Karena saiia lagi males cuap-cuap gaje, maka kita langsung saja, ya~! Oh iya, balasan review menunggu di bawah.... Nah, langsung saja~!
Ini dia chapter 9... Happy reading, minna~!
The Truth About Forever
=*Kebencian Membuatmu Kesepian*=
Summary:
Seberapa berharga, sih, satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu.
Tik. Satu detik pergi lagi.
Tak ada harganya.
Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik.
Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik.
Kau teringat mimpi-mimpi yang tak sempat kau wujudkan. Tik.
Kau sadar tak cukup menyayangi keluarga dan teman-temanmu.
Tik. Tik. Tik.
Kau panik, takut menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi.
Toushiro merasa demikian ketika divonis tak akan berumur panjang. Tapi bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya, dia malah diam-diam pergi ke Karakura. Kedatangannya ke sana tak lain untuk balas dendam kepada orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas semua ini. Bahkan kalau perlu mati bersama.
Saat itulah cinta datang. Memberi pengharapan, membuatnya merasakan sedikit kebahagiaan di dalam kelam hidupnya. Dan sekarang, keputusan ada di tangan Toushiro. Manakah yang akan dipilih Toushiro? Karena cinta dan benci tak akan pernah akur.
Main Pair: HitsuRuki
Slight HitsuHina (just a little)
Genre: Angst/Romance
Rate: T
Warning: AU; OOC—may be, soalnya banyak chara yang saling tangis-menangisi(?); miss typo bertebaran di mana-mana; cuma cerita dari sebuah novel yang menurut saiia bagus, jadi saiia cuma ingin kalian baca cerita ini, buat yang udah pernah baca, nggak baca fic ini nggak apa-apa kok, tapi kalo emang mau baca, silakan...
Disclaimer:
BLEACH © Kubo Tite
THE TRUTH ABOUT FOREVER © Orizuka
Saiia?? Cuma mempublikasikan kok! TT_TT
Enjoy, please!!!
RnR!!!
Chapter #10
ANOTHER LIES
Rukia menatap langit-langit kamarnya hampa. Semalaman, Rukia tidak bisa tidur lagi, masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Toushiro adalah seorang gay. Rukia masih sulit memercayainya. Rukia setengah mati berharap bahwa Toushiro hanya berbohong, tetapi yang Rukia lihat kemarin terlalu meyakinkan. Bahkan, Toushiro sampai memanggil namanya dan memeluknya.
Rukia terduduk lemah. Rukia merasa terlalu lelah dengan semua ini, tetapi Rukia tidak pernah menyesal telah menyukai Toushiro. Sampai sekarang pun, Rukia masih menyukai Toushiro walaupun Toushiro tidak mungkin mencintainya.
Rukia tidak tahu harus melakukan apa dan bersikap bagaimana di depan Toushiro. Rukia tidak jijik padanya karena dia seorang gay, tetapi Rukia terlalu menyukainya sampai tidak mampu menatapnya.
Rukia membentur-benturkan kepalanya ke lutut, berharap bahwa semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Mendadak, semua kenangannya selama bersama Toushiro terputar di otaknya. Rukia benar-benar tidak mau percaya.
Tiba-tiba, ponsel Rukia berdering. Rangiku meneleponnya. Rukia kemudian cepat-cepat mengangkatnya.
"Rukia? Lo, kok, nggak kuliah?" seru Rangiku dari seberang. "Kenapa, Rukia? Lo sakit?"
Belum sempat menjawab, Rukia sudah keburu terisak.
"Rukia? Lo kenapa? Ada apa?" tanya Rangiku panik sementara isakan Rukia semakin menjadi-jadi.
"Rangiku...," kata Rukia, dan selanjutnya kronologi kejadian semalam mengalir seperti air bah. Di ujung sana, Rangiku diam membisu, tak bisa berkata-kata.
"Dia... gay?" kata Rangiku lambat-lambat, tak percaya. Rukia makin terisak. "Rukia! Lo tunggu, ya! Gue langsung ke kost lo sekarang!"
Rangiku memutuskan sambungan telepon sementara Rukia kembali tersuruk di antara bantal-bantalnya.
Rangiku sekarang sudah berada di kost Rukia, memegang tangan Rukia erat-erat. Rangiku benar-benar tak habis pikir dengan cobaan yang sepertinya dialami Rukia tanpa berkesudahan. Rangiku pikir sudah cukup kenyataan bahwa Toushiro adalah seorang penderita HIV positif, sekarang ditambah kenyataan bahwa Toushiro menderita penyakit itu gara-gara hubungan sesama jenis. Rangiku jadi semakin menyesal kenapa kemarin-kemarin dia malah memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Rukia... Maafin gue, ya," kata Rangiku membuat Rukia menatapnya lemah.
