Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts
Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... (Tapi mungkin setelah 2-3 chapter lagi, alurnya mungkin akan terkesan di-skip-kan alias gk selambat ini lagi).
Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
Chapter 10
(Our First Kiss?)
Hermione berjalan dengan wajah murung melewati koridor-koridor Hogwarts menuju ke Aula Besar. Sejak tadi ia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan cukup keras. Semua orang yang melihatnya kebanyakan lebih memilih menunduk dan berjalan tergesa-gesa ketika berpapasan dengannya. Bagaimana tidak? Hampir semua siswa yang kedapatan memandanginya, langsung saja diberi death glare gratis oleh singa cantik itu.
Gadis itu, Hermione Granger. Ia sedang dalam keadaan mood yang sangat tidak baik untuk saat ini. Bahkan untuk membalas sapaan dari orang-orang yang menyapanya pun sangatlah susah dilakukannya.
"Hey, itu Hermione Granger kan?" kata salah seorang murid berjubah Hogwarts dengan lambang elang di bagian dada kirinya.
"Apa benar yah berita itu?" Samar-samar terdengar suara gadis yang lain. Ikut menimpali perkataan temannya tadi.
"Ah, tapi apa mungkin? Bukankah mereka selama ini bermusuhan?" Kali ini suara itu berasal dari salah satu gadis asrama Hufflepuff.
"Tapi kurasa mungkin saja. Kau lihat saja Draco Malfoy. Oh dia sungguh pria yang sangat tampan. Sungguh beruntung Hermione Granger itu bisa dikabarkan menjadi pacarnya." Sebenarnya Hermione sudah tak tahan lagi mendengarnya. Diseretnya kakinya dalam langkah kaki yang tergesa-gesa. Berharap indera pendengarannya semakin tak fokus mendengar celotehan-celotehan tak bermutu adik tingkatnya itu. Tapi semakin ia berusaha untuk tidak mendengarkannya, rasanya telinganya semakin tajam saja untuk menangkap setiap kata demi kata yang terlontar dari segerombolan gadis adik tingkatnya itu. 'Dasar tukang gosip!' sungutnya dalam hati. Ia meniup poninya kesal sehingga menerbangkan rambut ikal coklat di dahinya itu.
"Yah, semua gadis pasti akan merasa senang dengan berita seperti itu. Tapi apa menurutmu mereka cocok? Ah, menurutku sih merek it—"
"Diam kalian! Masing-masing 10 poin dipotong dari Ravenclaw dan Hufflepuff karena sudah membicarakan ketua murid dengan tidak sopannya!" Geram Hermione. Gadis-gadis itu tak menyadari jika ternyata omongan mereka tadi cukup jelas untuk didengarkan oleh Hermione. Untuk sesaat mereka saling berpandangan dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara takut, terkejut, atau malah salah tingkah. Bayangkan jika dirimu kedapatan sedang membicarakan orang lain dan tiba-tiba saja orang tiu muncul di hadapanmu. Sangat mengejutkan, tentu saja. Dengan buru-buru siswi-siswi sekitaran kelas empat dan lima itu segera berlari tergopoh-gopoh meninggalkan Hermione yang nampaknya masih siap untuk memberikan detensi jika mereka masih tetap berada disana.
Dengan kesal, Hermione kembali melanjutkan langkahnya dengan berat. Perjalanan menuju ke aula besar nampaknya sangat terasa jauh untuk kondisi seperti sekarang. Setidaknya itulah yang dirasakan Hermione. Ditambah lagi dengan perutnya yang sudah keroncongan, berbunyi-bunyi sejak tadi—pertanda meminta asupan energi makanan. Ditambah dengan kekesalannya dengan gosip-gosip murahan yang telah menjamuri seantero Hogwarts. Sungguh saat ini Hermione benar-benar ingin mencekik leher Rita Skeeter dan menjambak habis rambut pirang bergelombangnya itu dengan kekuatan troll saking kesalnya!
'Huh, memikirkannya saja sudah sangat menyenangkan. Apalagi jika sampai benar-benar kulakukan?' batinnya riang. Untuk sejenak, Hermione merasa dirinya dipenuhi dengan roh-roh jahat yang siap melakukan tindak kejahatan apa saja demi membalaskan kekesalannya terhadap biang gosip Daily Prophet itu.
