Title : Pistol e rose chapter 10
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Ahn Hani
Others
…
..
.
Hani membulatkan matanya terkejut ketika mendapati Chanyeol di depan pintu masuk dengan Baekhyun yang tertidur di dalam gendongannya.
"O-oppa, a-apa yang terjadi?" Chanyeol tak menjawab, ia hanya meminta wanita itu untuk tidak berisik. Hani menurut dan mengikuti langkah sang suami menuju kamar mereka, membaringkan Baekhyun dan menyelimutinya.
"Oppa kenapa Baekhyun oppa?" tanya Hani ketika Chanyeol telah berhasil menutup pintu kamar mereka dalam kesunyian.
"Sesuatu yang buruk menimpanya, aku akan menceritakannya padamu nanti, dan bisakah aku meminta tolong padamu untuk membersihkan kamar Baekhyun yang dulu? Untuk beberapa hari ke depan aku akan memintanya menginap disini." Hani terdiam sejenak, namun kemudian mengangguk dan dengan cepat menuju ke kamar lama Baekhyun.
Chanyeol melepas kancing teratas kemejanya dan melipat kemeja bagian tangannya untuk mempermudahkannya bergerak sebelum akhirnya ia berjalan ke dapur untuk mengambil air dan handuk kecil.
Tubuh Baekhyun mendadak panas selama perjalanan, bahkan wajahnya pun pucat karena kelelahan menangis. Karena itu ia membawanya ke apartemennya, tidak tega meninggalkan Baekhyun seorang diri disana.
Sepanjang malam Chanyeol selalu terjaga untuk menemani Baekhyun yang terus mengigau dalam tidurnya dan menggeliat tidak nyaman. Setelah mendengar semua ceritanya, Chanyeol bersyukur bahwa Hani dengan cepat memaklumi keadaan Baekhyun dan mengalah untuk tidur di kamar lama Baekhyun membuat Chanyeol setidaknya lebih leluasa untuk menjaga bayi besarnya.
"Kakek, ba-bawa aku pergi ber-bersama kakek. Dunia ini kejam kek." Chanyeol terbangun mendengar rancauan Baekhyun, karena itu ia segera bangkit dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan lelaki itu untuk memberikan sebuah pelukan hangat.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi Baekhyun, aku akan selalu menjagamu sayang." Bisik Chanyeol sambil mencium pipi panas Baekhyun dengan sayang.
Pagi harinya suara ketukan pintu membuat Chanyeol terbangun, ia cukup terkejut namun di detik berikutnya ia tersenyum melihat Baekhyun terbaring pulas disampingnya.
"Oppa? Aku ingin mengambil pakaian kerjaku, apa oppa sudah bangun?" Chanyeol terbangun dan segera berlari menuju pintu. Hani ada disana, tersenyum lembut kearahnya meski mata wanita itu melirik kearah ranjang yang membuat Chanyeol tersenyum canggung.
"Maafkan aku, aku tertidur karena semalaman terjaga." Hani mengangguk lalu mengecup pipi Chanyeol dan berjalan masuk.
"Oh, suhu tubuhnya sudah menurun." Ucap Hani senang setelah menapakan telapak tangannya pada kening Baekhyun, lalu berjalan menuju lemari dan mengambil pakaiannya.
"Oppa, sebaiknya oppa izin saja, nanti sepulang kerja aku yang akan menjenguk ibu dan menemani mereka disana, oppa hanya perlu merawat Baekhyun oppa, kasihan dia." Ucap Hani. Chanyeol tersenyum senang dan begitu terharu atas kebaikan istrinya, karena itu ia mendekati Hani dan mengelus pipinya sayang.
"Terima kasih."
"Sama-sama, kalau begitu aku berangkat. Sampai bertemu nanti malam." Chanyeol mengangguk dan membiarkan istrinya berlalu meninggalkan kamar mereka.
Chanyeol melirik Baekhyun dan menghela nafas pelan, ia mendekat dan kembali mengecek suhu tubuh Baekhyun. Sebuah kecupan ia curi dari bibir yang lebih pendek, karena terlalu gemas melihat Baekhyun tertidur dengan bibir sedikit terbuka.
…..
Sore harinya Baekhyun terbangun dan keningnya mengernyit saat sebuah benda setengah basah berada di dahinya. Ia mencoba duduk dan matanya menyapu sekitar, betapa terkejutnya saat ia menyadari bahwa sekarang dirinya sedang berada di kamar Chanyeol.
Dengan sisa tenaga yang ia milikki, ia mencoba bangkit namun tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekedar menapak pada lantai kamar, karena itu ia memilih untuk kembali berbaring dan menutup matanya dengan satu tangan, hingga lintasan kejadian kemarin berputar-putar dikepalanya membuat suasana hatinya kembali buruk.
"Kenapa ini harus terjadi padaku?" Gumamnya pelan mencoba menyembunyikan isakannya. Suara pintu terbuka membuat ia tersadar bahwa tak hanya dirinya sendiri yang berada di dalam apartemen itu.
"Kau sudah bangun?" suara Chanyeol menyapa indera pendengarannya, sehingga dengan cepat Baekhyun mengusap air mata dan membalik tubuhnya tak ingin Chanyeol mendapati dirinya sedang bersedih.
"Hm." Sahutnya dengan suara yang seraknya. Chanyeol berjalan masuk dengan segelas air dan semangkuk bubur hangat lalu meletakkannya diatas meja.
"Makanlah, agar kau bisa meminum obat."
"Aku tidak lapar Chanyeol." Suara lirih Baekhyun membuat Chanyeol merasa turut sedih akan keadaan Baekhyun, karena itu ia mendekat dan duduk disamping yang lebih pendek, tangannya ia bawa pada punggung Baekhyun dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku tidak tahu bahwa kau begitu mencintai lelaki brengsek itu." Seketika Baekhyun menegang akan ucapan Chanyeol yang jelas tersirat sebuah kecemburuan disana.
"Ti-tidak bukan begitu."
"Aku bisa melihatnya, ada ketidakrelaan ketika kau harus melepaskannya. Baekhyunie_" Baekhyun membalik tubuhnya dan menatap Chanyeol dengan mata sembabnya membuat Chanyeol tersenyum lembut.
"Dulu aku melepaskanmu untuknya karena aku pikir dia adalah pria yang baik dan pantas untukmu, tapi jika tahu sebrengsek ini aku tak akan pernah merelakanmu untuknya." Baekhyun merendahkan arah pandangnya, sama sekali tak berani menatap kearah mata yang lebih tinggi.
"Maafkan aku_"
"Kau tidak perlu meminta maaf sayang." Satu elusan Baekhyun terima di pipinya dan itu membuat dua pasang mata itu kembali bertemu dan saling mengunci tatapan satu sama lain.
"Mulai sekarang, kau akan kembali dalam pengawasanku dan jika kau ingin memiliki kekasih kau harus menanyakannya padaku dulu, aku yang akan menentukan dia pantas atau tidak untukmu." Baekhyun menatap Chanyeol terkejut, sebelum akhirnya mata sabitnya terbentuk karena ia tersenyum kecil.
