Disclaimer :

Naruto Masashi Kisimoto

High School DxD Ichiei Ishibumi

Summary : Uzumaki Naruto, Sosok pemuda yang tidak mengingat apapun dan bagaimana dirinya bisa berada di sebuah dunia yang penuh supranatural dan di Sana Naruto harus menjalani kehidupannya untuk mendapatkan memorinya kembali

Naruto : The Magical Battle

Pair :

Naruto x ...

Genre : Adventure, Fantasy, Romance, Little Humor, Sci-Fi, Echhi, Incest!, DLL

Rate : M

Warning : Typo, AU, OC, OOC, Multichap, Jutsu Buatan sendiri, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, NotMemories! Naruto, SacredBeast! Naruto.

" Naruto " berbicara

' Naruto ' batin

[" Naruto "] Beast/Sacred Beast berbicara

[' Naruto '] Batin Beast/Sacred Beast.

.

Chapter 10 : Mirror.

.

Sabtu, 31 Maret 2019

07.00 AM

Forest

.

Uzumaki Naruto, itulah nama dari seorang pemuda yang saat ini tengah berdiri dengan pedang tumpul di sebuah hutan lebat. Mungkin banyak yang berpikir, pemuda ini sangat lemah karena membawa benda tumpul, namun mereka tidak mengetahui bahwa dia memiliki 3 Sacred Beast legenda yang berjiwa Manusia.

[Iki] dengan jiwa manusia bernama Inori, perempuan dengan Element Api [Fire] serta Element Darah [Blood],[Excalibur] dengan jiwa manusia bernama Jeanne D'arc, perempuan dengan Element Cahaya [Light] dan Element Angin [Wind], dan [Mendo] dengan jiwa manusia bernama Hestia dengan Element Es [Ice].

Sacred Beast [Iki] secara tak sengaja di temukan oleh Naruto karena dia mendekatinya dalam bentuk kalung permata berwarna merah dan menyelamatkannya dari maut saat melawan [Minotaur].

Sementara [Excalibur] secara tak sengaja dia dapat karena salah satu orang di sekolahnya memberikannya sebuah pedang tumpul, namun orang tersebut tidak menyadari bahwa pedang yang dia berikan adalah Sacred Beast [Excalibur]

Waktu itu dia berusaha menyelamatkan seseorang dengan pedang tumpul miliknya tanpa memiliki kekuatan sedikit pun, mungkin memang terdengar gila, tapi itulah yang dia lakukan.

Dia berhasil melakukannya namun [Minotaur] sangat kuat hingga berhasil membuat serangan pembalasan padanya. Saat akan di bunuh mereka berdua muncul dan menyelamatkannya.

Biasanya, seorang manusia hanya bisa Satu Sacred Beast, karena jika lebih dari satu, Energi mereka tidak akan kuat dan akan meledakkan tubuh sang pemilik Sacred Beast karena tidak kuat menahan energi Sacred Beast yang besar.

Namun, untuk pemuda ini- Uzumaki Naruto, Sangatlah berbeda. Dia bisa memiliki Sacred Beast lebih dari Satu, bukan salahnya dia memiliki dua Sacred Beast karena berkeinginan menjadi yang terkuat, namun dua Sacred Beast ini sendirilah yang memilih Naruto menjadi tuan mereka karena mereka bereaksi pada Naruto.

Biasanya para Sacred Beast akan bereaksi kepada seseorang untuk menjadi pemilik mereka, jika tidak maka mereka tidak akan bereaksi dan memilih tertidur dalam bentuk mereka hingga mereka merasakan energi yang membuat mereka bereaksi.

Namun fakta yang ada, Naruto sama sekali tidak memiliki Element sedikit pun, dia lebih di [Kenjutsu]. Dan yang anehnya, bagaimana bisa Dua Sacred Beast tersebut memiliki reaksi padanya? Itulah yang membingungkan.

Lalu [Mendo], Sacred Beast yang satu ini memiliki sebuah julukan bernama [Creator] dengan jiwa manusia bernama Hestia. Mendapatkan julukan tersebut dikarenakan terbukti dia bisa menciptakan Sacred Beast kecil. Dia bisa membagi dan membuat Sacred Beast tergantung keinginannya dan hal itu pun tanpa hambatan sedikit pun.

[Mendo] juga termasuk Sacred Beast Naruto yang ke tiga, dia menjadi milik Naruto karena dia juga memiliki Reaksi pada Naruto setelah tuan pertamanya meninggal.

Para pemegang Sacred Beast berjiwa manusia termasuk sangat langka dan biasa di sebut [Celestial]. Ada beberapa tingkat bagi mereka yang memegang Sacred Beast, [Newbie], [Silver Wolf], [Gold Medalion], [Platinum Chief], [Kristal Diamond], [Celestial]

[Newbie] seorang pemegang Sacred Beast tingkat rendah yang biasanya di jiwai oleh hewan-hewan berkekuatan rendah.

[Silver Wolf] pemegang Sacred Beast tingkat menengah bawah dengan Jiwa oleh hewan atau makhluk pemburu kelas menengah. Kenapa di beri nama [Silver Wolf]? Itu di karenakan mereka yang memiliki Sacred beast ini akan berada di tingkat mereka sudah berhasil menjalin kontrak dengan Sacred Beast.

