"Beliau bilang kalau besok siang adalah keputusan finalnya. Yang ingin kutanyakan adalah apa kalian siap untuk keputusan terburuk?"

Tao mengangkat tangannya. "Yang terburuk itu.. yang seperti apa?"

"Dibunuh."


xxXxx

Cake?

EXO Member. Gender bender, OOC, and Typo. Romance, Supernatural, Humor.

©Kim Jongmi

xxXxx


Ten

-Complicated-


Senyum laki-laki paling berkuasa itu membuat Tao merinding takut. Mata sipit laki-laki itu menatap Yixing dan Tao bergantian sebelum akhirnya membuka mulut.

"Rugi rasanya jika harus membuang wajah-wajah cantik begini," Laki-laki itu tersenyum pada Yifan dan Joonmyeon. "Namun kalian sudah mempermalukan agensiku."

Yifan mendesah frustasi. "Lalu apa yang kau inginkan?"

"Kita tidak bisa diam saja, Tuan Wu. Aku bisa kehilangan investor-investorku, kau tahu apa artinya? Aku bisa kehilangan penghasilan. Penghasilan agensi jatuh mencapai 60 miliar! Bagaimana menurutmu?! Menurut kalian?!"

Tao mencengkram lengan Yixing dan beringsut pada gadis lemas itu. Yifan yang tahu Tao ketakutan langsung memegangi bahu gadisnya. Joonmyeon hanya bisa menunduk. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.

Gadis termuda disana membuka mulutnya. "Maafkan kami, sajangnim."

"Kau pikir uang kami bisa kembali dengan kata maafmu?!"

Tubuh Tao bergetar hebat karena kaget dan kembali mundur setelah dibentak. Reflek Yifan memegangi bahu Tao, seolah dengan sentuhannya ia bisa memberikan sedikit ketenangan pada gadisnya. Yifan ingin sekali menonjok laki-laki tua itu sekuat tenaga, namun ia masih memikirkan Joonmyeon dan member-member lainnya jika ia bertindak gegabah. Suara laki-laki tua itu masih menggema ke seluruh ruangan bagi Tao.

Laki-laki dibalik meja itu mengatur nafasnya yang memburu karena emosi. Setelah meneguk air mineral yang sudah disediakan dimeja, ia kembali menatap keempat manusia yang masih menunggu keputusannya.

"Bawa teman-teman kalian ke Seoul. Sekarang juga. Aku akan memikirkan dan berdiskusi dengan Dewan Direksi beserta investor-investor lain. Besok siang, akan kuberikan hasil keputusannya."


Delapan member lainnya langsung bersiap-siap ketika manajer menelepon mereka siang tadi. Manajer memberitahukan kalau sudah ada dua van yang akan menjemput mereka untuk berangkat ke Seoul. Mereka belum tahu apa-apa selain disuruh ke Seoul.

Semua member sibuk dikamar masing-masing untuk bersiap-siap. Kecuali Jongin yang masih mandi karena sejak pagi laki-laki itu belum mandi. Luhan dan Minseok menyiapkan makanan untuk dijalan. Takut-takut kalau member-membernya kelaparan.

Dikamarnya, Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang merias diri. Memakaikan kelopak matanya yang sembab –semalam ia menangis– dengan eyeliner tipis dan eye shadow berwarna kemerahan. Pipi apelnya dibiarkan pucat tanpa blush on. Sementara bibirnya dipoles lip balm sebelum didobel lipstick berwarna soft pink.

"Baek," Panggil Chanyeol pelan. Baekhyun hanya menggumam singkat untuk menanggapinya. "Kenapa kita disuruh ke Seoul?"

"Aku tidak tahu."

"Keputusannya belum bulat?" Tanyanya lagi.

"Belum."

"Jadi untuk apa kita berangkat ke Seoul?" Tanya Chanyeol lagi. Baekhyun baru ingin membuka mulutnya tapi Chanyeol sudah memotongnya. "Konferensi pers?" Gadis itu mengerutkan keningnya. "Tanda tangan pembubaran?" Mata sipit Baekhyun menatap bayangan Chanyeol dicermin. "Dibunuh?"

"Demi Tuhan, Chanyeol," Baekhyun memutar tubuhnya dan menatap Chanyeol jengkel. "Aku tidak tahu apa-apa kecuali kita akan dijemput untuk kembali ke Seoul. Dan kuyakin kita tidak akan dibunuh. Jangan bodoh."

Chanyeol terlihat serius. "Baek, SM itu agensi besar. Mereka bisa saja membunuh kita tanpa harus ketahuan. Mereka bisa saja membayar media! Aku tidak kaget jika kita dikeluarkan dan di-banned dari industri hiburan untuk selamanya."

"Oh, jadi dikeluarkan dan di-banned dari industri hiburan untuk selamanya adalah pemikiran terburukmu saat ini? Tidak bisakah kau berpikiran positif sedikit. Paling tidak, kami para gadis akan dikeluarkan dan kalian sisanya akan lanjut kontrak."

"Jadi.. kau tidak masalah jika harus dikeluarkan?"

Baekhyun terdiam. Sejujurnya, Baekhyun tetap ingin berkarya untuk selamanya, tentu saja. Tetapi Baekhyun tidak ingin berharap terlalu tinggi ataupun pupus harapan. Baekhyun berharap yang terbaik dan ia siap untuk yang terburuk. Baekhyun menghampiri Chanyeol dan mencium bibir laki-laki itu. Siapa tahu ini yang terakhir.

