Take Me, Knot Me

oOo

Part 10

oOo

Jongin memakai kembali pakaiannya, beberapa kali berhenti sejenak demi menahan rasa sakit yang berada diantara kedua kakinya. Chanyeol masih disana, memperhatikan omega tersebut tanpa berbicara apapun.

Jongin selesai memakai celananya, bagian yang tersulit karena kakinya terus gemetar dan hampir tidak mampu menahan berat tubuhnya. Ia mengusap kedua matanya yang perih dan lelah, menghapus bekas air mata yang terasa berat diwajahnya. Jongin membuang nafas, berjalan dengan langkah pincang menuju kamar sang adik tanpa memperdulikan keberadaan Chanyeol yang kini berada di sampingnya.

"Kai-"

Jongin menepis tangan Chanyeol yang terulur berniat untuk membantunya berjalan karena omega tersebut hampir saja terjatuh. Jongin akhirnya menatap Chanyeol meskipun hanya sekilas. "Kau bisa pergi."

"Kai-"

"Jangan sebut nama itu disini!" potong Jongin dengan tegas. Namun menyesalinya sedetik kemudian saat mendengar isakan Hyera yang masih belum berhenti.

"Kemudian, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"

Jongin berdecak, mendorong dada Chanyeol agar alpha itu memberikan jarak bagi tubuh keduanya yang dirasa terlalu dekat.

"Dengar- Anggaplah aku sebagai orang lain. Kai tidak disini. Dan kita tidak saling mengenal sekarang. Jadi, bisakah kau pergi dan bersikap seolah kau tidak mengenalku selain pada waktu aku sedang bekerja. Aku tidak perduli tentang apa yang kau inginkan, yang jelas sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk itu. "

"Kau benar. Aku memang menginginkan sesuatu." Jongin menyeringai sinis, "Akan tetapi, tidak, Kai. Maksudku-" Chanyeol merasa kebingungan karena Jongin selalu melayangkan tatapan tajamnya setiap kali alpha tersebut memanggilnya menggunakan sebutan itu. "Aku tidak menginginkannya sekarang. Aku bahkan tidak menginginkan untuk melakukannya tanpa persetujuan darimu-"

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?!" gertak Jongin, namun raut wajahnya berubah kala mengingat sesuatu. "Benar. Aku tidak perduli dengan keinginanmu."

"Kai-"

"Sudah kukatakan untuk tidak mengatakan nama itu disini!"

"Maafkan aku."

Chanyeol melihatnya menutup mata, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dengan penampilannya yang sekarang, entah mengapa baginya sosok Kai masih saja terlihat begitu mempesona sama seperti pada saat pertemuan pertama keduanya.

"Baiklah, terserah padamu. Aku tidak perduli."

Jongin membuka pintu kamar Hyera. Dan segera disambut dengan jeritan gadis kecil itu yang memintanya untuk pergi. Jongin tidak memperdulikan lukanya, berjalan dengan langkah besar menuju ranjang adik perempuannya seolah dirinya baik-baik saja.

"Hyera- Hyera, tenanglah. Ini kakak."

"Kakak!" Hyera memeluknya. Hati Jongin seolah diremat melihat gadis kecil itu tampak sangat sedih dan terpukul atas apa yang terjadi.

"Hyera, jangan menangis. Kakak disini."

"Dia orang jahat! Dia membuat kakak marah! Hyera takut." gadis itu terisak, meremat pakaian yang dikenakan oleh Jongin dengan begitu erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.

Jongin mengusak rambutnya, menciumnya beberapa kali. "Hyera, tidak akan ada yang menyakitimu ataupun menyakiti kakak. Tidak akan ada orang jahat selama kakak berada disini. Jangan takut lagi, maaf karena kakak berteriak." ucapnya. Merasa begitu lega karena Hyera tidak mendengar apapun kecuali teriakannya yang sama sekali tidak dimengerti oleh gadis kecil itu.

"Dia membuat kakak marah-"

"Kakak tidak marah."

Hyera kembali menjerit, namun kali ini menunjuk Chanyeol yang berdiri di depan pintu kamar dengan jari kecilnya. "Dia orang jahat! Kakak usir dia! Kumohon! Hyera takut!"

