Makasih Minna karena masih tetap setia untuk membaca fic lemon Shisui ini, Shisui senang sekali minna masih mau membaca fic ini, yah tetapi ada sesuatu yang ingin Shisui tanyakan sama Minna semua. Walaupun pertanyaannya gak penting sih, tetapi hal ini menurutku sangat pentiiiiiinnng bagi yang umur 17 tahun kebawah, soalnya fic ini bisa mempengaruhi masa depan Minna semua. Terus terang sama Shisui...siapa diantara Minna yang masih dibawah umur 17 tahun?

Hayoo...jujur...jujur!#tsundere mode:on.

Sebenarnya Shisui gak maksa sih, Shisui cuma mau bilangin aja, jangan berani membaca fic ini kalau diantara Minna semua masih ada yang dibawah 17 tahun. Tetapi kalau masih terus memaksa, yah udah deh up to you. Dosa di tanggung sendiri aja. Shisui Cuma mau bilangin aja^^

Yosh! Let's read!

Disclaimer : Masa! Sih! Kiss Me Moto!#Ditendang

Rate : M

Pairing : Karena permintaan para readers kebanyakan tidak mau Naru-chan jadi murahan... Shisui akan membuat pairing hanya untuk SasufemNaru saja, yang lain hanya sekedar ecchi standart. Okeh ^^d

Hareem No Jutsu Permanent

Chapter 9

By : Shisui Namikaze Deandress Chan

OOC, OC, typo(s), Gaje, Lime/Lemon and many more...

Ini Lime/Lemon pertama Shisui jadi gomen yah kalau tidak terlalu memuaskan dan hot

DLDR!

Enjoy it!

Previous Chapter: Naruto yang mulai menyadari ada seseorang, langsung menolehkan kepalanya kearah pintu. Ia tersenyum manis ke Gaara yang berada didepan pintu. Naruto menyuruh Gaara untuk mendekatinya dan mempersilahkannya duduk di kursi yang memang sudah disiapkan untuk penjenguk.

"Sungguh kehormatan aku dijenguk oleh sang Kazekage ke-3" sapa Naruto sopan sambil tersenyum.

"Hn" sahut Gaara singkat kemudian ia duduk di kursi penjenguk.

"Ada apa gerangan kau datang kemari, Gaara? Pasti ada hal yang sangat penting hingga kau datang kemari?"

"Hn."

"Kau mau apel?" tanya Naruto sambil memberikan piring yang diisi irisan apel kepada Gaara.

"Apa kau menikmati ini semua?" Tanya Gaara

Naruto mengerutkan keningnya, ia bingung atas ucapan Gaara. Kenapa ia tiba-tiba berkata demikian? Menikmati apa? Apakah sakit ini yang ia maksudkan? Menurutnya itu tak nikmat sama sekali.

"Apa ma..."

"Naruto Uzumaki"

Chapter 9

=_*Sasuke POV*_=

Selama semalaman aku tak bisa memejamkan mataku, yang kulakukan semalaman hanya berbaring di ranjang sambil memandangi poster foto kekasihku tercinta di langit-langit rumahku. Itu adalah keseharianku. Keseharianku jika kemesumanku kembali akut. Sebenarnya hal ini hanya untuk alternatif saja, maksudku hanya untuk sekedar menghilangkan nafsuku saja. Aku tahu kalau cuma melihat poster tak 'kan bisa memuaskanku. Tetapi apa boleh buat, masa iya aku harus 'Menyerang' Naruko setiap hari? Itu malah membuat fisiknya lemah. Apalagi sekarang ia sedang dirawat dirumah sakit. Apakah aku tega memperkosanya dirumah sakit? Tidak mungkin 'kan!. Oleh karena itu, aku hanya bisa memandangi poster Naruko di langit-langit. Dan kurasa atau...mungkin saja, bisa mengecilkan kemesumanku.

Aku mengerutkan keningku saat membayangkan begitu bahagianya Shino ketika 'batangan'-nya dikulum oleh Naruko. Dia tertawa dengan begitu bahagianya ketika menekankan kepala Naruko dan memaksa Naruko untuk mempercepat kulumannya. Lalu dia memaksa Naruko untuk menelan sperma-nya yang bau itu hingga Naruko tersedak dibuatnya. Membayangkan hal itu, aku jadi ingin membakarnya...tidak...itu terlalu ringan, mungkin kupotong kepalanya saja dengan pedang susano'o lalu akan kulemparkan ke dalam kuburan terhina dan terbuang di sudut kota Amegakure bersama dengan 'Cacing' hitam-nya yang menjijikkan dan buluk itu.

Aku menolehkan kepalaku kekiri, melihat jam weaker-ku yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Mungkin Naruko sudah bangun? Aku akan menjenguknya saja ah, daripada aku harus mati gaya disini hanya karena memandangi poster saja.

-x-x-x-x-

Selesai mandi dan memakai baju. Aku melesat ke dapur, menyiapkan sedikit makanan untuk sarapan kemudian beralih ke bingkisan buah-buahan yang berada di meja kecil dekat televisi. Aku mengambil bingkisan tersebut setelah sarapanku selesai lalu berjalan menuju pintu, tunggu dulu...jika aku berjalan keluar sambil membawa bingkisan buah ini, pasti aku akan bertemu dengan dua gadis bodoh yang aku yakini akan bertanya 'Untuk siapa buah itu?'. Dan jika aku menjawab untuk Naruko, maka mereka pasti akan menjerit dan menghalangiku untuk menemuinya, apalagi saat aku tahu Sakura adalah perawat disana. Hah~, kenapa di dunia ini harus ada cewek seperti mereka. Aku berharap cewek-cewek seperti Ino dan Sakura bisa menghilang dari muka bumi ini.

Aku tak punya pilihan lain, aku akan melompati rumah-rumah untuk menuju rumah sakit, lalu aku akan menyelinap ke kamar ruangan Naruko di rawat tanpa ada siapapun yang mengetahuinya, termasuk dua gadis bodoh itu.

Aku kembali menuju kamarku, lalu aku membuka jendela didekat tempat tidurku dan mulai berlari melompati atap-atap rumah menuju rumah sakit. 15 Menit kemudian aku tiba di jendela rumah sakit, tepatnya di lantai 3 di pintu 16, yakni jendela dimana Naruko dirawat. Aku menepi di sisi jendela tersebut kemudian menepak di balkon rumah sakit dengan perlahan-lahan.

Deg!

Cih! Ini Chakra Gaara. Dia hampir membuka pintu kamar rawat Naruko.

