Kyungsoo menatap aneh Baekhyun yang sedang mengipasi wajahnya dengan buku tulisnya. Keringat bercucuran di sekitar wajahnya, menandakan bahwa pria itu sedang kepanasan. Namun yang membuat Kyungsoo bingung adalah pakaian yang dikenakan Baekhyun. Dia mengenakan jaket berleher tinggi padahal cuaca sedang cukup panas hari ini.
"Kau sedang sakit? Kenapa pakai jaket?" Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Uh..itu..um..," Baekhyun memutar otaknya cepat, "..aku baru beli jaket ini, jadi aku ingin mengenakannya."
Baekhyun merutuki alasan bodohnya. Dia sudah terlalu gugup apalagi sambil ditatap oleh mata belok Kyungsoo. Well, tapi dia tidak mungkin bilang dia mengenakan jaket untuk menutupi 'mahakarya' kekasihnya, bukan? Itu malah terdengar lebih aneh sekaligus memalukan.
Kyungsoo mengernyit. "Tapi kau terlihat kepanasan."
Ya, sebenarnya Baekhyun juga benar-benar tersiksa. Dia ingin melepaskan jaket itu, tapi dia lebih tidak ingin teman-temannya menginterogasinya macam-macam karena bercak-bercak –karena bercaknya banyak– merah di lehernya.
"Tidak apa-apa kok. Aku suka jaket ini." Baekhyun berdalih. Meskipun ragu, Kyungsoo akhirnya mengangguk mengerti.
Tak lama setelah itu, sebuah suara yang menyerukan nama Baekhyun dari kejauhan, membuat kedua pria mungil itu mengalihkan perhatiannya pada si pemilik suara. Itu Kris. Dia berlari mendekati Baekhyun yang melambai ke arahnya.
"Hey, maaf aku terlambat. Tadi ada macet." ucap Kris dengan napas terengah-engah.
"Tidak apa, Hyung. Lagipula, Kyungsoo menemaniku kok." Kris menoleh ke arah pandangan Baekhyun yang sedang menoleh ke arah pria mungil di sebelahnya. "Oh ya, kenalkan, ini Wu Kris –sahabatku. Hyung, ini Do Kyungsoo –teman sekelasku." Baekhyun memperkenalkan mereka.
"Hai, aku Do Kyungsoo." sapa Kyungsoo ramah seraya mengulurkan tangannya.
Kris awalnya terkejut saat melihat wajah Kyungsoo. Itu adalah pria mungil yang dipeluk Chanyeol kemarin –pikirnya. Tapi keterkejutan Kris tidak berlangsung lama. Pria itu kemudian tersenyum dan menyambut uluran tangan Kyungsoo untuk berjabat tangan. "Wu Kris. Senang bertemu denganmu, Kyungsoo-ssi."
Detik itu pula, seringaian Kris muncul di sela-sela senyumannya dengan otaknya yang berputar cepat –merencanakan rencana hebatnya.
.
.
.
###
FINDING PRINCE CHARMING
Part 10 – The Secrets of Yours
by Pupuputri
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Wu Kris, Oh Sehun, Xi Luhan
Genre : Romance, Comedy
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: Oke, untuk beberapa readers yang nanya apa Yifan dan Kris itu orang yang sama, jawabannya adalah ya, tapi saya disini sengaja pake nama Kris karena saya lebih nyaman pake nama itu. Lalu untuk beberapa readers yang menganggap Tao punya hubungan Kris, itu semua NGGAK BENER ya. Saya nggak pernah mention Tao jatuh cinta sama Kris, katakanlah Tao jatuh cinta sama pria lain dan itu bukan Kris atau Yifan. Ceritanya disini Tao dan Kris nggak saling kenal, oke? Nah, konflik mulai muncul di part ini. Judul kali ini adalah 'The Secrets of Yours', itu artinya beberapa rahasia dari beberapa cast bakal keluar. Part kali ini lebih panjang daripada biasanya. So, langsung dibaca aja. Check. This. Out.
###
.
.
.
"Kau tidak merasa gerah?" tanya Kris saat melihat pakaian yang dikenakan Baekhyun. Sekarang mereka sedang makan siang di McD.
"Memang gerah." Kris mengernyit. "Tapi aku harus menutupi ini." Baekhyun menunjukkan kissmark di lehernya, membuat Kris melotot.
"Itu–kalian melakukan seks?"
Pertayaan Kris berhasil menghasilkan semburat merah di kedua pipi Baekhyun. Pria pendek itu jadi teringat kembali akan pergelutannya dengan Chanyeol –dimana mereka melakukannya berkali-kali dan fakta bahwa Chanyeol menginginkannya sama sepertinya. Baekhyun-pun mengangguk pelan menjawab pertanyaan Kris. Hal itu membuat rahang Kris mengeras dengan kedua tangan mengepal kuat –menahan emosi. Hatinya terasa panas, membuat jantungnya memompa lebih cepat. Sepertinya dia harus melancarkan rencananya. Tanpa diketahui Baekhyun, Kris mengembangkan seringaiannya.
"Aku sebenarnya tidak ingin memberitahumu ini, tapi melihatmu sudah terlanjur jatuh cinta padanya, aku tidak bisa untuk tidak memberitahukannya." ucap Kris memulai aksinya.
Baekhyun menautkan alisnya. "Memberitahu apa?"
Kris menghembuskan napas panjang, kemudian menatap Baekhyun lekat. "Aku melihat Chanyeol berpelukan dengan pria lain."
Baekhyun terkekeh karenanya –menganggap ucapan Kris aneh. "Kau mungkin salah lihat."
"Aku tidak mungkin salah lihat, Baek." Kris membantah. "Aku melihatnya berpelukan di depan apotek kemarin dengan Do Kyungsoo."
Baekhyun melotot. "K–Kyungsoo?" Kris mengangguk mantap.