"Kenapa, Rangiku? Emangnya kamu salah apa?" tanya Rukia bingung.
"Karena kemaren gue udah bilang yang nggak-nggak. Soal takdir itu," jawab Rangiku hati-hati. Rukia tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Nggak apa-apa, Rangiku. Bukan salah kamu," balas Rukia pelan.
Rangiku menatap Rukia lama. Rangiku tahu kesedihan Rukia hanya dengan melihatnya. Hati Rukia sudah hancur, tetapi gadis itu berusaha mati-matian untuk tegar.
"Terus... lo mau gimana?" tanya Rangiku, kembali berhati-hati.
Rukia terdiam sebentar, dia tersenyum dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.
"Aku nggak bisa ngejauhin dia, Rangiku. Perasaanku masih sama, bahkan setelah aku tau kalau dia itu gay. Aku nggak bisa lantas benci sama dia," ujar Rukia lirih.
"Jangan maksain diri, Rukia," kata Rangiku. "Dia pasti ngerti."
Rukia menggeleng. "Aku mau nemenin dia sampai dia pergi. Itu udah keputusanku," jawab Rukia tegas. Rangiku menatap Rukia sedih.
"Tapi, Rukia, dia bisa aja nyakitin lo lagi," katanya membuat Rukia menggeleng.
"Rangiku, apa lagi yang tersisa dari aku, yang masih bisa buat disakiti?" Rukia tersenyum getir. "Dia nggak mungkin suka sama aku. Tapi, aku nggak nyesel pernah suka sama dia. Dia... sedikit banyak udah ngasih aku pelajaran dalam hidup. Dia sangat menghargai orang lain sampai-sampai dia rela hidup sendirian, Rangiku. Itu yang bikin aku nggak bisa ninggalin dia. Dia... kesepian."
Rangiku menatap Rukia, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Sebenarnya, Rangiku ingin berteriak pada Rukia agar tidak berhubungan lagi dengan Toushiro. Rukia menghela napas melihat kekhawatiran Rangiku.
"Rangiku, di luar dia punya penyakit HIV dan seorang gay, dia butuh seseorang. Kita semua butuh seseorang," kata Rukia.
"Tapi, kenapa harus lo, Rukia?" tanya Rangiku lagi membuat Rukia tersenyum lembut.
"Mungkin karena ini takdir. Kamu sendiri, kan, yang bilang," jawab Rukia membuat Rangiku terkesiap.
Rukia sudah mengambil keputusan. Rukia tidak akan menjauhi Toushiro. Rukia akan menerima Toushiro apa adanya walaupun itu berarti cinta Rukia tidak akan terbalas. Rukia akan berusaha semampunya untuk mendukung Toushiro.
Rangiku mempererat genggamannya pada tangan Rukia, mengagumi kekuatan hati sahabatnya itu. Rukia juga sudah tidak menangis lagi. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat, agar bisa menemani Toushiro tanpa membebaninya.
Toushiro menatap kosong langit penuh bintang di atasnya. Pikiran Toushiro melayang ke mana-mana, mulai dari kenangan masa SMA-nya sampai kejadian beberapa malam lalu saat dia mengaku gay pada Rukia. Dan, sekarang, wajah sedih Rukia sudah memenuhi kepalanya.
Mendadak, terdengar suara pintu yang seperti ditendang paksa, membuat Toushiro menoleh. Rukia sudah berdiri di sana dengan kedua tangan memegang mug yang mengepul. Di wajahnya, terpasang cengiran nakal.
Toushiro menatapnya nanar. Cewek itu masih saja mau mencarinya, bahkan setelah tahu dia gay. Kali ini, Toushiro benar-benar tak habis pikir. Toushiro menyerah pada cewek yang satu ini.
Rukia menghampiri Toushiro, dia lalu duduk di sebelahnya. Dia menyodorkan mug plastik berisi cokelat panas pada Toushiro. Toushiro menerimanya dan mengangguk kecil, berterima kasih.
"Wah, bintangnya lagi banyak, ya?" ujar Rukia, berusaha terdengar ceria, sambil melayangkan pandangannya ke arah langit yang membentang di atasnya. Toushiro hanya diam tak menjawabnya. Dia pura-pura sibuk menyeruput cokelat panasnya. Rukia menatap Toushiro.
"Gimana, Toushiro? Udah ketemu?" tanya Rukia membuat Toushiro menatapnya heran. "Kusaka. Udah ketemu belum?"
Toushiro melotot mendengar pertanyaan Rukia. Toushiro sama sekali tak menyangka kalau Rukia akan membahas masalah ini dengannya. Dia pikir, Rukia akan jijik dengannya dan menghindar, tetapi pikirannya salah. Cewek ini ternyata benar-benar ingin menyampuri kehidupannya.
