Hey!

This is Yoon Soo Ji, the one who abandoned ffn for two weeks of torture in school.

And I'm still alive, hell yeah, bit-

Stop.

Okay, jadi aku akhirnya bisa update ceritaku yang satu ini, aku benar-benar merasa ingin mati karena ujian TT.

Anyway, enjoy the story, guys.

Fall, Everything

Xiumin masih menatap Luhan yang tersenyum dengan terkejut, dia mempercayai semua tindakan gadis itu yang sedikit sembrono kadang-kadang, tapi tak pernah terbesit di pikirannya bahwa dia akan melakukan hal seperti itu.

"Apa kau gila?" Tegurnya, matanya melotot, menatap pil putih di tangan yang lebih muda yang sangat jelas apa fungsinya. "Kita tak tahu sekuat apa obat ini, kau akan berada disini selamanya."

Luhan tersenyum lagi, "Aku sudah memikirkannya, Xiumin." Jawabnya tenang, "Tak ada gunanya aku berada disana lebih lama. Sehun tahu siapa aku, dia sangat membenciku. Tak ada tempat lagi bagiku."

"Tapi, Lu-" Sebuah tangan menepuk pundaknya dan Changeling tak sempurna itu beralih ke arah mata kekasihnya yang dengan tenang – lebih tenang dari Luhan – menganggukkan kepala.

"Aku akan bicara padanya."

.

"Aku tak bercanda ketika aku mengatakan bahwa Xiumin amat sangat peduli padamu." Mulai Chen ketika mereka kembali ke padang rumput tempat mereka bicara empat mata sebelumnya, "Aku juga tak percaya ada orang segampang dirimu."

Luhan hanya diam, membiarkan Chen memberinya ceramah sepanjang apapun.

"Kau terlalu sembrono, Luhan." Aku tahu, jawabnya dalam hati. "Kau terlalu lemah untuk berada disini." Lemah, Luhan mengamini, masih menundukkan kepala. "Tapi bukan berarti kau bisa menyerah begitu saja."

Barulah gadis itu menaikkan kepalanya.

"Xiumin percaya padamu," Ucapnya, "Aku juga akan mempercayaimu."

"Seperti katamu," Jawabnya, hendak menyangkal perkataan Lycan di depannya, "Aku terlalu lemah." Chen hanya bisa menghela nafasnya, membiarkan yang lebih muda melanjutkan perkataannya. "Aku terlalu lemah untuk membunuh, dan aku terlalu lemah hingga jatuh cinta padanya."

Pria itu memijat pelipisnya, kesal. "Kalian berdua sama saja." Gumamnya. "Kau dan Xiumin memiliki kegoyahan yang sama. Tapi dia tak lemah-"

"Dan aku bukan Xiumin."

"Dengarkan aku dulu," Sanggahnya, "Aku tak memintamu untuk menjadi seperti Xiumin. Aku hanya memintamu untuk berpikir matang-matang. Pacarku benar-benar mengkhawatirkanmu, dia takut hal yang sama terjadi padamu Luhan. Dan jika memang itu terjadi, dan dia harus mengemban rasa khawatir, aku akan membunuhmu untuk terakhir kalinya."

"Kenapa kau terus memintaku untuk berpikir matang-matang?" Ucap Luhan frustasi, tangannya membantung tanah lembut di atasnya, "Aku sudah ada disini, aku akan mendatangi mereka sebentar lagi. Sehun membenciku, Kim Jongdae!"

"Jangan memanggil nama manusia itu, Luhan!" Bentak Chen, dia sudah cukup bertukar pendapat baik-baik dengan bocah itu, sepertinya gadis ini perlu diperingatkan sekali lagi akan bahaya yang mengancam jika dia memilih jalan yang dia ambil sekarang.

Tapi sebelum dia dapat berucap, Xiumin sudah berlari-lari dari dalam hutan, tangannya yang kuat menyangga tubuhnya sementara dia melompat-lompat menuju mereka, dan Chen harus bangkit dan menghentikan kekhawatiran yang terpancar dari kekasihnya.

"Ada apa, Minnie?" Tanyanya lembut dan kekasihnya hanya dapat menahan nafasnya yang menderu dengan cepat.

"Mereka tahu Luhan ada disini, mereka-" Xiumin menarik nafas lagi, "Mereka mendatangiku tadi, mereka nyaris saja-" Chen langsung memeluknya, dia tahu seberapa takut Xiumin terhadap Spartoi ganas yang bertugas mencari para buronan.

"Kau harus lari," Dia menatap Luhan yang masih terpaku, "Jika kau masih ingin hidup, lari sekarang, Luhan."

Tapi gadis itu hanya menatap pasangan di depannya dengan hampa. Dirinya kembali teringat Sehun, bagaimana dia membanting pintu kamar dengan kasar usai percakapan mereka dan Luhan yang berakhir meminta seekor Amphisbaena di kamarnya untuk pergi mencari cara untuk mendapatkan obat tidur.

Tak ada tempat baginya di dunia fana, bahkan di negeri orang mati tempat dia seharusnya berada, dia tetap tak memiliki tempat yang pantas. Tak ada gunanya dia terus lari seperti ini, tak ada gunanya dia terus bersembunyi dalam pelukan Sehun, dia akan selalu kembali dan mereka akan selalu menunggu.

Dengan mantap, gadis itu masuk ke dalam hutan, mengabaikan teriakan Xiumin yang terus memanggil namanya. Luhan membiarkan para Spartoi mengepungnya dan mengunci pergerakannya, membelenggu tangannya dengan tulang-belulang. Dan ketika dia melihat ke belakang, Xiumin telah meneteskan air mata di dalam dekapan Chen.

.

