Mimpi Buruk

Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto.


"Look at how a single candle can both defy and define the darkness."
― Anne Frank

"Tou-san... oto-san...!" Sakura berlari menembus kegelapan, berharap ia akan menemukan ayahnya. Ia sudah berlari lama sekali, namun ia tidak bisa menemukannya dimanapun. Entah kenapa ia merasa bahwa ayahnya ada di suatu tempat, di tempat dimana ia menunggu Sakura untuk menemukannya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanyalah seorang gadis kecil.

"Tou-san- aduh!" Sakura terjatuh dan ia seketika menangis tersedu-sedu.

"Oto-san dimana? Kaa-san berubah, kaa-san tidak mengizinkan aku keluar rumah sekalipun..." Sakura menghapus air matanya. "Aku ingin bebas, aku ingin ketemu Tou-san..."

Sesuatu yang tidak biasa menarik perhatian Sakura, dan ia mengangkat wajahnya. Ada setitik cahaya di depannya. Sakura bangkit kemudian berlari ke arah dimana cahaya itu berasal. Semakin ia mendekat, semakin jelas bunyi aneh yang ditangkap telinga Sakura. Bunyi beberapa lonceng kecil.

Cahayanya tiba-tiba membesar dan gadis kecil itu melindungi kedua matanya dengan tangannya. Di depan ia melihat shiluet bentuk burung besar. Sakura membutuhkan beberapa saat untuk menyadari bahwa cahayanya berasal dari tubuh burung besar itu.

Cahayanya mulai menghilang dan Sakura bisa mengamati burungnya dengan lebih jelas. Bulunya putih, ujung ekornya berwarna emas. Burungnya menyerupai campuran antara burung merak dan cendrawasih. Hati Sakura seketika merasa tentram dan terlindungi.

"Cantik!" ia berseru dan berlari ke arah binatang itu dan memeluknya. Bulunya terasa halus sekali dan luka di kedua lutut Sakura yang ia dapatkan saat terjatuh tadi, menghilang seketika. Sakura mengangkat kepalanya dan burung itu mengamatinya dari dekat.

"Hatimu tulus dan penuh rasa cinta. Aku suka itu. Nampaknya aku akhirnya menemukan jinchuuriki-ku selanjutnya."

"Ara?" Sakura terlihat bingung dan heran, melihat binatang bisa bicara bukan hal baru untuknya, namun ia tidak bisa mengerti apa yang ia katakan.

"Kita akan ketemu lagi, kalau kamu telah menjadi seorang shinobi dan benar-benar membutuhkan bantuanku, aku akan datang. Sebagai balasannya kamu harus mengabulkan permohonanku."

"Permohonan apa?" tanya Sakura dengan rasa ingin tahu.

Burung putih itu mengepakkan sayapnya.

"Kau harus menyelamatkan seseorang untukku. Selamatkanlah dia. Kamu akan bertemu dengannya suatu hari. Selamatkan dia dari seseorang yang sangat jahat."

"Orang jahat? Siapa? Sakura tidak mengerti..."

Burung itu terdiam sesaat sebelum ia melanjutkan perkataannya.

"Akan kutunjukkan sedikit masa depan kepadamu."

Sekeliling Sakura berubah dan ia mendapati dirinya berada di daratan berbatu yang luas. Langitnya berwarna merah tua, hanya ada beberapa awan terlihat.

Gadis kecil itu memekik ketakutan saat tiba-tiba ada empat tugu muncul dari tanah, di sekelilingnya. Tepat di depannya seorang lelaki dengan rambut pirang dan mata biru terikat pada tugu itu dengan rantai.

"S-sakura..." lelaki itu mencoba tersenyum ke arahnya, akan tetapi wajahnya menampakkan rasa sakit yang luar biasa.

"Kyuubi," terdengar suara gelap seorang pria, entah darimana, Sakura tidak bisa menemukan sumbernya.

Gadis kecil itu sekarang melihat ke arah kiri dan ia melihat seorang lelaki berambut hitam pendek, bermata merah, memandang ke arahnya dengan memohon.

"S-sakura... lari..."

"Mangekyou abadi," terdengar lagi suara pria gelap itu.

Tubuh Sakura gemetaran, ia ingin pergi, ingin lari, namun entah kenapa ia tidak bisa meninggalkan kedua lelaki itu sendirian. Sekarang pandangannya menuju ke arah kanan dan ia melihat seorang pria dengan rambut hitam panjang dan baju shinobi merah tua.

"DNA klan senju."

Pria itu tersenyum kesakitan ke arahnya.

"J-jangan pedulikan kami... lari dari sini, kalau ia mendapatkanmu, semuanya berakhir."

Sakura tidak ingin melihat ke belakang, mengetahui ia akan melihat orang lain yang terluka parah. Saat ia mendengar teriakan orang itu, Sakura menutup kedua matanya.

"Rinne tensei dan Rinnegan."

Orang yang berada di belakang Sakura mulai berbatuk-batuk dan ia mengucapkan beberapa kata dengan suara lemah.

"Sakura, maafkan aku... kumohon... lindungilah dunia ini."

