Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

KureNeko : Hehehe, Itachi muncul nih :D Iya, ini juga lagi belajar buat romens yg baik huahaha

Fiochan51 : Wah dua orang itu ngak ikutan, nanti tambah panjang chapternya :D

Misakiken : Hihi iya itu tandanya udah sih :D dan maaf ya aku updatenya telat huhuhu

Jheincheyeon : Yang jahat itu adalah kamuh, krn kamu baru muncul lagi haha piss becanda ^^

SHL7810 : Aku juga manis loh hahaha *diguyur*

Haruchan : Ih, jodoh aku kan Taka :p hahaha, gpp si Taka mah ngak masalah kok aku pelukan sm Naruto, Sasuke, Sai, Shika dan Gaara hahaha

Uknow Yunjae : Hahaha, seneng deh klo kamu suka juga hehe

Alexaryan55 : Yeee akhirnya yeee

Mantika Mochi : Semoga suka actionnya, jujur dikepala mah keren tapi pas dituangin ke tulisan susah sekali

Vanny-cha : Maaf ya kali ini aku telat update nya :D

Ikalutfi97 : Hahaha masa nyosor mulu, tar monyong bibinya wkwkkw... jiah bang Taka ngak marah kok, kan dia mah ngerti :D

Guest : Thanks :D

Uchiha viona : Maaf ya aku ngak isa update kilat

GaemSJ : Wkwkwk dikata ayam kawinin :D

Nathalie Ichino : Iya nih hinata sm Naruto aja, tar Narutonya aku ambil nih

Guest : Hooh, Itachi emang dendam sm kaisar, dan makasih klo suka chap kmrn hehe :D

Dianarndraha : Hihihi pokoknya ditunggu aja, lama-lama kebuka kok

Luluchai10 : Hahaha, seneng deh klo suka chapter kmrn, yah diliat aja deh, nanti aku buat Hinata cemburu aku sama aku haha

Thasya Rafika Winata : Hehe makasih ya ^^

Wowwoh geegee : Haha aku jug manis kok dan dan yah, ini adegan Sasuita-nya hehe

Gue : Hahaha, kok ada curcolnya nih haha,,hmm iya, makasih, aku juga yakin ngak sama kok soalnya ngak ada hamil2an di cerita ini ^^

Yoktf : Hehe iya dia asli nyerah kok, hmm sebenernya lebih suka kakak sih hehe

Adora13 : Hihihi maaf ya telat update

Moikomay : Hehe makasih ya ^^

Qren : Makasih semangatnya ya ^^

Krystaljung13 : Ngak kok, Hinata kan juga bae ^^

Aiko Asari : Halo, salam kenal juga ^^ wahh terima kasih banyak ^^ saya senang kalo km suka sm crt ini ^^

Suket alang-alang : ^^ makasih loh, iya yang lain ngak ikutan kayanya, mereka main berempat aja hehe

Gita Zahra : Hihi, iya smoga Hinata cepet sadar sama perasaan Naruto ya ^^ dan ini udah mulai ke konfliknya kok

Hikaru sora 14 : Terima kasih banyak yaaa aduh, aku juga ngak bisa berkata-kata jdnya,, pokoknya makasih banyak ya ^^

Guest : :p

Hooooo : Hehehe, ini chap lanjutannya maaf aku telat ^^

Eysha Cherryblossoms : semoga chap ini bisa mencicil rasa penasaranmu ya hehe

Ayuniejung : Wkwk masa kurang lama sih? Kasian deh Sasuke dibilang payah hehe makasih ya ^^

Annisa Alzedy : Ada kok, dan semoga suka pertarungan adik kakak ini ya ^^

Sagasar : Haha mereka ngak pake lampu ph*lip* ya jadi kurang terang haha, duh kayanya manis2 sasusaku bakal jarang nih hehe

Me : Maaf aku ngak kilat huhu

Akiko Asami : Semoga suka partnya itachi ya

Yuie : Aiiihhhh kamu bisa aja deh :D dan duo uchiha ketemu kok di chap ini, silakan dibaca

Hanazono yuri : No, klo iya nanti hana ngamuk hahaha piss hana

Pink Ramen : Hehe sama2 ya ^^

Deviana chan : Haha Hana ngak terima klo itachi jatuh cinta sm yg lain hehe etto, emang ada yg bahasa inggrisnya ya? Kayanya ngak ada deh hehe

The death Stalker : Iya Naruto kasian bgt ya, semoga chap ini bisa mengikis sedikit rasa penasaranmu ya hehe

Shita : Hihihi, semoga chap ini bisa mengurangi rasa penasaranmu ya ^^

Mariyuki Syalfa : Iya, makasih ya, aku juga yakin sih ngak sama crtnya sm Fic itu ^^

Fa : Hahaha, iya deh... nanti klo dipuji trs aku-nya repot hehe

PinkLover : Hehehe... syukur deh klo suka chap kmrn hehe

Lady Hanabi : Hahaha bener juga tuh, kudu digenjutsu dulu nih si Hinata. Kaga ada, neji ngak ikutan disini, crt ini dikit pemeran kayanya hehe

Guest : Maaf ya aku update nya lama huhuhu

Byun429 : Kamu kenapa lagi? Si panda lagi?

