proudly present
An EXO Fanfiction
ONE WEEK GIRLFRIEND
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari Novel berjudul sama karya Monica Murphy
Happy Reading!
.
.
.
"She's beautiful, and therefore to be wooed; she is woman,
and therefore to be won."
Hari ke-4, 01:12 PM
Oh Sehun
Aku mengajak Jongin makan siang sebagai ucapan terima kasih karena telah memahami masalahku. Apa yang ku lakukan padanya semalam tak dapat dimaafkan, tapi entah bagaimana dia berhasil menemukan alasan untuk memaafkanku. Dia baik sekali padaku dan aku tak tahu apa yang telah kulakukan hingga aku pantas menerima kebaikannya.
Mentraktirnya makan siang yang lezat mungkin tak seberapa untuk menggambarkan rasa terima kasihku. Aku hanya ingin menunjukkannya, aku juga tak yakin dia menganggapnya seperti itu. Meskipun dia menciumku dengan manis di pipiku semalam, dan pelukan menenangkan darinya sebelum kami berdua akan tidur, semuanya lebih karena dia menganggapku seperti saudaranya, bukan karena dia menginginkanku.
Sangat buruk, karena dia membuatku gila dan aku sangat sulit berkonsentrasi. Aku lebih suka membawanya ke tempat tidurku, menelanjanginya, dan membenamkan diriku jauh di dalamnya hingga aku bisa melupakannya, setidaknya selama beberapa waktu. Aku ingin menandai setiap inchi tubuhnya dengan bibirku. Aku ingin duduk dengan dia di pelukanku, menciumnya berjam-jam, hingga bibir kami bengkak dan rahang kami lelah. Aku ingin melihatnya ketika dia datang. Aku ingin menjadi orang yang membuatnya datang, dengan bibirnya yang menyebut namaku.
Aku tak pernah merasa seperti ini dengan cewek manapun sebelumnya. Sama sekali. Terdengar cengeng, tapi kenyataannya Jongin telah menaklukkanku—dengan cara yang baik. Dan aku baru mengenalnya kurang dari seminggu yang lalu.
Terkadang, aku merasa tak butuh waktu lama untuk mengenalnya.
"Aku suka restoran ini." Dia menatap berkeliing ketika pelayan membawakan pesanan kami, senyum di wajahnya adalah senyuman paling bahagia sejak aku membawanya ke kota ini. "Sangat imut. Dan aroma makanannya, luar biasa."
Semua yang ada di pusat kota Carmel memang bisa di katakan imut. Seperti negeri boneka, ada banyak pondok dimana-mana dan semuanya mungil, gang-gang sempit dan banyak jalan rahasia. Seperti negeri dongeng.
"Makanlah," aku mendorongnya untuk makan karena aku sudah lapar sekali. Aku memesan roti isi ayam sementara Jongin memesan Salad Ayam Asia. Aku menggigit makananku beberapa kali, sangat menikmatinya hingga aku melewatkan kebahagiaan murni di wajah Jongin ketika dia sedang menyantap makanannya.
Aku meletakkan rotiku di piring, benar-benar terpaku. Reaksiku terhadapnya benar-benar menggelikan. Tak membantu sama sekali, terlebih aku terangsang setengah mati, dan apapun yang di lakukannya membuatku panas.
Tapi tampaknya dia benar-benar menikmati saladnya. Matanya setengah tertutup dan ekspresi wajahnya melembut. Dia menjilat lidahnya, lidahnya yang berwarna merah muda terlihat dan itu menyiksaku, dan aku menelan ludah dengan susah payah, nafsu makanku hilang seketika.
Nafsuku terhadap Jongin malah makin menjadi.
"Rasanya luar biasa. Dressing paling lezat yang pernah kurasakan." Dia memandangku, alisnya bertaut. "Kau baik-baik saja? Kupikir kau lapar?"
"Eh…" Kacau.
"Kau tak memakannya. Tidak suka?" Perhatiannya sangat menyentuh, tapi ini tak ada hubungannya dengan sandwich sialan ini, semua hal ini karena dia. Betapa aku menginginkannya.
Dan aku benar-benar menginginkannya.
Sekali saja, aku ingin menjalani hal ini dan tak perlu khawatir akan konsekuensinya. Kami tertarik pada satu sama lain. Dia tak punya prasangka apapun, begitupun aku. Masa laluku yang selalu menggangguku bisa tergantikan—setidaknya sementara waktu— dengan kenangan baru yang bisa kuciptakan bersama Jongin di sini.
"Sandwich-nya enak." Aku menggigitnya sekali untuk membuktikan ucapanku dan dia tersenyum menyetujui sebelum akhirnya kembali menikmati saladnya.
