Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi
Over Night © Aya
Genre: Romance/Drama
Rating: T
Pairings: Naruto x Sasuke, slight NaruGaa, NejiGaa, KibaNaru
Warnings: AU, Shonen-Ai, Yaoi, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata, mute alert, penggunaan majas yang berlebihan. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.
A/N: Update! Mahap lama… Insya Allah Kyou bisa terus update fanfic meskipun bakal lebih lama masanya. Hontou ni gomennasai…
Summary from before: Sasuke, yang melarikan diri dari rumahnya dan di'pungut' oleh seorang pemuda bisu yang ia ketahui adalah seorang fotografer yang dapat memainkan alat musik dengan indah, memulai langkah pertama demi mencapai impiannya. Setelah debut, Sasuke mengikuti tur konser Sunny Days dan Blue Line Production. Namun, ia jatuh sakit sehingga Naruto perhatian padanya dan seperti mengabaikan Gaara. Di tengah konser, Naruto dan Gaara pun putus. Sasuke pun menjadi dekat dengan Naruto melalui caranya sendiri hingga pada titik di mana Naruto bersedia memberitahunya bahwa ia adalah orang yang dipungut oleh ketiga kakaknya sekarang. Saat konser di Koshien, orang-orang dari masa lalu Naruto muncul dan mengaku sebagai Kiseki-band. Salah satu personilnya adalah orang yang dulu pernah mencuri hati sang Uzumaki. Dan saat pemotretan, Kiba mengatakan bahwa Naruto hanya pura-pura bisu. Apa maksud Kiba yang sebenarnya? Apa Naruto sebenarnya bisa bicara? Bagaimana nasib tangan Naruto yang sengaja diinjakkan kayu oleh Kiba?
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Wajahku tenang bahkan terlihat dingin. Namun, sebenarnya, aku sedang menangis. Hati dan jiwaku menangisi dosa yang kuperbuat dan masih kurasakan. Tetapi, tidak akan kutunjukkan pada dunia bahwa aku bersedih.
Kuat. Aku harus kuat. Namun, seberapa pun kuatnya diriku, aku hanya manusia yang pastinya merasakan sakit.
Dan melarikan diri dari rasa sakit itu sama sekali tidak mudah.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Song for Mute Musician
© Kionkitchee
Track 10: Over Night
© Aya
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
.
.
Wandering my crying soul
Only you can wipe away my tears
Forever
Tears fall vanish into the light
Forever
Tears fall vanish into the light
.
.
Pekikan seseorang terdengar sesaat setelah bunyi sesuatu yang patah menggema. Semua melihat ke arah suara tersebut dan mendapati bahwa ada yang baru membuka pintu studio 1. Orang itu tak lain adalah sang manajer, Konan.
"Ada apa ini? Kenapa kau menyerang Naruto, Inuzuka-kun?" Wanita tersebut langsung menghampiri adiknya yang berada di bawah sang pemuda dan menyingkirkan tubuh pemuda itu beserta kursi kayu darinya. "Naruto, kau baik-baik saja?" cemasnya kemudian sambil membantu sang Uzumaki berdiri.
"Maafkan dia, Konan-san! Saya akan menghukumnya nanti!" Shikamaru, selaku manajer Kiseki-band, membungkuk dan meminta maaf atas kelakukan ketuanya. Ia melirik tajam Kiba yang sudah ditahan dengan kuat oleh Shino dan Chouji meskipun tetap memberontak.
"Lepas! Biarkan aku membuka kedoknya!" seru Kiba dengan raut wajah marah. Tak berapa lama, ia merasakan sesuatu yang keras menabrak sisi wajahnya. Rupanya Ino menamparnya sekuat tenaga.
"Cukup, Kiba! Jaga sikapmu!" tegas gadis itu sebelum menunjuk ke arah sang fotografer. "Kau masih ingin menyakitinya meskipun jawabannya sudah terpampang di hadapanmu?"
Kiba berhenti memberontak. Mata cokelatnya melihat Konan dan Hinata memapah Naruto yang menunjukkan ekspresi kesakitan tanpa bersuara. Dan ia tak percaya. Bagaimana mungkin rasa sakit dari tulang yang patah tidak membuat bahkan orang terkuat sekali pun berteriak kesakitan? Apa mungkin Naruto benar-benar—
"Apa yang kau buktikan dari tindakan kasar seperti itu, orang barbar?"
Sasuke menggeram pelan. Tangannya mengepal erat bersamaan dengan aura gelap yang perlahan menyelimuti dirinya. Ia tidak suka—amat sangat tidak suka dengan perlakuan orang itu terhadap Naruto. Sebegitu tidak sukanya ia sehingga benar-benar berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan tinju terkuatnya.
Konan, menyadari perubahan yang terjadi pada sang Hino, mengambil alih setelah memastikan bahwa Naruto aman bersamanya. "Saya minta semua tetap tenang dan menunggu di sini sementara saya mengobati Naruto. Kalian bisa berjanji?" Ia berkata dengan nada setenang mungkin—yang malah mengungkapkan betapa wanita itu tengah dilanda badai dan tidak akan segan-segan untuk melakukan apa saja untuk menghentikan badai tersebut… termasuk menghancurkan sumbernya langsung. Otomatis, para pendatang baru yang mendengar menganggukkan kepala karena tidak ingin mendapat kemarahan darinya. Setelah itu, Konan pun keluar membawa Naruto yang sekilas melirik si pelaku.
Ia harus mendapatkan jawaban dari Naruto nanti—tidak, bukan hanya dirinya tetapi juga Yahiko dan Nagato.
