Rina: Wai, wai~ akhir na cerita ini sampe di Arc yang terakhir! Banzai! \(^o^)/
Rin: Orang ini gaje lagi…
Len: Kenapa kita harus hidup di tangan orang gaje sih? Apa dosa kita?
Rina: Yeye~ lalala~ yeyeye~ lalala~ ayo Rin dan Len, kalian kan udah aku kasih kesempatan buat kiss, jadi cepet baca disclaimer dong~ *nari samba*
Rin: Geh, masak sih? Lihat dulu deh! *baca script sebelumnya terus blushing*
Len: Rin… kenapa wajahmu begitu? *baca juga, giliran blushing*
Rina: Hehe, betulan kan~ karena itu cepat baca!
Rin+Len: Baik… *wajah merah tomat*
Disclaimer: Vocaloid tidak dimiliki Rina.
Rin+Len: Udah kan… kita pergi dulu aja… *ngacir*
Rina: *tarik baju mereka* Eits! Belum belum! Kalian ndak ingat bahwa kalian hari ini ultah pa?
Rin+Len: Masak sih? *lihat tanggalan*
Rina: Karena Rina sayang banget ma Rin n Len muah muah! OTANJOUBI OMEDETTO! Semoga Rin ma Len jadi makin laku, makin cute n ganteng, dan bisa jalan-jalan ke Indo (gak nyambung)!
Rin: Makasih y BakAuthor… ternyata meski Baka kau ingat…
Len: Karena aku ganteng dan dido'akan biar tambah ganteng. Buat para readers mohon RnR dan silahkan dibaca Chapter 10 ~Transfer Student Is New Problem?~
Rin POV
Aku melihat kepapan tulis seraya mengulang-ulang kejadian melelahkan selama seminggu ini. Semuanya dimulai sejak Len mencium Ella… pada malam itu. Esoknya, Milet… atau sekarang kusebut dengan Miki, berubah dari wujud permatanya menjadi wujudnya yang semula, wujud manusia. Miki kini bersekolah di tempatku dan sekelas denganku pula…
Aku menghela nafas panjang sambil menyentuh bibirku. Saat aku menyentuhnya, yang terpikir di pikiranku hanyalah, "Len…" ujarku tanpa sadar. Len berkata bahwa dia menyukai Ella… dia menyukai Ella… Len menyukai Ella… aku sangat paham hal itu, tapi kenapa dadaku merasa sesak begini?
Saat aku masih berpikir dengan cukup keras, sebuah gumpalan kertas melayang di mejaku. Aku mengambilnya dan menyadari tulisan cakar ayam Len yang terlalu bagus untuk dibaca. Aku melihat ke arahnya, dan wajahnya terlihat khawatir.
Aku jadi teringat kejadian pada malam itu, dan segera mengalihkan pandanganku, sementara wajahku jadi memanas. Aku tahu yang Len ingin cium adalah Ella, bukan aku, tapi kenapa perilakuku jadi begini sh?
Karena tidak mampu mengadakan kontak mata, aku segera membaca isi pesan dari Len itu. Disana berbunyi, "Rin, apa kau sakit? Beberapa waktu ini kau tidak mau melihatku. Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah? ~Len"
Aku tersenyum sedikit. Len selalu memikirkanku, tapi hatinya adalah milik Ella. Len menyukai Ella, bukan aku. Len… Len…
"Rin, kau menyebutkan nama Len di kepalamu lagi. Ini sudah yang ke-245 kali dalam hari ini," ujar Miki dari dalam kepalaku.
Aku mendongakkan kepalaku dan melihat ke arah Miki yang tersenyum jahil kepadaku sementara aku memasang wajah cemberut. Meski wujudnya sekarang adalah manusia, kami bisa berbicara dengan pikiran kami, dan sepertinya ada orang luar yang ikut juga, yaitu…
"Rin-chan benar-benar menyukai Len-kun, ya~" ujar orang yang kumaksud dengan nada yang bermain-main. Satu-satunya penyihir di sekolah ini selain aku dan Miki adalah Rui-senpai saja. Jadi, terkadang Rui-senpai ikut menimpali.
