BLACK CODE
.
Written by. Ciellalee
Hingga pagi menjelang, hubungan Baekhyun dan Chanyeol tak kunjung membaik. Tak ada dari keduanya yang memiliki niatan untuk menghubungi satu sama lain meski Chanyeol telah menatap layar ponselnya selama berjam-jam, menimang-nimang untuk menghubungi suaminya itu.
Bukan karena lelaki itu begitu 'peduli' dengan keadaan Baekhyun, hanya saja ia teringat akan janji dengan ibunya untuk makan bersama siang ini. Lelaki itu jelas tak mungkin membatalkan janji yang telah ibunya rancang susah payah.
Teringat di benak Chanyeol akan betapa cerahnya wajah wanita itu ketika membayangkan untuk pertama kalinya bisa makan bersama layaknya seorang menantu dengan mertuanya.
Chanyeol mendesah berat, sebagai pihak yang lebih dewasa ia memilih untuk mengalah dan menyingkirkan ego. Sudah ia putuskan setelah rapat, Baekhyun akan dijemputnya paksa meski itu sama dengan satu butir peluru yang bersarang di kakinya.
.
Sama halnya dengan Chanyeol, Baekhyun sama sekali tidak tertidur malam itu. Pikirannya melayang-layang membuat ia terjaga hingga pagi hari. Sejujurnya lelaki itu masih merasa sangat kesal dengan Chanyeol yang dalam posisi ini adalah pihak yang bersalah. Namun lelaki itu malah sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.
Segala posisi tidur telah ia coba namun nihil. Rasa kantuk sama sekali tidak menjemput. Suara decitan pintu terbuka perlahan. Siluet seorang lelaki berperawakan tinggi tegap masuk ke dalam kamar Baekhyun.
Lelaki mungil itu sontak meraih saklar lampu dekat ranjang lalu meraih kacamatanya. Sinar matahari yang menelisik melalui celah tirai transparannya membuat mata Baekhyun sedikit menyipit.
"Tidak bisa tidur?"−Suara itu menyahut dalam hening.
"Sungguh kau mengagetkanku Kris." Baekhyun mendesah keras. Ia hampir saja mengacungkan moncong revolver ke kepalanya jika saja si albino tak muncul.
"Kau ini terlalu mudah kaget. Kau tahu sifat buruk itu akan membuatmu gampang terhipnotis." Guraunya. Baekhyun hanya menatap datar kemudian berlalu melewati pria itu, berdecih.
Baekhyun meraih mantel tidurnya. Jemarinya sibuk menyisiri rambutnya yang sangat berantakan. Padahal semalam ia tidak tidur namun sepertinya kondisi rambut memang takkan pernah bersahabat dengannya.
Dengan langkah gontai Baekhyun berjalan menuju kamar mandi hendak mencuci muka. Baekhyun terlalu malas menanggapi gurauan Kris yang menurutnya tak berguna. Tak apa jika itu hanyalah satu dua kali. Namun bayangkan saja, ia selalu melontarkan lelucon itu bahkan di saat mood Baekhyun sedang buruk.
Kantung mata terasa begitu menggantung di mata. Baekhyun agaknya merutuki dirinya yang membiarkan ia tak jatuh tertidur padahal seminggu kemarin jadwal tidurnya benar-benar berantakan.
Jika ibunya melihat kantung matanya yang sudah bertumpuk tebal seperti itu, wanita itu akan mengomel tak karuan dan menyuruh Baekhyun untuk melakukan facial sampai mukanya terasa kebas.
Merasa tidak dihiraukan Kris menyusul si adik ke walk in closet sambil merenggut marah. Dirinya bahkan jauh lebih tua daripada Baekhyun, tapi si bocah brengsek itu selalu saja bertindak semaunya tanpa memiliki pikiran harus menghormati yang lebih tua.
Inilah alasannya Kris gemas sekali ingin menyekolahkan Baekhyun ke sekolah etika, setidaknya sikap kurang ajar itu akan sedikit menghilang.
"Hey, dasar bocah tidak sopan. Paling tidak dengarkan kata-kataku dulu." Kris bersuara.
