~ Start Story ~
Kim Jaejoong PoV
Aku menghembuskan nafasku sekali lagi. Tidak peduli dengan ucapan Junsu yang seringkali mengatakan bahwa kebahagiaan kita akan hilang setiap kali hembusan nafas. Pandanganku lurus kedepan meski terlihat serius mengamati taman bunga yang berwarna-warni di depanku, sebenarnya aku tengah memikirkan hal lain. Jung Yunho dan noonaku Kim Ahra.
Seharusnya aku tahu hal ini akan terjadi. Yunho sudah seringkali mengatakan bahwa dia tertarik pada Ahra noona. Seharusnya aku sudah tidak kaget dan tidak perlu merasakan sakit seperti yang sekarang kurasakan. Aku memang bodoh. Seharusnya aku menganggap Yunho serius saat dia mengatakan kalau dia menyukai noonaku sehingga aku tidak perlu terjebak dalam keadaan seperti ini. Haaahhh... terlalu banyak kata seharusnya yang tidak akan pernah terjadi.
Aku tidak tahu kenapa aku selalu begini. Lebih tepatnya perjalanan cintaku. Dulu, aku sempat menyukai, ani sangat menyukai seorang yeoja. Setelah beberapa bulan aku mendekatinya, akhirnya kami resmi menjadi sepasang kekasih. Kalian harus tahu betapa bahagianya aku saat itu. Tapi hubungan kami tidak bertahan lama, setelah satu minggu dia mengatakan ingin berpisah denganku dengan alasan yang benar-benar tidak bisa kuterima sampai sekarang.
"Joongie? Kau melamun, eoh?" aku tersentak dan menoleh kesamping kearah Kibum ahjumma yag sedang tersenyum kepadaku. Dia benar-benar cantik sekali.
"Ah, mianhaeyo, ahjumma." Aku menundukkan kepalaku merasa bersalah. Kurasakan tangan seseorang mengelus puncak kepalaku. Sedikit kudongakkan kepalaku dan menemukan Kibum ahjumma yang menatap lembut kearahku.
"Gwaechanna. Apa yang kau pikirkan? Mau bercerita?" tawarnya. Aku tersenyum dan mengangguk kecil. Tidak ada salahnya berbagi, kan? Kurasa Kibum ahjumma tidak secerewet eommaku.
"Ceritanya mungkin akan membosankan, apa ahjumma masih mau mendengar?" tanyaku memastikan. Aku tidak mau nanti ahjumma tidur mendengar ceritaku yang lebih mirip dongeng.
"Aish, cerita saja! Dan jangan panggil aku ahjumma. Panggil aku eomma seperti anakku yang bodoh itu memanggilku. Bukankah tadi sudah kukatakan padamu?" Dia memperingatkanku seperti seorang eomma yang memberikan pengertian pada anaknya yang masih TK.
"Ne, eomma." Aku mulai menceritakan kisah cintaku. Mulai dari saat kami dalam masa pendekatan sampai akhirnya kami harus berakhir dengan mengenaskan menurutku.
"Ya, hahahaha... aku setuju dengan mantan yeojachingumu itu, Joongie. Kau memang cantik. Hahaha.." aku mempoutkan bibirku. Aku berharap mendapat pembelaan dari Kibum eomma, tapi malah dia ikut memojokkanku.
"Aish, kenapa eomma juga ikut memojokkanku? Menyebalkan!"
Kim Jaejoong PoV End
Author PoV
"Ya, hahahaha... aku setuju dengan mantan yeojachingumu itu, Joongie. Kau memang cantik. Hahaha.." Kibum tidak bisa menahan tawanya mendengar cerita Jaejoong. Tawanya makin meledak melihat Jaejoong yang mempoutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya karena kesal.
"Aish, kenapa eomma juga ikut memojokkanku? Menyebalkan!" bibir Jaejoong mengerucut dengan gerutuan kesal yang keluar dengan lancar dari Cherry lipsnya.
"Hei, kau memang cantik. Hanya orang bodoh yang mengatakan kau tampan dan tidak bisa melihat seberapa cantiknya kau, Jae. Termasuk anakku yang bodohnya keterlaluan itu." suara Kibum makin melirih di bagian akhir tapi Jaejoong masih mampu menangkapnya. Sontak saja perkataan Kibum membuatnya tegang dengan mata bulatnya yang makin membulat.
"A-apa maksud e-eomma?" tanyanya gugup memastikan pendengarannya tidak salah tangkap.
Kibum menghadapkan badannya kearah Jaejoong dan menggenggam kedua tangan Jaejoong erat. Matanya menyorotkan sinar yang menunjukkan bahwa dia sedang serius sekarang.
"Apa kau menyukai Yunho?" tanyanya langsung. Kibum memang bukan orang yang pandai berbasa-basi seperti Siwon, suaminya.
"E-eomma.." Jaejoong menunduk menghindari tatapan mata Kibum yang seperti menuntutnya untuk menjawab.
"Katakan yang sejujurnya, Jae." Kibum menyentuh dagu Jaejoong lembut dan mengarahkannya agar menghadap kearahnya.
Jaejoong diam sebentar. Menggigit bibirnya berusaha untuk memilih mana yang lebih baik. Antara jujur atau berbohong. Dia menunduk kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
"Sejak kapan?" tanya Kibum lagi. Senyuman manis dan bersemangat terukir dibibir semerah darahnya. Kali ini dia membiarkan kepala Jaejoong tertunduk.
