Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+
Warning : Typo, OOC, OCs bertebaran, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.
.
Chapter 10 : Menang Tanpa Kesombongan, Kalah Tanpa Putus Asa (Kecuali Menyerah di Tengah Jalan)
.
—1 jam yang lalu—
Souza, Ookurikara, Honebami.
Sebuah kombinasi yang tak biasa, sedang beraktivitas di halaman depan citadel. Kegiatan yang menyatukan mereka kali ini adalah giliran tugas harian -dalam hal ini, mereka sedang membersihkan halaman depan citadel yang luasnya bukan main.
Srak srak srak, bunyi kaki dan sapu bertemu hamparan kerikil, satu-satunya sumber suara selain kicauan burung di siang hari.
Ketiganya melanjutkan tugas dalam diam tanpa mengangkat pembicaraan. Biasanya suara-suara para tantou Awataguchi mengisi suasana, tapi saat ini sebagian sedang bertugas di kebun.
Dikarenakan kata-kata sang saniwa tentang bagaimana ia 'senang sekali dengan hasil panen mereka' membuat mulut Sayo yang jarang tersenyum langsung melebar. Memang tantou itu yang paling tekun kalau urusan bercocok tanam dan paling sering mengawasi ladang. Akhirnya setelah itu para tantou memulai kursus 'cara menanam bibit tanaman yang benar' dipandu oleh Sayo Samonji.
Ya, karena tak seperti RNG, hasil ladang dapat ditentukan oleh kerja keras. Hmph.
Omong-omong mengenai kejamnya sistem RNG, kali ini pun Honebami mengira sang saniwa dan unit utama mereka pergi karena mencari naginata yang tak kunjung datang.
Namun mengingat kejadian dua hari kemarin yang membuat kondisi semua penghuni honmaru mereka kacau, kali ini sang saniwa pergi untuk memeriksa suatu tempat yang diperkirakan dapat memberikan mereka jawaban.
"Ah," tiba-tiba Souza Samonji berhenti menyapu dedaunan, membuat Honebami berhenti melamun. "Ookurikara, apa gerbang kayu di belakang sudah diganti?"
"…Sedang diperbaiki Ishikirimaru."
Ditambah kejadian kemarin malam, dimana Nikkari Aoe dan Ishikirimaru merasakan aura misterius yang berkumpul tak terlalu jauh dari area belakang citadel mereka. Dengan bantuan Konnosuke mereka meneliti area tersebut, dan menemukan sebuah portal cahaya biru kecil.
Karena letaknya di luar area perlindungan Saniwa mereka, serta aura berbahaya yang diberikan, Nikkari dan Ishikirimaru segera saja berusaha menghilangkan benda itu.
Untungnya tak banyak yang terbangun ketika ternyata setelah dihancurkan, benda itu malah meledak dan menghempas keduanya ke arah tembok kayu tinggi pemisah bagian luar dengan kebun citadel.
Alhasil, sebelum sang saniwa berangkat pergi, perempuan itu menitip pesan agar siapa pun yang sedang senggang membantu Ishikirimaru untuk membenahi pagar tersebut.
(Nikkari Aoe sedang bertugas di kandang kuda, jadi Otegine dan Mutsu memutuskan untuk membantu membenahi pagar.)
Sungguh pagi hari yang diawali dengan kehebohan.
Honebami menguap.
Kurang tidur, sebagian besar penghuni citadel juga seperti itu. Apalagi saniwa mereka. Yamanbagiri Kunihiro sudah menggelengkan kepala tak setuju ketika tuan mereka itu berangkat dengan unit satu mereka dengan kantung mata terlihat jelas.
Sesuatu bergerak di ujung mata Honebami. Arah pandang Ookurikara membuktikan kecurigaannya.
"Hup."
Honebami mengangkat salah satu harimau Gokotai yang hendak memanjat pohon di dekatnya. Salah satu dari lima. Untuk sementara akan ditaruhnya harimau kecil itu di dekat teras depan.
Saat ia menoleh lagi, udara berdenyar dan sebuah portal terbuka di pintu gerbang.
"Mereka sudah kembali—"
Sama seperti Souza, Honebami menangkap sebuah pemandangan yang nyaris membuat jantung manusia-nya berhenti.
Beberapa kali, unit yang pergi tak selalu kembali dengan keadaan baik. Terkadang satu-dua toudanshi terluka dan sangat kelelahan.
Namun langka melihat Mikazuki Munechika membantu Hachisuka Koutetsu berdiri, keduanya babak belur. Begitu pula sang saniwa, dengan tangan kiri terluka, menurunkan Sayo dari gendongannya. Imanotsurugi berguling masuk dengan limbung, energinya tadi pagi hilang entah kemana.
Mata Honebami menangkap sosok dalam gendongan Jiroutachi, seragam Awataguchi penuh darah dan lengan terkulai itu…
Tampaknya Ookurikara juga melihat para pasukan yang memasuki portal gerbang kuil, karena detik berikutnya ia membunyikan lonceng utama.
Honebami tersentak ketika mendengar suara Yagen yang pertama kali muncul setelah bel dibunyikan.
"Honebami-nii-?"
Wakizashi bersurai putih itu berusaha berbicara dengan suara bergetar.
"Hirano terluka parah."
Yagen terpaku menatap gerbang kuil, sebelum mengagguk cepat.
"Akan kusiapkan ruangan perbaikan."
Souza sudah berlari ke arah Sayo, berlutut mensejajarkan diri dengan saudara satu penempanya itu. Honebami sendiri dengan cepat menghampiri Hirano.
"Apa yang terjadi?!"
Sang saniwa tak langsung menjawab, berbalik ke arah gerbang kuil dan mengeluarkan hologram dengan napas lega. Perempuan itu sibuk memeriksa barrier gerbang.
"Kami lengah. " Jiroutachi yang menjawab pertanyaan dari Souza itu, sambil memeriksa perban darurat yang ia buat di perut Hirano. "Sudah kututup sebisa mungkin. Apa ruang perbaikan sudah siap?"
