standard disclaimer applied
Haru Haru (Day By Day)
.
Chapter 9 : Don't Go
.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Donghae saat memasuki ruangan Minseok yang tengah menatap keluar jendela.
Minseok menoleh lalu tersenyum, "Baik, kurasa," jawabnya.
"Mianhae." Donghae mendudukkan dirinya pada kursi disamping ranjang. "Maafkan aku, Minseok-ah."
"Hyung, kamu tidak memiliki sesuatu yang harus dimaafkan," kata Minseok dengan lembut.
"Aku tidak bisa menjaga janjiku, Minseok-ah…, maafkan aku." Donghae menundukkan kepalanya berkata dengan lirih, memohon ampun pada laki-laki dihadapannya. "Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengatakannya kali ini, penyakitmu—penyakitmu memburuk Minseok-ah."
"Gwenchana, aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi."
Donghae mendongak, menatap Minseok dengan tatapan penuh rasa penyesalan sedangkan yang ditatap memberikan pandangan bingung lalu mengukir seulas senyum diwajah manisnya. Tak lama, Donghae menghela napas panjang—helaan nafas yang sangat panjang—lalu mengenggam kedua tangan Minseok yang lagi-lagi tindakannya itu mendapatkan tatapan bingung dari sang pemilik tangan.
"Kumohon, tidak bisakah kamu memikirkannya?" pinta Donghae dengan penuh harap.
"Hm?"
"Aku tahu kemungkinannya hanya limapuluh banding limapuluh, tapi…, kumohon tidak bisakah kamu melakukannya? Jika kamu tidak bisa melakukannya untukku, kamu bisa melakukannya untuk kedua orang tuamu, Minseok-ah."
"Untuk saat ini jawabanku masih sama, hyung." Minseok tersenyum, berusaha menyakinkan Donghae bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja.
"Baiklah." Donghae melepaskan genggaman tangannya. "Tapi, aku tetap berharap kamu akan memikirkannya lagi nanti."
"Gumawoyo, hyung."
Mendengar itu, Donghae hanya bisa tersenyum lalu mengusap puncak kepala Minseok dengan sayang sebelum ia kembali menghela napas dan berdiri dari duduknya. "Aku harus pergi. Jika terjadi sesuatu, segera panggil perawat yang berjaga, mengerti?" pinta Donghae yang dibalas oleh anggukan penuh dari Minseok.
.
.
.
Ini sudah hari ketiga sejak Minseok kembali masuk rumah sakit dan semua orang yang ada didekatnya tahu rahasia terbesarnya yang lebih besar dibandingkan rahasia tentang pernikahannya dengan Lu Han yang tidak didasari cinta. Minseok benar-benar penasaran apakah kedua orang tua dan besannya sudah mengetahui penyakitnya ini? Lu Han pasti memberitahu mereka bukan? Ah, disaat seperti ini Minseok jadi sangat merindukan ibunya yang selalu memasakan apapun yang ia inginkan jika sedang sakit.
Minseok sendirian diruangannya sekarang tapi ia sama sekali tidak merasa kesepian karena dipastikan beberapa menit atau satu jam lagi para sahabat-sahabat terbaiknya itu mengunjunginya tanpa disuruh—seperti sebuah agenda rutin yang jadwalnya tidak menentu. Meski begitu Minseok malah merasa menjadi seseorang yang terus menyusahkan sahabat-sahabatnya itu dengan selalu mengunjunginya. Ngomong-ngomong, sejak Minseok tersadar dirinya sama sekali belum melihat Lu Han. Minseok menghela napas pelan, ia merindukannya, sangat merindukannya—Minseok benar-benar merindukan Lu Han.
Lu Han mungkin sedang bersama Chorong saat ini, Minseok tersenyum miris. Apalagi sebelum ia masuk rumah sakit, Minseok sudah menemukan kenyataanya secara langsung dan itu benar-benar menyakitkan. Minseok menghela napas lalu menepuk kedua pipinya pelan dan mengelengkan kepalanya—Donghae bilang dia tidak boleh terlalu banyak berpikir. Dirinya tidak boleh menangis lagi, menangis tidak bisa mengubah apapun dan itulah yang Minseok dapat selama ini.
"Annyeong haseyo," sapa seseorang yang memasuki ruang inap Minseok dengan aura bersahabat nan nyaman.
