No Org.

zelochest

Genre : Humor, Romance

Rate : M

Disclaimer : Copyright© by Alice Clayton. Ini ff remake kedua saya dengan pertama kali bawa pemain utama YoonMin, haha. Remember fanfiction hanyalah sebuah karya penuh perjuangan fikiran dan fisik, sedangkan untuk idenya milik Alice Clayton Author-nim. Sayangnya pemainnya bukanlah milik saya seutuhnya.

Warning : Alternate Universe | MinYoon | Dominant!Jimin x Submissive!Yoongi | YAOI | MATURE ADULT CONTENT AND LANGUAGE! | REMAKE

Chapter 10

AKU DUDUK DI KANTORKU, menatap keluar jendela. Aku punya daftar hal-hal yang harus dilakukan di depanku-dan itu bukan daftar yang pendek. Aku harus mampir ke rumah tuan Shin. Renovasi hampir selesai. Kamar tidur dan kamar mandi sudah selesai, dan hanya beberapa rincian yang tertinggal. Aku harus mengambil beberapa buku sampel baru dari pusat desain. Ada pertemuan dengan klien baru yang telah dirujuk Taehyung untukku, dan di atas semua itu, aku punya folder penuh faktur untuk segera diperiksa.

Namun, aku masih memandang keluar jendela. Otakku mungkin masih memikirkan Jimin. Dan untuk alasan yang bagus. Antara ledakan pipa, benturan kepala ranjang, dan saling mengirim pesan singkat terus-menerus sepanjang hari Minggu menanyakan lagi sisa roti , otakku secara alamiah tidak bisa menghapus dia. Dan kemudian tadi malam, ia mengeluarkan senjata besar: memutar lagu Epik High untukku. Dia bahkan mengetuk dinding untuk memastikan aku mendengarkan. Aku meletakkan kepala di meja dan memukulkannya beberapa kali untuk melihat apakah cara ini berhasil. Cara ini tampaknya bisa berhasil pada Jimin…

*ZELOCHEST*

Malam itu aku langsung pergi melakukan yoga setelah bekerja dan sedang menaiki tangga ke apartemenku ketika aku mendengar pintu terbuka dari atas.

"Yoongi?" Jimin memanggilku.

Aku tersenyum dan terus menaiki tangga. "Ya, Jimin?" aku menyahut.

"Kau pulang terlambat."

"Apa kau mengawasi pintuku sekarang?" Aku tertawa, memutari anak tangga terakhir dan menatapnya. Dia menggantung di atas pagar, rambut di wajahnya.

"Yep. Aku di sini untuk roti. Beri aku Z, boy!"

"Kau gila. Kau tahu itu, kan?" Aku menaiki tangga terakhir dan berdiri di depannya.

"Aku sudah diberitahu sebelumnya. Kau berbau harum," katanya, membungkuk.

"Apa kau baru saja mengendusku?" Tanyaku tak percaya saat aku membuka pintu.

"Mmm-hmm, sangat harum. Baru saja kembali dari latihan?"Tanyanya, berjalan di belakangku dan menutup pintu.

"Yoga, kenapa?"

"Aromamu harum ketika kau berkeringat," katanya, menggoyang goyangkan alisnya padaku seperti iblis.

"Serius, kau mengoda orang dengan kalimat murahan seperti itu?"Aku berpaling darinya untuk melepas jaket dan meremas pahaku berbarengan secara berlebihan.

"Ini bukan kalimat murahan. Baumu memang harum," aku mendengarnya berkata, dan memejamkan mata untuk menghalangi sihir Voodoo Jimin yang saat ini membuat Yoongi Bagian Bawah mulai melakukan hal hal yang tidak dapat dikontrol.

Holly datang meloncat keluar dari kamar tidur ketika mendengar suaraku dan berhenti mendadak ketika melihat Jimin. Akibatnya, ia jadi kurang keseimbangan di lantai kayu dan tergelincir dengan cukup tidak luwes di bawah meja makan. Mencoba untuk mendapatkan kembali martabatnya, ia mengeksekusi lompatan empat kaki yang sulit dari posisi berdiri ke rak buku dan melambai padaku dengan cakarnya. Dia ingin aku datang kepadanya- ciri khas para jantan. Aku menjatuhkan tas olAhragaku dan menghampirinya.

"Hai, anak manis. Bagaimana harimu? Hmm? Apa kau bermain main? Apa kau tidur nyenyak? Hmm?" Aku menggaruk belakang telinganya, dan ia mendengkur keras. Dia menatapku dengan mata kucing yang menerawang dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Jimin. Aku bersumpah dia menyeringai ala kucing padanya.

"Roti , ya? Jadi kau mau lagi, ya?" Tanyaku, melemparkan jaketku di belakang kursi.

"Aku tahu kau masih punya lebih. Jimin bilang berikan itu padaku,"katanya tanpa ekspresi, membuat jarinya seperti pistol.

"Kau sepertinya kecanduan makanan yang dipanggang, ya? Ada grup pendukung untuk itu?" Tanyaku, berjalan ke dapur untuk mencari roti terakhir. Mungkin memang aku sudah menyimpan untuknya.

"Ya, aku masuk di BA. Bakers Anonymous. Kami bertemu di toko roti," jawabnya sambil duduk di bangku di meja dapur.