Baekhyun tahu kemarin Chanyeol pergi ke apotek untuk membelikannya salep pereda rasa sakit, lalu Kyungsoo–Baekhyun teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu dimana Chanyeol mengingau dan menyebut nama Kyungsoo. Apakah itu benar-benar Do Kyungsoo –teman sekelasnya? Tapi kenapa mereka berpelukan? Apa hubungan mereka? Terlalu banyak pertanyaan dalam otak Baekhyun yang membuatnya bingung.
"Kau tahu apa hubungan mereka?" Kris membuyarkan lamunan Baekhyun. Baekhyun menggeleng pelan, membuat Kris bersorak gembira dalam hati. "Baek, aku memberitahumu karena aku menyayangimu. Kau mungkin tidak percaya, tapi aku yakin mereka memiliki sesuatu." hasut Kris. Dengan begini, dia sudah mendapatkan langkah pertamanya untuk menghancurkan hubungan BaekYeol.
###
Sehun menatap datar TV-nya yang kini sedang berganti-ganti tayangan. Dia mulai jengkel dengan Jongin –yang duduk di sebelahnya– yang sedari tadi memindah-mindahkan saluran TV.
"Kau sudah memindahkan saluran TV selama 30 menit. Berhentilah di Disney Channel, demi Tuhan!" gerutu Sehun. Tapi Jongin masih tidak bergeming. Tatapannya tetap lurus ke TV dengan tangan yang terus-terusan memindahkan saluran TV.
"Aku tidak mau nonton Disney Channel, terutama denganmu. Kau akan kegirangan dan aku akan muak." tolak Jongin dengan tatapan datarnya.
Jongin tahu benar pria poker-face itu suka sekali dengan Disney Channel, padahal ia tidak punya tanda-tanda kekanakan sama sekali di wajahnya. Jongin teringat saat mereka SMA –dimana mereka satu kamar di asrama, Sehun sering memutar soundtrack Disney dan menyanyikannya keras-keras. Jongin sering sekali mengeluh pada Baekhyun dan sering meminta Jongdae –teman sekamar Baekhyun– untuk bertukar teman sekamar, tapi Jongdae selalu menolaknya. Jadi, Jongin harus bertahan selama tiga tahun bersama Sehun juga dunia Disney-nya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Jongin bergetar –menandakan sebuah pesan masuk. Dia berhenti memindah-mindahkan saluran TV, kemudian mengambil ponsel di sakunya dan membaca pesan itu. Dengan cepat, Sehun mengambil remote dan memindahkannya ke Disney Channel. Jongin sudah tidak peduli lagi dengan Sehun dan dunia Disney-nya. Saat ini, hatinya sedang berbunga-bunga karena pesan yang didapatnya tadi.
"Ha! Kau benar-benar akan menjilat ludahmu sendiri, Oh Sehun. Check. This. Out." Jongin memperlihatkan pesan itu pada Sehun dengan senyuman lebar.
Sehun –tanpa banyak protes– membacanya pesan singkat itu. Itu pesan dari Kim Jongdae –teman mereka saat SMA. Jongin bertemu dengannya beberapa hari yang lalu dan mulai berkencan dengannya. Tapi yang Sehun –dan Baekhyun– tahu, Jongdae itu tidak terlalu suka pada Jongin. Dia bahkan selalu menolak bertukaran kamar dengannya. Jadi, Sehun yakin Jongdae punya maksud lain saat ia memutuskan untuk berkencan dengan Jongin. Tapi Jongin tetap bersikeras mengatakan bahwa Sehun salah.
"'Makan malam besok'." Sehun membaca pesan itu, kemudian beralih menatap Jongin yang sudah sangat besar kepala karena pesan singkat itu. Wajahnya yang semula datar berubah mengembangkan senyuman mengejek. "Itu saja? Itu hanya tiga kata." ledek Sehun.
"Ya, tapi itu berarti banyak."
"Itu berarti dia lapar."
"Lapar akan cinta."
"Atau makanan." Sehun mengejeknya lagi. Matanya kini beralih pada Disney Channel tanpa memedulikan Jongin yang terlihat kesal.
"Kau sangat salah, Oh Sehun."
"Maksudmu dengan 'sangat salah', aku 'sangat benar'?"
Jongin memutar bola matanya bosan. Dia malas berdebat dengan pria maniak Disney berwajah datar itu, jadi ia putuskan untuk membalas pesan Jongdae.
Tak lama setelahnya, pintu kediaman Oh dibuka oleh pria pendek dengan mata berhiaskan eye-liner. Pria itu nampak kesal, membuat Luhan, Sehun, dan Jongin mengernyit.
"Kau baik-baik saja, Baek?" tanya Luhan –yang tadi sedang sibuk mengerjakan tesisnya.
"Tidak." sahutnya sambil duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya di dada. Ketiga sahabatnya itu jadi tambah bingung.
"Kau ada masalah?" tanya Sehun. Baekhyun masih tidak bergeming. "Chanyeol?" tebaknya lagi. Kali ini dengusan Baekhyun yang terdengar.
Well, sepertinya dia berhasil menebaknya.
"Sekarang apa? Kau melihatnya masuk ke motel bersama seorang Ahjussi?" celetuk Jongin dan berhasil mendapatkan death glare dari sang diva.
"Lalu?" tanya Sehun.
Baekhyun terdiam sejenak sambil menatap ketiga sahabatnya, kemudian berbicara, "Katakanlah aku baru bertemu Jongin satu hari. Apakah itu aneh kalau kami berpelukan?"
"Tentu saja." jawab ketiganya.
"Tapi tergantung situasinya, Baek." timpal Luhan.
Baekhyun mengernyit. "Maksudmu?"
"Seperti ada alasan di balik pelukan itu, misalnya dia sedang berusaha menenangkan pria itu karena dia ada masalah atau–"
"Itu bahkan lebih aneh. Chanyeol bukan tipe pria yang suka memeluk orang yang baru ditemuinya." Jongin menginterupsi.