"Jika itu keputusan terbaik, kenapa tidak?"


Keempat member itu sampai didepan pintu dorm lama mereka. Yifan memasukan kombinasi angka yang lama dan keempatnya memasuki apartemen kosong itu. Joonmyeon sibuk merangkul Yixing dan langsung membawa Yixing ke kamar terdekat, masih ada ranjang disana.

Tao berkeliling sebelum memutuskan untuk melihat kamar lamanya. Hanya bersisa perabotan umum. Tao mendesah lelah dan duduk diranjang tanpa seprai. Masih terasa seperti yang lama, bedanya hanya terdapat debu disana-sini.

"Berdebu, ya?"

Yifan memasuki kamar dan memberikan gadisnya botol air mineral. Tao mengangguk sembari menerima botol yang disodori Yifan. "Akan sangat dingin jika kita tidur disini malam ini."

Setuju, laki-laki itu mengangguk. "Aku akan meminta manajer untuk memesankan kita enam kamar hotel. Kita disini hanya sebentar sebelum keluar untuk makan malam. Yang lain masih dalam perjalanan kesini."

"Aku.. benar-benar menyesal, ge."

"Kenapa?"

"Karena memakan kue yang Nenek Shin berikan pada kami," Ujar Tao sedih. Gadis itu menunduk dan terlihat sangat menyesal. "Semuanya jadi begini."

Yifan menggeleng lalu duduk disamping Tao. Menggenggam tangan kurus Tao dan meremasnya pelan. "Jangan menyesal. Lagipula siapa yang tahu kalau kalian akan berubah setelah memakan kue itu. Nenek Shin juga tidak tahu kan kalau dia memberikan kalian kue yang salah."

"Aku juga menyesal kenapa kita berenam belum berubah padahal sepertinya semua persyaratan sudah dipenuhi. Gege sungguh menyayangiku kan? Dengan tulus kan?"

"Ya tentu aku menyayangimu dengan tulus. Masih diragukan lagi?"

"Kalau begitu ada salah satu dari kalian yang tidak menyayangi kami dengan tulus, makanya kami berenam belum berubah," Keputusan Tao bulat. "Kira-kira siapa?"

Yifan berpikir sebentar, namun tidak lama ia menatap Tao ragu. "Aku rasa bukan karena mereka tidak menyayangi kalian dengan tulus, tetapi ada faktor lain yang membuat kalian belum berubah."

"Apa?"

"Ya aku juga tidak tahu, Taozi. Nanti malam biar kita semua mengadakan rapat disalah satu kamar hotel agar semuanya terjawab. Disitu kau bisa bertanya kalau-kalau memang ada yang belum bisa menyayangi dengan tulus."

Tangan Yifan membelai kepala Tao sayang. Gadis itu mengangguk dan menaruh kepalanya dipundak Yifan. Berdiam diri dan sibuk berspekulasi dibayang mereka dengan tangan yang saling bertautan. Entah Yifan berpikiran apa, tapi laki-laki itu tiba-tiba mencium bibir Tao dan mengucapkan rasa sayangnya.


Didalam salah satu van, hanya terisi oleh Kyungsoo, Jongin, Jongdae, dan Minseok. Semua sudah tertidur kecuali Minseok. Gadis ber-single eyelid itu masih setia menatap keluar jendela meskipun hari mulai gelap. Siluet-siluet pepohonan yang bercahayakan matahari senja itu menenangkannya.

Jemari tangan kirinya yang berada ditumpuan kursi bergerak konstan sesuai tempo lagu yang ia dengarkan. Suara alunan musik kala itu membantunya untuk melupakan sejenak apa yang akan mereka hadapi setelah sampai di Seoul beberapa jam lagi.

Tanpa Minseok sadari, Jongdae yang berada disebelah kirinya terbangun setelah mobil yang mereka tumpangi berguncang karena jalan tak rata. Ingin tidur lagi, namun Jongdae melihat Minseok juga terjaga. Melihat keluar, Jongdae sadar kurang lebih dua jam lagi mereka akan sampai di Seoul.

Minseok masih belum sadar kalau ia ditemani Jongdae yang memperhatikannya. Gemas, Jongdae menyambar jemari tangan Minseok yang bergerak-gerak sejak tadi. Minseok langsung menoleh dan tersenyum tipis.

"Sudah bangun?" Tanya Minseok sambil melepas salah satu earphone -nya.

"Daritadi," Jawab Jongdae sambil memainkan jemari mungil Minseok. "Masih dua jam lagi dan aku sudah kangen Tao."

Minseok tertawa kecil. "Iya, aku juga kangen bocah panda itu. Semoga dia baik-baik saja. Kudengar dari Yifan kalau sajangnim membentaknya."

"Aku heran kenapa Yifan bisa menahan diri untuk tidak meninju sajangnim yang sudah menakuti Tao kesayangannya."

Minseok mengangguk-angguk didalam tawanya. Jarak antara kursi Minseok dan Jongdae tidak membuat Jongdae merasa kesusahan berpegangan tangan dengan Minseok. Ini salah satu bentuk menyampaikan rasa sayang dan perhatiannya.