Sehun masih menggenggam tangan Luhan dalam tidurnya. Dalam keadaan panik, dia membawa gadis itu ke rumah sakit dan dokter memberinya diagnosa yang sudah amat jelas. Overdosis. Dan dia hanya perlu menunggunya terbangun setelah mereka memberinya sekian obat yang tak dia mengerti.

Remaja itu mengeratkan tangannya sementara matanya mengerjap terbuka. Di sampingnya, masih terbaring Luhan yang tak sadarkan diri. Dengan lembut, dia mengusapkan bibirnya ke tangannya. Kenapa dia merasa sangat menyayanginya sementara di sisi lain dia membencinya?

Melihat gadis itu yang tertidur sekarang ini, wajahnya pucat dan rambutnya tergerai kemana-mana membuat Sehun semakin merasa bersalah. Seharusnya mereka ada di rumah sekarang, melakukan apapun yang pasangan seperti mereka lakukan, mengunjungi ibu mereka contohnya.

Ibu mereka. Astaga, Sehun nyaris lupa. Sepertinya dia harus mengunjungi pusara sang ibu sekarang juga. Entah apa yang ibunya pikirkan jika melihatnya seperti ini. Dengan perlahan, dia melepaskan tangan Luhan dan beranjak pergi.

.

Meletakkan bunga di makam bertuliskan Hwang Sena, dia menunduk sebelum duduk di sampingnya. "Eomma, aku datang." Sapanya.

"Eomma, aku bertemu seseorang," dia memulai, tersenyum konyol. "Kami melakukan... banyak hal. Tapi dia berbohong, Eomma," Ucapnya lagi, "Dia bukan dari dunia ini. ini sangat gila, Eomma, aku mengira kami akan baik-baik saja, walau dari awal kami memang bukan pasangan normal."

Dia kembali tertawa, dia merasa konyol untuk bicara di depan pusara sendirian, tapi entah ibunya masih hidup atau telah tiada, hanya dia yang bisa membuatnya tenang seperti ini. "Aku... aku ingin membencinya, Eomma, aku benar-benar ingin membencinya."

Sehun menelan ludahnya.

"Tapi, Eomma, kenapa aku masih sangat mencintainya?"

Tanpa disadarinya, sosok berbaju putih di belakangnya menatapnya hampa. Sena menggelengkan kepalanya, melihat putra sulungnya terlihat begitu menyedihkan. Dia ingin menyalahkan seseorang, tapi dia tak bisa menyalahkan Luhan. Gadis itu sama tersiksanya dengan Sehun sekarang ini, bahkan lebih tersiksa.

Berita menyebar dengan sangat cepat dan luas, bahkan dunia bawah terkejut mendengar berita seorang Changeling muda rendahan berani menentang perintah dan telah dicari sekian lama untuk ditarik kembali ke negeri orang mati. Dan Sena juga sudah mendengar bahwa Changeling itu sudah ditemukan.

Bagaimana dia bisa memberitahu Sehun ini?

Bagaimana dia bisa memberitahu bahwa Luhan mungkin takkan bangun lagi?

Seorang berdiri disampingnya, menghela nafas. "Jika kau seperti ini terus, takkan ada gunanya." Ucap orang itu, dan roh tersebut segera menatapnya, kebingungan karena dia bisa melihatnya. "Halo, Omonim, kita sudah lama tak bertemu."

Jongin menundukkan kepalanya, tersenyum. Sena baru menyadari itu adalah teman sekelas Sehun yang sering berkunjung ke rumah mereka. "Kau," mulainya, masih terkejut bahwa dia bisa melihatnya.

"Aku akan membicarakan ini dengan Sehun, tenang dan pulanglah, Omonim. Kau tak bisa berlama-lama disini." Jongin menjentikkan jari dan sebelum Sena dapat berkata-kata, dia tertarik ke dalam pusara angin dan berdenyar pergi.

Remaja itu tersenyum sebelum mendekati sahabatnya yang masih menunduk di samping makam ibunya, lalu berjongkok di dekatnya. "Aku minta maaf kakakku harus menyebabkan kekacauan ini."

"Kakakmu?" Ulang Sehun, "Siapa?"

"Park Chanyeol itu." Jawabnya santai, seolah itu adalah hal paling normal di dunia. "Kau pasti sangat marah padanya sekarang ini." Sehun masih menatap teman sekelasnya, tak percaya. "Aku, atas namanya, meminta maaf."

"Jongin, ini tak lucu."

Yang lebih muda menghela nafas, "Aku serius, Sehun." Dia meyakinkan. "Ini sedikit rumit sebenarnya, tapi berhubung kau juga memiliki darah indigo, ini akan sedikit mudah."

"Darah indigo?" Ulang Sehun. Jadi selama ini, kedua sahabat gilanya memiliki takdir keturunan yang sama sepertinya dan mereka dengan teganya membiarkannya tak tahu sama sekali? "Apa kau bahkan serius?"

"Positif." Jawabnya, raut bercandanya yang selalu ada menghilang seketika. "Kau dan ayahmu mungkin lebih sering berada di Padang Timur, karena kebanyakan manusia akan terdampar disana jika berada di negeri orang mati."

Samar-samar, Sehun kembali mengingat, mimpinya yang terkadang, hanya sekali dua, membawanya ke sebuah hamparan rerumputan, semilir angin lembut dan semerbak bebungaan liar. Dan remaja itu menyadari bahwa sahabatnya memang benar.

"Tapi Appa, Appa sedikit aneh." Dia menahan tawanya, "Dia dengan lancang masuk ke teritori selatan, ayahmu pernah bercerita tentang Ratu Bada?"

Sehun mengangguk perlahan. Dia ingat sosok samar yang diceritakan sang ayah. Sosok bergaun keperakan dengan wajah nan cantik dan rambut sewarna madu yang tumbuh hingga ke bahunya.