Sebenarnya apa yang ia lakukan disini? Dan untuk urusan apa ia bertemu dengan Naruko?

Cklek!

Aku bersembunyi di sisi jendela yang masih tertutupi oleh gorden setelah aku mendengar suara pintu terbuka. Sesekali aku melirik kedalam ruang rawat Naruko bermaksud ingin memastikan apa yang ia lakukan di kamar rawat Naruko sekaligus berharap agar sifat mesum Naruko tak kembali dan menyerang Gaara. Jika hal itu terjadi, maka aku akan benar-benar membunuh Gaara, tak perduli kalau dia itu Kazekage sekalipun.

"Sungguh kehormatan aku dijenguk oleh sang Kazekage ke-3"

"Hn"

"Kau mau apel?"

Cih! Kalau dengan orang lain saja, kau bisa menjamunya dengan baik. Bagaimana denganku?, Apakah kau pernah menjamuku dengan baik? Jamuan yang kudapatkan darimu bukanlah buah, melainkan bacot no jutsu kadaluarsa!.

"Apa kau menikmati ini semua?"

Ah, apa yang si Panda itu katakan? 'Menikmati?' menikmati apa?. Aku menyodorkan sedikit kepalaku bermaksud untuk melihat kejadian didalam ruangan. Aku diam-diam mengintip dua sosok berbeda gender itu. Mereka saling berpandangan, tepatnya saling bertatapan serius dan bingung. Aku melihat mata Gaara memancarkan keseriusan yang begitu besar, dan Naruko memancarkan mata yang kebingungan. Jelas aku lebih memilih Naruko, ekspresinya sekarang jelas melukiskan ekspresi yang sama sepertiku sekarang.

"Apa ma..."

"Naruto Uzumaki"

=_*Sasuke POV End*_=

Dua manusia berbeda gender yang berada disana namun berbeda tempat itu terkejut setelah mendengar perkataan Gaara. Dan Gaara yang tak memperdulikannya pun hanya bisa diam seakan-akan menunggu jawaban dari si gadis berambut pirang bernama Naruko.

Naruko a.k.a Naruto tertegun saat Gaara berkata demikian. Ia menelan ludah seraya memandangi Gaara dengan ekspresi ketakutan ketika Gaara menatapnya penuh interogasi. Bibir Naruto bergetar mencoba mengatakan sesuatu, namun apa yang ingin ia katakan tak pernah keluar dari mulutnya. Ia merasa bibirnya masih terasa sangat kelu untuk berbicara, ia begitu terkejut akan tuturan Gaara tadi hingga hal itu memungkinkan membuatnya tak mampu berbicara sejenak. Ia tak menyangka Gaara bisa tahu rahasianya. Padahal ia tak memberitahukan rahasia ini kepada siapapun. Yang mengetahui rahasia ini hanya Iruka, Kakashi, Shizune dan Tsunade. Dan mereka termasuk orang yang bisa menjaga rahasia dan juga begitu ia percayai. Ia tahu diantara empat orang itu, ada satu orang yang tak sepenuhnya ia percayai, namun ia merasa kalau orang itu mampu menyembunyikan rahasianya ke semua publik asalkan ia tak tergoda godaan wanita saja.

"He...he...he...a-ap-apa y-ya-ya-yang k-k-kau kk-ka-kata-kan?" Tanya Naruto gugup dengan ekspresi aneh yang menurutnya begitu meyakinkan. Namun tidak bagi Gaara.

"Hn. Jangan pura-pura bodoh. Apakah menurutmu aku bisa dibodohi?"

"Eh?"

"Naruto Uzumaki. Apakah begini misi yang kau jalani? Melakukan Hareem no jutsu dan berubah menjadi wanita cantik?. Tak pernah kusangka, temanku mau menjadi banci selama 3 bulan terakhir ini tanpa sebab yang pasti. Ingat Naruto, sebulan lagi kau akan menjadi Hokage. Apa kau mau terlihat seperti banci di pelantikan nanti dan mengecewakan pendudukmu karena telah kau bohongi. Berubahlah menjadi Naruto kembali dan hilangkan fikiranmu menjadi perempuan. Kau ini pria. Kau orang yang sejak lahir sudah memiliki 'batangan' sama sepertiku. Jadi jangan kau ubah takdirmu yang sudah ditentukan dengan mengubah 'batangan'-mu menjadi lubang 'goa hiro' yang kau miliki sekarang. Lepaskan jutsumu itu."

"A-ap-apa yang kau maksud? Na-na-naru-naruto Uz-umaki, si-siapa dia?"

"Ha-ah~, Naruto. Sekuat apapun kau menyembunyikannya, aku tetap yakin kalau kau adalah Naruto Uzumaki. Satu-satunya temanku"

"E-e-eh?"

"Apakah menurutmu aku tak punya bukti yang pasti?"

"...bukti..."

"Masih ingat saat pertama kali kita bertemu? Di rumahmu, tepatnya dihari ulang tahunmu. Kau datang kerumahmu dengan pakaian tak memungkinkan, waktu itu kau ingin menjelaskan sesuatu, namun kau sudah keburu dipukul oleh Sakura. Intinya adalah jika kau bukanlah Naruto, kau tak mungkin berani masuk ke rumah orang, apalagi hanya dengan memakai bra dan cd. Dan jika kau tamu, kau pasti tak mungkin berani memakai pakaian seperti itu. Apalagi ketika tahu kalau rumah itu sangat gelap. Apa kau masih ingat?"

"Ah...eto...itu karena..."

"Yang kedua, masih ingat saat kita berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun Ino? Waktu itu ketika Sasuke mengusulkan restoran Ori-Ori Kimiku, kau merasa begitu tahu akan restoran itu, padahal kau baru beberapa bulan tinggal di Konoha, sungguh mustahil kalau seorang wanita pendatang sepertimu bisa mengenali restoran tertutup seperti itu dengan detailnya, seakan-akan kau sudah lama tinggal di Konoha dan mengenal semua toko di Konoha. Dan yang paling membuatku merasa kau adalah Naruto yaitu ketika kau memanggilku 'Gaara'. Orang yang memanggilku seperti itu hanyalah para Shinobi Konoha yang akrab dan sepantaran denganku. Jika kau adalah pendatang, kau tak mungkin berani memanggilku dengan nama depan, meskipun kau sudah tinggal selama 3 bulan sekalipun. Itu karena aku seorang Kazekage. Pemimpin desa Sunagakure."

"E-eto...Aku..."

