9
PERTUNJUKAN BAKAT 100%
.
.
.
Soojung yakin sekali Seulgi menyulut kebakaran itu untuk menarik perhatian Kai. Pasti Kai menyelamatkannya dari menara yang dilalap api, menciumnya sementara Menara Kebaikan terbakar, dan sekarang sudah menentukan tanggal pernikahan mereka. Teori ini muncul di kepala Soojung karena inilah rencana yang tadinya akan dia lakukan pada saat makan siang. Namun pada hari berikutnya, pelajaran malah dibatalkan juga. Meninggalkannya terdampar di kamar bersama tiga orang pembunuh.
Ditatapnya piring besi berisi gumpalan kaki babi lembek dan basah. Setelah kelaparan tiga hari, Soojung sadar harus memakan makanan mengerikan apapun yang diberikan oleh sekolah, tapi ini lebih buruk daripada mengerikan. Ini makanan kampung. Dia melempar piringnya keluar jendela.
"Kalian tidak tahu dimana aku bisa mendapatkan timun di sini, ya?" tanya Soojung dengan wajah masam.
Amber melotot dari seberang kamar. "Angsa itu. Bagaimana caramu melakukannya?"
"Sekali lagi, Amber. Aku tidak tahu," jawab Soojung, perutnya keroncongan. "Angsa itu menjanjikan aku akan bisa ganti sekolah, tapi ternyata bohong. Mungkin dia jadi gila karena bertelur sebanyak itu. Apa ada kebun dekat sin–"
"Kau bicara padanya?" sembur Amber, mulutnya penuh dengan kaki babi berdarah.
Soojung mengernyit jijik dan merasa mual. "Yah, tidak juga. Tapi aku bisa membaca pikirannya. Tidak seperti kalian, putri bisa bicara pada binatang–"
"Tapi bukan membaca pikiran mereka," sahut Luna, menghirup bubur yang kelihatannya rasa cokelat. "Untuk bisa begitu, jiwamu harus 100% murni."
"Nah! Terbukti aku 100% Baik!" tukas Soojung lega.
"Atau 100% Jahat," sahut Amber.
Soojung membelalak padanya dan tawanya pun meledak. "Aku? 100% Jahat? Itu tidak masuk akal! Itu gila! Itu–"
"Mengesankan," Victoria termenung. "Amber saja masih mau menyelamatkan satu atau dua ekor tikus."
"Padahal kami mengira kau tidak becus," Amber tertawa sinis pada Soojung. "Ternyata kau cuma ular berbaju domba."
"Taruhan, dia pasti punya Bakat Istimewa yang bisa mengalahkan bakat kita semua," ujar Luna sambil mengunyah sesuatu yang kelihatan seperti cokelat berbentuk kaki mungil.
"Aku tidak mengerti, dari mana sih asalnya semua cokelat itu?"
"Apa bakatmu? Melihat dalam gelap? Tak terlihat? Telepati? Taring beracun?" tanya Victoria sambil menyipitkan matanya.
"Aku tidak peduli apa bakatnya. Dia tidak bisa mengalahkan bakatku. Tak peduli seberapa jahatnya dia," Amber berucap penuh penekanan.
Soojung terbahak hingga mengeluarkan air mata.
Amber mendidih. "Ini sekolahku."
"Ambil saja sekolah payahmu!" ejek Soojung.
"Akulah Kapten Kelas!" raung Amber.
"Tidak diragukan lagi!"
"Dan tidak ada Pembaca yang bisa menghalangiku!"
"Apa semua penjahat selucu ini?"
Amber meraung histeris lalu melemparkan piringnya pada Soojung yang menghindar tepat pada waktunya dan melihat piring itu menancap di poster "DICARI" pada dinding dan memotong kepala Robin.
Soojung berhenti tertawa. Dari belakang tempat tidur hangus, diintipnya Amber yang membayang di pintu terbuka, sehitam maut. Sejenak, Soojung mengira tato Amber bergerak.
"Awas kau, Penyihir," Amber meludah dan membanting pintu.
Soojung menunduk dan melihat jari-jarinya gemetar.
.
.
.
Kyungsoo tahu seekor serigala datang membawanya pergi itu pertanda buruk.
Setelah kebakaran, dia dikurung di kamarnya selama dua hari, hanya diizinkan keluar untuk pergi kekamar kecil dan menerima makanan berupa sayuran mentah dan jus prune yang diberikan pari-peri galak. Setelah makan siang ketiga, akhirnya serigala itu datang dan membawanya pergi. Sambil menancapkan kuku-kukunya pada lengan seragam pink Kyungsoo yang hangus, serigala itu menariknya melewati koridor-koridor menara, melintasi anak-anak Ever yang memelototinya dan guru-guru pun tak sanggup menatap matanya.
