Dia adalah orang yang ku pilih dari sekian banyak pilihan, ia adalah orang yang paling bercahaya dari semua orang yang paling bercahaya. Dan dia adalah orang yang mengisi kekosongan dalam hidupku, kau adalah warna untukku..

.

.

.

MY Honey

MIANHE TELAT #HEHEHEHE

.

Haii haiii—terima kasih untuk kesediaannya membaca. Sedikit warning aja kalao di chapter ini ratenya bertambah jadi kalau yang belum cukup umur harap menjauhi chapter ini

Gomawo

#BOW

" LIVE IS NEVER FLAT!"

Thanks banget buat Genieaa, yang udah ngingetin author yang lagi bikin peta dipulau kapuk untuk nerusin ff. Gomawo

.

.

Preview

.

.

.

Waktu berjalan begitu cepat hingga mereka masih memasang wajah pucat dengan beberapa perban di sekujur tubuhnya.

" untung, bantuan segera datang—"

Guman Dio.

Dio membalas pelukan Sehun. Luka di kepalanya membuatnya harus melepas wig dan menjadi seorang yeoja. Rumah sakit rujukan untuk korban penyandraan kapal terlihat begitu ramai, banyak yang mengalami luka dan harus menjalani operasi yang cukup serius.

" Minni! Dimana Minseokku!"

Teriak Sungmin saat tiba di rumah sakit.

" dia—Luhan-ssi sedang mencoba menyelamatkan nyawanya"

" tidak—"

Jawaban dari Chen membuat Sungmin bersimpuh. Ia benar-benar ketakutan saat melihat berita tentang pembajakan sebuah kapal yang berada di lautan cina. ia bahkan mengerahkan seluruh anak buah Kyuhyun untuk ikut dalam penyelidikan dan menemukan kapal yang masih berada di laut lepas. Kejadian singkat yang memakan waktu 2 jam itu membuat seluruh tubuhnya terasa meleleh, ia tau jika Minseok ada dikapal yang sama setelah melihat video penyanderaan yang meminta pengiriman kapal dan helicopter oleh para penjahat.
Pintu ruang operasi dibuka menampilkan Luhan yang keluar dengan wajah lega.

" bagaimana anakku?"

Tanya Kyuhyun.

" beberapa jam lagi mungkin akan terbangun, tenanglah"

" Xi Luhan—"

" aku akan menyelamatkannya, apapun caranya"

" Xie Xie—"

Luhan pergi meninggalkan mereka, setelah mendapatkan panggilan untuk operasi lain.

.

.

.

" –kecelakaan kapal tersebut menelan korban jiwa yang sampai saat ini belum di umumkan pada public, sementara sebuah rumah sakit terkenal di cina sudah memberikan klarifikasi tentang surat kematian seorang penyanyi terkenal 'Do Kyungso' yang menjadi korban ledakan di kapal dari korea menuju cina—"

.

.

#chapter 10

.

.

.

" dokter! Pasien! Pasien kehilangan kesadarannya!"

" Priksa denyut nadinya!"

Ke kacauan itu menghiasi matahari pagi yang cerah di atas kota Beijing. Beberapa orang dengan kostum putih menandakan kebesaran yang mereka miliki atas profesi mereka mulai berlarian panik mencari apa yang mereka butuhkan.

" siapkan ruang operasi! Cepat!"

Teriakan melengking dari seorang namja membuat siapa saja bergegas, dia tidak pernah membentak atau memekik sedemikian rupa hingga nyaris tidak dikenali. Pembawaan tenang itu tidak tercerminkan pada wajah tampan nan cantik yang ia miliki. Peluh membasahi tubuhnya, air mata membasahi pipinya. Manik mata hitam kelam setajam elang itu begitu lelah, begitu takut.

" APA YANG KALIAN LAKUKAN! CEPAT KE RUANG OPERASI!"

Pekikannya membuatnya menjadi pusat perhatian. Namja itu terpontang-panting sambil berlari mengenakan pakaian hijau yang ia kenakan sekenanya. Tidak memperdulikan tindakan keselamatan yang harus ia lakukan untuk dirinya sendiri, namja itu terus berkonsentrasi memberikan rangsangan untuk seseorang yang beberapa menit lalu membuatnya berlari seperti orang kesetanan.

" dokter kita perlu melubangi tempurung kepalanya untuk memberikan penanganan—"

" haruskah?"

Dia terlihat mundur sedikit, menahan tangisnya untuk tetap tersenyum menatap yeoja yang kini nyawanya ada di dalam genggaman dan proses yang akan ia lakukan.

" kajja kita lakukan! Lakukan apa saja untuk menyelamatkan hidupnya!"

" baik!"

Sekumpulan orang dengan pakaian hijau itu terus berkonsentrasi melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Mulai dari membuka sedikit tempurung kepala hingga meneliti aliran darah yang mengalir di dalam urat-urat kecil yang tak akan bisa kita lihat hanya dengan mata telanjang yang kita miliki.

" gunting!"

" pisau!"

Satu persatu peralatan itu menunjukkan kegunaannya, mengoyak-memotong dan melepaskan.

" dok! Sarafnya—ada percikan kaca yang menjepitnya dengan saraf lain"

" angkat!"

Membutuhkan ketelitian yang mendasar dengan keahlian yang tidak bisa sembarang orang bisa miliki. Namja itu berusaha semampunya untuk mendapatkan pecahan kaca yang berada di sela saraf otak, menahan keinginannya untuk menangis dan tetap konsentrasi pada apa yang harus ia lakukan.

" dokter Xi! Biar kami yang menyelesaikannya—"

Ucapan itu menghentikan namja tampan yang tengah bersiap menutup kembali lubang yang telah ia buat. Sedikit ia mundur dan mengamati yeoja manis yang sangat ia rindukan. Operasi selesai setelah hampir 10 jam mereka lakukan, ruangan operasipun kembali dalam keadaan terang menyisakan beberapa dokter dan perawat yang sedang berberes.

" kita berhasil mengangkatnya—aku yakin Minseok tidak akan kenapa-napa"

Zhoumi menepuk pundak anaknya.
Luhan meraih tangan Minseok menggenggamnya erat.

" maafkan aku—maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu"

Bisik Luhan.
Zhoumi hanya bisa menghela nafas melihat anaknya kembali tidak menghiraukannya. Saat mengetahui Minseok berada di kapal yang sama sebagai target operasi Kris dkk, tanpa memperdulikan apapun Luhan langsung menerbangkan hellikopter milik keluarga Huang. Jika Hangeng tidak ikut naik bersama dengan Luhan, Zhoumi tidak tau apa yang akan anaknya lakukan pada orang-orang yang menyandra kapal atau orang-orang yang ada di dalam kapal. Satu sifat egois yang paling susah Zhoumi tebak pada anaknya adalah saat Luhan akan fokus hanya pada miliknya, ia tidak akan perduli untuk selain miliknya.

Perlahan mata Minseok mengerjap.

" Lu—"

" Minseokie?"

Luhan langsung mengarahkan tatapan matanya pada Minseok yang mencoba tersenyum.

" s—syu—kur—aku—bisa—me—lihat—mu"

" Xiumin!? Bertahanlah!"

Minseok tersenyum sambil menutup matanya.

'TIIIITTTTTTTTTTTTT—'

Nada panjang pemberi tanda detak jantung itu berbunyi nyaring dengan satu nada yang membuat siapa saja di ruangan operasi itu kaget.

" ANDWE! XIUMIN!"

Luhan segera melihat monitor dan benar hanya garis lurus yang terlihat.

" tidak! Xiumin! Xiumin!?"

Berbagai cara Luhan gunakan untuk mencoba memacu jantung itu berdetak kembali namun tidak ada yang berhasil hingga Luhan menggeleng saat melihat Zhoumi mengangguk dan menepuk pundaknya.

" kita kehilangan dia"

" andwe! Xiuminku? Dia tidak bisa meninggalkanku seperti ini!"

" Luhan—tenanglah!"

Seorang dokter berdiri di samping Luhan.

" waktu kematiannya—pukul 09.00 tanggal 7—"

'BUAGH'
Dokter itu terjungkal hingga membentur lantai.

" sudah ku katakan XIUMIN TIDAK AKAN MENINGGALKANKU! KALIAN SEMUA KELUAR!"

" Lu—"

" KELUAR!"

Zhoumi menghela nafas, ia mengangguk dan membantu dokter yang Luhan pukul. Setelah memerintahkan semua ikut keluar Zhoumi memandangi anaknya sebelum ia pergi meninggalkan Luhan dan Minseok.

" berikanlah kesan manis untuk menantuku—"

Bisik Zhoumi.
Luhan menangis, ia menggenggam tangan Minseok dengan sekuat tenaga. Tangan itu masih hangat meski berangsur-angsur dingin.

" wae? Kenapa meninggalkanku? Wae? Kalau kau tidak mencintaiku—aku tidak akan memaksamu untuk tetap disampingku. Aku tidak akan memaksamu, jadi ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku berjanji tidak akan muncul lagi di hadapanmu, persis seperti yang kau inginkan—aku janji"

.

.

" aku tidak menyukai namja ini! Aku tidak ingin menikah dengannya! Sungguh! Bahkan aku masih SMA dia sudah memaksa papa untuk menikahkannya denganku? Aku sangat berharap dia tidak akan pernah muncul dihadapanku"

" kau harus melihatnya barang satu kali—aku yakin nanti kau akan jatuh cinta padanya"

" tidak akan Lu! Aku tidak mau! Aku lebih baik mati dari pada menikah dengannya—"

.

.

Luhan menangis lagi.
Mengingat ingatan tentang percakapan dan candaannya saat menggoda Minseok yang akan dijodohkan.

" kau tidak boleh mati—maafkan aku"

.

.

" aku mencintai Luhan!"

" aku mencintaimu, Xi Luhan!"

.

.

" hiks—kau tidak boleh mencintaiku, aku—aku lebih memilih kau membenciku dari pada kau meninggalkanku seorang diri disini! Minseok mianhe"

Tangisan itu berlangsung lama.

" MINSEOK!"

Hingga sebuah jeritan memekakan telinga penghuni rumah sakit.
Jeritan Luhan penuh dengan kekhawatiran dan penyesalan—

'Tiiit—Titt—tiiiiitt-tttiiitt"

Luhan mengangkat kepalanya, ia melihat sensor di monitor berjalan kembali.

" Xiumin?!"

Zhoumi yang sedari tadi diluar ruangan bersama dengan keluarga Cho, segera masuk menemukan anaknya mencoba membangunkan Minseok dan memasangkan masker oksigen.

" Luhan—"

" Xiuminku kembali—dia kembali! Aku—"

'BRUGKK'
Luhan terjatuh di pelukan Zhoumi.