"Aku tidak tahu. Sebenarnya sudah lama aku menduga kalau aku sudah jatuh dalam pesonanya. Tapi aku terus menyangkal dengan alasan aku dan dia sama-sama namja. Aku benar-benar bingung saat itu, eomma. Dan aku baru menyadarinya tadi kalau aku sudah benar-benar terperosok." Jaejoong terus menunduk. Matanya mulai berembun tapi sekuat tenaga dia menahannya. Walau bagaimanapun, dia adalah seorang namja dan namja tidak boleh cengeng apalagi di depan seorang yeoja.
"Apa menurutmu aku ini yeoja, Jae?" Jaejoong mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan Kibum yang terdengar aneh baginya.
"Tentu saja eomma itu seorang yeoja. Karena eomma sangat cantik." Jawab Jaejoong polos membuat Kibum gemas.
"Kau salah. Aku namja." Jaejoong kaget mendengar pengakuan Kibum yang tidak terduga. Dia pikir keluarga Jung terlalu terhormat untuk melakukan itu. Meskipun keluarganya juga dari keluarga terpandang, keluarganya masih berada di bawah keluarga Jung.
"Tapi.."
"Kau tahu, Jae? Tidak ada yang salah selama kita mencintai karena cinta tidak pernah salah. Kalau kau tidak mempercayai eomma dan tetap menganggap ini salah, kau bisa berdiri diantara keduanya." Kibum mengelus lembut rambut halus Jaejoong yang kembali tertunduk.
"Tapi dia tidak menyukaiku." Lirih Jaejoong tapi masih bisa di dengar oleh Kibum.
"Hei, dengarkan eomma. Yunho juga menyukaimu. Eomma yakin itu."
"Ani, eomma. Dia menyukai Ahra noona, bukan aku. Mungkin aku memang harus menyerah dan melupakannya. Masih banyak yeoja dan namja diluar sana." Jaejoong mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Kibum.
"Jangan tersenyum jika kau tidak tulus untuk melakukannya, Jae. Sekarang dengarkan eomma, Yunho menyukaimu. Dia hanya bingung dengan perasaannya. Yang perlu kau lakukan hanyalah berusaha bagaiman membuat Yunho sadar bahwa yang disukainya adalah kau bukan Ahra."
"Bagaimana eomma tahu Yunho menyukaiku?"
"Dia anakku. Aku yang membesarkannya selama 17 tahun, karena itu aku mengerti apapun tentang dirinya. Kau juga sadar bahwa yang dipanggilnya pertama kali saat dia turun adalah kau, bukan noonamu. Itu bukti bahwa dia hanya mengingat dan melihatmu." Kibum terus meyakinkan Jaejoong, menantu idamannya.
"Tapi, bagaimana dengan Ahra noona?"
"Itu urusanku. Kau hanya perlu melakukan tugasmu, arachi?"
"Apa aku punya pilihan lain?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak suka penolakan." Ucap Kibum tegas. Keduanya tertawa lepas setelahnya.
"Kurasa sudah saatnya aku pulang, eomma."
"Aish, aku masih ingin bersamamu, Joongie." Kibum menggerutu layaknya anak kecil membuat Jaejoong terkekeh. "Ah, aku tahu!" Kibum menarik tangan Jaejoong semangat setelah memekik lumayan keras.
"Ah, eomma. Aku baru saja ingin memanggil eomma dan Jaejoong." Ahra tersenyum manis ketika bertemu calon ibu mertua dan adiknya di pintu menuju taman.
"Ne." Jawab Kibum dingin melewati Ahra seraya menarik tangan Jaejoong. Ahra yang merasa tidak dianggap hanya tersenyum kecut mengikuti mereka dari belakang. Dia segera bergabung dengan orang tuanya begitu mereka sampai di ruang tamu lagi.
"Kami pulang, Tuan dan Nyonya Jung." Pamit Tuan Kim membungkuk sopan.
"Kajja, Joongie." Jaejoong baru saja melangkah tapi tangannya dipegang oleh Kibum.
"E-eomma?" cicit Jaejoong heran.
"Aku ingin Jaejoong menginap disini." Ujarnya tiba-tiba.
Semua yang disana kaget dengan permintaan Kibum terutama keluarga Kim dan Yunho. Tuan Kim hanya bisa mendesah melihat kebiasaan istrinya yang sudah lama tidak ditunjukkannya.
"Eomma.."
"Diam kau, anak bodoh!" bentak Kibum sebelum Yunho selesai dengan kalimatnya. Yunho hanya menggerutu sebal.
Keluarga Kim masih diam ditempatnya mendengar permintaan Nyonya besar di rumah itu. Mereka merasa heran karena biasanya calon menantu yang diminta menginap oleh calon mertua, tapi ini? Adik dari calon menantu yang disuruh menginap?
"Apa Nyonya tidak salah bicara? Mungkin yang anda maksud adalah Ahra?" koreksi Nyonya Kim yang tanpa sadar diangguki oleh Ahra. Berharap, eoh?
"Aku tidak merasa salah bicara. Aku ingin Jaejoong menginap disini."
'Tapi Bummie..." kali ini sang kepala keluarga yang berusaha membujuk keinginan absurd sang istri.
"Aku ingin dia menginap disini, Jung Siwon!" kali ini Jaejoong tahu dari siapa sifat diktator Yunho berasal. Kibum benar-benar...
"Bummie.." bujuk Siwon lagi.