Ciheelight : Hai cita ^^, hmm inspirasi kayanya dari mana aja ya, sering ntn film2 action aja sih hehe dan ini karya ke empat Cuma yang 1 ada yg blom selesai sih hehe, terima kasih ya^^

6934soraoi : Huaaa umurku, hmmm berapa ya wkwkwkw pokoknya selisih dikit sama umur Hana (Tuaan aku tapi) wkwkw.. dan aku perempuan, kan istri Taka masa aku cowo sih T_T ngadu pedang donk entar iiihhhhhhh

NikeLagi : Wahhh kamu masih muda bgt ya ^^ sipp makasih semangatnya

Haruka Smile : Nama kamu balik lagi hehe, makasih udah ripiu ya hehe maaf aku yg telat update skrg deh huhu

MilanArizawa : Iya aku punya, tapi aku ngak bisa nyebutin kalau mau, kamu PM aku aja ya ^^ atau ngak kamu yg sebut twittermu, nanti aku yang follow ^^

Istrinya Soujiro : Iya, itu kan yg nyanyi suami aku Taka :P kayanya yg dua lagi nyusul deh, pinjem perahu polisi hehe, adegan berantemnya aku suka bgt

Afa : Wkwkw masa sih banyak? Yaudah aku kurangin deh hahaha, makasih udah ripiu ya ^^

Makasih buat semuanya selalu *peluk atu-atu* makasih banyak ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

"Jadi, apa yang terjadi kemarin malam?" tanya Hinata sembari memegang sepotong pakaian. Sedangkan Sakura yang berdiri tepat di sampingnya langsung merona. Mukanya memerah sempurna karena bayangan kejadian tadi malam kembali berputar di benaknya, dan membuat Sakura menghentikan kegiatannya seketika.

Kedua perempuan itu kini sedang berada di toko pakaian yang berada di desa ini. Seperti janji Hinata saat itu, ia segera meminta Naruto untuk membelikan pakaian Sakura, yang tentunya segera disetujui oleh Naruto.

Senyuman Hinata langsung mengembang, diletakkannya kembali pakaian yang sebelumnya ingin ia pilihkan untuk Sakura. Sakura yang menyadari arti senyuman itu segera mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Hinata yang kini sudah menghadap ke arahnya.

"Apa dia memujimu?" tanya Hinata antusias.

Sakura menggelengkan kepalanya, namun begitu rona merah di wajahnya masih belum juga sirna.

Alis Hinata mengerut, "Lalu, kenapa wajahmu merona begitu? Ayolah, ceritakan padaku. Pasti ada sesuatu yang terjadi 'kan?" Satu tangan Hinata kini merangkul lengan kanan Sakura.

Sakura terdiam sejenak seakan menahan senyumannya yang entah bagaimana tidak bisa ia tahan. Dengan mata yang berbinar Sakura menceritakan semua kejadian tadi malam bersama Sasuke. Degup jantungnya kembali bergemuruh hebat, rona merah di wajahnya bertahan, sama seperti senyumannya.

"Lihat, aku benar 'kan?" seru Hinata yang kini bertolak pinggang. Merasa bangga karena apa yang terjadi pada Sakura kemarin sebagian adalah idenya.

Sakura mengangguk senang, "Terima kasih, Hinata."

Hinata menggelengkan kepalanya cepat, di mana kedua tangannya kini berpindah di bahu Sakura, "Sudah berapa kali kukatakan, akulah yang seharusnya berterima kasih padamu, Sakura. Apa yang kulakukan tidak sebanding dengan apa yang telah kaulakukan padaku."

Dan Hinata langsung menarik Sakura ke dalam pelukannya, "Apa aku boleh menganggapmu lebih dari teman?" Hinata memberi jeda pada ucapannya, "Apa kau keberatan jika aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri? Karena aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri," katanya ragu-ragu.

"Aku merasa sangat bahagia mendengarnya, Hinata." Sakura semakin mendekap erat tubuh Hinata, "Tentu saja aku tidak keberatan. Aku senang, aku memiliki saudara sekarang."

"Dan juga kekasih," ucap Hinata yang kini melepaskan pelukannya. Tak lupa dengan senyuman jahilnya hingga membuat Sakura kembali merona. Melihat Sakura yang tidak bisa berkutik membuat Hinata tertawa senang.

Hinata kembali memilih pakaian untuk Sakura. Tangannya dengan lincah kembali mencari di beberapa tumpukan pakaian di depannya, "Senangnya jika orang yang kita sukai juga memiliki perasaan yang sama," gumam Hinata di sela-sela kegiatannya. Ucapan yang tidak ia ajukan untuk siapapun.

Sakura yang juga sibuk memilih pakaian kini melirik ke arah Hinata beberapa kali. Meski suara Hinata terlampau pelan, namun Sakura masih bisa mendengarnya.

"Ada apa?" tanya Hinata yang menyadarinya. "Tidak perlu merasa sungkan padaku, Sakura."

"Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Bukankah Naruto juga menyukaimu?" tanya Sakura ragu, yang menyebabkan kedua alis Hinata mengerut, kemudian disusul suara tawa menggelegar dari mulut Hinata.

"Kenapa kau bisa berpikir begitu?"

Sakura menatap heran. Bukankah memang sudah sangat jelas terlihat? Malah Sakura sempat berpikir kalau Naruto adalah kekasih Hinata, melihat dari sikap keduanya yang memang terlihat seperti sepasang kekasih.

"Naruto itu sudah seperti kakak laki-lakiku dan dia juga menganggapku adiknya. Karena itulah dia sangat cerewet padaku, bahkan melebihi ayahku sendiri," ucap Hinata mantap.

"Benarkah dia hanya menganggapmu sebatas adik?"