Saking asyiknya ia membayangkan betapa menyenangkannya mencekik leher Rita Skeeter sampai putus, sampai-sampai sekarang ia sudah tak menyadari jika dirinya sudah ada di ambang pintu menuju aula besar sampai ada seseorang yang nampaknya dengan sengaja menabraknya dengan sangat keras—yang sukses membuat Hermione terhuyung nyaris jatuh di lantai koridor. Dengan segera ia menoleh ke belakang dengan tatapan meringis masih kesakitan. Langsung saja emosinya naik ke ubun-ubun mendapati gadis berambut hitam pendek tengah tersenyum nista ke arahnya. Hermione menggertakkan giginya kesal melihat si kelelawar tua itu yang ada disana. Yah, Pansy Parkinson lah yang nyaris membuatnya celaka dan nyaris membuatnya mencium lantai dingin kastil dengan tidak elitnya.
"Parkinson! Apa-apaan kau, hah? Mendorongku hingga nyaris tersungkur, eh?" Rengut Hermione kesal dengan mata berkilat-kilat marah. Cukup sudah tekanan batinnya untuk hari ini, ditambah dengan kedatangan si cempreng Parkinson benar-benar membuatnya ingin meledak seketika.
"Oh, maafkan aku Granger. Aku benar-benar tak melihatmu. Maklum lah, mataku sangat tidak cocok untuk melihat debu kotor berlumpur sepertimu," kata Pansy tajam dengan nada-nada menjijikan yang menusuk perasaan. Ia meletakkan tangannya di depan dada. Memandangi Hermione dengan pandangan menghina.
"Aku sama sekali tak butuh pendapat tentang matamu yang rusak dan jelek itu Parkinson! Cih, aku sudah tahu kalau memang matamu tidak bisa difungsikan dengan benar!" Balas Hermione tak kalah tajamnya.
"Berani-beraninya kau darah lumpur sialan mengatakan hal itu padaku? Memangnya kau pikir kau siapa, hah? Kau hanya secuil lumpur tak berharga yang sama sekali tak pantas berada disini!" Pansy mengacungkan tangannya tepat di depan hidung Hermione. Menandakan bahwa sekarang ia benar-benar ikut tersulut emosi dengan perkataan Hermione Granger yang malah membuatnya merasa terpojokkan. Namun iba-tiba di tengah puncak kemarahannya itu, terdengar suara dari kejauhan. Di dengar dari langkah-langkahnya yang makin nyaring, menandakan bahwa orang itu tengah berlari menuju arah mereka.
"Hermione! Hosh! Hosh!" Kata orang itu disela-sela napasnya yang terengah-engah. Satu tangannya memegangi perutnya dan satunya lagi sibuk mengusap peluh yang berceceran di keninngya.
"Apa yang kau lakukan disini 'Mione? Bersama kelelawar tua ini?" Gadis berambut merah itu dengan segera menguasai keadaan. Yah, gadis itu adalah Ginny Weasley. Ia mengernyit bingung ketika memandangi Pansy Parkinson.
"Siapa yang kau maksud kelelawar tua Weaselette merah kecil?" Pansy yang merasa tersinggung lansung berkata sengit mendengar perkataan sang gadis Weasley itu.
"Oh, maaf Parkinson. Aku benar-benar tidak menuduhmu loh. Tapi kalau kau memang merasa, yah baguslah," jawab Ginny santai sambil mengedikkan bahunya seolah tak peduli. Pansy membelalakkan matanya. Seorang Granger dan Weaselette benar-benar bisa membuat darahnya naik ke ubun-ubun.
"Berani-beraninya kau keturunan Weaselette miskin berbicara seperti itu padaku!" Pansy sekarang beralih ke arah Ginny. Wajahnya sudah merah padam karena sulutan amarah.
"Memang kau pikir kau ini siapa eh, Parkinson? Berani-beraninya kau menghina keluargaku! Aku tak peduli kalau kau lebih tua dariku! Aku tak peduli kalau dulu kau adalah kakak tingkatku! Yang aku peduli hanyalah jangan pernah mengata-ngatai keluargaku dengan mulut kotormu itu!" Ginny ikut terbawa emosi mendengar hinaan pedas Pansy terhadap keluarganya. Melihat itu, Hermione segera menenangkannya. Ia mengelus-elus pundak gadis Weasley itu, mencoba untuk menyurutkan emosinya. Kemudian ia berbalik ke arah Pansy Parkinson. Dengan gigi yang bergemulutuk karena marah.