Minseok menolehkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca kearah seseorang yang baru saja masuk kedalam ruanganya, pandangan matanya terlihat kaget karena dirinya memang tidak menyangka bahwa seseorang yang sekarang duduk pada kursi yang ada disamping ranjangnya itu akan menjenguknya. Tapi perasaan kaget itu langsung hilang dan digantikan oleh seulas senyuman manis yang terukir diwajahnya.
"Kamu benar-benar anak yang kuat, Minseok-ah." Seseorang itu mengelus perlahan puncak kepala Minseok.
Mereka berdua memang akrab meski baru mengenal beberapa hari entah mengapa, mungkin karena mereka sama-sama memiliki aura ramah sehingga mereka dengan mudahnya akrab seperti ini.
"Donghae-hyung yang memberitahumu?" tanya Minseok dan menutup buku yang tadi dibacanya.
"Tentu saja. Aku ingin bersedih untukmu, tapi itu hanya akan membebankanmu. Iya, kan?" tebak seseorang itu sambil tersenyum.
Itu benar.
Melihat teman-teman bersedih malah semakin membuat Minseok merasa bersalah hingga akhirnya menjadi beban pikiran yang seharusnya tidak boleh terjadi dikondisinya saat ini.
"Aku bosan selama ini selalu berada didalam ruangan," kata Minseok tiba-tiba yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari seseorang yang ada disampingnya itu. "Mau menemaniku berkeliling taman rumah sakit, Hyukjae-hyung?"
Seseorang itu—Hyukjae tersenyum lalu berkata, "Tentu. Tapi kita harus meminta ijin terlebih dahulu pada Donghae."
Minseok tersenyum lebar, untuk saat ini biarkan dirinya melupakan sebentar tentang penyakitnya dan juga rasa rindunya pada Lu Han yang begitu menyakitkan.
Apakah Lu Han juga merindukannya?
Entahlah, Minseok terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya.
.
.
.
Snowflake Café tetap buka seperti permintaan Minseok dan seluruh tanggung jawab selama Minseok masih berada di rumah sakit dipegang oleh Yixing yang saat ini tengah menjaga conunter mengantikan Kyungsoo yang lebih memilih untuk berkerja didapur hari ini. Yixing melirik jam tangannya, dirinya ingin sekali cepat-cepat menutup café lalu segera ke rumah sakit untuk memastikan bahwa hyung-kesayangannya-itu baik-baik saja. Pelanggan hari ini tidak terlalu ramai, jadi sepertinya menutup café lebih awal bukan ide yang buruk. Yixing segera menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara bel dari pintu café, dirinya bersiap untuk menyambut sang pelanggan seperti seorang penjaga counter yang baik pada umumnya.
Yixing mulai tersenyum ramah dan sedikit membungkukkan badannya, "Selamat datang. Bisa kucatat pesananmu?" katanya dengan ramah diawal kalimat karena diakhir kalimat suaranya lebih terdengar seperti tengah mengutuk seseorang.
"Annyeong haseyo," sapa Chorong ramah. "Kamu masih ingat aku?"
"Ne, aku tidak akan lupa," jawab Yixing dengan wajah datar, entah mengapa sejak dirinya pertama kali bertemu dengan Chorong ada sesuatu yang berhasil membuatnya sangat membenci gadis itu.
"Maaf aku tidak memperkenalkan diri kemarin, namaku Park Chorong. Senang berkenalan denganmu." Chorong yang masih mempertahankan nada ramahnya dan mengulurkan tangannya.
"Zhang Yixing-imida." Yixing merespon seadannya dan menjabat tangan Chorong sebentar, dirinya benar-benar ingin gadis itu cepat pergi dari sini. "Jadi? Kamu ingin pesan apa?"
"Tolong satu Green Tea dengan gelas plastik."
"Baiklah." Yixing bernapas lega dalam hati karena gadis dihadapannya sekarang ini tidak akan meminum pesanannya di Snowflake Café.
Jongdae menghampiri Yixing begitu Chorong pergi, ia menumpu dagunya pada kedua tangannya yang memengang pel lalu menatap Yixing dengan tatapan penasaran.
"Wae?" tanya Yixing yang risih dengan tatapan mata Jongdae.
"Untuk pertama kalinya aku melihatmu bersikap sangat dingin," kata Jongdae dan menengakkan badannya. "Kenapa kamu tidak menyukainya?"
"Entahlah. Tapi sejak perkataannya pada Lu Han-ge tempo hari, aku tahu pasti ada sesuatu antara gadis itu dan Lu Han-ge," jelas Yixing dengan tenang.