" kau begitu lelah, nak"

Dengan pelan Zhoumi menggendong anaknya yang sengaja ia beri obat bius saat memeluknya.

" tolong tangani Minseok, aku akan segera kembali hyung"

" akan aku lakukan tanpa kau minta"

Setelah tersenyum pada Yesung Zhoumi pergi.

" ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau menggendong Luhan?"

" Luhan—dia membawa Minseok kembali—"

" jadi anakku?"

Zhoumi mengangguk kearah Kyuhyun.

.

.

.

Hampir tiga hari Luhan tidak beristirahat setelah kejadian yang menewaskan beberapa orang asing. Dari melakukan outopsi, operasi dan penyelidikan semua Luhan pegang dengan seksama. Tidak ada yang luput dari perhatiannya bahkan hingga ke detail setiap pasien korban penyandraan kapal.

" Dr Xi, kau butuh istirahat—"

Bujuk Jinxing.

" berikan aku file dari perkembangan orang-orang yang seminggu lalu aku operasi. Tsk aku melupakan mereka—"

" Dr Xi—"

" nyawa orang menjadi tanggung jawabku!"

Jinxing mengangguk dan meninggalkan Luhan dengan setumpuk dokumen. Henry masuk ke ruang kerja anaknya, ia berjalan perlahan sambil membawa sekotak makanan—

" Lulu—"

" aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku!"

" iya, tapi kau harus istirahat—mama akan menyuapimu"

Luhan meletakkan file di atas mejanya. Ia memandang raut cemas Henry, ia tau jika Henry sangat mencemaskan keadaannya. Henry takut jika Luhan terlalu memforsir dirinya sendiri karena penyesalan, Luhan anaknya, ia cukup tau bagaimana anak semata wayangnya itu menekan dirinya sendiri tanpa memperdulikan ketahanan yang tubuhnya miliki. Luhan memendam apa yang ada di pikirannya untuk dirinya sendiri dan itu—Henry tidak mau itu terjadi.

" baiklah, aku akan memakannya"

Henry mendekati Luhan dan mulai menyuapi Luhan. Baru beberapa suapan, pintu sudah diketuk oleh beberapa perawat.

" gawat! Dokter! Dokter Chou datang dan mengacaukan segalanya, ia membawa para wartawan dan mengatakan dokter terlibat sindikat teroris. Pemegang saham beberapa menjual saham milik mereka membuat saham rumah sakit ini anjlok—"

" baka! Baiklah, aku akan kesana—"

" Dok! Beberapa dokter ahli memutuskan untuk menghentikan perawatan pada pasien korban kapal karam dengan alasan mereka tidak akan membayar administrasi dan mengakibatkan gaji mereka tersendat"

Luhan mengusap kepalanya.

" aku lupa memberikan gaji mereka hari ini. Tsk! Mereka benar-benar!"

Luhan beranjak dari tempat duduknya.

" Lu—"

" ma, tolong atur keuangan rumah sakit. Aku sudah menyuruh Heiyuan beberapa hari yang lalu tapi tidak tau kemana direksi satu itu!"

Bagaikan jatuh tertimpa tangga. Sepeninggalan Luhan, Henry menangis—ia amat mencemaskan anaknya yang kini bagai orang lain yang gila kerja. Ia tau anaknya ingin sekali menangis, bahkan jika perlu Luhan ingin meraung mengungkapkan kekesalan-penyesalan-kekhawatiran yang tengah namja itu rasakan. Henry berpikir Luhan akan lebih baik melakukannya dari pada berdiam diri seperti sekarang yang hanya bisa di lihat lewat ekspresi wajahnya.

Luhan benar-benar ingin memaki orang untuk sekarang ini, ia benar-benar kesal dengan dokter Chou yang tempo hari telah ia beri peringatan atas tindakannya. Dan sekarang di tengah kesibukannya menolong 300 korban kapal, Sin Yan datang dengan gossip tidak jelas.

" apa yang kau lakukan dokter Chou!?"

Tanya Luhan yang sudah berada di hadapan Chou. Namja itu mengenakan pakaian biasa dengan jas hitam yang menunjukkan ia sedang bebas tugas.

" menyerahkanmu pada kepolisian dan membeberkan kenyataan jika direktur rumah sakit ini memelihara terroris di sini"

" kau gila—"

" salahkan direktur yang membelamu! Dan benar—kau akan segera dipecat"

Luhan kesal dan menampakkan wajah dinginnya.
Suasana lobbi rumah sakit terasa begitu mencekam hanya suara blitz yang terdengar memenuhi lobby rumah sakit.

" jangan karena kau memiliki jam terbang banyak dan orang yang jenius dengan keberhasilanmu kau akan bebas dan menjadi anak mas dari direktur rumah sakit yang sekarang pasti bersiap menendangmu dari sini, bersiaplah Dr Xi"

Ucapan dan seringaian dari SinYan hanya ditanggapi dengan pandangan malas oleh Luhan. Luhan mengeluarkan ID cardnya dan menunjukkannya pada Sin Yan.

" kau bisa membacanya keras-keras jika kau mau"

" apa maksudmu?"

" baca saja!"

Sin Yan menatap ID card yang ada di tangannya.

" Direktur Xi Luhan, hah—tidak mungkin"

" aku tidak membutuhkanmu untuk mengakui jika aku seorang direktur yang akan menghentikan karirmu di bidang kedokteran, jika aku mau. Jadi berhentilah mengusik ketenanganku!"

Luhan menatap tajam pada Sin Yan.

" tidak mungkin, bahkan dokter Xi Zhoumi belum menjadi pemilik rumah sakit ini—"

" heh, aku pemilik saham terbesar di rumah sakit ini. 80% milikku, 10 % Dr Xi Zhoumi, 5 % Xui Gui Xian, 5 % Wu Siwon. Apa kurang jelas? Dan mohon jangan menyebarkan issue tentang para pemilik saham menjual murah saham mereka, karena tidak ada yang menjual saham mereka terhadap rumah sakit ini. Oh! Aku melupakan satu hal, untuk para dokter yang baru saja mengundurkan diri karena takut gajinya tidak dibayarkan—aku harap anda mengecek kembali akun bank kalian. Hari ini aku melupakan pengiriman gaji kalian karena terlalu sibuk dengan pasien yang sekarat—terima kasih, surat pemecatan kalian akan aku kirimkan setelah keadaan pasien sedikit membaik"

Setelah mengatakan itu Luhan meninggalkan para wartawan yang mengerumuninya. Siwon mendesah, ia mengangguk pada Hangeng yang baru masuk rumah sakit.

" bisa tolong beri saya jalan?"

Suara penuh wibawah milik seorang mantan jendral kepolisian yang sekarang berganti jabatan menjadi seorang diplomat ternama di cina membuat para wartawan mengalihkan perhatian mereka pada Hangeng.

" Diplomat Huang—"

Hangeng tersenyum ramah.

" selamat siang"

Sapa namja yang memiliki satu anak itu.

" apa yang anda lakukan disini? Apakah salah satu keluarga anda ada di sini? Rumah sakit ini adalah sarang teroris, bagaimana menurut anda? Bagaimana pemerintah mengatasi teroris yang merupakan direktur rumah sakit?"

Dan banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa Hangeng ingat.

" maaf, saya harus menemui putri saya—kebetulan dokter Luhan menangani putri saya yang sedikit syok akibat pembajakan yang terjadi di kapal yang membawanya kembali ke cina"

Dengan membungkuk sedikit Hangeng memohon pamit.

" untuk terorisme, Jendral Wu sendiri yang akan menjelaskan setelah penanganan sudah berjalan dengan baik. Jadi kami harap para wartawan tidak mengganggu kinerja penghuni rumah sakit, aku yakin rumah sakit ini dan para dokternya sedang tidak memiliki waktu untuk menanggapi issue yang beredar sekarang. Sama seperti keluarga yang lain, saya juga ingin anak saya baik-baik saja dan mendapatkan perawatan maksimal"

Permintaan halus dari Hangeng berdampak baik pada ketenangan yang terjadi di rumah sakit. Para wartawan memilih sedikit menyisih dan menunggu di luar gedung rumah sakit.

" tepat seperti dugaanku, Huang Hangeng memang bisa dipakai"

" tsk, kau mengumpankanku Wu!"

Siwon terkekeh.
Keduanya kembali menemui beberapa orang yang mereka kenal.

" dimana anakku?"

Tanya Hangeng pada Kris yang berdiri dengan perban di lengannya.

" Dr Zhoumi sedang memberikan perawatan atas luka di kepalanya"

Hangeng mengangguk.
Namja itu mendekat ke arah Jungsoo yang sibuk dengan seorang bayi laki-laki.

" bagaimana Chanyeol?"

" dia tidak apa-apa. Hanya memerlukan jahitan di perutnya—"

" kemana Heechul?"

Jungsoo mengangkat bahunya.
Yesung keluar dari ruang operasi—ia tersenyum mendekati Dio.

" Kai sudah melewati masa kritisnya, sekarang tinggal menunggu siuman. Dan orang yang kau bilang menolongmu, dia sudah berada dikamar nomor tuju"

" arigataou sensei!"

Yesung mengangguk, ia cukup tau jika Dio adalah seorang yeoja dari sekali melihatnya. Dan lagi dia yang membantu menjahit luka di kepala Dio beberapa waktu yang lalu. Saat ia tiba di rumah sakit bersama dengan Wookie, Zhoumi meminta mereka membantu untuk menangani pasien luka-luka dikarenakan pengunduruan diri para dokter akibat issue tidak jelas. Mereka juga membantu Luhan untuk mengoperasi luka besar, hingga mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuh.

.

.

Dio duduk di samping ranjang Kai yang masih terbaring dengan luka yang masih menunjukkan bagaimana kesakitannya namja tampan itu.

" sayang, kau jangan melupakan makan siangmu"

" kkk—Sehun benar-benar overprotektif!"

Komen Kai.
Dio tersenyum malu-malu kucing. Dan Kai menyukai bagaimana dongsaengnya itu terlihat seperti yeoja pada umumnya. Hingga ketiganya bercengkramah ringan sebelum seseorang memasuki ruangan. Kris tersenyum sambil mendorong seorang namja yang menggunakan kursi roda—

" sampaikan salammu pada ayah mertuamu, Oh Sehun"

Sehun mengerjapkan matanya pada seorang namja berjanggut dan rambut panjang di hadapannya.

" sudah lama tidak bertemu kalian—Kai-chan, Soo-chan"

Ucapan lemah dari namja itu membuat Kai dan Dio mengerjapkan matanya, mereka menatap tidak percaya pada suara yang sudah hampir 4 tahun tidak mereka dengar.