Kelompok kecil mereka bergerak cepat, Yagen yang dengan sigap sudah menyiapkan semua keperluan di ruang perbaikan memberi arahan dengan cepat.
"Maaf, ini salahku."
Honebami tak melepaskan tangannya dari genggaman Hirano. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari ucapan sang saniwa itu ditujukan pada dirinya dan Ichigo, yang baru datang bersama Horikawa.
"Jelas-jelas ini salahku karena lengah. Ichigo, aku minta maaf." Jiroutachi menepuk-nepuk kepala sang saniwa, lalu menunduk ke arah tachi yang baru datang itu. Oodachi itu sendiri terluka ringan, memar menghiasi pipi dan tangannya.
Ichigo Hitofuri hendak mengatakan sesuatu, sebelum menggelengkan kepala dan berkata dengan lega. "Yang penting anda semua kembali dengan selamat."
Suasana masih tegang, semua yang ada di dalam ruangan itu menginginkan penjelasan. Apa yang sebenarnya unit satu mereka temukan di luar sana?
Honebami baru menurunkan bahu ketika Yagen menghela napas lega.
"Tikamannya pasti meleset, tidak mengenai paru-paru." Yagen menyeka kening Hirano. "Sudah kujahit. Biarkan dia istirahat sekarang."
"Terima kasih, Yagen." Kata sang saniwa, lalu menoleh ke arah lima toudanshi lainnya. "Yang lain juga. Tinggalkan pedang kalian disini."
Di dalam ruang perbaikan yang luas itu, Yagen mulai memerikas lima toudanshi lain yang baru kembali. Honebami juga mulai membantu Mikazuki dan Hachisuka membebat luka-luka mereka.
"Terima kasih." Ujar Mikazuki setelah Honebami selesai.
"Istirahatlah." Honebami hendak berdiri, namun terdiam sejenak. "…Apa yang sebenarnya terjadi? Area yang kalian datangi harusnya tidak terlalu berbahaya."
"Ah… Kami berpindah tempat di tengah jalan," Mikazuki menatap murung ke arah sang saniwa, "Lalu ada musuh baru dan sedikit masalah, dan Saniwa-san tak bisa menggunakan portal-nya seperti biasa, harus memakai cara lain."
Keduanya memandangi perempuan yang memunggungi mereka. Sang saniwa sibuk di ujung ruangan, di sebelahnya ada bilah-bilah besi berjejer rapi di atas rak khusus. Tangan kanan di pangkal pedang, tangan kiri dengan fukusa memegang bilah dingin besi. Dengan hati-hati sang saniwa memeriksa dan membersihkannya.
Sang saniwa baru bisa menghela napas lega setelah memastikan bilah pedang Hirano.
Mulutnya yang tersenyum berubah meringis.
Perempuan itu baru merasakan nyeri di lengannya ketika Horikawa Kunihiro menggulung lengan kosode putih yang ia kenakan. Perban darurat yang dibuat tergesa segera dilepas. Kain basah yang dipakai menyeka lengannya juga mulai menyerap warna merah pekat dari garis miring di siku hingga pergelangan tangan.
"Sampai kapan mau dibiarkan begini," Horikawa Kunihiro berkata, memakai nada yang biasa dia pakai untuk memisahkan Yamanbagiri dengan kain tudungnya saat hendak dicuci. "dibiarkan terus bisa infeksi, Aruji-san."
"Tidak terlalu dalam kok—Aduh." Gumam sang saniwa, mendesis ketika alkohol menyeka pelan lukanya.
Dalam hati, Horikawa menyetujui kekesalan saudaranya. Melihat raut wajah sayu saniwa mereka yang biasanya minta dijitak ini sekarang membuatnya sungguh khawatir. Ditambah kondisinya yang kurang tidur dan sekarang kembali dari garis depan dengan seluruh anggota unit terluka…
"Apa kalian melihat Konnosuke?" Tanya perempuan itu tiba-tiba.
"…? Tidak, dia selalu pergi kalau anda keluar kan?"
Sang saniwa hendak berbicara lagi ketika sebuah hologram merah berkedip di hadapannya.
"Ah, baru saja aku mau melapor…" Sang saniwa bergumam sambil membaca apa yang tertera di hologram itu, semakin lama dengan kening semakin mengerut.
Horikawa baru mau membalut lengannya dengan perban gulung, ketika sang saniwa bangkit berdiri.
"Lenganmu-"
"Ah? Oh..." Perempuan itu kembali duduk, membiarkan Horikawa membebat lukanya sampai selesai, barulah ia berjalan keluar ruangan.
"Kalau ada apa-apa, aku di kamar. Tolong bilang ke yang lain, nanti sore kita rapat membahas misi hari ini. Terima kasih, Hori-chan!"
Sang saniwa segera berlalu.
Horikawa Kunihiro memandangi sosok itu menghilang sebelum menghela napas kesal.
.
—Kira-kira 5 jam yang lalu—
.
Oumi no Kuni -Provinsi Oumi, tempat shikken pertama, Hojo Tokimasa, menjadi daimyou bagi daerah ini. Naik ke ketinggian tertentu, dan mereka dapat mengagumi pemandangan Danau Biwa serta Kyoto.
Lebih tepatnya, mereka dapat melihat pemandangan itu jika menaiki Kastil Azuchi.
Sang saniwa memeriksa hologram, yang menampilkan data tentang Era Azuchi-Momoyama atau disebut juga Era Shokuhou –dari 2 kanji pertama nama Oda dan Toyotomi. Sama seperti energi aneh yang sempat terdeteksi di halaman belakang tadi subuh, ia memeriksa era ini, sesuai laporan yang ia dapat.
Mikazuki, Imanotsurugi, Hirano, Sayo, Jiroutachi, Hachisuka. Awalnya mereka berpencar, berdua-dua. Sang saniwa menetapkan berapa jarak dan area yang harus mereka periksa sebelum bertemu kembali di dekat kastil.
