"Halo."
"Itachi-senpai!"
"Ya, Tobi."
"Senju-san tidak membolehkanku datang ke rumahmu, sekalipun bersama Kolonel. Kenapa dia memberikan teleponnya?"
"Karena aku meminta."
"Baguslah. Kami ingin mengunjungimu, Senpai."
"'Kami'?"
"Pain-senpai dan yang lain. Semuanya ada di sini untuk menengokmu!"
Itachi Uchiha terdiam sejenak. Hari itu adalah tahun baru 1979 dan baru seminggu sebelumnya dirinya bangun dari tidur yang sangat panjang. Mendengar sisa anggota Akatsuki sekarang berkumpul di Amerika Serikat membuat Itachi merasa perlu mengecek apakah dirinya masih tertidur dan bermimpi atau sudah betulan bangun. Yakin sudah bangun, perlahan Itachi berujar lagi,
"Aku akan coba bicara dengan Senju-san nanti. Kalian semua menginap di apartemenmu, Tobi?"
"Iya, Senpai. Konan-senpai untungnya tidak ikut. Kami berlima bersesakan tidur di sini." Tobi terkekeh ganjil. "Anoo, Senpai. Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya apa?"
Tobi tak langsung bertanya. "Apa Senpai baik-baik saja?"
Itachi juga tak langsung menjawab. Ada getar dalam suaranya yang gagal disembunyikan saat ia berdusta, "Aku baik-baik saja."
Tobi di seberang sambungan membisu dua detik.
"Kurasa Senpai tidak baik-baik saja."
Itachi tak menjawab.
"Senpai, kau masih di situ?"
Tetap tiada jawab, tapi telepon masih tersambung.
"Halo?"
"Kau benar, Tobi," Itachi menggigit bibir. "Aku tidak baik-baik saja. Aku lumpuh."
.
.
.
.
.
.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Bleach (c) Tite Kubo
RECONQUISTA! (c) Roux Marlet
Sidestory of Past, Present, and Future
The author gained no material profit from this story.
.
Previously, in Chapter 9: The Reclaimed
'Pada akhirnya aku tetap tidak bisa lepas dari masokisme.' / Akan dibuktikannya bahwa Ulquiorra salah; Yammy akan membuat Ulquiorra terbebas. / "Aku tak tahu apa masalahmu, tapi pikir-pikirlah dulu sebelum mencabut nyawamu. Sekali kau kehilangan itu, kau tidak akan bisa mengambilnya kembali."
.
.
.
.
.
.
Chapter 10: The Homecoming
.
Suatu hari di masa lalu, Sousuke Aizen duduk di sebuah kursi di sisi sebuah ranjang. Sepasang mata sayunya memandangi sosok yang terbaring diam. Tangannya menggenggam erat lengan seputih pualam yang masih lemas itu. Terasa dingin, padahal penghangat ruangan telah dinyalakan.
"Bangunlah, Ulquiorra. Misimu sudah berhasil," ujar sang ayah angkat.
Gin Ichimaru berdiri di ambang pintu, membawakan seteko teh hangat sambil menyaksikan pemandangan yang amat sangat langka itu. Ulquiorra Chifer baru saja diracun strychnine dengan sengaja oleh Aizen dalam rangka mendeklarasikan dikeluarkannya si pemuda dari Espada. Ichimaru sudah membuatnya memuntahkan racun pembuat kejang otot itu sebelum semuanya menjadi lebih buruk, tapi ternyata tubuh Ulquiorra bereaksi terhadap racun itu lebih dahsyat dari perkiraannya. Nyawa si Cuatro Espada berada di ujung tanduk saat dia sempat hilang napas beberapa jam yang lalu. Tapi yang terburuk sudah berlalu, pertolongan cepat diberikan, dan mereka kini tinggal menunggu Ulquiorra bangun. Sousuke Aizen, setelah memberikan penjelasan strategi perang pada kesembilan Espada untuk esok hari, bergegas-gegas menuju rumah ini untuk menengok Ulquiorra.
"Gin, jangan biarkan aku melakukan hal gila lainnya terhadapnya," ujar Aizen tanpa memandang bawahannya yang berambut keperakan itu.
"Tentu, Aizen-sama," sahut Ichimaru. "Sebaiknya Anda beristirahat. Besok akan menjadi hari yang besar. Saya yang akan menjaga Ulquiorra."
"Tidak. Aku perlu menyampaikan beberapa hal padanya sebelum aku berangkat ke Zaragoza besok pagi."
Ichimaru melirik jam dinding. Sekarang sudah pukul dua dini hari—sudah besok yang dimaksudkannya tadi. Kalau Ulquiorra tidak segera bangun, rencana mereka semua bisa berantakan. Di saat seperti ini! Dia mengutuki tubuh lemah anak angkat Aizen itu di dalam hati sambil meraih sebotol minyak angin dari rak terdekat. Dibukanya botol itu dan didekatkannya ke hidung Ulquiorra. Bau menyengat minyak menyeruak di ruangan itu, membuat Aizen sendiri terbatuk karenanya.
Cara itu ternyata mujarab. Beberapa saat kemudian, yang ditunggu akhirnya bangun juga. Sepasang mata hijaunya berkedip-kedip, tampak kelelahan sekali. Sousuke Aizen memanggil namanya.
"Aizen-sama..." Ulquiorra membalas panggilan itu.
"Maafkan aku. Kau hampir mati tadi," ujar Aizen, tangannya masih menggenggam tangan Ulquiorra.
Pemuda itu diam sejenak. "Aku rela mati demi dirimu," ujarnya perlahan pada akhirnya.
"Tidak akan ada lagi yang seperti itu," bantah Aizen. "Mulai tahun depan kau akan kuliah di Universidad de Madrid, magister manajemen. Aku akan mengatur suksesi secara de jure di perusahaan. Patuhi aturan pola makan dan jadwal memakai obatmu. Sejak saat ini kau bukan Espada lagi."
Ulquiorra memandangi ayah angkatnya tanpa ekspresi yang berarti. "Jika itu yang Aizen-sama inginkan, aku akan menerimanya."
Ichimaru memohon diri dari ruangan itu, mengatakan bahwa dia dan Tousen perlu menyiapkan banyak hal untuk besok. Pengurus rumah Ulquiorra telah diliburkan sejak pagi hari sebelumnya agar urusan internal Espada tidak mereka ketahui, sehingga perkara menyiapkan makan-minum menjadi tugas tambahan Ichimaru.
"Apakah aku tidak boleh ikut ke Zaragoza besok malam?" Ulquiorra bertanya.
"Kau sudah tahu jawabanku," tegas Aizen. "Kisame akan didampingi oleh Yammy. Tidak akan ada masalah, semoga."
Ulquiorra bisa melihat bahwa ayahnya itu agak meragukan ucapannya sendiri. Dia mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk di atas ranjang, ingin menanyakan detail misi yang tidak akan dilaksanakannya esok hari.
Namun saat itu pendengaran Ulquiorra yang tajam menangkap bunyi halus di luar jendela. Rumahnya ini—yang dulunya rumah Aizen—hanya terdiri atas satu lantai dan di sekelilingnya hanya ada pepohonan.
"Aizen-sama," panggil Ulquiorra, kewaspadaannya meroket dalam sepersekian detik, merasakan adanya bahaya...
Kaca jendela itu pecah dengan bunyi nyaring dan sesosok bayangan melesat masuk, menerjang Aizen di kursinya yang posisinya membelakangi jendela itu. Sesuatu yang berkilat terayun cepat, Aizen didorong jatuh dari kursi, dan Ulquiorra yang setengah berjongkok di atas ranjang menahan pinggiran senjata tajam itu dengan lengannya.
Seorang assassin!
Ulquiorra mengayunkan kakinya ke arah orang asing itu, menarik napas dalam dan cepat, menyambar leher si assassin dan mencengkeramnya dengan sepasang tangannya. Aizen menyerukan sesuatu. Pisau si assassin terjatuh berkelontangan di lantai, pemiliknya sedang dicekik oleh Ulquiorra. Pria asing berpakaian serbahitam itu meronta-ronta; tubuhnya lebih besar dari Ulquiorra, tapi dia kalah oleh motivasi kuat si mantan Espada yang sosoknya kini lebih mirip robot pembunuh.
Hanya satu pikiran Ulquiorra: Orang ini mau mencelakakan Aizen-sama. Detik berikutnya, sesuatu berbunyi berderak.
Ichimaru dan Tousen masuk ke ruangan itu sambil berteriak. Tidak ada yang perlu dilakukan; Ulquiorra sudah menghabisi orang asing itu. Aizen bangkit sambil bertumpu pada kursi.
"Apa yang terjadi, Aizen-sama?" seru Kaname Tousen. Kepalanya menegak dengan tiba-tiba. "Ada orang di luar..." desisnya. Pendengaran Tousen yang seorang tunanetra kadang bisa lebih tajam daripada Ulquiorra.
"Periksalah, Kaname," perintah Aizen. Tousen bergegas menuju jendela yang berlubang dan melompat ke luar dari situ.
Gin Ichimaru mendekati mayat yang lehernya patah itu, mengamatinya dengan mata sipitnya, mencoba mencari petunjuk. Diliriknya Ulquiorra sekilas, yang terduduk di lantai di samping mayat itu.
"Aizen-sama..." suara Ulquiorra bergetar. Di wajah Aizen terdapat segores luka berdarah dan Ulquiorra merasa sesuatu menohok perutnya. Tiba-tiba dia meraih sebuah tongkat rotan dari meja dan mulai memukuli tangannya sendiri.
"Ulquiorra!" seru Aizen.
"Jangan hukum aku seperti ini. Aku tidak tahan membiarkanmu berperang tanpa diriku, Aizen-sama. Lebih baik aku dipukuli daripada ditinggal di Madrid."
Ichimaru menjauh, memandangi dengan ngeri tindakan Ulquiorra yang seperti orang gila itu. Dan bagaimana bisa dia menyebut rencana satu itu sebagai hukuman?
"Hentikan itu, Ulquiorra." Suara Aizen bernada perintah, auranya mengancam. Ulquiorra tidak berhenti. Parasnya yang tanpa ekspresi itu membuat semuanya makin tampak tidak masuk akal. Kesabaran Aizen habis. Direbutnya tongkat tipis itu dari tangan Ulquiorra, memukulkannya satu kali ke lengan anak angkatnya itu sekeras yang ia bisa.
Bunyinya lebih terdengar seperti lecutan cambuk daripada hantaman tongkat.
Ulquiorra menunduk, menahan diri untuk tidak mengerang, memegangi bekas pukulan Aizen—pukulan sang ayah selalu penuh tenaga dan rasa sakitnya biasanya bertahan bermenit-menit. Mata Ulquiorra sampai berair.
"Sudah cukup," ujar Aizen, napasnya memburu. Ditekannya cekungan di antara tulang selangka di bawah leher sang anak, lalu didekapnya tubuh Ulquiorra. "Maafkan aku karena sudah memukulmu."
Ulquiorra tidak berbicara. Aizen melanjutkan,
"Kau akan ikut ke Zaragoza besok."
Gin Ichimaru tidak bisa lebih terkejut lagi. Aizen berubah pikiran begitu saja?
"Aku masih memerlukanmu dalam Espada," ujar Aizen lagi, dagunya bertumpu di bahu kiri Ulquiorra yang tidak membalas pelukannya. "Gin, kita harus ubah rencana sedikit."
Kaname Tousen kembali di saat yang tepat, kali ini lewat pintu, menyampaikan bahwa dia tidak menemukan orang mencurigakan di luar. Gin Ichimaru minta izin minum teh hangat sedikit sebelum menyusun ulang rencana. Sousuke Aizen membantu Ulquiorra berdiri dan mendudukkannya di kursi.
Perhitungan peluang secepat kilat dilakukan keempatnya. Rencananya menjadi demikian: Ulquiorra diam-diam akan mengawasi Kisame yang dibebani tugas mengeksekusi Nelliel dan Yhwach—berhasil atau tidak berhasil, Ulquiorra harus memastikan Kisame melakukan harakiri seperti yang telah diikrarkan pria Jepang mantan Akatsuki itu.
