.
.
SASUHINA
.
.
.
.
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Moonlight in Onyx
.
.
.
.
.
Keheningan tercipta di dalam sebuah mobil sport merah yang berisikan dua insan manusia yang tengah menanjak masa remaja. Tidak ada yang berinisiatif untuk memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. Karena mereka telah berkutat dengan pikirannya masing-masing.
Sesekali pemuda yang mempunyai tato 'Ai' di keningnya itu, menggerakkan ekor matanya ke arah gadis berambut indigo yang ada di sampingnya. Mencoba mencari tahu apa gerangan yang dilakukan oleh gadis bermarga Hyuuga ini. Tidak ada yang berubah dari gadis itu, posisinya tetap sama sejak mobil ini keluar dari mansion Hyuuga.
"Hinata." Merasa bosan dengan keheningan yang terjadi, akhirnya pemuda ini membuka suaranya.
"..."
Tetapi sepertinya Hinata tidak menanggapi panggilannya. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk memanggil Hinata dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
"Hinata!"
"Ah! A-ada apa, Gaara-kun?" tanya Hinata yang sedikit terlonjak kaget karena panggilan Gaara.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Gaara.
"Tidak ada. Aku hanya mencoba mengingat-ingat kembali mimpiku semalam," jelas Hinata.
"Mimpi. Memangnya siapa yang ada di dalam mimpimu? Sehingga kau begitu ingin mengingatnya kembali."
"I-itu..." Terlihat rona merah tipis di wajah Hinata. "Oh iya, Gaara. Apa kamu sudah mengurus kepindahanmu ini secara lengkap?"
Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau, kalau Gaara terus mencoba mencari tahu tentang mimpinya semalam. Karena seingat Hinata, di dalam mimpi tersebut dia tengah bersama dengan pemuda itu. Pemuda yang akhir-akhir ini telah mengusik hatinya.
"Sudah. Aku hanya perlu masuk ke ruang Guru untuk melapor tentang kepindahanku ini," jelas Gaara.
"Ooh, syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong kamu di kelas mana?" tanya Hinata.
"Kelas 2-1."
"Apa? Itu 'kan kelasku. Jadi kita bisa satu kelas donk. Senangnya ... ̴"
Tanpa terasa mobil yang mereka kendarai telah memasuki gerbang Konoha Gakuen. Karena Konoha Gakuen termasuk sekolah yang elit, makanya diperbolehkan untuk para siswa mengendarai mobil ke sekolah. Dengan syarat, harus memiliki SIM terlebih dahulu.
Pagi itu kehebohan terjadi lagi di halaman depan Konoha Gakuen. Hal itu disebabkan oleh gadis sama yang telah menjadi sumber gosip akhir-akhir ini. Setelah beberapa hari yang lalu, Hinata terlibat skandal dengan siswa yang populer bernama Uchiha Sasuke. Sekarang gadis itu sepertinya telah membuat skandal yang baru.
Berjalan beriringan dengan pemuda yang ketampanannya tidak diragukan lagi. Rambutnya yang berwarna merah bata dan tato 'Ai'-nya itu dapat menarik perhatian para siswa Konoha Gakuen. Mereka bukan hanya berjalan bersama tetapi juga bergandengan tangan. Tentu saja hal ini malah semakin membuat para siswa, khususnya yang cewek semakin penasaran dengan identitas pemuda itu dan juga hubungan mereka berdua.
Genggaman Hinata pada tangan Gaara semakin erat. Pemuda itu menoleh, Hinata terlihat tidak nyaman di mata Gaara. Dia langaung mengetahui apa yang menyebabkan Hinata jadi seperti ini. Alhasil, Gaara menarik Hinata untuk jalan lebih cepat dari sebelumnya.
Hinata sedikit tersentak ketika Gaara tiba-tiba menariknya. Lalu seulas senyuman hadir di wajah manis Hinata. Sahabatnya ini walaupun tidak banyak bicara, tetapi selalu dapat merasakan apa yang dialami oleh Hinata.
Dari jauh tampak sepasang mata onyx yang menatap tajam ke arah Gaara dan Hinata. Sangat terlihat kalau wajah tampan pemuda itu memancarkan raut kecewa.
'Apa-apaan senyumannya itu?' batin pemuda itu.
.
.
.
.
.
Hinata bernafas lega ketika dia sudah duduk di bangku kelasnya. Setelah masuk ke gedung sekolah, Gaara berpisah dengan Hinata. Gaara menuju ke ruang Guru, sedangkan Hinata menuju ke kelasnya sendiri.