Kegiatan Baekhyun tunda sebentar. Ia lalu memalingkan muka malas, menyenderkan badan pada lemari pakaian memberi gesture agar si tinggi bicara.
"Apa yang ingin kau katakan? Cepatlah aku bisa terlambat."
Kris berdehem, ditatapnya dengan penuh kehati-hatian pada Baekhyun. Yang lebih muda hanya menaikkan satu alis menatap heran.
"Apakah semalam kau bertengkar dengan Armens?"
Baekhyun menghela napas pelan. Ia sudah tahu bahwa pertanyaan itu akan diajukan oleh Kris cepat atau lambat. Lelaki itu pasti telah menahan diri untuk tidak bertanya sejak semalam. Apalagi ketika kedatangan adiknya yang tiba-tiba di tengah malam dengan mata penuh bengkak.
Diselipkannya sebelah tangan ke dalam kantung baju, Baekhyun menjawab ringan, "Tentu saja kami bertengkar. Memangnya apa yang kau harapkan dari hubungan pernikahan ini?" Si lebih muda melontarkan pertanyaan balik.
Kris terkekeh kecil. Jika nada bicara Baekhyun sudah menyebalkan seperti itu tandanya, dia sudah baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan.
"Tidak ada sih, apalagi sifat kalian berdua sangatlah mirip. Aku hanya penasaran saja makanya aku bertanya." Senyum jenaka tercetak di wajahnya−sungguh sifat Kris untuk menjadi menyebalkan. Tangannya terangkat menggaruk kepala belakangnya yang tak terasa gatal.
"Dasar kau menyebalkan! Cepat keluar dari kamarku aku ingin mandi!"
Secepat kilat Kris keluar tak ingin wajahnya biru karena mendapat bogeman mentah dari adiknya.
"Oh iya, tadi ibu mengingatkan agar kau tak lupa datang ke jamuan makan siang bersama Duchess Armens. Katanya Chanyeol akan menjemputmu di kantor pukul sebelas." Teriak Kris sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
Sial. Baekhyun lupa jika ia punya janji dengan Lady Armens hari ini. Rasanya ia ingin membenturkan kepala ke tembok hingga pecah. Sungguh hari yang buruk.
.
Pukul enam dini hari Jongin menjemput Baekhyun. Lelaki itu telah mengenakan setelan jas rapi dengan rambut yang ditata ke atas menampilkan jidat kokohnya. Mansion utama yang nampak telah begitu sibuk bahkan di pagi hari membuat kehadirannya tak begitu disambut. Namun Jongin telah terbiasa dengan itu.
Marquess Baldev menyambut kedatangan keponakannya dengan suka cita. Mereka berdua berbincang-bincang satu dua kata sambil menikmati teh dan kue scone sambil menunggu Baekhyun selesai berbenah.
Ibunya menjadi sangat menyebalkan hari ini. Sudah satu jam Baekhyun duduk dengan pasrah di depan meja rias, membiarkan sang ibu memilihkan pakaian terbaik untuknya dan mempersilahkan penata rias untuk memoles wajahnya hingga seputih porselen.
Wanita itu mengomel sepanjang pagi begitu tahu pilihan jas yang Baekhyun kenakan. Menurut wanita paruh baya itu, style Baekhyun terlalu kekanakan dan tak cocok dipakai untuk menghadiri acara jamuan. Langsung saja diseretnya si mungil, mengingat hari ini ia akan ada janji dengan Duchess Armens makan siang.
Baekhyun merenggut selama ia dirias. Buat apa ia berdandan layaknya wanita jika hanya untuk makan siang? Toh ia tidak akan bertemu dengan ratu atau pejabat atau semacamnya. Dirinya hanya akan bertemu dengan ibu mertuanya.
Setelah kurang lebih satu setengah jam berkutat dengan kepulan debu dari alat rias dan tumpukan pakaian, akhirnya Baekhyun dapat segera berangkat kerja.
Matahari telah terbit di ufuk timur dengan semburat kemerah-merahan menghiasi langit. Baekhyun duduk di sebelah kursi kemudi menemani Jongin yang menyetir dengan penuh konsentrasi. Diturunkannya sedikit kaca jendela lalu Baekhyun hirup segarnya udara dalam-dalam.