"Grup yang bagus?"

"Cukup bagus. Ada satu yang lebih bagus di Market, tapi aku tidak bisa pergi ke sana lagi," katanya sedih sambil menggelengkan kepala.

"Dikeluarkan?" tanyaku, bersandar di meja di depannya.

"Aku yang keluar, sebenarnya," katanya, dan kemudian melengkungkan jarinya untuk membuatku bersandar lebih dekat.

"Aku mendapat masalah karena meremas roti bulat," katanya berbisik.

Aku terkekeh dan mencubit ringan pipinya. "Meremas roti," aku mendengus saat dia menepis tanganku.

"Serahkan saja rotinya, lihatlah, dan tidak ada yang terluka," ia memperingatkan.

Aku melambaikan tangan tanda menyerah dan meraih segelas anggur dari lemari di atas kepalanya. Aku mengangkat alis padanya, dan dia mengangguk.

Aku menyerahkan padanya sebotol Merlot dan pembukanya, kemudian menyambar setangkai anggur dari saringan di lemari es.

Dia menuang, kami mendentingkan gelas, dan tanpa kata-kata, aku mulai membuat makan malam kami.

Sisa malam terjadi secara natural, tanpa aku menyadarinya. Satu menit pertama kami mendiskusikan gelas wine yang baru kubeli, dan tiga puluh menit kemudian kami duduk di meja makan dengan pasta di depan kami. Aku masih mengenakan pakaian olAhragaku, dan Jimin memakai jeans, T-shirt dan berkaos kaki. Ia telah melepas sweater kaos Stanfordnya sebelum menyaring pasta, sesuatu yang bahkan tidak harus aku pinta untuk dia lakukan.

Dia hanya bergerak santai di dapur di belakangku, dan telah menyaringnya (pasta) dan kembali dengan panci saat aku selesai membuat saus.

Kami berbicara tentang kota, pekerjaannya, pekerjaanku, dan perjalanan kami yang akan datang ke Jeju, dan sekarang kami menuju sofa sambil membawa kopi. Aku bersandar pada bantal dengan kaki meringkuk di bawahku. Jimin sedang bercerita tentang perjalanan yang ia lakukan ke Vietnam beberapa tahun sebelumnya.

"Itu sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya, desa-desa di pegunungan, pantai-pantai yang indah, makanannya! Oh, Yoongi, makanannya." Dia menghela napas, meregangkan lengannya disepanjang bagian belakang sofa. Aku tersenyum dan mencoba untuk tidak merasakan kupu-kupu di perutku ketika ia mengatakan namaku seperti itu: dengan kata 'Oh' tepat di depannya...Oh Yoongi, oh my.

"Kedengarannya menyenangkan, tapi aku benci makanan Vietnam. Aku tidak tahan. Bolehkah aku membawa kimchi?"

"Aku kenal pria ini-membuat mie terbaik yang pernah ada, tepat di sebuah rumah perahu di tengah Ha Long Bay. Satu suapan dan kau akan membuang kimchimu ke samping."

"Oh Tuhan, aku berharap aku bisa melakukan perjalanan seperti yang kau lakukan. Apa kau pernah merasa muak dengan itu?"Tanyaku.

"Hmmm, ya dan tidak. Aku selalu senang pulang ke rumah. Aku suka Seoul. Tapi kalau aku pulang terlalu lama aku gatal untuk kembali ke jalanan. Dan tidak ada komentar tentang gatal-aku mulai memahami pikiranmu di sana, Pink boxer boy." Dia menepuk sayang lenganku.

Aku mencoba untuk berpura-pura tersinggung, tapi kebenarannya adalah aku sudah akan membuat lelucon. Aku melihatnya masih menaruh tangannya di lenganku, tanpa sadar menjejaki lingkaran lingkaran kecil dengan ujung jarinya. Apa memang benar-benar sudah begitu lama sejak aku membiarkan seseorang menyentuhku sehingga lingkaran ujung jari membuatku menjadi gelisah? Atau apakah karena orang ini yang melakukannya? Oh, Tuhan, ujung jari.

Keduanya, melakukan sesuatu padaku. Jika aku menutup mataku, aku hampir bisa membayangkan O melambai padaku-masih jauh, tapi tidak sejauh seperti sebelumnya.

Aku melirik Jimin dan melihat bahwa dia sedang menonton tangannya, seolah-olah ingin tahu tentang jari-jarinya di kulitku. Aku menarik napas dengan cepat, dan tarikan napasku itu membuat matanya menatap mataku. Kami saling memandang satu sama lain. Yoongi Bagian Bawah , tentu saja, menanggapi, tapi sekarang Hati mulai berdenyut sedikit liar juga.

Lalu Holly melompat ke atas belakang sofa, mengarahkan pantatnya tepat ke wajah Jimin, dan dengan sangat cepat menghentikan momen kami. Kami berdua tertawa, dan Jimin menjauh dariku saat aku menjelaskan pada Holly bahwa tidak sopan melakukan itu kepada tamu. Holly tampak aneh merasa senang dengan dirinya sendiri, jadi aku tahu dia merencanakan sesuatu.

