Winter Story
Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Serta cast yang lainnya
Rated : T—M
Warning : Boys love, Yaoi, GSHeechul [Cerita ini murni hasil pemikiran Author dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan apapun.]
Disclaimer :
Seluruh pemain disini bukan milik Author. Mereka adalah milik diri mereka sendiri, Management serta Tuhan YME. Author hanya meminjam sebentar, ne!
.
.
_This story Original _
by
Nyangiku
.
.
''If you don't like, Don't read it"
Tidak suka? Jangan baca!
.
.
Bagi yang sudah menyempatkan untuk membaca—
.
.
Onegaishimasu
~Selamat membaca~
.
.
Hari ini adalah hari yang di tunggu seluruh siswa Toho International School, awal musim semi yang bertepatan dengan hari ulang tahun sekolah yang selalu di rayakan dengan meriah setiap tahunnya. Selama satu hari penuh sekolah akan mengadakan festival yang dibuka untuk umum. Siapapun boleh datang dengan membayar sejumlah tiket masuk.
Seluruh siswa berpartisipasi dalam perayaan tersebut, setiap kelas memiliki tugas masing-masing untuk membantu memeriahkan festival. Ada yang bertugas menjadi penata hias sekolah, membuka stand makanan, ada yang menjadi bagian keamanan untuk mengamankan ramainya festival, ada yang menjadi petugas kebersihan guna menjaga sekolah mereka tetap bersih dan bebas dari sampah, dan lain-lain.
Ada sekelompok siswa yang di berikan peran khusus dalam memeriahkan ulang tahun sekolah, mereka menjadi bagian yang memberikan hiburan kepada para pengunjung yaitu para klub ekstrakulikuler yang ada di sekolah tersebut. Mereka akan menunjukkan kemampuan mereka selama mereka belajar dalam klub. Semua klub akan memberikan hiburan mereka masing-masing.
Ada dua klub paling favorite dan terkenal selalu sukses menghibur para pengunjung yang datang selama bertahun-tahun, yaitu klub dance dan klub musik Toho International School. Penampilan mereka selalu di tunggu-tunggu setiap tahunnya karena pertunjukkan yang mereka suguhkan tak kalah dengan artis Ibu kota.
Tapi tahun ini ada yang berbeda dari tahun sebelumnya, yaitu kolaborasi. Bukan hal yang aneh memang kolaborasi antara klub musik dan klub dance. Tapi dengan diangkatnya ketua baru bernama Jung Yunho yang membawa ide segar untuk mereka dengan membuat lebih banyak variasi pertunjukkan, rasanya tahun ini akan menjadi tahun yang tak terlupakan bagi siapapun yang terlibat.
Klub musik yang biasanya hanya berkolaborasi biasa, yaitu saling mengiringi di beberapa penampilan saja, misalnya saat ada anggota klub musik yang menyanyi akan di iringi oleh beberapa penari dari klub dance. Itu semua di ubah total atas ide dari Jung Yunho. Ia membuat klub musik saling bertukar peran, dalam arti mereka akan melakukan bagian mereka masing-masing—saling mengiringi—ketika klub musik tampil maka klub dance akan mengiringi dengan tarian dan begitu pula dengan klub dance yang biasanya hanya menari dengan kaset rekaman tahun ini mereka akan menari di iringi oleh musik dan nyanyian live dari klub musik. Kemudian para ketua mereka pun akan melakukan hal tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, yaitu bernyanyi berduet sambil menari bersama-sama.
Tapi rencana itu harus gagal karena musibah tak terduga terjadi pada ketua klub musik yang tidak sengaja jatuh dan cedera ketika sedang berlatih dengan ketua klub dance sehingga membuatnya tidak mungkin untuk tampil. Tapi dengan ide cemerlang dari calon siswa jalur prestasi yang juga adik dari ketua klub dance Jung Yunho yaitu Jung Changmin mereka mengganti penampilan itu dengan sesuatu yang lebih baru.
Dan disini lah Jaejoong berada, dengan pakaian sederhana setelan kemeja berwarna putih yang tidak di kancing seluruhnya ia duduk menunggu giliran mereka untuk tampil dengan tenang sambil memegangi kruk untuk membantunya berjalan.
Jaejoong telah melakukan penampilannya yaitu bernyanyi solo tanpa di iringi tarian dari klub dance dan saat ini adalah gilliran Kibum yang akan bernyanyi solo dengan iringan dari beberapa anggota dance karena lagu yang Kibum bawakan agak upbeat. Penampilan duet dari Yoochun dan Junsu pun sudah terjadi sebelum penampilan solo Jaejoong. Pada jadwal ketiga setelah acara pembukaan yang di isi oleh seluruh anggota klub dance serta Yunho sang ketua dan iringan oleh musik dari band klub musik.
Senang rasanya penampilan berjalan sesuai dengan jadwal yang telah di susun dengan baik tanpa sedikitpun kendala meski tadi di awal ada sedikit keributan karena antrian panjang pengunjung yang penasaran dengan festival tahun ini.
Mereka semua yang berada di belakang panggung begitu sibuk menanti giliran mereka menampilkan yang terbaik membawa nama sekolah.
"Kyu? Kenapa kau belum juga berganti pakaian?" tanya Jaejoong saat di lihatnya Kyuhyun yang melintas didepannya masih menggunakan pakaian biasa, padahal kostum untuk mereka sudah di sediakan khusus oleh bagian wardrobe.
Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ah, iya hampir saja aku melupakannya. Sebentar ya aku ganti baju dulu!" pamitnya pada Jaejoong dan yang lain. Changmin, Junsu dan Yoochun sudah siap sejak tadi dan kini mereka sedang sibuk masing-masing.
Awalnya Jaejoong merasa aneh pada Kyuhyun yang tidak biasanya melupakan sesuatu hal yang penting. Disaat mereka semua sudah siap kenapa ia malah terlihat begitu santai? tidak terlihat kalau ia merasa gugup ataupun was-was dengan penampilan yang akan mereka tampilkan nanti.
Kibum sudah selesai dengan penampilannya, Jaejoong melihatnya dari layar televisi yang terhubung langsung dengan kamera yang ada di depan panggung, namja snow white itu sukses menampilkan penampilan solo yang selalu di idamkannya. Keren bukan? Seperti acara pertunjukkan live di televisi saja. Hal itu di lakukan agar para pengisi acara yang tidak bisa melihat langsung di bangku penonton ikut juga menikmati hiburan yang teman mereka tampilkan. Selain menghibur mereka pun juga sekaligus terhibur.
Sejak tadi ada satu sosok yang sangat Jaejoong cari dan Jaejoong nantikan penampilannya, yaitu Yunho.
Namja itu memiliki penampilan sendiri sebagai ketua klub tapi entah kenapa penampilan dancenya belum juga di mulai. Padahal Jaejoong tadi sudah melakukannya dengan baik dan berharap penampilannya itu di lihat juga oleh Yunho. Dan sekarang tinggal menunggu giliran penampilan khusus darinya, Changmin, Junsu. Yoochun dan Kyuhyun menggantikan penampilan Jaejoong dan Yunho yang resmi di batalkan.
"Min, kenapa Kyuhyun belum datang juga? Sepuluh menit lagi giliran kita kan?" tanya Jaejoong sambil membaca kertas jadwal acara yang di bagikan pada seluruh orang yang ada disana. Jaejoong benar-benar gelisah sendirian. Junsu dan Yoochun terlihat tenang sekali dan Changmin yang begitu cuek.
