Good Father

Main Cast : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Jeno, Park Jisung

Genre : Romance

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please. NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION!

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANK YOU ^^

.

.


Saat membuka matanya di pagi hari, Donghae tidak bisa berhenti tersenyum dan terus mengingat kejadian kemarin malam. Oh, yang benar saja, sekarang Donghae merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta. Donghae bergulingan di tempat tidur saking senangnya, lalu memeluk guling, dan kadang menggigitinya dengan gemas. Kejadian semalam bukan mimpi 'kan? Hyukjae memang mengajak Donghae kencan secara resmi 'kan? Ah, Donghae benar-benar merasa sangat bahagia dan tidak bisa menghentikan senyum konyolnya.

Sampai semalam, Donghae masih ragu dan takut Hyukjae hanya main-main. Mengingat Hyukjae pernah melakukan itu saat pertama kali Donghae mengakui perasaannya. Sungguh menyebalkan, Donghae sampai menangis segala dibuatnya. Tapi setelah bicara ditelepon selama berjam-jam dengan Hyukjae, akhirnya Donghae bisa tidur dengan nyenyak. Hyukjae meyakinkan bahwa kali ini dia serius pada Donghae. Well, bagi Donghae itu sudah cukup untuk membuatnya yakin.

"Ayah …" panggil Jeno ketika membuka pintu kamar Donghae dan mendapati ayahnya itu sedang berguling-guling tidak jelas di atas tempat tidur.

Sepertinya Donghae tidak mendengar panggilan Jeno dan terus bergulingan tidak jelas. Selama beberapa saat Jeno berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di dada, dan hanya diam memerhatikan tingkah sang ayah. Memberinya sedikit waktu untuk menikmati aktivitas bergulingannya. Mungkin itu cara terbarunya untuk berolah raga pagi.

"Mau sampai kapan ayah bergulingan di tempat tidur seperti itu?" tanya Jeno setelah dirasa memberi waktu yang cukup untuk ayahnya bergulingan. "Ini sudah jam tujuh lewat dan aku akan kesiangan jika menunggu ayah selesai berguling-guling."

Akhirnya Donghae mendengar suara Jeno dan langsung terperanjat bangun. Jeno ada di sana, memandangi tingkah konyol Donghae dengan wajah datar. Sadar dipandangi aneh oleh sang anak, Donghae beringsut turun dari tempat tidur dan berusaha mengendalikan ekspresi wajah juga menahan senyumnya.

"Lee Jeno?"

"Ya, ini aku Lee Jeno," sahut Jeno. "Anak ayah yang akan kesiangan ke sekolah, jika ayah tidak segera bangun."

"Oh, ayah akan segera menyiapkan sarapan untukmu," kata Donghae sambil berjalan melewati Jeno yang masih berdiri di ambang pintu.

Melihat ada yang tidak beres dengan ayahnya, Jeno memandangi punggung sang ayah yang sedang berjalan menuju dapur dengan tatapan curiga. Dan lihatlah ketika Donghae sampai di dapur, dia memakai apronnya sambil tersenyum dan tiba-tiba mengikik tanpa alasan. Apa apron yang dipakainya melawak? Mengapa Donghae tiba-tiba tersenyum dan mengikik geli? Jeno jadi makin curiga pada ayahnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi.

"Ayah akan membuatkanmu sandwich hari ini," kata Donghae memberi tahu dengan nada sumringah.

"Apa sesuatu terjadi?" tanya Jeno pada ayahnya yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sandwich.

"Hm?" Donghae tersenyum sangat lebar, mengundang tatapan aneh dari Jeno. "Ya, sesuatu yang menggembirakan," jawabnya sumringah.

"Sikap ayah hari ini aneh," kata Jeno tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah sang ayah. "Ayah jadi mirip dengan Jaemin. Dia bersikap seperti itu ketika terjadi sesuatu yang baik terjadi padanya."

"Benarkah?" tanya Donghae yang masih saja tersenyum.

Sesuatu yang baik memang telah terjadi. Donghae tersenyum lebih lebar saat memberikan susu pada Jeno, lalu mulai membuat sandwich isi keju dan ham kesukaan Jeno. "Mungkin memang sesuatu yang baik sedang terjadi pada ayah," katanya riang.

"Ayah menemukan seseorang yang cocok di kencan buta, ya?" tebak Jeno yang tidak biasanya tertarik pada urusan sang ayah.

"Hmm … bisa dibilang begitu," jawab Donghae tidak jelas.

