The Devil and His Bride
*
*
*
*
*
Jimin baru saja tiba saat ada keributan kecil setelah ia datang, matanya yang kecil sedikit melebar melihat Hoseok yang datang tidak lama setelah dirinya, memangkul seseorang di pundaknya yang terlihat ringan, Jimin melihat rambut hitam korban yang diangkut Hoseok dan wajah tak sadarkan diri itu, Min Yoongi. Jadi seperti ini Hoseok berhasil membawanya, Jimin sedikitnya tidak terkejut, melihat bagaimana keras kepalanya seorang Min Yoongi saat di temuinya tadi.
Jimin setia menunggu Hoseok dengan tugasnya mengurusi Yoongi yang ia perintahkan untuk memperistirhatkan Yoongi di kamar yang sudah disiapkannya. Dia menunggu santai di sofa ruang istirahat miliknya dengan di temani segelas wine di tangannya.
"Semua sudah beres tuan, Yoongi masih belum sadarkan diri..." Hoseok menggaruk sedikit tengkuknya, menyengir tak jelas "Sepertinya aku berlebihan membiusnya"
Jimin hanya memutar matanya malad lalu meletakkan gelas winenya yang belum habis di meja membuat duduknya yang awalnya santai menjadi lebih tegap sekarang.
"Kau sampai membiusnya itu berarti dia bukan orang yang mudah... " Jimin menyeringai "Sepertinya ini akan sedikit sulit" dia menggaruk dagunya pelan, terlihat memikirkan sesuatu.
"Ku rasa dia masih belum sepenuhnya memahami apa yang sudah terjadi, tuan" opini Hoseok.
Jimin hanya mengangkat bahu tak perduli "Tetap terus awasi dia !" Titahnya terakhir sebelum berlalu meninggalkan Hoseok di belakangnya yang membungkuk selepas kepergiaannya meng-iya-kan perintahnya.
*
*
*
Ini sudah yang ke sekian kalinya dia tak sengaja lewat di depan kamar dimana Yoongi berada, dan lagi-lagi dia menemukan pelayannya membawa kembali makanan yang sebelumnya dikirim namun tak di sentuh Yoongi. Demi Tuhan, sudah dua hari dia dari sadarkan diri dan sama sekali tidak makan, bahkan minum, sesuai laporan yang ia dapat dari pelayan, dia bisa mati kalau seperti ini terus, sungguh Jimin tidak ingin ada yang meninggal di rumah berharganya ini, tidak, terlebih itu Yoongi.
Apa sebenarnya yang di inginkan Yoongi, dia benar-benar membuat Jimin sakit kepala, Jimin tahu pasti apa yang sudah menimpa Yoongi, tapi tidak seharusnya dia bersikap seperti ini, seolah menyerah akan hidupnya, dan Jimin sangat benci dengan sikap manusia yang seperti ini, menyerah sebelum berjuang, karena itu hanya meningatkannya pada dirinya yang dulu, lemah dan puus asa. Harusnya dari awal dia menolak tawaran Min Yoonsuk itu, jika Yoongi semerepotkan ini, kalau bukan...
Jimin menggeram kesal, lalu dengan cepat mengambil langkah seribu masuk ke dalam kamar Yoongi.
Pprraaaanngggg~
Suara pecahan mengagetkan Yoongi yang seketika bangkit dari tidurnya. Itu dia, Park Jimin, dengan sengaja telah membanting nampan makanan yang baru saja dibawa oleh pelayan. Tubuh lemah Yoongi hanya memandangnya sayu tak mengerti.
"Kalau kau ingin mati, setidaknya jangan disini!!!" bentaknya. Yoongi hanya mengerlingkan kening tak bertenaga, bibirnya terlalu kering untuk bisa menanggapinya.
"Ku beri kau dua pilihan... " ujarnya terilihat ada kilatan amaran dimatanya "... Pergi dari sini mati tidak berguna diluaran sana, atau... Tinggal disini bersamaku, membalas apa yang sudah dilakukan paman dan sepupumu, merebut kembali kekuasaan kakekmu?" Ucapan Jimin setidaknya menarik perhatian Yoongi kali ini.