"Belum," jawab Toushiro setelah terdiam beberapa detik. Rukia mengangguk-angguk.
"Eh, Toushiro, aku punya ide bagus," kata Rukia membuat Toushiro menatapnya. "Gimana kalo aku bantuin nyari di kampusku? Aku bakalan tanya-tanyain ke semua jurusan. Gimana?"
Toushiro hampir saja menganga. Dan dia bahkan sudah menganga, tetapi untungnya Rukia sibuk menghirup cokelat panasnya, jadi tidak sempat menyadarinya. Toushiro segera mengatupkan mulutnya. Gelas di tangannya sudah hampir remuk.
Toushiro tidak tahu mengapa dia bisa sebegini kesal, tetapi perkataan Rukia tadi membuat darahnya naik ke kepala. Bisa-bisanya dia mengatakan akan membantu Toushiro mencari Kusaka, padahal kemarin-kemarin cewek itu bilang sayang dan sebagainya.
"Kenapa lo ngelakuin ini?" tanya Toushiro kemudian, membuat Rukia kembali menatapnya. Toushiro menatap Rukia tajam. "Kenapa lo mau ngebantu gue?"
"Toushiro, dulu aku pernah bilang, kan, kalo aku mau nemenin kamu?" kata Rukia lembut. "Dan, sekarang, mungkin kita udah nggak bisa bersama, tapi aku tetep mau bantu kamu. Sebagai teman. Boleh, kan?"
Toushiro mengalihkan pandangannya dari Rukia. Tentu saja. Perasaan Rukia yang kemarin memang cuma simpati, makanya sekarang Rukia sudah melupakannya dan memutuskan untuk membantunya. Toushiro tertawa dalam hati, menertawakan kebodohannya sendiri. Sekarang, Toushiro hanya harus berhati-hati untuk tidak terbawa oleh perasaannya sendiri. Toushiro harus meneruskan perannya.
"Toushiro," ujar Rukia lirih tapi masih bisa didengar oleh Toushiro, sehingga membuat si empunya nama menoleh. "Jangan khawatirkan perasaanku. Aku pasti baik-baik aja."
Mata emerald Toushiro melebar setelah mendengar perkataan Rukia. Pikiran Toushiro ternyata salah besar. Cewek itu masih menyukainya, hanya saja dia berusaha untuk terlihat tegar. Perasaan Rukia untuknya ternyata tulus. Hati Toushiro terasa sakit bila mengingat hal ini. Tidak seharusnya dia berbohong pada cewek itu, tetapi Toushiro tak mau mengambil risiko. Menyelamatkan Rukia dari masa-masa suram bersamanya adalah tugas utamanya sekarang.
"Boleh aja," kata Toushiro kemudian sambil tersenyum pada Rukia. "Thanks, ya. Lo udah baik banget sama gue selama ini."
Rukia balas tersenyum, lalu mengangguk. Kalau saja Toushiro tidak menahan diri, dia pasti sudah menangis lagi di hadapan Rukia. Toushiro mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak melihat cewek itu.
"Toushiro, karena sekarang kita temen, kamu bisa, kan, cerita sama aku?" pinta Rukia ceria. Rukia tidak mau terlihat sedih di depan Toushiro.
"Hm... cerita apa, ya?" kata Toushiro. "Gimana kalo... si Kancil?"
Rukia tertawa lepas mendengar gurauan Toushiro, sementara dalam hatinya dia sedih karena baru kali ini Toushiro mau bercanda dengannya. Toushiro sendiri lebih memilih untuk diam dan menolak untuk melirik Rukia.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Rukia tiba-tiba bergidik.
"Kamu nggak kedinginan, Toushiro?" tanya Rukia.
"Nggak," jawab Toushiro pendek.
"Aku... kedinginan, nih. Aku turun duluan, ya?" ujar Rukia sambil bangkit dan membersihkan bagian bawah dari terusannya yang kotor oleh debu. Rukia bergerak ke pintu.
"Kuchiki," panggil Toushiro membuat Rukia menoleh. Toushiro mengangkat mug plastik yang dipegangnya. "Ini, makasih, ya."
Rukia mengangguk, meneruskan berjalan menuju pintu. Sedih juga, Toushiro tidak lagi memanggilnya dengan nama kecil seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa langkah kemudian, dia kembali menoleh.
"Toushiro," kata Rukia membuat Toushiro menatapnya. "Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama aku. Kalo aku bisa, aku pasti bantu kamu."
"Oke. Thanks, ya," kata Toushiro, dan Rukia menghilang di balik pintu.