"Ayah yakin dia wanita yang baik?" tanya Jeno memastikan.

Donghae duduk di hadapan Jeno, lalu mulai menyeruput kopinya. "Pokoknya dia baik dan ayah menyukainya," jawabnya sambil tersenyum makin lebar. "Dia juga tidak keberatan dengan kondisi ayah sebagai ayah tunggal."

"Baguslah kalau begitu." Jeno mengangguk sambil memasukkan sepotong sandwich ke mulutnya. "Aku harap hubungan ayah berjalan lancar."

"Terima kasih, jagoan!" seru Donghae sambil mengacak gemas rambut Jeno.

Melihat ayahnya tampak senang, Jeno hanya mengangkat bahu dan tidak ingin bertanya lagi. Jika memang seseorang yang ditemui ayahnya adalah orang baik dan bisa menerima kondisi sang ayah apa adanya, maka Jeno tidak punya alasan untuk protes. Jeno hanya berharap, semoga orang yang akan menjadi pendamping ayahnya kelak adalah seseorang yang baik. Karena Jeno percaya, orang baik seperti ayahnya pantas mendapatkan seseorang yang baik juga.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


"Americano double shot ukuran besar dan laporan dari perusahaan konstruksi." Hyukjae menyimpan dua benda itu di atas meja kerja Donghae, lalu menatap ke pemilik meja yang sedang duduk memandanginya dengan intens. "Apa ada lagi yang kau perlukan?" tanyanya saat sadar sedang dipandangi.

"Ya, tentu saja," jawab Donghae sambil beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Hyukjae yang berdiri di depan meja. "Aku memerlukanmu."

"Memerlukan bantuanku?" tanya Hyukjae memastikan.

"Ya," jawab Donghae sambil duduk di atas meja, di hadapan Hyukjae yang sedang berdiri. "Seperti yang kau lihat, dasiku kurang rapi. Rapikan untukku, seperti yang biasa kau lakukan saat aku mau presentasi."

Tanpa banyak bicara, Hyukjae melakukan perintah Donghae untuk merapikan dasinya. Hyukjae maju selangkah, lalu mulai mengencangkan dan merapikan dasi Donghae. Sementara itu, Donghae mendongak memandangi wajah Hyukjae yang tampak serius merapikan dasinya. Cukup lama Donghae seperti itu, hingga akhirnya ia tiba-tiba memeluk pinggang Hyukjae dengan kedua tangan.

"D-daepyonim …" Hyukjae cukup kaget saat Donghae memeluknya seperti itu. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

"Memelukmu," jawab Donghae sambil mempererat dekapannya dan menyamankan kepalanya di dada Hyukjae. "Yang semalam itu kau tidak bohong 'kan? Kau tidak bercanda 'kan?"

"Oh, itu …" Hyukjae memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba pipinya merasa panas dan merasa tidak karuan. "Tentu saja tidak. Kita sudah membahas ini ditelepon semalam."

"Ya, aku tahu." Donghae menjauhkan kepalanya dari dada Hyukjae dan mendongak, menatapnya dengan mata sendu yang melelehkan hati. "Tapi, kau sungguh-sungguh 'kan?"

Hyukjae membalas tatapan Donghae dan mengangguk ragu-ragu. "Tentu saja …"

Tentu saja … sebenarnya Hyukjae kurang yakin. Sampai saat ini, Hyukjae masih belum yakin dengan keputusannya menjalin hubungan dengan Donghae. Keputusannya mungkin saja benar, tapi juga mungkin saja salah. Hyukjae belum sepenuhnya menyukai Donghae, hanya saja ia merasa nyaman seperti ini. Entahlah, Hyukjae tidak tahu dan bingung. Untuk sementara ini, Hyukjae hanya akan menjalani hubungan mereka tanpa memikirkan hal yang lain.

"… tentu saja aku sunguh-sungguh," lanjut Hyukjae setelah menjeda cukup lama.

Akhirnya Donghae tersenyum, lalu sedetik kemudian ia tiba-tiba menarik dasi Hyukjae hingga wajah keduanya nyaris saling beradu. "Temui aku lagi saat jam makan siang," bisiknya sambil mengecup singkat bibir penuh Hyukjae yang terasa manis.

Wajah Hyukjae kontan saja langsung merah padam, mata doe-nya terbuka lebar, dan mulutnya terbuka. Terlalu tiba-tiba, membuat Hyukjae sangat terkejut. Ini memang bukan pertama kalinya Donghae menciumnya seperti itu, tapi entah mengapa Hyukjae merasa sangat berdebar dan nyaris tidak bisa bernapas dengan benar.