" appa!"

Dio yang bebas langsung berhambur memeluk sang papa yang masih berada di kursi roda. Sedangkan Kai, ia tersenyum senang melihat sang ayah sudah ada di hadapannya. Sudah sangat lama ia tidak melihat namja yang tengah duduk di kursi roda, bisa dihitung—mungkin sejak ia berusia 10 tahunan.

" baiklah, aku harus pergi sekarang"

Ucap Kris.

" Kris—gomawo"

Bisik Kai yang hanya Kai saja yang mendengarnya.

Dio menceritakan apa yang telah terjadi dan bagaimana mereka menemukan kapal yang dibuat untuk menampung banyak narkotika dan senjata. Dio juga mengenalkan Sehun yang sudah sah menjadi suaminya pada sang ayah.

" yeoja itu—aku dengar kau sudah memiliki seorang anak dengan yeoja itu—"

Warna wajah cerah Kai berubah menjadi mendung, namja tampan itu menggeleng. Ia benar-benar merasa di permainkan dalam waktu yang lama. Ia mulai belajar mencintai yeoja dengan wajah Baekhyun, bahkan ia tidak menyangka jika itu adalah sebuah tipuan. Dia benar-benar merasakan kekosongan yang mengisi dirinya.

" entahlah—secara hukum anak itu adalah anak Chanyeol…dan selama ini dia yang telah merawatnya"

" aku turut berduka—"

Bisik Kyoungdo.

Pintu itu kembali dibuka menampilkan seorang yeoja baya berumur 30n masuk dengan anggun sambil membopong seorang bayi berumur 1 tahunan.

" jika kau memang tidak mau mengasuhnya, aku akan memasukkan Hyunchan sebagai anakku—"

" direktur Kim—"

Heechul tersenyum manis.

" aku sudah mendengar semuanya dari Kris, semua tergantung padamu…bagiku Hyunchan juga cucuku, meski aku sangat tidak suka dengan ibunya yang ternyata memang bukan orang yang baik"

Kai menunduk, Heechul benar akan semua yang pernah Heechul katakan tentang yeoja yang menikah dengan anaknya. Hanya Kai terlalu egois menganggap itu hanya keegoisan Heechul yang tidak terima yeoja itu meninggalkan Chanyeol. Heechul memberikan Hyunchan ke pangkuan Kyoungdo.

" dia mirip sekali dengan mu, Kai-chan…meski matanya—matanya biru kehijauan menandakan jika ia bukan orang asia. Warna mata asli milik Angela-san. Senang bertemu denganmu, Hyunchan—"

Sapa Kyoungdo.

Heechul melepas senyumnya saat melihat Dio dan Sehun di sisi lain ruangan itu, ia memincingkan matanya dengan pandangan mengancam.

" kau benar-benar membuatku diterror fans-fans Do Kyungsoo! Kau harus berterima kasih padaku yang dengan sempurna mengatakan Do Kyungsoo mati dan tidak terselamatkan dengan jenazah yang belum diketemukan di laut"

" hehehehe—"

" hah, sudahlah—aku masih harus mengurusi surat kematianmu sebagai Do Kyungsoo"

Heechul kemudian mengulurkan tangannya ke arah Dio.

" selamat datang, Kim Kyungsoo—senang bertemu denganmu"

" direktur—"

.

.

.

Pintu bercat putih itu bergeser menunjukkan seorang namja tampan dengan jas panjang berjalan mendekat, mengusik seorang yang memiliki sensitifitas yang lebih dari siapapun untuk membuka matanya.

" aku membangunkanmu?"

" aniya, bagaimana keadaanku dok?"

Luhan memberikan hasil rekap medis yeoja yang kini duduk bersandar pada sandaran.

" kau begitu ceroboh dengan mengumpankan dirimu sendiri, kalau mereka tidak segera menyumbat pendarahanmu, aku yakin kau sudah berada di liang lahat"

" hehehe—kau jahat sekali dok"

" untuk penderita hemophilia sepertimu, hanya itu yang bisa aku katakan—"

" bagaimana keadaan Suho-ssi?"

Luhan terkekeh.

Namja itu duduk di dekat tiang infus dengan santai menggigit apel yang ada di atas nakas. Ia tersenyum begitu mengagumkan, begitulah yang Lay lihat dari arti senyum atasannya itu.

" aku sudah menyuruhnya untuk berdoa di gereja, mungkin dia tertidur disana kkk"

"candaanmu tidak lucu, dok—"

Yeoja itu melihat bagaimana namja tampan itu mencoba menulis sesuatu di medical chek yang sudah ia berikan kembali.

" bagaimana yang lain? Apa mereka baik-baik saja?"

Luhan mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya untuk Lay.

" Chen, Kris hanya luka di lengan. Punggung Chanyeol terkena tiang saat berusaha melompat ke laut akibat ledakan, beruntung tidak parah meski sempat patah. Kepala Tao terkena pukulan yang cukup keras meski tidak mengakibatkan gegar otak atau yang lain namun sepertinya cukup membuatnya sedikit shock dan membuatnya tambah manja. Dio, baik-baik saja dengan bebepa jahitan di kepalanya—eum, aku sudah membuat surat kematian untuk Do Kyungsoo dan saat ini fans-fans Dio sedang menangisinya di depan kantor agency. Tranfusi darah yang Kai jalani berjalan dengan baik—Kyoungdo memberikan 400 cc darahnya untuk membantu jalannya operasi. Suho? Meskipun kakinya harus digips namun namja itu tidak membutuhkan kursi roda, bahkan dia sempat nekat berlari dengan kaki berkucuran darah saat mengetahui kau kekurangan darah dan persediaan darah yang bisa membantumu habis. Beruntung ada seorang keluarga korban lain yang mendengarnya berteriak memanggil namamu, orang itu benar-benar membantu mengembalikan darah langka yang kau miliki. Terahir Minseok—eum luka di wajahnya hanya sebuah sayatan kecil jadi tidak akan membekas, namun luka dibagian kiri tubuhnya sedikit susah untuk diatasi—"

" Minseokie?"

Luhan mengangguk.

" ada penyempitan pembulu syaraf di sekitar otak kiri, untung aku segera tau—dan bisa memberikan operasi lanjutan kemarin, meski memakan waktu hampir 10 jam untuk persiapan dan operasi. Aku berharap operasi itu bisa membantunya, kalau tidak penyempitan syaraf itu bisa mengakibatkan kelumpuhan total dan kematian"

" sekarang bagaimana keadaanya?"

" masih koma"

Ucapan lirih dari Luhan mengisyaratkan banyak kata terpendam di dalam benak namja itu. Lay tau namja di depannya tengah khawatir dengan semua kemungkinan yang akan terjadi pada Minseok. Luhan tersenyum dengan senyum manisnya.

" jja! Aku harus mengecek pasien lain—"

Luhan melangkah mendekati pintu.

" dokter—"

Namja itu menoleh.

" semangat! Aku yakin Minseokie bisa secepatnya sadar"

Luhan mengangguk.

" tentu! Minseok adalah Xiuminku yang paling manis"

Sepeninggalan Luhan, Lay kembali sendiri—ia melihat kalender yang terpasang di sudut ruangan. Ia tersenyum mengingat catatan yang ada di rekap medis miliknya. Lay sudah tergeletak di rumah sakit sejak 7 hari yang lalu. Lay tidak mengingat banyak tentang bagaimana ia bisa berada di rumah sakit, yang yeoja itu ingat adalah bagaimana kejadian di kapal itu benar-benar mengerikan. Pembajakan terhadap kapal yang diisi 500 orang oleh kelompok asing yang mengaku telah menguasai kapal. Tangan Lay terlulur untuk menghidupkan tv, banyak stasion tv masih memberitakan bagaimana kejadian terror itu terjadi. Dan jangan lupakan tentang kematian seorang Do Kyungsoo yang menjadi topic hangat di media korea.

" lho? Tadi dokter Luhan bilang Dio hanya menerima beberapa jahitan kok?"

Yeoja itu belum sadar tentang apa yang Luhan katakan sepenuhnya. Lay menghela nafasnya, ia sedikit merasakan kesepian. Keluarganya sudah lama meninggalkannya seorang diri di dunia ini—ia tidak memiliki siapapun yang bisa menjenguknya. Ia menangis, ia merasakan kesedihan akan kesendirian yang selalu ia alami. Lay bukanlah berasal dari keluarga berada, ayahnya ( Zhang Shou Mei ) meninggal akibat kanker hati saat ia baru saja lahir. Setelah itu sang ibu ( Zhang Jian Xing ) meninggal karna magh kronis yang diidapnya tidak bisa di tangani sesegera mungkin disebabkan keterbatasan biaya. Lay masih ingat hari dimana ibunya meninggal—hari dimana ia dinyatakan lulus masuk ujian universitas negeri dengan beasiswa full. Mimpinya untuk menyembuhkan ibunya harus menemui kenyataan bahwa sang ibu tak lagi bisa ia tolong, tak lagi bisa ia peluk.

" mama—"

Isak Lay. Ia menangis hingga ia kelelahan dan tertidur untuk waktu yang lama. Saat Lay membuka matanya, waktu sudah menunjukkan sore hari.

" kau sudah bangun? Tidurmu nyenyak? Apa aku mengganggu istirahatmu?"

Yeoja berumur 30 tahunan itu mengerjapkan matanya imut. Lay tidak mengenal yeoja cantik itu, bahkan baru pertama kalinya ia bertemu dengan yeoja itu.

" maaf anda siapa?"

" oh? Kau tidak mengenalku? Hahahaa—baiklah manis, aku Henry Lau—senang bertemu denganmu"

Lay mengangguk.

" Zhang Yi Xing, nyonya bisa memanggilku Lay—"

" dan panggil aku 'mama' oke Lay?!"

Mata Lay terbuka lebar, ia mengerutkan keningnya tanda ia tidak mengerti tentang apa yang sedang Henry katakan. Sedangkan Henry? Dia sedang asik mengupas apel yang ada di atas nakas sambil memakannya sendiri setelah Lay menolak tawarannya.

" Luhan mengusirku tadi—jadi aku main kesini. Dia benar-benar jahat padaku"

" dokter Luhan?"

Henry mengangguk.

" dokter Luhan adalah dokter terbaik yang pernah aku kenal, aku benar-benar salut dengan apa yang ia lakukan. Dia mengagumkan—"

" kau tidak sedang jatuh cinta padanya bukan?"

Lay buru-buru menggeleng.

" tentu saja tidak"

" baguslah kalau begitu! Kkk karena Luhan memiliki Minseok"

" aku tau—"

" ah! Aku lupa! Aku harus keluar sebentar—kau mau menitip sesuatu? Kau suka makan apa? Kau mau masakan restoran mana?"