"Baiklah aku akan menghubunginya karena jika aku menyusulnya itu tidak akan sempat," Changmin menjauh dari mereka dan mulai menghubungi Kyuhyun dengan ponselnya. Padahal ini adalah penampilan perdana kekasihnya bersama mereka, tapi bagaimana bisa Changmin begitu tenang dan tidak heboh dan ribut seperti biasa?
"Semangat Jae! Kita pasti sukses!" semangat Junsu. Yoochun hanya tersenyum sambil menepuk sayang kepala Jaejoong. Dan lagi mereka berdua yang malah memberikan semangat pada Jaejoong, bukankah mereka harusnya pun ikut khawatir karena Kyuhyun yang harusnya tampil bersama mereka belum juga muncul?
"Ah, sudah giliran kita kah?" tanya Changmin saat di dengarnya pembawa acara sudah menyebut nama mereka. Sesekali ia merapihkan penampilannya di depan cermin besar yang di sediakan tak jauh dari mereka berada. "Tenang saja Kyuhyun akan menyusul kita nanti setelah kita naik ke panggung." kata Changmin berusaha menenangkan Jaejoong yang terus saja memasang wajah gelisah.
Ada apa dengan orang-orang disini? Kenapa mereka tenang sekali?
Jaejoong pun akhirnya mengangguk kemudian bangkit dari duduknya dibantu oleh Changmin karena untuk naik ke panggung Jaejoong harus menaiki beberapa anak tangga. Semoga apa yang Jaejoong khawatirkan hilang setelah kakinya menginjakkan panggung. Semua akan beres dan sukses. Jaejoong berdoa sambil memejamkan kedua matanya. 'kumohon sukseskan penampilan kami.' doanya dalam hati.
Sekarang ini mereka sudah berada di atas panggung, Jaejoong berdiri di tengah-tengah masih di pegangi oleh Changmin, di sebelah kanannya ada Junsu dan Yoochun yang berdiri berdampingan. Dan lagi-lagi Kyuhyun belum juga muncul ke atas panggung.
"Katanya lagu yang akan mereka bawakan kali ini berbahasa Jepang,"
"Omo! Benarkah? Katanya juga ini adalah lagu kesukaan ketua Jaejoong. Uh.."
"Aku sudah tidak sabar melihat lagi penampilan special dari ketua klub musik kita yang tunggu-tunggu, meski dengan kondisi nya yang sedang tidak sehat sang ketua kita yang bersuara merdu ini tetap bersemangat untuk menghibur kita semua. Omo! Jangan lupakan juga sang presiden sekolah kita yang sudah bekerja sangat keras satu tahun ini memimpin kita semua dan sang wakilnya yang selalu setia menemaninya dalam melaksanakan tugas nya dan jangan lupakan si jangkung calon siswa yang akan bergabung di sekolah kita semester baru nanti," begitulah basa-basi dari Leeteuk dan Yesung sang pembawa acara.
Jaejoong hanya tersenyum menanggapi kalimat mereka, Junsu dan Yoochun yang terus melambai pada penonton dan Changmin yang bersikap sok keren. Jaejoong masih belum tenang karena Kyuhyun belum juga muncul dan lagi merasa aneh karena nama Kyuhyun tidak juga di sebut oleh Leeteuk dan Yesung.
"Baiklah, mari kita mulai saja penampilan spesial dari mereka dan kejutan yang akan muncul nanti~!"
Musik pun mulai di putar, Kyuhyun belum juga muncul meski Jaejoong berusaha terus mencari Kyuhyun dari kerumunan penonton yang duduk rapi di bangku yang di sediakan. Hingga mata Jaejoong membulat saat sosok Kyuhyun berjalan dengan santai sambil tersenyum dan duduk di bangku penonton paling depan yang sejak tadi memang kosong. Di sebelahnya ada Dongwook yang sudah duduk duluan. Setelah duduk namja imut itu melambaikan tangannya pada Jaejoong dengan senyum lebar dengan Dongwook yang tak lupa memberikan semangat untuk mereka.
"Yami ni ukabu.. Tsuki ni stage ni.. Odoru kimi wo.. Yume mitanda.." Junsu memulai bait pertama lagu dengan suara tipis yang merdu dan membuat merinding. Kenapa namja bersuara lumba-lumba itu terlihat tenang di saat mereka yang harusnya bernyanyi berlima kini masih berempat. Lalu siapa yang akan menyanyikan bagian Kyuhyun? Tanya Jaejoong dalam hati.
Dan semoga saja wajah khawatir Jaejoong tidak terlihat saat ini.
"Fukai.. fukai.. yume no kizu no.." Yoochun mulai menyanyi dengan nada rendah yang menenangkan.
Changmin yang berdiri di samping Jaejoong menepuk lengan namja itu pelan di sela musik yang masih berputar dan setelah ini merupakan bagian Kyuhyun yang seharusnya bernyanyi lalu Changmin berbisik di telinga Jaejoong mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Jaejoong semakin tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
"Hitotsu.. hitotsu se owanaide.." Jaejoong cukup terkejut mendengar suara yang menyanyikan bagian yang seharusnya di nyanyikan Kyuhyun, Jaejoong sangat kenal suara itu karena walau bagaimana pun mereka pernah berlatih bersama meski hanya sebentar.
Jaejoong mencoba bergerak sedikit untuk menoleh ke belakang dan melihat siapa sosok itu tapi Changmin memegang tangannya erat sebagai kode agar Jaejoong tetap tenang karena saat ini mereka sedang berada berada di atas panggung sehingga Jaejoong pun mengurungkan niatnya
Jantung Jaejoong berpacu dengan cepat, bukan karena ia mengalami serangan demam panggung mendadak tapi karena suara teriakan kagum dari penonton tiba-tiba bergemuruh keras ketika suara itu muncul dari belakang mereka. Jaejoong penasaran. Benar-benar penasaran.
"Daremo kimi no semeyashinai .. Kimi wa kimi de ireba ii sa.." Yoochun kembali menyanyikan bagiannya dengan tenang di iringi suara tipis dan samar dari 'orang itu'. Kemunculannya masih belum bisa Jaejoong lihat.
Jaejoong kali ini merinding mendengar suara namja itu terdengar merdu di belakangnya tanpa ada tanda-tanda ia akan bergabung bersama mereka ke depan. Tidak menyangka sama sekali kalau namja yang selama ini terkenal dengan kemampuan menarinya bahkan juga memiliki suara semerdu itu hingga Jaejoong ragu untuk menyanyikan bagiannya. Tapi meski bagaimanapun ia harus tetap menyanyi dengan maksimal.
"Kikasete itoshiku hakanaku.." ini adalah bagian refrain yang di nyanyikan Jaejoong bersama Junsu dengan suara Junsu yang terdengar samar. "Tsubasa ki de kanareru bolero.." Jaejoong menyanyikannya dengan tepat tanpa kesalahan sedikit pun meski ia sedang gugup. Jaejoong menyanyikan bagiannya dengan merdu dan penuh penghayatan membuat siapapun yang mendengarnya merinding.
"Maiagare kimi no kanashimi no. Iyasaseru basho ni mitsukeru sa.." Changmin pun menyanyikan bagiannya nya dan Junsu dengan nada tinggi yang menakjubkan.