Sakura mendengar langkah seseorang berjalan di belakangnya, firasatnya mengatakan bahwa ia harus lari sekarang juga, tapi hatinya melarangnya untuk meninggalkan keempat orang itu disini. Ia membuka matanya dan ia berteriak ketakutan.

Lelaki berambut pirang menatapnya dengan mata kosong, perutnya yang semula menampakkan sebuah segel besar, kini sudah tidak ada lagi. Sakura melihat ke kanan dan ia melihat kulit tubuh pria berambut hitam panjang mulai terkelupas seperti boneka kertas. Dengan berlinang air mata ia melihat ke kiri dan melihat lelaki tampan berambut hitam pendek kini kehilangan kedua matanya. Hanya ada dua lubang kosong berlumuran darah.

"Sakura... kemarilah..." ujar suara pria gelap di belakangnya. "Beri aku apa yang kau sembunyikan di hatimu, berikan Fenikkusu kepadaku dan aku berjanji kau tidak akan berakhir seperti mereka."

Sakura akhirnya berlari, ia melewati tugu dimana lelaki berambut pendek terikat, melemparkan satu pandangan terakhir sebelum ia berlari menuju ufuk timur dimana tidak ada apa-apa terlihat.

Setelah berlari jauh ia berhenti untuk istirahat, dadanya terasa perih. Ia menaruh kedua tangan di atas lututnya. Tiba-tiba sekelilingnya berubah menjadi kegelapan pekat lagi dan Sakura kembali melihat burung putih itu muncul di depannya.

"Apakah itu tadi?" tanya Sakura sambil menangis sedikit.

"Itu masa depanmu," jawab burung itu dan ia menggunakan satu sayap untuk memeluk Sakura. "Maafkan aku untuk memperlihatkan sesuatu yang begitu buruk, namun Sakura, suatu saat kau akan memanggilku dan kau akan menjadi jinchuuriki-ku. Aku datang dari masa depan untuk mempersiapkan dan memperingatkanmu. Orang yang mencariku tidak akan berhenti sampai ia mendapatkanku - mendapatkan kita. Oleh karena itu, aku rasa kau harus mendengar ibumu. Jangan terlalu memperlihatkan dirimu di umum, sebab ia punya mata-mata di Konoha."

"Bagaimana kamu yakin ia tahu tentang aku? Aku tidak pernah bertemu orang itu di desa," Sakura menghapus air matanya. "Aku yakin belum pernah mendengar suaranya sebelumnya."

"Dia akan bertemu denganmu suatu hari. Karena itu juga aku sarankan kamu jadi seorang shinobi."

"Kaa-san tidak mengizinkan aku pergi ke sekolah..." kata Sakura sedih.

"Tenang saja, aku punya seseorang yang bisa mengajarimu tentang menjadi shinobi. Dia seorang shinobi yang handal, baik hati dan aku bisa mempercayakanmu kepadanya. Berita bagusnya, hanya kamu saja yang bisa melihatnya jadi..."

Sakura memiringkan kepalanya, menampakkan rasa ingin tahu. Burung itu mendekatkan kepalanya ke telinga Sakura dan berbisik.

"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu salah satu orang paling tegar yang pernah aku temui. Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa di masa depan Sakura."

Cahaya terang dan menyilaukan membuat Sakura menutup kedua matanya. Saat ia kembali membuka mereka, ia mendapati dirinya terbangun di kamarnya. Ia melihat keluar jendela, dimana bulan purnama menyinari kamarnya. Sakura menghela napas panjang.

"Ternyata cuma mimpi buruk..." ia menyentuh pipinya yang basah, sepertinya ia telah menangis di dalam tidurnya.

"Bukan mimpi buruk kok," ujar suara seorang lelaki muda.

Sakura memekik terkejut dan ia melihat ke arah pintu, dimana seorang lelaki dengan rambut hitam acak-acakan tersenyum kepadanya.

"Yo," ujarnya santai.

Sakura memekik lagi dan ia bersembunyi di bawah selimut. Disana ia diam selama lima menit sampai ia membukakan selimutnya sedikit untuk mendapat udara segar.

"Hey, keluarlah, ayo. Fenikkusu-san bilang aku sekarang harus menjagamu. Jadi lebih baik kita berkenalan sekarang juga. Dulu kamu tidak semalu ini waktu kita bertemu pertama kalinya."

Sakura mengintip keluar dari selimutnya dan ia kembali mengamati lelaki itu dengan saksama. Lama-kelamaan ia mulai mengenali wajah itu. Ia pernah bertemu dengannya dua kali, waktu ia mengunjungi rumah teman ibunya, nyonya Mikoto Uchiha.

"Shisui-niisan?" tanya Sakura ragu-ragu.

"Bingo! Akhirnya kamu teringat aku juga, apa kabar Sakura?" tanya Shisui saat ia duduk di samping Sakura.

"B-baik... tapi kok Shisui-niisan bisa ada di sini?" tanya Sakura heran.

"Aku sudah mati," jawab Shisui santai. Jawabannya membuat Sakura memekik lagi.