"Ku beri kau waktu sampai malam ini, pergi diam-diam atau makan malam denganku nanti malam" ucapnya mengakhiri, Jimin lalu berbalik dengan mengibasakan ujung jas yang ia kenakan, saat pelayan lain hendak masuk untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya, ia justru menahan pelayan itu.
"Biarkan dia yang membereskan" jarinya menunjuk kearah Yoongi, si pelayan yang merasa takut hanya kembali keluar, disusul oleh Jimin yang menutup pintu kamar Yoongi dengan bantingan keras hingga membuat Yoongi berjinggit kaget.
Nafas Jimin memburu setelah bunyi bantingan keras pintu di belakangnya, amarahnya mudah sekali memuncak, dia tidak habis pikir bisa bersikap sebegitu kasar kepada Yoongi, padahal dia juga bisa mendiskusikan maksudnya dengan baik-baik kepada Yoongi, tapi lihat apa yang di lakukannya. Entahlah setan apa yang sudah merasuki dirinya jika itu menyangkut berhadapan dengan Yoongi, mendorongnya selalu bersikap dingin, kasar dan tanpa kelembutan.
*
*
*
Hari berikutnya berlalu setelah kesepakatan yang ditawarkan Jimin dan Yoongi yang merasa tak punya pilihan akhirnya hana bisa menerimanya. Kesepakatan asal yang Jimin utarakan setidaknya membuat Yoongi sedikit bersemangat akan hidupnya lagi, Jimin tahu sebenarnya dia hanya memanfaatkan keadaan Yoongi yang terpojok. Entahlah sebut saja Jimin lelaki licik, dia juga tidak peduli.
Dan sekarang kurang beberapa meter lagi sampai mobil yang di tumpangi Jimin-Yoongi-Hoseok sampai ke rumah Jimin sepulang dari rumah abu, mengantar Yoongi mengunjungi makam kakek dan kedua orang tuanya, namun mendadak sang supir mengerem tiba-tiba menimbulkan bunyi decitan keras gesekan ban mobil dengan aspal jalanan, membuat tubuh para penumpang di dalamnya terguncang. Hampir saja Yoongi jatuh terjerembab ke depan jika saja tangan Jimin yang kekar itu tidak menahannya, nyatanya mobil yang berhenti mendadak tidak berefek pada Jimin, membuatnya waspada dan mampu menahan tubuh Yoongi yang akan jatuh sedang Hoseok sudah mengusap-ngusap jidatnya akibat menubruk dasbor depan mobil.
Yoongi yang sadar, kembali menegakkan posisi duduknya selang perlahan Jimin melepaskan pegangannya dari tubuh Yoongi, samar Jimin mendengar Yoongi menggumamkan ucapan terima kasih namun di abaikannya karena sepertinya Yoongi juga tak tulus mengucapkannya.
"Ada apa?" tanya Jimin dengan suara dingin kepada supirnya terdengar seolah menghakimi atas ketidak mampuannya menyetir.
"I-itu... T-Tuan, baru saja ada kucing lewat" jawab sang supir tergagap takut kalau-kalau tuannya itu marah besar kepadanya.
Jimin menghela nafas kasar namun tak berkomentar lagi selanjutnya, Hoseok yang sudah selesai dengan jidatnya memberi instruksi untuk melajukan kembali mobil mereka pada sang supir.
Sejenak dari kaca spion depan Hoseok melihat gerak-gerik Jimin yang terlihat memperhatikan Yoongi yang duduk menghadap keluar dari balik kaca mobil, tanpa sadar Yoongi telah di perhatikan oleh Jimin. Samar Hoseok tersenyum melihatnya, dia tahu Jimin sudah menaruh perhatiannya kepada Yoongi sejak pertemuannya dengan Yoongi sejak lama, jauh sebelum Jimin menemui Yoongi di depan rumah keluarga Min tiga hari yang lalu.