Sepeninggal kedua orang itu, keheningan menguasai studio 1 dengan sempurna. Beberapa tidak tahu harus berkata apa, sementara sisanya tengah meredam perasaan yang berkecamuk dalam hati. Pekerjaan di depan mata pun terlupakan oleh kenyataan ambigu akan seseorang yang baru saja meninggalkan ruangan. Ambigu yang meracu pada masa lalu yang hingga kini masih menjadi teka-teki.
"Aku kecewa, Kiba…" desah Shikamaru tak lama kemudian sembari duduk di sofa dengan kedua tangan menyangga kepalanya. "Aku benar-benar kecewa padamu…"
"Shikamaru…" Ino hendak menghampiri pemuda itu namun diurungkannya. Ia mengerti perasaan Shikamaru karena ia pun merasakan hal yang sama. Seharusnya Kiba tidak melakukan hal seperti itu. Seharusnya Kiba menahan diri dari kuasa amarah dan nafsu. Seharusnya Kiba paham tujuan mereka datang ke Iwa dan itu bukan untuk menyakiti Naruto! Uuurgh… rasanya ia ingin memukuli pemuda itu sampai sadar!
"Gomen…" lirih sang Inuzuka.
"Maaf? Maaf katamu?" Shikamaru mendesis bagai menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Ia menggemeretakkan jari tangannya, "Daripada sekedar maaf, lebih baik kau berikan aku alasan yang tepat untuk. Tidak. Menghajarmu. Sekarang!"
Kiba mundur beberapa langkah dari Shikamaru. "A-aku tahu itu! Makanya aku minta maaf! Tidak akan kuulangi lagi!" serunya berusaha meyakinkan.
"Percuma baru berjanji sekarang. Kalau Uzumaki menuntutmu atas tindakan kekerasan, kau akan masuk penjara dan band kita terpaksa harus dibubarkan," Shino menimpali setelah menghela napas panjang yang nyaris tak terdeteksi. "Jangan terpaku pada masa lalu, Kiba."
"Brengsek, Shino! Aku benar-benar menyesali tindakanku tadi!" kesal Kiba. "Aku hanya ingin membuatnya bicara! Aku yakin dia—"
"Tapi Naruto-kun tidak mengeluarkan suara sedikit pun," potong Chouji. Ia menatap Hinata sekilas sebelum melanjutkan, "Sepertinya Naruto-kun memang benar-benar bisu…"
Hinata mengangguk. "U-Uzumaki-san me-memang t-tidak bisa b-bicara se-semenjak d-dulu… Neji-nii-san yang me-memberitahuku hal i-itu…" jelasnya sambil terbata-bata karena masih syok dengan peristiwa tadi.
Mendecak, Kiba menyanggah. "Dia bohong, Hinata! Dulu kami mendengar Naruto bicara menggunakan mulutnya sendiri!" jemarinya meremas rambut cokelatnya, "Ingat kalau dulu Neji pernah tinggal di Konoha, 'kan? Naruto juga berasal dari desa yang sama dengan kami!" jelasnya.
Gadis Hyuuga itu ingat bahwa kakaknya memang pernah tinggal di desa bernama Konoha sebelum pindah ke Los Angeles untuk tinggal bersamanya. Setelah itu, mereka pun pindah ke kota Iwa untuk menjejak karir sebagai penyanyi dan desainer. Tidak pernah ia sangka bahwa ternyata kakaknya pernah bertemu dengan fotografer sekaligus musisi favoritnya.
"Apa karena dia berasal dari desa yang sama denganmu maka kau boleh menyakitinya sesuka hati, huh?"
Tidak pernah terduga bahwa Sasuke mengeluarkan nada yang mengancam dengan begitu menakutkan. Biasanya ia tidak ambil pusing dengan masalah orang lain, namun kali ini, bersangkutan dengan partner-nya, berkaitan dengan orang yang menyelamatkannya, ia tidak akan tinggal diam.
"Kau tidak ada bedanya dengan binatang, Orang Kampung Tidak Beradab!" desisnya lagi.
"Apa kau bilang, Bocah Tengik? Ulangi lagi?" raung Kiba sambil mencengkeram kerah sang Hino. "TAHU APA KAU, HUH?"
"KIBA!" Dan Shikamaru kali ini membentaknya, membuat sang Inuzuka melepaskan remaja yang masih menatap dengan penuh kemarahan.
Pemuda berambut kecokelatan itu pun mendecak, "Stay t'hell otta this, Brat! Ye'r not even know t'matter!" lalu bersandar pada dinding di sisi sofa.
"YOU are the one who has to stay the F**K away from him, Son of a b**ch!" Sasuke balas dengan kata-kata yang tak kalah kotor… membuat setiap pasang mata memandangnya tak percaya.
"What a dirty mouth ya'hav there, Brat, not ta mention yer cute face~" Seringai perlahan membentuk di bibir Kiba, "an' why do I hafta stay away from him? 's not like he's seein' someone already, is he?"
Dan Sasuke nyaris menerjang lelaki itu jika sebuah ide tak terlintas di benaknya. Memimik Kiba, ia pun merekahkan seringainya. "Oh, trust me. You'll know soon." Kemudian, remaja itu berjalan keluar dari studio.
"H-Hino-san, Konan-san m-menyuruh kita menunggu d-di sini!" cegah Hinata.
Sasuke berhenti di depan pintu tanpa berbalik. Ia hanya menolehkan kepala sembari berkata, "Mana ada orang yang akan berdiam diri saat kekasihnya terluka, Hyuuga-san," lalu pergi setelah melontarkan senyum mengejek pada Kiba yang terkejut mendengarnya.
