Siapin hati lo readers, gue gak nanggung jawab kalo lo pada bakal nangis baca chap ini. Dan demi lo semua hari ini gue update 2 chap sekaligus.. Check this out~


-13th Day-

Minseok mungkin bermimpi, tangannya berusaha merayap kesamping mencari belahan hatinya yang bercinta dengannya semalam, tak ada yang bisa di raih. Ia menggapai menjangkau lebih luas lagi, tapi kosong. Tangannya menggenggam seprai putih erat-erat seiring dengan matanya yang terbuka tak rela. Ia tidak mau terbangun tanpa Luhan di sisinya, tapi Minseok benar-benar mendapati ruangan kosong begitu saja.

Hanya ada satu manusia, dirinya. Jadi dirinya benar-benar bermimpi? Tidak. Minseok masih bisa merasakan nyeri di daerah sensitifnya, ada sesuatu yang mengganjal dan masih memenuhinya. Tubuhnya juga hanya terbungkus selimut dan handuk yang di pakainya semalam masih bersanding di bawah kakinya bersama Shea Butter krim milikknya.

Lalu kemana Luhan? Luhan meninggalkannya? Bagaimana mungkin Luhan bisa setega itu meninggalkannya sendiri sedangkan Luhan baru saja menikmati kesuciannya. Bagaimana bisa Luhan membiarkan Minseok terbangun sendiri dengan perasaan bingung seperti sekarang ini? Luhan merindukannya, itu yang selalu di katakannya semalam dan beginikah rindu itu? Luhan meninggalkannya setelah hasratnya terpenuhi, Apakah karena Minseok yang memintanya? Minseok menangis dan ia masih berusaha untuk tidak bersuara.

Pintu kamar mandi berderit dan Minseok menoleh. Ia melihat Luhan termangu tanpa bergerak dan memandangi Minseok dengan wajah bingung. Minseok segera menghapus air matanya dan tersenyum. Apa yang bisa Luhan lakukan selain mendekat? Ia segera naik ke atas tempat tidur dan memeluk Minseok erat-erat. Tangis Minseok tumpah lagi.

Apanya yang salah? Bisik Luhan dalam hati. "Kenapa?"

"Aku hanya sedih karena terbangun tanpa Luhan disini, ku fikir aku bermimpi."

"Luhan hanya kekamar mandi sebentar. Sudahlah, kalau kau fikir aku meninggalkanmu, itu tidak akan pernah!" Ujar Luhan yakin.

Minseok menangis hanya karena hal sepele seperti itu? Tidak. Luhan tau kalau ada sesuatu yang lain yang menekan batinnya. Sesuatu yang mungkin Minseok sendiri tidak menyadarinya. Minseok tertekan karena dirinya sudah menyerahkan diri kepada laki-laki yang tidak ada di hatinya. Tubuh Minseok tiba-tiba berguncang dan terlonjak melepaskan diri dari pelukan Luhan. Ia bertanya sekarang jam berapa, dirinya sedang mengkhawatirkan Sehun.

"Masih jam tiga pagi!" Luhan berusaha menenangkan. Ia menggapai kembali tubuh istrinya dan memeluknya lebih erat. Minseok menyerah, lemah dalam pelukannya. "Sehun tidak mungkin bangun jam segini."

"Kalau begitu boleh aku kembali kekamar sekarang? Aku harus ada disana sebelum Sehub bangun."

"Lalu meninggalkan aku sendirian?" Luhan terdengar kecewa, tapi ia melepaskan pelukannya dan membiarkan Minseok pergi tanpa menjawab apa-apa.

Melepaskan pelukannya berarti merelakannya. Minseok memakai kembali handuknya dan kembali ke kamarnya. Sehun benar-benar masih tidur. Tubuh kecilnya melintang di atas tempat tidur. Minseok mengambil satu gaun tidurnya di lemari dan memakainya kembali lalu berbaring di sebelah Sehun setelah memperbaiki posisinya yang nyaris jatuh karena terlalu ke pinggir tempat tidur. Minseok benar-benar lelah sehingga dirinya tertidur kembali dan…

"Mami…Sehun mau ketemu Mami!"

Minseok membuka matanya perlahan karena rengekan Sehun yang menarik-narik gaun tidurnya. Sangat perlahan hingga bayangan bocah berambut keriting dan bermata biru itu terlihat semakin jelas. Sudah bisa di duga, Sehun kembali teringat ibunya dan pagi ini Minseok harus mengulangi semuanya dari awal; Membujuk Sehun untuk patuh kepadanya. Tapi dengan apa? Es Krim lagi?