"Wonnie.. aku yakin Jaejoong juga ingin menginap disini. Benarkan, Joongie chagi~?" Jaejoong hanya mengerjapkan matanya layaknya manekin hidup saat Kibum menoleh kearahnya dengan wajah memelas yang membuatnya tanpa sadar mengangguk.
"Kyaaaa... kau imut sekali!" Kibum mencubit pipi chubby Jaejoong membuat Jaejoong meringis bahkan matanya sampai berkaca-kaca. Demi Tuhan, cubitan Kibum itu sangat sakit.
"Appoo..." ringisnya sambil mempoutkan bibirnya. Menambah kesan imut dimata Kibum.
"Aigooo, bagaimana bisa kalian memiliki anak secantik dan seimut ini?" pekik Kibum makin menjadi-jadi. "Aigooo... bisakah aku menjadikanmu pajangan? Pasti banyak sekali tamuku yang kagum padamu. Ah, bagaimana kalau kita bertukar? Kau ambil saja Yunho pabo itu dan Jaejoong menjadi anakku?"
"Bummie?! / Eomma?!" pekik Siwon dan Yunho bersamaan.
"Arasseo. Tidak perlu berteriak seperti itu, Jung! Aku tidak mau tahu, Kim Jaejoong harus menginap disini."
"Arasseo. Tapi bukan hanya Jaejoong yang menginap. Keluarga Kim juga akan menginap disini. Aku akan menyuruh maid menyiapkan tiga kamar untuk kalian." Putus Siwon saking frustasinya dengan sikap absurd sang istri yang entah kenapa bisa kambuh sekarang.
"Terserah kau saja. Yang penting Jaejoong akan tidur denganku malam ini."
"Mwo?! Lalu aku bagaimana, Bummie?" pekik Siwon tidak terima.
"Tidur saja dengan anakmu yang bodoh itu!" Kibum masih saja memojokkan Yunho.
"Ya! Daritadi eomma mengataiku bodoh?" pekik Yunho tidak terima dengan panggilan eommanya dan keputusan eommanya yang menyuruh sang appa tidur dengannya.
"Kau memang bodoh. Kajja, Joongie." Jaejoong menyempatkan untuk membungkuk meminta maaf pada semua orang yang ada disana. Terutama pada Siwon yang hana dibalas senyuman manis dari Siwon.
"Tapi, bisakah aku nanti malam keluar, ahjusshi? Aku ada janji dengan seseorang." Junsu menatap gugup kearah Siwon.
"Tentu saja. Siapa yang ingin kau temui? Namjachingumu?" tanya Siwon sedikit menggoda Junsu sedangkan yang digoda hanya mengangguk pelan dengan wajah memerah.
"Jadi kau benar-benar menjadi sepasang kekasih dengan si jidat lebar itu?" tanya Yunho yang langsung dibalas tatapan tajam dari Junsu.
"Sudah kukatakan jangan bicara denganku atau ku cincang kau!" sentak Junsu lagi, "Ahjusshi dimana kamarku? Aku ingin segera pergi dari hadapan namja itu sebelum aku benar-benar memutilasinya."
"Junsu!" bentak Mr. Kim yang hanya dibalas kedikan bahu oleh Junsu. Kedua orang tua Junsu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya yang tidak biasa itu.
"Baik. Sunny kau antar Junsu kekamarnya. Yoona antarkan Ahra dan kau Yuri, antar Tuan dan Nyonya Kim." Perintah Siwon yang langsung diangguki oleh ketiga maidnya itu.
Siwon memijit pelipisnya yang mendadak pening. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam keluarganya? Istrinya yang mendadak menjad lengket dengan Jaejoong yang notabene-nya adalah adk dari calon istri Yunho dan Junsu yang bertingkah seperti antis dari anaknya.
"Aku bisa cepat tua jika terus memikirkan ini." Gumamnya yang masih didengar Yunho yang duduk tidak jauh darinya.
"Appa tidak perlu takut tua karena apa memang sudah tua!" ejek Yunho sebelum berlari kencang menuju kamarnya di lantai dua.
"Ya!" bentaknya yang pasti tidak dihiraukan oleh anak satu-satunya yang sedang tertawa terbahak-bahak di kamarnya. Poor Siwon.
Di kamar Sibum, Jaejoong berdiri dengan raut wajah penuh rasa bersalah. "Apa tidak apa-apa begini, eomma? Aku tidak enak pada Siwon ahjusshi dan Ahra noona." Bisiknya.
"Sudahlah, biarkan saja mereka. Lagipula aku sedikit kurang suka pada noonamu itu." ujarnya terlalu jujur.
"Eomma bukan satu-satunya orang yang bilang begitu. Sebelumnya teman-temanku dan teman-teman Yunho sudah mengatakannya terlebih dahulu."
"See? Berarti aku tidak salah karena tidak menyukainya. Sudahlah, kajja tidur, Joongie. Nanti kita harus menyiapkan makan malam." Kibum membaringkan tubuhnya di atas ranjang sebelah kanan.
"Arasseo, eomma." Jaejoong akhirnya melangkah menuju ranjang dan menidurkan dirinya disebelah Kibum. Tidak lama kemudian, kedua namja cantik itu sudah terlelap masuk kedalam mimpi mereka masing-masing.
Mereka terlihat seperti mertua dan menantu yang harmonis, aniya? Bukankan orang tua terutama seorang eomma selalu bisa melihat mana yang terbaik bagi anak-anaknya?