Kemudian hal itu menyadarkanku, bahwa saat ini kami tengah kencan. Aku adalah pria berusia dua puluh tahun yang paling menyedihkan yang pernah hidup. Aku bermain Football, nilaiku bagus di kampus, gadis-gadis setengah-mati ingin jalan denganku, tapi aku tak pernah benar-benar berkencan dengan salah satu dari mereka. Aku benar-benar tak tahu bagaimana rasanya berada dalam satu hubungan. Masa laluku membuatku tak tertarik melakukan hal-hal semacam itu dan aku sudah terlalu lama membiarkan masa laluku menguasai hidupku.
"Besok Thanksgiving," Jongin mengatakannya setelah dia menyesap es tehnya. "Apa keluargamu akan mengadakan perayaan khusus atau bagaimana?"
"Tidak juga." Well, kami tak pernah merayakannya sejak kematian Seulgi, adikku. Topik yang berat untuk hari ini. "Tahun-tahun sebelumnya kami berlibur selama Thanksgiving."
"Betapa menyenangkan." Senyumnya manis tapi tak mencapai matanya. Dia mengatakan hal itu karena dia menyangka aku mengharapkannya berkata demikian. Dia telah menyaksikan betapa kacaunya keluargaku.
Dia adalah orang pertama yang mengetahuinya.
"Di samping itu, sebagian besar keluarga Ayahku berada di pesisir timur. Ayahku berasal dari New York sebenarnya," lanjutku.
"Benarkah?" Dia mengusap mulutnya dengan sapu tangan berwarna putih kemudian menjatuhkannya di pangkuannya. Tatapanku jatuh di bibirnya. Bibirnya penuh, berwarna pink dan aku setengah-mati ingin mencicipinya lagi.
Seakan aku bangun pagi ini dengan pikiran yang penuh dengan seks. Sangat jelas, mengingat kemaluanku yang keras ketika aku bangun pagi hari tadi. Aku memimpikannya, kabut dimana-mana, gambaran kabur kami berdua yang kusut masai, dia melahap tubuhku dan aku membiarkannya. Menikmatinya, sebenarnya.
"Ya. Ibuku juga berasal dari sana." Aku mengerutkan kening. Aku juga tak ingin memikirkannya.
"Kau pernah kesana dan berkunjung?"
"Sudah bertahun-tahun tidak, tapi ya. Kakek nenekku tinggal di sebuah kawasan berbukit di Brooklyn. Kehidupan disana benar-benar berbeda." Aku ingin sekali kembali ke sana. Kakek nenekku masih hidup tapi sudah sangat tua hingga mungkin usianya tak akan lama lagi.
Tapi mereka tak begitu menyukai Jessica hingga kami jarang mengunjungi mereka.
"Aku akan senang sekali jika suatu saat bisa ke sana." Dia menghela nafas sedih. "Aku selalu ingin melihat kota New York."
"Itu adalah pengalaman luar biasa, pastinya." Aku berharap aku bisa mengajaknya. Bisa di katakan kini aku di penuhi keinginan untuk membuatnya bahagia. Menunjukkan segala hal yang selama ini tak bisa di raihnya dalam hidupnya.
"Beritahu aku sesuatu," Aku berkata setelah kami selesai makan dan menunggu pelayan datang mebawa tagihan.
"Apa yang ingin kau ketahui?" Kekhawatiran melintas di matanya dan itu menyadarkanku. Kami memiliki lebih banyak kesamaan dari yang selama ini kupikirkan dan aku memperoleh keyakinan.
"Bagaimana kau memperoleh namamu?" Ketika dia mengerutkan keningnya, aku melanjutkan. "Jongin. Kau harus mengakuinya, namamu sedikit… tidak biasa."
"Oh…" Pipinya berubah menjadi merah jambu, sepertinya dia merasa malu, dan dia menatap meja. "Ibuku. Dia agak… berbeda. Ketika aku lahir, dia memandangku sekali dan mengumumkan bahwa aku adalah titisan Jiwa yang Bijak. Dugaanku dia tahu dengan pasti bahwa aku punya banyak hal untuk di ceritakan. Setidaknya, itu yang di katakannya ketika aku berumur sekitar lima tahun. Nenekku juga mengatakan hal yang sama."
"Jiwa yang Bijak, eh?" Aku mengamatinya dan mata hijau yang besar dan cemerlang itu balik menatapku. Dia terlihat jauh lebih dewasa dari kebanyakan cewek seusianya yang kukenal. Dia juga telah melalui begitu banyak hal. Sepertinya dia mengurus banyak orang. Jadi, siapa yang mengurus Jongin? "Apakah kau punya banyak kisah untuk di ceritakan?"
