Broken Arrow

2017 © tryss

.

Park Woojin X Ahn Hyungseob

JINSEOB

.

Demigod!AU\T\contain lots of typo(s)


WARN!

SEGALA HAL YANG ANDA TEMUI DIDALAM FF INI ADALAH KHAYALAN BELAKA. DAN FF INI MURNI DARI IMAJINASI SAYA TENTANG PAIR KESAYANGAN.


BIG THANKS TO

Delicious Choco-pie, kim naya, Hiro Mineha, Byunnie Puppy, Kazuma B'tomat, Jinju Oh, Charlotte Partridge, RabbitV, KolaAgus, Aule22, yesgood, alwayztora, , Seeyou-y


Kalo aku updatenya kelamaan, tolong diingetin dong. Emang aku sukanya ga tau diri... Oh iya! Mau bilang biar kalian ga kaget. Chap ini mungkin tidak segreget chap sebelumnya, jadi tolong jangan berharap lebih... Satu lagi, yang pinter matematika, ajarin aku dongs.. UAS menghantuiku...

.

(yok pada nebak endingnya)


I let you go, but that wasn't it

My mind understood the farewell, but my heart wouldn't give in

Someday it will be forgotten

I will probably smile when the time comes, but for now I can't do anything about it


Tangannya memainkan permukaan air dengan ujung jari, meresapi getaran-getaran lewat ujung jarinya. Banyak suara-suara kecil yang menyapa telinganya. Terdengar samar, namun terasa begitu dekat. Bisa dilihat juga kalau ikan-ikan di dalam kolam berair bening itu berenang aktif seakan senang dengan keberadaan Hyungseob.

Hyungseob terus saja semainkan ujung jarinya di permukaan air, tidak peduli pada Woojin yang tidur di pinggiran kolam dan (mungkin) bisa jatuh ke dalam kolam kapanpun.

Dua puluh menit lalu mereka baru saja berciuman, bahkan sapuan bibir Woojin masih terasa samar-samar sampai saat ini. Sudah jelas kalau Woojin duluan yang memerangkap belah bibirnya, namun pemuda itu juga yang pingsan. Pada akhirnya, Hyungseob bersusah payah menarik Woojin ke tempat yang lebih teduh sembari menunggu pemuda itu siuman.

Saking sibuknya melamun, Hyungseob sampai tidak sadar kalau Woojin sudah membuka mata dan mengamatinya intens sambil tiduran.

"Aku menyesal."

Hyungseob menoleh dengan kaget, buru-buru mengangkat tangannya dari permukaan air dan duduk menghadap Woojin,"M-menyesal kenapa?" Tanyanya heran.

"Menyesal karena baru sadar kalau Tuhan menciptakan suatu seindah kau."

Hyungseob tentu tidak bisa menahan wajahnya agar tidak bersemu. Walaupun Woojin tidak melihat senyum malu-malu dari Hyungseob, rona pipi itu sudah membahagiakannya. Apalagi saat Hyungseob semakin menunduk dan kembali mengamati isi kolam.

"Kadang yang indahlah sumber dari kehancuran."

Woojin mendengus. Merasa konyol karena mendengar jawaban Hyungseob.

"Jangan bercanda. Mana ada kehancuran seindahmu, Sseob."

Hyungseob tersenyum tipis, merasa terhibur akibat rayuan Woojin,"Terimakasih sudah mencoba menghiburku." Matanya melirik ke arah lain, enggan menatap Woojin yang selalu berhasil membuat pipinya merona.

Harusnya Hyungseob tidak seperti ini. Dia sudah memutuskan bahwa Guanlin yang akan menjadi pemilik hatinya. Nama Park Woojin tidak boleh lagi terselip dalam hatinya. Iya, Hyungseob tahu kalau dia jelas menyayangi Woojin. Namun mengingat bahwa perasaannya bukan atas kehendaknya sendiri membuatnya sedih.

Keadaannya sekarang sedang berada di tengah-tengah. Di satu sisi, Hyungseob tahu Guanlin yang (mungkin) lebih berhak memiliknya. Dia pun ingat kalau Guanlin yang lebih dahulu mengirim getaran menyenangkan ke dalam dadanya. Disisi lain, Hyungseob merasa delima karena rayuan Woojin. Sebenarnya apa yang salah?

