Happy Family Chapter 9 : The Ending, The New Begining
Disclaimer : Saya harus segera melarikan diri ke psikiater terdekat kalau saya berani-beraninya mengakui Bungou Stray Dogs adalah karya saya. Bungou Stray Dogs adalah karya dari Asagiri Kafuka-sensei dan Harukawa Sango-sensei. Saya hanya sekedar penulis ff amatiran.
Memasuki akhir bulan November, cuaca kurang bersahabat melingkupi kota Yokohama. Daun-daun kering menari di udara diterpa angin kencang yang menerbangkan mereka dari ranting-ranting pohon. Dingin.
Kantor Armed Agency Detective, pukul 06.30 pagi.
Para detektif dan seorang mafia yang menginap di kantor Armed Detective Agency masih terlelap. Cuaca dingin begini membuat mereka semakin menikmati buaian mimpi indah dan kehangatan selimut tebal. Hingga-
TRRRRRRRRTTTTTTTTTTTTTT
Alarm dari ponsel Kunikida berbunyi cukup kencang. Ini sudah jadwal tetap bagi Kunikida untuk bangun pagi. Kunikida, dengan kondisi mata tertutup mencoba meraba-raba ponselnya yang berada di atas kepalanya untuk mematikan alarm ponsel. "Uaaaaahhhhhh!" Kunikida terkejut mendapati tangan dan ponselnya hampir saja dihujam oleh benda hitam tajam yang jaraknya tidak lebih dari setengah centimeter. Kunikida mendelik marah, "Oi! Akutagawa, kau berniat mencelakaiku, ya?!" Alih-alih sebuah pertanyaan, dari nada bicaranya, lebih tepatnya Kunikida meneriakan sebuah pernyataan. Pernyataan pahit, tentunya.
Mendengar teriakan Kunikida, Akutagawa tak bergeming sedikitpun. Bahkan ia tak mau repot-repot untuk sekedar membuka matanya dan memilih untuk tetap tidur. Sedangkan, Atsushi langsung terbangun dengan ekspresi seseorang yang baru saja dihantam badai pasir di gurun Sahara. Mulutnya ternganga cukup lebar, hingga memungkinkan untuk sebuah bola baseball untuk masuk ke dalamnya. Hal ini berlangsung hingga lima menit ke depan, sampai Atsushi merasa sudah cukup banyak menangkap lalat-lalat dengan mulutnya ...oh, maaf. Koreksi, maksud penulis adalah 'sampai Atsushi merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menahan kedua kelopak matanya agar tetap terbuka karena bujukan rasa kantuk yang menderanya semakin mejadi-jadi'. Lalat-lalat bukanlah hal ideal dan tidak terlalu dapat ditoleransi di kantor Armed Detective Agency.
Kunikida merayap keluar dari perlindungan sehelai selimut hangat dan bersiap menyambut pagi yang dingin ini dengan semangat idealisnya. Tertulis di buku catatannya bahwa pada pukul 06.20 pagi ini ia harus bangun dan mengurus si kecil Dazai. Ya, karena itulah, kini tampak Kunikida meraba-raba beberapa bagian selimut untuk mencari keberadaan si kecil Dazai. Ia ingat betul bahwa semalam si kecil Dazai tidur di sebelah kirinya, dalam pelukan si mafia sadis beralis tipis yang bernama Akutagawa.
DUAAAAAGGGHHHH!
"Uaaaaaaahhhhhhhh!" Kunikida tersentak kaget saat mendapati dirinya hampir saja diterjang oleh pisau cincang raksasa berwarna hitam. Untung saja Kunikida memiliki insting yang sangat baik untuk segera menghindar. Jika tidak, mungkin saat ini ia telah bernasib buruk dan berubah menjadi seonggok daging cincang berkacamata. Itu tidak cukup keren bagi seorang calon Direktur Armed Detective Agency di masa depan. "Apa-apaan kau ini, Akutagawa?!" Kunikida berteriak penuh amarah.
Sang target dari teriakan penuh amarah dari Kunikida menggeram. "Jangan sentuh aku," tentunya ini bukan hanya sekedar peringatan selevel angin lalu. Akutagawa kini diselubungi dengan aura membunuh yang pekat, ia menatap Kunikida dengan pandangan tajam. Suhu di ruangan yang sejatinya memang dingin menjadi semakin dingin. Hal ini membuat Kunikida sedikit menggigil dan Atsushi mengulung dirinya dengan selimut seperti sebuah sushi gulung siap makan.
