A/N : setelah beberapa bulan tidak melanjutkan, akhirnya aku mendapatkan waktu untuk melanjutkan cerita ini walau jadinya aku agak lupa ceritanya lol. Karena tahun ini aku akan menghadapi ujian-ujian, aku tidak yakin bisa update cepat... Bahkan fanfic ku yang lain saja belum ku update lagi. Mungkin saja kemampuan menulisku akan berkurang XD Aku mulai saja ceritanya!
Kido's POV
Kemarin tepat pada pukul 10 malam, kami sampai di markas kami yang bernomor '107' ini. Semua anggota Mekakushi Dan -termasuk aku- sudah mengantuk dan menguap beberapa kali, sehingga mereka kembali ke kamar mereka masing-masing, termasuk Shintaro, Ene, Hibiya, Momo, dan Konoha yang akan menginap disini walau aku kesusahan menentukan kamar-kamar untuk mereka, tentunya karena kami tidak mempunyai banyak kamar.
Alhasil, aku tidur dengan Momo dan Ene (karena Ene berada di dalam HP, dia tidak akan menjadi masalah dan karena Momo itu adik Shintaro, menurutku tidak masalah jika aku tidur menggunakan tubuh ini); Seto dengan Marry (entah bagi aku dan Kano, hal ini sudah biasa); Konoha dan Hibiya; serta Shintaro dengan... Kano.
'Ugh... Sejak aku mendengar perkataan Kano dua hari yang lalu... Aku jadi menghindari Kano.'
Wajahku memerah kembali seperti tomat karena mengingat kembali saat Kano mengatakan, 'Sepertinya... Aku benar-benar mencintai Kido.' Suara Kano tersebut seperti mengiang-ngiang di dalam kepalaku tanpa henti. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini, apalagi jika ada orang yang menyukaiku. Dari dahulu, aku merasa tidak akan ada orang yang menyukaiku karena aku memiliki kekuatan mata ini sehingga dijauhi banyak orang... Tapi ternyata...
'Argh! Pernyataan Kano membuatku bingung! Dasar... Andaikan si idiot itu tidak mengatakan apapun...', pikirku sembari mengacak-acak rambutku dengan kesal, menyalahkan Kano yang sebenarnya tidak bersalah.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan tempat aku berada. Aku pun segera tersadar dari lamunanku dan melihat seseorang yang sedang menghampiriku.
'Orang itu... Kano.'
Sekilas, aku melihat wajah Kano yang sedang tersenyum menyeringai seperti dirinya yang biasa dan tampak akan memanggilku. Melihatnya, dengan spontan, aku berlari melewatinya untuk menuju ke kamarku dengan wajah yang memerah. Aku harap, dia tak sempat melihat wajahku yang tampak memalukan ini.
Aku membuka pintu kamarku dengan keras, lalu menutupnya kembali dan bersandar pada pintu tersebut.
'Ah... Bagaimana ini? Pasti Kano curiga karena aku bertindak aneh...'
*Tok Tok*
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarku. Aku pun segera berbalik badan dengan panik dan bertanya dengan berpura-pura tenang, "Siapa?"
Kemudian, terdengarlah suara seorang 'perempuan' yang merupakan suara diriku sendiri. Aku mengira, orang yang mengetuk pintu itu adalah Kano. Namun ternyata, malahan 'dia', yang sudah cukup kukenal akhir-akhir ini yang menjawab pertanyaanku, 'lelaki' yang disebut NEET itu berkata, "Aku Shintaro. Ada yang ingin kubicarakan."
Mendengar Shintaro, aku segera berdiri dan membukakan pintu. Entah kenapa, aku tidak merasa gugup lagi. Aku masih merasa bersyukur kalau dia bukanlah Kano.
"Apa yang ingin kau bicarakan?", tanyaku dengan berpura-pura memakai ekspresi yang datar.
Shintaro kemudian melihat wajahku lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama sehingga membuatku kebingungan.
"Mengapa wajahmu memerah?", tanyanya sembari menatap kedua pipiku yang sedikit memerah.