*
*
*
Dunia begitu sempit memang, suatu kebetulan, ternyata istri dari sahabat kurang ajar Jimin, Taehyung, juga kenalan Yoongi, Jungkook tetangga lama Yoongi yang sudah sangat akrab dengannya. Jungkook yang melihat berita heboh yang di buat Jimin, memaksa suaminya untuk mengunjungi rumah Jimin, memastikan kebenaran dari berita yang ia lihat di TV.
Dan setelah keduanya selesai dengan urusan mereka, Taehyung dengan Jimin, Jungkook dengan Yoongi, mereka pun pulang meninggalkan kembali Yoongi berdua dengan Jimin di ruang kerjanya, banyak hal yang perlu di pelajari Yoongi dan mendiskusikan rencana Jimin untuk pembalasan kepada paman Yoongi esok hari.
Jimin mengangkat kepalanya dari memandangi laptop kerjanya dihadapannya, pertanda ia sudah selesai dengan segala sesuatu yang ia kerjakan sebelumnya, pandangannya langsung tertuju pada Yoongi yang ternyata sudah tertidur pulas di sofa di ujung ruangan dengan buku tebal yang menutup wajahnya membuat suara dengkuran halus Yoongi teredam disana.
Jimin hanya menggeleng, dasar pemalas batinnya, baru juga sebentar tidak diperhatikan Jimin, Yoongi sudah terlelap sebegitu pulasnya, sepertinya semangat hidup yang dimiliki Yoongi memang tidak sepenuhnya seperti orang lain.
Dengan dorongan niat entah dari mana, Jimin bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Yoongi lalu dengan sigap dia mengangkat tubuh Yoongi untuk di pindahkan ke kamarnya, kamar Jimin. Yoongi yang sempat menggeliat sedikit terusik, kembali terlelap dalam gendongan Jimin, kepalanya nampak nyaman bersandar pada dada bidang Jimin.
*
*
Perlahan Jimin membaringkan Yoongi di atas ranjangnya sesampainya mereka di kamarnya dengan dirinya ikut berbaring di sebelah Yoongi, yang masih dalam dekapannya, lamat ia memandangi wajah Yoongi yang nampak damai dalam tidurnya, ada perasaan aneh menggelitik dadanya, mendorongnya untuk lagi-lagi memcium Yoongi, setelah dua kali keisengannya menggoda Yoongi, rasanya Jimin ingin terus mencumbu bibir manis Yoongi itu, tidak bukan hanya bibir tapi seluruh tubuh Yoongi seutuhnya, tak berdaya di bawah kungkungannya, menjadi miliknya satu-satunya. Tapi bukan sekarang tentunya, dimana Yoongi rapuh atas apa yang di alaminya dan juga dirinya juga perlu memastikan bahwa perasaanya kepada Yoongi bukanlah perasaan penasaran semata namun lebih dari itu.
Dengan segala pemikiran di kepalanya Jiminpun perlahan ikut terlelap sembari merengkuh Yoongi.
*
*
Jimin terbangun di pagi hari dengan lengan kanannya yang mati rasa karena semalaman dia tidur dalam posisi merangkul Yoongi, lengan kananya yang tertindih tubuh Yoongi terasa kebas sekarang. Jimin takjub betapa mereka berdua tertidur pulas, sampai-sampai tak mengubah posisi tidur.
Perlahan Jimin menarik lengannya untuk bangun tanpa mengusik Yoongi, entah apa reaksinya nanti jika terbangun dalam keadaan Jimin memeluknya sepanjang malam ia tidur, mengingat Yoongi yang tidak menyukainya itu, Jimin sangsi kalau paginya akan damai nantinya.
Dan saat Jimin hendak turun dari ranjang, perhatiannya tertarik akan perubahan wajah tidur Yoongi yang awalnya damai kini nampak berkerut resah, sepertinya Yoongi mimpi buruk.
Jimin yang tak suka melihat itu, mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Yoongi menenangkannya. Dan saat wajah Yoongi sudah tak lagi berkerut, di turunkannya tangannya menyusuri pipi lembut Yoongi, saat ujung jarinya tak sengaja menyentuh bibir ranum Yoongi, hilang sudah kewarasannya.