Telah disiapkan pula kartu as: penggunaan hipnotis Ichimaru pada Ulquiorra. Ichimaru telah mendengar selentingan kabar bahwa Aisslinger Wernarr, mantan rekannya di tim interogator Gestapo Nazi dahulu, kini jadi rekrutan CIA dengan supervisi ketat setelah selesai masa hukumannya. Orang itu punya teknik hipnotis yang bisa membuat orang tidur sekalipun berbicara di luar kemauan. Sebesar apa pun kesetiaannya pada Aizen, kalau sampai Ulquiorra tertangkap CIA, dia tentu tak bisa menghindari untuk dipaksa bicara dengan cara keji itu, apalagi selama ini otaknya sudah kena sugesti Ichimaru dalam jangka panjang—tak ada pilihan lain untuk menjaga rahasia, kecuali jika lidahnya dibungkam selamanya.
Kemungkinan besar peperangan melawan Yhwach akan berakhir dengan kekalahan Espada. Beberapa anggota mungkin akan gugur, tapi Ulquiorra tidak boleh sampai demikian. Dia akan ditempatkan jauh dari baku tembak melawan para bawahan Yhwach, sehingga musuhnya hanya pihak aparat dan Akatsuki. Jika Ulquiorra sampai tertangkap aparat besok, hipnotisnya akan aktif dan membuat celah untuknya bisa kabur. Kalau dia berhasil kabur hari itu juga, Aizen bersama Ichimaru dan Tousen akan menunggunya di dermaga terdekat untuk menyeberang ke Inggris. Jika dia tidak berhasil kabur sendiri, Yammy akan diberi perintah oleh Aizen untuk membawa Ulquiorra keluar dari tahanan—Aizen percaya bahwa Yammy sanggup melakukannya.
Dari semua Espada, Yammy-lah yang diperkirakan punya peluang terbesar untuk bertahan hidup setelah besok malam. Aizen memang akan membubarkan Espada dengan cara ini, menyelamatkan Ulquiorra dan Yammy dan mungkin beberapa Espada lain yang bisa selamat, kemudian dia akan membangun Espada yang baru dengan Yammy sebagai pemimpinnya. Ulquiorra akan menjadi penerus Aizen di dunia mafia, tanpa perlu memikirkan perusahaan-perusahaan properti milik Aizen yang sebentar lagi bakal malfungsi, dan Espada pimpinan Yammy akan patuh pada Ulquiorra yang tidak lagi perlu terlibat langsung dalam misi. Yammy cenderung setia pada Ulquiorra, Aizen bisa melihatnya meski awalnya menganggap itu adalah kelemahan si Cero Espada. Hidup Ulquiorra akan aman selama Yammy ada untuk menjaganya. Kesehatannya mungkin dapat membaik.
Dalam semalam, masa depan Ulquiorra Chifer telah dirancang sedemikian rupa oleh Sousuke Aizen.
Namun ternyata, di malam penentuan itu, tanggal satu Desember tahun 1974, sesuatu hampir saja merusak rencana baru Aizen. Cirucci Thunderwitch muncul di hadapannya dan menuntut pengakuan sang ayah kandung atas dirinya.
Runyam! Di tempat itu ada Yammy yang mengetahui keseluruhan kisah Cirucci dalam sekejap. Yhwach dan seorang bawahannya sudah mati barusan, dibunuh oleh si Cero Espada, yang sedang berkomunikasi dengan Cuatro Espada yang saat itu berhadapan dengan Akatsuki.
Aizen bisa melihat Yammy mengawasi percakapannya dengan Cirucci di antara dialog jarak jauhnya dengan Ulquiorra. Pria Jepang itu berusaha tetap terlihat di atas angin. Dibuatnya sebuah wasiat dengan asal-asalan, meminta Yammy Llargo menjadi saksi satu-satunya, tahu dengan pasti bahwa wasiat itu tidak akan bisa disahkan karena bukan tanda hitam di atas putih dan terlebih lagi lantaran saksi tunggalnya sebentar lagi akan jadi buronan. Tujuannya adalah membuat Cirucci merasa puas dan segera enyah dari area itu secepatnya. Pernikahan Aizen dengan Nyonya Thunderwitch, yang bernama asli Giselle Gewelle, hanyalah sebuah kecelakaan di masa mudanya di Jepang. Sousuke Aizen hanya menghendaki Ulquiorra yang telah dibentuknya sedemikian rupa agar tak melakukan kesalahan yang sama sebagai ahli warisnya, tapi dia juga tidak mau jika Cirucci sampai terlibat dalam semua kekacauan malam ini.
Yammy diutusnya mencari Ulquiorra, yang mendapati bahwa Ulquiorra telah tertangkap pasukan gabungan CIA dan interpol. Saat Aizen memanggil Gin dan Kaname untuk mempersiapkan kapal yang akan membawa mereka ke Inggris nantinya, dia baru ingat bahwa sonido miliknya dibawa Ulquirorra. Dia tidak bisa menghubungi Yammy kalau begitu. Niat Aizen adalah menunggu Yammy kembali ke pondok itu terlebih dahulu untuk memberi perintah selanjutnya, yaitu ikut kabur bersamanya ke Inggris dan menunggu kesempatan untuk mengambil Ulquiorra dari tangan penegak hukum.
Namun, lagi-lagi rencana Aizen berbenturan dengan halangan, kali ini jauh lebih besar. Dia mendapati Kaname Tousen telah melukai Gin Ichimaru di bagian lain pondok kecil itu dan hampir saja menyerang Aizen juga. Biarpun buta, Tousen seorang petarung martial art yang hebat. Untungnya Ichimaru belum terluka sedemikian fatal dan bersama Aizen dia berhasil mengalahkan Tousen menggunakan senjata yang dibawa Yhwach. Baru belakangan terungkap bahwa Kaname Tousen yang dahulu meninggalkan Jepang bersama Aizen itu rupanya punya dendam pribadi dan kapal yang katanya telah disiapkan itu sebenarnya tidak ada. Assassin yang datang malam sebelumnya adalah bandit yang diajaknya berkomplot.
Sementara di luar sana aparat gabungan telah berkeliaran, Gin Ichimaru membantu membuatkan keputusan untuk Aizen: tinggalkan tempat ini sekarang juga, tak perlu menunggu Yammy kembali. Ichimaru akan mencoba menghubungi siapa pun yang bisa dihubungi di kota itu dan setelah mereka aman barulah mencoba mengontak Yammy.
Maka ketika Yammy kembali ke pondok itu dan mendapati tak ada Aizen di sana, dia merasa bingung dan panik. Apa yang harus dilakukannya selanjutnya? Apakah Aizen menipunya dan melarikan diri? Dengan kalut Yammy berusaha kabur. Dia sempat ditembaki interpol di jalan, tangannya terluka, sonido-nya rusak—meski termasuk dalam penemuan canggih Espada yang belum ditemukan di belahan dunia yang lain, alat komunikasi serupa jam tangan itu belum dapat dibuat dari bahan antipeluru. Menyumpahi Aizen dengan pikiran berfokus pada keselamatannya sendiri, Yammy bermanuver gila-gilaan dengan sepeda motornya, menerobos dengan nekat dan menghindar dengan cekatan, sampai agak terlambat menyadari bahwa dirinya sudah keluar dari kota Zaragoza ke arah timur. Tapi Yammy tidak berhenti sampai matahari cukup tinggi dan dia sudah mencapai negara Prancis. Di sana dia punya seorang kenalan geng motor yang bisa dimintai tolong.
Tentu saja Ichimaru tidak berhasil menghubungi maupun melacak Yammy karena sonido si Espada rusak. Dia telah menghipnotis Tousen agar menurut untuk dibawa, dan dia beserta Aizen memang menyeberang ke Inggris malam itu juga. Ichimaru mengusahakan segala yang bisa diusahakannya untuk melacak jejak Yammy, tapi tidak berhasil. Dia hanya mendapat informasi tentang Ulquiorra yang dikabarkan mengalami trauma berat dan dimasukkan ke RSJ di Amerika.
Sousuke Aizen sendiri...? Mafia Jepang itu seperti kehilangan pegangan hidup. Seluruh rencananya yang tersusun rapi hancur berantakan, statusnya jadi buronan, anak angkatnya ditawan, dan aktor kunci yang bisa menjadi penolong lepas dari tangan; belum pernah sebuah kegagalan memberi dampak separah ini. Bukankah Aizen yang dikenal Ichimaru dahulu seorang yang tahan banting? Kalau bukan karena Gin Ichimaru yang setia di sisinya, orang itu mungkin sudah jadi gila dan menggelandang di jalanan. Fakta mengenai kabar Ulquiorra yang mengenaskanlah yang membuat Aizen menjadi seperti dirinya lagi. Aizen memang meyakini bahwa didikan yang benar adalah dengan sistem stick and carrot, dan menurutnya suksesi kepemimpinan lebih aman dilakukan pada anak adopsi; tak ada ikatan darah dan dia sendiri, tanpa seorang istri atau ibu yang selalu membawa perasaan, yang terlibat dalam membuat keputusan. Maka dari itu, anak angkatnya itu harus dipertahankannya. Anak itu, meski bukan darah dagingnya, adalah hartanya yang berharga yang telah dicuri darinya dan kini jadi sasaran pencarian di seluruh dunia. Ulquiorra bagaikan ouken, kunci peti Raja Karakura itu,sebelum jatuh ke tangan Akatsuki.
Ulquiorra adalah miliknya; Aizen menginginkannya kembali.
Tapi dia dan Ichimaru perlu mengurus beberapa hal sebelum mencoba menculik Ulquiorra dari RSJ, salah satunya menginterogasi Tousen dan menghukumnya. Mereka berada di ibukota Inggris waktu itu.
Aizen duduk di kursi. Tousen dibuat berlutut di hadapannya oleh Ichimaru, yang membuang muka sambil menahan tali yang mengikat lengan kekar berwarna gelap itu di belakang punggung.
Mata putih itu perlahan mengerjap dan dengan cepat menyorot marah ketika pemiliknya menyadari posisinya. Dia meronta saat Ichimaru memegang kepalanya sambil berkata,
"Ceritakan yang sebenarnya, Pengkhianat."
Suara itu begitu dingin dan tajam di telinga Tousen, seolah ada orang yang mengguyur kepalanya dengan campuran air dan kepingan es. Napasnya megap-megap. Tubuhnya gemetar sembari mulut dan hatinya bertarung, patuh pada sugesti kuat itu atau akal sehatnya sendiri. Pada akhirnya, pengaruh bawah sadar itu yang menang.
"Kurotsuchi, Komamura, Ukitake, Hitsugaya..." Tousen menyebutkan belasan nama lainnya dengan nada kepedihan di tiap nama, "Mereka juga punya keluarga, punya kehidupan!"
Tarikan napas yang tak beraturan semakin mengungkap kebencian Tousen yang telah terpendam begitu lama.
"Apa yang kaupikirkan saat menyingkirkan mereka semua?!" sembur orang buta itu. "Mereka kawan sekerjamu, membantu proyekmu selama bertahun-tahun dengan mempertaruhkan nyawa, lalu kau membuang mereka seolah mereka tikus laboratorium yang gagal! Dan darah-dagingmu... Cirucci. Kaukira dia tidak menderita karena keegoisanmu?"
Aizen tak memberi jawaban. Ia malah melontarkan perintah,
"Habisi dia, Gin."
Hanya satu kali itu Gin Ichimaru pernah mengotori tangannya dengan darah orang. Dia tak terlalu menyukainya. Mending Kaname Tousen dijadikannya budak seumur hidup di bawah pengaruh hipnotis daripada digoroknya leher berotot itu, tapi Ichimaru tahu keahliannya masih perlu dipertanyakan. Malam itu juga dibuangnya jasad mantan rekan sekerjanya itu ke bawah jembatan, sebelum suhu udara menurun dan air sungai membeku.
