Gomennasai minna TTATT Flaesy baru bisa update sekarang. cukup lama ternyata#plak

Flaesy benar-benar minta maaf karena baru bisa update TTATT

mungkin ceritanya makin gaje karena Flaesy udah lama nggak nulis lagi :'''

Himitsu chap 10~


Disclaimer : Kamichama Karin © Koge Donbo

Story : Himitsu © Flaesy Kujyou

Rated : T

Genre : Romance. Friendship

Pairing : KazuRin

Peringatan : AU, Gaje,

.

~Selamat membaca~

.

.

~Himitsu~

Karin merasa tak ingin pergi ke sekolah. Sangat sangat tak ingin, karena di sana dia harus menghindari Kazune yang tak ingin dihindarinya. Bukan keinginannya untuk menghindari Kazune, tapi dia harus melakukannya. Karena Rika, Rika mengetahui rahasianya. Rahasia yang sudah disembunyikannya selama ini.

Karin sangat takut jika rahasianya diketahui. Dia takut murid perempuan lainnya membencinya dan menjauhinya. Seperti di SMP dulu, Karin baru saja memasuki dunia model ketika duduk dibangku SMP kelas 2. Awalnya memang berjalan lancar, tapi tidak seterusnya. Karena murid-murid perempuan disekolahnya iri dengannya dan mulai menjauhinya.

Sekolah terasa menyeramkan bagi Karin saat itu dan Karin memutuskan untuk berhenti di dunia model sampai dia lulus SMP. ketika lulus, Karin mencari SMA yang jauh dari SMPnya. Dan meninggalkan semua yang terjadi.

Karin mencoba untuk tidak masuk ke dunia model lagi ketika SMA. Tapi ternyata dia tak bisa menolak permintaan kakaknya, Kira. Karena itulah, Karin memilih untuk menjadi murid perempuan culun ketika di sekolah. Agar tak ada yang menjauhinya.

Tapi mengapa sekarang dirinya yang menjauhi seseorang?

"Huh!" Karin menghela nafasnya.

"Karin! apa kau tidak ke sekolah?" tanya Kira dari balik pintu kamar Karin.

Karin beranjak dari tempat tidurnya. "Hn, ya. aku akan segera berangkat," ucap Karin dengan tidak semangat.

"Ada apa? kenapa kau begitu tidak semangat ?" tanya Kira yang masih belum pergi dari tempatnya.

Karin terdiam. Apakah dia harus mengatakan hal ini kepada Kira? Tapi dia tak ingin kakaknya mengetahui hal ini. Karin tak ingin Kira khawatir seperti dulu. "Karin?" panggil Kira.

"Hmn, tidak ada apa-apa," ucap Karin.

"Ah, Kalau begitu cepatlah. Jika kau tak ingin terlambat," ucap Kira setelahnya.

.

.

.

"Karin-chan, Ohayou!" sapa Himeka ketika bertemu Karin di depan pintu gerbang sekolah.

Karin mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Ohayou, Himeka-chan,"

"Ne, Karin-chan.. Kazune-kun terus me—" ucapan Himeka langsung dipotong oleh Karin.

"Etto.. Himeka-chan, aku harus cepat-cepat ke perpustakaan," ucap Karin sambil berlari menjauh.

Himeka menatap Karin yang sudah menjauh. Himeka menyadari ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Karin. Dia ingin mengetahui rahasia itu, tapi dia ingin Karinlah yang menceritakannya.

Karin berhenti berlari ketika sudah memasuki koridor sekolah. Kenapa dia harus berbohong dan lari? Bukankah kalau begini, Himeka akan menyadari dia sedang menjauhi Kazune? tapi sepetinya Himeka sudah mengetahuinya.

Tap! Seseorang tengah memegang bahu Karin.

"He?" Karin terkejut , lalu dia menatap seseorang yang tengah memegang bahunya. Dan orang itu adalah Kazune.

"Hei! Karin! kenapa kau terus menghindariku akhir-akhir ini?!" tanya Kazune kesal.

Karin menatap arah lain. "Ha.. a-aku tidak menghindarimu, a-aku hanya sedang si-sibuk saja," ucap Karin berbohong.

JTAK! Kazune menjitak Karin dengan pelan.

"I-itai! Kenapa kau menjitakku?!" tanya Karin kesal.

"Itu hukuman karena kau sudah mulai berbohong! Katakan yang sebenarnya Karin!" ucap Kazune serius.

Mata emerald Karin membulat ketika melihat mata blue saffire milik Kazune begitu serius. "I-itu.. a-aku.. ha—" ucapan Karin terhenti ketika dia melihat Rika yang berada tak jauh dari tempatnya dan Kazune berada. Rika tengah menatapnya.

Karin terdiam. "Hei, Karin?" panggil Kazune.

Karin langsung mendorong Kazune dan lari menjauh tanpa mengatakan apapun. Terus berlari sampai ke kelasnya. Tanpa melakukan apapun lagi, Karin langsung duduk diam dibangkunya.

DEGH! DEGH! DEGH! jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

Ini bukan seperti ketika dia bersama Kazune, bukan seperti ketika Kazune menjahilinya, ataupun ketika Kazune begitu dekat dengannya. Tapi detakkan jantung seperti ini ketika dia dijauhi oleh teman-temannya, di bully oleh senior-seniornya, dan sendirian.

"A-apa i-itu akan ter-terjadi lagi?" gumam Karin.

Dia tak tahu apakah dengan begini semuanya akan berjalan dengan lancar atau berakhir dengan kejadian buruk seperti ketika di SMP dulu. Karin benar-benar tak tahu, tapi dia mencoba yakin kalau ini baik untuk dirinya.

BRAK! Rika tiba-tiba saja sudah berada disamping bangku Karin dan memukul bangku Karin. Seisi kelas langsung melihat ke arah Rika dan Karin.

