Disclaimer : Dynasty Warriors milik KOEI. Plot cerita dan OCs milik saya sendiri.

Warning : Ling Tong x OC (An Shu). OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, typo, penulisan gaya bahasa yang tidak baku, suram dan abal. Seperempat disamakan dengan sejarah, seperempat game, dan setengahnya versi saya sendiri. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XXX-

To The Place Where I Belong

Chapter 9

A Coward's Confession

-XXX-

207 AD, Winter

Ling Tong POV

"Sudah empat tahun... kah?" gumamku. Aku berlutut dihadapan batu nisan milik ayah. Biasanya aku datang sekali dalam satu bulan untuk membersihkannya. Tapi sekarang, batu nisan tersebut hanya tertutup oleh butiran salju. Sambil menyeka salju dari nisan tersebut, aku kembali bergumam. "...Apakah benar ayah tidak ingin aku untuk membalas dendam kematianmu?"

Tentu saja tak ada jawaban dari pertanyaanku barusan. "Aku yakin itu benar." Diluar dugaanku, ternyata gadis itu yang menjawab. Ya, dia adalah teman semasa kecilku. "...bukankah dulu sudah kubilang?" ucapnya tersenyum tipis. Ia berjalan menghampiriku kemudian membantuku membersihkan batu nisan mendiang ayah. "Seorang ayah tidak mungkin menginginkan anaknya tenggelam kedalam kegelapan." Yak, dia mulai lagi. Dalam empat tahun setelah ia bergabung, perlahan cara bicaranya seperti Tuan Ding Feng-ah tidak, Tuan Ding Feng lebih buruk. Tapi setiap perempuan ini bicara, kepalaku diisi oleh teka-teki yang membuat otakku bekerja padahal tidak kuinginkan. Kemudian menggali apa maksud perkataannya, terkadang mengerti juga terkadang tidak mengerti.

"Coba kau pikirkan, Tong. Kalau kau berhasil membalaskan dendam kematian Paman Cao, apa yang akan terjadi?"

Aku menghela napas. "Ya ya... aku mengerti." Aku sudah tahu jawabannya. Nyawa pada setiap makhluk sangat berharga. Jika aku melakukannya, yang lain akan ikut membalas. Dan perang yang penuh kebencian itu akan terus berulang dan tak bisa diakhiri dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ayah tak pernah berpikir untuk menarikku kedalam yang ia panggil 'kegelapan'. Walaupun Gan Ning hanya sebatang kara, kurasa prajuritnya yang akan membalas... atau siapapun itu terserah.

Atau... perempuan ini sendiri mungkin yang akan membalasku.

Mataku melirik kearah teman semasa kecilku itu tanpa ia sadari atau mungkin dia sadar tapi mengabaikan tatapanku. "Bukan hanya kau merindukan Paman Cao. Aku juga kok..." Gadis bersurai biru gelap itu tertawa kecil. "Yah, kalau Paman Cao muncul dalam mimpiku nanti malam. Aku akan menceritakan semua hal yang terjadi padamu sejak beliau pergi!" ucapnya bergurau. Senyumannya tak berubah selama empat tahun ini-bukan... sejak aku pertama kali menemuinya. Aku tak ingin mengakuinya tapi itu selalu membuat perasaanku tenang.

Tidak, kurasa dia bukan membalas kalau aku berhasil membalas dendam kematian ayah, tapi... dia akan menyelamatkanku. Kenapa aku bisa berpikir demikian? Karena aku percaya padanya. "Dasar." Aku mendengus.

"Tapi mungkin saja... Paman Cao memerhatikan kita sejak beliau pergi... seperti malaikat." gumamnya. Namun aku bisa mendengarnya dengan jelas. Ia mengangkat kepalanya untuk meratapi butiran salju yang turun. Matanya mengatakan padaku bahwa ia tak hanya merindukan ayah. Mei dan ibunya juga telah berada di alam yang tak pernah satu orang pun tahu. Apakah mereka senang entah menderita, tak ada yang bisa menjawab itu. Tak hanya itu, firasatku mengatakan ia memikirkan hal lain.

Ya, yang ia pikirkan adalah perang.

"Oi, kita kembali. Sebentar lagi akan ada rapat pertemuan, jadi sebaiknya kau bersiap-siap."

"Huh. Ling Tong, mau sampai kapan kau terus nemanggilku 'Oi'?" Ia berkacak pinggang dengan wajahnya mencebik seperti anak bayi.

"..."