Skip Time
Semua anggota keluarga Kim dan keluarga Jung sudah duduk di kursi yang disediakan. Mereka sedang bersiap untuk makan malam. Suasana disana sedikit canggung untuk Yunho Junsu dan Kibum Ahra. Pasalnya, sedari tadi Junsu mneatap Yunho seolah Yunho adalah tersangka kejahatan berat yang pantas untuk dihukum mati. Sedangkan Kibum yang terus mengacuhkan perhatian yang Ahra berikan padanya. Mr dan Mrs Kim juga Mr Jung sesekali menghela nafas di tengah pembicaraan mereka mengenai bisnis dan pernikahan ketika melihat suasana di ruang makan.
"Joongie hyung eodi, ahjumma?" tanya Junsu. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan hyung cantiknya itu.
"Eoh, dia sedang tidur di kamar ahjusshi dan ahjumma."
"Aish, dasar gajah pemalas berhati Hello Kitty!" cibir Yunho sedikit tidak nyambung yang langsung mendapat deathglare dari Kibum.
"Aku tidak tega membangunkannya. Dia terlihat sangat polos dan cantik saat tidur. Aku bahkan mengambil gambarnya." Kibum dengan semangat menunjukkan foto Jaejoong yang ada di ponselnya.
"Jinjja? Woaaa.. Jae hyung memang yang paling cantik di keluarga kami. Apalagi jika dibandingkan dengan eomma yang sudah keriput." Junsu berbisik di telinga Kibum yang berada tepat disampingnya –karena Jaejoong belum datang-.
"Aku dengar itu, Su-ie." Desisan dari ratu evil berhasil membuat Junsu meneguk ludahnya pelan kemudian tersenyum hambar kearah Mrs. Kim.
"Apa benar secantik itu?" Yunho yang mulai penasaran beranjak dari kursinya dan menghampiri Junsu dan eommanya yang bergosip dengan tema utamanya adalah Jaejoong.
"Ya! Jangan lihat-lihat! Kalau kau mau melihat wajah cantik, kau bisa melihat wajah yeojachingumu, kan?" larang Kibum dan Junsu. Yunho yang diperlakukan seperti itu hanya menggerutu.
"Lebih baik eomma cepat bangunkan gajah pemalas itu! Aku sudah lapar!" dengus Yunho tanpa sadar mengejek Jaejoong untuk yang kedua kalinya mengabaikan orang tua Jaejoong yang ada disebelahnya.
"Kenapa harus eomma? Kenapa tidak kau saja? Bukankah yang lapar itu kau, Jung?!" Kibum kembali pada acara bergosipnya bersama Junsu dan Mrs. Kim yang baru bergabung mengabaikan Yunho yang dengan kesal menuju kamar bumonimnya untuk membangunkan gajah tidur yang sudah menunda acara makan malamnya.
Yunho menghampiri ranjang orang tuanya dan menemukan Jaejoong yang tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher.
Author PoV End
Jung Yunho PoV
Aku berjalan sambil menggerutu tidak jelas karena sikap eommaku yang berubah semenjak kedatangan keluarga Kim. Aku juga tidak habis pikir dengan sikap yang eomma tunjukkan pada Jaejoong. Itu terlihat seperti bukan eommaku. Begitu ceria dan kekanakan. Eomma yang kukenal baik selama ini adalah sosok yang dingin dan datar. Bahkan dia tidak segan-segan bersikap selayaknya orang yang tidak memiliki perasaan jika ada yang mengusiknya.
Aku membuka pintu kamar orang tuaku tanpa menutupnya kembali dan menghampiri gundukan yang ada diatas ranjang. Disana aku melihat Jaejoong yang tidur dengan wajah polosnya ditutupi selimut berwarna putih hingga leher. Dia terlihat benar-benar bersinar layaknya malaikat. Aku mendadak lupa apa tujuanku kesini. Bukannya membangunkan namja yang tadi kupanggil gajah pemalas itu, aku malah duduk di pinggir ranjang berhadapan dengannya.
Lagi. Perasaan itu datang lagi setiap aku berdekatan dengannya hingga tanpa sadar aku mengangkat tanganku dan menyentuh kulit pipinya yang lembut tanpa cela. Kugerakkan tanganku mengusap pipinya sepelan mungkin agar tidak membuatnya bangun.
"Kenapa kau selalu membuatku begini?" bisikku pelan yang pastinya tidak mungkin ada jawaban. Jaejoong tetap tidur dengan deru nafasnya yang teratur menerpa tanganku. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan mendaratkan kecupan di keningnya setelah aku menyibak poni yang menutupinya.
"Kau tahu? Sekarang jantungku berdetak sangat kencang. Apa aku menderita penyakit jantung?" aku kembali mendaratkan ciumanku. Kali ini di pipinya yang chubby.
"Kenapa kau cantik sekali?" kucium ujung hidungnya dan itu membuatnya melenguh pelan. Aku terkekeh geli melihat bibirnya yang mengerucut dan bergumam lucu. "Apa yang kau gumamkan, eoh?" aku sengaja mendekatkan telingaku ke bibirnya.
"Jung Yunho pabooo.." gumamnya yang membuatku mengangkat kepalaku cepat. Bibirku tidak bisa untuk tidak tersenyum mendengar gumaman yang keluar dari bibirnya. Dia menggumamkan namaku itu berarti dia memimpikanku, kan? Yah, meskipun dia mengataiku bodoh.