"Kalian berdua berisik! Aku tidak menyukai Len tahu!" teriakku dalam pikiranku kepada dua orang paling menyebalkan itu.
"Meskipun kau sudah diciumnya?" goda Miki dari dalam otakku. Lalu aku mendengar suara Rui-senpai yang menggodaku bahwa Len itu bergerak cepat, dan kira-kira kapan aku dan Len berpacaran.
Wajahku spontan memerah, dan aku mencuri pandang pada Len yang sudah tertidur di mejanya sambil menghadap ke arahku. Dadaku berdebar dengan lembut dan juga hangat… apa mungkin aku…
Dengan segera kutepis pikiran yang tidak mau kupikirkan itu. Len menyukai Ella… Len menyukai Ella… tidak mungkin aku bisa berdiri di antara mereka, meski Ella hanyalah bayangan sementara, tidak mungkin mereka bisa bersatu.
Kenapa aku bahkan memikirkan hubungan mereka? Aaaah, aku tidak mengerti sama sekali! Apa yang salah dengan pikiranku yang menjadi gila ini, meski hanya dengan menyebut nama Len sekali! Aku tidak bisa memikirkan urusan sepelik ini!
Eh? Kalian bertanya bagaimana Milet bisa menjadi Miki dan kenapa hubunganku dengan Rui-senpai jadi membaik begini? Cerita itu sih, berawal dari pagi setelah malam terakhir Festival Kebudayaan…
(Flashback)
"Kenapa? Kenapa aku tidak berubah menjadi kelinci lagi?" pikirku dengan panik setelah meninggalkan area sekolah dan berada di halaman belakang rumah Len.
Waktu sudah menunjukkan lebih dari jam satu malam, tetapi aku tidak berubah wujud dari Cinderella menjadi Kelinci yang Len beri nama Rin. Kalau Len menyadari kelincinya hilang, bisa-bisa bahaya, dan jika aku berada dalam wujud ini lama-lama, bisa-bisa polisi akan menangkapku dan aku tak bisa jadi manusia biasa lagi! Huwaaa tidak mau!
"Itu karena kau sudah menyelesaikan tahap awal dari wujudmu, Ella," aku mendengar suara Milet dari dalam kepalaku. Aku jadi ingat, dengan segera aku mencari Milet yang tiba-tiba sudah menghilang dari leherku.
"Milet? Milet, dimana kau?" tanyaku dengan panik baik di dalam pikiran atau dalam kenyataan.
Saat itu aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku dari balik semak-semak. Spontan aku melihat ke arah itu, dan memperhatikan gerak-gerik semak belukar itu, sambil menyimpan sihir untuk melumpuhkan orang yang mungkin melihatku itu.
"Tak usah khawatir Ella, ini aku, Milet," ujar suara yang tidak terlalu kukenal, namun sangat tidak asing di telingaku.
Seorang gadis dengan rambut berwarna merah cherry, dan beberapa helai rambut yang membuat sejenis huruf di atas kepalanya, keluar dari balik pohon. Matanya berwarna merah Ruby dan juga kulitnya tampak halus seperti porselen. Mata itu mengingatkanku pada mata permata Milet.
"Mungkin kau mengenalku sebagai Milet, Loveheart. Tapi, ini adalah wujud asliku, namaku sebenarnya adalah Miki. Senang bertemu denganmu Ella… tidak, Rin," ujarnya dengan wajah yang tampak tenang.
Aku melihat ke arah matanya, dan melihat bahwa dia tidak berbohong, jadi kurendahkan pertahananku. Lalu, aku menjawab, "Sama-sama… Milet… eh, Miki…" ujarku dengan gugup. Tapi, aku buru-buru meminta penjelasan tentang kejadian aneh yg sedang kualami ini dengan melihat ke arah Miki.