Sekembalinya Ichimaru, Aizen mengusulkan agar mereka segera pergi ke Argentina di mana ia memiliki kenalan seorang wanita pebisnis dunia hiburan. Mereka perlu membahas siapa saja relasi yang masih bisa dipercaya dan siapa yang tidak; Aizen masih mengingat beberapa nama di berbagai negara, meski detailnya yang lebih lengkap tersimpan dengan sandi suara. Sewaktu membuat sandi itu dahulu, tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Ulquiorra di kemudian hari akan jadi bisu selamanya, namun pertimbangan Ichimaru saat menerapkan hipnotis itu merupakan pilihan terbaik yang ada.
Dan ternyata, saat Tousen sudah dibunuh Ichimaru di London, Yammy telah membawa Ulquiorra keluar dari RSJ di hari yang sama, hari terakhir di tahun 1975. Di tahun baru 1976, interpol dibuat geger oleh penemuan mayat Kaname Tousen di Inggris dan dibawa kaburnya Ulquiorra Chifer dari RSJ di Amerika.
Baik Aizen maupun Ichimaru tidak tahu apa penyebab Ulquiorra malah dijebloskan ke RSJ dan bukan ke penjara—atau bahkan kursi listrik. Mereka tetap berusaha melacak jejak Yammy, namun hasilnya nihil. Seorang assassin Italia yang terkenal akan intelijensinya pernah mereka sewa, namun orang itu tidak kembali kepada Aizen. Sampai suatu ketika, mereka mendengar bahwa interpol sempat bergerak secara masif di Argentina. Pelacakan kembali dilakukan, tapi lagi-lagi Yammy maupun Ulquiorra tidak bisa ditemukan. Mereka pandai sekali menyembunyikan diri! Seolah mereka menganggap Aizen dan Ichimaru juga ancaman seperti interpol atau CIA. Padahal semua ini hanyalah salah paham. Selama itu, Aizen dan Ichimaru juga berpindah-pindah tempat tinggal, waspada terhadap aparat maupun kemungkinan ancaman tambahan dari komplotan bandit yang pernah disewa Tousen.
Ichimaru sering merasa was-was karena lambat laun Aizen menunjukkan gejala gangguan mental. Orang itu kehilangan objek pelampiasannya ketika merasa tidak tenang, yaitu Ulquiorra, yang tidak akan melontarkan komplain apa pun meski dipukuli tanpa alasan. Awalnya Aizen memang mengakomodasi kelainan Ulquiorra itu, tapi lama-lama dia juga jadi punya kecenderungan sadisme sekaligus ikatan emosional absurd terhadap anak angkatnya yang masokis. Mana mau Ichimaru menggantikan Ulquiorra di posisi itu? Dia setia pada Aizen karena Aizen telah menyelamatkannya dari penangkapan sisa-sisa anggota Gestapo zaman perang dunia dulu, tapi bukan berarti dia akan mengorbankan segala-galanya untuk orang itu! Lagipula, Ichimaru bukan seorang masokis!
Jadi ketika akhirnya ia dan Aizen menemukan kediaman di Rumania dan menetap cukup lama di sana, Ichimaru memutuskan mengirim pesan bersandi kepada Yammy lewat iklan berbahasa Italia di surat kabar Amerika Latin karena Argentina adalah kawasan di mana Yammy dilaporkan terlihat terakhir kali. Yakin bahwa perbedaan mencolok dalam koran yang menjurus ke asal-usul si mantan Cero Espada akan menarik perhatian yang bersangkutan, dia mengumpankan keberadaannya agar Yammy dan Ulquiorra sendiri yang datang pada mereka. Sejauh ini Ichimaru menangani semuanya sendirian, karena kondisi Aizen yang semakin lama semakin memburuk. Dia sering memanggil nama Ulquiorra dalam tidurnya, diikuti gerakan-gerakan di luar kesadaran. Di siang hari ia banyak melamun sambil meremas-remas tangan. Ichimaru kadang keheranan; Aizen ini betul-betul merindukan Ulquiorra karena perasaannya sebagai ayah yang kehilangan anak atau sebagai majikan kehilangan mainan, sih?
Begitu muncul sebuah iklan restoran pizza beralamat fiktif di koran yang sama, Ichimaru tahu Yammy telah mendapatkan sinyal itu. Dengan sandi terpisah lewat surat kabar, diberitahukannya lokasi tempat tinggalnya bersama Aizen di Rumania. Akan ada sangat banyak hal yang perlu dijelaskan kalau Ulquiorra dan Yammy benar-benar mendatangi mereka. Gin Ichimaru sudah mempersiapkan beberapa argumen untuk menjelaskan duduk perkaranya pada kedua orang itu tanpa menimbulkan salah paham yang lebih lanjut.
Namun, ternyata semua usaha Ichimaru sia-sia. Yammy menembakkan racun pelumpuh ke lehernya, membuatnya terparalisis sekaligus tidak bisa bicara. Aizen sedang berada dalam kondisi terburuknya. Begitulah awalnya bagaimana para pelaku kriminal itu kemudian menemui ajal masing-masing.
.
.
.
.
.
.
Chicago, Illinois, Amerika Serikat. 3 Januari 1979.
.
"Bersulang!" Hashirama Senju mengangkat gelas. Semua orang mengikutinya.
Senyuman-senyuman yang menyertai minuman dialamatkan pada Itachi Uchiha yang duduk di atas kursi roda. Hanya segelintir saja orang yang dikenalnya, tapi Itachi balas tersenyum pada semuanya. Makan malam secara prasmanan dimulai dan Itachi didorong untuk makan di antara teman-temannya sementara sang wali bicara dengan rekan-rekan bisnisnya.
"Foie gras-nya enak sekali," puji Zetsu sambil menikmati menu hati angsa khas Prancis itu. "Kau sudah coba, Itachi?"
"Belum." Yang ditanya sedang menyantap menu daging domba panggang.
"Salad buahnya juga, tidak kemanisan," imbuh Sasori.
"Kau makan dulu saja, Nak, biar kami yang temani Itachi," ujar Hidan pada pemuda Jepang yang dibayar Senju untuk merawat anak walinya.
"Terima kasih, tapi nanti saja," jawab si pemuda.
"Ambil dulu makanmu, Sai, tidak apa-apa," ujar Itachi. "Kau bisa makan bersama kami."
Sai Shimura meragu sejenak, tapi dia lalu pergi ke meja dan mengambil seporsi salad buah.
"Eh, Pain-senpai sedang bersiap-siap di panggung," celetuk Tobi yang memilih makan belakangan agar orang tidak perlu melihat wajahnya yang cacat di balik topeng. Di tempat yang ditunjuknya, sebuah panggung kecil dari undak-undakan kayu yang dihias di tengah taman, tiga orang laki-laki sedang menata alat musik.
"Pasti keren!" ujar si yunior Akatsuki antusias. "Momennya sungguh tepat, Itachi-senpai yang sudah sembuh, Pain-senpai dan band-nya bisa manggung di Amerika, lalu Saso—"
Si rambut merah Akatsuki menyikut rusuk Tobi sebelum kalimatnya selesai.
"Hei, Tobi, bukankah itu atasanmu?" tanya Zetsu, sengaja membelokkan arah pembicaraan. Rambut biru terang dengan ketinggian segitu tak mungkin punya orang lain. Grimmjow Jaegerjaquez menyelinap di tengah kerumunan dan sampai pada mereka tanpa terlalu banyak menabrak orang.
"Halo, Uchiha," sapanya dalam bahasa Jepang. "Terima kasih sudah mengundangku."
"Aku yang berterima kasih, Kolonel. Kau dan Tobi yang menyelamatkanku waktu itu."
"Yeah... Dia panik sekali sampai menarik-narik rambutku di mobil. Untungnya rambutku ini asli."
"Kolonel, jangan bongkar aibku di sini, dong," protes Tobi. Semua orang dalam kumpulan kecil itu tertawa.
"Tobi memang panikan," sela Hidan sambil menyeringai jahil. "Dulu dia melompat-lompat histeris di pelukan Pain sehabis nyaris terjepit di piramida, ingat?"
"Waktu ada badai saat kita menyeberang dari Maroko juga, dia mondar-mandir ketakutan di geladak kapal sampai-sampai kapten kapal melemparnya dengan ember!" Sasori menambahkan.
"Wah. Jangan sampai ada gempa di Chicago. Aku tak bisa bayangkan bagaimana reaksinya kalau terjebak di lantai sepuluh gedung interpol," kelakar Grimmjow.
Tobi hanya mengerang jenaka, tak berkeberatan jadi bahan olok-olok. Zetsu juga ikut-ikutan menggoda si yunior sampai suara gitar dan keyboard mulai mengalun.
"Pain-senpai!" Tobi berseru sambil bertepuk tangan.
Maito Gai di depan mikrofon mengawali dengan salam, "Semoga sehat selalu, Itachi Uchiha. Dari sahabatnya sahabatmu, yang mulai sekarang jadi sahabatmu juga. Nagato, kau tak keberatan, ya?" Diacungkannya jempol sambil pamer deretan gigi rapi. Si pemain keyboard menekan tuts pada kunci-kunci minor dengan keras seolah tak setuju, tapi ia lalu melanjutkan dengan nada-nada ceria. Gai berujar lagi, "Nah, kami ucapkan selamat malam dan selamat menikmati makan malam, semuanya."
Intro sebuah lagu mulai merayap ke pendengaran, diawali dengan petikan gitar melankolis Kakashi Hatake. Pain bergabung dalam harmoni untuk beberapa baris sebelum Gai mulai bernyanyi. Beberapa orang bertepuk tangan, sebagian besar masih sibuk makan. Tepuk tangan paling keras adalah dari Tobi, yang dengan hebohnya mengelu-elukan band tak bernama itu.
Perhatian orang-orang dan kawanan Akatsuki masih terarah ke panggung dan kehebohan kecil akibat Tobi. Tak banyak yang menyadari bahwa fokus utama pesta itu baru saja pamit ke toilet sendirian, memaksa perawatnya untuk tetap tinggal dan tidak mengikuti dirinya.
"Aku bisa sendiri, Sai. Kau di sini saja dan bilang pada yang lain aku ke mana."
"Aku disuruh menemanimu terus, Uchiha-san."
"Tolonglah. Kapan aku bisa punya sedikit privasi?"
Sai meragu. Wajah Itachi di hadapannya memerah menahan gundukan emosi yang ia tak yakin karena apa.
"Kuantar sampai ke pintu kamar mandi, lalu Uchiha-san bisa masuk sendiri."
"Tidak."
Itachi mendorong sendiri roda di bawah tempat duduknya ke arah rumah. Sai masih berjalan di belakangnya, sudah melihat sendiri air mata mengalir di pipi itu.
"Jangan ikuti aku, Sai. Kumohon."
Sai berhenti di tempatnya. Itachi tidak masuk ke rumah, melainkan memutar ke kebun samping. Cucu Danzo Shimura itu menghela napas, memutuskan untuk tidak menyusul. Bukan salah Itachi kalau dia tak menyukai kekakuan Sai dalam merawatnya; Sai memang tidak pernah sekolah perawat, pernahnya sekolah seni, dan dia hanya sesekali pernah membantu merawat Kakek Danzo di rumah. Hanya karena Hashirama Senju meminta tolong dengan sangat dan berjanji menggajinya dengan bayaran mahal serta tuntutan rasa utang budi maka Sai mau menjalankan tugas itu. Bayarannya betul-betul mahal dan menggiurkan: Sai akan disekolahkan di sekolah seni lukis ternama di Chicago, sepenuhnya dibiayai Senju. Bagaimana dia bisa menolak? Yang dia tahu tentang Itachi hanyalah bahwa orang itu mengalami kecelakaan lalu lintas dan koma sampai akhir tahun kemarin, kakinya lumpuh, segala aktivitasnya jadi terbatas. Itachi berkata benar tentang tak punya privasi. Dia malu sekali saat pertama kali Sai memandikannya, dan sampai sekarang juga masih.