"Hey Parkinson cempreng!" Pansy mendelik mendengarnya. "Sebenarnya apa maumu, hah? Jika kau punya masalah denganku, tak usah membawa-bawa nama orang lain! Jangan menjadi pengecut seperti ini! Dasar gadis sinting!" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Hermione, meskipun sebenarnya ia tak ingin mengatakannya. Apalagi mengingat statusnya yang menjabat sebagai ketua murid—yang seharusnya menjadi seorang teladan dan panutan. Tapi apa boleh buat, ia hanyalah manusia biasa yang tentu memiliki batas kesabaran.
"Kau mau tahu apa mauku dan apa masalahmu denganku hah?" Pansy maju selangkah dengan senyum menjijikannya. "Tentu saja aku ingin agar kau menjauhi Drakie-ku! (Hermione nyaris tertawa mendengar sebutan konyol Pansy untuk Draco) Dan jangan pernah sekali-kali kau mencoba untuk merebut Drakie-ku! Atau aku akan membuat hidupmu menderita Granger-Jalang-Sialan!" Raung Pansy. Sekilas, ia nampak seperti Banshee sekarang—ditambah dengan suara cemprengnya yang memekakkan telinga.
Hermione menyipitkan matanya mendengar perkataan Pansy. Jalang? What the hell? Apa gadis jadi-jadian ini tak menyadari bahwa perkataannya barusan sama saja kalau ia telah mengatai dirinya sendiri? Hello! Dasar gadis cempreng berotak udang! Sungut Hermione kesal dalam hati.
"Dengar baik-baik Nona Parkinson yang terhormat, aku sama sekali tak pernah berniat untuk merebut Malfoy darimu! Asal kau tahu saja, jika memang benar Draco itu menyukaimu, seharusnya kau tak perlu bersikap seperti ini terhadapku! Oh aku tahu, pasti kau takut dan merasa tersaingi olehku sehingga kau rela melakukan cara tidak bermoral seperti ini demi mendapatkan Malfoy! Sungguh tindakan yang sangat memalukan untuk Slytherin sepertimu," Hermione berkata tajam dengan penuh penekanan di setiap perkataannya kemudian memalingkan wajahnya.
Pansy terbakar amarah akibat perkataan yang dilontarkan secara frontal dari bibir Hermione. Bahunya terlihat bergetar menahan kekesalannya. Dengan segera ia mengangkat tangannya dan hendak menampar Hermione. Sementara itu Hermione yang tidak menyangka akan kejadian ini, hanya bisa pasrah akan nasibnya. Ia memejamkan matanya—siap menerima tamparan Pansy yang memuakkan. Ginny tercengang melihat kejadian yang nyaris terjadi di depan matanya itu. Tak banyak yang dapat gadis Weasley itu lakukan selain ikut menikmati pertunjukan konyol di depannya.
"Pans! Hentikan!" Tiba-tiba terdengar suara berat dan dingin dari kejauhan. Dengan secepat kilat Pansy menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia melihat Draco telah berdiri menjulang disana dengan rahang-rahang yang mengeras. Pansy terlihat gelagapan dalam situasi ini—apalagi Hermione masih dengan posisi berlutut di hadapannya—siap menerima tamparan yang hampir saja terjadi padanya.
"Drakie!" Pekik Pansy pelan. Cepat-cepat ia segera menurunkan tangannya dan mencoba untuk memberikan senyuman paling manisnya ke arah Draco—yang sayangnya hanya membuatnya terlihat semakin buruk dan menjijikan. Draco berjalan mendekat ke arah mereka dengan langkah-langkah tegas.
"Apa yang kau lakukan disini, Pans?" Tanya Draco datar dalam nada dingin. Bagaimanapun juga, seburuk-buruknya kelakuan Pansy, tapi ia tetaplah sahabat Draco semenjak tahun-tahun awalnya di Hogwarts.
"Tidak melakukan apa-apa," bohong Pansy.
"Tapi tadi aku melihat kau berniat menampar Granger. Asal kau tahu Pans, mataku masih normal dan bisa melihat hal-hal bodoh yang baru saja akan kau lakukan,"
"Oh baiklah Drakie, aku mengaku. Aku tadinya memang berniat untuk menampar Granger-Jalang-Sialan itu!" Suara Pansy meninggi. Ia tak lagi bersikap manis seperti sebelumnya—menyadari bahwa Draco tentu tidak akan percaya padanya setelah melihatnya tadi.