"Kurai heya no naka.. mitasareru omio mado kara afure. Yume ga tsunoru.." ini bukan kali pertama Jaejoong menyanyi berdua dengan Yoochun, tapi entah kenapa di lagu ini kolaborasi mereka benar-benar maksimal.
"Tsuki hikari shita.. kamoshara ni kibou no rhythm wo kizamu.. yume ga tsunoru.." Kyuhyun dan Dongwook tersenyum bersamaan melihat Changmin dan Yunho menyanyikan bagian mereka bersama-sama. Ini pertama kalinya bagi Kyuhyun dan semuanya melihat kakak beradik itu berduet.
"Kimi ga kimi rashii no wa jiyuu ni habataku kara.. daremo shirukoto no nai kotae sagashite.." lumba-lumba memang dikenal sebagai satu-satunya hewan yang bisa bernyanyi, dan salah satunya adalah Junsu. Seluruh anggota klub musik bertepuk tangan mendengar bagian solo Junsu yang menakjubkan.
"Oh~"
"Let you dance away!"
"Don't you know!"
"I'll stand by your side.."
Dan ini lah bagian yang membuat Jaejoong tidak tahan lagi untuk menoleh ke belakang melihat sosok Jung Yunho yang menyanyikan bagian Kyuhyun, tidak peduli meski mereka sedang tampil di atas panggung. Tapi sial karena terlalu terburu-buru mengejar bagiannya setelah Changmin selesai dengan nada tingginya, kruk yang membantunya berdiri malah terjatuh, dan di saat yang tepat lagi-lagi Yunho menangkap tubuh Jaejoong sebelum ia terjatuh. Yunho berdiri dibelakangnya dan memegangi pinggang ramping Jaejoong dengan erat.
Namja itu tersenyum tulus pada Jaejoong menjadi penopang agar Jaejoong tidak jatuh lagi karena ulahnya.
"Fly away.. fly away fly to the top.. fly forever.."
Yunho tak kalah menghayati bagian yang di nyanyikannya, suaranya tidak pernah di duga oleh siapapun kalau akan semerdu ini karena yang mereka semua tahu kalau Yunho itu hanya jago soal dance. Nadanya pas dan tidak ada sumbang sedikitpun.
Jaejoong ingin menangis, bukan karena sedih tapi karena terharu. Ini semua pasti sudah di rencanakan. Yunho, apa sebegitu inginnya namja itu mendapatkan maaf dari Jaejoong? sehingga ia berbuat hal ini?
"Itsumademo.."
"Kimi wo terasu tsuzukeru yo.."
"Mi mamoru yo.."
"Koko ni demo.."
"Mamoru kara.."
Sedikit lagi, setelah refrain ini sekali lagi di nyanyikan maka lagu yang mereka nyanyikan akan selesai. Jaejoong masih diam dalam posisi yang sama, ia tidak berani menoleh untuk melihat Yunho yang ternyata juga memakai pakaian serba putih. Melihat tangan Yunho yang berada di pinggang rampingnya saja membuat wajahnya memanas.
Apalagi ketika Jaejoong yang harus mengakhiri lagu ini mulai bernyanyi, tangan Yunho semakin erat memegangi pinggangnya. Membuat Jaejoong bergetar gugup.
Setelah lagu selesai tepuk tangan meriah pun serempak terdengar keras saling bersahutan. Penampilan mereka benar-benar menakjubkan, bahkan Kibum dan Siwon yang juga ikut menonton sampai terharu. Mereka merasa semua perasaan Yunho dan Jaejoong tersampaikan pada masing-masing lewat lagu itu, jelas terlihat dari cara mereka menyanyi. Meski sedekat itu dan mereka tidak saling berpandangan seperti Junsu dan Yoochun yang bernyanyi sambil berhadapan.
Suara musik benar-benar telah hilang. Junsu dan Yoochun tak henti tersenyum puas dengan penampilan mereka dan Changmin yang memberikan kedipan mata nakal pada Kyuhyun yang di ketahuinya menonton mereka dari kursi paling depan.
Tepuk tangan amat meriah masih terdengar di seluruh penjuru sekolah. Penampilan luar biasa menakjubkan yang tidak akan di lupakan oleh siapapun yang ada di Toho International School. Penampilan mereka benar-benar seperti grup penyanyi papan atas membuat siapapun yang melihat dan mendengar suara nyanyian mereka merasa merinding.
Pada saat itu Jaejoong berusaha untuk melepaskan tangan Yunho dari tubuhnya dengan paksa, karena ia tidak sanggup untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Sambil menahan sakit ia berusaha berjalan tertatih tanpa kruknya untuk meninggalkan panggung setelah sebelumnya mencengkram lengan Changmin meminta untuk membantunya pergi dari sana. Jaejoong tidak tahan lagi, ia ingin sendiri dan menangis.
Junsu dan Yoochun terkejut dengan yang dilakukan oleh Jaejoong. Namja itu tidak memberikan salam atau ucapan terima kasih pada penonton dan itu adalah suatu hal yang kurang sopan.
"Kim Jaejoong!" panggil Yunho dengan suara lantang dan keras saat melihat Jaejoong yang akan pergi begitu saja. Jaejoong menghentikan langkahnya sejenak. Entah kenapa tidak ada sedikit pun suara yang terdengar di sekitar mereka saat Yunho memanggil namanya dan ketika ia menghentikan langkahnya. Suasana mendadak hening seakan-akan mereka semua yang ada disana telah di buat kompak agar membuat suasana ini terjadi.
"Ku mohon, dengarkan aku satu kali ini saja," lanjut Yunho. Jaejoong masih diam dalam posisinya dengan tangan yang semakin erat memegangi Changmin. "Aku.. datang kembali bukan untuk menyakitimu. Aku kesini untuk mengatakan hal yang seharusnya sudah kukatakan sejak dulu." Yunho menarik nafasnya panjang, biarlah semua yang menonton menjadi saksinya. Dongwook saja berani mengungkapkan isi hatinya di depan mereka, kenapa Yunho tidak bisa?
Biar seluruh dunia tahu yang sebenarnya. Isi hatinya selama ini.
"Aku.. Jung Yunho menyayangimu sejak pertama kali kita bertemu, dan aku juga mencintaimu sampai detik ini."
Air mata Jaejoong jatuh setelah Yunho mengatakan hal itu, meskipun ia tidak menoleh sama sekali ke arah Yunho tapi Jaejoong sungguh belum benar-benar turun dari panggung. Ia hanya berdiri tak jauh dari Yunho berada, yaitu pada anak tangga menuju belakang panggung karena langkah kakinya terasa berat hingga ia tertahan disitu.
Penonton yang menyaksikan drama itu mungkin ingin ending yang bahagia, seperti Jaejoong yang berlari ke arah Yunho lalu mereka berpelukan dengan erat. Sayang itu hanya angan belaka. Namja cantik itu bahkan tidak juga menoleh dan benar-benar sudah akan turun dari panggung.
"Meskipun hanya satu kali, dengarkanlah nyanyianku. Aku tidak memintamu untuk melihatku. Tapi dengarkanlah aku kali ini saja." musik mulai kembali terdengar. Yunho pun mulai menyanyikan lagu Love In The Ice yang juga berbahasa Jepang yang di pilihnya. Jaejoong masih memegangi Changmin dengan erat agar tubuhnya tidak jatuh lagi.
