Songbird.
Letup api mengiringi lesat peluru yang berputar pada poros.
Ujung lancip peluru berkaliber 9 mm. terarah pada dahi setepatnya acuan dari bidik presisi.
Hitungan mundur berjalan secepat jarak yang menipis.
Degup jantung menjadi lambat dan semakin lambat.
Pelan...
Pelan...
Dan pelan.
Ieyasu pun memejam.
"JDEEEEEEEEEEERRRR!"
Ledakan keras menghancurkan permukaan aspal. Rupa kuak garis terus menjalar ke sepanjang jalan seiring guncangan seakan gempa. Potongan-potongan aspal berterbangan ke udara menjadi barikade asal, target salah sasaran bagi peluru yang meluncur.
"BZZZZZT! BZZZT!"
Kilatan-kilatan petir terlihat pada kuakan aspal seketika getaran mereda dan bebatuan berjatuhan sesuai gaya tarik gravitasi.
"..." 'Kojuro' menatap tidak percaya sewaktu seseorang merebak dari kepul debu.
Perawakan khas...
Eyepatch hitam...
Wajah itu.
'Kojuro' reflek mengalihkan pandangan ke Danna-nya yang masih berada di pelukan si 'chairman'.
"Kojuro..." desah Masamune saat menghampiri seraya menyarungkan keenam katana.
Si empunya nama sepatutnya syok. Namun...
"Kau mempunyai sepasang mata..." ucapan kalem Masamune seketika berdiri di depan kembaran 'Right Eye'-nya. Dan jemari tangan kanan perlahan mengepal erat. "TIDAKKAH SEHARUSNYA KAU BISA MENILAI PERBEDAAN DARI BAJU?!"
Seruan itu disertai layang bogem sementah-mentahnya.
"BUGH!"
Dan 'Kojuro' terbawa alur tekanan pukulan yang menghajar telak pipi kirinya, membuatnya berakhir terhempas menabrak sisi pintu mobil.
"KLETEK!"
Pistol jatuh tergeletak ke aspal. Sementara 'Kojuro'... hanya bisa diam sewaktu perlahan menoleh ke pria di dekatnya.
Pakaian biru unik berdesain samurai...
Diteruskan melayangkan acuan fokus pada si 'chairman'.
Jaket... kuning bertudung? Bahkan set zirah berwarna keemasan?
"Apa... maksudnya ini...?" Guman 'Kojuro' antara kebingungan, sekaligus syok. Tidak mengerti satupun baik tentang pria di dekatnya dan hubungan terhadap Danna-nya pada pemuda yang SEPERTINYA berbeda dari khas pemuda yang menjadi 'chairman' Tokugawa.
"Ceritanya panjang, Kojuro." Sahut Masamune sambil menoleh ke dua sosok yang berdiri di seberang jalan. "Sejelasnya... aku pun punya BANYAK pertanyaan, seperti dirimu."
Ieyasu membuka kedua matanya.
"Masamune-san," ucapnya senormalnya acara salam. "Terima kasih." Disertai menggangguk arti apresiasi, sungguh ucapan terima kasih semurninya ketulusan dari hatinya.
'Kojuro' KINI dapat melihat perbedaan yang signifikan dari cara sorot kedua mata itu dan cara bertutur kata. Pemuda itu... ya, berbeda dari gaya kepura-puraan yang munafik ala 'chairman' Tokugawa yang dikenalnya.
"MASAMUNE-DONO!"
Teriakan yang menyusul dari kejauhan...
Masamune memejam sejenak, menikmati suara spesial yang benar-benar... spesial, bagi hatinya.
"Sanada Yukimura. It's about time. What took you so long?" Tanyanya sekalem semeringah senyum saat membalikkan badan ke arah sumber suara berasal. Dan disana... dua orang, satunya memapah dan satunya berjalan tertatih.
"Hm?" Masamune memicing seketika mengetahui siapa yang memeluk... pemuda yang sangat dirindukannya, pemuda yang SEHARUSNYA menjadi hak miliknya seorang.
'Mitsunari' pun tidak dapat menahan diri untuk menyeringai nakal.
'Oh~ Ini akan menyenangkan...' pikirnya saat mempererat kalungan tangan di pinggang Yukimura, memancing notasi cemburu dari si kembaran dokuganryu.
"Kau..."
Geraman itu ternyata berbarengan. Masamune terhadap 'Mitsunari' dan 'Mitsunari' terhadap Ieyasu.
Jelas...
Masamune langsung melesat menarik Yukimura dari pria yang super menyebalkan baginya. Sedangkan 'Mitsunari' langsung berlari menarik dokuganryu-nya dari pemuda yang sangat tertera huruf besar dalam list yang ingin dibunuhnya.
"Kau tidak apa-apa...?" Cecar Masamune sambil memperhatikan bercak merah pada lilitan perban di abdomen rival-nya.
"Mm-hm." Angguk Yukimura, berlanjut memeluk leher si dokuganryu. "Oh Masamune-dono... aku tidak tahu kenapa rasanya selega ini bisa melihatmu kembali, di depanku, utuh... sesuai dirimu..."
Mendengar itu, Masamune menjauhkan pelukan dan menatap datar. "Jadi kau sebenarnya tidak lega?" Tanyanya.
Yukimura nyengir, sedikit giris. Namun sewaktu mau membuka mulut hendak memberikan alasan...
"Dokuganryu...!" Seru 'Mitsunari' seraya mengelus bekas goresan peluru pada pipi kanan pria yang terkulai lemas di pelukannya. Nafas disana terdengar pelan. Terlalu pelan.
"Dokuganryu..." Air mata meleleh saat mengetahui bahwa mata kiri itu... "Oh dokuganryu... Dasar moron..." 'Mitsunari' segera memeluk wajah rival-nya. "Keparat... KEPARAT!" Teriaknya penuh kekesalan karena terlambat sejauh ini.
"AAAAAAAAAAAAAAAHHHH!"
Teriakan frustasi yang menggema di sekeliling mereka, semakin membuat Ieyasu TERLALU pedih meski tidak mengetahui kisah di balik ini semua. Tapi satu hal dari cara 'Right Eye' si dokuganryu tadi... Tampaknya itu adalah hasil dari kedua tangan-'nya', kembarannya.
'Astaga... Apa aku seburuk itu... di masa depan ini...' pikirnya penuh penyesalan.
"..." Semua yang berada di TKP tidak bisa berkata apapun kala menyaksikan 'Mitsunari' berdiri disertai menggendong pria yang tersebut 'rival'. Menjadikan Masamune semakin protektif terhadap pemuda di dekatnya.
'Yakuza...' Sementara jemari tangan mengepal erat. 'Bastard.'
Sayup-sayup suara helikopter terdengar.
[SEMUA YANG BERADA DI BAWAH, JATUHKAN SENJATA KALIAN!]
Gema suara yang berasal dari speaker...
Lambang kepolisian yang tertera pada badan helikopter...
"...NGIIIIIUUUUUUNG! NGIIIIIUUUUUNG!"
Sirene polisi sahut-menyahut dari kejauhan...
Mobil-mobil itu langsung berhenti mengelilingi dari segala arah. Dan begitu masing-masing personil polisi keluar, semua cekat bersiaga dengan senjata api bersama perlindungan seadanya dari balik pintu-pintu mobil.