[Gold Medalion] pemegang Sacred Beast tingkat Menengah Atas yang di buat untuk seseorang yang menciptakan Sacred Beast sendiri. Tidak seperti [Silver Wolf] yang menjalin kontrak dengan Sacred Beast berjiwa, [Gold Medalion] adalah tingkatan bagi mereka yang berprestasi menciptakan Sacred Beast.

Mereka yang menciptakan Sacred Beast adalah langka apa lagi jika itu adalah Sacred Beast yang kuat. Di beri nama [Gold Medalion] karena mereka yang menciptakan Sacred Beast akan mendapatkan sebuah penghargaan.

Lalu [Platinum Chief], tingkatan bagi mereka yang telah menaklukkan berbagai Sacred Beast, mereka yang berada di tingkatan ini akan menjadi ketua kelompok yang di akui, bahkan Negara atau pun pemerintah sekalipun rela mengeluarkan biaya besar demi menyewa mereka yang ada di tingkatan ini.

[Kristal Diamond] tingkatan bagi mereka yang memiliki Sacred Beast berjiwa Naga serta bisa melakukan kerja sama yang kompak serta sama-sama bisa menggabungkan kekuatan mereka. Di beri nama [Kristal Diamond] karena mereka juga termasuk orang-orang langka dan berbakat karena biasanya hampir 20% orang tidak bisa menyeimbangi kekuatan Sacred Beast berjiwa Naga yang memiliki kekuatan besar.

Lalu tingkatan terakhir, yaitu [Celestial] tingkatan tertinggi dari semua pemegang Sacred Beast di karena kan orang yang berada di tingkat [Celestial] adalah orang yang memiliki lebih dari satu Sacred Beast berjiwa Naga atau pun manusia, dan bisa melakukan Kombinasi serta bisa bekerja sama dengan baik.

Orang di tingkat [Celestial] juga adalah orang-orang yang telah melampaui seluruh tingkatan yang ada, dan hanya ada sekiranya 5% orang yang ada di tingkat [Celestial].

Dan tanpa di ketahui Naruto, dia sebenarnya telah berada di tingkat [Celestial] berkat Sacred Besarnya, namun dari pandangan Luar Naruto berada di tingkat [Newbie].

.

.

.

"Huft~" menghembuskan nafasku perlahan, aku menggenggam erat pedang tumpul di tanganku sambil mencari posisi untuk melatih gerakan seranganku, semenjak kejadian kemarin Pasukan Gato pasti tidak tinggal diam dan cepat atau lambat dia pasti akan menyerang Desa ini.

Aku tidak bisa membiarkan Jeanne-chan, Inori-chan dan Hestia-chan selalu mengendalikan tubuhku, jika seperti itu terus aku tidak akan bisa berkembang.

Sejak memasuki Akademi, aku memiliki Skill [Kenjutsu], aku mencobanya dan itu ternyata benar. Dulu aku sempat mengalirkan Energiku ke pedangku dan sebuah serangan tak terlihat tercipta, jika aku bisa mengembangkannya mungkin itu akan menjadi serangan terbaikku.

"Konsentrasi... Fokuskan energi [Mana] ke mata pedang... Lalu lepaskan energi secukupnya..."

Ku alirkan Energi [Mana]-ku ke mata pedangku lalu memfokuskan sasaranku yang berupa sebuah pohon, maafkan aku kawan... Tapi aku harus melakukan ini.

Ku rebahkan pedangku ke depan dengan keras sambil mengeluarkan energi yang telah aku kumpulkan di mata pedangku, dan hal itu membuatku terpental hingga menabrak batang pohon lain.

Brak!

"Ugh!"

Kuso! Ini sungguh menyakitkan, ternyata Energi yang ku keluarkan cukup banyak hingga tubuhku tak bisa mengendalikannya, sialan!

Keelus punggungku yang terasa sakit sambil menatap pohon yangku jadikan sasaran, dan pohon itu tak tumbang sedikit pun. Ku gigit bibir bawahku kesal karena sepertinya untuk menciptakan jurusku aku harus meningkatkan kekuatan tubuhku dulu.

"Tidak perlu kesal begitu, ini masih di awal."

Aku yang mendengar itu menoleh ke sumber suara, aku melihat Tiga Sacred Beastku tengah berdiri di bawah pohon bersama Elisabeth yang juga merupakan Sacred Beast, namun dia kehilangan Masternya karena di bunuh oleh Gato.

Aku menghela nafasku kembali berusaha menenangkan emosiku yang hampir memuncak ketika mengingat perbuatan Gato yang sangat tidak pantas, jika sudah bertemu aku merasa ingin mencincang dagingnya dan melempar gumpalan dagingnya ke danau penuh buaya di desa ini.

"Huft~" ku hembuskan nafasku kembali lalu mengambil posisiku kembali, kali ini aku akan mencobanya kembali, jika gagal dalam lima kali aku akan melatih tubuhku serta ketahanan tubuhku dengan melakukan latihan fisik sebanyak 100 kali jika aku gagal.