"Jadi ini seperti aku yang harus melapor padamu dulu?" Chanyeol terkekeh pelan sambil mengusak rambut Baekhyun, lalu teralih pada semangkuk bubur dimeja.
"Jadi, sekarang ayo makan dulu!" Baekhyun mengangguk sambil memperhatikan Chanyeol yang sedang meniup buburnya.
Baekhyun yang sakit adalah Baekhyun yang bertransformasi menjadi anak kecil yang manja, itu bukan hal aneh lagi karena Chanyeol sudah tahu betul bagaimana Baekhyun bersikap manja jika dirinya sedang sakit.
Seperti saat ini, Baekhyun bergelantung manja di leher Chanyeol sementara pria itu sedang sibuk menyeduhkan susu untuknya. Satu tangan Chanyeol sibuk pada teko air di depannya namun satu lagi menopang tubuh Baekhyun agar tidak terjatuh. Semua bermula ketika Chanyeol memaksa Baekhyun untuk bangkit dari ranjang, namun dengan manja lelaki itu berkata bahwa ia ingin digendong dan akhirnya Chanyeol menyanggupi itu.
"Nah, susumu sudah jadi Tuan putri." Baekhyun terkekeh sambil mengeratkan pelukannya, sementara Chanyeol berjalan menuju ruang tengah untuk mendudukan tubuh keduanya diatas sofa. Chanyeol mengambil susu diatas meja yang baru saja ia letakkan, meniupnya sejenak lalu memberikannya pada Baekhyun.
Lelaki itu menerimanya sambil meniup-niup uap yang muncul membuat Chanyeol tersenyum kecil atas keimutan Baekhyun. Chanyeol dulu tidak mengerti bagaimana pria bisa jatuh cinta pada pria tapi setelah mengenal Baekhyun dia tahu bahwa cinta bisa datang pada siapapun tidak peduli jenis kelamin.
Baekhyun meminum susunya sambil matanya menatap jenaka kearah Chanyeol yang memperhatikannya, dalam hisapannya ia tersenyum membuat pipi putih itu mengembang seperti tofu.
"Kenapa?" tanya Chanyeol saat Baekhyun menurunkan gelasnya dan seperti dugaannya noda susu menempel disekitar bibir Baekhyun.
"Apa aku setampan itu sampai kau memperhatikanku dengan wajah bodoh begitu?" ledek Baekhyun. Chanyeol terkekeh pelan, tangan yang semula ingin mengusap sisa noda di bibir Baekhyun tertahan dan akhirnya ia mengambil gelas susu Baekhyun lalu meletakkannya diatas meja.
"Harus berapa kali aku katakan, kau itu tidak tampan tapi cantik." Baekhyun meniup poninya pura-pura kesal dengan tangan terkepal di depan perutnya, tapi di detik kemudian ia menghela nafas sambil tersenyum.
"Aku anggap itu sebagai pujian." Ucapnya lagi sambil hendak mengambil susu diatas meja namun ditahan Chanyeol. Baekhyun menoleh dan kali ini raut wajah Chanyeol terlihat lebih serius.
"Baek, jika aku memintamu untuk kembali seperti dulu apa kau bersedia?" Baekhyun mengernyit dalam.
"Aku rasa tak ada yang berubah denganku."
"Bukan kau, tapi kita. Aku ingin kita kembali menjalin hubungan seperti dulu." Seketika tubuh Baekhyun menegang, kepalanya ia tundukan dalam sambil memilin pakaian tidurnya. Chanyeol tahu bahwa Baekhyun sedang kebingungan sekarang, dia sudah hafal betul bagaimana sikap Baekhyun.
"Chanyeol, aku_"
"Aku tahu kau masih mencintaiku." Baekhyun terdiam, perlahan matanya mencoba mencari mata Chanyeol, namun dengan sedikit kegugupan ia kembali menunduk.
"Aku benar kan?" Baekhyun masih tertunduk membuat Chanyeol sedikit geram.
"Katakan Baekhyun, kau masih mencintaiku kan?" Akhirnya sebuah anggukan pelan dari yang lebih kecil membuat Chanyeol tersenyum lebar. Ia menarik kepala Baekhyun cepat dan mengecup puncaknya, seolah menyalurkan perasaan leganya.
"Katakan Baekhyun, katakan bahwa kau mencintaiku agar aku memiliki alasan untuk tetap hidup." Bisik Chanyeol pelan.
"A-aku mencintaimu Chanyeol." Bisik Baekhyun amat sangat lembut. Chanyeol tersenyum, ia menjauhkan tubuh keduanya lalu mendekap kedua pipi Baekhyun dan mencium bibir merah muda itu dengan gemas, bahkan Baekhyun sampai menjerit karena Chanyeol menyedot bibirnya dengan keras.
"Tapi aku tidak tahu, apa kita bisa menjalani hubungan tersembunyi seperti dulu." Chanyeol terdiam sambil memperhatikan Baekhyun lamat, hingga akhirnya tatapannya meredup dan elusan sayang ia bawa pada pelipis Baekhyun.
"Aku akan memikirkannya. Kau tidak perlu cemas, sekarang yang perlu kau lakukan adalah makan yang banyak, minum obat dan lekaslah sembuh." Baekhyun mengangguk sambil hendak kembali mengambil susunya namun Chanyeol telah lebih dulu mengambil gelas itu.
"Eih, apa yang kau_euuh…menjijikan." Baekhyun memutar bola matanya malas melihat Chanyeol meminum susunya namun tidak segera menelannya, lelaki itu memajukan bibirnya yang meminta Baekhyun untuk menyatukan bibir keduanya.
"hhmm…ehmmm.." Chanyeol menarik-narik tangan Baekhyun sambil menyentuh bibirnya, akhirnya Baekhyun menuruti Chanyeol. Ia mendekatkan bibirnya hingga cairan putih itu berpindah ke dalam mulutnya. Chanyeol tersenyum senang lalu menindih tubuh Baekhyun dan menyerang bibir itu lagi dengan perasaan senang.
Baekhyun pun membalas permainan Chanyeol, rasanya sudah lama untuk keduanya kembali terlibat dalam suasana intim, tenang dan tanpa kekhawatiran. Suhu tubuh Baekhyun pun berangsur menurun, karena obatnya ketika sakit bukanlah obat pada umumnya melainkan berada disisi Chanyeol.
…
..
.
Keesokan harinya, Baekhyun masih menginap di apartemen Chanyeol namun ia sudah menempati kamarnya yang dulu. Ia masih diminta beristirahat oleh Chanyeol sementara lelaki itu tetap bekerja membuat Baekhyun merasa bosan berada di apartemen seorang diri.
Kondisi tubuhnya sudah membaik tapi tetap saja Chanyeol tak akan memberikan izin untuknya kembali bekerja. Daripada terlibat pertengkaran lagi, akhirnya Baekhyun memilih menurut.
Ponselnya berdering dan ia terkejut karena ada nama Soyou tertera disana. Ia berdeham untuk membersihkan tenggorokannya, sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu dan mendengar suara berat wanita Kang itu diseberang telepon.
"Oh, Halo Baekhyun-sshi? Apa hari ini kau sibuk?"
"Hm, tidak begitu. Ada apa?"