[KAMI ULANGI! INI POLISI PREFEKTURAL DARI NATIONAL POLICE AGENCY! SEMUA TERSANGKA YANG BERADA DI BAWAH, JATUHKAN SENJATA KALIAN!]
"..." Ieyasu menoleh ke Masamune yang melepas set pedang katana dan melempar keenamnya ke jalan. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain karena daripada melukai dan menambah korban... Kedua knuckle pun dilepas dan dilempar ke jalan.
Yukimura memilih menutup mulut saat tangan rival-nya memeluknya dengan erat seakan tidak ingin berpisah lagi.
'Kojuro' mengangkat kedua tangan, menunjukkan bahwa tidak ada persenjataan yang melekat.
Sementara 'Mitsunari' menggeram pada sosok-sosok berpakaian polisi yang mengunci poin ujung laras padanya. "Kirim ambulan... atau kalian akan mati di tanganku."
Atas ancaman itu, suara-suara mengokang senjata langsung beriring. Mereka tidak akan ragu menembak jika targetnya bertindak lebih.
"KUBILANG, AMBULAN!" Bentak 'Mitsunari'.
Mobil-mobil baru berdatangan. Empat mobil berwarna hitam dan sosok-sosok berpakaian kelengkapan jas ala detektif segera keluar tepat masing-masing pintu dibuka. Membuat beberapa polisi menoleh sewaktu seseorang berjalan memasuki TKP.
Dan seseorang itu adalah wanita berambut pirang berpotongan pendek yang unik, karena rambut di kedua sisi wajah menggantung sepanjang paha.
"AKU DETEKTIF KASUGA DARI CRIMINAL INVESTIGATION BUREAU, MEREKA ADALAH TERSANGKA KAMI! MAKA DARI ITU, KAMI AKAN MENGAMBIL ALIH DARI SINI!" Seru 'Kasuga' seraya menunjukkan ID pada sekeliling.
Para polisi segera berdiri dari status bersiaga dan mengecek ID sosok-sosok yang mengekor langkah si wanita.
"Kasuga..." guman Yukimura saat Masamune ditarik kasar oleh salah satu pria. Kedua tangan rival-nya dibekuk ke belakang dan dipaksa berlutut sesudah diborgol. Begitu juga dirinya. Ieyasu pun tidak luput, sama halnya dengan 'Kojuro'.
Sedangkan 'Kasuga' memperhatikan Masamune dengan seksama.
"KEPARAT!" Teriak 'Mitsunari' seketika dipaksa melepaskan gendongan dan rival-nya dirampas oleh dua orang pria, tidak bisa berlaku banyak sewaktu kedua tangannya langsung diborgol dan didorong agar tengkurap di permukaan aspal, berlanjut pelucutan seluruh persenjataan dan berbagai benda yang dicurigai berbahaya.
"Detektif Kasuga!"
'Kasuga' menoleh, lalu berjalan menghampiri koleganya dan mengamati pria yang terbaring pada ranjang darurat milik ambulan. Ternyata dinas kesehatan baru saja datang.
"Bola mata kirinya... tidak ada. Sepertinya dicabut paksa..." desah koleganya secara simpati seraya menunjukkan gambaran hasil scan pada tablet di pegangannya. Setelahnya, mempoin layar.
"Beberapa luka lain terdapat pada perut, iga, bidang dada, lengan kiri, paha... Tampaknya dari semacam benda metal bergerigi yang dipukulkan lurus serupa tinju." Kalimat tentang praduga senjata diunjuk pada kedua knuckle yang tergeletak di jalan dan mengangguk pada salah satu kolega mereka yang memungut kedua barang itu untuk dimasukkan ke dalam daftar barang bukti.
Sementara 'Kasuga' menyeka rambut si pria. Kemudian mendekat dan membisik, "Good work, Detektif."
Jari 'Masamune' bergerak serupa kedut. Bagi 'Kasuga' itu merupakan sahutan terbaik. Mungkin pria itu akan berkata "whatever" se-khas cuek. Senyum pun terbentuk di wajahnya, kemudian meminta dua koleganya untuk menemani 'korban' dalam perjalanan menuju rumah sakit biro.
'Mitsunari' segera menyela, "BERI PERLINDUNGAN FULL! ODA MENGINCARNYA!"
'Kasuga' hanya memandang sedingin es pada pria berperawakan langsing yang menatapnya tidak kalah dingin.
"Aku tahu tugasku. Dan KAU! Kali tidak akan lolos dari tuntutan hukum!" Serunya tepat melangkah menghampiri. Berikutnya menekankan, "Kupastikan tubuhmu akan mengejang di kursi listrik setelah menghabiskan waktu selama mungkin di penjara Federal. Kuharap sepadan."
'Mitsunari' menyeringai.
"Oh ya, Detektif. Kupastikan juga menghantuimu dan menyiksa mimpi-mimpimu, membuatmu meraung seperti orang gila. Tapi KAU... jika aku berhasil lolos dari hell-hole itu, aku akan mencarimu dan memutilasimu perlahan demi perlahan, sedikit demi sedikit dan menikmati teriakan-teriakanmu. Mmmmm~ Kau tidak akan tersisa." Ancamnya.
Di luar dugaan, 'Kasuga' menyamai seringai.
"JIKA... Dan aku akan menantimu, Prince of Misfortune. Kuharap kau tidak sesial gelarmu." Tantangan balik darinya mengakhiri pembicaraan karena pria itu digeret masuk ke salah satu mobil van dan dikunci.
Sementara 'Kasuga' mendekat ke kolega-koleganya yang menjaga para tersangka tersisa.
"Kalian," tunjuknya pada Masamune dan Yukimura. "Kalian berdua ikut aku. Juga kau," tunjuknya kemudian pada 'Kojuro'.
Setelahnya, bicara pada para koleganya. "Lemparkan pemuda itu pada si psikopat. Kurasa mereka membutuhkan waktu untuk berbincang-bincang, mungkin sedikit bercengkerama. Tidak perlu kamera, biarkan saja."
"Tapi Detektif, itu akan—"
"Aku tahu." Potong 'Kasuga'. "Namun ini... untuknya."
Pria itupun berakhir mengangguk mengerti.
Terkadang keadilan harus dicapai dengan mengotori tangan sendiri, mereka tahu bagaimana pria yang bernama Date Masamune menjalani kehidupan keras di jalanan. Dan kasus per-yakuza-an ini sudah hampir selesai dengan skor kemenangan telak: menangkap basah seorang 'chairman' Tokugawa dan seorang pembunuh dari Toyotomi sekaligus.
"..." Ieyasu hanya mengikuti tuntunan. Tidak menolak saat didorong masuk ke ruangan mobil yang sama dengan 'Mitsunari'. Toh dirinya butuh menyelaraskan pendapat, juga mengorek keterangan kisah semenjak pria kembaran rival-nya itu terlihat mengetahui banyak hal.
'Kasuga' segera berjalan menuju mobil SUV. Diikuti ketiga tahanan, juga tiga orang kolega. Lainnya tidak membuang waktu meng-investigasi TKP dan barang-barang bukti, dijaga oleh para polisi yang sibuk memasang barikade.
...
..
.
'Keiji' menatap dari kejauhan, di antara antrian mobil yang sedang diarahkan oleh para polisi menuju ke jalur lain.