Minseok berusaha duduk dan kembali membelai kepala Sehun. "Sayang, masih sama bibi ya? Mami Sehun masih ada urusan. Hari ini sama besok Sehun sama bibi, ya?" Terpaksa. Minseok lagi-lagi mengatakan hal yang sama seperti yang di katakannya kemarin dan mungkin akan terus di ulangi besok. Sehun baru dua hari bersamanya dan orang tuanya menitipkan anak itu selama seminggu. Perjuangan Minseok masih panjang.

"Untuk hari ini, Bibi yang menggantikan mami kamu ya? Hari ini mau sarapan apa? Cornflakes mau?"

Sehun memandangnya kecewa, tapi anak itu masih merespon ucapannya. "Es krim ada?"

Es Krim lagi? Minseok tidak akan memberikan Es Krim hari ini. Bagaimana kalau Sehun sakit? "Coklat cake pakai Cornflakes pasti enak. Sehun suka coklat kan? Mau sarapan coklat?"

Sehun mengangguk.

Kali ini Minseok bisa bernafas lega. Ia menggapai tubuh kecil Sehun dan menggendongnya menuju ruang makan. Sehun cukup berat, tapi sepertinya Minseok mulai terbiasa. Kemarin siang dirinya sudah menggendong Sehun hampir seharian. Kali ini Minseok menyiapkan semuanya dengan lebih santai, tidak panik seperti kemarin. Dapur juga lebih rapi dan dirinya tidak memerlukan bantuan Halmeoni untuk menyiapkan sarapan Sehun plus susu-nya.

Seperti biasa Minseok menempatkan Sehun di pangkuannya dan membiarkan Sehun menyendok makanannya sendiri. Meskipun Minseok memanjakan, Sehun tetap harus bisa melakukan semuanya sendiri. Setelah sarapan anak ini harus mandi dan mengenai apa yang harus di lakukan nanti, akan di pikirkan setelahnya.

Baru beberapa hari dan Minseok sudah merasakan kalau Sehun adalah bagian peting dalam hidupnya. Anak itu sudah berhasil menyita sebagian besar perhatian Minseok. Lamunan Minseok terhenti saat merasakan sebuah kecuapan mendarat di pipinya. Luhan sudah duduk di sebelahnya dan menyiapkan sarapan untuknya sendiri lalu mengolesi roti bakar dengan mentega dan menggigitnya dengan hati-hati. Minseok memandang Halmeoni sejenak dan wanita itu hanya tersenyum maklum.

Padahal Minseok sudah lupa, tapi dirinya teringat lagi tentang kejadian semalam. Ia mendesah pelan, berusaha untuk berpura-pura tidak ingat, berusaha untuk berpura-pura lupa dan bersikap biasa.

"Hari ini kau mau kemana?" Akhirnya Luhan bersuara.

Minseok tidak bisa mengelak untuk menoleh dan memandangnya. Pagi ini Luhan terlihat berbeda dari biasa. "Mungkin ke Hypermart. Aku mau membeli beberapa barang penting."

"Uang di ATM masih ada, Kan?"

Minseok mengangguk, hanya mengangguk dan Luhan pasti tau kalau dirinya sangat kikuk.

Helaan nafas Halmeoni terdengar jelas. Wanita itu memandangi Minseok lekat-lekat dan berujar penuh kasih. "Ada apa sayang? Kalian berdua habis berkelahi lagi?"

Minseok mengangkat wajahnya memandang Luhan sebentar lalu menoleh kepada Halmeoni. Berkelahi? Seingatnya semenjak dirinya terbangun dari tidurnya sebagai istri dari Luhan, dirinya dan Luhan tidak pernah berkelahi. Tapi ia ingat kalau Yixing bilang mereka sering berkelahi sebelum ini. "Tidak, aku baik-baik saja. Kami baik-baik saja!"

"Minseok cuma kelelahan mengurusi Sehun." Luhan membela.

Halmeoni mengangguk. "Syukurlah. Aku pergi dulu kalau begitu. Ada acara amal yang harus di hadiri."

Dan wanita itu pergi meninggalkan Minseok, Luhan bersama si Kecil Sehun yang sibuk menyuap cornflakes dengan tangannya lalu mencelupkannya kesusu. Minseok melihat itu dan mengambil Mangkok di tengah meja. Menuangkan Cornflakes kedalamnya dan membanjirinya dengan susu segar yang melimpah. Ia mengajarkan Sehun untuk makan dengan hati-hati dan bocah itu melupakan chocolate cakenya berpindah ke cornflakes. Luhan memperhatikannya karena Minseok tidak berbicara sepatah katapun sejak Halmeoni pergi.