Bersama dengan Konnosuke, perempuan itu pergi memeriksa daerah dengan perkiraan tingkat bahaya paling rendah.
"Tak ada yang aneh disini." Gumam sang saniwa.
Mereka dalam perjalanan kembali ke titik temu mereka. Berjalan di udara yang panas, berlindung hanya dengan berteduh di bawah pohon, membuat kepalanya semakin pening.
Ketika mereka sampai dipinggir hamparan air luas itu, ia harus menahan diri untuk tidak menceburkan seluruh tubuhnya di dalam danau. Sang saniwa hanya bisa berpuas diri dengan air segar mencuci wajahnya.
"…Apa akunya terlalu khawatir saja?"
"Mengenai laporan aura aneh itu?"
"Mm."
Sambil berpikir, jemari sang saniwa sibuk menciprat Konnosuke dengan air.
"Lebih baik berhati-hati dahulu, tidak ada salahnya untuk memeriksa." Jawab Konnosuke.
"Dan untung sejauh ini tidak ada apa-apa." Sang saniwa mengangguk.
Konnosuke mengibaskan seluruh tubuhnya, bulu-bulunya mengembang. Kaki depannya mengais udara dan memperlihatkan beberapa hologram, dengan tampilan yang agak berbeda dari milik sang saniwa.
"Ada beberapa saniwa lain yang juga memeriksa lokasi-lokasi dengan laporan aura spiritual yang tak biasa."
"Hm? Jadi bukan di daerah ini saja?"
Sang saniwa menatap hologram yang ditampilkan rubah itu, memandangi bentuk titik lingkaran yang menyebar di sekitar area berwarna gelap.
"Musashi no Kuni ya…. Mulai banyak saniwa baru yang mengambil tempat disana, kan?"
Atau setidaknya itu yang dia dengar. Sang saniwa sendiri rajin membaca isi forum mereka, kadang-kadang saja mengetahui tentang kondisi terbaru dari tempat saniwa lain, selain yang ia kenal dekat.
"Anda benar. Lalu, banyak yang kekuatan spiritual-nya tinggi mengambil tempat di Musashi no Kuni." Konnosuke menggoyangkan ekornya dan menunjukkan sebuah diagram pada sang saniwa.
"Hmm…"
Tempatnya di Sagami sudah penuh, meski ia jarang bertemu dengan rekan-rekan lainnya, karena mereka jarang berada di alur waktu yang sama. Musashi ada di perbatasan atas Sagami. Mungkin saja di lain kesempatan ia bisa disuruh bekerja sama dengan beberapa saniwa lain disana—
Sang saniwa membuka hologramnya sendiri, menampilkan sebuah peta, membandingkannya dengan milik Konnosuke yang memiliki titik-titik biru berkedip.
Suruga, Izu, dan Kai masih belum dibuka. Hanya dua tempat ini saja yang sudah bisa diakses untuk dijadikan daerah tempat tinggal.
Titik temu di antara keduanya….
"Konnosuke, berapa jumlah saniwa di Sagami dan Musashi sekarang?"
"Apa?" Kaki depan Konnosuke menyentuh moncongnya sendiri. Telinganya bergerak-gerak.
Kini keduanya membuka hologram yang sama.
"Ah, begitu ternyata!" Kata sang saniwa. "Karena kekuatan spiritual para saniwa yang berkumpul diperbatasan, kekuatan aneh itu juga merapat disana."
"Lalu, aura spiritual aneh di tempat ini…?" Konnosuke kebingungan. "Kekuatan spiritual disini aslinya biasa saja. Lalu letak Oumi dan Sagami jauh!"
Sang saniwa menggeser hilang hologram sebelumnya, membuka layar lain yang menampilkan posisinya saat ini.
"….Menghilang? Tidak, berpindah tempat—Oh."
Layar hologramnya menunjukkan sebuah titik yang tiba-tiba muncul, membuat warna di daerah perbatasan Sagami dan Musashi semakin gelap.
"Tidak bagus."
"Apa yang akan anda lakukan, Saniwa-san?" Telinga Konnosuke naik, ekornya bergerak gelisah.
"Tolong hubungi pusat. Aku akan membuka portal." Perempuan itu berdiri dan menggulung lengan baju. "Seharusnya yang lain akan sampai sebentar lagi. Kita akan pindah ke koordinat itu."
"Baiklah!"
###
Mereka keluar di daerah suatu gunung. Tidak terlalu tinggi, namun mereka berdiri di area terbuka dan bisa melihat pepohonan di bawah mereka. Ada sebuah pemukiman di bawah sana.
"Ah, sebuah desa kecil." Mikazuki berkomentar.
"….Terlalu sepi." Sayo Samonji menyipitkan mata, curiga. "Atau mereka berpindah tempat karena gagal panen…"
"Kita periksa dulu." Sang saniwa mengambil tessen dari balik baju. "Apa desa ini punya nama, Konnosuke?"
"Akan segera saya—"
Tampak rubah virtual itu mendadak terpatah di udara.
Sang saniwa tampak cemas.
"Konnosuke?"
Rubah itu tampak berusaha mengatakan sesuatu, namun suara-nya terputus-putus, lalu tubuhnya menghilang tiba-tiba di udara kosong.
"Uh." Sang saniwa berusaha mengeluarkan hologram, tapi dari tangan yang mengibas udara itu tak muncul apa pun. "Sangat tidak bagus, apa yang terjadi di pusat sana…?"
"Apa kita terperangkap disini, Aruji?" Tanya Hirano, mengerutkan keningnya dengan khawatir.
"Ya, semoga tidak lama." Perempuan itu menarik napas. "15 menit, kalau Konnosuke masih belum muncul, aku akan—"
Mereka semua menangkap sebuah suara gerungan keras dari arah desa itu.
"Apa kita harus memeriksanya, atau menunggu Konnosuke kembali?" Hachisuka Kotetsu bertanya pada sang saniwa.
Mereka tak perlu menunggu lama untuk mendapat jawaban.
"Prioritaskan tugas kita terlebih dahulu. Hal sekecil apa pun, seperti desa itu, bisa saja merubah alur sejarah."