" Eh?"

Henry menatap Lay dengan antusias, menunggu jawaban dari Lay sambil merapikan mantelnya. Ia melihat ekspresi wajah Lay yang berkaca-kaca, perlahan tangannya terlulur untuk menyentuh wajah Lay dan membawanya ke dalam pelukan.

Lay bahkan tidak mengerti apa maksud yeoja yang kini memeluknya, namun pelukan hangat itu membuatnya mengingat pelukan hangat ibunya. Pelukan hangat dari seorang ibu untuk anaknya. Ia menangis hingga tenggorokannya mulai terasa kering, ia menangis memeluk erat Henry. Meninginkan pelukan itu ada untuknya, ada untuk selalu memeluknya.

" apa kau menghindari makan sesuatu?"

Lay menggeleng.
Henry melepas pelukannya dan tersenyum setelah mencium puncak kepala Lay.

" baiklah baby, aku harus segera pergi. Ingat! Kau jangan kemana-mana, bye"

Lay memandangi pintu yang sudah kembali tertutup dengan kepergian Henry yang entah kemana. Suho datang beberapa waktu setelah Henry pergi.

" mamamu sudah pergi?"

" Eh?"

" dia menceramahiku panjang lebar tadi—"

Suho duduk di samping ranjang Lay.

" saat Luhan-ssi mengatakan kau siuman, aku segera ingin menemuimu. Namun dokter Zhoumi mengatakan agar aku memperhatikan terapi yang akan ia berikan sehingga saat aku tiba, aku hanya bisa memandangi wajahmu yang kembali tertidur. Aku merindukanmu"

Kesungguhan yang terpancar dari manik mata Suho membuat Lay kembali tersenyum, ia ingat—ia masih memiliki namja yang kini tengah menciumnya. Meski hanya bebapa detik namun cukup untuk membuatnya mengakui keberadaan namja manis yang menggunakan gibs dikaki kanannya.
Keduanya berbincang membicarakan masa depan mereka hingga mereka terkekeh pelan.

" kau tau? Ternyata Dio-ssi adalah yeoja!"

" eh? Yeoja?"

" ne! aku baru tahu setelah melihatnya menangis dipelukan Sehun yang ternyata suaminya"

" eh? Mereka sudah menikah?"

Suho mengangguk.

" mereka mendahului kita! Bahkan aku saja masih harus menjalani tes untuk mengajakmu menikah"

" tes?"

Suho mengangguk.

" mamamu menceramahiku hingga aku bosan. Beruntung ingatanku sedikit baik untuk mengingat hal-hal penting yang harus aku ingat. Tenang saja, pokoknya aku akan menikahimu dan selalu ada di sampingmu kkk"

" apa yang kalian bicarakan?"

Suho tersenyum.

" rahasia"

Keduanya saling menggoda hingga seorang masuk.

" Ya! Kau! Menjauh dari putriku!"

Suho sedikit menggeser tempat duduknya membiarkan Henry mendekati Lay.

" aku hanya meninggalkan putriku 2 jam dan kau sudah berada disini? Kau tidak macam-macam bukan?"

" ti—tidak"

Henry membuang mengerucutkan bibirnya lalu menatap Lay dengan senyum yang menawan. Perlahan tangan mungilnya menata makanan yang ia bawa dari rumahnya di atas meja kecil yang disediakan untuk makan pasien. Lay mengerjapkan matanya bingung.

" makanlah—aku tidak yakin kau menyukainya atau tidak namun aku harap ini bisa memberimu nutrisi. Dan kau! ( menunjuk Suho ) ini—"

Henry memberikan boks makanan lain untuk Suho.

" aku baikkan? Itu aku buat dengan racun alami kkk—ah, aku tidak bisa berlama-lama disini. Sayang makan yang banyak ne? aku akan kembali lagi besok"

Setelah mencium kepala Lay, Henry pergi yang kebetulan berpapasan denga Luhan yang mengerutkan keningnya.

" Luhan-ssi, ayo makan bersama"

Ajak Suho.

" kau kira aku sedang free? Aku datang kesini hanya untuk mengecek keadaan Yixing dan memberinya obat baru—"

Luhan memiringkan kepalanya melihat benda-benda yang ada di hadapan Lay.

" kau tidak menyukainya?"

Lay menggeleng. Ia mengusap air matanya.

" hiks—setelah 4 tahun—aku senang ada orang lain yang memasakkanku masakan rumah, meski aku tidak tau siapa dia tapi aku—aku sangat berterima kasih padanya"

" Eh? Kau tidak tau siapa dia?"

Tanya Suho.

Lay mengangguk, namun langsung memakan makanan yang ada dihadapannya dengan lahap, menyisakan Luhan yang hanya menggeleng tidak jelas.

" keadaanmu sudah mulai membaik—aku rasa 2 atau 3 hari lagi kau sudah bisa keluar dari sini"

" benarkah?"

Luhan mengangguk.

" sudah waktunya kau menyelesaikan tesismu, Yixing—"

" eh?"

" atau kau hanya ingin menjadi asisten dokter selamanya? Kau tidak ingin menjadi dokter sungguhan?"

Suho tersenyum melihat Luhan berkata dingin kepada Lay, namun dibalik perkataan dingin yang Luhan lontarkan ada maksud baik yang tersampaikan.

" aku sudah membaca tesismu kemarin, aku kira kau cukup mempresentasikannya bulan depan—aku perlu dokter sepertimu disini"

Ucap Luhan sebelum menutup pintu kamar.

" dia sedang menyemangatiku atau menjatuhkanku?"

" kkk—keduanya"

Suho terkekeh melihat ekspresi wajah Lay yang benar-benar seperti orang bodoh, jarang-jarang dia mendapati kekasihnya menampakkan kepolosan yang dimiliki. Biasanya Suho hanya akan melihat Tao dan Minseok yang kelewat polos dengan tingkah yang menggemaskan, kini ia bisa menikmati yeojachingunya sendiri yang melakukan dihadapannya.

" oh iya—aku dengar dari beberapa perawat, ada yang terjadi di rumah sakit ini saat aku tertidur? Apa karena operasi kita?"

" yah sedikit banyak memang karna operasi kita yang memakan banyak biaya dan korban jiwa—semua penjahat tenggelam dengan kapal yang meledak menjadi puing-puing. Hanya Brounli yang selamat—"

Suara Suho berubah lirih.

" wae? Apa ada yang tidak ku ketahui?"

Namja tampan itu mengangguk.

Suho menceritakan bagaimana kapal meledak setelah Lay terkapar dalam pelukannya di kapal kecil yang membawa mereka menjauh dari sang induk kapal. Air laut yang melempar mereka hingga beberapa kilo meter dari kapal karam akibat ledakan. Bagaimana Luhan dan Kris yang putus asa mendengar teriakan sorang namja yang terlempar jauh dari kapal dan mendarat di pulau terdekat beberapa saat setelah ledakan. Namja itu Brounli, namja bercucuran darah itu terus berteriak dan mengibaskan pakaian putihnya saat helicopter yang Luhan tumpangi mendekatinya. Terus berteriak hingga nyaris putus asa, ia berteriak bukan untuk nyawanya. Namja itu berteriak karena seorang yeoja tengah meregang nyawa. Seorang yeoja yang Luhan dan Kris cari—

" –Brounli-ssi memohon pada Luhan dan Kris untuk menyelamatkan Minseok apapun caranya. Ia memohon agar Minseok tetap hidup—ia menjelaskan dengan singkat bahwa Minseok bukan anggotanya, hanya seorang yeoja biasa yang menjadi sandera dan telah menolong nyawanya saat Luhan dan Kris menatap tidak percaya…huh, semua benar-benar mengerikan. Sekarang Brounli dalam pengawasan ketat pihak kepolisian dan dokter. Lukanya tidak cukup serius, namun ia mengatakan akan mengungkap semua kejahatannya setelah mendengar Minseok selamat. 2 hari yang lalu dia sudah mengatakan semua tentang Blackhole, Jendral Wu sudah mengambil alih semua penyelidikan demi keselamatan kita semua, dan kita berada di bawah perlindungan FBI dan pemerintah 3 negara…"

" Minseok—apa dia benar-benar belum sadar?"

Suho menggeleng.

" jadi—dokter Luhan menyempatkan melihat tesisku di saat seperti ini?"

" dia benar-benar dokter yang hebat, banyak sekali masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Meski beberapa di tanggapi dengan enteng namun tetap saja bagiku—jika aku yang berada dalam posisinya, entah aku bisa menghadapinya atau tidak…"

.

.

.

" Henry? Apa yang sedang kau lakukan di kamar ini?"

Tanya Zhoumi saat melihat istrinya mengeluarkan banyak barang disamping kamar yang Luhan tempati.

" aku sudah merencanakannya—kau sudah mengijinkan bukan?"

Zhoumi mengangguk saat mengingat apa yang pernah Henry katakan padanya. Luhan yang melihat sang mama sedang sibuk hanya mengangkat bahunya dan berjalan ke ruang makan bersama Zhoumi.

" sudah dua minggu, kasus kapal sudah terselesaikan dengan tanggung jawab penuh dari Siwon dan Hangeng. Anak-anak itu juga sudah mulai kembali ke asal mereka"

" ne—"

" istirahatlah, papa akan menggantikanmu untuk sementara waktu"

" aku ingin menjaganya—apa yang menjadi milikku"

Luhan keluar dari rumah setelah menghabiskan sarapannya. Di rumah sakit ia bertemu dengan Lay yang sedang bersiap-siap untuk pergi dari ruang inapnya.

" aku dengar apartemenmu akan dihancurkan, kau yakin sudah menemukan tempat tinggal yang baru?"

" Suho-ssi sudah mengemasi seluruh barang-barangku dan membawanya ke tempat baru"

" oh, ya sukurlah. Maaf aku tidak bisa membantumu—"

Lay tersenyum menepuk lengan Luhan.

" kau seperti bukan Luhan yang biasanya—"

Namja itu hanya tersenyum sekilas lalu meninggalkan Lay sendirian. Dengan raut wajah yang sedikit khawatir saat menatap punggung Luhan yang berjalan menjauhinya.

" kau benar-benar orang yang tangguh, dokter—"

Lay begitu kagum dengan Luhan yang ia temui sejak pertama magang di rumah sakit ini. Lay berjalan memasuki sebuah ruangan dengan peralatan medis lengkap dengan sekat kaca yang membatasi ruangan. Seorang yeoja terbaring lemah diantara peralatan medis yang terpasang di tubuhnya yang hampir tidak terlihat dari beberapa sisi. Yeoja terpolos yang pernah Lay temui—

" jie-jie sudah mau pulang?"