Hinata hanya mengangguk yakin. Tapi keyakinan Hinata tidak bisa menggoyahkan keyakinan Sakura. Pasalnya ia merasa kalau Naruto tidak hanya menganggap Hinata sebatas itu. Perlakuannya, tatapan matanya, perhatiannya, semua yang Naruto lakukan pada Hinata lebih dari rasa sayang. Ada rasa cinta yang besar di sana, dan Sakura yakin itu.

"Aku rasa tidak begitu," gumam Sakura yang membuat Hinata menoleh padanya. Namun mata hijau Sakura kini berpindah menatap pria kuning yang berdiri di depan toko. Pria yang sedang sibuk berbicara dengan salah satu anak buahnya. Memberi perintah pada anak buahnya untuk kembali ke istana, mencari apa yang Naruto perintahkan.

"Aku rasa, perasaan Naruto itu—"

"Naruto begitu! Aku lebih mengenalnya dari pada dirimu!" Sahut Hinata cepat yang kini membuat Sakura langsung menatap ke arahnya.

Hinata menggigit bibirnya. Kepalanya tertunduk kala menyadari kebodohannya. Ia kelepasan. Ia baru saja mengucapkan perkataan dengan nada kasar pada Sakura. Ia tidak bisa mengendalikannya karena tiba-tiba ada perasaan tidak senang saat Sakura menjadikan Naruto topik pembicaraan mereka, terlebih ucapan Sakura yang seakan sangat mengerti siapa itu Naruto. Pria yang jelas-jelas dikenal lama oleh Hinata.

Entah Hinata marah hanya karena itu atau ia belum siap mendengar ucapan yang tidak ingin ia dengar. Kata-kata yang mengatakan kalau Naruto menyukainya. Hinata selama ini tidak mau berangan terlalu besar. Karena ia takut hubungannya dengan Naruto akan berubah.

"Maaf, Sakura, aku ..."

"Tidak apa-apa," sela Sakura yang kini sudah memegang kedua bahu Hinata. "Tapi cobalah untuk melihatnya lebih jelas."

Sakura kembali mengambil pakaian yang dirasa pas untuknya. Ia segera bergegas untuk mengganti pakaiannya. Sebelum ia melangkah meninggalkan Hinata yang masih berdiam diri, Sakura kembali mengeluarkan suaranya.

"Naruto menyayangimu, sangat menyayangimu. Jadi tidak ada yang perlu kautakutkan, karena tidak akan ada yang berubah dari itu."

Mata Hinata lantas berpindah menatap sosok kuning itu. Satu-satunya teman yang ia miliki. Satu-satunya orang yang selalu berada di sampingnya. Pria yang selama ini ia anggap sebagai kakak laki-lakinya. Sebatas itu, tidak lebih. Hinata tidak pernah mencoba untuk melewati batas yang telah ia buat. Batas yang jika Hinata langgar, akan berdampak buruk untuknya. Ya, ia anggap seperti itu. Di mana yang terburuk adalah sikap Naruto yang akan berubah padanya.

Ia takut Naruto pergi. Ia takut kasih sayang itu hilang. Baginya cukup seperti ini, karena itulah ia tidak pernah mau melewati batas itu. Ia tidak pernah mau berpikir lebih jauh. Tentang bagaimana perasaan Naruto padanya. Dan semua sikapnya. Sudah ia rumuskan bahwa sikap dan kasih sayang yang ia terima adalah layaknya seorang kakak pada adiknya. Begitu, dan itu cukup.

Tapi kini, ketika ada satu orang yang berani mengusik Hinata untuk mencoba melihat lebih dekat. Dengan mengatakan tentang bagaimana perasaan Naruto padanya, bagaikan mengajaknya berjalan untuk mendekat pada batas yang telah ia buat. Menyuruhnya memperhatikannya dengan seksama. Memperhatikan sekali lagi sosok pria kuning itu, dari depan batas yang ia buat.

...

Beberapa kuda putih melaju dengan kecepatan sedang. Sasuke ikut berada di dalam barisan itu. Kuda putihnya tepat berada di depan kereta kuda dengan Naruto yang duduk di samping pengemudi. Tentunya Sakura berada di dalam kereta bersama Hinata.

Naruto memerintahkan untuk menambah kecepatan saat sudah tidak lagi berada di lingkungan desa. Mereka harus bisa mengejar waktu karena kejadian kemarin. Perjalanan mereka masih cukup jauh, dan mereka harus sampai sehari sebelum acara perjamuan itu.

Mata Naruto menatap was-was. Daerah sekeliling mereka saat ini hanya berupa bukit-bukit dengan sedikit pepohonan. Terlalu mudah untuk menjadi hewan buruan. Seperti kelinci yang berlari bebas di tengah gurun. Entah bagaimana, ia merasakan firasat buruk. Tangannya bahkan sudah berpindah ke pengangan katana-nya.

Tak berbeda jauh dengan Naruto. Mata hitam Sasuke juga sudah menjelajah daerah sekitar. Mencari sesuatu yang sekiranya mencurigakan. Matanya memicing karena sinar matahari yang sedikit menyilaukan. Meski begitu, tidak juga mengurangi jarak pengelihatannya.

Hingga akhirnya mata Sasuke berhenti pada satu titik. Ia semakin menajamkan pandangannya. Jauh di sisi kanannya, ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Ada pantulan cahaya yang ditangkap kedua matanya. Kilauan kecil dari sebuah benda yang tampaknya tidak asing baginya.