Dia menggelengkan kepalanya dengan perlahan, pipinya menggelap hingga berwarna merah. "Hidupku amat sangat membosankan."
"Aku meragukan itu." Aku baru tahu dia begitu misterius. Dia menunjukkan kesan seolah dia cewek tangguh dan tak peduli apapun, tapi aku punya perasaan dia memiliki sisi rentan dalam kepribadiannya.
"Jika yang kau maksud adalah pertualangan seksku. Sungguh. Selain itu semuanya benar-benar membosankan. Tak ada hal yang bisa di ceritakan. Sebagian besar cerita yang berkembang di luar sana adalah kebohongan, sebenarnya." Bibirnya menipis pada satu garis lurus setelah pernyataan itu, begitu tipis hingga seolah menghilang seketika.
Aku sejenak di buat terkaget-kaget oleh perkataannya. Aku sedang berusaha mengenalnya, bukannya ingin membongkar masalah pribadinya ataupun kehidupan seksnya di masa lalu. Tentu saja aku belum siap mengarah ke sana. Aku bahkan tidak tahu apakah suatu saat aku akan siap. "Aku tak peduli pada hal-hal itu."
"Tentu saja kau peduli, karena hal itu adalah alasan satu-satunya kau memilihku untuk berpura-pura menjadi pacarmu." Rasa sakit dalam suaranya terdengar jelas sekali. Dengan memilihnya, aku telah menyakiti cewek yang memang telah rusak ini. Kebenaran itu membuatku merasa seperti kotoran.
"Aku tak akan berbohong. Kau memang benar." Meraih ke seberang meja, aku mengambil tangannya dan menautkan jemari kami. Jemarinya ramping dan dingin. Aku meremasnya dengan harapan dia akan merasa hangat. "Tapi sekarang, aku merasa senang telah memilihmu."
Sekali lagi dia menatapku, matanya melebar dan membulat dan aku merasa seolah dia menelanjangi jiwaku. "Aku juga senang kau sudah memilihku," dia mengakui, suaranya sangat pelan hingga aku hampir tak mendengarnya.
Emosi mengalir membakar di dalam diriku dan aku susah payah menjaga semuanya tetap tenang dan terkendali diantara kami berdua. Kami berbincang hal-hal remeh, membayar tagihan dan aku hanya memikirkan dia. Betapa aku menginginkannya. Bagaimana dengan mudah dia masuk ke dalam kehidupanku dan aku tak bisa membayangkannya menjauh.
Benar-benar gila.
Di tambah lagi, yang terjadi semalam mengenyahkan ketegangan diantara kami dan kami merasa lebih terbuka satu sama lain siang ini. Begitu terbuka sampai ketika kami meninggalkan kafe dan berjalan di sepanjang trotoar menuju ke tempat aku memarkir mobil, aku meraih tangannya dan dia membiarkanku menggandengnya.
Seperti pasangan sungguhan.
"Sepertinya akan hujan," Jongin bergumam dan aku menengadah memandang langit, menyadari awan mendung dan tebal menggantung di angkasa.
"Ya, kelihatannya." Rintik pertama jatuh tepat ketika aku mengatakannya dan dia tersenyum, kemudian tertawa, suaranya menderaku, membuatku tak karuan. Aku suka bunyi tawanya dan aku ingin mendengarnya lagi. Hujan berubah menjadi lebih deras dan kami berhenti, menatap satu sama lain. Aku mengeratkan peganganku pada tangannya dan kami mulai berjalan lebih cepat, seolah kami bisa kabur dari hujan yang yang turun kian deras. Hingga akhirnya kami terjebak di tengah-tengah hujan sangat deras, dan kami menggigil kedinginan.
"Tempat parkirnya masih jauh?" dia bertanya. Hujan turun sangat deras, hingga aku hampir tak bisa mendengarnya.
"Tempatnya terlalu jauh." Aku memarkirkan mobilku di parkiran umum, hingga kupikir aku tak perlu khawatir tarif parkirnya dan sekarang aku berharap aku tak melakukannya. Trotoarnya sudah lewat dan hujan turun semakin deras, sementara kami masih harus berjalan beberapa blok lagi.
"Mungkin sebaiknya kita berteduh di sebuah toko dulu dan menunggu sebentar," dia menyarankan.