Karin terkejut. "Kau mencoba untuk mengingkari janjimu?!" Rika terlihat sangat kesal.

"A-aku ti—"

"Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasanmu, ini peringatan yang pertama dan terakhir." Ucap Rika dengan penuh peringatan. Setelah itu dia pergi keluar kelas.

Seisi kelas memperhatikan Rika yang pergi keluar kelas, kemudian mengalihkan pandangannya ke Karin. "Apa kau baik-baik saja?" tanya salah satu teman sekelas Karin.

Karin tersenyum. "Y-ya, a-aku baik-baik saja,"

"Rika benar-benar menyebalkan!" . "Dia juga sangat angkuh! Bukan berarti dia rajanya ketika menjadi model kan?!" .

Teman-teman sekelas Karin langsung membicarakan Rika. Mengatakan betapa menyebalkannya Rika dan betapa angkuhnya dirinya.

"Kalian jangan mengatakan hal seperti itu!" ucap Karin dengan keras dan begitu marah.

Dia memang kesal pada Rika yang mengancamnya seperti ini. Tapi Karin lebih kesal ketika mendengar seseorang membicarakan orang lain dibelakang. Itu sangat sangat menyebalkan.

"Mungkin dia memang menyebalkan dan angkuh. Tapi bukan berarti dia tidak ada sisi baiknya kan? Aku yakin dia memiliki sisi baiknya, tapi dia masih belum bisa memperlihatkannya," ucap Karin.

Seisi kelas menatap Karin. ada yang menatap Karin dengan tidak percaya, ada juga yang melihatnya dengan tatapan seperti mengatakan 'Karin benar,', dan ada juga yang melihatnya dengan tatapan yang mengatakan, 'Mana mungkin!'.

"Kenapa kau malah membelanya?! Kau baru saja dibentaknya tadi," ucap salah seorang teman perempuan sekelas Karin.

Karin menatap perempuan itu. "Aku tidak membelanya! Aku hanya mengatakan yang ingin kukatakan!" ucap Karin.

Dan kelas pun menjadi hening. Tak ada yang ingin mengatakan apapun lagi setelah Karin mengatakan hal itu.

.

.

.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi dan kini Karin dalam perjalanan pulang. Hari ini begitu berat baginya, dimulai dari Kazune yang harus dia hindari sampai masalah Rika yang membentaknya dan membuat seisi kelas membenci Rika.

Dan kini dia mengharapkan dirinya bisa berjalan tenang menuju rumahnya tanpa berlarian atau semacamnya. Tapi sepertinya itu tidak bisa karena Kazune tiba-tiba saja mengejar dibelakangnya sambil memanggil-manggil nama Karin.

"Karin!"

Dan Karin tidak bisa membiarkan dirinya tertangkap oleh Kazune. Tapi sudah terlambat karena Kazune sudah menangkap tangan Karin sebelum Karin berlari. "Jangan lari lagi!" bentak Kazune.

Karin terdiam karena bentakkan Kazune. "Aku tahu kenapa kau menghindariku akhir-akhir ini, aku tahu perjanjianmu dengan Rika, aku tahu semuanya," ucap Kazune.

"Kalau kau sudah mengetahuinya, bisakah kau melepaskanku?" tanya Karin sambil menarik tangannya yang masih digenggam oleh Kazune, tapi usahanya sia-sia karena Kazune tidak mau melepaskannya.

"Aku tidak akan melepaskannya! Sebelum aku mengetahui mengapa kau meng'iya'kan persyaratan Rika?!" tanya Kazune dengan serius.

Karin terdiam. "Jawab aku Karin!" ucap Kazune.

"I-itu ka-karena aku tidak ingin dijauhi oleh siapapun! Aku tidak ingin sendirian seperti dulu! Aku tidak ingin dibenci oleh siapapun!" ucap Karin. air mata Karin yang sudah ditahannya sekuat tenaga, kini tidak bisa ditahannya lagi.

"Hiks.. aku tidak ingin,"

Kazune melepaskan genggamannya. "Bukankah saat itu aku sudah berjanji akan melindungimu? Apa kau melupakannya?" tanya Kazune dengan pelan.

Karin menatap Kazune. Mata Kazune terlihat sangat kecewa ketika menatap Karin. Tatapan kecewa yang diperlihatkan Kazune begitu menyakitkan bagi Karin."A-aku.."

"Kenapa kau tidak mempercayaiku?"

Karin tidak bisa menjawabnya. Mulutnya terasa kaku dan tak bisa mengatakan kalimat apapun.

Kazune tersenyum kaku. "Ha! Benar kau tak mempercayaiku. Kau pasti juga tak akan percaya kalau aku mengatakan aku..."

"Mencintaimu," ucap Kazune selanjutnya sambil berjalan menjauhi Karin yang masih terpaku akan kalimat Kazune.

Karin masih terdiam. Air matanya mulai keluar dari mata emeraldnya. "Aku benar-benar bodoh!" gumam Karin.

Karin menyadari ternyata lebih menyakitkan ketika Kazune meninggalkannya dari pada memikirkan dibenci oleh teman-temannya yang belum tentu akan membencinya jika dia mencoba untuk mengatakan kebenarannya. "Kenapa aku harus takut akan hal yang belum aku coba? Kenapa aku tidak mencoba untuk mengatakannya," gumam Karin.

.

.

.

TBC


Makin gaje yak?

Flaesy tidak bisa janji akan update kilat. mungkin saja Flaesy akan lama update seperti ini ne TTATT . hiks T^T

Dan terimakasih buat review para readers yang sudah mau mereview fic gaje Flaesy ini.

Dan.. Mohon reviewnya ne ^w^. Flaesy tunggu w