Title : My Little Sweetheart

Pairing : KyuMin [Kyuhyun x Sungmin]

Others : Donghae; Heechul; Hyukjae

Rating : T

Genre : Romance; Fluff;

Disclaimer : KyuMin belongs to each other… ^^

Warning : YAOI, typos, Older!Sungmin, Kid!Kyuhyun

Summary :Salahkah Sungmin jika dia mencintai Kyuhyun yang berjarak delapan tahun dibawahnya? Lalu apakah Kyuhyun bisa akrab dengan Donghae, sahabat Sungmin? [Hanya sekedar kisah cinta Sungmin dan Kyuhyun, sang kekasih kecilnya. –semacam sequel dari 'Is it wrong or not?']

By : Zen~

A.n : It's not the last chapter, yet! LOL and Roummateu is REAL! ^_~

.

.

.

Untuk mengatakan bahwa Sungmin kesal adalah sesuatu yang tidak begitu tepat. Marah, mungkin adalah pernyataan yang tepat untuk melukiskan hal yang menyebabkan seseorang dengan kesabaran seperti Lee Sungmin bisa melayangkan tinjunya tepat kearah rahang kanan milik pria berambut hitam pendek dihadapannya satu menit yang lalu.

Sungmin tidak peduli dengan hal yang mungkin terjadi beberapa menit kedepan setelahnya. Yang dia tahu dia benar-benar harus melakukan ini karena orang yang tersungkur dengan wajah terkejut tepat dihadapannya itu memang pantas mendapatkannya. Setelah apa yang dialami Sungmin semalam, Donghae memang pantas mendapatnya!

Dengan salah satu kakinya masih dia gunakan sebagai kuda-kuda dan tangan kanannya yang masih terkepal sempurna dipinggangnya, Sungmin mencoba untuk mengatur deru nafasnya yang mendadak tadi berubah menderu. Diapun seolah bisa merasakan darah dalam pembuluh darahnya bergerak lebih cepat dari biasanya. Jelas karena jantungnya kini sedang memompa darah keseluruh tubuhnya dengan kecepatan yang lebih dari yang biasanya dilakukan oleh organ itu.

Untungnya, desiran angin yang bertiup ringan saat ini dapat membantunya untuk mendinginkan sedikit kepalanya. Pelan-pelan dia tarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengubah posisi tubuhnya menjadi lebih relax. Dipejamkannya kedua mata itu sambil menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian setelah rentetan perasaan yang berhasil diindentifikasikannya sebagai kemarahan itu sedikit mereda, Sungmin memandang pria yang masih setia melihatnya dengan tatapan terkejut sambil mengusap pelan rahangnya yang mungkin kini terasa sakit.

Dia pantas mendapatkannya, yakin Sungmin lagi pada dirinya sebelum mengulurkan kedua tanganya untuk membantu pria itu berdiri. Namun, alih-laih menerima bantuan yang ditawarkan oleh Sungmin, pria itu malah menepisnya dengan sepenuh tenaga hingga membuat Sungmin sedikit menggerakkan tubuhnya. Reflek untuk melindunginya dari cedera bahu yang mungkin bisa didapatkannya.

"Kau tahu Sungmin-ah, kau membuatku ingin membunuh seseorang saat ini!" Seru Donghae yang kini sibuk mengelus rahang kanannya sambil berusaha untuk bangun dari posisinya. Sungmin hanya diam memandang Donghae yang kini memandangnya dengan tatapan yang sama seperti Sungmin menatapnya. Marah dan sedikit tidak percaya.

Setelah Donghae bisa menopang dirinya dengan sempurna, dia membersihkan debu yang menempel pada bagian belakang celananya, kemudian mundur tiga langkah sebelum akhirnya melayangkan tangan kanannya yang terkepal sempurna kearah Sungmin yang hanya berdiri diam ditempatnya tadi.

Tapi, seolah sudah mengetahui maksud Donghae, Sungmin memiringkan posisi tubuhnya kekanan hingga dia berhasil menghindari pukulan itu. Membuat Donghae sedikit kehilangan keseimbangannya dan hampir saja jatuh karena terbawa dorongan kekuatannya sendiri.

Shit! Maki Donghae dalam hati sebelum akhirnya mengubah posisinya dan siap untuk melayangkan tinjunya lagi kepada pria yang kini memandangnya dengan tatapan dingin itu. Tapi, lagi-lagi Sungmin bisa menghindarinya dan pada percobaan ketiga, Sungmin berhasil menangkap tangan Donghae dan memutarnya hingga kini tangan kanan Donghae terlipat dibelakang punggungnya dengan Sungmin menguncinya rapat.