Dengan kata lain, aku bersumpah jika aku gagal sekali dalam latihan aku akan melatih fisikku dengan latihan fisik sebanyak 100 kali dan jika 5 kali aku gagal maka aku akan latihan fisik sebanyak 500 Kali.

"Jika aku tidak cepat aku tidak akan berkembang, setidaknya aku ingin cepat berkembang untuk melindungi Desa ini!"

.

.

Desa Kirigakure

.

Desa Kirigakure, sebuah desa yang mengalami kesusahan di karenakan pabrik milik seseorang bernama Gato. Karena melimpahnya sumber daya di sana, dia membuat pabrik di dekat Desa tersebut dan membuang hasil limbah ke laut tanpa memperdulikan Ekosistem.

Warga Desa sebenarnya ingin memberontak, namun apalah daya karena mereka tidak bisa melakukan hal tersebut karena anak buah Gato membawa senjata.

Mereka terpaksa menerima keadaan hingga akhirnya mereka meminta pertolongan pada Kota Konoha, permintaan mereka di setujui namun pihak Konoha masih belum melakukan gerakkan sedikit pun.

Mereka memaklumi karena mereka memang membutuhkan waktu dan rencana yang matang, hingga suatu hari terjadi masalah di desa mereka.

Ada berita mengatakan bahwa Pabrik mereka di serang hingga anak buah Gato menjadikan sasaran atas kejadian tersebut adalah warga Desa Kirigakure di karenakan desa tersebut memang dekat dengan Pabrik.

Namun ternyata bukan mereka, ada dua orang yang melakukannya dan menyelamatkan Desa Kirigakure. Mereka tidak tahu siapa mereka tapi mereka menyebut diri mereka adalah Shadow dan Curlliy

Mereka bersyukur karena mereka, pasukan Gato berhasil di basmi sedikit demi sedikit, mereka memang tidak ingat bagaimana caranya mereka melakukan hal tersebut, namun mereka ingat bahwa Merekalah yang membantu desa ini.

Sebagai Rasa Syukur, mereka berniat membuatkan Patung Shadow untuk berterima kasih atas pertolongannya dan berdoa agar Shadow datang menolong mereka kembali.

Sementara itu pihak Konoha saat ini tengah membantu pembangunan jembatan Desa Kirigakure di karenakan Jadwal mereka kosong untuk hari ini. Sesekali mereka mendengar tentang pembicaraan mengenai Shadow serta langkah mereka yang berikutnya.

Hatake Kakashi, salah satu pembina Kelompok Team Naruto tersebut menghela nafasnya karena sepertinya Shadow menjadi Buah Bibir di desa.

Sebagai orang Konoha yang di mintai pertolongan dirinya malu karena belum melakukan apa pun, jangan salahkan dirinya! Salahkan anggotanya yang masih muda dan belum pernah menjalankan misi seperti ini.

Walau pun dirinya bertiga beserta pembina Ibiki-sensei dan Sairaorg-sensei, kekuatan mereka tidaklah cukup. Apa lagi ada Momochi Zabuza yang merupakan orang yang di cari dengan Rank S.

"Sepertinya kejadian kemarin ramai menjadi bahan pembicaraan ya?" Kakashi menoleh ke sumber suara dan melihat Shikamaru mendekatinya sambil membawa balok kayu bersama Chouji.

"Ya, seperti itulah. Tampaknya Orang bernama Shadow itu membawa harapan untuk Desa ini." Setelah membalas ucapan Shikamaru, Kakashi kembali membantu warga lain yang tampak kesusahan mendorong tumpukkan batang kayu.

"Harapan? Terdengar menggelikan-, tidak, sangat menggelikan tepatnya." Shikamaru yang mendengar itu menoleh ke arah Hyoudo Issei yang tengah membantu memalu balok-balok kayu agar tersambung dengan kokoh.

"Oh ya? Apa yang menggelikan ketika melihat setumpuk mayat?"

"Ugh..."

Issei seketika melenguh dan merasakan mual di perutnya ketika di ingatkan kembali mengenai kejadian itu. Dirinya bersumpah untuk melupakan kejadian tersebut, namun tampaknya hal tersebut mustahil karena itu seperti memori yang harus di simpan secara permanent.

Blam!

"ITTEE!"

Sairaorg yang melihat Issei melamun dan mengayunkan palunya hingga mengenai tangannya sendiri menghela nafasnya lalu kembali mengampelas Balok kayu di tangannya bersama Michella yang telah mendapat kursi roda baru.

Matanya menatap Michella yang duduk tenang sambil memotong batang kayu dengan Api berwarna Hijau dengan mulus lalu mengampelasnya sambil bersenandung dengan senyum manisnya.

Melihat adik dari Uzumaki Naruto ini, mengingatkan dirinya pada saat Tes melawan Naruto bersama Anko agar adiknya ini bisa masuk Akademi.

Mungkin banyak yang berpikir bahwa orang cacat adalah orang yang sangat lemah seperti pasir, namun jika kalian berada di sebuah tempat yang berisinya pasir semua, kalian adalah kebalikan pasir tersebut.