Jongin menatap Chanyeol dengan tajam, sementara alpha itu membelalakkan matanya tidak mengerti. "Hyera. Dia bukan orang jahat. Dia teman kakak. Dia datang kesini hanya untuk menjenguk kakak yang sedang sakit. Maaf, kakak yang bersalah. Tidak seharusnya kakak memarahinya seperti itu."

"Tapi dia-"

"Dia teman kakak, Hyera. Dia orang yang baik. Hyera ingat orang yang memberi Hyera permen cokelat?" Gadis kecil itu terdiam, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Dia orang jahat. Hyera ingat tentang peraturan tidak boleh membuka pintu untuk orang asing?" Hyera kembali mengangguk. "Kakak akan marah jika Hyera melakukannya lagi. Berjanjilah untuk tidak mengulanginya. Kakak akan membelikan banyak permen cokelat untuk Hyera, jadi apapun yang terjadi, meskipun orang itu memberi permen ataupun kue untuk Hyera, Hyera tidak boleh membukakan pintu untuk mereka, Hyera mengerti?" untuk kesekian kalinya, gadis kecil itu kembali mengangguk. Menghentikan tangisannya dan menunduk menyesal.

"Maafkan Hyera. Jangan marah, kak."

"Tidak apa-apa. Kakak tidak marah kepada Hyera."

"Hyera berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Jongin menggingit bibir bawahnya yang bergetar. Ia memeluk sang adik dengan erat dan menciumi wajah gadis kecil itu beberapa kali. "Sekarang tidur, ya?"

Hyera mengangguk. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Jongin menaikkan selimut bewarna merah jambu miliknya hingga menutupi tubuh Hyera sebatas dada.

"Temani Hyera."

"Tentu."

Jongin duduk di tepi ranjang. Mengelus puncak kepala sang adik hingga matanya tertutup. Mendengarkan nafas putus-putus sang adik yang semakin lama menjadi teratur.

Jongin beranjak pergi setelah memastikan Hyera benar-benar terlelap. Menutup tirai jendela kemudian menyalakan lampu tidur yang terletak di atas meja. Meskipun belum memasuki waktu tidur siang, namun Jongin akan membiarkan adik perempuannya itu untuk terlelap karena gadis kecil itu telah mengalami hari yang buruk dan membutuhkan sedikit waktu untuk beristirahat.

Jongin mendorong tubuh Chanyeol menjauh kemudian melewatinya setelah menutup pintu kamar Hyera. Ia kembali memasuki kamarnya namun dengan langkah yang pincang seperti sebelumnya. "Mengapa kau masih berada disini? Bukankah permintaanku begitu jelas supaya kau pegi dari rumahku?" tanyanya tanpa memandang wajah sang alpha.

"Apa kau baik-baik saja?"

Jongin tertawa, mengambil sebuah celana baru dari dalam lemari. "Apa yang kau harapkan dariku atas pertanyaan itu? Menjawab bahwa aku baik-baik saja setelah apa yang terjadi? Jangan bercanda."

"Haruskah aku memanggilkan dokter untuk mengobati lukamu? Aku- Aku melihatmu berdarah."

"Ah, jadi kau sudah melihatnya-"

"Bukan begitu maksudku- Kau tahu bukan begitu maksudku yang sebenarnya." Potong Chanyeol. Menghembuskan nafasnya frustasi karena Jongin selalu saja salah mengartikan maksud dari perkataannya. "Aku hanya merasa khawatir padamu."

"Jika kau khawatir itu artinya kau perduli. Dan jika kau perduli maka kau harus mendengarkanku. Dengarkan aku baik-baik Chanyeol. Pergilah. Pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali. Kau bisa menemuiku di klub dan aku akan memberikan apapun omong kosong yang kau inginkan. Disini bukan tempat yang tepat. Ini rumahku, sesuatu yang pribadi untukku. Jadi aku memintamu untuk segera pergi. Atau aku harus memohon agar kau meninggalkan rumahku? Itu yang kau inginkan?"

Chanyeol membuang nafasnya. Kai begitu keras kepala, membuatnya merasa tidak diinginkan sedangkan tidak ada seseorangpun yang tidak menginginkannya selama ini. "Baiklah." ucapnya, memilih untuk mengalah. "Baiklah, aku akan pergi."