"Apa yang kita lakukan dalam mimpimu?" tanganku yang tadi berada di pipinya berpindah tempat menyentuh permukaan bibirya yang begitu menggodaku.
"Dan kenapa kau selalu berhasil menggodaku?" aku mendaratkan bibir hatiku diatas bibir penuhnya. Dan aku merasakannya lagi. Rasa manis yang beberapa hari ini tidak kurasakan. Aku melumatnya pelan dan sangat hati-hati agar tidurnya tidak terganggu. Setelah –sebenarnya tidak akan pernah- puas merasakan manisnya, aku menjauhkan wajahku darinya.
Aku membenarkan letak selimutnya dan mencium keningnya lembut sebelum meninggalkannya. Kutatap wajahnya sekilas dan tersenyum kemudian menutup pintu kamar tempat sang malaikan tertidur.
"Omooo! Noona, kau mengagetkanku!" aku tersentak begitu menoleh aku mendapati Ahra noona yang sudah berada di sebelahku.
Jung Yunho PoV End
Author PoV
Yunho membenarkan letak selimut Jaejoong lalu mencium keningnya. Dia masih sempat tersenyum melihat Jaejoong sebelum menutup pintu kamar tanpa sadar bahwa orang yang tidur di dalam sedang menggumamkan sesuatu sambil tersenyum.
"Johaheyo, Yunnie.."
"Omoo! Noona, kau mengagetkanku!" pekik Yunho memegang dadanya yang berdetak kencang karena kaget. Ahra hanya tersenyum melihat reaksi Yunho.
"Mana Jaejoong?" tanyanya.
"Ah, dia masih tidur didalam, noona. Aku tidak tega membangunkannya. Kajja, kita kembali keruang makan, noona." Yunho berjalan mendahului Ahra tapi tangannya ditahan oleh tangan seseorang.
"Noona? Waeyo?"
"Hmm, Yunho ya. Bisakah kau memanggilku tanpa embel-embel noona?" pinta Ahra pelan.
Yunho yang ditanya hanya mengerjapkan matanya pelan kemudian tersenyum. Perlahan dia menarik tangannya dari pegangan Ahra, "Kurasa aku tidak bisa melakukannya, Noona. Walau kita sepasang kekasih, tapi kau tetap lebih tua daripada aku. Jadi, aku harus tetap bersikap sopan kepadamu. Mian. Kajja, kita keruang makan! Aku sudah sangat lapar!" Yunho melanjutkan langkahnya meninggalkan Ahra yang mematung di tempatnya sebelum tersenyum miris.
"Kau bahkan masih memberi jarak dalam hubungan kita, Yun. Tapi lihat saja nanti. Aku akan membuatmu mnejadi milikku. Bagaimanapun caranya, kali ini aku tidak mau kalah." Ahra menatap lekat pintu dimana ada Jaejoong yang tidur didalamnya sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Sedangkan yang berada di dalam kamar, "Tadi aku merasa ada Yunho disini? Tapi kenapa tidak ada orang? Apa hanya mimpi?" gumamnya sebelum menutup matanya kembali.
"Mana Joongie?" tanya Kibum begitu melihat Yunho dan Ahra yang tad disuruhnya menyusul Yunho turun dari lantai dua.
"Tidur. Aku tidak jadi membangunkannya." Jawab Yunho malas.
"Tidak biasanya dia seperti itu." gumam Mrs. Kim.
"Ne. Biasanya Jae hyung tidak pernah terlambat bangun." Timpal Junsu.
"Mungkin..." suara langkah kaki seseorang yang terburu-buru membuat Kibum tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Mereka menoleh kearah tangga yang menampilkan seorang namja cantik yang menuruninya tergesa-gesa.
"Tidak kusangka hyung berhasil selamat menuruni tangga dengan langkah seperti itu." Gumam Junsu.
"Eomma, kenapa tidak membangunkanku? Bukankah eomma bilang ingin memasak.."
Brughhh...
"Awww... appooo.." pekik Jaejoong tidak manly sama sekali.
"Baru saja kupuji."
"Joongie!" pekik Kibum, Mr dan Mrs Kim, juga Siwon begitu melihat Jaejoong yang jatuh terjerembab.
"Aigoo, gwaenchannayo?" tanya Kibum khawatir. Dia memapah Jaejoong agar duduk di kursi yang berada di sebelahnya.
"Joongie? Gwaechannayo?" tanya Mrs. Kim.
"Sudah kubilang hapus sifat cerobohmu itu. Kau sudah menjadi mahasiswi." Kali ini Mr. Kim yang bicara.
"Nan gwaechanna, Eommadeul. Appa sudah berapa kali kukatakan aku ini mahasiswa, M-A-H-A-S-I-S-W-A. Bukan mahasiswi." Rutuk Jaejoong.
"Tidak ada mahasiswa sepertimu." Cibir Yunho.
"Ya! Apa maksudmu?" tanya Jaejoong tidak terima.
"Mana ada mahasiswa yang jatuh karena tersandung kakinya sendiri saat berlari?" ejek Yunho menunjukkan senyum menyeringai yang amat sangat dibenci Jaejoong.
"Shikkeuro!" bentak Jaejoong akhirnya karena tidak memiliki kata-kata lain untuk membalas.
"Hahaha... kau lucu sekali, Jae." Puji Siwon di tengah tawanya membuat Jaejoong menutupi mukanya yang memerah malu.