.
.
.
.
.
Mungkin menangis dalam diam memang pilihan terbaik. Itachi tidak mau Senju tahu dirinya menghancurkan pesta yang dirancang untuk mensyukuri kesembuhannya. Sesungguhnya sembuh bukan kata yang tepat; kalau Itachi dulu didiagnosis menderita PTSD, sekarang ini dia ketambahan depresi. Plus, lumpuh. Sempurna.
Memikirkan semua itu membuatnya mengertakkan gigi. Di dadanya terasa perih yang sudah familier, yang, meski demikian, tak pernah disukai Itachi. Rasa seperti ini dulu menyerangnya pertama kali saat orang tuanya meninggal dan tak setajam yang kedua saat Sasuke meninggal. Saat Kisame meninggal juga sama saja rasanya...
Apalagi dia perlu berdebat dengan ayah walinya tentang pesta ini. Itachi hanya ingin mengundang kelompok kecilnya, teman-teman Akatsuki, tapi Senju tak setuju. Kalau ingin dirayakan, Senju ingin lebih banyak orang diundang, karena selama ini banyak yang menanyakan kabar Itachi selama koma. Terima sajalah dia, asal Tobi dan yang lain bisa ditemuinya.
Apa saja yang telah dilewatkannya selama tertidur? Kapan Sasori bertunangan; kapan dia akan menikah, dan dengan siapa? Itachi bisa melihat cincin itu melingkar di jari manis tangan kiri si ahli hipnotis Akatsuki dan dari tadi tak ada yang membahasnya di depannya. Lalu, sejak kapan Kolonel Grimmjow jadi humoris dan bisa ikut menggoda Tobi? Mantan Sexta Espada itu terlalu sering memberengut sampai-sampai Itachi mengira dia tak bisa bercanda sama sekali. Dan, demi Kami-sama, bagaimana bisa Sai Shimura dan Grimmjow Jaegerjaquez saling kenal? Itachi terkejut setengah mati saat tadi sang Kolonel menyapa pemuda itu dan berbicara dalam bahasa lain, yang mungkin saja bahasa Spanyol. Jangan-jangan di luar sana Sousuke Aizen sudah mati dan dia tak tahu apa-apa.
Itachi sudah sangat ketinggalan; dia dulu terjebak di masa lalu dan kini makin jauh tertinggal daripada dunia sekitarnya. Dia tak sanggup mengejar, tak punya kaki yang bisa mengejar. Kenapa dia tidak mati saja saat kecelakaan itu? Dahulu ia bisa berbagi cerita dengan orang yang senasib, yang menderita dalam konteks yang sama, Orihime Inoue. Psikiater juga masih bisa membantunya. Bagaimana sekarang? Semakin jauh orang-orang lain bisa meneruskan hidup sementara kakinya tak berfungsi lagi. Tak ada orang di dunia ini yang semenderita dirinya kini.
Pertanyaan yang sama berputar di kepala Itachi: kenapa Kami-sama masih membiarkannya hidup dan menanggung semua ini?
Suara daun-daun bergesekan membuat Itachi melirik ke samping. Rupanya Tobi, membawa sepiring penuh daging domba.
"Itadakimasu. Senpai, anggap saja aku tak ada di sini."
Si yunior Akatsuki berjongkok di bawah bayang-bayang pohon, melepas topengnya, lalu mulai makan.
Itachi hanya beberapa kali pernah melihat wajah cacat Tobi di balik topeng itu, dan ketika melihatnya kali ini hatinya terenyuh.
"Apa pestanya sudah selesai?" tanya Itachi perlahan. Dia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu untuk mengasihani diri sendiri. Jalur air matanya sudah mengering di pipi.
"Sudah, Senpai. Hanya teman-teman kita yang masih tinggal. Senju-san membubarkan orang-orang lebih awal, bilang bahwa Senpai perlu banyak istirahat."
"Dia tidak mencariku?"
"Sai-kun sudah cerita," balas Tobi singkat. Itachi tak bicara lagi, hanya mengamati yuniornya di Akatsuki itu makan dengan lahap.
Tobi punya cacat pada wajahnya dan itu tidak membuatnya pernah ingin mati. Bekas luka bakar itu menghilangkan bentuk normal rupa seorang pemuda yang selalu riang gembira. Mungkin dulunya Tobi cukup tampan. Siapa tahu?
"Senpai tidak mual, 'kan, melihat wajahku?"
Pertanyaan mendadak itu membuat Itachi mengernyit. "Tentu saja tidak. Pribadimu lebih penting daripada wajahmu." Mengucapkan itu, Itachi merasa tertampar oleh diri sendiri.
"Memang betul, Senpai. Cacat tidak membuatku berhenti menjadi periang."
Meringis dengan sisa daging di sela gigi-giginya, Tobi tampak kekanak-kanakan. Rasa haru yang amat sangat menyeruak di dada Itachi, membuatnya tak tahan untuk tidak menangis lagi. Kawannya yang satu ini! Selalu ceria seolah tak punya beban hidup, padahal sudah kehilangan keluarga, harta benda, dan keutuhan muka di usia belia.
Memalukan sekali bahwa Itachi-lah yang dipanggil Senpai oleh orang ini. Rasanya Tobi adalah seniornya dalam kelas kehidupan.
"Terima kasih, Tobi. Setelah kau selesai makan, bisa bantu aku ke kamar mandi? Aku mau cuci muka sebelum bertemu dengan yang lain."
.
.
.
.
.
.
Tokyo, Januari 1978. Setahun sebelumnya.
.
"Mana barangnya? Sudah datang?" desak Sasori pada Hidan yang baru saja membuka pintu.
"Sabar. Sedang diambil oleh Zetsu di pabean. Kolonel Jaegerjaquez sudah di ruang tamu, ngomong-ngomong."
Sasori mengacak rambut merahnya. "Oke. Bagaimana Pain?"
"Mungkin sedang di perjalanan. Ayolah, Sasori. Aku tak bisa memantau kabar setiap orang setiap saat. Aku bahkan belum ritual pagi."
"Ya sudah, pergilah dulu sana," usir Sasori agar si Jashinist bisa beribadah. "Aku akan temui Kolonel dulu. Tobi tidak ikut?"
"Tidak. Sedang banyak tugas."
Dengan kalimat itu, Hidan keluar lagi. Sasori ikut keluar semenit kemudian, menyongsong tamu penting dari interpol di ruang tamu.
Rupanya Zetsu datang bersamaan dari arah lobi, membawa sebuah bungkusan panjang berukuran kira-kira satu setengah meter.
"Bagus. Ayo masuk," ujar Sasori sambil mendorong daun pintu.
Grimmjow Jaegerjaquez berdiri saat keduanya masuk. Mata birunya terpancang pada benda yang dibawa Zetsu. Sasori menyalaminya.
"Selamat datang, Kolonel. Mari langsung saja ke pokok perkara."
Zetsu meletakkan paket itu ke meja dan membuka kertas pembungkusnya. Di dalamnya ada sebuah kotak kayu panjang dan tipis; lebih dalam lagi ada kain yang membungkus benda yang tak hanya panjang namun juga berat itu.
"Boleh kupegang?"
"Silakan, Kolonel."
Pedang katana itu dikeluarkan dan Grimmjow mengamati tiap jengkalnya.
"Tak salah lagi. Ini katana Espada."
Sasori dan Zetsu bertukar pandang.
"Milik siapa kira-kira?" tanya Sasori.
"Hanya pedang milik Yammy yang belum diketahui keberadaannya. Kalian menemukan ini di Prancis?"
"Kami mendapat informasi dari rekanan penjual senjata di Lyon," ujar Sasori. "Pedang ini dijual dengan harga sangat tinggi. Dia mendapatnya dari lelang, dari tangan orang kesekian. Menurutnya pedang ini bermutu bagus, dan kurasa dia tidak salah."
"Sekarang pedang ini dijual kepada Akatsuki inc.?" selidik Grimmjow.
"Kami membelinya. Pain ingin memastikan. Dia sedang dalam perjalanan ke sini."
"Kalau begitu kalian tidak akan keberatan kalau ini dibawa ke interpol sebagai barang bukti?"
"Tidak. Tapi tunggu sampai Pain datang."
Grimmjow menyandarkan tubuh di sofa. "Baiklah. Tolong ceritakan tentang rekanan penjual senjata di Lyon itu."
Setelah sang agen interpol puas menyelidiki dan kopi serta biskuit disuguhkan, barulah mereka membicarakan hal-hal lain. Saat itu Hidan masuk ke ruangan bersama Pain.
"Nah, Pain, ini pedang Yammy, kata Kolonel." Sasori berucap.
"Berarti memang Yammy sempat ada di Prancis?" gumam mantan ketua Akatsuki itu. "Bulan lalu, Zommari tewas terbunuh, 'kan?"
"Ya. Kami memang punya dugaan kuat bahwa yang membunuhnya—dan Nnoitra juga—adalah Yammy. Kabar terakhir menyebutkan orang itu menyeberangi Laut Mediterania, mungkin ke Italia," Grimmjow menjelaskan.
"Dia bersama Ulquiorra?" tanya Pain sambil duduk, mengambil tempat di sisi Sasori.
"Selalu," dengus Grimmjow. "Tapi orang yang satu itu memang tidak bisa apa-apa tanpa Yammy. Perlu digendong dan dipapah, seakan tak punya niat hidup lagi."
"Kalau interpol bisa mengawasi mereka sampai sejauh itu, kenapa tidak segera menangkap mereka?" sergah Zetsu.
"Sejak pengejaran di Buenos Aires bulan November, kami sudah punya banyak mulut yang bicara," jawab sang Kolonel berambut biru. "Ada seorang informan yang nyaris terbunuh oleh Yammy dan dia kemudian mau membantu kami melacak semua relasi yang pernah dihubunginya di Amerika Latin."
"Kesetiaan bisa berubah, ya 'kan?" gerutu Hidan. Grimmjow meneruskan,
"Akhir bulan itu, dilaporkan bahwa Yammy dan Ulquiorra ikut terkena gempa di San Juan. Kota itu masih di Argentina, letaknya lebih dari seribu kilometer dari Buenos Aires. Kali itu memang interpol agak terlambat bergerak. Tapi kami ada pertimbangan lain juga."
"Pertimbangan seperti apa?" selidik Sasori.
"Kami punya gambaran langkah mana yang diambil Yammy selanjutnya, tapi kami juga memprediksi bahwa suatu saat dia akan menggiring kami menemukan Aizen. Jadi kami menunggu."
"Dan membiarkan Nnoitra serta Zommari tewas di penjara?" Pain menanggapi. Grimmjow mengangkat bahu.
"Itu risiko. Kami sudah memperketat penjagaan Zommari setelah Nnoitra terbunuh, tapi Yammy tetap berhasil masuk dan keluar tanpa ketahuan."
Hening untuk beberapa saat sebelum Pain bicara lagi, "Bagaimana Chicago?"
Tahu yang dimaksud Pain bukan musim atau cuacanya, Grimmjow menjawab, "Belum ada perkembangan. Tobi merengek hampir tiap hari, mengatai si tua pelit itu. Dia memang jahat sekali, menutup-nutupi semuanya, padahal kami berdua yang ada di TKP saat... kejadian itu. Tapi Uchiha memang belum sadar."
"Ya. Soal itu aku sudah tahu. Ada kawanku yang sedang di sana. Bagaimana si Thunderwitch?"
"Dia tidak lagi di bawah pengawasan interpol sejak keputusan pengadilan tahun lalu. Statusnya sebagai anak kandung dan ahli waris Aizen sudah diakui sah, tapi harta Aizen tetap ditahan negara. Masih ada mata-mata interpol yang mengawasinya, tidak resmi tentu, untuk melacak organisasi Rusia Yhwach. Belum ada kemajuan juga."
Mantan Espada peringkat enam itu terlihat lelah. Dihirupnya kopi yang disuguhkan sampai tandas.
