Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 10 ]

.

.

.

.

Sakura bertemu ibu Kiba, dia wanita yang ramah, Sakura di sambut begitu baik di rumah ini, sedangkan ayah Kiba sedang bertugas, pekerjaannya adalah seorang anggota kepolisian, maka dari itu ada beberapa anjing di rumah Kiba yang sengaja di latih untuk membantu polisi, mereka pun lebih sigap dan lebih peka dari anjing lainnya.

"Terima kasih untuk hari ini, aku benar-benar bisa bermain dengan mereka semua." Ucap Sakura. kegiatannya berakhir, Kiba akan mengantarnya.

"Tidak-tidak, aku yang berterima kasih karena kau sudah mempercayaiku." Ucap Kiba, dia senang Sakura tidak memandang buruk lagi tentangnya.

"Jangan mengganggu Sakura!" Teriak seorang pemuda, dia bahkan menarik Sakura dari Kiba dan menatap marah padanya. "Kau preman yang di kampus itu kan? Kau benar-benar keterlaluan, bahkan mengancam Sakura." Ucap pemuda berambut blonde kuning itu.

"Ha? Siapa kau?" Ucap Kiba dan Sakura.

"Eh? A-a-aku ini teman satu kelasmu Sakura, kita satu kelas, tapi karena preman ini terus bersamamu, mahasiswa lain takut membantumu, aku tahu selama ini kau menderita Sakura."

Sakura dan Kiba mengabaikannya, mereka kembali berjalan bersama.

"Lain kali ajak aku ke rumahmu lagi, aku ingin bermain dengan mereka." Ucap Sakura.

"A-apa-apaan ini? Apa Sakura benar-benar di ancam sampai tidak peduli." Batin pemuda ini.

"Sakura! Sadarlah! Dia itu orang jahat!" Teriak pemuda ini.

Sakura dan Kiba berhenti berjalan, kembali memasang wajah datar dan menatap pemuda itu.

"Kau ini salah paham, Kiba tidak jahat." Ucap Sakura.

"Bukannya, kau selama ini tersiksa olehnya?"

"Bukan tersiksa, lebih tepatnya risih, Kiba itu lebih menyebalkan dan dia tidak ingin namanya terus menjadi buruk gara-gara ucapanku saat itu."

"Kau mau aku hajar, ha? Seenaknya mengatakan aku preman." Ucap Kiba, sejak tadi sudah menahan diri, sekarang dia sangat ingin memukul wajah pemuda itu.

"Sudahlah, kalau begitu sampai di sini saja, aku akan pulang." Ucap Sakura.

Setelah Sakura pergi, Kiba dan pemuda berambut kuning terang itu saling bertatapan kesal.

.

.

.

Esoknya.

Seperti akan ada perang, di sebelah Sakura pemuda kemarin yang mengatakan hal buruk tentang Kiba dan di sebelahnya adalah Kiba.

"Ah, aku mengerti." Ucap Sakura, tiba-tiba dia terpikirkan akan sesuatu.

Pemuda berambut kuning itu, Uzumaki Naruto, terdiam dan mendengar ucapan Sakura.

"Kau ingin berteman dengan Kiba jadi sengaja melakukan ini padanya." Ucap Sakura, dia memikirkan hal ini, mungkin saja Naruto itu malu untuk berteman dengan Kiba.

"Hooo, begitu, aku baru tahu jika akan berteman harus merasa kesal dulu." Ucap Kiba.

"Apa! Siapa yang mau berteman dengan preman, pencuri dan geng mafia ini!" Ucap Naruto dan suaranya cukup keras.

Kesabaran Kiba habis.

"Siapa yang kau sebut pencuri, preman dan geng mafia, ha!" Kesal Kiba, dia sampai mencengkeram kerah baju Naruto dan menatap tajam padanya. "Aku bisa memukulmu sekarang juga."

Geng mafia katanya.

Wah, apa benar?

Jangan-jangan dia memang orang berbahaya.

Jangan mendekatinya.

Kenapa fakultas ini menerima mahasiswa bermasalah?

Aku ingin pindah kelas.

Kiba mendengar semua ucapan pelan itu, tangannya terlepas, mau bagaimana pun orang selalu menganggapnya buruk, tatapan itu, tatapan yang selalu merasa takut padanya, sejak dulu, dia sudah selalu di anggap seperti itu, meskipun sebelum mengubah penampilannya.