Toushiro menatap pintu itu lama dan setelah yakin kalau Rukia sudah tidak ada di sana, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dari sekian banyak penderitaan yang pernah dialaminya, inilah yang paling menyakitkan. Sebelumnya, Toushiro sudah pasrah menerima penyakitnya dan sudah siap mati kapan pun juga, tetapi semenjak mengenal Rukia, Toushiro menjadi sangat marah pada Tuhan.
"Kenapa...," gumam Toushiro geram. Mata emerald-nya kembali terpancang pada langit malam yang bertaburan bintang. "Kenapa harus dipertemukan sama dia kalau pada akhirnya mesti dipisahin lagi??"
Mug di tangan Toushiro sudah remuk, isinya tumpah. Tangannya terkepal keras dan gemetar hebat. Dia menunduk, dan tetesan air matanya dengan segera membasahi langit semen yang dingin.
Rukia berjalan gontai menuju kamarnya. Air matanya pun sudah menganak sungai di pipinya. Dia masuk dan menutup pintu kamarnya, lalu merosot ke lantai.
Ternyata, perasaan Rukia terhadap Toushiro masih sama besarnya seperti sebelum Toushiro mengatakan bahwa dia gay. Rukia masih belum bisa sepenuhnya merelakan Toushiro. Rukia masih saja berharap Toushiro akan berkata bahwa dia bohong soal perkataannya itu.
Tiba-tiba, Rukia tersadar. Sekarang sudah tidak ada gunanya terus-terusan memikirkan itu. Rukia harus mengesampingkan perasaannya demi membantu Toushiro. Toushiro membutuhkan teman, dan hal itulah yang akan dilakukan Rukia. Rukia akan menjadi lebih kuat dan tegar untuk menolong Toushiro.
Rukia menghapus air matanya, dan tanpa sengaja melirik komputernya, ia mendapat ide, lalu mulai mengetik.
Toushiro menyalakan korek api, dia membakar rokok yang terselip di mulutnya. Setelah itu dia menarik napas, dan menghembuskannya. Hari ini, Toushiro sedang mencari Kusaka di Universitas Karakura Fakultas Olahraga. Namun, tampaknya orang itu tidak ada di sana.
Toushiro menghela napas, membuka layar handycam-nya. Di dalam handycam itu, terdapat kaset yang selama ini selalu dihindari Toushiro, yaitu kaset dengan judul "Seireitei Beach 2004". Toushiro menggigit bibir bagian bawahnya ragu, tetapi dinyalakannya juga handycam itu.
Mata Toushiro sampai terasa panas karena tidak berkedip saat menonton film yang terputar di sana. Rahang Toushiro mengeras. Mungkin memang seharusnya dia tidak pernah menonton film ini lagi. Mungkin seharusnya Toushiro membuangnya.
Film ini terlalu mengingatkan Toushiro pada semua hal yang dulu pernah dimilikinya, namun sekarang telah hilang, terampas secara paksa darinya karena penyakit mengerikan yang diidapnya. Keluarganya. Sahabatnya. Kekasihnya. Mimpinya. Hidupnya. Semua kebahagiaannya.
Setetes air jatuh ke layar handycam itu. Bukan hujan, melainkan itu hanyalah tetes air yang berasal dari mata emerald Toushiro.
Rukia mengendarai motornya tanpa semangat. Tadi di dekat kampus, dia hampir menabrak seseorang karena melamun. Dan barusan di dekat kost-nya, dia juga hampir menabrak Renji yang baru pulang dari warung.
Rukia mematikan mesin motornya dan mendorongnya masuk. Dia membuka helm. Sementara itu, Renji menatap wajah Rukia yang kusut.
"Lo kenapa, Rukia?" tanyanya bingung.
"Nggak apa-apa, kok," jawab Rukia sambil naik tangga menuju ke lantai dua dengan gontai.
Tadi di kampus, dia sudah mencari orang yang sedang dicari Toushiro selama ini, Kusaka. Namun, tak ada satu pun yang bernama Kusaka Soujirou, juga tak ada yang mengenal Kusaka. Rukia merasa kalau dia tak akan menemukan orang itu kalau caranya seperti ini.
Rukia menghela napas lagi. Rukia akan melakukan apa pun untuk menolong Toushiro, tak peduli yang sedang dicarinya itu pasangan sejenisnya atau siapa pun. Rukia mengangguk semangat, tak mau terlihat sedih di hadapan Toushiro. Ketika sampai di lantai dua, Rukia terpaku melihat seorang cewek dengan rambut yang diikat ke belakang dengan bentuk menyerupai konde sedang berada di depan kamar Toushiro.
Cewek itu menoleh dengan wajah cemas, namun kemudian dia tersenyum dan mengangguk pada Rukia. Rukia balas mengangguk, tetapi masih terlihat heran.
"Hai," sapa cewek itu ramah. "Ng... Kamu... kost di sini?"
