Yuhuu~ minna genki desuka? :D

Maaf banget ya, update chapternya lama banget. Karena terlalu sibuk ama tugas dan ujian, makanya jadi lupa buat update chapter baru ;(

But, dont worry about. Aku bakal update 2 chapter sekaligus kali ini. Semoga terhibur yaw~

Oh iya, karena aku kurang tau apa yang terjadi sama masa lalu Mukami Bersaudara dan hanya menggandalkan review dari beberapa temenku, aku minta maaf. Selain itu juga, ada beberapa bagian yang mungkin bagi kalian sedikit miring dari gamenya.

Okeh, enjoy my fanfiction :D

Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


Kebohongan dan Iri Hati

Yuki menopang dagunya dengan tangannya, merasa bosan karena terus menerus melihat pemandangan yang sama. Namun, apa boleh buat. Selama "hal itu" belum terpenuhi, ia harus terus melihat hal yang sama berulang kali.

Ia kembali menghela napas panjang. "Bosan," gumamnya.

"Orang yang kerjanya hanya melamun dan tidak melakukan apa pun pasti akan berkata seperti itu," sindir seseorang.

Ia menoleh kebelakang dan mendapati Kanato yang sedang asyik duduk disalah satu bangku panjang disana. Ia segera melompat turun dari pagar pembatas dan menghampiri cowok berambut ungu itu. "Tak kusangka akan bertemu dengan Kanato-kun disini," ucapnya. "Apa yang sedang kau lakukan?"

"Itu bukan urusanmu," tandas Kanato. "Nee, tedy?"

Yuki mengangkat kedua bahunya. Ia seolah teringat sesuatu dan merogoh saku roknya. Kemudian, ia memberikan benda itu pada Kanato yang seolah sedang berbicara pada boneka beruang kesayangannya.

"Untukmu," kata Yuki singkat.

Kanato memalingkan matanya untuk melihat apa yang diberikan Yuki padanya. Alisnya berkerut melihat beberapa bungkus permen yang ditujukan padanya. "Apa ini?"

"Tentu saja permen," ucap Yuki. "Kau menyukai makanan manis bukan?"

"Permen murahan begitu tidak sesuai denganku," sindir Kanato.

"Ya sudah, jika kau tidak mau," katanya sambil memasukkan kembali permennya kedalam saku. Ia baru saja ingin meninggalkan Kanato sendirian disana, tapi suara cowok itu menghentikannya.

"Ada satu hal yang selalu membuatku penasaran," sahut cowok itu. "Kenapa bau darahmu sama sekali tidak bisa tercium, tapi ketika jauh aromanya sangat manis?"

Yuki kembali menoleh, menatap malas kearah Kanato. "Menurutmu sendiri bagaimana, Kanato-kun?"

Setelah itu, ia benar – benar meninggalkan Kanato. Ia berjalan cukup cepat menuruni tangga, mencoba menghibur dirinya sendiri dengan menyenandungkan lagu kesukaannya. Diujung koridor, matanya tak sengaja melihat Yui yang sedang memandang kearah luar. Wajahnya lebih pucat dari biasanya dan nampak kosong.

"Yui-chan~" panggil Yuki. Ia segera berlari menghampiri gadis berambut pirang itu. "Sedang apa kau disini?"

Yui tersenyum, yang jelas sekali terlihat bahwa itu adalah senyum palsu. "Hanya mencari angin segar."

Yuki mendesah. "Yui, kau paling tidak bisa berbohong. Apalagi didepanku. Pasti akan langsung ketahuan," tukasnya, membuang panggilan –chan yang biasanya ia panggil untuk gadis bersurai pirang pucat itu. "Katakan apa yang sedang terjadi?"

Jelas sekali Yui tak ingin membicarakan perihal itu pada gadis disebelahnya. Yuki sendiri sebenarnya sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi, karena samar – samar aroma darah Yui bisa tercium olehnya. Ternyata ia memang harus berbicara terus terang pada gadis yang ada dihadapannya saat ini. Ia harus mendapatkan kejelasan perasaan Yui jika ingin membantu rencana Mukami bersaudara.

"Kali ini siapa yang meminum darahmu? Apa Ayato-kun lagi?" tanyanya.

Yui langsung menoleh padanya, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia jelas terkejut karena selama ini Yui selalu menyembunyikan fakta bahwa Sakamaki bersaudara adalah vampire. Tapi, nyatanya Yuki justru tau akan hal itu.

"Siapa?" ulang Yuki. "Raito-kun? Shuu-san? Reiji-san? Atau Subaru-kun? Kalau Kanato-kun kemungkinan tidak karena beberapa saat yang lalu dia baru saja bersamaku."

"Yuki-chan... kau sedang bicara apa?" elak Yui.

"Yui, jangan mengelak dariku," sergah Yuki, menatap tajam kearah Yui. "Aku tau kok rahasia Sakamaki bersaudara. Semuanya."