"No… way…"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Yahiko membatu. Yahiko mematung. Yahiko terpaku. Yahiko terperangah. Yahiko—okeh, cukup. Yang jelas, keadaan Yahiko saat ini bisa dibilang jauh, jauuuuuh lebih parah ketimbang Naruto yang jari tangannya patah dan harus dibebat perban dengan sangat kuat. Pria itu hanya bisa berdiri di depan adiknya, melihat dan melihat meskipun tanpa kesadaran yang normal.
"Jari tengah dan jari manis tangan kiri Naruto patah, kemungkinan baru bisa pulih sekitar dua bulan ke depan," ucap Konan usai membebatkan perban.
'Patah? Jari Naruto patah? Jari yang digunakan untuk bermain musik dan memutar fokus kamera patah?'
"Untungnya tidak menginfeksi bagian lain, jadi tidak berbahaya dan bisa segera pulih," ujar Konan menenangkan.
Nagato, yang sedari tadi berdiri di samping sang adik, menepuk pundaknya pelan. "Syukurlah, Naruto. Kau tidak perlu cemas karena Konan bilang kau akan segera sembuh," ucapnya sambil tersenyum lega.
'Tapi, dua bulan… dua bulan Naruto tidak bisa menggerakkan jarinya untuk bermain musik? dua bulan Naruto harus bertahan tanpa musik?'
"Yahiko, bukan itu maksudnya," Nagato menghela napas mengetahui maksud warna pucat pasi lelaki berambut oranye itu. "Memang akan sulit bermain musik selama dua bulan ke depan, tetapi bukan berarti Naruto tidak bisa bermain sama sekali. Naruto hanya harus berhati-hati menggunakan jari di tangan kirinya agar lukanya tidak bertambah parah," ujarnya kemudian.
"Ta-tapi…" Akhirnya Yahiko menemukan suaranya kembali, "tapi 'kan piano… bagi Naruto…" Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Bagiku, piano adalah segalanya. Mungkin aku memang pandai memainkan alat musik lain seperti gitar, biola, dan lainnya, tetapi piano tetaplah alat musik yang paling kusukai. Hidup tanpa piano rasanya bagaikan mati… seperti yang kurasakan sebelum kalian menyelamatkanku…
Benar. Dulu, Naruto pernah mengatakan itu pada mereka. Dan dengan keadaan seperti ini, akan lebih sulit bagi Naruto untuk memainkan piano kesayangannya.
Yahiko benar-benar merasa tidak berguna.
Jentikan jari terdengar dari Naruto yang melakukannya dengan tangan kanan, menarik perhatian ketiga kakak angkatnya. Ia pun berbicara dalam bahasa isyarat.
'Aku baik-baik saja, tidak perlu cemas. Aku akan berhati-hati agar tidak menggerakkan jari tangan kiriku terlalu sering. Jadi, jangan berwajah sedih seperti itu. Kalian membuatku sedih juga…'
Ketiga kakak angkat menatapnya sendu sebelum dua di antaranya tersenyum dan mengangguk.
"Kalau tidak boleh bersedih, bolehkah aku marah menggantikan dirimu?" Yahiko, satu-satunya yang tidak tersenyum memasang ekspresi serius yang bisa diartikan sebagai kemarahan yang ditahan.
Naruto tersenyum kecil sembari menggeleng. 'Lebih baik rasa sakit tidak dibalas dengan rasa sakit juga. Tidak akan ada habisnya, Yahiko-san.'
Tanpa aba-aba, pria berambut oranye yang dimaksud merengkuhnya dalam dekapan hangat. "Kenapa kau baik sekali sih, Naru-chan? Makanya banyak yang menyakitimu, 'kan?" Ia sangat tidak rela melihat adik kesayangannya menderita karena kebaikan hati yang selalu dimilikinya. Ia ingin membalas berkali-kali lipat mereka yang membuatnya terjatuh dalam jurang kesepian begitu lama. Akan tetapi, ia tahu bahwa tentunya Naruto tidak menginginkan hal itu.
Naruto kembali menggeleng lalu menatap wajah kakak tertuanya. 'Aku bukan orang yang baik hati. Aku adalah orang yang menutupi keburukan hatiku dengan topeng kebaikan. Jauh di dalam, hatiku sudah membusuk dan mengering, dan aku tidak ingin kalian mengetahuinya…'
"Apa maksudmu, Naru-chan?" bingung Yahiko yang dimimik oleh Nagato. Sementara itu, Konan merasa bahwa mereka akan segera mengetahui siapa Naruto yang sebenarnya.
'Maaf selama ini aku tidak pernah memberitahu kalian dari mana aku berasal dan mengapa aku bisa sampai ke kota Iwa. Hanya saja, saat ini aku belum siap untuk memberitahukan semuanya. Maukah kalian menunggu hingga aku siap?'
Terdiam, yang bisa dilakukan ketiga orang itu hanyalah mengangguk. Dan mereka akan menunggu sampai kapan pun selama senyum tulus tetap menghiasi wajah Naruto. Apapun akan mereka lakukan demi kebahagiaan malaikat kecil yang menerangi hari-hari mereka.
'Terima kasih. Aku menyayangi kalian dari lubuk hatiku terdalam…'
Dan tidak perlu aba-aba lagi, mereka bertiga langsung memeluk sang adik dengan erat namun lembut secara bersamaan.
Kami pun sangat menyayangimu, Naruto…
Di balik pintu ruang kerja Konan, Sasuke berdiri dengan menghentikan niat untuk mengetuk. Ia mendengar bagaimana reaksi mereka terhadap masalah yang baru saja terjadi. Rupanya memang Naruto tidak memberitahu identitas dirinya yang sebenarnya, dan ia sedikit terkejut mengetahui bahwa pemuda itu belum terbuka bahkan pada kakak-kakaknya sendiri. Kalau seperti ini akan lebih sulit baginya untuk merealisasikan apa yang menjadi salah satu prioritasnya.