"Kamu berpikir macam-macam, hyung." Jongdae tersenyum kecil.
Yixing menatap Jongdae lalu berkata, "Tidakkah kamu merasakan bahwa memang ada sesuatu antara Lu Han-ge dan Park Chorong-ssi."
Jongdae menarik kursi samping depan meja counter lalu mendudukinya, ia menghela napas pelan sebelum akhirnya menatap Yixing. Berharap bahwa perkataan Yixing tadi hanyalah main-main dan bukanlah sesuatu yang serius, karena demi apapun dirinya tidak ingin merusak kerpecayaannya tentang perasaan cinta yang terjalin diantara Lu Han dan Minseok. Ugh, Jongdae memaki dirinya sendiri karena berpikiran macam-macam. Tapi tatapan mata Yixing tetap sama, tidak berubah dan itu tandanya laki-laki itu tengah serius saat ini.
"…Itu tidak mungkin terjadi kan?" tanya Jongdae yang hanya dibalas tatapan mata Yixing yang entah apa artinya. "Mereka berdua saling mencintai, saling melengkapi, dan saling membutuhkan satu sama lain. Kita sudah melihat itu bertahun-tahun sejak mereka mulai berpacaran dan akhirnya menikah."
Tidak ada jawaban.
"Apa yang sebenarnya terjadi…," Jongdae menundukkan kepalanya, pikirannya benar-benar kacau.
Tanpa Yixing maupun Jongdae sadari, ternyata sejak tadi Kyungsoo ikut mendengar semua yang mereka katakan bahkan ia juga melihat interaksi kecil antara Yixing dan Chorong.
.
.
.
Lu Han duduk pada salah satu bangku dan menatap kesekeliling taman Rumah Sakit Cheonsa, dirinya sudah menetapkan hatinya hari ini untuk mengunjungi Minseok meski sadar betul bahwa ia sudah cukup terlambat. Tapi tiga hari yang berlalu kemarin benar-benar sangat berat baginya dan selama tiga hari lalu Lu Han sepenuhnya terisolasi dari dunia luar sejak Junmyeon meninggalkannya sendirian di apartementnya.
Kedua orang tua dan besannya adalah orang terakhir yang mengetahui berita ini karena baru tadi pagi Lu Han mengirimi mereka pesan singkat, Lu Han tidak memiliki cukup keberanian untuk menelpon mereka. Lu Han tidak yakin bahwa hatinya siap mendengar suara kedua orang tua dan besannya saat mendengar berita yang ia beritahukan.
Lu Han tidak sekuat itu.
Bahkan saat ini saja Lu Han masih ragu untuk masuk kedalam gedung rumah sakit dan berjalan menuju ruang inap Minseok.
"Diluar sini benar-benar menyenangkan!"
Lu Han tersentak dari pikirannya, ia sangat yakin bahwa suara yang baru didengarnya tadi itu suara Minseok. Dengan segera Lu Han menoleh kekanan dan kiri tapi ia tidak menemukan tanda-tanda adanya Minseok disana, hanya ada beberapa pasien serta perawat yang tengah berjalan-jalan di taman rumah sakit itu. Apakah dirinya berkhayal? Lu Han tersenyum miris lalu memilih untuk menatap lurus kedepan—kembali hanyut dalam pikirannya.
"Aku jadi ingin makan es krim."
Suara Minseok kembali terdengar sehingga Lu Han kembali tersadar dari pikirannya.
"Donghae tidak akan mengijinkanmu."
Siapa?
Lu Han terpaku saat menemukan Minseok yang tengah berjalan beriringan dengan seorang lelaki disisi kanan taman—dihadapannya yang terbagi oleh semak-semak. Sontak Lu Han langsung berdiri dari duduknya, raut wajahnya memancarkan ekspresi tidak percaya dengan apa yang tengah lihatnya sekarang. Siapa laki-laki itu? Kenapa Minseok terlihat begitu akrab dengannya? Dan kenapa Minseok tidak pernah memberi tahu Lu Han tentang laki-laki itu?
Selama empat tahun setengah ini mereka selalu memberitahu satu sama lain tentang kenalan mereka, tapi kenapa kali ini Minseok tidak memberitahu Lu Han?
Tidakkah kamu sadar bahwa kamu sendirilah yang memulai ini Tuan Lu.
Lu Han akhirnya mengikuti arah Minseok dan laki-laki itu melangkah dari tempatnya, kepalanya terus menghadap samping untuk terus memastikan bahwa tidak akan interaksi berlebihan antara istri-nya dan laki-laki asing yang mencurigakan itu.