Seakan membaca pikiranku, Miki segera berkata, "Seperti yang kukatakan tadi, kau sudah menyelesaikan tahap awal dari perubahan wujudmu, jadi kau tidak perlu berubah menjadi kelinci lagi setiap malam. Itu semua disebabkan karena segelku sendiri sudah lepas," jelas Mile-Miki dengan wajah yang datar sedatar papan triplek, tapi terlihat dengan cukup jelas bahwa dia sedang jengkel.
Terjadi keheningan sesaat, sementara aku berusaha mencerna perkataan Miki yang tidak terlalu jelas dan juga akurat itu. Setelah beberapa saat, Miki memecah keheningan diantara kami.
"Yah, aku harus berterimakasih padamu karena membuatku lepas dari segel. Segel itu sudah ada padaku sejak aku menjadi sepertimu dulu," ujar Miki sambil menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakini tidak gatal sama sekali.
"A-apa? Tidak! Tak mungkin! Jadi kau…" ujarku sambil menunjuk-nunjuk Miki dengan wajah horor. Jika dulu dia sama seperti aku, berarti dulu dia adalah… Miki adalah…
"Benar sekali Rin. Dulu, dulu sekali, bahkan sebelum kau lahir, aku adalah orang yang ditakdirkan menjadi Cinderella, sama sepertimu,"
(Flashback Over)
"Kagamine Rin-san, apa kau bisa membaca lanjutannya?" suara guru yang mengajar membuyarkan lamunanku tentang apa yang kupikirkan.
Aku segera melihat ke mejaku dan melihat pada buku paket yang terbuka lebar, tapi aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Tapi, Miki yang berbicara melalui pikiranku segera memberi tahu apa yang guruku itu maksud. Dengan segera aku mencari halaman yang diberikan Miki, dan membaca mulai dari baris yang diinginkan guru itu.
Fyuh aman…
Ah, sampai dimana tadi? Oh ya, tentang Miki bukan? Sekarang biar kuberitahu bagaimana hubunganku dan Rui-senpai bisa membaik seperti sekarang ini. Sebenarnya simpel saja, karena aku sudah merelakan Liu-senpai kepada Rui-senpai, sudah tidak ada lagi yang membuat kami harus bertengkar. Rui-senpai sendiri yang baru kuketahui memiliki kutukan keluarganya, juga sudah terlepas dari kutukannya meski masih bisa menggunakan sihir.
Rui-senpai juga mengatakan bahwa aku sudah tidak perlu memikirkan tentang dirinya yang mengganggu, karena dia sudah tidak memiliki alasan untuk menggangguku menggagalkan kutukanku sendiri. Tapi, dia tentu saja meminta maaf tapi segera berterimakasih.
Entah mengapa pikiranku melayang pada Len akhir-akhir ini. Pada malam aku melakukan pencurian, Len tidak pernah datang lagi. Mengetahui hal itu membuatku sedih meski pekerjaanku menjadi lebih gampang, karena Kaito-jiisan bahkan tidak mencoba menemukanku. Aku tidak tahu angin apa yang membuatnya begitu. Aku bahkan sudah menepati janjiku dengan memberinya pertanda khusus.
Tapi… Len… kenapa dia menghindariku… kenapa dia menghindari… Ella…?
Len POV
Aku melihat ke arah Rin yang menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya pada hari ini. Sejak pagi dia terus melamun dengan menerawang seperti itu. Saat aku menyapanya, Rin pasti segera berhenti tapi setelah itu melarikan diri. Entah apa yang terjadi padanya… seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Meski aku bilang begitu, tapi aku sendiri tidak bicara tentang Rin soal beberapa hal. Salah satunya adalah tentang pengakuan cintaku pada Ella, dan juga mimpi yang melibatkan mereka berdua yang kudapat setiap malam selama beberapa lama ini.
Mimpi itu awalnya buram, tapi semenjak Rin dan Ella datang dalam kehidupanku, mimpi itu menjadi sangat jelas. Saat aku berhasil menangkap Ella, dia menangis, dan segera menghilang, tepat saat itu Rin berdiri di hadapanku dan dengan wajah yang hampir menangis, berbalik dariku dan menghilang pula. Saat aku berusaha memanggilnya, mimpiku berakhir. Setiap malam mimpi itu terus terulang dan terulang kembali, bahkan menjadi lebih jelas dari hari ke hari.
