mata birunya mengerjap saat kepalanya terangkat dan menatapku. Aku merasa wajah dan telingaku terbakar.
"Maksudku, apa yang kamu lakukan ini tidak masuk akal. Kau sudah mem… ah, kenapa aku harus repot menjelaskan pendapatku? Kenyataannya kamu memang luar biasa tolol untuk urusan ini!" tandasku dengan kalimat kacau.
Kazune kini lebih serius menatapku. "Kamu . . . hmm . . . apa merasa terganggu karena aku belum . . . bercerai?"
Aku mendadak takut menjawab pertanyaannya. Namun, lelaki itu menunggu responku.
"Aku . . . pendapatku tidak penting," elakku.
"Tentu saja penting!" bantah Kazune. Mengejutkanku. Tapi, kali ini aku tidak punya keberanian untuk mendebatnya. Aku takut pada apa yang akan kuucapkannya. Aku juga takut pada reaksiku nantinya, andai mendengar sesuatu yang tidak mampu kuceritakan dengan sederhana.
"Aku terganggu karena kamu membiarkan seseorang menghancurkan hidupmu. Setidaknya, lihatlah sisi Suzune! Jadi, aku memang merasa terganggu. Kamu harusnya bisa lebih tegas. Urusan seperti ini bukan hal-hal yang bisa diabaikan begitu saja."
Anehnya, Kazune tidak bicara apa-apa. Dia hanya mendengarkan kalimatku dengan penuh perhatian. Seakan-akan itu hal yang penting.
"Ada baiknya kamu mulai berdiskusi dengan pengacara untuk menhadapi masalah ini," saranku kemudian.
"Memang seharusnya begitu."
"Kim ingin menikah lagi. Dia minta aku mengurus perceraian secara resmi."
Aku menatapnya dengan tatapan tajam yang tidak kusadari. "Kamu kesal karena dia akan menikah lagi?"
Lelaki itu buru-buru menggeleng. Dia balas menatapku dengan mata biru yang seakan ingin menelanku.
"Tentu saja tidak! Aku kesal karena harus berurusan lagi dengannya. Aku bersumpah, tidak mau lagi melihat wajahnya."
Tawaku pecah tanpa terkendali. Aku ingat apa yang terjadi pada sumpahku untuk tidak bertemu Kazune lagi. Dan, lihat apa yang terjadi pada diriku. Lelaki itu tampak tersinggung.
"Kenapa kamu menertawaiku?" tanyanya ketus.
Aku tentu saja tidak mungkin mengatakan jawaban dengan jujur. "Aku menertawakan sumpahmu yang aneh itu. Mana mungkin kamu tidak melihat wajahnya untuk selamanya? Ingat Kazune, ada Suzune yang menghubungkan kalian. Kamu tidak mungkin memisahkan ibu dan anak begitu saja."
Bahkan, aku sendiri pun merasa heran dengan kalimat bijak yang meluncur dari bibirku.
"Kamu masih mencintainya?"
"Apa? Tentu saja tidak! Hanya orang gila yang masih tetap mencintai istri yang sepeti itu!" tandasnya. Sampai mati pun aku tidak akan mau mengakui, tapi saat itu aku benar-benar … lega. Aneh!
"Kazune…"
"Ya, Edlyn?"
"Apakah kamu pernah merasakan betapa cinta itu sangat aneh? Menurutku, cinta berkaitan dengan kesempatan. Berapa besar kemungkinan seseorang menemukan orang yang benar-benar tepat? Tidak semua orang memiliki kesempatan itu. Dan, berapa besar kemungkinan kita salah menilai orang yang kita cintai?"
Kazune menatapku penuh perhatian. Kilau asing di matanya gagal kuterjemahkan.
"Sepertinya kamu sangat fasih bicara tentang cinta? Ada apa? Maukah kamu membaginya dengan aku?"