"Mengerti?" tanya Donghae setelah melepaskan dasi Hyukjae dan kembali ke kursinya di balik meja. "Kau boleh pergi sekarang."

"Ya, Daepyonim." Hyukjae mengangguk dan buru-buru membungkuk sebelum meninggalkan ruangan Donghae.

Begitu pintu tertutup, Hyukjae bersandar di pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Mengapa Hyukjae jadi seperti ini?


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Saat jam istirahat, Jeno berkumpul bersama Jaemin dan Jisung di kantin. Jeno menceritakan soal perilaku ayahnya yang mendadak aneh tadi pagi karena menemukan seseorang cocok untuk pendamping hidupnya. Jaemin menyimak antusias, sementara Jisung menyimak sambil meminum susu stroberinya dan sibuk menghabiskan camilan yang dibeli Jaemin.

"Jika ayahmu memutuskan untuk menikah, bukankah itu artinya kau akan punya ibu tiri?" tanya Jaemin sambil mengambil susu pisangnya yang sedang diminum Jeno.

Sejak mulai mengobrol tadi, Jeno dan Jaemin memang berbagi minuman dan sedotan yang sama. Tapi tidak dengan Jisung yang lebih menyukai susu stroberi. Lagi pula, Jisung tidak suka berbagi sedotan yang sama dengan orang lain.

"Hm, tentu saja," jawab Jeno santai.

"Kau tidak takut?" tanya Jisung yang sudah menghabiskan susu stroberi keduanya dan kini ia minum susu yang ketiga. "Katanya, ibu tiri itu 'kan jahat dan tidak bisa menyayangi kita seperti ibu kandung."

"Apa yang harus ditakutkan?" Jeno mengambil susu pisang Jaemin dan meminumnya lagi. "Ayahku bilang, dia orang yang baik."

"Kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Jaemin lagi.

"Belum," jawab Jeno sambil menghela napas. "Sepertinya ayah belum berniat mengenalkannya padaku."

"Kehidupanmu dan ayahmu mungkin akan sedikit berubah ketika ada orang baru hadir di antara kalian," kata Jisung.

"Dan perubahan itu tidak selamanya baik," tambah Jaemin.

"Selama ayahku bahagia dan selama wanita yang dinikahi ayahku tidak cerewet atau banyak aturan, aku tidak keberatan," jelas Jeno pada kedua temannya.

"Bagaimana kalau yang dinikahi ayahmu ternyata bukan wanita?" celetuk Jaemin yang langsung saja dipelototi Jeno.

"Na Jaemin, yang benar saja!" serunya berlebihan. "Seriuslah sedikit!"

"Tapi bagaimana jika yang dikatakan Jaemin hyung benar?" tanya Jisung.

Tentu Jisung yang paling tahu soal ini. Jeno pasti belum tahu bahwa sebenarnya sang ayah menyukai pamannya. Tapi tentu Jisung tidak mau gegabah menceritakannya sembarangan, salah-salah Jisung malah membuat kacau keadaan. Jika Jeno belum tahu, itu artinya ayahnya belum bercerita padanya. Dan pasti ada alasannya mengapa ayahnya Jeno belum bercerita, atau memberi tahu Jeno.

Jeno memutar bola matanya dan mendengus. "Jangan kau juga, Park Jisung!"

Jisung hanya mengendikkan bahunya, lalu melihat ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk. "Oh, sepertinya aku harus kembali ke kelas sekarang," katanya setelah membaca pesan di ponselnya.

"Baguslah, pergi sana!" usir Jeno yang mulai jengah.

"Eh, kenapa?" tanya Jaemin saat melihat Jisung bangun dari kursi. "Ini belum waktunya masuk kelas."

"Ketua kelas memerlukan aku," jawab Jisung sambil bergegas pergi. "Aku duluan ya!"

Jeno menggeleng-geleng melihat Jisung yang langsung berlari meninggalkan kantin. "Dia begitu patuh pada ketua kelasnya, tetapi tidak padaku," katanya sambil berdecak-decak.

Jaemin tertawa pelan melihat Jeno. "Kau benar-benar terdengar seperti kakaknya sunguhan."

"Jika sikapnya sedikit lebih baik dan tidak sedingin itu, aku pasti menginginkan adik seperti dia," kata Jeno sambil ikut tertawa.