"Ada apa?" Tanya Luhan. "Kenapa tidak berbicara padaku?"

Minseok menoleh kepadanya sekilas lalu kembali menunduk. "Aku cuma kikuk."

"Karena tadi malam?"

"Ya, aku hanya masih belum terbiasa."

"Jadi aku perlu menjadikannya kebiasaan?" Luhan berujar dengan nada suara yang misterius. Sebelah tangannya merangkul pinggang Minseok dan itu berhasil membuat Minseok memandangnya.

"Jangan, Ada Sehun!"

Mendengar namanya di sebut-sebut, Sehun berhenti makan dan memandangi Minseok. Minseok berusaha kembali mengalihkan perhatian Sehun dan memutuskan untuk menyuapinya sampai Sehun menolak karena kekenyangan. Tanpa berbicara lagi, Minseok kembali menggendong Sehun dan membawanya kekamar. Sehun harus mandi dan mereka akan segera berangkat ke Hypermart seperti yang tadi Minseok katakan kepada Luhan.

Sehun membawa boneka Larva mini miliknya yang terbuat dari karet untuk menemaninya mandi. Minseok sudah menyiapkan air di Bathub, tidak begitu banyak karena Minseok tidak ingin Sehun kedinginan. Anak itu akan sangat suka bemain air berlama-lama dengan Larvanya seolah-olah di dalam air itu adalah tempat bermainnya. Karena itu Minseok menyiapkan air hangat dalam jumlah yang tidak banyak, agar Sehun bisa berlama-lama. Minseok tidak akan mengambil resiko untuk melarang Sehun dan membuatnya menangis karena Minseok bukan Ibunya.

Luhan masuk mendekati Minseok yang baru saja memasukkan Sehun kedalam bathub. Air di Bathub menenggelamkan Sebagian tubuh Sehun, hanya sampai di atas pusarnya. Minseok sangat menyukai Sehun dan itu sangat nyata terlihat. Tapi Luhan membutuhkan Minseok saat ini. Dia tidak akan bisa bila Minseok tidak berbicara padanya. Sekarang Luhan sedang berusaha memperlihatkan wajahnya sesering mungkin di hadapan Istrinya.

"Tidak berangkat kerja?" Suara Minseok bertanya pelan.

Luhan memandangnya meskipun ia tau Minseok bertanya tanpa menoleh. Pandangannya masih terarah kepada sandiwara Larva Kuning & Merah-nya Sehun. "Aku sudah lembur kemarin. Jadi hari ini terlambat sedikit seharusnya bukan masalah!"

Minseok mengangguk mengerti, ia sedang berusaha bersikap biasa, berusaha untuk tidak kikuk. Melihat itu membuat Luhan semakin menginginkan Minseok. Ia memperhatikan semua gerak-geriknya. Tawanya, pandangannya, belaian lembutnya pada tubuh Sehun, dan sikapnya membuat Luhan menginginkan Minseok dengan perasaan Lebih untuk pertama kali dan kali ini bukan sandiwara seperti biasa. Dirinya mengikat Minseok tanpa cinta, tanpa keinginan dan tau hanya akan menghadapi penderitaan. Tapi semua kebahagiaan yang di rasakannya memberikan harapan baru. Luhan merasa menemukan hidupnya meskipun bukan dari cintanya. Luhan tidak bisa menahannya lagi, ia harus mendekap Minseok saat ini atau dirinya akan mati.

"Sehun, paman pinjam bibi Minseok sebentar boleh?"

"Apa yang kau katakan?" Desis Minseok tak menyangka. Ia menyenggol lengan Luhan keras-keras. Tapi sepertinya Luhan tidak perduli.

"Boleh paman pinjam bibi Minseok? Nanti Paman belikan Pizza. Sehun suka Pizza, kan?"

Sehun diam, ia memandangi Minseok seolah-olah sedang meminta persetujuan. Minseok mendesah pelan.

"Sehun mau Pizza?"

Sehun masih tidak menjawab, matanya melirik Luhan sejenak lalu kembali memandangi Minseok, ia tengah meminta bantuan. Minseok mengerti dan membelai kepala Sehun lembut. "Sehun mau Pizza?"