"Yang ketiga, aku mengambil waktu sepuluh menit yang lalu. Kau terlihat begitu mencurigakan ketika kau mendengar perkataanku kalau kau adalah Naruto Uzumaki. Jika kau bukan Naruto Uzumaki, kau tak mungkin terkejut mendengar ucapanku dan menjawabku dengan santai."

"E...et...eto...itu...itu karena...kare...baiklah! aku mengaku. Aku Naruto, Uzumaki Naruto" sahut Naruto pasrah. Ia sudah terpojok, ia tak mungkin berbohong pada temannya yang satu ini. Gaara mempunyai kelebihan yang tak bisa ia kelabuhi. Ia tak menyangka kalau Gaara bisa mengambil kesimpulan sedetail itu meskipun itu hanyalah hal sepele. Sedangkan pemuda berambut pantat ayam yang bersembunyi dibalik jendela itu, hanya bisa melebarkan matanya ketika mendengar jawaban tegas dari gadis yang ia cintai.

Sasuke menyodorkan kepalanya sedikit lebih maju agar bisa melihat seluruh tubuh Naruto kemudian

"Sharingan!" Sasuke mengaktifkan sharingan-nya untuk melihat chakra Naruto. Ia melakukan hal itu karena bermaksud untuk membuktikan apakah perkataan Naruto itu benar atau tidak.

Setelah ia melihat chakra yang mengalir di tubuh Naruto, ia sangat terkejut. Ia melihat aliran chakra biru dan merah dalam tubuh Naruto, yang ia yakini Chakra biru itu milik Naruto dan Chakra merah itu milik Kyuubi. Biasanya jika ia ditipu oleh Naruko a.k.a Naruto, ia pasti marah. Apalagi saat mengetahui kalau selama ini ia tidur dengan Naruto yang notabene adalah laki-laki. Tetapi entah kenapa saat ini ia tak bisa marah pada Naruto seperti yang dilakukan Naruto di hari-hari sebelumnya. Mungkin karena ia memang sudah benar-benar mencintainya. Cinta yang sudah tak bisa ditolak lagi dan tak kenal kompromi. Apakah ini artinya dia sudah menjadi yaoi?

Deg!

Jantungnya tiba-tiba saja berdegup cepat, ia merasakan sebuah chakra lain sedang bersembunyi di tubuh Naruto, chakra kecil yang terasa sangat rapuh dan lemah. Sasuke menyipitkan matanya ingin memastikan chakra lemah apa itu. Lalu setelah ia menemukan chakra apa itu? Ia langsung melebarkan matanya. Ia begitu terkejut saat melihat chakra itu membentuk sebuah titik pusat sendiri seakan-akan chakra itu adalah chakra milik orang lain, dan yang lebih anehnya lagi, chakra kecil itu terletak tepat di bagian rahim Naruto. Percaya atau tidak percaya, Sasuke menyimpulkan kalau Naruto sedang mengandung anaknya. Ia berkata hal demikian karena hanya dialah yang sejak awal sudah sering melakukan seks dengan Naruto.

Perasaan Sasuke tercampur senang dan bingung. Ia senang karena ia akan mendapatkan anak dari Naruto dan bisa cepat-cepat menikahinya, namun ia juga bingung, bagaimana bisa seorang pria bisa hamil. Meskipun ia memakai hareem no jutsu, pria tetaplah pria, sebuah rahim tak mungkin ada pada pria? Bagaimana caranya sebuah rahim itu tumbuh pada tubuh Naruto? Hal ini begitu membingungkannya. Fikirannya soal rahim tersebut buyar ketika mendengar suara Gaara. Sasuke memandangi Gaara dan mulai mendengarkannya kembali.

"Hn. Akhirnya kau mengaku juga. Sekarang kembalilah menjadi Naruto yang kutahu"

"Jika hal itu bisa kulakukan, aku sudah melakukannya sejak dulu"

"Apa maksudmu?" sahut Gaara dengan alis berkerut. Begitupula Sasuke.

"Masalah kenapa aku tak bisa kembali ke wujud semula itu karena Hareem no jutsu-ku ini. Aku ingin sekali kembali ke wujudku semula sama halnya seperti yang kau fikirkan, tetapi jutsu ini tak mau dilepas, walau berapa kalipun aku ingin melepasnya, jutsu ini tak pernah mau menurutiku. Satu-satunya petunjuk agar aku bisa kembali ke wujudku adalah mencari seorang perjaka yang mau berhubungan seks denganku dan menurutiku. Cuma itu yang bisa mengembalikanku ke wujud semula. Oleh karena itulah aku menyembunyikan jati diriku dan berpura-pura menjadi Naruko. Itu semua kulakukan agar mereka tak jijik padaku ketika aku mengajak mereka melakukan seks denganku."

Sasuke tertegun saat mendengar penjelasan Naruto, ia baru sadar, ternyata cintanya yang ditolak dan tingkah nakal Naruto selama ini, itu karena alasan tersebut.

"Apakah kau sudah melakukannya?" tanya Gaara to the point.

"Sudah"

Mendengar jawaban Naruto, Sasuke jadi tertarik. Ia ingin tahu, apakah Naruto akan membocorkannya? Apakah ia akan memberitahukan Gaara kalau dirinya lah yang membuat Naruto tetap menjadi Naruko?. Membayangkan hal itu, Sasuke jadi menyeringai sendiri, ia merasa bersemangat sekali seakan-akan dirinya sedang menghadapi sesuatu yang luar biasa kuatnya. Dan dia berfikir, akan sangat menyenangkan bila misalkan Gaara marah kepadanya dan ingin membunuhnya.

Diruangan kamar rawat Naruto, Gaara mengerutkan keningnya merasa bingung akan penjelasan Naruto. Gaara merendahkan sedikit wajahnya kemudian ia memandangi Naruto dengan tatapan mata tak senang dan menusuk. Naruto yang menyadarinya, jadi merinding hingga ia bersiaga mundur beberapa centi untuk berjaga-jaga kalau misalkan Gaara menamparnya dengan pasirnya.

"Lalu, kenapa kau masih tetap menjadi wanita? Jelaskan padaku secara detail, tanpa ada tanda koma."

"Ah...etoo...itu karena orang pertama yang menjadi korbanku..."

"Hemm..." gumam Gaara seraya menyipitkan matanya hingga terlihat lebih tajam.

"Ah...etoo...ano...hmmm" gumam Naruto tak jelas dengan wajah merah merona.

"Hemm..." Gumam Gaara semakin menyipitkan matanya.