"Benarkan, Wonnie? Bagaimana kalau Joongie tinggal disini? Pasti menyenangkan. Aku bisa melakukan apapun bersama Joongie." Kibum berfantasi seraya tersenyum kearah Jaejoong.
"Lalu aku bagaimana kalau eomma dan appa terus bersama anak gajah itu?" tanya Yunho yang hanya dibalas kedikan bahu tidak peduli oleh Kibum.
"Jangan panggil aku anak gajah lagi, atau garpu ini menancap di wajahmu, Jung Yunho!" Jaejoong mengacungkan garpu yang dipegangnya kearah wajah Yunho dengan wajah yang dibuat sejahat mungkin. Sedangkan yang diancam hanya mencebilkan bibirnya tanpa rasa takut.
"Sudahlah. Lebih baik kita mulai makan." Lerai Siwon. Mereka mulai menikmati makan malam setelah berdoa dipimpin oleh Siwon.
Skip Time
Acara makan malam sudah selesai. Junsu sudah berangkat dengan Yoochun sejak 1 jam yang lalu. Mr dan Mrs. Kim juga keluar karena ada pertemuan dengan klien. Jadi, dirumah hanya ada Mr dan Mrs. Jung, Yunho, Jaejoong, dan Ahra.
Kibum menemani Siwon yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumen perusahaannya. Siwon memang biasa membawa pekerjaan kantornya kerumah karena tidak ingin membuang moment berharganya bersama keluarga. Disebelah Kibum, Jaejoong tengah mengganti-ganti channel dengan wajah bosan.
"Eomma, Joongie keluar dulu, ne?" pamit Jaejoong kemudian berjalan ke taman yang tadi menjadi saksi bisu pengakuannya pada Kibum mengenai perasaannya pada Yunho. Setelah Jaejoong pergi, Kibum mengalihkan perhatiannya pada sang suami yang masih berkutat pada dokumennya.
"Aku tahu kau sedang tidak membaca dokumen itu, Wonnie. Katakan apa yang ingin kau katakan dan tanyakan apa yang ingin kau tanyakan." Ujar Kibum dingin berbeda dengan nada bicaranya pada Jaejoong tadi.
"Istriku sudah kembali ternyata." Gumam Siwon kemudian mendudukkan dirinya disebelah Kibum. Tangannya bergerak merangkul pundak sempit sang istri. Kibum sendiri menyamankan dirinya dalam rangkulan sang suami. Kepalanya di sandarkan ke dada bidang Siwon.
"Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu." Ulang Kibum membuat Siwon menghela nafas.
"Kupikir kau sedikit tidak adil pada Ahra. Aku tahu Jaejoong sangat cantik, akupun sangat menyukainya. Mak-maksudku menyukainya layaknya seorang ayah pada anaknya." Ralat Siwon begitu mendapat deathglare dari Kibum.
"Aku akan memutilasimu kalau kau berani selingkuh!" desis Kibum membuat Siwon meneguk ludah. Dasar suami-suami takut istri.
"Aku tidak akan selingkuh, chagi~. Kembali ke permasalahan awal. Aku pikir kau juga harus bersikap baik kepada Ahra. Dia calon menantu kita, chagi." Kibum mendongak menatap tepat di mata Siwon yang menatapnya lembut.
"Kau pikir aku tidak bersikap baik kepadanya? Kurasa itu sudah cukup baik." Bela Kibum. Kepalanya kembali dia sandarkan di dada Siwon. Tangan Siwon terjulur mengelus lembut rambut sehitam arang milik Kibum.
"Itu tidak cukup baik, chagi. Setidaknya perlakukan Ahra sama seperti kau memperlakukan Jaejoong." Siwon masih berusaha memberikan pengertian kepada istrinya yang keras kepala itu. dan sialnya sifat ini juga menurun pada penerus keluarga Jung.
"Kau mengenalku dengan baik, Siwonnie. Aku tidak bisa bersikap baik kepada orang yang tidak kusukai." Kibum mulai menjauh dari dada Siwon dan menampilkan wajah datarnya tanda dua tidak menyukai topik yang diungkit Siwon sekarang.
"Tapi Bummie, dia adalah calon menantu kita. Dia akan tinggal disini begitu dia menjadi istri Yunho. Kau tidak bisa terus bersikap seperti ini." Siwon terus membujuk Kibum tidak gentar dengan wajah datar yang ditunjukkan sang Snow White.
"Aku tidak peduli. Lagipula masih terlalu dini untuk membicarakan pernikahan mereka."
"Bummie.."
"Kurasa perdebatan ini sudah cukup sampai disini. Aku ingin menemui Jaejoong diluar." Kibum memotong ucapan Siwon dan melenggang pergi meninggalkan ruang tamu menuju taman. Dia yakin Jaejoong ada disana.
Dugaan Kibum terbukti benar. Begitu sampai di taman, dia menemukan Jaejoong yang duduk di salah satu kursi taman dengan tatapan lurus kedepan.
"Joongie.." Kibum menepuk pelan pundak Jaejoong membuat Jaejoong tersnetak kaget.
"Kibum eomma? Waeyo?" tanyanya.
'Masuklah, diluar sudah mulai dingin. Eomma akan menyiapkan susu coklat untukmu agar kau cepat tidur."
