~Balasan Reviews~
Rin Mizukami : Konfliknya chap depan aja yaaa... sekarang seneng" dulu aja deeehhh... :3
Ran-chan : iyya... dun... :3
Keren kan, padahal ngarang... xD hi hi *PeDe*
Adlina Charming : wew... bagian yang manatuh yang menusuk sampe ke hati? :o
Farberaws : ha ha... kasian amat... Naruto tuh aslinya keren lho... cuman gak ada yang sadar aja.. xD
Hikari Matsushita : Iya dong galau.. tapi kalo pas ultah dikasih kejutan kan seneng jadinya...
Kira-kira kejutan kayak apa ya yang disiapin Sasuke...? :3
Tsurugi De Leluoch : lho, disuruh jangan selingkuh kok berat?
haio... ketahuan nih... xD *plak*
Tenang... Sasu juga sebenernya gak tahan kok lama" pisah dari Saku... :3
Naomi Kanzaki : Eitttsss... kapan sih Shera bikin chap tanpa SasuSaku moment? xD *plak*
Ada laaa... adaa...
Mikyo : Shera semangat selalu...! :3
Okikagu : hal yang kesebelasnya lebih special dari hal itu dooong pastinya...
Iya sih, tapi Sakura tuh pengen banget dapet pengakuan dari semua orang, termasuk kedua sahabatnya. :o
Chii tau diri lah,.. kalo Sasu pulang biasanya dy nginep dirumah Shera... xD *plak*
Birumenanti : He he he...
Asyiiikkk makasih yaa... ^o~
Muach"... xD *hoex*
Aoi Ciel : Sasuke emang kejam... ('^')
Tapi nanti Sakura lebih kejam kok... :3
Ika-chan : Sasuke pulang malam ini kok, Ika-chan... xD
xi xi. Iya dong... liburnya kapan emang? :o
Nadialovely : ouh... itu... iya iya gomen... abis kalo diceritain juga bisa lama, n ntar fokusnya malah ke pair selain SasuSaku lagi...
jadi Shera persingkat doang.
Disini kau akan mendapatkan kembali interaksi SasuSaku, Nadia-chan... ho ho ho *devil laugh*
Iya bener, meski dalam cerita aslinya Sasuke itu termasuk cowo kejam n jahat... tapi entah kenapa aku paham akan perasaannya.
Baby Kim : Eitsss... anda betuuul... ! seratus buat Baby-chan~ ^o^)d
Ei-chan : iya...syndrome itu udah gak bisa dicegah kalo terjangkit ya...
Bisa mematikan pula... :o
Tenang, Sasu udha kutelp suruh pulang kok. :9
Sami-chan : Sami-chan gak login sih... lupa sandi lagi ya? :o
~Enjoy Reading All~
.
.
Ninth : Happiest Birthday Ever
.
.
Langkah Sakura kian melemas. Air mata masih dengan derasnya mengalir dari pelupuk matanya yang terpejam. Sama seperti derasanya hujan yang menemaninya. Orang yang lalu lalang melihatnya pun diabaikannya. Perlahan langkahnya terhenti. Tubuhnya beringsut dan ia memeluk erat kedua lututnya.
The things are all the same
(semua hal masih sama)
The ways are all the same
(semua cara masih sama)
They are all the same
(mereka semua sama)
.
But you aren't there
(tapi kau tak disana)
Padahal tak ada alunan musik di sana, tapi seakan telinga Sakura mendengarkan lagu itu. Ia kembali terisak. Betapa rindunya pada sosok pria yang selalu memberinya pelukan hangat itu. Sesuatu memang akan terasa lebih berharga bila ia tak ada.
Not yet, Not yet
(belum, belum)
I'm not ready for this
(aku masih belum siap untuk ini)
I still love you anyway
(Bagaimanapun aku masih mencintaimu)
Pandangan aneh orang-orang yang menatapnya tak diindahkannya. Ia sungguh menyesal. Menyesal akan pertaruhan waktu itu. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia tak bisa menyimpannya selamanya, tapi ia juga tak mau dibenci Sasuke karena hal itu.