"Ano...eto...hmm...dia...dia...sudah...men...men...TAK PERJAKA SEJAK AWAL!"

"Ha-ah..." sahut Gaara singkat dengan sebelah alis terangkat.

"Eh?" gumam Sasuke dibalik gorden.

Naruto merasa nafasnya sangat berat setelah mengatakan 4 kata tadi. Ia telah berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya tak seperti demikian. Bagaimanapun Naruto tak mungkin memberitahukan semua yang terjadi antara dirinya dan Sasuke. Itu karena dirinya takut Gaara akan tertawa terbahak-bahak jika dirinya menceritakan hal yang sebenarnya.

"Bagaimana bisa?" tanya Gaara

"Hehehe, itu karena aku terlalu bersemangat hingga aku cepat-cepat mencari 'mangsa' tanpa tahu info-info tentang dirinya, hehehe" balas Naruto seraya menggaruk-garuk belakang rambutnya.

"Hn, orang bodoh" gumam Gaara sedangkan Naruto hanya cengengesan.

"Lalu setelah itu, apakah kau sudah mendapatkan mangsa lain?" lanjut Gaara.

"Selama ini sih aku terus mendapatkannya..."

"Lalu..."

"Lalu...gagal. Yah, karena mereka selalu kabur ketika aku mengajak mangsaku untuk melakukan 'itu' denganku."

"Memangnya apa yang kau lakukan?"

"Menarik mereka kekamar dan menyuruh mereka menelanjangiku dan meremas payudaraku, hehehe" dusta Naruto lagi. Sedangkan Gaara hanya menghela nafasnya seraya menggeleng-gelengkan kepala dan mengurut—urut keningnya.

"Oh iya Gaara, aku punya usul. Selama ini kan aku selalu gagal..." 'Dan si pantat ayam itu sedang tak ada' lanjut Naruto dalam hati. "Bagaimana kalau misalkan kita berdua melakukan itu disini. Tak ada orang yang lihat kok. Kau tinggal kunci pintu dan tutup gorden, lalu setelah itu kita lakukan disini, di tempat tidur rumah sakit ini. Bagaimana?"

"Eh?!" sahut Gaara OOC dengan wajah memerah.

"Bangsat!" desis Sasuke dibalik gorden. Ia ingin sekali masuk ke ruangan rumah sakit setelah mendengar perkataan Naruto tersebut, bermaksud ingin mencabik-cabik pria bermata panda tersebut. Namun hal itu langsung diurungi setelah sebuah rencana licik muncul di otaknya. Dia menyeringai licik kemudian berbisik 'Tadi Naruto bilang 'tinggal kunci pintu dan tutup gorden'...hehehe, di kata terakhir itu, mungkin bisa membantuku. Ketika ia datang untuk menutupi gorden. Aku akan menyeretnya ke jendela dan mengambil persediaan tabung pasirnya lalu melemparnya menjauhi balkon hingga ia terjatuh ke tanah dengan kepala duluan dan akhirnya moncrot tuh kepala, wuahaha!' dengan nada psikopat.

"Tidak...aku tidak bisa" sahut Gaara dalam ruangan. Dan kedua insan yang mendengarnya langsung tertegun setelah mendengar keputusan Gaara tersebut.

"Maafkan aku Naruto. Aku bukannya tak mau membantumu, tetapi kalau boleh jujur...aku sudah tak perjaka lagi. Semalam aku habis melakukan '6 ronde' dengan Matsuri...jadi...kau tahulah..." lanjut Gaara dengan wajah sedikit memerah.

"EEHH! Sejak kapaannn?!" teriak Naruto kaget.

"Sejak...hei! kenapa aku harus membeberkan urusan pribadiku padamu?! Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana caranya kau berubah menjadi seorang pria lagi!"

"Cih! Gak greget ah kau Gaara." balas Naruto sebal seraya memajukan mulutnya kedepan dan melipat kedua tangannya di dada.

"Sudah hentikan! Sekarang aku tak mau tahu! Kau harus berubah menjadi pria dalam tempo waktu yang cepat. Ingat Naruto...waktumu tinggal 28 hari lagi!"

"Oke...oke, wakatta yo. Aku akan berubah lagi dalam tempo waktu yang cepat-ttebayo!"

"Hn" sahut Gaara seraya beranjak berdiri dengan angkuhnya.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto seraya memegang pergelangan tangan kanan Naruto ketika Gaara memutarkan tubuhnya.

"Menemui Tsunade, aku ada urusan dengannya" sahut Gaara.

"Oh, Gaara kau mau 'kan menyembunyikan semua ini kepada yang lain?"

"Kenapa?" tanya Gaara seraya mengerutkan alis.

"Itu karena aku malu. Dan lagi, aku masih belum siap kalau misalkan teman-temanku tahu soal ini semua" balas Naruto seraya menundukkan kepalanya.

"Baiklah, tetapi ingat Naruto. Bertanggung jawablah. Cepat atau lambat rahasiamu pasti akan terungkap, dan hal itu pasti akan membuat hubunganmu dengan temanmu akan melonggar. Jadi sebelum itu terjadi, beritahukan temanmu atas apa yang terjadi padamu sebelum mereka mengetahuinya lebih dulu."

"Ha'i, wakatta-ttebayo" balas Naruto lesuh seraya melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Gaara.

"Hn. Sekarang aku pergi dulu" gumam Gaara dan melesat berjalan menjauhi Naruto yang masih memikirkan ucapan Gaara tadi. Sedangkan Sasuke, ia hanya menundukkan kepalanya hingga akhirnya melesat pergi menjauhi rumah sakit, mengabaikan keinginannya untuk menjenguk Naruto.

-x-x-x-x-

Seminggu telah berlalu dan Naruto baru keluar dari rumah sakit. Biasanya para pasien yang sudah keluar dari rumah sakit pasti akan senang, namun hal itu tak berlaku bagi Naruto. Meskipun ia keluar dari rumah sakit, ia tetap sedih dan terlihat lesuh layaknya kurang darah. Dia terlihat begitu karena selama seminggu ini ia berada dirumah sakit sehingga membuatnya tak mendapatkan mangsanya dalam seminggu itu. Waktunya tinggal 18 hari lagi sebelum pelantikan, dan waktu itu termasuk waktu yang cepat bagi Naruto.

Hujan saljupun turun menghujani desa Konoha, bersama dengan derap langkahnya menuju rumah. Saat ini dirinya hanya memakai tank top dengan celana tipis selutut , meskipun demikian, tubuhnya merasa tak dingin sama sekali. Karena saat ini difikirannya sedang bercampur aduk akan 'bagaimana caranya agar dirinya bisa kembali menjadi pria dalam waktu 18 hari'.