"Hahahahaha, kalian ini, berhentilah main-main, sudah besar masih bermain tentang geng mafia, sekarang bantu aku kerja laporan." Ucap Sakura, dia mengeraskan suaranya, merangkul kedua pemuda itu dan mengajak mereka keluar. "Kita ke perpustakaan!"

Sampai di luar kelas dan cukup jauh.

"Kau! kau benar-benar keterlaluan, kenapa mengatakan hal itu pada Kiba!" Kesal Sakura, hampir saja orang benar-benar menganggap Kiba orang berbahaya.

"Kau pasti sudah di ancamnya, selama ini tidak ada yang berani bertindak." Ucap Naruto.

Bught!

Satu pukulan mendarat ke wajah Naruto.

"Sekali lagi kau mengatakan temanku ini orang berbahaya, aku akan membuatmu pingsan seumur hidup." Ucap Sakura, kesal.

"Tunggu, Sakura, kita bawa saja dia ke kantor polisi." Ucap Naruto, masih berpegang teguh dengan pendapatnya.

"Ha! Kantor polisi?" Ucap Sakura, bingung, kenapa sampai harus ke kantor polisi.

.

.

Kantor polisi Konoha.

Mereka benar-benar ke kantor polisi.

"Pak, saya mau melapor jika teman saya di tindas." Ucap Naruto.

"Sejak kapan dia menjadi temanmu?" Bisik Kiba pada Sakura.

"Aku tidak menganggapnya teman, dia saja seenaknya ngaku-ngaku temanku." Bisik Sakura.

"Tenang dulu, jika kau berbicara seperti itu aku akan kesulitan membuat laporan, jadi mana temanmu yang jadi tindas itu dan mana pelakunya?" Ucap polisi yang sedang bertugas.

"Dia! Dia orangnya." Ucap Naruto, menunjuk Kiba sebagai pelaku dan menunjuk Sakura sebagai Korban.

Polisi itu menengok ke arah pelaku yang di tunjuk. "Apa kau sedang membuat masalah, Kiba?" Ucap polisi itu.

"Tu-tunggu, ini salah paham, paman, dia saja membuat laporan palsu." Ucap Kiba.

"Apa aku perlu memanggil ayahmu? kebetulan dia sedang berada di ruangannya."

"Apa? Aku sungguh tidak melakukan apapun!"

"Eh? Tunggu sebentar, pak, apa bapak mengenal dia, maksudku preman ini?" Ucap Naruto.

"Siapa yang preman! Aku anak baik-baik!" Kesal Kiba.

"Aku mengenalnya, bahkan saat masih kecil."

"Apa dia memang sejak kecil membuat kasus? Wah, keluarga mafia benar-benar cukup bermasalah bahkan sejak mereka kecil."

"Keluarga mafia? Tidak, Kiba ini anak komandanku, dia anak dari keluarga polisi bahkan sejak kakek-kakeknya bertugas dulu." Jelas polisi itu.

"Oh keluarga polisi ternyata." Ucap Naruto, terkejut. "Apa! keluarga polisi! Dia itu penjahat!" Protes Naruto.

"Naruto sudah hentikan!" Ucap Sakura, ini semakin rumit hanya karena ucapan Naruto. "Kiba ini bukan geng mafia atau preman kampus, dia anak baik-baik dan ayahnya seorang komandan polisi, kau terus membuatnya dalam masalah, apa kau punya masalah dengan Kiba sampai harus melakukan ini padanya?" Sakura sudah cukup kesal.

"A-aku hanya membantumu." Ucap Naruto, sedikit merasa bersalah.

"Aku sedang tidak di tindas, apa kau lihat aku seperti orang yang sedang bermasalah?" Ucap Sakura, tidak habis pikir akan keras kepala Naruto, dia sampai membawa Kiba ke kantor polisi dengan tuduhan konyol.

"Jika kalian ingin bermain-main segera pulang saja, ini kantor polisi." Tegur polisi itu.

"Maaf, paman, kami akan segera pergi." Ucap Kiba.

"Ya-ya pergi saja atau aku akan tahan kalian semua atas laporan mengganggu keamanan di kantor polisi."

Ketiganya segera berdiri dan kabur dari kantor polisi itu.

"Aku seperti mendengar suara Kiba." Ucap seorang pria, wajahnya hampir mirip Kiba, namun jauh lebih tua dan jenggot tipis rapi di dagunya, tatapan yang terlihat tegas dan tajam.

"Bukan-bukan, kau salah dengar, anakmu sedang berada di kampus." Ucap polisi itu, dia tidak ingin menjelaskan kekonyolan anak-anak tadi.