"Ah... Tampaknya berantakan," desahnya.
Sasuke mengetik pada keyboard laptop. [Menurutmu, apa yang harus kita lakukan? Menunggu bukan kegiatan favorit-ku. Danna-ku disana, aku harus menemaninya karena sudah bersumpah pada Sanada Yukimura yang kau kenal, di depan mayatnya bahwa aku akan menjaga Date Masamune tidak akan melepaskan Danna-ku dari pengelihatanku.]
'Keiji' kini berpikir.
"Sebentar. Coba kamu sebutkan siapa saja yang hilang di Sekigahara, dunia kalian." Poinnya dikemudian.
Sasuke mengangguk dan mengetik, [Date Masamune dan Sanada Yukimura. Tokugawa Ieyasu dan Ishida Mitsunari. Motochika Chosokabe dan Mori Motonari. Masing-masingnya merupakan 'rival'. Seperti Masamune-san dan Yukimura Danna.]
'Keiji' mulai menimbang-nimbang penekanan 'rival', sekaligus pengenalannya terhadap nama Motochika Chosokabe.
"Dan tadi Masamune-san sebutkan... ada semacam formasi di langit?" Tanyanya kembali.
[Ya.] Ketikan padat sebagai jawaban. Sasuke menambahkan, [Aku tidak bisa menggambar dengan keyboard. Kau carikan aku kertas besar dulu.]
"Aku mengenal Chosokabe. Kita bisa bicara padanya. Dan ringkasan sementara: Sanada Yukimura yang kukenal bertemu dengan dokuganryu dari duniamu. Lalu dari pertimbangan si dokuganryu... berarti dokuganryu si pembunuh bertemu dengan Danna-mu. Berikutnya Tokugawa Ieyasu dari duniamu sekarang disatukan dengan The Ripper."
Jeda sejenak...
"Kemudian ini," kata 'Keiji' kembali.
"Aku baru saja mendengar rumor bahwa Mori Motonari bangkit dari kubur, berarti siapapun yang berdiri sebagai Motonari yang sekarang adalah Mori Motonari dari duniamu. Kepastiannya dia berada di kediaman Mori. Lalu dari sejarah... Mori Motonari di dunia ini meninggal karena dipasung oleh dokuganryu si pembunuh. Sudah pasti keluarga Mori akan mencari aliansi untuk membalas dendam pada Tokugawa, membersihkan mumpung Tokugawa Ieyasu berstatus tahanan. Opsinya hanya Oda atau Toyotomi. Tapi kesampingkan dulu,"
'Keiji' mengambil ponsel dari saku celana sambil meneruskan praduga.
"Soal keluarga Mori, aku bisa meminta tolong pada Chosokabe. Jadi solusi disini, anggap saja semacam mempertemukan masing-masing 'rival' untuk mencari mereka yang berasal dari dunia kalian. Karena saat ini kita tidak memiliki kemungkinan dimana Motochika Chosokabe dan Ishida Mitsunari dari duniamu."
Sasuke mengetik kembali, [Solusi yang bagus. Dan jangan lupa soal kertas yang kuminta. Karena jika semuanya sudah berkumpul, kemungkinannya mantra yang sama bisa mengembalikan kami.]
'Keiji' mengetik surel untuk pemimpin Chosokabe, lalu mengguman, "Mantra, huh...?"
[Otani Yoshitsugu bisa melakukan itu. Masalahnya... kau bilang Oda Nobunaga adalah pemimpin yakuza. Bahan terpenting membutuhkan tulang-belulang pria itu. Sedangkan energi untuk membuka gerbang antara dimensi memerlukan peran serta dari Oichi, adik Oda Nobunaga.] Ketik Sasuke.
Membaca itu, 'Keiji' mendesah lelah.
"Jangankan tulangnya. Oda Nobunaga sangat susah untuk didekati. Dia selalu berdiri di belakang layar dan benar-benar sulit untuk diprediksi meski tempat tinggalnya berada di Honnoji, Kyoto. Dia juga selalu pergi keluar negeri, Eropa, terkadang keliling Asia, Korea tepatnya. Perdagangan candu didapat eksklusif dari sana. Kalau Oichi sekarang tinggal di Paris. Permasalahan selanjutnya adalah sihir. Aku... tidak tahu apa bisa segamblang serupa cerita si dokuganryu. Sinar hitam dan garis-garis formasi di langit? Itu terlalu... tidak masuk akal. Belum ditambah prediksi gerhana matahari."
Sasuke tidak menyerah mengetik argumen, [Kau bilang di masa depan ini tidak ada sihir, selain kepercayaan kuno yang tidak bisa dipandang secara kasat mata. Tapi kedua matamu menyaksikan bagaimana kekuatan Date Masamune, bukan? Juga diriku yang sebagai ninja, sekarang menempati tubuh seekor anjing. Walau sangat tidak rasional bagimu... Kau melihat buktinya, bukan?]
'Keiji' berakhir mengangguk arti positif.
"Kamu benar. Berarti kita sebaiknya mencari yang terdekat dulu. Otani Yoshitsugu. Aku akan meminta tolong om-ku. Dia semacam... PI, Private Investigator. Pasti bisa mencari orang yang spesifik."
Lalu mengganti gigi kopling dan menginjak pedal gas sewaktu mobil depan melaju.
"Kita ke keluarga angkatku, sekalian kuperkenalkan padamu. Kuharap om-ku bisa ikut membantu soal teman-temanmu yang tertangkap. Setidaknya mereka sekarang berada pada satu tempat yang aman, benar?" Hiburnya.
Sasuke manggut-manggut. Tatapannya agak sayu sewaktu mengingat si kunoichi. Dan disana, pemimpin operasi penangkapan adalah kembaran Kasuga. Mungkin dirinya bisa bernafas lega bila memprediksikan berdasarkan sifat-sifat si kunoichi.
Mobil kini memutar arah memasuki jalanan tol kembali, menuju Nagoya.
...
..
.
"Dengar kalian!"
'Kasuga' mengawali percakapan bernada perintah pada ketiga orang yang duduk di kursi penumpang paling belakang.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, khususnya tentang kau, Sanada Yukimura. Kau seharusnya sudah mati." Sebelum ditimpal oleh Masamune, 'Kasuga' menunjuk kembali.
"Dan kau, Date Masamune, adalah tersangka utama. Imposter dan tanpa ID. Nasibmu akan seburuk si Prince of Misfortune. Hell, mungkin bakal kutaruh se-sel dengannya. Itu kalau kau berani berbelit-belit padaku. Sekarang katakan... Apa kau membunuh Sanada Genjirou Yukimura, korban tanpa kepala di perumahan Nakano-ku? Karena semua sidik jarimu tercecer dimana-mana di dalam rumah!"
"..." Masamune hanya menatap datar.
Sedangkan Yukimura cuma bisa bengong.
"Sebentar," interupsi 'Kojuro'. Sayangnya malah terkena santlap juga.
"Dan kau, Katakura Kojuro. Aku menginginkan SEMUA agenda Danna-mu, atau tidak akan pernah kuijinkan menjenguk sekalipun. Dan kupastikan kalau kau berani mendekati gedung tempat dia dirawat, 100 meter saja dari pagar terdepan... Aku akan meminta orang-orangku yang berjaga untuk menembakmu di tempat."