"Wow, hampir jam sepuluh! Aku sudah mengambil seluruh waktu malammu. Aku harap kau tidak punya rencana," kata Jimin, berdiri dan meregangkan badan. Saat ia menggeliat, T-shirtnya naik, dan aku menggigit keras lidahku untuk menahan diri dari menjilati sedikit kulit yang terlihat di atas celana jinsnya.

"Well, aku memang menginginkan malam yang cukup menarik dengan menonton Food Network yang sudah direncanakan, jadi sialan kau, Jimin!" Aku menggelengkan tinjuku di wajahnya saat aku berdiri di sampingnya.

"Dan kau bahkan membuatkanku makan malam, yang hebat, ngomong-ngomong," katanya, mencari sweaternya.

"Tidak masalah. Menyenangkan memasak untuk orang lain selain diriku. Itu yang aku lakukan untuk setiap pria yang muncul untuk menuntut roti. "

Akhirnya aku menyerahkan roti yang aku sisakan untuknya. Dia menyeringai saat ia meraih sweater kaosnya dari lantai sebelah sofa.

"Well, di waktu berikutnya, biarkan aku yang memasak untukmu. Aku akan membuat-huh, ini aneh, " ia menyela dirinya sendiri, meringis.

"Apanya yang aneh?" Tanyaku, mengamatinya membuka lipatan sweaternya. "Ini terasa lembap. Sebenarnya, ini lebih dari lembap, ini... basah? " Tanyanya, menatapku, bingung. Aku melihat dari sweater ke Holly, yang duduk tenang di bagian belakang sofa.

"Oh, tidak," bisikku, darah surut dari wajahku. "Holly, dasar kucing sialan!" Kupelototi dia.

Dia melompat dari sofa dan melesat cepat di antara kakiku, menuju kamar tidur. Ia paham aku tidak bisa menjangkaunya di belakang lemari, dan di sanalah ia bersembunyi ketika melakukan hal yang sangat amat buruk. Dia tidak melakukan hal ini dalam waktu yang lama.

"Jimin, kau mungkin ingin meninggalkan itu di sini. Aku akan mencuci, mengeringkan dan membersihkannya-apapun. Aku sangat, sangat menyesal," kataku minta maaf, merasa amat sangat malu.

"Oh, dia yang melakukannya? Oh man, dia melakukannya, ya kan?" Wajahnya berkerut saat aku mengambil sweater darinya.

"Ya, ya, dia melakukannya. Maafkan aku, Jimin. Dia melakukan hal ini untuk menandai wilayahnya. Ketika pria manapun meninggalkan pakaian di lantai-oh, Tuhan-ia akhirnya kencing di atasnya. Aku sangat menyesal. Aku sangat, sangat menyesal. Aku sangat-"

"Yoongi, tidak apa-apa. Maksudku, itu menjijikan, tapi tidak apa apa. Aku pernah mengalami hal-hal buruk yang terjadi padaku. Ini semua tidak masalah, aku janji." Dia mulai meletakkan tangannya di bahuku, tapi tampaknya berpikir lebih baik dari itu, mungkin ketika ia menyadari hal terakhir yang ia sentuh.

"Maafkan aku, aku-" aku mulai lagi saat ia berjalan menuju pintu.

"Hentikan. Jika kau mengatakan maaf sekali lagi aku akan pergi mencari sesuatu barang milikmu dan kencing di atasnya, aku bersumpah."

"Oke, itu menjijikan." Aku akhirnya tertawa. "Tapi kita mengalami malam yang menyenangkan, dan itu berakhir dengan kencing!"Keluhku, membuka pintu untuknya.

"Ini adalah malam yang menyenangkan, bahkan dengan kencing. Akan ada yang lain malam-malam yang lain. Jangan khawatir, Boxer Boy." Dia mengedipkan mata dan menyeberangi lorong.

"Mainkan untukku sesuatu yang bagus malam ini, ya?" pintaku, melihat dia pergi.

"Kau akan mendapatkannya. Tidur yang nyenyak," katanya, dan kami menutup pintu bersamaan.

Aku bersandar ke pintu, memeluk sweaternya dalam pelukanku. Aku yakin ada senyuman terkonyol di wajahku, saat aku mengingat sentuhan ujung jarinya. Dan kemudian aku ingat aku memeluk sweater bernoda-kencing.

"Holly, dasar brengsek!" Aku berteriak dan berlari ke kamarku.

*ZELOCHEST*

Jemari, tangan, kulit yang hangat menekan tubuhku dalam upaya untuk lebih dekat. Aku merasakan napas hangatnya, suaranya seperti seks basah di telingaku.

"Mmm, Yoongi, bagaimana kau bisa terasa senikmat ini?" Aku mengerang dan berguling, menautkan kaki dengan kaki dan tangan dengan tangan, mendorong lidahku ke dalam mulutnya yang menunggu. Aku mengisap bibir bawahnya, mencicipi mint dan panas dan janji pada apa yang akan terjadi ketika ia mendorong ke dalam tubuhku untuk yang pertama kalinya. Aku mengerang saat dia mengerang, dan dalam sekejap aku terjepit di bawah dia. Bibirnya bergerak dari mulutku ke leherku, menjilati dan mengisap dan menemukan suatu titik-tempat di bawah rahangku yang membuat perutku meledak dan mataku terbalik. Sebuah tawa gelap di tulang selangkaku, dan aku tahu sudah terlena.