Sembari Hyungseob berpikir, angin berlalu sepoi-sepoi. Menerbangkan helaian rambut dua orang yang hanya setengah manusia itu.

"Apa...berada di sekitar air membuatmu merasa nyaman?"

Hyungseob menoleh pada Woojin, jemarinya kembali menyentuh permukaan air kolam,"Aku merasa seperti pulang."

Hyungseob memang selalu merasa bahwa ketika dia sedang berenang, seakan dia merasa bahwa seharusnya dia tetap tinggal di dalam air. Kalau perlu, tanpa harus kembali ke permukaan untuk menghirup oksigen.

Kini giliran Hyungseob yang berujar,"Hukuman itu..., aku turut merasa bersalah."

Woojin tersenyum lebar,"Mungkin kalau aku tidak dihukum, aku tidak akan bisa bicara denganmu sekarang. Omong-omong, terimakasih sudah menyembuhkanku."

Hyungseob mengangguk pelan. Setelah melempar Woojin ke udara dan membiarkannya terluka, Hyungseob akhirnya memutuskan untuk menyembuhkan Woojin ketika pemuda itu pingsan. Dia yang melukai, maka dia juga yang harus menyembuhkan. Hyungseob juga sudah bilangkan kalau dia tidak bisa melukai orang yang disayanginya? Dia tidak pernah mengingkari janji yang keluar dari bibirnya.

KLOTAK!

Woojin terkejut saat melihat sebuah permata menggelinding dari saku seragamnya ke arah kaki Hyungseob, dia ingat itu adalah permata yang diberikan oleh seorang gadis dari Olympus. Waktu itu keadaannya sangat tidak tepat sampai ia lupa berterimakasih.

Hyungseob memungut permata itu, mengamatinya sebentar sebelum memberikannya lagi pada Woojin,"Permata itu... sangat indah."

Woojin sendiri terlihat bingung untuk menanggapi celetukan dari Hyungseob, dia bahkan tidak tahu apa kegunaan permata itu.

"Tapi aku tidak tahu kegunaannya. Saat aku datang ke Olympus, seorang gadis memberikan permata ini padaku tanpa banyak bicara dan aku juga menerimanya begitu saja."

Hyungseob terkejut sambil menunjuk permata yang ada dk tangan Woojin,"Batu itu...ah! Maksudku gadis itu mungkin the little angel. Para penyihir percaya bahwa dialah yang memberikan penyihir di dunia ini kekuatan."

Woojin menatap Hyungseob penasaran, seolah menanyakan kelanjutan dari kutipan cerita yang baru saja Hyungseob sebutkan.

"Dulu ada seorang pemuda dengan harapan di tangan kanannya dan kepercayaan di tangan kirinya. Hidupnya penuh kesengsaraan dan dia juga sedang sekarat. Saat merasa hidupnya sudah berada di penghujung, dia menengadah ke langit, mulai berdoa agar mendapat kekuatan untuk bertahan dan membalas perbuatan jahat orang-orang yang melukainya. Kemudian turunlah the little angel. Sama seperti ceritamu, gadis itu tidak banyak bicara, dia hanya membiarkan pemuda malang itu meraih permata dari tangannya dan dalam kejapan mata, si gadis sudah menghilang. Keesokan harinya, permata itu sudah lenyap dan si pemuda menjalani hidup yang jauhhhhh lebih baik."

"Daehwi sangat menyukai cerita itu. Dia bilang, permata itu adalah kumpulan dari banyak harapan dan doa. Sampai saatnya tiba, the little angel akan menyimpankannya untukmu. Jadi kau harus menyimpan itu dengan baik setelah menerimanya, itu bisa saja menyelamatkanmu dari banyak hal."

Woojin tersenyum lega setelah mendengar penuturan Hyungseob. Dia bahkan sampai tidak sadar bahwa langit mulai gelap dan bias jingga mulai melukis langit.

"Woojin-ah." Suara Hyungseob memecah keheningan. Ada sesuatu yang Hyungseob coba luruskan disini, kita tunggu saja.

"Kenapa?" Woojin menatapnya heran.

