Malam itu, ponselnya berdering.

Taehyung mengusap wajah cepat, antara acak dan perih yang terselip, lalu merogoh saku hoodie hijau tuanya dengan gerakan panik hingga benda tipis itu tergenggam dalam rengkuhan kelima jarinya. Ada getar di sana; entah karena pergerakan otomatis yang dikeluarkan ponsel, entah karena sistem saraf dendritnya yang gemetar. Lalu, ketika ia menatap layar dan membaca sederet nama yang tak asing lagi, Taehyung terpaku.

Jung Hoseok meneleponnya.

.

.

.

"Deal"

Disclaimer : sayangnya, mereka bukan milik saya T^T

Rated : T

Pair : Jeon Jungkook x Kim Taehyung

Warning : Di sini yang jadi uke-nya V, dan Jungkook seme X'D

Proudly Present by Cakue-chan

.

.

[009] Honest

.

.

.

[A single goodbye will lead to thousands happiness. A single goodbye until we meet again. A single goodbye and you know how much i love you. Goodbye]

.

.

.

"Siapa kau?"

"Bisa kita berbicara sebentar?"

Jungkook memicing. Menekankan dalam hati bahwa ia sungguh tidak mengenal pemuda bermata kecil yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya itu. Ia yakin tidak pernah menemuinya di sekolah, baik itu orang yang satu angkatan dengannya atau senior maupun junior. Lagi pula, pemuda itu juga menggunakan logat berbeda ketika berbicara. Cukup menjelaskan dia bukan berasal dari Seoul.

"Taehyung bercerita," katanya, dengan senyum aneh yang terpoles. Pemuda itu mengambil posisi duduk di bangku halte. "Kalau ia tidak bisa menerima uang lima ratus ribu won itu begitu saja."

Taehyung, Jungkook mengingat. Dan semakin menambah kecurigaannya karena nama Taehyung mendadak masuk dalam pembicaraan mereka. Termasuk lima ratus ribu won yang sempat membuat Jungkook membelalak. Orang itu mengenal Taehyung dengan sangat baik, tapi ia sendiri tidak mengenalnya. Jangankan mengenal, mengetahuinya saja tidak.

"Kau mengetahui Taehyung dan lima ratus ribu won itu," Jungkook mengulas seringai kecil. "Kau pasti bukan orang sembarangan."

"Bisa dibilang begitu. Omong-omong namaku bukan kau, dan Taehyung biasa memanggilku Jimin, dari Park Jimin. Bisa dibilang, yaa... Taehyung adalah sahabatku sejak kecil."

Jungkook mengangkat alis. "Sahabat dari kecil?"

"Kau mendengarnya dengan baik,"

"Taehyung tidak pernah memberitahuku,"

Bahu berkedik tak acuh. "Itu karena kau tidak bertanya, bocah."

Oh. Sekarang Jungkook mengerti dari mana datangnya perasaan familier ketika ia melihat pemuda bernama Park Jimin itu. Cara bicaranya yang sarkastik, sikap sok kenalnya, dan bagaimana Jimin memanggilnya tanpa merasa ragu sedikit pun. Jungkook menemukan kesamaan antara Taehyung dan Jimin. Samar memang, tapi setidaknya berhasil menurunkan tingkat kewaspadaan Jeon Jungkook.

"Aku bukan bocah," elak Jungkook sinis, lalu mendengus kecil. "Dan apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan denganku?" pada waktu yang tidak pas pula. Tepat beberapa menit setelah bus melaju pergi dan Taehyung tidak ada.

Jimin menatapnya, lama. Yang detik berikutnya terkekeh pelan dan menepuk tempat di sampingnya. Meminta Jungkook untuk duduk di sana tanpa perintah secara lisan.

"Ketahuilah Jungkook, ini akan menjadi cerita yang panjang."


"Taehyung, kau baik-baik saja?"

Taehyung tidak tahu setan apa yang merasukinya sehingga ia ingin memaki sebanyak mungkin saat Jung Hoseok bertanya di waktu yang tidak tepat. Ia menggenggam ponsel lebih erat lagi. Merutuki kebodohan dan sifat tololnya ketika Taehyung menghabiskan menit yang berjalan hanya untuk menguras persediaan air matanya. Ia tidak lemah, persepsi itu terus diulangnya dalam benak sejak ponselnya berdering.

"Kenapa Hyung bertanya seperti itu?"

"Aku... " jeda sejenak, Taehyung bisa merasakan ragu di ujung sana. "Jungkook mengirimku pesan. Dia bilang..."