"Dia ibuku," Jongin tersenyum, "Chanyeol terlahir dua tahun sebelumku, kami baru mengenal ketika aku berumur lima tahun." Dia menatap wajah kebingungan Sehun dan tertawa kecil, "Intinya adalah, berhubungan dengan makhluk lain tak masalah, apalagi jika kalian saling mencintai."

"Aku tak tahu, Jongin, setelah apa yang Appa lewati-"

"Ayahmu mati untuk melindungimu," Balasnya, "Aku bukan mencoba untuk membuatnya merasa bersalah, tapi ayahmu mati untuk itu, dan jangan buat Luhan mengorbankan hidupnya juga."

Sehun mengernyit. Luhan. Dia baru teringat bahwa dia meninggalkannya di rumah sakit dalam keadaan tak sadar tadinya. "Kenapa? Ada apa dengannya? Dia overdosis, dia akan segera bangun."

"Kau pikir dia overdosis karena apa?" Sehun terdiam, "Kemampuan Amphisbaena untuk menemukan obat-obatan sangat di luar kemampuan, dan dia mampu menemukan obat yang tak mematikan jika itu hanya diminum tanpa arti. Tapi keinginannya untuk pergilah yang membuatnya sekarat sekarang."

"Luhan," Gumam Sehun, semakin meras tertekan atas apa yang telah dia lakukan, "Astaga, Luhan." Sehun menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Berhenti menyebut namanya." Tegur Jongin dan remaja itu merasa tersedak ludahnya sendiri. Itu adalah kalimat yang persis dia lontarkan pada Luhan, dalam keadaan berlinang air mata, rapuh, dan merasa bersalah. Dan Sehun telah membentaknya.

"Aku harus pergi." Tak tahu, bagaimanapun itu, dia harus bertemu Luhan kembali, dia harus menyelesaikan ini. dia tak bisa hidup dalam rasa bersalah seperti ini. apapun yang terjadi, dia harus segera menemui Luhan.

"Apa kau bahkan tahu cara menemuinya?" Sehun berbalik, menatap Jongin yang bangkit dari duduknya, "Aku menawarkan jasa antar gratis, promo hari ini."

.

Luhan menunduk di dalam selnya, makhluk-makhluk yang terkurung lainnya juga berbisik-bisik sambil menatapnya dengan sinis. Tentu saja, siapa yang tak jijik dengan Changeling pengkhianat? Gadis itu semakin menundukkan kepalanya, merasa semakin malu dan malu.

Hani berada di sel sampingnya, dengan perlahan melepaskan tangan Bati dan merengsek ke arahnya. "Luhan," Bisiknya, "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku memintamu untuk tetap bersama Oppa?"

Luhan tersenyum pahit, "Aku tak bisa menepatinya, Hani, maafkan aku." Gadis itu menatap kembarannya yang ikut menundukkan kepalanya. "Jangan khawatir, mungkin kau yang akan pergi nanti."

"Bati bilang," Dia melirik sosok kelelawar yang masih terlelap, "Bati bilang Oppa bahagia denganmu, aku tak percaya Oppa tak cukup kuat untuk melindungimu dari sini."

Luhan terdenyum kembali, "Memang, ini sama sekali tak berhubungan dengan Oppa-mu, aku memutuskan ini sendiri."

"Tapi kenapa?" Desak Hani, dahinya berkerut mendengar perkataan kembaran astralnya. "Kau tak bahagia dengan Oppa?"

Luhan menundukkan kepalanya. Dia bahagia, sangat bahagia, tapi apa gunanya untuk terus bersama Sehun jika remaja itu membencinya? Sama sekali tidak ada. Ini sudah keputusannya yang paling berat, meninggalkan orang yang dia cintai dan berkorban masuk ke jelaga itu untuk terakhir kalinya.

"Luhan?" Panggil Hani dengan penuh harap. "Aku- Aku menyukai disini. Terkurung, tapi Bati sangat menyayangiku." Changeling itu menatapnya penuh selidik, ingin tahu kemana arah bicara manusia itu. "Aku ingin tinggal."

"Kau gila?" Tegurnya, "Kau tak bisa berada disini terus menerus!"

"Aku bisa." Sanggahnya, menganggukkan kepalanya, "Aku bisa tinggal disini bersama Bati, aku tak masalah dengan itu, kau harus kembali Luhan."

"Hani!" Tegurnya, "Bagaimana kau bisa mengatakan-"

Sebelum Luhan dapat menyelesaikan perkataannya, seseorang mengetuk jeruji selnya dengan tergesa-gesa. Sosok itu terselubung jubah hitam, lengkap dengan topeng yang menutupi bibir dan hidungnya. Gadis kembar itu dapat melihat mata pria yang berusaha membuka jeruji tempat Luhan dikurung.

"Siapa kau?" Tuntut si Changeling, menatapnya dengan penuh curiga. "Kau bukan dari sini, aku harus tahu siapa kau."

Tapi sosok berjubah itu menariknya keluar dari sel, berbicara dengan suara parau dan berat, "Apa aku harus menjelaskan sekarang?" Tepat saat itu, para Spartoi mendesis, menyadari penyusup yang datang secara tiba-tiba. "Kita harus pergi."

"Tapi, dia-" Sebelum Luhan dapat memanggil nama kembaran manusianya, pria itu telah menyeretnya pergi, berlari menuju bayang-bayang.

Gadis itu menjerit hingga suaranya hampir habis ketika dia menikam salah satu Spartoi tepat di jantung dan menariknya kembali seolah tak terjadi apapun. Dia tak tahu kemana dia hendak dibawa, tapi Luhan mengerti, jauh di dalam insting bodohnya, bahwa siapapun yang membawanya adalah orang yang baik. Dan dia bisa mempercayainya.

.

Jongin membawa Sehun ke pondoknya kembali, menutup pintu kamar mandi tempat mereka berada sekarang ini. Separuh astral itu sepakat membantunya untuk mencari Luhan secara cuma-cuma, tak lain karena ini termasuk dari perintah sang ibu.