Aku tidak mengindahkan pertanyaannya, "Berapa lama kamu dan Kim saling mencintai? Maksudku, mulai dari pacaran sampai menjalani pernikahan yang bahagia?"
Aku bahkan tidak yakin kalau Kazune bersedia menjawab pertanyaan yang sangat pribadi itu. Namun anehnya, ternyata dia tidak keberatan.
"Kami hanya pacaran beberapa bulan sebelum akhirnya menikah. Dan, mulai mengalami neraka setelah tiga tahun usia pernikahan. Kami bertahan selama empat tahun saja sebelum Kim pergi."
"Oh."
"Kenapa kamu ingin tahu?"
Aku tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencari teman senasib."
"Apa maksudmu?" Kazune penasaran.
"Apa yang kualami mungkin jauh lebih menyakitkan dibanding yang kamu alami," kataku tiba-tiba.
Lelaki itu melotot, "Kamu sudah pernah menikah dan dikhianati juga?"
Aku tertawa geli. "Tentu saja aku tidak mengalami hal itu," bantahku. "Aku hanya menghabiskan waktu hampir delapan tahun untuk mencintai orang yang tidak benar-benar tepat untukku."
Aku sendiri tidak bisa percaya kalau mulutku baru saja sesumbar membuka rahasiaku sendiri.
"Pacarmu, ya? Apa yang dilakukannya padamu?" Kazune tampak begitu tertarik. Dia bahkan menggeser duduknya, mendekat ke arahku. Matanya menatapku dengan penuh perhatian.
"Kami putus."
Kazune bersiul. Dia tidak menutup-nutupi kalau dirinya tampak senang.
"Tidak bisakah kamu bersikap sedikit beradap? Menunjukkan setitik simpati?" kataku kesal.
"Apakah kamu membutuhkan simpati?" dia malah balik bertanya. Kali ini, wajah Kazune menyiratkan keseriusan. Aku memikirkan pertanyaannya lebih serius dari yang kuduga. Hingga kepalaku menggeleng.
"Tidak, terima kasih."
Lelaki itu tiba-tiba berdiri menjulang di depanku setelah menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Aku akan mengantarmu pulang. Kita bisa mengobrol sambil jalan." Tangannya terulur. Entah tindakan bodoh atau pintar, aku malah menyambut tangannya. Kami bergandengan!
Saat menuju mobilnya, aku dan Kazune hanya bisa diam. Dia membukakan pintu untukku. Tidak terlihat jejak sikap menyebalkan yang sempat kucela habis-habisan sebelumnya.
"Thanks"
Dia hanya mengangguk sopan sebelum mengitari mobil dan membuka pintu di bagian pengemudi. Perlahan tapi pasti, mobil melaju meninggalkan kompleks resor itu. Suasana kaku menggantung di udara. Aku mendadak kesulitan berkata-kata. Apalagi melontarkan gurauan pada lelaki tipe alpha male di sebelahku ini.
"Kalian benar-benar putus? Sungguhkah kamu pacaran selama delapan tahun?" suara Kazune memecah keheningan.
Entah mengapa, aku merasa suaranya menuntut penjelasan. Mendesak penuh rasa ingin tahu.
"Ya."
"Sudah kuduga."
Aku menoleh ke kanan dengan gerakan cepat, terpancing oleh komentar lelaki itu. "Apanya yang sudah kamu duga?"
"Kalian akan putus."
Aku menggigit bibir mendengar komentarnya yang terus terang itu. Rasa penasaran mendesak-desak di pembuluh darahku.
"Kenapa kamu bisa berpendapat begitu?"
Kazune tidak segera menjawab. "Kadang aku tidak bisa menjelaskan. Katakanlah ini semacam . . . feeling. Kamu mau menemuiku, padahal bukan kamu yang menjawab iklan itu. Bagiku, itu menceritakan banyak hal."
Aku merasa Kazune salah paham.