Semburat merah muncul di pipi Hinata, ketika dia melihat tempat duduk yang ada di depannya. Hinata teringat dengan peristiwa yang terjadi kemarin. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat bertemu dengan Sasuke nantinya.
Sebuah memori terlintas di pikiran Hinata. Yaitu mimpi yang terjadi semalam. Di mimpi tersebut, Hinata merasa digendong oleh seorang pemuda. Hinata tidak dapat melihat lebih jelas wajah pemuda tersebut.
Namun dengan pasti, Hinata dapat mengenali siapa pemuda itu melalui suaranya. Suara yang sangat Hinata kenali, suara itu adalah suara pemuda bermata onyx. Seingat Hinata, Sasuke mengucapkan sesuatu. Tetapi saat ini Hinata masih belum ingat sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Sasuke.
"Alasannya adalah-..."
Setelah kata itu, Hinata tidak dapat mengingatnya lagi. Hinata berfikir apakah mungkin yang dimaksud alasan itu adalah jawaban atas pertanyaan Hinata pada Sasuke kemarin. Kalau itu iya, dia akan mencoba lebih keras lagi untuk mengingatnya lagi.
Pikiran Hinata buyar ketika dia mendengar Sakura yang menyapa seseorang. Seseorang yang dapat membuat jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya.
"Ohayou, Sasuke-kun," sapa Sakura disertai dengan senyuman andalannya.
"..." Sasuke sama sekali tidak membalas sapaan Sakura.
"Kau itu pelit bicara sekali sih, Teme. Membalas sapaan apa sulitnya sih?" seru Naruto.
Naruto langsung menelan ludahnya, ketika mendapat deathglare gratis dari Sasuke. Pemuda bermarga Uzumaki itu sih sudah biasa mendapatkan deathglare dari Sasuke. Tetapi kali ini terasa berbeda, entah kenapa untuk pertama kalinya Sasuke terlihat menyeramkan di mata Naruto.
Bukan hanya Naruto saja yang merasa seperti itu, tetapi siswa lainnya juga merasakan hal yang sama. Pagi ini Sasuke terlihat sedikit berbeda. Kalau biasanya pemuda Uchiha itu selalu berekspresi datar, tetapi sekarang terlihat ada raut kesal di wajahnya. Kalau begini sih jangankan para siswa, Naruto saja tidak akan berminat untuk mengganggu Sasuke.
Sepertinya Hinata juga merasakan perbedaan pada Sasuke. Tetapi dia langsung tersenyum ketika Sasuke sampai di depan bangkunya. Pemuda itu hanya melihat sekilas ke arah Hinata, lalu dia meletakkan tas dan duduk di bangkunya.
Walaupun cuma sekilas, Hinata dapat jelas mengetahui kalau tadi Sasuke menatapnya dengan tajam. Hal ini membuat raut kecewa di wajah Hinata. Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikirannya.
Kenapa Sasuke terlihat berbeda hari ini?
Apakah hal itu berhubungan dengan dirinya?
Apakah karena kejadian dengan Neji-nii kemarin?
Atau mungkin ada masalah lain yang menyebabkan Sasuke jadi seperti ini?
Apapun itu, Hinata sangat khawatir dengan kondisi Sasuke sekarang. Keheningan kelas terpecahkan ketika Kurenai-sensei memasuki kelas 2-1 ini.
"Ohayou," sapa Kurenai-sensei.
"Ohayou, Kurenai-sensei," balas para siswa.
"Hari ini kalian akan kembali mendapatkan teman baru. Silahkan masuk," ucap Kurenai-sensei.
Para siswa begitu penasaran dengan murid baru yang akan datang kali ini. Banyak yang menduga kalau muris barunya adalah pemuda tampan yang tadi pagi mampu menarik perhatian para siswa Konoha Gakuen.
Hal itu terbukti benar, ketika seorang pemuda tampan yang mempunyai warna mata zamrud itu memasuki kelas. Para gadis bertambah gembira, karena dengan ini akan bertambah saja pemuda tampan yang ada di kelas mereka.
Sedangkan para pemudanya, semakin kecewa. Karena mereka merasa semakin merasa kalah pamor di mata para gadis di kelas 2-1 ini. Sasuke saja sudah membuat mereka tidak percaya diri. Sekarang ditambah lagi dengan pemuda asing ini, mereka semakin merasa putus asa.