Di tengah kemelut pikirannya, pintu ruangan pun dibuka dari dalam, memperlihatkan sosok Nagato yang agaknya terkejut dengan kedatangannya.
"Hino-kun? Apa yang—"
"Hino-kun, bukankah sudah kubilang untuk tetap tinggal di studio?" potong Konan sembari menghampirinya.
Sasuke tidak menjawab secara langsung melainkan menatap lurus pemuda berambut pirang yang juga balas menatapnya. Hening sesaat seakan yang sedang terjadi adalah sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan gamblang. Sesuatu di antara dua orang yang saling bertatapan tanpa mempedulikan apapun.
"Ah, kau mencemaskan Naruto ya?" tebak Nagato, mencoba mencairkan suasana yang agak canggung. "Tenang saja. Lukanya tidak parah kok," lanjutnya sambil tersenyum. Barulah ia mendengar tanggapan dari sang Hino yang berupa 'hn' andalannya.
"Hino-kun, sebaiknya kau kembali ke studio," ujar Yahiko yang matanya memicing perlahan, "ada yang harus ku selesaikan…"
Semua yang ada di sana memahami makna di balik nada yang baru saja dilontarkan sang dirut, terutama Naruto. Ia menghela napas panjang sebelum meraih lengan sang kakak seakan mengatakan bahwa apa yang hendak dilakukannya itu adalah tindakan tidak guna.
"Aku tidak akan menghajarnya. Aku hanya akan menegurnya sebagai seorang direktur dan MENJELASKAN padanya siapa yang berkuasa di kantor ini DAN tidak ada yang boleh melakukan KEKERASAN selama aku masih hidup!" tegas Yahiko menahan amarahnya.
Nagato menggelengkan kepalanya sembari menepuk pundak saudaranya. "Yah, itu memang tugasmu, Tuan direktur…"
Konan pun menepuk pundak pria berambut oranye itu. "Jadwal hari ini lebih baik dipindahkan seminggu lagi saat jari Naruto sudah lebih baik. Akan kusampaikan itu pada yang lain," ucapnya, kemudian menatap sang Uzumaki, "tidak apa 'kan, Naruto?"
Pemuda yang ditanyai menggeleng lalu menaikkan tiga jari tangan kanannya. Ia tahu maksudnya pasti dimengerti. Ia tidak ingin menunda pekerjaan terlalu lama.
"Baiklah, tiga hari dari sekarang…" Konan tahu betapa Naruto sangat teguh pada pekerjaannya. Maka dari itu, ia menyetujui penolakannya. Ia lalu beralih pada sang remaja, "Kau bisa pulang sekarang, Hino-kun," ucapnya.
Sasuke memutar bola matanya. Tentu saja ia sudah bisa pulang TETAPI tentunya bersama Naruto. Sepertinya wanita itu lupa kalau ia tinggal satu atap dengan adiknya.
"Kunci," ucapnya pada Naruto yang menaikkan sebelah alis. "Kunci mobil, Dobe. Tidak mungkin kubiarkan kau menyetir dengan keadaan seperti itu," jelasnya kemudian.
"Hino-kun, kau bisa mengemudikan jeep Naruto?" tanya Nagato sedikit terkejut. "Berapa umurmu? Memangnya kau sudah punya SIM?"
Mendecak, Sasuke membalas, "Itu tidak ada hubungannya. Memangnya Anda mau kalau dia menyetir lalu jarinya sakit di tengah jalan dan menyebabkan kecelakaan? Aku masih ingin hidup, tahu."
Nagato hendak menyahuti namun terdahului oleh Naruto yang menggeleng seraya berdiri. Ia menarik tangan Sasuke lalu keluar dari ruangan Konan, meninggalkan ketiga orang yang masih berdiam di dalamnya. Tak lama, Konan pun menyusul diikuti oleh Yahiko. Sementara itu, Nagato menghela napas sebelum ikut keluar untuk mengubah jadwal penerbitan majalah Sunny Days edisi bulan depan.
_Studio 1_
Kedua pihak pendatang baru masih terdiam menunggu di studio 1 seperti yang diinstruksikan sang manajer Sunny Days. Sedikit banyak mereka mengkhawatirkan keadaan sang fotografer yang seharusnya mengambil potret mereka saat ini. Bunyi yang terdengar saat kursi menghantam tangannya… Kami-sama… sangat keras dan tulangnya pasti patah.
Dan waktu menunggu pun usai saat pintu studio dibuka dan masuklah beberapa orang ke dalamnya. Salah satunya adalah sang direktur yang wajahnya gelap oleh kemarahan.
"Inuzuka, aku mendengar apa yang telah kau lakukan pada Naruto," Yahiko menatap pemuda bertato segitiga merah tersebut dengan garang, "dan apa kau tahu bahwa perbuatanmu sangatlah tidak beralasan? Kau tahu kalau kau bisa dituntut karena kekerasaan sepihak?" tegurnya keras.
Kiba mengangguk malu. "Saya mengerti. Saya minta maaf…"
"Minta maaf memang mudah, tapi apa kau bisa meyakinkanku untuk tidak mengulanginya lagi?" Yahiko berseru lagi.
"Saya berjanji, Direktur!" jawabnya tegas dengan sorot mata meyakinkan. Dan untuk beberapa lama, ia menunggu reaksi dari sang pria.