"Hei, lady. Tidakkah ini terlalu susah untuk kau telaah?" Sela Masamune, cukup sinis. "Aku dan bocah ini, juga Ieyasu yang kau tangkap, bukan berasal dari dunia ini- Maksudku, bukan dari masa depan. Itu kalau kau menyempatkan diri membaca buku sejarah, kami dari periode Sengoku Jidai."
Giliran 'Kasuga' yang menatap datar.
"Kalian bercanda, kan? Atau ini hanya embel-embel agar kalian bebas dari tuntutan hukum dengan mengaku gila?" Tekannya.
"Apa kau selalu se-menyebalkan ini?" Timpal Masamune.
'Kasuga' menyeringai. "Hmph. Sepertinya kau meremehkanku berdasarkan penggolongan kelamin. Kau tidak tahu, apa yang sanggup kulakukan untuk orang-orang macam kalian. Apalagi terhadap yakuza, samurai nyasar, dan sejenis mayat hidup."
Yukimura langsung menempel ke rival-nya sambil membisik, "Masamune-dono... Kok Kasuga-chan yang disini sangat menyeramkan ya..."
Masamune senyum-senyum saja sewaktu menyahuti, "Halah. Paling disodorin Kenshin juga klepek-klepek."
Sementara 'Kasuga' menopangkan paha kiri ke paha kanan, mengambil duduk manis dengan persiapan sebuah tablet dan pen di kedua tangan. Kemudian berkata dengan segala pertunjukan aura ancaman.
"Dengar. Aku tidak akan mengatakan INI dua kali. MESKI ceritamu benar, sejauh di luar logika sekalipun, maka DISINI... hanya keberadaanku sebagai aparat negara, yang bisa membantu kalian. Karena itu kuminta dengan sangat, bicara sesuai poin. Aku bertanya, kalian menjawab. Mengerti?"
...
Di ruangan mobil van khusus tahanan, model standar yang cukup luas dengan dua kursi panjang saja...
'Mitsunari' terus membuang muka dari jangkauan pandangan Ieyasu. Mereka tetap hening, tidak ada yang saling memancing keributan.
...Sampai akhirnya, Ieyasu membuka kata.
"Mitsu... aku tahu kau bukan Mitsunari yang kukenal. Tapi... aku berharap bisa mengenalmu, secara lebih. Karena dia... adalah temanku."
"Tidak alasan untuk itu," timpal 'Mitsunari' tanpa memandang lawan bicaranya. "Aku membenci wajahmu. Titik."
"Lalu menurutmu... Apa yang bisa kulakukan untuk menebus semua perlakuan-'nya' terhadap Masamune-san, juga dirimu?" Tanya Ieyasu dengan sabar.
"Heh," decak 'Mitsunari' kala menatap ke lawan bicaranya. "Mati saja sana. Beres."
Ieyasu masih berusaha. "Kalian berdua memang sama... Bahkan selalu kalimat yang setema."
"..." 'Mitsunari' kini mengamati raut getir yang terpampang. Entah itu sandiwara... Dirinya tidak suka disamakan dengan orang yang tidak dikenalnya. Apalagi kembaran yang diakui sebagai 'teman' bagi pemuda itu. Sungguh menjijikan.
"Tch," decaknya kembali. Kali ini mengangkat kaki kanannya, sol sepatu disanggahkan pada pinggir bangku, tepat di sebelah lawan bicaranya duduk.
"Kau itu... bajingan." Tekannya.
Masih diteruskan.
"Memasang senyum seolah-olah tanpa dosa. Berkata seadanya, padahal hati menyimpan jutaan imajinasi kotor dan otakmu selalu berencana selicik ular. Kebajikan yang disumbangkan hanya sebagai ajang memperoleh itikad kerja sama, timbal-balik. Dan kau... tidak pernah tanggung memaksakan pendapat, merebut, memonopoli, merusak, menggenggam apa yang kau mau. Tidak perduli, semua HARUS sesuai aturanmu. Memaksa arti setara. Lalu dokuganryu-ku..."
Kalimat tetap berlanjut tepat 'Mitsunari membawa kaki kirinya ke antara kedua kaki lawan bicaranya, sol sepatu berdiam pada pinggir bangku.
"Kau merebutnya dari Oda dengan membunuh kekasihnya melalui Akechi Mitsuhide. Memberinya pemikiran bahwa Oda mengkhianatinya. Kau menyodorkan opsi akan melindungi keluarganya kalau dia berada di sisimu. Namun sekarang pun, kembali menghabisi apa yang paling berharga untuknya, kali ini dengan kedua tanganmu sendiri."
Sol sepatu menekan teritori privat. Ieyasu hanya menatap. Terlalu terpaku seketika untaian kata yang bersemat kebencian kembali terutara dari mulut kembaran rival-nya.
"Pria itu sudah membuang semuanya, bahkan harga dirinya untuk bisa mendekat sejarak jengkal pada Oda Nobunaga sendiri. Mencari semua informasi, kode, apapun DEMI KONSISTEN TERHADAP PEKERJAANNYA! Ya, dia adalah polisi yang menyamar. Kemampuannya adalah yang terbaik, apapun sanggup dijalankan. Membunuh pun, dia lebih bajingan dariku. HARGA-NYA TINGGI! Dan kau... tahu. SEMUA TENTANGNYA! Tapi tidak bicara. Menaruhnya sebagai kartu 'As', menggunakannya sebagai bidak dalam jejeran 'Red Pole', sampai meniduri untuk menjalin 'bond'... agar dia lemah terhadapmu. Memakai perasaannya yang tersisa, kau yakinkan dokuganryu-ku untuk memburu 'tikus' lainnya, membuatnya membersihkan banyak koleganya sendiri sehingga kehilangan koneksi dan diburu oleh berbagai pihak! DEMI APRESIASI DARIMU!"
Sol sepatu kembali menekan sehingga Ieyasu terhentak tepat kalimat lagi-lagi meluncur.
"...Dan kau terus-terus-terus TERUS memaksanya. APAPUN! Bahkan membuatnya merangkak dan memohon seperti anjing setiap kali harus menghabisi orang-orang yang dikenalnya! Kau menikmatinya sebagai hiburan... menontonnya... mengamatinya sebagai ketentuan prediksi. Berikutnya menghibahkan ketulusan munafikmu setelah mencabut nyawa mereka atas namanya! Menekankan: 'ini adalah kesalahannya sendiri'. Dua tahun, Ieyasu! Kau menenggelamkannya dalam duniamu. Tanpa bantuan. Tanpa harapan. Hanya berpaut pada dirimu seorang."
'Mitsunari' menarik kedua kakinya dan duduk bersandar, disertai bicara kembali sesinis desis.
"Jika aku tidak berbeda dengan 'teman'-mu. Lalu apa yang membuatmu berbeda dengan-'nya'?"
Pertanyaan itu sungguh...
Menusuk.
Ieyasu berakhir diam. Selama air mata menetes dari ujung kedua matanya.
'Mitsunari' menggeleng datar.
"Kau benar-benar seperti wanita. Membosankan." Komentarnya tanpa perasaan bersalah.