Aku pun menggeleng kepalaku dengan cepat, menjawab pertanyaan itu.
"Bu-Bukan apa-apa! Beritahu saja apa yang ingin kau bicarakan!", seruku. Aku merasa wajahku semakin memerah.
"Baiklah..." Shintaro pun segera menarik tanganku ke luar kamar, lalu menutup kembali pintu kamarku. Kemudian, ia menoleh ke kiri dan kanan, seperti khawatir jika ada seseorang yang mendengar. Sepenting itu kah yang ingin dia bicarakan?
"Ada a-"
"Ssshh!" Shintaro memperingatkanku untuk diam, dengan menutup mulutku.
Setelah hening beberapa saat, Ia pun mengambil HPnya yang masih belum ia nyalakan. 'Aneh. Biasanya Ene selalu ada di HP Shintaro... Yah, tidak selalu sih.' Shintaro pun memasukkan kembali HPnya sembari masih melirik kiri dan kanan kami dengan sangat hati-hati. Setelah yakin bahwa tidak ada orang di sekitar kami (mungkin termasuk Ene), Shintaro menghela nafas dan mulai berbicara sembari menggaruk kepalanya, "Begini. Aku merasa Ene akhir-akhir ini agak aneh... Apalagi saat ia bertemu dengan Konoha..."
Mendengarnya, aku sempat terkejut. Mengapa? Tentu karena kukira Shintaro tidak akan memikirkan Ene yang sering dia bilang 'berisik' dan Shintaro juga sering terlihat tidak peduli padanya... Namun, ternyata...
"Hee, kau khawatir dengannya?", ucapku tersenyum kecil.
Pipi Shintaro memerah sedikit, lalu ia mengelak, "B-B-Bukan! Hanya saja, aneh saja..." Shintaro pun menggaruk pipinya dengan telunjuk jarinya.
Aku tertawa kecil melihat tingkah laku dia, sementara Shintaro tersenyum melihatku tertawa. Setelah tertawa, aku mulai menanyakan tentang Ene padanya, "Ada apa dengan Ene?"
Mendengar pertanyaanku, Shintaro terdiam sebentar, lalu tiba-tiba ia menarik tanganku sembari berlari menuju ruang makan. Namun, makin lama derap langkah kami makin lambat, dan berhenti setelah tiba di depan pintu ruang makan. Shintaro pun bersembunyi di balik pintu dengan membuka sedikit pintu tersebut. Aku pun juga berdiri di sebelah Shintaro.
Disana, kami melihat sebuah HP, yaitu HP Momo yang terdapat Ene di dalamnya, dengan lelaki berambut putih yang memakai pakaian aneh, yaitu Konoha. Konoha sedang duduk di depan meja makan, sedangkan Ene -HP Momo- diletakkan di atas meja makan.
Suasana di sekitar mereka sangat hening, bahkan tidak ada yang berbicara sama sekali. Malahan, hanya terdengar suara Konoha yang sedang memakan negima. Konoha pun sepertinya hanya menikmati negima kesukaannya itu dan tidak memedulikan Ene.
"Kenapa? Mereka cuma diam 'kan?", tanyaku pada Shintaro.
"Lihat wajah Ene baik-baik...", ucap Shintaro dengan serius.
Mendengarnya, aku berusaha melihat dari jauh ke dalam layar HP Shintaro yang terlihat cukup kecil darisini. Setelah berhasil melihat wajahnya, aku menyadari bahwa wajah Ene tampak sedih dengan senyuman palsu menghiasi wajahnya, melihat Konoha yang sedang makan di depannya.
"... Ada apa?", Konoha yang menyadari bahwa dirinya diperhatikan oleh Ene, bertanya pada Ene sembari memiringkan kepalanya dengan kebingungan.
Ene pun menjawab dengan panik, "T-T-Tidak kok!"
Mereka pun kembali terdiam. Setelah hening dalam suasana yang sama sekali tak bisa kumengerti ini, sekilas aku melihat wajah Ene yang sedikit memerah dan menundukkan kepalanya, lalu layar HP Momo tiba-tiba berubah menjadi warna hitam.