"Tenang, aku hantu yang baik kok, 'kan Fenikkusu sendiri mengirimku, masih ingat apa yang dia bilang?"

"F-fenikkusu?" Sakura mulai keluar dari persembunyiannya.

"Burung putih cantik yang kamu lihat tadi. Dialah Fenikkusu," jawab Shisui dengan senyum lebar.

"Oh..." jawab Sakura. Mereka berdua terdiam sesaat.

"Dia mengirimku untuk menjadi sensei-mu Sakura," jelas Shisui. "Aku disini untuk memastikan kamu belajar menjadi seorang shinobi."

"A-apa kamu shinobi yang hebat?"

Shishui nyengir. "Kamu meragukan kemampuanku?"

"B-bukan," jawab Sakura malu-malu. "Hanya saja Nii-san nggak terlihat seperti para guru yang ada di sekolah..."

"Hm, dulu aku ini adalah murid terkuat dan terpintar setelah Itachi, hal itu cukup untuk mengakui kemampuanku," Shisui membuat wajah yang memperlihatkan kebanggaan akan dirinya.

Wajah Sakura sedikit bersemu merah saat mendengar nama Itachi. Shisui melihatnya, namun ia memutuskan untuk tidak terlalu menggali informasi lagi.

"Aku juga bisa mengajarimu jurus-jurus penyembuhan. Hal itu sangat bermanfaat dalam pertarungan."

Sakura mengangguk dan ia duduk di atas tempat tidurnya, memperlihatkan ia mulai tidak takut kepada Shisui lagi.

"Satu hal Sakura, kamu sebaiknya jangan bilang apa-apa tentangku kepada siapapun sebab selain kamu, tidak ada orang lain yang bisa melihatku. Dan kamu sebaiknya merahasiakan soal kemampuan shinobimu nanti. Ibumu tidak ingin kamu menjadi shinobi, jika ia tahu ia akan menyulitkanmu."

"Kenapa?" tanya Sakura heran.

"Karena ia tidak ingin kehilanganmu, hanya itu saja."

Sakura menundukkan wajahnya dan ia merasakan tangan Shisui di atas kepalanya. Ia memandangnya dengan heran dan Shisui tertawa.

"Aku memang hantu tapi hanya kamu yang bisa aku sentuh, ini hadiah dari Fenikkusu-san."

Sakura memandang selimutnya dengan malu. "Dia bilang suatu hari aku akan memanggilnya."

"Ya," Shisui menarik tangannya dan Sakura merasa sedih sedikit. Sudah lama sekali sejak ada orang yang menpuk kepalanya. "Jika saatnya datang kamu akan melewati masa yang amat sangat berat. Karena itu kamu harus siap."

"Tapi aku nggak mau melewati masa yang sangat berat..." ujar Sakura polos.

Shisui memiringkan kepalanya dengan tersenyum. "Kamu masih anak-anak dan jujur, aku juga tidak ingin hal itu terjadi kepadamu. Tapi kamu sendiri yang akan memanggil Fenikkusu, itu akan menjadi keputusanmu sepenuhnya."

Sakura kembali terdiam, tidak mampu membayangkan dirinya mau melewati hidup yang berat. Shisui kembali menepuk kepalanya.

"Saatnya tidur sekarang putri kecil," ujarnya tersenyum.

Sakura mengangguk dan ia menyelimuti dirinya.

"Apa kamu akan ada disini besok pagi?" tanya Sakura penuh harap.

Shisui nyengir. "Aku akan selalu ada di sisimu mulai sekarang. Mungkin sampai kamu akan bosan kepadaku."

Sakura menutup kedua matanya sambil berbisik. "Itu tidak mungkin... aku tidak punya teman siapapun lagi selain Shisui-niisan..."

Setelah berkata begitu Sakura tertidur lelap. Shisui memandangnya dengan tersenyum, kemudian senyumnya menghilang saat ia mengarahkan pandangannya keluar jendela. Di luar pintu gerbang, seseorang yang menyembunyikan wajahnya di bawah kerudung, menatap ke arah jendela dimana Shisui berada. Shisui tahu, orang itu tidak bisa melihatnya, namun ia tahu orang itu mengawasi rumah ini untuk melihat orang tertentu.

"Cepat pergi dari sini, keparat..." bisik Shisui.

Akhirnya setelah lima belas menit, orang itu meninggalkan posisinya. Shisui menghela napas dan pandangannya kembali tertuju ke gadis kecil yang kini tidur lelap. Ia kembali mengelus kepalanya, merasa berat, mengingat kembali akan masa depan yang diperlihatkan Fenikkusu kepadanya. Sesuatu yang ia tidak perlihatkan ke Sakura tadi.

"Jangan sampai kamu jatuh ke tangan orang itu Sakura. Sebab kalau hal itu terjadi... dia akan melakukan hal-hal yang sangat buruk terhadapmu."

Shisui menutup kedua matanya.

"Seandainya aku bisa bertemu dan menceritakan semuanya kepada Itachi..."


Update cepat untuk semuanya. Silahkan cek fanfiksi terbaru saya "our own fairy tale" :D Saya hampir selsai nulis update untuk CIHE juga. Sampai jumpa!