"Si-si-siapa yang mau menyentuhmu? A-aku hanya ingin mencari si kecil Dazai," kata Kunikida terbata-bata sembari meraih buku catatannya. Terus terang, efek aura membunuh Akutagawa sedikit mengikis keberanian dan ketegaran seorang pria idealis seperti Kunikida. Ini cukup memalukan.
Begitu mendengar nama 'Dazai', Akutagawa tersentak. Ia baru saja menyadari sesuatu; si kecil Dazai sudah tidak ada dalam dekapannya. Ia mulai panik dan menjelajah apapun yang berada di atas karpet dan di balik selimut. Dalam prosesnya, tak lupa ia menerjang tubuh Atsushi yang masih asyik bergulung ala sushi gulung hingga terpental sampai ke ujung ruangan dan menabrak dinding yang jauh dari kesan empuk ataupun lembut. Aksi kasar itu membuat Atsushi terbangun disertai dengan erangan akibat rasa sakit yang menghantam tubuhnya. Namun, ia tetap bersyukur karena setidaknya ia masih hidup. 'What's better than being alive?' Moto itu adalah moto andalan Atsushi selalu berlaku nyaris di setiap situasi.
"Dazai? Dazai? Dazai?" Akutagawa memanggil nama Dazai berkali-kali sembari menggeledah seisi ruangan. Tidak ada jawaban. Dazai tidak ada di ruangan ini. Akutagawa mendelik penuh selidik ke arah Kunikida.
"Apa? Aku tidak menyembunyikan Dazai. Tidak lihat? Aku juga sedang mencarinya?" Kunikida membereskan 'tempat tidur' mereka sembari ikut mencari Dazai. Mendengar jawaban Kunikida, kini Akutagawa menghujani Atsushi dengan tatapan menuduh.
Atsushi yang merasa hidupnya tiba-tiba terancam, segera merapatkan dirinya ke dinding. "Aku tidak menyembunyikan Dazai ...," kata Atsushi dengan penuh rasa khawatir bila Akutagawa khilaf dan tanpa sengaja mengayunkan rashomon berbentuk pisau cincang raksasa itu ke arah lehernya. "Sungguh! Aku sama sekali tidak menyembunyikan Da-Da-Dazai!" Atsushi histeris saat rashomon yang berbentuk seperti pisau cincang bertepi tajam itu semakin mendekat ke arahnya. Bulir-bulir keringat dingin mengalir deras dari dahinya, Atsushi yakin saat ini dahinya sudah terlihat seperti air terjun Niagara. Jantung Atsushi seperti sedang berarum jeram di atas perahu kayak rapuh di bawah air terjun Niagara. (Atsushi : Hey, author! Berhentilah mendramatisir ketakutanku secara berlebihan. Kau membuat diriku terlihat menyedihkan. Author : Maafkan aku, bila hasratku keliru ...)
"Sudahlah, tidak akan ada gunanya jika kau menggunakan kekerasan dalam hal ini. Bukankah lebih baik kita mulai mencari Dazai, misalnya di dapur atau ruang tamu?" Kunikida, sebagai orang yang paling bijak di dalam ruangan itu, memberikan wejangan kepada Akutagawa. Kebiasaan 'memberikan wejangan' ini terkadang memberikan masalah yang lebih besar lagi. Bagaimana tidak, nyaris saja kepalanya diterkam oleh rashomon! "Akutagawa! Kau sengaja melakukannya, ya?!" Kunikida membentak Akutagawa dengan garang.
Akutagawa tentu saja tidak begitu mempedulikan bentakan Kunikida. Ia melewati Kunikida dengan santainya seakan Kunikida hanyalah butiran debu di hamparan padang pasir yang sangat luas. Kunikida yang malang.
Meninggalkan Kunikida dan Atsushi yang malang di 'ruang tidur' mereka, Akutagawa menjelajah ke ruang dapur. Besar harapannya untuk menemukan si kecil Dazai di dapur. Logikanya, si kecil Dazai sedagn dalam masa pertumbuhan 'kan? Mungkin saja di begini ia sudah lapar dan mencoba mencari sekerat roti ataupun susu di dapur. Seharusnya si kecil Dazai memnagunkan dirinya atau si mata empat (si Jinko adalah pilihan paling terakhir dari yang paling terakhir). Tapi, mungkin si kecil Dazai sengaja melakukannya karena ingin belajar menjadi anak yang mandiri. Mandiri? Si kecil Dazai sungguh luar biasa! Tak ayal sebagai seorang papa yang menyayangi anaknya, Akutawaga merasa sangat bangga pada anak asuhnya itu.