.

.

"Hahahaha, bodoh, anak polisi di lapor ke kantor polisi." Ucap Sakura.

Kiba dan Naruto menatap gadis itu, dia tertawa gara-gara kejadian konyol tadi.

"Jadi apa itu benar, Sakura?" Ucap Naruto, berusaha meyakinkan dirinya jika Kiba benar-benar bukan orang jahat.

"Sudahlah, Kiba memang terlihat seperti ini, katanya sudah menjadi stylenya, tapi dia orang yang baik." Ucap Sakura.

"Aku bahkan tidak pernah memalak orang, jika ayahku tahu akan melakukan kejahatan, dia yang akan membunuhku duluan." Ucap Kiba dan memasang wajah takutnya.

"Maaf, aku benar-benar minta maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak, aku tidak bermaksud ingin membuatmu dalam masalah, aku hanya kasihan pada Sakura yang seperti sedang di tindas."

"Jangan konyol, jika dia menindasku, aku akan memukulnya." Ucap Sakura dan mengangkat kepalang tanganya.

"Aku tidak terima permintaan maaf, kau harus mentraktirku." Ucap Kiba pada Naruto.

"Hey, bukannya baru saja kau memalakku?" Protes Naruto.

"Tidak ada teman yang memalak teman, kau harus mentraktirku sebagai permintaan maaf." Ucap Kiba.

"Siapa juga yang menganggapmu teman, ha! Aku hanya ingin berteman dengan Sakura." Ucap Naruto.

"Kalian berisik, ya sudah, kalian yang harus mentraktirku, aku sampai harus datang jauh-jauh ke kantor polisi ini." Ucap Sakura.

"Kau berani memalakku?" Ucap Kiba.

"Tidak ada teman yang memalak teman." Sakura membalik ucapan Kiba.

"Cih, aku yang traktir kalau begitu, lain kali kalian yang traktir." Ucap Kiba pada akhirnya.

"Wah, hebat, kita makan steak di restoran yang di sana ya-ya." Ucap Sakura.

"Kau mau merampokku? Aku yang pilihkan tempat makan." Ucap Kiba.

Berikutnya.

"Anjing dimana-mana!" Ucap Naruto, dia sampai takjub melihat semua aning yang jinak dan lucu itu.

"Apa ini yang namanya traktir?" Sakura memasang wajah datar, Kiba mengajak mereka ke rumahnya.

"Masakan ibuku yang paling enak loh."

"Di sana ada anjing! Di sana juga! Wah tempat macam apa ini!" Ucap Naruto, dia jauh lebih heboh dari pada Sakura saat pertama kali datang ke rumah Kiba.

"Mereka semua ini pintar loh." Ucap Kiba.

"Apa kau ini seorang maniak anjing?" Ucap Naruto, terlalu banyak anjing di sini.

"Diam kau! Aku bukan maniak anjing! Apa kau tidak bisa menggunakan kata yang lebih pantas, aku ini penyuka anjing." Ucap Kiba.

"Entah mengapa aku jijik mendengarnya." Ucap Naruto.

"Kau mau ku bunuh, ha?" Kesal Kiba.

Keduanya saling mencengkeram kerah masing-masing.

"Aku tidak takut pada padamu." Ucap Naruto, dia pun menantang Kiba.

"Berhenti kalian! Jangan berkelahi di rumah." Ucap ibu Kiba, memisahkan mereka dan menjewer telinga keduanya.

"Maaf, merepotkan, bibi." Ucap Sakura.

"Tidak apa-apa, aku malah senang jika masih ada orang yang ingin berteman dengannya, lagi pula, sudah berapa kali ibu katakan padamu, berpenampilan yang lebih baik dan normal!" Ucap ibu Kiba, dia sampai mengomel pada anaknya.

"I-ini style, bu! Style!"

"Style apanya yang seperti preman ini!"

"Aku tidak mau mengubah penampilanku!" Protes Kiba.

Ini menjadi pemandangan langka bagi Naruto dan Sakura, jarang-jarang anak di seusia mereka di omelin seperti anak kecil.

"Apa perlu di abadikan?" Bisik Naruto pada Sakura.

"Kau akan di bunuh Kiba." Bisik Sakura.

.

.

TBC

.

.


update...~

uhmm... bingung mau ketik apa lagi, itu aja. (sampai bosan karena up tiap hari :D ) minggu libur yaa. XD

oh iya, untuk Lacus Clyne 123 : Sasori akan muncul lagi tentunya. :)

.

.

See you next chapter!