"Masih ingat ketika kita ke karnaval?"

Jongdae tersenyum. "Tidak pernah lupa. Hari jadi kita, kan?"

Senyum Minseok melebar ketika mengingatnya. Jongdae yang troll membuatnya pupus harapan dengan mengatakan menyesal telah berpura-pura pacaran ternyata laki-laki itu ingin mereka menyudahinya dan memulai untuk berpacaran sungguhan.

"Tapi selain itu, ada hari yang aku tidak pernah lupa." Kata Jongdae.

"Apa?"

"Hari dimana noona pulang dengan gadis-gadis yang lain dari tempat tinggal Nenek Shin. Aku kaget disaat melihat ada enam gadis yang mirip dengan member EXO. Gadis terakhir yang kulihat adalah gadis yang tercantik saat itu."

Minseok tertawa. "Aih.. gombalnya."

"Gombal apanya sih? Kan aku jujur, noona sayang. Dulu kan noona itu hyung yang manly namun menggemaskan juga menurutku. Aku tidak berani macam-macam. Ternyata noona kalau jadi gadis itu manis sekali."

"Eh tunggu! Aku kan mirip dengan Sohee, berarti selama ini juga kau menyukai dia dong! Kan dia mirip denganku." Kata Minseok kesal.

Jongdae menggeleng. "Tidak juga. Aku suka melihatnya karena aku bisa membayangkan bagaimana jika noona menjadi seorang gadis. Sekarang bayanganku menjadi nyata, untuk apa aku melihat imitasinya?"

Senang mendengarnya, Minseok langsung menarik kerah baju Jongdae. Minseok langsung mencium bibir tipis nan manis milik Jongdae saat itu. Jongdae tersenyum disela-sela ciumannya dan membalas ciuman Minseok semakin dalam.

"Ehem."

Minseok dan Jongdae melirik kebelakang. Kyungsoo yang duduk tepat dibelakang Minseok sedang melipat tangannya didada, menatap Jongdae dan Minseok bergantian. Jongin masih tidur dengan posisi tiduran dan kepalanya berada dipaha Kyungsoo.

"Aku tidak bisa melihat ke jendela terus, bisakah dilanjutkan lain kali?"

Jongdae tersenyum jahil. "Sepertinya, kau akan terus melihat ke jendela."

Minseok tertawa dan Jongdae melahap bibirnya lagi. Kyungsoo menggeram kesal dan kembali menatap jendela. Jongin tidak sedikitpun merubah posisi dan itu semakin membuat Kyungsoo jengkel. Dia pikir satu van dengan Jongdae dan Minseok bisa membuatnya tenang.


Setelah makan malam dikamar masing-masing –mereka takut ketahuan fans jika makan diluar, semua member langsung memasuki kamar Joonmyeon dan Yixing untuk mengadakan rapat. Dipilih kamar Joonmyeon dan Yixing karena Joonmyeon adalah leader mereka dan Yixing terlalu lemas untuk berjalan.

"Sudah hadir semuanya?"

Joonmyeon menghitung jumlah manusia yang berada dikamarnya. Ada sebelas orang termasuk dirinya, laki-laki itu menggaruk kepalanya bingung. "Masih ada satu yang kurang. Siapa yang belum hadir?"

Tanya Joonmyeon dijawab oleh suara flush dari dalam toilet. Chanyeol keluar dari dalam toilet dengan wajah kesakitan dan perut yang dipegang erat. Joonmyeon menatapnya heran dan Chanyeol hanya nyengir.

"Tadi aku makan jjamppong pedas. Jadi.. sebaiknya kalian jangan ada yang masuk kamar mandi dulu, ya." Pesan Chanyeol.

Baekhyun yang sebagai pacarnya hanya bisa geleng-geleng. "Nggak kenal."

Kyungsoo tertawa dan meninju lengan Baekhyun. Joonmyeon menghela nafasnya untuk berusaha sabar. Sabar dari cobaan disaat ada seseorang yang membuang zat sisa ditoilet kamar hotelnya. Dengan dehaman, laki-laki itu berusaha serius lagi.

"Jadi.. biar kuceritakan lagi. Tadi siang disaat kami bertemu dengan sajangnim, beliau mengatakan banyak hal yang masih bisa kuingat. Seperti kerugian agensi yang mencapai 60 miliar, tentang bagaimana ia tidak tahu kita semua sudah berusaha, dan juga keputusan tentang kita semua," Pengantar Joonmyeon sukses membuat semuanya diam. "Beliau bilang kalau besok pagi adalah keputusan finalnya. Yang ingin kutanyakan adalah apa kalian siap untuk keputusan terburuk?"

Tao mengangkat tangannya. "Yang terburuk itu.. yang seperti apa?"

"Dibunuh."

Gadis paling muda itu menatap Chanyeol. "HAH?! Serius?!"

"Jangan dengar apa kata Chanyeol," Yifan menenangkan Tao. Laki-laki paling tinggi itu memukul Chanyeol kencang sebelum merangkul Tao. "Dia kan memang sinting, jangan didengar ya."

"Ya yang terburuk.. bisa jadi kita dibubarkan."

Semuanya masih diam. Bahkan Baekhyun yang biasanya tidak bisa diampun akhirnya tidak mampu bersuara meski banyak pemikiran-pemikiran didalam otaknya. Sehun mengangkat tangannya dan Joonmyeon mempersilahkannya.