Lagi, dia tak ingin siapapun bernasib seperti kakaknya.

Dia tahu, apa yang hendak dia lakukan pada Sehun sangat berbahaya, membawa manusia ke dunia mereka sangatlah berbahaya, bahkan dalam keadaan tidak sadar, apalagi dalam keadaan sadar. Tapi dia tak punya pilihan lain.

"Kau bisa lepaskan jaketmu, kan?" Sehun menurutinya, melepas jaketnya dan meletakkannya sembarang, memperhatikan Jongin yang mulai mengisi air di bak. "Ini akan menyakitkan, tapi aku bisa membawamu dengan ini."

"Dengan apa, tepatnya?" Jongin melirikkan matanya ke arah genangan air seolah semuanya sudah sangat jelas, membuat Sehun membelalakkan mata. "Kau bercanda."

"Aku takkan melakukan apa-apa." Yang lebih tua berjanji, "Kau hanya perlu berendam, itu saja."

Jongin mematikan kran air dan menggerakkan kepalanya, sebuah undangan bagi Sehun untuk masuk ke air dan bersiap memulai perjalanannya ke negeri orang mati. Remaja itu menghela nafas, dia tak bisa menyerah sekarang. Dengan pemikiran itu, dia memasukkan kepalanya ke dalam air.

Sehun menutup matanya, mencoba menghayati riak air yang berdengung di telinganya, mengabaikan fakta bahwa dia perlu mencari oksigen di udara, dan tetap dalam posisi seperti itu. Tepat sedetik sebelum dia kehabisan nafas, dia merasakan sepasang tangan menyentuh lehernya.

Seketika, Sehun membuka matanya, mengabaikan perih ketika molekulnya bertabrakan dengan alat optiknya, bertatapan dengan Jongin yang berancang-ancang untuk mencekiknya. Remaja itu meronta, memberontak di dalam air, namun tekanan yang lebih tua terlalu kuat, membuatnya menghembuskan gelembung-gelembung udara besar sebelum akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Dia seharusnya tak setuju akan hal ini.

Tapi takdir berkata lain, Sehun terbangun, menarik nafas panjang, dan menyaksikan dirinya berada di dekat danau dalam sebuah hutan yang tak dia ketahui namanya. Danau tersebut menghitam, menyalurkan kegelapan yang antah berantah asalnya.

"Kau sudah bangun?" Tanya sebuah suara dan Sehun berbalik, bertemu mata dengan Jongin yang memperhatikannya sejak tadi. "Kukira kau akan pingsan lebih lama."

Remaja itu menatap sahabatnya dengan kesal. "Kau seharusnya memberitahuku kalau kau akan membunuhku."

"Aku tidak membunuhmu." Jongin membuat pembelaan, "Aku hanya mencekikmu hingga kau hilang kesadaran. Cukup kuat hingga aku bisa membawa jiwamu kemari." Dia menyerahkan jaketnya yang tadi dilepas di kamar mandi. "Kau pasti kedinginan." Komentarnya, "Ayo, jalan menuju sel sangat jauh."

.

Luhan masih mengikuti pria berjubah itu, penasaran kemana dia akan membawa mereka, hingga akhirnya dia memiliki keberanian untuk menahan tangannya dan menariknya perlahan. Dia dapat melihat mata pria itu menatapnya dengan kesal.

"Jawab aku!" Teriak Luhan, "Kita mau kemana?"

Pria itu mendorongnya dengan marah ke sebuah dinding di belakangnya, mencengkram kerah gaunnya seolah dia ini hanya sesuatu yang bisa dia kasari seenaknya. "Tak bisakah kau diam saja dan ikuti aku?"

"Setidaknya katakan padaku siapa kau!"

Sosok itu mengendurkan genggamannya, matanya tiba-tiba saja tertarik pada dinding kusam di belakang mereka. Luhan mengambil kesempatan itu untuk menyibakkan tudung yang dia pakai untuk menutupi identitasnya.

Mata yang sama, bibir yang sama, telinga yang sama. Luhan membelalakkan mata ketika sosok itu menatap tajam ke arahnya. "K- Kau!"

"Benar ini aku," Geram Chanyeol, "Jadi bisakah sekarang kau diam dan ikuti aku?"

.

Sehun masih mengikuti Jongin dari belakang sementara yang lebih tua memimpin jalan menuju tempat Luhan berada. Dia tak pernah berada disini sebelumnya, hal ini membatnya mempercayai teman sekelasnya daripada dirinya sendiri. Dan mengabaikan nalurinya untuk beralih ke sebuah pintu rusak di lorong yang mereka lewati.

Setelah sekian lama, Jongin akhirnya berdiri di depan sebuah sel, namun matanya membelalak tak percaya dan menatap Sehun dengan penuh rasa minta maaf. Dan Sehun mengerti kenapa, di tempat yang seharusnya Luhan berada, sel itu telah kosong melompong.

Dan Sehun tak menyadari keberadaan adiknya jika dia tak berteriak memanggilnya.

"Hani?!" Balasnya tak percaya dan membungkuk agar sejajar dengan sang adik, "Ini kau? Apa yang kau lakukan disini?" Remaja itu melirik makhluk kelelawar yang tengah bersama adiknya, makhluk yang sama dengan di mimpinya. "Dia?"

"Ini Bati, dia yang menjagaku disini." Hani tersenyum. Sebenarnya kata 'menjaga' adalah kata yang terlalu halus, terlalu manis. Gadis itu hanyalah tawanan disini, siap untuk dibuang jika monster itu tak membutuhkannya lagi, tapi dia tak ingin menambah beban sang kakak.

Sehun menatap kaki adiknya yang terbelenggu dan terpotong di lutut, tergagap. "Ah, ini?" Ucap Hani dengan tenang, "Aku menyerahkannya pada Luhan, dia bagian dari diriku, Oppa." Gadis itu tersenyum. "Kenapa dia kembali, Oppa? Apa Oppa jahat padanya? Dia sangat mencintai Oppa."