"Hmm.. Kyungsoo ingin bertemu sebelum ia kembali ke New York, apa kau bisa?" Baekhyun berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah, dimana dan pukul berapa?"
"La Viento, pukul 2 siang."
"Baiklah. Sampai bertemu nanti." Baekhyun terdiam sejenak sambil menatap ponselnya, mencoba berpikir kembali apakah langkah yang ia ambil sudah benar atau tidak. Baekhyun melirik kearah jam di dinding sebelum akhirnya mengangguk dan segera bangkit. Ia memiliki waktu 3 jam untuk kembali ke apartemennya dan mengganti pakaian sebelum nantinya bertemu dengan Kyungsoo dan Soyou.
…..
Baekhyun memasuki La Viento dan menemukan dua sosok familiar yang akan ia temui. Seperti biasa Soyou terlihat cantik dan elegan dengan pakaian formalnya sementara Kyungsoo terlihat tampan dengan sweater putihnya.
"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Baekhyun sambil menarik salah satu kursi di depan Kyungsoo dan Soyou. Kedua sosok itu tersenyum sambil menjabat tangan Baekhyun.
"Apa aku melewatkan sesuatu? Wajahmu terlihat pucat_" Ucapan Soyou tersela oleh sikuan Kyungsoo, meski dilakukan dibawah meja namun Baekhyun mengetahui gelagat aneh keduanya.
"Ya, aku demam kemarin mungkin karena Chanyeol mengajakku berkeliling di malam sebelumnya." Kyungsoo melirik Soyou sejenak namun keduanya akhirnya tersenyum, melihat kecanggungan itu Baekhyun segera mencairkan suasana dengan berdeham dan menanyakan tujuan mereka bertemu.
"Awalnya aku ingin sedikit berbasa-basi, tapi Soyou benar kau orang yang selalu to the point . Jadi, baiklah mari kita selesaikan ini!" Ucap Kyungsoo sambil tersenyum.
"Aku meminta maaf atas semua kekacauan yang diciptakan suamiku, aku pikir kali ini kami akan benar-benar berakhir dan aku bahkan sempat berpikir untuk membesarkan Kai seorang diri, tapi ternyata hatiku masih ingin memberikannya kesempatan untuk kesekian kalinya." Ucapan Kyungsoo dan senyum tulus pria itu membuat Baekhyun terhenyuk, ia tidak menyangka bahwa setelah disakiti sedemikian rupa pria itu memilih untuk memaafkan suaminya yang benar-benar brengsek.
Hal itu membuatnya berpikir tentang Chanyeol. Berapa kali pun Baekhyun menyakiti sosok itu, Chanyeol pasti akan kembali dan memaafkannya. Baekhyun tersenyum, ia meraih tangan Kyungsoo dan mengelusnya dengan lembut.
"Itu karena kalian memang ditakdirkan bersama. Anggaplah kehadiranku di perjalanan rumah tangga kalian sebagai salah satu kerikil yang memang seharusnya ditendang jauh atau diabaikan." Kyungsoo semakin tersenyum lebar dan balas menyentuh tangan Baekhyun.
"Kyungsoo-sshi, kalian adalah keluarga yang bahagia. Aku bahkan tak menyangka jika dua orang pria mampu untuk hidup bersama dalam kurun waktu yang lama. Kau membuatku iri." Meski mengatakannya secara jujur, namun Baekhyun tetap memperlihatkan senyumannya pada pria di depannya.
"Mungkin sedikit membuatmu terkejut, tapi dulu aku adalah pihak yang selalu menolak pernikahan kami, bahkan diusia berpacaran yang sudah cukup lama aku masih ragu untuk menerima lamarannya." Baekhyun akui ia cukup terkejut dengan pengakuan Kyungsoo.
"A-apa yang membuatmu ragu?" tanya Baekhyun sedikit terbata, bahkan ia sendiri tidak mengerti mengapa suaranya bisa begitu sulit untuk dikeluarkan. Namun Kyungsoo memilih untuk tersenyum, seolah ia mengerti dengan kondisi yang dialami Baekhyun.
"Banyak hal. Salah satunya aku yang begitu takut akan pemikiran orang-orang tentang kami dan keluargaku." Seketika Baekhyun terdiam seolah dirinya sedang ditampar oleh ucapan sosok di depannya.
"Tapi, Jongin menguatkanku bahkan berulang kali ia meyakinkanku bahwa semuanya akan berjalan lancar. Ditahun pertama pernikahan kami banyak sekali hal buruk yang datang, bahkan keluargaku tak datang di pernikahanku." Soyou meremas pundak sahabatnya membuat Kyungsoo tersadar bahwa ia sudah terlarut dalam.
"Beruntung setelahnya mereka menerima kami, bahkan begitu antusias ketika tahu kami akan mengadopsi seorang anak, dan sekarang Kai adalah cucu kesayangan mereka. Semua memang terasa menakutkan dan sulit Baekhyun, tapi ketika kita bersama orang yang kita cintai, semua akan berlalu. Oh maaf, aku bicara terlalu banyak."
"Kau benar, aku sampai terdiam karena seumur hidup mengenalmu ini adalah ucapan terpanjang darimu." Ucap Soyou setengah meledek untuk mencairkan suasana. Baekhyun menatap Kyungsoo dalam sebelum akhirnya ia tersadar dan tersenyum.
"Oh ya, sebenarnya tujuanku ingin bertemu denganmu adalah untuk mengucapkan terima kasih banyak dan ingin menghapus pertemuan buruk kita sebelumnya dengan sesuatu yang bersifat kekerabatan." Baekhyun tersenyum sambil mengangguk pelan sebelum akhirnya pelayan datang dengan pesanan mereka.
…..
Chanyeol sedang mengistirahatkan tubuh lelahnya dan teringat untuk menghubungi Baekhyun sebelum akhirnya sebuah panggilan masuk membuatnya mengernyit.
"Halo, Ada apa hyung?"
"Chanyeol-ah, aku mencoba menghubungi Hani tapi dia sama sekali tidak mengangkat telepon jadi aku berpikir untuk menghubungimu. Malam ini adalah ulangtahun ibu dan kami berencana untuk merayakannya, bisakah kau dan Hani datang?" Chanyeol terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk paham.
"Ya, aku akan datang bersama Hani."
"Baiklah Chanyeol, terima kasih. Sampai bertemu nanti, dan oh maaf aku tidak bisa datang ke acara perayaan kenaikan jabatanmu waktu itu, aku sungguh sibuk akhir-akhir ini."
"Haahahaha…bukan masalah hyung, itu hanya pesta kecil bukan apa-apa. Baiklah sampai bertemu nanti malam."
Chanyeol melirik jam ditangannya dan menghela nafas sejenak, Ia memiliki waktu 4 jam untuk menyelesaikan tugasnya, dan sebelum meletakkan kembali ponselnya ia mengetik sebuah pesan yang ia tujukan untuk istrinya.
…..
Sesuai janji Chanyeol hari ini menjemput Hani. Ia cukup menyesal karena terlambat hampir satu jam dari yang dijanjikan. Mobilnya berhenti di depan gedung kantor istrinya dan Ia menemukan sosok itu duduk di depan kantor dengan wajah kebosanannya. Chanyeol tersenyum kecil, merasa begitu iba pada sosok wanita yang mencintainya dengan tulus itu.