Sarannya boleh juga, tapi aku punya solusi yang lebih baik. Menariknya bersamaku, aku memasuki sebuah gang yang kutahu mengarah ke sebuah studio seni dan galeri. Lorong itu tertutupi seluruhnya, semak belukar yang lebat tumbuh di sepanjang sisinya hingga ke teralis di sekitar bangunan itu. Tempat itu gelap dan terlindungi dari hujan dan lampu-lampu kecil bertebaran di antara tanaman liar untuk persiapan musim liburan yang akan datang.
Benar-benar ajaib dan aku menyadari Jongin menatap dengan penasaran, bibirnya terbuka dan matanya melebar. Dia berbalik dan menatapku, rambut pirang panjangnya basah kuyup, pipinya penuh rintik hujan. Tanpa pikir panjang, aku menghapus tetesan air hujan di pipinya dengan jempolku, dari pipi yang satu, dan pipi yang lainnya. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia menekan bibirnya, matanya menatap tanah.
"Dingin?" gumamku. Aku di penuhi keinginan untuk selalu menyentuhnya, tetap menyentuhnya. Entah bagaimana, kini dia telah menjadi bagian dari hidupku.
Jongin menggelengkan kepalanya perlahan, memaksa matanya menatapku sekali lagi. "Tempat ini, begitu indah. Kau yakin tak apa-apa jika kita berlindung di sini sebentar?"
"Ya, tentu saja." Aku menariknya ke arahku karena aku tak bisa menahan dorongan itu, dan dia datang dengan senang hati, menatap ke bibirku. Kami membagi pikiran yang sama dan kenyataan itu membuatku lega. Dia juga menginginkannya, sama seperti aku menginginkannya.
Tapi dia sangat mungil, aku menjulang di atasnya dan aku menatap berkeliling, aku melihat sebuah bangku kayu rendah berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku meraih pinggangnya, membuatnya mencicit pelan dan aku menempatkannya di atas bangku itu, hingga kini dialah yang lebih tinggi dariku.
"Apa yang kau lakukan?" dia meletakkan tangannya di bahuku, jemarinya menekan kain kaosku yang basah.
"Membiarkanmu memulainya," kataku, berharap dia akan melakukannya. Sialan, aku ingin dia melakukannya. Sangat buruk, dan itu membunuhku. Kuletakkan tanganku di pinggangnya, berharap dia tak memakai jins. Benar-benar berharap dia tak memakai apa-apa dan kami berada di sebuah tempat, kembali ke pavilliun, tubuhnya menyelip di bawahku dan kami menjelajahi tubuh satu sama lain dengan tangan dan mulut.
Bersama dengan Jongin membuatku merasa bebas. Kuharap aku menyadarinya lebih awal.
.
Kim Jongin
Sesuatu telah merubah diri Sehun sejak semalam. Jika sebelumnya dia begitu kaku dan penuh rahasia, hari ini dia lebih terbuka dan lebih bahagia dari yang pernah kulihat. Sejak kami datang ke kota ini, kami bicara, kami berjuang bersama, kami bicara lebih banyak, dan semua itu membuat kami menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
Tapi, itu juga membuatku takut. Dia bisa saja kembali seperti semula. Sedetik sebelumnya dia begitu menawan, begitu tak tertahankan hingga seolah dia mencuri nafasku. Detik berikutnya dia begitu gelap dan menarik diri, begitu diam. Sangat menguras energi bersama dengan Sehun, tapi jika dia bersikap seperti ini, aku bisa melupakan semua drama itu dan bisa bersenang-senang bersamanya.
Hujan badai yang tak diduga-duga telah membuat kami basah kuyup dan menderita tapi aku tak peduli. Tidak ketika Sehun yang saat ini tengah mendongak menatapku, ketika mata birunya mengunci mataku. Wajahnya lembab karena air hujan dan rambutnya lepek, seperti halnya seluruh pakaiannya, begitupun denganku. Kami berada di sebuah lorong kecil di sebuah gang, di kelilingi teralis kayu yang di tumbuhi semak belukar yang lebat. Namun, semuanya tampak nyaman. Sebuah lampu natal mungil bersinar redup tak jauh dari tempat kami berada dan suara yang terdengar hanyalah deru nafas kami yang semakin cepat.
Aku hanya berdua dengannya. Benar-benar terisolasi dari dunia luar, tak perlu khawatir ada orang yang akan melihat kami, atau apa yang mungkin mereka katakan. Kami bisa melakukan apapun yang kami inginkan tanpa perlu takut dengan penghakiman dan komentar-komentar sinis. Hanya ada aku, dia dan hujan, tanpa ada bayangan cewek-cewek yang sirik ataupun ibu tiri yang cemburu.