"Ya, baguslah. Tolong tutup pintunya setelah kau sampai diluar."

Reaksi Jongin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Chanyeol. Karenanya alpha tersebut menganggukkan kepalanya sebelum berbalik meninggalkan Kai yang kini berjalan menuju kamar mandi miliknya.

"Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku pasti akan membantu jika kau membutuhkanku." ucap Chanyeol sebelum benar-benar pergi.

Jongin mengabaikannya. Menutup pintu kamar mandi tanpa menjawab perkataannya.

Omega tersebut kembali menangis sesaat setelah mendengar suara pintu depan tertutup. Ia begitu marah dan merasa kacau. Ingin rasanya berteriak melampiaskan segala kekesalan yang berada di dalam hatinya namun Jongin hanya- Ia tidak bisa. Hyera akan ketakutan dan juga sedih melihatnya lemah. Sementara Jongin ingin selalu terlihat kuat di depan adiknya, karena dia merupakan satu-satunya keluarganya yang tersisa. Jongin harus melindunginya.

Sementara itu kini sang adik telah melihat sepercik kelemahan yang ditunjukkan olehnya. Bagaimana bisa dia melindungi Hyera dengan keadaan seperti ini?

Jika saja seorang alpha tidak memporak pondakan perasaan Jongin, ia tidak akan menjadi seperti ini.

Jika saja ia tidak menanggapi keegoisan seorang alpha muda, maka semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya.

"Brengsek. Ini semua karena Sehun."

oOo

Sehun menyantap hidangan makan malam yang tersaji dihadapannya dengan pelan. Hampir terlalu pelan karena kini baik ayah maupun ibunya sudah memakan hidangan penutup namun Sehun masih saja belum menyentuh hidangan utamanya. Berkutat dengan pisau dan garpu tanpa memiliki niatan untuk memotong daging dipiringnya.

"Apa ada masalah? Apa rasa makanannya tidak sesuai untukmu?"

Sehun menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan sang ibu. "Tidak. Makanannya baik-baik saja."

Pada akhirnya Sehun memakannya. Menelan potongan daging itu meskipun nafsu makannya telah menghilang bahkan sebelum ia sempat duduk dikursinya. Alpha muda itu mengabaikan tatapan mata sang ayah yang seolah mengukir lubang di kepalanya.

"Bisakah kita berbicara setelah ini?"

Sehun mengangguk tanpa menatapnya. "Aku akan menyelesaikan makananku terlebih dahulu, ayah."

"Aku akan menunggu di ruanganku."

"Baik."

oOo

"Kau berbau seperti orang lain. Ada aroma omega pada tubuhmu."

Ayah Sehun berterung terang, tidak ingin mengatakan hal lain terlebih dahulu dan langsung menyerang Sehun dengan ucapannya.

"Maaf, ayah. Akan tetapi aku tidak mencium aroma lain ditubuhku kecuali milikku sendiri."

Ayahnya menyeringai, melepas kacamata yang dipakainya kemudian meletakkannya di atas meja kerja. "Aku tidak membahas tentang sekarang. Yang aku maksudkan adalah pada hari sebelumnya, hari dimana kau lagi-lagi menghilang dan kembali saat fajar tiba. Jangan mencoba untuk membodohiku, Sehun."

Sehun terdiam. Menatap ayahnya tanpa menunjukkan emosi apapun. "Ah, hari dimana aku mendapatkan tambahan angka pada usiaku?" ucapnya menyindir sang ayah, yang sama sekali tidak pernah ataupun tidak berusaha untuk mengingat ulang tahunnya. "Aku mengakuinya, ayah. Aku pergi dengan seseorang."

"Seorang beta yang menjadi kekasihmu saat ini tidak memiliki aroma sekuat itu, Sehun. Kau tahu apa maksudku, bukan? Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku mencium aroma seorang omega." terlihat kilatan merah pada kedua mata ayahnya, meskipun begitu ia terlihat begitu tenang. "Aroma itu- Sama seperti aroma terakhir yang kau bawa setelah masamu yang pertama terjadi."