"Sasuke… Aishiteru~"
-ooOoo-
Ino dan Hinata nampak murung, sedangkan Naruto kini sedang asyik berseru sambil memainkan game-nya. Teriakan kencang pun tak dapat dibendungnya untuk menyerukan betapa serunya game yang dimainkannya. Ino yang awalnya menahan diri untuk sabar pun makin lama semakin kesal melihat tingkah bocah rubah yang sekarang sudah resmi menjadi pacar Hinata ini.
"Hey, Rubah! Kau ini bisa tidak sih jangan berisik!" pekik Ino.
"Kau tak suka? Pintu keluar ada disana." Sahut Naruto sekenanya tanpa berpaling dari PSP yang dipegangnya. "Yey! Hajar! Woy~! Ciaaaatt~!"
Ino yang sudah kehilangan kesabarannya pun merebut PSP itu dari tangan Naruto, membuat sang pemilik menggebrak meja dan bangkit dari tempatnya. Hinata yang melihat pun berusaha melerai mereka. Sementara itu ada satu lagi sosok yang sedari tadi hanya menyumpal telinganya dengan earphone tengah terduduk diam. Perlahan sosok itu melepaskan earphone-nya dan bangkit.
"Eh?" mereka pun berbalik menatap sosok merah muda yang kian menjauh menuju pintu keluar kelas itu. Saat sosok itu sudah benar-benar menghilang, suasana pun mendadak hening.
"Apa yang terjadi dengannya?" Naruto melirik sambil mengerjapkan matanya. "Sesuatu telah terjadi?"
"Waktu itu kita terlalu mabuk kan… sampai-sampai tak sadar apa yang sudah terjadi. Saat terbangun paginya pun Sakura dan Sasori sudah tak ada di tempat." Ino mendesah pelan. Mereka kembali menempatkan posisinya terduduk.
"Jangan bilang kalau mereka ada apa-apa ya…" Naruto menduga-duga.
"Kau yang mengatakannya! Lagipula tak mungkin Sakura selingkuh dari Sasuke, meski hubungan mereka berawal dari taruhan tapi… ups!" Ino segera menutup mulutnya menyadari bahwa Naruto sedang mendengarkan. Ini sungguh masalah besar karena Ino menyebut kata 'taruhan' di depan Naruto yang sahabat baik Sasuke.
"Ino!" Hinata ikut panik dan menatap Naruto yang berada di sebelahnya.
"Eh? Apa? Apa? Ada apa?" Naruto yang merasa ditatap langsung berbalik menatap bingung. Bersyukurlah Naruto ini tokoh satu-satunya yang bodoh disini *dirasengan*.
"Ah, tidak. Oh ya, ngomong-ngomong sejak tak ada Sasuke prestasi belajar Sakura jadi menurun ya… ujian kemarin Sai yang menduduki peringkat pertama kan?" sahut Hinata.
"Yeah. Bukan hanya kita, seluruh sekolah pun tak percaya. Sai memang pandai, ia biasa di urutan ketiga setelah mereka, tapi kalau Sakura tiba-tiba merosot menjadi peringkat 7 kan itu artinya sesuatu telah terjadi." Ino mekirik ponselnya. Mendengar Hianta menyebut nama kekasihnya itu, ia segera ingat kalau Sai sedang mengikuti seminar di Amegakure. Ia segera mengirim pesan kepada kekasihnya itu.
"Ah! Mungkin karena ia kangen pada Sasuke! Lagipula kalau tak salah besok hari ulang tahun Sakura kan? Mungkin ia sedih karena Sasuke tak bisa datang untuk merayakannya." tebak Hinata sekenanya.
"Kalau memang itu masalahnya kalian tak perlu khawatir…" Naruto mengeluarkan ponselnya dari saku celana, Hinata dan Ino pun menatap ponsel Naruto itu. "Teme sudah menghubungiku tadi."
-ooOoo-
"Miaw~" Chii berkali-kali mencoba membujuk majikannya ini untuk masuk. Udara dingin benar-benar menusuk kulit, di pergantian musim seperti ini Sakura malah duduk di sofa yang ada di balkon hanya dengan selembar kain yang menghangatkannya.