"Memangnya siapa yang Chanyeol peluk?" tanya Sehun.
Baekhyun terdiam. Hatinya seperti diremas mengingat Chanyeol pernah menggumamkan nama Kyungsoo dalam tidurnya.
"Baek," Luhan membuyarkan lamunan Baekhyun, membuat pria berambut hitam itu mendongak, "Jangan berperasangka buruk dulu. Aku yakin Chanyeol punya alasan sendiri." Luhan memberinya nasihat.
"Ya, sebaiknya kau temui dia dan tanyakan alasannya." Sehun menimpali. Jongin ikut mengangguk.
Baekhyun menghembuskan napas panjang. "Baiklah."
###
Akhirnya Baekhyun putuskan untuk menanyai hal ini pada Chanyeol saat mereka dalam perjalanan menuju apartemen Baekhyun. Sudah sepuluh menit berlalu dan belum ada satu kata yang terucap. Baekhyun melirik Chanyeol –entah sudah yang ke-berapa kalinya– yang sedang fokus dengan jalanan. Dia menghembuskan napas terlebih dahulu sebelum akhirnya memanggil kekasihnya, "Yeol?"
"Hm?"
"Aku..ingin menanyakan sesuatu." cicit Baekhyun.
Chanyeol melirik Baekhyun. "Tanya apa?"
"Um..," Baekhyun berpikir sejenak, "..kau ingat saat kau sedang sakit dan aku merawatmu?"
"Ya."
"Kau menggumamkan nama seseorang saat sedang tidur." Baekhyun mulai memperhatikan wajah Chanyeol untuk melihat setiap respon dalam setiap kata yang diucapkannya.
Chanyeol mengernyit. "Nama siapa?"
"Kyungsoo." Baekhyun langsung tembak. Dan air muka Chanyeol berubah drastis saat nama itu disebut, membuat Baekhyun curiga.
"K–Kyungsoo?" Chanyeol terbata, membuat Baekhyun semakin curiga. "Sungguh?"
"Mm-hm. Dan Kris Hyung melihatmu berpelukan di apotek dengan Kyungsoo –teman sekelasku." Intonasi Baekhyun mulai terdengar dingin. "Apakah..," Baekhyun menelan ludahnya kasar, "..Kyungsoo yang kau gumamkan dalam mimpi adalah Do Kyungsoo –teman sekelasku?"
Jantung Baekhyun berpacu cepat menunggu Chanyeol. Dalam hati, dia takut Chanyeol akan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya. Di lain sisi, Chanyeol juga merasakan jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Dia tidak menyangka sama sekali pertanyaan tentang Kyungsoo akan muncul tiba-tiba dari mulut kekasihnya.
Setelah berpikir sejenak, Chanyeol-pun memutuskan untuk parkir sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan kekasihnya. Dia menatap kosong ke depan, kemudian menoleh ke arah Baekhyun yang tengah menggigit bibir bawahnya. Dihembuskannya napas panjang sebelum ia bicara, "Ya. Itu Do Kyungsoo."
Jantung Baekhyun berdetak tiga kali lebih cepat. Perutnya serasa melilit. Mendadak dia merasakan firasat buruk.
"Dia mantan kekasihku. Kami sudah lama tidak bertemu, jadi aku kaget saat tahu dia adalah teman sekelasmu."
Baekhyun merasa napasnya tersenggal karena ucapan Chanyeol. Alisnya sudah bertautan sempurna. "Lalu, kenapa kau tidak pernah cerita?"
"Aku hanya merasa itu tidak perlu karena kupikir masa lalu adalah masa lalu. Itu sudah tidak berarti lagi sekarang." jawab Chanyeol.
Baekhyun tidak sadar bahwa ia sudah mengepalkan kedua tangannya kuat –menahan emosi. "Kalau sudah tidak berarti lagi, kenapa kau menggumamkan namanya dan memeluknya?"
Chanyeol sadar bahwa Baekhyun sedang menahan emosinya. Suaranya bergetar meski dia berusaha mengucapkannya setenang mungkin. Karena itu, Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, membuat pria berambut hitam itu menatapnya. Dia menatap Baekhyun tepat di maniknya. "Waktu itu dia hampir keserempet mobil, jadi aku refleks menarik tangannya dan memeluknya. Lalu soal menggumamkan namanya itu, aku juga tidak sadar. Mungkin karena kami baru bertemu lagi setelah sekian lama berpisah." Baekhyun menggigit bibir bawahnya kuat. Dia merasa matanya begitu perih. "Aku sudah tidak punya hubungan apapun lagi dengannya, Baek. Maaf, seharusnya aku memberitahumu tentang Kyungsoo."
Baekhyun menunduk sambil menggeleng kuat. Dalam hati, dia merasa konyol karena sempat cemburu padahal dia tahu benar sifat Chanyeol. "Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mencurigaimu."
Chanyeol sempat tertegun, kemudian senyuman mengembang di bibirnya. Diapun mengelus pipi Baekhyun lembut, membuat Baekhyun menatapnya. "Kalau begitu, mulai sekarang, mari kita saling jujur satu sama lain. Tidak ada rahasia di antara kita. Bagaimana?"
Baekhyun tersenyum manis, kemudian mengangguk mantap. Chanyeol mengusap puncak kepala Baekhyun, kemudian mengecup dahinya lembut, membuat Baekhyun merasakan geli di perutnya bagaikan puluhan kupu-kupu beterbangan disana. Dia akan mempercayai Chanyeol mulai sekarang.
"Oh ya, besok keluargaku akan pulang ke Korea." ucap Chanyeol sembari kembali mengemudi.
Baekhyun sontak melotot ke arah kekasihnya. "B–besok?"