Pasir mungkin bisa di anggap remeh jika sedikit, namun saat berbanyak? Mereka dengan mudah bisa menelanku dalam beberapa menit.

Sama dengan halnya Uzumaki Michella. Dia di anggap lemah di luar karena keterbatasannya, namun saat sudah serius, kekuatan gadis ini bukanlah main-main dengan Api Warna-warni miliknya.

"Ehem!"

"A-Ah!"

Sairaorg seketika tersentak ketika mendengar suara deheman yang menyadarkannya, di lihatnya Michella yang menatapnya tajam layaknya menganggapnya seorang penjahat.

Wajah Sairaorg pucat seketika, dia berharap Gadis di depannya ini tidak melemparnya Api Kuning atau pun Api Biru, jika api yang lain mungkin dia bisa bertahan tapi jika dua api tersebut. Dia akan melakukan cara apa pun agar nyawanya selamat.

"A- Anoo... E-Etto... U-Uzumaki-san..."

"Jangan terlalu Formal, Sairaorg-sensei. Ada dua Uzumaki soalnya di sini."

Sairaorg yang mendengar itu tertawa kikuk, dirinya lupa jika ada Uzumaki Naruto juga di sini. "Kenapa Sensei menatapku? Apakah Sensei ingin aku laporkan pada Nii-chan karena pelecehan Seksual?"

Menggeleng cepat Sairaorg tidak mau jika hal itu terjadi, kenapa? Kenapa dia takut ketika hal itu terjadi? Pertama, Naruto adalah kakak Uzumaki Michella, jika dia melakukan sesuatu pada kakaknya karena laporan tersebut tetap saja Michella turun tangan.

Ke dua, Jika hal tersebut diketahui Naruto dan di laporkan pada Hokage, reputasinya akan hancur. Lalu yang ke tiga, di tidak tahu apakah Michella akan melaporkan hal tersebut ke orang lain atau tidak, jika tidak mungkin baginya dirinya aman, tapi tidak jika Michella marah, bisa-bisa nyawanya taruhannya.

"G-Gomen, sebenarnya aku teringat mengenai kejadian saat kakakmu itu berusaha membuatmu masuk ke akademi."

Michella yang mendengar itu menatap Sairaorg dengan tatapan [Kau tidak bohong kan?]. Seolah mengerti tatapan itu Sairaorg mengangkat jarinya menandakan dia bersumpah tidak berbohong.

"Hah~ jadi karena itu." Menghela nafasnya Michella melanjutkan pekerjaannya dan bertanya, "Kenapa Sairaorg-sensei mengingat hal itu?"

"Saat kau marah hingga mengeluarkan... [Rainbow Fire] dulu kami berpikir... Kau adalah orang yang tidak memiliki bakat."

"A-Ah! Bukannya bermaksud menghinamu! Tapi... Uughh~ baiklah jujur dulu kami menganggap orang cacat adalah orang yang tidak memiliki bakat."

Sairaorg panik ketika Michella menghentikan kegiatannya, jangan sampai dia salah paham atau nyawanya akan menjadi taruhannya.

"Tapi... Kakakmu itu. Berusaha memasukkanmu ke Akademi, hingga akhirnya dia berhasil mengalahkanku serta Anko-sensei dengan mudah. Aku berpikir, jika waktu itu dia gagal dan kau tidak masuk ke Akademi... Mungkin kekuatanmu itu..."

"Sensei..."

"Y-Ya?"

"Kekuatanku, bukanlah senjata untuk Akademi."

Melanjutkan pekerjaannya, Michella kembali berucap, "Nii-chan menyuruhku untuk menyembunyikan kekuatanku ini karena Nii-chan pernah bilang padaku, [Mereka yang memiliki bakat akan di perhatikan sementara yang tidak memiliki bakat akan di buang], dan tampaknya itu memang benar."

"Aku tidak mau bakatku ini di perhatikan oleh banyak orang ataupun di minta melatih bakatku ini agar lebih kuat untuk menjadi sorotan ataupun senjata. Karena bakatku adalah bakatku sendiri, akan lebih baik mengembangkan bakat bagi mereka yang kekurangan dari pada melatih atau membuat orang berbakat menjadi sorotan yang tidak berguna."

Swush!

Mengayunkan lengannya, batang-batang pohon di sampingnya seketika terbakar api hijau yang langsung mengubah mereka menjadi balok kayu. Merasa pekerjaannya selesai Michella meletakkan balok kayu di tangannya lalu pergi meninggalkan Sairaorg sendirian.

Sairaorg yang mendengar ceramah Michella tadi menundukkan kepalanya merasa bersalah, perkataan Michella ada benarnya. Mereka terlalu mementingkan orang-orang yang berbakat, sementara yang tidak berbakat mereka buang.

Apakah itu bisa di sebut Akademi? Apakah kami ini sangat cocok di panggil [Sensei].

"Ada apa Sensei? Kau tampak melamun?"

Sairaorg yang melamun tersentak dan menoleh ke sampingnya tampak Ibiki-sensei yang membawa beberapa batang kayu kembali.

"Ada apa? Apa yang tengah kau pikirkan?"