"Hari ini sibuk sekali, aku harus segera kembali ke kantor. Pedangnya akan kubawa. Setelah kukembalikan, apa mau kalian jual lagi?"
Pertanyaan itu diajukannya pada si pengambil keputusan dalam perusahaan. Sasori tidak berpikir lama-lama.
"Akan kupajang di kantorku, di sebelah Samehada."
"Ah," gumam Grimmjow. "Sebagai memento?"
"Begitulah. Banyak hal di masa lalu yang membuat perusahaan ini bisa berdiri," sahut Sasori.
"Tentu. Kalian tahu? Aku dulu sempat kagum pada kawan kalian, Kisame Hoshigaki. Mentalnya kuat sekali, menolak segala cara yang dipaksakan Ichimaru kepadanya. Sayang sekali aku tak bisa menolongnya malam itu. Maaf."
"Tak perlu minta maaf, Kolonel." Kali ini Pain yang menyahut. "Itu sudah keputusannya sendiri."
Grimmjow mengangguk, lalu bangkit berdiri diikuti yang lain. Dia berujar lagi, "Apa kalian semua memang seperti ini?"
"Maksudnya?" tanya Pain.
"Menyimpan barang dari masa lalu dan memajangnya untuk diingat-ingat. Kalian semua melakukannya?"
Hidan menjawab tanpa menghilangkan nada tersinggung dalam suaranya, "Apa itu salah, Kolonel?" Si Jashinist sendiri menyimpan barang-barang milik Kakuzu dan Deidara di kamarnya dan sering mengamat-amati semuanya sebelum melakukan ritual keagamaan. Hanya kantong jimat Deidara yang diserahkannya pada Pain, kantong berisi koin lima yen penuh goresan, setelah sang mantan ketua bercerita tentang adanya seorang yang mengenal Deidara sebelum masuk Akatsuki.
"Aku tidak bilang hal itu salah," Grimmjow berujar sambil mengernyit. "Hanya saja, kawan kalian si peramal itu juga melakukannya, dan kurasa itu membuat segalanya makin berat untuk dilupakan."
"Itachi tidak membawa apa pun benda milik Kisame," bantah Zetsu. "Kotak ouken dibawa oleh Pain. Tak ada barang Kisame yang lain. Hanya Samehada yang masih tinggal padanya sebelum meninggal."
"Itachi membawa cincin Akatsuki," ujar Pain sambil menatap tangannya sendiri di mana terdapat benda serupa. "Mungkin Kolonel ada benarnya."
Saat itu Sasori menyumpah pelan. Semua orang memandanginya, terkejut. Si rambut merah menyembur sang tamu,
"Setelah ini, apa lagi? Kolonel mau bilang bahwa kami semua membuat Itachi gagal move on, karena segala hal yang berhubungan dengan Akatsuki mengingatkannya akan tragedi masa lalu, begitu?"
"Aku tak berpikir begitu." Grimmjow mulai kesal. "Kalau benar seperti itu, dari dulu Tobi tidak akan pernah aku biarkan bertemu dengannya."
"Dia benar, Sasori," Pain mencoba menenangkan. "Kau tak perlu marah."
"Kurasa begitu," Hidan mendengus, menyetujui Pain. "Yang berbuat seperti tuduhanmu tadi bukanlah Kolonel Jaegerjaquez, tapi si tua Senju."
Grimmjow menghela napas. "Hashirama Senju memang berlebihan, tapi interpol tidak bisa ikut campur sejauh itu."
"Melalui Kolonel justru kita bisa tahu kabar Itachi selama ini," hibur Pain.
Amarah Sasori dengan cepat mereda. "Kita semua harus ke sana kalau dia bangun nanti. Oke, teman-teman?"
.
.
.
.
.
.
Chicago, 3 Januari 1979. Malam hari seusai pesta.
.
"Senju-san bersungguh-sungguh?"
"Sangat bersungguh-sungguh."
"Teman-temanku boleh menginap di sini?"
"Boleh."
Itachi masih menatap ayah walinya tak percaya. "Di kamarku?"
Hashirama Senju mendecak pelan. "Jangan di kamarmu, kau perlu istirahat. Sudah kuminta pelayan menyiapkan kamar di sebelah kamarmu."
Kalau masih bisa melompat, tentu Itachi akan langsung memeluk ayah walinya. Tapi ia tidak bisa, dan terlompat kegirangan seperti anak kecil diberi permen sama sekali bukan karakternya. Jadi dia hanya berujar di atas kursi roda,
"Terima kasih, Senju-san. Kau baik sekali."
"Sudah terlalu malam kalau mau mencari penginapan." Senju rupanya tahu bahwa kamar apartemen Tobi terlalu sempit untuk dipakai berlima, belum lagi ditambah Gai dan Kakashi.
"Akan kusampaikan pada mereka." Itachi mendorong sendiri kursi rodanya sebelum Senju mencegahnya dan memanggil Sai yang bersiaga di pintu ruang tengah tempat keduanya berbincang.
Sejurus kemudian, Hashirama Senju bisa mendengar teriakan-teriakan penuh semangat dari halaman belakang. Dia menghela napas lelah, namun tersenyum. Beberapa saat sebelumnya ia telah menawarkan hal serupa pada Kolonel Jaegerjaquez, karena petinggi interpol itu ikut membereskan acara tanpa diminta, dan waktu sudah larut malam ketika semuanya selesai. Tawaran sang tuan rumah ditolak dengan halus, sambil bercanda bahwa larut malam sama saja dengan siang hari bagi orang interpol. Grimmjow dapat panggilan dari kantor dan harus kembali ke sana. Tengah malam begini! Tapi akhirnya sang Kolonel pamit pada semua orang, lalu Senju mengajak Itachi berunding di dalam rumah.
Rombongan Akatsuki dan ketiga bintang tamu dadakan masuk ke dalam rumah, Itachi paling depan. Demi apa pun, Senju bersedia membayar mahal asal bisa melihat Itachi selalu tersenyum sebahagia itu, meski senyum malah menambah kerutan di wajah mudanya.
Itachi memulai, "Senju-san, teman-teman ingin tidur di kamarku. Mereka janji tidak akan ribut-ribut."
"Kami janji!" Tobi membeo.
"Kalau diperbolehkan, Senju-san. Kami tahu Itachi butuh istirahat," imbuh Sasori sesopan-sopannya.
Senju menimbang-nimbang sebentar sebelum akhirnya mengalah.
"Ya sudah."
Tobi merangkul leher Itachi dari belakang saking senangnya sementara yang lain berucap terima kasih.
"Kami akan bantu menyiapkan kasur," Pain menawarkan diri seraya membungkuk. Senju membantah,
"Tak perlu. Kalian semua akan tidur di kamar Itachi...?"
Pain menjawab, "Kakashi dan Gai di kamar tamu saja. Kami berlima yang di kamar Itachi."
Senju tahu malam itu tidak akan berlalu tanpa keributan dalam kamar yang dimaksud. Reuni enam anggota Akatsuki, bukan? Mana mungkin mereka semua akan langsung tidur? Tapi tuan rumah itu sadar, inilah saatnya dirinya mundur dari segala pemaksaan terhadap anak walinya.
Sai Shimura bahkan diusir dengan sangat halus oleh Pain ketika bilang akan membantu Itachi berganti pakaian tidur.
"Kami saja yang bantu. Tidurlah, Sai."
Sai memang pergi tidur, tapi tidak sebelum mengetuk pintu kamar Hashirama Senju terlebih dahulu.
"Begitu, ya. Sudahlah, biarkan saja."
"Baik, Senju-san. Saya melaporkan apa adanya. Permisi."
"Sai," panggil tuan rumah, tertahan.
"Ada lagi, Senju-san?"
"Bagaimana Itachi?"
Sai menyunggingkan senyum kecil. "Dia sangat gembira."
"Terima kasih."
Sai mengangguk, meski bingung untuk apa dirinya mendapat terima kasih. Namun rasa lelah menguasainya dan dia berjalan ke kamarnya sendiri untuk segera mengakhiri hari yang banyak pekerjaan ini. Meski dirinya bukan pelayan maupun pembantu kediaman Senju, Sai tetap menawarkan diri membantu dan berujung kecapekan sendiri. Sai hanya tidak sadar bahwa laporannya yang pertama, yaitu setelah Itachi kabur ke pojokan kebun beberapa jam sebelumnya, membuat Senju memahami apa yang menjadi dinding penghalang antara dirinya dan si anak wali selama ini.
"Uchiha-san butuh seseorang. Dia pergi menyendiri di kebun samping rumah."
"Temani dia," perintah Senju seolah hal itu sudah sangat jelas. Sai menggeleng.
"Dia tidak mau kutemani dan tadi tidak bilang apa-apa pada teman-temannya. Kupikir ialah Senju-san yang diperlukannya."
Kalimat Sai tadi seperti menghakiminya, tapi, meski diucapkan hampir tanpa berpikir oleh pemuda yang seharian itu sudah banyak bekerja menyiapkan pesta, mengandung kebenaran.
Memberi sekat antara Itachi dan Akatsuki pastinya dianggap sebagai tanda permusuhan. Jadi, mulai hari ini, Senju akan menarik sekat itu, berharap dengan demikian menjadi awal yang baik sebagai seorang wali.
.
.
.
.
.
.
Chicago, 4 Januari 1979. Markas besar interpol. Dini hari.
.
"Jadi pedang itu sudah dititipkan padanya sejak 2 Desember 1974 dan baru dijual akhir 1977?" ulang Grimmjow.
"Begitulah laporannya. Le Pa punya jaringan di bawah tanah juga. Tentunya membawa-bawa pedang dalam pelarian akan membuat Yammy mudah terlacak, jadi disingkirkannya benda itu. Lalu, kau tahu? Yammy menolak semua permintaan misi membunuh dari siapa pun sejak meninggalkan Prancis akhir 1977," ungkap Harribel, menyebut nama seorang informan gipsi yang pernah jadi relasinya di negara itu, sambil setengah melemparkan tumpukan kertas yang dipegangnya ke atas meja. "Dan tulisan tangan di surat itu...?"
"Memang tulisan Ulquiorra?"
"...Siapa lagi. Berarti memang benar dia sempat kembali waras. Aku tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat. Dia menyebutkan lokasi Aizen tanpa rincian, harusnya aku sudah tahu mereka akan membunuhnya."
Perempuan berkulit hitam itu mendecak sebelum meneruskan,
"Semua mayat itu sudah diperiksa. Aizen mati lebih dahulu. Ulquiorra yang membunuhnya, meski sulit sekali membedakan darah Aizen dengan darahnya sendiri di pakaiannya... Kalau tes DNA belum ditemukan beberapa tahun terakhir ini, aku tak tahu lagi bagaimana cara mengidentifikasi mayat-mayat itu."
Grimmjow juga tak suka membahas mengenai mayat. Dia membelokkan sedikit pembicaraan mereka.
"Secara otomatis, kepemilikan harta Aizen beralih ke tangan Cirucci Thunderwitch. Dia sempat mengaku bahwa kesaksiannya sebelumnya tidak benar; dia bertemu Ulquiorra malam itu di Zaragoza, tapi tak terlalu ingat kelanjutannya karena dirinya di bawah pengaruh obat. Dia bersumpah tidak menyentuh Ulquiorra sama sekali. Sejauh ini, tidak ada bukti dia masih terlibat dengan organisasi Yhwach, kecuali dengan Lille Barro yang sudah meninggal."
Harribel terdiam agak lama. "Dari mana kalian bisa tahu tentang hubungan keduanya? CIA belum sampai ke situ."
"Kami menggunakan jasa informan yang sama dengan mereka. Kau percaya?" Grimmjow tertawa miris atas fakta menggelikan tapi juga menyedihkan itu. "Seorang muncikari di Argentina. Dia mau bicara apa saja selama interpol bertanya dan membayar mahal."
Harribel mendengus pelan. "Jual-beli informasi, ya. Kalian beruntung."
"Sebetulnya itu hanya untung-untungan. Kau masih ingat Sai Shimura, yang selamat dari Yammy di Argentina? Dialah yang memberi tahu kami tentang si muncikari."