"Iya," jawab Rukia pendek. Ekspresi cewek itu berubah cerah. Rukia mengamati cewek yang cantik dan semampai itu.
"Kamu... kenal sama Shiro-chan, eh, maksudku Toushiro-kun?" tanya cewek itu lagi.
"Kenal. Itu kamar dia," jawab Rukia lagi, tapi entah mengapa firasatnya terhadap cewek ini tidak bagus.
"Dia lagi keluar, ya?" tanya cewek itu lagi.
"Mungkin," jawab Rukia. "Kamu... siapa, ya?"
Baru ketika cewek itu akan menjawab, terdengar suara langkah orang yang sedang menaiki tangga. Toushiro muncul dari tangga dengan wajah lelah. Dia sedang memijati lehernya, namun kemudian terpaku menatap sosok cewek yang berdiri di depan kamarnya.
Toushiro serasa tidak bisa melakukan apa pun, baik bernapas maupun bergerak, saat melihat cewek berkonde itu. Cewek itu membekap mulut, lalu berlari ke arah Toushiro dan memeluknya erat-erat. Toushiro terlalu kaget sampai-sampai tidak sempat menghindar.
"Shiro-chan!!" sahut cewek itu, air matanya mulai mengalir. "Aku pikir, aku nggak bakal bisa ketemu lagi sama kamu lagi!"
"Hina... mori...?" gumam Toushiro, masih terlalu terkejut. Cewek yang ternyata memiliki nama Hinamori Momo itu sekarang sudah mempererat pelukannya.
"Shiro-chan, maafin aku. Maafin aku... Aku janji nggak bakal ninggalin kamu lagi...." Momo sudah terisak. "Aku nyesel udah ninggalin kamu. Maafin aku, Shiro-chan...."
Toushiro merasakan seluruh tubuhnya membeku, termasuk lidahnya. Dia sama sekali tak menyangka Momo akan menyusulnya dan meminta maaf. Toushiro berusaha mengambil napas, dan saat itulah, dia menyadari keberadaan Rukia yang sedang menatapnya marah.
Kedua tangan Rukia gemetar di samping pahanya. Rukia sangat marah sampai-sampai ingin meninju Toushiro di tempat, tetapi tak bisa dilakukannya. Entah mengapa, Rukia hanya bisa terdiam menonton adegan romantis si pembohong Hitsugaya Toushiro dan mungkin pacarnya.
Toushiro menatap Rukia, berpikir keras sementara Momo masih terus terisak sambil memeluknya erat. Toushiro akhirnya balas memeluk Momo, membuat Rukia memalingkan pandangannya.
Toushiro berusaha untuk tidak melihat bagaimana Rukia menangis. Toushiro juga menahan segala keinginannya untuk menahan Rukia saat dia berderap turun. Yang sekarang Toushiro pikirkan hanyalah, bagaimana Rukia bisa menjauhinya, apa pun caranya.
"Apa kabar, Toushiro?" tanya Momo setelah didesak Toushiro untuk tidak memanggilnya dengan sebutan "Shiro-chan".
Toushiro mengisap rokoknya, lalu menghembuskannya. Sekarang, mereka ada di lantai tiga. Momo menatap punggung Toushiro yang tampak kesepian.
"Begini aja," jawab Toushiro pendek. "Jadi, tau dari mana alamat ini?"
"Aku... nelpon Ichigo, terus aku ancam dia. Akhirnya, dia ngasih tau alamat kamu," kata Momo.
Toushiro mendengus. Tentu saja, Ichigo. Hanya Ichigo satu-satunya yang tahu di mana Toushiro tinggal sekarang.
"Terus... ngapain ke sini?" tanya Toushiro lagi.
"Aku... Maafin aku, Toushiro," ujar Momo pelan. "Dulu, kita masih muda. Dulu, aku nggak pernah berpikir kalo aku bakal sangat kehilangan kamu."
Toushiro hanya diam, tak berkomentar apa pun. Dia menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
"Toushiro, aku bener-bener bodoh udah ninggalin kamu," ujar Momo lagi. "Sekarang, aku sadar kalo aku...."
"Hinamori, kamu udah bener," potong Toushiro membuat mata hazel Momo menatapnya. "Kamu dulu udah membuat keputusan yang benar, ninggalin aku. Jangan mikir macem-macem lagi. Aku udah nggak apa, kok."
"Tapi, Toushiro, aku masih say...."
"Hinamori, kalo emang kamu masih sayang sama aku, tolong bantu aku. Kamu ngerti, kan?" potong Toushiro lagi. Toushiro kemudian duduk di samping Momo.
"Toushiro...."
"Hinamori, aku udah maafin kamu," kata Toushiro. "Dulu mungkin aku nggak bisa terima kenapa kamu ninggalin aku di saat aku merasa sangat membutuhkan kamu. Tapi, sekarang aku udah merelakan kamu."