Chanyeol menekan klakson dan Hani segera menoleh sambil mengembangkan senyum cerianya. Ia berlari untuk mendekat kearah mobil Chanyeol, lalu mengambil duduk dengan perasaan senang.
"Tumben sekali oppa?" Chanyeol terkekeh pelan sambil memutar kemudinya.
"Apa seharian ini kau sibuk?" tanya Chanyeol mencoba berbasa-basi, Hani menggeleng cepat.
"Tidak juga, hari ini cukup santai. Ada apa?" Chanyeol mengerti bahwa istrinya ternyata menghindari panggilan dari kakak laki-lakinya.
"Hm, tadi sore Youngjae hyung menelpon." Ketegangan ia rasakan ditubuh istrinya, namun Chanyeol mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Katanya hari ini ulang tahun ibumu."
"O-oh, sepertinya aku lupa. Aku terlalu sibuk sampai-sampai melupakan hal sepenting itu." Hani tersenyum seolah menutupi hal lain di pikirannya. Chanyeol mencoba maklum, tapi ia tak bisa juga untuk mengabaikan undangan itu. Bukan karena ingin dicap sebagai menantu yang baik, Chanyeol hanya tak ingin Hani dicap sebagai anak yang tidak tahu diri.
"A-apa kita akan kesana?" Hani akhirnya sadar bahwa kedatangan Chanyeol yang sangat jarang untuk menjemputnya adalah untuk mengajaknya datang ke pesta ulang tahun ibunya. Hani tidaklah melupakan hari kelahiran ibunya, tapi Ia hanya mencoba mengabaikannya, karena Ia tahu datang ke pesta itu hanya akan menambah beban dipikirannya.
Tak lama mereka sampai disebuah rumah yang tidak terlalu besar. Mobil Chanyeol Ia parkirkan di sisi gang, sebelum akhirnya mengambil sekotak hadiah berukuran cukup besar yang membuat Hani cukup terkejut karena ia tidak menyiapkan apa-apa.
"Ini, berikan pada ibumu!"
"Ta-tapi ini kan…"
"Apa kau ingin ibumu menasehatimu panjang lebar karena kau lupa membawakannya hadiah?" Hani menggeleng pelan kemudian mengambil hadiah itu dengan cepat membuat Chanyeol terkekeh.
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan disambut dengan cukup meriah oleh anggota keluarga lainnya. Seperti biasa Chanyeol pun akan mendapat banyak pujian karena ketampanannya yang memang diatas rata-rata dibandingkan dengan semua anggota pria di keluarga Hani.
Ibu dan ayah mertuanya memeluknya dengan hangat dan bahkan anggota keluarga lainnya. Keluarga Hani memang cukup hangat dan juga ramah meski terkadang ucapan mereka cukup menusuk atau lebih tepatnya tidak tahu waktu untuk bicara.
"Hani-ah, apa perutmu sudah berisi bayi sekarang?" Chanyeol yang sedang berkumpul bersama para pria dari keluarga Ahn menoleh dan segera menangkap wajah menunduk Hani meskipun setelahnya wanita itu tersenyum ceria seperti bunga matahari.
"Ck! Kau tidak lihat aku saja sudah memiliki empat dan ini yang kelima."
"Oh benarkah? Benarkah eonnie akan memiliki anak lagi?"
"Tentu, dan kau juga kan Hanji-ah? Hanya tinggal kau Hani, kau seharusnya lebih menggoda suamimu, katakan bahwa kau ingin memiliki anak supaya ketampanan dan kecantikan kalian itu tidak sia-sia."
Suara-suara para wanita itu memang terdengar biasa namun ditelinga Hani itu sesuatu yang membuat kepercayaan dirinya menurun. Chanyeol berjalan mendekati istrinya dan memeluk pinggang Hani dengan lembut membuat wanita itu terkejut.
"Nuna, tak lama lagi Hani akan mendapatkan satu yang lucu seperti milikmu."
"Apa? Benarkah?" para wanita itu dibuat terkejut, termasuk ibu mertua Chanyeol yang sedari tadi mendengarkan obrolan anak-anak dan para menantunya.
"Apa ibu tidak salah dengar?" Hani nampak gugup, ia hanya bisa mengigit bibir bawahnya sementara Chanyeol ditengah kegugupannya hanya menampakan senyum percaya diri.
"Ya bu, tidak lama lagi."
"Astaga ini akan jadi berita yang paling membahagiakan." Dan Hani tahu bahwa sebuah kebohongan akan dimulai setelah ini. Ia ingin sekali berkata bahwa dirinya dan Chanyeol tidak akan bisa memiliki anak, namun ia tak ingin mempermalukan Chanyeol di depan semua saudaranya yang bermulut besar.
Malam itu keduanya habiskan dengan kecemasan dan ketakutan yang besar, bahkan pesta meriah itu terasa begitu mencekam untuk keduanya namun berulang kali Chanyeol menyakinkan Hani bahwa semua akan baik-baik saja.
Usai pesta mereka segera pamit untuk pulang, namun di tengah perjalanan Chanyeol mengeyampingkan mobilnya dan keduanya sama-sama terdiam.
"Maafkan aku oppa, keluargaku memang seperti itu. Maaf karena merepotkanmu." Ucap Hani penuh kesedihan, wajahnya ia tundukan dalam sambil meremas pakaiannya.
"Hani-ah? Maafkan kekuranganku, maafkan kecacatanku." Hani menoleh dengan wajah terkejut, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia menangis mendengar ucapan suaminya. Pria yang paling ia cintai di dunia.
"Jangan pikirkan apapun, oppa! Mungkin kita bisa melakukan pengobatan atau semacamnya, jujur aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan tentang anak, bagiku hidup berdua bersama oppa sudah cukup, hanya saja….keluargaku…aku…"
"Aku mengerti, aku mengenalmu dengan baik, kau adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal setelah ibuku. Aku berjanji akan mengusahakan apapun untuk kita memiliki anak segera." Hani tanpa sadar menangis, air matanya tak lagi bisa ia bendung. Chanyeol memeluk tubuh istrinya dan menenangkan sosok itu.
"Terima kasih oppa, aku bersyukur memiliki oppa." Ucapnya. Sejenak keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing, hingga Hani terdiam dalam pemikirannya tentang sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah cukup lama ia pendam.
"O-oppa? Bisakah oppa menjanjikan hal lain untukku?" Chanyeol melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya, mengusap air mata di pipi putih itu dengan lembut.
"Berjanjilah bahwa bagaimana pun, oppa tak akan meninggalkanku. Bahwa hanya aku satu-satunya wanita yang akan selalu kau cintai." Chanyeol terdiam di tempatnya, sorot matanya menatap kosong kearah manik istrinya. Hani pun merasakan itu, dirinya tiba-tiba diserang kegugupan. Ketakutan yang selama ini menghantuinya.
"A-apa oppa, memiliki orang lain yang o-oppa cintai?" bibir itu seolah kelu untuk menanyakan haknya pada sang suami. Chanyeol masih terdiam, kemudian ia tersenyum untuk menenangkan dirinya.