"Potong 30 poin dari Slytherin, karena berbuat hal yang menjijikan di tempat umum," Draco berkata tenang. Ketiga gadis yang berada disana sama-sama tercengangnya. Bukan apa-apa, Pansy termasuk sahabat Draco dan berada dalam satu asrama yang sama—Slytherin. Dan barusan? Ia baru saja memotong poin dari asramanya sendiri—demi ... Hermione? Ah, Hermione menepis jauh-jauh pikiran itu. Ia tidak boleh merasa 'GR (GedeRasa)' seperti ini.
"Drakie! Apa yang kau lakukan? Memotong poin Slytherin dengan seenaknya hanya karena gadis lumpur ini?" Pansy menyipitkan matanya tak percaya sembari menunjuk-nunjuk ke arah Hermione. Namun Draco masih sama seperti sebelumnya—menyetel wajah datar dan sama sekali tidak merespon perkataan Pansy.
"Drakie! Jawab aku! Kau benar-benar membelanya dibandingkan aku?" Tak menyerah begitu saja, Pansy kembali bertanya sambil mengguncang-guncangkan bahu Draco dengan mata yang sudah terlihat berlinang. Namun Draco tetap bergeming di tempatnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk menepis tangan Pansy kasar dan kemudian pergi meninggalkannya. Yah, Draco pergi dari tempat itu setelah memotong poin dari asramanya sendiri. Pansy hanya bisa menganga shock atas perlakuan Draco barusan terhadapnya.
"Hermione, ayo kita pergi dari sini," ajak Ginny kepada Hermione yang segera menyeret Hermione ke aula besar. Hermione tak berkata apa-apa selain mengikuti Ginny dalam diam—meninggalkan Pansy Parkinson yang nampaknya sudah akan menangis di tempatnya berdiri mematung.
"Awas kau gadis jalang! Tunggu pembalasanku, Granger sialan," Pansy bergumam tajam dalam ledakan amarah yang membuncah jiwanya setelah beberapa saat kepergian Hermione dan Ginny dari koridor tersebut.
-OoOoO-
Hari demi hari berlalu setelah insiden Hermione dan Pansy Parkinson di koridor. Dan nyatanya, nampaknya semenjak saat itu hubungan antara Draco dan Pansy mulai merenggang. Hal ini bisa dilihat ketika di aula besar, Draco selalu menghindar untuk duduk berdekatan dengan Pansy—tak seperti biasanya. Dan tak hanya di aula besar, di koridor, kelas-kelas dan di berbagai tempat di Hogwarts lainnya sekalipun. Nampaknya ia benar-benar berusaha menjaga jarak dan mendiamkan gadis kelelawar bermuka anjing pug itu.
Yah, hari berlalu dengan begitu cepat. Dua hari lagi pesta dansa akan dilaksanakan. Dan Hermione serta Draco sudah menyiapkan semua persiapan yang diperlukan dengan baik dan matang—yang tentu saja membuat Professor McGonagall berdecak senang atas kerja keras mereka.
Siang itu Hermione nampak sangat sibuk—jika mondar-mandir tak jelas bisa dikatakan sebuah kegiatan sibuk—yang entah karena hal apa. Yang jelas sudah beberapa kali ia mondar-mandir di dalam ruang rekreasi asrama ketua murid. Sedikit-sedikit menggumam tak jelas, menggerutu, dan sesekali memegang kepalanya seakan-akan ia begitu frustasi. Kegiatannya itu berlangsung hingga Draco Malfoy muncul dari balik lukisan yang mengayun terbuka. Bahkan ia sampai tak menyadari kehadiran partnernya itu.
Draco yang melihatnya mengangkat sebelah alisnya heran. Sesekali ia mendengar samar-samar Hermione mengucapkan nama 'Merlin', 'Demi Godric Gryffindor', dan beberapa gumaman tak jelas lainnya. Ia kini sudah duduk di sofa hijau favoritnya—masih memperhatikan tingkah Hermione yang aneh itu—sampai akhirnya ia memutuskan untuk berdiri dan menepuk pelan pundak Hermione.
"Granger!" Ucap Draco tiba-tiba yang sukses membuat Hermione terlonjak kaget.
"Malfoy! Uh! Kau mengagetkanku, pirang!" Hermione berkata gemas sembari memukuli lengan Draco beberapa kali.
"Aw...aw! Hentikan Granger, kau menyakitiku!" Draco melenguh panjang sambil mengusap-usap lengan kanannya yang kini sudah bebas dari pukulan Hermione.