10 menit kemudian akhirnya ia tiba di rumahnya, Naruto membuka pintu tersebut kemudian menutupnya kembali.

"Kenapa kau lama sekali Naruko..."

Deg!

"Ah!" desah Naruto lalu ia refleks memutar tubuhnya kearah suara bariton tersebut hingga akhirnya ia mendapatkan seorang pemuda tampan berselimut mantel bulu sedang duduk santai di sofa.

"Apa yang kau lakukan disini?! Cepat keluar!" bentak Naruto seraya membuka pintu.

Wuusshh!

Sasuke berlari dengan cepatnya dan akhirnya berdiri tepat didepan Naruto.

"Atau bisa kupanggil dengan...Na-ru-to..." bisik tekan Sasuke sambil tersenyum senang seraya membelai-belai pipi putih Naruto. Naruto melebarkan matanya ketika mendengar bisikkan Sasuke tersebut.

"Ba-ba-bagai-bagaimana kau...?" gagap Naruto.

"Aku tak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan Gaara di rumah sakit seminggu yang lalu, tetapi tenang saja. Selama seminggu itu, aku masih belum memberitahukan semuanya soal siapa dirimu sebenarnya"

"Apa yang kau inginkan?" tanya Naruto dingin dengan ekspresi yang tajam dan menusuk. Namun Sasuke tak bereaksi sama sekali akan ekspresi Naruto tersebut. Ia tersenyum kemudian memeluk Naruto dengan eratnya.

"Cukup tidur saja denganku malam ini, berikan seluruh cintamu padaku. Dan berikan kenikmatan yang lebih dari yang kurasakan sebelumnya. Dan satu lagi yang terpenting, buat aku merasa puas, maka aku tak akan memberitahukan siapapun tentang siapa dirimu sebenarnya."

"Tidak! Aku tak akan mau! Melakukan hal itu, sama saja kalau aku menjual harga diriku padamu. Lagi pula kau sudah tahu kalau aku adalah Naruto, kenapa kau masih bersikeras untuk melakukan seks denganku-ttebayo!" balas Naruto seraya berusaha melepaskan pelukan Sasuke.

"Karena aku terlanjur mencintaimu. Aku tak bisa pergi dan pindah ke lain hati. Apalagi saat aku mengetahui 'milikku' yang begitu berharga sedang ternanam di tubuhmu. Aku tak mungkin pergi meninggalkanmu"

"Apa maksudmu? Aku tak mengerti! Lepaskan aku!"

"Baiklah, kalau kau tetap mau menolak, maka aku akan memberitahukan rahasiamu kepada semua orang di Konoha. Fikirkan bagaimana ekspresi teman-temanmu ketika mereka mengetahui rahasiamu? Mereka akan meninggalkanmu, sama seperti yang kau rasakan 13 tahun yang lalu. Hidup menyendiri, tak punya teman dan selalu di ejek oleh semua penduduk. Bagaimana?" ancam Sasuke seraya berusaha mempererat pelukannya. Sedangkan Naruto yang sejak awal memang berusaha memberontak, langsung diam ketika mendengar ancaman tersebut. Naruto merasa tubuhnya sangat lemas, ia menundukkan kepalanya merasa mulai putus asa. Ia tahu Sasuke adalah orang yang nekat dan penuh ego. Semua yang ia ucapkan, pasti akan ia lakukan, dan hal itulah yang akan membuat Naruto harus berfikir dua kali dan mencari cara lain kalau berhadapan dengannya. Namun cara lain itu tak mendukungnya kali ini. Ia benar-benar terpojok akan ancaman Sasuke kali ini. Ia benar-benar seperti seekor domba yang sudah diterkam serigala, tak bisa berkutik dan bergerak. Hanya bisa menunggu dirinya dicabik-cabik dan dinikmati oleh serigala sampai akhirnya serigala itu puas.

"Bagaimana sayang~?" tanya Sasuke sambil tersenyum. Naruto tak menjawab, ia hanya meremas kepalan tangannya yang sejak awal melemas kemudian ia menggigit bibir bawahnya merasa bimbang sekaligus ketakutan.

"Bagaimana?" Ulang Sasuke mencoba memastikan kalau Naruto sudah mulai putus asa.

"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau mau. Tetapi dengan satu syarat, jangan pernah kau berani membongkarkan rahasiaku. Dan jangan menggangguku kalau misalkan aku sedang melakukan 'ritual' menjadi pria nanti" balas Naruto menyerah.

"Maaf Naruto, sebenarnya syarat yang kau berikan padaku bukannya satu melainkan dua. Jadi maaf, aku tak bisa mengabulkan syaratmu yang kedua. Aku hanya mengabulkan syaratmu yang pertama."

"Ap-ap-apa...tap-tapi kau sudah..." bisik Naruto gagap.

"Hn. Makanya berfikirlah terdahulu sebelum bertindak. Baka"

"Tap-tapi...hhnn~"

Sebelum Naruto menyelesaikan ucapannya, Sasuke sudah menyerangnya duluan dengan menciumi leher jenjang Naruto penuh nafsu. Sasuke menjilati seluruh kulit leher Naruto penuh dengan nafsu, menghirup aroma jeruk yang begitu ia rindukan selama seminggu itu, mengeluarkan semua kerinduannya dengan menjilatinya secara keseluruhan. Sedangkan Naruto, ia tak bisa melawan, ia sudah berjanji dan janji harus ditepati. Meskipun ia tahu kalau janji itu akan membuatnya menderita.

Sasuke menjilati leher Naruto hingga leher Naruto dipenuhi dengan saliva Sasuke, setelahnya ia merasa leher Naruto sudah basah akan salivanya, ia langsung mengecup bagian leher Naruto yang begitu sensitif, dan akhirnya mampu membuat Naruto mendesah kenikmatan. Sasuke beralih ke pipi kanan Naruto lalu menjilatinya hingga basah dengan salivanya, kemudian ia beralih ke mata, telinga, kening, pipi kiri Naruto dan terakhir bibir Naruto.

"Hmmph~ ahn...hahn~...ah~"

"Yah~ hah~...begituh...terushlahh~ mendesah sayang~" gumam Sasuke seraya mengarahkan tangan kanannya ke buah dada kiri Naruto. Sasuke mendorong Naruto hingga terdempet di daun pintu yang sudah tertutup kemudian ia memasukkan kedua tangannya kedalam tanktop Naruto masih dengan mencium Naruto.