###
Dalam waktu 15 menit, Konnosuke belum juga muncul, dan mereka tiba di desa di bawah mereka itu.
"Hmm…? Tidak ada siapa-siapa?"
Jiroutachi, setengah mabuk namun masih tampak sadarkan diri, menatapi jalan lurus yang diapit rumah-rumah. Semua barang rapi di tempat, tak ada tanda-tanda keributan.
"Eh? Tapi kita mendengar suara mereka tadi." Imanotsurugi sudah melompat ke atas atap terdekat, melihat ke sekelilingnya.
"Tidak ada musuh…" Hirano berlari menuju rumah teredekat. Pintu kayu dari gubuk kecil itu terbuka lebar. "Tidak ada orang di dalam sini."
Saniwa mereka sendiri ikut memeriksa isi rumah lain. Sama kosongnya, tempat itu seperti desa mati.
Namun, dari kondisi rumah-rumah yang masih baik dan ladang mereka yang masih bagus, dibiarkan begitu saja…
"Aruji-san."
Panggilan dari Mikazuki membuat perempuan itu keluar dari rumah yang sedang ia periksa.
Mikazuki menunjuk ke arah sesuatu di akhir jalan, siluet satu tachi musuh, tampak membelakangi mereka dan berdiri di atas sisa-sisa kayu api unggun yang kering.
Sang saniwa dan Mikazuki berjalan mendekat dengan hati-hati. Anggota unit mereka yang lain menyadari apa yang mereka lihat dan ikut berjaga-jaga.
Belum sempat melihat ke arah kedua pendatang baru, tachi musuh itu sudah ambruk ditembus sesuatu yang jatuh dari langit.
Sang saniwa menahan napas.
Nagae Yari, sebuah senjata yang biasa digunakan pasukan ashigaru…
Sang saniwa melompat mundur tepat waktu ketika petir biru sian mengalir dari tombak itu dan meledak.
"Semuanya, hati-hati!"Teriak perempuan itu. Tangan otomatis menyapu udara, sebelum teringat hologramnya tak bisa muncul. Tak bisa memeriksa musuh apa yang keluar dengan cara tak biasa ini, sang saniwa menahan sumpah serapahnya.
Jelas enam sosok berikutnya yang tampak setelah ledakan mereda ini bukan musuh mereka yang seperti biasa.
Raut wajah sang saniwa seperti menelan cuka.
"…Kalian tak seharusnya ada disini."
Suara yang licin dan dingin seperti es, membuat bulu kuduk merinding, terdengar dari mahluk yang kini memegang nagae yari tersebut.
Imanotsurugi sudah melompat turun ke samping sang saniwa, terpaku kaget melihat para pendatang baru itu. Hirano berlari ke depan sang saniwa, memasang posisi bertahan dengan waspada.
"…Apa kalian melakukan sesuatu pada desa ini…?" Tanya sang saniwa.
Dibilang seperti jikansokougun biasa pun, ada yang berbeda dari pemegang nagae yari itu.
"Bukan kami yang hendak mengacaukan desa ini," lagi nagae yari itu berkata, "tapi kami berhasil menghentikan mereka sebelum hal itu terjadi."
Penggunaan 'kami' dan 'mereka' yang digunakan lawan bicaranya membuat sang saniwa semakin mengernyit.
"Jadi, siapakah kalian?"
"Kami adalah Kebiishi."
Mau tak mau, sang saniwa menyadari bagaimana Imanotsurugi tersentak ketika mendengar kata itu. Perempuan itu pun juga mengenalinya. Sebuah nama familiar dari tulisan-tulisan sejarah zaman Heian.
"Kebiishi? Kenapa bisa ada disini?" Mikazuki Munechika menyuarakan pertanyaan dalam kepala sang saniwa. "Apa mereka sekutu kita? Mereka juga melawan jikansokougun…"
Sang saniwa tak menjawab. Ia sendiri tak tahu.
"Tapi apa yang kalian lakukan terhadap penduduk desa ini?" Sang saniwa memutuskan untuk bertanya lagi. Masih menjaga jarak dengan para Kebiishi, dalam hati menghitung berapa waktu lagi yang diperlukan agar dari pusat sana memperbaiki masalahnya yang tanpa hologram dan portal.
"Kami hanya memberi premonisi," Nyala terang dari rongga bola mata kosong itu menatap sang saniwa, "belum waktunya bagi mereka. Yang akan mati tidak harus mati hari ini."
Mimpi-mimpi kemarin itu, sang saniwa kini mengetahui sumber masalah mereka.
Jemarinya mengetuk tessen dengan gelisah. Hampir 30 menit.
"Dengan kata lain…. Kalian juga berusaha menjaga alur sejarah dari jikansokougun."
"Jikansokougun…"
Keringat dingin mulai mengalir di tengkuknya ketika bilah pedang para Kebiishi dihunuskan ke arah mereka. Variasi nagae yari dan yari, ada dua tachi, oodachi serta naginata.
"Jikansokougun, dan juga kelompok kalian, orang-orang dari masa depan."
Dengan secepat kilat, bilah nagae yari beradu dengan tantou Hirano. Toudanshi itu memekik kaget dan terdorong mundur, namun berhasil menahan serangan itu.
"Kami sudah memberi peringatan juga kepada kalian," masih dengan nada hampa tanpa emosi, nagae yari itu berbicara, "datang ke tempat ini dalam jumlah banyak… Kami tidak dapat membiarkan kalian pergi."
Konnosuke tak sempat memberikan jumlah angka saniwa padanya, namun teorinya tadi ternyata benar.
Yang tentunya membuat keadaan mereka sekarang sangat tidak bagus.
Sang saniwa berusaha lagi untuk mengeluarkan hologramnya. Kali ini berhasil, hanya saja layar itu terpatah-patah dan menampilkan permukaan kosong. Gangguan, tak ada informasi.