Dia... Jimin mencium Yoongi dalam tidurnya, dan betapa terkejutnya ia saat reaksi tubuh Yoongi membalas ciumannya dalam keadaan masih tidur, apa Yoongi memimpikan hal semacam ini dalam tidurnya, Jimin tidak peduli lagi soal itu, yang terpenting saat ini ia begitu menikmati apa yang dilakukannya dan apa yang di dapatkannya. Hingga ciuman itu berubah jadi cumbuan yang panas, entah bagaimana dia sudah berhasil membuka pakaian atas Yoongi dan menikmati setiap jengkal kulit mulus Yoongi.
Hingga tanpa sadar tangannya sudah sampai menjelejahi tubuh Yoongi, sampai juga pada tangannya yang meremas milik Yoongi lembut, merasakan bahwa Yoongi sudah sangat kerasJadinya ia turunkan celana Yoongi berkolor itu, Oh ternyata Yoongi tidak memakai celana dalam, Jimin menyeringai, berarti seharian kemarin Yoongi berkeliaran di rumahnya tanpa mengenakan celana dalam, sungguh kebiasaan yang harus di waspadai Jimin.
Tak ambil waktu lama, Jimin suda memposisikan kepalanya diantara paha Yoongi yang dibukanya, lihatlah milik Yoongi yang sudah sangat menegang itu, sepertinya Jimin harus bertanggup jawab mengurus milik Yoongi atas keisengannya tadi. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Jimin, dia sendiri juga tidak memahaminya.
*
Yoongi membuka matanya lebar, benar-benar membuka matanya, ia bangun. Tapi Jimin masih tetap disana mulai mengulum miliknya yang menegang, ternyata bukan hanya didalam mimpi, Jimin benar-benar mencumbunya saat dirinya tidur. Yoongi panik, dia ingin bangkit namun pinggulnya ditahan oleh Jimin.
"Jangan bergerak, biarkan aku mengurus ini terlebih dulu" gumamnya dengan suara serak dipagi hari, yang langsung kembali memasukkan milik Yoongi ke dalam mulutnya dalam hingga milik Yoongi bisa merasakan tenggorokan Jimin. Kepala Yoongi terhempas kebelakang seketika karena nikmat, tangannya sudah meremas seprai dibawah tubuhnya, merasakan mulut lembut Jimin menyesap miliknya, ditariknya milik Yoongi yang sudah mengeras sepenuhnya keluar masuk mulutnya dengan tanganya yang juga sibuk meremas bokong kenyal Yoongi. Ini pertama kalinya Jimin melakukan ini, biasanya jika selalu dia yang ada dalam posisi Yoongi saat ini, di puaskan oleh pasangan sexnya, tapi kali ini dialah yang memberikan service itu kepada Yoongi.
Oh Yoongi gila dibuatnya, dia tidak tahan untuk mendesah kenikmatan, dia sudah dekat, dia hampir sampai Jimin bisa mersakannya, Jimin semakin cepat menghisap milik Yoongi dan...
Putih menjemput Yoongi, dia telah sampai pada puncaknya, kenikmatan yang tak pernah Yoongi rasakan.
Hasratnya keluar banyak dimulut Jimin hingga lumer-lumer dibibirnya, Jimin menegak semuanya tak bersisa, Yoongi yang terengah-engah menyaksikan Jimin yang melepaskan mulutnya dari miliknya, menjilat bibir bawahnya karena tumpahan hasrat Yoongi.
Jimin bangkit dari tubuhnya, menyeringai puas "Rasanya sangat manis" ujarnya sembari menarik selimut menutupi tubuh telanjang Yoongi, dia hanya merapikan pakaiannya yang berantakan sedikit lalu pergi meningglkan Yoongi dengan sisa-sisa kepuasannya.