"Aku memiliki banyak orang yang aku cintai dan kau salah satunya. Ayah, Ibu_"
"Baekhyun oppa.." Seketika Chanyeol terdiam saat hani memotong ucapannya, wajah sang istri menunjukan ketidak nyamanan dan Chanyeol pun merasakan kegugupan dan kecemasan yang sama.
"Tentu, Baekhyun termasuk." Lagi Chanyeol tersenyum untuk mengalihkan rasa gugupnya, mengelus pipi sang istri seolah mencoba menenangkannya. Hani memundurkan tubuhnya untuk bersandar, lalu matanya menatap kalut kearah jalanan.
"Oppa, jika disuruh memilih antara aku dan Baekhyun oppa, siapa yang akan oppa pilih?" lagi Chanyeol terdiam, semua seolah berputar untuknya. Tentu Baekhyun adalah jawabannya, tapi dengan mengatakan itu secara terang-terangan hanya akan menyakiti Hani dan tentu akan membongkar semua rahasia yang selama ini ia simpan.
"Kau tahu sendiri jawabannya, bahwa itu sulit untukku." Hani tersenyum sambil mengangguk.
"Aku mengerti, aku mengerti sekarang." Ucapnya sambil tersenyum dalam tangisannya. Chanyeol menoleh menatap aneh pada sang istri yang tertawa namun air matanya tetap mengalir.
"Aku ingin sekali menjadi egois, oppa." Lagi Chanyeol tak mengerti dengan arah pembicaraan sang istri, apalagi wajah tersenyum Hani terlihat aneh dimatanya.
"Tapi aku tahu bahwa selamanya sesuatu yang bukan hakku tak akan pernah menjadi milikku…. Jadi…." Hani tersenyum kearah Chanyeol, senyuman merekah seperti bunga matahari yang seperti biasa ia lakukan, lalu jemarinya dengan cepat mengusap air mata di wajahnya.
"….yang perlu kita pikirkan sekarang adalah mempertanggung jawabkan ucapan oppa yang berkata akan membuatku hamil." Chanyeol tersenyum lega, lalu mengusak rambut Hani.
"Ya, hanya fokus pada tujuan kita." Ucap Chanyeol lagi.
Sesampainya mereka di rumah, hal pertama yang mereka temukan adalah Baekhyun yang berbaring diatas sofa dengan televisi menyala namun sosok itu nampak tertidur pulas. Hani segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Chanyeol menghampiri Baekhyun dan untuk beberapa detik ia menggeleng melihat posisi tertidur Baekhyun dan juga beberapa cemilan yang berserakan diatas meja, padahal sosok itu baru sembuh dari sakitnya. Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun, namun sosok itu hanya menggeliat tanpa membuka matanya, membuat Chanyeol dengan sigap segera mengangkat tubuh itu untuk ia bawa ke dalam kamar.
"Oppa, sebaiknya oppa_" ucapan Hani terpotong ketika ia berjalan keluar dari kamar untuk meminta Chanyeol membersihkan diri dan mendapati suaminya tengah membawa sosok lelaki dalam gendongannya. Tentu ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu ketika mereka tinggal seatap dulu, namun entah mengapa kini rasanya sedikit berbeda.
"Apa oppa akan menginap di kamar Baekhyun oppa?" tanya Hani namun nampaknya Chanyeol tak mendengar karena balasan yang Hani dapat adalah suara pintu kamar Baekhyun yang tertutup cukup keras.
Baekhyun membuka matanya ketika tubuhnya diletakkan diatas ranjang, ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersadar bahwa Chanyeol berdiri disampingnya.
"Kau sudah pulang? Kenapa larut sekali?" tanya Baekhyun sambil berusaha mengambil duduk. Chanyeol menghela nafas lalu mengambil duduk disamping yang lebih pendek sambil menundukan kepalanya dalam. Baekhyun mengenal sosok itu dengan baik dan ia tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Katakan, apa ada sesuatu yang terjadi?" elusan lembut pada pundaknya seolah menjadi kekuatan untuk Chanyeol, ia mendongak dan menatap dalam kearah Baekhyun.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuat Hani hamil Baekhyun, maafkan aku, aku harus melakukannya." Baekhyun akui ia sempat terkejut ketika melihat keseriusan dimata Chanyeol, namun kemudian ia memilih tersenyum sambil mengusap rambut yang lebih tinggi.
"Tenanglah! Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu?" tak ada sahutan dari yang lebih tinggi, selain tatapan keduanya yang terkunci satu sama lain mencoba saling menerka pikiran masing-masing.
Tok..
Tok..
Tok…
"Oppa? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi." Suara lembut Hani dibalik pintu nyatanya menarik atensi keduanya. Chanyeol bangkit namun tarikan tangan Baekhyun membuat langkahnya terhenti. Baekhyun bangkit dan berdiri tepat dihadapan Chanyeol, menatap mata itu dalam diiringi seulas senyuman sebelum akhirnya kaki-kaki pendeknya berjinjit untuk bisa menggapai bibir Chanyeol. Ciuman itu begitu lembut, namun menuntut. Tangan Chanyeol ia bawa untuk mengangkat tubuh Baekhyun dan merapatkannya pada pintu kamar dengan bibir keduanya yang masih berpangutan dalam.
"Aku akan selalu mencintaimu, Chanyeolie." Bisik Baekhyun disela-sela helaan nafasnya yang terengah, dan Chanyeol tak menjawab namun sebagai gantinya ia meraup kembali bibir setengah membengkak itu untuk ia bawa kembali dalam ciuman yang hangat. Jika ia bisa menukar segala yang ia milikki, maka ia akan melakukannya asalkan ia bisa selalu merasakan kehangatan yang Baekhyun berikan padanya.
…
..
.
Lampu-lampu pesta telah berkedip-kedip seiring dengan musik yang mulai terdengar semakin mengeras. Halaman belakang itu kembali disulap menjadi sebuah tempat pesta yang indah. Balon dan hiasan lainnya telah bergantung dengan indahnya di sepanjang tanaman dan juga dinding rumah.
Belum banyak tamu undangan yang datang, namun pesta perayaan itu nyatanya telah terlihat begitu meriah. Chanyeol bersama undangannya tengah asyik bercengkrama ketika pintu tengah terbuka dan muncul sosok Nyonya Park tersenyum ramah diatas kursi rodanya dimana Baekhyun yang mendorongnya dengan pelan.
"Bibi!" Luhan berteriak paling kencang seraya berlari untuk memeluk sosok wanita yang telah melahirkan sepupunya itu, namun berusaha menyembunyikan tangisannya.
Keadaan Nyonya Park pada akhirnya tak bisa disembunyikan lagi dari para keluarga-keluarga terdekatnya. Namun semua berusaha untuk tidak memperlihatkan kekhawatiran mereka sesuai dengan permintaan Nyonya Park. Wanita itu tak ingin dikasihani di sisa-sisa hidupnya, ia tak ingin meninggalkan kenangan yang menyedihkan nantinya untuk para keluarga yang kemungkinan akan ia tinggalkan suatu hari nanti.