"Akan kugunakan kesempatan ini untuk mengingatkan, kalau ilmu berpedang-ku jauh dibawah kalian." Kata sang saniwa, tessen besi sudah di tangan dan mundur ke barisan paling belakang. "Akan kucari cara lain untuk keluar dari sini."
"Anda terlalu rendah diri." Mikazuki tertawa.
"Hati-hati, mereka tampak sangat kuat."
"Aku maju duluan ya~" Hal ini dikatakan Jiroutachi dengan nada riangnya, sebelum ekspresi dan gerak-gerik tubuhnya menjadi sangat serius. Mengingat yang berdiri menjadi perisai mereka adalah oodachi yang tangannya tak bergetar setelah meminum satu tong alkohol, seluruh pasukan mereka mempercayai tingkat kemampuan bertahan Jiroutachi.
Jiroutachi menggantikan Hirano, berusaha memukul mundur nagae yari itu.
"….!"
Namun sudah jelas terlihat jauhnya tingkat kekuatan mereka. Meski jumlah mereka sama, pertarungan tampak sulit bagi para toudanshi. Mereka tetap menjaga formasi, tak menyebar karena terlalu berbahaya. Imanotsurugi, Sayo Samonji dan Jiroutachi yang lebih berpengalaman saja tampak kewalahan. Dari yang biasanya bisa satu-dua tebasan cepat, kini tak mungkin dilakukan.
"Perlawanan kalian percuma."
"Ukh!"
Jiroutachi berusaha menangkis nagae yari yang masih berusaha menusuknya, sekaligus yari Kebiishi yang memutuskan untuk membantu pemimpin mereka. Meski bilah pedangnya besar, Jiroutachi harus tetap menjaga jarak. Dilambaikan pedangnya untuk memperluas jarak mereka. Kembali sang nagae yari menangkis dan memutari bilah oodachi Jiroutachi hingga denting besi memekak telinga.
Praktikal. Mengincar ibu jari dan tangan agar tak dapat berfungsi memakai pedang, Jiroutachi sudah menduganya.
Napas oodachi itu tercekat, ia terlambat menyadari hal lain.
Detik berikutnya, Hirano terangkat beberapa senti dari tanah, ujung yari menikam perutnya.
"HIRANO!"
Dengan sisa tenaganya Hirano membebaskan diri, namun segera ambruk. Sang saniwa berlari dan menahan serangan yang datang berikutnya sebelum mengenai Hirano lagi. Tessen besi segera menepis bilah yari menjauh.
Imanotsurugi yang baru saja berhasil mengalahkan salah satu tachi Kebiishi segera melompat tinggi, mendarat dengan momentum yang membuatnya mencabik punggung yari itu dari atas hingga bawah dalam satu garis lurus.
"Hirano, apa kau mendengarku? Hirano!"
Dengan segera dan setengah panik perempuan itu berusaha menghentikan pendarahan dan menutup luka itu. Hirano tidak meresponsnya, namun ia masih bernapas.
Perempuan itu melihat ke sekelilingnya. Mikazuki dan Hachisuka bertarung tak jauh dari mereka, tampak kewalahan. Sayo dengan gesit dan marah, menghindar dan menyerang oodachi Kebiishi.
"Kita mundur! Tidak perlu mengalahkan mereka!"
Nagae yari, pemimpin pasukan Kebiishi itu, tak semudah itu membiarkan mereka pergi. Jiroutachi masih menahannya sejauh mungkin, sampai tiba-tiba Kebiishi itu menarik mundur senjatanya dan menabrakkan tubuhnya ke wajah Jiroutachi hingga terhempas ke tanah.
Kemudian bilah nagae yari beradu besi tessen, namun karena perbedaan posisi, tessen-nya terlepas. Perempuan itu tanpa berpikir panjang menggunakan tangan kirinya untuk menahan bilah nagae yari yang datang.
"Kau, pemimpin mereka, akan kami habisi terlebih dahulu."
Sang saniwa meringis. Sambil memegang Hirano, perempuan itu berusaha menahan bilah tajam yang mulai mengiris lengannya.
Nagae yari itu berbalik tiba-tiba, menahan serangan Imanotsurugi dan Jiroutachi dari belakangnya. Menggunakan kesempatan itu, sang saniwa berhasil berlari menjauh sambil membopong Hirano.
Selain Imanotsurugi dan Jiroutachi yang berlari sambil menghalau musuh, yang lain berhasil menyusul sang saniwa. Hachisuka tampak kesulitan berlari, Mikazuki harus membantunya berdiri.
Sang saniwa berusaha mencari sesuatu.
"Argh…! Kalau saja ada kuil atau sesuatu…!"
Mereka mengitari rumah di ujung luar jalan.
"Saniwa," Hachisuka memanggilnya dengan tergesa, "di sebelah sana!"
Ada sepasang garis merah, jauh di luar area pemukiman. Sebuah gerbang torii.
Sang saniwa segera menyuruh mereka semua bergerak kesana.
Tak ada banyak waktu. Energi mereka yang berkurang, jarak antara mereka dengan para Kebiishi yang mulai mengecil, napas Hirano yang semakin pelan…
Ketika mereka tinggal beberapa kaki dari gerbang torii itu, sang saniwa mulai merapalkan sesuatu.
"Kumohon bekerjalah, kumohon, kumohon, kumohon."
Seseorang seperti dirinya butuh waktu lama untuk mengeluarkan kekuatan spiritual yang besar. Tapi sekarang tak ada cara lain.
Sayo Samonji harus berhenti sesaat untuk membantu Imanotsurugi dan Jiroutachi. Tachi Kebiishi terakhir berusaha melewati mereka, sebelum tantou Samonji itu menjegal kakinya.
"Kalian semua, mundurlah!"
Sayo terkesiap mendengar itu. Mundur?
Tapi Jiroutachi yang melihat sesuatu bergerak disudut matanya segera mengerti.
"Kita harus menjauh dari mereka, ayo!"
Kabut tipis merambati kaki dan mulai menutupi pandangan mereka.
"Oh, Aruji-san. Kabut ini hasil pekerjaan anda?"