"Oh, kita juga harus pergi," kata Jaemin sambil melirik jam tangannya. "Kau ada pelajaran kalkulus dan aku ada pelajaran sejarah. Benar 'kan?"

Jeno mengangguk dan beranjak dari kursi diikuti Jaemin. Baru beberapa langkah meninggalkan kantin, tiba-tiba seorang gadis menghadang jalan mereka. Gadis itu Kim Yeri, senior yang sudah lulus. Oh, dia pernah mengirim surat cinta pada Jaemin saat Hari Valentine.

"Lee Jeno!" seru gadis itu terlihat marah dan kesal sambil memandangi Jeno.

Tentu saja Jeno langsung melirik Jaemin yang terbengong-bengong di sampingnya. Jeno merasa tidak ada urusan dengan gadis bernama Kim Yeri itu, tapi tiba-tiba dia memanggil nama Jeno sambil melotot dan terlihat sangat marah.

"Ya, sunbae?" tanya Jeno bingung. "Ada apa?"

Gadis itu tidak menjawab dan langsung menampar Jeno, membuat Jaemin yang ada di sampingnya tersentak kaget. "Kalau kau tidak menyukaiku, seharusnya kau katakan langsung padaku!" bentak gadis itu sambil menunjuk wajah Jeno. "Kau benar-benar pengecut!"

Setelah berkata begitu gadis itu pergi, meninggalkan Jeno yang masih kebingungan dan tidak mengerti. Jeno benar-benar tidak habis pikir, mengapa gadis itu menamparnya tanpa alasan? Memikirkannya, membuat Jeno jadi kesal. Jeno memegangi pipinya juga terasa perih dan panas, gadis itu menamparnya dengan sangat keras tadi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jaemin sambil menatap pipi Jeno yang merah.

"Kenapa gadis itu menamparku tanpa alasan?" tanya Jeno kesal. "Dia pasti sudah tidak waras!"

"Dia punya alasan yang cukup kuat," jawab Jaemin dengan suara pelan.

"Apa maksudmu?" tanya Jeno tidak mengerti.

Jaemin tidak menjawab dan malah menununduk, menggigiti bibir bawahnya. Seperti kata pepatah, sepintar apa pun menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Dan serapat apa pun menyimpan kebohongan, pasti suatu saat akan ketahuan juga. Tidak ada pilihan lain, Jaemin memang sudah saatnya jujur pada Jeno.

"Bisa kita bicarakan ini di atap?" tanya Jaemin yang akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Jeno.

"Aku tidak bisa melewatkan pelajaran kalkulus," jawab Jeno. "Kita bicara sepulang sekolah nanti."

Jaemin hanya bisa mengangguk dan membuang napas. Sepertinya, Jaemin harus bersiap-siap kehilangan Jeno. Setelah Jaemin jujur nanti, mungkin Jeno akan membencinya dan tidak mau berteman lagi dengannya.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Saat jam makan siang tiba, Hyukjae benar-benar datang ke ruangan Donghae. Setelah mengetuk pintu dan masuk, Hyukjae dipersilakan duduk di sofa. Sudah lama sekali rasanya Hyukjae tidak duduk di sini dan mendengarkan curahan hati Donghae. Tapi sepertinya, kali ini Hyukjae dipanggil bukan untuk mendengarkan curahan hatinya. Mungkin Hyukjae dipanggil karena alasan yang lain.

"Sudah lama kita tidak makan bersama, benar 'kan?" tanya Donghae sambil menatap Hyukjae yang duduk di hadapannya.

Hyukjae membalas tatapan Donghae dan mengangguk. "Ya, begitulah. Jadi, kau mau makan di luar lagi? Makan samgyetang atau seolleongtang?" tebaknya yang ternyata salah.

"Tidak." Donghae menggeleng dan beranjak dari sofa, berjalan kembali ke mejanya dan mengambil sesuatu dari tasnya. "Kita makan di sini," katanya sambil menunjukkan kotak bekal yang entah isinya apa.

"Kotak bekal?" tanya Hyukjae heran. Ini pertama kalinya Hyukjae melihat Donghae membawa kotak bekal ke kantor.

"Tadi pagi aku membuat sandwich untuk Jeno dan ternyata sisanya masih banyak. Jadi, aku bawa saja kemari," jawab Donghae sambil membuka kotak bekalnya. "Bentuknya memang kurang indah, tapi ini enak dan bisa dimakan."

Melihat sandwich buatan Donghae yang memang sedikit berantakan itu membuat Hyukjae tidak bisa menahan tawanya. "Bentuknya jelek sekali," katanya sambil mengambil sepotong.