Suara Tao membuatnya menoleh. Yeoja bermata panda itu masuk beriringan dengan Kris yang mengikuti langkahnya dari belakang.

" ne—mungkin sedikit istirahat sebelum aku menyelesaikan tesisku"

" kau mengingatnya?"

" Ya! Wu Yi Fan-ssi, kemarin aku hanya malas mengerjakannya"

Kilah Lay.

Tao tersenyum sebentar lalu menatap seorang yang masih terbaring dari kaca tembus pandang dihadapannya.

" jie jie—hari ini Tao dan Kris-ge akan kembali ke Korea, tapi Tao janji setiap liburan akan kesini menjengukmu. Aku berharap saat kita bertemu, kau bisa mengajari Tao lagi…"

Ucapan lirih Tao membuat suasana kembali hening.

" kalian akan ke korea?"

Kris mengangguk.

" aku mengambil tugas di korea sampai Tao lulus—lagian hanya tinggal beberapa bulan jadi tidak begitu lama"

" Chen dan Chanyeol?"

" kedua orang tua mereka membawa mereka pulang kemarin, meski Chen memaksa ingin tinggal namun mengingat Sweetie mereka titipkan pada namja yang menginap di apartemen Luhan membuat Chen tidak memiliki banyak pilihan. Dan lagi Yesung dan Wookie ajumma masih harus melanjutkan perawatan di rumah sakit ini mengingat pasien yang mereka tangani tidak sedikit"

Jawab Kris.

" lalu apa dektektif Kim akan selalu disini?"

Lay menggeleng.

" dia akan kembali ke jepang dua hari lagi- sepertinya pihak pemerintahan jepang ingin meminta laporan langsung darinya"

" apa jie jie akan ikut?"

" eh?"

Lay terdiam mendengarkan pertanyaan dari Tao. Sejenak ia menggeleng dan tersenyum, tentu saja Suho tidak akan mengajaknya. Sejujurnya Lay masih ragu akan kebenaran apa yang ia dan Suho rasakan saat ini. Keduanya menjalin kasih setelah meminum minuman yang berada di kulkas milik Luhan, hingga detik ini belum ada pengakuan resmi untuk hubungan keduanya. Lay memang sudah pernah mendengar kata cinta terlontar dari Suho untuknya, namun ia merasa itu belum cukup. Ia merasa banyak kekurangan yang ada pada dirinya yang membuatnya tidak pantas untuk mendapatkan cinta seorang Kim Joonmyun. Ia terlalu takut jika kata-kata itu hanya sebuah kiasan yang berlatar pada kecelakaan yang mereka alami. Kecelakaan atas kenikmatan tubuh masing-masing atau entahlah Lay memang tidak begitu mengerti tentang keadaan dirinya sendiri.

Langkah Lay terhenti saat seorang yeoja cantik mencegatnya yang ingin keluar dari rumah sakit.

" ayo sayang, mama sudah lama menunggumu"

" eh?"

Lay menoleh ke belakangnya dan mencoba menghindar. Ia tidak yakin akan kata-kata yang Henry berikan mungkin ditujukan untuk orang lain. Namun langkahnya kembali terhenti saat tangan Henry mencegatnya.

" aku sudah menyiapkan kamar untukmu! Ayo-ayo"

Tidak menunggu lama untuk berpindah dari rumah sakit ke sebuah ruangan mewah dengan warna hijau krim menghiasi sebagian ruangan.

" ini kamarmu, aku sudah mendekorasinya selama beberapa jam kkk. Apa kau senang?"

" anu—sebenarnya apa yang sedang anda lakukan, nyonya?"

" aku akan menjadi mamamu! Jadi bersenang-senanglah. Oh iya, untuk makan malam kau ingin apa? Aku sudah mengundang pacarmu juga—"

" EH?"

Henry tersenyum mengusap kepala Lay.

" kau mungkin tidak ingat padaku, namun aku mengingatmu dengan baik. Kau adalah gadis polos yang menyelamatkan seorang kakek tua yang sedang sekarat. Aku ingat, waktu itu kau baru lulus SMA—kau juga merelakan ujian nasional ke perguruan tinggi demi membawa kakek itu ke rumah sakit. Kakek yang kau tolong sudah berpulang ke surga, dan pertolonganmu setidaknya aku bisa melihat senyum terahirnya. Aku adalah menantunya, dan aku sudah menganggap orang itu sebagai ayahku sendiri. Di sela kesibukanku, aku mencarimu—dan tidak ku sangka kau menginjakkan kaki di kampus itu. Dengan koneksiku aku meminta seluruh kampus untuk menerima seorang yang memiliki sama dengan namamu dengan kualifikasi yang telah aku berikan…maafkan aku yang terlambat berterima kasih padamu"

" nyonya—"

" panggil aku mama, sejak saat itu aku sudah memasukkanmu kedalam daftar keluargaku. Zhang Yi Xing, ah tidak, Xi Yi Xing—selamat datang di keluarga kami. Selamat datang di rumahmu, aku harap kau menikmatinya"

Henry mengusap air mata yang mengalir di pelupuk matanya dan tersenyum.

" aku akan memasakkan makanan yang special, silahkan istirahat. Kalau mau berkeliling juga tidak apa"

Henry meninggalkan Lay di kamar yang Henry bilang sebagai miliknya.

Lay mengamati seisi kamar yang sudah terpasang beberapa barang miliknya, ia tidak tau jika Suho membawa barang-barangnya ke rumah megah ini. Banyak pakaian tambahan yang cantik berada dan bercampur dengan pakaiannya di lemari. Barang-barang itu tersusun dengan rapi dan menghiasi ruangan, bahkan foto ke dua orang tua Lay ada disana, tergantung dengan manis bersama dengan foto keluarga. Ada foto Suho yang tengah memeluknya terpajang di sisi kanan nakas—

" kau menyukainya?"

Tiba-tiba Lay mendapati sepasang tangan kekar memenjarakan tubuhnya dalam sebuah pelukan hangat.

" kenapa kau membawa barangku kesini? Ini bukan rumahku—"

" tapi mamamu bilang ini rumahmu, dia memintaku untuk membawanya kemari dan menatanya. Maaf aku tidak bisa menjemputmu tadi—"

Lay mengangguk.
Suho tersenyum melonggarkan pelukannya.

" kau tau, mamamu itu benar-benar ibu yang baik"

" eh?"

" dia memintaku untuk tidak macam-macam padamu saat mendengar aku akan kembali ke Jepang. Dia melarangku untuk membawamu ikut serta—dia bilang, biarkan anakku berkarya dengan masa depannya. Jika memang kau mencintainya kau jangan pernah menghalanginya. Mendengar kata-kata simple itu aku merasa kecil, aku harus berpikir banyak tentang seberapa besar rasa cintaku padamu dan sebagainya. Semalaman aku tidak bisa tidur karna memikirkan itu, hingga tadi pagi aku tau—aku mencintaimu dan akan mendukungmu. Memang aku akan kembali ke jepang tetapi tidak berarti aku harus melepaskan tangan ini—aku akan tetap ada bersamamu meski jarak dan waktu memisahkan kita"

" Suho—"

Suho mencium puncak kepala Lay dengan lembut.

" aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu hingga aku tidak tau kata-kata apa yang mampu mengungkapkannya"

" Suho-ssi"

" kau harus belajar memanggilku Oppa, atau niichan atau gege"

" eh?"

" saat kita menikah nanti, bagaimana jika kita tinggal di korea? Aku sudah menyiapkan sebuah rumah kecil di sana—"

Lay membalik badannya dan menatap Suho.

" would you marry me?"

" kau sedang tidak main-mainkan?"

" tidak akan, jadi?"

Rona merah di wajah Lay terlihat jelas di manik mata Suho. Namja itu tersenyum dan mencium bibir Lay kilat. Keduanya harus menghentikan ciuman mereka saat suara pintu diketuk menginterupsi mereka.

" nyonya besar sudah menunggu di bawah untuk makan malam"

" ah,eumm baiklah"

Berbagai makanan tersedia di atas meja yang tidak begitu luas, dan hanya memuat 10 orang dengn beberapa kursi yang telah disingkirkan. Henry tersenyum meminta Lay dan Suho mengambil posisi, ia sendiri sibuk menata peralatan makan bersama dengan beberapa maid.

" kita hanya makan malam bertiga? Kenapa ny—"

" mama, suamiku akan segera pulang"

Ingat Henry saat mendengar kata-kata yang sedikit melenceng.

Suara mobil berhenti di depan pintu membuat Henry tersenyum senang, apa lagi saat melihat namja tinggi dengan jas abu-abu memasuki ruangan.

" boleh aku mencicipinya sebelum kembali ke kamar?"

" kau harus mandi dulu, sayang"

Zhoumi mencium Henry yang mendekatinya dan menerima jas miliknya. Keduanya berjalan menuju kamar mereka membiarkan Lay dan Suho mematung.

" aku jadi tidak sabar menunggu saat kita menikah nanti—membayangkannya saja sudah membuatku senang!"

" Ya! Lebih baik singkirkan pikiranmu itu jauh-jauh. Karna aku rasa aku masih ingin menjadi seorang dokter handal seperti dokter—EH? Tadi dokter Xi Zhoumi?"

Suho mengangguk.

" memang kenapa?"

" apa yang kita lakukan disini?"

Lay terlihat panik, sedikit mondar-mandir tidak jelas membuat Suho terkekeh.

Tidak lama Zhoumi dan Henry turun, Zhoumi terlihat sangat tampan tanpa kacamata yang biasa ia kenakan saat di rumah sakit. Lay mengangguk hormat pada Zhoumi yang diangguki sekilas dengan senyum dan usapan lembut.

" selamat datang Yixing, Joonmyun"

Suho mengangguk.

" senang sekali kita bisa berkumpul seperti ini hanya saja—"

Henry menoleh sedih pada bangku kosong dengan makanan yang telah ia siapkan, ia tersenyum sedih membayangkan seseorang tengah membalas tatapannya dengan pandangan dingin atau pandangan imut yang membuatnya tidak bisa tertawa jika berbicara tentang orang yang ia cintai. Lay mengangguk sedikit tau siapa yang tidak ada diruangan itu.

" sudahlah, nanti juga dia akan kembali kkk"

Makan malam berjalan begitu sederhana dengan penyesuaian Lay yang menjadi anggota baru keluarga Xi. Suho benar-benar merasakan ketengangan saat melihat bagaimana Zhoumi dan Henry memperhatikan dan tidak membiarkan Lay terdiam karena canggung.