Momo menatap Toushiro yang menolak untuk menatapnya balik. Air mata Momo sudah jatuh.
"Toushiro, kamu beneran mau maafin aku?" tanya Momo. Toushiro mengangguk, menepuk kepala Momo, membuat cewek itu langsung terisak.
"Jangan nagis, dong," kata Toushiro sambil mengacak-acak rambut Momo. "Thanks, ya, kamu udah dateng ke sini."
Momo mengangguk di sela-sela tangisnya. Momo benar-benar menyesal mengapa dulu dia meninggalkan Toushiro. Momo sampai sekarang masih tak mengerti, kenapa Tuhan memilih Toushiro untuk menerima penyakit ini, penyakit yang telah merenggut semua kebahagiaannya.
"Toushiro...," kata Momo sambil menatap Toushiro. "Jangan cari dia lagi."
Toushiro menatap Momo sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. "Nggak bisa, Hinamori. Aku harus cari dia sampe ketemu. Setelah itu, aku nggak peduli lagi sama apa yang bakal terjadi sama aku."
"Toushiro, kamu harus peduli! Kamu masih punya ibumu, kamu masih punya aku! Jangan cari Kusaka lagi, Toushiro, aku mohon!" seru Momo sambil menarik tangan Toushiro.
"Hinamori, sampai sekarang, dia yang membuat aku tetap hidup. Kebencianku terhadap dia juga yang udah membuat aku bertahan, tetap hidup untuk menemukan dia. Nggak ada siapa pun yang bisa menghentikan aku," ujar Toushiro tegas. "Karena dia, aku kena penyakit sialan ini. Kamu ngerti, kan, gimana perasaanku?"
Momo menatap Toushiro yang tampak emosi.
"Toushiro, janji sama aku, jangan ngelakuin hal-hal bodoh. Janji, Toushiro," desak Momo cemas.
"Hinamori, kalo soal yang satu ini, aku nggak bisa menjanjikan apa pun," balas Toushiro keras kepala. "Thanks karena udah mikirin aku."
Momo terisak lagi, memikirkan Toushiro yang sudah berada jauh di luar jangkauannya. Ichigo memang sudah memperingatkannya, tetapi dia tak menyangka kalau Toushiro akan menjadi seperti ini. Benar-benar bukan Toushiro yang dulu pernah dikenalnya.
"Hinamori," kata Toushiro kemudian. "Jangan pernah mikirin aku lagi. Kamu juga harus nerusin hidup kamu. Kamu udah punya cowok, kan?"
Momo melirik Toushiro marah membuat Toushiro nyengir.
"Yah, masa, sih, kamu jomblo terus selama lima tahun," kata Toushiro lagi.
"Tau nggak, Toushiro. Hatiku sakit banget, lho, denger kamu ngomong begitu," jawab Momo membuat cengiran Toushiro lenyap. "Denger kamu bisa nanya-nanya yang begitu sama aku seolah kamu udah bener-bener ngelupain aku, hatiku sakit banget."
Toushiro terdiam sesaat. "Sori," kata Toushiro membuat Momo menatapnya.
"Toushiro," kata Momo. "Kamu suka... cewek itu, ya?"
Toushiro segera menoleh pada Momo yang tampak serius. Tahu siapa cewek yang dimaksud, Toushiro segera mengalihkan pandangannya. Sepertinya percuma saja jika dia berusaha berbohong. Toushiro mengangguk, mata emerald-nya menerawang langit yang sudah mulai petang. Momo menghela napas.
"Udah aku kira," kata Momo. "Apa dia... udah tau, ng... penyakit kamu?"
Toushiro mengangguk lagi. "Dia udah tau dan dia bisa terima," jawab Toushiro membuat Momo mengangguk-angguk.
"Aku kagum sama dia," ujar Momo, mata hazel-nya menerawang. "Aku dulu... bodoh, ya?"
"Hinamori," tegur Toushiro membuat Momo tersenyum.
"Toushiro, aku bener-bener minta maaf," kata Momo lagi. "Aku tau ini mungkin udah sangat terlambat, tapi kapan pun kamu ngebutuhin aku, aku nggak akan lari lagi."
"Thanks." Toushiro tersenyum pada Momo.
Mereka kemudian menghabiskan petang itu dalam diam.
Rukia melangkahkan kakinya ke atas tangga, berharap setengah mati kalau Toushiro tidak ada. Mata Rukia sudah bengkak karena terlalu banyak menangis di kost Rangiku tadi, dan Toushiro adalah makhluk terakhir yang ingin dilihatnya.
Baru ketika Rukia muncul di tangga, Toushiro baru kembali dari kamar mandi dengan handuk tersampir di lehernya. Rukia menatap Toushiro marah, dan berjalan menuju kamarnya. Toushiro menatap Rukia yang tampak enggan menatapnya balik.