Donghae berdecak tidak senang. "Yang penting bisa dimakan dan rasanya enak!"

"Hmm, kau benar," kata Hyukjae setelah makan segigit, membuat Donghae tersenyum senang.

"Enak?" tanya Donghae, berharap dapat pujian dari Hyukjae.

"Rasanya seperti sandwich," lanjut Hyukjae yang langsung membuat Donghae kesal dan melempar tutup kotak bekal yang masih dipegangnya barusan.

"Yang benar saja, Hyukjae!" serunya kesal.

Hyukjae tertawa geli melihat Donghae merajuk. "Baiklah, baiklah, rasanya memang enak."

"Ah, sudahlah! Aku jadi tidak mau melihatmu. Pergi sana!" usir Donghae sambil melipat tangan di dada dan memalingkan wajahnya.

"Kau marah?" tanya Hyukjae yang masih tidak bisa menahan senyumnya.

"Tidak tahu!" jawab Donghae galak. "Pergi sana!"

Hyukjae beranjak dari tempatnya dan berpindah duduk di samping Donghae, menghadap ke arahnya. "Uh, manisnya jika Lee Donghae sedang merajuk," katanya sambil menangkup pipi Donghae dengan kedua tangannya.

Donghae tidak bereaksi dan menatap Hyukjae cukup lama dengan raut wajah datar, lalu tiba-tiba ia mencengkeram kedua tangan Hyukjae dan mendorongnya hingga berbaring di sofa. Kini Hyukjae berada di bawah kungkungan tubuh atletis Donghae.

"Daepyonim …" panggil Hyukjae dengan suara pelan.

"Jangan menyentuhku tiba-tiba seperti itu," kata Donghae sambil menatap lurus mata doe Hyukjae.

"Oke, maafkan aku." Hyukjae berpikir Donghae tersinggung dan marah, tapi kemudian Donghae tiba-tiba mengecup bibirnya, lalu memagutnya singkat.

"Kau membuatku berdebar," kata Donghae setelah setelah melepaskan pagutan singkatnya. "Aku takut tidak bisa menahan diriku jika kau terus seperti itu."

Donghae kembali mendekatkan wajahnya, tapi Hyukjae buru-buru memalingkan wajah. "Ini masih di kantor," katanya pelan.

"Jadi, kalau di luar kantor aku boleh melakukannya sesuka hati?" tanya Donghae sok polos.

"Bukan begitu!" seru Hyukjae.

"Lalu, di mana aku boleh melakukannya?" tanya Donghae yang masih saja mengunci tatapan Hyukjae.

"Melakukan apa?" Hyukjae balik bertanya dan Donghae langsung tertawa pelan.

"Menciummu," jawab Donghae. "Memangnya kau berpikir aku mau melakukan apa?"

"Itu …"

"Apa? Melakukan sesuatu seperti waktu di Pulau Jeju?" sela Donghae, tidak membiarkan Hyukjae bicara lagi. "Bukankah katanya kau tidak mengingat kejadian itu?"

"Daepyonim!" Wajah Hyukjae memanas saat mengingat kejadian malam itu. Memang Hyukjae tidak ingat sepenuhnya, tapi ia masih ingat saat melucuti pakaian Donghae.

"Panggil namaku dengan benar," pinta Donghae.

"Lee Donghae!" panggil Hyukjae tanpa ragu. "Ini masih di kantor dan kau melakukan hal yang tidak seharusnya pada sekretarismu!"

"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi." Donghae mengecup kening Hyukjae, lalu menariknya bangun dari sofa. "Kembalilah ke ruanganmu, kita ada presentasi setelah makan siang 'kan?"

Hyukjae berdiri dan merapikan jasnya, lalu menatap tajam Donghae yang masih duduk di sofa. Memandanginya dengan tatapan genit. "Dengar ya, Daepyonim. Saat di kantor kau dilarang melakukan hal seperti tadi!"

"Jadi itu artinya, kau membolehkan aku melakukannya di tempat lain 'kan?" tanya Donghae, menggoda Hyukjae.

"Kau memang keras kepala!" seru Hyukjae jengkel.

Donghae menggeleng tidak setuju. "Bukan keras kepala, hanya memastikan."

"Terserah!" Hyukjae mendengus, lalu membungkuk. "Aku permisi, Daepyonim."

Kemudian Hyukjae meninggalkan ruangan Donghae dan tidak lupa membanting pintu dengan keras. Membuat Donghae sedikit kaget, tapi juga tidak bisa berhenti tersenyum. "Gila … makin dia galak, makin aku menyukainya."