"Hani," Sehun menelan ludah, "Kumohon, jangan mulai."

Jongin menepuk pundak temannya, menenangkan dan membungkuk ke arah gadis manusia bermarga Oh tersebut. "Kau lihat Luhan? Dia seharusnya ada disini."

"Seseorang membawanya pergi." Jawab Hani, "Hanya itu yang kuketahui."

"Seseorang?" Ulang Jongin kebingungan, masih menatap jeruji Luhan yang telah terbuka oleh... kerang? Kenapa ada kerang tajam disini? Kerang hanya bisa ditemukan di daerah laut, dan laut hanya ada di daerah selatan, dan selatan bisa dijangkau oleh- "Apa kau yakin tak melihat orang itu?"

.

Chanyeol membuka pintu yang berderit, cahaya menyeruak ke wajah mereka, jendela ruangan ini terbuka, namun terasa hampa dan menyedihkan. Di matras, terduduk seorang pria, kira-kira dalam usianya yang ke-40. Pandangannya terasa jauh dan sedih, penuh penantian.

Remaja yang datang bersamanya membungkuk dalam ke arah pria itu, matanya meminta Luhan untuk melakukan yang sama. Gadis itu menurutinya, membungkuk lebih dalam dari yang Chanyeol lakukan.

"Abeonim," Panggil Chanyeol dengan penuh hormat, "Saya datang berkunjung." Tak ada jawaban, hanya deru nafas stabil dari pria tersebut. "Saya membawa seseorang," Dia menarik pinggangnya, "Namanya Luhan, kekasih Sehun."

Apa?

Mata Luhan melotot, mendengar pengenalan yang Chanyeol lakukan. Bagaimana bisa dia memperkenalkannya seperti itu di depan seorang pria tua lemah dan rapuh? Tapi ucapan pria itu menghancurkan persepsinya.

"Sehun? Oh Sehun putraku?" Dia memutar kepala, mencari wajah Luhan dan menatapnya lekat-lekat. "Kau sangat cantik, mirip dengan putriku, ya, ya, Hani-ku yang manis, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Sehun-ku, Sena-ku, aku merindukan mereka semua..."

Luhan menatap Chanyeol, memohon padanya untuk membawanya pergi dari sini. Dia memang penasaran tentang kepala keluarga Oh tersebut, tapi bertemu dengannya di negeri orang mati sebagai pria renta seperti ini sangat berada di luar ekspektasi.

"Ceritakan, ceritakan padaku. Bagaimana Sehun-ku? Hani-ku? Sena-ku? Mereka masih hidup? Mereka baik-baik saja? Kenapa kau menangis? Jangan menangis, mata rusamu bisa kasihan nanti, Sehun juga pasti tak suka jika kau menangis."

Luhan semakin terisak, mendengar rentetan pertanyaan Minjae yang seolah menumbuknya satu persatu. Bagaimana dia bisa menceritakan bahwa Sena telah meninggal, Hani tertawan disini dan tak tahu bisa diselamatkan atau tidak, serta hubungannya dengan Sehun yang kandas tepat ketika dia menuju kemari.

Bagaimana dia bisa mengatakan itu semua pada seorang Oh Minjae yang menyedihkan dan rapuh seperti ini?

Gadis itu memilih lari, menyibakkan tangannya yang tadi digenggam oleh pria itu dan berlari keluar dari ruangan. Meninggalkan Chanyeol yang membungkuk dalam kembali dan menutup pintu di belakang mereka.

"Untuk apa kau membawaku kesana?" Isak Luhan, "Apa kau memberitahu tentang siapa aku ini pada Sehun tak cukup? Kau ingin aku tahu seperti apa ayahnya juga?" Gadis itu mengusap air matanya dengan kasar, "Aku tak tahu apa yang kau rencanakan Park Chanye-"

"Sehun benar-benar sendirian, Luhan!" Potongnya marah, "Itu memang bukan ayahnya, tapi itu bagian gila roh Oh Minjae yang terjebak disini, dan dia benar-benar membuktikan itu, bagaimana dia bisa hidup jika bahkan kau meninggalkannya?"

"Bukankah dia yang memintaku untuk pergi duluan?" Sanggahnya, matanya kembali berkaca-kaca.

Chanyeol nyaris menjambak rambutnya karena kesal dan frustasi, "Sehun mengalami amarah yang besar untuk sementara waktu, tapi dia sedang berusaha, Luhan. Dia berusaha meminta maaf sementara menatap tubuh tak berdayamu di kamar rumah sakit!"

Luhan terdiam. Benarkah itu Sehun? Benarkah Sehun menunggunya dengan penuh rasa khawatir, rasa bersalah menggerogoti dirinya setelah apa yang dia katakan? Benarkah kekasihnya memang menyesal karena itu?

"Jadi diam dan ikut aku pulang ke dunia fana."

Gadis itu mundur selangkah, sebuah belati terbentuk di tangannya, mengeluarkan warna biru yang semakin menggelisahkan. Luhan menatap senjata itu nanar, gemerlapnya seolah mendesak untuk segera digunakan.

"Luhan, Sehun pasti menunggumu."

"Aku- Aku tak bisa, Chanyeol."

"Luhan," Ucapnya penuh peringatan, "Ikut aku pulang atau kau kuseret paksa." Tapi dengan cepat, Chanyeol merubah pikirannya ketika gadis itu membawa belati tersebut ke lehernya. "Kau tak tahu apa yang kau lakukan. Letakkan itu."

Luhan benar-benar tak tahu, tangannya bergerak sendiri seolah sesuatu mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Apa yang Xiumin katakan? Belati ini akan muncul di saat terapuhnya, mendesak untuk digunakan. Dan sepertinya, senjata itu nyaris menang.