Matanya seketika melebar saat tahu benda apa itu. Tanpa aba-aba ia segera menarik tali kemudi kudanya. Ia giring kuda putih itu berbelok dan membawanya mendekati kereta kuda. Fokus Naruto pun pecah ketika melihat pergerakan Sasuke yang tiba-tiba. Tepat saat Sasuke sudah berada di sisi kereta, katana yang sudah meninggalkan sarungnya bergerak hingga menimbulkan bunyi nyaring yang cukup kencang. Bahkan kedua perempuan yang sedari tadi sibuk berbincang di dalam kereta kini terdiam. Keduanya berniat melihat apa yang sedang terjadi, namun sebuah suara menghentikan mereka.

"Diam di sana!" Teriak Sasuke, "Jangan sekalipun keluar!"

Naruto menatap tak percaya. Sasuke baru saja berhasil menghalau anak panah yang melesat menuju kereta kuda Hinata. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk membentuk barisan dengan tameng yang melindungi sekeliling kereta kuda. Karena detik berikutnya, anak panah lainnya sudah datang menyusul. Pasukan kuda pun meninggalkan kendaraannya dan berlindung di balik barisan tameng itu. Mereka juga menyiapkan anak panah untuk serangan balasan.

Secepat ini? Batin Naruto kesal. Jadi dia benar-benar mengincar Hinata?

Sasuke memerintahkan beberapa pasukan yang tersisa untuk ikut bersamanya. Mereka tidak mungkin diam saja menerima serangan anak panah itu, karenanya Sasuke memimpin mereka untuk bergerak maju. Menyerang dengan mendatangi wilayah musuh yang masih bersembunyi. Naruto mengerti, ia dan Sasuke sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Naruto akan lebih memfokuskan diri pada perlindungan Hinata, seperti sekarang. Ia berada di dalam tameng. Menyerang di dalam markasnya sendiri.

Hinata panik, begitpun Sakura. Suara riuh di luar membuat mereka takut. Hinata tanpa sadar menggenggam erat tangan Sakura. Tangan itu bergetar dan Sakura menyadarinya. Rasa takut Hinata. Tapi ia memakluminya. Bagaimana kau bisa tenang jika sudah jelas ada seseorang yang mengincar nyawamu? Terlebih kau sendiri tidak mengenal orang itu. Apa alasannya sehingga orang yang tidak dikenali berniat untuk menghabisi nyawanya? Meski begitu, Hinata mencoba untuk menyembunyikan raut kepanikan di wajahnya.

"Aku juga akan melindungimu, Hinata," ucap Sakura yang membuat Hinata kini menatap ke arahnya. Mereka berdua tersenyum bersamaan. Hinata hanya mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering sekarang, seakan debaran jantungnya mengambil semua air yang ada di dalam tubuhnya. Ia bukan hanya mencemaskan dirinya seorang, tapi semua orang yang ada bersamanya. Karena dialah nyawa mereka juga ikut menjadi taruhan. Memangnya apa yang telah dia perbuat sehingga seseorang menginginkan nyawanya?

Beberapa anak panah pasukan Naruto berhasil melumpuhkan musuh. Namun beberapa anak buah yang bersama Sasuke pun juga berjatuhan. Mereka tewas saat mendekati area musuh. Tapi usaha mereka membuahkan hasil. Mereka berhasil mendesak musuh sehingga akhirnya musuh pun keluar menyerang. Pertempuran terjadi. Naruto juga mulai berteriak, memerintahkan pasukannya untuk menghadang musuh yang datang ke arah mereka. Sebagian banyak bergerak menyerang, sebagian lagi masih setia mengelilingi kereta Hinata.

Naruto pun ikut andil dalam pertempuran. Ia juga melawan beberapa pasukan yang berada di dekat jarak serangnya. Sasuke bergerak cepat. Ia tebas semua yang menghalanginya. Matanya terus mencari satu sosok yang sudah lama sangat ingin ia habisi. Sasuke yakin, kali ini orang itu pasti berada di sini. Memerintah langsung penyerangan kali ini.

Keadaan mulai tak terkendali. Semua pasukan Naruto sudah terjun untuk balik menyerang. Beberapa bahkan sudah tidak berada di dekat kereta kuda, hanya Naruto yang tersisa di sana. Hinata dan Sakura sama-sama memejamkan mata ketika mendengar teriakan dan jeritan bahkan tebasan kencang yang samar terdengar. Satu tangan Sakura juga menggenggam erat belati Sasuke. Jantung mereka sama berdebarnya. Napas mereka juga memburu. Mereka sama-sama takut.

Beberapa menit berselang, Sasuke belum juga menemukan sosok yang dicarinya. Di mana pria itu bersembunyi? Di mana dia berada? Satu tebasan berhasil melumpuhkan musuh di depannya. Matanya kembali mencari dan dadanya bergemuruh hebat saat melihat satu pria dengan kuda hitam bergerak mendekati kereta Hinata.

Kuso. Tanpa ragu lagi Sasuke berlari sekencangnya. Ya, Itachi hanya menginginkan Putri Hyuuga. Jadi seharusnya Sasuke tahu pria itu akan menunggu waktu sampai pertahanan di sekitar perempuan itu kosong. Cih, harusnya ia menyadari itu. Rasa bencinya yang begitu besar ternyata mampu menutup akal sehatnya.

Naruto segera mencabut pedangnya dari tubuh musuh yang baru saja dilumpuhkannya. Mata birunya menatap marah pada sosok pria yang datang mendekat. Diacungkannya ujung pedang itu sebagai tanda bahwa ia siap melawan pria yang ia yakini bernama Itachi Uchiha.