Pagi-pagi Suho harus berlarian ke bandara untuk mengejar pesawat penerbangan pertama yang ia lupakan, ia lupa telah memesan tiket untuk hari senin sejak jum'at. Ia hanya menitipkan pesan pada Henry agar Lay mau menunggunya—di pesawat Suho tersenyum mengamati gambar dirinya dan Lay.

" ini akan sangat manis"

Setibanya di bandara Incheon Onew sudah menunggu Suho dengan mobil putih kesayangannya.

" beruntung tadi aku menelfonmu kkk"

" tentu—kalau tidak aku bisa ketinggalan pesawat dan dimarahi letnan Kim. Aku tidak bisa membayangkannya"

Onew tertawa renyah menghilangkan matanya yang memang kelewat sipit.

" yah, dia memang orang yang sedikit mengerikan—"

" persis dengan oppanya kkk"

Keduanya melangkah memasuki ruangan yang sudah di hadiri oleh banyak orang, sebuah seminar tentang kejadian yang baru saja Suho dan Onew alami sukses di ambil alih oleh Kris yang entah dari mana ia bisa muncul di aula kepolisian Seoul.

" secara penuh semuanya sudah tepat, namun jika gegabah tidak menutup kemungkinan untuk kita kalah. Black hole memang sudah kita atasi, namun masih ada orang-orang jahat lainnya yang berkeliaran dimana-mana"

Kata-kata Kris memang benar, tidak ada yang tidak mungkin. Karna kejahatan sering muncul dari ketidak mungkinan berwujud pembenaran. Selesai mendengar seminar Suho mendekati Kris dan seorang yeoja cantik yang sedang berbicara dengan Kris.

" maaf aku telat, inspektur Kim"

" kali ini ku maafkan, jangan mentang-mentang kita satu jabatan kau bisa seenaknya. Dektektif Kim, kau di korea hanyalah dektektif jadi aku akan melupakan kau juga seorang inspektur"

Suho mengangguk membiarkan Kris dan Onew terkekeh kecil.

" tentang devisi kita, komisaris Park menunjuk Yifan sebagai ketuanya. Menurutnya, prestasi yang didapat dari sebelum-sebelumnya Yifan adalah yang terbaik diantara kita"

" kau bisa memanggilku 'Kris' kalau kau mau. Mendengar nama asliku di ucapkan oleh orang lain membuatku sedikit tidak enak—"

Kibum mengarahkan pandangan bingungnya pada namja tampan yang langsung pergi tanpa mendengar kata-katanya.

" Kris memang seperti itu, jadi jangan diambil hati—"

" tsk, apa semua orang cina selalu seperti itu?"

Onew dan Suho terkekeh.

.

.

.

Hiruk pikuk nuansa bunga sakura berguguran terlihat begitu indah di mata Suho, ia sedang menemani Tao dan Sehun yang menggambar bunga sakura.

" gege—apa kau tidak ingin mengajak Lay-jie menikah? Kalian sudah sama-sama dewasa. Dan aku dengar tesisnya baru saja lulus dari persidangan, itu artinya bulan depan dia sudah bisa berkerja sebagai dokter di tempat Luhan-ge"

" ne, dia mengatakannya—menikah bukanlah hal yang mudah, Tao"

Desah Suho.

" benar, harus ada persiapan mental dan fisik yang kuat"

Suho menggeleng mendengar jawaban dari Sehun tentang pernikahan. Pada kenyataannya Sehun sudah mendahului mereka untuk menikah bersama dengan Dio. Namja tampan itu berbaring membiarkan dua manusia yang sedang sibuk dengan tugas sekolah mereka. Jepang sedang tertutup oleh warna pink yang berguguran menjadikan permadani indah disetiap sudut jalan dimana tumbuh pohon bunga sakura. Sejak 2 hari yang lalu Suho berangkat ke jepang karena ada penyelidikan dengan departemen kepolisian di Tokyo. Bersama Tao dan Sehun yang memang sedang piknik bersama dengan teman-teman sekolah mereka hingga ahirnya Suho berada di samping Sehun dan Tao. Kris memaksa untuk Suho mengawasi Tao karena dia sendiri tidak bisa mengawasinya.

Phonsel Suho bergetar, ia tersenyum sebuah video panggilan masuk ke phoselnya.

" yeoboseo—"

Suho bisa melihat Lay tersenyum manis, berlatarkan taman rumah sakit yang terlihat tertata rapi.

" kau masih di jepang? Apa penyelidikannya belum selesai?"

" ne. penyelidikan sudah selesai, tapi belum bisa pulang berkat dua manusia abnormal yang menahanku untuk tidak dulu pulang ke seoul"

Lay terkekeh pelan.

Keduanya tidak pernah lupa untuk saling menyapa saat waktu senggang. Meski hampir 3 bulan mereka berpisah namun keduanya tidak pernah lupa akan kebersamaan yang masing-masing mereka jaga. Lay selalu mencoba mengerti apa yang tengah Suho lakukan atau sebaliknya, Suho yang mencoba mengerti apa yang Lay lakukan. Toh, pada awalnya mereka memang tidak pernah memusingkan perkiraan-perkiraan yang biasa pasangan lain.

" aku sudah mengirimimu suasana 'Hanami' di jepang..aku yakin saat aku bisa membawamu kesini, kau akan menyukainya"

" ya, aku menyukainya"

Tao merebut phonsel Suho, dan tersenyum melambaikan tangannya ke arah Lay yang memberikan senyum menawannya.

" kau bertambah cantik, baby"

" Tao memang cantik! Kkk, bagaimana keadaan jiejie?"

Lay tersenyum mengangguk dan memberikan gambaran ruangan barunya. Sebuah ruangan bercat putih yang terlihat rapi dengan Lay disana.

" kau sedang istirahat? Aku ingin sekali ke cina, bagaimana Minseok jie? Apa ada perkembangan?"

Senyum itu terlihat memudar berganti dengan senyum lain yang Tao dan Suho ketahui artinya.

" tidak ada yang berubah, dia masih setia dengan tidur panjangnya—begitulah yang selalu dokter Luhan katakan"

" Lu-ge"

" dia selalu menyempatkan diri untuk berada disamping Minseok, sungguh—aku merasakan bagaimana cinta yang dokter Luhan berikan pada Minseok…"

Air mata itu mengalir begitu saja kala mereka membicarakan yeoja mungil yang masih terbaring di rumah sakit. Suho tersenyum meraih Tao ke dalam pelukannya.

" sudah, kalian berdua jangan menangis. Benar kata Luhan-ssi, Minseok hanya tidur panjang"

.

.

.

Chanyeol menatap ke arah Chen yang tengah mempoutkan bibirnya, menyandarkan kepala di atas meja.

" sudah lebih dari setengah tahun, apa eoni tidak ingin terbangun dari tidurnya?"

Yang mereka bicarakan adalah Minseok, seorang yang sampai detik ini belum memberikan tanda-tanda akan terbangun dari Komanya.
Chanyeol mengangguk.

" Luhan, apa dia baik-baik saja?"

" senyum itu—itu seperti bukan dari seorang Luhan-ge yang ku kenal. Kata appa, dia selalu menjaga Minseok dimanapun waktu luangnya. Kamar rawat Minseok sudah seperti kamar pribadinya sekarang ini—Kyuhyun ajussi sering menggantikannya saat tidak sedang tugas"

" yah, 2 hari yang lalu aku melihatnya. Luhan menangis sambil menggenggam tangan Minseok—apakah ini akan menjadi terahir?"

Chen memincingkan matanya.

" kau bicara apa?"

" –mungkin Minseok memang tidak ingin kembali, akan lebih baik jika melepas semua benda-benda menyiksa itu"

Yeoja itu menggeleng membayangkan bagaimana Minseok meninggalkannya.

" Lu-ge tidak akan melakukannya. Bahkan ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk tetap memberikan bantuan medis untuk eoni. Bukankah kemarin kita datang ke acara pernikahannya? Dimana namja itu berjanji setia dengan eoni yang masih tertidur. Kini tidak akan ada yang membantahnya menggunakan kata 'siapa kau? Kau bukan siapa-siapa Minseok' karna secara jelas dia sudah memiliki ha katas eoni"

Chanyeol mengangguk.

Sembari menyesap hangatnya coklat yang Chen berikan, Chanyeol membayangkan semua yang telah terjadi pada dirinya. Sekali lagi, ia merasakan menjadi orang yang terburuk dengan kenyataan yang telah melintas dan yang telah ia lakukan. Pada orang tuanya, dan terutama pada yeoja yang berada disampingnya-Chen.

" aku merasa buruk—"

Ucapan Chanyeol sukses membuat Chen menatapnya, ekspresi menyesal yang lama tidak pernah Chen lihat kini tertangkap di raut wajah Chanyeol.

" –dibandingkan dengan Luhan, aku belum ada apa-apanya"

" tentu"

Balasan dari Chen membuat Chanyeol tersenyum miris.

" tapi, bukankah setiap manusia itu selalu sempurna dengan semua yang ada pada dirinya?"

" EH?"

" jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain, karna itu sama saja dengan kau yang membandingkan dirimu dengan hayalan. Kkkk"

Chanyeol tersenyum, kini hatinya hangat kembali.

" Chen—apa kau masih tidak ingin kembali pada pernikahan kita?"

Mata Chen membulat, wajahnya memerah.

" –sungguh, aku benar-benar mencintaimu"

" anu—sebelum aku menjawabnya, aku ingin mengatakan sesuatu—"

Chen mengangkat kepalanya, ia menatap dalam ke arah mata Chanyeol yang kini benar terlihat bersungguh-sungguh dan tulus akan apa yang ia katakan. Chen tersenyum, ia memutuskan akan meluapkan semua yang ada di pikirannya.

" Sweetie—"

Mata Chanyeol mengerjap, ia sedikit bingung bagaimana anak tetangga Chen ada di dalam perbincangan tentang masa depannya.

" dia—dia bukan anak tetanggaku—"

" kenapa kau malah membicarakan bayi itu?"

" karna—"

Chen melihat tatapan Chanyeol yang masih setia menunggu kata-kata yang sedari tadi terpotong oleh ketidak sabaran dari Chanyeol.
Yeoja itu menghirup udara dalam-dalam.

" dia anakku"

" yayaya aku tau, jadi lanjutkan kata-katamu tadi—EH?! Apa kau bilang tadi?"

" Sweetie, dia anakku. Kim Daeyeol—"

Terlihat dengan jelas bagaimana ekspresi bingung yang ada di wajah tampan Chanyeol.

" di—dia anakmu?"

Chen mengangguk.

" dimana dia sekarang?"

" EH? Anak itu!"