Mengamati wajahnya, aku menjalankan telunjukku dengan lembut di salah satu tulang pipinya, kemudian yang satunya. Dia tak bercukur pagi ini, hingga tanganku gatal ketika menyentuh pipinya yang kasar. Membuatku penasaran bagaimana rasanya jika dia menggosok bagian tubuhku yang sensitif dengan pipinya yang kasar itu.
Aku gemetar hanya dengan memikirkannya.
Dia masih diam saja, hanya kedip samar di matanya menunjukkan dia sedikit terpengaruh dengan sentuhanku, yang makin lama makin berani. Aku menyentuh bibirnya. Dengan pelan, sepanjang lekuk bibir atasnya, kemudian bibir bawahnya yang penuh, dan aku berlama-lama menyentuh sudut bibirnya, mengusap rintik hujan kecil yang tersisa di wajahnya. Dia membuka bibirnya, menangkap jemariku dan aku terkesiap ketika merasakan dia menggigit jemariku dengan lembut, kemudian menjilatnya.
Tuhanku, dia membunuhku. Aku tak tahu kenapa dia begitu berani hari ini, aku tak tahu mengapa tiba-tiba dia mendekatiku, tapi aku tak ingin menanyakan alasannya. Aku menginginkan ini. Aku menginginkannya.
"Kau akan menciumku atau tidak?" dia bertanya setelah aku menarik jariku dari bibirnya. "Kau menyiksaku, tahu?"
"Mungkin aku menginginkannya." Aku merasa genit, nakal dan itu seimbang dengan seringai pelan yang muncul di wajahnya.
Sehun menyelipkan tangannya di tengkukku dan memiringkan kepalaku, jemarinya mencengkram rambutku yang lembab. Aku menurunkan kepalaku, mulut kami bersentuhan tak kentara, dan itu memicu aliran listrik diantara kami berdua.
Tiba-tiba saja aku menginginkannya, tapi aku memaksa diriku menahan diri. Aku tak ingin melakukannya dengan terburu-buru. Ada semacam sihir di ruangan ini yang menjalinkan mantranya di sekeliling kami dan aku belum ingin menghentikannya.
Aku ingin saat ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Bibir kami bertemu lagi dan lagi dalam ciuman paling murni, setiap kali bibirnya mengunci bibirku, perutku bergolak. Seluruh permukaan kulitku merinding dan aku mengalungkan lenganku di lehernya, menyelipkan jemariku ke dalam rambut basahnya dan menariknya mendekat. Lengannya yang lain memeluk pinggangku dan dia menarikku lebih dekat lagi hingga badan kami yang basah seolah di rekatkan.
"Jongin." Dia membisikkan namaku, dengan suaranya yang dalam dan seksi dan aku membuka bibirku, bernafas padanya. Mulutnya begitu lembut dan manis, lidahnya hangat dan basah ketika bertautan dengan lidahku. Rasa terbakar perlahan di perutku terasa makin panas. Dan tetap panas hingga aku menjadi semakin rakus, sangat teransang hingga aku berharap aku bisa merobek bajuku dan mengusapkan tubuh telanjangku kepadanya.
Ciuman perlahan dan dalam bisa menjadi begitu panas, sangat dahsyat. Jemarinya sangat kuat mencengkram rambutku hingga terasa menyakitkan, namun aku tak peduli. Aku begitu ingin melahapnya dan aku menginginkan lebih. Aku ingin semua hal yang bisa di berikannya padaku.
Dia menghentikan ciuman terlebih dahulu dan aku menempelkan dahiku kepadanya, kami bernafas tak terkendali dan berisik di tengah kesunyian lorong. Hujan tampaknya telah berkurang, karena suaranya tak sekeras sebelumnya. Aku membuka mataku dan mendapatinya tengah menatapku.
"Apakah kita harus berlari untuk itu?" dia bertanya.
Aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Aku tak ingin dia melepaskanku. Dia memegangku dengan sangat kuat, aku merasa aman. Terlindungi. "Masih hujan."
"Tak sederas tadi."
"Kita akan basah kuyup," aku mengatakan dengan lemah.
"Kita sudah terlanjur basah kuyup." Dia menciumku, menempelkan bibirnya di bibirku ketika dia berbisik, "Aku ingin membawamu melewati hujan dan kembali ke pavilliun agar kita bisa benar-benar sendirian."
Jantungku berdebar keras dalam antisipasi ketika mendengar kata-katanya. Dan aku juga menginginkannya. "Oke," aku setuju dan mengangguk dan dengan hati-hati dia menurunkanku dari atas bangku, menempatkanku kembali di bawah naungan tubuh tingginya. Aku merasakan segalanya, tubuhnya yang keras, ototnya yang tegang, betapa besar pengaruhku padanya. Ini menggembirakan, mengetahui aku memiliki kekuatan yang besar terhadapnya saat ini.