Itachi menundukkan sedikit tubuhnya. Pedangnya ia siagakan dengan tatapan mata mengarah pada pria berambut kuning itu. Kudanya pun ia perintahkan untuk berlari semakin kencang. Pegangan pedang Naruto menguat, ia segera menaiki kuda putih yang berada di dekatnya. Sama halnya dengan Itachi, ia juga bergerak mendekat. Tanpa disadarinya, Itachi menyeringai senang.

Saat jarak sudah semakin dekat, di mana Naruto sudah mengangkat pedangnya tinggi dan bersiap untuk menyerang, Itachi lantas menarik tali kemudinya dan memerintahkan kudanya untuk berbelok arah. Ia sengaja memancing Jenderal Divisi 1 itu untuk menjauh dari incarannya.

Ia bergegas turun dan membuka pintu paksa kereta kuda itu. Menendangnya dengan keras. Kedua perempuan yang berada di dalamnya lantas menoleh dan menjerit karena suara keras itu. Sakura segera mengacungkan belatinya, di mana ia mengambil posisi berdiri di depan Hinata. Satu tangannya masih berpegangan erat dengan Hinata.

Keduanya gemetaran, terlebih mata hitam itu sangatlah mengerikan. Jadi inikah pria yang ingin membunuh Hinata?

"Hyuuga."

Tenggorokan kedua perempuan itu tercekat hanya karena satu kata dari pria di depannya. Hanya satu kata namun tersirat perasaan benci yang begitu besar. Sama mengerikannya dengan mata hitam itu.

Belum sempat Itachi bergerak mendekat, satu ayunan pedang membuat ia memundurkan langkahnya untuk mengelak.

Ketemu! Akhirnya mata hitam itu bertemu. Mata yang sama-sama memancarkan kebencian. Mata yang sama-sama memiliki keinginan membunuh yang besar.

Sasuke menggeram dan langsung menyerang Itachi kembali, "Mati kau, Itachi!"

Mata hijau Sakura melebar. Ia tidak salah dengar, bukan? Pria itu ... Itachi? Itu artinya dia adalah kakak Sasuke. Tapi, mengapa sepertinya pria itu sama sekali tidak mengenali Sasuke? Walau pancaran mata mereka sama-sama mengerikannya, namun pandangan mata Itachi tidak ditujukan untuk Sasuke. Kebencian itu memancar jelas ketika mata hitam Itachi menatap ke arah mereka, tepatnya ke arah Hinata.

Itachi mendecih. Serangan yang ia terima dari pria di depannya lumayan menyulitkan dirinya. Kemampuan pria ini tidak bisa ia remehkan. Kali ini perhitungannya meleset. Ia hanya mengira bahwa lawan yang harus ia taklukkan adalah Jenderal Divisi 1. Tapi ternyata mereka memiliki pasukan dengan kemampuan sehebat ini.

Satu tangan Sasuke ikut menahan pedangnya dari sisi tajam pedang Itachi yang menekan kuat di atas kepalanya. Ia menggeram menahan kekuatan Itachi. Pandangan mereka menatap dekat. Emosi Sasuke bermain, benaknya kembali memutar kepingan memori masa lalunya. Kenyataan saat tahu ayahnya telah tiada, kemudian disusul oleh kematian ibu dan juga orang-orang yang ia sayangi. Ditambah dengan fakta bahwa ia memiliki seorang kakak laki-laki. Sosok pria yang tidak ada bersama ia dan ibunya. Sosok pria yang lebih memilih membunuh, daripada hidup bersama dengannya.

Dialah awal mula semuanya. Sosok yang wajib Sasuke benci. Alasan di balik itu semua adalah Sasuke tidak mengerti mengapa ia begitu tergiur dengan kedudukan kaisar? Sebegitu pentingkah itu semua sehingga ia rela meninggalkan ayah, ibu, dan dirinya? Memilih hidup sendiri? Bahkan pria itu tampak tidak mengenalinya sama sekali? Apakah ia juga telah melupakan kedua orangtuanya? Berengsek!

Sasuke memerintahkan kakinya untuk menendang. Itachi mundur, kembali menghindar. Tekanan pada pedangnya melemah dan Sasuke memanfaatkannya dengan mengarahkan pedang itu ke sisi kanan.

Sakura dan Hinata hanya bisa tercengang. Kedipan mata mereka berkurang karena terfokus pada pertarungan di depannya. Dua orang yang sama-sama kuat. Serangan dan pertahanan mereka seimbang sehingga tidak ada satu luka pun yang bersarang di tubuh mereka.

Itachi menatap kesal. Ia tidak bisa membuang-buang waktu. Tujuannya sudah ada di depan matanya. Lagi pula sedari tadi pria di depannya ini tidak serius melawannya. Setelah mundur beberapa langkah karena menghindari serangan Sasuke, Itachi mulai memasang kuda-kuda. Kaki kanannya berada di depan, pedangnya ia angkat tinggi hingga setara dengan matanya. Tangan kirinya terjulur, jari telunjuk dan jari tengahnya hampir menyentuh ujung pedangnya, dan tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan. Waktunya untuk serius.

Sasuke menyadarinya. Sasuke juga mulai memasang kuda-kuda. Pedangnya melintang di depan hidungnya, telapak tangannya terbuka dan berada di belakang sisi pedang yang tidak tajam. Kedua kaki depan mereka sama-sama bergeser pelan, namun detik berikutnya mereka melesat cepat.