"Aku sudah bilang sebelumnya, aku dipaksa."
Lelaki itu menggeleng, "Kamu bukan orang yang mudah dipaksa. Entah kamu menyadarinya atau tidak, kamu menemuiku karena terdorong rasa ingin tahu. Dan, itu tidak akan terjadi kalau hubunganmu dan kekasihmu baik-baik saja," ulasnya.
"Bagus! Kamu sekarang mengejekku," aku mengepalkan tinju. Kazune menoleh sekilas, menatapku serius.
"Aku tidak mengejekmu. Aku mengungkapkan fakta."
"Fakta yang salah kaprah!" kataku jengkel. "Kamu terlalu pede, Kazune!"
Kazune membantahku. "Aku tidak sedang menyombongkan diri, Edlyn! Kamu harus melihat gambar besarnya. Ini bukan tentang aku. Tapi, tentang kamu yang berusaha mencari tahu. Apa pun itu."
Aku tidak mampu membuka mulut, apalagi menggerakkan lidah untuk mengucapkan kata-kata.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi. Aku sebenarnya ingin menutup mulutku rapat-rapat dan segera pulang. Tapi.
"Dia pindah ke Inggris. Merasa tidak perlu melibatkanku saat mengambil keputusan. Padahal waktu aku bekerja di Tokyo, dia marah dan memutuskan berpisah. Alasannya, tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh. Tapi, saat ini dia malah mengambil keputusan sebaliknya. Dia … dia mementingkan karienya …"
Suaraku terdengar bergelombang, bahkan di telingaku sendiri. Semua rasa sakit itu kembali menusuk-nusukku.
"Yang paling menyakitkanku, dia pernah mendekati Miyon saat kami putus dulu. Kamu bisa bayangkan sakitnya perasaanku. Aku sulit menerima itu. Aku mungkin tidak akan pernah memaafkannya. Aku baru tahu belakangan. Miyon menyimpannya selama hampir tiga tahun karena tidak mau mencederai persahabatn kami."
Aku mati-matian menahan tumpahan air mata. Kupalingkan wajah ke kiri, menatap ke luar.
"Aku dan Kim berpisah karena dia menghianatiku. Tapi, mungkin aku yang mendorongnya melakukan itu," desah Kazune tiba-tiba. Perhatianku kembali terpusat kepadanya.
"Mendorongnya? Apa maksudmu?"
"Aku terlalu sibuk. Aku bahkan tidak punya waktu untuk keluargaku. Bahkan, di akhir pekan pun aku bekerja. Kim sudah berkali-kali mengeluh, tapi aku selalu menuntutnya untuk mengerti. Mungkin dia merasa capek dan memilih untuk pergi. Mungkin dia juga sudah kuabaikan dengan begitu parah. Begitulah. Tapi, hingga detik ini pun aku sulit mengakui kesalahanku. Dan, aku juga tidak bisa memaafkannya. Kim sudah kembali ke Jepang. Tapi, aku tidak mengizinkannya untuk bertemu Suzune."
Aku tertegun mendengarnya. Kalimat Kazune barusan memang tidak khas dirinya. Aku tidak tahu mengapa dia menceritakan ini kepadaku. Dan, aku juga penasaran kenapa aku membuka masalah Jin padanya. Kenyataan yang bahkan masih kusembunyikan dari keluargaku.
"Apa kamu masih mencintainya? Delapan tahun bukan waktu yang singkat."
Aku tergagap mendengar pertanyaannya yang terus terang.
"Bohong kalau aku bilang bahwa aku sudah melupakannya. Tapi, saat ini rasa sakit karena tidak dihargai, jauh lebih besar. Juga merasa dikhianati. Rasanya, butuh waktu lama untukku agar bisa sembuh. Namun, aku sudah bertekad untuk melaluinya. Aku tidak perlu melawannya."
Mata biru Kazune beradu pandang dengan mataku.