"Hyung," Taehyung memejamkan mata dan menyandarkan kepala pada kaca jendela samping. Dadanya sesak, Ya Tuhan... "Kesepakatan kami sudah berakhir."

Bus berhenti. Masih ada dua pemberhentian lagi yang harus Taehyung lalui sebelum berakhir di halte tujuan. Masih ada jam-jam yang berjalan sampai Hoseok menghentikan perbincangan yang tak akan ada habisnya.

"Aku tahu itu,"

Jelas kau tahu, Hyung. Dan semua ini menyesakkan.

Kelopak mata terbuka kembali. "Lalu kenapa Hyung meneleponku?" dan bukannya Jungkook?

Tawa getir terdengar, dan Taehyung bertanya-tanya mengapa bukan dirinya saja yang tertawa seperti itu?

"Aku hanya ingin memastikan. Apa kau baik-baik saja setelah kalian berpisah? Kenapa kedengarannya kau tidak merasa senang, Taehyung?"


"Terus terang saja, aku terkejut saat Taehyung mengirimku pesan dan rela menjadi kekasih palsunya seseorang dengan bayaran lima ratus ribu won setiap bulannya. Kau tahu pertama kali yang aku pikirkan saat itu?" tanpa menunggu jawaban dari bibir Jungkook, Jimin melanjutkan. "Aku pikir; orang brengsek mana lagi yang berani-beraninya mempermainkan sahabatku? Terlebih saat aku juga tahu kau pernah menciumnya begitu saja, Jungkook."

Pantas saja di beberapa kesempatan, Jungkook selalu menemukan Taehyung sibuk sendiri dengan ponselnya. Seolah-olah memiliki dunia sendiri yang tidak Jungkook pahami.

"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi aku tidak pernah melihat Taehyung seperti apa yang kau pikirkan, Park."

"Seperti yang aku pikirkan?" Jimin mengernyit. "Maksudmu, seperti yang dilakukan Oh Sehun?"

Jungkook menoleh cepat. Tepat pada saat itu, Jimin sudah menatapnya lebih dulu. Secara naluriah, ia seharusnya membela diri. Karena Jungkook, sekalipun dan sampai kapan pun, tidak akan pernah mau melakukan hal kurang ajar dan benar-benar brengsek seperti bedebah Oh itu. Sehun memang temannya, tapi bukan berarti Jungkook menaruh kebenaran pada apa yang dilakukannya terhadap Taehyung.

Namun begitu ia sadar bahwa Jimin tidak bermaksud menyinggung perasaannya, Jungkook tidak membantah.

"Aku cemas, tentu saja. Mendengar sahabat kecilku ternyata lagi-lagi dipermainkan," merasa atmosfer mulai menegangkan, Jimin mengalihkan pembicaraan. "Kau tahu sendiri Jungkook, Taehyung itu..."

Jungkook menunggu.

"... seolah memiliki daya tarik tersendiri sehingga orang-orang bisa menyukainya dengan mudah. Dulu, Taehyung begitu dicintai banyak orang. Tapi ketika ayahnya pergi dan menghancurkan ibunya, dia mulai menutup diri. Jujur saja, sebagai sahabatnya, aku merasa gagal. Bukan karena kami tepisah oleh jarak yang jauh sehingga aku tidak bisa menenangkannya saat dia terpuruk. Tapi karena, ya... aku tidak bisa mengembalikannya seperti dulu."

Itulah mengapa eksitensi Kim Taehyung bisa dikatakan sangat tipis. Karena Taehyung sendiri yang membangun dinding tebal antara dirinya dan kenyataan. Tidak jauh berbeda dengan sifat individualismenya yang semakin membesar.

"Dan sampai saat ini, hanya Oh Sehun lah yang bisa menariknya kembali."


"Hyung ingin aku menjawab apa?"

Hening.

Taehyung bisa merasakan bus kembali melaju perlahan.

"Aku tidak perlu tahu jawabannya, Taehyung. Kau sendiri yang tahu harus menjawabnya bagaimana," nada suara Hoseok di ujung sambungan melembut. "Hanya saja, dengarkan aku dan ingat ini baik-baik."

Selalu. Sejak pertama kali ia bertemu laki-laki itu dan menganggapnya sebagai seorang kakak, tak ada alasan lain yang bisa membuat Kim Taehyung tidak ingin mendengarkan setiap tutur kata Jung Hoseok yang membuatnya tenang.