"Chii, masuklah. Kau tak akan tahan dengan udara dingin. Lagipula ini sudah hampir tengah malam." Sakura meneguk coklat panasnya. Chii pun mendengus pasrah. (Pernah liat kucing mendengus? xD *plak*)
Chii mulai melangkahkan kakinya masuk meninggalkan Sakura yang masih termenung diam. Jam menunjukkan pukul 11.30 menuju tengah malam. Chii tahu bahwa majikannya itu sedang menunggu kekasihnya untuk setidaknya mengucapkan 'happy birthday' kepadanya.
Dddrrrttt Drrt Drrrttt
Terdengar deringan dari arah tas Sakura. Chii pun dengan sigap segera menyelinap masuk ke dalam tasnya dan mendapati ponsel Sakura yang sedang berdering. Chii menggigit strap yang terikat disana dan membawanya ke hadapan Sakura.
"Hn? Telepon? Siapa?" Sakura segera meraih ponselnya itu dari Chii. Ia kemudian menekan tombol penjawab disana. Sakura sudah bersiap akan menjauhkan telinganya, karena kali ini yang telepon adalah Ino, kebiasaannya kan selalu berteriak saat telepon.
"Moshi-moshi?" sapa Sakura ragu.
"Sakura-chan, apa kabar…?" Sakura menaikan sebelah alisnya. Ini bukanlah suara Ino. Ini suara laki-laki. Beberapa saat ia berpikir, tiba-tiba suara itu kembali menyahuti. "Ini aku, Sai. Ino sedang tertidur karena kelelahan, dan aku meminjam ponselnya."
'Kelelahan? Apa maksudnya itu….' Batin Sakura malas.
"Apa yang mau kau katakan, Sai?"
"Ah, aku hanya ingin menyampaikan pesan Sasuke saja. Ia memintamu untuk menonton acara televisi dichanel X jam 11.35 malam ini. Ia juga ingin menyampaikan maafnya karena ia sulit menghubungimu, jadi ia menghubungiku. Sudah ya, Ino sepertinya terbangun. Aku ingin menidurkannya dulu. Sampai jumpa."
Dan setelahnya telepon pun tertutup. Sakura baru sadar, banyak panggilan masuk dari Sasuke di ponselnya. Ia memang tak mendengarkannya karena sedari tadi ia hanya terduduk di sofa itu saja.
Sakura segera beranjak masuk ke dalam, ia duduk di atas ranjangnya dan menyalakan televisi. Chii pun mengikuti sang majikan duduk di pangkuannya.
Petikan gitar terdengar disana. Sakura menatap sosok Sasuke di hadapannya itu. Ekpresi dinginnya, jari-jari lentiknya yang memetik senar gitar, bibir tipisnya yang menyanyikan lagu merdu,… Sakura merindukannya.
Wind, go blew her deepest pain
(Angin, pergi terbangkan luka terdalamnya)
Light, show her the way out of rain
(Cahaya, tunjukkan padanya jalan keluar dari hujan)
Love, tell her that I'm fine
(Cinta, katakan padanya aku baik-baik saja)
"Sasuke…" Sakura mendesahkan namanya, air mata tak bisa lagi dibendungnya. Lagu Sasuke telah selesai sampai akhir. Sakura masih memjamkan matanya sambil memelut kedua lututnya yang ditekuk.
.Cklek.
Sakura mengangkat wajahnya dan menoleh ketika merasa seseorang datang membuka knop pintu apartemen itu. Sakura membulatkan matanya lebar-lebar mendapati sosok yang ada di hadapannya.
Baby, didn't I just tell you
(Sayang, tidakkah aku baru mengatakannya padamu)
I'm always love you
(Aku selalu mencintaimu)
"Sasuke~!" Sakura segera bangkit dari ranjangnya dan segera menerjang sosok itu. Chii pun sampai me-ngeong kaget mendengarnya. Sosok itu—Sasuke—mengulurkan tangannya menyambut rengkuhan Sakura.