"Ne, eomma." Jaejoong segera masuk kedalam rumah tanpa berpamitan kepada Kibum yang membuat Kibum sedikit heran. Jaejoong terus berjalan meninggalkan Kibum yang masih diam ditempatnya. Yang ada di otaknya adalah bagaimana caranya dia menata hatinya.
Author PoV End
Kim Jaejoong PoV
Aku membaringkan badanku dengan berat diatas ranjang. Pikiranku sama sekali tidak mau bekerja sama denganku. Aku sudah memerintahkannya untuk berhenti, tapi tidak bisa. Aku tidak bisa melupakan permintaan Ahra noona tadi.
Flashback On
Aku mendudukkan diriku di salah satu kursi dekat dengan sumber penerangan. Pemandangan disini tetap terlihat indah meskipun dengan penerangan minim, aku benar-benar menyukainya.
Aku baru saja memejamkan mataku ketika pundakku mendapatkan tepukan pelan. Saat mataku terbuka, aku menemukan Ahra noona yang berdiri di sebelahku. Tidak seperti biasanya, dia menunjukkan wajah murungnya dihadapanku. Wae?
"Waeyo, noona?" tanyaku penasaran. Aku menggeser dudukku memberikannya tempat untuk duduk. Ahra noona mendudukkan badannya disampingku dengan mata yang menengadah menatap bintang-bintang yang bertabur di langit. Meskipun langit cerah, cahaya bulan tertutupi oleh awan-awan nakal yang iri dengan sinarnya.
"Kau tahu, Jae? Kalau kita dibandingkan dan disamakan dengan benda langit, aku adalah bulan dan kau adalah bintang."
"Bukankah noona sangat istimewa disamakan dengan bulan?" pikirku. Bulan seringkali dianggap sebagai lambang kecantikan, kan?
"Dilihat sekilas memang begitu. Tapi tidak." Aku menengok kearah Ahra noona yang tengah tertawa sendu.
"Noona?" bisikku. Meskipun hubungan kami tidak terlalu baik seperti layaknya saudara, tapi aku sangat menyayanginya.
"Bulan hanya cantik saat malam, tapi bintang tidak."
"Bintang juga terlihat waktu malam, Noona. Kita sama." Aku berusaha membesarkan hatinya. Aku tidak ingin noona sedih.
"Tidak. Bintang tetap memiliki cahaya sendiri meskipun mereka tidak terlihat. Mereka berdiri sendiri dan dikagumi banyak orang. Sedangkan bulan, dia tidak akan bersinar jika tidak ada bintang. Bulan tidak ada apa-apanya dibanding bintang. Dan aku tidak bisa mengalahkanmu, Joongie." Aku tersentak mendengar suara Ahra noona yang bergetar.
"N-noona?" aku berusaha menyentuhnya tapi tanganku berhenti di udara. Aku ragu karena selama masa remajaku, aku hampir tidak pernah bersentuhan dengan Ahra noona.
"Kau ingin dengar cerita?"Ahra noona sedikit menjeda kalimatnya dan menoleh kearahku. Akupun mengangguk menanggapi kemauan Ahra noona. Mungkin dnegan begini suasana hatinya akan lebih baik. "Tapi kau tidak boleh memotong ceritaku sama sekali." Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Memang apalagi yang bisa kulakukan?
"Aku bukan anak kandung appa dan eomma. Aku adalah anak yang mereka angkat dari panti asuhan sebelum kau lahir. Baru satu tahun kemudian kau lahir. Awalnya aku merasa sangat senang memiliki adik secantik dirimu, menepuk dada bangga saat semua orang memujiku yang memiliki adik yang sangat cantik. Tapi lambat laun aku sadar, bukan aku yang mereka puji, bukan aku yang mereka lihat. Tapi kau. Aku masih berusaha tidak peduli sampai Junsu lahir dan beranjak remaja. Dia lebih dekat denganmu dan terkesan tidak terlalu menganggapku. Appa dan eomma juga mulai berubah. Mereka bertiga selalu mengistimewakan dirimu. Mengatakan kau adalah Princess di keluarga Kim mengabaikan ada sebuah hati yang hancur saat itu." Ahra noona menghentikan ceritanya dan mengusap air mata yang mengalir. Aku ingin menghiburnya tapi aku tidak bisa. Yang dikatakan Ahra noona semuanya benar, "Aku berusaha untuk tetap bersikap baik padamu, tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar sudah tidak sanggup berada dalam bayang-bayangmu. Aku bosan menjadi bulan. Aku ingin menjadi bintang satu kali saja. Maukah kau membantuku?" aku menatap mata Ahra noona yang memerah dengan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja. Jadi karena ini hubunganku dan Ahra noona menjadi jauh? Tanpa pikir panjang, aku menganggukkan kepalaku pelan setuju untuk membantunya jika itu memang bisa membuat hubungan kami kembali seperti semula.
"Aku tahu kau menyukai Yunho dan kurasa Yunho juga menyukaimu." Gumamnya dengan kepala tertunduk. Sedangkan aku tersentak kaget.
"Noona, itu tidak seperti yang noona pikirkan! Aku.."
"Bisakah kau relakan Yunho untukku?"
"Mwo?!" tanpa sadar aku berteriak mendengar permintaan Ahra noona. Menyerahkan Yunho? Aku bahkan baru saja berencana untuk mendekatinya.
"Bisakah kau mengalah kali ini? Kau sudah mengambil perhatian semua orang. Bahkan Kibum eomma yang akan menjadi mertuaku lebih menyukaimu daripada aku. Bisakah untuk kali ini kau mengalah padaku? Bisakah kau menyisakan sesuatu untuk kumiliki dan kupertahankan?" aku tetap diam dengan pandangan lurus. Tuhan, kenapa begini?