'Sepertinya, ia sudah berpindah ke HP lain.' Sambil berpikir seperti itu, aku segera memeriksa HPku, namun aku tidak menemukan Ene di dalamnya. Aku menghela nafas, merasa lega karena Ene tidak berpindah ke HPku. Mungkin sekarang ini, dia ada di HP Seto, Hibiya, atau... Kano.
Aku mulai berkomentar dengan suara yang agak kecil, berbisik dengan ragu-ragu, "Dia sedih... Lalu wajahnya tiba-tiba memerah...? Jangan-jangan..." Entah kenapa aku merasa malu menyadari apa yang dirasakan Ene. Memang kuakui, aku tidak pernah mengalaminya. Jadi, bisa dibilang, ini pertama kalinya aku melihat orang dengan 'tanda-tanda' seperti itu... Tanda cinta.
"Maksudmu..." Aku menoleh ke arah Shintaro yang sedang berbicara dengan serius. "Ene bertengkar dengan Konoha?"
Aku menepuk jidatku. "Kau gak peka ya?"
"Hm, apa?", tanya Shintaro, masih tampak bingung.
"Bukan apa-apa..." jawabku sambil menghela nafas.
Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu mengerti tentang hal seperti ini, sepertinya Shintaro jauh lebih tidak mengerti daripada aku. Bahkan, menurutku sudah jelas kalau Ene... sedang jatuh cinta.
Aku pun mulai berpikir sejenak. Kemudian, aku mendapatkan ide. "Sebagai ketua, aku akan membantu Ene yang merupakan salah satu anggota dari Mekakushi Dan," jelasku sembari melirik ke arah Shintaro.
Shintaro masih tampak kebingungan. Mengapa dia belum mengerti juga sampai sekarang?
"Membantu... mereka berbaikan?", tanya Shintaro dengan bimbang.
"Bukan itu." Aku menghela nafas untuk kedua kalinya. "Ene sepertinya mencintai Konoha."
Shintaro sangat terkejut mendengarnya, bahkan sampai melebarkan kedua matanya dan berteriak, "Apa!? Ba-Bagaimana bisa!?"
Aku menggelengkan kepala karena aku juga tidak mengetahui alasannya dan melanjutkan perkataanku, "Kalau begitu, aku punya rencana."
"Rencana...?", tanya Shintaro.
Aku mendekatkan wajahku ke telinga Shintaro dan berbisik, "Begini..."
Setelah itu, aku menjelaskan rencanaku pada Shintaro.
Shintaro's POV
"Aku mau pergi keluar dulu."
Sekarang ini yang ada di dalam ruangan ini hanya ada aku, Kido, Hibiya, Momo, Ene, dan Konoha. Sementara itu, Seto sedang bekerja sambilan; Mary sedang membuat bunga-bunga palsu seperti biasa di kamarnya; dan Kano sedang pergi berjalan-jalan entah kemana.
Setelah mendengar perkataanku, semuanya terdiam dengan terkejut seperti melihat sesuatu yang aneh di depan mereka atau mendengar hal yang sangat mengejutkan, kecuali Kido dan Konoha yang tetap berwajah seperti biasa.
"O-O-Onii-chan...? Kau salah makan apa?", tanya Momo sembari menghampiriku dengan panik.
"Master barusan minum baygon ya?", komentar Ene dengan menyeringai.
"Siapa yang minum baygon!?", seruku dengan marah.
Hibiya juga membalas, "Tapi... Ini benar-benar aneh." Hibiya berhenti sebentar, lalu melanjutkan, "Kenapa kau ingin keluar? Kau gak suka keluar rumah kan?"
Aku tertegun mendengarnya, sehingga aku tidak bisa menjawab pertanyaannya itu. Memang benar, aku tidak suka pergi ke luar rumah... Bagaimana cara aku mencari alasan lain?
Saat aku masih berpikir, tiba-tiba Kido berdiri, membuat kami semua memerhatikan Kido. "Ada yang ingin kubicarakan dengan Shintaro, Momo, dan Hibiya. Karena ini rahasia, aku ingin membicarakannya di luar markas," ucap Kido.