"Iya dan kau diundang makan malam di rumah kami. Besok aku akan menjemputmu jam delapan, oke?"
Makan malam? Besok? Di kediaman Park? BERSAMA KELUARGANYA?! –teriak Baekhyun dalam hati.
Oh, ya. Baekhyun SANGAT panik.
"K–kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Baekhyun.
"Orangtuaku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, jadi apa boleh buat." sahut Chanyeol. Dia tidak sadar bahwa Baekhyun sudah berkeringat dingin. Ludahnya serasa tercekat di tenggorokannya.
Baekhyun belum siap.
Ya. Dia SANGAT belum siap. /Baek: makasih, thor, udah diperjelas./ Author: *nyengir kuda*/
Baekhyun butuh bantuan darurat. Dia segera mengirim pesan ke Luhan yang berisi seperti ini:
To: Twins Eomma
Temui aku di mall XOXO jam tujuh. URGENT.
###
"Jadi, Do Kyungsoo –teman sekelasmu– itu adalah mantan Park Chanyeol?" tanya Luhan. Dia sedang sibuk memilih-milih jas di rak sebuah butik di mall XOXO.
"Ya. Kau sudah temukan beberapa jas yang cocok?" tanya Baekhyun di rak lain –sibuk memilih kemeja.
Luhan mendekatinya dengan beberapa jas di tangannya. "Uh-huh."
Baekhyun segera menyambarnya. Dia masuk ke dalam ruang ganti beserta beberapa kemeja yang dia pilih, sedangkan Luhan menunggunya di sofa di depan ruang ganti.
"Jadi, akhirnya kau akan bertemu dengan calon mertua ya?" Luhan menggoda Baekhyun. Seringaiannya terpatri jelas di wajah manisnya.
"Yup dan ini membunuhku."
"Kenapa?"
"Bisa kau bayangkan aku bertemu dengan orangtuanya besok malam dan dia memberitahuku tadi sore? Si Dobbi itu memang tidak peka!" Baekhyun terdengar kesal di dalam sana, membuat Luhan terkekeh.
"Tidak usah panik, Baek. Kau bilang Noona-nya Chanyeol menyukaimu dan orangtuanya sangat ingin bertemu denganmu. Aku bisa jamin mereka juga pasti akan menyukaimu." Luhan berusaha menenangkan sahabatnya.
"Ya, kuharap." Baekhyun keluar dari kamar ganti. Dia sudah berganti pakaian dengan kemeja abu-abu dan jas hitam. "Bagaimana?" tanyanya meminta pendapat Luhan.
Luhan berpikir sejenak sambil menatap Baekhyun dari bawah ke atas. "Terlalu tua." Baekhyun cemberut, kemudian kembali masuk ke dalam ruang ganti. "Jadi, apa kau sangat gugup untuk bertemu mereka nanti?"
"Haruskah kau bertanya?" Luhan terkekeh kembali karena jawaban Baekhyun. Dia bisa membayangkan wajah datar Baekhyun saat menjawab pertanyaannya tadi.
"Hyung, bagaimana perasaanmu saat pertama kali bertemu orangtua Sehun?" tanya Baekhyun.
Luhan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu –berpikir. "Rasanya aku ingin mati detik itu juga." Luhan bergurau.
"Hyuuuung!" Baekhyun merengek, membuat Luhan geli.
"Well, cukup gugup. Tapi karena orangtua mereka sangat baik, rasa gugup itu langsung menghilang begitu saja." Kali ini Luhan berkata jujur. "Kau akan baik-baik saja, Baek. Aku janji." Dan Baekhyun hanya bisa menghela napas mendengarnya. Dalam hati, dia berharap makan malam besok akan baik-baik saja.
###
Pintu rumah kediaman Oh dibuka oleh seseorang. Itu Kim Jongin –dengan wajah kusutnya. Luhan dan Sehun –yang sedang menikmati tayangan Hannah Montana the Movie di Disney Channel– melirik ke arah Jongin.
"Hey~ bagaimana makan malammu dengan Jongdae?" tanya Luhan.
Jongin menghempaskan bokongnya di sofa tanpa menjawab pertanyaan Luhan, kemudian menatap datar tayangan di TV dimana Hannah Montana sedang rebutan sepatu dengan wanita berkulit coklat. "Serius, ada apa antara kau dengan Disney?" Jongin menyindir Sehun –sekaligus mengalihkan topik.
Sehun menyeringai. "Sepertinya Jongdae memang hanya lapar saja ya? Kekeke~"
Jongin mendengus kesal –teringat kembali dengan makan malamnya yang kacau.
"Jadi, bagaimana makan malammu dengan Kim Jongdae? Kalian cocok'kan? Kalian'kan Duo Kim Jong." Luhan kembali bertanya. Dia nampak sangat penasaran.
Jongin menghembuskan napas kasar. "Tidak ada yang begituan, Hyung. Tidak ada kata 'cocok' di antara kami. Dia ternyata hanya ingin meminjam uangku saja." ujarnya seraya berdecak kesal.
Jawaban Jongin tentu saja membuat pasangan HunHan memekik dengan cara yang berbeda. Sehun memekik kegirangan, sedangkan Luhan memekik tidak percaya. Jongin menatap mereka bingung.
"Sudah kuduga akan begini jadinya." ujar Sehun, kemudian melirik Luhan dengan seringaian setannya. "That's right, baby. Cepat bayar~" Sehun mengulurkan tangannya, membuat Luhan mendengus kesal.
Jongin jaw-drop. "Kalian bertaruh? Bahkan di saat kalian memiliki akun bank bersama?"
"Setidaknya 30.000 won ini tetap masuk ke dompetku." Sehun nyengir kuda seraya mengibas-ngibaskan uang dari Luhan di udara. Jongin hanya bisa geleng-geleng kepala karenanya.