Sepasang mata onyx sedikit melebar, ketika pemuda berambut merah bata itu memasuki kelas 2-1. Namun dia segera mengembalikan ekspresinya wajahnya seperti semula. Walaupun begitu, pandangannya tetap tertuju pada siswa baru tersebut.
"Perkenalkanlah dirimu," perintah Kurenai-sensei.
"Sabaku Gaara dari Suna," ucap Gaara yang terdengar sangat datar sekali.
Para gadis semakin terpesona melihat perilaku Gaara. Ternyata ada yang dapat menandingi sikap cool-nya Sasuke. Hal ini semakin menambah nilai plus Gaara di mata para gadis di kelas ini.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" tanya Kurenai-sensei.
"Tidak ada," jawab Gaara.
"Baiklah. Kamu duduk di bangku kosong yang ada di belakang Hyuuga Hinata."
"Hn."
Kurenai-sensei sebenarnya belum selesai berbicara, tetapi Gaara langsung melenggang pergi menuju bangku yang ada di belakang Hinata.
Para penghuni kelas 2-1 dibuat bertanya-tanya. Kenapa Gaara sudah mengenal Hinata? Karena buktinya tanpa ada yang memberi tahu letak bangku Hinata, Gaara langsung dapat mengetahuinya. Lalu sebenarnya apa hubungan mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terngiang-ngiang di kepala teman-teman sekelas Hinata. Mungkin mereka lupa bahwa Hinata juga berasal dari Suna.
Ketika Gaara melewati bangku Sasuke, dia melirik ke arah pemuda Uchiha tersebut. Pada saat itu juga, Sasuke juga tengah menatap Gaara. Akhirnya kedua mata mereka bertemu. Tidak ada yang bisa mengartikan kedua tatapan pemuda tersebut.
Tetapi entah kenapa, Hinata merasa ada aura negatif yang muncul dari kedua pemuda tersebut.
.
.
.
.
.
Ketika bel pertanda jam pelajaran untuk hari ini telah selesai, Hinata segera memasukkan semua peralatan tulisnya. Tidak seperti biasanya yang selalu pulang terakhir sendiri, hari ini dia tidak berniat untuk itu.
Karena seseorang yang harus Hinata ajak bicara bersama, sudah melenggang pergi sejak bel tadi berbunyi. Setelah semua peralatan tulisnya masuk ke dalam tasnya. Dia berniat untuk pamit dengan Gaara.
"Gomenasai, Gaara-kun. Hari ini kita tidak bisa pulang bersama," ucap Gaara.
"Kenapa?" tanya Gaara.
"Karena aku harus segera berbicara dengan seseorang sekarang ini," jawab HInata.
"Siapa?" selidik Gaara.
"I-itu... Nanti akan aku beritahu," jawab Hinata dengan rona tipis di wajahnya.
Melihat wajah Hinata yang sedang merona itu, melintas satu jawaban di kepala Gaara. Jawaban tentang siapa yang akan ditemui oleh Hinata.
"Hn."
"Baiklah, aku pergi dulu ya."
Setelah mengatakan hal itu, Hinata bergegas keluar dari kelas. Hinata ingin berjalan cepat dan segera bertemu dengan Sasuke. Tetapi situasi di koridor sekolah kali ini tidak mendukungnya.
Hinata sulit berjalan cepat, karena di koridor dipenuhi dengan para siswa lain yang juga akan pulang. Dengan postur badannya yang kecil itu, Hinata tidak bisa mencari celah untuk berjalan lebih dahulu dari yang lain.
'Aduh bagaimana ini? Aku harus segera menemui Sasuke-kun. Sebelum dia pulang ke rumahnya', batin Hinata.
Hinata sedikit terkejut ketika ada seseorang yang menggenggan tangannya dan menariknya untuk berjalan bersamanya. Dia menoleh, dan mendapati Gaara yang berjalan di sampingnya.
"Minggir."
Dengan satu kata, Gaara berhasil membuat para siswa Konoha Gakuen menyingkir ke tepi koridor. Alhasil, sekarang Hinata dapat berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Dengan Gaara tentunya yang setia ada di sampingnya.
"Arigatou, Gaara-kun," ucap Hinata dengan tersenyum lembut pada Gaara.
"Hn," balas Gaara.
Akhirnya mereka sampai di halaman depan Konoha Gakuen. Ketika Hinata akan pergi meninggalkannya, Gaara menahan gadis itu.
"Tunggu, Hinata," ucap Gaara.
"Ada apa, Gaara-kun?" tanya Hinata yang heran ketika Gaara menahan tangannya.