"Tentu masih ingat. Jadi anak itu rupanya cukup berguna juga. Kupikir dia memang menjadi informan Yammy karena keadaan memaksa."
"Menurutku juga begitu. Terlalu banyak pemaksaan dalam semua hal tentang Espada." Grimmjow mengembuskan napas sambil menggosok mata. "Jadi, apa lagi perlunya kau datang ke sini tengah malam begini?"
"Mulai besok aku akan ditugaskan dalam penyamaran berkepanjangan lagi. Ini kesempatan terakhirku membahas Espada denganmu."
Grimmjow mengangkat alis.
Harribel menunjuk. "Kau belum baca seluruh laporanku."
Sang Kolonel interpol menatap tumpukan kertas di meja dengan pandangan mengantuk. "Bisa kauceritakan saja?"
Harribel bertahan di posisinya, tangan terlipat di depan dada. Mukanya juga diliputi rasa kantuk. "Pada intinya, Yammy bisa jadi penulis novel terkenal."
"Hah?" gerutu Grimmjow sambil menguap.
"Dia menulis secara anonim pada kantor-kantor berita internasional... kebanyakan di Eropa. Tulisannya berkala, semuanya tentang kawannya yang satu itu. Teori-teoriku terbukti benar," Harribel menyeringai sinis. "Aku sendiri bakal tak percaya saat membacanya, seandainya aku belum pernah jadi orang dalam di Espada."
Grimmjow jadi penasaran, maka dibacanya laporan yang dimaksud. Keningnya berkerut semakin dalam seiring dibaliknya halaman demi halaman. "Jadi memang Gin Ichimaru-lah yang memegang kendali pikiran orang selama ini," komentarnya setelah selesai. "Kukira selain pada Ulquiorra, dia hanya melakukannya pada Espada peringkat bawah."
"Tentang hipnotis terus-menerus itu? Benar sekali. Dia pernah mencoba menerapkannya padaku. Kalau aku belum terlatih, mungkin sudah sejak lama mereka tahu aku orang CIA."
"Apa Ichimaru menerapkannya hanya pada Espada yang menunjukkan tanda-tanda penyelewengan?" gumam Grimmjow. "Sugesti berulang. Aku tidak pernah mendapatkannya. Tapi aku menyadari bahwa Aaroniero, Szayel, dan Zommari kadang jadi agak lain setelah dihukum Ichimaru."
Harribel menanggapi, "Gin Ichimaru. Dia itu ular mematikan... lebih berbisa daripada Aizen sendiri, kurasa."
Grimmjow berdeham. Ia kembali membahas laporan dari CIA. "Melihat kisah yang ditulis Yammy, sepertinya dia sendiri tidak berpikiran untuk mati bunuh diri setelah menghabisi Aizen dan Ichimaru. Mestinya Ulquiorra yang memutuskan hal itu, bertentangan dengan rencana Yammy yang mungkin mau menyerahkan diri pada pihak berwajib..."
"Ya, itu lebih masuk akal. Yammy tidak mungkin membuat keputusan segila itu. Terjun dari atas tebing, ngebut dengan motor! Ah, tidak salah, memang Ichimaru mencekokinya dengan akal sehat yang sama beloknya. Kalau tidak jadi bengis, dia bakal jadi sinting saja."
Mendengar rentetan kalimat sinis itu, Grimmjow tak tahan untuk tidak mendebat.
"Tak bisakah kau merasa kasihan, Harribel? Dari dulu kau memang tak suka pada Ulquiorra. Aku pun tak senang padanya. Tapi setelah tahu ceritanya ternyata seperti ini, kau masih tetap membencinya?"
"Belas kasihan hanya untuk penjahat yang mau bertobat. Sedangkan, orang itu? Sadar saja tidak."
Grimmjow mengernyit. "Perkataanmu jahat sekali."
"Apa yang jahat dan apa yang baik, Kolonel?" tantang perempuan itu. "Kau hanya belum melihat sebanyak yang kulihat. Kau agen baru di lapangan."
"Mungkin memang iya," balas Grimmjow. "Dengar. Aku lelah dan sedang tidak ingin berdebat denganmu. Lagipula kita bukan musuh. Tapi aku tak setuju dengan pendapatmu, karena aku sudah pernah mengalami hal serupa itu."
Harribel diam sejenak. "Maksudmu, selama di Coslada?"
"Benar sekali. Kau sudah tahu seluruh kisahku, bukan? CIA pasti bisa tahu hal-hal seremeh itu. Jadi, di matamu, aku ini apa?"
"Kau bilang tidak mau berdebat. Kenapa nada suaramu jadi sinis begitu?"
"Siapa yang duluan bicara sinis? Kau belum jawab pertanyaanku."
Harribel tak langsung bicara. "Aku menghormatimu."
"Karena aku agen interpol?"
Tak ada jawab.
"Kalau aku tetap pasien biasa di panti rehabilitasi Coslada, akankah pandanganmu berbeda dengan yang sekarang?"
"Barangkali."
"Padahal bukan belas kasihan yang mengubahku jadi seperti sekarang. Interpol hanya sedang mencari orang yang cukup gila untuk diutus ke sarang ular. Kebetulan saja aku lahir di dekat Madrid dan sesuai dengan kriteria mereka. Aku hanya beruntung."
Harribel tak menanggapi, meski kelihatannya dia menyesal dengan ucapannya tadi. Grimmjow meneruskan,
"Yang ingin kusampaikan adalah, jangan sembarangan menghakimi orang-orang seperti itu. Mereka sudah cukup menderita dengan menanggung kelainan itu."
Sang hawa akhirnya bicara lagi, "Maaf. Aku sendiri dididik dengan keras. Sebelum masuk CIA, maksudku." Grimmjow memandanginya. "Ceritanya sangat panjang dan aku tak ingin membaginya denganmu. Satu hal yang pasti, aku hargai pendapatmu, Kolonel. Ulquiorra patut dikasihani, tapi pilihan yang telah dibuatnya di saat terakhir itu..."
Grimmjow menyela, "Menurutku itu karena Yammy terlalu buru-buru. Dia sudah menemukan cara untuk menyembuhkan Ulquiorra pelan-pelan, tapi begitu menemukan Aizen dia menghentikan terapinya terhadap orang itu."
"Ya, sayang sekali. Tapi kalau aku jadi dia, aku juga akan memprioritaskan buruanku daripada berkendara motor ekstrem untuk menghilangkan kecenderungan masokisme." Jeda sebentar. "Aku baru tahu ada cara seperti itu. Hebat benar Yammy bisa kepikiran hal itu."
Hening lagi. Harribel menguap, pandangannya melamun. Grimmjow lagi yang memecahkan keheningan.
"Sebetulnya, ada satu hal lagi yang kupikir mungkin terlupakan oleh Yammy. Dia membiarkan Nelliel hidup."
Harribel mengerutkan dahi. "Ya, menurutku itu juga agak janggal. Tapi Nelliel ada di bawah lindungan interpol. Statusnya berbeda dengan Nnoitra dan Zommari. Mungkin dia tahu bahwa menerobos ke sel Nelliel jauh lebih sulit." Wanita itu mengangkat bahu. "Bukankah ada satu orang lagi dari Las Noches yang tetap jadi tahanan di rumah sakit jiwa? Si bocah Margera itu. Yammy mungkin sama sekali lupa padanya, meski anak itu dimasukkan ke RSJ yang sama dengan Ulquiorra. Lagipula dia memang bukan ancaman; dari awal dia tidak jahat, hanya cacat mental."
Pembicaraan mereka makin berlarut-larut dan sebentar lagi pagi hari. Grimmjow berdiri lalu meregangkan tubuh sambil menguap lagi. "Kenapa terus saja ada misteri yang belum terungkap? Aizen, Ichimaru, Yammy, dan Ulquiorra sudah mati semua. Aku ingin bisa pergi tidur tanpa memikirkan semua ini lagi. Padahal penyusupan dalam Espada adalah misiku yang pertama, tapi aku sudah lelah dengan semuanya."
Harribel ikut berdiri, memberesi kertas-kertasnya dan menyerahkannya pada lawan bicaranya. "Kejahatan tak pernah berhenti bermunculan, Kolonel. Sudah tugas kita untuk mencabuti sampai ke akar-akarnya. Mungkin kau perlu mampir ke sel Nelliel sebentar sebelum pulang ke rumah. Selamat malam."
Grimmjow masih berdiri di tempat bahkan setelah wanita CIA itu menutup pintu kantornya. Tiba-tiba kantuknya hilang. Grimmjow mengumpat,
"Sialan, dari mana dia bisa tahu...?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga tahun telah berlalu sejak Itachi Uchiha ditabrak mobil boks di Chicago dan pagi itu, di pertengahan Februari 1979, Cirucci Thunderwitch mengunjunginya di taman pinggir kota yang sepi, saat dia sedang berjalan-jalan ditemani perawatnya. Dari kejauhan Itachi sudah bisa melihatnya, berlari-lari kecil dalam pakaian olahraga dengan rambut berkuncir. Matahari pagi masih malu-malu menampakkan diri, dan ternyata penikmat udara segar pagi-pagi itu bukan hanya Itachi.
"Hai," sapa perempuan itu, memperlambat larinya saat mendekati Itachi di kursi roda. Sai, yang sedang mendirikan kanvas di pinggir taman tiga meter di depannya, menoleh ingin tahu. Itachi tidak membalas sapaan Cirucci.
"Aku sudah dengar semuanya," ujar Cirucci pendek, menatap kaki Itachi yang ditutupi selimut. "Aku turut menyesal..."
"Terima kasih," Itachi menyahut singkat.
"Boleh aku duduk di sini?" Cirucci menunjuk bangku taman di samping kursi roda.
"Kenapa tidak?" jawab Itachi, melempar pandang penuh makna pada Sai. Pelukis itu memutar posisi kanvasnya hingga hampir berhadapan dengan Itachi lalu mulai mengabadikan pemandangan sambil mengawasi keduanya.
Cirucci duduk lalu mengambil napas beberapa kali sebelum bicara lagi, meski tampaknya itu bukan karena dia kecapekan berlari.
"Apa kabar?" Cirucci berbasa-basi.
"Lebih baik dari kemarin."
"Syukurlah."
Jeda sejenak, masing-masing sibuk berpikir sendiri-sendiri. Cirucci bicara lagi,
"Aku minta maaf... untuk semuanya semasa pengadilan. Aku tidak bermaksud memusuhimu."
"Tidak masalah. Bukan aku yang dirugikan karena pengadilan itu." Meski seandainya aku tidak datang ke sana hari itu, mungkin aku tidak akan jadi lumpuh. Itachi meremas tangannya sendiri, mengenyahkan pikiran negatif yang muncul barusan, kemudian bertanya, "Bagaimana tentang... putusan pengadilannya?"
Cirucci menghela napas. "Keputusannya sudah dibuat enam bulan setelah kau kecelakaan."
Jelas pengadilan tidak bisa menunggu Itachi sadar dulu untuk memberi kesaksian. Itachi bicara lagi,
"Aku sudah tahu tentang Aizen."
"Dan kematian Ulquiorra?"
"Ya."
Tobi telah menceritakan semuanya pada Itachi. Pada akhirnya Ulquiorra tetap menemui ajalnya seperti itu, jatuh dari atas tebing karena sepeda motornya keluar dari jalur, meski di saat jatuhnya ia membawa Yammy besertanya. Itachi teringat kembali visinya waktu di Zaragoza dan mendadak merasa mual, tapi dia berhasil menahan diri untuk tidak muntah di depan Cirucci lagi.
"Akhirnya, ya," kata Itachi.
"Apanya?"
"Akhirnya kau mendapatkan yang kau inginkan. Harta Aizen jadi milikmu, dan berkuranglah beberapa orang jahat dari dunia ini."
Cirucci mengernyit mendengarnya dan langsung mengoreksi,
"Tidak semua yang kuinginkan... hahaha, aku merasa egois sekali. Alvaro tetap tidak akan bersamaku lagi."
