Disclaimer: Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto. My beloved editor: Hikanzakura
.
Kala Kakashi membuka matanya pada pagi itu, yang ia lihat adalah sosok para muridnya yang terterpa sinar matahari yang berhasil menyelinap dari sela-sela tirai.
Tidur mereka terlihat tanpa beban, tanpa kerutan di kening yang biasa mereka tunjukkan, tanpa lengkungan bibir ke bawah yang seringkali mereka lakukan. Kakashi tak tahu apa yang telah ia lakukan hingga ia berhak mendapatkan berkah sebesar ini. Seingatnya tangannya telah memenjarakan banyak manusia atas nama 'keadilan', melumpuhkan dan mematahkan banyak tulang atas nama 'kebebasan', dan membunuh banyak jiwa atas nama 'kedamaian'.
Kakashi tak mengerti mengapa ia sangat mencintai dunia shinobi sekaligus membencinya di saat yang bersamaan. Karena ia benci, setengah mati, untuk melihat sosok-sosok yang kini terlelap damai di hadapannya menangis meraung karena kematian atas nama perdamaian. Ia benci setengah mati melihat tangan-tangan halus mereka yang kini tergolek lemas dengan tenang harus menegang karena telah meregang nyawa seseorang, yang mereka tahu pasti punya orang tua, teman, sosok tersayang, sama seperti mereka, tetapi hanya berbeda pandangan mengenai apa itu perdamaian.
Karena dunia shinobi tidak ada yang hitam, tidak pula putih. Semuanya abu-abu. Dan kini mereka, sosok di hadapannya termasuk dirinya, terombang-ambing dalam perdamaian semu.
Kakashi hanya memejamkan mata, memanjatkan doa agar sosok-sosok di hadapannya tidak akan terperangkap dalam paradigma buatan orang-orang berkepentingan.
3 + 1 = 7
oleh LuthCi
"Jadi, apa agenda kalian hari ini?" Naruto angkat bicara setelah ia selesai menyantap sarapan paginya yang nikmat. Cengirannya melebar menatap penghuni meja makan yang lain dengan harapan mereka akan menjawab, lebih-lebih akan mengajaknya ikut serta dalam kegiatan mereka hari ini.
"Aku akan latihan dengan Sasuke-san," jawab Sai di sela waktu makannya. Mata Naruto berkilat senang.
"Kau tidak boleh ikut," ucap Sasuke cepat sebelum Naruto mengucapkan sesuatu mengenai mengajaknya juga.
Sai mengangguk singkat, "kami akan latihan pernapasan, jadi harus tenang," tambah Sai mengenai alasan penolakan Sasuke. Naruto cemberut seketika, kata 'tenang' dengan nama depannya sangatlah tidak cocok.
"Ah, ah, bagaimana dengan Sakura-chan?" Naruto menatap Sakura dengan menaikan alis beberapa kali, berniat merayu Sakura untuk mengajaknya.
"Aku akan jalan-jalan dengan Gaara, kau mau ikut?" ujarnya setelah menjauhkan sumpit dari mulutnya.
Wajah Naruto berubah kaku seketika. Naruto sudah tahu mengenai hubungan Sakura dengan Gaara, karena itu ia agak ragu untuk mengganggu acara jalan bersama mereka.
"Err—" Naruto menggaruk kepalanya, memikirkan alasan untuk membatalkan niatnya mengikuti Sakura hari ini, "—aku baru ingat aku ada acara, jadi aku tidak jadi ikut kalian, deh." Naruto menyengir kaku.
Sakura mengangkat sebelah alisnya seraya menatap Naruto. Ia tahu benar bagaimana perilaku Naruto, jadi ia dapat dengan jelas tahu bahwa Naruto hanya beralasan karena tidak ingin mengganggunya dan Gaara. Mengangkat bahu sejenak, Sakura pun melanjutkan makan.
Mendesah panjang, Naruto mengangkat piring kotornya menuju tempat cuci piring seraya berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menghabiskan waktu hari ini.
.
.
"Jadi?"
Sasuke bertanya pertanyaan abstrak pada pemuda di hadapannya. Walau dengan mata tertutup, Sasuke tahu persis sang lawan bicara berada di sana.
"Yang kemarin," jawab Sai, sang lawan bicara, juga dengan jawaban yang sama-sama tidak begitu jelas dan menyisakan banyak tempat untuk mereka-reka.