Aku berguling di atas tubuhnya, merasakan kehilangan berat tubuhnya, tapi keuntungannya kedua kakiku di kedua sisi tubuhnya, merasakan dia berkedut dan berdenyut tepat di mana aku membutuhkannya seperti itu. Dia mendorong rambut yang menutupi dahiku, menatapku dengan matanya yang bisa membuatku melupakan namaku tetapi meneriakkan namanya.

"Jimin!" rengekku, merasa tangannya meraih pinggulku dan mendorongku melawan dirinya. Aku duduk tegak di tempat tidur, jantungku berdebar saat gambaran terakhir mimpi meninggalkan otakku. Kupikir aku mendengar tawa rendah dari sisi lain dinding, di mana alunan instrumen lembut terdengar.

Aku kembali berbaring, kulit terasa merinding saat aku mencoba untuk menemukan tempat yang sejuk di bantal. Aku memikirkan apa yang ada di sisi lain dinding itu, seinchi jauhnya. Aku berada dalam masalah.

*ZELOCHEST*

Pagi harinya aku duduk di mejaku bersiap-siap untuk bertemu klien baru-orang yang secara khusus telah meminta untuk bekerja denganku. Karena aku masih seorang desainer baru, kebanyakan pekerjaan yang ku dapat berasal dari rekomendasi, dan siapa pun yang merujuk pria ini untukku, aku berutang sangat banyak. Semua interior baru untuk sebuah apartemen mewah-sebenarnya merupakan desain ulang, sebuah proyek impian.

Setiap kali aku melakukan persiapan untuk klien baru aku akan mengambil gambar dari proyek-proyek lain yang aku rancang dan sketsa telah siap pakai, tapi hari ini aku melakukannya dengan intensitas tertentu. Jika aku membiarkan pikiranku mengembara sedetik saja, Otak dengan segera akan kembali ke mimpiku tadi malam. Aku tersipu setiap kali aku memikirkan apa yang akan aku biarkan Mimpi Jimin lakukan untukku, dan apa yang Mimpi Yoongi akan lakukan kepadanya juga.

Mimpi Yoongi dan Mimpi Jimin adalah anak-anak yang nakal.

"Ehem," aku mendengar suara dari belakangku. Aku berbalik untuk menemukan Ahra di ambang pintu.

"Yoongi, tuan Zhou sudah ada di sini."

"Bagus, aku akan segera keluar." Aku mengangguk, berdiri dan merapikan bajuku. Tanganku menekan pipiku, berharap tidak terlalu merah.

"Dan dia manis, manis, manis!" Gumamnya sambil berjalan di sampingku menyusuri lorong.

"Oh, benarkah? Pasti hari keberuntunganku." Aku tertawa, berbelok di sudut untuk menyambutnya.

Dia sudah pasti manis, dan aku tahu. Dia adalah mantan pacarku.

"Oh, Tuhanku! Apa kemungkinannya?" Seru Seokjin saat makan siang, dua jam kemudian.

"Well, mengingat seluruh hidupku sekarang tampaknya diatur oleh kebetulan yang aneh, kupikir saat ini tepat di jalurnya." Aku mematahkan sepotong tortilla dan mengunyah dengan kuat.

"Tapi maksudku, ayolah! Apa kemungkinannya, benarkah?" Ia bertanya-tanya lagi, menuangkan kami masing-masing segelas Pellegrino lagi.

"Oh, tidak ada kemungkinan tentang hal ini. Pria ini tidak membiarkan hal-hal terjadi secara kebetulan. Dia tahu persis apa yang dia lakukan ketika dia mendekatimu di acara amal itu bulan lalu."

"Tidak," desahnya.

"Yap. Dia bilang padaku. Dia melihatku, dan ketika ia mengetahui aku bekerja untukmu? Bam! Dia membutuhkan seorang desainer interior." Aku tersenyum, memikirkan bagaimana ia selalu mengatur hal-hal persis seperti yang diinginkannya. Well, hampir segalanya.

"Jangan khawatir, Yoongi. Aku akan memindahkannya ke desainer lain, atau bahkan aku yang akan melakukannya sendiri. Kau tidak harus bekerja dengannya," katanya, sambil menepuk-nepuk tanganku.

"Oh, persetan tidak! Aku sudah bilang ya. Aku benar-benar akan melakukan hal ini." Aku menyilangkan tangan di depan dada.

"Apa kau yakin?"

"Yap. Tidak masalah. Itu bukan berarti kami mengalami putus yang buruk. Bahkan, sejauh putus itu berjalan, bisa dikatakan ringan. Dia tidak mau menerima kenyataan bahwa aku meninggalkannya, tapi akhirnya bisa menerimanya. Dia tidak mengira aku punya nyali untuk melakukannya, dan oh boy, dia terkejut." Aku memainkan serbetku.

Aku berpacaran dengan Zhoumi sebagian besar tahun seniorku di Daegu. Dia sudah kuliah di jurusan hukum, dengan mantap melaluinya menuju perjalanannya ke masa depan yang sempurna. Ya ampun, dia mempesona-kuat dan tampan, dan sangat menawan.

Kami bertemu di perpustakaan suatu malam, minum kopi beberapa kali, dan itu berkembang menjadi sebuah hubungan yang solid.

Seksnya? Cukup baik.