"Apa kamu benar-benar menyukainya, Hinata?"
"Alasannya adalah agar kamu dapat benar-benar menyukai diriku apa adanya."
Sepertinya pertanyaan dari Gaara tadi telah mengingatkan kembali mimpinya semalam. Hinata sangat senang sekali. Alhasil senyuman merekah di bibirnya.
"Arigatou, Gaara-kun."
Setelah itu, Hinata berlari keluar dari gedung Konoha Gakuen. Walaupun dia merasakan sedikit nyeri pada pergelangan kaki kanannya -karena terjatuh kemarin, gadis Hyuuga tersebut tidak memperdulikannya. Sekarang yang diinginkannya cuma satu, bertemu dengan pemuda bermata onyx itu.
Sedangkan Gaara hanya bisa berdiri dalam diam, karena tanpa Hinata menjawab pertanyaannya pun, dia sudah mengetahuinya. Karena selama ini, Hinata tidak pernah tersenyum seindah itu. Pastilah gadis itu mempunyai perasaan yang mendalam pada pemuda bermata onyx itu.
.
.
.
.
.
Hinata menuju ke tempat biasanya Sasuke berada. Entah kenapa setiap Hinata bertujuan mencari keberadaan pemuda Uchiha tersebut. Hanya tempat itu yang terlintas di pikiran Hinata.
'Sasuke-kun, kita harus bicara sekarang,' batin Hinata.
Nafas Hinata sedikit terengah-engah, setelah dia sampai di taman itu. Dia mengendarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman tersebut. Namun sosok pemuda yang ingin ditemuinya tidak tampak sama sekali.
Hinata masuk ke dalam taman tersebut dengan langkah yang sedikit pincang. Maklumlah, pergelangan kakinya 'kan belum sembuh total. Apalagi tadi dia berlari, akibatnya rasa nyeri lagi-lagi menyerangnya.
"Sasuke-kun, sekarang kamu ada dimana?" gumam Hinata.
Rasa nyeri, lelah dan kekecewaan yang dialaminya, membuat Hinata jatuh terduduk ke tanah. Dia mencoba menormalkan kembali lagi pernafasannya.
"Kau itu senang sekali duduk di tanah."
Hinata langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Di samping kanannya, tampaklah Sasuke yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya.
"Sa-sasuke-kun," ucap Hinata dengan senyuman yang terukir di wajahnya manisnya.
Gadis itu berdiri dari posisi duduknya, untuk lebih memudahkannya berbicara dengan Sasuke.
"Hn. Kenapa kau ke sini?" tanya Sasuke.
"A-aku..."
"Sebaiknya kau cepat pulang, sebelum kakakmu ke sini untuk mencarimu." Hinata belum sempat melanjutkan perkataannya, namun Sasuke telah terlebih dahulu memotongnya.
"Ta-tapi..."
"Aku tidak mau kau mendapat masalah karena berada di dekatku."
"Mengenai itu..."
"Kalau kau tidak mau pergi, aku saja yang pergi."
Sasuke membalikkan badan dan hendak melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Hinata. Namun niatnya itu kali ini tidak akan terlaksana. Ketika ada sepasang lengan yang melingkar di perutnya.
Sepasang mata onyx itu terlihat sedikit terbelalak ketika ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Dan Sasuke semakin terkejut setelah mengetahui bahwa yang kini sedang memeluknya adalah gadis bermata lavender itu.
"Tu-tunggu dulu, Sasuke-kun. Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," pinta Hinata.
Sasuke terlihat menghela nafas, dia mencoba menghilangkan keterkejutan yang ada di wajahnya.
"Lepaskan," ucap Sasuke.
"Tidak mau." Hinata semakin mengeratkan pelukannya pada Sasuke.
"Lepaskan," ulang Sasuke.
"Tidak mau. Kalau aku lepas, pa-pasti kamu akan pergi dari sini," balas Hinata.
Sebenarnya kalau saat ini yang memeluknya bukan Hinata, pasti Sasuke akan melepasnya secara paksa. Tetapi dia tidak tega untuk melakukannya. Karena hal itu pasti akan menyakiti tangan Hinata.
"Hufh...apa kau selalu berbuat begini agar orang lain mau menuruti keinginanmu?"
"Ti-tidak." Muncul deh rona merah di wajah Hinata.
"Baiklah. Lepaskan tanganmu terlebih dahulu."
"Kamu akan mendengarkan penjelasanku 'kan? Setelah aku melepaskanmu."