###
Baekhyun nampak begitu gugup. Kedua tangannya tidak bisa tenang semenjak Chanyeol menjemputnya di apartemennya. Bahkan sekarang dia menggigiti kukunya saking gugupnya. Pikirannya kalang kabut memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi nanti. Chanyeol yang sedari tadi memperhatikannya jadi geli sendiri.
"Tenanglah, Baek. Orangtuaku tidak akan menggigitmu."
Chanyeol sama sekali tidak mengerti. Ini bukan masalah orangtuanya akan menggigit atau tidak, tapi Baekhyun khawatir dia mungkin akan melakukan kesalahan di depan orangtua Chanyeol sehingga orangtuanya tidak akan menyukainya.
"Mudah bagimu mengatakannya." gumam Baekhyun, tapi Chanyeol hanya tersenyum menanggapinya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Baek. Aku janji." ucap Chanyeol seraya menggenggam tangan Baekhyun. Meskipun Baekhyun masih merasa gugup, tapi setidaknya dia akan menemui orangtua Chanyeol dengan kekasihnya.
Ya, semua akan baik-baik saja –batin Baekhyun.
Perjalanan dari apartemen Baekhyun ke kediaman Park memakan waktu sekitar 40 menit. Tidak terasa mereka sudah berada disana. Setelah Chanyeol memarkirkan mobilnya, mereka berdua segera keluar dari mobil. Kediaman Park sungguh besar –mungkin dua kali lebih besar daripada rumah Baekhyun.
Sial.
Baekhyun semakin gugup dibuatnya.
Apakah orangtua Chanyeol seramah Noona-nya? Apa mereka akan menyukainya? Apa pakaian ini membuatnya terlihat gemuk? Oke, pikiran Baekhyun mulai ngelantur.
"Kau baik-baik saja?" Suara bass itu mengalihkan perhatian Baekhyun. Pria mungil itu menggigit bibir bawahnya –terlihat sangat gugup. "Aku akan selalu berada di sampingmu. Jangan khawatir." ucap Chanyeol seraya mengelus pipi putih Baekhyun. "Kita masuk?" tanyanya –memastikan kesiapan Baekhyun.
"Tunggu." Baekhyun menarik lengan Chanyeol, membuat si pria tinggi mengerutkan dahinya. "Apa pakaian ini membuatku terlihat gemuk?" Chanyeol sempat terkejut dengan pertanyaan Baekhyun, tapi terkekeh pada akhirnya, membuat Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Aku serius, Yeol. Aku harus memastikan penampilanku dulu."
Chanyeol menghentikan tawanya sambil menghapus airmatanya yang sempat keluar. "Astaga, Baek. Bukankah aku sudah bilang bahwa penampilanmu malam ini begitu hebat? Kau terlihat tampan sekaligus manis dengan pakaian itu. Hey, apa itu baru?" tanya Chanyeol, membuat pipi Baekhyun merona. Baekhyun mengangguk pelan.
Well, Chanyeol memang benar. Baekhyun nampak begitu tampan sekaligus manis dengan kemeja berwarna nude tan dipadukan dengan vest berwarna hitam dan dibalutkan jas berwarna hitam dengan aksen invisible stripe. Semuanya baru. Sedangkan rambut hitamnya ditata rapi, namun tetap terlihat modis. Baekhyun terlihat tampan dan manis di saat yang bersamaan.
"Baiklah. Kau siap?" tanya Chanyeol seraya mengulurkan tangannya. Baekhyun tersenyum manis, kemudian meraih uluran tangan Chanyeol dan menautkan jari-jarinya di jari-jari Chanyeol yang lebih besar. Merekapun memasuki kediaman Park.
Sekali lagi, Baekhyun terkesima dengan rumah megah itu. Chanyeol belum pernah mengajaknya kemari karena memang jarang sekali dihuni –karena keluarga Chanyeol tinggal di Amerika. Chanyeol hanya pernah bilang dia punya rumah di Seoul, tapi jaraknya cukup jauh dari kampus Chanyeol, karena itu dia menyewa apartemen. Chanyeol menghentikan langkahnya saat mereka sudah sampai di ruang makan –dimana disana sudah ada orangtua Chanyeol dan Noona-nya. Baekhyun semakin mengeratkan genggaman tangannya –menahan gugup.
"Kalian sudah datang?" tanya Nyonya Park dengan senyuman manisnya. "Duduklah. Kami sudah menunggu kalian."
Mereka berduapun berjalan menuju meja makan dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Baekhyun duduk di depan Nyonya Park dan Chanyeol duduk di samping Baekhyun. Ketiga anggota keluarga Chanyeol terus menatapnya, membuat si pria mungil tambah gugup.
"Kau pasti Baekhyun ya?" tanya Nyonya Park.
"N–ne. Hallo, namaku Byun Baekhyun." Baekhyun menundukkan kepalanya sedikit untuk menyapa keluarga Chanyeol. Jantungnya sudah berdetak tiga kali lebih keras dari biasanya.
"Omo~ dia manis sekali!" pekik Nyonya Park seraya menangkup kedua pipinya dengan tangannya.
"Menurut Abeoji bagaimana? Baekhyun manis'kan?" tanya Yoora.
Tuan Park mengangguk membenarkan. Senyuman hangat penuh wibawa itu tidak pernah lepas dari wajahnya. "Chanyeol sepertinya tidak salah pilih."
Pipi Baekhyun merona karena pujian dari keluarga Chanyeol. Dia hanya bisa tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya. "Terima kasih."
"Kalau begitu, ayo kita mulai makan malamnya. Aku sudah memasak ini semua demi Baekkie lho!" seru Nyonya Park sambil menyendokkan beberapa hidangan di piring Baekhyun.
"Aku juga membantu. Makan yang banyak ya, Baek!" timpal Yoora. Baekhyun hanya mengangguk menyahut keduanya. Setidaknya suasana disini sudah tidak menegangkan lagi. Baekhyun bahkan sudah bisa tersenyum bebas, membuat Chanyeol menghembuskan napasnya lega.
"Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Tuan Park membuka percakapan.
"Um..sudah sebulan lebih, Tuan Park." sahut Baekhyun.
"Eyy~ apa itu? Panggil saja dia Abeonim. Lagipula, kau akan jadi bagian dari keluarga Park nanti." Ucapan Yoora sontak membuat BaekYeol tersipu, terutama Baekhyun. Wajahnya benar-benar matang.
"N–Noona!" Chanyeol menyela.
"Kenapa?" protes Yoora. "Benar'kan, Abeoji?" Yoora meminta bantuan Tuan Park dan dibalas anggukan oleh pria paruh baya itu.
"Benar, Baekkie. Panggil saja kami Eomonim dan Abeonim. Kau tidak perlu canggung pada kami. Anggap saja kami keluargamu." Nyonya Park bersuara. "Karena sebentar lagi kalian akan menikah."
"Uhhuk! Uhukk!" Chanyeol tersedak air minumnya. Wajahnya semakin merah. "Eo–Eomma!"
Lalu Baekhyun? Telinganya bahkan sudah sangat merah.
"Sudah, sudah. Jangan menggoda pasangan muda ini. Lihat saja wajah mereka sudah seperti kepiting rebus. Lebih baik kita makan malam dulu. Tanggal pernikahan bisa menyusul." Tuan Park menengahi, tapi tidak membantu sama sekali.
"Uhhuk! Uhukk!" Kali ini Baekhyun yang tersedak. Sedangkan orangtua Chanyeol dan Noona-nya hanya tertawa karena respon berlebihan BaekYeol –padahal guyonan mereka jauh lebih berlebihan -,-
Astaga, Baekhyun tidak menyangka keluarga Park suka sekali bergurau –atau menggoda mereka.
"M–maafkan aku." Baekhyun merasa malu karena acara tersedaknya.
"Aigoo~ kau tidak perlu malu begitu, Baekkie. Justru kami senang akhirnya Chanyeol mendapatkan kekasih yang pantas."
Baekhyun hanya membalasnya dengan senyuman simpul. Entah kenapa, Baekhyun merasakan atmosfer aneh setelah Nyonya Park mengucapkan kalimat itu. Sekelebat bayangan Kyungsoo muncul dalam benaknya. Dia jadi penasaran kenapa Chanyeol putus dengannya? Padahal Kyungsoo yang dikenalnya begitu manis, rajin, baik hati, juga pintar memasak. Dia hampir tidak bisa menemukan kekurangan dalam diri Do Kyungsoo. Apa mungkin putusnya hubungan mereka ada hubungannya dengan keluarga Chanyeol?
"Kau tahu? Saat masih kecil, Chanyeol sudah memimpikan calon pengantinnya. Hati-hati, Baekkie-ya. Dia itu seperti maniak." Yoora membuyarkan lamunan Baekhyun. Mendadak dia tertarik dengan pembicaraan Chanyeol saat masih kecil.
"Benarkah? Ahahaha~"
"Noona, kau mengataiku maniak di depan kekasihku, kau sadar itu?" ujar Chanyeol sambil melayangkan death glare pada Yoora.
"Oh, tentu aku sangat sadar, Yeollie~" balas Yoora seraya menyeringai.
"Bagaimana Chanyeol saat masih kecil?" tanya Baekhyun.
"Oh, dia anak yang manis. Dia tidak pernah benar-benar berpacaran. Itu karena dia bilang jika suatu saat dia memiliki kekasih, dia ingin melanjutkannya sampai ke jenjang pernikahan. Itu adalah impiannya sejak kecil. Bukankah itu sangat manis, Baekkie-ya?" Nyonya Park berhasil membuat Chanyeol malu setengah mati.
Dia menatap kekasihnya dengan tatapan takjub sekaligus mengejek. "Wow."
Satu kata, tapi itu berarti banyak bagi Chanyeol. Dia tahu Baekhyun tengah mengejeknya meski tidak diperlihatkan secara terang-terangan.
"Tapi aku senang Chanyeol menempatkan pilihannya pada Baekhyun. Kau harus menjaganya, Chanyeol-ah. Baekhyun itu sangat manis, pasti banyak yang mengincarnya." ucap Tuan Park dan diiringi anggukan dari Yoora dan Nyonya Park.
"Tidak diberi tahu juga aku akan melakukannya." ujar Chanyeol dengan senyuman paling manis.
Dan kalimat itu berhasil membuat jantung Baekhyun hampir melompat dari tempatnya. Wajahnya panas sekali dan dia tidak bisa menyembunyikannya dengan baik. Dia benar-benar senang sampai ingin sekali dia tersenyum lebar, tapi dia berusaha untuk tersenyum senormal mungkin. Kenapa Chanyeol pintar sekali membuat Baekhyun terlihat seperti orang gila –jantung berdebar abnormal, pipi yang keseringan bersemu, dan tersenyum tidak jelas– akhir-akhir ini? Dan yang lebih bodohnya lagi, Baekhyun menyukainya –cara Chanyeol membuatnya terlihat seperti orang gila. Kelima orang itupun menikmati makan malam mereka sambil berbincang-bincang.
###
"Salah paham?" tanya Kris setelah Baekhyun menceritakan tentang Kyungsoo dan Chanyeol. "Begitu ya? Syukurlah." Kris berusaha tersenyum, meski dalam hatinya Kris mengumpat karena rencananya untuk membuat hubungan BaekYeol renggang berakhir dengan kegagalan.
"Iya. Untung saja aku tanyakan dulu pada Chanyeol. Kalau tidak, kesalahpahaman ini pasti akan berlanjut." ujar Baekhyun seraya menyesap kopinya. "Dan kemarin malam, aku bertemu dengan keluarga Chanyeol. Mereka mengundangku makan malam."