Sairaorg yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "Ngomong-ngomong di mana Naruto-san? Aku tidak melihatnya sejak tadi?"

"Hm? Oh, dia meminta izin untuk berlatih katanya, jujur dia orang yang penuh semangat berlatih di banding yang lainnya," jawab Ibiki lalu meletakkan batang-batang kayu tersebut di sampingnya dan duduk di sebelah Sairaorg.

"Kau cepat juga menyelesaikannya?"

"A-ahahaha... Sebenarnya Michella-san yang menyelesaikan itu."

.

Back To Naruto

11.00 AM

.

Jeanne, Inori, Hestia dan Elisabeth yang berdiri di bawah pohon menatap Naruto dengan tatapan khawatir karena sejak tadi Naruto sudah melakukan serangan yang sama sebanyak tiga kali dan itu pun gagal semua.

Dan sekarang dia tengah melatih tubuhnya dengan melakukan Shit Up, Push Up, serta mengayunkan pedangnya sebanyak 400x mungkin terdengar gila tapi itulah yang terjadi.

Mereka sebenarnya ingin menghentikan Naruto, namun Naruto memberi perintah pada mereka untuk tidak menghentikannya atau pun menolongnya saat dalam keadaan darurat saja.

Mereka cukup benci bahwa mereka di beri perintah itu, karena bagaimana pun Naruto adalah pemilik mereka, jika terjadi sesuatu pada tuan mereka, sebagai Partner mereka telah gagal.

"Naruto-sama! Aku mohon hentikan. Beristirahatlah terlebih dahulu, hari juga sudah menjelang siang. Jika kau memaksakan tubuhmu maka..."

"Dai... joubu..." potong Naruto sambil terus mengayunkan pedangnya, ini sudah hitungan ke 320 untuk melatih ayunan pedangnya. Keringat telah membasahi tubuh Naruto, bahkan secara perlahan otot Naruto semakin berkembang membuatnya tampak sedikit keren.

Elisabeth yang melihat itu mengalihkan pandangannya dengan wajah merona, namun entah kenapa matanya selalu mencuri pandangan pada tubuh Naruto yang terlihat atletik karena latihannya.

Menghentikan ayunan pedangnya, Naruto mengatur nafasnya yang memburu karena terlalu memaksakan dirinya. Kembali, dirinya membayangkan pasukan Gato menyerang kembali desa dan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk melindungi Desa.

Mengertakkan giginya, dirinya juga tidak bisa membayangkan orang-orang di sekitarnya akan menganggap dirinya lemah dan semua orang akan meragukan dirinya. Kenapa orang sepertinya bisa menjadi ketua kelompok?

"Jangan bercanda..."

Mengenggam erat pedang tumpul di tangannya Naruto mengambil nafas dalam-dalam lalu melanjutkan ayunannya. Jeanne yang menatap khawatir Naruto seketika tersentak dan berteriak.

"MATTE! NARUTO-KUN!"

"Jangan bercanda!"

Sring! BOOM!

Begitu Naruto mengayunkan senjatanya, terjadi ledakan memanjang yang sangat dahsyat yang langsung menghancurkan seperempat hutan dalam sekejap.

Jeanne, Inori, Hestia dan Elisabeth menyilangkan tangan mereka berusaha menutupi pandangan mereka agar tidak terkena debu akibat ledakan tersebut.

Merasa ledakan mereda, mereka menatap Naruto yang berdiri sambil mengatur nafasnya kembali, "Jangan... bercanda...".

Bruk!

Ketiga Sacred Beast Naruto yang melihat tuan mereka jatuh pingsan langsung bergerak menolong Naruto. Sementara Elisabeth terpaku pada hutan yang telah hancur seperempat akibat ayunan dari Naruto menggunakan pedang tumpul.

Biasanya pedang tumpul jika di alirkan Energi akan menjadi tak beraturan, namun ini! Berhasil. Serangannya berhasil, sebuah pencapaian yang luar biasa menggunakan pedang tumpul untuk menghancurkan seperempat hutan.

Mengalihkan pandangan pada sang pelaku, saat ini dia tengah mengatur nafasnya yang memburu di bantu dengan Inori, Jeanne, serta Hestia di sekelilingnya.

Inori menyentuh lengan Naruto dan menusuk jaringan saraf Naruto dengan darahnya untuk mengendalikan tubuh Naruto, Hestia menyentuh punggung Naruto sambil mengalirkan Energi berelement Es untuk mendinginkan tubuh Naruto, serta Jeanne yang mengatur sirkulasi udara Naruto agar bisa bernafas normal kembali.

"Dasar bodoh! Padahal kami sudah memperingatkanmu!"

"Tidak ada waktu untuk membentaknya, sekarang kita harus menyembuhkannya terlebih dahulu!"

Elisabeth yang tidak tahu harus apa mengambil pedang tumpul Naruto dan menatap intens pedang tersebut. Benar saja, pedang tumpul Naruto sudah hancur di beberapa bagian, jika di alirkan [Mana] untuk memperkuat senjata itu adalah hal mustahil karena [Mana] akan menjadi tidak beraturan.