Lalu, sejak kejadian pada malam festival, aku tidak pernah sekalipun membantu ayahku yang idiot itu lagi. Aku tidak tahu wajah apa yang harus kupasang saat aku bertemu dengan Ella lagi. Aku bahkan memberi alasan pada ayahku bahwa aku harus belajar untuk ujian semester sebelum liburan musim dingin.
Tapi, aku jadi sedikit heran dengan sekolahku sendiri. Banyak murid baru yang datang pada saat-saat yang aneh. Bahkan kami menerima murid baru lagi, sehari setelah festival berakhir sudah ada seorang murid pindahan di kelasku dengan nama Furukawa Miki. Aku yakin Piko yang biasanya cuek bebek bahkan tidak peduli, melihat ke arahnya dengan mata yang terbuka lebar. Aku mengira bahwa Piko pernah bertemu dengan Furukawa sebelumnya.
Furukawa sendiri yang sudah beradu pandang dengan Piko, segera bertukar glare yang sangat tajam, setajam pisau dapur. Sepertinya… pertemuan Furukawa dengan Piko tidak terlalu baik. Aku bahkan bisa melihat percikan petir di antara mata mereka berdua.
Aku melempar notes kepada Rin, dan Rin membacanya, tapi tidak membalasnya. Dia seakan-akan sedang melamun lagi. Aku memperhatikan wajah Rin yang sedang tidak ada disana itu. Mata Rin yang bagaikan permata itu terlihat berkilauan. Wajahnya yang manis tampak sangat segar dan merekah. Rambut Rin yang memiliki warna yang cukup senada dengan rambutku, tampak halus dan lembut. Pita putih yang selalu di pakainya tampak sangat pas di kepalanya, meski dia sudah SMA. Wajah Rin memang sangatlah imut dan menarik. Aku sempat heran kenapa Rin tidak punya pacar…
"Sayonara Len…" aku jadi ingat kalimat terakhir yang Rin katakan padaku di dalam mimpiku. Dengan wajahnya yang sedih, dia mengatakan itu, seakan kami tidak mungkin bertemu lagi.
Memikirkan bahwa aku dan Rin tidak akan bisa bertemu lagi… membuat dadaku menjadi sangat sakit dan sesak, jauh lebih sesak dibandingkan saat Ella menghilang dari dalam mimpiku. Kenapa aku begitu memikirkan Rin? Apa perasaanku padanya? Kenapa perasaanku pada Rin sangat mirip pada Ella, tapi lebih membuatku sulit bernafas.
Rin yang ada di hadapanku sekarang ini… kenapa terasa sangat jauh? Sebegitu jauh, seakan-akan tanganku tidak akan bisa menjangkaunya, mataku tidak akan bisa melihatnya… bahkan siluetnya sekalipun. Perasaan yang lembut namun menyiksa ini… kenapa aku memiliki perasaan ini pada Rin?
Rin… Rin…
Aku melihat sekelilingku. Sepertinya aku tertidur di dalam kelas lagi… sudah beberapa kali ini, meski aku tidak mengejar Ella, aku selalu tertidur dan memimpikan mimpi ini.
Di sekitarku, yang terlihat hanyalah hamparan salju yang tidak berujung. Sejauh mata memandang hanyalah salju. Salju turun dengan perlahan dan menumpuk dengan salju-salju lain. Sekelilingku gelap, tidak menunjukkan pemandangan apa-apa kecuali salju. Aku menengadahkan kepalaku, berusaha mencari suara seseorang, siapapun, untuk membangunkanku.
"Len…" aku mendengar suara Ella yang menggema di kegelapan.
"Ella…" aku balas memanggilnya sambil membuka mataku perlahan. Di atas sana, aku melihat Ella yang melayang dengan sayap yang selalu digunakannya melarikan diri. Wajahnya yang indah melihatku dengan tatapan yang terkesan melankolis.