"Mitsu..." Ieyasu menunduk pilu. "Aku tidak mengerti satupun... apa yang kamu bicarakan. Oda Nobunaga... Polisi... Kartu 'As'... Red Pole... Tapi aku bisa mengerti penderitaan dokuganryu selama itu. Karena itu, Mitsu..."
"..." 'Mitsunari' memicing saat pemuda itu menatapnya dengan... determinasi?
"Bantu aku merubah semua itu! Nama Tokugawa harus dipulihkan ke arah yang lebih baik! Kumohon, Mitsunari-san!" Seru Ieyasu sambil turun berlutut dan membungkuk penuh permohonan.
'Mitsunari' mendesah lelah. Kemudian mendorong pemuda di depannya menggunakan kaki. "Itu bukan urusanku. Loyalitasku hanya bagi Toyotomi, Hideyoshi-sama seorang! Jadi membantu musuh adalah 'big NO' buatku. Sori saja. Lagipula jadwalku padat, itu saja belum termasuk penjara Federal."
"Mitsu!" Seru Ieyasu kembali. "Demi dokuganryu!"
"Berisik!" Bentak 'Mitsunari'.
"Aku ingin berbuat kebajikan. Sekali saja! Untuk memperbaiki semua!" Ieyasu pantang menyerah.
"Kalau mau berbuat kebajikan, ke kuil saja sana! Jadi biksu kek!" 'Mitsunari' semakin kesal.
"Mitsu—"
Ieyasu berhenti tepat wajah pria itu tahu-tahu telah sedekat... inci... darinya. Dan bibir itu berada di depannya dengan jarak yang SANGAT tipis, bergerak, suara mengalun sejalan desah.
"Kau benar-benar menyebalkan. SANGAT menyebalkan. Kalau begitu... Temani aku bermain dulu."
"Ber...main?" Gumannya.
'Mitsunari' kembali mundur. Semenit kemudian menunjukkan kedua tangan yang sudah terbebas dari kuncian borgol, dimana borgol menggantung pada pergelangan tangan kiri.
"JIKA kau bisa membebaskan diri dari borgol... Aku akan mempertimbangkan permintaanmu. Dan kutekankan, harga menyewa jasaku lumayan mahal. Sejelasnya bekerja secara sukarela bukan hobiku. Karena itu, buat aku terkesima. Pertama, sebelum kau menyusun tele-tele rencana melibatkan nama keluargamu, tentu kau harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri dulu, benar?"
Pernyataan itu...
"..." Ieyasu berpikir seksama.
'Benar. Walau kembaranku berlaku seburuk itu... Sebuah tekad berawal dari diri sendiri! Begitu juga dengan masa depan! Apakah akan membawa hasil positif maupun negatif... Semangat berasal dari pribadi perseorangan! Namun untuk maju... dibutuhkan kebersamaan. Dia... tidak bisa disalahkan. Dia berusaha maju dengan bersikap tangan besi. Dan agar merubah masa depan... Aku harus percaya pada diriku, keputusanku, bahwa perjuanganku adalah bagi teman-temanku!'
"Baik!" Serunya sambil duduk bersila di lantai dan menyibukkan diri mengakali borgol yang mengunci kedua pergelangan tangannya di belakang tubuh.
'Mitsunari' menyandar, membuka lingkaran borgol terakhir dan membuangnya sembarang saja. Sesudahnya kedua tangan diselonjorkan pada panjang bangku. Sementara kaki kanan ditekuk dan pergelangan ditopangkan pada paha kiri.
Dan...
...
..
.
15 Menit berlalu.
"..." 'Mitsunari' lumayan pegal dan gerah mengamati pemuda yang terus stucked pada posisi yang sama meski bulir-bulir keringat sudah terlihat banjir.
"Oi. Kau itu sejenis mereka kan?" Tanyanya segera.
"Huh?" Ieyasu menatap. "Maksudnya?"
'Mitsunari' menimbang-nimbang sejenak. Tapi tetap mengutarakan, "Sihir."
Ieyasu menyimpulkan senyum. "Kalau aku bisa... Membuka ini pasti mudah, bukan?"
"Hm," dengung 'Mitsunari'. Kemudian mengambil sesuatu dari selipan sabuk bandwirst yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
"Aku tidak mau perduli makhluk apa kalian ini. Satu hal pastinya... Aku percaya bahwa setiap makhluk hidup memiliki misi sendiri-sendiri, bahkan sebagian dari jalan kehidupan yang dilalui merupakan buah karma. Aku tidak tahu seperti apa diriku di kehidupanku yang dulu, mungkin diriku adalah reinkarnasi dari 'teman'-mu. Pertemuan kita mungkin juga takdir. Tapi inilah diriku sekarang, sedang mencoba membuat perbedaan. Toh kalian mungkin berguna. Jadi..."
Beranjak maju, sebuah kawat kecil diselipkan ke jemari pemuda di depannya.
"Berusaha lah. Anggap saja ini misi pertamamu. Sedikit terperangkap. Sedikit membuang waktu. Sedikit mengadu partial nyawa. Dan BANYAK perjuangan. Apapun kesempatan yang ada atau bagaimanapun limit yang terasa... Hasil akan jauh LEBIH memuaskan jika kau mempunyai pengalamanmu sendiri." Lanjutnya saat kontak pandang terjadi.
"..." Ieyasu merasakan kawat itu, lalu mencoloknya ke lubang kunci borgol.
"Anak pintar," apresiasi 'Mitsunari'.
Berikutnya memegang pinggang pemuda itu dan menariknya duduk di pangkuannya.
"...?" Ieyasu tentu bertanya-tanya dalam benak.
Namun 'Mitsunari' mengecup jenjang leher, membuka mulut... lidah ditelusurkan naik sepanjang kulit, hingga dagu.
"Mitsu,"
"Hm?"
Sahutan santai disertai mengulum jakun. Jemari kedua tangan milik kembaran rival-nya perlahan terasa merayapi punggung.
"Apa kamu lakukan?"
Pertanyaan sepolos itu... Tentu saja 'Mitsunari' menyeringai.
"Ayolah. Semua misi memiliki ujian. Aku sebagai bantuan, merangkap eksekutor. Makanya, cepat sedikit. Sebelum kuhabisi innocense-mu sampai dasar terdalam. Oh ya. Kuperingatkan..." Pernyataan sembari bibir didekatkan pada bibir di depannya.
"Aku menyukai menikmati dengan perlahan, ber-penekanan... Mmmmm~ Khusus-nya bagi pemuda naive sepertimu." Lanjutnya, lalu menjilat bibir itu.
Dan...
"Woof,"
Ieyasu mengedip tepat 'Mitsunari' tiba-tiba maju menggigit lehernya.
"AHH! Mit- OH!" Erangnya seketika deret jari bergerak mengeruk kasar... mencakar kulit punggungnya.
'Mitsunari' melepaskan gigit dan mendesah saat sembul barang kepemilikannya ditekankan pada garis bokong si pemuda.
"Mitsu... kamu tidak membantu- OHH!" Ieyasu memicing seketika pergerakan jemari masih diteruskan merambat menyelip ke balik celananya dan meremas bokong. Keras. "NGGHHH! Mitsu!"
"Woof!" Goda 'Mitsunari' sembari menjilat daun telinga kiri. Alhasil jari-jari Ieyasu terus-menerus luput mengakali kuncian borgol.