Yoongi yang masih linglung atas apa yang baru saja terjadi, tak berdaya, tubuhnya lemas hanya meringkuk memeluk selimutnya erat, selimut ini, ranjang ini, ini di kamar Jimin. Yoongi ingat semalam sepulangnya Jungkook dan taehyung, ia mempelajari berkas-berkas yang ditunjukkan Jimin tentang rencana bahwa ia akan datang ke kantor kakeknya, ia mungkin tertidur karena kelelahan, mungkin Jimin memindahkan dirinya ke kamarnya saat Yoongi tertidur diruang kerjanya dan yang tak habis Yoongi pikir, Jimin berhasil membangunkannya dengan blow jobnya di pagi buta. Sungguh manusia brengsek yang Yoongi pernah temui. Lagi-lagi Yoongi hanya bisa membiarkan Jimin dengan segala perilaku kurang ajarnya.
*
*
Hari-hari berlalu, Yoongi sudah bisa menghadapi pamannya, dan Jimin berhasil mengalahkan Seokjin dalam merebut proyek kerja sama dengan perusahaan asing ternama. Dan sesuai dari informasi Taehyung, malam ini akan ada pertemuan keluarga Kim dan juga Min mengenai perjodohan kedua keluarga tersebut, Kim Namjoon dan Min Seokjin.
Dan disinilah mereka berdua, berada dalam sebuah lift menuju tempat di laksanakannya pertemuan keluarga itu, dengan maksud ingin mengacaukan perjodohan tersebut.
Jimin melirik Yoongi yang terlihat resah disampingnya itu.
"Kau tidak percaya diri bertemu paman dan sepupumu?"
Yoongi menoleh nampak sedikit terkejut dengan Jimin yang menyadari gerak-gerik keresahannya itu, iya dia tidak percaya diri, masih melekat jelas ingatan saat dirinya di usir oleh paman dan sepupunya itu, harusnya ia marah dan semangat untuk membatalkan niat perjodohan mereka itu, namun diri Yoongi yang pada dasarnya menyayangi mereka berdua membuatnya merasa tidak percaya diri, kalau-kalau dia malah mengacaukan rencana Jimin.
"Kau cukup diam dan menyaksikan, serahkan semuanya padaku" ujar Jimin meyakinkan Yoongi, namun nampaknya Yoongi masih saja terlihat tegang.
"Mau ku ajari terapi rileksasi?"
Alis Yoongi terangkat sebelah, menatap Jimin seolah bertanya bagaimana caranya itu terapi rileksasi itu, Yoongi hanya harus merasa waspada.
Betul kan... Jimin menyeringai penuh sirat, dan langsung mendorong tubuh Yoongi menempel ke dinding ruangan lift "Seperti ini caranya..." Langsung Jimin mencium Yoongi begitu saja, Yoongi yang tak sempat menghindar itu, hanya terbelalak, harusnya ia tahu apapun saran Jimin, pasti tidak akan jauh-jauh dari hal semacam ini.
Meski tangan Yoongi mendorong tubuh Jimin untuk menjauh tapi Jimin tetap tak bergeming, bahkan ia semakin mendorong ciumannya semakin dalam, memaksa menerobos masuk pertahanan Yoongi, dan sepertinya memang Yoongj tidak akan pernah bisa melawan sikap kurang ajar Jimin, dia hanya pasrah olehnya bahkan dia juga mulai membalas ciuman itu, semakin lama semakin dalam lidah mereka saling bertemu, dan saat Yoongi sudah mulai kehabisan oksigen Jimin pun melepaskan ciumanna. Tersenyum di depan wajah Yoongi yang terengah dengan kedua mata tertutup yang perlahan mulai terbuka.
"Merasa lebih baik?" Jimin menyeringai.
"Brengsek" Yoongi mendorong tubuh Jimin untuk menyingkir dari hadapannya, bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, Yoongi dengan cepat berjalan keluar lift mendahului Jimin, meski sedikit kesal akan apa yang sudah di lakukan Jimin, namun Yoongi nampaknya lega, dia tidak lagi tegang untuk menghadapi paman dan sepupunya, Seokjin. Jimin hanya mengikuti Yoongi sesudahnya dengan senyuman penuh kemenengan.