"Bibi terlihat sangat cantik hari ini, ugh aku jadi tidak bisa berkata-kata." Wanita itu berdecak namun tetap mengelus surai rambut Luhan. Tak lama Kris, Jessica dan Minseok ikut bergabung untuk memberikan pelukan lainnya pada wanita itu.
"Ugh menantu ibu yang ini cantik sekali." Ucapnya pada Jessica yang hanya tersenyum diiringi gelengan pelan namun tak mampu ia sembunyikan betapa ia merasa sedih melihat kondisi bibi dari suaminya itu.
"Bibi jauh lebih cantik, apalagi dengan pakaian ini, aku tahu Baekhyunie pasti yang melakukannya kan?" Baekhyun hanya mengedikkan pundaknya dengan senyuman seolah sedang menyombongkan dirinya.
"Lihat kan bu, seleraku itu selalu bagus." Nyonya Park tersenyum sambil mengelus tangan Baekhyun yang berdiri dibelakangnya. Lalu kedatangan Chanyeol membuat wanita itu menoleh kemudian berdecak.
"Kau, sana bantu istrimu! Dia pasti kesulitan menuruni anak tangga seorang diri." Chanyeol hanya terkekeh lalu berjalan meninggalkan yang lainnya untuk masuk ke dalam rumah. Baekhyun menoleh kearah kepergian Chanyeol dan disana ia melihat Chanyeol sedang mencoba membantu Hani untuk turun dari pertengahan anak tangga.
Sejenak tidak ada yang berbeda dari beberapa waktu sebelumnya, namun perut Hani yang mengembung besar nyatanya terlihat begitu jelas dan tentu akan mengubah cara pandang siapapun yang melihatnya.
"Sayang, acara akan segera dimulai." Itu ucapan Sehun yang hanya tersenyum dan memberi hormat kearah Nyonya Park lalu segera menarik tangan Luhan untuk ikut bersamanya.
Malam itu pesta perayaan atas kehamilan Hani dimulai dan seperti biasa akan dipandu oleh Luhan yang dengan sukarela selalu menjadi pembawa acara dan memasukan apapun yang ia suka ke dalam rangkaian acara.
Tak hanya para keluarga, beberapa rekan yang bisa hadir pun ada disana bahkan anak buah Chanyeol dan atasannya, Tuan Shin juga turut meramaikan. Ketika sibuk menemani ibunya duduk disalah satu sudut halaman, Baekhyun dikejutkan dengan kemunculan Soyou dan Hyorin yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pestanya, dan lebih terkejut mengetahui bahwa sebentar lagi keduanya akan melangsungkan pertunangan melihat dari cincin emas putih di jari masing-masing.
"Dia yang mencetuskan ide ini." Ucap Hyorin sambil menunjuk Soyou yang hanya berdiri disampingnya. Baekhyun terkekeh, tidak bisa dipungkiri bahwa ia merasa begitu bahagia. Nyonya Park yang awalnya sempat terkejut pada akhirnya ikut tersenyum dan merasa begitu bahagia.
"Selamat untuk kalian berdua, kalian pasti akan menjadi ibu-ibu yang hebat." Hyorin melirik Soyou sebelum akhirnya merasa canggung.
"Hm, sepertinya untuk itu kami belum tahu Nyonya Park. Itu masih terlalu jauh untuk kami, kami pun ragu apa kami bisa melakukannya atau tidak. Yah anda tahu sendiri, menjadi orang tua itu sulit apalagi menjadi orangtua homoseksual itu tidaklah semudah yang terlihat." Ucap Hyorin sambil mencoba tetap tersenyum.
"Sudahlah bu, kenapa malah mengurusi rumah tangga mereka. Ibu tidak perlu memikirkan apapun, lihat itu anak dan menantu ibu sedang berbahagia apalagi sebentar lagi anak di dalam perut Hani akan lahir, ibu tentu akan menjadi nenek paling bahagia nantinya." Ucap Baekhyun sedikit merendahkan tubuhnya untuk bicara pada sang ibu.
Soyou menatap Baekhyun penuh rasa iba, begitu pula dengan Hyorin yang merasa begitu kagum pada Baekhyun yang masih nampak tegar meskipun orang yang ia cintai kini sedang berjuang untuk menantikan kelahiran anaknya.
"Ka-kalau begitu kami izin kesana dulu ya, ingin menyapa si calon orangtua." Ucap Hyorin sambil memberikan hormat dan segera berlalu meninggalkan kedua orang itu.
Nyonya Park tersenyum kearah Chanyeol dan Hani tapi tangannya mengelus tangan Baekhyun di pegangan kursi rodanya dan menariknya untuk ia bawa pada pelukan.
"Kau tahu Baekhyunie? Kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anak-anaknya tumbuh besar, sukses, berkeluarga dan hidup bahagia bersama keluarganya." Baekhyun mengangguk pelan lalu memeluk tubuh wanita itu dengan erat, menyalurkan segala kasih sayangnya pada wanita itu.
"Ibu tentu sudah merasakannya kan? Sebentar lagi anak Chanyeol akan lahir, tentu ia akan menjadi ayah yang paling bahagia." Senyuman wanita itu lenyap, tergantikan oleh tatapan sedihnya kearah rerumputan yang ia pijak.
"Mari tidak bicara soal Chanyeol! Baekhyunie, lalu kapan kau akan merasakan kebahagiaan untuk dirimu sendiri?" Baekhyun tersentak, ia seperti membatu ditempatnya, bibirnya kaku dan lidahnya seperti kelu.
"Baekhyunie? Bisakah kau membawa ibu ke dalam sebentar?" Baekhyun segera tersadar dan dengan cepat mendorong kursi roda itu untuk menuju ke dalam rumah. Ruang tamu nampak begitu sepi karena para undangan hanya diperbolehkan berada di halaman belakang.
Keduanya terdiam dengan Baekhyun yang masih mencoba menerka apa yang akan ibunya ucapkan.
"Duduklah!" Baekhyun menurut dan mengambil duduk di atas sofa di depan sang ibu. Kedua pasang mata itu saling menatap seolah darisana cara keduanya untuk berkomunikasi sebelum akhirnya yang lebih tua mengambil tangan Baekhyun dan mengelusnya.
"Ibu_"
"Dua bulan dari sekarang anak di dalam rahim Hani akan terlahir, itupun jika perkiraan dokter tidak meleset. Ibu sangat bahagia, seperti apa yang selalu ibu impikan setiap malamnya." Baekhyun mengangguk sambil mencoba menahan air matanya.
"Seperti yang ibu katakan sebelumnya bahwa kebahagiaan ibu adalah melihat anak-anak ibu bahagia. Chanyeol sebentar lagi akan mendapatkan apa yang seharusnya membuat setiap pria bahagia. Tapi, sebagai seorang ibu, aku merasakan sesuatu seperti terpasakan disini." Baekhyun terdiam, lagi hatinya berdegup kencang ketika kalimat-kalimat itu terlontar.
"Tidak, mungkin hanya perasaan ibu, Chanyeol tentu bahagia bu, aku akan memastikan bahwa dia akan tetap bahagia dan_"
"Baekhyunie, aku mengenal Chanyeol bahkan sejak dia masih di dalam perutku, aku mengenal semua tentangnya tanpa satupun yang terlewatkan. Dan aku pun tahu bahwa kebahagiaannya adalah….adalah…" mata wanita itu tertunduk sejenak membuat Baekhyun semakin khawatir.