Namun, menjadi seseorang yang cukup mirip, baik penampilan maupun ketenangan, dengan sang lawan bicara, Sasuke pun mengerti maksud dari Sai. Maka dari itu, lagi, layaknya kemarin, ia letakkan kedua tangannya di atas lutut dan mulai menarik napas dalam-dalam.
.
.
Sakura berlari-lari kecil menuju taman. Ia memiliki janji dengan Gaara untuk bertemu di taman yang dimaksud siang ini, tepatnya sepuluh menit lagi. Namun, entah mengapa Sakura tahu, pasti Gaara telah sampai lebih dulu di tempat yang dijanjikan. Menjadi seorang Kazekage pastilah membutuhkan kebiasaan untuk tepat waktu agar dapat mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak, bukan? Dan seorang Kakashi adalah pengecualian—rutuk Sakura dalam hati karena kesal Kakashi tidak pernah tepat waktu.
Masih dengan langkah kakinya yang terburu-buru, Sakura sedikit merapikan pakaiannya—bersiap-siap agar tidak tampak terlalu dekil untuk sang Kazekage yang terhormat.
Nah, betul, 'kan?—batin Sakura saat melihat Gaara telah duduk di bangku taman. Mempercepat larinya sejenak, Sakura pun berhenti tepat di depan calon- calon suaminya.
"Gaara-san," panggil Sakura dengan napas agak terengah. Dalam hati ia mengutuk dirinya yang mulai jarang latihan sehingga berlari kecil saja membuatnya ngos-ngosan. "Maaf aku terlambat," ujar Sakura seraya membungkukkan badan serendah mungkin.
"Aa, tidak apa." Gaara pun lekas berdiri, mengangkat kedua tangannya menunjukkan tanda tidak keberatan. "Aku yang datang lebih cepat, bukan kau yang terlambat," ujarnya dengan senyum tipis.
"Tapi tetap saja, maaf." Sekali lagi, Sakura membungkukkan badannya.
"Aa. Duduklah," ucapnya mempersilakan Sakura untuk duduk di sebelahnya.
Mengangguk cepat, Sakura pun duduk di sebelah Gaara.
Sakura tidak mengerti apa yang membuatnya merasa sangat nyaman berada di samping Gaara. Yang jelas Gaara membuatnya merasa tenang, seolah dunia ini baik-baik saja adanya. Karena itu, Sakura pun menghela napasnya panjang, menandakan kerileksan yang ia dapat dari kehadiran sang pemuda di sampingnya.
"Jadi?" tanya Gaara tanpa menatap Sakura. Tatapan Gaara mengarah pada ibu-ibu yang tergopoh-gopoh mengejar anaknya yang sedang bermain a la shinobi untuk memakan sesendok nasi yang ia sodorkan.
Sakura membuat catatan mental: Gaara mungkin memang telah menjadi orang yang berbeda dari ia sebelumnya, tetapi tampaknya kebiasaan Gaara untuk selalu lurus dan tembak langsung tidak berubah.
"Tunggu—hanya ingin klarifikasi." Sakura memiringkan duduknya menghadap Gaara. "Jadi di sini maksud Gaara-san adalah mengenai keputusan untuk melanjutkan perjodohan atau pertanyaan ingin jalan ke mana?"
Pertanyaan Sakura sukses membuat Gaara menatap Sakura dari sudut matanya lalu tersenyum sekali lagi. "Menurutmu?"
"Ng... kalau menurutku, karena Gaara-san tadi tidak menatapku saat bertanya, sepertinya opsi pertama?" Sakura bertanya dengan agak kikuk. Tidak salah, 'kan?—batin Sakura bertanya.
"Aa, benar. Jadi jawabanmu?" kini Gaara menatap Sakura seutuhnya. "Iya atau tidak?"
Sakura melihat kakinya tanda kebingungan. Entah mengapa kakinya yang kini dan memang selalu menapak di tanah terlihat jauh lebih menarik dari pada biasanya. "A-aku bingung," ucap Sakura masih menunduk.
"Bicara sambil berjalan mau?" tanya Gaara dengan senyuman kecil. Gaara kemudian melangkah maju sehingga Sakura mengikuti walau Sakura tidak tahu ke mana tujuannya.