Sangat cepat hingga kedua wanita itu bahkan berkedip beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang mereka lihat. Sekelebat bayangan diiringi dentingan keras dua pedang yang beradu.

Berawal dari serangan Itachi yang bergerak menusuk, namun Sasuke berhasil mengelaknya ke arah kiri. Satu keuntungan untuknya, ia memegang pedang dengan tangan kirinya. Ia memutar sedikit tubuhnya untuk menebas punggung Itachi. Sayangnya tanpa ia sadari, Itachi mengubah pola serangannya. Tangan yang semula bergerak lurus kini berputar untuk menebas pinggang Sasuke.

Ayunan pedang Sasuke yang semula untuk menyerang kini berubah menjadi pertahanan. Kedua pedang mereka beradu. Namun Itachi tidak tinggal diam, kaki kanannya telah berhasil mengenai Sasuke. Tangan Sasuke melemah dan Itachi menekan kuat pedangnya hingga ujung pedangnya berhasil melukai perut Sasuke.

Pakaian hitam itu robek, begitupun kulitnya. Ujung pedang Itachi tidak parah merobek kulitnya karena Sasuke masih sempat menghindar. Meski begitu, Sakura panik melihatnya. Baru kali ini dirinya melihat Sasuke sedikit kesulitan melawan musuhnya.

"Kemampuanmu tidak sebanding denganku," ucap Itachi datar namun tidak pada tatapan matanya, "Dan aku tidak mau bermain-main."

Itachi kembali bergerak maju, dengan kecepatan penuh ia kembali menyerang Sasuke. Tidak ia biarkan Sasuke untuk menyerang. Ia terus memaksa Sasuke untuk menahan serangannya, dan itu membuat Sasuke terus mundur. Gerakan Itachi sangat cepat, bahkan kadang ia juga menambah serangan fisik, yang untungnya masih bisa Sasuke lawan.

Sasuke tersungkur, dua tendangan berturut-turut telak mengenai dadanya. Ia mencoba bangkit dengan pedang sebagai tumpuannya. Tangan kanannya sudah berlumuran darah akibat kalah cepat dari Itachi sehingga terlambat untuk menghindari serangannya. Meski begitu, Sasuke juga berhasil memberi luka pada tubuh Itachi walau tidak sebanyak luka di tubuhnya.

Sakura cemas. Tanpa sadar ia berniat turun dari kereta kuda itu. Namun satu tangan terbentang dan menghalangi tubuh Sakura.

"Tetaplah di dalam. Bukankah Sasuke sudah menyuruhmu untuk tidak keluar?" ucap Naruto yang ternyata sudah berdiri di depan kereta Hinata.

"Tapi Sasuke—"

"Tidak ada yang bisa kaulakukan!" potong Naruto, mata birunya menatap tegas Sakura, "Diam, dan jangan keluar!"

"Lalu kenapa kau hanya diam? Kalau kau, pasti ada yang bisa kaulakukan, Naruto," kali ini Hinata yang mengeluarkan suaranya. Mata Naruto berpindah menatap Hinata yang sedikit menjulurkan kepalanya.

"Ia memintaku untuk menyerahkan urusan Itachi padanya. Aku tidak boleh ikut campur."

Sakura mengigit bibirnya keras. Jadi Sasuke sudah meminta hal itu pada Naruto, apakah Naruto juga mengetahui tentang hubungan kedua pria yang sedang bertarung ini?

"Tapi Sasuke terlihat kewalahan melawan pria itu," sambung Hinata ragu. Pasalnya Naruto terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya. Sungguh-sungguh tidak berniat untuk ikut campur.

"Itu sudah keputusannya." Pandangan Naruto berpindah menatap pertarungan di depannya, kemudian berlanjut menatap ke sekeliling. Beberapa anak buahnya telah berhasil membunuh pengikut Itachi. Dari jumlah yang tersisa terlihat jelas mereka memimpin pertarungan ini. Sisanya hanya tinggal Sasuke, apakah ia berhasil menghabisi Itachi atau tidak? Kalau gagal, maka Naruto yang akan melanjutkan sisanya.

"Apa itu artinya kau akan membiarkan Sasuke mati di tangan Itachi?" tanya Sakura yang kini menatap Naruto tajam.

Naruto lantas diam. Ia tidak segera menjawab ucapan Sakura, atau mungkin tidak berniat untuk menjawabnya. Ia lebih memilih diam, karena ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. Ini sudah menjadi kesepakatan di antara mereka. Tapi Sakura benar, apa ia akan membiarkan Itachi memenangkan pertarungan ini?

Mata birunya kembali menatap pertarungan di depannya. Kedua pria yang masih sama-sama menyerang dan bertahan. Bila diperhatikan memang Itachi yang memimpin pertarungan itu. Sasuke bisa mengimbangi, tapi untuk menang kelihatannya sangat kecil.

Sakura hanya bisa menatap punggung Sasuke yang kini tidak berada jauh di depannya. Punggung yang bergerak naik-turun dengan cepat. Darah masih menetes lewat jari-jari tangannya. Luka paling parah yang dideritanya dan akibatnya Sasuke hanya bisa mengandalkan satu tangannya. Itu pulalah yang membuat Sasuke selalu mengelak ketika Itachi berusaha untuk mengadu pedang dengan Sasuke, dia tahu Sasuke tidak akan mampu menahannya.