Sekuat tenaga Donghae berusaha untuk melepaskannya, tapi sepertinya dia memang tidak pernah bisa menang jika menghadapi sahabatnya itu dengan cara seperti ini. Sungmin itu jago bela diri dan pemegang sabuk hitam taekwondo dan itu adalah salah satu alasan mengapa Donghae selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan Sungmin yang sedang marah atau sedang emosi.

Namun sialnya, saat ini Donghae mau tidak mau harus berurusan dengan Sungmin yang seperti itu. Sedikit banyak dia sudah menyiapkan dirinya untuk mengambil libur sekolah beberapa hari untuk menikmati hari-harinya berbaring dirumah sakit nanti.

"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Sungmin tepat dibelakang telinga Donghae. Nada suaranya yang datar justru malah membuat Donghae berdoa dalam hatinya agar nantinya tidak ada jahitan yang dia terima saat dia dilarikan kerumah sakit nanti. Just great Donghae! Just great! Keluh pikiran Donghae.

"Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti maksudmu!" Seru Donghae lagi masih berusaha untuk melepaskan genggaman Sungmin yang kini semakin terasa kencang. Donghae panik! Dan itu semua karena keteledorannya sendiri.

Dari semua orang yang ada didunia ini, kenapa dia bisa bodoh dan meminjamkan telepon genggamnya pada Sungmin ketika dia baru saja mencoba untuk melakukan sambungan international pada nomor telepon ayah Sungmin.

Dan kenapa Sungmin harus memeriksa semua jenis panggilan yang pernah dibuat oleh Donghae? Kenapa dia tiba-tiba saja marah dan memukulnya seperti tadi? Sungmin memang tidak begitu suka dengan beberapa hal yang berhubungan dengan ayahnya, namun apakah itu termasuk memukul Donghae jika Donghae menghubungi ayahnya?

Donghae mengeryit menahan sakit dipergelangan tangannya ketika Sungmin makin menekan tangannya. Sungmin yang menyadari itu tidak berusaha untuk mengurangi tenaganya. Tidak saat Donghae melakukan hal yang benar-benar membuatnya menghela nafas panjang. Sungmin benar-benar kesal, marah dan...dan…entahlah apa yang harus dia katakan mengenai perasaannya saat ini.

"Masih berusaha mengelak, huh?!" Tanya Sungmin kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya, membuat Donghae menyesali pertanyaannya tadi. "Kau yang menelpon ayahku untuk kembali ke Korea, kan?! Kenapa kau melakukan itu Donghae-ah?!" Tanya Sungmin lagi. Kali ini dia mendesis dan menekan tangan Donghae lagi sambil mendorong tubuh Donghae sedikit dengan lututnya.

Dan kini Donghae mengerti maksud dari rasa sakit yang harus dirasakan rahangnya tadi. Tapi, bagaimana mungkin Sungmin tahu bahwa Donghae berencana membujuk ayah Sungmin untuk kembali ke Korea? Donghae tidak mengirim pesan pada ayah Sungmin, jadi seharusnya tidak ada jejak atau suatu bukti tertulis akan hal itu. Dan jika saja Sungmin meletakkan alat penyadap didalam telepon genggam miliknya, Sungmin tidak mungkin mendengar apapun karena dia baru akanmelakukannya hari ini. Dan sayangnya tidak berhasil karena ayah Sungmin tidak pernah mengangkat telepon darinya.

Jadi, bagaimana mungkin Sungmin menyimpulkan hal itu?! "Aku tidak melakukan hal itu, Sungmin-ah! kenapa kau menuduhku seperti itu?" balas Donghae. Kali ini dengan sepenuh tenaga dia berusaha melepaskan dirinya dan berhasil. "Lagipula kenapa aku harus melakukan hal itu?!" Seru Donghae sambil memijat pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.

"Well, melihat tingkah lakumu akhir-akhir ini aku yakin kaulah yang melakukannya!" Jawab Sungmin setengah berteriak. Ada sedikit nada frustasi yang terdengar didalamnya. Tapi Sungmin terlalu kesal saat ini hingga dia tidak menyadari hal kecil seperti itu.

"Aku berbaik hati untuk memberikanmu waktu berduaan dengan setan kecilmu itu beberapa hari ini, Tapi kau dengan sangat baik hatinya mengira bahwa aku mengirimkan ayahmu untuk melihat kalian berdua bertukar pandangan mesra?! Such a friend, Sungmin! Such a friend, you are!" Kesal Donghae.

Matanya menatap Sungmin dengan pandangan mengejek sementara otaknya memerintahkan tubuhnya agar menjaga jarak aman dengan pria dihadapannya. Siapa tahu Sungmin memutuskan untuk membuat Donghae merasakan sepatu baru miliknya yang sedikit tebal itu jika bersentuhan dengan salah satu bagian tubuhnya.