"Eh?", ucap Hibiya dan Momo bersamaan.
"Ayo." Kido pun menarik tangan Hibiya dan Momo dengan erat keluar dari markas, sementara aku mengikuti mereka sambil berjalan santai dan menaruh HPku -yang ada Ene di dalamnya- di atas meja makan dekat Konoha. Lalu, aku meninggalkan HP itu dan menutup pintu markas dengan pelan, sehingga hanya ada Konoha dan Ene di ruangan itu lagi.
Tersadar hanya ada mereka disana, keduanya hanya terdiam kembali dan tak berbicara apapun. Namun, aku mengerti apa yang mereka lakukan karena aku mengintip mereka melalui sela-sela pintu.
"... Mereka tidak berbicara sama sekali seperti kemarin," ucap Kido dengan mengerutkan dahinya.
"Konoha memang jarang bicara kan?", balasku yang berdiri di belakang Kido.
Hibiya dan Momo kebingungan melihat perkataan kami. Mereka pun memiringkan kepala dan melihat ke arah kami dengan tanda tanya yang tampak seperti muncul di atas kepala mereka.
"Apa yang kalian lakukan?", tanya mereka bersama-sama.
Mendengarnya, aku menoleh ke arah Kido, menunggu jawaban dari pertanyaan mereka itu. Yah, menurutku tidak apa-apa memberitahu Hibiya dan Momo. Toh, mereka tidak akan membuat rencana kami gagal... Mungkin.
Kido pun menoleh ke arah Hibiya dan Momo, lalu berkata, "Sebenarnya tadi kami melihatnya..." Kido berhenti sebentar dan wajahnya pun berubah menjadi agak kemerahan, namun dia segera menggelengkan kepalanya, lalu dia melanjutkan, "T-Tadi aku melihat wajahnya memerah saat dia bersama dengan Konoha... Mungkin Ene menyukai Konoha..."
Hibiya dan Momo melebarkan kedua matanya setelah mendengar perkataan Kido. Mereka pun berseru bersama-sama, "E-Eh!?"
"Sepertinya begitu," balasku sembari mengintip kembali dari balik pintu, kemudian Kido, Hibiya, dan Momo juga ikut mengintip dari belakangku.
"K-KONOHA BODOH!"
Tiba-tiba, terdengarlah suara teriakan Ene dari ruangan dimana Ene dan Konoha berada. Entah apa yang telah terjadi, HPku -yang ada di atas meja makan- sudah tidak menyala lagi, meninggalkan Konoha yang panik sembari memegang HP tersebut.
"Ada apa?", tanyaku sambil memasuki ruangan itu, bersama dengan Kido, Hibiya, dan Momo.
"A... Aku tidak tahu... Apa Ene... marah padaku?", jawab Konoha, masih dengan wajah datarnya, namun terlihat sedikit sedih.
Melihatnya, Kido menepuk pundak Konoha dan menghiburnya sambil tersenyum kecil, "Dia tidak marah kok... Mungkin moodnya sedang buruk."
Konoha mengangguk mendengar perkataan Kido, lalu membalasnya juga dengan tersenyum kecil. Tetapi, aku merasa Konoha masih memikirkannya di dalam hatinya.
Aku pun melihat mereka dari kejauhan. Entah kenapa, melihatnya, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Mengingat hubungan Ene dengan Konoha itu...
Ene's POV
Setelah kejadian tadi, aku berpindah ke HP Kano. Saat aku telah melihat layar pembatas antara dunia kecilku ini dengan dunia nyata yang berada di luar sana, aku tidak menemukan Kano di dekat sini.
'Apa mungkin Kano sedang meninggalkan HPnya? Yah, sudahlah.'
Aku melipat kedua tanganku dan menghela nafas, kemudian mengingat kembali apa yang telah terjadi tadi.
-Flashback-
"... Ene, maaf kalau aku akan berkata aneh..."
Aku terkejut mendengarnya, lalu menaikkan alisku.
"Eh? Memangnya kamu ingin bicara apa?", tanyaku.