"Aku masih bingung mengenai hal ini," ujarnya. "Sebenarnya aku sangat bersyukur ketika diputuskan bahwa yang dijodohkan denganku adalah Gaara-san, bukan laki-laki yang aku tidak kenal sama sekali." Sakura menarik napas, kini ia memainkan jemarinya yang saling terkait. "Tapi seperti yang Gaara-san bilang, Gaara-san adalah seorang Kazekage, yang berarti tidak mungkin Gaara-san yang pindah dari Suna untuk tinggal denganku. Sedangkan, terdengar begitu berat bagiku untuk meninggalkan Konoha karena hal ini."
"—'karena hal ini'? Berarti kalau karena hal lain tidak apa?" Gaara menatap Sakura dari sudut matanya. Melihat sikap Sakura yang terlihat agak ragu karena mungkin takut menyakiti hatinya membuat Gaara berpikir bahwa Sakura benar-benar orang yang baik.
"Bukan begitu." Sakura tiba-tiba merasakan lidahnya kelu. "Tapi iya, memang begitu. Tapi juga tidak begitu. Aaahh—" Sakura mendadak menghentikan langkahnya lalu memegang lengan Gaara agar langkah pemuda itu juga ikut terhenti. "—maaf." Sakura menundukkan kepalanya. "Sebenarnya beberapa saat yang lalu aku dan yang lain sempat membicarakan untuk meninggalkan desa, dan rasanya saat itu meninggalkan desa adalah hal yang tidak terlalu penting." Sakura mendongak menatap Gaara dengan tatapan pasrah. "Tetapi entah kenapa kalau meninggalkan desa dengan alasan perjodohan ini dan bersama denganmu di Suna, aku merasa—" Sakura merasa tenggorokkannya tercekat. Ia benar-benar tidak tahu kata apa yang dapat ia gunakan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Gaara tersenyum menatap Sakura. Ia lalu meletakkan tangannya di atas tangan Sakura yang memegang lengannya. "Untuk pertama kalinya kau bicara denganku seperti itu," ujarnya dengan tersenyum. Melihat wajah Sakura yang kebingungan Gaara pun menjelaskan maksudnya, "tadi kau bilang 'denganmu', biasanya kau akan bilang 'dengan Gaara-san'." Gaara kemudian menepuk tangan Sakura yang menyentuh lengannya, "dan untuk pertama kali kau berani menyentuhku."
Mata Sakura membulat, ia terkejut Gaara memerhatikannya seperti itu. Ia tidak begitu mengerti apa yang terjadi selanjutnya. Yang ia tahu pipinya terasa hangat saat ini. Belum ada pemuda yang memerhatikannya seperti itu selain Naruto dan Kakashi—mungkin itulah alasan mengapa Sakura merasa kalimat yang Gaara sampaikan amatlah penting untuknya hingga membuat pipinya merona. Selanjutnya yang Sakura dengar hanyalah kalimat, "Mungkin kau harus mencoba mampir ke Suna, siapa tahu itu dapat membuatmu sedikit mempertimbangkan untuk tinggal di sana," dan senyuman Gaara yang sekarang entah mengapa memiliki tanggung jawab yang besar atas menghangatnya sang pipi.
.
.
"BOSAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!" Naruto berteriak di ruang Hokage. Duduk di jendela kantor tersebut ternyata tidak cukup membuat Naruto tenang. Matanya kini menyipit pada Kakashi yang masih saja mengerjakan berkas-berkas di atas meja kerjanya. "Kakashi, aku bosan. Suuuummmmpaahhh!" Naruto mulai bersikap kekanakkan.
Tidak suka perkataannya tidak digubris, Naruto pun berjalan ke meja kerja Kakashi dan membalikkan berkas yang sedang ia kerjakan. "Aku bosan, tolong aku kalau tidak aku mati. Dattebayo!" Naruto menaruh tangannya di kedua bahu Kakashi seraya memandangnya penuh keyakinan.
Kakashi menatap Naruto dengan muka bosan. "Kau mau aku apakan? Mau aku kasih misi la—"
"—MAUUU!" Naruto pun loncat kegirangan. "Beri aku misi rank—"
"—D. Kau kuberi misi rank D." Kakashi langsung membuka lacinya untuk mencari gulungan misi yang ia maksud.
"Tidak mauuu! Aku maunya A, ayolah," rengek Naruto. "Lagi pula ini salahmu, harusnya kau jangan menjodohkan Sakura, kalau Sakura tidak bersama Gaara aku kan bisa bersamanya dan—"
"—terus berharap?" Kakashi menyela Naruto dan menatap Naruto lekat-lekat. "Kalau Sakura tidak dijodohkan, kau akan terus berharap, 'kan?"