Kyungsoo menahan air matanya. Dia sudah punya dua peringkat terendah. Memancing serbuan sekawanan binatang dan membakar sekolah membuatnya berhak menerima peringkat terendah ketiga. Dia hanya perlu berpura-pura menjadi Baik selama beberapa hari saja, tapi dia tak bisa mengatasinya. Bagaimana mungkin dia berpikir bisa bertahan di sini? Cantik. Murni. Berbudi Luhur. Kalau itu Baik 100%, berarti dia Jahat 100%.
Sekarang dia akan menerima hukuman. Dan Kyungsoo cukup paham soal hukuman dalam dongeng–penghilangan ingatan, pengeluaran isi perut, direbus dalam minyak, dikuliti hidup-hidup–untuk mengetahui akhir kisahnya akan melibatkan darah dan rasa sakit.
Si serigala menyeretnya ke Menara Charity, melewati seekor burung pematuk berkacamata tebal yang menusukkan daftar peringkat baru di pintu Ruang Rias.
"Apa kita akan menemui Sang Guru?" suara Kyungsoo serak.
Si serigala mendengus. Dia menarik Kyungsoo ke ruang di sudut koridor dan mengetuk sekali.
"Masuk," jawab suara lirih dari dalam.
Kyungsoo menatap mata si serigala. "A-aku tidak mau mati."
Untuk pertama kalinya, tatapan mengejeknya pudar. "Aku juga tidak."
Si serigala membukakan pintu dan mendorongnya masuk.
.
.
.
Ternyata api sudah bisa diatasi karena pelajaran dilanjutkan setelah makan siang pada hari ketiga dan Soojung berada di kelas lembap dan berlumut untuk pelajaran Bakat Istimewa. Sementara perutnya keroncongan, dia nyaris tak bisa berkonsentrasi. Amber melemparkan tatapan membunuh dan Luna berbisik kepada anak-anak Never lainnya tentang teman sekamarnya yang 'Jahat 100%'. Semuanya jadi serba salah. Minggu ini dia mulai berusaha membuktikan bahwa dirinya adalah seorang putri. Sekarang semua orang yakin dirinya akan jadi Kapten di Kejahatan.
Bakat Istimewa diajarkan oleh Profesor Shim, wanita bulat gemuk dengan bisul di kedua pipi berminyaknya. "Setiap penjahat memiliki bakat, tapi kalian harus mengubah semak-semak menjadi pohon!" pekiknya dengan suara berat nan merdu, mondar-mandir di dalam kelas mengenakan gaun beludru merah berdada membusung, dan bahu lancip.
Untuk tantangan hari ini, setiap Never harus memeragakan bakat uniknya di depan kelas. Semakin kuat bakatnya, semakin tinggi peringkatnya. Kelima anak pertama gagal menunjukkan bakatnya. Taehyung mengeluh, dia bahkan tidak tahu apa bakatnya.
"Apa itu yang akan kau katakan pada Sang Guru saat Sirkus?!" bentak Profesor Shim. "'Aku tidak tahu bakatku' atau 'tidak punya bakat' atau 'tidak suka bakatku'? Setiap tahun, Kejahatan kalah dalam Sirkus Bakat! Kebaikan menyanyikan lagu dan mengayunkan pedang, lalu kalian tidak punya yang lebih bagus? Memangnya kalian tidak punya harga diri?! Memangnya kalian tak punya malu?!"
Dia menjeda seraya menyipit menatap murid-muridnya.
"Aku tak peduli kalau bakatmu mengubah manusia jadi batu atau mengubah manusia jadi kotoran hewan! Monyet mana yang berikutnya?"
Pertunjukan yang menyedihkan berlanjut. Zitao si kulit hijau membuat bibirnya merah menyala. Victoria membuat tikus-tikusnya bertambah besar dua senti. Hort menumbuhkan sehelai rambut di dadanya. Chaerin mengeluarkan sebelah bola matanya. Ravan bersendawa mengeluarkan asap. Ketika guru mereka kelihatan muak, Luna menyentuh meja dan mengubahnya jadi cokelat.
"Misteri terungkap," Soojung terkagum-kagum.
"Aku belum pernah melihat pertunjukan sia-sia seperti ini dalam hidupku," desah Profesor Shim.
Namun berikutnya, Amber berdiri sambil melirik Soojung, kedua tangannya mengepal dan berpeganga,n erat pada meja, mencengkeram lebih erat, lebih erat lagi hingga setiap urat nadinya menonjol di balik kulitnya yang memerah.
"Berubah jadi semangka," Soojung menguap. "Istimewa sekali."
Lalu sesuatu bergerak di balik leher Amber dan seisi kelas mematung. Tatonya tiba-tiba bergerak. Demon berkepala merah membuka sebelah sayapnya, lalu sebelahnya lagi, mengayunkan kepala tanduk rusanya ke arah Soojung dan membuka mata merah yang menusuk tajam. Jantung Soojung berhenti.