Tebakan Akutagawa memang tepat. Dazai saat ini sedang berada di dapur, tepatnya meja makan. Ia sedang melahap setangkup roti panggang yang hangat. Namun-
Mata Akutagawa terbelalak saat melihat Dazai. Jantungnya seolah jatuh dan merosot hingga ke kaki, ia tak siap menghadapi kenyataan di depan matanya. Dazai telah kembali ke wujud semula; seorang pria berusia 22 tahun. "Dazai-san?"
"Akutagawa-kun, mengapa kau ada di sini?"
Mengapa kau ada di sini?
Pertanyaan itu. Jangan-jangan ...
Dazai sepertinya tidak mengingat apapun yang terjadi saat dirinya berubah menjadi anak kecil dalam seminggu ini. Kenangan Dazai bersama Akutagawa juga ikut lenyap.
Papa Ryu?
Itupun juga ikut lenyap.
"Dazai-san...," Nada getir tersangkut di ujung lidahnya saat mengucapkan nama itu. Akutagawa tidak yakin dengan apa yang ia akan katakan kepada Dazai selanjutnya. Apa yang harus ia katakan? Marah? Kecewa? Terluka? Sedih? Tidak. Tidak. Tidak. Ia tidak akan mengatakannya. Ia membungkukan tubuhnya, memberikan salam kepada 'mantan' mentornya itu. Ia memilih untuk melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan itu. Ia berharap jika Dazai tidak memanggil namanya. Ia berharap bahwa ia tidak perlu menoleh ke belakang. Ekspresi apa yang harus ia buat jika ia harus menghadapai Dazai saat ini? Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Dazai saat ia menginginkan pengakuan dari Dazai.
"Oi, Akutagawa. Kau mau ke mana?" tanya Kunikida. Atsushi mengekor di belakang Kunikida. Ia masih sedikit takut dengan Akutagawa.
Akutagawa tidak menjawab sepatah katapun. Ia tidak peduli akan ke mana ia pergi. Ia hanya ingin menjauh secepatnya dari tempat ini. Dadanya terasa sesak, oksigen seperti lenyap dari paru-parunya seketika. Ia mempercepat langkah kakinya begitu ia keluar dari kantor Armed Detective Agency. Ia berlari, secepat mungkin kedua kakinya mampu membawanya.
.
.
.
"Oi, Dazai! Stop bermalas-malasan! Cepat kerjakan seluruh tugasmu!" Melihat Dazai yang masih asyik berleha-leha dan mengabaikan tumpukan dokumen di atas menjanya yang begitu menggunung, Kunikida tak dapat menahan dirinya untuk tidak berteriak.
"Kunikida-kun, kenapa marah-marah terus dari tadi?" tanya Dazai.
"Itu karena kau terus bermalas-malasan!"
"Benarkah?"
Benarkah?
Kunikida tertegun. Ia tahu bahwa ia tidak dapat menyangkal bahwa bukan hanya kemalasan Dazai yang jadi pemicu bad mood-nya. Itu karena ... Hal lain. Kunikida memandang ke arah jendela.
I sing a lullaby
Just to make you feel alright
Let the time pass us by
It's a blessed night
Close your eyes, I'll close mine
Dazai, please sleep tight
The moon shines, it begins to smile
I bid a farewell and good night
Kunikida masih mengingat lagu penghantar tidur yang ia nyanyikan beberapa hari lalu. Ia merasa bahwa ia nantinya akan sangat merindukan hal itu. Jauh di lubuk hatinya, walau sudah pasti ia akan menyangkal mati-matian, Kunikida menikmati hari-hari yang ia jalani bersama Atsushi dan ...Akutagawa saat mengasuh si kecil Dazai. Keluarga kecil yang bahagia.
"Atsushi-kun. Ada apa dengan Kunikida-kun?"