.
.
.
"Gwenchanayo?" tanya Hyukjae karena tiba-tiba Minseok menghentikan langkah kakinya.
Minseok menoleh lalu menunjukkan seulas senyum. "Ya, aku baik-baik saja," jawabnya dengan tenang.
"Ingin kembali ke kamarmu?" Hyukjae tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Minseok karena sekarang laki-laki manis itu terlihat sangat pucat.
"Aku sungguh baik-baik saja Hyukjae-hyung dan aku ingin berada diluar sini lebih lama lagi," jawab Minseok dan kembali tersenyum dengan harapan Hyukjae akan percaya padanya.
Hyukjae tersenyum kecil, lalu mengangguk dan mengelus pelan puncak kepala Minseok yang tiba-tiba mengernyitkan alisnya seperti tengah menahan sesuatu. Tapi sebelum Hyukjae bisa bertanya Minseok sudah lebih dulu mengajaknya untuk kembali berjalan-jalan disekeliling taman dan ia hanya bisa menatap punggung kecil Minseok yang mulai menjauhinya. Kenapa rasanya Minseok jadi sangat sulit digapai?
"Hyung!" panggil Minseok begitu sadar bahwa Hyukjae ada dua meter dibelakangnya.
"Jalanmu benar-benar cepat," kata Hyukjae yang sudah kembali berjalan beriringan dengan Minseok.
"Umm, benarka—"
Perkataan Minseok tiba-tiba terhenti dan tubuh laki-laki manis itu kehilangan keseimbangannya sehingga hampir saja menyapa tanah jika saja Hyukjae terlambat untuk menangkap tubuh kecilnya.
"Minseok! Minseok sadarlah, Minseok!" Hyukjae langsung menepuk pelan wajah Minseok yang sekarang benar-benar pucat.
Beberapa perawat yang ada di taman itu langsung mendatangi mereka dan memerintahkan Hyukjae untuk segera membawa Minseok kembali ke ruangannya agar dapat segera diperiksa, tapi saat Hyukjae ingin mengangkat tubuh Minseok ada seseorang yang tiba-tiba menepis tangannya dari tubuh Minseok.
"Apa yang—" Hyukjae kehilangan suaranya saat kedua matanya menemukan seorang laki-laki yang menatapnya dengan tajam.
"Jangan pernah berani untuk menyentuhnya lagi," kata laki-laki itu lalu merebut Minseok dari tangan Hyukjae dan mengangkatnya bridal style.
Hyukjae terdiam, entah mengapa tubuhnya tiba-tiba seakan menjadi batu setelah merasakan aura aneh yang menguar dari laki-laki itu?
"Jadi ini yang Donghae maksud, heh?" guman Hyukjae sambil tersenyum kecil lalu menatap gedung Rumah Sakit Cheonsa sebelum akhirnya memilih untuk pergi dari sana.
.
.
.
Lu Han menatap Minseok yang tengah tertidur dengan pandangan bersalah, Dokter Lee bilang istri-nya hanya kelelahan karena selama tiga hari berlalu Minseok sama sekali tidak makan dengan cukup karena tidak nafsu makan. Lu Han ingin mengenggam tangan Minseok tapi entah mengapa dirinya sejak tadi hanya melirik telapak tangan Minseok yang terlihat tidak berada diatas ranjang.
Jarum infuse kembali terpasang ditangan kiri Minseok dan jika sampai dua hari kedepan nafsu makannya masih tidak meningkat maka kemungkinan Minseok tidak akan bisa dengan mudah berjalan-jalan lagi seperti hari ini. Lu Han menghela napas, tiba-tiba dirinya sadar bahwa Minseok memang jarang makan bahkan kadang lebih sedikit darinya (Lu Han punya kebiasaan buruk tidak menghabiskan makanannya atau hanya memakan sedikit dari makanan itu) dan itu sudah terjadi sejak sekitar satu tahun lalu atau lebih.
"Minseok-ah," panggil Lu Han dengan nada lemah. "Kamu sudah mengetahui tentang diriku dan Chorong. Tapi kenapa kamu sama sekali tidak pernah telihat marah karena itu?"
Tidak ada tanggapan.
"Apa… Apa karena kamu juga memiliki lelaki lain?" tanya Lu Han dengan tangan terkepal karena teringat dengan laki-laki yang tadi bersama Minseok.
Tidak ada jawaban.