"Kupegang janjimu. Kalau sampai terulang lagi, aku akan mengeluarkanmu dari kantor ini dan akan kupastikan kau tidak bisa berkarir lagi. Apa ancaman itu cukup untukmu?"
Anggota Kiseki-band yang lain menatap Kiba dan Yahiko dengan perasaan yang campur aduk. Mereka sudah menduga bahwa Kiba akan mendapat teguran keras dari sang direktur namun, ternyata hal yang dijanjikan setelahnya berakibat lebih parah lagi. Tidak bisa berkarir lagi… itu berat… sangat berat…
"Ya! Tentu saja!"
Namun lagi, Kiba menjawab dengan tegas. Ia akan membuktikan bahwa dirinya tidak akan bertindak bodoh lagi.
Sedikit puas, Yahiko mengangguk sembari menenangkan dirinya. Jauh di dalam hati, sebenarnya ia ingin sekali menghajar anak itu dengan tangannya sendiri. Namun, jika ia melakukannya, Naruto bisa jadi akan membencinya, dan ia tak ingin hal itu terjadi.
Sungguh sulit menepati janji yang ia ikrarkan ketika menemukan sang adik lima tahun yang lalu.
"Baiklah. Karena kejadian yang tidak terduga ini, terpaksa aku menunda pemotretan kalian," kata Konan. "Pemotretan ditunda sampai tiga hari dari sekarang. Kalian sudah boleh pulang,"
Para pendatang baru pun mengemas barang mereka dalam keheningan. Tidak ada yang berani mengatakan apa-apa dan hanya berjalan meninggalkan studio. Sebelum berlalu sepenuhnya, salah satu di antara mereka melihat ke arah sang Uzumaki yang masih membereskan peralatannya. Terbesit rasa bersalah dalam diri orang itu.
Apa sudah tidak ada kesempatan lagi untukku, Naruto? Apa kau benar-benar sudah melupakanku?
Di tengah kemelut hati, Kiba melihat satu sosok mendekati pemuda yang—entah kenapa—selalu disakitinya. Satu sosok yang sempat membuatnya terdiam di tempat oleh kata-katanya.
'Mana ada orang yang akan berdiam diri saat kekasihnya terluka, Hyuuga-san,'
DEG!
Hati Kiba berdegup kencang oleh sesuatu yang tidak bisa diartikannya. Apakah itu rasa cemburu? Atau penyesalan? Ataukah sebuah rasa yang baru-baru ini disadarinya?
"Kiba," panggil Shino, "ayo."
Pemuda yang dipanggil pun mengikuti sang Aburame setelah melihat Naruto untuk terakhir kali di hari itu. Dalam hatinya, timbul satu perasaan lain yang lebih kuat, dan bagaimana pun juga, ia akan menjadikannya nyata.
Yang tersisa di dalam studio 1 setelah Yahiko dan Konan keluar hanyalah Naruto dan Sasuke. Naruto terlihat seolah menikmati waktu dalam membereskan peralatannya, yang malah membuat Sasuke sebal.
"Oi, jangan berlama-lama begitu! Tanganmu pasti masih sakit, 'kan?"
Naruto meliriknya sekilas sebelum tersenyum kecil sambil menggerakkan mulutnya, 'Kau mencemaskanku, Sasuke? Manisnya~'
Sedikit banyak remaja itu memahami apa yang diucapkan sang Uzumaki. Namun, ia tidak berlaku seperti yang ia duga Naruto akan memikirkan, yakni membuatnya malu karena mengkhawatirkannya. Malahan, Sasuke menatapnya lekat lalu berkata,
"Tentu saja aku mencemaskanmu, Idiot! Kita ini partner!"
Dan lelaki berambut pirang yang dipanggil 'idiot' itu kini menatapnya penuh. Ia tidak menyangka bahwa anak itu akan membalasnya dengan lugas dan…
Malam seakan membungkus hatinya dengan ketenangan yang menyeluruh; menghadirkan lantunan melodi yang menghangatkan sukma yang sempat mendingin karena kata-kata tak bertanggung jawab; menemani dalam sepi yang menyengsarakan...
… membuatnya sedikit terkesima.
[I'm in the same fate with you]
Naruto menggelengkan kepala. Hampir saja ia terbawa oleh kharisma yang dipancarkan remaja itu. Akan tetapi, tidak. Ia tidak akan membiarkannya. Kali ini, ia harus menanggungnya sendiri tanpa terkecuali.
Tanpa menunda apa-apa lagi, Naruto menyampirkan tas berisi peralatannya lalu berjalan menuju pintu keluar. Setelah yakin Sasuke mengikuti, ia pun mengunci studio sebelum memasukkan kunci ke dalam tasnya. Kemudian, mereka pulang tanpa membuka pembicaraan sama sekali.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Kaa-san! Kaa-san, lihat apa yang kutemukan!" Bocah berambut pirang berlari memasuki rumahnya sambil menggenggam sesuatu.
Seorang wanita menampakkan diri dari dapur. Rambut merahnya terjuntai berantakan menutupi sebelah wajahnya yang terluka.
"KAA-SAN! KAA-SAN KENAPA?" teriak sang bocah, terkejut. Anak itu menghampiri ibunya untuk melihat luka yang tampak mengerikan. Ketika tangannya hendak menyentuh wajah sang bunda, wanita itu menepisnya. "K-Kaa-san?"
"Ah, go-gomenne~ kaa-san nggak apa-apa kok! Jangan khawatir!" seru sang wanita sambil tersenyum yang kentara sekali memaksa, yang justru membuat anaknya semakin cemas. Dan kecemasan itu memang disebabkan olehnya.