Mendengar Minseok bertanya seperti itu, Ekspresi bingung di wajahnya langsung sirna. Sehun kembali menoleh kepada Luhan dan menggeleng. Dia tidak menerima penawaran Luhan dan itu berhasil membuat Luhan putus asa.

"Dia sudah makan Pizza kemarin!" Minseok berbisik.

"Memangnya kenapa kalau dia mau makan Pizza lagi? Kau tidak mengatakan kepadanya kalau tidak boleh makan Pizza lagi, kan? Kau curang Minseok."

"French Fries, bisa?" Suara serak Sehun terdengar lagi. Ia membuat Luhan kembali bersemangat.

"French Fries? Tentu saja bisa. Kita akan makan bersama-sama. Sekarang boleh paman pinjam bibi Minseok?"

Sehun mengangguk. "Baiklah!"

Senyum Luhan merekah, ia menarik lengan Minseok secara paksa dan mengunci Sehun di kamar mandi. Upayanya ini berhasil membuat Minseok melotot. Minseok tidak setuju, tentu saja Luhan tidak akan perduli karena ini sudah di rencanakannya meskipun secara mendadak.

"Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya di dalam?"

"Dia sudah besar untuk tidak bertindak bodoh!"

Luhan membungkukkan tubuhnya memandangi wajah Minseok semakin dekat. Setiap hembusan nafasnya menyapu wajah Minseok dengan keinginan yang sangat dalam. Meskipun ia berusaha berontak tapi rasa itu masih bisa mempertahankan diri. Luhan tau pada akhirnya ini akan menyakiti Minseok, tapi dirinya sudah di cengkram dan tidak bisa lepas. Minseok memejamkan mata seakan-akan kembali pasrah pada kuasa Luhan terhadapnya, ia hanya diam saat Luhan menyandarkan tubuhnya ke tembok lalu mencium keningnya, kelopak mata, pipi, telinga, bibir, Luhan kembali menjauhkan wajahnya dan memandangi Minseok lekat-lekat. Minseok membuka mata.

"Kau cantik sekali Minseok!"

Suara Luhan yang berbisik membuat Minseok semakin pasrah. Dan entah siapa yang memulai bibir mereka kembali berpangutan, saling berpadu untuk kesekian kalinya, berlanjut dengan peleburan yang pada akhirnya membuat Minseok menahan teriakannya. Sekilas ia memandang ke sebrang ruangan, di kaca yang melapisi lemari pakaian Minseok bisa melihat Luhan merengkuhnya tanpa bergerak seinchipun dari tempat mereka berdiri. Sakit tapi bahagia, takut tapi larut, Minseok bahkan tidak berani protes saat dirinya mulai kehilangan keseimbangan. Ia melingkarkan lenganya dan bergantung di leher Luhan, ia ingin mendesah tapi tidak boleh, bagaimana bila Sehun mendengarnya? Di saat seperti ini Minseok bahkan masih memikirkan Sehun. Tapi Sehun tidak cukup bisa menghilangkan kenikmatan yang sedang Luhan berikan. Disana, ada sebuah ranjang kosong yang menanti, tapi Luhan lebih memilih melakukannya disini sambil berdiri. Tidak masalah, karena Luhan kembali mencumbunya, mereka bercinta lagi dengan ciuman yang tanpa akhir.

.

.

.

-14th Day-

"LIHAT, semua orang di kantor memandangimu." Yixing berbisik dari mejanya. "Kau sudah seminggu tidak datang lagi kemari dan kembali hanya untuk mengunjungi Manajer Lu dengan penampilan glamour dan membawa seorang bocah berusia empat tahun. Kau sangat tau bagaimana caranya menunjukkan kepada semua orang siapa dirimu sesungguhnya. Kau sedang ingin balas dendam?"

Minseok tertawa, membalas dendam apa? Membalas semua ketertindasannya di kantor selama ini? "Tidak. Aku kesini bukan untuk membalas dendam pada siapa-siapa. Aku kemari karena suamiku memintanya. Dia berjanji pada Sehun untuk mentraktir French fries. Soal penampilan, wanita seperti inilah yang Luhan suka dan aku akan berubah menjadi apapun yang dia inginkan. Lagipula aku tidak keberatan karena sejak dulu aku sangat ingin menjadi seperti ini, kau tau kan? Aku menundanya hanya karena tidak punya banyak uang untuk membeli perhiasan dan pakaian mahal."

"Kehidupanmu benar-benar menyenangkan. Seandainya aku dan Jongin bisa seperti itu."

"Aku rasa bila kau menikah dengan Jongin kau tidak akan hidup sepertiku."