Namun dia, Uzumaki Naruto. Berhasil mengalirkan [Mana] pada pedang tumpul untuk memperkuatnya, bahkan berhasil menghancurkan seperempat hutan dengan sekali ayun.

"Hah... Hah... Hah..."

Elisabeth yang mendengar Naruto tengah berusaha mengambil nafas menoleh dan dia melihat Naruto terduduk sambil menghirup udara sebanyak mungkin untuk menjalankan sistem organ tubuhnya kembali.

"Cough! Cough!"

"Kau tidak apa kan, Naruto-kun?"

Mengelus bibirnya, Naruto mengangguk pelan lalu membaringkan tubuhnya, di liriknya hutan yang dia telah hancurkan lalu menatap lengannya sendiri.

Dirinya bingung, bagaimana bisa dia melakukannya. Dirinya tadi cukup kesal karena tidak bisa-bisa melakukan serangan kasap mata, dan saat dirinya di kuasai emosi dan tanpa sadar mengalirkan [Mana]-nya ke pedangnya, dirinya berhasil melakukannya.

'Bagaimana... Caraku melakukannya...'

"Kenapa kau tadi tampak emosi, Naruto-kun?"

Mata birunya menatap Jeanne yang di atasnya, emosi... Ya dirinya emosi karena tidak bisa berkembang sedikit pun, bahkan saat ini dia menyusahkan Jeanne, Inori dan Hestia kembali.

"Aku tahu kau marah karena tidak bisa berkembang, Naruto-kun."

Naruto yang mendengar itu melirik Inori yang menunjukkan jari-jarinya yang berubah menjadi jaringan darah. "Aku bisa membaca pikiranmu tadi," ujarnya.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu karena hanya kau belum berkembang Naruto-kun," ujar Inori sambil mengangkat kepala Naruto lalu meletakkannya di pahanya agar lebih nyaman.

"Kau masih dalam tahap pengembangan, suatu hari, kau pasti bisa menjadi kuat dengan kemampuanmu sendiri."

Naruto yang mendengar itu mengalihkan pandangannya. "Aku tahu membutuhkan waktu untuk menjadi kuat... Tapi..."

Ctak!

"Itte!"

Naruto seketika mengaduh kesakitan ketika Hestia memukul kepalanya dengan pelan, Hestia mengembungkan pipinya menandakan dirinya kesal..

"Jika kau ingin kuat, kau bisa berlatih dengan Chip yang aku berikan bukan? Kenapa kau tidak menggunakan itu sebagai latihan?"

Naruto mengelus kepalanya yang terkena pukulan Hestia sambil menatap sang pelaku, dia tidak terpikirkan mengenai Chip di bawah kakinya.

"Tapi itu kemampuan yang di bantu dengan pikiran, namun yang aku inginkan adalah berlatih dengan kekuatanku sendiri," jawab Naruto, lalu menatap ke arah hutan yang dia hancurkan, "Mungkin itu berhasil, namun akan aku cari cara agar mempermudah latihanmu ini."

"Kenapa kau tidak mencoba menggunakan Emosimu?" Naruto yang mendengar itu menoleh ke Elisabeth yang memberikannya usulan, "Saat kau melakukan latihan fisikmu, kau sedang kesal bukan? Maka dari itu kau melampiaskannya pada pohon tersebut."

"Jika memang begitu, kenapa kau tidak mencobanya kembali, bukan dalam artian kau melakukannya saat kau marah, tapi kesal. Seperti dia menghianatimu, membuatmu marah atau yang lainnya?"

"..."

"..."

Tidak mendapat respons dari Naruto, Elisabeth menoleh ke arah Jeanne, Inori dan Hestia berada, namun baru saja dia menatap mereka. Ketiga Sacred Beast tersebut ternyata telah melempar tatapan tajam padanya.

"Ah, tidak. Lupakan saja. Jika kau menggunakan Emosimu, energi yang akan kau gunakan akan keluar sangat banyak."

"Tidak-tidak! Itulah satu-satunya cara mempermudah latihanku!"

Naruto berdiri lalu mengambil pedangnya di tangan Elisabeth lalu menghadap ke sisi hutan yang lain dengan mengacungkan pedangnya ke arah hutan.

Memfokuskan dirinya, Naruto memejamkan matanya lalu mengambil posisi siap menebaskan pedang tumpulnya.

[Mana] Naruto seketika keluar dari tubuhnya dan bergerak ke arah pedang tumpul di tangannya hingga membentuk Aura putih tak terlihat.

"Huooaa!"

Sring! Boom!

Mengayunkan pedangnya, sebuah tebasan tak terlihat tercipta dan kembali menghancurkan seperempat hutan dalam sekali tebas. Naruto yang melihat dirinya berhasil melakukan jurusnya tersenyum senang.

merasa kesadarannya akan hilang kembali, dirinya langsung menancapkan pedangnya untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh kembali.

"Hah... Hah... Akhirnya... Berhasil juga..."

Inori, Jeanne dan Hestia yang melihat itu benar-benar terkagum karena pada akhirnya Tuan mereka berhasil melakukan jurusnya. Begitu pun Elisabeth, dirinya tak menyangka bahwa sarannya benar-benar berguna.