Kali ini Yui benar – benar sudah terpojok. Ia menghela napas panjang dan akhirnya menceritakan semua apa yang terjadi padanya. Tapi sebenarnya, tanpa Yui menceritakannya pun Yuki sudah tahu apa yang sedang terjadi. Karena dirinya sempat melihat apa yang terjadi pada Yui dan juga Sakamaki bersaudara sebelum kepergok oleh Kanato.

"Lalu, kau mau saja darahmu diminum oleh mereka?" tanya Yuki tajam.

Yui diam, tak bisa menjawab. "Sebenarnya... aku tidak ingin," jawab Yui lirih. "Tapi, terkadang melihat mereka kesakitan karena membutuhkan darah, aku jadi tak bisa berpikir jernih. Akhir – akhir ini pun, aku bahkan dengan sukarela menawarkan darahku pada mereka."

Mungkinkah kebangkitannya sudah dekat? Batin Yuki. "Pernahkah kau berpikiran untuk memberikan darahmu pada salah satu dari mereka?"

"Apa maksudmu, Yuki-chan?"

"Apakah kau menyukai salah satu dari mereka?"

Yui memiringkan kepalanya, berusaha memikirkan jawaban dari pertanyaan Yuki. Tapi detik kemudian, ia justru tertawa pelan membuat Yuki sedikit kesal.

"Kenapa kau justru tertawa Yui?" tanyanya. "Aku serius disini."

"Yuki-chan, apa mungkin kau menyukai salah seorang dari Sakamaki bersaudara?" tebak Yui geli.

"Hah?!" seru Yuki. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Habis, kau selalu menanyakan perasaanku pada mereka," jawab Yui. "Benarkan kau menyukai mereka. Siapa? Apa Subaru-kun?"

Yuki menghela napas panjang. Jelas tidak mungkin ia menyukai salah satu dari Sakamaki bersaudara. Justru karena Sakamaki bersaudara lah dirinya harus menanggung semua beban ini sendirian.

Tidak akan dan tidak mungkin! Batin Yuki. "Aku tidak mungkin menyukai mereka."

"Kenapa tidak mungkin?" tanya Yui. "Semua bisa saja jadi mungkin. Yah, walaupun mereka bukanlah manusia. Tak ada salahnya mencoba."

Yuki hendak memprotes ucapan Yui barusan, tapi terhalang oleh aroma yang amat ia kenal. Dengan segera ia menoleh kearah belakang dan mendapati Ruki yang sedang berjalan sendirian. Cowok berambut hitam keperakan itu berjalan kearah dirinya dan Yui. Yuki bisa merasakan dengan jelas tatapan menusuk yang ditujukan pada dirinya. Tapi, sangat bertolak belakang dengan senyum yang diberikan pada Yui.

"Kau sedang tidak bersama dengan Sakamaki bersaudara?" tanya Ruki ramah.

Yui menganggukkan kepalanya dengan canggung. "Mereka sedang-"

"Oi. Chichinasi," panggil Ayato dari kejauhan. Raut wajah cowok berambut merah itu semakin terlihat tak menyenangkan ketika melihat Ruki yang sedang bersama Yui. "Mau apa kau?" tanyanya.

Ruki hanya menyunggingkan senyum yang tentunya senyum penuh hinaan dan mengintimidasi. Yuki sendiri bisa merasakan kalau tubuhnya merinding akibat senyum milik Ruki, hal yang selalu membuatnya tunduk dihadapan cowok itu. Karena tak pernah ada yang tau apa yang akan terjadi apabila Ruki sudah tersenyum seperti itu.

Karena merasa terusik, Ayato segera menarik tangan Yui untuk mengikutinya. Meski sebenarnya gadis itu sedikit enggan, namun ia tak punya hak untuk menolak mengingat status dirinya sendiri. Setelah mengangguk dan tersenyum pada Yuki, Yui segera menyamakan langkahnya pada cowok berambut merah itu.

Yuki juga harus segera pergi mengingat sudah tak memiliki urusan lagi. Tapi, suara Ruki yang memanggilnya justru langsung membuatnya terdiam, membeku seutuhnya.

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Ruki.

Yuki menganggukkan kepalanya.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ruki.

Ucapan Ruki barusan membuatnya terdiam cukup lama. Dadanya pun naik turun karena entah mengapa terasa sangat sulit untuk bernapas. Ia harus menghirup napas dalam – dalam agar mendapatkan udara yang cukup.

"Ke-kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Dari caramu berbicara, kau seolah mengenal kami dengan baik," ujar cowok itu. "Benarkah kita pernah bertemu?"