"Kupikir kau takkan pulang~ hiks~" Sakura memeluk erat tubuh Sasuke. Ia kembali terisak dalam tangisannya. Tangannya meremas kaos Sasuke itu, menghirup aroma maskulin yang sudah hampir dilupakannya.
.
Baby, didn't I just show you
(Sayang, tidakkah aku baru saja menunjukkannya padamu)
The love fillin' my heart for you
(Cinta itu memenuhi hatiku untukmu)
.
Wherever, However, Whenever
(Dimanapun, Bagaimanapun, Kapanpun)
I'll love you as ever
(Aku mencintaimu seperti biasa)
Sasuke masih meneruskan nyanyiannya. Sakura masih terisak dan memeluk tubuh Sasuke. Perlahan Sasuke melepaskan lengan Sakura yang melingkar di tubuhnya. Ia menunduk untuk dapat melihat wajah kekasihnya ini dari dekat.
"hiks~" isakan Sakura mulai melemah. Ia melengkup kedua tangan Sasuke yang berada di kedua pipinya.
"So baby, trust me I'll be back in your arms." dan Sasuke pun mengakhiri nyanyiannya dengan sebuah kecupan ringan di bibir mungil Sakura. Sasuke tersenyum sebelum kembali membenamkan wajah Sakura dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu~" Sakura melengkuh kembali tubuh atletis Sasuke. Sasuke terdiam sejenak, ia melirik ke arah jam dinding disana. Waktu menunjukkan 10 menit sebelum hari berganti. Sasuke pun sekali lagi melepaskan pelukan Sakura.
Sasuke menuntun Sakura keluar menuju balkonnya. Angin dingin menyapa tubuh Sakura, tapi hal itu ditepisnya. Sasuke memberikan sebuah ruang untuk Sakura terduduk. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya. Sakura hanya bisa melirik bingung.
"Kurasa ini waktunya." setelah mengucapkan kalimat singkatnya Sasuke menutup telepon itu dan memasukkannya ke dalam saku.
"Sasuke apa yang—"
"Ssstt." Sasuke memberikan kode untuk sakura terdiam.
"Lihatlah."
Sakura mengikuti arah jari Sasuke. Dan sekali lagi ia membulatkan matanya melihat apa yang sedang berada di hadapannya. Berpuluh ribu kunang-kunang datang menghampiri mereka. Sakura tersenyum, ia perlahan bangkit dari tempat duduknya. Ia begitu senang bermandikan cahaya reremangan kunang-kunang itu.
Sasuke tersenyum. Ia puas bisa menghentikan tangis Sakura dan mengubahnya sebagai senyuman manis.
"Kunang-kunang!" hal ini mengingatkan Sakura akan kejadian mereka bermandikan kunang-kunang di Sunagakure waktu itu. Sakura menari ringan sambil sesekali menjamahkan tangannya kepada kunang-kunang itu.
"I love you, Spring." Sakura menoleh ke arah Sasuke, Sasuke pun menoleh menatap Sakura. "Itu adalah judul lagu yang kunyanyikan barusan. Sakura. Bunga indah itu berkembang saat musim semi bukan?"
Sakura menutupi mulutnya yang menganga karena terkejut.
"Sasuke… lagu itu… jangan bilang kalau kau membuatnya untukku?"
Sasuke tersenyum menanggapinya.
"Itu hadiah untukmu."
Sakura masih menutupi mulutnya menggunakan kedua tangan. Air mata bersiap menetes dari pelupuk matanya. Sasuke bangkit perlahan dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Sakura.
"Kau menangis? Baguslah. Karna aku takkan puas sampai membuatmu menangis." Sasuke mengusap—atau tepatnya mengacak-acak—rambut Sakura. "Tapi ini akan membuatmu memiliki alasan lebih untuk menangis."
Sasuke menyetikkan jarinya. Dan saat itu pula lah detingan jam yang menunjukkan waktu tengah malam berbunyi. Tapi bukanlah hal itu yang membuat Sakura kini menatap seolah benar-benar tak percaya.