" di—di rumahmu—Daddy mengambilnya tadi pagi—"

" MWO? Mereka?"

Ekspresi tidak percaya itu benar-benar nyata.

Chen bisa melihat ekspresi itu menjadi suatu yang ambigu, terlebih wajah tampan Chanyeol kini menegang. Tidak lama untuk mereka berdua berpindah ke rumah megah keluarga Park.

" Kyaaaa! Dia manis sekali, Jungsoo! Cucuku, sini-sini—nenek disini. Kyaaa! Jungsoo! Dia berjalan ke arahku! Dia manis sekali!"

" jangan berteriak di depan anak kecil, Chulie"

" tapi dia membawakan bunga untukku! Kyaaaaa"

Suara pekikan-pekikan dari Heechul membuat Chanyeol membeku diambang pintu menuju halaman belakang rumahnya. Dari kaca tembus pandang itu ia bisa melihat bagaimana Heechul tengah bermain dengan seorang balita yang belajar berjalan ke arahnya. Bersama itu Yesung dan Jungsoo sedang sibuk menikmati kopi sambil memperhatikan Wookie dan Heechul dari kejauhan.

" Sweetieee! Kyaaa! Yesung! Dia lebih memilih Heechul eoni"

Suara manja dari Wookie, hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Yesung.

Chen tidak berani menatap Chanyeol lagi setelah mendapati Chanyeol terdiam dengan ekspresi tidak terbaca sambil memandangi anaknya. Chanyeol melangkah kembali hingga tiba di depan bayi mungil yang tersenyum manis sambil merangkak ke arahnya. Ke dua pasang orang tua itu menatap kaget pada ke beradaan Chanyeol yang tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan Daeyeol yang sudah berada tidak jauh darinya.

" di—dia anakku?"

Tanya Chanyeol entah pada siapa.
Semua terdiam—

" apa dia anakku?! Kenapa tidak ada yang menjawab? APA DIA ANAKKU?!"

Pekikan itu membuat Daeyeol kaget. Meskipun begitu balita itu tetap tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Chanyeol yang menatapnya dalam.

" ppaa—ppaaa"

Air mata itu sukses membasahi pipi Chanyeol. Namja tampan itu tidak bisa menjelaskan apa yang ada dipikirannya kali ini, yang ia bisa lakukan adalah bagaimana ia merendahkan tubuhnya dan memeluk erat bayi mungil itu dalam dekapannya. Chen dan yang lainnya bisa melihat bagaimana Chanyeol menangis sambil mencium dan mengatakan maaf pada Daeyeol berkali-kali. Jungsoo dan Yesung tersenyum simpul atas apa yang mereka lihat. Setelah lama, Chanyeol sambil menggendong Daeyeol berlutut dihadapan Yesung dan Jungsoo yang sudah bersama dengan Chen di tengah-tengah mereka.

" ku mohon—ijinkan aku menikahi Chen, demi anak yang selama ini tidak ku ketahui keberadaannya. Demi anak yang selama ini aku abaikan keberadaannya. Aku mohon—"

Yesung dan Jungsoo menatap Chen yang menunduk.

" bagaimana Chen? Apa kau percaya pada kata-kata namja bodoh ini?"

Tanya Jungsoo.

Chen tersenyum bersama dengan air mata yang meleleh di pipi tirusnya. Ia merasakan Yesung meremas pundaknya pelan. Yesung mengangguk dengan senyum menawan yang selalu menyejukkannya. Ahirnya Chen mengangguk sambil memeluk Yesung.

" dia menerimamu—chagy"

Bisik Heechul pada Chanyeol.
Chanyeol mengarahkan pandangannya pada Chen.

" ku mohon—"

Mendengar kata-kata lembut itu Chen melepaskan pelukannya pada Yesung dan memeluk Chanyeol bersama dengan anaknya yang berada di pelukan Chanyeol. Wookie dan Heechul sedikit memekik kegirangan.

" ayo buat makan malam special!"

Kedua pasang orang tua itu berjalan meninggalkan keluarga kecil yang tengah berpelukan menyalurkan semua perasaan yang mereka miliki.

" Mianhe, Chen. Mianhe Daeyeol"

Bisikan itulah yang terus Chanyeol ucapkan selama memeluk Chen dan Daeyeol.

" maafkan aku yang bodoh ini—maafkan aku"

Chen tidak bisa mengatakan apapun atas apa yang ia alami hari ini. Keduanya saling menguatkan dengan pelukan yang mereka miliki, tanpa kata namun kehangatan itu menjalar pada ruang kecil di hati mereka. Baik Chen atau Chanyeol, keduanya tidak ada yang bisa mengatakan kebahagiaan yang mereka terima hari ini dengan kata-kata.

Makan malam kali ini, adalah yang paling special yang pernah Chen dan Chanyeol rasakan. Dimana kedua keluarga mereka terlihat menikmatinya dengan perasaan bahagia. Bersama dengan Daeyeol kecil yang bermanja di pelukan Chanyeol membuat suasana bertambah menyenangkan. Setelah selesai makan, Jungsoo kembali dengan dua map dan menyerahkannya pada Chen dan Chanyeol.

" apa ini?"

" baca saja—"

Chen mengerutkan keningnya saat melihat seringai kecil di wajah Heechul. Mata Chen membulat saat mendapati surat-surat pernikahan dan perceraian miliknya masih tersimpan rapi.

" aku tidak pernah memberikannya pada pihak pengadilan, meskipun kalian mengatakan ingin berpisah—tapi kami tau jika itu tidak akan lama. Aku meminta pengacara untuk membuatkan dokumen palsu atas perceraian kalian—jadi selama ini kalian tidak bercerai hanya saja membiarkan kalia membenahi perasaan kalian adalah jalan terbaik untuk keluarga kalian. Aku memang sengaja untuk tidak benar-benar mengajukan surat ini pada pengadilan, mengingat kalian masih terlalu dini dan gampang sekali terprovokasi. Ku serahkan kembali dokumen itu pada kalian, aku rasa sudah saatnya kalian memutuskan segalanya sebaik mungkin. Untuk kalian dan untuk bayi kalian"

" Daddy—"

Jungsoo mengangguk dengan senyum menyenangkan.

"Ya! Jungsoo! Kenapa kau menyembunyikannya dariku?! Apa—apa Yesung juga tau?"

Protes Heechul.

" tidak ada yang luput dari penglihatanku, Heechulie"

" kau jahat! Yesungie! Bahkan kemarin kau tidak mengatakan pada kami tentang keberadaan Sweetie dan sekarang kalian—Yaaaa!"

Yesung dan Jungsoo menggeleng.

" kalian hanya akan mengganggu, dan lagi—Chen yang memintanya"

Kini semua orang menatap Chen dengan tatapan menyelidik. Hingga Chanyeol memberikan Daeyeol pada Heechul dan menarik Chen kedalam gendongannya.

" Kyaa! Turunkan aku!"

" kau harus menjelaskan semuanya padaku!"

" Kyaa! Appa! Eoma! Daddy! Mommy!"

Pekikan itu hanya di anggap angin lalu saat mereka berdua sudah sampai di dalam kamar Chanyeol. Namja tampan itu membaringkan Chen di atas ranjangnya.

" kenapa?"

" apanya?"

" kau tidak memberitahuku?"

Chen mengalihkan perhatiannya ke samping namun Chanyeol dengan cepat membawa Chen untuk menatapnya.

" karna aku tidak ingin menyakiti orang lain—"

" Baekhyun?"

Chen menangguk.

" Mianhe—"

Chen bisa melihat penyesalan dari Chanyeol. Yeoja itu juga bisa merasakan tetesan air mata milik Chanyeol di pipinya. Hingga ia tidak lagi bisa menahan perasaannya dan mencium bibir Chanyeol. Ciuman untuk menghentikan tangis penyesalan itu berubah menjadi ciuman liar saat Chanyeol sepenuhnya sadar akan apa yang istrinya lakukan.

.

.

.

Seorang yeoja keluar dari pintu kedatangan internasional, ia sungguh merindukan suasana korea yang sudah lama ia tinggalkan.

" Yosss! Baekie! Kau bisa! Tinggal kembali ke sekolah dan mengurus semuanya—kkk"

Yeoja dengan mantel coklat itu mengeratkan mantelnya dan berjalan penuh percaya diri diantara orang-orang yang menatapnya tidak percaya. Baekhyun, mengerjapkan matanya saat seorang yeoja mendekatinya dengan sebuah buku kosong dan spidol.

" tolong beri aku tanda tangan—aku fans beratmu, Baekhyun-ssi"

" eh?"

" aku menonton berulang-ulang film yang kau perankan. Aku sangat menyukai aktingmu!"

" eh?"

Baekhyun tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, kalau mereka minta tanda tangan dan berfoto Baekhyun masih bisa percaya jika ia masih dicintai oleh fansnya meskipun sudah lebih dari 3 tahun ia fakum. Tapi—mendengar mereka mengatakan tentang film? Film apa? Itulah yang masih menjadi tanda tanya di kepala yeoja itu.

" film? Apa mereka gila? Bahkan sejak aku masuk SMA aku sudah berhenti dari dunia entertainment—ckck"

Yeoja manis itu berjalan keluar dari bandara. Ia bahkan tidak mengiraukan seorang namja yang menatapnya tanpak seperti kaget dan tidak percaya. Seorang namja yang juga sedang di kerubuti oleh fans. Saking bingungnya Baekhyun langsung berlari menyetop taxi yang kebetulan lewat di depan bandara.

" Oh?! Noona Baekhyun? Benarkah?"

" ne?"

" Ya Tuhan! Betapa beruntungnya taxi ini ditumpangi oleh artis terkenal. Aku sangat menyukai anda, lihatlah aku juga memajang foto anda di mobil ini. Istriku sangat senang dengan film yang anda perankan—apa setelah aku mengantar noona, aku bisa meminta foto dan tanda tangan anda? Istriku sedang hamil"

Namja baya itu tersenyum sedikit menceritakan adegan sebuah film yang ia sukai. Baekhyun? Ia hanya menggeleng dan mengatakan jika ia tidak seterkenal itu. Setelah sedikit berpose bersama dengan supir taxi Baekhyun memasuki kawasan mewah sebuah apartemen. Ia ingat dengan apartemen yang biasa Jessica sebutkan sebelum ia meninggal.

" senang sekali bertemu dengan anda noona Byun. Ini kunci apartemen anda—"

" EH?"

Baekhyun nampak seperti orang bodoh yang datang dari planet asing dimana semua orang bisa mengenalinya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan keadaan dimana semua orang menyapanya dengan sapaan yang benar-benar tidak bisa Baekhyun bayangkan. Setibanya di apartemen itu Baekhyun nampak sedikit syok dengan apa yang ada di hadapannya. Ruangan itu berantakan dengan pakaian yeoja yang tergeletak begitu saja dilantai.