Err…tidak, Donghae tidak ingin asset berharga miliknya terluka lagi. Donghae sudah cukup kesal karena Sungmin memutuskan untuk melukai wajahnya. Sahabatnya itu begitu paham bahwa hal yang paling dibanggakan Donghae adalah wajahnya yang sangat tampan, tapi Sungmin masih tetap saja memukulnya tepat dititik sensitive miliknya. Rahang!

"Hanya kau yang selalu menggangguku dan Kyunnie dari awal!"

"Sumpah demi ikan-ikan dilaut sana, aku tidak melakukannya!" Seru Donghae sambil membentuk huruf V dengan jari tengah dan telunjuknya. " Lagipula, memangnya kapan ayahmu akan kembali ke Korea?" Tanya Donghae penuh selidik dan tanpa sadar dia maju satu langkah dari tempatnya berada tadi. Bersiap untuk mendengarkan jawaban Sungmin.

Hey, ayah sahabatnya akan pulang tanpa harus Donghae menelponnya! Itu sama saja mempermudah rencana terakhir Donghae untuk membuat hubungan Sungmin dan Kyuhyun yang sebenarnya terpublikasi pada satu-satunya orang yang pasti akan menentangnya. Setidaknya aku tidak harus mengotori tanganku dan merasa bersalah setelahnya, pikir Donghae.

"Kemarin malam." Jawab Sungmin lelah dan saat Donghae merasa jawaban itu sudah membuatnya terkejut, ternyata kalimat Sungmin selanjutnyalah yang membuat jantungnya hampir berhenti karena terlalu senang. "Dan dia melihatku mencium Kyuhyun."

"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Donghae antusias. Kentara sekali dari senyumnya yang terkembang memenuhi hampir sebagian wajahnya. Sedangkan Sungmin hanya bisa mendengus kesal seperti mengejek pertanyaan Donghae. Dan tidak, Sungmin tidak akan menceritakan kejadian yang terjadi semalam pada sahabatnya itu. Tidak saat dialah yang menjadi tersangka utama atas kembalinya Lee Chunhwa.

.

.

Semalam...

"Sungmin! Apa yang baru saja kau lakukan?!"

Sungmin terkejut ketika mendengar suara itu. Walaupun sudah hampir tiga tahun tidak mendengar suara itu secara langsung, Sungmin tahu benar siapa pemilik suara itu. Dan Sungmin dapat merasakan tubuhnya menegang seketika. Apakah hal yang baru saja dilakukannya tadi terlihat oleh orang itu?

Berusaha untuk tidak menunjukan wajahnya yang panik, Sungmin memandang sosok itu sebentar. Ditelannya saliva yang entah mengapa tiba-tiba saja mengumpul didalam mulutnya. Digesernya sedikit posisi Kyuhyun yang tertidur dipangkuannya agar Sungmin bisa berdiri dan menyapa orang itu.

"Appa..." Sapa Sungmin pada Lee Chunhwa, ayahnya, begitu dia memastikan bahwa Kyuhyun tidak akan terbangun dari tidurnya. Sungmin menghampiri Chunhwa yang masih terdiam pada tempatnya. Diantara ruang tamu dan ruang santai tempat dimana Sungmin berada.

Dan betapa terkejutnya Sungmin ketika Chunhwa melayangkan tangannya yang tergenggam sempurna kearah Sungmin. Bagus Sungmin mempunyai reflek yang baik sehingga pukulan itu tidak jadi mendarat dirahangnya. Namun Chunhwa sepertinya tidak menyerah dan mencoba lagi dengan tangan kirinya.

Kali ini Sungmin harus menunduk sedikit untuk menyelamatkan pipi mulus miliknya. Sambil terus menghindari berbagai jurus taekwondo yang diberikan oleh Chunhwa padanya, Sungmin mencoba untuk mencari tahu maksud kedatangan ayahnya ke korea."Apa...yang...auch! Appa.. lakukan disini?!"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, nak!" Balas Chunhwa sambil terus berusaha menyarangkan tinjunya pada Sungmin. Ternyata tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat kewaspadaan seorang Lee Sungmin berkurang. Dan ah, berhasil! Satu pukulan bersarang tepat di dagu Sungmin dan membuatnya terhuyung hingga dia jatuh terduduk dilantai.

"Appa!" Seru Sungmin sambil menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Ternyata dia memang masih belum bisa mengalahkan keahlian taekwondo ayahya.