Konoha terdiam sebentar sambil memerhatikan wajahku dengan serius. Saat aku diperhatikan, kedua pipiku tiba-tiba berubah menjadi merah tanpa kusadari.
"Sepertinya... Aku pernah mengenalmu," jelas Konoha sembari memiringkan kepalanya.
Jantungku berdetak keras sesaat aku mendengarnya.
'Jangan-jangan... Dia ingat...?'
Aku meneguk ludahku dan bertanya padanya, "M-Mengapa kau berpikir seperti itu?"
Mendengarnya, dia terdiam beberapa saat, memikirkan jawaban dari pertanyaanku. Setelah itu, dengan ragu-ragu, ia menjawab, "Entahlah... Mungkin aku salah... Maaf."
Kemudian, ia mengambil negima kesukaannya di atas meja, masih dengan wajah yang datar dan terlihat sudah tidak memikirkan pertanyaanku, bahkan tidak peduli.
Entah kenapa, melihat hal itu membuatku kesal dan mulai merasa ingin marah. Dengan menundukkan kepalaku dan mengepal kuat kedua tanganku, aku mulai berbicara dengan suara yang lirih dan bergetar, namun Konoha tetap dapat mendengarnya.
"Kenapa... kenapa kau tidak... mengingatnya?", gerutuku dengan meneteskan air mataku.
Konoha melebarkan kedua matanya saat melihat aku menangis sambil mengusap air mataku yang masih menetes.
"Ene...?", ucap Konoha dengan sedikit bingung.
Setelah aku merasa air mataku mulai berhenti menetes, aku berteriak membentak Konoha dengan spontan, "K-KONOHA BODOH!"
Kemudian, aku berpindah ke HP Kano, tempat aku berada saat ini.
-Flashback End-
'Ah... Mungkin aku harus meminta maaf pada Konoha? Dia tidak salah apa-apa tetapi aku memarahinya... Sekarang dia pasti bingung.'
Beberapa kali aku telah menghela nafas dan akhirnya aku mengangkat tangan kananku, berteriak dalam hati untuk menyemangati diriku sendiri.
'Yosh! Aku akan minta maaf padanya saat makan malam nanti!'
Kido's POV
Saat makan malam tiba, aku merasakan keheningan di dalam ruang makan ini. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Rasanya, suasana ini seperti tempat yang berada di kuburan. Benar-benar hening. Jika aku sebutkan, di meja makan ini terdapat aku, Shintaro, Marry, Momo, Hibiya, Ene, dan juga Konoha. Seto masih bekerja sambilan dan pulang larut malam sehingga membuat Marry merasa kesepian, sedangkan Kano belum juga pulang dari tadi siang. Mungkin dia masih sedang berjalan-jalan? Yah, walau sebenarnya aku merasa lega karena aku tidak bertemu dengannya hari ini...
Aku menoleh ke arah Ene dan Konoha sambil terus menikmati makanan yang kumasak sore tadi. Lalu, aku mengingat kembali ideku untuk membuat mereka berbaikan. Aku pun menarik jersey Shintaro dengan pelan dan berbisik di telinganya, "Ayo kita jalankan rencana kita."
"Bagaimana?", balas Shintaro sembari menatap wajahku.
"Begini, besok..."
Aku pun menjelaskan rencanaku untuk esok hari, tentu saja aku berusaha untuk membuat rencana ini tidak terdengar oleh Konoha dan Ene.
-Keesokan harinya-
Jam menunjukkan pukul 12.00. Waktunya menjalankan rencana kami.
Aku mengangguk ke arah Shintaro, lalu ia juga membalasku dengan anggukan kecil.
Aku mengetuk pintu kamar Konoha dan memanggilnya. Kemudian, ia membukakan pintu untukku.
Sesaat ia membuka pintu, aku memberikan sebuah catatan kertas kecil yang bertuliskan, 'barang yang dibeli'. Ia pun melihatku, bertanya-tanya tentang maksud kertas ini. Namun, sebelum ia dapat menanyakannya, aku menjelaskan, "Belilah barang-barang ini di supermarket dekat sini. Karena aku dan yang lainnya sibuk, Ene akan menunjukkan jalan untukmu. Jadi, bawalah HP Shintaro juga." Setelah itu, aku tersenyum sesaat dan melanjutkan, "Tentu saja, kau boleh membeli negima lho."