"Seberapa bencinya kau pada Chanyeol?" Jongin bertanya memecah lengang.
Baekhyun menoleh, memfokuskan atensi pada Jongin. "Sangat benci hingga tubuhku selalu terasa memanas tiap kali melihat ujung rambutnya."
"Kurasa kau tidak membencinya? Kau hanya iri padanya karena ia adalah anak sulung dan bebas melakukan apa pun."
Kernyitan tercetak di dahu Baekhyun. Lelaki mungil itu menggeleng cepat, matanya melotot tajam menolak mentah-mentah kalimat Jongin barusan. "Kau itu tidak mengerti! Dia.." Baekhyun menghentikan kalimatnya sejenak.
"Dialah sumber semua pesakitan yang kami alami." Geram Baekhyun dalam.
Jongin terdiam, lelaki itu melirik ke samping memperhatikan raut wajah Baekhyun kemudian di buangnya pandangan kembali fokus ke jalanan. Baekhyun mengatakannya dengan kesungguhan. Jongin jelas mengerti pesakitan apa yang Baekhyun maksud.
"Aku akan melenyapkannya." Baekhyun menggeram lagi.
"Meski itu membunuh dengan kedua tanganmu sendiri?" Jongin kembali bertanya−merasa semakin tertarik dengan percakapan.
"Ya. Aku memang telah merencanakan itu sejak lama, Jongin. Tidak ada rasa kematian yang jauh lebih menyenangkan dibanding dengan kau yang membunuh orang itu menggunakan kedua tanganmu sendiri." Jawab Baekhyun tegas.
Sorot mata Baekhyun nampak begitu dingin. Hari itu bukanlah pertama kalinya Jongin melihat tatapan kebencian Baekhyun, namun entah mengapa aura Baekhyun ketika membahas mengenai masalahnya dengan Chanyeol membuat ia jauh lebih menakutkan dibanding biasanya.
Jongin telah menyadari bahwa rasa kebencian itu begitu memupuk di ubun kepala Baekhyun. Dan ia bukanlah pihak yang bisa mencegah terjadinya pertumpahan darah yang kelak terjadi di antara pasangan kekasih tersebut.
"Kau memang tidak punya rasa takut ya, Baekhyun." Jongin menggenggam setirnya dengan lebih erat.
Baekhyun menoleh pada Jongin menatapnya heran. Lelaki mungil itu kemudian mengedikkan bahu, "Rasa takut? Tentu saja itu ada, Jongin. Aku pun seorang manusia, tapi yang berbeda adalah aku tak punya rasa ragu. Kakekku tidak pernah mengajari aku untuk menjadi ragu. Di dalam medan perang tidak ada yang namanya rasa ragu Jongin." Jelas Baekhyun.
Baekhyun tentu mengerti bahwa Jongin tak terlalu memahami yang namanya seperti bunuh membunuh, dunia kotor, kebencian yang mendalam, saling sakit-menyakiti atau pun balas dendam. Jongin adalah pria yang bersih. Jika Baekhyun bergerak di dalam kegelapan maka Jonginlah yang menjadi cahayanya.
Sejak kecil impian Jongin adalah menjadi seorang pengacara. Masih melekat jelas dalam ingatannya bagaimana Jongin muda mendatanginya meminta agar Baekhyun mau menerimanya bekerja sebagai seorang sekretaris−banting setir. Bahkan Jongin muda berkata rela menghabiskan waktunya untuk belajar bela diri dan menembak agar bisa bekerja dengan Baekhyun.
Ketika hari pertamanya bekerja lelaki itu bahkan hampir pingsan karena tak tahan melihat para musuh Baekhyun yang dibantai habis-habisan jatuh bergelimpangan di kakinya ketika mereka hendak dalam perjalanan ke markas utama.
Mayat itu adalah para bawahan keluarga Shu−musuh bebuyutan kakeknya yang kini telah dibantai Baekhyun. Bidang bisnis yang mereka kuasai adalah persenjataan dan kini telah jatuh sepenuhnya ke tangan Baekhyun.
Mereka diam-diam menyelinap masuk ke markas utama tentu saja para tukang pukul Baekhyun tak gentar untuk langsung menghabisi mereka.