"Luhan," Desak Chanyeol, "Letakkan sekarang."

"Aku tak bisa." Cicitnya, suaranya mengecil karena ketakutan dan tangannya bergetar karena takut. "Chanyeol, kumohon." Luhan mulai terisak, darah hitam sudah menetes dari sela-sela lehernya yang tertekan bilah tajam itu.

Chanyeol akhirnya mengerti, menahan tangan Luhan yang semakin berusaha menghujamkan bagian tajam senjata itu ke lehernya. Tapi kekuatan apapun itu terasa lebih kuat dibandingkan dirinya, dan bahkan Chanyeol kewalahan untuk itu.

"Hentikan!" Teriak satu suara dan mereka menoleh, menatap Jongin yang segera berlari dengan cepat ke arah mereka, diikuti oleh Sehun dari belakang. Chanyeol menatap adik seibunya dengan penuh rasa tak percaya, "Jangan lihat aku seperti itu, aku akan menjelaskan nanti."

"Sehun." Bisik Luhan, tangannya masih setia di leher. "Bagaimana caramu-"

"Untuk sekarang ini," Ujar Jongin, menggenggam tangan Luhan dengan tenang dan dengan kuat mencegahnya untuk menusuk lebih dalam. "Tenangkan dirimu." Perintahnya, "Jika kau panik, dia akan semakin kuat."

"Aku tak bisa." Luhan terisak, masih menatap lurus ke arah orang yang menatapnya datar, dia sadar, mata itu tak memancarkan apapun lagi untuknya. "Biarkan saja."

"Luhan," Tegur Jongin.

"Aku sudah memutuskan untuk mati sebentar lagi," Potong gadis itu, darah menetes semakin deras, "Apa bedanya jika aku mati sekarang."

Ucapan itu menarik perhatian Sehun sepenuhnya. Apakah dia benar-benar menyakiti Luhan sehingga dia berpikir seperti itu? Apakah dia benar-benar tak bisa meminta maaf lagi, lantaran gadis itu telah menodongkan belati ke arah lehernya sendiri? Apakah dia benar-benar tak memiliki kesempatan?

Remaja itu menatapnya nanar. Kristal-kristal bening yang nampak begitu suci keluar dari kedua mata Luhan. Mata yang biasanya selalu cerah dan riang, sekarang nampak berkabut dan menyedihkan, bahkan sudah membengkak karena menangis. Bibirnya yang biasanya selalu tersenyum kini bergetar karena tangis yang meledak-ledak.

Sehun telah menghancurkan senyum indah Luhan.

Gadis itu tak menyisakan padangan ke arahnya, dia terus menangis dan menatap Jongin dengan penuh harap, memintanya untuk melakukan apapun yang bisa agar belati itu lepas dari lehernya, atau membiarkannya mati disini sekalian.

"Hentikan ini semua, Luhan!" Sehun tak tahu dia mendapatkan keberanian darimana ketika dia mengatakan ini, yang dia pikirkan hanyalah dia harus menghentikan gadis itu bagaimanapun caranya. "Singkirkan benda itu."

"Sudah kubilang aku tak bisa! Lagipula ini yang kau inginkan, kan? Kau ingin aku menghilang, kan?!"

"Demi Tuhan, aku tak pernah menginginkannya!" Bentak Sehun, amarah memuncak di kepalanya ketika dia melihat gadis itu semakin terisak. Dia marah pada dirinya sendiri, dia marah karena dia yang menyebabkan Luhan kehilangan harapan, terlebih lagi, dia marah karena tak bisa mengendalikan emosinya. "Untuk apa aku menginginkan orang yang kucintai untuk pergi?"

Luhan tertawa pahit, darah hitam semakin mengalir di lehernya, "Kita berdua tahu kau tak mencintaiku, kau mengira aku ini Hani selama itu, kau tak mengenalku, kau tak mengenal Luhan."

"Kau kira sejak kapan perasan ini tumbuh?" Tanya Sehun dingin, matanya menghujam ke arahnya, "Kau yang membuatku menyukaimu sejak aku membawamu pulang dengan gaun hitam itu. Kau yang membuatku mencintaimu sejak aku menjagamu selama Eomma tak ada."

"Eomma? Hwang Sena?" Ulang Luhan parau, "Apa kau bahkan sadar kenapa dia mati? Apa kau bahkan sadar kenapa penyakitnya semakin parah sejak aku datang? Kenapa dia baru meninggal sekarang? Apa kau bahkan sadar?"

"Aku tahu." Jawabnya, "Aku tahu dengan sangat jelas." Ucap Sehun lagi. "Semua orang yang memiliki riwayat indigo mengenal sosok Changeling yang akan datang untuk membunuh, menyebarkan kematian dan penyakit, kesengsaraan bagi targetnya."

"Jadi kau tahu ternyata." Gumam Luhan. "Jadi kau sudah membenciku sekarang?"

"Apa aku bahkan bisa?" Luhan terdiam, menatap Sehun dalam, mencari kebohongan jauh di matanya. Tapi tak ada setitikpun disana. Genggamannya mengendur dan pisau itu menjauh.

Jongin menatap sahabatnya dengan kagum, setelah sekian lama, hanya Sehun yang berhasil mencegah Luhan menusuk dirinya sendiri. Remaja itu menatap kakaknya, menganggukkan kepala, dan Chanyeol menggenggam tangan Luhan.

"Kita harus segera pergi sekarang." Tegasnya, menyeret gadis itu pergi sebelum Sehun dapat melakukan apapun.

"Tunggu," Namun keduanya telah pergi dari lorong tempat mereka berada, meninggalkan Sehun dan Jongin yang masih berdiri di tempat. "Aku harus mengikuti mereka."