Bruumm~

Naruto dan yang lain mendengar suara berisik mendatangi mereka menoleh ke sumber suara dan mereka melihat puluhan kendaraan datang ke tempat mereka berserta para bandit di dalamnya.

"Sepertinya, karena keributan tadi kita menjadi mencolok ya," gumam Elisabeth sambil melirik Naruto yang masih kelelahan, "Gomen, Naruto-san. Membuatmu menjadi pusat perhatian."

"Hah... Tidak... Jangan di pikirkan... Lagi pula... Hah... Jika mereka datang kemari... Bukankah bagus..."

Elisabeth yang mendengar itu menghela nafasnya lalu mengeluarkan jubah hitam dan topeng dengan wajah seperti hantu tersenyum.

"Kau sudah siap?"

"Kalian bertiga... Aku serahkan pada kalian untuk saat ini."

Swush~

"Serahkan pada kami, Naruto-kun!"

.

.

Desa Kirigakure

.

Kembali ke Desa, tampak saat ini Michella tengah bersama Kurumi, Naruko, Akeno, Shikamaru serta Chouji yang beristirahat setelah membantu warga desa membangun jembatan.

Michella yang sejak tadi tidak melihat kakaknya menatap khawatir ke sebuah tempat yang di penuhi hutan, entah kenapa dia bisa merasakan bahwa kakaknya ada di sana.

"Apa kau sedang memikirkannya, Michella-san?" Michella yang mendengar itu tersentak lalu menoleh ke arah Kurumi yang tersenyum padanya, "Benar-benar adik yang peduli dengan kakaknya ya?"

"Sebagai adik bukannya tentu saja?"

Kurumi yang mendengar respons Michella tertawa halus, "Tapi walau begitu, Kau mengkhawatirkannya layaknya wanita terhadap pria, jadi aku rasa hal itu tidaklah wajar jika kau bilang [Sifat khawatir seorang adik]."

"H-Hah? Apa maksudmu?"

Sementara yang lain hanya diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan, pasalnya mereka tidak tahu topik macam apa yang mereka bahas.

Tersenyum layaknya mengetahui sebuah rahasia besar, Kurumi mendekatkan bibirnya ke telinga Michella dan membisikkan sesuatu yang membuat Michella terkejut.

'Kakakmu itu-, tidak, Uzumaki Naruto itu. Bukan kakak kandungku bukan?'

'Selain itu, sebenarnya. Dia bukan berasal dari sini bukan?'

Tubuh Michella bergetar pelan, Kurumi yang melihat itu tersenyum, di pegangnya pundak Michella lalu tersenyum layaknya tidak terjadi apa-apa.

"Fufu~ itu sudah wajar kok."

Mengatakan sesuatu yang tak pasti untuk menutupi topik yang mereka bicarakan, Michella menundukkan kepalanya sambil menatap gelas miliknya yang berisikan teh.

Gemetar, itulah yang dia rasakan saat ini, dirinya merasakan saraf tubuhnya bermasalah layaknya Shock yang bisa membuat saraf tubuh tak terkendali di sertai emosional yang tak terkendali.

"Yo! Aku kembali!"

Tubuh Michella semakin bergetar ketika mendengar suara yang sangat dia kenal, diliriknya melalui ekor mata dia bisa melihat Naruto berjalan mendekati mereka dengan senyumnya bersama Elisabeth di belakangnya.

"Ck! Kau dari mana saja? Bermain dengan gadis, Berlatih, atau melakukan sesuatu yang mesum bersama Elisabeth-san?"

Naruto yang mendengar itu menatap kesal Shikamaru yang seenaknya menuduhnya bermain gadis, bahkan dia tidak memiliki niat menggoda gadis sedikit pun.

"Mana mungkin aku mempermainkan gadis. Selain itu, aku tidak mengenal perempuan-perempuan di Desa ini, bahkan tidak ada yang menarik di hatiku," jawab Naruto lalu mengalihkan pandangannya pada Michella yang menundukkan kepalanya.

"Oi, Michella-chan! Bukankah kau harusnya di rumah Tazuna! Keadaanmu yang sekarang ini tidak baik melakukan pekerjaan berat?"

"A-Ah! Ti-tidak masalah kok, Nahmph!"

Michella yang akan menyebut nama Naruto langsung menutup mulutnya membuat Naruto mengerjapkan matanya, "Na?" beo Naruto.

"T-Tidak... Tidak jadi, Nii-chan."

"Heh? Heh?"

Kurumi yang melihat Michella bertingkah aneh tertawa halus lalu melirik Naruko yang menatapnya sambil menyipitkan matanya.

"Ara? Ada apa?"

"Tidak... Aku hanya penasaran, apa yang kau bicarakan dengan Michella-san," jawab Naruko menatap intens Kurumi yang tersenyum. "Nfufufu~ rahasia kami berdua," jawab Kurumi sambil tertawa halus.

"Oi, ada apa denganmu?"

Dengan halus Naruto bertanya pada Michella, namun Michella mengalihkan pandangannya seolah tidak mau bertatapan dengannya, mau tidak mau Naruto mengarahkan wajah Michella agar menatapnya.