*
*
Dan benar saja, sesuai apa yang di katakan Jimin, Yoongi hanya perlu diam dan menyaksikan, semuanya di bereskan oleh Jimin dengan segala ucapan mengancamnya perjodokan antara keluarga Kim dan Min akhirnya batal. Yoongi bisa lihat dengan jelas kekesalan di wajah pamannya dan wajah penuh kecewa di wajah Seokjin, tapi kenapa Seokjin hanya nampak kecewa dan tidak terlihat kesal sama seperti pamannya, entahlah Yoongi tidak mau memikirkan soal itu, bukanlah urusannya juga sekarang. Yang pasti saat ini dia hanya merasa terkagum-kagum dengan penampilan Jimin membatalkan perjodohan tersebut, dan itu tidak beres, Yoongi tidak seharusnya terkesima sebegitunya oleh Jimin.
Dan Jimin bisa merasakan keterkaguman Yoongi itu. Saat mereka berdua sudah berada di mobil dalam perjalan pulang, saat Yoongi terbangun dari tidurnya yang bersandar dibahunya, Jimin bisa merasakan perubahan sikap Yoongi.
Mereka saling bersitatap pandangan tanpa ada yang mau melepaskan, hingga tanpa sadar Yoogilah yang semakin mendekat, mengikis jarak diantara keduanya dengan Jimin yang masih hanya menatapnya, dan hingga pada akhirnya bibir Yoongi mendarat tepat di bibir Jimin. Yoongi memejamkan matanya ketika mencoba menyesap bibir bawah Jimin, sensasi nikmat dan hangat langsung menjalari setiap nadinya, seolah memang sudah lama tubuhnya menantikan sensasi ini. Sedang Jimin hanya membiarkan, pandangannya mengamati Yoongi yang menikmati bibirnya. Jimin membuka mulutnya saat Yoongi mulai semakin menekan bibirnya meminta lebih, dia membiarkan bibir Yoongi mengeksplor setiap bagian bibirnya sesekali membalas ciuman Yoongi dengan lidah mereka yang saling bertemu, entah setan apa yang sudah merasuki Yoongi tapi Jimin benar-benar berterima kasih pada setan itu jika memang benar-benar dia merasuki Yoongi saat ini, dan ciuman mereka terus berlangsung seperti itu tanpa peduli jika sedari tadi ada dua manusia yang juga ada di dalam mobil mereka, sang supir dan tentunya penjaga setia Jimin, Heosok, melirik malu bayangan mereka berdua yang berciuman mesra terpantul pada kaca spion depan mobil, sama-sama terdiam kikuk agar tak menganggu.
Untuk pertama kalinya Yoongi mencium Jimin terlebih dulu, jika selama ini Jimin lah yang selalu memulai, namun kali ini Yoongi. Apa Yoongi sudah mulai tertarik kepadanya? entahlah yang pasti disini Jiminlah yang tertarik kepada Yoongi terlebih dulu, mungkin awalnya memang hanya sekedar rasa penasaran namun sepertinya kini rasa itu sudah berubah jadi rasa keposesifan, dia ingin memiliki Yoongi setelah ini, setelah Yoongi benar-benar siap menerimanya juga, dan berjanji teguh akan menghadapi siapa saja yang berani menyakiti Yoongi. Jimin ingin menjaga Yoongi, tulus.
Jauh... Jauh sebelum Jimin dan yoongi dipertemukan dalam keadaan yang mentudutkan ini, sebenarnya Jimin pernah bertemu dengan Yoongi sekalai, namun sepertinya Yoongi tidak mengingat pertemuan itu, pertemuan yang sangat membekas bagi Jimin namun Yoongi melupakannya.
*
*
*
*
*
To be Continoued
-
Apa ini? saya malah bikin selingan...
Saya merasa perlu mereview hubungan MinYoon sebelum menuju klimaks cerita, disini juga saya banyak mengulang chapter2 sebelumnya, kalau banyak yang bosen saya maklum hihihihi.
Tolong jangan ditunggu buat update cepet saya lagi kehilangan niat untuk menulis mungkin efek BTS comeback juga.
Khamsahamnida...
Mind to Review!!!
Jibangie