Atsushi tak menanggapi pertanyaan Dazai, pikirannya sedang tidak ada di sini. Pikirannya melayang dan berputar-putar ke memory tujuh hari lalu. Seperti sebuah lentgera merah yang berpendar dalam gelap dan berputar. Benar-benar, kedua detektif ini. Mereka sedang dalam fase 'down'.
Dazai menghela nafas, menopang dagunya seraya memandang dua orang detektif yang pernah mengasuhnya seminggu lalu. Ia yakin bahwa di suatu tempat, di luar sana, Akutagawa juga pasti sedang dalam fase yang sama dengan kedua detektif di hadapannya. Dazai menyunggingkan sebuah senyum.
.
.
.
Akutagawa tidak peduli seberapa kencang angin akhir November menerjang tubuh ringkihnya. Ia tetap berdiri tegak di tempat yang tinggi, memandang suatu tempat dari kejauhan. Ia merasa terombang-ambing perasaannya.
Resah hati
Bagai butiran debu di hamparan gurun tandus
Tak berujung, tak bertepi, tak bertuan
Dipermainkan angin
Dilukai panas terik
Dibuang badai
Dipuji, dimaki
Dibutuhkan, dibuang
Dijunjung, dijatuhkan
Diagungkan, diasingkan
Dirindukan, dilupakan
Putih, hitam
Terang, gelap
Surga, neraka
Terombang-ambing takdir, dikhianati harapan
Dimusuhi kepercayaan, ditikam kesedihan
Tiada hasrat, tiada asa
Tiada impian, tinggal bayangan sepi
Hingga suatu saat aku lenyap
Mungkinkah kau menyadari apa yang hilang?
Di saat seperti ini, Akutagawa membenci dirinya sendiri yang tak mampu membendung perasaannya yang semakin meluap menenggelamkan dirinya. Seandainya saja ..., seandainya saja ia dapat memilih. Akutagawa mungkin lebih memilih untuk kembali menjadi dirinya yang dulu, being a 'heartless dog'. Saat itu, ia hanyalah seorang pemuda yang hidup dalam keterpurukan di tempat kumuh. Saat, itu ia hanyalah seorang Akutagawa Ryunosuke. Saat itu, ia bukan bagian dari Port Mafia. Saat itu, dia belum mengenal Dazai Osamu.
Apakah ia menyesali sesuatu?
Ada apa ini? Sejak kapan seorang Akutagawa bisa menyesali sesuatu? Penyesalan hanya dilakukan si lemah. Tidak. Ia tidak akan menyesal. Apa yang sudah terjadi, tak akan ada gunanya untuk disesali. Ia tidak boleh terpuruk seperti ini. Bukankah saat ini ia masih harus memperjuangkan sesuatu?
Angin menerpa wajahnya, perlahan menghapus jejak buliran bening yang terlanjur mengalir dari sudut kedua matanya. Semangat kembali menggebu di dadanya, membangkitkan hasrat yang sempat tiada. 'Pengakuan dari Dazai', itu yang ia ingin perjuangkan saat ini. Ia bertekad untuk mendapatkannya.
Dazai Osamu, 'mantan' mentor-nya. Dazai adalah orang yang mengangkatnya dari keterpurukan, membuatnya menjadi seorang manusia, memberinya alasan untuk tetap hidup. Demi sebuah pengakuan dari Dazai, ia akan menjadi seorang yang kuat, tidak akan kalah dari siapapun, tidak akan pernah menyerah. Bahkan jika ia harus menerjang mara bahaya sekalipun, ia tidak akan ragu.
Ia ingin melihat Dazai tersenyum bangga pada dirinya. Ia ingin memiliki 'nilai' di hadapan Dazai. Ia ingin bayangannya terefleksi di mata Dazai.
DING. DING. DING. DING.
Ponsel Akutagawa berdering, memecah keheningan.
"Moshi moshi. Akutagawa desu," jawab Akutagawa dengan nada datar.
"Akutagawa! Dazai ...," Suara Kunikida si mata empat bergema di ujung sana. Akutagawa hampir tidak bisa bernafas saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kunikida.
.
.
.
Akutagawa berharap bahwa ia memiliki sepasang sayap yang mampu membawanya terbang. Ia berlari menerjang keramaian. Ia merasa seolah jantungnya mempompa darahnya sepuluh kali lebih cepat dari biasanya, nafasnya tersengal-sengal di ujung tenggorokan. Ia hampir kehabisan nafas, naum ia tak peduli. Ia hanya perlu untuk tiba di suatu tempat dengan sesegera mungkin saat ini. 'Suatu tempat' itu adalah ...