"Siapa suruh kau mengagetkanku. Lagian sejak kapan kau ada disini, Malfoy? Kau tahu? Kau seperti hantu saja! Muncul di suatu tempat dengan tiba-tiba," Hermione berkata dengan wajah serius. Hantu? Draco mendengus mendengarnya.
"Yaya, Granger. Aku memang hantu. Dan sebentar lagi aku akan menghisap darahmu," Draco mengatakannya dalam nada yang panjang-panjang. Tangannya ia ulurkan ke depan seolah-olah benar-benar ingin mencekik dan meminum habis darah Hermione—layaknya vampire. Kini giliran Hermione yang mendengus.
"Oh sudahlah, lupakan. Jangan ganggu aku," Hermione menghempaskan bokongnya dengan keras ke atas sofa merahnya.
"Memangnya ada apa denganmu? Kau punya masalah, Hermione?" Draco memberanikan diri untuk bertanya kepada Hermione. Untuk sesaat, Hermione menatapnya. Ia masih terkejut ketika Draco menyebut nama depannya. Well, bukankah 'katanya' sekarang mereka sudah berteman? Hell! Hermione tadinya benar-benar lupa dengan fakta yang satu itu. Namun bukannya menjawab, Hermione malah memijat-mijat pelipisnya tak peduli. Draco kembali memanggilnya setelah ia merasa sama sekali tak diperhatikan oleh Hermione.
"Oi, Granger!" Crap! kembali dengan nama belakang! Yah, Hermione rasa sebaiknya memang begitu untuk sekarang. Karena jujur, lidahnya sendiri pun masih terasa kaku jika harus terus menerus mengucap nama depan partner ketua muridnya itu.
"Oh, diamlah Ferret!" Hanya itu balasan Hermione.
"Aku tak akan diam kalau kau tidak mau bercerita padaku," ujar Draco santai. Hermione mendelik tajam ke arahnya.
"Siapa kau, huh?" Sembur Hermione galak.
"Aku? Kau tak tahu aku, Granger?" Draco berkata dalam nada serius yang terlalu dibuat-buat. "Baiklah, akan kujelaskan padamu," lanjutnya. "Aku Draco Malfoy," Ia menekankan pada saat menyebut 'Draco Malfoy'. "Siswa paling tampan dan mempesona di seantero Hogwarts," terang Draco bangga sembari sedikit membusungkan dadanya kedepan. Hermione menyipitkan matanya tak percaya dengan kepercayaan diri yang terlalu tinggi dari ferret di hadapannya itu. Tak lama kemudian ia mendengus keras—sangat keras malahan—membuat Draco terkekeh kecil melihatnya.
"Jadi?" Draco kembali membuka suara.
"Apa?" Hermione menyahut malas.
"Ceritakan," perintah Draco. Hermione kembali mendelik kepadanya. Tatapannya seakan-akan berkata 'apa-hak-mu-menyuruhku-seenaknya-pirang?' Namun Draco seolah tak peduli dengan tatapan tajam Hermione yang dialamatkan kepadanya itu.
"Well—kalau kau tak mau memberitahuku, dengan sangat terpaksa aku akan melakukan sesuatu yang pasti akan membuatmu untuk berpikir dua kali," Draco memutar-mutar tongkatnya ditangannya.
Hermione tertawa mengejek di tempatnya. "Kau mencoba mengancamku, musang?" Hermione masih tertawa-tawa meremehkan di tempatnya.
Draco menggeram. "Berhenti tertawa, Granger. Aku serius. Ceritakan sekarang kalau kau tak mau aku cium!" seketika Hermione berhenti tertawa dan menoleh ke arah partnernya itu—Draco Malfoy. Keterkejutan sedikit merayap di wajahnya. Namun sedetik kemudian ia malah kembali tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaaha, kau mengancamku Malfoy? Hahaha ...Lu—lucu hhffffttt...hahahahahaha" Hermione memegangi perutnya yang mulai terasa sakit akibat kebanyakan tertawa. Ia mengusap sisa air mata yang ada di ujung matanya akibat kelebihan dosis tertawanya barusan. Draco kembali menggeram, merasa jengkel melihat respon Hermione yang berbanding terbalik dengan perkiraannya. "Aku tidak bercanda, Granger," kata Draco dalam nada dingin.