"Jae, kau sudah berjanji membantuku menjadi bintang, kan? Dan aku membutuhkan Yunho untuk itu. Kumohon, hiks... Baru kali ini aku meminta padamu dan aku berjanji ini adalah yang terakhir. Hiks.." aku menoleh kearah Ahra noona yang bahunya mulai bergetar. Perlahan kurengkuh badannya kedalam pelukanku.
Kenapa ini yang kau minta pada permintaan pertama dan terakhirmu, noona? Aku bisa memberikanmu apapun –termasuk gelar Princess Kim- yang kumiliki, tapi kenapa harus ini? Aku baru saja mengakuinya. Aku baru saja berencana untuk memilikinya. Dan aku baru saja berkhayal bagaimana aku dimasa depan bersama Yunho yang menjadi suamiku.
"Aku hanya ingin bahagia, Jae. Aku sudah melepaskan kebahagiaanku yang berhasil kau rebut. Tidak bisakah kau mengijinkan aku kali ini?" lirih Ahra noona lagi. Sekuat tenaga aku mencegah air mata yang ingin keluar.
Aku memejamkan mataku memikirkan kepurtusan yang paling baik dari ini semua. Aku harus melepaskan Yunho untuk Ahra noona atau mempertahankan Yunho seperti yang disarankan Kibum eomma? Aku terus memikirkan semuanya hingga lima menit kemudian aku membuka mataku. Ya, aku sudah menentukan pilihan.
"Apa noona akan bersikap baik jika aku menyetujui permintaan noona?" tanyaku. Sebisa mungkin aku mencegah getaran dalam suaraku.
"Yaksok. Aku akan memperhatikanmu lagi."
Aku kembali memejamkan mataku. Tuhan, semoga ini adalah pilihan yang terbaik.
"Aku serahkan Yunho padamu, Noona. Raih kebahagiaanmu. Aku mendoakanmu disini. Jadilah bintang yang bersinar." Aku bisa meiihat senyuman terukir di bibir noona.
"Gomawo, Joongie. Gomawo."
"Pergilah temui calon suamimu." Aku sedikit mendorong bahunya terkikik melihat wajahnya yang memerah malu.
"Jja, Joongie. Jaljjayo."
"Ne." Aku melambaikan tanganku semangat dengan senyum terukir di bibirku. Tapi senyum itu luntur begitu Ahra noona memasuki rumah. Aku melamun sampai Kibum eomma datang dan menyuruhku masuk
Flasback Off
Kim Jaejoong PoV End
Author PoV
"Aku tidak bisa mempertahankan Yunho, Kibum eomma. Meskipun aku mencintainya, tapi noonaku jauh lebih membutuhkannya. Aku tidak menyangka aku bisa menjadi orang jahat dan egois selama ini." Bisik Jaejoong pelan.
Di tengah kekalutan pikirannya, Jaejoong mengingat pesan Haraboji yang ditemuinya di halte bus kemarin. "Sepertinya cintaku berakhir sampai disini, Haraboji. Mian, aku tidak bisa mempertahankannya."gumamnya lagi makin lirih. Matanya mulai berembun tapi dia menahannya.
"Setidaknya Ahra noona bisa menjaga Yunho untukku." Jaejoong menampilkan senyum pahit dibibirnya, "Meskipun berkata begitu, tapi disini sangat sakit. Eoteohkke? Eotteohkaji?" gumamnya makin lirih sebelum jatuh tertidur.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Kibum dengan nampan ditangannya tersenyum. Diletakkannya nampan yang dibawanya di atas meja nakas.
"Kau tidak jahat dan egois, chagi.. Tidak sama sekali. Kau adalah malaikat paling baik yang pernah eomma temui. Malaikat yang sayangnya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk meraih kebahagiannya secara utuh." Kibum mengelus kepala Jaejoong lembut kemudian mencium keningnya. Ya, Kibum mendengar semua yang dikatakan Jaejoong. Dia tidak percaya ada orang setulus Jaejoong. Matanya berkaca-kaca terharu.
"Apa kau sangat mencintai Yunho? Apa begitu sakit saat kau melepaskannya sampai kau menangis dalam tidurmu, chagi?" Kibum menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Jaejoong yang terpejam.
"Eomma berdoa untuk kebahagiaanmu, chagi." Bisik Kibum sebelum membaringkan tubuhnya disamping Jaejoong. Memeluk malakat yang sudah dianggapnya anak itu kemudian ikut terpejam bersamanya.
"Eomma harap kau tidak menyesal menyia-nyiakan namja ini, Yunho ah." Gumam Kibum yang pasti tidak akan didengar oleh namja yang dituju sebelum benar-benar masuk kealam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
END
Horeeeee... akhirnya End juga.. #plak
Kereeenn kan endingnya? #tepokdada..
.
.
.
Tapi Boong Cin..
TBC
Eotte? Konfliknya udah berasa, kan? Mau di lanjut ngga?
Perasaan makin kesini makin absurd deh. Menurut gue sih.
Yang berharap penyiksaan Yunbear, bakalan muncul di chap 12. Udah gue siapin, tinggal publish doang kalo review disini memuaskan... wkwkwk...
Gue udah mulai masuk kuliah, so FF ini bakalan terabaikan...