"Jangan panggil aku Appa!" Marah Chunhwa dengan kaki sekarang berada diantara leher dan bahu Sungmin, berusaha untuk menahan anaknya agar tidak beranjak dari tempatnya. Sungmin panik! Sepertinya, Chunhwa benar-benar melihatnya mencium Kyuhyun tadi. Sekarang, tidak ada jalan keluar lagi. Sungmin harus merelakan hidupnya saat ini juga.

"Ma..."

"Kenapa kau membiarkan Kyunnie tidur dengan posisi seperti itu, anak bodoh?!" Seru Chunhwa kesal sambil memukul pelan kepala Sungmin menggunakan surat kabar yang entah darimana datangnya. Kemudian tanpa menghiraukan mulut Sungmin yang membuka dan menutup, Chunhwa memukul kepala Sungmin sekali lagi. "Ya! Kenapa kau diam saja?! Cepat pindahkan Kyunnie kekamarmu! Kau tidak ingin aku dan Heechul membunuhmu jika besok Kyunnie yang manis dan menggemaskan itu terbangun dengan sakit punggung, bukan?"

Dan sebelum Sungmin merasakan hal lain mendarat dikepalanya, Sungmin bergegas memindahkan Kyuhyun kekamarnya dan memutuskan untuk tidak keluar dari kamarnya lagi.

Kenapa ayahnya tiba-tiba saja pulang? Sejak kapan ayahnya terdengar begitu dekat dengan Kyuhyun? Dan kenapa sikap ayahnya kembali seperti ayahnya yang dulu? Simpan dulu pertanyaan-pertanyaan itu untuk esok hari saat rasa sakit di dagunya sudah sedikit mereda.

.

-My Little Sweetheart-

.

"Apa yang membuat Appa pulang?" Tanya Sungmin pagi itu saat dia mendapati Chunhwa sedang menyeduh kopi sambil mengunyah biskuit gandum favoritenya di dapur. Sungmin memutuskan untuk duduk dikursi itu dan menopang dagunya. Agak meringis sedikit saat dia merasakan pukulan Chunhwa semalam masih terasa nyeri.

"Tentu saja menemuimu." Jawab Chunhwa santai sambil menyesap kopinya. Chunhwa yang kini bersandar pada wastafel tak jauh dari meja makan itu memperhatikan ekspresi yang ditunjukan Sungmin dari balik gelasnya. Sedikit penasaran dengan reaksi yang akan dikeluarkan oleh anaknya.

Chunhwa baru sadar bahwa dia benar-benar merindukan Sungmin. Dia sadar selama tiga tahun ini dia terlalu egois dan tidak memperhatikan perasaan anaknya sama sekali. Rumah ini terlalu banyak menyimpan kenangan tentang istri dan anak terakhirnya.

Dulu dia terlalu dalam tenggelam dalam kesedihannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa anak laki-laki pertamanya juga merasakan hal yang sama dengannya. Dan dengan dirinya meninggalkan anak itu berjuang sendiri adalah hal tersadis yang pernah dilakukan oleh Chunhwa.

"Huh, Appa yakin tidak ada yang salah dengan otak Appa saat ini?" Tanya Sungmin lagi setengah tidak percaya dengan ucapan Chunhwa. Sungmin tertawa miris ketika dia melihat Chunhwa menggigit biskuitnya lagi setelah sebelumnya mencelupkannya dulu pada kopinya. Kebiasaan ayahnya dulu ketika mereka sarapan pagi.

"Machigai koto o yoku yatta kara, hontou ni moushiwake arimasen deshita!" Aku memang sering salah, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kata Chunhwa pelan sambil mendekati Sungmin kemudian menepuk pundaknya pelan.

Lagi, Sungmin merasa ada yang salah dengan ayahnya. Chunhwa sekarang benar-benar seperti Chunhwa yang dulu. Playfull dan sedikit menyebalkan, namun inilah Chunhwa yang Sungmin rindukan. Jadi tanpa pikir panjang, Sungmin langsung memeluknya –hal yang belum sempat dilakukannya semalam. Betapa Sungmin merindukan pelukan ini. Sungmin berharap Chunhwa tidak akan meninggalkannya lagi.

Tapi masih ada pertanyaan yang masih belum terjawab dikepala Sungmin. "Serius, apa yang membuat Appa kembali? Appa bukanlah tipe orang yang tiba-tiba saja datang tanpa sebab!"

Chunhwa tertawa. Kencang, hingga membuat Sungmin sedikit menjauhkan dirinya darinya. Ternyata Chunhwa memang merindukan saat-saat seperti ini. Anak pertamanya ini memang anak yang perhatian. Meskipun dalam tiga tahun ini mereka hanya pernah saling berhubungan berberapa kali saja, Sungmin tetaplah tahu kebiasaannya.