"Rrrrrrrr..." geraman iseng dikemudian, tepat jemari kedua tangannya menuruni garis celana dalam model sumo dan memainkan jari tengah ke seputar kerut yang ternyata reflek berkontraksi sensitif.
"Mitsu... ini curang..." komentar Ieyasu saat mendapatkan feeling bahwa satu part gerigi kunci telah terdorong. Masih ada gerigi lain yang harus didorong agar kunci terbuka seluruhnya. Namun menggunakan perlakuan intimasi seperti ini sebagai ide mengganggu konsentrasi...
"Woof," goda 'Mitsunari' kembali begitu membawa bibirnya ke depan bibir 'korban'-nya.
"..." Ieyasu memperhatikan bibir itu bersamaan rasa-rasa gerigi kedua telah terdorong kawat.
"Ha-..." desah 'Mitsunari' sewaktu jari tengahnya menginvasi dubur si pemuda tanpa ribet ijin, perlahan, memberikan kejutan sehingga tubuh itu sedikit tersentak. Anehnya, kini tidak ada suara baginya.
"Ohh~? Kau sekarang mau bermain, hmmmm?" Desaknya sambil menguak mulut dubur dan menyelipkan jari telunjuk. Memasukkan, meraba dinding anus untuk mengetes kekuatan apit kontraksi, juga memancing. Berikutnya digerakkan masuk-keluar sesuai interval yang manis, terkadang diseling hentak kasar agar memancing suara.
Tetap, tidak ada suara apapun.
"Terlalu berkonsentrasi itu buruk, Ieyasu. Nanti mukamu cepat berkerut. Ayolah, rileks sedikit." 'Mitsunari' masih menekan, menggerakkan pinggulnya sehingga sembul menggesek belahan bokong.
Berhubung minus atensi dari lawan mainnya... jemari tangan sepasang yang tadinya masih meremas bokong, sekarang beralih membuka ikatan celana dalam sumo si pemuda.
"Tsk-tsk. Tidak asik," sinisnya seraya mengeluarkan kedua jarinya dari saluran anus.
Di luar dugaan... pemuda itu mendadak maju mengadukan antara mulut, dimana 'Mitsunari' dengan senang hati membuka mulut dan mengunci kedekatan dengan ganas. Antuk gigi pun terjadi selama lidah saling menyeka, membuai, memancing.
Toh ini adalah ujian mental.
"Ha-..."
'Mitsunari' mendesah dan terus mendesah tepat bibir bawahnya terkena gigi lawan mainnya dan sedikit sobek sehingga rona darah membaur dalam pertukaran saliva. Lidah tidak berhenti digesekkan. Tidak sekali memaksa menghujam menyusuri langit-langit rongga mulut, membuat lawan mainnya untuk berekspresi lebih dan membakar inisiatif seperti meliukkan lidah menyisir sisi lidahnya dan... mengharapkannya.
"Mmmmhh-..."
Semakin mengunci kedekatan maksimal... Jemari yang barusan membuka ikatan celana dalam sumo, kini keluar dari celana dan meraba rambut cepak si pemuda, membenam dalam setiap kumpulan, mengeruk dan menjambak, merasakan kasarnya rambut seorang... petarung?
'Mitsunari' tidak menyadari bunyi "klik!" dari borgol. Terlalu terokupasi aksi unjuk diri mendominasi permainan lidah.
"Nnnnhhhh..." dengung kenikmatan kesekian yang terlepas dari sela kuncian antara mulut...
Baru terasa pergerakan jemari kedua tangan lawan mainnya yang membuka pengait celananya.
'Mitsunari' pun menggantung lidah.
Sedangkan Ieyasu tersenyum manis saat menurunkan retsleting, jari telunjuk meraba ukuran panjang yang tercetak pada kain tipis celana dalam.
"Sweet..." desah 'Mitsunari' kala menyamai senyum, meski terkesan biasa saja bagi pengalaman berkelas 'senior' di sisinya.
Sedetik berikut, tiba-tiba membanting si pemuda flat pada bangku. "Rrrrrrrrrrrrr..." geramnya penuh permainan sewaktu menarik tali, menurunkan paksa zirah yang menutupi pinggul.
"Aku akan menandaimu banyak..." desah 'Mitsunari' disela kecup demi kecup pada sisi rahang seraya mencengkeram kain celana, menariknya perlahan. Seiring tangan sepasang mencari tali pembuka zirah yang menutupi bidang dada.
Ieyasu bermain manipulatif.
"KALAU... aku di atas." Balasnya sambil mengeluarkan penis pria di atasnya dan menggenggamnya dengan lembut... terkadang menarik, nyaris seperti memijat.
"A-a. Permainanku. Aturanku." 'Mitsunari' tidak kalah manipulatif kala menarik tali zirah penutup bidang dada berbarengan menyelipkan tangan sepasangnya ke belakang pinggang si pemuda, membawa agak duduk tepat menarik benda itu ke atas, membawa lepas sekaligus bersama jaket bertudung.
Sebelum 'korban'-nya menggunakan momen, 'Mitsunari' mencakar sepanjang punggung, naik ke leher. Deret kuku mengeruk kulit leher, menyampaikan tema bahwa dirinya lah yang berkuasa disini.
Sementara Ieyasu terus mengadukan kontak pandang selama menanggapi ciuman-ciuman pendek. Dan jemari tangan sepasang menyendok kedua buah zakar si pemberi kenikmatan, bentuk balasan yang disampaikan melalui bahasa tubuh... merotasi dan perlahan meraba hingga kerut dubur.
"Ieyasu... Jangan berdebat denganku."
Teknik persuasif dari 'Mitsunari' terdengar sangat retorikal. Namun belum... ini belum radikal.
"Mmmm..." Ieyasu menggigit bibir bawah lawan mainnya. "Aku akan membuat banyak pengalaman denganmu, di bagian ini..." Jari tengah dimasukkan ke liang dubur dengan sekali hentak, membenamkan dalam.
Lalu mengerutkan kedua alis.
"Becek. Kamu barusan melakukannya?" Tanyanya secara interogasi.
'Mitsunari' menyeringai. "Dan?" Tantangan manis sambil menggerakkan pinggul, membuat jari itu menggalinya sangat dalam.
Sejalan kalimat beralur konotasi tersebut, Ieyasu otomatis berpikir soal... pekerjaan. 'Tadi dia bilang... harga menyewa jasa?'
"Kamu... pria penghibur?" Tanyanya dengan polosnya.
'Mitsunari' pun berhenti bergerak. "Ha?"
Ieyasu mengulang, "Pria penghibur... maksudku- Uh... Pria yang—"
'Mitsunari' kontan menepak kepala Ieyasu. "Aku tahu maksudnya, tidak perlu diperjelas! Dan untuk jawaban. BUKAN! Puas?" Paparnya disertai raut datar.
"A-..."
'Mitsunari' menggeleng lelah. "Idiot." Gumannya sambil menarik diri, menjauhkan tangan dan membenahi celananya. Yep, si pemuda bloon itu baru saja mematikan saklar libido-nya.
"Mitsu..."
"Diam disana!" Timpalnya. Dan 'Mitsunari' sudah perduli setan.