Berbeda sekali dengan Sasuke, Itachi tidak terlihat kelelahan. Ia masih terlihat tenang meski mengalami luka, yang sayangnya tidak sebanyak Sasuke. Mata hitamnya lantas berpindah, ia menatap tajam perempuan yang berdiri di depan pintu kereta. Kemarahannya langsung memuncak. Kebenciannya semakin menguar.

"Hyuuga." Itachi kembali bergumam rendah.

Naruto yang tahu tatapan mata Itachi langsung bersiaga mengangkat pedangnya. Hinata yang mendapat tatapan mata itu langsung bersembunyi di balik punggung Sakura. Mengerikan. Mata itu sungguh menakutkan. Sakura hanya bisa menelan ludahnya untuk menetralkan rasa takutnya.

Itachi kembali bergerak, begitupun Sasuke. Katana Sasuke terangkat, mengarah pada kepala Itachi yang sayangnya bisa ditahan dengan mudah olehnya. Serangan Sasuke mudah terbaca oleh Itachi. Gerakannya yang sudah melambat adalah salah satu penyebabnya.

Itachi mengelak ke kanan dan menahan serangan Sasuke, lalu secepat kilat ia memutar tubuhnya. Secepat itu pula ia mengubah arah pedangnya sehingga suara gesekan besi terdengar nyaring dan singkat. Sesingkat Itachi memutar pedangnya dan mengarahkannya pada perut Sasuke. Tubuh Itachi kini membelakangi tubuh Sasuke dengan ujung pedangnya yang sudah menembus perut Sasuke. Kepalanya persis berada di samping katana Sasuke.

"TIDAK!" Teriak Sakura kencang. Sakura melepaskan genggaman Hinata saat melihat Itachi kini menendang tubuh Sasuke, yang di saat bersamaan ia menarik katana-nya.

Sasuke jatuh terduduk sembari mengerang kencang. Darah mengalir deras dari perutnya, dan membuat napasnya kini terengah-engah. Tangannya yang penuh luka kini bertugas menahan luka di perutnya. Satu matanya menyipit kala sebuah kilatan cahaya menghalangi pendangannya.

Tepat di depannya, Itachi sudah mengangkat tinggi pedangnya. Sakura lantas berlari kencang sembari berteriak memanggil nama pemuda itu sekencang-kencangnya. "SASUKE!"

Naruto yang juga terkejut dengan apa yang dialami Sasuke terlambat menghalangi Sakura. Ia hendak menangkap perempuan itu, namun Hinata yang sadar Sakura berlari pergi, berniat untuk mengejarnya.

"Berhenti, Hinata!" Naruto langsung menangkap tubuh Hinata dan membawanya kembali ke dalam kereta.

"Sakura ... Sakura!" Teriak Hinata, dengan kepanikan terpancar jelas di wajahnya.

"Aku akan menolongnya asal kau berjanji padaku untuk mengikuti perkataanku."

Hinata dengan cepat langsung menganggukkan kepalanya. Bahkan mundur beberapa langkah ke belakang.

Pedang yang sudah terayun dan mengarah ke kepala Sasuke langsung terhenti seketika. Mata hitam Itachi melebar kala mendengar suara teriakan perempuan itu. Dia yakin, seyakin-yakinnya kalau perempuan itu menyebut nama "Sasuke".

Satu nama, dan itu membuat Itachi langsung mengingat satu sosok yang memiliki nama yang sama. Sosok adik yang Itachi ketahui sudah meninggal puluhan tahun yang lalu.

"Kenapa berhenti, nii-san?" tanya Sasuke dengan seringai di wajahnya.

Belum selesai Itchi bergelut dengan batinnya sendiri. Ucapan Sasuke sukses membuat ia menatap tak percaya ke arah Sasuke. Pedangnya bahkan sudah tidak lagi mengacung tinggi. Benda itu ikut terkulai lemah seperti kedua tangannya yang sudah berada di samping tubuhnya.

"Kau?" Mata hitam Itachi mencoba membaca mata Sasuke, mencari kebenaran dari ucapannya. Apa pria ini sungguh-sungguh adiknya?

"Tidak mungkin!" sambung Itachi.

"Kau tidak mengingatku, nii-san? Apa kau juga tidak mengingat Mikoto Uchiha, atau biasa kupanggil dengan kaa-san?" ucap Sasuke sembari mengatur napasnya.

Rahang Itachi mengeras. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Batinnya selalu menyangkal, namun logikanya berkata pria itu benar adiknya. Mikoto Uchiha, dia juga adalah ibu dari Itachi. Tapi, bukankah mereka sudah meninggal?

Pikiran Itachi yang masih melayang pergi, mau tak mau harus kembali karena rasa perih akibat sebuah goresan benda tajam yang mengenal lengan atasnya. Itachi melompat mundur, meski begitu cairan merah sudah mengalir dari lukanya yang cukup dalam. Satu buah belati sukses memberi luka, yang ternyata adalah luka terparah di tubuh Itachi saat ini.

Tangan Sakura bergetar hebat. Sisa-sisa darah Itachi menetes dari belati yang digenggamnya kuat-kuat. Jantungnya berdetak cepat, sangat cepat seperti deru napasnya sekarang. Matanya terbelalak tak percaya, pria di hadapannya kini meringis sembari memegangi lukanya. Sakura berhasil melukainya.