"….dirimu." seketika Baekhyun tercengang di tempatnya, tubuhnya seperti mati rasa untuk beberapa detik bahkan nafasnya pun seolah tidak berhembus.
"I-ibu_"
"Maafkan aku Baekhyunie, maafkan ibu! Sebagai seorang ibu tentu aku memiliki sebuah naluri untuk melindungi anakku, dan aku sempat menganggapmu sebagai sebuah ancaman." Baekhyun merasakan hatinya seperti teremas erat, bahkan air matanya pun tak dapat ia tahan lagi.
"Kedatanganmu tentu membuatku bahagia, dan seiring dengan perubahan sikap Chanyeol yang sangat berbeda aku tahu bahwa putraku telah jatuh cinta padamu." Baekhyun menangis terisak dengan kepala yang ia tundukan dalam.
"Aku pun tahu bahwa ada sebuah rahasia yang kalian sembunyikan dariku, saat firasat itu muncul aku mencoba untuk menampiknya bahwa kalian tidak seperti apa yang aku takutkan, namun hidup bersama kalian berdua membuatku sadar bahwa kalian memang telah menjalin sebuah hubungan terlarang dibelakang kami, hubungan yang coba kalian sembunyikan dari dunia." Baekhyun menangis lagi bahkan ia bersujud pada kaki wanita itu.
"Aku menangis setiap malam ketika melihat kalian untuk pertama kalinya bercumbu dirumah ini, dan melakukannya setiap kalian memiliki kesempatan. Sebagai seorang ibu, hatiku terluka mengetahui bahwa anakku memiliki sebuah kelainan."
"Maafkan aku bu, maafkan aku! Saat itu kami terlalu muda untuk tahu bahwa apa yang kami lakukan salah, hingga akhirnya kami terjerumus ke dalam dosa itu untuk belasan tahun lamanya. Chanyeol tidak salah apapapun bu, aku yang membuatnya menjadi lelaki menyimpang, aku yang salah karena membuatnya jatuh cinta padaku. Aku minta maaf, meski aku tahu aku tidak termaafkan." Tidak ada jawaban selain suara isakan bersahutan dari keduanya.
Baekhyun tahu setelah ini semuanya akan berubah, ibunya tak lagi akan menatap sama kearahnya, ia begitu takut, ia takut untuk ditinggalkan dan dibenci. Tapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menerima semua hukuman dari apa yang telah ia perbuat.
"Ketika tahu bahwa Chanyeol akan menikah ibu begitu senang, ibu pikir bahwa kalian memang sedang bermain-main saat itu. Hani adalah wanita yang baik yang ibu percaya mampu mengubah Chanyeol. Ibu merasa sedikit tenang dan merasa bahwa apa yang ibu takutkan hanya sebuah ketakutan sementara. Tapi malam itu Hani menangis dan bercerita pada ibu bahwa apa yang ia curigai tentang kalian menjadi nyata. Ia melihat kalian berdua bercumbu di dalam kamar, bahkan Hani berkata bahwa Chanyeol terlihat begitu mencintaimu tidak seperti ketika Chanyeol menyentuhnya." Lagi Baekhyun dibuat bungkam oleh kenyataan itu, pemikiran tentang dirinya yang begitu jahat dan kejam langsung menggerogoti dirinya.
"Malam itu ibu merasakan ketakutan itu lagi, tapi ibu mencoba menguatkan Hani, mencoba membuatnya percaya dengan apa yang ibu katakan bahwa Chanyeol hanya sedang bermain-main dan sedikit jenuh dengan hubungan mereka. Bahkan ibu menjanjikan padanya, bahwa Chanyeol akan tetap menjadi miliknya." Nyonya Park mengusap air matanya pelan sambil menatap belakang kepala Baekhyun yang masih bersujud di kakinya.
"Ibu meminta Hani untuk menjaga rapat-rapat kejadiaan itu, tak ingin orang lain mengetahui bahwa anak-anak yang aku banggakan nyatanya benar seperti apa yang aku takutkan, bahkan ayahmu tidak ibu biarkan tahu. Ibu menyimpannya dengan begitu rapat selama bertahun-tahun seorang diri sebelum akhirnya Hani pun tahu. Namun sepertinya Tuhan merencanakan sesuatu yang berbeda. Ketika kau dan mantan kekasihmu menginap disini, Ayah mendapatkanmu dan Chanyeol sedang berciuman di teras belakang. Ia berusaha memendamnya, namun aku tahu bahwa sikapnya yang berubah terjadi karena ia melihat apa yang telah aku dan Hani lihat." Baekhyun semakin membungkukan tubuhnya, terisak dalam seolah merasa begitu bersalah.
"Ma-maafkan aku ibu! Aku begitu berdosa, aku begitu menjijikan, aku tahu aku hina, aku bahkan telah merusak keluarga bahagia kalian dan juga merusak hubungan Hani dan Chanyeol yang seharusnya menjadi pasangan paling bahagia."
"Baekhyun!" Baekhyun enggan untuk mengangkat wajahnya. Ia masih tertunduk dalam tangisannya, merasa begitu malu untuk sekedar mengangkat wajahnya.
"Baekhyunie, lihat ibu!" Baekhyun menggeleng dengan nafas tersengal-sengal akibat tangisannya.
"A-aku begitu menjijikan bu…a-aku telah merusak kepercayaanmu. I-bu dan A-ayah satu-satunya yang mencintaiku seperti o-orang tua kandung u-untukku, ta-tapi aku telah mengecewakan kalian."
"Baekhyunie?" Baekhyun akhirnya mengangkat wajahnya pelan. Wajah sang ibu terlihat begitu lembut namun kelelahan.
"Tidak sayang. Tidak ada yang berhak mengatakanmu seperti itu, tidak ada yang berhak mengatakan bahwa memiliki orientasi yang menyimpang adalah sesuatu yang menjijikan. Kau tetaplah anak ibu, anak kesayangan ibu yang manis dan menggemaskan." Baekhyun lagi menggeleng pelan seolah merasa dirinya tak pantas untuk panggilan itu.
"Aku dan ayahmu memutuskan untuk melupakan segalanya dan tetap menyayangimu sebagaimana mestinya." Lagi Baekhyun menggeleng merasa dirinya begitu hina dan sama sekali tak pantas.
"Bu, a-aku akan pergi sejauh mungkin. A-aku akan meninggalkan Korea dan hidup ditempat lain dimana aku tak akan lagi menganggu kebahagiaan orang lain_"
"Tidak! Tidak! Tidak! Jangan lakukan itu sayang! Ibu tak akan kuat berpisah denganmu."
"Itu yang seharusnya aku lakukan sejak dulu bu, jika saja aku tidak masuk ke dalam keluarga ini aku tak mungkin akan merusak Chanyeol, aku tak mungkin akan membuatnya menyimpang, aku tak mungkin…hikkss.." Baekhyun kembali terisak, bahkan dirinya tak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya.