Dia adalah pacar serius pertamaku, dan aku tahu dia ingin menikahiku di beberapa titik. Dia memiliki ide yang sangat spesifik tentang apa yang ia inginkan dari hidupnya, dan yang pasti termasuk aku sebagai pendampingnya. Dan dia adalah segala sesuatu yang pernah kupikir aku inginkan dalam seorang suami. Pertunangan tak terelakkan. Tapi kemudian aku mulai melihat hal-hal, kecil pada awalnya, tapi seiring waktu itu mengungkapkan gambaran besar.

Kami pergi kemana ia ingin untuk makan malam. Aku tidak pernah memilih. Aku menguping dia mengatakan kepada seseorang bahwa dia pikir fase "mendekorasi"ku tidak akan bertahan lama, tapi itu akan bagus punya istri yang bisa membuat rumah yang indah.

Seksnya masih hebat, tapi aku jadi lebih dan lebih jengkel padanya, dan aku berhenti berpikir untuk terus melanjutkan hubungan kami. Ketika aku mulai menyadari dia bukan lagi apa yang aku inginkan untuk masa depanku, hal-hal menjadi sedikit tegang. Kami selalu bertengkar, dan ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan, ia mencoba untuk meyakinkanku bahwa aku membuat pilihan yang salah. Aku tahu lebih baik, dan akhirnya dia menerima bahwa aku benar-benar selesai dengannya dan bukan hanya melemparkan "serangan submisif", begitu ia suka menyebutnya. Kami tidak tetap berhubungan, tapi ia telah menjadi bagian besar dalam hidupku untuk waktu yang lama dan aku menghargai kenangan yang kami miliki bersama. Aku menghargai apa yang dia ajarkan padaku tentang diriku sendiri. Hanya karena kami tidak berhasil sebagai pasangan bukan berarti kami tidak bisa bekerja sama, kan?

"Kau yakin tentang hal ini? Kau benar-benar ingin bekerja dengannya?" Tanya Seokjin sekali lagi, tapi aku tahu dia sudah siap untuk melepaskannya.

Aku memikirkannya lagi, mengulang kilatan memori yang aku punya ketika aku melihatnya berdiri di lobi. Rambut coklat karamelnya, mata yang tajam, senyum menawan: Aku telah dihantam oleh gelombang nostalgia dan tersenyum saat dia menyeberang ke arahku.

"Hei, orang asing," katanya, menawarkanku tangannya.

"Zhomi!" Aku tersentak, namun pulih dengan cepat. "Kau tampak hebat!" Kami berpelukan, di depan Ahra yang melongo terkejut.

"Ya, aku yakin," kataku pada Seokjin. "Ini akan bagus bagiku. Sebut saja pengalaman yang membuat perkembangan. Plus, aku tidak mau menyerah pada komisinya. Kita akan lihat apa yang terjadi malam ini"

Mendengar ucapanku Seokjin mendongak dari menunya. "Malam ini?"

"Oh, aku tidak memberitahumu? Kami akan pergi minum supaya lebih akrab lagi."

*ZELOCHEST*

Aku berdiri di depan cermin, menepuk-nepuk rambutku dan memeriksa mataku untuk eyeliner yang menempel. Sisa hari kerja telah berlalu dengan cepat, dan sekarang aku menemukan diriku di rumah bersiap-siap untuk malam ini. Kami telah sepakat hanya untuk minum, sangat santai, meskipun aku memberikan pilihan terbuka untuk makan malam. Tapi jins ketat, baju turtleneck hitam, dan jaket kulit abu-abu tiga perempat ini saja yang aku anggap bagus untuk dikenakan.

Waktu yang aku habiskan pagi ini dengan Zhoumi di kantor menyenangkan, dan ketika dia memintaku pergi minum untuk pendekatan, aku langsung setuju. Aku sangat ingin tahu apa tujuannya, serta memastikan bahwa kami akan bisa bekerja sama.

Dia menjadi bagian besar dari hidupku pada satu waktu, dan ide untuk bisa bekerja dengan seseorang yang pernah begitu dekat denganku terasa baik untukku. Rasanya dewasa. Sebuah hubungan ringan?

Tidak yakin harus menyebutnya apa, tapi sepertinya hal yang wajar untuk dilakukan.

Dia menjemputku jam tujuh, dan aku berencana untuk menemuinya di luar. Parkir di jalanku adalah konyol. Satu lirikan pada jam mengatakan sudah waktunya untuk pergi, jadi aku memberikan ciuman cepat selamat tinggal kepada Holly, yang telah berperilaku baik sejak insiden kencing, dan membiarkan diriku menuju lorong.

Dan langsung menabrak Jimin, yang berada tepat di depan pintu rumahku.

"Oke, kau secara resmi penguntitku! Tidak ada lagi roti, mister. Aku harap kau membuat roti itu bertahan lama karena tidak ada lagi roti untukmu," aku memperingatkan, menekan dia mundur dari pintu depanku dengan jari telunjukku.

"Aku tahu, aku tahu. Aku benar-benar di sini untuk urusan resmi."Dia tertawa, mengangkat tangannya dalam kekalahan.

"Jalanlah denganku?" Aku bertanya, mengangguk ke arah tangga.

"Aku juga mau keluar. Menyewa film, " jelasnya saat kami mulai berjalan menuruni tangga

"Orang-orang masih menyewa film saat ini? " candaku, berbelok di sudut.