"Jungkook tidak pernah berusaha menyakitimu. Dia memang seperti itu. Sejak keharmonisan keluarganya runtuh dan Jungkook terkekang dengan perintah-perintah ayahnya, pribadinya mulai berubah. Dia menyebalkan, memang. Dan selalu memutuskan segalanya secara sepihak. Terkadang aku tidak bisa menebak jalan pikirannya. Jungkook seperti abstrak."

Jeon Jungkook adalah abstrak.

Kau tidak bisa menyentuhnya tanpa tahu makna yang tersembunyi di baliknya.

"Akan tetapi, aku tahu di balik sikapnya yang menyebalkan, Jungkook memiliki alasan tersendiri. Alasan yang membuatnya bersikap seperti itu. Alasan yang, aku yakin sepenuhnya, membuatmu lelah saat kesepakatan kalian masih berjalan."


"Sayangnya, Oh Sehun bukanlah orang yang tepat, ya?"

Sedikitnya, Jungkook sudah bisa menduga. Kenangan pahit yang telah Oh Sehun torehkan dan luka yang ditinggalkan pemuda itu terhadap Taehyung semakin memperparah keadaan. Membuat Kim Taehyung yang secara terang-terangan menutup diri pada lingkungan sekitarnya.

"Dan kau tahu bagian mana yang paling mirisnya?"

Jungkook melirik, tapi tidak bertanya.

"Taehyung takut untuk jatuh pada perasaan yang sama."


"Jungkook hanya merasa... sendirian. Dia tidak tahu perhatian seperti apa yang diharapkannya. Ah, bukan hanya itu. Dia bahkan belum mengerti perasaan bagaimana yang dicarinya kembali saat ayah dan ibunya berpisah dan semuanya tampak hancur ..."


Hening. Tak ada bantahan atau pertanyaan yang terlontar. Halte begitu sepi saat Jimin membiarkan situasi mengambil alih dan sibuk oleh pikiran masing-masing. Sampai sekon yang tak terhitung berjalan, suara Jungkook memecah keheningan.

"... hei,"

"Apa?"

Dingin. Jungook tidak yakin harus bertanya atau tidak.

"Apa kau menyukai Taehyung, Park Jimin?"


"... karena perasaan itulah, Jungkook membuat kesepakatan lima ratus ribu won di antara kalian berdua. Jungkook berusaha mencari kepingan yang hilang dalam dirinya. Dia mencoba menjadi dirinya yang dulu meskipun tahu tidak akan berhasil sepenuhnya. Dan kau menjadi orang yang dipilihnya, Taehyung. Jungkook mungkin tidak menyadarinya, kau juga sendiri pun merasakan hal yang sama. Dan percayalah Taehyung, apa yang kulihat tidak akan mengatakan kebohongan ..."


"Nah... bagaimana, ya?"

Jungkook mendengus.

"Kenapa? Apa itu membuatmu cemburu meskipun kalian sudah berpisah?"

Entah mengapa, Jungkook tertawa dibuatnya. Pelan memang, tapi tetap saja semacam tawa dan membuatnya berpikir mengapa ia bisa tertawa di saat seperti ini. Saat hatinya sempat hancur karena kesepakatan bodohnya bersama Taehyung sudah berakhir. Tak ada lagi perjanjian yang mengikat. Tak ada lagi nominal lima ratus ribu won. Tak ada lagi sandiwara di depan seorang Bang Minah. Tak ada lagi romantisme palsu yang terlibat.

Dan tak ada lagi Taehyung di sampingnya.

"Tapi dari yang kulihat, kenapa kau tampak tertekan setelah berpisah dengannya, Jungkook?"

Lalu, pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diminta.

Bagaimana dengan perasaan Kim Taehyung saat kesepakatan mereka selesai? Bagaimana dengan Jungkook yang sebenarnya membutuhkannya? Bagaimana keadaan Taehyung setelah trauma masa lalunya terulang? Bagaimana dengan Jungkook yang membutuhkannya? Bagaimana jika Taehyung tanpa sadar telah jatuh pada perasaan yang sama? Bagaimana reaksi Oh Sehun ketika tahu Kim Taehyung tidak berada lagi di dalam pengawasan Jeon Jungkook? Bagaimana dengan perasaan Bang Minah?

Bagaimana dengan Jeon Jungkook yang membutuhkan Kim Taehyung?


"Mengakulah, Taehyung. Kau dan Jungkook, kenapa tidak saling jujur saja terhadap perasaan masing-masing?"

Taehyung lupa akan telinganya. Yang menerima getar udara dari tiap vokal Hoseok hingga otaknya memproses huruf yang berjejer menjadi kata, terangkai menjadi kalimat, dan menegas dalam makna.