Hyungseob menggigit bibir bawahnya sekilas sebelum berujar,"Kuharap kau tidak salah paham dengan kejadian hari ini. Maksudku... hubungan kita sudah berakhir dan aku tetap tidak bisa memaafkanmu. Jangan kira, hanya dengan kau bisa menciumku dan aku merona karenamu, kau bisa mendapat maafku. Memang benar kalau aku menyayangimu, tapi perasaan ini bukan perasaan yang nyata. Aku ingin... Lai Guanlin yang memiliki hatiku."

Mendengar kalimat yang terucap dari bibir Hyungseob, Woojin akhirnya mengerti kalau luka yang di dapat olehnya belum seberapa daripada luka yang di dapat Hyungseob. Dia memang sempat mengira bahwa Hyungseob akan memaafkannya tapi sepertinya kata maaf sudah tidak ingin berteman dengan Woojin.

Woojin membiarkan Hyungseob mengenggam dan mengarahkan tangan kanannya ke arah panah emas yang menancap di dada si pemuda manis, menggenggam batang panah itu erat bersama kedua tangan Hyungseob yang berada di atas tangan kanannya.

Perlahan, Hyungseob memejamkan mata,"Aku, Ahn Hyungseob, ingin Park Woojin menarik panah ini, demi hidup kami yang lebih bahagia bersama orang lain."

"... Biarkan kami saling melupakan."

Bersamaan kata terakhir yang diucapkan Hyungseob, Woojin menarik panah itu dengan segenap tenaga yang dimilikinya. Dadanya serasa diremas dan sesak, namun Woojin tetap menarik panah itu. Matanya berkaca-kaca, tidak dapat membayangkan bahwa suatu saat nanti Hyungseob adalah bagian dari masa lalu.

Tidak ada lagi, Park Woojin yang dikhawatirkan, diperhatikan, disayangi Hyungseob. Tidak akan ada.

Sore itu, halaman sekolah mereka dipenuhi cahaya keemasan yang merebak dari dada Hyungseob, disertai cahaya matahari yang menghangatkan.


Woojin diam di dalam kamarnya, duduk menghadap meja belajar tanpa satu pun buku yang terbuka. Seragamnya teronggok diatas kasur, di tumpuki beberapa buku yang membeludak dari tasnya. Di atas meja, hanya ada panah berwarna emas dengan kilau yang sedikit memudar. Tangannya menyentuh permukaan panah itu pelan, meresapi setiap lekukan yang ada. Di batang panah itu terdapat ukiran besar 'Park Woojin', diikuti ukiran nama Ahn Hyungseob yang tercoret berada dibawah namanya dengan ukuran yang lebih kecil.

Woojin sejenak merasa takjub. Hanya karena kekuatan panah dari cupid, Woojin dapat memporak-porandakan banyak dunia.

Omong-omong soal cupid, apa kabar Lee Euiwoong?


Hyungseob sedang mengamati air yang bergejolak di hadapannya. Kakinya terus berada di dalam sebuah lingkaran yang tergambar diatas tanah dengan diameter satu meter. Isinya berupa berbagai simbol dan mantra yang tertulis dalam bahasa latin. Daehwi ada disana, berdiri di belakang, siap siaga merapalkan mantra apabila kekuatan Hyungseob kembali tidak terkendali.

Tidak ada yang terjadi, namun air yang bergejolak itu kembali tenang dan Hyungseob berbalik ke arah Daehwi sambil memasang wajah kelelahan dan cemberut,"Aku lapar." Ujarnya kemudian.

"SEJAM LALU, KAU BARU SAJA MAKAN, AHN HYUNGSEOB!" Ujar Daehwi kesal, namun dia tetap pergi ke dalam bangunan terdekat untuk mengambil makanan.

Setiap ada waktu senggang, Hyungseob akan meminta Daehwi membawanya ke Mansion, sebutan untuk tempat para penyihir dan kaum setengah Dryad sepertinya berkumpul. Seperti namanya, tempat ini berbentuk Mansion megah, dimana ada berbagai fasilitas untuk para penghuninya. Tempatnya berada di tengah hutan yang dilindungi portal khusus. Mereka bahkan disediakan kamar masing-masing untuk bermalam, persis seperti asrama. Hyungseob juga punya kamarnya disana, tapi dia meminta Daehwi selalu membawanya pulang dengan teleport. Bagi Hyungseob, kamar di rumah jauh lebih baik dari pada kamar di asrama.