"Kalau menurutku yang terburuk itu bukan dikeluarkan, tapi keenam member yang masih seperti sediakala terus dipaksa kerja dan dipaksa untuk tidak berhubungan lagi dengan keenam member yang diabaikan."

Luhan menatap kekasihnya tidak percaya. "Se-Sehun-ah.."

"Dikeluarkan ya tidak masalah jika mereka tidak membayar semua channel untuk tidak membuat kontrak kerja dengan kita, kita semua masih bisa usaha lain. Tapi kalau dipaksa kerja dan dipaksa untuk putus kontak, lebih baik keluar saja."

"Sehun-ah."

Sehun hanya bisa tersenyum disaat Luhan sudah memeluk lengannya. Semakin jatuh cintalah Luhan pada Sehun saat itu. Yang lain sedang memikirkan kata-kata Sehun. Semuanya setuju dengan kata-kata bijak Sehun.

"Oh, ya. Tadi Tao ingin bertanya pada kalian," Tao menatap Yifan bingung. Dia tidak ingat apa yang ingin ia tanyakan. "Yang tadi kau tanyakan padaku disaat kita mengunjungi dorm lama."

"Oh! Iya!"

"Apa itu?" Tanya Yixing pelan.

"Jadi, aku masih bertanya-tanya kenapa kita semua belum berubah. Padahal sepertinya semua persyaratan sudah kita lakukan. Kita hanya disuruh untuk mencintai dengan tulus kan? Lalu apa yang salah? Apa.. kalian masih ada yang belum bisa mencintai dengan tulus?"

Pertanyaan Tao sukses membuat semua kebingungan.

"Aku sayang Luhan dengan tulus kok. Bukan karena apa-apa." Jawab Sehun polos.

Luhan makin senang. "Aw.. aku juga menyayangi Sehun apa adanya."

Baekhyun tersenyum kecil. "Meskipun Chanyeol bodoh, aku yakin dia menyayangiku dengan tulus. Dan begitu juga aku."

"Apakah aku sebodoh itu, Baek?"

"Yep."

"O-okay."

Jongin mengusap-usap punggung Chanyeol. "Sabar, hyung. Kalau aku sih sudah pasti yes. Aku sudah suka Kyungsoo noona sebelum berubah menjadi seorang gadis. Jadi.. aku tulus bukan karena ia gadis."

"Aku juga sayang Jongin apa adanya kok."

"Iya lah. Memang Jongin punya apa sampai-sampai kau menyayangi Jongin dengan adanya apa." Ini kata Chanyeol yang kurang ajar, Jongin meninjunya.

Minseok membuka mulutnya. "Aku yakin semuanya pasti menjawab mereka tulus menyayangi pasangan masing-masing, jadi bukan masalah tulus atau tidaknya. Tetapi masalah kita tulus untuk berubah menjadi laki-laki lagi atau tidak."

Jongdae yang mengerti maksud Minseok hanya tersenyum kecil. Minseok dan dirinya sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Member yang lain memandang Minseok bingung.

"Maksudnya bagaimana?"

"Jadi, aku pikir kita belum berubah karena kalian masih ingin menjadi seorang gadis. Kalian senang selama ini menjadi seorang gadis kan? Kalian masih ingin menjadi seorang gadis karena kalian senang mempunyai tubuh seperti ini meskipun ada sisi enak dan tidak enaknya. Contohnya menstruasi," Minseok melirik Yixing. "Tetapi kalian lupakan sisi tidak enaknya dan berpikir menjadi seorang gadis, kalian bisa mendapatkan kebahagiaan sendiri. Kalian lupa kalau kalian punya orang tua yang menunggu kepulangan kalian di Hari Natal nanti, kalian lupa kalau kalian punya fans yang menunggu kembalinya kalian di televisi, kalian juga lupa kalau kebahagiaan kalian ini mempunyai batas waktu."

"Jujur, aku memang senang mempunyai tubuh seperti ini."

Minseok mengangguk dan tersenyum pada Luhan. "Aku juga suka karena aku tidak akan dicap aneh jika berjalan dengan kekasihku kelak, dibayanganku semuanya akan terasa indah jika kita tetap mempunyai tubuh seperti ini. Tetapi apa? Nyatanya tidak. Jalan-jalan apa? Wajah kita akan dikenal orang. Kita tidak bisa hidup normal semenjak kita menjadi idol."

"Jadi kita harus bagaimana, unnie?" Kyungsoo terlihat sedih.

"Kita harus merelakan untuk kembali menjadi laki-laki. Percuma jika kalian mencintai dan dicintai dengan tulus tetapi kalian tidak ada keinginan untuk kembali menjadi laki-laki. Well, kuharap kita tidak terlalu bersikap seperti seorang gadis jika kita sudah kembali menjadi laki-laki."

Joonmyeon mengangguk. "Jadi.. karena persyaratannya sudah jelas. Kuharap kalian para gadis bisa merelakan semuanya untuk kembali menjadi laki-laki. Agar kita bisa kembali seperti sedia kala."

"Tapi.. kalau kita kembali menjadi laki-laki, apa kalian masih mau menjadi pacar kami? Yifan ge, memangnya mau pacaran dengan laki-laki?" Tanya Tao takut.