Bahkan saat peringatan kematian adik dan ibunya, Chunhwa tidak mau repot kembali untuk sekedar memberikan salam di makam mereka. Jadi kembalinya Chunhwa saat ini wajar jika membuat Sungmin penasaran.

"Untuk menemui seseorang. Dan kau harus berterima kasih pada orang itu karena berhasil memaksaku kesini." Jawab Chunhwa sambil menepuk kepala Sungmin pelan. Sedangkan senyum lebar tidak pernah meninggalkan bibirnya.

"Siapa?" Tanya Sungmin lagi makin penasaran. Sungmin memiringkan kepalanya sedikit sambil memandang Chunhwa dengan mata yang berbinar. Cara yang selalu dipakainya jika dia ingin semua pertanyaannya langsung dijawab.

Chunhwa tersenyum lagi, kali ini dengan menunjukan deretan gigi putihnya sambil melipat kedua tangannya didada. "Can't tell! Yang jelas orang itu sangat manis dan menggemaskan hingga ayah ingin selalu memeluknya."

Dan tinggallah Sungmin yang sibuk memikirkan orang hebat yang berhasil membujuk ayahnya yang sangat keras kepala itu.

.

-My Little Sweetheart-

.

"Appa! Berhentilah bermain Playstation itu sekarang! Appa sudah memainkannya sejak pagi tadi!" Kesal Sungmin. Kesabarannya sudah mulai hilang saat pria paruh baya itu tidak juga menghiraukannya dan malah makin asik memencet tombol-tombol itu.

Dan Kyuhyun yang berada disana tidak membantunya sama sekali karena anak itu benar-benar sudah meracuni ayahnya dengan terus berteriak 'Ayo kalahkan aku, Appa!' atau 'Jangan khawatir, setelah ini Kyunnie akan mengajari Appa bagaimana cara menembak yang benar!'

Serius, saat ayahnya menginjakkan kakinya dirumah ini malam tadi dan menemukan Sungmin mencium Kyuhyun yang sedang tidur, Sungmin pikir dunianya akan berakhir saat itu juga.

Dia pikir ayahnya akan langsung membuangnya ketempat paling jauh yang ada di bumi ini agar dia tidak merasa dipermalukan oleh Sungmin. Atau yang paling parah, ayahnya akan membunuhnya saat itu juga dan mengubur jasadnya dihutan belantara amazon karena tidak ingin nama keluarganya tercemar.

Tapi, Sungmin benar-benar terkejut ketika ayahnya malah memukul kepalanya sekaligus memarahinya karena membiarkan Kyuhyun tertidur dalam posisi –yang menurut ayahnya- tidak nyaman lalu dia menyuruh Sungmin untuk membawa Kyuhyun tidur dikamarnya dan terus saja mengeluarkan omelan seperti 'bagaimana jika Kyunnie mengalami cedera leher saat dia bangun besok?' dan 'bagaimana jika Heechull tahu dan membuat hidupmu menderita sepanjang hidupmu?' atau 'bagaimana jika Kyunnie merasa kesal dan berfikir bahwa kau tidak peduli padanya?'

Demi semua dewa yang ada dilangit sana, Sungmin berani bersumpah bahwa ayahnya sukses membuat Sungmin ingin menancapkan sendiri pisau dapur itu kedadanya. Berharap bahwa semua yang dialaminya malam itu adalah sebuah mimpi dan dia akan terbangun esok hari dan tidak terjadi apa-apa.

Dia tidak mencium Kyuhyun dan ayahnya tidak kembali ke Korea.

Karena jujur saja, ayahnya yang seperti ini membuatnya merasa terganggu. Alasannya? Sederhana saja, karena orang tua itu memonopoli Kyuhyun seorang diri. Dan yang membuat Sungmin makin sebal adalah Kyuhyun juga tidak menghiraukannya.

Apa yang membuat Chunhwa dan Kyuhyun menjadi seperti ini benar-benar menjadi sebuah tanda tanya besar baginya. Lagipula, apa-apaan itu ayahnya memanggil Kyuhyun dengan sebutan Kyunnie? Seingat Sungmin, mereka bahkan belum mengenal satu sama lain secara langsung dan ayahnya sudah memanggil Kyuhyun dengan mana kecilnya?

Bagus, sekarang Sungmin benar-benar penasaran. Dua malam yang lalu dia terlalu sibuk merasakan sakit ditangannya karena menahan tinju dari orang tua itu. Jadi dia tidak terlalu memperhatikan keanehan ini.