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Hyukjae memasang wajah kesal saat meninggalkan ruangan Donghae, tapi saat sampai di ruangannya ia langsung tersenyum tidak jelas. Hyukjae tidak tahu, tenyata Donghae orang yang penuh kejutan dan tidak terduga. Padahal, selama ini Hyukjae merasa sudah cukup mengenal Donghae. Meskipun belum bisa menerima Donghae sepenuh hati, tapi Hyukjae cukup nyaman menjalani hubungan ini. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu, suatu saat Hyukjae bisa menerima Donghae sepenuhnya. Bukan karena keadaan atau kondisi, tapi karena hatinya yang memang menginginkan Donghae.

"Sekretaris Lee, kau ada di dalam?"

Itu suara Donghae, hampir saja Hyukjae terlonjak kaget karena sibuk melamun. Hyukjae membuka pintu dan menatap Donghae penuh tanda tanya.

"Aku datang untuk memberikan sesuatu yang tertinggal," katanya.

"Apa?" tanya Hyukjae yang merasa tidak meninggalkan apa pun di ruangan Donghae.

"Sandwich," jawab Donghae sambil memberikan kotak bekal ke tangan Hyukjae. "Aku membuatkannya untukmu, jadi tolong habiskan."

Hyukjae membuang napas dan tersenyum. "Baiklah, Daepyonim. Terima kasih sudah repot-repot mengantarkannya kemari."

"Ada lagi!" seru Donghae sambil menahan pintu yang tadi akan ditutup Hyukjae.

"Apa lagi?"

Donghae merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu, lalu memberikannya ke tangan Hyukjae. "Aku suka rasa bibirmu, tapi aku lebih menyukai aroma dan rasa ini."

Sebuah lipbalm aroma jeruk ada di tangan Hyukjae. "Apa ini?" tanyanya heran.

"Lipbalm," jawab Donghae. "Kau suka pakai lipbalm 'kan?"

"Ya, tapi … kapan kau membeli ini?" tanya Hyukjae masih heran. "Dan sejak kapan kau tahu aku suka pakai lipbalm?"

"Hmm, aku membelinya sepulang dari Pulau Jeju waktu itu," jawab Donghae jujur. "Dan aku tahu sejak pertama kali kau jadi sekretarisku. Setiap kali mau bertemu klien atau presentasi, kau selalu mengoleskan benda itu di bibirmu."

"Daepyonim …"

"Pokoknya aku suka jika bibirmu terasa seperti jeruk." Donghae tersenyum konyol, lalu mencuri kecupan dari Hyukjae sebelum berlari kembali ke ruangannya.

Sementara itu Hyukjae hanya mematung di tempat, lalu tak lama ia tersenyum geli. Lee Donghae benar-benar tidak bisa diprediksi. Mungkin itulah yang membuatnya tampak menarik di mata Hyukjae. Selain tampan, Donghae juga penuh dengan kejutan dan tidak terduga. Dan yang paling penting, Donghae sangat manis. Hyukjae menyukai perlakuannya.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Jaemin menunggu Jeno dengan gelisah di atap gedung sekolah. Otaknya sibuk merangkai kata yang pas untuk disampaikan pada Jeno nanti. Meskipun sudah yakin Jeno akan membencinya setelah pembicaraan ini, Jaemin tetap ingin memberikan alasan yang bagus, atau setidaknya masuk akal. Memang Jaemin akui telah membohongi Jeno dan itu salah, tapi semua karena ada alasannya. Tapi mungkin, alasannya juga tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, membohongi Jeno adalah yang seharusnya tidak Jaemin lakukan.

"Na Jaemin," panggil Jeno yang baru tiba di atap.

"Jeno …" Jaemin memandangi Jeno yang sedang berjalan ke arahnya. Kata-kata yang sudah dirangkainya barusan mendadak buyar.

Jeno sudah berdiri di hadapan Jaemin, tapi tidak sepatah kata pun yang dapat diucapkan. Jaemin masih tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Apakah harus memberikan Jeno alasan dulu? Atau, haruskah Jaemin menjelaskan kebohongannya dulu? Tatapan Jeno begitu menuntut, tapi Jaemin benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Jaemin takut kehilangan Jeno setelah menjelaskan semuanya.

"Apa yang mau kau bicarakan padaku?" tanya Jeno tanpa basa-basi.