Yixing terdiam mendengar ucapan Minseok barusan. Lembut tapi terdengar menghakimi. Dengan kata lain dirinya sedang mengatakan kalau Jongin tidak akan bisa membuat Yixing bahagia. Minseok sendiri tidak mengerti mengapa dia mengatakan hal yang membuat Yixing Down.

Apakah karena dirinya sedang cemburu? Tidak sama sekali. Perasaannya tiba-tiba saja ingin memperingatkan Yixing agar menjaga jarak dari Jongin.

"Benarkah? Kau berfikir begitu?"

Minseok mengerjapkan matanya dan terbangun dari lamunannya. Yixing bertanya sambil memandanginya dengan kecewa bercampur penasaran. Minseok angkat bahu. "Ku kira begitu. Sepertinya Jongin tidak sama dengan Luhan. Kalau kau ingin bahagia carilah suami yang bisa memanjakanmu. Bukan dirimu yang harus memanjakannya."

"Jadi kau fikir Jongin begitu?"

"Sudahlah, itu menurutku. Kau boleh mengikuti kata hatimu dan jangan pedulikan kata-kataku!"

"Tidak. Kurasa kau benar. Jongin sangat kaku!"

Sebuah senyum getir hadir di sudut bibir Minseok. Ia berusaha menyembunyikannya dengan membantu Sehun yang berada di

pangkuannya untuk mengeluarkan coklatnya dari aluminium foil yang menyelubunginya. Kenapa dirinya mempengaruhi Yixing dengan cara seperti itu? Dia sedang menjelek-jelekkan Jongin? Apa salah Jongin kepadanya?

"Nyonya Lu," Seorang wanita mendekat, wanita yang menggedor pintu kamar mandi saat itu, Minseok sendiri tidak tau siapa namanya. "Kau benar-benar istri Manajer Lu?"

Minseok mengangguk. "Ada masalah?"

"Tidak. Hanya ingin memastikan saja." Jawabnya kaku. "Manajer Lu memanggilmu keruangannya!"

Minseok memandangi jam tangannya. Makan siang masih beberapa menit lagi dan Luhan tidak akan pernah untuk keluar lebih cepat. Dia bisa saja selalu datang terlambat ke kantor tapi tidak pernah keluar dari kantor lebih cepat dari karyawan lain bila bukan karena urusan yang penting dan benar-benar mendesak. Dengan penuh perhatian Minseok kembali menggendong Sehun dan melangkah menuju ruangan Luhan. Ia mengetuk pintu beberapa kali dan Luhan membukakan pintu untuknya, ini yang pertama kali. Minseok berterima kasih dengan memberikan sebuah senyuman manis dan duduk di sofa lalu menempatkan Sehun di pangkuannya.

"Hari ini makan siang dimana?" Luhan kembali duduk di belakang meja kerjanya dan membaca sesuatu. Dia kembali bekerja dan sepertinya Luhan ingin Minseok dan Sehun menemaninya sampai jam makan siang tiba.

"Terserah, asal restoran itu punya menu French fries. Kau harus menepati janji, jangan sampai Sehun tidak menghargaimu karena itu!"

Jawab Minseok, kali ini ia memandang Luhan, lebih berani dan sangat lembut.

Luhan mengangguk dan terdiam sebentar. Ia memandang kertas-kertasnya sejenak, lalu pandangannya berpindah ke wajah Minseok.

Mereka saling bertatapan lama dan Luhan melihat senyum Minseok untuknya. Hatinya mengembang dan akan segera meledak, ia seperti kembali merasakan cinta pertama. "Aku bersumpah, Minseok. Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi. Melihatmu membuatku kehabisan kata-kata."

Minseok menunduk menyembunyikan tawanya. Ponsel Luhan berbunyi, alarm makan siang yang sengaja di setel lebih lambat dua menit di bandingkan jam makan siang yang sebenarnya. Sudah berapa lama mereka berpandangan? Tiba-tiba saatnya keluar sudah tiba. Luhan merapikan mejanya lalu kembali memakai jasnya. Ia mendekati Minseok dan mengambil Alih Sehun dari pangkuannya. Sebelah tangannya yang bebas terulur berharap Minseok menyambut. Minseok meletakkan tangannya untuk di genggam oleh Luhan secara perlahan dan dalam waktu singkat mereka sudah berjalan keluar sambil bergandengan tangan, semua orang melihat dan Minseok sangat bangga dengan ini. Apakah mereka sudah mewakili gambaran sebuah keluarga bahagia?