"Jadi, yang tadi itu yang namanya Kusaka, ya?" sindir Rukia, tak tahan untuk tidak bertanya. Toushiro tampak tak berekspresi. Dia bersandar di dinding sambil menatap Rukia malas.
"Namanya Hinamori Momo." Jawaban Toushiro membuat Rukia melotot. Rukia refleks mengambil sepatu dan melempar Toushiro dengan sepatu itu. Toushiro bahkan tidak mengelak. Air mata Rukia sekarang sudah jatuh lagi.
"Kamu kejam! Aku bahkan nggak mau tau siapa namanya!" sahut Rukia emosi. Toushiro hanya menatapnya.
Toushiro mengambil sepatu yang tadi dilempar Rukia, dan meletakkannya kembali ke rak sepatu. Dia menghela napas, berusaha menatap ke arah lain selain Rukia yang sedang menatapnya marah.
"Kenapa, sih, kamu bohong terus?" tanya Rukia lagi, hampir menjerit. "Kenapa kamu harus sekejam ini sama aku? Kenapa, Toushiro?!"
"Sori," kata Toushiro membuat Rukia menatapnya tajam. "Gue nggak bermaksud nyakitin...."
"Nggak bermaksud?" ulang Rukia tak percaya. "Nggak bermaksud kamu bilang?! Kamu pakai segala cara buat ngejauhin aku dari kamu!"
Toushiro terdiam, sementara Rukia sudah memukul-mukulinya sambil terisak.
"Kenapa kamu harus bilang kalau kamu gay?! Kenapa kamu seneng banget nyakitin aku?!" seru Rukia lagi. "Kalo kamu emang segitu nggak sukanya sama aku, kenapa nggak bilang terus terang?!"
"Gue nggak suka sama lo!" sahut Toushiro membuat Rukia terdiam dan berhenti memukulinya. Toushiro menatapnya serius. "Lo mau gue bilang itu, kan? Gue bilang sekarang, gue nggak suka sama lo. Gue udah kasih peringatan dari awal, kan? Tapi, lo tetep mau tau urusan gue. Gue nggak tau lagi gimana caranya supaya lo menjauh dari gue, dan terus terang aja, gue nggak tega ngomong langsung kalo gue nggak suka sama cewek yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain kayak lo!"
Toushiro tersengal setelah mengatakan semua itu pada Rukia. Rukia menatap Toushiro tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir makin deras.
"Toushiro," ujar Rukia kemudian. "Kamu bisa lebih kejam lagi dari ini?"
Toushiro terdiam menatap Rukia yang sudah gemetar.
"Maaf, Kuchiki. Tapi, Hinamori adalah satu-satunya cewek buat gue. Dari dulu sampai sekarang, cuma dia yang ada di hati gue. Nggak akan ada yang bisa menggantikan dia," kata Toushiro membuat Rukia tersenyum miris.
"Toushiro... Kenapa kamu nggak sekalian bunuh aku?" kata Rukia getir, membuat Toushiro terdiam. "Kenapa, Toushiro... Kenapa kamu harus datang ke sini? Kenapa?? Kenapa aku bisa kenal sama kamu??"
Rukia berderap menuju kamarnya, bergerak masuk dan membanting pintunya. Toushiro hanya bisa menatapnya tanpa mampu berbuat banyak. Misi berhasil. Sekarang yang harus Toushiro lakukan adalah pergi secepatnya dari kost ini.
-B-E-R-S-A-M-B-U-N-G-
Chapter 10 selesai, minna~! Bahagianya daku~ *nari-nari gaje*
Euhm... sebenarnya, sebelum saiia memutuskan untuk memunculkan Momo, saiia benar-benar mengalami tekanan batin... TT_TT Bingung banget... Di lain sisi, saiia—jujur—nggak suka sama Momo dan juga pairing HitsuHina*maafkan saiia Hinamori FC dan HitsuHina FC*, tapi di sisi yang lain, cuma Momo yang pantes buat memerankan tokoh itu... Hhhh~ sungguh dilema... tapi, ya sudahlah... yang terpenting readers sekalian senang dan puas~! Karena, kebahagiaan Anda, merupakan kebahagiaan saiia juga~! ^^
.
Okke~! Sekarang saatnya untuk balas review... ^^
.
~* HitsuNina-9124024 *~
Fanfic ini selesainya kira-kira lima chapter mendatang... ya, sekitar chapter 15-an, lah~! Eh? Pengen dibuat happy ending?? Ng... saiia gak janji, ya!?*sambil ngelirik Hitsu yang lagi pundung frustasi* =_=" Yah, kita liat nanti aja, deh~! Bakal happy ending atau...... hhehe~ Makasih, ya, udah sempatin baca ama review~! ^^
.