"Kau tak akan berani melakukannya, Malfoy," jawab Hermione. Draco merengut kesal di tempatnya. Yang sayangnya malah membuat Hermione kembali meledak dalam tawa. Draco benar-benar jengkel karenanya. Namun tak lama kemudian, ia menyeringai. Seringai yang begitu susah ditebak apa maksudnya. Ia beranjak dari duduknya.
"Hahahahahahahahaha," Hermione masih tertawa lepas di hadapannya. Matanya tak sempat menangkap pergerakan Draco yang menuju ke arahnya. "Hahahahaha ... Kau benar-benar lucu, Malf—ppffffttt," Hermione tercengang. Baru saja sesuatu yang lembut dan basah menempel tepat diatas bibirnya. 'Tunggu! Bibir? Basah dan lembut? Merlin apa ini?' Hermione membatin tak percaya.
Semuanya begitu mendadak dan tiba-tiba, hingga otaknya yang cemerlang itu bahkan tak sempat untuk mencerna semua hal yang tengah berlangsung sekarang. Yup! Draco Malfoy ternyata benar-benar serius dan tidak bermain-main dengan perkataannya tadi. Yeah, DRACO MALFOY BENAR-BENAR MENCIUM SEORANG HERMIONE GRANGER!
'Oh tidak, pasti kiamat tinggal sebentar lagi!' Hermione membatin panik. Kini matanya sudah terbuka sempurna—dengan tatapan terkejut luar biasa, tentu saja. Ia melotot tak terima ke arah Draco. Sementara Draco masih terus menciuminya tanpa ampun. Ciuman yang lembut namun bergairah.
Hermione berusaha untuk melepaskan diri, namun apa daya? Draco jauh lebih kuat darinya. 'Hell no! Seorang Hermione Granger tak akan mungkin pasrah dicium begitu saja –tanpa perlawanan- oleh seorang Ferret jadi-jadian!' ia kembali merengut kesal dalam hati. Namun Draco sama sekali tak peduli dengan Hermione yang memberontak di pelukannya. Jari-jarinya yang panjang mulai bergerilya menyusup ke dalam rambut coklat Hermione—memperdalam ciuman mereka. Hermione sempat bergidik merasakan sensasi aneh yang ditimbulkan oleh Draco. Perlahan-lahan pergerakan Hermione melemah. Ia tak lagi memberontak sejadi-jadinya—bahkan sekarang nyaris ikut mendominasi ciuman Draco.
"Malff—ppftt...Ba-baik...ak-akan ku—ceritakan! Ak—hanyapppfftt-memikirkan...gaa—unkuw yang belwum di-kwrim mom-pfft!" Hermione berusaha menjelaskan masalahnya ditengah-tengah ciumannya dengan Draco Malfoy. Namun Draco tidak bergeming sedikitpun—seolah-olah ia benar-benar tidak mendengarkan apa yang dikatakan Hermione.
'Terlambat, Granger. Aku tak mungkin akan melepasmu sekarang—terlalu menyenangkan," batin Draco nakal. Ia menyeringai samar dalam ciumannya yang kemudian kembali melancarkan aksinya dengan sangat baik.
Hermione benci mengakuinya, tapi ciuman Draco ternyata benar- benar memabukkan.
Draco melancarkan aksinya. Kini ia menggigit pelan bibir Hermione, meminta ruang lebih agar bisa mencicipi tiap jengkal rongga mulut partnernya itu. Entah apa yang dipikirkan Hermione, refleks ia membuka sedikit mulutnya—yang tentu saja momen tersebut tak di sia-siakan oleh Draco. Lidah Draco dengan gesit langsung mencari-cari lidah milik Hermione. Mengajaknya bermain dengan lidahnya sendiri. Ia mulai mengabsen satu persatu barisan gigi rapi Hermione—tak memperdulikan sang empunya yang terlihat kembali sadar dari trans-nya—dilihat dari mata Hermione yang membulat akan apa yang dilakukan Draco padanya.
"Mal—fftthh," Hermione mencoba berbicara di sela-sela ciuman panas mereka. Namun seakan Draco tak memberinya kesempatan untuk itu—Draco dengan segera kembali menciumi Hermione lebih dalam. Dan akhirnya Hermione tak bisa melakukan apa-apa lagi. Entah gila atau bagaimana, sekarang Hermione malah membalas ciuman Draco. Ia juga sudah mulai mengalungkan tangannya ke leher Draco—nampaknya sudah terbawa suasana. Perlahan ia meremas rambut pirang partnernya itu sambil memejamkan matanya.