Ribuan kunang-kunang itu kini membentuk suatu tulisan besar di hadapan Sakura. Sebuah tulisan yang sederhana tetapi begitu membuat Sakura menangis lepas saking bahagianya.
"Happy Birthday, Sakura." Itulah apa yang ditulis oleh kunag-kunang itu. Sasuke membacakannya ulang sambil kembali melengkup tubuh wanitanya. Membelai rambut merah mudanya dan memberi kecupan ringan di sana.
Sakura sungguh bahagia. Ia sangat bahagia. Tak ada yang mampu menandingi hadiah yang diberikan Sasuke kepadanya. Sakura menjeritkan tangisannya kencang. Ia ingin sekali berseru bahwa lelaki di pelukannya ini adalah miliknya. Bahwa ia adalah satu-satunya pria yang amat dicintainya.
"Aku mungkin bukanlah orang yang romantis, tapi setidaknya aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku sebelum tengah malam tiba hari ini. Dan aku sedikit terlambat karena aku harus menemui Shino, sang pawang serangga untuk bekerja sama denganku membuat tulisan itu dengan kunang-kunangnya."
Sakura pun mempererat pelukannya pada Sasuke. Ia bahkan tak peduli akan kaos Sasuke yang kian basah oleh air matanya. Ia hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini ia merasa menjadi wanita paling bahagia sedunia.
"Sasuke, beri aku perintah."
Ucapan Sakura sontak mengagetkan Sasuke. Ia melirik bingung ke arah wanitanya yang kini mengendurkan pelukannya dan menatap sendu ke arahnya. Sasuke menyernyitkan alisnya.
"Kumohon… semua ini… terlalu membahagiakan untukku. Aku ingin membaginya kepadamu. Kumohon perintah aku melakukan apapun." Sakura masih menatap Sasuke. Sasuke hanya bisa memalingkan mukanya dan terdiam sejenak. Tapi mendadak sepertinya sebuah ide terlintas di pikirannya.
"Apapun heh?"
Uh-oh, sepertinya kau menggali lubang kuburmu sendiri, Sakura-chan~ x3 *plak*. Sakura pun hanya bisa meneguk ludahnya.
Sasuke perlahan meninggalkan Sakura masuk ke dalam. Sakura pun mengikuti langkah Sasuke. Ia mendapati Sasuke yang kini terduduk di tengah ranjangnya. Sakura kembali menyesali ucapannya yang tanpa pikir panjang itu setelah melihat seringai di sudut bibir Sasuke.
"Kemarilah." Sasuke memberikan kode kepada Sakura untuk mendekat. Perlahan Sakurapun menurutinya. Ia merangkak naik ke ranjang dan duduk di depan Sasuke.
"Sakura, apa yang kau rasakan saat aku menyentuhmu?"
"Eh?"
"Apa yang kau pikirkan saat aku melakukan sex denganmu?" tanya Sasuke lebih vulgar. Membuat muka Sakura kini merona merah. Jantungnya bahkan mulai berdebar kencang.
"A…apa?"
"Hm… aku ingin merasakannya." Sasuke sengaja membuang mukanya sambil bersandar menggunkana kedua tangannya kebelakang. "Maukah kau membantuku? Ah, tepatnya kau 'harus' membantuku."
"Eh?" Sakura menatap bingung ke arah Sasuke. Sasuke yang ditatap pun kini memasang wajah bosannya.
"1…"
"Eh? Apa? Apa?" Sakura mulai panic mendengar hitungan mundur Sasuke.
"2…"
"Sasu…! Apa yang harus—" tubuh Sakura semakin mendekati Sasuke dan mencengkram kaosnya. Ia hampir kembali menangis saking bingungnya.
"Ti... Hmmph~ bhwaaa ha ha ha." Sasuke memecahkan tawanya lepas. "Ekspresimu benar-benar tak tertahankan. Kau manis sekali."
Sakura menggeram dan memukul-mukul tubuh Sasuke. Ia menggerutu mengutuk Sasuke dengan pelupuk matanya yang tergenang. Sasuke pun tertawa sambil sesekali terbatuk akibat pukulan Sakura yang kelewat kerasnya.