Apapun yang akan terjadi nanti, hal itu akan mengubah segalanya di antara kami berdua. Dan kali ini, aku ingin melakukannya. Tak ada penyesalan dalam seks jika kau melakukannya dengan orang yang benar-benar kau sayangi. Dia bukanlah salah satu dari cowok-cowok tanpa nama yang datang untuk menghilangkan rasa sepiku.
Kenyataan itu membuatku bahagia sekaligus takut.
.
Oh Sehun
Aku tak bisa menyetir kembali ke pavilliun dengan cukup cepat. Lalu lintas kacau balau, dengan hujan dan jalanan yang licin. Aku harus hati-hati, berkali-kali aku mendapati ban belakang mobilku selip di aspal ketika aku membelok di tikungan, dan aku menurunkan kecepatanku. Berusaha dengan sekuat tenaga untuk bersabar.
Tapi, dengan Jongin yang basah dan seksi duduk di bangku penumpang, tampak cukup lezat untuk di lahap, bersabar sangat sulit di lakukan.
Sesampainya kami di rumah, aku keluar dari truk dan membukakan pintu mobil untuknya. Hujan benar-benar telah berkurang, walaupun gerimis masih tersisa dan aku tak yakin ada orang di rumah.
Sial, aku juga tak begitu peduli. Aku begitu bersemangat mengajak Jongin masuk ke rumah, aku tak bisa benar-benar menatap lurus.
Dia terkikik ketika aku memapahnya ke dalam paviliun dan menutup pintu serta menguncinya dengan suara yang memberiku kepuasan penuh. Tak ada seorangpun yang akan mengganggu kami. Aku tak akan membiarkannya. Aku harus membuat Jongin telanjang. HARUS. Tak ada pilihan lain.
Aku menekannya ke dinding di samping pintu depan dan menjepitkan tanganku di rambutnya, menciumnya hingga kami berdua menjadi gila karena gairah. Pinggul kami menempel, saling mendorong satu sama lain, dan pakaiannya yang basah membuatku gila maka aku meraih tepian bajunya dan dengan perlahan mencoba melepasnya.
"Kau mencoba melucuti pakaianku?" Dia menggodaku, aku suka suara tawanya, penuh dengan kasih sayang dan aku mengangguk, tak ingin mengatakan apapun karena aku takut akan mengacaukan segalanya.
Dia mendorong dadaku hingga aku tak punya pilihan lain selain mundur, dan memandangnya sambil menahan nafas ketika dia meraih bajunya dan dengan perlahan mengangkatnya ke atas… ke atas lagi hingga dia melepasnya dari kepalanya dan dengan jemarinya membuangnya ke lantai. Dia berdiri di hadapanku dengan bra berwarna pink pucat dengan renda hitam, payudaranya memenuhi bra itu dan sialan, aku hanya ingin melepaskan bra itu jadi aku bisa menyentuhnya.
Matanya bersinar mengundangku lagi jadi aku mendekat dengan senang hati, menikmati bibirnya, tanganku mengelus sisi tubuhnya. Tanganku semakin dekat dengan bra yang menutupi putingnya, dan di sanalah aku, menggenggamnya, mengelus kain branya dengan jempolku, dan dia mengerang pelan sebagai balasannya.
Aku mendengarnya membisikkan namaku ketika aku mencium lehernya dan dia bergetar di bawah ciumanku. Aku meninggalkan bekas lidahku di kulitnya, menikmati aromanya, caranya meleleh dalam pelukanku dan tanganku mencari-cari di balik punggungnya, meraba-raba kaitan branya hingga akhirnya branya terlepas dengan mudah.
Tanganku gemetar karena tegang dan aku mundur selangkah darinya, mengusap lembut rambutnya, pipinya. Kami saling memandang, aku melihat bagaimana tali branya jatuh dengan pelan, menunjukkan tubuhnya kepadaku untuk pertama kali.
Nafas berhenti di tenggorokanku dan yang bisa kulakukan hanya memandangnya. Dia benar-benar cantik, dengan puting merah muda terindah yang pernah ku lihat, dan aku menyentuhnya di sana, jempolku menyentuh salah satu puting membentuk lingkaran, kemudian ke puting yang lainnya.