"Hmmph~ Suke~...ahn~ hah~"

Sasuke terus meremas buah dada Naruto dengan hikmatnya, lalu setelahnya cukup, ia langsung melucuti tanktop orange yang dipakai Naruto dengan cepatnya hingga terlihatlah buah dada yang begitu indah dan begitu ia rindukan didepannya. Tanpa fikir panjang lagi, Sasuke langsung memainkan puting kiri Naruto dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sedang asyik membelai-belai miss 'V' Naruto dengan gerakkan cepat.

"Ah~...ah~...hahn~...suke~...pelan-pelan~...aku...akuh...akan...ah~" bersama dengan desahan Naruto tersebut, Naruto mengeluarkan cairan cinta pertamanya, membuat tangan kiri Sasuke basah sekaligus lengket. Sasuke tersenyum tipis kemudian ia mencium bibir Naruto.

"Ini yang kuinginkan sejak dulu, kau menikmati apa yang kulakukan. Aku merasa seperti berada disurga, teruslah mendesah sayang~" bisik Sasuke semakin mempercepat belaiannya ke miss 'V', bahkan terkadang ia nekat memasukkan jemari telunjuknya diantara balutan celana tipis Naruto. Naruto mendesah hebat lalu ia meremas rambut pantat ayam Sasuke dengan kuatnya karena merasakan sensasi yang begitu nikmat sedang menjalarinya. Sasuke yang sudah tak tahan akan desahan Naruto, langsung mencium Naruto dengan ciuman panas yang mampu membuat Naruto tak bisa mendesah. Sasuke menjelajahi seluruh gigi Naruto dengan lidahnya, namun di gigi ke 17 Naruto, lidahnya dihalangi dengan lidah Naruto, hingga ia tergoda dan akhirnya ia memainkan lidah Naruto. Setelahnya cukup ia melepaskan ciumannya, ia memandangi ekspresi Naruto yang sudah dipenuhi nafsu. Wajahnya terlihat lemas dan memerah, matanya sangat sayu dan ia mendesah kelelahan. Melihat ekspresi itu, Sasuke jadi tersenyum sendiri.

Naruto membelai pipi Sasuke dengan lembutnya kemudian berkata 'Lakukanh lagi~ hah~, aku ingin semuanya cepat selesai...hah~'

"Maaf Naruto, aku tak bisa langsung mempercepat permainan ini. Ingat janjimu. Kau harus memuaskanku" sahut Sasuke lalu menghisap puting kiri Naruto, sedangkan tangan kanannya beralih ke buah dada kanan Naruto. Naruto mendesah hebat, ia terasa ingin terjatuh, namun ia dijaga dengan tangan kanan Sasuke tepat di selangkangannya, hingga Naruto tak bisa terjatuh.

"Ahn~...ittai~" jerit Naruto kesakitan ketika Sasuke menggigit puting kiri Naruto dan memasukkan jemari telunjuknya ke miss 'v' Naruto, meskipun miss 'v' Naruto masih dibalutkan oleh celana.

Sasuke beralih ke puting kanan ketika puting kiri Naruto sudah memerah dan membengkak. Sasuke melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan pada puting kiri Naruto, dan Naruto pun hanya bisa mendesah kenikmatan sekaligus kesakitan.

"I Love You...hemm~" gumam Sasuke masih menghisap puting kanan Naruto.

"Hah~ I Love...ah~...you tooo...ah~...ittai...sukeh~" jerit Naruto ketika merasakan gigitan di bagian sisi buah dada kanannya.

Sasuke tersenyum melihat kissmark-nya tergambar di bagian sisi buah dada Naruto, dan ia juga tersenyum akan balasan kata 'I Love You' dari kata Naruto tadi. Sekarang ia yakin, hari ini ia benar-benar akan membuat Naruto jatuh cinta padanya.

Sasuke berjongkok didepan Naruto hingga wajahnya saat ini sepantaran dengan selangkangan Naruto. Ia menarik celana pendek Naruto dengan perlahan-lahan, dan Naruto tak menolak. Naruto hanya mendesah kenikmatan ketika celananya ditarik oleh Sasuke.

Setelahnya celana pendek tersebut sepenuhnya terlepas, Sasuke membuka cd Naruto dan akhirnya menjilati bagian sensitif Naruto tersebut penuh nafsu. Naruto menggigit bibir bawahnya mencoba menahan desahannya yang terus-terusan melandanya, ia menggeliat saat Sasuke menggigit bagian klitorisnya yang begitu sensitif baginya. Naruto mulai mendesah kembali ketika kakinya dipaksa diangkat dan dirangkul ke bahu Sasuke, sedangkan Sasuke terus menjilati miss 'V' Naruto hingga sampai pada akhirnya...

"Ah~ sukeh~ aku...aku akan...menjauhh~ sukeh~"

Croot!

Naruto mengeluarkan cairan cinta keduanya di mulut Sasuke, dan Sasuke pun dengan senang hati menelannya. Namun ia tak menelan seluruhnya, ia menjauhi miss 'v' Naruto kemudian berdiri dan mencium bibir Naruto mencoba berbagi cairan cinta-nya sendiri kepada Naruto dan Naruto pun menerimanya dengan setengah terpaksa.

"Bagaimanah...hah...sayangh...?" desah Sasuke kelelahan.

"Hemm~...manis...tetapih...agak...hambar~ seperti ramen kurang garamh...ahn~"

Sasuke tertawa kecil saat mendengar penjelasan Naruto tersebut kemudian ia kembali mencium Naruto dengan hikmatnya, mencoba memainkan lidahnya kembali dan memindahkan saliva-nya ke dalam mulut Naruto.

Sasuke menciumi leher Naruto penuh nafsu dan kedua tangannya sedang aktif dengan meremas-remas buah dada Naruto.

"Buka mantel dan pakaianku Narutoh~" perintah Sasuke masih terus memainkan buah dada dan menciumi leher Naruto.

"Ha'ih~" balas Naruto dan mulai melucuti mantel dan pakaiannya.

"Hangath...hah~...'kan?" gumam Sasuke seraya memeluk Naruto dan menggigit telinga Naruto. Naruto mendesah tak karuan, kemudian ia menganggukkan kepalanya hingga ia berkata

"Sekarang lepaskanh akuh...hahn~ aku ingin memuaskanmuh~" desah Naruto seraya mencoba melepaskan pelukan Sasuke. Sedangkan Sasuke, ia menurut saja dan melepaskan pelukannya. Naruto berjongkok didepan Sasuke lalu ia membuka celana panjang Sasuke dalam sekali tarik. Begitu terkejutnya dia, Sasuke tak memakai cd, ia langsung memakai celananya tanpa memakai celana dalam apapun. 'Ia sudah mempersiapkannya ternyata. Dasar teme sial!' batin Naruto kesal.