"Gara-gara aku, Kaa-san jadi kena imbasnya… gara-gara aku, Kaa-san jadi…" Airmata mulai mengalir dari bola mata biru sang bocah. Tubuhnya pun gemetaran karena rasa bersalah yang lebih besar dari rasa takut atas perlakuan orang-orang desa. Gara-gara aku—
"Sayang," potong sang wanita sambil meletakkan telapak tangannya di pipi sang anak, "semua ini bukan salahmu. Tidak ada yang salah dari menyayangi seseorang. Tidak peduli jika hal itu membuat orang lain tidak suka, menyayangi seseorang yang istimewa adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Jadi, jangan menyalahkan dirimu," jelasnya mengetahui apa yang dipikirkan darah dagingnya.
"Ta-tapi, Kaa-san…" bocah itu mulai terisak, "mereka bilang aku aneh… mereka bilang aku nggak boleh suka sama Kiba… Kenapa, Kaa-san? Memangnya aku aneh suka sama Kiba?" dan airmata itu mengalir deras dari kedua bola matanya.
Sang wanita tersenyum meskipun terlihat menyakitkan. Ia mengelus helaian pirang anaknya menggunakan tangan yang bebas dari bercak merah. "Naru-chan, Kami-sama menciptakan kita secara berpasangan: lelaki dan perempuan. Melalui hubungan yang tercipta dari sepasang manusia, terlahirlah manusia baru untuk kembali melakukan hal yang sama dan melahirkan generasi baru. Namun, jika ada yang memilih untuk bersama dengan sesama jenis, hal itu tentunya didasarkan oleh kasih sayang yang tak terpungkiri, sama seperti pasangan berbeda jenis. Sayangnya, Kami-sama melarang hal tersebut. Itu tabu, dan orang-orang desa pun berpikiran demikian…" jelasnya dengan lembut.
Bocah berambut pirang menatap sang ibu dengan kesedihan yang semakin dalam. "Ja-jadi aku salah karena suka sama Kiba? Ta-tapi, Kaa-san, Kiba baik banget sama aku, nggak kayak anak yang lain! Dia mau main sama aku, terus juga ngebelain kalau ada yang jahat sama aku! Dia juga—Kiba juga bilang suka sama aku!" Dan tangis itu pun lepas, keras. Ia menyembunyikan wajahnya di pelukan sang ibu yang sama merasakan kesedihan.
Sang wanita mati-matian menahan tangis yang siap mengalir kapan saja. Ia sangat menyayangi puteranya hingga sampai pada titik di mana ia rela menukar nyawa dan kebahagiaannya agar anaknya itu boleh menyukai siapa saja. Seperti tadi, saat beberapa orang desa melempar rumah mereka dengan batu-batu besar yang mengakibatkan beberapa jendela rusak dan matanya pun terluka. Seandainya, Kami-sama, seandainya Engkau memberikan kesempatan…
Dan sang bocah, sambil terus menangis, tak sadar melonggarkan genggaman tangannya sehingga sesuatu di dalamnya terjatuh.
Sehelai bulu sayap putih yang ditemukan di hutan…
Seandainya kesempatan itu ada untuknya…
"Gomen… Kaa-san…"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Sasuke baru selesai mencuci piring makan malamnya ketika mendapati Naruto tertidur di atas sofa dengan TV yang menyala. Ia melihat jam yang digantung di atas dinding tempat tidur yang menunjukkan waktu 15 menit sebelum tengah malam. Kemudian, ia mengambil selimut dari atas ranjang dan menyelimuti pemuda itu. Saat ia mengambil remote untuk mematikan TV, matanya yang tajam melihat sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia pun mendecak.
"Sudah kubilang kau itu idiot! Kenapa juga aku memilihmu untuk jadi partner-ku?" desis Sasuke sambil menatap Naruto yang masih terlelap. Meskipun ia memaki pemuda itu, tak ayal sebelah tangannya menyentuh pipi Naruto untuk kemudian menyeka jalur airmata yang tercipta. Sasuke menghela napas panjang.
Sebegitu sulitnya untuk menceritakan masalahmu, Dobe? Apa kau belum mempercayaiku sepenuhnya?
Remaja itu bergerak untuk duduk di lantai tepat di sebelah sang Uzumaki.
Tetapi memang sulit untuk membuka diri terhadap siapapun… apapun. Seperti diriku yang sangat sulit untuk mengaku sesuatu, kau pun sama meskipun dari luar terlihat betapa terbukanya dirimu.
Jemari putihnya bergerak dari pipi sang Uzumaki untuk mengelus helaian pirang yang terkulai berantakan.
Dan yang kau katakan tempo hari… sebetulnya masa lalumu itu seperti apa?
… mereka memungutku di samping parit besar sungai Iwa.
Kenapa kau bisa sampai di sana kalau sebetulnya kau berasal dari desa bernama Konoha? Lagipula, si jelek Inuzuka itu siapamu?
Sasuke menghela napas panjang sembari menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa. Jemarinya masih bermain dengan rambut Naruto yang terasa lembut dan agak basah seperti baru selesai dikeramas.
… Gawat. Aku ingin tahu… aku ingin tahu lebih dalam! Gawat!
DEG!
Dan satu degupan berat terdengar dari dalam dirinya sendiri. Lalu disusul oleh degupan kecil yang lebih menderu daripada detak jantungnya yang biasa. Semakin cepat, semakin membuatnya merasa sesak, semakin membuatnya sulit bernapas.
Ada apa dengannya? Kenapa jantungnya menderu seperti itu? Kenapa dirinya menjadi sulit bernapas? Kenapa juga tiba-tiba hatinya terasa sakit?