Mendengar sebuah kata 'negima' dari mulutku, kedua matanya berbinar-binar dan segera pergi ke tempat Shintaro untuk membawa Ene bersamanya.
Aku sedikit menyeringai melihat hal itu berjalan seperti rencanaku. Aku pun mengikuti Konoha dari belakang dan kami berjalan menuju ruang tamu. Disana kami melihat Shintaro dan Ene yang sedang berbincang-bincang bersama -atau mungkin saling memarahi.
Dengan segera, Konoha menghampiri Shintaro dan berkata, "Aku... ingin berbelanja... Bolehkan aku membawa Ene?"
Shintaro menoleh ke arah Konoha dan mengangguk dengan 'agak' terpaksa. Sebenarnya, dia tidak ingin meminjamkan HPnya pada Konoha yang mungkin saja bisa membuat HP Shintaro rusak, namun rencana kami bisa hancur jika ia menolak.
Kemudian, aku melihat Shintaro dengan lekat-lekat. Aku mulai penasaran setelah menyadari mood Shintaro yang sepertinya hari ini terlihat sedang buruk, yang ditandai dengan dahinya yang berkerut dan ia berwajah kesal.
"Eh? Kenapa membawaku?", tanya Ene kepadaku, sehingga membuatku menoleh ke arah Ene kembali.
Aku menjawab, "Konoha tidak tahu jalan dan kami semua sibuk. Jadi, aku meminta kalian berbelanja."
Setelah aku memaksa dia beberapa kali, akhirnya dia mau pergi berbelanja bersama Konoha. Mereka pun keluar dari markas, dengan Konoha yang membawa sebuah HP -Ene- dan catatan bahan makanan yang telah kutulis untuk dia beli. Setelah mereka berjalan cukup jauh dari markas kami, aku mengangguk pada Shintaro.
Namun, melihat Shintaro yang terlihat lelah dan kesal itu, aku merasa ia sudah tidak mau ikut campur dengan hubungan Konoha dan Ene ini. Lalu, tiba-tiba Shintaro mengeluh, "Haah... Tidak usah ikuti mereka... Nanti mereka juga berbaikan sendiri selama berbelanja bersama."
Aku menaikkan salah satu alisku mendengarnya. "Kenapa kau tiba-tiba bilang seperti itu? Bukannya kau juga mengkhawatirkan mereka?"
Dia pun terdiam mendengar pertanyaanku. Melihat hal itu, aku melanjutkan perkataanku, "Aku pikir memang aneh. Biasanya, kau tidak pernah memedulikan Ene... Tapi, tiba-tiba saja kau jadi peduli padanya dan mau membantuku..."
Aku melirik ke arah Shintaro. Namun, Shintaro tetap diam dan tidak berkata apa-apa.
Aku menghela nafas, merasa sedikit kesal. "Ya sudah. Aku pergi mengawasi mereka sendiri," ucapku, tanpa sadar terdengar sinis.
"T-Tunggu, Kido!", panggil Shintaro, tetapi aku tidak menanggapinya dan menutup pintu.
Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong celanaku sembari berjalan di tengah-tengah keramaian, mengikuti Konoha dan Ene dari belakang.
'Ada apa sih dengan Shintaro...? Dia aneh...'
A/N : akhirnya chapter 10 selesai juga XD maaf kalau Shintaro terlihat OOC (Out Of Character)... Ada alasannya kok! Dan, walau sudah lama aku tidak mengupdate fanfic ini, aku harap masih ada yang membaca fanfic ini. Tenang saja, mungkin fanfic ini chapternya bakal banyak walau gak tau updatenya kapan. Oh ya, aku membuat cerita ini saat aku sedang mengantuk, jadi maaf jika ada yang aneh atau sebagainya...
Tunggu chapter selanjutnya ya!