Meski tak terasa waktu telah berjalan begitu lama, Baekhyun tetap manyadari bahwa Jongin masihlah belum terbiasa dengan kehidupannya yang dipenuhi oleh kekotoran. Baekhyun memaklumi hal itu, ia bahkan terkadang merasa menyesal mau menerima lelaki yang bersih seperti Jongin ke dalam lingkaran kehidupannya.
Jongin menggigit bibirnya dalam, menimang-nimang haruskah ia menanyakan hal itu pada Baekhyun atau tidak. Namun ia memutuskan untuk tetap menanyakannya pada Baekhyun.
"Apakah.. apakah kau takkan menyesali perbuatanmu pada Chanyeol? Bagaimana pun.. dia.. dia adalah suamimu."
Baekhyun terdiam beberapa saat. "Rasa sakit dibalas rasa sakit, Jongin. Itu adalah hukum dasar yang harus kau pahami. Sudahlah aku ingin tidur kepalaku sakit sekali rasanya." Baekhyun melepas jasnya lalu ia lempar ke wajahnya menutupi mulut hingga matanya.
Jongin menghembuskan napas pelan. Jika sudah begini artinya Baekhyun sudah enggan untuk ditanyai lebih jauh. Tak apa, mungkin lain kali ketika suasana hati lelaki itu telah membaik.
Deru mobil membelah jalanan yang lenggang dan sepi. Hari itu akan menjadi hari yang panjang dan berat untuk keduanya.
.
Pukul setengah tujuh pagi mobil SUV hitam memasuki pekarangan kantor Baekhyun.
Sebenarnya tempat itu bukanlah kantor formal Baekhyun−tempat dimana ia mengelola perusahaan keluarganya. Namun itu adalah kantor dimana Baekhyun mengurus segala bisnis dunia gelapnya.
Mereka tidak menjual barang-barang illegal seperti narkotika atau semacamnya memang, namun di sinilah dimana segala bisnis yang kalian lihat di muka bumi dikuasai. Diam-diam perusahaan yang telah dirintis oleh kakek buyut Baekhyun ini telah merambah hingga ke seluruh bidang. Pertambangan, industri perdagangan, pariwisata dan pemegang utama dari seluruh bisnis raksasa itu adalah Baekhyun pada saat ini.
Bisnis itu memang diwariskan langsung dari kakek Baekhyun kepada dirinya karena sang kakek nampaknya dapat melihat naluri bisnis yang begitu besar dari dalam dirinya sejak usia muda. Bahkan ayahnya tak dapat mengakses bisnis tersebut. Baekhyunlah yang menjadi si pewaris tunggal.
Ia tidak tampil mencolok seperti dalam menjalankan perusahaan formalnya, namun ia bergerak meringsek masuk mengendalikan semua bidang perusahaan. Mengapa dikatakan bisnis gelap? Karena monopoli tidaklah dibenarkan di dunia nyata oleh karena itu keluarga Baldev memerlukan alternatif agar dapat menguasai seluruh bidang.
Permainan kotor, sikut-menyikut atau pun saling membunuh diperbolehkan di dunia ini.
Kantor−atau yang dapat kalian sebut sebagai markas itu, terletak di jantung London tempat paling elit yang dijaga oleh ratusan tentara Inggris−tentu saja mereka aslinya adalah para tukang pukul keluarga Baldev yang menyamar menjadi tentara Inggris untuk mencegah kecurigaan publik.
Jika melihatnya dari atas satelit atau alat pengintai lainnya markas utama itu hanyalah nampak seperti komplek perumahan elit yang berisi para pejabat terkenal. Terdapat satu rumah utama bergaya arsitektur Yunani Kuno, banyak orang menganggap tempat itu adalah rumah duta besar tapi nyatanya tempat tersebut adalah markas utama dimana para bangsawan gelap berkumpul.
Di sekeliling rumah utama terdapat beberapa rumah kecil yang diisi oleh pejabat-pejabat kerajaan. Mereka semua adalah pejabat terkenal yang sering diminta untuk menjadi pengamat atau pembicara di koran-koran atau televisi yang sering kalian lihat. Tapi asal kalian tahu saja, semua pejabat yang sering terlihat di koran harian berbicara hebat mengenai pertumbuhan ekonomi, politik, sejatinya adalah suruhan keluarga Baldev.