Daehwi menghela nafas. Kakinya terus melangkah, melewati pintu-pintu yang mengarahkannya menuju halaman belakang Mansion ini. Dia baru saja mengambil sebungkus roti untuk Hyungseob.

Sore ini tidak banyak penyihir yang latihan di halaman belakang. Beberapa dari yang datang ke Mansion sedang fokus untuk belajar meramu obat ataupun sekedar membaca di perpustakaan, maka dari itu Hyungseob punya wilayah luas untuk belajar mengendalikan kekuatannya.

Diam-diam, Daehwi membuka bukusan roti milik Hyungseob dan menggigitnya cukup besar. Siapa bilang hanya Ahn Hyungseob yang lapar?

BUMMM!

Tiba-tiba, seluruh bangunan Mansion bergetar. Suara debuman yang cukup keras berhasil mengagetkan ratusan penyihir yang sedang berada di dalam Mansion. Mereka berbondong-bondong keluar dan melihat kearah halaman belakang yang diisi kepulan asap ungu gelap dan aroma lavender yang pekat.

Daehwi bergerak cepat, menelan gumpalan roti dalam mulutnya sekali telan dan melupakan roti untuk Hyungseob yang sudah terbuang entah kemana. Langkahnya memelan ketika sudah mencapai pinggiran halaman belakang. Asapnya sudah mulai menipis, namun aroma lavender itu masih saja menusuk penciuman.

Mulutnya berbisik kecil, merapalkan mantra dan sapuan angin tiba-tiba melenyapkan asap yang tersisa. Daehwi membulatkan matanya. Ditengah lingkaran segel itu tidak ada siapapun. Hanya ada bekas rumput terbakar yang cukup besar dibagian tengah, tempat dimana Ahn Hyungseob harusnya berdiri.

Daehwi mendekati bekas terbakar itu dan menyentuh permukaannya pelan. Disana, aroma lavender tercium begitu kuat. Daehwi yakin, kalau aroma lavender ini adalah aroma sihir, bukan aroma biasa. Apalagi aroma ini sedikit membuatnya mabuk. Sudah bisa dipastikan bukan Hyungseob yang menyebabkan hal ini, tapi orang lain.

Mata Daehwi bergetar ketakutan,"I-ini penculikan." Daehwi berbalik ke kumpulan para penyihir,"AHN HYUNGSEOB DICULIK!" Serunya.


Ini masih pagi, waktunya sekolah, tapi Woojin harus duduk di sebuah bangku taman bersama Daehwi. Jas dan kemeja putih Woojin sudah terlepas, menyisakan kaus oblong hitam. Sedangkan Daehwi memang sejak awal sudah memakai pakaian bebas.

Sejak Woojin mendapati Daehwi berdiri di depan rumahnya dan mengajaknya membolos, Woojin yakin ada suatuhal yang terjadi.

"Panahnya sudah terlepas." Woojin berusaha membuka percakapan.

"Percuma kalau sudah lepas, tapi Hyungseob tidak ada."

"A-apa mak—"

"Akan kuceritakan, tapi jangan memotong ucapanku."

Woojin mengangguk cepat. Pikirannya kalut, dia tidak ingin Hyungseob terluka, dia harus segera mencarinya.

"Kemarin sore, kami pergi ke Mansion, biasa disebut perkemahan bagi para demigod, tapi tempat ini khusus penyihir dan setengah dryad."

"Kami berlatih sampai cukup sore, namun Hyungseob tiba-tiba berhenti menggunakan kekuatannya dan bilang kalau dia sudah lapar. Aku tidak ingin dia tambah cerewet, jadi aku segera masuk ke Mansion untuk minta makan di dapur. Saat aku berjalan keluar, ada suara ledakan dari tempat latihan Hyungseob. Awalnya aku kira dia yang membuat ledakan, tapi ada aroma sihir lavender. Aku tahu jelas kalau itu bukan aroma milik Hyungseob, jadi aku berlari keluar. Namun yang tersisa hanya asap dan bekas terbakar di atas tanah. Segel pelindung Mansion rusak dan penculik Hyungseob tidak meninggalkan jejak sama sekali."