"Carilah aku… temukan aku… Len…" ujar Ella yang kemudian merentangkan tangannya, berusaha meraih tanganku.
"Ella…" aku memanggilnya lagi, dan berusaha menggapai tangan Ella yang dia berikan kepadaku, seakan memintaku untuk menariknya, atau dia yang membawaku.
Tepat saat jari jemari kami bertemu, sosok Ella diganti menjadi Rin. Wajah Rin tampak sangat sedih, dan air mata terkumpul di matanya. Aku semakin berusaha menggapainya, tapi, tangan Rin berubah menjadi cahaya, dan Rin berkata, "Sayounara Len," ujarnya.
"RINNN!"
"Rin!" aku terbangun sepertinya dengan meneriakkan nama Rin. Aku melihat ke sekeliling, dan bersyukur bahwa tidak ada yang melihatku sedang… gila begini.
"Len?" oke, kecuali satu orang.
Dan… kenapa aku merasa suaranya amat sangat mirip dengan Rin… ya?
"Kenapa kau memanggilku tiba-tiba?" ujarnya lagi.
Aku melirik ke arah siapapun itu yang berbicara, dan melihat Rin yang dengan lugunya melihat ke arahku dengan sebelah alis terangkat. Di tangannya terdapat bekal makan siang yang sudah dibuka, sementara tangan kanannya memegang sumpit yang di ujungnya sudah ada sebuah sosis goreng yang dibentuk dengan gurita.
Eh, sudah jam makan siang? Gah, bukan itu masalahnya! Kenapa orang yang kumimpikan malah yang harus mendengarkan aku meneriakkan namanya saat aku terbangun? Ah, dimana aku harus menaruh wajahku sekarang?
"Len…?" panggil Rin lagi dengan nada yang jauh lebih heran.
Aku segera pundung di pojokan, memikirkan tentang apa yang harus kukatakan. Bagaimana jika Rin menjauhiku lebih parah dibanding ini karena mendengarku jadi aneh begini? Padahal dia akhirnya berbicara… eh, berbicara? Dengan spontan aku membalikkan kepalaku untuk melihat ke arah Rin yang meletakkan sumpitnya dan kini memperhatikanku.
"Kau tidak apa-apa?" ujarnya dengan nada khawatir bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar. Karena itu Rin, dia pasti selalu ingin tahu.
Aku spontan melongo disana. Rin, yang berdiam diri denganku selama siapa-yang-tahu, kini berbicara denganku lagi! Rasanya rasa khawatir yang menghantuiku sejak beberapa lama ini menjadi menghilang tanpa jejak.
"Gomen… mungkin lebih baik aku pergi saja, ya?" ujar Rin yang membereskan makanannya dan segera berdiri dari tempat dia duduk.
Aku berkedip melihat reaksi Rin yang kemudian berjalan menuju pintu kelas untuk keluar. Tapi, dengan spontan aku segera mengejar Rin dan menggenggam pergelangan tangannya erat-erat, membuat Rin yang berjalan jadi rem mendadak.
"Jangan pergi, Rin," ujarku dengan bersungguh-sungguh. Tanpa sadar aku memperkuat cengkramanku pada pergelangan tangan Rin. Aku tidak ingin Rin menghilang… dari hadapanku lagi.
Rin melihatku dengan tatapan terkejut, tapi segera menghalus, saat dia mengatakan, "Aku tak akan pergi kemana-mana Len. Geez, kau benar-benar kekanakan, ya!" ujar Rin sambil tersenyum dengan nada bercanda.
Saat Rin yang merubah ekspresinya dari tersenyum menjadi tertawa, dadaku terasa melambung. Seperti ada jutaan kupu-kupu yang ada di dalam perutku. Wajahku pelan-pelan menjadi panas, tetapi rasa hangat ini bukanlah rasa hangat yang kubenci. Entah sejak kapan… Rin menjadi sangat berharga bagiku. Apa mungkin aku… jatuh cinta pada Rin?