"Ya, orang-orang masih menyewa film. Oleh karena itu kau harus menonton apapun yang aku pilih," jawabnya, sambil mengangkat alis.

"Malam ini?"

"Tentu, mengapa tidak. Aku datang untuk melihat jika kau mau nongkrong. Aku berutang makan malam tempo hari, dan aku mendapat dorongan untuk menonton sesuatu yang seram ..." Dia mulai menirukan tema The Twilight Zone.

Aku tidak bisa menahan tawa pada cakar tangan dan mata julingnya.

"Terakhir kali seseorang memintaku untuk menyewa film itu adalah kode untuk 'mari kita bercumbu di sofa.' Apa aku aman denganmu?"

"Please! Kita punya gencatan senjata, ingat? Aku sangat mentaati gencatan senjata. Jadi, malam ini?"

"Aku harap aku bisa, tapi aku punya rencana malam ini. Besok malam?" Kami mengitari tangga terakhir dan memasuki jalan masuk.

"Besok aku bisa. Datanglah setelah bekerja. Tapi aku yang memilih film, dan aku yang membuatkanmu makan malam. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan untuk cockblocker kecilku." Dia menyeringai, dan aku meninju lengannya.

"Tolong berhentilah memanggilku itu. Kalau tidak, aku tidak akan membawa makanan penutup," kataku, merendahkan suaraku dan mengedip-ngedipkan mataku seperti orang bodoh.

"Makanan penutup?" Tanyanya, menahan pintu terbuka saat aku berjalan keluar.

"Mmm-hmm. Aku membeli beberapa apel kemarin saat aku keluar, dan aku sudah menginginkan pie sepanjang minggu. Bagaimana menurutmu?" Tanyaku, mengamati jalanan untuk mencari Zhoumi.

"Pie apel? Pie apel buatan sendiri? Ya Tuhan, kau mencoba membunuhku? Mmm..." Dia mendecakkan bibir dan menatapku lapar.

"Kenapa, Sir, kau terlihat seperti kau melihat sesuatu yang ingin kau makan," aku membalas dengan aksen Daegu terbaikku.

"Kau muncul dengan pie apel besok malam dan aku tidak akan membiarkanmu pergi," desahnya, pipinya merah dan rambut berantakannya tertiup di udara dingin.

"Itu akan jadi mengerikan," bisikku. Wow. "Oke, jadi, pergilah sewa filmnya," kataku dengan main-main mendorong pria seksi ini di depanku. Ingat harem! Aku berteriak di dalam kepalaku.

"Yoongi?" Sebuah suara heran datang dari belakangku, dan aku berpaling untuk melihat Zhoumi berjalan ke arah kami.

"Hei, Zhoumi," seruku, menjauh dari Jimin sambil cekikikan.

"Kau siap untuk pergi?" tanyanya, melihat Jimin dengan hati-hati. Jimin meluruskan badannya selurus-lurusnya dan melihat ke belakang, sama hati-hatinya.

"Yap, siap untuk pergi. Jimin, ini adalah Zhoumi. Zhoumi, Jimin."

Mereka membungkuk untuk berjabat tangan, dan aku bisa melihat mereka berdua memberikan genggaman dengan kekuatan ekstra, tidak tampak satupun dari mereka ingin melepaskan tangan terlebih dahulu. Aku memutar mataku. Ya, dasar lelaki. Kalian berdua bisa menulis nama kalian di salju. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan membuat huruf yang lebih besar?

"Senang bertemu denganmu, Zhoumi. Zhoumi, kan? Aku Jimin. Jimin Park."

"Benar. Zhoumi. " aku melihat permulaan tawa di wajah Jimin.

"Oke, Zhoumi, kita harus segera pergi. Jimin, Kita akan bicara nanti,"aku menyela, mengakhiri jabat tangan abad ini. Zhoumi berbalik arah dimana mobilnya diparkir ganda, dan Jimin menatapku.

"Zhoumi ?" Bisiknya, dan aku menahan tertawaku sendiri.

"Sstt," bisikku kembali, tersenyum pada Zhoumi saat ia berbalik kembali padaku.

"Senang bertemu denganmu, Jimin. Sampai jumpa," kata Zhoumi, mengarahkanku ke mobil dengan tangannya di punggungku. Aku tidak berpikir dua kali tentang hal itu, karena itu adalah bagaimana kami biasanya berjalan bersama-sama, tapi mata Jimin melebar sedikit saat melihat itu.

Hmm...

Zhoumi membuka pintu untukku, kemudian menuju ke sisinya. Jimin masih berdiri di depan gedung kami ketika kami melaju pergi. Aku menggosok tangan bersamaan di depan pemanas dan menyeringai pada Zhoumi saat ia mengemudi melalui kemacetan.

"Jadi, ke mana kita pergi?"

*ZELOCHEST*

Kami membuat diri kami nyaman di bar mewah yang dia pilih.

Tampaknya begitu khas Zhoumi: trendy dan modern, dan dicampur dengan seksualitas yang tersembunyi. Sofa kulit merah gelap, yang empuk dan sejuk, melindungi kami saat kami menempatkan diri dan memulai proses mengenal satu sama lain setelah bertahun-tahun terpisah.

Saat kami menunggu pelayan datang, aku mempelajari wajahnya.