Saat itu, secuil kendali Taehyung hancur berkeping-keping dan pertahanannya runtuh. Bohong rasanya jika ia berkata tidak menangis. Bohong adanya jika ia berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Meski tak ada air mata yang keluar dan basah di pipinya, Taehyung tahu relung hatinya tak bisa berucap dusta; pecah dan menangis dengan caranya sendiri, dengan memilukan. Ia bahkan bisa membayang, bagaimana rupa Jungkook yang teregistrasikan dalam benaknya pada detik ini?

Aku selalu jujur, Hyung. Taehyung membatin pilu. Kalau itu yang kau pertanyakan, kalian pertanyakan, kalian cemaskan. Aku selalu jujur. Untuk kalian, untukku sendiri. Aku selalu jujur...

"Hyung..."

Namun, hanya kepada Jeon Jungkook saja aku melakukan sebaliknya.

"Aku harus bagaimana sekarang?"

Tak perlu waktu lama bagi Hoseok untuk mencari jawaban yang pantas. Taehyung bisa merasakan laki-laki itu tersenyum lembut sebelum akhirnya berkata. "Tanpa bertanya pun, kau sudah tahu jawabannya, Taehyung. Aku yakin Jungkook juga berpikiran hal yang sama denganmu, aku mengenal Jungkook dengan sangat baik."

Taehyung menarik napas sepanjang mungkin.

"Satu pesan dariku, jangan pernah menurut pada ego masing-masing."


"Ayolah, Jeon Jungkook. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi karena aku tahu bagaimana perasaan Taehyung sekarang; entah itu ketika pertama kalinya berhubungan denganmu, atau setelah berpisah denganmu; aku terpaksa mengatakannya."


.


"Untuk itu Taehyung ..."


.


"Karena itu Jungkook ..."


.


"Bisakah kau kembali padanya sekali lagi?"


.

.

.

Sebut saja Park Jimin bodoh.

Tetapi akan lebih bodoh lagi ketika Jungkook bangkit berdiri, menggumamkan frasa terima kasih yang tidak terlalu jelas meskipun Jimin menangkapnya. Bodoh ketika bus berikutnya berhenti tepat di halte tempatnya berpijak dan Jungkook melesat masuk tanpa berpikir dua kali. Ia bisa melihat Jimin di balik jendela, masih dalam posisi yang sama; duduk di halte seorang diri dengan satu tangan melambai ke arahnya. Mengucap perpisahan dan sedikit penyemangat dalam sorot mata kecilnya.

Jeon Jungkook bodoh.

Karena ia hanya bisa mengumpat dalam hati saat bus melaju lambat.

Berharap ia tidak terlambat dengan kebodohannya.

.

.


.

.

Taehyung tidak tahu setan jenis apa lagi yang merasukinya.

Ia hanya memutus panggilan ponsel begitu saja setelah ucapan terima kasih keluar lalu menekan bel pemberhentian meskipun halte tujuannya belum terlihat. Taehyung bahkan tidak mempedulikan tiga anak tangga terakhir yang diloncatinya dengan ringan hingga ia menginjak padatnya aspal, mengabaikan suara pintu yang berderit tertutup, setelah itu berlari secepat mungkin.

Karena menunggu bus yang berjalan melawan arah akan memakan waktu lama dan keberaniannya masih terkumpul dengan baik, Taehyung memilih untuk berlari. Menembus dinginnya malam dan angin yang berhembus kencang. Lari! Lari sampai kakimu tidak bisa lagi melakukannya!

Ia juga tidak tahu sejauh apa jalanan yang telah dilaluinya. Dan berapa ratus meter lagi yang diperlukan hingga dirinya sampai di tiga halte sebelumnya.

Taehyung berlari dan tidak ingat akan waktu yang berdetik.

Ia berlari dan mengabaikan lelah dan sesak yang membuat tubuhnya begitu beku.

Demi Tuhan! Ia hanya perlu berlari sampai—

—matanya melihat bus yang berhenti tepat di sampingnya, mendadak dan nyaris dilewati Taehyung begitu saja jika ia tidak mendengar bunyi berisik gerendel pintu yang terbuka, dan sesuatu menghentikan laju larinya saat di kejauhan sana seseorang memanggil.

"Taehyung!"

Dan ia berhenti hanya untuk menemukan Jeon Jungkook di belakangnya.

.

.


.

.

Statis.

Maupun Taehyung atau Jungkook, sampai bus kembali melaju dan keadaan jalanan hening juga sepi, tak ada pergerakan lain selain berdiri mematung saling berhadapan satu sama lain. Menatap satu sama lain dengan sorot yang berbeda. Taehyung dengan napas terengahnya, dan Jungkook dengan gurat wajah lelahnya. Statis. Terpisah oleh jarak lima meter dari tempat masing-masing berpijak.

