ChanBaek's Fanfiction
Presented By Tinkerbaekk
ㅡ ㅡ
ㅡPlease do not plagiarism this story! This story has a copyright and originaly by tinkerbaekkㅡ
ㅡ ㅡ
Main Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Support Cast : EXO's members, Original Characters.
Warn : Harsh Words, typo (s)
ㅡ ㅡ
Stuck On You : Chapter 10 ; ju
ㅡ ㅡ
Yoshi dan Baekhyun menurunkan koper mereka setelah membuka pintu rumah lama mereka di Seoul. Merasakan kehangatan yang dulu pernah tercipta, Yoshi masuk terlebih dahulu. Kedua tangannya memegang dada, matanya berkaca-kaca memandangi keadaan rumah yang tertata begitu rapi karena setiap hari pembantu suruhan Yunho datang untuk membersihkan rumah itu.
Rumah itu adalah pemberian Yunho sebagai hadiah pernikahannya. Yunho tak bisa datang kala itu karena ia belum siap menghadapi rasa sakit dihatinya melihat Yoshi bersanding bersama perempuan lain yang akan menjadi teman hidupnya. Rumah ini kemudian dipakai Yoshi setelah ia menikah. Bagaimana rasa canggung menjalari atmosfir rumah setelah pernikahan itu terjadi. Lalu perlahan terbentuklah sejumput rasa cinta yang menghantarkan Yoshi dan Jiyoon melahirkan seorang Byun Baekhyun. Lalu di umur Baekhyun yang masih dua tahun, mereka pindah ke Nagoya. Memulai hidup rumah tangga baru hingga melahirkan Aijou. Rumah inipun menjadi bukti bahwa Yoshi dan Jiyoon pernah menumbuhkan rasa cinta.
"Ayah tak apa?" Suara lembut mengalun membuat Yoshi tersadar dari kenangan masa lalunya. "Tidak apa-apa, Bekkyon."
"Aku akan masukkan koper-kopernya." Tak ingin mengganggu acara ayahnya bernostalgia, Baekhyun memilih menyibukkan diri memasukkan koper-koper mereka.
Well, tadi malam mereka berdua pergi ke Seoul, bersama Yunho, Chanyeol, dan Aijou. Pagi hari ini mereka baru tiba di Korea. Tadinya Baekhyun langsung ingin mengunjungi ibunya setelah sampai, tapi sayangnya jetlag menyerang. Maka Baekhyun putuskan untuk beristirahat sampai sore.
Baekhyun terbangun dari tidur akibat jetlagnya saat matahari sayup-sayup hampir tenggelam. Ia bergegas mandi dan berganti baju santai. Saat ia keluar dari kamar, terdengan suara perbincangan. Baekhyun berjalan ke ruang tengah dan menemukan Chanyeol disana tengah berbincang dengan ayahnya.
"Selamat sore," sapa Baekhyun yang kemudian bergabung duduk dengan mereka.
"Bekkyon, Chanyeol bilang ingin mengantarkan kita ke ibumu," ujar Yoshi dengan senyuman tipisnya.
Baekhyun melirik ke arah Chanyeol malu-malu. Bagaimanapun juga setiap Baekhyun melihat Chanyeol, ia selalu teringat akan kencan romantis mereka. Baekhyun benci pipinya yang menjadi merona mengingat hal itu. "Itu bagus," ketusnya.
"Bagaimana kalau kita kesana sekarang?" saran Yoshi. Chanyeol dan Baekhyun hanya mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan berganti pakaian," ujar Yoshi. Laki-laki paruh baya itu bangkit menuju ke kamarnya, meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun dalam keheningan.
"Bagaimana perasaanmu, Baekhyun?" tanya Chanyeol. Ia menoleh ke arah Baekhyun yang kini menunduk. Poninya menutupi mata sipitnya itu.
"Ak-aku gugup. Bagiamana kalau dia benar-benar telah melupakanku?" lirih Baekhyun dengan nada putus asa terselip disana.