"Makan malam?"
"Iya. Mereka sangat baik padaku. Awalnya aku takut bertemu mereka, tapi Chanyeol selalu menggenggam tanganku dan terus menenangkanku." ucap Baekhyun seraya tersenyum manis.
Mendadak perasaan Kris jadi tidak enak. Dia tahu benar tatapan itu. Tatapan Baekhyun saat sedang jatuh cinta. Pria mungil itu benar-benar jatuh cinta pada Chanyeol. Hal itu berhasil membuat rahang Kris mengeras dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Padahal dia sudah sedekat ini untuk mendapatkan hati Baekhyun, tapi pria bertelinga lebar itu malah–ah, Kris bahkan tidak tahu harus berkata apa.
Kalau begitu, kau tidak memberiku pilihan lain –batin Kris.
"Hey, besok malam akan diadakan pertunjukan kembang api di hotelku untuk merayakan satu tahun pembukaan hotel. Kau mau nonton?"
Mendengar kata 'kembang api', membuat mata pria pendek itu berbinar-binar.
"Bolehkah?"
Kris tersenyum. "Tentu saja. Kita nonton bersama, oke?" Baekhyun mengangguk semangat menanggapinya. Dia sudah bisa membayangkan kembang api yang indah menghiasi besok malam. Namun tanpa disadarinya, Kris sudah menyeringai. Dia tidak akan membiarkan Baekhyun lari dari genggamannya lagi. Kali ini, dia tidak akan mundur.
Tak lama setelah itu, Luhan datang menghampiri mereka yang sedang menikmati makan siangnya. "Hey, maaf aku terlambat. Aku harus memberikan tugas ke Prof. Han dulu." ujar Luhan seraya menetralkan napasnya yang terengah-engah.
"Tidak apa, Hyung. Oh ya, besok malam ada pertunjukan kembang api di hotel Kris Hyung. Kau mau ikut?" tanya Baekhyun dengan semangat membara.
"Pertunjukan kembang api?" tanya Luhan seraya menatap Kris yang duduk di sebelah Baekhyun. Meskipun Kris tidak mengatakan apapun, tapi Luhan sadar bahwa Kris hanya ingin mengajak Baekhyun. Jadi, dia harus sadar diri. Dialihkannya kembali perhatiannya pada Baekhyun, kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum. "Maaf, aku tidak bisa. Aku harus merevisi tesisku."
"Begitukah?" Baekhyun nampak kecewa. "Jongin juga bilang tidak bisa karena harus mengerjakan deadline tugasnya. Sehun bagaimana?"
"Dia sedang berada di luar kota bersama Abeoji-nya dan lusa baru pulang." sahut Luhan. Baekhyun cemberut karena jawaban Luhan. "Tidak apa'kan? Kau masih bisa menonton bersama Kris." hibur Luhan. Terpaksa, pria pendek itu menganggukkan kepalanya.
Luhan menatap Kris yang tengah tersenyum penuh arti. Meski dia sudah menolak ajakan Baekhyun, tapi tak bisa disangkalnya dia agak khawatir pada pria yang lebih pendek darinya itu. Dia tahu Kris sedang berusaha memisahkan Baekhyun dengan Chanyeol dan dia tahu Kris tidak akan berhenti. Itu karena semenjak dulu, dia selalu mengalah karena Baekhyun selalu menyukai pria lain. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi lagi. Dia tahu benar sifat Kris dan dia mulai khawatir.
"Oke, aku harus kembali ke kantor. Tidak apa'kan kutinggal?" Baekhyun dan Luhan mengangguk mengerti. Kris-pun segera meraih kunci mobil dan ponselnya, kemudian beranjak dari duduknya. "Aku hubungi lagi kau nanti malam." ucapnya pada Baekhyun dan dibalas dengan anggukan si pria berambut hitam.
Sepeninggalnya Kris dari restoran itu, Luhan menatap Baekhyun lekat. "Baek?" panggilnya. Baekhyun menoleh pada Luhan tanpa menyahut panggilannya. "Aku tahu ini terdengar aneh, tapi tolong jangan terlalu dekat dengan Kris."
Baekhyun mengernyit. "Kenapa?"
"Aku hanya punya firasat buruk tentang besok malam." Luhan masih berusaha menutupi niat Kris sebagai teman.
"Firasat buruk apa? Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal aneh? Kris Hyung itu sahabatku, Hyung. Kau juga tahu itu'kan?" Baekhyun terdengar tidak suka.
"Aku tahu. Karena itu, aku juga memperingatkanmu sebagai sahabat. Aku sangat mengenal Kris, Baek."
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak menger–" Ucapan Baekhyun terhenti karena ponselnya bergetar. "Aku harus pergi. Kelas Prof. Jung dimajukan." ujarnya seraya mengambil tas-nya.
"Baek?" Baekhyun menatap Luhan yang memanggilnya lagi. "Ingatlah kata-kataku. Aku juga sahabatmu, percayalah padaku."
Baekhyun terdiam. Dia hanya menatap Luhan dengan alis bertautan –tidak mengerti dengan kata-kata Luhan, kemudian beranjak pergi dari sana.
###
Kris memarkirkan mobilnya di basement hotel miliknya setelah menjemput Baekhyun. Hari ini, mereka akan menonton pertunjukan kembang api disana. Pria mungil itu nampak bersemangat semenjak mereka di perjalanan.
"Jam berapa pertunjukannya dimulai?" tanya Baekhyun.
"15 menit lagi. Kau mau berkeliling dulu?" tawar Kris dan dijawab dengan anggukan mantap dari pria yang lebih pendek.