Dalam ciuman mereka, Draco menyeringai melihat Hermione yang sepertinya kini telah luluh hatinya. Ia menatap wajah gadis dihadapannya itu dengan intens. Wajah cantik merona, hazel indah yang kini tengah terpejam, serta bibir merah ranum yang sekarang sedang dinikmatinya itu. Ah, bahkan dengan jarak yang sedekat ini, Draco dapat dengan jelas melihat binti-bintik kecoklatan di hidung mungil Hermione Granger.
'Sempurna', batin Draco tanpa sengaja.
Hermione membuka matanya. Hazelnya menatap langsung ke arah manik kelabu Draco. Untuk beberapa saat, pandangan mereka bersibobrok—masih dalam ciuman, yang kini kembali melembut—tak seganas tadi.
Draco melepas ciuman mereka. Mengambil pasokan udara sebanyak-banyaknya untuk kembali memenuhi rongga paru-parunya yang rasanya sesak akibat efek ciuman yang berlangsung sekitaran lima belas menit itu—Hermione juga melakukan hal yang sama. Bedanya, sekarang wajahnya lebih merah dari yang seharusnya. Begitupun dengan Draco. Hey! Draco Malfoy bersemu! Momen yang sangat langka!
Hermione masih tidak bergeming di tempatnya. Otaknya masih belum bisa mencerna semua yang baru saja terjadi antara dirinya dan Draco Malfoy. Mereka kembali canggung. Duduk diam bersebelahan. Hingga sekitar lima menit mereka terdiam membisu, akhirnya Draco memberanikan diri untuk membuka suara. Ia berdeham pelan. Manik kelabunya sedikit melirik ke arah gadis hazel disampingnya. Jujur, ia sedikit gugup. Bagaimana bisa perkataan konyol yang dikatakannya tadi benar-benar ia buktikan? Sungguh ia pun sebenarnya tak mengerti dengan apa yang dilakukannya terhadap Hermione barusan. Seolah-olah tubuhnya bergerak tanpa kendali dari otaknya.
"Hmm..Granger," ucapnya sedikit aneh. Hermione masih enggan menatapnya. Pipinya masih terasa panas. Ia tak mungkin mau mengakui bahwa seorang Draco—Ferret—Malfoy baru saja menciumnya—dan sialnya nampaknya ia turut menikmatinya.
"Aku minta maaf," akhirnya Draco melanjutkan perkataannya. Dan tanpa dikomando, ia segera beranjak dari duduknya dan segera menuju ke kamarnya.
'Huh, dasar ferret menyebalkan! Begitukah perlakuannya setelah mencium seorang gadis? Huh, seharusnya kan dia merasa bersalah,' batin Hermione kesal.
Lima menit kemudian akhirnya Draco kembali ke hadapan Hermione sambil membawa sebuah bungkusan besar—di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kotak. Jika diperhatikan baik-baik, bungkusan tersebut sama dengan bungkusan yang diantarkan oleh nurung hantu keluarga Malfoy beberapa hari yang lalu.
"Ini," ucap Draco sambil mengulurkan bingkisan tersebut ke arah Hermione—yang menatapnya dengan wajah bingung bercampur heran. Baru ia akan membuka mulutnya bertanya, namun Draco sudah mendahuluinya lagi.
"Ini gaun untukmu dari Mum. Aku juga tidak tahu persis alasan ia mengirimkan gaun ini untukmu, tapi kusarankan agar kau terima saja. Dengan begitu kau tak usah pusing memikirkan soal gaunmu yang belum sempat kau siapkan," jelas Draco panjang lebar. Untuk sesaat, Hermione hanya menganga di tempatnya. Masih terlalu terkejut akan semuanya.
"Kau tak mau, eh? Yasudah, akan kuberikan pada orang lain saja kalau begitu," ujar Draco kemudian setelah menyadari Hermione yang masih belum bereaksi. Ia sudah memutar kakinya dan berbalik berniat meninggalkan Hermione—yang sebenarnya ia lakukan hanya untuk memancing gadis berambut semak itu.
"Malfoy!" panggil Hermione refleks. Draco menyeringai, dan dengan segera ia kembali memutar badannya ke arah Hermione.
"Mmh, uh-oh ... Ya, aku mau," jawab Hermione merona.
Draco mengangkat sebelah alisnya, yang tak lama kemudian disusul dengan senyuman penuh kemenangan.