"Bawa aku pergi Min." pinta Jaejoong.
Saat langkah kaki berat Jaejoong telah benar-benar turun dari atas panggung namja cantik itu pun jatuh merosot ke lantai, bersimpuh karena sudah tidak tahan lagi menahan kakinya yang melemah akibat dari pernyataan dari Yunho yang telah di tunggunya bertahun-tahun. Nyanyian Yunho terdengar begitu dalam hanya dapat didengarnya disana. Yunho menyanyikannya lagu tersebut dari dalam hatinya.
Semua yang mendengarnya dan melihat drama dari atas panggung pun ikut terharu dan terbawa perasaan.
Setelah selesai Yunho membungkukkan badannya sopan untuk berpamitan dan bergantian penampilan dengan klub drama. Tak lupa dengan senyum lega yang menghiasi wajahnya dan tepuk tangan meriah dari penonton yang puas atas penampilan solo Yunho yang di ketahui sebagai ketua klub dance. Setelah turun dari panggung mata musangnya langsung mencari sosok Jaejoong. Kakinya terus melangkah lalu berlari ke setiap sudut sekolah hanya untuk mencari keberadaan Kim Jaejoong yang tidak ditemukannya di setiap sudut belakang panggung.
.
.
.
"Hyung! Jangan lari terus!" bentak Changmin pada Jaejoong yang terus saja mengoceh padanya untuk membawanya pergi jauh dari Yunho. Namja cantik itu masih dalam posisi yang sama yaitu duduk di lantai menangis tidak berdaya.
Kalau Changmin terus menuruti namja cantik itu, maka masalah mereka berdua tidak akan selesai juga. Seluruh pengisi acara dari klub musik dan klub dance serta klub yang lain tersentak mendengar Changmin membentak Jaejoong didepan mereka semua. Tidak ada satupun dari mereka yang hendak protes ataupun sekedar membantu Jaejoong untuk bangkit. Mendengar namja jangkung bersuara tenor itu membentak Jaejoong saja membuat mereka semua ciut.
"Aku hanya ingin sendiri sekarang." gumam Jaejoong di sela tangisnya.
"Kalau begitu, pergilah sendiri. Selesaikan masalahmu karena ini terakhir kalinya aku membantumu hyung." Jaejoong terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Changmin. Terdengar menyakitkan di hatinya.
"Kau harus menyelesaikan masalahmu, Jae-hyung. Seperti kami menyelesaikan masalah yang kami miliki." tambah Kyuhyun yang sudah bergabung dengan mereka setelah berlari sekuat tenaga menuju belakang panggung ketika melihat Jaejoong meninggalkan panggung dengan cara yang tidak sopan saat Yunho mengutarakan isi hatinya. Namja imut itu langsung menggenggam satu tangan Changmin yang kosong sedangkan tangan Changmin yang lain masih di genggam oleh Jaejoong.
Tidak ada yang berani bersuara lagi disana, yang lain hanya menjadi penonton disana termasuk Yoochun dan Junsu yang juga ada disana pun ikut diam.
"Baiklah." Jaejoong melepaskan pegangannya pada Changmin tanpa ragu. Benar, ia harus menyelesaikan ini sendirian karena ini adalah masalahnya. Sudah cukup mereka semua terseret ke dalam masalahnya dan kini ialah yang harus menyelesaikannya sendiri. Jaejoong berusaha bangkit dari duduknya tanpa bantuan dari kruk—karena kruknya tertinggal di panggung—ataupun orang-orang disana, sambil menahan rasa sakit di sebelah kakinya.
Namja cantik itu berlalu tanpa menoleh. Berjalan sambil menggusur kakinya. Sungguh kasihan.
.
.
.
Langkah Yunho terhenti di depan ruang presiden sekolah, tempat dimana Yunho dan Jaejoong bertemu untuk kedua kalinya setelah terpisah bertahun-tahun. Pertama kali mereka bertemu adalah saat Yunho tanpa sengaja melihat Jaejoong terjatuh di depan rumahnya. Entahlah instingnya mengatakan kalau sosok yang di carinya itu sedang berada di sana sendirian. Karena ruang kerja Yoochun itu memang menjadi salah satu tempat favorite nya selain ruang klub musik yang di pimpinnya.
Disana, sosok namja cantik itu sedang duduk sambil meminum cokelat panas dari cangkir hello kitty kesayangannya dengan tubuh yang sesekali bergetar. Suara isakan dan gumaman kecil tak henti keluar dari bibir mungilnya.
Yunho berjalan kesana dan langsung berlutut di depan Jaejoong. Tangannya mengusap lembut lutut Jaejoong yang dibungkus oleh celana bahan putih. Meski tidak sopan dan tanpa persetujuan Jaejoong, Yunho menggulung celana panjang yang memang di buat lebih longgar agar lutut sampai pergelangan kaki Jaejoong yang masih di balut gips pas dikenakannya. Hal itu membuat wajah Jaejoong tertunduk untuk melihat sapuan tangan Yunho. Jaejoong tidak marah atas perbuatan Yunho tersebut. Ia malah kebingungan di tambah dengan Yunho yang lalu mengambil sebuah spidol berwarna pink dari dalam saku celananya dan mulai membuat sebuah tulisan yang membuat mata Jaejoong membulat.
'Aku mencintaimu. Kim Jaejoong to Jung Yunho. Cepat sembuh sayang.'
Tulisan itu di buat pada bagian yang entah kenapa Jaejoong pun bingung tak ada seorang pun yang menuliskan kata-kata motivasi ataupun tanda tangan disana. Bagian itu seperti telah di sengaja di kosongkan untuk di isi oleh Yunho.
"Aku tahu meski aku memperlakukannya dengan lembut seperti ini, rasa sakitnya masih tetap kau rasakan." Yunho tersenyum menatap Jaejoong dengan penuh sayang. "Maafkan aku.." gumamnya pelan.
Jaejoong masih diam dan hanya menatap lurus pada tulisan tangan Yunho. Namja cantik itu sedang berpikir, otaknya sedang memproses kata-kata untuk di ucapkannya, karena jika tidak lebih dulu di pikirkan Jaejoong yakin yang akan keluar dari mulut kecilnya adalah sebuah kalimat kasar. Bukan kalimat baik untuk segera menyelesaikan semua kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka sepanjang musim dingin yang telah berlalu kemarin. Ia harus menyelesaikannya secara baik-baik sehingga kelak ketika mereka di pertemukan kembali dalam satu urusan yang sama tidak ada lagi kecanggungan.
Jaejoong sadar atas sikapnya yang kasar dan sok angkuh selama ini pada Yunho tidak akan ada ujungnya. Dan juga sikap Yunho yang terlalu baik meski setiap hari selalu dikasarinya. Jaejoong harus merobohkan tembok angkuh yang di bangunnya bertahun-tahun dengan memberikan satu kata penyelesaian yang akan membuat Yunho bernafas lega. Dan membuat semua masalah yang ada sepanjang musim dingin berakhir sekarang juga.
"Biarkan aku merasakan sakitnya juga, kau boleh berbuat apapun padaku sebagai balasannya." kata Yunho lagi. Dengan segala kesungguhan namja musang itu menatap Jaejoong. Membuat Tangan Jaejoong bergetar hebat. Jaejoong kembali bingung dan ia mendadak gugup ketika ujung lidahnya akan mengeluarkan kata penyelesaian tersebut hingga ia memutuskan untuk mengatakannya dengan cara lain.