Naruto menjilati setiap sisi batangan Sasuke. Membagikan salivanya yang lengket ke setiap sisi batang dan kepala batangan Sasuke. Naruto memeras dua bola Sasuke dengan remasa lembut namun pasti. Gara-gara perbuatan Naruto tersebut, Sasuke menjadi mendesah tidak karuan, ia merasa kakinya bergetar hebat dan darahnya terasa memanas saat Naruto memainkan lubang kecil kepala batangan Sasuke.

Naruto memainkan batangan Sasuke dengan mengocoknya, dan Sasuke mendesah dibuatnya. Naruto terus mengocoknya hingga Sasuke berteriak menyuruh Naruto pelan-pelan, namun meskipun begitu, Naruto tak memperdulikan hal itu, ia terus mengocok batangan Sasuke dengan cepatnya sampai akhirnya ia mengulum batangan Sasuke saat Sasuke berkata 'Ia akan keluar'.

Croot!

Sperma Sasuke sukses memasukki rongga mulut Naruto, dan Naruto dengan senang hati menelannya. Naruto memaju-mundurkan mulutnya di batangan Sasuke yang dihisapnya. Ia terus memainkannya sampai batangan Sasuke menegang kembali. Sasuke mendesah hebat kemudian membelai rambut pirang Naruto yang begitu lembut itu dengan penuh kasih sayang.

"Ayo kita lanjutkan dengan yang lebih dalam Narutoh~" desah Sasuke tak tahan lagi.

"Seb...hmmh~...hahn~...entar...aku belum...puas...nih~" tolak Naruto masih terus menghisap batangan Sasuke. Sasuke merasa tak senang, meskipun merasakan kenikmatan yang begitu hebat, namun ia ingin merasakan lebih dari ini.

"Dengarkanh...hanh~ aku...Narutoh...kau harus memuaskankuh...jadi ikuti perintahkuh~" Perintah Sasuke seraya menjauhkan batangannya dari mulut Naruto kemudian menggendong Naruto ala bridal style menuju kamar Naruto. Naruto yang digendongnya pun juga merasa tak senang. Ia cemberut dengan bibir dimajukkan kedepan dan mengalihkan wajahnya kearah lain agar bisa mengalihkan wajahnya dari wajah Sasuke. Sasuke tersenyum melihat sikap manja kekasihnya ini, ia tak menyangka kalau Naruto juga bakal menikmatinya. Melihat sikapnya ini, berarti Naruto sudah memiliki perasaan padaku, bagus sekali, batin Sasuke senang.

"Hei, Naruto lihatlah bibirmu...ada sedikit sisa dari sperma-ku tuh, mau kubersihkan tidak?" bisik Sasuke di telinga kanan Naruto. Sedangkan Naruto terkesiap sehingga ia refleks menoleh kearah Sasuke. Naruto melihat senyuman manis Sasuke dan entah kenapa wajahnya tiba-tiba saja memerah saat melihat senyuman itu, dan apalagi jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya, bahkan bisa dibilang berdegup tak normal.

Sasuke mencium bibir bawah Naruto sambil berjalan kemudian ia menjilati bibirnya, ia menyapu seluruh sperma-nya sendiri di bibir bawah Naruto, sedangkan Naruto, ia hanya terdiam dan membiarkan Sasuke melakukan aksinya.

5 menit kemudian ia tiba di kamar Naruto, tanpa fikir panjang lagi, Sasuke langsung meniduri tubuh Naruto di tempat tidur tanpa menutup pintu kamar terdahulu karena ia saking tak sabarnya.

Sasuke menindihkan Naruto dan Naruto sedikit sesak nafas dibuatnya. Namun itu hanya sebentar, Sasuke langsung mengendurkan tubuhnya dan ia langsung menciumi bibir Naruto penuh gairah dan nafsu, dan Naruto pun membalas ciuman Sasuke sama nafsunya. Mereka saling beradu lidah dan suara decitan antar bibir pun mulai terdengar diruangan kecil tersebut.

Baru saja berciuman, namun tempat tidur yang mereka pakai tersebut sudah terlihat berantakan dan tak rapih sekali. Jendela yang sejak tadi memang tak ditutupi gorden membuat sinar rembulan menyinari 'aktifitas' kedua insan itu dan menjadi saksi mata akan tindakan mereka berdua.

Sasuke mengecup dahi, pipi kiri dan kanan, bibir, dagu, dan leher. Ia berhenti tepat di antar buah kedua dada Naruto. Ia menghisap puting Naruto yang sudah mengeras tersebut dengan hikmatnya, dan kanan kirinya meremas-remas buah dada kanan Naruto hingga mengeluarkan kelenjar susunya. Naruto mendesah, apalagi saat tangan kanannya Sasuke mulai memasukkan jemarinya di miss 'v' Naruto.

Naruto mengeluarkan sedikit air mata karena merasakan kesakitan yang luar biasa di bagian miss 'v'-nya, ia terus menggeliat menahan rasa sakit namun nikmat itu diatas ranjang. Sedangkan Sasuke, ia terus memainkan puting Naruto dan memaju-mundurkan dua jemarinya yang sudah berhasil masuk ke miss 'v' Naruto.

"Hahn~...ahn~ ittei~!...Sukeh-kuunn~!"

"Tenang sayang, rasa sakitnya hanya sebentarh"

Ketikanya ia merasa cukup. Sasuke menjauhkan jemarinya dan itu membuat Naruto merasa lega. Naruto menghembuskan nafasnya dalam diam, bermaksud mencoba menyembunyikan nafasnya itu agar tak terdengar di telinga Sasuke. Naruto memejamkan matanya mencoba menenangkan diri, namun itu tak bertahan lama. Beberapa detik kemudian ia merasakan perasaan yang begitu menggelikan sekali di selangkangannya, ia begitu geli bahkan ia tertawa saat rasa geli itu mulai menjalari seluruh tubuhnya.

"Kau suka Naruto?"

"Hahaha...hmmmh~...hentikanh...haha..."

"Bersiaplah sayang, aku akan memasukkannya"

"Hah! Tungg...adududuh...ittei! sukeh~!"