Dia masih tampak sama: rambut coklat karamel dipotong pendek, mata yang intens, dan perawakan ramping yang begitu luwes seperti kucing. Umur hanya meningkatkan ketampanan dirinya, celana jins yang dirobek dengan cermat dan sweater kasmir hitam yang menempel ke badan yang bisa kulihat dalam kondisi sangat baik.

Zhoumi seorang pemanjat tebing, tak kenal lelah oleh pencariannya dalam olahraga. Ia memandang setiap batu, setiap gunung sebagai hambatan untuk di atasi, sesuatu yang harus ditaklukkan.

Aku pernah pergi mendaki dengannya beberapa kali menjelang akhir hubungan kami, meskipun aku dibesarkan takut dengan ketinggian.

Tapi melihatnya memanjat, melihat otot berotot yang meregang dan memanipulasi tubuhnya ke posisi yang tampak tidak wajar, adalah pengalaman yang memabukkan, dan aku menerkamnya malam malam di tenda seperti kesurupan.

"Apa yang kau pikirkan?" ia bertanya, membuyarkan lamunanku.

"Aku berpikir tentang seberapa sering dulu kau biasa mendaki. Apa itu sesuatu yang masih kau lakukan?"

"Masih, tapi aku tidak ada banyak waktu luang seperti dulu. Mereka membuatku cukup sibuk di perusahaan. Aku mencoba dan keluar sesering yang aku bisa," tambahnya sambil tersenyum saat pelayan kami mendekat.

"Apa yang bisa saya dapatkan untuk kalian berdua?" Tanyanya, menempatkan serbet di depan kami.

"Untuknya vodka martini kering, tiga zaitun, dan untukku bawakan tiga jari Macallan," jawabnya.

Pelayan mengangguk dan pergi untuk mengisi pesanan kami. Aku mengamatinya saat ia duduk kembali, kemudian tatapannya berbalik padaku.

"Oh, Yoongi, aku minta maaf. Apa kau masih minum itu?"

Aku menyipitkan mata ke arahnya. "Seperti yang sering terjadi, ya. Tapi bagaimana jika aku tidak ingin itu malam ini? " Jawabku tegas.

"Salahku. Tentu saja, apa yang ingin kau minum?" Dia melambai kembali pada pelayan.

"Aku mau vodka martini kering dengan tiga zaitun, please, "kataku pada pelayan sambil mengedipkan mata. Dia terlihat bingung. Zhoumi tertawa keras dan pelayan pun pergi, menggelengkan kepalanya.

"Benar benar Min Yoongi." katanya, mengamatiku lagi.

"Jadi, ceritakan padaku apa yang kau lakukan beberapa tahun terakhir." Aku menaruh sikuku di atas meja dan daguku di tangan.

"Hmm, bagaimana merangkum bertahun-tahun dalam beberapa kalimat? Selesai sekolah hukum, bekerja pada perusahaan di kota ini, dan bekerja seperti anjing selama dua tahun. Aku sudah bisa mereda sedikit, hanya sekitar enam puluh lima jam seminggu sekarang, dan kuakui itu nikmat bisa melihat waktu siang lagi." Dia menyeringai, dan aku tidak bisa menahannya kecuali balas tersenyum.

"Dan tentu saja bekerja sebanyak seperti yang aku lakukan memberikan sedikit waktu untuk kehidupan sosial, jadi itu hanya keberuntungan samar aku melihatmu di acara amal bulan lalu,"tuntasnya, bersandar ke depan pada sikunya juga. Seokjin menghadiri banyak acara sosial di sekitar kota, dan aku menemaninya di beberapa kesempatan. Bagus untuk bisnis. Seharusnya aku tahu aku nantinya tidak sengaja bertemu Zhoumi di salah satu pesta riuh itu.

"Jadi kau melihatku, tapi kau tidak menghampiri dan bicara padaku. Dan sekarang kau ada di sini, berminggu-minggu kemudian, memintaku untuk mengerjakan kondominiummu. Kenapa begitu, tepatnya?" Aku menerima minumanku saat itu tiba dan mengambil tegukan panjang.

"Aku ingin bicara denganmu, percayalah. Tapi aku tidak bisa. Begitu banyak waktu yang telah berlalu. Lalu aku menyadari kau bekerja untuk Seokjin, seorang teman telah merekomendasikannya padaku, dan kupikir, 'betapa sempurna.'" Dia mencondongkan gelasnya ke gelasku untuk mendenting. Aku berhenti sejenak, lalu mendentingkannya.

"Jadi kau serius tentang bekerja denganku? Ini bukan semacam cara untuk mendapatkanku ke tempat tidur, kan? "Dia menatapku datar.

"Masih blak-blakan seperti biasa, kulihat. Tapi tidak, ini adalah profesional. Aku tidak suka cara kita berpisah, aku akui, tapi aku menerima keputusanmu. Dan sekarang kita di sini. Aku butuh dekorator. Kau adalah dekorator. Bekerja dengan baik, kan?"

"Desainer," kataku pelan.

"Apa itu?"

"Desainer," kataku, kali ini lebih keras. "Aku seorang desainer interior, bukan dekorator. Ada perbedaan, Tuan Pengacara." Aku meneguk lagi.

"Tentu saja, tentu saja," jawabnya, memberi tanda untuk pelayan.