"Sudah kubilang hati-hati," Amber menyeringai.
Demon itu meledak dari kulitnya menjadi sesosok bertubuh utuh dan bergerak menuju Soojung, menembakkan ledakan api merah dari mulutnya.
Terpana, Soojung menghindar dan terjengkang, menubruk rak buku hingga ambruk. Makhluk buas seukuran sepatu itu menyambar, melancarkan bola api yang menyulut jubah Soojung. Dia pun berguling untuk memadamkan api. "TOLOONG!"
Profesor Shim menyalak, "Gunakan bakatmu, gadis pirang tak becus!"
"Seharusnya dia bernyanyi, pasti membunuh semua orang di ruangan ini." Ejek Luna.
Amber mengelilingi demonnya untuk serangan kedua, tetapi makhluk itu terperangkap di lampu gantung berpaku lancip yang tertutup sarang laba-laba. Soojung merangkak di bawah deretan kursi paling belakang, tak sengaja melihat buku-buku yang terjatuh, Ensiklopedia Penjahat, dan membuka-buka halamannya. Banshee, Beanighe, Berserker...
"Soojung, cepat!" teriak Hort.
Soojung berputar dan melihat demon bersayap itu melepaskan diri dari sarang laba-laba ketika mata Amber menyala mencari ke sekeliling ruangan. Dia membalik-balik halaman dengan putus asa. Kelelawar bawah tanah, Cyclops... Demon!
Demon adalah makhluk supernatural yang berasal dari berbagai bentuk yang mengagumkan, semua memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda-beda.
Soojung menoleh, demon itu hanya beberapa langkah lagi.
"Bakatmu!" raung Profesor Shim.
Soojung melempar buku itu pada si demon tetapi meleset. Dengan senyum mematikan, demon itu mengacungkan bola api layaknya belati. Profesor Shim melompat untuk menengahi, tetapi Victoria menjegalnya. Sambil melengking, demon itu mengarahkan bola api ke wajah Soojung. Namun saat demon itu melemparnya, tiba-tiba Soojung teringat satu bakat yang dimiliki semu gadis Kebaikan.
Teman.
Dia berbalik ke jendela dan membunyikan siulan indah untuk memanggil binatang baik hati untuk menyelamatkan nyawanya.
Serangga-serangga hitam menyerbu melalui jendela dan mengerumuni demon yang diisyaratkan.
Amber melonjak mundur, seakan dia baru ditusuk.
Mata Soojung membelalak ngeri. Dia bersiul lagi, tapi sekarang kelelawar menyerbu masuk, menanamkan gigi-giginya pada tubuh demon itu sementara serangga-serangga tadi terus menyengat. Demon itu roboh ke lantai seperti ngengat terbakar. Di tempatnya berdiri, kulit Amber memucat dan basah, darahnya terisap.
Panik, Soojung bersiul lebih keras, lebih melengking, lalu datang sekawanan lebah, tawon, dan belalang, mengepung makhluk yang membuih sementara tubuh Amber meregang dahsyat.
Di sudut, Soojung berdiri mematung selagi para penjahat mengusir serangga-seragga itu dari si demon dengan buku-buku, tapi kawanan serangga itu menyerangnya hingga napas Amber putus-putus.
Soojung menghempaskan dirinya ke demon itu, memukul-mukulkan tangannya ke kawanan itu.
"HENTIKAN!"
Kawanan serangga itu diam membeku. Seperti anak-anak kecil yang dimarahi, mereka mematuhinya sambil merengek dan keluar jendela.
Sambil terengah, demon yang terluka itu merayap ke arah Amber dan kembali ke lehernya. Amber tersedak dan memuntahkan lendir. Ditatapnya Soojung dengan mata membelalak, dibanjiri rasa takut.
Soojung membungkuk untuk menolongnya. "Aku tidak bermaksud–aku mau memanggil burung atau–" Amber menghindari sentuhannya.
"Putri memang biasanya meminta pertolongan pada binatang! Aku Baik! Baik 100%!" jerit Soojung dalam keheningan.
Profesor Shim menyeringai. "Terlihat seperti putri, bertingkah seperti putri, tapi seorang penyihir. Ingat perkataanku, yang satu ini akan memenangkan Mahkota Sirkus!"
Untuk kedua kalinya dalam tantangan, Soojung mendongak dan menjumpai peringkat teratas memuntahkan asap merah di atas kepalanya. Dengan panik, Soojung berbalik ke teman-teman sekolahnya untuk memohon, tapi mereka tidak lagi memandangnya dengan jijik atau mengejek. Mereka semua memandangnya dengan tatapan lain.
Hormat.
Posisinya di peringkat pertama semakin lama semakin meyakinkan.
.
.
.