"Oh, ayolah Minnie! Sebentar lagi, ok! Kyunnie sedang mengajari bagaimana cara mengisi amunisi pada pistol Appa dengan cepat, sepuluh menit lagi, ok!" Keluh Chunhwa tanpa sedikitpun menoleh kearah Sungmin dan terus saja fokus pada layar televisi besar dihadapannya. Sukses membuat Sungmin menggeram frustasi.

"Appa juga bilang seperti itu setengah jam yang lalu!" Protes Sungmin kesal dan tanpa sadar menginjak marmer putih dibawah kakinya berkali-kali. Membuat ayahnya menghentikan permainannya sejenak dan menoleh kearah anak laki-laki tertuanya yang kini balas memandangnya dengan tatapan marah bercampur kesal. Karena terlalu kesal, Lee Chun Hwa yakin dia melihat air mengembang disudut mata Sungmin.

"Appa, kita makan dulu saja! Kyunnie juga lapar, nanti setelah makan kita lanjutkan lagi mainnya!" Seru Kyuhyun yang kini sudah mengalungkan kedua tangannya pada leher Chun Hwa dan membuat pria separuh baya itu hampir tersedak. Alih-alih merasa bersalah, Kyuhyun malah tertawa melihat ekspresi Chun Hwa yang mirip seperti ikan saat membutuhkan air. Bibir Appa seperti bibir ikan pari! gumam Kyuhyun dalam fikirannya.

Tapi tidak, Appa tidak mirip ikan! Revisi Kyuhyun lagi saat tiba-tiba saja bayangan ikan badut melintas dikepalanya. Kyuhyun tidak akan rela jika calon ayah mertuanya itu disamakan dengan species saingannya.

Saat Chunhwa ingin mengatakan sesuatu, Kyuhyun sudah mendahuluinya. Sambil memandang Sungmin, anak kecil itu berkata dan tersenyum polos "Tenang saja Appa, Minnie hanya cemburu karena Kyunnie dan Appa terlalu fokus pada video game kita dan melupakan Minnie!"

"Benarkah?" Tanya Chunhwa sedikit tidak percaya. Jadi inilah alasan mengapa sejak tadi wajah anaknya berkerut dan tidak terlihat ceria seperti biasanya. Hanya karena cemburu dengan sebuah video game?

Kyuhun mengangguk mantap. "Meskipun harus Kyunnie akui bahwa Minnie mungkin lebih cemburu karena Kyunnie tidak memperhatikannya sejak Appa datang!"

Dan Lee Chunhwa hanya bisa tertawa melihat betapa menggemaskan anak kecil dihadapannya ini. Dicubitnya kedua pipi Kyuhyun sambil menggerakkannya kekanan dan kekiri. Sementara Sungmin benar-benar kehilangan kesabarannya dan meninggalkan keduanya untuk menikmati makanannya seorang diri. Sungmin kesal! benar-benar kesal!

Siapapun yang membuat ayahnya pulang ke Korea harus membayar akibatnya. Dan meskipun dia sudah salah sangka dan memukul Donghae, dia tidak bisa menghilangkan prasangkanya pada sahabatnya itu. Jadi, untuk beberapa hari ini Sungmin memutuskan untuk mengawasinya.

.

-My Little Sweetheart-

.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Donghae merasa bahwa dia ingin sekali berteriak frustasi dan meneriakan pada dunia bahwa dia mungkin benar-benar sudah gila. Dicubitnya pipinya sendiri saat dia ingin memastikan, untuk yang kesekian kalinya, bahwa apa yang dilihatnya ini benar-benar nyata dan bukan hanya khayalan yang dibuat oleh separuh jiwanya yang memang sedikit aneh.

Dan saat dia memutuskan bahwa pipi mulusnya itu mulai terasa perih, dia yakin bahwa pemandangan dihadapannya adalah nyata dan bukan rekayasa yang dibuat oleh matanya yang beberapa malam ini tidak bisa tidur karena terlalu senang. Ya, setelah Sungmin memberitahunya bahwa ayahnya pulang ke Korea dan memutuskan untuk meninggalkan bisnisnya di Jepang untuk beberapa waktu, Donghae tidak bisa berhenti tersenyum.

Donghae sudah lama menantikan hari ini datang. Hari dimana dia akan melihat sahabatnya ini memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan setan kecil itu. Hari dimana dia akan menyerukan kemenangannya pada dunia bahwa pada akhirnya Sungmin memilih dirinya. Dan meskipun Sungmin tidak memilihnya, setidaknya sahabatnya itu tidak bersama dengan musuh abadinya.

Namun, Donghae tidak pernah menyangka bahwa hari yang dinantikannya itu harus hilang begitu saja dari pikirannya ketika dia melihat pemandangan yang ada beberapa meter dihadapannya. Dipandangnya Sungmin yang berada disebelahnya dengan tatapan tidak percaya dan Sungmin hanya menghela nafas yang entah sejak kapan ditahannya.