"Bagus. Kamu pasti bisa melakukannya," katanya lembut. Aku tersenyum mendengarnya, mau tak mau.
"Tapi aku tidak mau menjadi pendendam sepertimu," ucapku. "Kamu barusan mengakui kalau kamu punya andil dengan kehancuran rumah tanggamu. Jadi, bertanggung jawablah!"
"Maksudmu?"
"Selesaikan masalahmu! Kalau memang ingin bercerai, upayakan agar bisa legal secara hukum. Kenapa kamu tidak mengizinkannya bertemu Suzune? Anakmu berhak melihat ibunya. Tapi, dengan sikap keras kepalamu itu, aku yakin kamu akan memastikan istrimu menerima 'pembalasan' yang setimpal," tukasku.
Kazune tidak menjawab. Entah mengapa, aku merasa ini begitu lucu. Kesedihan dan sakit hatiku terlupakan.
"Ayolah, Kazune, jangan bersulit segalanya. Kamu tidak boleh bersikap egois begitu. Suzune membutuhkan ibunya, baik kamu mengakuinya atau tidak."
"Dia yang meninggalkan kami! Jadi, dia tidak berhak meminta apa pun. Apalagi bertemu Suzune!" tandasnya marah. Tapi, entah mengapa aku tidak merasa gentar.
"Kamu sendiri bilang kalau kamu sudah mengabaikannya. Kazune, apa kamu kira diabaikan itu menyenangkan? Ketika kita yakin sudah menjadi bagian hidup orang lain yang kita cintai, tapi orang itu merasa kita tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian, dan hanya berada di urutan kesekian. Percayalah, itu sangat menyakitkan."
Tapi, mana mungkin Kazune yang keras kepala itu mau mendengarkan penjelasan dari orang asing sepertiku, kan?
"Aku sudah bersumpah untuk …"
"Aku juga sudah bersumpah untuk tidak pernah bertemu denganmu lagi. Tapi, lihat apa yang terjadi sekarang?"
Kazune menatapku kaget sekaligus kesal.
"Kamu bersumpah begitu? Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?"
Aku mengangkat bahu dengan perasaan geli yang menggelitik. "Entahlah. Tapi bagiku, pertemuan pertama kita itu sangat mengerikan. Dan, kamu … orang yang paling menjengkelkan."
"Apa?" suaranya meninggi. Sikap lembutnya yang sempat kulihat tadi, menguap bersama udara.
"Kalau kamu Cuma mau membentak-bentakku saja, lebih baik antarkan aku pulang! Kamu sangat sensitive menghadapi orang yang sedang patah hati."
Kazune balas tertawa, mengejekku. Astaga, aku sangat ingin mencakar wajah tampannya itu.
"Kamu terlalu tangguh untuk patah hati. Atau, patah hati membuatmu menjadi penyiksa? Kamu ternyata mengerikan. Apa aku perlu bersumpah juga untuk tidak melihat wajahmu lagi?"
Kini, aku mengerucutkan bibirku. Marah. Kalimat terakhirnya - entah mengapa - membuatku merasa sakit dan terluka.
"Kamu jahat."
Kazune melongo. "Kamu… marah?"
"Tentu saja!"
"Tapi…"
"Silahkan kalau kamu mau bersumpah tidak akan melihat wajahku lagi. Aku tidak akan keberatan. Bahkan, mungkin aku akan gila karena bahagia. Dasar, laki-laki egois yang aneh!" sungutku.
Pertengkaran kembali pecah.
.
.
Bersambung
.
.
Selesai selesai horaaayy. Gimana minna udah panjang belum? Udah kan ya. Maaf ya sekali lagi atas kelamaan updatenya:D
Review reviewnya di tunggu yaaa:)
#nb: psstt.. saya senang membaca email reviewan dari teman-teman. rasanya seperti keinginan untuk melanjutkan cerita itu naik jadi 100000% *halalebay*