Dari dekat, Profesor Dovey dengan sanggul keperakan dan wajah kemerahannya tampak lebih menenangkan dan kenenek-nenekan. Kyungsoo tak bisa meminta penghukum yang lebih baik lagi.
"Aku lebih suka Sang Guru yang mengurus hal semacam ini," ujar Profesor itu sambil membolak-balik perkamen di bawah pemberat kristal berbentuk labu. "Tapi kita semua tahu bagaimana sikapnya soal privasinya."
Dia menyipitkan matanya ke arah Kyungsoo. Tidak kelihatan menenangkan lagi.
"Aku harus mengurus sekolah yang penuh dengan murid ketakutan, waktu untuk mengganti pelajaran selama dua hari yang hilang, 500 binatang yang harus dihapus ingatannya, satu bagian sayap bangunan sekolah yang termakan, margasatwa berharga yang hancur jadi abu, dan gargoyle tanpa kepala yang terkubur di dalamnya. Kau tahu sebabnya?"
Kyungsoo tak bisa mengeluarkan kata apapun dari kerongkongannya.
"Karena kau mengabaikan perintah sederhana dari Pollux dan hampir mengorbankan nyawa selama kejadian itu." Dia menatap tajam hingga membuat Kyungsoo malu, lalu kembali pada gulungan-gulungan perkamennya.
Kyungsoo memandang sekilas ke arah pinggiran danau dari jendela, anak-anak Ever baru selesai menyantap makan siang mereka berupa ayam panggang lengkap dengan mustar yang banyak, bayam, Guyere crepe, dan sari apel di gelas-gelas panjang. Dia bisa melihat Kai mengulang adegan di Margasatwa Merlin di depan para penonton yang terpesona, memamerkan mata lebamnya seperti lencana penghargaan.
"Paling tidak, mohon izinkan saya menemui sahabat saya–sebelum Profesor... membunuh saya?" tanya Kyungsoo, matanya merebak dan bergetar menatap guru di hadapannya.
"Itu tidak perlu!"
"Tapi saya harus menemuinya!"
Profesor Dovey mendongak. "Do Kyungsoo, kau mendapat peringkat pertama dalam Komunikasi Hewan dan layak mendapatkannya. Hanya bakat langka yang bisa membuat permohonan untuk menghidupkan kembali. Dan meskipun ada berbeda-beda pendapat tentang apa yang sebenarnya terjadi, aku ingin kau tahu bahwa murid manapun di sekolah ini yang rela mengorbankan nyawanya demi menolong gargoyle..." Matanya bercahaya untuk sejenak dan begitu pula dengan angsa perak di pakaiannya. "Yah, itu menandakan Kebaikan yang tak terhingga."
Kyungsoo menatapnya, lidahnya kelu.
"Tapi jika kau melanggar perintah langsung dari guru, kujamin kau pasti gugur. Mengerti?"
Kyungsoo mengangguk lega.
Didengarnya tawa dari luar dan dia menoleh, menyaksikan teman-teman Kai menendangi boneka bantal berkaki ranting pohon, mata dari arang, dan rambut duri-duri hitam. Sebuah anak panah tiba-tiba menancap di kepalanya, bulu-bulu berhamburan. Anak panah kedua merobek dadanya.
Anak-anak itu berhenti tertawa dan menoleh. Di seberang padang rumput, Kai melempar busur panahnya dan melangkah pergi.
"Dan mengenai temanmu, dia baik-baik saja di tempatnya berada. Tapi kau bisa menanyakannya sendiri padanya. Dia ada di kelasmu yang berikutnya." Ujar Profesor Dovey seraya maniknya menyapu setiap isi perkamen.
Kyungsoo tidak menyimak. Matanya masih tertuju pada boneka bermata hampa itu, bulu-bulunya terbang terbawa angin.
Boneka itu persis seperti dirinya.
.
.
.
TBC
Triple update! Go read the next chapter, thank you.
.
Q: Ini konfliknya lebih ke Kyungsoo-Soojung ya?
A: Benar. Di buku pertama, peran utamanya memang Kyungsoo dan Soojung. Di buku kedua, Kai mulai naik pangkat(?), hehe.
.
Q: KaiSoo momentnya masih lama ya?
A: Alur novel tebal ini tidak cepat, jadi bersabarlah. Pasti ada momentnya, so, nikmati dan tunggu saja yaa.
.
Q: Kurang panjang. Sekali update 2-3 bab dong thor, biar greget(?)
A: Akan diusahakan setiap minggunya : )
.
Q: Buku aslinya mahal, ada rekomendasi gak?
A: Rekomendasi toko bukunya kah? Kalau iya, maaf, saya belum pernah beli novel selain di gr*m*d** : (
.
Q: Ini baca dari ebook atau novel biasa?
A: Novel biasa. Saya tidak tahu ada di ebook atau tidak, hehe.