Sasuke secara perlahan-lahan mencoba memasukkan batangannya ke lubang sempit Naruto, ia melakukannya dengan begitu lembut, berusaha untuk tidak menyakiti gadis yang ia cintai tersebut. Namun meskipun begitu, Naruto tetap merasakan kesakitan yang luar biasa. Sasuke langsung menciumnya, ia mencoba menenangkan Naruto yang menjerit tersebut dengan memainkan lidahnya. Kemudian bersama dengan masuknya batangannya tersebut, Naruto mulai memejamkan matanya, dan menikmati rasa hangat di mulutnya dan bagian selangkangannya.

Sasuke mulai memainkan batangannya di dalam miss 'v' Naruto. Ia memaju-mundurkannya secara perlahan-lahan, membiarkan Naruto menikmatinya terdahulu. Lalu saat Naruto mulai mendesah didalam ciumannya, Sasuke mulai sedikit mempercepat gerakkannya. Ia memaju-mundurkan batangannya dengan gerakkan sedang, membuat Naruto mendesah tak karuan. Naruto terkadang menjerit, mendesah, menangis dan sebagainya. Namun hal itu karena ia menikmatinya. Ia begitu menikmatinya hingga sampai-sampai desahannya tak tertahan lagi.

Naruto meremas sprei tempat tidurnya ketikanya Sasuke semakin mempercepat gerakkannya, dan Naruto hanya mendesah kenikmatan dibawahnya. Sasuke mengangkat kaki kiri Naruto ke bahunya kemudian ia semakin mempercepat gerakkan memaju-mundurnya sehingga membuat Naruto menjerit tak karuan.

"Ah...aha...ahn...ahn...hn...ahahn...Sukeh...pelanh-ppelan...hanh~" desah Naruto di permainan gila Sasuke. Sedangkan Sasuke tak menghiraukan desahan Naruto tersebut. Ia terus bergerak dengan cepat hingga akhirnya ia...

"Narutoh~ aku akan...aaahhhhhmmmnn"

Sasuke mengeluarkan cairan keduanya. Sasuke melepaskan batangannya tersebut dari lubang Naruto kemudian menarik Naruto di pangkuannya. Sasuke memandangi Naruto yang sudah dipenuhi keringat dan terlihat sangat kelelahan. Awalnya ia merasa kasihan, tetapi ia belum leah, dan ia juga masih belum puas. Batangannya masih dalam keadaan 'on'. Tak mungkin kalau dirinya harus menghentikan permainan tersebut sekarang.

Sasuke menyuruh Naruto berjongkok bermaksud untuk mempersiapkan batangan Sasuke agar tepat berada dilubangnya. Setelahnya merasa sudah tepat, Sasuke menyuruh Naruto untuk memasukkan batangannya ke dalam lubang Naruto dan Naruto pun menurutinya. Naruto memasukki batangan Sasuke secara perlahan-lahan ke lubangnya. Terkadang ia menjerit menahan rasa sakit yang kembali melandanya hingga sampai pada akhirnya lubangnya tersebut berhasil masuk kedalam. Sekarang Naruto dan Sasuke sedang melakukan gaya sit seks. Mereka berdua saling berpelukan, mencoba merasakan kehangatan yang menjalari mereka berdua, hanya bagian intim mereka sajalah yang bergerak. Mereka hanya saling berbagi cinta dengan ciuman dan nafsu, sambil menunggu cairan cinta mereka keluar masing-masing.

"SASUKEHH~"

"NARUTOOOH~"

Crooott!

Cairan ketiga mereka sudah keluar, tetapi mereka berdua masih belum lelah. Naruto melepaskan batangan Sasuke dan lubangnya kemudian ia merangkak di selangkangan Sasuke dan menjilati batangan Sasuke dengan hikmatnya bermaksud untuk membersihkan batangan Sasuke tersebut dari campuran cairan mereka berdua. Naruto mulai menghisap batangan Sasuke sampai bersih kembali dan mereka kembali ke 'ronde 4' dengan gaya horse seks, kemudian di 'ronde 5' gaya 69, di 'ronde 6' gaya miring, di 'ronde 7' gaya women up seks, dan seterusnya sampai mereka benar-benar kelelahan.

-x-x-x-x-

Cahaya matahari pagi menyinari ruangan kamar yang begitu bau cairan cinta tersebut dengan sinar yang begitu hangat dan nyaman seakan-akan menyuruh kedua insan yang tertidur namun masih 'bersatu' tersebut untuk membuka matanya. Orang pertama yang membuka matanya adalah Naruto, yaitu seorang gadis yang berada dibawah pemuda berambut pantat ayam. Ia membuka matanya secara mendadak kemudian mendorong Sasuke secara kasar lalu ia beranjak bangun dan berlari kearah toilet tak memperdulikan rasa sakit yang mulai menjalari selangkangannya.

Setibanya disana, Naruto membuka closet dan mulai memuntahkan isi perutnya. Sebenarnya yang keluar bukanlah makanan yang ia makan atau sejenisnya, melainkan hanya cairan biasa seakan-akan didalam tubuhnya hanya menyuruhnya untuk mengeluarkan cairan yang tak penting dalam tubuhnya. Hal itu tak berlangsung lama, Naruto selesai di muntahan ketiganya ketika ia merasakan perutnya ditendang seseorang. Ia terkejut kemudian menundukkan kepalanya bermaksud melihat perutnya kembali.

"Merasa mual?"

Naruto menolehkan kepalanya kearah daun pintu saat mendengar suara Sasuke disana. Sasuke berjalan mendekati Naruto kemudian setibanya disana, ia memeluk Naruto penuh kasih sayang tak perduli kalau dirinya masih dalam keadaan telanjang, begitupula Naruto.

"Sa..."

"Lusa besok kita akan menikah, jadi kau tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab"

"HAH! Apa maksudmu?! Aku tak mau!"

"Lalu siapa yang merawat anak kita yang berada di perutmu itu? Kau sendiri? Jangan bercanda" balas Sasuke dingin seraya memegang kedua bahu Naruto. Sedangkan Naruto masih terdiam karena belum konek akan perkataan Sasuke itu.

1%

10%

50%

89%

99%

"NANI! APA KATAMU?!"

TBC

A/N : Oke...oke. bagaimana? Hot'kah? Garing kah? Maaf yah kalau misalkan garing, Shisui emang gak berbakat kalau misalkan membayangkan hal-hal yang mesum, hihi#mimisan*plak!*.

Tunggu chappie selanjutnya yah...

Jaa~