Jemari lentik yang bergetar itu meraih spidol yang masih berada dalam genggaman Yunho. Dengan gugup Jaejoong membuka tutup spidol pink tersebut dan mulai mengarahkannya pada gips di lututnya.
Ujung spidol itu mulai menuliskan sebuah huruf di tempat kosong dekat tulisan Yunho. Dengan pelan namun pasti dan mata Yunho yang selalu mengawasi setiap gerakan jemari itu. Akhirnya mata musang itu pun ikut tersenyum bersamaan dengan senyuman yang terukir di bibir hatinya setelah melihat Jaejoong selesai dengan tulisannya.
'Aku memaafkan semua kesalahanmu. Jung Yunho. Terima kasih atas segalanya.'
Air mata bahagia akhirnya keluar dari kedua mata musang Yunho. Tanpa ragu ia menggenggam tangan Jaejoong dengan erat. Dan namja itu pun mulai menangis bahagia.
"Terima kasih." Yunho tersenyum.
Jaejoong masih diam memasang ekspresi datar namun tak lama kemudian senyum kecil terukir masih di wajahnya.
Masih belum selesai.
.
.
.
"Cokelat panas yang ada disini rasanya paling enak dibandingkan yang lain. Ini bukan berasal dari Korea kan?" Yunho memulai basa-basi dengan menanyakan soal cokelat panas yang sedang Jaejoong minum. Padahal tanpa di tanya pun Yunho tahu kalau cokelat panas itu berasal dari Jepang karena di Jepang ia sering meminum itu.
Jaejoong hanya diam dan kembali meneguk cokelat panasnya.
Oke tidak di respon tidak apa-apa.
Yunho kembali mencoba untuk mencairkan suasana setelah sebelumnya ia hampir saja lepas kendali hendak mencium Jaejoong setelah mendengar penerimaan maafnya dari Jaejoong. Dengan penuh rasa gugup Yunho pun mengalihkan pikirannya, ia memutuskan membuat coklat panas untuknya sendiri. Yunho berjalan cepat menuju lemari kecil yang selalu tersimpan cangkir, cemilan serta cokelat panas instan yang entah kenapa tidak pernah habis meski setiap hari selalu di suguhkan untuk orang yang datang ke dalam ruangan Yoochun tersebut.
Padahal Yoochun dan Junsu mengatakan bahwa mereka tidak pernah peduli dengan lemari hello kitty pink berserta isinya tersebut. Lemari itu milik Jaejoong, semua property hello kitty yang ada disana adalah milik Jaejoong. Begitu baiknya namja cantik itu selalu peduli pada propertynya yang berada di tempat orang lain.
"Bolehkah aku—"
"Tidak."
Yunho meletakkan kembali cangkir hello kitty dan satu sachet cokelat panas yang akan di seduhnya karena tidak mendapat ijin dari sang pemilik. "Baiklah." Yunho kembali menuju sofa tempat Jaejoong duduk.
Dan saat Yunho telah duduk disana dua detik kemudian Jaejoong bangkit dari sana, tapi sebelum itu namja cantik itu menyerahkan cangkirnya yang masih berisi cokelat panas pada Yunho.
Dengan langkah yang setengah di seret Jaejoong menuju property nya. Mengambil cangkir dan sachet cokelat panas yang tadi Yunho keluarkan dan mulai menyeduhnya dengan air panas yang berasal dari dispenser yang lagi-lagi bermotif hello kitty.
Yunho menatap cangkir yang di berikan Jaejoong. Disana ada cap bibir Jaejoong yang entah kenapa tertinggal disana, apa namja cantik itu menggunakan lipstick? Atau lipbalm?
"Minumlah. Yang itu rasanya manis. Dan yang ini rasanya sangat pahit, kau tahu?" Jaejoong menunjukkan bungkus cokelat panas yang tadi diambil Yunho. Yunho baru sadar jika ia salah mengambil sachet bungkus cokelat panasnya.
Di dalam lemari itu memang terdapat dua macam cokelat panas, yang berasa manis dan pahit. Bodohnya Yunho melupakan itu.
Setelah mengaduk cokelat panas yang dibuatnya, Jaejoong mendudukkan dirinya pada lemari di belakangnya dan mulai meminum cokelat panas yang masih mengepul dengan gerakan yang terlihat sensual di mata Yunho.
Karena lagi-lagi takut hilang kendali, Yunho pun buru-buru meminum cokelat panas bekas Jaejoong tanpa peduli kalau nyatanya cokelat itu adalah bekas minum Jaejoong.
'Aku rasa aku akan terkena diabetes setelah selesai meminum ini.' gumam Yunho dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Jaejoong yang begitu terlihat cantik, manis dan seksi di saat bersamaan dengan pakaian setelan kemeja putih yang belum di gantinya. Hanya saja yang berbeda seluruh kancing kemeja putih yang tadi hampir terbuka semua kini terkancing rapi. Yunho jadi teringat saat tidak sengaja refleksnya menangkap tubuh Jaejoong yang hendak terjatuh dan memeluknya dengan erat dari belakang diatas panggung tadi saat mereka bernyanyi.
Untuk yang satu itu Yunho benar-benar tidak merencanakannya. Niat Yunho benar-benar untuk membantu Jaejoong agar tidak terjatuh. Meskipun terjatuh biarkan itu Yunho yang berada di bawahnya agar Jaejoong tidak merasa kesakitan. Tapi lagi-lagi hal tak terduga Yunho rasakan, ternyata Jaejoong tidak mengancingkan kemejanya sehingga tangannya yang memegang erta pinggang ramping itu bersentuhan langsung dengan kulit halus Jaejoong.
Dan itu rasanya seperti menyentuh kulit halus bayi.
Yunho meminum cokelat panas dengan cangkir yang tertempel cap bibir Jaejoong dengan pemandangan manis dan sensual di hadapannya. Benar-benar seperti mendapat sebuah undian besar hari ini Jung Yunho!
.
.
.
"Kira-kira mereka bertemu tidak ya?" tanya Junsu pada Yoochun yang sedang berdiri di sampingnya. Bahunya terangkat acuh.
"Tidak tahu." jawabnya singkat. Junsu berdecih tidak puas dengan jawaban sang kekasih. Ia kemudian menatap Dongwook untuk mendengarkan pendapatnya. Saat Dongwook akan menjawab Changmin pun mendahului.
"Mereka pasti bertemu. Hyungku itu mempunyai radar di atas kepalanya yang akan selalu menemukan Kim Jaejoong dimana pun dia berada." kata Changmin dengan percaya dirinya. Kyuhyun yang sedang memakan gulali di sampingnya menjulurkan lidah ke arah Changmin meremehkan ucapan namja jangkung itu.
"Memangnya hyungmu itu kecoa yang mempunyai dua antena di kepalanya untuk mendeteksi siapa yang takut dan tidak takut padanya." ejek Kyuhyun.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Kita hari ini bersenang-senang saja karena tugas kita selesai dengan sukses!" Kibum mengangkat tangannya yang terkepal ke udara dengan semangat. Akhirnya masa-masa yang berat telah berlalu. Sekarang sisa pertunjukkan telah berada di tangan klub lain dan mereka telah bebas tugas.