"Sasuke jahat! Kau jahat! Aku benci padamu" Sakura berhenti memukul Sasuke ketika tangannya dikunci oleh Sasuke. Ia pun menatap tajam ke arahnya.
"Aku juga mencintaimu." Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Kemudian ia pun menarik tangan Sakura hingga tubuh Sakura ikut tertarik dan mendekat ke arah Sasuke. Matanya terpejam ketika merasa bibir Sasuke semakin mendekat.
1 detik
2 detik
3 detik
Tak ada yang terjadi, perlahan Sakura pun mengintip dengan membuka sedikit matanya. Dan sekali lagi ia terkejut saat mendapati Sasuke sedang mengarahkan kamera ponsel ke arahnya.
.Cklik.
Sakura membuka mulutnya tak percaya. Ia tertipu mentah-mentah atas perlakuan Sasuke. Ia mendecih pelan saat melihat Sasuke kini menatapnya kembali.
"Kau manis sekali, Sakura." Sasuke tersenyum lembut. Sakura pun mau tak mau jadi merona lagi melihatnya. Ia pun menunduk untuk menutupi rasa malunya.
Sasuke kini menyelinapkan tangannya ke tengkuk Sakura melalui sela-sela rambut merah mudanya. Menariknya lembut ke arahnya. Sakura kembali memejamkan mata, sentuhan lembut di bibirnya dapat dirasakannya. Sasuke mengecup bibir itu.
Ini yang Sakura rindukan. Lembutnya perlakuan Sasuke yang selalu dipenuhi perasaan cinta terhadapnya. Belaiannya yang menenangkan. Harum tubuhnya yang memabukkan. Sakura sudah kecanduan akan sosok Sasuke.
"Ennnn~ nnnhh~ mmmngg~ Sa…eemmm~" Sakura mendesis saat perlahan Sasuke membaringkan tubuhnya tanpa melepaskan ciumannya. Sasuke masih menikmati bibir lembut Sakura.
Sakura mulai membuka matanya perlahan. Ia merasa kurang. Sentuhan Sasuke kurang. Ia ingin lebih. Sasuke sama sekali tak melakukan apapun selain melumat bibirnya. Bahkan lidahnya pun tak masuk ke dalam. Sakura merasa dirinya kurang mendapatkan kepuasan.
Perlahan Sakura mendorong tubuh Sasuke untuk melepas ciumannya. Sasuke pun menurut dan melepasnya. Sakura mengerutkan dahinya kecewa menatap Sasuke, tapi Sasuke hanya tersenyum—kita sebut saja menyeringai—melihatnya. Terlihat jelas sekali kalau Sakura sungguh tak puas akan perlakuannya.
"Apa yang kau inginkan, Sakura?"
"Engh~ Aku…engh~" Sakura tak dapat menahan dirinya lagi untuk tak dijamah oleh Sasuke. "Aku ingin kau menyentuhku. Sentuh aku lebih banyak, Sasuke~"
"Tidak bisa." Sasuke bangkit dari posisinya menindihi tubuh Sakura. Sakurapun hanya dapat melontarkan tanda tanya ke arahnya. "Seingatku tadi kau memintaku untuk memerintahmu, kan?"
"Sasuke -kun~ kumohon~ Aku…engh~" nafas Sakura sudah mulai tersengal karena menahan hasratnya.
"Perintah kesembilanku. Dapatkan sendiri apa yang kau mau sekarang, Sakura." Sasuke pun kembali bertumpu pada kedua tangannya kebelakang memandang Sakura yang mulai bangkit.
"Aku…" Sakura mendekat ke arah Sasuke. "Aku yang harus melakukannya?" pertanyaan Sakura dibalas oleh senyuman kemenangan Sasuke.
Dengan berat hati, Sakura pun mulai menyentuh dada bidang Sasuke yang masih tertutupi kaos hitam itu. Perlahan tangannya membuka kaos itu, Sasuke pun mengikuti arah gerakan Sakura. Setelah Sasuke sudah bertelanjang dada Sakura seakan kehilangan kendalinya, ia segera menyerang tubuh Sasuke dengan ciuman-ciumannya.