Rumah-rumah kecil yang berada di sekeliling rumah utama dijadikan sebagai kantor divisi atau tempat menyetok obat-obatan dan persenjataan. Beberapa diantaranya bahkan digunakan untuk tempat latihan.
Markas ini memang sengaja dibangun terpisah dengan mansion utama keluarga Baldev agar tak menimbulkan kecurigaan dari para bangsawan yang kerap kali keluar masuk mansionnya. Hal itu biasa dilakukan, entah pesta dansa, jamuan, bangsawan memang senang memamerkan apa yang mereka miliki.
Tiga anjing penjaga ditempatkan di gerbang utama yang terletak di pinggir jalan. Tugas utama mereka adalah untuk mendeteksi dini barang-barang yang bisa saja mengandung bahan peledak.
Ketika mobil Baekhyun melintas melewati gerbang utama para penjaga membungkuk Sembilan puluh derajat sepanjang jalan. Mereka bagai robot yang sama sekali tidak bergerak sampai mobil Baekhyun benar-benar telah menghilang dari pandangan mereka.
Jongin menghentikan mobil di basement markas. Seorang pelayan segera mengambil alih mobil itu lalu dibawanya ke garasi. Jongin turun setelah menitipkan kunci mobil pada si pelayan. Di depan pintu telah berjaga empat tukang pukul menyambut kedatangan Baekhyun dan Jongin.
Pukul tujuh tepat.
Di ruang kantor utama Baekhyun, telah berkumpul Suho, Jongdae, Xiumin, Sehun, Irene, Mark, Jaehyun, Taeyong beserta Jongin. Mereka duduk melingkar di meja besar yang berada di tengah ruangan. Di hadapan mereka telah tersaji teh panas beserta kudapan−yang takkan pernah terlupakan.
Mereka akan membahas mengenai kasus penculikan anak yang misterius yang kini semakin marak di kalangan masyarakat dan tindakan yang akan mereka ambil terkait masalah tersebut. Surat dari Ratu kembali datang dua hari lalu dan karena tak adanya kemajuan dari kasus itu nampaknya membuat Ratu semakin gusar. Masyarakat menjadi semakin gelisah karena menganggap penculikan itu terjadi disebabkan adanya kekuatan gaib. Tentu isu yang tidak mengenakan tersebut dapat menjelekkan reputasi Inggris.
Ruangan itu bergaya Victoria lama seperti ciri khas mansion Baldev. Ruangan itu telah digunakan bahkan sejak kakek buyut Baekhyun. Di dalamnya terdapat peninggalan zaman Inggris Kuno. Ada sebuah guci yang diberikan oleh Raja James VI−raja Skotlandia sebagai hadiah kenang-kenangan atas kunjungan sang kakek.
Baekhyun sama sekali tidak melakukan perubahan apapun pada ruangan itu. Mungkin hanya beberapa renovasi untuk mencegah rayap yang menggerogoti kayu dan mengecat ulang agar ruangan itu selalu terlihat awet.
"Selamat datang Marquess Baldev−" Peserta rapat menyambut kedatangan Baekhyun ketika ia memasuki ruangan. Baekhyun hanya membalasnya dengan anggukkan singkat mempersilahkan mereka kembali duduk.
"Apakah kalian memiliki info terbaru?" Tanya Baekhyun tanpa salam pembuka atau basa-basi lainnya.
Sehun menekan salah satu tombol di dekat microphone wirelessnya. Lampu di ruangan perlahan meredup dan layar proyektor menyala. Beberapa rangkap kertas berisi dokumen disodorkan oleh pelayan ke setiap dari mereka.
Sehun mengangguk. "Beberapa informanku memberitahu bahwa anak-anak yang diculik akan dilelang malam ini di sebuah acara pesta dansa yang diadakan oleh Baroness Charles. Nampaknya mereka punya hubungan dengan si pelaku, Baekhyun. Oh iya sebelumnya tolong baca terlebih dahulu kertas laporanku."
"Siapa itu Earl Charles?" Tanya Baekhyun.