"Jangan memandangku seperti itu, Hae. Aku juga tidak tahu jawabannya." Kata Sungmin seolah mengerti dengan pertanyaan tak terucap yang terlukis di wajah sahabatnya. Sungmin sendiri sudah mencari jawabannya sejak malam ketika ayahnya menginjakan kaki dirumah ini. Tapi entah mengapa, baik Kyuhyun maupun ayahnya menolak untuk memberitahunya. Dan hal itu membuat Sungmin putus asa.

Sungguh-sungguh putus asa dan marah hingga Sungmin ingin sekali memukul Donghae sekali lagi.

Dengan langkah yang sedikit gontai, Sungmin membawa dirinya masuk ke tempat sumber dari masalah ini berasal dan Donghae mengikutinya dengan langkah yang sama ditambah dengan wajah terkejutnya yang masih belum juga hilang. Mulutnya membuka dan menutup seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang keluar sama sekali dari tenggorokannya. Rasa terkejutnya benar-benar berpengaruh sempurna pada kemampuan bekerja pita suaranya.

Bagaimana tidak, kini Sungmin dan dirinya sedang mendekati Kyuhyun dan ayah sahabatnya yang sedang bermain Playstation 3 yang Donghae yakini adalah milik anak kecil itu. Bagaimana Donghae tahu? Sebenarnya semua orang pasti akan tahu bahwa benda berwarna hitam metalik itu adalah benda milik Kyuhyun.

Selain karena warnanya yang hitam, Kyuhyun menuliskan namanya pada kertas secarik kertas kecil kemudian menempelkannya pada semua barang-barang miliknya. Dan Donghae yakin, jika saja Kyuhyun tidak cukup waras, mungkin dia sudah menandai Sungmin dengan cara seperti itu alih-alih berteriak pada semua orang untuk tidak menyentuh Sungmin.

Ish! Membayangkan hal itu saja membuat Donghae ingin sekali memutilasi Kyuhyun sebentar untuk melihat apa yang sebenarnya ada dipikiran anak itu.

Paman Lee, begitu biasa Donghae memanggil ayah Sungmin, nampak begitu menikmati permainan itu dan sesekali nampak tertawa sambil memukul ringan bahu Kyuhyun atau menepuk kepala anak itu pelan. Dan yang membuat Donghae merinding hebat adalah kenyataan bahwa Kyuhyun sama sekali tidak berteriak histeris ketika paman Lee jelas-jelas mengusap rambutnya dan sedikit memencet tombol-tombol itu terlalu kuat.

Tidak, terakhir kali Donghae berusaha menyentuh Playstation Portable milik setan kecil itu adalah ketika benda itu tergeletak begitu saja di sofa putih milik Sungmin, Kyuhyun menghadiahkannya sebuah sepatu tepat di wajah tampannya.

DI WAJAH YANG SANGAT DI BANGGAKANNYA!

Dan Donghae ingat betul lima helai rambutnya menjadi korban keganasan setan kecil itu.

Lagi-lagi Donghae seperti hendak mengatakan sesuatu pada Sungmin yang kini duduk sambil melipat kedua tangannya didada dan punggungnya bersandar lelah pada sandaran sofa itu, sementara bibirnya mengerucut sempurna, matanya memandang Kyuhyun dan paman Lee dengan tatapan kesal, ketika tiba-tiba saja paman Lee menoleh kearahnya.

"Donghae-ah! Ohisashi buri desune!" Lama tidak berjumpa. Seru paman Lee dan langsung bangun dari duduknya menuju Donghae tanpa berniat untuk mem-pause permainan yang sedang dimainkannya.

"Apa kabarmu, nak?!" Tanya Chunhwa sambil memeluk erat Donghae dan menepuk-nepuk punggungnya agak kencang. Dan saat pria paruh baya itu memeluknya erat, Donghae yakin Kyuhyun melihatnya dengan tatapannya yang biasa. Tatapan yang seolah berkata bahwa anak itu sudah siap untuk membunuhnya.

"Ah! Paman Lee, aku baik-baik saja! Bagaimana dengan paman sendiri?" Tanya Donghae antusias. Sedikit banyak Donghae merindukan paman Lee juga meskipun dia sedikit kesal pada paman ini karena tidak menghiraukan Sungmin sama sekali beberapa tahun belakangan ini.

"Baik-baik! Tentu saja sangat baik!" Jawab Paman Lee sambil menepuk-nepuk punggung Donghae –lagi.

"Kau makin terlihat tampan saja Donghae-ah!" Tambah paman Lee, kali ini sambil mengacak ringan rambut Donghae.