"Jika iya, kenapa kamu harus menangis seperti itu saat kamu melihatku dan Chorong?"
Tidak ada sanggahan.
"Kamu mempermainkanku?"
Tidak ada respon.
Lu Han merasa dirinya bisa gila dengan semua ini, ia menundukkan kepalanya dengan frustrasi. "Kumohon bangunlah. Kenapa kamu selalu tertidur setiap kali aku ingin bertemu denganmu?" lirihnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Menangis.
Dan.
Terisak.
Itulah yang hal yang mengambarkan kondisi Lu Han saat ini.
"Minseok-ah, jika tidurmu ini hukuman untukku. Aku akan menerimanya selama kamu mengabulkan satu permintaanku. Jangan pergi, Minseok-ah. Jangan pergi."
.
.
.
PRANG!
Kyungsoo tidak sengaja menjatuhkan nampan yang tadi dibawanya hingga membuat tiga buah gelas yang tadi ada diatas nampan itu pecah dan isinya mengotori lantai Snowflake Café. Sungguh, Kyungsoo benar-benar tidak sengaja. Dirinya hanya terlalu kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Junmyeon dan Yifan yang saat datang kemari tigapuluh menit yang lalu langsung meminta Snowflake Café untuk segera tutup karena ada pembicaraan serius.
Tak lama setelah Yixing menutup Snowflake Café terlihat Sehun, Baekhyun, Jongin, dan Chanyeol yang memasuki café dan mereka pun lengkap karena Yixing, Zitao, Jongdae, Kyungsoo, Junmyeon dan Yifan sudah berada disini. Mereka sengaja tidak menghubungi Lu Han dan Minseok karena Yifan bilang pembicaraan serius ini tentang dua orang itu.
Pembicaraan tentang keretakkan yang terjadi pada kehidupan rumah tangga Lu Han dan Minseok selama ini.
"Kalian bercandakan?!" Kyungsoo mengabaikan kekacauan yang dirinya buat dan langsung menghampiri sahabat-sahabatnya. "Kalian bercandakan?! Ini tidak mungkin! Tidak! Minseok-hyung… dirinya pasti tidak pernah mengetahui itu…," racaunya dengan tidak jelas hingga Jongdae harus menenangkannya.
"G-ge, kalian ber-bercandakan?" tanya Sehun pada Yifan dengan terbata-bata karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Sayangnya tidak, Sehunnie." Yifan menjawab dengan singkat yang langsung berhasil membuat semua orang yang ada disana terkesiap.
"A-Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana…," Baekhyun mengigit kukunya dengan perasaan panik.
"Ini tidak mungkin! Lu Han-hyung sangat mencintai Minseok-hyung!" seru Jongin sambil mengebrak meja lalu menatap Junmyeon. "Kalian bercandakan? Katakan bahwa kalian bercanda, kumohon!"
"Andai begitu," lirih Junmyeon sebelum menghela napas panjang dengan kepala yang menunduk.
Yixing mengenggam telapak tangannya sendiri, mencoba menenangkan dirinya sendiri sekaligus amarahnya yang memuncak. "Aku sudah tahu gadis itu pembawa masalah," geramnya.
"Jadi…, karena itu aku merasakan ada yang aneh dengan cara Lu Han-hyung mencemaskan Minseok-hyung saat pertama kali masuk rumah sakit," kata Chanyeol pelan dengan tatapan mata kosong.
"Hiks…, hiks." Zitao mencoba menutup bibirnya yang mulai mengeluarkan suara isakan, rasanya seperti perasaan terluka Minseok juga terasa dihatinya.
Bayangkan saja, seseorang yang sudah dihidup denganmu selama bertahun-tahun bahkan mulai mendapatkan tempat spesial dihatimu tiba-tiba mengkhianatimu, menghancurkan hatimu, dan melukaimu berkali-kali seakan-akan kamu masih tidak tahu tentang pengkhianatannya. Apakah ada manusia yang masih bisa tahan dengan seseorang seperti itu?
Tentu saja tidak. Lalu bagaimana dengan Minseok? Apakah laki-laki manis itu bukan manusia hingga sanggup menahan rasa sakit itu?
Hanya satu kata yang ada didalam kepala Yifan, Junmyeon, Yixing, Baekhyun, Jongdae, Chanyeol, Kyungsoo, Zitao, Jongin, dan Sehun tentang tindakan Minseok yang memilih untuk tetap berada disisi Lu Han.
Cinta.
Minseok sudah terlalu mencintai Lu Han.