"Urgh." Jawab sang saniwa dengan rona wajah memucat dan peluh membasahi sekujur tubuh.
Karena mereka berhasil menjaga jarak, sang saniwa berhasil mendapat waktu untuk menghalau pengelihatan para Kebiishi. Setelah Jiroutachi membantunya membawa Hirano, perempuan itu mulai merapalkan kata-kata lain dengan kedua telapak tangan menghadap ke arah gerbang torii.
Udara berdenyar di dalam gerbang itu, tampak sebuah distorsi seperti pusaran cahaya memenuhi bentuk persegi gerbang. Sebuah portal dari kekuatan spiritual sang saniwa, membuka jalan pulang kembali ke citadel mereka.
Akhirnya!
"Cepat!" Sang saniwa tak tahu berapa lama ia bisa bertahan membuat portal dengan kekuatan spiritual ini.
Membiarkan Jiroutachi dan Hirano masuk terlebih dahulu, disusul Mikazuki dan Hachisuka. Imanotsurugi dengan gesit melompat ke sisi lain posisi mereka, berusaha mengecoh para Kebiishi.
"Ima-chan!"
Imanotsurugi kembali dengan cepat, berkebalikan dengan Sayo yang tampak masih ingin menghabisi para Kebiishi di balik kabut.
Sang saniwa mengalungkan lengannya yang tak terluka dan mengangkat Sayo. Melemparkan diri dengan punggungnya terlebih dahulu ke dalam portal, perempuan itu melihat untuk terakhir kalinya kekacauan yang mereka buat setelah kabut mereda.
Para Kebiishi menggerung. Rongga-rongga mata kosong menatap tajam ke arahnya.
.
—Sekarang—
.
"—Sekian laporan saya."
Di dalam ruangannya, sang saniwa berbicara kepada orang-orang dalam hologram. Sebuah rapat jarak jauh dengan para saniwa dari berbagai tempat. Wajah-wajah dibingkai kotak, beberapa ia kenali, sebagian besar tidak. Beberapa adalah mereka yang mendapat kejadian serupa dengannya.
Setelah dirinya ada dua orang saniwa lain yang menyampaikan kejadian yang mereka alami, juga bertemu dengan para Kebiishi ini.
Sang saniwa duduk bersila di atas zabuton, tangan yang terluka bertumpu di sandaran tangan. Tangan lain sesekali memijat kening. Mata masih terfokus pada sosok yang menjadi pemimpin rapat. Kolom di bawah layar menunjukkan 'C-015'.
["Sekali lagi, kami minta maaf atas masalah yang terjadi tadi, tim bagian pengawas masih berusaha menstabilkan mesin-mesin."] C-015 berbicara, wajah tampak letih meski penampilannya rapi. Yuzuha-san, ia sering memanggilnya begitu jika mereka bertemu, juga salah seorang yang cukup lama bekerja sebagai saniwa.
Sesudah itu diskusi mereka dimulai, namun ia tak sepenuhnya mendengarkan. Setelah duduk dengan tenang di kamarnya sendiri, barulah rasa lelah dan sakit menggantikan adrenalin yang sedari tadi membuatnya bergerak tanpa henti. Sang saniwa berusaha tak memejamkan mata namun kepalanya sudah berdengung.
["-dan juga menganggap kita sebagai musuh."]
[ "Jumlah kita menarik kedatangan mereka? Apa ada yang mengubah alur sejarah?"]
'Kalau begitu apa guna-nya kekuatan penahan waktu dan teknologi barrier dari zaman kita.' Pikir sang saniwa dalam hati, sudah bertopang dagu.
["L-001, bagaimana pendapat anda?"]
Ia bersyukur karena ini bukan rapat pertemuan dimana mereka semua ada di dalam satu ruangan. Sang saniwa berdoa dalam hati agar tak ada yang melihat kepalanya terkantuk-kantuk.
"Ah, Maaf?"
["….Apa kau baik-baik saja?"]
"Ya,tentu saja, maaf. Kebiishi… ada dalam catatan sejarah" Sang saniwa memulai, "mungkin mereka berusaha tetap berkuasa, atau mungkin benar-benar ingin menjaga sejarah. Tapi mereka menganggap baik kita maupun para jikansokougun sama-sama menembus alur waktu, meski tujuan kita jelas berbeda."
["Mereka memang berkata tentang melindungi alur waktu dan sejarah..."] Yuzuha-san di seberang sana bergumam.
"Dari berbagai laporan dari tempat-tempat kita tadi, mungkin seperti Kebiishi dahulu,ada yang berpusat di ibu kota Heian-Kyo dan ada pula cabangnya di tiap provinsi." Sambil berkata begitu, ia mengetikkan beberapa hal yang masih belum mereka ketahui. "Apakah mungkin mereka tersebar dan bergerak sendiri-sendiri karena insting, atau ada satu pemimpinnya…"
Seperti kita, manusia, para saniwa, batinnya.
"Meski begitu, kita harus tetap menjalankan pekerjaan kita." Ia melanjutkan lagi, mengetahui perasaan mereka tentang keadaan ini. "Mereka mungkin menjaga alur waktu juga, tapi kita dari masa depan sudah tahu apa saja yang harus dilindungi agar alur waktu kita berasal tetap terjaga... Itu pendapat saya pribadi."
Tak ada yang berbicara setelah ia selesai mengatakan itu, membuatnya merasa sedikit canggung.
["Baiklah, terima kasih, L-001."] Yuzuha-san menggangguk di dalam layar. ["D-085, adakah tambahan lain?"]
["Selain yang kita bahas tadi, mengenai perbaikan mesin dan kekuatan spiritual di pusat."]
Kali ini sebuah suara familiar lain terdengar, membuat sang saniwa mengalihkan perhatian ke sisi lain hologramnya. Di atas nama D-085 adalah salah satu temannya, Sumire-san. Masih seperti terakhir kali mereka bertemu, wajah berwibawa itu pun tampak tenang.