Yifan hanya tertawa. "Aku ini pacaran denganmu juga bukan karena kau itu gadis saat ini. Aku suka dengan Huang Zitao dengan versi manapun."

Yixing tersenyum. "Kalau begitu, semoga besok pagi kita sudah kembali menjadi laki-laki."

"Semoga saja."


"Aku masih seorang gadis, Jongin-ah."

Kyungsoo menatap dirinya didalam cermin yang berada dikamar mandi. Gadis cantik itu menghela nafas dan menatap bayangan Jongin yang berada didalam cermin. Jongin hanya memeluk gadis itu dari belakang, menyembunyikan wajahnya diperpotongan leher Kyungsoo.

"Pelan-pelan saja, Kyung. Mungkin bukan hari ini kau bisa berubah menjadi laki-laki lagi," Bisik Jongin sambil mengecup kulit leher Kyungsoo. "Tuhan masih ingin aku menikmati Kyungsoo versi gadis."

"Tapi keputusan sajangnim itu hari ini! Kalau kami tidak berubah, bagaimana nasib kita semua?"

Jongin mengangkat bahunya. "Kalau kalian tidak berubah, berarti apapun keputusan sajangnim harus kita terima. Tetapi kalau itu menyakiti Kyungsoo, aku akan menolaknya."

Kyungsoo memutar tubuhnya sehingga ia bertatapan dengan dada Jongin. Dengan mudah Jongin membantunya untuk duduk dimeja rias sekaligus wastafel itu. Kaki Kyungsoo melingkar ke pinggang ramping Jongin dan Jongin menarik Kyungsoo mendekat.

"Masih ada beberapa jam lagi sebelum kita berangkat," Bisik Jongin. "Mungkin kau ingin mandi bersama untuk yang terakhir kalinya?"

Bibir Kyungsoo mengerucut. "Jangan bilang untuk yang terakhir kalinya, Jongin. Kita tidak akan berpisah dan masih banyak waktu untuk mandi bersama, oke?"

Jongin tersenyum. "Untuk berjaga-jaga saja. Tidak ada yang tahu kan keputusan sajangnim? Jadi.. mandi bersama?"

Kyungsoo hanya bisa geleng-geleng sambil terkekeh ketika Jongin membuka kancing piyamanya. Satu persatu sehingga Kyungsoo bisa gila untuk menunggunya. Setelah bagian depan piyama sudah terbuka, Jongin langsung mencium bibir tebal Kyungsoo. Menunjukan rasa inginnya.

Ting tong.

"Jonginhh.."

Jongin masih gencar melayangkan aksinya pada Kyungsoo. Bel kamar mereka kembali terdengar dan Kyungsoo tidak bisa tenang. Jongin meremas dada kiri Kyungsoo dan gadis itu mengerang kecil. Lagi-lagi bel kamar mereka terdengar menyebalkan.

"Ah, fuck. Berisik."

Laki-laki bertubuh tan itu menutup pintu kamar mandi sebelum melihat keluar siapa yang memencet bel. Joonmyeon berdiri diluar sana dan Jongin kembali menyumpah kasar dengan pelan. Laki-laki penghuni kamar membuka pintunya.

"Ada apa, hyung?"

"Aku dan Yixing akan keluar. Kalian sudah menelepon resepsionis untuk membawakan sarapan ke kamar?" Tanya Joonmyeon.

Jongin sudah tidak bisa sabar lagi. "Hyung, kau bisa mengatakan ini lewat telepon saja. Kenapa harus mendatangi kami? Hyung tidak sadar kalau hyung sudah mengganggu pagi hariku yang seksi dan menggairahkan?"

Laki-laki tampan didepan Jongin tampak kebingungan. "Hah? Aku tidak mengerti."

"Hyung menginterupsi aku dan Kyungsoo yang sedang tahap foreplay untuk bercinta. Apa hyung sekarang sudah mengerti?"

Joonmyeon terdiam dan melihat ke samping kanannya. Ada seorang anak kecil yang memandang mereka kebingungan. Joonmyeon tersenyum kearahnya dan Jongin sama sekali tidak peduli dengan anak kecil barusan.

"Kau bisa mempengaruhi pikiran anak kecil, Jongin." Kata Joonmyeon setelah anak kecil itu pergi dari sana.

"Aku tidak peduli, hyung. Yang kupedulikan saat ini adalah Kyungsoo yang masih menungguku didalam kamar mandi," Jawab Jongin cuek. "Jadi intinya, hyung dan Yixing noona ingin pergi keluar dan hyung menyuruhku untuk menelepon resepsionis, kan? Ya sudah aku mengerti."

Joonmyeon hanya geleng-geleng. "Ya sudah. Jangan keluar tanpa ijin, oke?"

"Hn."

Jongin menutup pintunya sebelum Joonmyeon pergi dari sana. Laki-laki tampan didepan pintu kamar 804 itu hanya mendesah dan kembali ke kamarnya. Salah apa ia begitu tampan dan semua orang sepertinya tidak peduli padanya selain Yixing.

Kyungsoo mendongak ketika Jongin memasuki kamar mandi. Jongin tersenyum kecil dan menghampiri gadis mungilnya. Senyum Jongin sukses membuat Kyungsoo merasa malu.

"Jadi.. sampai dimana kita tadi?"