Irene mengetuk gadget-nya. Ia kemudian menyerahkan pada Baekhyun. Nampak seorang pria yang mungkin dalam usia 30-an? Tersenyum dalam headline news koran.
"Ia adalah ketua kepolisian Inggris. Baru dua keturunan keluarganya diangkat dan dipercaya untuk memegang jabatan itu." Jelas Irene.
Baekhyun menatap foto itu sambil mengernyit. "Lalu apa hubungannya dengan pelelangan? Kenapa ia harus terlibat dengan mafia besar padahal Ratu mempercayainya?"
Sehun menghela napas sejenak. Semua mata tertuju pada lelaki albino itu meminta jawaban.
"Ini sebabnya aku memintamu untuk membaca laporanku dulu Baekhyun. Lelaki itu punya latar belakang yang tak begitu baik. Ia adalah korban pelecehan seksual di usia sepuluh tahun. Pelakunya adalah kakak sepupunya sendiri yang punya kelainan jiwa. Oleh karena itu ia mengabdikan diri untuk menjadi polisi agar pengalaman buruknya tak terulang meski semua omongannya jelas palsu."
"Apakah kau bisa mendapatkan undangan pesta dansa itu Sehun?" Suho membuka suara.
Sehun menjentikkan jemarinya. Kemudian seorang pelayan dengan nampan perak ditangannya masuk. Pelayan itu meletakkan nampan tersebut di tengah meja. Ia lalu membuka tutup nampan dan terdapat dua amplop dengan cap khusus bangsawan. Itu adalah undangan yang Suho maksud.
Jongdae berdecak kagum. Sehun memang seorang pengintai yang luar biasa, bahkan sebelum seseorang meminta ia akan bergerak terlebih dahulu dan mengumpulkan semua barang penting yang dibutuhkan.
Suho mengernyit. "Undangannya hanya dua sedangkan kita bersembilan? Kau sedang bercanda denganku Sehun? Ia adalah keluarga kepolisian, undangan palsu tentu dapat terdeteksi dengan mudah."
Mark, Jaehyun dan Taeyong mengangguk setuju. Baekhyun hanya diam menunggu tanggapan Sehun. Bocah itu pasti telah menyiapkan sesuatu.
"Asal kalian tahu, Baroness Charles adalah keluarga jauhku. Jadi aku tentu bisa menyeludupkapkan dengan mudah."−Ucap Xiumin.
Semua peserta rapat tersebut membelalakkan mata. Itu jelas berita baru untuk mereka.
"Apakah kau yakin dapat menyeludupkan kita semua? Bagaimana pun kita tetaplah bersembilan. Aku, Jaehyun dan Taeyong bisa saja menggunakan penyamaran karena kami hanyalah bangsawan bawah. Tapi.. kalian semua.. wajah kalian terlalu familiar dan mudah dikenali." Mark mengutarakan pendapatnya.
Tentu ucapannya barusan perlu dipertimbangkan. Menjadi bangsawan ternama sekaligus bangsawan gelap jelas bukanlah kedudukan yang mudah. Kau harus dapat tampil sebagai bangsawan pada umumnya tapi harus menyembunyikan identitas aslimu di saat yang bersamaan.
Sorot mata Xiumin menggelap, menatap tak suka pada Mark. "Kau meragukan kemampuanku, Mark lee?"
Mark menelan ludah kasar. Tangannya mengusap wajah−tentu bukan maksudnya untuk meragukan Xiumin hanya saja ia sebagai yang termuda memiliki kekhawatiran yang berbeda.
Baekhyun menyergah cepat, "Xiumin, kau tahukan? Mark masih muda. Ia bahkan belum mendapat gelar kebangsawanannya, ia pasti punya kekhawatiran tersendiri. Tolong maklumilah."
Xiumin mendengus, Ia lalu membanting punggung ke kursi.
"Apa.. apakah Chanyeol Armens akan menghadiri pesta itu?" Jongin bertanya hati-hati. Sejak tadi ia nampak gelisah di kursinya entah karena apa itu. Tapi setelah ucapannya itu keluar Baekhyun kini mengerti arah pembicaraannya.