"Mitsu... Maaf, bukan maksudku untuk menduga—"
"Lupakan," potong 'Mitsunari' sedatar ekspresinya. Sedikit ketus. "Anggap saja tidak pernah terjadi. Yang barusan... ya sudah barusan saja. Sekarang, aku dan kau... tidak ada apa-apa. Jadi diam, atau aku bersumpah akan—"
Kalimatnya berhenti seketika si pemuda turun berlutut di depannya semudah bicara.
"Mitsunari, aku menginginkanmu."
Mirip adegan melamar.
"..." 'Mitsunari' terbengong saat untaian kata lanjutan keluar dari mulut itu.
"Kamu memang bukan dia. Bagiku... Mitsunari yang dirimu adalah sesuatu. Aku tidak bisa mengutarakan rasa yang sepertinya bisa terbebas saat berintimasi denganmu. Aku selalu bertarung dalam medan pertempuran, lebih banyak berlari darinya karena dia selalu ingin menebas leherku. Dan cinta... bagiku adalah penyangkalan. Tapi perasaanku, Mitsunari-san. Aku sungguh menginginkanmu, menyatu denganmu. Berilah kesempatan padaku untuk membuktikan dan melepaskan semua belenggu jiwaku... melalui persetubuhan. Karena itu kumohon... terimalah diriku ini menjadi pasanganmu. Walau yang tertinggal disini akan tetap berada disini. Aku tidak keberatan."
'Mitsunari' tidak habis pikir. Mau tertawa juga tidak enak. Namun berakhir menyahuti...
"Aku di atas."
"Umm..." Ieyasu masih mencoba. "Kalau diselesaikan dengan suit?"
'Mitsunari' langsung menendang wajah Ieyasu. "Kalau tidak serius, ke laut aja sana!" Serunya.
Sayangnya kali ini... Ieyasu memang serius.
Tangannya langsung menangkap betis dan membanting pria itu ke lantai mobil.
"BRUGH!"
"WOI! Apa-apaan!" Seru 'Mitsunari' sambil meringis saat Ieyasu mempererat pegangan pada betis dan menariknya sehingga kaki sepasangnya dirangkap kedua paha pemuda itu. 'What the-...'
Sebelum sempat memprediksikan, celananya ditarik begitu saja.
"Hei- HEI!" 'Mitsunari' jelas berontak seketika siku kakinya yang dipegang, kini seenaknya disanggahkan pada bahu pemuda itu. "OI!" Bentaknya sambil memegang tiang kursi untuk bantuan menarik diri karena Ieyasu sangat... KUAT!
'Shit! Ada apa dengan hari ini?! Hari pemerkosaan sedunia?!' Peliknya.
"GUARD! WOI! POLISI! SIAPAPUN YANG DI DEPAN!" Teriaknya dengan panik tepat Ieyasu mendekatinya.
"Stop! STOP!" Serunya kembali. "Tidak begini!" Kedua tangan reflek mendorong bidang dada di atasnya. "BRENGSEK! KUBILANG TIDAK BEGINI!"
Jemari tahu-tahu mengelus rambutnya. Kedua mata yang menatap sayu, namun kilau jiwa yang terbesit tanpa dasar... seakan menyihir. Bibir yang bergerak mengukir baris kata, tersaru keheningan, tapi sejelas vokalisasi standar...
Pertanyaan...?
"Apa yang akan kamu lakukan... kalau burung penyanyi tidak lagi bernyanyi?"
"..." 'Mitsunari' terdiam saat deret jari tangan sepasang disana meraba jenjang lehernya. Membuat nafasnya memburu seolah-olah tersedak, tertekan. Sejauh pikiran bahwa dirinya sedang terancam. Anehnya ini... terlalu lembut.
"Kamu bisa menjawabnya?" Tanya Ieyasu.
Pertanyaan itu sendiri sangat berbumbu... filosofi. Atau mungkin hendak menentukan reaksi... dari jawabannya?
'Mitsunari' perlahan membuka mulut dan ibu jari pemuda itu meraba bibir bawahnya. Dan berhubung tidak ada ketentuan lebih untuk pertanyaan 'si burung penyanyi', logikanya adalah yang tercepat.
"Kill it."
"..." Ieyasu pun memejam.
"Kenapa? Apa 'teman'-mu juga menjawab serupa?" Sinis 'Mitsunari'.
Ieyasu membuka kedua matanya, semakin sayu. Sementara jari telunjuk memainkan lembaran-lembaran rambut pria di bawahnya. "Kamu... tidak pernah memiliki opsi menunggu?" Tanyanya tanpa mengharapkan jawaban.
"Huh...?"
"Tunggu, burung itu akan menyanyi." Papar Ieyasu seakan... pembenahan.
'Mitsunari' tidak mengerti makna dari 'burung' tersangkut-paut urusan 'menyanyi' dalam pertanyaan tadi. Tapi menyahuti, "Kalau 'fuck' maumu, lakukan saja. Tidak perlu repot bertele-tele. Berisik."
Ieyasu mendesah panjang.
Berikutnya menjelaskan, "Kamu mempunyai kemampuan memimpin. Sayangnya hatimu terlalu... beku. Jiwa bukanlah bidak yang bisa dibuang kapan saja. Semuanya bertahap, sama halnya dengan loyalti. Dari jawabanku, aku bisa mengerti sisi yang dijalani oleh kembaranku. Namun dia... menentukan kenikmatan sebagai bisnis dan bisnis sebagai kenikmatan.
Apa yang kulihat pada dokuganryu... Seorang pria tangguh, selalu memegang prinsip, menjaga dan mendahulukan kepentingan rakyat yang menghabitasi kota Oshu, kota-nya, sebagai prioritas.
Seandainya aku mau berperan sebagai kembaranku... momen di saat membumi-hanguskan kota-nya, membantai segalanya di hadapannya, memaksanya berdiri seorang diri dan mengemis padaku. ITU adalah bisnis. Karena aku dapat melakukannya pada siapa saja. Tapi menggenggam dokuganryu di tanganku, menaklukannya, membuatnya mengucap dan berlaku sumpah setia padaku seorang... ITU kenikmatan."
"..." 'Mitsunari' memicing.
"Hati harus dinaungi oleh kehangatan dan kehangatan akan memberikan jiwa, simpati, perasaan, pemikiran dan pertimbangan, rasional bahkan logika. Otak hanya motor penggerak sebagai penekan intensitas, yaitu tekad. Hati lah yang menentukan bahwa setiap pribadi berbeda dan unik.
Jika kamu mau tahu jawaban dari 'teman'-ku... dia hanya, 'Hn.' Tanpa jawaban pasti berarti tidak ada ketentuan, terombang-ambing sebagai pengikut arus... tertekan bersama keniatan yang tumpang-tindih sampai segalanya berkembang sebagai obsesi di luar eksposisi. Sedangkan dirimu... masih mempunyai hati."
Lalu Ieyasu mengecup bibir 'Mitsunari', diikuti bisik, "Aku tidak mau rakus. Pastinya akan kutemani kamu bermain, sesuai aturanmu. Dan kuharap, perasaan yang kulimpahkan dapat menghangatkan hatimu."
'Mitsunari' mengadu kontak pandang sejenak.
Berikutnya menggosok-gosok rambut dengan frustasi. "Bicara semanis itu, padahal buntut-buntutnya juga seks..." Komentarnya sedatar mimiknya.