Sehun melihat ponsel Luhan yang bergetar dimeja dekat tv. Luhan berada dikamar mandi saat ini, sehingga Sehun tidak bisa menyuruh Luhan untuk mengangkatnya. Lagipula Sehun melihat tulisan Mandarin yang Sehun tahu persis itu terbaca 'Mama'.

"Lu, eommonim menelepon."

Suara Sehun kalah dengan suara shower dari dalam kamar mandi. Sehun mengetuk pintu kamar mandi dan akhirnya ada sahutan dari dalam. Luhan membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya. Rambut cokelatnya basah.

"Ada apa?" Tanya gadis itu.

"Eommonim menelepon."

"Angkat saja. Bilang aku sedang mandi."

"Lu.. kau ingat aku tidak bisa Bahasa Mandarin, kan?"

Luhan menatap Sehun kesal dan menutup pintunya tanpa ijin. Sehun menaruh kembali ponsel Luhan dimeja setelah mengubah pengaturan ponselnya menjadi mode silent. Luhan keluar kamar mandi tidak lama setelahnya. Gadis itu hanya butuh beberapa menit untuk membersihkan diri.

Masih dengan bathrobe, Luhan langsung mengecek ponselnya. Ada beberapa missed call dari kontak yang sama. Setelah mengeringkan wajah dan telinganya, Luhan menelepon balik ke ibunya. Sehun menyuruh Luhan untuk membuat sambungan teleponnya dalam mode speaker sehingga ia juga bisa dengar meskipun Sehun tidak mengerti apa yang Luhan bicarakan dengan ibunya.

"Xiao Lu?"

"Ya? Aku baru saja mandi. Ada apa, ma?" Luhan membuat suaranya terdengar berat.

Sehun dan Luhan bisa mendengar suara berisik orang dan pesawat. Alis kedua manusia itu bertautan bingung. "Mama sedang berada di bandara. Agensimu kemarin menelepon dan mengatakan kalau orangtua EXO harus datang. Dadakan sekali, tetapi katanya ini penting. Sayang baba tidak bisa hadir. Sebenarnya ada apa ini?"

"A-apa? Agensi menelepon dan mengundang kalian untuk datang hari ini?!" Tanya Luhan kaget dan Sehun masih kebingungan, ia tidak mengerti apa yang Luhan bicarakan.

"Hn, mereka bilang ini penting. Kau juga tidak tahu tentang hal ini?"

Luhan menggeleng pelan dan menatap Sehun takut. "A-aku tidak tahu."

"Aneh, mama pikir kau tahu makanya mama meneleponmu. Ya sudah, kalau begitu sampai ketemu di kantor agensimu, nak. Mama merindukanmu, sayang!"

"Aku juga merindukan mama. Bye bye."

"Bye."

Sehun pasang telinga untuk mendengarkan penjelasan Luhan. Laki-laki yang lebih muda itu sudah tak sabar ingin mendengar apa yang Luhan bicarakan ditelepon barusan. Apalagi melihat ekspresi Luhan yang memang sepertinya ada yang tidak beres.

"Jadi?" Mulai Sehun.

Luhan menatap Sehun khawatir. "Ibuku datang dari Beijing. Agensi menelepon semua orangtua kita untuk datang ke kantor agensi untuk membicarakan hal penting, Sehun-ah. A-aku.. takut."

"Semua orangtua kita? Untuk apa?! Jangan-jangan.. memberitahu kalau sebagian dari kita ada yang berubah menjadi gadis, begitu?!"

"Aku juga tidak tahu! Demi Tuhan Sehun-ah, aku.. ahh," Luhan mendesah takut. Gadis itu menunduk dan memikirkan segala sesuatunya yang membuatnya pusing. "Aku tidak tahu lagi, Sehun-ah."

Sehun langsung menarik Luhan mendekat dan membiarkan gadis itu berada dipelukannya. Luhan membenamkan wajahnya didada bidang Sehun sambil berpikir keras. Sehun juga kebingungan untuk bicara karena bisa saja ia salah ucap.

Tangan Sehun mengelus rambut coklat basah milik Luhan. Berusaha menenangkannya dengan cara sentuhan. Luhan menatap Sehun dengan matanya yang mulai berair. Sehun menunduk untuk membalas tatapan gadisnya.

"Aku menyayangimu, Sehun-ah. Kalau.. nanti memang kita harus dipisahkan. Jangan lupakan aku ya. Ini perintah, Sehun."

Sehun tersenyum dan menghapus air mata Luhan dengan ibu jarinya. "Aku tidak akan melupakanmu. Ini janji, Luhan. Aku lebih menyayangimu."


Joonmyeon memasukan satu kotak berisi enam botol vitamin ke dalam keranjang. Laki-laki bermasker itu menoleh ke samping kanan-kirinya, mencari seorang gadis yang juga memakai masker hitam. Yixing berada di depan lemari pendingin. Mencari-cari minuman sepertinya.

"Xing-ie," Panggil Joonmyeon. Yixing menoleh dan menghampirinya. Joonmyeon menatap mata sayu gadisnya. "Mencari apa?"

"Kopi kalengan. Ah.. aku ingin cemilan. Mau cheeseball?"

