Beware of typos!

.

.

.

#9. Epilogue : Tsim Sha Tsui

5 tahun kemudian...

Pagi hari itu di bandara Incheon. Penerbangan pertama menuju Hongkong akan segera berangkat. Chanyeol menyeret koper hitam miliknya memasuki gerbang keberangkatan. Koper hitam yang terasa berat karena disesaki sekian kenangan tentang Baekhyun. Setelah melewati segala macam prosedur dan administrasi Chanyeol menaiki pesawat, mencari nomor kursinya dan kemudian menghempaskan tubuhnya dengan nyaman.

Lima menit kemudian pesawat itu pun akhirnya terbang meninggalkan landasan. Meninggalkan Seoul dan menuju Hongkong. Chanyeol memandang keluar jendela. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mengobati lukanya. Meninggalkan Baekhyun di sini, di Seoul, tidak berarti Chanyeol lupa. Ia tidak mungkin melupakan Baekhyun begitu saja, seperti membuang sampah. Tidak, Chanyeol hanya lelah. Bertahun-tahun ia mengejar Baekhyun dengan sayap-sayap patah, menuju tempat-tempat dimana pemuda manis itu berada, hanya untuk menemukannya bersama Sehun. Tertawa bahagia.

Baekhyun akan baik-baik saja tanpa dirinya, sementara Chanyeol tidak tahu apakah ia masih sanggup terbang menggapai Baekhyun? Atau haruskah ia melepaskannya?

*ChanBaek*

Di detik yang merapuh ini, Chanyeol sendirian, menyusuri Tsim Sha Tsui sambil menyanyikan I'm Walking on Shunshine yang selalu bisa membuat suasana hati berubah ceria. Di sini ia kesepian. Tanpa Baekhyun. Selama 5 tahun ini, Chanyeol lebih memilih untuk sendiri, untuk hidup hanya dari kenangan-kenangan akan Baekhyun. Ia memilih untuk hidup di masa lalu, bersama Baekhyun. Ia mencoba menghentikan waktu di tempatnya, sehingga selamanya hanya akan ada dirinya dan Baekhyun.

Terkadang Chanyeol terbang menuju tempat-tempat dimana Baekhyun berada, hanya untuk melihatnya dari kejauhan. Mengikuti apa yang terjadi dalam kehidupan Baekhyun, seolah-olah ia masih menjadi bagian di dalamnya. Chanyeol kerap menuliskan email-email untuk Baekhyun, yang tak pernah ia kirimkan, hanya agar ia merasa bahwa Baekhyun masih ada untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Tetapi waktu terus berjalan. Baekhyun dan Sehun terus bersama-sama, melewati sekian tahun, memiliki satu sama lain. Memiliki masa depan.

Sementara Chanyeol, yang ia miliki hanya masa lalu yang sendirian. Chanyeol tidak melupakan Baekhyun. Belum, meskipun ia ingin. Karena alangkah lebih baiknya jika seperti itu. Ia tidak perlu mengingat betapa mereka memutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda sama sekali. Sendiri-sendiri. Meninggalkan apa yang pernah mereka miliki tanpa pernah memutuskan apakah mereka akan kembali, atau apakah mereka akan kembali bertemu lagi suatu saat nanti.

Chanyeol sadar, waktu mereka telah habis. Baekhyun telah memilih meninggalkannya, dan bersama Sehun. Diam-diam, Chanyeol masih setengah berharap bahwa hari itu bukanlah hari terakhir mereka. Bahwa Baekhyun akan kembali. Bahwa mereka tidak sungguh-sungguh berpisah. Mungkin Baekhyun akan mengirimkannya pesan beberapa bulan kemudian. Pemuda manis itu akan muncul di hadapannya dengan segelas hot caramel macchiato ukuran gande. Kemudian mereka akan menghabiskan malam bersama, seperti selalu.

Tetapi Baekhyun tidak kembali. Chanyeol tidak pernah mendengar kabarnya lagi, kecuali kicauan twitter-nya yang sekali-sekali itu. Dan menunggu setiap kicauannya itu rasanya lama sekali. Kicau yang tidak pernah cukup mengkompensasikan ketidakhadiran Baekhyun di sini. Bersamanya.

*ChanBaek*

Date : October 4, 20xx

To : byunbaekhyun

Subject : tentang maaf

Bisakah kita, setidaknya, kembali menjadi teman? Karena bukankah kita semua, layak mendapatkan kesempatan kedua?

Dan seperti biasanya, Chanyeol menekan tombol "save as draft".

~Fin~