Kemudian mengamati wajah di atasnya secara serius. "Aku bisa memberikan badanku, kenikmatan, bahkan mungkin partial jiwa pada siapa saja suka-suka. Tapi hatiku... selalu ter-khusus bagi dokuganryu-ku seorang. Jadi sebelum kau berharap lebih, ketahuilah batasanmu. Dan itu bukan peringatan, melainkan permintaan."
"Aku mengerti, Mitsunari-san." Penekanan janji sesuai tingkat wibawa Ieyasu, diteruskan memasukkan penis-nya dengan perlahan ke liang dubur pasangan intimasinya.
"Nnnhhh..." desah 'Mitsunari' seketika merasakan ganjalan yang hangat, mengisinya perlahan... terasa memenuhi perut. Hari ini sudah menembus rekor seks terburuk, dua kali ajang pemerkosaan. Meski... ya begitulah. Berakhir pencapaian kesepakatan suka-sama-suka.
Merepotkan.
"Ahh-... Seharusnya jawabanmu... 'buat burung itu untuk bernyanyi.' Persuasif..." desahnya.
Ieyasu menyimpulkan senyum tidak terdeskripsi kala menyahuti, "Kalau memaksa, dimana seni dalam berburu."
"..." 'Mitsunari' kontan menatap Ieyasu.
Dan kalimat itu adalah penutup dari sesi argumen. Tidak ada lagi pertukaran kata selain saling memacu untuk pencapaian klimaks. Walau kini 'Mitsunari' menyadari... bercinta dengan Tokugawa Ieyasu bagaikan melayang dalam dua angkara, Surga dan Neraka. Ada baiknya sekalian saja, daripada terbelenggu asa yang tidak berguna.
Sejelasnya pemuda ini bukanlah lawan yang bisa dihabisi dengan setengah hati.
...
'Masamune' ingin mengikuti pengarahan rasa dari efek sedatif yang membawanya ke alam mimpi.
Sayangnya Hisahide Matsunaga menghantui mimpinya. Jadi... pilihannya adalah tetap menajamkan indera. Berada dalam keadaan sadar meski badannya selemah tanpa tulang sehingga terlihat seperti tertidur.
"Hei... kita ke jalur yang benar?" Tanya salah satu petugas CIB pada perawat yang baru saja menyelesaikan membalut perban menutupi mata kiri si detektif agar tidak infeksi.
"Rasanya kok menjauh dari rute biro?" Lanjutnya kala memperhatikan bentang lautan luas pada kanan-kiri jalanan.
"Lho. Ini jalan besar menuju..." Pria satunya lagi memicing pada gambaran peta di layar ponsel, dimana tertera petunjuk arah bahwa perjalanan ini sedang menuju ke...
"Bandara Internasional Kansai?"
"Hm," dengung wanita perawat itu sambil mengambil sebuah pisau bedah dari tas peralatan dan—
"He- AAAHH!"
"CRAAT!"
"..." 'Masamune' ingin memaksakan diri untuk bergerak. Namun... ikatan kencang untuk mengunci pasien agar tidak terjatuh, membuatnya stucked pada ranjang.
"CRAAT!"
Cipratan darah mengenai wajahnya.
"AKHH!"
Suara tersedak seperti tercekik atau... kulit leher yang tersayat...
"BRUGH!"
Pria terakhir yang berjaga pun ambruk bersimbah darah.
"KLETEK!"
Pistol jatuh ke lantai mobil.
"...!" 'Masamune' segera mencari-cari posisi—
"Detektif Masamune..."
'Masamune' membeku tepat suara wanita yang sangat dikenalnya... mengisi anyirnya bau darah di dalam ruangan yang seharusnya steril.
"Mmmmmmm~"
Dengung diikuti desahan mendayu lembut yang menerpa hangat di depan bibirnya.
"Hime..." guman 'Masamune'.
"Apa kamu tidak pernah menaruh respek terhadap namaku, Date Masamune?" Tanya wanita itu dengan pembawaan elegan, melepas satu-per-satu pakaian putih perawat yang tercemar oleh noda darah, lalu memakai kimono hitam bercorak kupu-kupu.
"Nou..." 'Masamune' menelan ludah. "Nouhime. Kau kemari untuk menghabisiku?" Tanyanya balik, mencoba bersikap tenang.
"Aku hanya seorang istri, Detektif Masamune. Wanita yang terlalu mencintai suaminya. Dan seharusnya kamu membiarkan kualitas sedatif untuk menerangi mimpimu yang sekelam hitamnya langit malam." Terang wanita itu kala mengembalikan pisau bedah ke deretan di dalam kotak peralatan medis dan menutup kotak itu, kemudian menjauhkannya saat mengambil duduk di dekat 'Masamune'.
"Nouhime. Aku tidak bisa kembali ke dia. Pilihanmu, kau membunuhku disini atau—"
"Apa yang kamu takutkan? Ini adalah perhatian karena kamu selalu yang terbaik." Potong wanita itu disertai jemari lentik mengambil washlap, dibawa membasuh perlahan wajah 'Masamune', membersihkan noda debu dan darah.
"Suamiku telah memberimu segalanya dari harta hingga gelar. Ryu. Seekor naga adalah lambang yang istimewa, kebesaran. Dan kejayaan menanti di tanganmu. Namun kamu... memilih menjatuhkan hukuman mati pada dirimu sendiri dengan bermain sisi. Betapapun ironi... Murka bukanlah sifat dari suamiku, Detektif. Begitu juga denganku. Kamu yang mengenal kami sebagai saudara, bahkan kita telah berbagi hati; seharusnya jauh lebih mengerti."
"Kicho—"
"Shhhh..."
Jari telunjuk menahan bibir 'Masamune'.
"Tidurlah, Detektif. Dunia baru akan menunggu saat kamu tersadar lebih baik."
"..." 'Masamune' menggeratkan baris gigi. Ini... lebih dari rasa takut. Seperti menunggu detik-detik kapak guillotine yang bergoyang bak pendulum di atas lehernya, mendekat dan semakin dekat.
Rasa sesak kembali merobek-robek sukma seketika mengingat bagaimana ekspresi pria yang tersebut 'suami' bagi wanita di sampingnya... saat dirinya melangkah pergi dengan kepala Ranmaru di tangan kanannya dan berkata pada pria itu...
Aku akan kembali untuk kepalamu, nanti.
TBC...
A/n: uh oh...
Dan... apa yang akan terjadi? *grins*
Ada yang pernah baca soal "songbird"? Tentang ketiga pemimpin yang ditanya: "When a songbird won't sing..."
- Oda Nobunaga jawab: "Kill it!"
- Hideyoshi Toyotomi jawab: "Persuade it to sing."
- Tokugawa Ieyasu jawab: "Wait, it will sing.
Terima kasih review-nya *hugs Tsuki-chan*
Hahaha. Padahal saya ga planning gitu benernya *eh* 'Yuki' harus disingkirkan, ini demi kebaikan 'Masamune' sendiri *lha?* XD Sepertinya si Ieyasu terselamatkan (ntar kalo char utama modar gimana next-nya XD)
Bagusnya ni fic masuk kategori adventure/humor ato masuk crime ya? *halah*
Next chapter. Hint? Let's see the new world.