Hening. Dingin. Angin berhembus sepi.

Mencoba mencari jawaban dari setiap refleksi manik mata yang saling memaku.

"Kenapa kau lari-lari seperti itu? Dasar bodoh," Jungkook pertama kali bersuara. Ia melangkah dengan perlahan dan pasti. Mendekati Taehyung yang tetap kukuh dengan posisi patungnya. "Kau bisa menunggu di halte berikutnya jika ingin menemuiku, Taehyung."

Suara dengusan terdengar, diikuti tawa sengau setelahnya. "Kau yang seharusnya tidak perlu naik bus, Jungkook. Ya Tuhan, kenapa rasanya jadi drama sekali?" Ia mendongak, tepat ketika Jungkook berdiri sejauh tiga puluh sentimeter di hadapannya. "Kau sendiri, kenapa tidak pulang saja dan malah menemuiku di sini?"

"Well," bahu berkedik ringan, "karena terlalu ingin bertemu denganmu aku jadi tidak tahu alasannya apa?"

"Lucu sekali,"

"Kau mengenalku dengan baik, Kim."

"Meh, itu tidak perlu dipikirkan sekarang. Ada satu hal yang harus kau dengarkan baik-baik, Jeon."

Sebelah alis Jungkook terangkat; bertanya dan menanti.

"Katakan."

Taehyung menghela napas pelan. "Hoseok-hyung pernah bilang padaku, kesepakatan lima ratus ribu won itu tidak akan berlaku lagi jika salah dari kita mulai saling menyukai," gugup, mata mahoni dan bibir itu bergetar karena gugup, "terdengar konyol, memang. Tapi aku percaya pada Hoseok-hyung dan akhirnya aku menolak cek yang kau berikan. Lima ratus ribu won itu, aku tidak membutuhkannya lagi. Dan, ya ... seperti itulah."

Jungkook mengernyit.

"Lalu?"

"Apa?"

"Kau tidak ingin mengatakannya?"

Taehyung berdeham kikuk. "Aku tidak mengerti maksudmu, Jungkook."

"Oh, ayolah," erang Jungkook sebal. Mengacak rambutnya frustasi sambil membuang napas kasar. "Apa kau harus tahu siapa duluan yang memulai baru setelah itu mengatakannya?"

"Apa mengatakannya dengan jelas memang diperlukan?"

Jungkook berdecak. "Memang kau tahu apa soal perasaanku?"

"Hei, hei, siapa tadi yang bilang kalau kau terlalu ingin bertemu denganku sampai tidak tahu alasan—" ketika Jungkook kembali berdecak dan tiba-tiba merentangkan kedua lengannya selebar mungkin, Taehyung tertegun.

"Lupakan saja. Kemarilah."

Taehyung menggigit bibir pelan.

"Cepat kemari sebelum aku menciummu tanpa henti."

Satu sekon, dan tawa Taehyung membahana tepat setelah ia melemparkan diri ke arah Jungkook; ke arah dua lengan yang terlentang lebar untuknya sampai lengan pemuda tinggi itu melingkar manis di sekeliling bahu dan tubuhnya. Sampai ia terbenam dalam dekapan hangat dan pelukan erat. Sampai Taehyung bisa mendengar tawa renyah Jungkook yang masuk ke dalam gendang telinganya. Sampai ia tidak sadar Jungkook mengangkat tubuhnya dengan begitu ringan tanpa susah payah dan Taehyung spontan melingkarkan kedua tangan di sekitar leher Jungkook.

"Berbangga hatilah karena aku bisa menyukaimu sebegini besarnya, Kim Taehyung."

Taehyung tidak sempat membalas karena tepat pada saat itu, pada malam dan berkas lampu neon yang menyebar di sepanjang trotoar jalanan, juga pada jalan sepi dan angin yang berhembus pelan, bahkan berhasil menumpuhkan segala logika dan pikiran yang enggan sejalan; bibir keduanya bertemu; selembut vanila yang terselip dan setajam kayu manis mengikuti.

Jeon Jungkook menciumnya.


1/2 tbc dan 1/2 end


A/N : haii :) maaf, sebenernya ada satu chapter lagi buat epilog. Tapi karena mumpung saya sekarang lagi ada waktu bebas sebelum nanti susah lagi *uhuk* mudah-mudahan saya bisa update epilog-nya pas malem aja ya :') maafkan~~ (buat typo-nya juga X'D)

Salam hangat~