Sekali lagi Yuki menarik napasnya. Tentu saja mereka pernah bertemu. Tidak. Lebih tepatnya pernah kenal dan hidup bersama layaknya saudara. Ingin sekali ia berteriak seperti itu pada cowok yang ada dihadapannya saat ini. Namun apa daya. Ia jelas tak bisa mengatakan hal itu karena akan membuat Ruki bingung dan justru meragukan kehadirannya. Salah langkah saja bisa membuat dirinya kembali menghadapi kenyataan kejam yang ada didepan. Ia tak ingin melihat hal itu lagi. Tidak ingin dan tak akan pernah ingin melihatnya!

Dengan susah payah, Yuki menelan ludahnya dan menggelengkan kepalanya pelan. "A-apa mungkin itu hanya perasaanmu saja, Ruki-san?" kata Yuki gugup. "Aku baru tinggal dikota ini, jadi... tak mungkin aku bisa mengenalmu."

Yuki menggigit bibir bawahnya, berhasil mengatakan kebohongan pada Ruki. Karena tak tahan dengan situasi ini, Yuki memilih untuk mengundurkan diri. Jika terus menerus berada dihadapan Ruki dan mengatakan hal bohong padanya, rasanya sama dengan melukai dirinya sendiri.

"Ji-jika kau tidak keberatan, boleh aku permisi?" pinta Yuki sopan. "Aku... masih ada urusan."

Tanpa menunggu jawaban dari Ruki, Yuki langsung melesat pergi. Ia harus pergi secepatnya dari sana.

xxx

"Gadis itu... berbohong..." ujar Azusa yang berada dibelakang tak jauh dari Ruki berdiri.

"Jelas sekali ia berbohong," sambung Kou. "Seingatku, ia memanggil Ruki-kun dengan panggilan "Ruki-nii", kan?"

Yuuma mendengus. "Haruskah kita peduli dengan gadis aneh itu?" tanyanya.

"Ada sesuatu yang membuatku penasaran dengan Akatsuki Yuki," ujar Ruki.

"Maksudmu, seperti riwayat hidupnya?" tanya Kou. "Yah, aku akui riwayat kehidupan Yuki-chan cukup misterius."

"Terlalu misterius hingga seperti sengaja dilakukan oleh seseorang," gumam Ruki.

xxx

Yuki menatap kosong danau yang ada dihadapannya. Meski malam dan air danau begitu dingin, ia tetap nekat memasukkan kedua kakinya kedalam air. Berharap dingin dikakinya dapat merambat hingga kepalanya agar terasa lebih dingin. Jika bisa, sebenarnya ia ingin sekali menenggelamkan dirinya sendiri didalam danau itu. Tapi, sesuatu selalu menghentikan niatnya untuk melakukan hal itu.

Samar – samar ia dapat mencium aroma mawar kuning disekitarnya. Ia mengelilingkan pandangannya dan mendapati Shuu yang tengah duduk dibawah pohon. Tentunya sedang tertidur sambil mendengarkan musik dari earphone cowok itu. Walaupun Yuki tahu kalau sebenarnya cowok itu tidak benar – benar tidur.

Karena merasa penasaran dan sedikit bosan, Yuki menghampiri Shuu. Ketika hendak ingin duduk didepannya, kelopak mata Shuu terbuka dan langsung menunjukkan wajah tak suka.

"Mau apa kau?" tanyanya.

Yuki hanya terkekeh dan duduk dihadapan cowok itu. "Sudah kuduga kau pasti akan bangun begitu aku datang, Shuu-san," ucap Yuki.

"Kau tau kalau kehadiranmu itu membuatku tak bisa berkonsentrasi mendengarkan lagu?"

"Lagu yang kau dengarkan banyak juga ya, Shuu-san," kata Yuki sambil mendengarkan baik – baik apa yang didengar oleh Shuu. "Apa kau sering memainkannya dengan biolamu?"

Alis Shuu berkerut. "Kenapa kau bisa tau aku bermain biola?"

"Tebakan beruntung?" ucap Yuki asal.

Shuu menatap tajam Yuki lalu menghela napas panjang. "Ah... menyebalkan. Kau benar – benar mengangguku."

Yuki hanya tersenyum lebar sambil bergumam maaf pada cowok itu. "Shuu-san... terkadang, kau mirip sekali dengan seseorang yang kukenal," ujar Sakura. "Meski selalu berkata merepotkan atau menyebalkan, kau selalu peduli pada orang yang kau percaya."

"Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, lebih baik pergi sekarang," perintah Shuu. "Kau benar – benar mengangguku."

Yuki segera berdiri dan membungkukkan badannya sedikit. Ia menatap mata biru Shuu yang masih menatap tajam dirinya. Senyum masam tersungging dibibirnya. "Mungkin, karena itulah kalian bisa menjadi sahabat," gumamnya. "Sampai hari itu."

Ia meninggalkan Shuu dengan segera sebelum cowok itu tahu bahwa dirinya nyaris menangis.

Yuuma-kun, kau sungguh beruntung memiliki teman seperti Shuu-san. Kau tahu, kalian berdua itu benar – benar mirip satu sama lain, ucap Yuki dalam hati.

Dan, aku iri pada kalian berdua...