Changmin pun mengikuti apa yang dilakukan Kibum, "KITA MAKAN!" teriaknya keras.
"BAIKLAH SIWONNIEKU YANG AKAN BAYAR!" teriak Kibum tak kalah lantang membuat Siwon membulatkan kedua matanya mendengar kekasihnya itu berkata seenaknya.
"YEAAY!" Junsu dan Changmin entah kenapa bisa berhigh-five ria mendengar Kibum. Dengan semangat membara mereka berlari meninggalkan yang lain menuju stand makanan dan terlihat dari kejauhan mulai mengambil semua makanan dengan kalap.
"Lihatlah apa yang telah kau lakukan, Kibum-ah." Kyuhyun menunjuk Changmin yang amat sangat bersemangat memakan makanan sambil memesan makanan yang lain.
Kibum tersenyum senang melihat Changmin dan Junsu kompak disana, "Biarkan saja." katanya santai. Siwon yang berada di sebelahnya sedang meratapi isi dompetnya yang sialnya hari ini begitu penuh dengan uang tunai dan akan habis dalam sekejap oleh para juniornya itu. Padahal tadinya niat namja berambut klimis itu membawa uang tunai karena ingin membelikan berbagai macam benda yang ada di bazaar untuk Kibum. Tapi apa yang di buat kekasihnya itu? membuatnya membayar seluruh makanan food monster dan kawan-kawannya?
"Aku rasa aku akan dapat masalah keuangan setelah ini." Kyuhyun menepuk-nepuk bahu Siwon sebagai tanda simpati dan harap memaklumi kekalapan Changmin kekasihnya jika sudah berhadapan dengan makanan. Setidaknya uang Kyuhyun selamat hari ini karena tidak di pinjam oleh Changmin untuk membeli makanan.
"Apa kau mau membantuku, Dongwook-ah?" tanya Siwon pada Dongwook yang hanya diam saja jarang sekali berbicara. Dongwook menatap Siwon dengan tatapan malas. Tentu saja menolak permintaan Siwon. Hei, memangnya siapa Siwon? Mereka saja baru bertemu beberapa hari. "Baiklah." Siwon pun pasrah dan kembali diam.
"Aigo.. aigo.. kenapa Suie-ku malah ikut-ikutan si foodmonster itu. Aigo.. aku rasa aku cemburu!" Yoochun yang biasanya berwibawa kini menghilangkan segala wibawanya mulai mengejar Junsu dan Changmin yang kompak tertawa bersama sambil memakan makanan yang mereka pesan bahkan sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain.
"Kau tidak cemburu, Kyu?" tanya Siwon pada Kyuhyun yang bisa terlihat santai melihat kekasih hatinya berduaan seperti itu dengan kekasih orang lain.
Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Lebih cemburu pada makanan itu dibandingkan dengan apapun." namja imut itu tersenyum miris lalu mengeluarkan PSPnya dan mulai bermain game. Changmin hanya akan berselingkuh dengan makanan dan ia pun hanya akan berselingkuh dengan PSPnya.
Kini Siwon beranjak pada Kibum yang sejak tadi hanya tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkah Yoochun, Junsu dan Changmin yang tak jauh dari tempat mereka duduk di atas rumput rapi yang sebelumnya telah mereka lapisi dengan karpet bulu tipis yang khusus mereka siapkan.
"Bagaimana jika kita membayar makanan mereka secara patungan?" tanya Siwon pada Kibum. Ekspresi Kibum berubah dingin. Tanpa menoleh namja berkulit pucat itu berbicara dingin. Hawa-hawa musim dingin yang mulai hilang dan tergantikan angin hangat musim semi mendadak kembali Siwon rasakan.
"Baiklah tapi kita putus—"
"OKE! AKU AKAN MEMBAYAR SEMUANYA! SEMUANYA!" Siwon benar-benar sudah tidak dapat berkutik lagi dengan kata 'putus' yang Kibum ucapkan. Siwon bersumpah meski seluruh tabungannya habis ia rela asalkan Kibum harus terus bersamanya apapun yang terjadi.
Kibum tersenyum sambil melambai ke arah Jaejoong dan Yunho berada. Dua namja yang telah lama di nantikan kemunculannya oleh mereka itu sedang berjalan menuju mereka dengan…
..berdebat.
"Ayo sini biar ku bantu berjalan, krukmu kan sedang tidak ada." Yunho berusaha menyamakan langkahnya dengan Jaejoong. Kaki namja cantik itu masih terluka tapi entah kenapa langkah kakinya tetap saja cepat.
"Tidak perlu." tolak Jaejoong singkat. Yunho mengembuskan nafasnya. Meski tadi mereka sempat beberapa menit dalam suasana damai dan mesra, tapi kini mereka kembali pada suasana normal. Jaejoong yang ketus seperti biasa meski ketusnya itu agak berkurang sedikit. Yah, setidaknya namja cantik itu sudah mau melihat dan menganggap Yunho ada. Karena selama ini Yunho sudah di acuhkannya cukup lama.
"Bukankah akan bertambah sakit jika berjalan cepat begitu?" kata Yunho lagi. Ia masih berusaha membujuk Jaejoong agar mau di bantu olehnya.
Kyuhyun, Siwon, dan Dongwook tersenyum melihat dua namja itu berselisih karena hal sepele.
"Aku bisa mengurusnya sendiri!" kata Jaejoong semakin ketus. Yunho tentu saja tidak akan semudah itu menyerah. Karena dengan cara meminta melalui kata-kata tidak akan mempan maka Yunho akan melakukannya dengan tindakan.
"YA! YA! LEPASKAN AKU BERUANG JELEK BODOH!" Jaejoong berteriak panik saat Yunho tiba-tiba menganggkat tubuhnya untuk di gendong ala-ala bridal style dengan mudahnya. Tubuh Jaejoong memang masih saja ringan seperti dulu. Yunho sempat terdiam teringat masa lalu yang pernah mereka lalui.
.
.
"YA! Yunnie lepaskan Joongie~ nanti kalau Joongie jatuh bagaimana?" Jaejoong kecil merengek pada Yunho yang sedang berusaha menggendongnya. Beberapa saat yang lalu Yunho tidak sengaja mendorong tubuh mungil Jaejoong ketika akan menjahili namja cantik itu. Namun sialnya Yunho tersandung batu dan tidak sengaja mendorong Jaejoong hingga Jaejoong terjatuh ke tanah dan lututnya berdarah.
"Tenang saja, aku kan kuat. Lagi pula kau ini terlalu kurus boo.. pokoknya setelah sampai dirumah aku akan menyuapimu dengan banyak makanan!" Yunho telah berhasil menggendong Jaejoong yang berat badannya tak lebih dari dua puluh lima kilo di usianya yang menginjak sepuluh tahun.
Dengan wajah yang memerah Jaejoong pun mau tidak mau harus berpegangan erat pada leher Yunho agar tidak terjatuh karena saat ini Yunho menggendongnya ala pengantin yang selalu di lihatnya di dalam drama yang di tonton sang Umma. Entahlah kenapa Yunho tidak menggendongnya di punggung Jaejoong tidak mengerti.
"Kau mau memaafkanku kan Joongie? Karena aku sudah membuatmu kesakitan.." Yunho menatap Jaejoong lama. Jarak wajah mereka benar-benar dekat dan Jaejoong yang takut sekali Yunho melihat rona merah di wajahnya akhirnya memalingkan wajahnya kesamping.