"Hn."
Hinata mulai menarik kedua tangannya dari Sasuke. Wajah Hinata merona merah, karena telah memeluk pemuda Uchiha itu dengan beraninya.
Sasuke berbalik menghadap Hinata. Tatapannya sedikit berubah, tidak setajam tadi. Kini tatapan Sasuke sedikit melembut, dia menunggu penjelasan dari Hinata.
Hinata terlihat memejamkan kedua matanya, menghirup udara dalam-dalam dan melepaskannya. Sebenarnya gadis Hyuuga itu tengah mengumpulkan segenap keberaniannya. Karena sekarang dia akan mengungkapkan segala perasaan yang ada di dalam hatinya.
Ketika Hinata membuka sepasang mata lavendernya, tampaklah kesungguhan, keberanian dan ketegasan di dalamnya.
"Sebelum bertemu denganmu, hatiku selalu dipenuhi oleh sosok anak laki-laki yang telah menolongku dulu. Walaupun semakin lama wajah anak itu memudar dalam ingatanku, tetapi perasaanku padanya tidak pernah hilang," jelas Hinata.
"..."
"Aku sangat terkejut ketika mengetahui, kalau ternyata anak laki-laki itu adalah kamu. Aku benar-benar tidak menyangkanya."
"Kalau itu aku sudah tahu," ucap Sasuke.
"Apa kamu juga tahu, kenapa pada saat itu aku berlari meninggalkanmu?"
"..."
Sasuke terdiam, sepertinya kali ini Sasuke tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Melihat itu, Hinata melanjutkan perkataannya.
"Karena aku sangat malu dan tidak tahu harus berbuat apa. Saat mengetahui bahwa penolongku dulu adalah seorang pemuda yang akhir-akhir ini selalu mengusik pikiran dan hatiku."
Sasuke terkejut mendengar penuturan dari Hinata itu. Dia sungguh tidak menyangka bahwa gadis yang ada di hadapannya ini akan berkata seperi itu.
"Awalnya aku bimbang dengan perasaanku ini. Tetapi setelah aku pikirkan baik-baik, ternyata perasaan ini muncul jauh sebelum aku mengetahui bahwa kamu adalah penolong kecilku."
Gadis ini semakin membuat Sasuke tidak dapat mengalihkan perhatian darinya. Sekarang yang terdengar di telinga Sasuke, hanyalah suara merdu Hinata.
"Tanpa sadar selama beberapa hari ini, aku tidak memikirkan anak laki-laki itu lagi. Itu karena pikiran dan hatiku selalu disibukkan oleh dirimu."
Walaupun samar, sedikit rona merah terlihat di wajah Sasuke. Hinata telah membuat topeng dingin perlahan terlepas dari wajah pemuda itu.
"Oleh karena itu, dengan tegas aku katakan bahwa aku benar-benar su-..."
Hinata tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena bibir Sasuke telah mengunci bibirnya. Sepasang mata lavender itu membulat dengan sempurna saat Sasuke dengan tiba-tiba menciumnya.
Sasuke kehilangan kendali, saat Hinata mencurahkan segala perasaan kepadanya. Bahkan pemuda beriris onyx itu tidak dapat berpikir apapun, ketika secara refleks dia memeluk Hinata dan menciumnya. Dan beberapa detik kemudian, Sasuke melepaskan ciumannya pada Hinata.
"Sudah cukup. Jangan berbicara lagi," ucap Sasuke.
"Tapi Sasu-hmmmp..."
Lagi-lagi Hinata tidak dapat melanjutkan protesnya, ketika untuk kedua kalinya Sasuke menginterupsi bibirnya. Walaupun begitu sepertinya Hinata menyukai tindakan Sasuke itu. Itu terlihat dari perilaku Hinata yang mulai memejamkan kedua matanya.
Tidak lama kemudian, Hinata membuka sepasang matanya. Setelah Sasuke tidak lagi mendominasi bibirnya. Hinata tersenyum lembut pada pemuda yang telah merebut first kiss-nya itu.
"Jangan berbicara lagi lebih dari ini. Kau telah mengambil semua kata-kata yang seharusnya aku ucapkan," ucap Sasuke.
Hinata terkejut ketika melihat ada rona merah di wajah pemuda yang ada di hadapannya ini. Dia tidak menyangka bahwa Sasuke ternyata mempunyai ekspresi seperti ini juga.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Sasuke sambil mencoba menutupi rona merah yang ada di wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kamu malu ya, Sasuke-kun?" tanya Hinata dengan sedikit tersenyum.