Normal POV
Rin dan Miki berjalan bersama setelah pulang sekolah karena mereka tinggal di tempat yang sama (setelah tidak menumpang dengan Len, Rin dan Miki tinggal di apartemen Rin). Rin dan Miki memang terlihat berbicara biasa saja di luarnya, tapi sebenarnya mereka sedang membicarakan hal yang penting, lebih penting dibandingkan pencurian permata selanjutnya.
"Miki, selama ini kau belum mengatakan apapun padaku tentang dirimu. Tentang bagaimana kau menjadi permata itu. Memang bagaimana ceritanya?" tanya Rin di dalam pikirannya kepada Miki.
"I-itu… itu agak sulit untuk dibicarakan. Singkatnya, ada sepasang gadis seperti kita sekarang, yang satu menjadi Cinderella dan satu menjadi permatanya. Aku adalah Cinderella dan permataku itu adalah gadis yang satunya. Singkatnya, aku tidak berhasil menunaikan tingkat perubahan pertamaku, sehingga kutukan gadis itu berpindah kepadaku, dan dia lepas dari kutukannya, sementara aku yang kemudian dikutuk menjadi permata itu, hingga kau datang. Tapi, aku tidak tahu apa yang harus kau lakukan setelah menyelesaikan perubahan pertama," jelas Miki dengan memikirkan bahasanya semudah mungkin untuk dicerna Rin.
Rin tampak berusaha mencerna perkataan Miki, saat sebuah suara yang dimiliki oleh Rui, bergabung pada percakapan mereka, "Kutukan Cinderella memiliki cara penyelesaian yang sama dengan kutukan Aurora. Dari yang kudengar dari cerita Miki, sepertinya aku juga memiliki nasib yang hampir sama," ujar Rui dari dalam pikirannya kepada Rin dan Miki.
"Geh, jadi selama ini kau mendengarkan percakapan kami?" ujar Miki dengan panik.
Terjadi spasi di antara pertanyaan Miki dengan jawaban Rui, sementara Rin masih memikirkan maksud cerita Miki yang setengah masuk di kepalanya. Rui sendiri menjawab, "Tidak, tidak juga. Aku baru mulai bisa mendengarkan sejak kutukanku sendiri lepas. Dalam keluargaku, hanya satu gadis dari beberapa generasi yang menjadi Aurora. Dari waktu ke waktu, gap antara Aurora satu dan yang lain juga makin besar. Dari buku keluargaku secara turun temurun, aku adalah satu-satunya gadis yang menjadi Aurora setelah puluhan generasi, mungkin sejak 50 generasi yang lalu," ujar Rui panjang lebar.
"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk memecahkan kutukan ini? Apa sama sepertimu, Rui-senpai?" tanya Rin dengan nada yang tidak terlalu paham.
"Metode Cinderella dan Aurora memang cukup sama, tapi memiliki perbedaan yang cukup besar. Dalam Aurora, Pangeran yang ditakdirkan untukmu akan datang dan bla bla bla, pokoknya seperti cerita minus bagian peran jahatnya. Tapi, dalam Cinderella, hanya ada satu diantara dua gadis yang menjadi Cinderella," ujar Miki dengan sedikit tidak enak. Mungkin membayangkan dia harus menunggu selama ratusan tahun untuk melihat Cinderella generasi selanjutnya.
"Jadi, diantara aku dan Miki… hanya ada satu diantara kami yang bisa…" ujar Rin dengan melihat Miki dengan wajah tidak percaya.
"Sepanjang pengalamanku sih begitu," jawab Miki dengan tidak begitu rela.
Rin jadi berpikir, diantara dia dan Miki… siapa yang akan terlepas? Apa dia rela membuat Miki menunggu lebih lama, atau dia rela menunggu hingga saatnya tiba?
"Mungkin ini tidak terlalu membantu. Tapi, ini adalah rahasia yang kuketahui dari permata Loveheart… yang mungkin bisa membebaskan kalian berdua," timpal Rui.
"Benar…kah?" tanya Rin dan Miki bersamaan.