["Ah, iya."] Yuzuha-san tampak memeriksa sesuatu, sebuah hologram lain miliknya. ["Untuk seminggu ini kami sarankan agar tidak menjalankan misi dahulu. Nanti akan kami beri pemberitahuan lebih lanjut. Isi rapat kali ini akan saya ringkas dan sebarkan 2 jam lagi. Jika ada hal lain yang ingin disampaikan, hubungi saya atau D-085. Sekian."]
Berpamitan dengan orang-orang di balik layar hologram, sang saniwa menggeser hologramnya dan mengganti dengan yang layar lain. Bahu turun dengan helaan napas panjang, apa yang ingin ia laporkan sudah sekalian ia ringkas tadi, jadi ia hanya perlu menyalinnya ke kertas.
Diliriknya rubah virtual yang tak bergeming di sampingnya. Setelah meyakinkan Konnosuke bahwa ia bisa bekerja setelah sistem dari pusat diperiksa dan diperbaiki sepenuhnya, sang saniwa membiarkannya tidur.
Sebuah hologram lingkaran jingga muncul dan berkedip. Tulisan 'group call' tertera besar. Sang saniwa mengenali tulisan 'D-085' dan segera menyentuh hologram itu. Dua layar kotak membesar, wajah Sumire terlihat lagi. Kotak yang lain hanya menampakkan gambar bunga dari lingkaran merah.
Tsukamoto Sumire segera bertanya.
["Apa kau baik-baik saja?"]
Sang saniwa dengan nomor L-001 hanya mengangkat tangan kirinya yang diperban.
"Aku baik-baik saja, Sumire-san."
["….Coba katakan itu lagi di depan Azusa nanti."]
"…..Sedikit sakit, tapi tidak apa-apa."
Kali ini logo speaker muncul dari pengguna gambar bunga.
["Uwah, kamu ini benar-benar orang yang ceroboh."]
"Ha! Dari semua orang, tak kusangka akan dengar itu darimu, Hana-chan." Sang saniwa melengos. Sosok yang tak pernah menampakkan wajahnya itu hanya balik tertawa.
["Ya maaf deh. Tapi kau dan unitmu baik-baik saja kan?"]
"Kalau tak ada gerbang torii tadi, habislah kami."
["Kau sih, jarang pakai kekuatan spiritualmu."]
"Yah mau bagaimana lagi, kekuatan spiritualku rendah jadi aku tidak terlalu bergantung pada hal itu— Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, Sumire-san."
["Tidak apa-apa, aku mengerti maksudmu."] Sumire tersenyum. Sebagai salah satu orang yang memiliki energi spiritual yang tinggi karena garis keturunan keluarganya, perempuan itu memakai kekuatannya dengan efektifitas paling tinggi.
Kalau mereka tidak sering bertemu di acara-acara seminar, orang seperti dirinya mungkin tak akan bisa bergaul dengan seseorang berlatar belakang seperti Sumire, pikirnya.
"Dengan kekuatanmu, kalau ada kejadian seperti tadi pun—" Barulah ia menyadari Sumire tidak membahas laporan dirinya sendiri di rapat tadi. "Apa di tempat Sumire-san juga…?"
["Mm, sepertimu tadi, kemarin malam aku mendapat serangan kejutan. Tapi semua sudah diatasi, tenang saja."] Sumire berkata dengan lancar, lalu tampak memeriksa sesuatu di layar hologramnya sendiri. ["Hana-chan sendiri bagaimana?"]
["Mmu? Aku sih… Hanya ada sedikit masalah di Ikedaya saja, tapi teratasi kok! Juga empat hari yang lalu!"]
Saniwa L-001 mengusap dagu. Tak terlalu lama sebelum kejadian hari ini, seperti yang ia alami.
["Di tempat Hiyori-san juga ada sedikit masalah, kau sudah dengar?"] Tanya Sumire.
Kata-kata dari lawan bicaranya langsung membuatnya menoleh lagi ke arah kedua temannya di layar.
"Hiyori-chan? Dia tidak ada mengontakku…" Ia mengernyit. "Apa dia baik-baik saja?"
["Dia bilang 'tidak apa-apa'. Aku belum bicara lagi dengannya setelah itu."]
"Kapan?"
["Dua-tiga hari yang lalu."] Ucap Sumire.
["Uwah, setelah aku ya."] Komentar Hana-chan.
["Akan kucoba telepon dia setelah ini."]
"Baiklah, aku juga akan-" Sang saniwa mengernyit. "Ah, tunggu, orang itu belum mengontakku lagi, berarti dia belum tahu, dan Hiyori-chan belum bilang apa-apa padanya."
["Aah, kamu kenal dengan kakaknya ya, aku lupa."]
"Ugh, lupakan. Orang itu sangat menyebalkan." Sang saniwa mengusap wajahnya dengan frustasi.
["Hmm…"] Kalau Hana-chan sudah masuk dalam mode berpikirnya, antara ia akan mengatakan sesuatu yang serius atau minta digeplak. ["Aku jadi kepikiran. Apa ada hubungannya dengan hal lain…?"]
"Tidak ada."
Jawabannya yang datang terlalu cepat membuat kedua lawan bicaranya terdiam.
"…Lebih masuk akal begitu."
Sumire berdeham.
["Para jikansokougun pun masih belum kita ketahui asal muasal mereka yang pasti…"]
["Maksudnya?"] Suara dari hologram Hana-chan terdengar.
["Sejak awal, ada yang mendukung teori bahwa musuh-musuh kita adalah para tsukumogami bilah tak bernama yang terlupakan, atau mereka yang dibuang ke laut setelah Perang Dunia II selesai,"] ujar Sumire lagi, ["bisa juga tak hanya mereka yang terlupakan. Mereka yang semasa dipakai dan berjaya, namun tujuannya belum tercapai…. Hanya spekulasi."]
"Spekulasi." Sang saniwa mengangguk. "Tapi untuk kasus Kebiishi sekarang ini… Kita masih belum tahu."
Hana-chan diseberang sana mengeluarkan suara 'hmm' sangat panjang lagi.