~* reina de los siete mares *~
Wah, saiia juga seorang fujoshi, loh~!*gak ada yang nanya!!* Tapi, fanfic ini straight, karena saiia gak bisa bikin fic yaoi...*tipe orang yang suka baca fic shonen ai/yaoi tapi paling gak bisa kalo disuruh buat fic yaoi sendiri*pundung* =_=" Euhm... saiia ada rencana bikin song fic IchiHitsuKusa, sih... tapi, masih di awang-awang, entah nantinya bakal terealisasi atau nggak*jangan dihiraukan*nggak penting* =_=" Hhehe... Sankyu udah review, Nee~! ^^
.
~* Azalea Yukiko *~
Oh, kalau gitu... pelajaran pertama, "Jangan baca fic angst saat baru selesai bangun tidur, karena hal tersebut dapat menimbulkan efek samping mata mengalami kebanjiran." hhehe~*dijitak* Okke~ thanks review-nya~! ^^
.
~* Intan Fc *~
Hhehe~ iya, makasih... ^^ Yep! Toushiro emang bohongnya keterlaluan... sekarang dia juga udah mulai bohong lagi, kan? Hhaha~ iya... ini udah update, kan? ^^ Makasih udah review, Intan~!
.
~* Rizu Auxe09 *~
Ah, Nee-san lagi stress? Stress kenapa, Nee?? Ichi sahabat yang baik, kok, Rizu-nee~!*peluk-peluk Ichi* Ichi masih bisa bantuin Hitsu, cuma dia ngerasa gak bisa maafin dirinya sendiri karena dia gak bisa berbuat apa-apa, saat Hitsu mengalami suatu kejadian lima tahun lalu yang udah bikin Hitsu sakit kayak sekarang ini... Hhehe~ Iya, say~ ini udah update! ^^ Sankyu review-nya, Rizu-nee~!
.
~* 'Ruki-chan' pipy *~
Iya, nggak apa-apa... ^^ Ini udah di-update, kan? Makasih udah review~! ^^
.
~* aya-na rifa'i *~
Hhaha~ review kamu sukses bikin saiia senyam-senyum gaje, loh~! Baru kali ini saiia baca kalo HIV bisa menular cuma gara-gara tukeran celana dalam... ^^ kamu aneh-aneh aja, sih~! Okke, makasih review-nya, Ay-san~! ^^
.
~* Mii Saginomiya yang lagi gak log in *~
Hhe... iya, ini udah update~! Sankyu udah review, ya, Mii-chan~ ^^
.
~* kireina_toshirou *~
Yah, saiia juga sebel ama sikapnya Shiro!*ngangguk-angguk* ini udah di-update! Thanks, ya, udah mau review, Rei-san~! ^^
.
~* Bed wetter_livi *~
Flashback kejadian antara Hitsu dan Kusaka lima tahun yang lalu akan ada di next chapter~! Tunggu aja, ya~! Hhehe... iya~ Makasih buat review-nya~! ^^
.
~* Namie Amalia *~
Hitsu nyari Kusaka buat balas dendam... tapi gak tau mau diapain kalo udah ketemu ntar =_=" Tenang aja, Hitsu nggak gay beneran, kok~! Buktinya, tuh, Momo nongol~! Thanks buat review-nya, ya, Namie-san~! ^^
.
~* Ninomiya Icha yang lagi males log in *~
Hhehe... iya ^^ Ini udah update lagi~! Sankyu, ya, udah review, Icha~! ^^
.
~* sava *~
Hhehe, ini udah lanjut, kan~!? Iya, tinggal nunggu pengumuman hasilnya aja... tapi rasanya deg-degan terus... Doain, ya, biar hasil ujian saiia memuaskan~! ^^ Makasih udah review, Sava~! ^^
.
~* Ririn Cross *~
*peluk-peluk Ririn* iya, makasih, ya~! Ini udah update... Sankyu review-nya, Ririn~! ^^
.
~* Deathberry Kuchiki *~
Hhehe... iya~ Makasih udah review, Ruru-san~! ^^
.
Sekian balasan review-nya~! ^^ Oh iya, sekali lagi, untuk sekedar spoiler, seperti yang udah saiia bilang di balasan review tadi... di chapter depan akan ada flashback kronologi asal mula penyakit Hitsu lima tahun yang lalu... Oke~! Sekarang sudah saatnya saiia untuk pamit pulang(?)...
Tinggalkan secuil(?) review untuk saiia, ya, minna~!!
*maksa*disambit*
Jaa nee!!
See you in the next chapter!
Ingin tanya, mengkritik, atau memberi saran??
Silakan klik tombol biru di bawah ini!