Donghae hanya tersenyum –dengan sedikit canggung- mendengar pujian itu keluar dari mulut paman Lee. Kapan terakhir kali Donghae melihat ayah Sungmin seceria ini? Donghae memutar otaknya sedikit dan semenit kemudian akhirnya dia bisa mengingatnya, terakhir kali paman Lee seceria ini adalah ketika Sungjin dan Bibi Lee masih hidup.

"Omo! Anggaplah rumah sendiri, nak! Aku lupa aku sedang sibuk menemani Kyunnie bermain dengan Playstation-nya. Kau harus mencobanya Donghae-ah, permainan itu benar-benar menyenangkan!" Seru paman Lee lagi sebelum dia setengah berlari menghampiri Kyuhyun yang –seolah- terlihat masih asik bermain.

Sementara Sungmin makin memajukan bibirnya, Donghae berani bertaruh bahwa setan kecil itu menunjukan senyum andalannya. Ya, senyum yang hanya satu sudut bibirnya saja yang terangkat. Dan menurut Donghae senyum itu agak sedikit menyeramkan.

"Sekarang kau sudah tahu kan mengapa aku memukulmu saat aku mengira kau yang menelpon ayahku dan membujuknya untuk kembali Korea?" Gumam Sungmin.

Mungkin sebaiknya Donghae harus mengurungkan niatnya untuk mengajak paman Lee dan Sungmin makan malam bersama hari ini guna sekedar melepas rindu. Tidak saat Kyuhyun bersama mereka karena itu sama saja dengan bunuh diri.

Kemudian dengan nafas yang berat, Donghae merutuki nasibnya sendiri. Rencana pamungkasnya gagal dan berakhir diluar perkiraan. Sekarang mau tidak mau Donghae harus merelakan semuanya.

Merelakan sahabatnya untuk bersama dengan musuh abadinya. Merelakan harga dirinya bahwa dia dikalahkan oleh seorang anak kecil berumur sepuluh tahun. Dan yang paling penting adalah merelakan semua ejekan yang mungkin akan datang dari Hyukjae.

Mungkin untuk beberapa waktu ini Donghae harus menghilang dulu dari peredaran. Bertemu dengan keluarganya di atlantik sana sepertinya pilihan terbaik untuk saat ini, pikir Donghae.

.

.

.

-End Of Chapter 10-

.

.

.

A.n :

1. Ternyata Chapter ini bukan yang terakhir, LOL Karena kalau dijadiin satu akan jadi lebih dari sepuluh ribu kata dan Zen yakin yang baca udah keburu ngantuk duluan. :P

2. Mohon maaf kalau banyak typo dan sedikit aneh, Zen setengah melek ini ngetiknya. T_T

3. Zen punya firasat Zen bakal diserbu nih sama fans-nya mas ikan :p

4. Update..update..update…

.

.

Thanks for all the Reviewers :

Buat semua yang sudah baca dan gregetan sama Zen di Chapter 9 lalu, silahkan limpahkan semuanya ke Zen. Makasih yang udah protes ke Zen lewat review ataupun lewat PM. Hihihihi… Zen sudah mempersiapkan diri saat ngepost itu.

Tapi..tapi..tapi..Life is never flat kan? –Makan citato sambil nyengir gaje- #Minta dikeroyok

Tapi di Chapter ini Zen udah jelasin kan rencana akhirnya si Donghae? Dan lagi-lagi gagal! Muaahahahahahahahaha…. #Ketawa Setan ala Kyuhyun sama Hyukjae.

And Oh, just spoiler for you guys! Karena MLS sudah pasti selesai di chapter selanjutnya, Zen Cuma mau bilang kalau Zen akan buat FF Chapter lagi. Hihihihihi… Masih KyuMin pastinya, tapi kali ini ada MinWook juga didalamnya –Karena Zen selamanya akan tergoda oleh dua orang yang unyu-unyu seperti MinWook. ^_^v Tentu saja masih Fluff and Romantic Comedy genre-nya. #Iklanin FF sendiri tanpa tahu malu Hahahaha…

Ok, sebelum Zen ngomong yang gak-gak lagi, udah dulu ya. Sekali lagi, untuk semua yang sudah review, kasih saran, kasih semangat dan bersedia baca atau hanya sekedar mampir di akun Rachael137 ini, Zen ucapin terima kasih banyak ya. ^^ Kalau mau nyapa Dhee atau Zen, Feel free to PM us, Thanks again. ^^

Okay, kayaknya cukup sampai disini dari Zen.

And Don't Forget that KyuMin is REAL!

See you on the Last part ^_~ Pyong! Zen~