Apa karena ia merasa bahwa Naruto belum mempercayainya? Ataukah karena sebegitu ingin tahunya ia akan sang pemuda? Atau ada hal lain yang tidak ia mengerti?
Kami-sama, apapun itu, ia tidak mengharapkan satu hal. Cukup satu hal saja.
Tolong jangan palingkan hati lurusnya.
Masih berkutat dengan hal yang tidak dimengerti, Sasuke merasakan sesuatu menyentuh tangannya yang berada di antara helaian pirang sang Uzumaki. Tidak hanya menyentuh, sesuatu itu bahkan membawa tangannya hingga sesuatu yang lain menyentuh telapak tangannya.
Hangat. Sesuatu itu terasa hangat. Dan Sasuke berada di alam 'mau-tidak-mau' dalam mengetahui apa yang menyentuh telapak tangannya.
Mata oniksnya melihat, lalu melebar tidak percaya.
Apa… kenapa…
Bibir sang Uzumaki mengecup telapak tangannya… bagai dalam keadaan sadar.
Kelopak yang menyembunyikan warna langit cerah pun membuka setengah, lalu menatap malam yang masih terbelalak.
Naruto… terbangun?
Otomatis, Sasuke langsung menghentak lepas tangannya lalu menjauh. Belum cukup hanya menjauh, remaja itu bergegas keluar kamar untuk menenangkan diri, juga hatinya yang berdetak sangat cepat. Sayangnya, bukan ketenangan yang ia dapatkan melainkan—
"… Sasuke?"
—cermin yang memanggil namanya.
Cermin? Bukan. Yang memanggilnya adalah seseorang yang berdiri di depan kamar 711. Seseorang yang memiliki perawakan dan warna malam yang sama dengannya. Seseorang yang membuatnya terkejut setengah mati sehingga membuatnya menampakkan wajah kaget seperti orang tolol.
"Ngapain kau di sini?"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Ia baru saja bermimpi. Mimpi masa lalu yang menyesakkan. Mimpi masa lalu yang mati-matian ingin dilupakannya. Sayang, usahanya nihil. Seberapa kuat perasaannya untuk melenyapkan, semakin kuat masa lalu itu membayang. Ia tidak akan bisa menghapusnya.
Tangisan bunda tersayang yang mengharapkan kebahagiaannya lebih dari siapapun membuatnya semakin merasa bersalah. Air mata indah yang mengalir keluar dari emerald yang selalu menatapnya lembut merupakan dosa untuknya. Karena ia telah berani melakukan sesuatu yang tabu. Karena ia telah berani merasakan sesuatu yang terlarang. Karena ia telah berani melanggar aturan Kami-sama. Karena ia telah berani berharap.
Sesak. Sakit. Pedih. Perih. Rasa yang berkecamuk dalam hatinya bagaikan badai tak berkesudahan. Setelah semua usai dilahap, yang tersisa untuknya hanya kekosongan. Hampa. Nihil yang merajalela; membunuhnya perlahan-lahan. Bahkan, mungkin, sebenarnya ia sudah mati ditelan hitam yang melenggang.
Sedari dulu, alasannya untuk tetap hidup sudah tidak ada. Jika menyinggung tentang musik, mungkin itu yang membuatnya bertahan untuk tempo yang tidak lama. Namun, apa yang bisa ia lakukan dengan kondisinya yang lemah seperti itu? Lemah pikiran, lemah fisik, lemah mental, dan lemah hati. Sebenarnya untuk apa ia bertahan selama ini? Bukankah semua akan lebih baik jika ia menghilang?
Ah, ketiga kakaknya mungkin akan lebih bahagia tanpa beban sepertinya. Atau boleh ia berharap mereka akan menangisi kepergiannya? Kami-sama, ia benar-benar lemah tanpa daya.
'Sudah kubilang kau itu idiot! Kenapa juga aku memilihmu untuk jadi partner-ku?'
Dan ia mendengarnya. Kata-kata yang diucapkan seseorang yang kemudian menyentuh wajahnya; menghapus sesuatu yang mengalir keluar dalam ketidaksadaran. Kata-kata yang tidak terdengar seperti penyesalan terhadap dirinya melainkan pada sesuatu yang lain. Kata-kata yang entah mengapa justru menghangatkan hatinya yang telah mendingin.
Siapa gerangan orang yang bersedia bersamanya? Siapakah dia yang rela berada di sisinya? Tidakkah dia takut pada seorang pendosa? Tidakkah dia jijik padanya?
Kehangatan itu menjalar hingga mengelus lembut kepalanya.
Siapakah dia? Benarkah dia ada di sisinya?
Perlahan, ia raih sumber hangat itu dan membawanya untuk didekap lebih dalam. Seakan mengerti, seakan menyadari, seakan mengetahui, ia sarangkan kecupan balasan untuk menjawab kehangatan tersebut. Dan ia mendapati sesuatu; malam yang begitu dekat namun tanpa menyakiti dan menyesakkannya. Malam yang menatapnya dalam tanpa menggunjingkannya.
Malam milik seseorang yang menjadi berliannya.
Sayang, belum sempat ia menikmati lebih dalam, malam itu menyingkir dari hadapannya bersamaan dengan kehangatan yang masih terasa meskipun tiada.
Ah, ternyata ia memang menjijikan sehingga tak ada yang mau bersamanya. Ternyata ia memang tidak pantas mendapatkan apa-apa. Ternyata ia memang—
"Ngapain kau di sini?"