Terkejut, aku melihat ke gelasku kosong.

"Mau lagi?" Tanyanya dan aku mengangguk.

Saat kami berbincang ringan selama satu jam berikutnya, kami juga mulai membahas apa yang diperlukan di rumah barunya. Seokjin memang benar. Dia benar-benar memintaku untuk merancang seluruh tempatnya, dari karpet sampai perlengkapan pencahayaan dan segala sesuatu di antaranya. Ini akan menjadi komisi besar, dan ia bahkan setuju untuk membiarkan aku memotretnya untuk majalah desain lokal yang Seokjin sudah lama ingin aku untuk ajukan.

Zhoumi berasal dari keluarga orang kaya, dan aku tahu mereka pasti yang membayar tagihan untuk sebagian besar ini. Pengacara muda tidak cukup mampu untuk membeli jenis tempat yang dia punya, apalagi di salah satu kota paling mahal di Korea. Tapi dia memiliki dana perwalian, dan dalam jumlah yang besar. Salah satu manfaat dari berkencan dengannya di perguruan tinggi adalah kami benar-benar mampu berkencan dengan nyata, bukan cuma restoran cepat saji murah sepanjang waktu. Aku menikmati aspek itu dengan bersamanya. Aku tidak bohong.

Dan aku akan menikmati aspek itu dalam proyek ini. Anggaran yang pada dasarnya tidak terbatas? Aku tak sabar menunggu untuk memulainya.

Pada akhirnya, itu adalah malam yang menyenangkan. Seperti semua mantan pacar, ada perasaan mengenal, sebuah nostalgia yang hanya dapat kau bagi dengan seseorang yang telah mengenalmu secara intim, terutama pada usia itu ketika kau masih beranjak dewasa. Menyenangkan bisa bertemu lagi. Zhoumi memiliki kepribadian yang sangat kuat, intens dan percaya diri, dan aku teringat kenapa aku tertarik padanya dulu. Kami tertawa dan bercerita tentang hal-hal yang telah kami alami sebagai pasangan, dan aku merasa lega menemukan pesonanya tetap ada. Kami bisa bergaul cukup baik dalam bersosialisasi. Tidak akan ada kecanggungan yang menyertai.

Saat larut malam dan ia mengantarku pulang, ia sempat memberiku pertanyaan yang aku tahu sudah dia tahan-tahan untuk tanyakan. Dia menghentikan mobil didepan gedungku dan berpaling padaku.

"Jadi, apakah kau sedang bersama seseorang?" Tanyanya lirih.

"Tidak. Dan itu hampir bukan pertanyaan yang seorang klien tanyakan padaku," godaku dan memandang ke arah gedungku. Aku bisa melihat Holly duduk di jendela depan di posnya yang biasa, dan aku tersenyum. Rasanya menyenangkan memiliki seseorang yang menunggu untukku. Aku tidak bisa menahan diri untuk melirik ke rumah sebelah untuk melihat apakah ada cahaya di dalam apartemen Jimin, dan aku juga tidak bisa menghentikan perutku dari melakukan sedikit gejolak ketika aku melihat bayangannya di dinding dan cahaya biru televisinya.

"Well, sebagai klienmu, aku akan menahan diri untuk bertanyapertanyaan semacam itu di masa mendatang, Tuan Min," Dia terkekeh.

Aku berbalik untuk menghadapnya. "Tidak apa-apa, Zhoumi. Kita sudah lama melewati hubungan desainer/klien. " Aku merasa menang karena aku melihat rasa malu terukir di celah kepurapuraannya yang hati-hati.

"Aku rasa ini akan jadi menyenangkan." Dia mengedipkan mata, dan giliranku untuk tertawa.

"Oke, kau bisa menelponku besok di kantor, dan kita akan segera memulai. Aku akan merampokmu dengan membabi buta, buddy, bersiaplah untuk memperkerjakan kartu kredit itu," ejekku saat melangkah keluar dari mobil.

"Oh Ya Ampun, aku akan menunggu itu." Dia mengedipkan mata dan melambai padaku.

Dia menunggu sampai aku berada di dalam, jadi aku melemparkan lambaian lain ke arahnya saat pintu tertutup. Aku senang melihat aku bisa menangani diriku sendiri dengannya. Di lantai atas, saat aku memutar kunci di lubang kunci, kupikir aku mendengar sesuatu. Aku menoleh lewat bahuku, dan tidak ada apapun di sana. Holly memanggilku dari dalam, jadi aku tersenyum dan melangkah, meraupnya dan berbisik lembut di telinganya saat dia memberiku pelukan kucing kecil dengan cakar besarnya di sekitar leherku.

*ZELOCHEST*

LONG TIME NO SEE /BENERIN KACAMATA, RAPIHIN RAMBUT/

Hai halo aku baru sempat update maafkan /cry loudly/

Kalian udah pada nungguin tapi aku masih sibuk dengan dosen ku hiks mianheyoong ;;-;;

Jadi kalian menemukan wajah baru /tepuk tangan/

Lol saya bawa bawa jomi gege *_*

Btw saya baca baca dan dengar dengar holly beneran laki /? Wah saya hebat/?

Yasudah, ayo next ato cut off ? .-.

Review yak, mudah mudahan saya fast update !

pyongg