Naruto tersentak lalu terdiam. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Mulutnya terbuka untuk melawan apa yang Kakashi katakan, tetapi gagal. Tidak ada yang bisa ia katakan untuk mengelak dari ucapan Kakashi barusan.
"Aha, ketemu!" Kakashi membaca ulang gulungan misi di tangannya, memastikan tidak salah mengambil. "Nah, jadi, ini misimu." Kakashi memberikan gulungan misi tersebut pada Naruto yang masih terdiam.
Perlahan tapi pasti, Naruto pun mengambil gulungan tersebut walau masih dengan menunduk.
"Kakashi, aku rela untuk mencoba melepaskan perasaanku karena aku tahu Sakura tidak akan pernah berhenti untuk mencintai Sasuke. Tapi—" Naruto merasa tenggorokkannya tercekat.
"—kalau pada akhirnya Sakura dapat melepaskan perasaannya untuk Sasuke karena seorang Gaara—" ya, sekalipun ini adalah seorang Gaara, seorang teman yang juga begitu penting untuknya, yang begitu Naruto harapkan kebahagiaannya, "—aku merasa—" Naruto mencengkram baju di bagian dadanya kencang.
"—sesak."
.
Yang dapat Kakashi lihat selanjutnya adalah Naruto yang berjalan keluar ruangannya dengan kepala tertunduk. Bahu pemuda berambut kuning keemasan itu terlihat begitu lelah. Seolah dunianya telah diambil darinya sekalipun ia telah menangis dan meraung sekeras mungkin agar dunia itu masih ada di dalam rengkuhannya.
Kakashi tahu betul bagaimana Naruto selalu berpikir kalau Sakura akan selalu berada di sisinya. Kakashi tahu betul bagaimana Naruto mencintai Sakura, bahkan mungkin lebih besar dari rasa cinta Sakura pada Sasuke. Kakashi sendiri dapat membayangkan rasa sesak yang Naruto rasakan kini. Bahkan, walau ia tidak merasakan langsung, walau hanya dengan membayangkan, dadanya kini terasa begitu penuh akan sesuatu yang tidak ia sukai—ia tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Naruto pada kenyataannya.
"Bahkan saat kita sudah terkumpul kita tidak benar-benar sepenuhnya bahagia."
.
.
Naruto berdiri di atap rumah yang terbuat dari genteng bata merah. Ia berjalan perlahan, mengikuti Sakura dan Gaara yang sedang jalan berdampingan—begitu pun dengan matanya yang terus mengikuti Sakura dan Gaara.
Misinya telah selesai, ia telah membantu paman-paman di pasar untuk mengangkat barang jualannya yang bertumpuk-tumpuk seperti gunung. Bukan masalah besar baginya, beda dengan sang paman yang sudah cenderung lebih cocok untuk dipanggil kakek.
Mata Naruto menatap Sakura yang tertawa karena Gaara. Ia tidak tahu apa yang membuat Sakura tertawa, karena setahunya Gaara tidak mungkin membuat lelucon.
Memangnya kenapa kalau Sakura-chan tertawa?—Naruto mengernyitkan dahi. Ia merasa cukup sering membuat Sakura tertawa dan itu bukan alasan untuk Sakura dapat jatuh cinta pada Gaara dibanding padanya.
"Hh..." Naruto menghela napas panjang dan mengacak rambutnya sendiri. Tidak tidak! Tidak boleh begini—batin Naruto meraung karena sikapnya yang kini sama sekali tidak baik menurutnya. Kalau memang, Gaara adalah orang yang tepat untuk Sakura dapat melupakan perasaannya pada Sasuke, bukankah seharusnya ia mendukungnya?
Naruto kembali melihat Sakura dan Gaara, memerhatikan mereka hingga menyadari senyuman Sakura pada Gaara berbeda dari senyuman yang biasa Sakura berikan padanya.
Lagi, hatinya terasa sesak.
Naruto pun memutuskan untuk tidak memerhatikan mereka berdua lagi—setidaknya sampai hatinya sendiri merasa tenang. Naruto berjongkok, menundukkan kepala seraya mengacak rambutnya sendiri, frustasi. "Pada akhirnya, tetap bukan aku, 'kan, Sakura-chan?" ujarnya miris.
.
.
.
Bersambung
Jadi, maaf baru sempet update *gali kubur*
Okay, ada masukan? Komentar? Saran?
—review?
[story only: 1980 words]