Joonmyeon hanya mengangguk dan membiarkan gadis itu mencari-cari apa yang ia inginkan. Lelaki itu tersenyum mengingat bagaimana Yixing mengatakan cheeseball dengan aksen China yang kental. Menggemaskan sekali bagi Joonmyeon.

Laki-laki itu berjalan menuju kasir dengan keranjang yang sudah terisi dengan barang-barang yang dikiranya dibutuhkan. Yixing menghampirinya dan menaruh satu bungkus cheeseball beserta dua kopi kalengan dingin.

"Kenapa beli kopi kalengan? Setelah ini kan kita bisa beli latte di Starbucks yang ada di depan hotel." Tanya Joonmyeon pelan.

Yixing mengangkat bahunya. "Tidak kepikiran. Lagipula sudah dimasukan ke dalam list pembayaran," Gadis itu menunjuk dua kopi kalengan yang sudah dimasukan ke dalam plastik. "Aku juga tidak tahu kalau di depan hotel ada Starbucks."

Gemas, Joonmyeon hanya bisa menepuk puncak kepala Yixing. Gadis dengan kuncir kuda itu nyengir dibalik maskernya. Setelah membayar, keduanya kembali berjalan ke arah hotel. Ingin Yixing meminum kopinya buru-buru, namun ia tidak bisa melepas maskernya begitu saja.

Untunglah pagi ini Yixing sudah merasa baikan karena semalaman Joonmyeon benar-benar menjadi dokternya. Laki-laki itu menemani Yixing sampai ia tidur sekitar jam dua dini hari. Jika lelah, Yixing tidak akan bisa tidur awal karena ia justru merasa pegal dan akhirnya tidur telat. Apalagi disaat mestruasi begini.

Melewati sebuah taman dimana banyak anak-anak kecil bermain, Yixing merasa senang. Gadis itu selalu senang dengan anak kecil dan hewan. Yixing ini hatinya bagai seorang malaikat namun jika sudah bertemu dengan setan –partner in crime-nya alias Luhan, ia bisa saja menjadi jahil juga.

"Lucu ya." Komentar Yixing.

"Apanya?"

"Anak-anak kecil itu. Gemas melihatnya." Yixing tersenyum pada kekasihnya.

Joonmyeon ikut memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain. "Nanti ya kita bikin dua untuk kita berdua. Satu laki-laki dan satu perempuan. Bagaimana?"

Yixing tertawa malu dan mendorong Joonmyeon menjauh. Namun sayang, Yixing tidak tahu kalau dorongannya itu membuat Joonmyeon menabrak seorang gadis yang sedang berjalan dengan gadis-gadis lainnya.

"Ah.. maaf-maaf."

Yixing dan Joonmyeon kompak meminta maaf sambil menunduk. Gadis yang tertabrak Joonmyeon terlihat kesal dan ingin memarahinya, namun sepertinya ia melihat keanehan pada Joonmyeon dan Yixing. Gadis itu melihat Yixing lekat-lekat.

"Matanya mirip Lay oppa!"

Yixing langsung kaget ketika gadis itu membisiki teman-temannya –lebih tepatnya meneriaki, dengan menyebut-nyebut nama panggungnya. Gadis-gadis yang diberitahu itu langsung memperhatika mata Yixing juga. Keduanya langsung setuju.

"Iya! Apalagi kalau memakai masker begitu, mirip sekali."

"Uh.. boleh tidak kami lihat wajahmu? Kalau kau sungguh mirip Lay oppa, aku ingin minta foto. Tapi kalau tidak, kau boleh memakai maskermu kembali dan kami juga minta foto denganmu. Boleh ya? Sebagai tanda meminta maaf karena telah menabrak kami." Pinta salah seorang gadis.

Yixing menatap Joonmyeon bingung. Laki-laki itu menggeleng sebagai jawaban atas tatapan Yixing. "Um.. maaf ya. Kami buru-buru saat ini, jadi aku tidak bisa berlama-lama. Omong-omong, maaf ya atas kejadian tadi."

"Eh? Kok begitu sih?!"

Joonmyeon menggenggam tangan Yixing dan membungkuk sebelum berjalan pergi. Sayang, salah satu gadis itu sepertinya agak emosi dengan Yixing dan Joonmyeon sehingga ia menarik Yixing lalu mendorong Yixing keras. Yixing terhempas karena gadis yang mendorongnya agak gemuk.

"Itu balasannya karena terlalu sombong!" Marahnya.

Joonmyeon melotot. "Ya! Kalau dia tidak mau memberikan foto kepada kalian, harusnya kalian tidak memaksakannya! Kalian ini gadis tetapi tidak ada etikanya."

"Apa? Memangnya aku peduli?! Sini pukul jika kau keberatan kalau aku bilang kalau pacarmu ini sombong!"

"Sudah-sudah," Suara Yixing akhirnya. "Lebih baik kita pergi."

"Jangan harap EXO akan bangga dengan fans yang kasar, agassi."

Suara pelan Joonmyeon membuat gadis itu naik pitam. Dengan kasar gadis itu menarik masker yang menutupi wajah Joonmyeon. Pipi Joonmyeon memerah karena terkena kuku gadis itu dan Joonmyeon langsung memegangi pipinya.

"Su-Suho oppa?!"