"Tidak akan. Percayalah padaku. Aku dan Aijou sudah mengatur semua ini." Chanyeol mengenggam telapak tangan Baekhyun yang berkeringat. Baekhyun tersentak kaget, lalu ia menatap Chanyeol yang tersenyum tipis padanya. Sebuah senyum yang meyakinkan.
"Aku akan berganti baju dulu." Baekhyun hendak bangkit, tapi pergelangannya dicekal oleh Chanyeol.
"Biarkan aku menemanimu, hm?" ujar Chanyeol dengan seringaian menggodanya.
"Dalam mimpimu saja!" Dengan itu Baekhyun menempeleng kepala Chanyeol lalu berlari kecil masuk ke kamarnya dan menguncinya. Berjaga-jaga kalau-kalau Chanyeol nekat masuk.
Sementara itu, Chanyeol terkekeh bak orang bodoh lalu mengaduh kepanasan saat lidahnya bertemu dengan tehnya yang masih sangat panas.
ㅡ ㅡ
Dan disinilah. Baekhyun dan Yoshi duduk dengan gugup di sofa ruang tamu apartemen Jiyoon. Setelah bertahun-tahun, Baekhyun dan Yoshi cukup pangling dengan penampilan Jiyoon. Wajahnya terlihat begitu cantik karena dirawat dengan baik, disamping itu, pakaiannya terlihat sangat berada walaupun itu terbilang kasual untuk dipakai bersantai di rumah. Yoshi meringis dalam hati mengingat betapa buruknya ia menjadi suami dahulu. Ia bahkan tak sanggup membiayai perawatan wajah mantan istrinya.
Setelah pelukan sambutan dramatis tadi, Baekhyun sedikit menghangat hatinya. Kebenciannya pada Jiyoon harus ia pudarkan hari ini juga seperti apa yang Chanyeol katakan.
"Baekhyunie, kudengar kau seorang carrier, nak." Jiyoon tersenyum tipis. Entah kenapa Baekhyun sedikit tersinggung. "Tak apa. Itu bukan berarti orang-orang bisa menganggapmu lemah. Aku yakin kau akan bahagia dengan Chanyeol." Dan hal itu membuat rasa tersinggung Baekhyun perlahan memudar.
"Terima kasih atas nasihatmu, ibu." Baekhyun sedikit gemetar saat mengucapkan kata ibu kembali.
Jiyoon tersenyum tipis. Wanita itu menunduk. Dan mulai terdengar isakan dari wanita itu.
"Jiyoon kau baik-baik saja?" ujar Yoshi khawatir.
"Hiks.. aku bukanlah wanita yang pantas kau sebut ibu, Baek. Aku telah mengkhianati dan menyakiti kalian. Bagaimana bisa kalian masih menganggapku pantas hidup?" Jiyoon berujar di sela-sela tangisannya. Dengan kaku Baekhyun mendekati ibunya. Memeluknya dan mengusap lembut punggung wanita itu, berusaha menenangkan.
"Baekhyun, kau seharusnya sangat membenciku seperti dulu. Kenapa kau mau memberikan tatapanmu kepadaku lagi?"
"Chanyeol bilang, seberapa besar benciku padamu, itu tak sebanding dengan rasa sakitmu saat melahirkanku di dunia ini," Baekhyun berujar dengan lembut.
"Baekhyun hiks." Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya pada anak sulungnya itu.
"Aku tak seharusnya pantas mengatakan ini. Tapi aku, aku ingin keluarga kita kembali." Yoshi dan Baekhyun berpandangan dalam bingung.
Wanita itu kini menatap Yoshi. Ia bangkit dengan tertatih lalu berlutut di kaki Yoshi. "Heechulie, aku ingin kita kembali. Aku sangat menyesal sampai ke inti tubuhku. Tolong bebaskan aku dari rasa sakit yang laki-laki brengsek itu berikan kepadaku. Ia menyakitiku setiap hari. Baik hati maupun fisikku."