Sehun menatap Irene seperti meminta sebuah persetujuan. Gadis itu kemudian hanya mengedikkan bahu−terserah.
Dianggukkan kepalanya. "Ya, kakakku akan menghadiri pesta itu. Ia bahkan terdaftar sebagai salah satu tamu VIP."
Ruangan itu tiba-tiba lengang sejenak. Semua orang di dalam ruangan itu tentu telah menyadari bahwa Chanyeol Armens telah menjadi salah satu tersangka paling kuat saat ini. Meski belum ada bukti kuat untuk membuktikan bahwa ia benar-benar bersalah namun dari semua cirri-ciri yang telah ditemukan, tentu semua hal itu selalu merujuk pada Chanyeol.
"Bajingan itu, sudah kuduga." Suho menggebrak meja.
Beberapa anggota lainnya tertunduk menatap kepalan tangan masing-masing. Baekhyun mengetahui bahwa mereka jelas sangat membenci Armens−terkecuali Sehun pastinya. Dan sangat ingin membalaskan dendam masing-masing kepada suaminya itu.
"Baekhyun jika sudah begini kita siapkan saja sekalian serangan sambutan. Kita memang tak punya banyak waktu untuk menyiapkan diri mengingat pesta dansa itu diadakan malam ini. Tapi jika hanya untuk serangan sambutan. Kami bisa, tolong beri saja perintah!" Taeyong−salah satu tukang pukul terbaik keluarga Baldev berucap semangat.
"Taeyong benar Baekhyun. Kapan lagi kita punya waktu untuk membalaskan dendam kesumat ini? Jika kita melakukannya sekarang. Maka kematian Chanyeol dapat kita tutupi dengan alasan bahwa ialah pelaku penculikan tersebut. Ia memberontak makanya harus kita bunuh." Jongdae ikut menimpali.
Baekhyun duduk di kursinya dengan tenang. Semua peserta rapat diam sambil menatap harap cemas pada Baekhyun.
"Ide itu tentu luar biasa Jondae. Tapi tidak sekarang, kau tidak tahu berapa banyak aliansi mafia yang kakakku miliki. Ia punya lebih dari seribu tukang pukul, jika dilihat dari keadaannya saja kita telah kalah jumlah." Sehun membalas ucapan Jongdae. Anggota lainnya ikut menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Sehun.
"Sebaiknya kita berfokus pada kasus penculikan ini terlebih dahulu kemudian mulai menyusun rencana penyerangan Armens. Kita juga tidak tahu kapan dia akan bergerak, mafia bukanlah tandingan yang main-main." Ucap Baekhyun.
"Baiklah kalau begitu, kalian semua harus sudah sampai di lokasi pukul tujuh malam. Pesta dansa itu akan dimulai pukul Sembilan. Laporkan apa pun yang mencurigakan. Aku akan datang bersama Sehun dengan menggunakan undangan resmi, bagaimana pun Sehunlah yang diundang di acara tersebut."
Para peserta rapat mengangguk.
"Semua kembali ke tempat. Rapat selesai." Baekhyun membubarkan rapat pagi itu.
Semua peserta rapat beranjak berdiri kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan. Beberapa deru mobil meninggalkan markas. Bagaimana pun mereka adalah bangsawan juga. Pasti ada banyak urusan keluarga yang harus dikerjakan.
Ruangan kosong menyisakan Jongin, Baekhyun dan Sehun. Ketika Baekhyun hendak keluar disusul Jongin, Sehun mencekal pergelangan tangan Baekhyun.
"Ada apa Sehun?" Tanya Baekhyun dengan suara lembut. Jongin yang berdiri di sebelahnya mohon izin untuk pamit lebih dulu mengambil mobil. Saat ini pukul sepuluh dan satu jam lagi Chanyeol akan menjemputnya untuk makan siang di kantor.
"Aku.. minta maaf." Ada nada sesal di dalamnya. Armens bungsu itu menunduk dalam sama sekali tidak punya keberanian menatap bola mata Baekhyun.
Baekhyun menghela napas pelan. Direngkuhnya tubuh yang jauh lebih kekar dibanding miliknya itu lalu diusapnya pelan punggung Sehun.