Dia mendesis sembari menutup matanya, tangannya berpegangan pada dinding, dadanya melengkung ke depan. Aku bersandar di atasnya dan mencium tulang selangkanya berulang-ulang, kemudian dadanya, puncak payudaranya dan lembah di antara dua puncaknya. Aku menggodanya, dan menggoda diriku sendiri dan sialan, aku merasa aku akan meledak.
Ketika akhirnya aku menyelipkan putingnya yang keras diantara bibirku, dia mencengkram rambutku dengan tangannya, seluruh tubuhnya menegang ketika aku memainkan lidahku memutar dan memutar di kulitnya. Dia terengah-engah, begitupun aku dan aku berharap aku tak memulai hal ini di sini. Seharusnya aku bisa menunggu hingga kami berdua tiba di tempat tidur.
"Sehun," bisiknya, suaranya menyebut nama lengkapku membuatku berhenti seketika, seolah di siram air es dan sebuah kenangan seketika menderaku.
Biarkan aku menyentuhmu Sehun, aku tahu kau akan menyukainya. Akan sangat sempurna diantara kita berdua. Kumohon, Sehun. Aku tahu bagaimana memuaskanmu…
Aku melepaskan diri dari Jongin dan berputar membelakanginya, nafasku terengah. Kepalaku berputar, memori lama tercampur dengan memori baru…
"Sehun, ada apa? Apa yang terjadi?"
Aku memfokuskan pandanganku pada Jongin, menatapnya ketika dia mendorong tubuhnya dari dinding dan mendekat padaku, payudaranya memantul-mantul ketika dia melangkah, ekspresi wajahnya penuh dengan perhatian. Aku telah mengacaukannya. Aku membiarkan masa laluku membayangiku kini, sialan, dan mungkin juga seluruh masa depanku dan aku penuh dengan amarah yang tak bisa kujelaskan.
Ini tak seharusnya terjadi, tidak seperti ini, dan tidak hari ini. Aku menggoyangkan kepalaku, tak bisa mengatakan apa-apa, lidahku terasa kaku.
Dia menjangkauku, tangannya menyentuhku dan aku menarik tanganku dari pegangannya, rasanya seperti dia baru saja membakarku. "Sehun." Suaranya berubah menjadi keras, membawaku kembali ke masa laluku dan aku kembali menggoyangkan kepalaku, mencoba untuk berhenti memikirkan hal menjijikan itu, tapi tak berhasil.
"Jangan menutup dirimu terhadapku, Hun. Jangan melarikan diri seperti ini. Beritahu aku apa masalahnya." Dia memohon padaku, dan aku bersumpah melihat air mata mengalir di pipinya, tapi aku tak bisa menceritakan kepadanya apa yang terjadi.
Jika baginya semua hal ini sudah cukup buruk, maka tunggu saja hingga dia tahu kenyataannya.
"Aku—aku tak bisa melakukan ini." Tanpa menunggu jawabannya aku berbalik dan kabur ke kamarku, menutup pintu kemudian menguncinya. Aku begitu menginginkannya bersamaku sama seperti halnya aku ingin dia menjauh, sangat jauh. Aku penuh dengan kontradiksi dan aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dengan hidupku. Mungkin memang akan lebih baik jika aku tetap sendiri.
Aku tak bisa terus hidup seperti ini, membiarkan—wanita itu mengendalikanku lagi, seperti yang di lakukannya dulu, tapi aku tak bisa menghentikan reaksiku. Aku butuh bantuan. Aku seperti ronsokan dan aku butuh seseorang menyelamatkanku sebelum terlambat.
Ketakutan berdesir di punggungku ketika aku menanggalkan pakaianku, meninggalkan tumpukan basah di lantai. Aku mengabaikan ereksiku yang menegang penuh amarah. Aku benar-benar keras, kemaluanku rasanya sangat sakit, tapi aku tak akan menyentuh diriku sendiri, tak peduli betapa aku akan sangat lega ketika aku selesai. Seharusnya aku bersama Jongin saat ini, bukannya tenggelam dalam kenangan keparat itu.
Dia masih menggedor pintu, memintaku mengijinkannya masuk. Aku berbalik dan menatap pintu yang tertutup, jantungku berdegup sangat keras dan suaranya memenuhi kepalaku, hingga aku tak bisa mendengarkan hal lainnya. Aku bernafas begitu cepat, seolah aku baru saja berlari sejauh seratus mil tanpa henti dan kemaluanku sangat keras, hingga kupikir aku akan meledak. Aku panas, seperti sedang demam.
Kepalaku berputar.
Sialan.
.
Kim Jongin
Aku menjinjit dan meraih bagian atas kusen pintu, akhirnya aku menemukan salah satu dari kunci ajaib yang bisa membuka segala macam kunci itu. Mengambilnya dan aku menjejalkan bagian tipis metal itu ke kunci pintu dan memutarnya, bersyukur ketika pintu membuka dengan suara klik dengan mudahnya.