-To Be Continued-
-OoOoO-
.
.
.
*Cuap-Cuap Sayur Lodeh*
Yuhuu~
I'm back *ala Voldy |eh? *ah udah abaikan, author bukan si Pangeran tanpa hidung kok hihi~
Wah gak kerasa yah udah seminggu lagi nih, itu artinya MBiF kmbali update XD ...
Hmm, maaf yah klo chapter ini agak gimana gitu (apalagi scene kiss.y) *aww author baru pertama kali tulis yg gituan soalnya *muka polos* hehe ... Tapi sy harap kalian masih tetep suka, tetep setia baca, dan yg terpenting tetep ninggalin jejak review setelah membaca :D Yah biar author tahu, kesalahan dan kurangnya dimana :) ... *sekalian sbg pasokan semngat menulis XDv.
Oke, ini balasan review utk chap yg kemaren yah :) :
Fressia Athena :
Ah iy gpp :) ... emg kemane aje? Wkw~ ah iy ini sudah update ... Makasih reviewnya, review lagi?
hikari rhechen :
Makasih reviewnya :) ini sudah update, gimana? Udah agak berasa romancenya? XD ... Maaf klo masih belum greget yah scene *tiiit*nya hhehe .. Review lagi?
Neemarishima :
Halo jg Nee '-')/ :D haha iya si Skeeter gitu loh *eh ... Reaksinya org sekitar? Yah, penuh gosip gituuu ... Ad yg setuju, ad yg kagak, ad yg marah *lirik Pansy ... dan ada-ada aja haha *plakkk ... Ini sudah dilanjut, makasih yah reviewnya sist :) ... Review lagi?
Naomi Averell :
Gak sabar dgn adegan pestanya? Ah tunggu minggu depan yak chap 11nya XD *sy kan updatenya klo gak Jumat yah Sabtu hehe* ... Thank u atas semangat dan reviewnya sist :) Review lagi?
Ochan Malfoy :
Unyu2? Yah kn mereka emg couple unyu2 dan cute XD ... haha iy mereka temenan skarang, tpi belon terbiasa gitu manggil nama depan *lirik chap diatas XDv ... Maksih dede Ochan, review dan semangkanya *eh salah, maksudnya semangatnya :D hehe ... Ini udah update, review lagi?
Ryoma Ryan – Le Renard Roux :
Manis? Klo chap ini? hehe ... Hmm Thank u reviewnya :) review lagi?
hanazawa yui :
Hehe maafkan author yah krn telah membuat our Drake jd OOC, tapi yah syukur deh klo kmu tetep suka meskipun demikian XD ... Makasih yah sudah review :) ini sudah update lagi, review again? :)
pidaucy :
Wah baru di fandom ini? Dan benarkah ini FF DraMione pertama yg kmu baca? :O Wah selamat datang yah klo begitu di fandom Harry Potter tercintaaaaa :) welcome to our DraMione world XD ... Baguslah klo gegara fict aneh sy ini, kmu bisa suka sm pair DraMione hehe *author terharu |ditabok krn lebay|... Makasih yah sudah review sist :) mind to review again? Hehe ...
Evol lovekai :
Keren? :D Thank u vol (boleh kan manggil gitu? hehe) ... Oh yah, gk usah bingung mau manggil aku ap XD ... Biasanya di duta maupun d'dumay aku dipanggil Loony (meskipun itu bukan nama asli) *karena katanya aku aneh kyak Luna ckck -_- ... Btw, makasih ya reviewnya :) review lagi?
Nalula zurachan :
Ini sudah update sista :) makasih atas semangat dan reviewnya yah, review lagi? :)
valerieva :
Penasaran? Ini sudah update kok *tenang saja XDv ... Makasih yah sudah review :) Review lagi?
.
.
.
Yupp! Makasih banyak utk kalian yg sudah membaca, follows, favs, serta tetap setia meninggalkan jejak reviewnya yah :) *peluk atu2 (emg ad yg mau? Haha |plakk) ... Sungguh review dari kalian sangat berpengaruh atas kelanjutan fict ini *meskipun sy tahu sebagian besar dari kalian, masih 'sider' alias silent reader :O ... Tpi sekali2 boleh dong nyumbangin reviewnya hehe :D ...
Okay ... I think that's all for now, see u in the next chapter guys! Bye ... (´⌣`ʃƪ) :)
.
.
.
Salam manis,
Miss Lovegood.