"Aku tidak tahu, jika Armens terdahulu telah menyakiti kalian begitu banyak. Aku.. Aku minta maaf. Aku pasti akan membantu kalian membalaskan –" Belum selesai ucapan Sehun, namun dipotong cepat oleh Baekhyun.
"Sssh.. sudah tak apa Sehun. Aku mengerti. Lagipula kau di sini juga sebagai korban. Membalaskan dendam pada keluarga sendiri meski kau begitu membencinya bukanlah hal yang mudah. Kau akan melibatkan perasaan di dalamnya dan itu dapat membuat langkahmu menjadi goyah. Aku tak memaksamu untuk membantu tapi dengan mengabdikan dirimu padaku telah menjadi bukti bahwa kau bagian dari kami. Tak perlu merasa bersalah." Ucap Baekhyun penuh nada menenangkan.
Kepala Sehun terkulai diantara perpotongan leher Baekhyun. Kedua lengan kekarnya perlahan merembet lalu merengkuh tubuh Baekhyun, menariknya dalam sebuah pelukan yang begitu intim.
"Semuanya akan baik-baik saja."
Ya, semuanya.. akan baik-baik saja.. kan?
.
Tepat seperti dugaannya, pukul sebelas Chanyeol telah menampakkan batang hidungnya di ruang kerja Baekhyun. Lelaki mungil itu telah sampai terlebih dahulu sejam yang lalu. Ia kemudian berbenah merapikan tatanan rambut kemudian menenggelamkan diri bersama dokumen untuk beberapa saat menanti kehadiran Chanyeol.
Wajah lelaki itu nampak masam namun Baekhyun tak terlalu peduli. Lelaki itu mungkin juga merasa kesal seperti Baekhyun karena jam makan siangnya bersama Hyejin harus ditunda karena ibunya meminta agar ia bisa makan siang bersama anak sulung beserta menantunya.
"Ayo cepat, ibuku sudah menunggu." Ucap Chanyeol. Tangannya disodorkan ke depan wajah Baekhyun maka mau tak mau si mungil dengan berat hati harus menerimanya.
Bagaimana pun juga mereka kini berada di depan publik dimana mereka seharusnya menunjukkan kesan romantis dan saling mencintai. Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga pualam. Di sepanjang tangga berjejer guci diletakkan dengan lambang matahari−lambang keluarga Baekhyun menurut garis Dinasti China.
Bunyi kamera yang memotret dengan cepat sungguh memekakkan telinga kala Baekhyun dan Chanyeol telah berada di lantai basement. Para paparazzi berbondong-bondong mengejar pasangan muda itu. Satu dua pertanyaan dilontarkan namun Baekhyun hanya menanggapi dengan senyum seadanya.
Chanyeol dengan sigap membukakan pintu mobil kemudian mempersilahkan Baekhyun masuk ke dalam layaknya puteri. Dengan angkuh Baekhyun masuk ke dalam mobil mewah Chanyeol lalu dilepasnya dengan kasar jas yang ia kenakan.
Tak lama kemudian Chanyeol turut masuk kemudian duduk di kursi kemudi.
"Aku mau tidur dan jangan ganggu aku. Bangunkan ketika sudah sampai." Titah Baekhyun.
Hembusan napas berat menjadi jawaban dari ucapan Baekhyun. Sepanjang sepasang suami-istri itu hanya ditemani oleh keterdiaman dan rasa canggung karena sama sekali belum melupakan insiden yang terjadi malam sebelumnya.
Dalam hati Chanyeol berdoa agar suasana hati Baekhyun menjadi lebih baik setidaknya agar ibunya tidak melihat muka masam dari menantunya tersebut.
.
TBC!
A/N :
Halo! Akhirnya update lagi setelah sekian lama. Maafkan aku karena emang lagi sibuk dan tiba-tiba aku malah sakit -.- akhirnya ketunda banyak, btw maaf gabanyak moment chanbaek di sini. Tapi aku janji chapter depan bakalan lebih banyak! Makasih buat semua review, follow sama fav nya! Aku bacain semua review kalian loh dan aku ngerasa terharu banget :''))) Selamat bulan ramadhan! Semoga puasanya lancar yaaa luv yaaa~