.
.
.
Kim Minseok adalah laki-laki berhati lembut dan baik, bagi sahabat-sahabatnya dia adalah sosok malaikat tanpa sayap yang selama ini dicari-cari. Entah bagaimana bisa Minseok memiliki hati yang begitu lembut dan baik seperti itu, laki-laki chubby itu bahkan tidak pernah membentak seseorang, bahkan laki-laki itu tidak marah disaat keadaan rumah tangganya terancam karena adanya orang ketiga dan—sebagai tambahan—itu semua adalah kesalahan 'suami'nya. Minseok sangat lembut dan baik, tapi karena kebaikan dan kelembutan itulah ia jadi seperti ini.
Merasakan luka yang sangat dalam dihatinya.
Perasaan tidak tenang dan takut jika nanti 'suami'nya akan meninggalkannya terus saja menghantuinya siang malam.
Serta pemikiran bahwa pernikahannya akan berakhir malah berhasil menyebabkan penyakit yang selama ini dideritanya semakin parah dengan sangat cepat tanpa bisa ia cegah.
Mengingat semua hal itu selalu saja berhasil membuat Minseok kembali berpikir dalam tidurnya tentang kemungkinan jika dirinya pergi maka ia tidak harus merasakan semua itu lagi dan ia memang ingin pergi. Rasa sakit ini benar-benar sakit, bahkan terlalu sakit untuk dirinya. Minseok bukan malaikat, dia hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan rasa sakit dan kesakitan. Hanya saja, setiap kali Minseok memantapkan kakinya untuk melangkahkan pergi, rasanya ada seseorang yang terus-menerus menarik tangannya untuk membuatnya berhenti melangkah.
Tapi, siapa?
Minseok berbalik, tidak ada siapapun disana dan hanya suara isak tangis seseoranglah yang bisa ia dengar.
.
"Don't go."
.
.
.
To Be Continue
.
Author's Note :
Udah pendek enggak memuaskan lagi, tolong salahkan writer block yang sudah menyerangkuㅠㅠini aja belum sepenuhnya hilangㅠㅠ karena itu aku mengila di twitter xD. Padahal niatnya aku pengen bikin fict khusus buat XiuHan Day kemarin, tapi aku cuma bisa bikin satu paragraph plus enggak jelas. Yah, disini teman-teman Lu Han & Minseok udah tahu yang sebenarnya—aku buat agak tersirat soalnya aku enggak mampu bikin penjelasannya karena aku takut kebawa emosi terus nangis (?). Okay, sampai jumpa di A/N lainnya! I loveLuMin/XiuHan, I love you all!
Thanks To :
angstlumin, Afyb, SecretVin137, shinta. lang, zikyu, uchiha. aya, xiurichi, auliaMRQ, ayp, Park Rinhyun-Uchiha, Aoi423, ilchun, Wu Jikyungie, Elferani, Minseokie, kuroshinjubaozi, jiraniatriana, xhksxyz, HamsterXiumin, and Shf799jiael.
Frequently Asked Questions :
Lu Han minta dicincang. Hahahaha~ *ketawa psycho* /eh. Bikin angst ceritanya. *krik-krik-krik* Aku enggak suka angst…ㅠㅠ. Sonsaengnim itu guru kalau untuk dokter itu uisa. Eh? Makasih banget buat koreksiannya, ilchun-ssi! Aku beneran enggak tahu apa-apa dan cuma ikut-ikutan karena terlalu sering baca fanfic dimana dokter dipanggil sonsaengnim xD. Couplenya siapa aja? LuMin-Xiuhan /plakk/ Belum ditentukan, untuk saat ini cuma ada couple utama :). Kenapa Luhan harus sekacau itu kalo pernikahan mereka sendiri gak di landasi perasaan saling suka? Umm…, gimana aku ngejelasinnya ya? Mereka di fict ini emang nikah enggak dilandasi cinta tapi mereka udah kenal lebih dari 10 tahun hidup bersama dan enggak terpisahkan karena kedua orang tua mereka sama-sama sibuk. Pernah aku bikin penjelasannya tapi sekilas (pas pertemuan awal LuMin). Terus udah nikah dan satu atap hampir 5 tahun. Apakah dengan itu semua enggak akan merasa kehilangan atau apapun itu kalau salah satu dari mereka pergi? Aku enggak yakin penjelasanku jelas. Silahkan PM aku klo masih enggak jelas ^^.
.
Thanks for reading.
xoxo,
hunshine delight