Kenapa aku jarang memanggil namanya? Itu karena kebiasaan. Tapi sejujurnya, aku sudah lama memendam sebuah perasaan aneh dan menjengkelkan, sangat lama. Sejak kami saling mengenal pada saat musim salju itu, perasaan tersebut muncul tanpa aku tak pahami perasaan itu. Aku terus mencoba untuk mengabaikannya, tapi seiring berjalannya waktu... perasaan itu malah tumbuh semakin besar. Memalukan jika aku menyebutkan apa nama perasaan itu.

Ya, rasa suka... tumbuh menjadi cinta.

Entah dia juga merasakan hal yang sama atau tidak, aku tak tahu. Aku selalu kesulitan membaca pikirannya, terkadang sebenarnya. Dia selalu menang untuk membaca pikiranku, membuat diriku kalah karena tak bisa membalasnya dengan juga membaca pikiran perempuan itu.

Hanya perempuan ini yang dapat mengerti bagaimana diriku sebenarnya. Dan dia pulalah yang sudah menyelamatkanku dari kegelapan. Jika bukan karena dia, mungkin aku sudah tenggelam dalam keputusasaan.

Sungguh, aku ingin cepat-cepat untuk memberitahunya. Menjadi pria namun tak punya keberanian untuk mengakui perasaan sendiri memang pengecut. Bagiku itu lebih buruk daripada kalah dalam peperangan. Dia adalah teman semasa kecilku, tapi kenapa hanya satu hal seperti ini... mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya tidak bisa kukatakan? Apa karena itu memalukan? Atau dia akan menolakku? Bukan... tak mendapat jawaban, itulah yang terburuk. Dia akan menjauhiku.

"Baiklah... Shu. Ayo kita pergi."

Senyuman terulas pada bibir merah jambunya yang gemerlap. Benar-benar tak berubah sedikitpun dibandingkan dulu.

-XXX-

Beberapa bulan lalu, kami baru saja mengalahkan Liu Biao di Jiangxia. Dan sekarang aku yakin perang akan dimulai lagi, karena itulah semua jendral maupun komandan dipanggil untuk rapat.

"Mari langsung saja." ucap Tuan Zhou Yu memulai rapat. "Kemarin, Liu Bei dan Zhuge Liang datang untuk beraliansi dengan Sun Wu untuk melawan Cao Cao."

"Hm? Sebelumnya Cao Cao juga meminta beraliansi untuk melawan Liu Bei, bukan?" tanya Tuan Ding Feng.

Tuan Sun Quan mengangguk. "Memang benar. Untuk lebih rinci, Zhou Yu." Ia memerintah sang penasehat tersebut untuk memulai pembicaraan.

"Mereka sudah memperintahkan Pang Tong untuk mengecoh Cao Cao. Di Sungai Yangtze, disanalah mereka akan mengambil posisi untuk menampung pasukan mereka dengan kapal yang sudah disambung dengan kapal lain menggunakan rantai. Dan disaat itu, Zhuge Liang akan berdoa untuk mengubah arah angin."

"Zhuge Liang mengubah arah angin? Bagaimana bisa..." ucap Lu Xun tak percaya. Jendral yang lain pun juga memikirkan hal yang sama.

"...sihir?" bisik An Shu padaku.

Aku mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu."

"Sebenarnya, aku juga memiliki firasat buruk... bukan pada saat perang nanti. Aku tidak bisa memprediksikan apa yang akan dilakukannya setelah itu. Aku harus mencari tahu lebih banyak." ucap Zhou Yu yang terlihat begitu ragu tak seperti biasanya. Penasehat tersebut memukul meja untuk menenangkan para perwira yang berdiskusi. "Kemudian, aku telah meminta mereka untuk menyiapkan seratus ribu anak panah dalam sepuluh hari. Dengan anak panah yang telah Zhuge Liang siapkan, kita akan melakukan serangan api setelah arah angin berubah. Huang Gai, aku serahkan tugas ini padamu."

"Baik!"

"Bagus. Sampai disini rapatnya. Jika masih ada pertanyaan simpan dulu untuk rapat yang akan datang. Sekian, bubar."

-XXX-

Setelah rapat berakhir, semua perwira bubar untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing dan beberapa dari mereka pulang terlebih dahulu.

Shu mengajakku jalan-jalan sebelum pulang, biasanya dia ingin melihat matahari terbenam dari sungai. Disana terdapat beberapa batu apung sehingga dapat melewati sungai. Gadis bersurai biru gelap tersebut melepas sandalnya dan mulai bermain air sendirian sedangkan aku hanya duduk dan memandangnya dengan menumpukan daguku dengan tangan.

"Perang sebentar lagi akan datang ya~" keluh gadis itu sembari menghampiriku. Ia menyembunyikan kedua lengannya dibelakang punggung.

"Hm..."

"Eh, Ling Tong."

"Hm?"

"Selama ini aku terus berpikir..."