"Mengenai gadis itu," jawab Jaemin setelah berpikir cukup lama dan merangkai kata-katanya dengan susah payah.

"Ya, lalu?" tanya Jeno lagi dengan nada mendesak.

Untuk beberapa detik, Jaemin merasa lidahnya kelu dan tidak bisa bicara. Tatapan Jeno begitu menuntut, membuat Jaemin tidak bisa menyusun kata-katanya dengan benar. Sempat terpikir untuk berbohong lagi, tapi kemudian Jaemin berpikir hal itu malah akan memperumit masalah.

"Jaemin!" panggil Jeno dengan suara keras. "Sebenarnya ada apa? Katakan sesuatu."

Akhirnya Jaemin menghela napas dan memutuskan untuk mengatakan semuanya dengan jujur. Berharap, dengan begitu hubungannya dengan Jeno masih bisa diselamatkan. "Gadis itu … dia sebenarnya tidak pernah menyukaiku."

"Apa maksudmu?" tanya Jeno tidak mengerti.

"Gadis itu menyukaimu!" jawab Jaemin sambil mengigit bibir bawahnya. "Surat yang ada di lokerku waktu itu, sebenarnya ditujukan padamu."

"Na Jaemin …"

"Karena tidak berani menyampaikannya langsung padamu, gadis itu memintaku untuk menyampaikan surat itu padamu," lanjut Jaemin tanpa membiarkan Jeno bicara. "Aku tahu sejak awal membaca surat itu, tapi aku tidak mau menyampaikannya padamu."

"Kenapa?"

Jaemin membuang napas dan sekali lagi memberanikan diri menatap Jeno. "Aku tahu ini kekanakan dan tidak termaafkan, tapi saat gadis itu menyuruhku untuk memberikan tiket drama musikal padamu, aku tidak memberikannya padamu. Dan sebagai gantinya, aku yang datang ke sana."

"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Jeno.

"Karena … karena …" Jaemin tidak bisa mengucapkannya, ada konflik dalam pikiran dan hati kecilnya.

"Karena kau menyukai gadis itu?" tebak Jeno. "Na Jaemin, kau tidak perlu sampai …"

"Aku menyukaimu …" sela Jaemin yang tentu saja membuat Jeno terkejut setengah mati. "Aku tidak ingin kau menemuinya. Itu sebabnya, aku bilang pada gadis itu agar menyerah padamu."

"Itu sebabnya gadis itu menamparku?" tanya Jeno lagi. "Semua karena dirimu?"

"Maafkan aku, Jeno," kata Jaemin suara yang sangat pelan. "Aku tahu ini salah, tapi …"

Jeno membuang napas dan mengusap wajahnya, gusar. "Kau sudah gila, Na Jaemin."

"Maafkan aku. Kau boleh membenciku dan …"

Kalimat Jaemin terhenti, Jeno tiba-tiba mengecup singkat bibirnya dan memeluknya. "Jangan bicara lagi, atau aku akan marah."

"Lee Jeno …" Jaemin membelalakkan matanya, terkejut dengan perbuatan Jeno.

"Aku bilang jangan bicara lagi, Jaemin," sela Jeno. "Dengar, seharusnya kau mengatakannya langsung dan tidak perlu berbuat sejauh ini."

"Apa maksudmu?" tanya Jaemin bingung. "Kau tidak marah padaku?"

"Aku marah padamu karena tidak jujur padaku!" jawab Jeno yang masih memeluk Jaemin. "Meskipun kau tidak melakukan hal ini, aku tetap akan menolak gadis itu. Atau gadis manapun."

"Kenapa?" tanya Jaemin yang masih kebingungan.

"Karena aku hanya menyukaimu, Na Jaemin bodoh!" jawab Jeno sambil menahan malu. "Kau ini benar-benar bodoh!"

Jaemin melepaskan pelukan Jeno dan mendorongnya hingga mundur beberapa langkah. "Lee Jeno, kau pasti sudah gila!"

"Benar aku memang sudah gila!" Jeno menyahut cepat, membuat Jaemin menatapnya kaget. "Aku sudah gila karena menganggapmu lebih manis dari gadis manapun dan aku sudah tidak waras karena selalu berdebar saat berada di dekatmu."

"Apa?" Jaemin masih mematung, tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya barusan. "Kau pasti salah makan."

"Kita bahas itu nanti." Jeno menggenggam tangan Jaemin dan menariknya, membawanya keluar dari sana. "Hari sudah malam dan di sini menyeramkan, kita bahas itu nanti di rumah."