"Tentu saja! aku akan selalu memaafkan semua kesalahanmu Yunnie.. apapun itu, karena Yunnie sudah sangat baik dan banyak membantuku selama ini." entah kenapa saat mengatakan hal itu Jaejoong malah memanyunkan bibirnya, membuat Yunho tersenyum kecil.
"Terima kasih Boo.. Jaejoongie.." bisik Yunho di telinga sensitive Jaejoong.
"Kembali kasih.. Yunnie."
.
.
"Bukankah semua ini de javu Jae?" kata Yunho tiba-tiba membuat Jaejoong berhenti memberontak melepaskan gendongan Yunho. Tanpa disadarinya lengan kurus namja cantik itu kini telah melingkar di leher Yunho karena ia takut terjatuh dari gendongan Yunho.
"Maksudmu?" tanya Jaejoong.
Yunho tersenyum kecut. "Ah, ternyata kau sudah melupakannya semudah itu."
Jaejoong semakin kebingungan. Memangnya saat kecil dulu mereka pernah ada dalam situasi yang sama seperti ini? tiba-tiba Jaejoong teringat saat Yunho tidak sengaja menyenggolnya ketika sedang berlatih dance dan membuatnya jatuh sampai cedera seperti ini. Dulu sekali, Yunho pun pernah satu kali membuat Jaejoong terluka dengan cara tidak sengaja mendorongnya dari belakang. Bukankah kejadian itu mirip sekali dengan yang Jaejoong alami saat di ruang klub dance waktu itu?
Bedanya dulu lutut Jaejoong hanya lecet dan sedikit berdarah, namun kali ini lututnya sampai harus di gips.
Mata Jaejoong membulat. Bagaimana mungkin kenangan itu bisa di lupakannya dengan mudah? Jaejoong hanya menyimpannya dalam hati karena jika mengingat hal itu, Jaejoong selalu merasa lemah dan terpuruk karena begitu merindukan Yunho.
"Aku selalu mengingatmu. Mengingat semua tentangmu." Yunho menolehkan wajahnya pada Jaejoong. Dalam jarak yang begitu dekat itu Yunho kembali melihat rona merah mulai menjalar pada kulit wajah Jaejoong persis seperti saat itu.
"Aku.. mencintaimu Boo.. Jaejoongie.." jantung Jaejoong berdegup kencang. Perutnya terasa tergelitik mendengar kalimat Yunho yang di ucapkannya pelan tepat di telinga sensitifnya membuat Jaejoong mulai salah tingkah. Yunho tersenyum. Di tengah keramaian orang yang berlalu lalang wajah namja musang itu mulai mendekati Jaejoong perlahan. Mata musangnya mulai terpejam setelah beberapa detik sempat menatap bibir pink Jaejoong. Sebelum hal yang pernah terjadi saat di ruang musik beberapa waktu yang lalu kembali terjadi Jaejoong memutuskan untuk bertindak.
"YA! YA! LEPASKAN!" namja cantik itu kembali memberontak. Tubuh, satu kakinya yang tidak terasa sakit mulai bergerak-gerak. Tak lupa tangannya yang lain—yang tidak berpegangan erat pada leher Yunho—mulai memukul-mukul tangan Yunho agar namja musang itu mau melepaskannya.
Yunho berdecih. Kesal karena gagal lagi mencicipi rasa manis bibir plum Jaejoong yang di rindukannya. Namja Jung itu pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan gendongannya pada Jaejoong. Ia menurunkan Jaejoong dengan cukup kasar membuat Jaejoong memajukan bibirnya sebal. Mereka terdiam, tapi lima detik kemudian Yunho kembali menggendong Jaejoong. Kali ini namja musang itu menggendong Jaejoong di pundaknya seperti seseorang yang sedang memanggul karung beras. Kepala Jaejoong berada di belakang tubuh Yunho dan kakinya yang bergerak-gerak lagi-lagi memberontak minta diturunkan berada didepannya.
Junsu dan Yoochun yang melihat adegan lucu itu dari stand makanan tertawa senang. Sedangkan Changmin cuek sambil memakan makanannya.
"Pegangan!"
"YA! YA!" Jaejoong berteriak sambil memukuli punggung Yunho dan sesekali menjambak rambut cokelat Yunho membuat para pengunjung sempat melayangkan tatapan kaget pada mereka berdua. Yunho dengan cepatnya berlari sambil menggendong Jaejoong menuju tempat dimana Kyuhyun, Kibum, Siwon dan Dongwook berada.
.
.
.
"Kalian telah sukses membuat perayaan ulang tahun sekolah menjadi tak terlupakan untuk beberapa tahun ke depan, sebagai gantinya nilai kalian akan ku tambahkan. Dan musim panas nanti kalian akan di bebaskan dari tugas musim panas. Untuk semua yang sudah terjadi selama ini, terima kasih semuanya."
Rapat formal bersama kepala sekolah kali ini di akhiri dengan tepuk tangan meriah dari seluruh anggota yang hadir dalam rapat tersebut. Yoochun pun tersenyum lega saat salah satu tugas beratnya sebagai presiden sekolah telah di lakukannya dengan baik satu tahun ini. Dan dengan berakhirnya festival perayaan ulang tahun sekolah maka Yoochun akan meninggalkan jabatannya sebagai presiden sekolah dan kembali fokus menjadi siswa biasa yang akan menghadapi ujian kelulusan.
Dan ini lah hari dimana Jaejoong harus segera mengambil kembali barang-barang serba hello kitty nya yang di tata rapi di ruangan presiden sekolah selama hampir satu tahun lamanya.. Jaejoong masih aktif menjadi ketua klub musik, meski aktivitasnya mulai berkurang karena sebentar lagi ia akan naik kelas ke tingkat akhir. Itu artinya sebentar lagi Yunho dan Yoochun akan segera lulus dan melanjutkan ke universitas. Tugas Jaejoong saat ini hanya akan mengawasi anggota klubnya sesekali karena setelah festival perayaan sekolah aktivitas semua klub akan berjalan normal seperti biasa. Mereka akan berlatih jika ada anggota yang akan mengikuti perlombaan saja.
"Lalu kau masih membenci musim dingin dan diriku? Sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah ini loh.." tanya Yunho yang mengajukan diri membantu Jaejoong mengemasi barangnya. Jika barangnya sebanyak ini Yunho merasa seperti Jaejoonglah presiden sekolah bukan Yoochun.
"Huh?" Jaejoong merespon Yunho dengan tatapan bingung.
"Maksudku.." Yunho menghampiri Jaejoong dan mulai mendekati namja itu. Ketika Yunho melangkah menujunya Jaejoong refleks memundurkan langkahnya. "Apa kau sudah mau menerimaku sebagai kekasihmu?" tanya Yunho serius. Mencondongkan tubuhnya pada Jaejoong yang ada dalam posisi canggung.
"Sepertinya sisanya akan ku suruh orang saja untuk menyelesaikannya," Jaejoong melirik jam dinding yang ada di ruangan tersebut. Ia sedang berusaha mengalihkan suasana tegang ini. "Aku harus pulang sebelum Umma mengomeliku—"
"JAE!" bentak Yunho. Pundak namja cantik itu di pegangi erat oleh Yunho.