"Tung…gu, Sakura." Sasuke menghentikan perbuatan Sakura dan dibalas tindakan protes darinya. "Kau tak boleh memberikan tanda apapun ditubuhku, bisa gawat kalau sampai ketahuan nantinya."
Sakura menggeram, sedikit banyak ia mengerti akan hal itu. Ia pun kembali menyerang tubuh Sasuke. Perlahan tangannya membuka celana Sasuke. Sasuke masih terdiam menahan desahannya untuk tak keluar. Egonya cukup tinggi untuk dapat mendesah di hadapan Sakura rupanya.
"Lihatlah, itu semua karena perbuatanmu." sahut Sasuke ketika Sakura hampir melepas boxer-nya dan terlihat sebuah tonjolan yang terlihat sesak disana.
"Kalau begitu aku akan bertanggung jawab." Sakura segera melepaskan satu-satunya kain yang menempel di tubuh Sasuke itu. Memperlihatkan sesuatu—yang seharusnya tak bertulang tetapi entah mengapa dapat mengeras—itu.
"Engh~" Sasuke kini tak dapat menahan lenguhannya saat Sakura mulai mengulum kejantanannya. Ia tak menyangka rongga mulut Sakura akan lebih nikmat bila dirasakan dengan 'milik'nya itu.
Suara decapan bibir Sakura dan lenguhan Sasuke terdengar berkali-kali. Merasa akan klimaks Sasuke pun menarik kepala Sakura untuk berhenti. Sakura pun menatap bingung ke arah Sasuke yang kini sedang mengatur nafasnya.
"Kau tak ingin bagian lain tubuhmu menikmatinya juga?" Sasuke melirik ke arah Sakura. Dalam keadaan setengah klimaks(?) pun kau masih bisa menyeringai juga ya, Sasuke. Dasar.
"Eh?" sakura yang tak mengerti hanya bisa memiringkan kepalanya menatap Sasuke bingung.
"Engh~!" Sasuke yang sudah merasa tak tahan lagi akhirnya menarik tubuh Sakura dan menyingkap rok pendek Sakura. Ia membuka lebar paha Sakura dan memposisikan tubuhnya memasuki wanitanya itu.
"Engh~ Sasu~!" Sakura hanya memekik saat merasa Sasuke sudah memasuki daerah intimnya. "Dari…be..lakang?"
Sakura melirik Sasuke yang ada di belakangnya. Tak seperti biasanya, Sasuke kini melakukannya dari belakang. Ia memangku Sakura dan menaikkan kedua paha Sakura dengan tangannya.
"Dengan begini kita bisa melihat, dari mana kita terhubung." sahut Sasuke sambil menggerakan pinggangnya naik-turun. Sakura bisa melihat dengan jelas, 'milik' Sasuke bergerak keluar-masuk dari selangkangannya.
"Saa….aaahh~ Aaahh~ aaannghh~eeenghh~ aaaahh~" Sakura mendesah hebat saat Sasuke mempercepat gerakannya. Sasuke menghirup aroma tubuh Sakura dari sudut lehernya.
Pekikan kencang dan suara-suara erotis mendominasi disana. Mengabaikan Sai, Ino, Naruto, Hinata, dan Shino yang menunggu kabar dari Sasuke. Sebenarnya Sasuke sudah merencanakan kejutan ini dengan mereka semua. Tapi sekarang bahkan Sasuke melupakan mereka karena terlalu asyik dengan dunianya bersama Sakura.
Chii pun hanya menatap cengo kedua majikannya yang sedang bergulat itu. (Chii : "Aku juga ingin segera dapat pacar" xD *plak*)
Hari ini, akan jadi ulang tahun Sakura yang tak terlupakan seumur hidupnya.
-TBC-
Menurut kalian So sweet gak kejutan Sasuke ini?
Kalo enggak kira-kira kalian suka kejutan seperti apa?
Oh ya, ada ralat...
Cerita ini emang selesai di chap 12, tapi akan Shera tambahin 1 chap sebagai ending...
He he
mind to review?
Keep Trying My Best!
~Shera~