"Apa kau yakin dengan hasil analisamu ini bocah?" ujar suara lelaki di dalam sebuah ruangan di kepolisian. Di hadapan lelaki itu, terdapat seorang cowok muda yang memiliki rambut berwarna silver dan memiliki mata berwarna merah darah.
"Tidak mungkin ada kesalahan pak. Saya mempertaruhkan harga diri saya dalam mencari informasi ini," ujar cowok itu dengan percaya diri.
Lelaki itu memperhatikan cowok itu dengan seksama, lalu membanting file yang diserahkan kepadanya sambil berkata, "Hal ini hanya diketahui oleh kau dan aku. Aku memberimu ijin untuk memasuki sekolah ini guna memberimu kesempatan," ujar lelaki itu.
"Terimakasih banyak pak," ujar cowok itu sambil membungkukkan badannya.
"Besok kau bisa memasuki sekolah ini. Dari tulisanmu sendiri, kulihat kau memiliki batas waktu hingga Tahun Baru bukan? Kutunggu kabar gembira darimu sebelum hari itu," ujar lelaki itu dengan meletakkan kedua tangannya di atas meja, sementara dia memperhatikan gerak-gerik dari cowok itu.
Cowok itu mengangguk lemah, sebelum meninggalkan kantor itu bersama dengan orang di dalamnya sendirian. Dia memutuskan bahwa sekarang dia tidak boleh gagal lagi.
"Eh? Seminggu sebelum ujian semester ada pindahan lagi?"
"Kudengar dia cowok cakep lho!"
"Aneh yang kudengar dia malah bekas berandalan"
"Tapi yang jelas dia cowok bukan?"
Pagi hari di kelas Rin dan Len diselubungi dengan bisik-bisik dari orang-orang disekitar mereka, menyebarkan berita bahwa ada anak baru yang masuk lagi. Seakan membenarkan rumor yang sudah marak diperbincangkan, wali kelas Rin dan Len, Hiyama Kiyoteru, memasuki kelas.
"Hari ini, ada seorang anak pindahan dari Kyoto. Mungkin kalian merasa aneh, tapi terimalah dia dengan baik ya," ujar Kiyoteru pada murid kelasnya yang terkesan sulking.
Setelah itu, Kiyoteru membiarkan murid misterius itu masuk. Dan saat dia masuk, baik Rin ataupun Miki merasakan hal yang sama. Perasaan tidak enak dan juga tidak aman. Bahkan Rui yang berada di kelas yang jauh dari mereka merasakan hawa dingin yang menusuk tulang itu. Seseorang yang berbahaya telah datang… itulah yang mereka rasakan.
Rin dan Miki memperhatikan cowok itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambutnya berwarna silver, matanya berwarna merah darah, dan juga memiliki penampilan yang cukup mirip dengan Len. Wajahnya terkesan seperti anak berandalan, itu yang pasti.
"Namaku adalah Dell. Keahlianku adalah yang berhubungan dengan hal-hal Supernatural" ujarnya memperkenalkan diri.
"Rin, Miki, orang ini akan mengganggu ujian kalian. Aku bisa merasakannya,"
Yeyeye, lalala, wah wah wah! Bener-bener deh! Omong-omong, aku sudah ngusir Rin ma Len ke alam entah berantah. Jadi Rina sendiri yang mengisi bagian lowong ini! Yup, bener sekali Dell mendapatkan beberapa peran di Arc ini, karena Rina inget siapa yang belum dapet… XDDD
Nah, karena udah itu ja. Jangan lupa untuk RnR dan silahkan dibaca preview chapter 11!
Chapter 11 ~Suspicious Person and Studying Together?~
"Keluarga itu… dalam sejarah kita, disebutkan keluarga itu berusaha menghapuskan keberadaan penyihir"
"Karena sebentar lagi Ulangan Semester, saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok belajar"
"Bagaimana kalau kita ke tempatmu dan menginap?"
"Eh… eh… e…h… EEEEH!"
"…Kenapa kau disini?"