Ada perasaan lega yang menyentil batin Sakura saat tahu belatinya hanya melukai lengan Itachi. Terdengar bodoh memang. Tapi itulah kenyataannya. Pikiran Sakura saat itu hanya berusaha melindungi Sasuke. Sakura merasa beruntung Itachi bisa mengelak jikalau tidak maka belatinya sudah menancap di dadanya. Dan Sakura tahu, ia belum siap mengalami itu.

Mata hitam Itachi kini berpindah pada perempuan yang baru saja melukainya, kemudian mata itu menangkap pergerakan Jenderal Divisi 1 yang juga mendekat, bersiap untuk menyerang. Pikirannya kacau, ia bahkan melupakan tujuan utamanya. Emosinya telah berantakan. Kondisi ini terlalu berbahaya untuknya jika ia teruskan. Maka sebelum memutuskan untuk pergi, mata hitam Itachi memandang Sasuke. Hanya beberapa detik. Namun di beberapa detik itu mata mereka saling berpandangan.

Menyisakan berjuta tanya di benak Itachi.

Hinata jatuh terduduk tepat ketika Itachi pergi dengan kuda hitamnya. Ia mengambil napas sebanyak-banyaknya seakan semua oksigen di dunia ini akan habis. Sudut matanya berair, melepaskan semua rasa takut, cemas dan kelegaan. Naruto juga lantas menghentikan langkahnya. Setelah sosok Itachi menghilang dari pandangannya, mata birunya segera berpindah menatap Sasuke.

Pria itu. Adik dari Itachi?

Mata Sasuke melebar. Pandangan di depannya kembali memutar ingatan yang tidak pernah ingin ia ingat lagi. Punggung itu, punggung yang berdiri tegak dengan belati di tangan kanannya. Punggung yang melindunginya. Punggung yang tidak pernah bisa ia lihat lagi. Punggung yang sangat-sangat ia rindukan.

Posisi Sakura saat ini sama persis seperti Mikoto. Ada perasaan tak nyaman yang langsung menghambur di relung hati Sasuke. Ia merasakan firasat yang buruk. Punggung itu, punggung yang tidak pernah kembali.

Sakura. Akankah Sakura juga pergi seperti sosok Mikoto, ibunya?

"Pergi ... Sekarang!"

"Tidak, Kaa-san ..."

Rekaman kejadian itu kembali berputar. Bahkan sangat jelas di kepala Sasuke. Tangannya terkepal kencang.

"Kaa-san ... Jangan pergi!"

Matanya terpejam erat berusaha mengusirnya. Tidak! Ia tidak ingin kejadian ini terulang kembali di kehidupannya. Punggung orang yang dicintainya pergi begitu saja.

"Kaa-san! Jangan tinggalkan aku sendiri ... huhu ... Ba-san, Tou-san ... Sasuke takut!"

Sakura yang baru menghela napas penuh kelegaan kini kembali menahan napasnya saat dua tangan melingkari tubuhnya erat. Sangat erat sehingga membuat ia sedikit sesak.

"Sasu—"

"Jangan pergi!"

Entah kekuatan darimana, Sasuke langsung berlari memeluk Sakura. Tak dihiraukannya lagi seluruh sakit dan nyeri pada tubuhnya. Satu yang hanya ia inginkan saat ini, sosok ini tetap bersamanya.

"Jangan pergi!" Kalimat itu terucap lagi, kali ini dengan nada penuh kepedihan. Pelan, namun terdengar jelas di telinga Sakura karena kepala Sasuke menyandar di atas bahunya.

Sakura hanya terdiam ketika Sasuke mengeluarkan kalimatnya lagi. Tersirat banyak perasaan luka di dalamnya. Penuh dengan rasa sakit.

"Jangan tinggalkan aku!" bisiknya pelan, dan tanpa Sakura bisa lihat ada sedikit air di kedua sudut mata Sasuke. Samar Sakura bisa mendengar Sasuke menyebut "Kaa-san". Lirih dan teramat pelan. Kata yang terdengar seperti sebuah panggilan lemah.

Seandainya. Seandainya dulu Sasuke bisa menahan punggung itu. Seandainya ia bisa memeluk punggung itu seperti sekarang, ibunya pasti masih ada bersamanya. Seandainya ia bisa melindunginya, bukan ia yang dilindungi. Pasti, ia masih bisa melihat senyum ibunya. Dan pasti, kasih sayang itu masih bisa ia rasakan.

Rasa penyesalan mulai menggerogoti hatinya. Ingatan itu kembali membangunkan sisi lemahnya. Sisi yang tidak pernah lagi ingin ia sentuh. Karena jika itu ia lakukan maka perih dan luka akan menguasainya. Tameng dingin yang ia bangun akan runtuh seketika. Karena ia tidak bisa mengendalikannya. Rasa sesal itu, melekat seumur hidup dan menyadarkan bahwa betapa lemah dirinya.

Dan entah bagaimana, ia merasa sosok yang ada di pelukannya saat ini ... juga akan pergi.

Bersambung.

Curcul :

Hai ^^

Apa ada yang nyariin cerita ini? Maaf ya aku telat update *Timpukkkkk* hihi, dan sepertinya berlaku juga untuk chap selanjutnya, maaf ya T_T

Tapi klo kerjaanku udah beres semoga bisa balik teratur lagi updatenya ya ^^ (Aku usahain, tapi ngak janji :p)

Maaf juga bales ripiunya singkat dan maaf klo ada yang kelewat juga. Aku buru2 ngerjainnya ^^

Sampai ketemu chap depan ya ^^

07-06-15

.

[U W] - Istri sah Taka One Ok Rock :* -