Sekitar sepuluh menit kemudian, seorang pria dengan tinggi di atas rata-rata memakirkan mobilnya di basement hotel milik Kris. Itu Chanyeol. Dia tidak tahu pasti apa tujuannya kemari, tapi Kris bilang dia ingin menunjukkan sesuatu padanya. Dia pikir, Kris pasti ingin menunjukkan sesuatu yang penting. Kalau tidak, mana mungkin pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu mau repot-repot datang ke apartemennya dan memintanya untuk datang malam ini? Jadi, disinilah Chanyeol berada. Pria bertelinga lebar itupun melangkah menuju lift. Kris memintanya untuk datang ke ruangan pribadinya di lantai paling atas hotel ini.
Sementara itu, Baekhyun dan Kris sedang berada di ruangan pribadi Kris saat ini. Mereka sedang berbincang-bincang sambil menunggu pertunjukan kembang api dimulai. Kris bilang ruangan pribadinya adalah spot paling bagus untuk melihat pertunjukan kembang api karena ruangannya berada di lantai paling atas di hotel ini dan dilapisi oleh kaca besar sehingga mereka bisa melihat kembang api dengan jelas.
"Kapan pertunjukannya dimulai, Hyung?" Baekhyun bertanya untuk yang ke-sekian kalinya dalam lima menit terakhir. Kris hanya tersenyum menanggapinya, kemudian mengusap puncak kepala si pria pendek.
"Sebentar lagi. Kau tidak sabaran sekali sih?"
"Tentu saja! Aku sudah menantikannya, ah~ cepatlah!" gerutu Baekhyun. Dia benar-benar sudah bosan menunggu. Sementara itu, Kris merasa ponselnya bergetar –menandakan sebuah pesan masuk. Segera dibukanya pesan itu. Itu dari bawahannya yang mengatakan bahwa Park Chanyeol tengah berada di dalam lift sekarang. Seringaian terpatri di bibir Kris. Disimpannya kembali ponsel itu di sakunya, kemudian berbalik menuju Baekhyun yang sedang menatap keluar kaca ruangannya.
"Baek?" panggil Kris, membuat Baekhyun menoleh. "Kau tahu kita sudah bersahabat selama bertahun-tahun'kan?" Baekhyun mengangguk menjawabnya. "Selama ini, ada banyak hal yang terjadi di antara kita. Senang maupun sedih, kita jalani bersama. Dan aku sangat bahagia bisa berada di dekatmu."
Pria tinggi itu menangkup kedua pipi si pria pendek, membuat si pria pendek tambah bingung dengan sikapnya. Manik coklat Kris menatap dalam manik coklat Baekhyun. Menatap orang yang disukainya dari jarak sedekat ini berhasil membuat jantungnya berpacu keras. Dia sudah tidak bisa menahan lagi perasaan yang meletup-letup itu. Setiap kali ia melihat Baekhyun, semakin besar pula rasa itu tumbuh. Kris benar-benar mencintainya.
"Hyung, ada apa?" tanya Baekhyun –tidak bisa membendung rasa penasarannya. Tidak biasanya Kris seperti ini –bicara dengan nada dan mimik serius. Itu membuat Baekhyun bingung.
"Aku..," Kris memberi jeda, kemudian menarik napas, "..mencintaimu."
Satu kata itu berhasil membuat mata Baekhyun membulat sempurna. Belum sempat Baekhyun bangun dari keterkejutannya, Kris sudah menempelkan bibirnya di bibir Baekhyun, membuat pria pendek itu semakin syok. Sementara di luar sana pertunjukan kembang api sudah dimulai –memperlihatkan cahaya-cahaya indah di langit malam, sekujur tubuh Baekhyun seolah sulit digerakkan. Dia terlalu terkejut dengan semua ini.
CKLEK.
Seseorang membuka pintu ruangan Kris tanpa diketahui dua orang yang tengah berciuman itu. Dari ambang pintu, terlihat seorang pria bertelinga peri berdiri disana. Dia hendak memanggil Kris, tapi suaranya tertahan karena pemandangan di hadapannya –Kris sedang berciuman dengan seorang pria. Mata bulatnya semakin membulat saat menyadari pria mungil yang dicium Kris adalah Baekhyun. Dia yakin itu Baekhyun. Meskipun jarak mereka terpisah empat meter dari tempatnya berdiri, dia tahu itu Baekhyun.
"B–Baekhyun?"
TBC
Gimana, guuuuuuys? Penasaran? Review yang banyak dan saya akan update kilat *ketawa setan*
Oh ya, spoiler dikit, ff ini selesai di chap 12.
Thanks banget buat yang udah review sebelumnya. So sorry saya gak bisa bales satu-satu, TAPI saya tetep baca semua review kalian. So thank you so much for your support and your reviews, I really appreciate them. LOVE YOU ALL *hug tightly*
SUPER THANKS TO:
48BemyLight, babyboybyun, baeqtpie, Sniaanggrn, Byun Byun, baekhyunee.bc, DevilCute, KyusungChanbaek, DinAlya, Diaanastari, rika.maulina.94, VampireDPS (saya pengalaman baca nc :P), hunniehan, muchaaannn (sama aja yifan sama kris tuh, tapi dia gak ada hubungan sama tao), AnaknyaChanbaek92, reiasia95, GuestGuestGuest, 19 SweetyChanbaek 92, hunhankid, CanyulCintaBekyunYadongtralala (sebenarnya cuma ff 'confession' aja, 'kan si yeol kuat aha-aha tuh karena pengaruh obat perangsang dari jongin, kalo di ff damn you're sexy chanyeol karakternya emang binal beneran di ranjang #plakk!), KT CB, missfirelight, aquariusbaby06, neli amelia, exoblackpepper, narsih556, xiubaekhan, edifa, cooly224, farfaridah16, Re.Tao, YOONA, Parkbaekyoda, elfirda365, Guest, Jung Hyejin, baebychanniee, MissJIA, nia.aries, lustkai, Uchiha Tachi4Sora, ThatXX, bellasung21, dewi.min, nur991fah, jannah, BCbaek