Lagi-lagi Luhan yang memilih tempat dimana mereka akan menghabiskan waktu makan siangnya. Bukan sebuah restoran mewah seperti biasa. Hanya sebuah café sederhana di Basement salah satu Hypermart terkemuka di Seoul. Untuk pertama kalinya juga Luhan meminta pendapat Minseok tentang apa yang akan mereka pesan dan Luhan menyetujui semua Ide Minseok. Termasuk dua porsi French fries untuk Sehun. Tidak ada makanan pembuka dan makanan penutup seperti biasa. Mereka hanya mendapatkan apa yang mereka pesan dan itu cukup untuk membuat perut Minseok cepat penuh. Ia tidak menghabiskan makanannya dan mencari kesibukan dengan menyuapi Sehun beberapa potong kentang goreng.

"Setelah ini aku mau membelikan Sehun mainan." Minseok bersuara tiba-tiba. Sesaat ia melirik Luhan yang berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Laki-laki itu terpaku. "mau ikut?"

Luhan menelan makanannya dan meneguk air putih. "Sayang sekali aku tidak bisa. Harus kembali ke kantor."

Minseok tersenyum kecut.

Luhan merasa kalau dirinya sudah mengecewakan istrinya. Otaknya berkerja keras untuk mencari apa yang harus di ucapkannya selanjutnya untuk melenyapkan kekecewaan itu."Nanti belikan aku dasi baru ya? Kau belum pernah memilihkan dasi untukku."

"Baiklah, tapi aku akan membunuhmu kalau kau tidak mengenakannya."

Dan sebuah senyum hadir di wajah Minseok, senyum yang menandakan kalau dirinya sudah dalam keadaan baik. Luhan kembali menyantap makanannya dan segera pergi setelah makanannya habis.

Mereka berpisah, Luhan akan segera kembali ke kantor dan Minseok akan pergi berkeliling bersama Sehun. Sehun hari ini sepertinya sedang aktif. Dia tidak suka di gendong dan Minseok membiarkannya berjalan sendiri. Anak itu terus menggenggam ujung gaun Minseok sampai akhirnya sebuah miniature bikini Buttom dalam sebuah bola kaca memenuhi kedua tangannya. Sehun tidak meminta mainan yang mahal, dia hanya meminta beberapa teman untuk Larva plastiknya mandi. Maka Linea membelikan beberapa tokoh kartun lagi, Spongebob, Patrick, Squidward, Eugine Crab, dan Plankton, semuanya dalam ukuran kecil dan itu cukup untuk membuat Sehun berbinar-binar seharian. Sehun mungkin sedang membayangkan sandirwara kamar mandinya dengan tokoh-tokoh baru.

Pukul 15.30 Minseok pada akhirnya sibuk memilih dasi untuk Luhan. Ia memilih sebuah dasi degan warna cerah dan lembut, Aqua Blue yang terang dengan sebuah rajutan berwarna hijau Toska. Sangat cantik dan maskulin. Minseok bisa membayangkan bagaimana Luhan mengenakannya, dengan kemeja yang mana, jas yang mana, bahkan jam tangan yang berwarna apa. Sekilas Minseok sempat melihat Jongin saat ia menoleh keluar toko tanpa sengaja. Tapi begitu ia berusaha meyakinkan, Jongin tidak ada. Mungkin Minseok hanya berkhayal. Ia memanggil Sehun yang mulai menjauh darinya dan bocah itu kembali mengikutinya berjalan ke kasir. Minseok membayar dasinya dengan uangnya sendiri, ini hadiah pertama untuk Luhan dan dirinya tidak akan menggunakan uang Luhan seperti biasa.

"Apa kabar Minseok." Seorang wanita sedang berdiri di sampingnya yang kelihatannya sedang mengandung dengan perut besarnya. Ia menyodorkan sebuah dasi berwarna merah hati saat Minseok hampir pergi.

Minseok menatap wajah wanita itu lekat-lekat, mereka belum pernah bertemu, siapa dia?

"Kau sedang membeli dasi?" lanjutnya. Ia memandang Sehun sejenak dengan tatapan asing dan memberikan senyuman kepada bocah itu dengan senyuman untuk orang asing. Sehun memeluk pinggang Minseok erat-erat.

"Ya, " Jawab Minseok sambil membelai kepala Sehun seolah-olah sedang menyiratkan kata „tidak apa-apa‟ kepadanya. Sehun selalu begitu saat bertemu dengan orang yang di anggapnya asing. Dulu Sehun memeluk ibunya saat pertama kali Minseok tersenyum kepadanya, begitu juga saat Yixing dan Jongin bertemu dengannya untuk pertama kali. Sehun juga memeluk pinggang Minseok seperti yang sekarang sedang di lakukannya. "Kau juga?"