"Katakan padaku, ada apa? Kenapa kau mengalihkan pandanganmu padaku?"

Wajah Michella merona ketika melihat wajah Naruto dari dekat, tatapannya yang serius seolah membekukan hatinya yang ketakutan, tubuhnya yang gemetar kembali tenang, bahkan pikirannya terasa kosong ketika bertatapan dengan mata biru Naruto yang indah.

"Ni-Nii-chan..."

"Oi-oi, ada apa ini?"

Semua seketika tersentak ketika secara tiba-tiba muncul Kabut tebal di sekitar mereka, Kakashi yang merasakam firasat buruk langsung menyuruh para warga Desa kembali ke rumah masing-masing untuk berlindung.

Ibiki dan Sairaorg langsung berkumpul di tempat murid-murid mereka, Kelompok Sasuke dan Naruto yang telah berkumpul saling bertatapan dan melempar tatapan tajam satu sama lain.

"Dari pagi kau menghilang seperti hewan yang lepas dari kandang, ke mana saja kau? Apakah kau tersesat di hutan?"

"Tidak, aku memiliki sesuatu yang harus aku lakukan. Selain itu, aku ada perlu dengan Hestia-san," jawab Naruto lalu memasang posisi sedikit membungkukkan badannya.

"Hestia-san? Maksudmu pengelana kecil itu?"

"... Ya."

"Apa urusanmu dengannya?" tanya Shikamaru penasaran. "Maa~ hanya memintanya melatihku saja," jawab Naruto sambil tersenyum.

"Melatih?"

"Ya, melatihku sebuah jurus yang benar-benar menganggumkan!" balas Naruto sambil tersenyum.

["Esmelada Ice Magic : ..."]

PYAAARSH! Trank!

["Hands Ice Shield!"] lanjut Naruto dan seketika di depan Naruto tercipta dua Bongkahan Es berbentuk tangan yang langsung mengunci sebuah pedang berukuran besar.

"Lama tidak bertemu, Zabuza-san!" ujar Naruto sambil menyeringai kecil. "Begitu juga denganmu, Gaki!" balas Zabuza.

Sret! Boom!

Mengepalkan tangan kanannya hingga mengeluarkan uap panas, Naruto pun memukul Es di depannya hingga mementalkan Zabuza beberapa meter.

'Kuat sekali, ini berbeda dari saat kami bertarung.' batin Sairaorg terkejut dengan perkembangan Naruto

"Kau cukup meningkat pesat ya, Gaki!" Naruto yang mendengar itu menghela nafasnya lalu berjalan ke arah Zabuza, namun Sairaorg menahan Naruto agar tidak mendekati Zabuza.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?! Jangan mendekatinya!" bentak Sairaorg, tak lama setelah itu muncul Kakashi yang telah mengaktifkan Sharingan miliknya.

"Kali ini biar kami yang mengurusnya, Naruto. Kembalilah bersama yang lain!" perintah Kakashi, Naruto yang mendengar itu termenung hingga secara tiba-tiba Naruto mengendalikan Angin di sekitarnya dan mementalkan semuanya.

"Semuanya Awas!"

PYAAARSH!

Untungnya, semua telah terpental karena jurus Angin milik Naruto, karena setelah itu muncul Kristal-kristal Es berbentuk Cermin mengelilingi Naruto layaknya kubah

Berhasil menjaga jarak dari yang lainnya dirinya memasang posisi bertarung dengan Pedang tumpul dan [Mendo] miliknya, karena saat ini firasatnya sangat tidak enak.

"Lama tidak bertemu." Naruto yang mendengar itu menoleh dan dia melihat seseorang di cermin tersebut.

"Ya, Lama tidak bertemu."

Dengan santai Naruto membalasnya lalu menodongkan pedang tumpulnya, "Jadi lawanku adalah kau ya? Khuhuhu."

.

.

.

"Omoshiroi~."

.

.

TBC

Note : Yo! 4kagiSetsu kembali Update!

Bagaimana? Serukah? Aku harap iya.

Kali ini hanya banyak pembicaraannya saja, dan juga penjelasan mengenai tingkatan Bagi mereka yang Memegang Sacred Beast.

Aku menggunakan nama-nama tersebut karena jika aku mengambil tingkatan Bronze, Gold dan yang lain akan terlihat membosankan karena banyak yang pakai.

Lalu latihan Naruto? Ya, saya menambahkan Latihan Fisik Pada Naruto agar latihannya semakin berat, di karenakan tubuh Naruto masih terbilang normal layaknya manusia biasa, saya berniat menambahkan kekuatan pada tubuhnya agar kuat menerima guncangan atau angin yang keras.

Lalu kebenaran mengenai Naruto? Bagaimana bisa Kurumi mengetahuinya? Dan kenapa Michella gemetar ketakutan begitu Kurumi mengetahui tentang Naruto? Khuhu~

Rahasia.

Lalu adegan terakhir tadi? Bagaimana bisa Naruto mengendalikan Angin? Bahkan Element Es? Cobalah menebak.

Jaa~ itu saja dariku, saya 4kagiSetsu, Undur Diri. Jaa~ na!

4kagiSetsu out