Itachi memandangi perempuan itu. Nada suaranya kedengaran merana, tawanya terdengar palsu, seolah telah lama menimbun serangkaian bom waktu.
"Kau harus belajar untuk melepasnya."
"Hanya dia keluargaku yang masih ada!" Bom itu meledak, Itachi barusan memicunya. Sai sampai menoleh minta petunjuk, namun Itachi memberi isyarat agar ia tetap di tempatnya. Cirucci masih berseru, "Dia bahkan belum lulus sarjana waktu itu. Ibu panti asuhannya pun menangis mendengar kabar kematiannya. Kau tahu riwayat keluargaku, tapi tidak tahu apa-apa tentang perasaanku!"
"Adikku juga anggota keluargaku yang terakhir dan dia tewas ketika dia masih SMP," balas Itachi dengan tenang.
Mata Cirucci berkaca-kaca; ditatapnya Itachi, setengah tak percaya dan setengah menyesal.
"Maaf..."
"Tidak apa-apa. Aku sangat paham rasa kehilangan itu. Tapi kalau kau tidak belajar melepaskannya, kau tidak bisa menatap masa depan."
"Masa depan...? Apa yang masih aku punya di masa depan?"
Itachi mengangkat kepala, menatap langit yang dihiasi beberapa gumpalan awan.
"Bekerja, berwirausaha, menikah, punya anak... semua pilihanmu sendiri. Apa saja bisa, yang penting itu membuatmu bahagia."
"Orang-orang biadab itu sudah menghancurkan kebahagiaanku."
"Ada hal yang memang tidak bisa didapatkan kembali sekali kita kehilangannya. Kebahagiaan bisa didapat kembali. Kau hanya perlu melepas apa yang perlu dilepaskan."
"Aku tidak bisa terima Alvaro tewas."
"Pembunuhnya sudah mati."
"Alvaro tidak bisa kembali."
"Ulquiorra dan Aizen juga tidak bisa."
"Aku dan Alvaro saling memiliki."
Itachi menghela napas, sangat panjang. Tadinya dia tak ingin lama-lama bicara dengan Cirucci karena tak bisa membayangkan apa maunya perempuan itu mendatanginya setelah semua yang terjadi di antara mereka, tapi, mendengar penuturan Cirucci yang sedikit-banyak mirip dengan dirinya yang lama itu, Itachi jadi ingin banyak bicara.
"Seorang pertapa di Himalaya pernah menasihatiku dengan sebuah cerita. Aku dulunya seperti dirimu, tidak bisa menerima kematian adikku. Jadi aku paham kesulitanmu. Apakah kau mau mendengarnya?"
Cirucci ragu sebentar, tapi sejurus kemudian mengangguk. Maka Itachi menceritakan kembali kisah yang dipilih Killer-B dalam surat Pain beberapa tahun silam:
"Pemburu di zaman dulu menangkapi monyet dengan menaruh pisang dalam tempurung kelapa utuh yang sudah kosong. Kelapa itu dilubangi sedemikian rupa sehingga tangan kecil monyet dapat masuk, tapi tidak dapat keluar sambil menggenggam pisang. Dan monyet-monyet berpikir, 'Ini pisangku, aku menemukannya, jadi dia milikku!' lalu dengan bodohnya terjebak di situ sepanjang hari sampai pemburu menangkap mereka. Kau tahu apa kesamaan kita dengan monyet itu?"
Perempuan itu mengernyit tak suka. "Jangan samakan..."
"Memang tidak sama. Itulah gunanya kita punya akal. Tapi kalau kau berpikir bahwa seorang adik laki-laki hadir di rumahmu untuk kaumiliki selamanya dan tak pernah mau melepasnya pergi... kau sama saja dengan monyet di cerita itu."
Cirucci menangis dengan pedih, ditutupnya wajahnya dengan tangan. Di hatinya, Itachi merasakan empati yang sangat dalam terhadap wanita itu. Betapa bersyukurnya seluruh dunia karena Aizen yang keji itu sudah lenyap. Di luar huru-haranya di bidang nuklir dan teror pembunuhan lintas benua, Aizen sudah merusak keluarga Thunderwitch sampai seperti ini. Dia sudah lebih dahulu merusak karakter anak angkatnya, yang berujung pada tragedi keluarga semenyakitkan ini.
Sai melirik sambil mengernyit dari balik kanvas, tapi Itachi melambaikan tangan lagi agar pemuda itu tetap menyibukkan diri melukis saja.
"Kalau kau mencintai seseorang, kau juga harus rela melepasnya suatu saat, Cirucci."
Sambil berkata begitu, kali ini Itachi membiarkan air matanya sendiri menetes untuk Sasuke Uchiha.
.
.
.
.
.
"Siapa perempuan tadi, Uchiha-san?" Sai bertanya sambil membereskan peralatannya.
"Seorang teman senasib," jawab yang ditanya, pandangannya menerawang ke jalan. Cirucci sudah meninggalkan taman itu sepuluh menit sebelumnya dengan banyak terima kasih pada Itachi.
"Kalian banyak membicarakan nama-nama pelaku kriminal."
"Dia anak kandung Sousuke Aizen. Kapan-kapan aku ceritakan. Hei, awas!"
Sebatang pensil Sai terlepas dari tangan lalu jatuh menggelinding di tanah. Pemuda itu mengambilnya kembali, gerakannya gugup.
"Ada apa?" Itachi bertanya dengan cemas.
"A-aku hanya terharu." Sai memasang senyum yang tampak palsu. "Aku baru tahu Uchiha-san pernah mengalaminya."
Itachi sendiri sudah tahu keseluruhan tragedi yang dialami Sai dari Senju maupun Tobi. "Kakakmu sudah tenang di alam sana."
"Ya, dia sudah pulang ke rumah lebih dahulu." Sai tiba-tiba menangis.
"Sai..." Tangan Itachi meraih pemuda itu. Pensil-pensilnya berjatuhan, Sai menelungkup di pangkuan Itachi dan tersedan.
"T-tolong jangan bilang-bilang Senju-san..." ujar si pelukis di sela isaknya. "Dia terlalu baik. Aku tidak merasa layak dibantu sampai sebegini."
"Semua orang layak mendapat kesempatan kedua, Sai." Itachi hampir tanpa sadar membelai rambut hitam itu. Seandainya Sasuke masih hidup, tentunya dia akan sebaya dengan Sai dan itu yang mendorong Itachi menunjukkan afeksinya. "Senju-san memang orang baik," ulang Itachi sambil mengingatkan fakta itu pada diri sendiri. "Kau juga orang baik. Lihat, tak mungkin orang yang tidak baik bisa menghasilkan gambar seindah itu."
Sai tidak mengangkat kepala, tapi ia perlahan berhenti menangis. Ia tadi menggambar Itachi yang duduk di atas kursi roda, dengan paras berbahagia, berlatarbelakangkan pepohonan rindang yang sebetulnya biasa saja. Namun, di atas kanvas Sai, gambar dari pensil itu tampak begitu hidup seolah dia sendiri menjadi sosok di dalamnya dan merasakan kebahagiaan setelah penderitaan bertubi-tubi yang sama. Pancaran emosi di balik gurat-gurat pensil itu telah menyentuh hati Itachi.
"Gambar sketsamu saja sudah merupakan mahakarya. Senju-san membuat keputusan yang benar dengan menyekolahkanmu di sekolah seni."
"Terima kasih, Uchiha-san. Aku... aku tidak akan lupa betapa sebuah sketsa bisa mengubah hidupku begitu drastis."
Itachi membungkuk dan merangkul pemuda itu.
"Kau boleh memanggilku Nii-san kalau kau suka."
Sai gemetaran, mulutnya berujar lirih, "Arigatou, Nii-san..."
Dengan hati penuh luapan emosi, Itachi mengulang kembali dalam ingatannya percekcokannya dengan Hashirama Senju di awal tahun:
"Kau harus tetap kuliah."
"Aku mau belajar masak saja di rumah."
"Peralatan di dapur letaknya tinggi-tinggi. Mana bisa?"
"Gedung kuliahku semuanya pakai anak tangga. Mana bisa aku ke ruang kuliah?"
"Baik. Kau sudah dewasa dan bisa memutuskan sendiri apa yang kausuka."
"Aku mau mengundang teman-temanku di Akatsuki ke rumah."
"Untuk apa?"
"Mereka ingin merayakan..."
"Tak ada yang perlu dirayakan."
"Apa menurut Senju-san tak ada bedanya apakah aku masih koma atau sudah mati?"
"Jangan bicara seperti itu, Itachi! Kau bukan anak kecil, tak patut merajuk seperti itu."
"Kalau Senju-san tidak menganggapku anak kecil, buat apa Sai dipekerjakan merawatku?"
Hashirama Senju terdiam. Itachi Uchiha di hadapannya seolah sedang mengenakan topeng; bertingkah keras di depan dirinya, namun rapuh di dalam hati. Senju tak habis pikir kenapa Itachi tak pernah mau berterus terang kepadanya.
"Aku hanya ingin bertemu teman-temanku," seloroh Itachi, kali ini dengan nada memohon. "Mereka pasti khawatir, aku sudah lama tak berkabar."
"Kalau kau ingin perayaan, kita buat pesta besar. Aku akan undang kawan-kawanku juga. Tak hanya Akatsuki yang menanyakan kabarmu."
Itachi diam sebentar, memertimbangkan keadilan tawar-menawar itu.
"Baiklah. Tapi aku tetap mau memasak di rumah."
Senju menghela napas.
"Terserahlah. Izin cutimu di kampus masih berlaku."
"Aku tidak mau melanjutkan kuliah."
Senju mengangguk dengan berat hati.
"Kau sudah dewasa, Itachi... Dari dulu aku ingin menanyakan ini kepadamu, mengapa kau mau ikut denganku? Apa karena aku memaksa?"
"Tidak benar begitu."
"Kau sudah berhak membuat keputusan atas dirimu sendiri. Umurmu waktu itu sudah di luar hak asuh perwalian dan kau bisa ajukan klaim atas warisan ayahmu sendiri, jadi kenapa?"
"Aku akan tanya balik: Ke mana lagi aku bisa pulang, Senju-san?"
"Kau bisa ikut salah satu temanmu di Akatsuki."
"Ya, bisa saja. Tapi aku memilih ikut denganmu."
"Kenapa?"
Itachi tidak menjawab.
"Kau tidak percaya padaku," ujar Senju.
"Belum," koreksi Itachi.
"Jadi jika belum ada rasa percaya, kenapa kau mau ikut aku?"
Jeda sejenak sebelum Itachi bicara,
"Hanya Senju-san kerabatku yang masih ada. Aku sendiri pernah diberi kesempatan oleh Akatsuki dan aku diterima, dan mereka jadi keluargaku sekarang. Kenapa tidak berbuat hal yang sama kepadamu? Tapi sampai sekarang aku belum bisa menerima Senju-san sebagai keluargaku."
Itachi menunduk, tampaknya malu sudah meluapkan perasaannya sedemikian jujur. Namun Senju menjawabnya,
"Kalau begitu, beri aku kesempatan sekali lagi."
.
"Ngomong-ngomong, Nii-san, Kolonel Jaegerjaquez mau minta tolong padamu."
Suara Sai membuyarkan memori Itachi. "Minta tolong?"
Sai mengangguk sambil membereskan alat lukisnya. "Dulu Nii-san pernah menulis untuk majalah, bukan? Kolonel memintamu menulis lagi, kali ini untuk dibukukan."
"Tentang apa?"
"Tentang semua yang telah terjadi." Sai tersenyum kecil. "Kolonel juga meminta kisah beberapa orang lainnya yang pernah jatuh dan berusaha bangkit kembali. Apa Nii-san berminat?"
Itachi tak butuh waktu lama untuk memutuskan. "Tentu saja. Tapi sudah lama sekali aku tidak menulis. Lagipula, aku hanya bisa menulis dalam bahasa Jepang. Tata bahasa Inggrisku buruk."