"Ini untuk suamiku." Jawabnya. "Apa kabar dengan suamiku, Minseok?"

Suamimu? Kenapa bertanya padaku? Batin Minseok. Minseok tidak bisa menjawab apa-apa, mungkin wanita itu salah sebut atau…

"Atau lebih tepatnya suami kita, Luhan!"

Luhan? Minseok hampir saja menjatuhkan kantong yang berisi dasi dalam genggamannya. Maksudnya Lu...Luhan? Suami kita berarti Minseok bukan satu-satunya?

"Aku terkejut saat mendengat kabar kalau Luhan memiliki istri lain selain aku, tapi aku tau Luhan akan kembali padaku juga akhirnya. Jadi nikmatilah kebersamaanmu."

Minseok masih tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya masih sangat Shock. Kata-kata itu menyiratkan seolah-olah Minseok sedang merampas suami orang. Sebegitu jahatkah dia? Dirinya semakin tidak mengerti, ia meninggalkan Jongin untuk menikah dengan pria yang sudah beristri. Minseok kecewa, sangat.

Wanita itu menyodorkan dasi yang di belinya kepada Minseok, cukup untuk membuat Minseok terpaku beberapa lama. "Aku titip ini untuknya. Katakan kepadanya untuk pulang, sudah dua minggu ini Luhan tidak pernah kembali kerumah istri pertamanya. Sampai jumpa!"

.

.

Luhan menghela nafas perlahan. Ia sengaja pulang cepat demi bertemu dengan Minseok. Begitu membuka pintu kamar, sebuah suasana yang aneh merebak. Kim Minseok, duduk di atas sofa sambil memandangi dua buah dasi yang masih rapi di dalam kotaknya yang terbuka. Lalu dimana Sehun? Bocah itu tertidur, dia pasti sangat kelelahan karena mengikuti Minseok pergi seharian ini. Luhan membuka jasnya dan melemparkannya kedalam keranjang pakaian kotor yang ada di kamar mandi lalu mendekati Minseok dan memeluknya. Minseok terasa sangat beku tanpa perlawanan apa-apa.

"Kau membeli dua buah dasi?" Bisik Luhan. "Aku hanya perlu satu!"

"Kalau begitu pakai salah satunya saja. Coba pilih, mana yang sesuai dengan seleramu?"

Luhan melepaskan pelukannya dan mendekati dua buah dasi yang dihadapi Minseok entah sejak kapan. Yang berwarna biru atau merah hati? Luhan tertarik dengan yang berwarna biru, tapi yang merah hati, sepertinya ia pernah melihatnya. Rasanya Luhan pernah memiliki dasi yang sama. Tangannya berusaha untuk meyakinkan dengan mengambil dasi berwarna merah hati itu dan membukanya dari kotaknya. Luhan yakin kalau ia pernah memiliki dasi yang serupa.

"Jadi itu pilihanmu? Itu dari istrimu!" Suara Minseok terdengar agak sinis. Luhan memandang wajah Minseok tidak percaya. Istri? Minseok kan? Atau…

"Tadi kami bertemu di toko dasi, dia berpesan agar kau pulang. Tiga bulan tidak pernah pulang, terdengar seperti aku sedang menahanmu disini."

"Maksudmu, Kyungsoo?" desis Luhan, Kyungsoo menemuinya?

"Jadi Kyungsoo namanya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang pria beristri?" Minseok terdengar menggerutu pelan. Ia mulai terlihat sangat kacau.

Luhan menghela nafas berat. Ia mulai merasa bingung dan tidak tau harus berbuat apa, tidak tau harus berkata apa, tidak tau harus membela diri atau memberi penjelasan seperti apa. Yang di lakukannya hanya meletakkan kembali dasi berwarna merah hati itu dan mengambil yang satunya lagi. Berarti yang berwarna biru adalah pilihan Minseok. Luhan sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Ia mengeluarkan dasi itu dari kotaknya dan melingkarkannya di lehernya.

"Aku suka yang ini." Luhan berusaha mengeluarkan suara yang riang, ia berusaha untuk tidak menganggap Kyungsoo sebagai masalah meskipun ia tau itu adalah masalah bagi Minseok.