Tidak ada yang bisa Jaemin lakukan selain membiarkan tangannya digenggam Jeno dan dibawa entah ke mana. Jaemin terlalu terkejut untuk berkata-kata atau sekedar bereaksi. Semua terlalu mengejutkan dan di luar dugaan Jaemin. Bukankah seharusnya Jeno sekarang marah dan membencinya?


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Sudah hampir dua puluh menit Jisung memerhatikan pamannya yang sedang senyum-senyum memandang ponselnya. Sejak pulang dari kantor beberapa jam yang lalu, Hyukjae tidak berhenti tersenyum dan nyaris tidak bergerak dari sofa. Jisung tahu, pasti pamannya itu sedang bertukar pesan dengan seseorang. Dan Jisung menebak, seseorang itu pasti bosnya.

Tiba-tiba saja Jisung teringat pada obrolannya dengan Jeno dan Jaemin siang tadi. Jika Jeno tahu orang yang disukai ayahnya adalah sang paman, kira-kira akan bagaimana reaksinya? Jisung memang turut berbahagia untuk pamannya, tapi juga ia merasa khawatir saat memikirkan masa depan pertemanannya dengan Jeno. Kalau Jeno tidak bisa menerima hubungan ayahnya dengan sang paman, bisa saja 'kan hubungan pertemanan mereka putus. Jisung tidak mau itu terjadi.

"Apa samchon sungguh-sungguh menyukai Daepyonim?" tanya Jisung memecah keheningan.

Hyukjae mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Jisung yang sedang duduk di lantai. "Apa maksudmu?" tanyanya kurang paham.

"Samchon tahu maksudku," jawab Jisung sambil menghela napas. "Ini mengenai hubunganmu dengan daepyonim, ayahnya Jeno."

"Jisung, tidak seperti itu …" Hyukjae menggigit bibirnya, mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan pada Jisung. "Hmm, kami … kami tidak dalam hubungan seperti itu."

"Kau bahkan menyebutnya 'kami' bukan 'dia dan aku'." Jisung menghela napas lagi, lalu menatap Hyukjae. "Aku sudah tahu sejak saat paman mengacaukan kencan buta daepyonim beberapa waktu lalu."

"Jisung …"

"Seperti yang pernah aku katakan pada samchon, aku tidak akan mengatakan apa pun jika memang samchon menyukai daepyonim," sela Jisung sebelum Hyukjae sempat berbicara. "Tapi, sepertinya Jeno masih belum tahu dan berpikir ayahnya sedang menjalin hubungan dengan seorang perempuan."

"Maksudmu?" tanya Hyukjae tidak mengerti.

"Jika Jeno belum tahu, itu artinya daepyonim belum memberi tahunya," jawab Jisung. "Kita tidak tahu, apakah Jeno bisa menerima hubunganmu dengan ayahnya, atau sebaliknya."

Hyukjae tidak menyahut dan hanya diam sambil memikirkan kata-kata Jisung. Benar, hubungan mereka bukan hanya melibatkan satu sama lain, tapi juga ada Jeno dan Jisung yang harus mereka pikirkan. Seperti yang pernah Hyukjae duga sebelumnya, hubungan mereka mungkin tidak akan mudah ke depannya.

"Jika seandainya Jeno tidak setuju dengan hubungan kalian, hubunganku dengan Jeno juga mungkin akan mengalami perubahan." Jisung menambahkan sambil melirik pamannya yang tiba-tiba bungkam. "Jika itu terjadi, berarti aku harus siap kehilangan seorang teman yang berharga. Samchon sendiri mungkin sudah tahu, Jeno adalah teman dekat pertamaku."

Tidak ada yang bisa dikatakan Hyukjae saat ini, jadi ia hanya terus diam. Bagaimanapun Jisung memang benar. Jika Jeno tidak setuju dengan hubungan mereka, apa yang akan dilakukan Hyukjae? Dan jika Hyukjae melanjutkan hubungannya dengan Donghae, mungkin bukan hanya Jeno yang akan terluka, tapi juga Jisung. Demi mempertahankan hubungannya, Hyukjae mungkin akan melukai banyak orang. Jadi, haruskah dipertahankan? Atau, haruskah diakhiri sebelum Hyukjae benar-benar menyukai Donghae? Jika suatu saat Hyukjae mulai mencintai Donghae dengan sepenuh hati, semuanya mungkin akan makin rumit.


。・:*:・゚ ,。・:*:・。D&E。・:*:・゚ ,。・:*:・。


With Love,

Milkyta Lee