BRAAAAAKKKKKKKKK!
Akutagawa mendobrak pintu kantor Armed Detective Agency dengan rashomon. Para staf kantor Armed Detective Agency yang sedang sibuk bekerja terlihat panik, beberapa di antara mereka menjerit ketakutan. Bagaimana mungkin mereka tidak panik jika ada seorang mafia yang tiba-tiba menerobos masuk tanpa memberikan salam atau semacamnya terlebih dahulu? Tanpa mempedulikan kiri dan kanan, Akutagawa nekat menerobos masuk dan segera menuju ruang kesehatan Armed Detective Agency.
"Aduuuuhhhh!" Atsushi menjerit kesakitan saat bokongnya mendarat dengan tidak tidak mulus di lantai setelah Akutagawa tanpa sengaja mendorong Atsushi dengan kasar karena menghalangi jalannya. Ah, Atsushi sedikit terbiasa dengan kekasaran Akutagawa akhir-akhir ini. Ia tidak memprotes Akutagawa kali ini. Ia memakluminya.
Kunikida yang sudah mengamankan diri dengan menyingkir dan menepi ke meja di pojok ruanganpun mengangguk setuju dengan Atsushi dan sang author. Kunikida juga memaklumi apa yang dilakukan Akutagawa tadi. Termasuk Kenji, Tanizaki bersaudara yang mesra, Ranpo yang sedang asyik mengunyah cemilan, Direktur Fukuzawa, Dokter Yosano, berikut staf-staf kantor yang seharusnya sedang sibuk bekerja. Kini mereka semua memandang ke arah Akutagawa dan si kecil Dazai dengan tatapan penuh haru.
"Dazaiiii!" Akutagawa memeluk si kecil Dazai dengan erat, menumpahkan seluruh kerinduannya pada tubuh mungil itu.
"Papa Ryu, Dazai ingin ice cream."
"Baik. Kita akan beli banyak ice cream, Dazai."
"Horeeeee!" Dazai bersorak kegirangan.
Akutagawa menggendong Dazai di punggungnya, melewati orang-orang dari Armed Detective Agency. Atsushi mengejar Akutagawa. "Tunggu, Akutagawa! Aku ikut! Aku juga ingin membeli gulali untuk Dazai," Atsushi mengekor di belakang Akutagawa.
Kunikida membungkukan tubuhnya di hadapan Direktur Fukuzawa. "Direktur, saya mohon izin untuk pergi bersama mereka. Mereka membutuhkan pengawasan."
"Kunikida, pergilah bersama mereka."
"Baik, Direktur." Kunikida segera menyusul mereka.
Dokter Yosano memandang keempat orang yang diselimuti aura kebahagiaan itu dari jendela kantor. "Mungkin seharusnya aku membuat 'racun' itu dengan dosis lebih kuat. Jangka waktu seminggu sepertinya masih kurang." Ia terkekeh, "Dazai, kau berhutang padaku."
THE END
Note : Hello! Ini chapter terakhir dari Hapy Family. Terima kasih telah membaca fanfic ini. Haha, iya, chapter ini memang sangat terlambat untuk publish. Maaf. Ini karena saya sedang sibuk menerjemahkan light novel Bungou Stray Dogs jilid pertama (Dazai Osamu's Entrance Exam) chapter ke-4 ke dalam bahasa Inggris (bagi yang memiliki akun tumblr, silahkan cek akun saya; dazaimackerelosamu. Jika memungkinkan, nanti saya juga akan menerjemahkan light novel ke-4 : 55 Minutes. Sumpah, bahasa Jepang sangat sulit dimengerti oleh orang awam seperti saya. Namun, dengan berbagai usaha, saya bisa mengatasi kesulitan tersebut. XD Oh, ya ...puisi 'Resah Hati' adalah puisi yang pernah saya tulis dan diunggah di salah satu akun sosial media saya (entah kapan, mungkin sekitar 1 tahun lalu) dan pernah di-repost oleh seseorang (itu puisi milik saya dan ia lupa mencantumkan nama saya). Saya rasa puisi itu cocok untuk Akutagawa. Lagu penghantar tidur yang dinyanyikan oleh Kunikida Doppo dalam ff ini juga karya saya. Terima kasih telah membaca karya saya.