["Kalau memandang dari sisi itu berarti, para Kebiishi… Sama seperti kita jadinya kan?"]
"Iya kan? Ini benar-benar memusingkan."
["Seperti ingin mendapat juara kelas antara dua rival di kelas ya…"]
"Analogi yang sangat spesifik, Sumire-san."
["Omong-omong, kapan kau kembali? Akhir bulan ini aku ada rencana, mungkin kita bisa bertemu?"] Tanya Sumire.
"Akhir bulan ini, akhir bulan…" Kali ini hologram kalender ia buka, jemari menelusuri bagian kotak-kotak akhir, tak ada tulisan penanda hal penting. "Baiklah, aku akan kembali tanggal segitu juga."
["Hana-chan?"]
["Ehhh, aku tinggal permanen di sini sekarang."]
"Sumpah, kapan-kapan aku akan datang menyeretmu keluar dari Hanamaru."
["Eh! Nggak mau!"]
["Tapi dia benar, Hana-chan. Berjalan-jalan keluarlah sedikit."]
["Aaah, Sumire-san sendiri juga tidak pernah!"]
["Bukan tidak pernah. Aku menunggu musim dingin saat para beruang akan hibernasi…"]
"Posisimu di tengah gunung sih. Ah, bagaimana perkembangan riset Higekiri dan Hizamaru anda?"
["Lambat, tapi tak masalah. Untuk Hizamaru masih butuh beberapa sertifikat untuk menyatakan ini yang asli…]
###
Yamanbagiri Kunihiro mendapati dirinya berdiri di luar dan tak bergerak masuk.
Pembicaraan di dalam ruangan sang saniwa masih berlanjut, dari serius menjadi hal-hal kecil. Uchigatana itu menunggu hingga sang saniwa mengatakan sesuatu dan melambaikan tangan, sebelum menutup hologramnya.
"Aruji."
Tak lama kemudian, pintu bergeser terbuka.
"Kunihiro? Ada apa?"
Yamanbagiri memandangi tangan kiri sang saniwa.
"Kau belum makan siang dan harusnya istirahat."
Sang saniwa ikut melirik ke tangan kirinya dengan cepat, menggerakkan pergelangan tangannya untuk menunjukkan ia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa kok."
"Kau selalu berkata seperti itu."
Bagaimana kata-kata itu keluar dengan sedikit lebih getir dan kesal, tak luput dari pendengarannya.
"Masa?"
"Ya." Kata Yamanbagiri, segera menghalangi perempuan yang hendak berjalan melewatinya itu. "Kau belum lihat wajahmu sendiri."
"Yamanbagiri Kunihiro….." Sang saniwa berkata dengan gusar.
"Duplikat seperti aku pun tahu kau kelelahan dan banyak pikiran."
"Hhhhhh."
Sang saniwa menghela napas dengan suara keras. Akhirnya ia setengah berjinjit, menopangkan dagu di atas bahu Yamanbagiri. Uchigatana itu hanya berdecak kesal namun membiarkannya.
Perempuan itu memandangi langit.
"Aku masih punya banyak pekerjaan." Gumamnya dengan lelah. "Aku belum memeriksa Hirano lagi, belum melihat pagar belakang…"
Giliran Yamanbagiri yang menghela napas.
"Kau lupa ada berapa orang tinggal disini? Bergantunglah sedikit pada kami."
"Bukan seperti itu maksudku."
"Aku tahu, tapi kadang kau lupa, dan selalu merasa harus melakukan semuanya sendirian."
Sang saniwa mengeluarkan suara seperti tersedak dan sejenisnya, merasa tertohok, tapi tidak menyalahkan apa yang dikatakan uchigatana itu.
Tapi tetap saja…
"…Aku harus buat jadwal…"
Ia berusaha bertumpu pada kakinya sendiri, namun matanya terasa berat. Bersandar pada Yamanbagiri terasa lebih menenangkan.
"Jadwal? Yang kemarin perlu dirubah?"
"Gara-gara mengobrol tadi aku ingat- Jadwal lain, bukan untuk disini, Manba…."
Yamanbagiri Kunihiro membeku di tempat.
"Manb-?! Apa maksudmu?"
Bukannya membalas, sang saniwa menggumamkan sesuatu yang tak dapat ia dengar.
"Aruji?"
Barulah disadarinya, seluruh berat tubuh perempuan itu sudah bertumpu padanya, sampai Yamanbagiri harus menopangnya dengan kedua tangan. Dirabanya kening sang saniwa.
Yamanbagiri Kunihiro mengernyit.
"Sudah kuduga…"
.
.
.
.
A/N :
+) Judul diambil dari peribahasa : 胜不骄,败不馁 (shèng bù jiāo, bài bù něi); no arrogance in victory, no despair in defeat.
+)PAS BANGET SAMA EP6 KATSUGEKI mmmhhHHHHOOOOO IVE MADE IN TIME! Abis liat Katsugeki ep 6 langsung ganti panggilan Yagen ke Honebami AAAAAAAAAAA #prioritas #citadel saniwa Katsugeki mewah bgt saya ngiler
+)Saya nggak bakal ambil route yang diambil Tousute dan Katsugeki, tenang saja /winkwonk
+) Saya baru sadar kebiasaan pakai kata 'citadel', mungkin chapter depan pakai sebutan honmaru (kalau inget)
+) Awalnya saya cuma punya satu OC saniwa, lama-lama jadi banyak wkwkwkwk. Itu yang saya sebut namanya Hiyori sebenarnya saniwa di fic saya satu lagi. Awalnya pikir beda universe tapi akhirnya saya bikin jadi teman saja wkkwkw
+) Hana-chan = Saniwa Hanamaru (berapa kali saya harus tekan backspace karena malah ketik Hanamura) . Headcanon saya ; saniwa Hanamaru hikikomori level tinggi lmao
+) Dahulu kala, saya pernah janji sama salah satu reviewer untuk keluarin Genji Bros tapi apa boleh dikata baru mention nama mereka dulu disini ya wwwww