"Para senior sedang melacak keberadaan Hyungseob, aku akan segera diberi tahu kalau ada perkembangan."

Woojin diam bukan berarti dia hanya diam mendengarkan. Mau tidak mau, dia juga harus memutar otak untuk menemukan Hyungseob.

Boleh saja Hyungseob tidak menyukainya lagi, tapi yang terpenting bagi Woojin sekarang adalah keselamatan Hyungseob. Inilah caranya memperjuangkan Hyungseob, yaitu dengan melindunginya.

"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang." Suara Daehwi terdengar putus asa.

"Jangan khawatir, aku akan membantu sebisaku. Aku memang pernah menyakiti Hyungseob, tapi itu dulu, sebelum aku benar-benar jatuh padanya. Kali ini, percayalah padaku. Biarkan aku membuktikan kalau perasaanku pada Hyungseob tidak main-main."


Baru saja Woojin membuka pintu kamarnya, tidak ada yang terjadi dengan kamarnya, namun panah yang tergeletak di atas meja sudah patah menjadi dua bagian. Di bawahnya ada sebuah sticky note kecil bertulisakan; a pay back.

Woojin tidak sempat untuk memikirkan artinya, karena yang ada dipikirannya adalah 'kenapa seseorang bisa menyelinap ke kamarnya dan mematahkan panah cinta Woojin?'

"Sedang apa?" Woojin menoleh karena kaget, ibunya sudah berdiri di depan pintu sambil membawa tumpukan pakaian yang sudah dilipat. Omong-omong, Woojin hanya berdiri di depan meja belajarnya, mengamati panah di atas meja tanpa menyentuhnya sama sekali.

"Tidak, hanya mengingat tugas." Woojin berbohong.

Ibu Woojin mengendikkan bahunya acuh, menaruh tumpukan baju Woojin di atas kasur dan segera keluar, tidak lupa memberi wejangan pada Woojin untuk menata tumpukan baju itu ke dalam lemari.

Tidak tinggal diam, Woojin merogoh saku celananya, menarik ponsel dan menghubungi Daehwi tanpa ragu. Panahnya yang patah dan penculikan Hyungseob pasti berhubungan dengan kejadian ini. Apalagi Ibunya sampai tidak tahu kau ada seseorang yang menelusup sedalam rumah, penculik Hyungseob jelas orang yang jauh lebih kuat dari mereka.

"Halo?" Suara diseberang sama seperti suata serak sehabis bangun tidur.

Woojin tidak ingin berlama-lama,"Seseorang mematahkan panah cintaku, dan menulis note yang isinya a pay back. Ini pasti berhubungan dengan Hyungseob."

"A-aku akan segera ke rumahmu. Kita harus segera membawa panah itu ke Mansion. Pasti ada petunjuk disana."

Kemudian sambungan telfon terputus.


Daehwi mengajaknya bertemu di atas atap sekolah saat jam makan siang, mengingat tempat itu jarang dikunjungi siswa juga saat perut mereka sedang meraung kelaparan. Dan tempat itu juga tempat teraman untuk membahas masalah yang orang awam tidak pahami.

Woojin mempercepat langkahnya. Dia perlu naik satu tingkat lagi untuk sampai di atas, melewati tangga yang permukaannya dipenuhi debu tebal dan tulisan random di sisi-sisinya.

Satu hal yang perlu Woojin ingat.

Kekuatannya memang sedang dihilangkan, mungkin lebih tepatnya dikunci, tapi dia tetap demigod. Keadaan yang berdiri sendiri tanpa perlindungan seperti ini jelas menggiurkan makhluk-makhluk yang haus balas dendam.

Woojin membuka pintu di ujung tangga, namun yang menyambutnya adalah Lee Daehwi yang bersimpuh di lantai sambil memegang dadanya, raut wajahnya menunjukkan kalau dia kesakitan.

Woojin masih bingung dengan situasinya—

"UHUK!"

—sampai Daehwi memuntahkan darah.

Sebenarnya, ada apa?

.

.

.

TBC