Yoshi tak sanggup lagi. Ia mengangkat tubuh Jiyoon untuk duduk. "Apa maksudmu? Dimana ia menyakitimu?"
"Dia hiks punya simpanan. Dia punya tiga. Itulah mengapa aku tidak hamil sampai sekarang. Dia tak ingin aku punya ahli warisnya, atau juga simpanannya. Dia tak mencintaiku. Terkadang jika dia bertengkar dengan simpanannya, dia akan melampiaskannya dengan memukulku hiks."
Pertahanan Yoshi runtuh. Ia ikut menangis sambil memeluk erat mantan istrinya. Sementara itu Baekhyun membeku dalam duduknya. Tanpa sadar, ia juga ikut menangis mendengar pengakuan ibunya mengenai betapa beratnya ia hidup bersama laki-laki selingkuhannya. Yang ia bayangkan selama ini ibunya snagat bahagia hidup bersama suami barunya. Sangat bahagia sampai-sampai ibunya melupakannya. Namun ternyataan kenyataan yang keluar dari mulut Jiyoon menampar keras Baekhyun.
Lalu terdengar bunyi pintu apartemen dibuka. Seorang laki-laki dengan postur sempurna dan setelan kantoran mahal berdiri mematung di tempatnya. "Apa-apaan ini?" bentaknya ketika ia melihat istrinya berada dipelukan sang mantan suami.
Laki-laki itu, Cha Yongwook.
Baekhyun yang memang emosian dan amarahnya sudah terkumpul dalam satu titik, ia berjalan menuju ke selingkuhan ibunya itu.
"Kauㅡsampah kotor, kenapa kau ada disini dengan ayah sampahmu?"
Lalu, tak terelakan Baekhyun meninju mulut laki-laki itu hingga berdarah. Laki-laki itu terkapar di lantai dan dengan itu Baekhyun berada diatasnya. Meninju wajah laki-laki itu habis-habisan. Yoshi mencoba menghentikan Baekhyun namun Jiyoon menghalanginya. Ia begitu lega ketika anaknya dapat melampiaskan amarahnya kepada suami brengseknya itu dengan begitu keras.
Baekhyun baru berhenti ketika ia sadari laki-laki yang ia habisi tak bergerak. Mungkin pingsan. Setelah itu, Baekhyun bangkit dengan tubuh gemetar. Ia mundur perlahan menjauh dari tubuh tak berdaya itu. "Ap-apaㅡapa yang telah aku lakukan?" gumamnya.
"Baekhyun tetap ditempatmu! Aku akan menghubungi Chanyeol."
Baekhyun menatap kosong tubuh Yongwook yang terkapar tak berdaya itu dengan tangan berkeringat dan terdapat jejak darah Yongwook di sela-sela jarinya. Ia baru saja menghabisi seseorang. Entah kenapa wajah Minhyuk sempat terlintas ketika ia menghabisi suami ibunya itu. Baekhyun hanya tak menyadari betapa kerasnya amarah yang ia bentuk kepada orang yang telah menyakiti ibunya sekeji itu dan lampiasan amarah yang ia pendam kepada bajingan pemerkosa itu. Dalam lubuk hati yang begitu dalam, Baekhyun merasakan kelegaan.
ㅡ ㅡ
Keesokan harinya, sidang perceraian antara Jiyoon dan Yongwook dilaksanakan. Aijou sangat sangat bahagia melihat wajah muram mantan suami ibunya itu ketika berbagai tuduhan dilayangkan kepadanya. Hal itu juga membuat Baekhyun dan Yoshi tak melunturkan senyuman mereka selama proses persidangan.