" astaga! Apa eoni menggunakan seluruh ruangan di apartemen ini untuk bercinta sebelum meninggalkannya? Aku harus kerja ekstra, fiuh!"

Setelah 4 jam berberes ahirnya apartemen itu kembali bersih dan layak dihuni, Baekhyun berbaring dan tertidur hingga pagi kembali menyingsing. Baekhyun tersenyum menemukan mobil yang ada di parkiran.

" woo—aku tidak tau jika eoni suka dengan mobil sport seperti ini. Yoossh, lebih baik aku pakai ke kampus saja kkk"

Baekhyun menggunakan mobil itu untuk pergi kesebuah kampus, ia berniat untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru. Dengan semangat ia menutup mobilnya.

" Hey! Baekiiee—apa kau sedang tidak sibuk? Tumben sekali kau berangkat ke kampus? Padahal aku sudah mempersiapkan alasan untuk memberimu absensi"

" eh?"

" tenang saja, tugasmu sudah kami buatkan. Ini! Kajja kita harus segera masuk ke kelas, karna seperti biasa Mr Chou akan memberikan ceramah cerianya jika kita telat"

" eh?"

Tangan Baekhyun diampit oleh dua namja yang tidak ia ketahui, ke dua orang asing itu memperlakukannya seperti ratu saat memasuki sebuah ruangan.

" tumben sekali artis kita masuk?"

" Ya! Sulli, jangan bertingkah deh—"

" Jiyoung aku hanya menyapanya, jadi jangan salah artikan. Ok?"

Yeoja bernama Sulli itu kembali ke bangkunya yang berada di depan.

" seperti biasa Jiyoung dan Sandeul akan menjadi antek-antek seorang Byun Baekhyun"

" diam kau Krystal!"

Suasana yang tidak begitu menyenangkan menyapa Baekhyun. Hingga seorang dosen masuk, dosen itu menoleh sekilas pada Baekhyun dan mulai menerangkan pelajarannya. Memang Baekhyun ingin masuk jurusan seni bisnis, itulah mengapa ia memutuskan untuk datang ke kampus ini. Namun sungguh Baekhyun tidak mengerti mengapa ia sudah bisa berada di dalam kelas yang merupakan tingkat semester 5, bukankah itu terlalu cepat? Dan lagi—Baekhyun sama sekali tidak mengenal siapa-siapa di kelas yang ia masuki saat ini.

" noona Byun, bisakah kau konsentrasi hanya pada papan tulis? Apa kau mendengarkanku?"

" Eh?"

" baiklah, aku tidak begitu perduli dengan ketenaran yang kau miliki dan apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Hanya saja—setelah kau menjawab soal ini"

Namja baya dengan kacamata minus itu menunjuk papan tulis yang berisikan rumus kalkulus dalam salah satu teori bisnis. Baekhyun berjalan dengan sedikit bingung, ahirnya ia mampu mengingat dimana ia melihat rumus-rumus menjenuhkan di papan tulis. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk seorang Baekhyun menjawab dengan benar soal yang ada di papan. Dan sorakan itu menyertai seisi ruangan atas keberhasilan Baekhyun.

" ada apa dengan kelas ini?"

Batin Baekhyun.

Jam pergantian perkuliahan dimulai setelah Mr Chou keluar dari kelas. Sandeul dan Jiyoung langsung mengajak Baekhyun kekantin.

" hah! Itu sangat menegangkan—kau sangat keren, Baek!"

" tidak seperti itu"

" jangan merendah, kau memang luar biasa. Otakku tidak bisa memproses rumus tadi—bahkan Mr Chou belum menjelaskannya pada kita. Dari mana kau belajar? Aku tidak yakin jadwalmu sebagai artis bisa memberimu waktu untuk membaca rumus membosankan itu—"

" hehehe, seseorang pernah mengajariku"

Sandeul dan Jiyoung memberikan makanan yang katanya biasa Baekhyun pesan. Sebuah yogurt dan lemon tea terhidang di depan Baekhyun. Makanan yang jarang Baekhyun sentuh dan yang paling tidak ia sukai. Baekhyun ingin memprotes siapa yang memesankan makanan untuknya namun melihat dengan semangat Sandeul membawakan untuknya, ia tidak sampai hati. Tidak sengaja Baekhyun melihat Chen dan Chanyeol yang sedang mengobrol di pojok kantin.

" aku dengar mereka sudah kembali jadian—"

" yah, sejak kau dekat dengan Kai-ssi dan mencampakkan Chanyeol sunbae"

" tunggu—aku mencampakkan Chanyeol oppa? Demi Kai-ssi?"

" Woo bahkan kau memanggilnya oppa? Tumben sekali—"

" ini tidak benar!"

Baekhyun berjalan mendekati meja Chanyeol dan Chen.

Dua sejoli yang sedang berantem itu menatap tidak percaya pada Baekhyun yang kemudian duduk di hadapan mereka.

" Ba—baek—hyun?"

" ne, ini aku. Kenapa kalian berdua melihatku seperti hantu?"

Tanya Baekhyun.

Chen dan Chanyeol benar-benar meneliti siapa yeoja yang ada di hadapannya.

" oppa, apa maksudnya dengan aku mencampakkanmu demi Kai-ssi? Aku mendengarnya dari dua orang teman yang tidak ku kenal. Oppa, bahkan kita tidak pernah berhubungan setelah kita bertemu di lapangan saat kau di hukum bersama dengan kekasihmu ini—"

" Baekhyun?"

Baekhyun memberikan tatapan menuntut pada Chanyeol.

" eoni—apa setelah eoni bertemu kami tempo dulu eoni tidak mengingat bertemu kami lagi?"

" hey, aku sama sekali tidak berniat bertemu dengan kalian berdua dalam waktu yang sering. Aku pergi ke Australia menemui eoniku—dan eoniku meninggalkanku disana tanpa passport. Saat aku menyusul ke jepang ternyata dia sudah meninggal dan dikubur entah dimana. Rumah kami yang ada dijepang kosong—hanya sebuah pesan yang membuatku harus bertahan di Australia. Setelah itu semuanya selesai—"

" kau ke Australia?"

" dan baru kembali kemarin—kekasih eoniku mengatakan untuk tetap disana"

Chanyeol dan Chen mengangguk.

" Baekie! Kita masih ada kelas, ayo!"

Teriak Sandeul sambil mengangkat tas Baekhyun yang tertinggal di meja mereka. Baekhyun menatap Chen dan Chanyeol.

" ku mohon, beritau aku apa yang terjadi selama aku tidak ada di korea—"

Baekhyun berdiri saat Sandeul dan Jiyoung mendekat.

" datanglah ke alamat ini—"

Chanyeol memberikan sebuah alamat pada Baekhyun setelah menyobek buku Chen.

" kau akan mengetahui semuanya—kami menunggumu"

Baekhyun mengangguk dan pergi meninggalkan Chen dan Chanyeol.

" kalau ingin membatalkan pernikahan silahkan, Baekhyun-mu sudah kembali-oppa"

Desis Chen sinis.
Chanyeol tersenyum memeluk Chen.

" bagus sekali kau memanggilku oppa—kau cemburu eoh?"

" tidak ada yang cemburu!"

" oppa hanya untukmu, Chenie sayang—"

" Ya!"

Chanyeol mencium Chen kilat.

" lebih baik kita beritahu Kris dan Suho agar kita tidak susah-susah membicarakan hubungan kita"

" aku tidak mau!"

" Yaaa—nyonya Park sedang merajuk eoh?"

Godaan itu membuat Chen dan Chanyeol tertawa.

.

.

Kris dan Suho menatap siapa yang datang dengan mata lebar yang mereka punya.

" jadi—kau berada di Australia dalam waktu yang lama?"

Baekhyun tidak mengenal mereka, ia menoleh pada Chanyeol dan Chen yang hanya mengangkat bahu meminta Baekhyun mendengarkan dan fokus pada dua namja yang sedang menatapnya intens. Kris mengangguk, ia menjelaskan semua yang ingin Baekhyun ketahui tentang dirinya yang berada di Seoul selama hampir 2 tahunan. Yeoja itu begitu tidak percaya mendengar kenyataan bahwa Jessica telah dibunuh oleh rekan kerjanya. Menjelaskan sebagian besar operasi yang telah mereka lakukan hingga terahir mereka mengetahui siapa Baekhyun yang selama ini berada di samping mereka.

" tidak mungkin—"

" kamipun tidak percaya—"

Suho menjelaskan semua yang ia ketahui tentang Baekhyun dari bagaimana Baekhyun berada di tengah mereka hingga perbuatannya merusak hubungan Chen dan Chanyeol yang berujung pada jatuhnya Baekhyun di pelukan seorang artis yang sama sekali tidak Baekhyun ketahui bernama Kai. Suho menjelaskan secara detail membuat Baekhyun sedikit shock.

Dengan ucapan dari Kris dan Suho yang berputar-putar di kepalanya Baekhyun meminum beberapa botol soju. Kenyataan dimana orang yang menyuruhnya tinggal di Australia, orang yang mengaku menjadi kekasih Jessica adalah orang yang membunuh Jessica. Baekhyun menangis memeluk foto dirinya dan Jessica, kenyataan bahwa Jessica adalah seorang penjahat yang dicari oleh kepolisian membuat Baekhyun merasakan kekecewaan dan kesedihan dalam waktu bersamaan.

" kenapa eoni—kenapa eoni melakukan itu?"

Isak Baekhyun.

Seorang masuk ke apartemen itu, ia kaget mendapati Baekhyun tengah menangis di ujung sofa. Kai—kai tersenyum dalam ketidak sadarannya, bahkan ia merasakan bagaimana menatap Baekhyun yang juga sudah setengah sadar.

" Baekhyun—"

Ucap Kai lirih.

" si—siapa—eumppp"

Malam itu menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Malam penuh dengan gairah cinta yang baru saja mereka ukir dalam catatan sejarah kehidupan mereka. Membiarkan ruangan itu kembali menjadi saksi bisu percintaan yang baru saja mereka rajut.

.

.

.

.

See Yaa

Hemm komentar temen-temen benar-benar membuat author berpikir beberapa kali untuk nulis lagi, seneng sih apalagi kalau ada ktitikan atau saran paaaanjang dari reader membuat pandangan author semakin luas dan semangatku berkobar hhhhh#gomawo

See Ya next time

Author hanya bisa tertawa #epil hehehe

See Ya next chapter!

Gomawo untuk reviewnya

Untuk ff Mistery kemungkinan diundur tayangnya kkk