Dan ia terbangun sepenuhnya setelah mendengar suara tercekat itu. Ia lalu melihat jam yang menunjukkan waktu tepat tengah malam, dan menghela napas panjang. Setelah itu, ia beranjak dari sofa untuk mendatangi sumber 'keributan' itu. Namun, ketika ia melewati tempat tidur, ponselnya bergetar; tanda bahwa ada yang mengirim pesan atau meneleponnya. Tanpa melihat layar yang berkedap-kedip, ia lalu mengangkat ponsel.
"Moshi-moshi, Naruto?"
Napasnya tercekat. Aliran waktu seakan terhenti. Sekeliling pun menjadi tidak berarti.
Dan ia mengetuk speaker ponsel satu kali setelah diam sejenak; memberitahu bahwa yang mengangkat memang dirinya.
"Uhm, ini Gaara…"
Tentu saja ia mengenal suara itu sebagai Gaara. Tidak mungkin ia melupakannya.
"Maaf mengganggu tengah malam begini… Uhm…"
Ia mengetuk dua kali sebagai tanda 'ya'; bermaksud mengatakan bahwa apapun yang hendak dikatakan Gaara, ia akan mendengarnya.
"Tadi sore, aku bertemu dengan Hinata, dan dia bilang tanganmu terluka. Apa itu benar?"
Ia tersenyum kecil. Ia merasa bahwa Gaara mencemaskannya, namun, ia tidak akan berbesar kepala dan berharap demikian. Maka dari itu, ia tidak membalas.
"Kau baik-baik saja, Naru?"
Senyumnya memudar. Mendengar nama yang biasa dilontarkan pemuda itu membuatnya cukup terkejut. Ia pikir tidak akan mendengarnya lagi, yang terbukti salah. Ternyata Gaara memang mencemaskannya. Bolehkah ia berpikir demikian?
"Tanganmu tidak apa-apa, 'kan?"
Kali ini, ia membalas dengan dua ketukan lalu tiga ketukan selama dua kali berturut-turut. Ia tahu Gaara akan mengerti maksudnya.
"Tidak perlu berterima kasih, Baka! Meskipun kita sudah putus, aku akan tetap mencemaskan keadaanmu saat kau terluka! Ingat itu!"
Ya, ia tahu hal itu, Gaara, meskipun luka dari putusnya hubungan denganmu sulit untuk dicemaskan. Karena ia tahu kau pun terluka.
"Ne, Naru, kita akan tetap menjadi teman, 'kan? Kau tidak akan menjauhiku, 'kan?"
Terselip nada takut ketika Gaara menanyakan hal itu. Ia paham bahwa pemuda itu tetap ingin menjadi temannya meskipun telah berpisah. Dan ia tidak akan mengharapkan apa-apa selain hal itu terjadi.
Tiga kali ketukan; menjawab bahwa ia tidak akan menjauhi Gaara.
"Arigatou…"
Balasan itu terdengar lirih di telinganya, seakan menduga pada awalnya bahwa ia tidak ingin dekat dengan Gaara lagi. Syukurlah ia dapat melegakan hati sang Sabaku.
"Semoga tanganmu cepat sembuh, Naru. Oyasuminasai,"
Seulas senyum kembali merekah di wajahnya. Ia ketuk speaker dua kali dan menunggu Gaara menutup teleponnya. Setelah itu, ia pun mematikan ponselnya.
Entah mengapa, hatinya terasa lebih lega. Hatinya tak lagi merasakan sesak yang mendera beberapa saat lalu. Hatinya terasa lebih ringan dan beban yang menggantung bagai berkurang setengah. Ia senang mengetahui bahwa Gaara masih mau berteman dengannya dan malah berharap agar dirinya tidak menjauh. Ia senang. Ia cukup bahagia dengan kenyataan itu.
Dan barulah Naruto mengerti makna di balik sentuhan hangat yang dirasakannya setelah masa lalu menyerang. Makna dari sentuhan yang diberikan Sasuke padanya.
Meskipun air mata mengalir tanpa niatan berhenti, akan ada tangan yang bersedia menghapuskannya. Dan air mata yang mengalir jatuh, butirannya akan menghilang dalam cahaya yang membawa harapan. Terlebih lagi, sekalipun kau terjatuh, rasa sakit akan membuatmu semakin kuat. Dan kau dapat bangkit berdiri di atas kakimu sendiri… karena kau tidak sendirian.
'Ah, Sasuke. Sebenarnya apa yang bisa membuatmu sekuat itu? Aku semakin ingin mengenalmu lebih dalam.'
Dan Naruto baru menyadari bahwa seharusnya ia mendatangi sumber suara yang tercekat itu. Ia pun kembali berjalan keluar… hanya untuk mendapati sang Hino berhadapan dengan seorang lelaki yang ia hubungi tujuh minggu yang lalu.
"Konbanwa, Uzumaki-san," sapa seseorang itu ketika melihat Naruto keluar kamar.
"Oi," Sasuke memotong dengan geram, "kutanya kenapa kau bisa ada di sini, hah?"
Lelaki itu tersenyum manis sebelum membalas, "Kau tidak lupa padaku, 'kan, Sasuke?"
Remaja yang sebenarnya kebingungan itu mendesis, "… Sai!"
-.-.-TBC-.-.-
Iyah, update. Mahap lama. m(_'_)m
Hubungan Naruto dan Kiba terkuak, dan sebenarnya Naruto pernah bisa bicara. Kenapa sekarang ia bisu? Sasuke semakin mendekati Naruto dengan caranya sendiri. Namun, yang mengejutkannya adalah kehadiran Sai di apartemen Naruto. Siapakah Sai? Apa hubungannya dengan Sasuke? Nantikan chapter selanjutnya ya~
Mind to review? Just don't waste your time for leaving me flames.
_KIONKITCHEE_