Mungkin aku tak seharusnya melakukan ini. Memasuki tempat pribadi Sehun ketika dengan jelas dia melarangku masuk. Tapi caranya bereaksi membuatku takut setengah mati, dan aku juga sangat khawatir, aku tahu aku harus mengikutinya dan memastikan semuanya baik-baik saja. Ekspresi wajahnya penuh dengan keputusasaan ketika dia menjauh dariku dan aku tak yakin apa yang mengganggunya.
Aku sangat takut untuk mengetahui apa masalahnya tapi aku harus melakukan hal ini. Untuk Sehun.
Ketika aku membuka pintu, aku melihatnya berdiri di tengah-tengah ruangan, benar-benar telanjang bulat dan sejenak, aku tertegun. Tubuhnya sangat indah, maha karya seni yang maskulin. Bahunya yang bidang, punggungnya yang halus dengan otot yang lentur dan bokongnya yang terlihat sekeras baja. Seluruh tubuhku berteriak ingin merasakan dirinya, bergerak bersamanya, tapi aku tahu bukan itu yang di butuhkannya saat ini.
"Sehun," bisikku, suaraku pecah, hampir separah hatiku.
Dia berputar pelan, wajahnya penuh dengan penderitaan dan perasaan terhina. "Seharusnya kau pergi."
"Biarkan aku membantumu." Aku baru akan mendekatinya tapi dia menggelengkan kepalanya.
"Pergilah Jongin, aku tak mau kau melihatku seperti ini." Dia menundukkan kepalanya dan pandanganku jatuh pada bagian bawah tubuhnya. Dia sedang ereksi, ereksinya sangat besar, dan aku tak tahu apa yang telah mengacaukan sesuatu yang tampaknya—tak di ragukan lagi—akan menjadi momen paling indah di antara kami berdua, tapi tak ada yang bisa kulakukan sekarang.
"Kau tak bisa mendorongku pergi." Aku tahu itu yang sekarang sedang di lakukannya, dan itu yang akan selalu dia lakukan. Aku menolak membiarkannya melakukan itu padaku. Aku akan tetap di tempatku dan akan benar-benar membantunya.
Aku ingin menempel padanya.
"Kau tak menginginkanku," bisiknya, suaranya tajam. "Tidak seperti ini. Aku tak bisa… kau tak ingin terlibat denganku ketika aku seperti ini."
"Kumohon, Hun." Aku memohon padanya dan aku tak peduli. Aku tak pernah melakukan ini. Aku tak pernah merendahkan diriku, aku mencoba dengan susah payah menjaga harga diriku. Tapi melihatnya dalam keadaan seperti ini, dia membuatku ketakutan setengah mati. Aku tak ingin meninggalkannya dan aku juga tak ingin dia mendorongku pergi. Aku merasa saat ini hanya akulah yang di milikinya. "Beritahu aku apa yang bisa kulakukan."
"Kau bisa pergi." Dia berbalik dan menjauh dariku dan aku berlari mengejarnya, menarik lengannya dan mencegah dia beranjak lebih jauh.
"Tidak." Mataku bertubrukan dengannya dan aku bertahan di tempatku, meskipun aku tahu aku pasti kelihatan menggelikan, setengah telanjang dan lepek karena hujan. "Aku tak akan pergi."
Pandangannya jatuh pada dadaku yang telanjang dan berlama-lama menatapnya. Putingku mengeras karena tatapan tajamnya yang terang-terangan dan aku berjalan ke arahnya seolah aku tak bisa menahan diri. Tubuhku menghianatiku walaupun aku berusaha setengah mati bertingkah seolah dia tak mempengaruhiku. Apapun yang terjadi diantara kami berdua bukan lagi tentang seks. Sehun menginginkan kenyamanan. Penerimaanku.
"Kau gemetaran," dia bergumam, meraih rambut basahku. Dia mengusapnya diantara jemarinya, matanya masih terkunci di dadaku. "Kau harus mengganti baju basah ini."
Seolah dengan perlahan dia mulai kembali padaku, kembali dari sisi gelap, sisi sunyi tempatnya bersembunyi. Ekspresinya lebih cerah, matanya tak melebar dan penuh dengan teror. Suaranya terdengar biasa dan dia tak gemetar lagi.
Aku tak yakin apa yang di inginkannya dariku, tapi apapun itu, akan akan menyerahkannya dengan senang hati.
Semuanya…
.
End For This Chapter