Setelah perceraian itu, Jiyoon menetap bersama Yoshi dan Baekhyun di rumah lama mereka. Mereka memutuskan untuk menikah kembali sebelum Chanyeol dan Baekhyun menikah. Atmosfir rumah itu terasa begitu hangat seperti sedia kala. Sesampainya di rumah, Yunho dan Yoona, istrinya, telah menyambut kedatangan mereka. Chanyeol, Baekhyun, Yoshi, Jiyoon, dan Aijou.
Bahkan Yoona sudah memesan banyak makanan untuk merayakan pesta kecil mereka. Pesta sebagai kembalinya keluarga Byun dan pesta menyambut hari pernikahan Chanyeol dan Baekhyun.
Semua orang berdansa ria dengan musik yang disetel begitu keras. Sementara itu, Baekhyun menyendiri di kamarnya. Ia mengusap foto lama dimana mereka piknik ke Tokyo Tower saat Baekhyun berumur delapan tahun, ia dan ketiga orang yang sangat disayanginya, Yoshi, Jiyoon, dan Aijou menampakkan senyum bahagia mereka, dengan senyuman dan air mata yang berkumpul di pelupuk mata. Ia tersentak ketika ada tangan yang melingkari perutnya.
Baekhyun memiringkan kepalanya kekanan dan langsung disambut dengan hidung mancung Chanyeol. "Bagaimana perasaanmu?"
"Kau benar. Alur hidupku yang baru dan tak terduga ini akan dimulai besok. Aku sangat bahagia sampai rasanya menangis saja tak cukup untuk mengungkapkannya."
Chanyeol tersenyum tipis. Ia mencium pundak Baekhyun membuat Baekhyun membeku dan tak dapat berkedip.
"Kau adalah yang berharga bagiku, Baekhyun. Mari kita mulai alur hidup baru ini bersama. Kau dan aku. Keluarga kita berdua, Park dan Byun."
Baekhyun mengangguk sambil tersenyum menatap mata bulatnya Chanyeol yang tengah menatapnya intens "Aku mencintaimu, Yeol."
"Apa-apaan dengan Yeol? Kenapa rasanya menggelitik saat kau memanggilku seperti itu?" Dengan hiperbolanya, Chanyeol membolakan matanya hingga nampak seperti akan keluar.
"Kenapa? Kau tidak suka panggilan itu?" Baekhyun mulai cemberut dan Chanyeol begitu gemas melihat Baekhyun untuk yang pertama kalinya menampakan wajah seperti itu.
"Ya ampun aku bilang aku tergelitik saat mendengarnya. Itu berarti aku menyukainya, Baek." Dengan gemas, Chanyeol menciumi pundak Baekhyun berkali-kali.
"Aku tak sabar untuk menikahimu astaga."
Baekhyun terkekeh. Ia mencubit hidung mancung Chanyeol dengan gemas. "Ya Tuhan kita bahkan akan menikah dalam waktu yang sangat dekat. Dua hari lagi."
"Ya tapi tetap saja rasanya begitu masih sangat lamaaa." Chanyeol cemberut. Dengan itu Baekhyun membalikkan badannya. Kedua tangan Chanyeol masih di pinggang Baekhyun dan sekarang Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol.
"Yang penting kita akan menikah." Baekhyun menampakkan senyuman perseginya sebentar lalu ia mencium lembut bibir Chanyeol. Ciuman mereka begitu lembut, sedikit bernafsu. Chanyeol bahkan sudah memegang ujung kaos Baekhyun namun Baekhyun menahannya.
"Tidak sebelum kita menikah, Yeol." Baekhyun terkekeh menggoda. Lagi-lagi Chanyeol cemberut dan dengan malas kembali mencium Baekhyun.
ㅡSeason 1 The Endㅡ
Author's notes :
Tenang tenangg bakal ada afterstoryy wankawan.
yakali gue udah taro desc Mpreg tapi belum ada hawa2 Mpreg udah tamat duluan lol.
Jadii yaa hmm yaa hmmm makasih udah sempetin baca hehe semoga kalian mau nungguin Season 2 nya aka afterstorynya hehe.
Okedah anyeonggg