"Sehun, aku rasa kau-"

"Aku hampir mendapatkannya kembali, Jongin." Putus yang lebih muda, menatap sahabatnya lekat-lekat, "Aku harus membawanya pulang, aku tak bisa kehilangan dia."

Jongin terdiam. Dia mengenal kalimat itu di lubuk hatinya, amat sangat mengenalnya. Remaja itu tak dapat melupakan bagaimana kakaknya meraung-raung saat melihat tubuh Baekhyun yang lemah terbaring kaku karena tak sadarkan diri. Dan bagaimana, setelah berbagai permohonan syarat, sang ibu mengizinkan mereka untuk bersama. Namun ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.

Jongin melihat secercah bayangan Chanyeol dalam diri Sehun.

Dan remaja itu tersenyum lembut, "Aku akan mengantarmu."

.

Luhan sadar mereka ada dimana. Dia sangat mengenal tempat dia pertama kali membuka mata, tempat pertama kali dia bicara, tempat pertama kali dia menyebutkan namanya. Chanyeol mengawasinya dari ujung tembok, membiarkannya melihat-lihat ruangan tersebut.

"Kenapa kau membawaku kemari?" Tanyanya.

Chanyeol mendorong dirinya untuk berdiri dari sandaran, "Karena sudah waktumu." Jawabnya praktis. "Dengarkan aku, Luhan," Dia mencondongkan diri ke arah gadis itu dan membisikkan sesuatu, membuatnya membelalak kaget. Sebelum dia bisa mengelak, Chanyeol menarik tengkuknya untuk menahannya agar berada di tempat dan bicara lagi. "Jadi putuskan sekarang."

"Apa yang kudapatkan setelah ini?"

"Semua yang kukatakan tadi." Jawabnya, "Kau hanya perlu membayar dengan ingatanmu."

Luhan berdecih, kesepakatan ini benar-benar tak masuk akal, "Bagaimana aku bisa menemukannya jika aku tak mengingat apapun?" Debatnya, "Ini konyol, Chanyeol."

"Bagimu, tapi tidak bagiku." Balas yang lebih tua, "Itu karena kau tak mengerti konsep apa itu ingatan, Luhan. Sekali kau mengenal ibuku, kau akan menguasai konsep itu."

"Kau berbohong."

"Apa untungnya bagiku?" Luhan terdiam, Chanyeol benar, tak ada untungnya bagi remaja itu jika dia hendak menipunya. "Dengarkan ini, Luhan, aku tak berbohong jika aku mengatakan bahwa aku peduli pada Sehun. Dia temanku, dan dia sangat bergantung padamu."

"Dia mengusirku."

"Itu sebuah kesalahan."

"Dan dia membentakku."

"Itu sebuah kesalahan dan penyesalan."

"Dia mengira aku adalah adiknya."

"Itu," Chanyeol tersenyum, "Pernyataan yang sangat salah." Luhan menatap Chanyeol lekat-lekat, bagaimana bisa dia mengatakan bahwa itu salah? "Dia memang mengira kau adalah adiknya, tapi dia jatuh cinta padamu."

"Aku tak mengerti." Gadis itu menggelengkan kepalanya, menunduk. "Jika dia memang memiliki perasaan itu, apakah ini benar-benar bisa membantuku?"

"Ibuku tak pernah berbohong." Ucapnya pahit. Tak peduli seberapa besar rasa bencinya terhadap sang ibu, dia sangat mengenal wanita yang telah melahirkannya, dam dia tahu, ibunya tak pernah menganggap remeh setiap kata yang dia keluarkan.

Luhan masih menunduk, menatap belati yang masih dia pegang, di pikirannya tergiang penawaran Chanyeol. Tawaran itu sangat menggiurkan, membuatnya nyaris menjatuhkan senjata itu ke dalam jelaga yang masih menggelegak di dekat mereka jika tak ada suara yang memanggil namanya.

Gadis itu berbalik, bertemu mata dengan Sehun yang berdiri di ambang pintu. Bibir Luhan bergetar, matanya kembali berair ketika melihat remaja itu berjalan ke arahnya.

"Letakkan itu, Luhan." Pintanya, mengulurkan tangan agar gadis itu menyerahkan bilah tajam ke tangannya. "Luhan, kumohon." Sehun menatap Luhan yang masih terpaku di tempat, tangannya menggenggam erat bilah yang menguncinya di kehidupan ini.

"Luhan," Panggil Chanyeol, memastikan gadis itu menuruti perintahnya. "Sehun, dia harus melakukan ini. Menyingkir."

"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Sehun dingin, "Hyung, jangan seperti ini padanya. Aku tak tahu kenapa kau tak menyukainya, tapi jangan paksa dia."

"Aku tak memaksanya," Dia meletakkan tangannya di pundak Luhan, "Benarkan?" Chanyeol meremas pundak Luhan yang dia pegang, membuat gadis itu meringis dan menatap mata tajam remaja itu.

Gadis itu menelan ludah, "Dia tak memaksaku." Ucapnya lirih, menatap kosong mata laki-laki yang telah menjadi kekasihnya. Air mata mendesak keluar dari kedua alat optiknya, tapi dia dapat menahan, setidaknya untuk sekarang. "Aku yang menginginkan ini."

"Kau berbohong, Lu, aku tahu."

"Aku tidak," Dia menggelengkan kepala, "Kau tidak- kau bahkan tak mengenalku."

"Aku mengenalmu sangat baik, kau takkan meninggalkanku, kau berjanji."

"Kapan?"

"Luhan,"

"Aku tanya, kapan aku berjanji, Sehun?"

Dia tak bisa melakukan ini, dia benci berbohong terutama kepada Sehun, tapi dia harus melakukan ini. Jika apa yang Chanyeol katakan padanya benar, jika dia tulus mau menolongnya, mereka akan bertemu lagi, dia yakin akan hal itu.