Sehun tersenyum, juga menatap ayahnya dengan tenang. "Ayah benar. Aku kembali menemui omega itu."

Ayah Sehun kehilangan kesabarannya. Menggebrak permukaan meja dengan keras, mengakibatkan dokumen yang tertumpuk disana berantakan dan beberapa diantaranya terjatuh ke lantai. "Apa kau tahu apa yang kini sedang kau bicarakan?!"

"Ayah tidak perlu cemas. Dia hanyalah seorang pelacur dan aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Ini tidak seperti aku akan menjadikannya mate-ku atau apapun-"

"Kau tahu dengan jelas bukan itu maksudku!" bentak ayahnya. "Entah itu beta, omega atau alpha sekalipun! Kau hanya akan berhubungan dengan seseorang yang kami pilihkan untukmu! Dengan perlakukanmu saat ini, sama artinya kau telah mengores nama keluarga besar kita dengan sebuah skandal! Tidak seharusnya alpha dikeluarga ini melanggar peraturan, termasuk tidur dengan banyak orang kemudian menganggap bahwa hal itu merupakan hal yang biasa dan dengan mudah dapat dilupakan!"

"Kemudian- Apa yang ayah inginkan? Untukku kembali minta maaf?"

Ayah Sehun kembali menggebrak mejanya, "Permintaan maafmu tidak akan cukup untuk menebus perilaku memalukanmu ini, Oh Sehun!"

Sehun membuang nafasnya, tidak mengarahkan pandangannya ke arah lain kecuali sang ayah. "Kalau begitu- Aku tidak akan mengatakannya. Karena aku juga tidak merasa bersalah atas apa yang aku lakukan. Segala yang aku ucapkan tidak akan ada artinya bagi ayah- Bagi kalian. Karena kalian tidak akan mengerti. Aku melakukan hal yang kuinginkan. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri. Bukan karena aku menginginkan pujian atau bahkan hinaan setelahnya. Namun karena aku membutuhkannya. Aku membutuhkan kebebasan."

"Kebebasan? Jika kebebasan yang kau maksudkan adalah dengan melanggar peraturan maka hal tersebut akan berbalik menghancurkanmu, Sehun." tatapan sang ayah tidak pernah terlihat seserius ini. Sehun tidak pernah melihatnya begitu kejam dan juga dingin secara bersamaan. Mengatakan hal yang begitu menyakitkan hingga Sehun yang merupakan seorang alpha juga bergetar cemas. "Kebebasan itu akan menghancurkanmu dan membuatmu tidak akan menjadi apapun kecuali seorang alpha yang menyedihkan dan juga menderita. Ingatlah baik-baik apa yang kukatakan, bahwa suatu nanti akan ada saat dimana kau begitu kesakitan dan menginginkan kematian menjemputmu. Bukan karena tubuhmu yang sakit, Sehun. Akan tetapi hatimu."

oOo

Jongin mendengar ketukan keras pada pintu rumahnya pada pukul satu malam. Membuatnya sontak terbangun dari tidurnya dan segera berjalan menuju sumber suara. Ia mendapati Hyera berdiri diantara celah pintu kamarnya, Jongin memintanya untuk tenang dan kembali tidur.

"Tunggu sebentar!"

Jongin menyeret kedua kakinya dengan susah payah. Merutuki siapapun yang berdiri di balik pintu yang telah menganggunya pada waktu selarut ini.

Tanpa merasa curiga atau apapun, omega tersebut memutar kunci pintu kemudian membukanya lebar-lebar. Kedua bola matanya membelalak kala mendapati sosok seorang alpha yang sangatlah tidak diharapkannya menerjang tubuhnya dengan keras dan memerangkap Jongin diantara kedua lengannya.

Tubuh itu bergetar dalam pelukannya. Seolah ada yang menahannya, Jongin tidak dapat mendorong tubuh itu untuk menyingkir darinya meskipun sebenarnya Jongin begitu ingin melenyapkan alpha itu dari hadapannya.

"Apa- Apa yang terjadi?"

Sehun menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher Jongin. Menghirup aroma cokelatnya yang manis dan sekaligus menenangkan baginya.

"Aku membutuhkanmu."

oOo