Sudah dua bulan berlalu setelah pengungkapan perasaan Yunho pada Jaejoong dan selama itu pula Yunho terus saja mendekati Jaejoong untuk mendapatkan jawaban dari namja cantik itu.
Setiap kali Yunho bertanya hal yang sama, selalu saja Jaejoong mengalihkannya. Seperti saat ini.
"Aku.." Jaejoong menggigit bibirnya untuk meredam rasa gugupnya. Bukannya Jaejoong menolak Yunho, jujur saja dalam hati Jaejoong ingin berkata 'Ya.. aku mau' hanya saja ia belum siap jika ia harus menjalin hubungan dengan Yunho. Jaejoong takut Yunho akan meninggalkannya lagi seperti dulu makanya ia terus saja menghindar. Untuk memberikan maaf pada Yunho saja dia sampai berpikir keras memutar otak, apalagi jika harus menerima namja itu sebagai kekasihnya? Orang yang akan menemani kesehariannya.
"Baiklah, aku akan menunggumu lagi." pasrah Yunho. Dia tidak menyerah. Yunho hanya harus bersabar menunggu sebentar lagi sampai Jaejoong luluh dan memberikan jawabannya. Jawaban 'IYA' atau 'TIDAK' Yunho sudah siap menerimanya.
"Hari semakin sore aku—"
"Bolehkah aku minta sesuatu padamu, Jae?" tanya Yunho. Namja itu menatap Jaejoong dalam membuat Jaejoong semakin gugup di buatnya.
"Apa?"
"Bolehkah aku.. menciummu kali ini saja?" tanya Yunho hati-hati. Memalukan memang ketika Yunho meminta hal itu pada Jaejoong mengingat saat ini situasi berbalik dimana Yunho yang terus saja mengharapkan Jaejoong untuk menjadi miliknya. Padahal dulu Jaejoong yang pertama mengungkapkan isi hatinya pada Yunho.
Haruskah Jaejoong menyetujuinya?
Akankah Jaejoong membiarkan namja itu menyentuhnya?
Bukankah akan terasa sesak jika hal itu sampai terjadi? Bukankah itu akan semakin menyiksa perasaan Yunho yang selama ini di gantungnya?
Yunho menunggu jawaban dari Jaejoong. Tanpa disangka oleh Yunho, Jaejoong mengangguk pelan. Itu artinya Jaejoong mengijinkannya. Biar ini menjadi ciuman terakhirnya— jika mungkin nanti Jaejoong menolaknya.
Mereka berdua saling berpandangan. Hanya dengan begitu saja orang pun bisa tahu kalau mereka itu saling mencintai satu sama lain. Meski mereka belum resmi terikat dalam suatu hubungan yang jelas tapi mereka sudah saling terikat satu sama lain sejak lama. Mereka seperti telah di takdirkan untuk bersama meski pernah terpisah jauh mereka akan tetap kembali bersama.
Perlahan wajah Yunho mulai mengeliminasi jaraknya dengan Jaejoong. Dan satu gerakan lagi bibir hati dan bibir plum itu akan menempel dan..
"YUNHO! JAEJOONG!" suara lumba-lumba itu terdengar lantang bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan itu.
Lagi dan lagi harus gagal karena gangguan tidak penting.
"Kalian masih disini?" tanya Junsu polos.
Yunho dan Jaejoong hanya terdiam dalam posisi mereka tidak menoleh ke arah Junsu yang pasti sedang memasang wajah tanpa dosa. Mereka menunggu pertanyaan ataupun kalimat lain dari Junsu.
"Oh? Aku pikir kalian sudah pulang. Baiklah ku tunggu kalian di parkiran ya!" suara lumba-lumba itu akhirnya pergi. Menyisakan Yunho dan Jaejoong dalam posisi tanggung dan suasana romantis yang telah hilang total.
"Hmmphh.. Hahaha!" Jaejoong tiba-tiba tertawa sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Entah apa yang di tertawakannya hingga namja cantik itu sampai jatuh terduduk di sofa sambil tertawa geli. Yunho menghela nafasnya, mengusap wajahnya frustasi. Kenapa setiap ia ingin mencium Jaejoong selalu saja gagal?!
"Kenapa malah tertawa?!" tanya Yunho kesal. Jaejoong menggeleng dengan polos.
Yunho mendudukkan dirinya disamping Jaejoong. Memasang wajah kesal yang kekanakan. Jaejoong mengangkat bahunya acuh. Biar saja Yunho merajuk begitu toh bukan salah Jaejoong.
"Bolehkah kita melanjutkan urusan kita tadi?" tanya Yunho akhirnya. Jaejoong menggeleng. Ia sudah berubah pikiran. Jaejoong berubah pikiran karena takut Yunho melakukan hal lebih padanya dan lalu kembali meninggalkannya sendirian.
Di tinggalkan sendirian, itu lah yang selalu Jaejoong takutkan saat ini. Sudah pernah di tinggalkan satu kali oleh Yunho membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak. Sebentar lagi pun namja musang itu akan lulus dan meninggalkan Jaejoong. Dan lagi-lagi pada akhirnya Jaejoong akan sendiri meski masih ada Junsu dan Kibum juga Kyuhyun dan Changmin yang akan menjadi adik kelas mereka.
"Sudahlah.. lebih baik sekarang kita pulang." Jaejoong menepuk-nepuk bahu kokoh Yunho. Ia meraih tas sekolahnya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan presiden sekolah itu.
"Seperti biasanya, setiap kita pulang aku akan selalu mengatakan ini sampai hatimu luluh Jae.."
"Aku mencintaimu.. mau kah kau menjadi kekasihku, Kim Jaejoong?"
Jaejoong tersenyum kecil. Ungkapan perasaan cinta yang entah sudah keberapa kalinya namja itu katakan dan selalu saja di balas dengan senyuman.
.
.
.
Aku akan selalu menunggumu seperti menunggu datangnya liburan musim panas yang panjang.
Mulai saat ini aku akan selalu berkata langsung tanpa memendamnya.
Kini giliranku yang akan berjuang, diam dan dengarkan saja apa yang ku katakan setiap kali ada kesempatan.
Aku mencintaimu Kim Jaejoong. Semoga es yang menyelimuti perasaanmu cepat mencair.
.
.
.
Aku selalu menunggumu, meski sikapku selalu kasar padamu.
Aku hanya bingung untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku.
Aku ingin menerimamu, tapi aku takut.
Yakinkanlah aku dengan caramu, maka aku akan selalu melihat ke arahmu.
Tunggulah aku sampai kau merasa perjuanganmu telah sampai di akhir.
.
.
.
Selesai.
.
.
.
Pojokan Rumah Author :
Yes.. I know I know I know~
Ending yang menyebalkan bukan?
Setelah sekian lama nunggu kepastian endingnya ternyata hasilnya begini :""
Setelah galau dengan lanjutan apa yang akan di buat jadilah ending menyebalkan ini hikshiks..
Maaf kalo endingnya begini, untuk semua yang udah nunggu FF ini update dan kecewa dengan ending ini, saya Nyangiku (di baca Nyan—giku) meminta maaf yang sebesar-besarnya :"" tolong jangan demo aku. Tolong jangan makan aku dagingku alot/?
Tapi tenang, ini bukan ending yang sesungguhnya. Tunggu ending yang sebenarnya di chapter bonus~
Salam,
Nyangiku.