Sehun menatapnya dengan penuh kepedihan dan itu cukup untuk membuat Luhan meneteskan bendungan air matanya. "Sehun, kumohon, aku harus melakukan ini."

"Kau tak harus, Luhan, kumohon."

"Kau harus pulang Sehun, Hani akan ada di rumah ketika kau kembali-"

"Luhan,"

"Dan kau mungkin menemukan orang lain setelah aku mati-"

"Luhan!" Bentak Sehun pada akhirnya, menatapnya tajam. "Aku tak akan meninggalkanmu." Tegasnya, bergerak selangkah lebih dekat ke arahnya, membuat gadis itu menundukkan kepalanya. "Lihat aku, Lu," Dia tak bergerak, "Kumohon."

Luhan masih tetap menunduk, tak berani menatap wajahnya. Hal ini membuat Sehun mengangkat tangannya dan memegang dagunya, menengadahkan kepalanya sehingga mata mereka saling bertatapan.

"Jangan tinggalkan aku, Luhan."

Matanya berkedip, menahan panas air mata yang kembali menyeruak. Bibirnya ikut bergetar, membuatnya nafasnya semakin menderu. "Aku harus pergi."

"Kau sudah berjanji, aku ingat semua yang kau katakan."

Benar, dia telah berjanji. Tapi apa yang bisa dia lakukan jika waktunya sangat terbatas sekarang? Dia tak bisa, dia harus segera pergi sekarang, Luhan berusaha melepaskan kontak mata dan beralih ke Chanyeol, tapi remaja itu terus menahannya agar menatap matanya.

"Sehun-"

"Luhan-"

Ucap mereka bersamaan. Gadis itu menatapnya pedih, "Aku tak bisa melakukan ini." Dia menggelengkan kepalanya. Sehun menelan ludahnya, mendekatkan kepalanya ke arah Luhan dan menyatukan bibir mereka.

Seolah ini adalah pertama kalinya mereka melakukan hal itu.

Air mata Luhan kembali tumpah ketika dia menutup matanya, setelah beberapa saat, gadis itu membiarkan Sehun melingkarkan tangannya ke pinggangnya, membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan sementara bibirnya mengecupnya lembut.

Sehun berusaha meraih belati yang dia genggam, melemparkannya ke sembarang arah, kemana Luhan tak dapat menemukannya, tapi genggamannya terasa sangat kencang dan remaja itu harus memperdalam ciuman untuk mengecohnya.

Luhan mengerti dengan sangat jelas apa tujuan Sehun, dia harus tetap sadar, tapi siapa yang bisa jika remaja itu membuatnya terlena hanya dengan bibirnya? Gadis itu membuka bibirnya, merasakan lidah Sehun masuk dan menjilatnya.

Ciuman ini tak bisa seperti ini, hati Sehun mulai protes. Seharusnya ini penuh dengan cinta dan tak disandingkan dengan nafsu. Tapi dengan Luhan yang membuka bibir dan menyentuhkan lidah mereka? Sekian, terima kasih, Sehun juga punya batas pertahanan.

Tepat sebelum remaja itu dapat menggigit bibirnya, Luhan melepas tautan mereka, bibirnya masih bergetar dan nafasnya menderu. Wajahnya memerah karena apa yang telah mereka lakukan tadi. Bahkan Jongin dan Chanyeol harus memalingkan wajah.

Luhan berjinjit untuk mengecupnya lagi, "Aku mencintaimu, Oh Sehun." Bisiknya, dan sebelum Sehun sempat membalas apapun, Luhan telah menjatuhkan belati itu ke jelaga.

Denyar birunya berpendar redup di dalam dan menghilang ditelan kegelapan yang menginvasi dan seolah menghisap semua kekuatannya. Bilah itu perlahan pecah menjadi beling-beling keperakan dan menyerap masuk ke dada Luhan, membuat gadis itu menahan nafas terkejut.

Sehun menangkap tubuhnya sebelum dia dapat menyentuh tanah. "Apa yang telah kau lakukan?"

Luhan tersenyum lemah, nafasnya terasa sesak karena beling-beling yang mendesak masuk ke dalam dirinya. "Karena aku serakah." Ucapnya, menatap Chanyeol dalam diam, remaja bermarga Park itu hanya menganggukkan kepalanya perlahan, dan Luhan kembali beralih ke Sehun.

"Aku hanya pergi untuk sementara, aku akan kembali, aku berjanji."

"Luhan,"

"Kau bisa menungguku, kau juga boleh meninggalkanku. Jika aku- jika aku-"

"Luhan, sudah, Luhan,"

"Jika aku terlalu lama, jika aku tak bisa menemukanmu, kau bisa meninggalkanku, kau bisa pergi."

"Luhan apa yang kau bicarakan?" Beling-beling itu sudah berhasil masuk ke dalamnya, membuat nafasnya tercekat. "Luhan!" Sehun tak bisa tak menjerit ketika gadis itu memucat, rambutnya memanjang dan menghitam, sementara kukunya berubah menjadi cakar. Tak lama, gadis itu memejamkan matanya, tersenyum. "Luhan?"

Tak ada jawaban, dan Sehun tahu, dia sudah kehilangan Luhan selamanya.

This is not the end, this is not, no, no, don't kill me!

*dicolok pensil mekanik*

Aku benar-benar minta maaf karena memberikan chap yang crappy, tapi ini adalah bagian dari cerita.

Aku tak bisa menghilangkan ini bagaimanapun caranya.

But y'all heard what Luhan said, "Kau bisa menungguku, kau juga boleh meninggalkanku." Something like that.

So, aku hanya ingin mengatakan bahwa ini bukan akhir yang sebenarnya, aku sudah punya gambaran untuk tiga chapter ke depan, bear with me guys.

Anyway, that's all, apapun kritik, saran, dan sebangsanya kalian bisa mengatakannya di review.

Yoon Soo Ji, out!