"Dari semua yang terjadi satu hal yang ibu pelajari, bahwa Chanyeol begitu mencintaimu. Ibu telah mengetahui semuanya, Baek. Ibu sudah tahu sebanyak apa kau berkorban untukku dan kami. Jangan kau pikir ibu tidak bersedih melihatmu, ibu selalu menangis tiap kali melihatmu menatap tersenyum kearah Chanyeol dan Hani. Ibu selalu berpikir 'apa yang Baekhyun rasakan saat ini?' 'Apakah ia sekuat itu untuk berpura-pura bahagia?' 'Apakah bayi besarku itu akan kuat untuk melakukannya?' pertanyaan-pertanyaan itu selalu bermunculan.
"Ibu sangat ingin kalian bersama, tapi ibu telah terlanjur berjanji pada Hani. Ibu tak mungkin menyakiti hatinya, dia begitu baik apalagi sebentar lagi mereka akan memiliki anak." Baekhyun mengangguk paham, ia memeluk ibunya mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada wanita yang benar-benar tulus mencintainya, dan sebuah keputusan telah ia ambil, keputusan yang menurutnya sebagai jalan satu-satunya.
"Baekhyunie, ibu_aaakhhhh!" Baekhyun mendorong tubuh ibunya pelan dan terkejut melihat wanita itu memegang kepalanya penuh kesakitan.
"Ibu! Ibu! Bertahanlah!" Baekhyun mengambil ponselnya untuk menghubungi ambulans, sebelum akhirnya ia berlari keluar untuk menyerukan nama Chanyeol membuat lelaki itu berlari dengan cepat ke dalam ruang tengah.
"IBUUUUU!" dan tubuh lemas sang ibu dalam pelukan Baekhyun membuat Chanyeol merasa kakinya mendadak begitu lemas.
…..
Sirine ambulans terdengar begitu nyaring ketika memasuki halaman rumah sakit. Baekhyun dan Chanyeol melompat dari dalamnya seiring dengan para petugas medis yang membantu menurunkan tubuh wanita itu dan membawanya ke atas ranjang beroda. Sementara dua mobil lainnya yang menyusul segera mengambil parkir dan yang berada di dalamnya berlarian untuk mengikuti Chanyeol dan Baekhyun.
Pintu unit penangangan keadaan darurat tertutup menyisakan Baekhyun dan Chanyeol dalam ketakutan disusul dengan kemunculan anggota keluarga lainnya. Chanyeol segera memeluk tubuh Baekhyun secara spontan membuat Baekhyun merasakan sesuatu yang lain.
"Ibu akan baik-baik saja, aku yakin itu. Jangan cemas!" bisik Chanyeol disela pelukannya. Baekhyun hanya terdiam sambil menatap dalam diam daun pintu berwarna putih tersebut.
Tiga jam setelahnya tubuh Nyonya Park sudah siap untuk dipindahkan ke ruang inap, membuat semua orang merasa begitu lega. Semua terlihat tersenyum dalam tangis bahagia mereka, sementara Baekhyun mengusap air matanya dengan cepat dan secara perlahan mencoba menyelinap untuk keluar dari ruangan.
Tapi seharusnya ia tahu bahwa Chanyeol tak akan pernah lengah mengawasinya, karena saat ini sosok itu tengah menahan tangannya yang sudah berada di depan pintu kamar rawat ibunya.
"Kau mau kemana?" Baekhyun terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum.
"Entahlah." Sahutnya. Chanyeol terdiam lalu menatap jari Baekhyun yang kosong.
"Kemana cincinmu?" Baekhyun melirik jarinya dan baru teringat bahwa ia melepaskannya diam-diam ketika tadi sedang berbicara dengan ibu Chanyeol, ia hanya merasa begitu malu saat itu.
"Hm, ini." Ucapnya sambil mengeluarkan benda itu dari dalam saku celananya.
"Sini biar aku pakaikan!" Baekhyun tidak memberikan perlawanan, ia hanya memperhatikan bagaimana Chanyeol menyematkan cincin itu jemari tangannya.
"Kau tidak seharusnya melepas pasang cincin berharga kita, aku saja memakainya." Ucap pria itu sambil mengangkat tangannya dimana cincin yang serupa tersemat disana. Baekhyun masih tetap tersenyum tak ingin menunjukan rasa sedih dan bersalahnya. Ia pun sama sekali tak berniat untuk menceritakan semua yang telah ia dan ibunya bicarakan.
"Chanyeol." Ucap Baekhyun pelan. Chanyeol menatap Baekhyun tanpa rasa curiga sedikit pun bahkan tangannya bergerak untuk mengusap sisa air mata di pipi Baekhyun.
"Aku memiliki sebuah ide dan aku harap kau akan menyetujui ide brilian ini." Chanyeol mengangguk tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Aku telah memutuskan…." Ia mengangkat tangannya lalu mengecup cincin yang tersemat dijemarinya.
"…..aku akan selalu membawa cincin ini kemanapun aku pergi, karena aku tak ingin sedetikpun melupakan semua yang telah kita lalui." Chanyeol mengangguk senang sambil mengelus pipi Baekhyun dengan sayang.
"Jadi keputusanku adalah, aku ingin pergi sejauh mungkin Chanyeol. Sejauh yang aku bisa, kemana pun asalkan disana tidak ada kalian, aku harap kau mendukung keputusanku ini." Senyum Chanyeol lenyap tergantikan oleh wajah terkejutnya.
"Baekhyun, apa maksudmu? Bukankah kita sudah sepakat untuk tetap bersama? apa aku berbuat kesalahan? apa sesuatu terjadi sayang?" Baekhyun menggeleng pelan sambil mengelus pipi Chanyeol.
"Kau sama sekali tidak salah, akulah yang salah disini Chanyeol. Chanyeol, pertemuan kita sungguh sangat indah, aku bertemu orang yang tepat tapi sayang diwaktu yang salah. Aku mohon untuk kali ini, lepaskan aku dan lupakan tentang kita!" ucapan itu membuat tubuh Chanyeol menegang dengan tatapan kosong kearah kekasihnya, matanya memerah dan tanpa sadar air matanya pun turun berlomba dengan air mata kesedihan milik Baekhyun.
Malam itu, di koridor rumah sakit yang sepi. Tangis air mata itu turun bersamaan dengan rintik air hujan diluar sana. Seolah langit menangis akan keadaan dua insan yang begitu sulit untuk bersama.
….
...
.
THE END
…
..
.
.
.
.
.
…
..
.
.
.
.
.
.
.
.
Kena deh!
…
..
.
TBC
…
..
.
Tim yang kena tipu siapa?
Tim yang baca dari bawah siapa?
Tim yang nangis sampe ngabisin stock tissue siapa?
Tim yang bacanya dikit-dikit kyk orang cepirit siapa?
wkwkwkwk... mungkin kalian terlalu menghayati sampe-sampe lupa kalo aku orangnya biasa ngasi kejutan hehehe...
Oke, see you in the last chapter next year.
Karena aku yakin gak bakal bisa up dlm waktu dekat jadi aku ucapin selamat natal dan tahun barunya sekarang ya hehehe... semoga pas itu Chanbaek nge live lagi atau apapun momen yang bikin kita serangan jantung dalam kebahagiaan hehehe...
Oke akhir kata seperti biasa, salam chanbaek is real dan jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan ya ...