"Aku ingin bertanya satu hal kepadamu." Minseok bersuara lagi. Ia seolah-olah sedang tidak perduli dengan usaha Luhan untuk mencairkan suasana. "Apakah kau mencintainya? Saat menikah denganku kau mencintainya?"

"Aku tidak akan menikah denganmu jika aku tidak mencintainya!"

Jawaban yang tidak bisa Minseok mengerti tapi dirinya ingin mengetahui hal lain. "Apakah kau mencintaiku? Apakah sama besarnya dengan cintamu kepadanya?"

Luhan terdiam lama, apakah ia mencintainya? Kim Minseok, sejak kapan ada di hatinya? Luhan tertarik kepada Minseok, kepada kelemahan yang di tunjukkannya, kepada caranya tersenyum, caranya bertanya, Luhan tertarik kepada cara Minseok menggodanya, semuanya. Tapi Selama ini, Minseok tidak pernah membekas di hatinya meskipun Luhan selalu berusaha menunjukkan cinta yang merupakan sandiwara. Apakah ia mencintai Minseok? Sejak kapan? Pagi itu. Pagi itu Luhan jatuh cinta kepada Minseok, saat ia melihat Minseok menangis karena terbangun tanpa Luhan disisinya.

"Ya, aku mencintaimu!"

Minseok tersenyum sinis. "Bohong. Kau terdiam lama!"

"Aku tidak berbohong. Aku…"

"Aku tidak ingin mendengar apa-apa. Besok kita bahas lagi karena sekarang aku ingin istirahat. Kepalaku rasanya mau pecah. Minseok beranjak dari sofa dan nyaris berbaring di atas tempat tidur saat mendengar pintu kamar di ketuk. Luhan membuka pintu dan mendapati Yifan bersama Suho disana. Mereka sudah pulang? Secepat ini? Seharusnya masih ada beberapa hari lagi.

"Kami tidak bisa pergi lama-lama karena selalu memikirkan Sehun."

Yifan mengeluarkan kata pertamanya yang menjawab kebingungan semua orang. "Maaf langsung ke kamar kalian, tadi Halmeoni menunjukkan kamar ini karena Sehun tidur bersama kalian."

Minseok berusaha tersenyum dan menjawab tidak masalah. Lalu Suho segera bergerak tanpa kata-kata mengumpulkan semua barang-barang Sehun dan menenteng tasnya, ia mendekati Sehun yang sepertinya terbangun karena kegaduhan itu. Sehun menangis.

"Mami…Mami…!" rengeknya.

Suho segera menggendong anaknya dan berusaha menggoyang-goyangkan tubuh kecil Sehun. Tapi Sehun tidak mau diam. Tangannya menggapai-gapai kearah Minseok sambil terus menjerit memanggil-manggilnya dengan sebutan Mami. Jadi yang Sehun maksud sebagai Mami adalah Minseok? Yifan dan Luhan saling pandang.

Minseok merasa iba dan mendekat kepada Suho. "Boleh aku menggendongnya sebentar?" Minseok tidak membutuhkan persetujuan. Kedua tangannya langsung mengambil Alih Sehun dari ibunya dan menggendongnya penuh kasih sayang. Minseok membelai punggung Sehun lembut. Ia bisa melihat kecemburuan Suho karena itu.

"Apa yang kau lakukan pada anakku?" Tanyanya kasar. Suho kembali mengambil Alih Sehun dan berkata pada Yifan. "Aku tidak suka padanya. Ayo kita pergi!"

Yifan mengucapkan kata maaf pada Minseok dan mengikuti Suho pergi. Sekarang Minseok tau mengapa Suho sangat membenci Minseok, karena Minseok adalah wanita jahat yang merebut suami orang lain dan sebagai sesama perempuan, Suho mungkin ikut merasakan penderitaan Kyungsoo, iparnya yang lain.

Yifan mungkin juga membencinya, hanya Yifan tidak menunjukkan itu dan masih bersikap sopan. Hati Minseok didesaki perih yang luar biasa, ia memandangi Sehun yang terus memanggil-manggil Minseok dengan sebutan Mami sambil terus menggapai-gapai kearahnya. Hatinya pilu, Kim Minseok adalah Mami yang merana.

To Be Continue


Gimana? HAHHAHHAHAHA. Gue suka banget sama novel ini, ceritanya bikin gue mewek sampe mungkin gue bisa ciptain danau sendiri lol. Gue nistain Minseok disini, ampuni gue yaaa..

Gue tunggu komentar-komentar dari lo readers, setelah itu baru gue lanjutin cerita ini sip!