Yixing langsung menarik Joonmyeon pergi dan berlari sekuat tenaga. Sepasang kekasih itu terus berlari meskipun ketiga gadis tadi tepat berada dibelakang mereka. Gadis-gadis itu tidak patah semangat dan berlari sambil mengambil gambar Joonmyeon dan Yixing yang sedang berlari.

Joonmyeon dan Yixing langsung memasuki area hotel. Ketiga gadis-gadis itu langsung diberhentikan petugas ketika ingin mengejar Yixing dan Joonmyeon ke dalam lobby hotel. Sampai di depan lift, Yixing membuka maskernya dan menatap Joonmyeon. Mata sayunya menatap rona merah di pipi kekasihnya.

Jemari Yixing menyentuh pipi Joonmyeon. "Sakit? Lelah ya?"

Tangan Joonmyeon memegang jemari Yixing yang berada di pipinya. "Yang penting kita sudah aman dari ketiga gadis tadi."

Yixing tersenyum dan mengangguk. Keduanya langsung memasuki lift ketika pintunya terbuka dan langsung memencet tombol dengan angka 8. Pintu baru saja ingin tertutup, namun suara wanita yang menyuruh seseorang untuk menahan lift membuat Yixing menahan pintu lift untuk tetap terbuka.

Seorang wanita paruh baya memasuki lift dan saat itu Joonmyeon dan Yixing membuka matanya lebar-lebar. Begitu kaget melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam lift yang sama dengan mereka.

"Eommonim?!"


xxXxx

Cake?

Chapter Ten

To Be Continue

xxXxx


Halo.

Maaf lama ya. Akhirnya update setelah entah berapa lama fic ini dalam masa hiatus. Kalo sekarang, salahkan EXO yang membuat gue gundah gulana (ea) karena ketidakpastian Kris dan Baekhyun. Tapi gue tetep percaya akan adanya KrisTao dan ChanBaek.

By the way, gue nggak tau kalo ternyata konsep disbanding gue menjadi kenyataan dengan kasus Kris kemaren hahaha. Abis ini konsep gender bender gue jadi kenyataan kek plis banget biar Kris balik dan sadar kalo Tao itu cantik. Dan juga biar Baekhyun tahu kalau dia memang ditakdirkan menjadi cewek bukan pacaran sama cewek. HIYAHAHAHA

Thanks To: Kirei Thelittlethieves, dia huang91, exindira, junghyema, rossadilla17, cho sehyun 5, jettaome, Huang Minseok, ereng, Rei Fujoshi Official Couple, lulu-shi, dorekyungsoo93, Guest, BluePink XOXO-EXO-Couple, Brigitta Bukan Brigittiw, Maple Fujoshi 2309, KJK, asroyasrii, Baekhynsshi, Majestic Hunter, apalah arti sebuah nama, wintersbaby, Aulexo, syafira sant, selurpee, Gigi onta, Kiyomi Fujoshi, ia, Odulteui4120, Juniel Is A Vampire Hybrid, HHSKTS, melitakim88, Jung Eunhee, Guest, guardian-xing, HyunRa, Hyomilulu, amoebbang, Alexara, Guest, Reka ELF, Park Jonghyun – Chanbaek, uchanbaek, bebek23, parkodot, NiarHyunbin, alysaexostans, hibiki kurenai, alightphoenix, Jin Ki Tao, chenma, Syln, sehunpou, Chanyumi, kyungie22, raul sungsoo12, Haruru-chan, Phylindan, Kim Leera, afnia2495, KJhwang, Phiii Channn, salfionisa, Haruno Kagura, nur991fah, chinderella cindy, Oh Lana, Oh Eunhae, Yurako Koizumi, xing mae30, choihyura01, blackwhite1214, vioolyt, indahtara14, GHanChan, dragonhun385, LAB27, Sonewbamin, song haneul, doremifaseul, lolamoet, PinkBearChocolate, baekkam, bangkai, Guest, Haru3137, Reezuu608, Asmawi Imam, byunbaekkie, EXO Cumi, flameshine, minxing, valensia1630, Ikki Ka Jung99, GbyPhyromaniacs, exoel, Farrelin Kim, sari mulyani 94.

Maaf kalo ada salah nama ato namanya kelewat. Oke haha nggak mau banyak cincong, gue disini nggak bisa bales review. Karena.. gue udah gamau nulis AN terlalu banyak. Pokoknya gue berterima kasih sama kalian yang udah support dan udah mau nungguin. Anggep ini karena edisi ramadhan WKWKWK.

Yang masih penasaran bisa langsung pm gue. Kalo ngga punya akun, yah bikin dong akun biar kalian nggak cuma bisa ngereview tapi berinteraksi dengan penulisnya. Jangan panggil gue thor, gue punya nama dan nama gue ada dibio. Ato Jongmi juga boleh.

Terus yang mau soft copy boleh bilang ke gue lewat review juga disertakan dengan email kalian. Kalo bisa emailnya dijabarin ya jangan pake tanda baca apapun. Gue bersedia ngasih soft copy karena gue yakin kalian nggak bakal setega itu buat memplagiatin cerita gue.

Akhir kata, terima kasih banyak. Semoga semua fans EXO diberi kekuatan untuk tetap support EXO. Percaya apapun yang kalian ingin percaya, dan jangan percaya apapun yang kalian tidak ingin percaya. Semua ada ditangan kalian.

Salam edisi Ramadhan, Kim Jongmi.