"Katanya, Tobi-san siap membantu. Dia sedang menerjemahkan tulisan Yammy ke bahasa Inggris."
"Jadi kisah Ulquiorra akan dimasukkan juga?" tanya Itachi.
"Begitulah. Mungkin nama-namanya akan disamarkan. Kalau tulisan Nii-san ingin dianonimkan juga bisa."
"Nama asli tidak masalah. Tidak usah ditutupi."
"Baiklah, Nii-san. Mungkin minggu depan Kolonel akan berkunjung ke rumah untuk membicarakannya."
"Minggu depan aku akan ke Tokyo."
Sai terperanjat, agaknya belum diberitahu oleh Senju. "Untuk apa?"
Itachi menyunggingkan senyum dan mendadak Sai merasa gambar sketsanya menjelma hidup di hadapannya.
"Temanku Sasori, yang berambut merah, dia akan menikah minggu depan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonderweiss Margera berguling dalam tidurnya. Ketika matanya terbuka, yang dilihatnya masih sama. Langit-langit kusam, ruangan tanpa jendela. Terdengar suara orang-orang bicara di luar pintunya.
Dia tak tahu mengapa dirinya ada di tempat ini. Kadang-kadang seseorang masuk dan banyak bicara dengannya, memintanya menulis atau melakukan beberapa hal. Lain waktu dia diminta menyelesaikan Rubik atau teka-teki silang. Kadang berhasil, kadang tidak. Orang-orang di sini menyebutnya "Autis", tapi Wonderweiss sendiri tak paham apa maksudnya.
Dia hanya merasa kangen pada pria kurus bermata sipit dan berambut perak. Kapan Gin Ichimaru datang menjemputnya? Atau mungkin kawannya yang satu lagi yang akan datang, si kulit hitam rambut gimbal. Orang itu pernah memberinya permintaan yang sangat aneh. Waktu itu Wonderweiss diminta menjemput seseorang.
Seseorang yang dimaksud adalah laki-laki berambut hitam yang sering dipukuli oleh seorang yang lain dengan berbagai alat. Ichimaru sering mengajak Wonderweiss menonton beberapa pertunjukan mereka, tapi dia tidak boleh bersuara sama sekali selama pertunjukan berlangsung.
Yang paling diingat Wonderweiss adalah, tiap kali setelah pertunjukan berakhir dan yang dipukuli terkapar di lantai, si pemukul akan mendatanginya dan memeluknya dengan cara yang unik.
Jadi ketika malam itu Kaname Tousen memintanya 'menjemput' Ulquiorra Chifer dan mendapati orang itu sedang terkapar di tanah dekat pepohonan, Wonderweiss melakukan tepat seperti yang biasa dilihatnya. Kebetulan ada batu cadas yang cukup tinggi sehingga dia bisa menarik orang itu ke atas. Wonderweiss tadi menyimpan beberapa petasan dari rumah kecil tempat ia kejar-kejaran dengan pria berambut kuning panjang yang suka bicara "un-un". Tugas Wonderweiss malam itu banyak sekali, semua diminta oleh Ichimaru dan terakhir oleh Tousen, jadi dia pikir akan menyimpan mainan milik orang lain untuk dirinya sendiri sebagai hadiah. Robekan kain dari saku si pemilik petasan ikut disimpannya dan digulung di balik bajunya. Karena terjatuh terus jika disimpan di depan perut, Wonderweiss tadi memindahkannya ke depan dada hingga bagian depannya itu menggelembung. Dengan agak kesulitan karena kedua tangan Ulquiorra diborgol di depan, Wonderweiss berhasil mendekap tubuh itu.
Saat Wonderweiss sedang berusaha menarik Ulquiorra untuk membawanya ke tempat Tousen, seseorang berteriak kepadanya. Suaranya kasar dan dia juga punya petasan, sangat terang dan berisik sekali ketika meledak. Wonderweiss melepaskan orang dalam pelukannya lalu kabur, masih sempat melirik ke belakang begitu sudah berada di balik semak-semak. Di sebelah Ulquiorra ternyata terbaring sosok seorang yang lain, berambut hitam panjang. Agaknya seorang perempuan. Orang yang baru datang, laki-laki, menghampiri yang perempuan lalu menggendongnya. Keduanya pergi cepat-cepat, Ulquiorra ditinggalkan. Suara-suara polisi mendekat. Wonderweiss lari lagi ke arah rumah, tapi tertahan aparat di tengah jalan dan sejak saat itu ia tinggal di tempat ini.
Apakah Tousen dan Ichimaru marah kepadanya, karena tidak berhasil menuntaskan tugas yang diberikan, sehingga dirinya tidak pernah dijemput? Wonderweiss tak pernah tahu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah semua hal yang berhubungan dengan Espada dianggap terselesaikan, Itachi mulai belajar memasak dan mengurus diri; ia sudah bertekad tidak mau hidupnya dikekang kecacatan. Beberapa bulan setelah pulang dari pernikahan Sasori, Itachi memutuskan untuk meneruskan kuliah. Hashirama Senju mendukung apa pun pilihannya, sambil tetap mengingatkannya untuk selalu bertanggung jawab atas pilihan itu. Hubungan mereka tetap tidak bisa hangat, tapi setidaknya Itachi bisa merasa nyaman bicara dengan ayah walinya itu.
Sai masih setia menemaninya, tapi bukan lagi selalu jadi perawatnya, kadang jadi asistennya saat memasak sepulang sekolah. Didengarnya juga bahwa Cirucci Thunderwitch sudah diterima masuk interpol cabang Amerika Serikat setelah menjalani pelatihan. Tobi masih sering mengunjunginya—di rumah, karena Senju mulai terbuka dengan orang-orang Akatsuki—dan Pain di Himalaya maupun Sasori di Jepang rutin mengiriminya kabar.
Tobi adalah penggembira dalam arti sebenarnya. Tiap kunjungannya ke rumah Itachi selalu diisi dengan lelucon, paling sering tentang atasannya sendiri. Pernah suatu ketika Itachi sampai terbungkuk-bungkuk sakit perut gara-gara Tobi bercerita tentang Pesta Hallowe'en di mana Grimmjow memakai kostum panther seperti nama aliasnya dalam Espada dulu. Tobi melempar segulung benang wol ke arah sang Kolonel, beranggapan bahwa panther termasuk kucing besar, yang sebetulnya tidak terlalu salah. Namun, bukannya menyambut gulungan wol itu dan memain-mainkannya dengan cakar palsu, Grimmjow malah menguber Tobi ke seluruh penjuru ruang pesta sambil menggeram-geram. Tawa Itachi bertahan sampai sepuluh menit setelah Tobi bercerita.
Kelihatannya akan jadi akhir yang bahagia, bukan? Tapi Itachi baru berusia dua puluh tujuh dan jalan hidupnya mungkin masih panjang. Setelah lulus sebagai sarjana hukum nanti, akan bekerja sebagai apa dia? Atau, akan membuka usaha rumah makan sendiri?
Yang jelas, sejak kecelakaan lalu lintas itu, Itachi tidak pernah lagi mendapat visi masa depan. Mata sharingan-nya tak pernah tampak lagi dan itu disyukurinya, karena menerawang masa depan adalah sebuah beban baginya. Kalau masa depan adalah mimpi, maka biarlah Itachi bermimpi.
Dan yang namanya mimpi, tidak selalu indah. Kadang-kadang dia masih memimpikan penglihatan-penglihatan yang telah lampau, misalnya mansion mewah Orochimaru di Valencia, yang tergabung begitu saja dengan kejadian nyata saat Yammy memporak-porandakan tempat itu.
Pernah juga suatu ketika, Itachi memimpikan orang-orang yang sudah meninggal itu. Kedua orang tuanya, Sasuke adiknya, Kisame, Deidara, Kakuzu... bahkan Zommari si mantan Espada yang Negro itu dan banyak lagi, berada dalam sebuah kapal yang tertambat di dermaga. Saat itu, Itachi hendak ikut naik ke kapal, tapi seseorang mencegahnya.
"Belum waktunya kau naik."
Dengan kaget disadarinya bahwa orang itu adalah Pain. Jadi Itachi berdiri saja di dermaga bersama Pain, yang ternyata bersama Konan dan kedua anak mereka yang sudah menginjak usia balita. Itachi juga menyadari bahwa dalam mimpi ini dia dapat berdiri tegak di atas kedua kakinya dan di belakang mereka, di daratan, ada Senju, Sai, Tobi, dan orang-orang yang Itachi tahu masih hidup. Dengan jantung berdebar-debar Itachi memahami bahwa inilah garis batas yang diimaninya.
Kapal itu mulai berlayar. Kisame berseru,
"Sampai jumpa, Itachi!"
Orang-orang di atas kapal melambaikan tangan dan berpamitan. Orang-orang di daratan balas melambai. Itachi baru sadar kedua pipinya telah basah oleh air mata. Tubuhnya bergetar. Sesuatu dalam dirinya bergejolak; perasaan seperti mendapati bahwa yang dinanti-nantikan akan segera datang.
Sasuke Uchiha ada di atas kapal, bermuka masam seperti biasa, tapi dia tersenyum sedikit di dekat orang tua mereka sambil berujar,
"Belajarlah memasak yang becus, sampai kita berjumpa lagi!"
Dasar adik kurang ajar... tapi Itachi tertawa sendiri mendengarnya.
Tentu saja mereka akan berjumpa lagi. Sasuke dan yang lain hanya duluan pergi, dan Itachi menunggu sampai kapal itu berlayar menjauh, sampai tak bisa lagi dibedakannya mana wajah Kakuzu dan mana Kisame, sampai bayangan si kapal mengecil di laut mahaluas itu hingga lenyap ditelan cakrawala.
Mereka akan berjumpa lagi. Di kehidupan yang lain, iya. Karena kisah Itachi sendiri belum—
—TAMAT.
.
.
.
.
.
Author's Note
.
Akhirnya selesai juga~ sedikit bergeser dari waktu update dan menamatkan yang dijanjikan, karena sejak minggu kedua Oktober Roux serasa jadi Bus Joglosemar (?) dalam rangka job hunting.
Mungkin ada pembaca yang sudah tahu tentang Sungai Sanzu dalam tradisi Buddha di Jepang, yang mirip-mirip Sungai Styx di mitologi Yunani. Dalam kepercayaan Shinto sendiri ada sungai yang memisahkan orang-orang yang sudah mati dari yang masih hidup. Jadi, kenapa di sini ceritanya bukan sungai, melainkan laut? Yah, suka-suka Roux, dong /ditampol/ Alternatif jawaban yang agak filosofis: Itachi memulai perjalanannya bersama Akatsuki dan pertama kali dekat dengan Kisame di atas kapal, makanya dalam bayangannya 'akhir' perjalanan bagi teman-temannya yang sudah meninggal itu juga tentang pelayaran kapal. Meskipun, konsep keberangkatan kapal laut menuju afterlife Roux adaptasi dari buku Don't Worry Be Hopey karya Ajahn Brahm. Cerita tentang monyet dan pisang juga dicuplik dari buku yang sama.
Tes DNA untuk uji genetika hubungan orang tua – anak baru berkembang akhir 1970-an dengan kombinasi penentuan golongan darah dan protein darah (masing-masing sudah diawali 1920 dan 1930), lalu mulai awal 1980-an melibatkan reaksi dengan enzim untuk meningkatkan akurasi.
Satu hal lagi, Roux mau ngaku tentang sesuatu. Sebenarnya, identitas asal Ulquiorra yang nyerempet-nyerempet Italia itu terbersit dari fakta tentang seiyuu-nya di anime Bleach, Daisuke Namikawa, yang adalah seiyuu Italy di serial Hetalia :3 /ganyambung/ sedangkan, asal-usul Yammy Llargo seluruhnya murni imajinasi saya.
Kritik dan saran masih sangat diterima untuk perkembangan ke depannya. Terima kasih untuk yang sudah membaca sampai sejauh ini. Sampai jumpa! ^o^
[6 November 2018]