"Ti-tidak."
Seyuman Hinata semakin melebar melihat Sasuke yang tengah tersipu malu seperti itu.
"Tenang saja aku tidak akan melihatmu kok."
Sasuke dibuat terkejut untuk kesekian kalinya, ketika tanpa diduganya sekarang Hinata menariknya ke dalam sebuah pelukan.
"Dengan begini, kau tidak perlu malu lagi. Karena sekarang aku tidak bisa melihat wajahmu," ucap Hinata seraya mempererat pelukannya pada Sasuke.
Hari ini Sasuke telah dibuat tidak berdaya oleh seorang Hyuuga Hinata. Walaupun begitu, dia sangat menyukainya. Sasuke membalas pelukan Hinata, dengan melingkarkan kedua lengannya di badan mungil gadis itu.
Senyuman tidak terlepas dari wajah tampan pemuda Uchiha tersebut. Sasuke sangat menikmati saat hidungnya berentuhan dengan leher jenjang Hinata. Dan menghirup dalam-dalam aroma lavender yang menguar di sekeliling hidungnya.
Tanpa disadari oleh sepasang remaja yang tengah di mabuk asmara itu. Tak jauh dari taman tersebut, ada seorang pemuda bermata jade yang melihat semua peristiwa yang telah terjadi saat itu.
Tatapannya yang diarahkan pada Sasuke dan Hinata itu, tidak dapat diartikan oleh siapa pun. Entah apa yang disembunyikan di balik wajah datarnya itu.
"Akhirnya kau mengatakannya juga, Hinata."
.
.
.
.
.
^TBC^
.
.
Thanks to read
.
.
.
.
.
Balasan review untuk chapter 8 :
R, N, Megumi Airi, Sasuhina-caem, Mizuki Kana, Kka-ikka : Ini sudah Meiru update.
Hizuka Meyuki : Meiru senang sekali ternyata kamu menyukai adegan SH-nya. Meiru sungguh tidak menyangkanya. Karena munculnya Gaara kan hubungan SH jadi lebih berwarna, heheee...
Lollytha-chan : Ternyata tentang cara penulisannya, ya? Padahal Meiru kan masih amatir banget...T,T
Tata-chan : Ga tw nih? MIO sampai chapter berapa. Meiru masih belum kepikiran *plak*.
Chikuma unlogin : Kali ini chapternya sedikit lebih panjang. SasuGaa kan tidak saling mengenal, jadinya aku buat mereka seperti orang asing. Sedang Neji itu sudah mengenal Sasu, karena dia selalu menyelidiki siapa saja yang ada di samping Imouto-nya itu. Meiru senang bgtz, kalau kamu menyadari akan sedikit teka-teki yang Meiru taruh di setiap chapternya.
Shyoul Lavaen : Mengenai surat, lihat saja di chap2 sebelumnya. Pasti kau akan mengetahuinya. Mungkin duel SasuGaa akan muncul minggu depan, tetapi Meiru belum bisa janji *plak*. Meiru juga suka banget sama SasuHinaGaa.
Uchiha Flynn : Meiru juga menyukai fic SH yang Sasu suka menjahili Hina, heheee...*ditimpuk sandal sama Hinata FC*.
Miya-hime Nakashinki : Meiru juga suka BGTZ sama SasuHinaGaa...so cute...Sekarang kamu sudah tahu kan alasan Sasuke sebenarnya.
Animea Lover Ya-ha : Ini sudah Meiru update. Meiru memang suka membuat orang lain penasaran, khe khe khe...*plak*. Tentang alasannya Sasu sudah Meiru ungkapin di chapter ini.
Mei Anna AiHina : Slam kenal juga... Alasan Sasu sudah Meiru ungkapin di chapter ini. Meiru senang banget kamu mau nge-fav fic ini..
And thanks to review
.
.
.
Terima kasih karena kalian berkenan menjawab pertanyaan dari Meiru kemarin
Semua jawaban kalian sangat membantu dan mendukung Meiru saat menulis fi ini
Arigatou...
Meiru mau bertanya lagi, nich...
"Dari semua chapter Moonlight in Onyx saat ini, adegan Sasuhina di chapter berapa yang paling kalian sukai? Bagaimana adegannya? Kenapa kalian menyukainya?"
Untuk kesekian kalinya, Meiru sangat berharap kalian mau menjawab pertanyaan ini
Arigatou...^_^