Aku menurunkan tanganku dan menatapnya penasaran. "Apa?"

"..." Dia tidak tersenyum. Lagi-lagi aku tak bisa menebak apa yang ia pikirkan sekarang. Tapi ketika melihat wajahnya yang datar namun menyimpan pertanyaan, sepertinya ia ragu dan juga tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. Setidaknya hanya itu yang kutahu.

Ia membalikkan badan kemudian berdiri diatas batu apung. "Menurutmu perang ini benar-benar akan membuat kita bisa hidup tenang nanti?"

Apa yang membuatnya berpikir seperti itu? "Entahlah..."

"Sudah kuduga." Ia tertawa kecil. "Kita belum tahu apa yang akan terjadi nanti." Kemudian dengan sekejap wajah tawanya langsung menghilang ketika ia meratapi dirinya sendiri yang memantul pada air sungai. "Tapi... bukannya perang itu hanya akan menyia-nyiakan nyawa? Aku sempat berpikir... sebaiknya kita tak pernah terlibat dalam perang. Tanpa perang pun, kita semua akan mati. Karena perang juga, begitu banyak nyawa yang melayang."

Aku terdiam, perkataannya langsung tersimpan dalam kepalaku. Aku menghela napas panjang kemudian berjalan menginjak batu apung untuk mendekatinya. "Kenapa baru sekarang kau ragu, hm?"

"..." Ia tidak menjawabku bahkan tidak menatapku.

"Kau tidak seperti biasanya..." ucapku lagi. Perlahan, ia mengangkat kepalanya untuk menatapku. Mata emasnya bertemu dengan milikku. "Biasanya kau selalu optimis menghadapi segala hal. Tapi ternyata selama ini kau tidak siap, huh?"

Ia tersenyum tipis. "Begitukah? Tapi bukannya aku tidak siap. Aku hanya ingin tahu..."

Lihat? Terkadang ucapanku meleset dari hal yang menganggu pikirannya. Itu membuatku semakin ingin mengenalinya lebih jauh. Entah kali ini aku salah mengira atau tidak, tapi... perempuan ini berubah dari selama ini yang kukenal. Aku tidak tahu apakah itu buruk atau baik.

Tunggu, bagaimana kalau dia berbohong kalau dia sebenarnya tidak siap? Entahlah. Tapi jangan salah paham, seperti yang kukatan tadi... aku mempercayainya. Tapi akulah yang belum sepenuhnya mengerti dengan Shu.

"...Tanpa perang, kita bisa hidup dengan damai. Dan kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama. Tapi aku tahu kok... dunia ini tak akan indah tanpa adanya penderitaan. Semua yang kita lakukan akan ada pengorbanan... Seperti menemukan perdamaian, mengorbankan nyawa setiap orang yang memberanikan diri untuk mencari jawaban tersebut. Mei mengajariku itu..."

"..." Yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan keluh-kesah dari hatinya. Ia harus mengeluarkan semua itu begitupula aku juga harus memahami dirinya lebih jauh. Ucapannya, nada suaranya, raut wajahnya, semuanya. Aku ingin tahu...

"Bagiku Tuan Sun Quan memiliki ambisi yang sesuai dengan keinginan semua orang. Wu, Shu dan juga Wei berdamai. Itu sangat bagus, bukan? Kita yang lemah bergandengan tangan untuk menghadapi keburukan dunia... keindahannya juga. Tapi mau bagaimana lagi 'kan? Disinilah dunia yang kita hadapi..." Ia berhenti, ia kembali tersenyum pada dirinya sendiri kemudian menatapku lagi. "Ah!" Wajahnya tiba-tiba memerah seperti tomat, sepertinya ia malu karena berbicara sendirian dan mengucapkan kata-kata yang membuat diriku tak bisa menjawabnya. "..."

"Kenapa kau harus malu? Bukankah itu bagus kalau kau mengungkapkan keluhanmu padaku? Juga, bukankah kau sendiri yang bilang padaku bahwa kau akan terus melindungiku?"

Dia terdiam beberapa detik kemudian tertawa kecil. "Kau benar." Ia mengangkat kepalanya untuk kembali menatapku. "Tong, aku ini terkadang tidak optimis seperti biasanya. Keraguan pasti terus akan mempermainkanku. Jadi...uhm..."

"Aku sudah tahu itu." Ucapku memotongya. "Aku juga akan berada di sisimu dan kau juga harus melakukan hal yang sama."

Ia tersenyum lebar. "Um! Rasanya beban pada diriku mulai ringan. Terima kasih sudah mau mendengarkanku ya, Ling Tong!" Ucapnya sembari menepuk bahuku dengan senyuman khasnya kembali menghiasi wajahnya. "Nah, ayo kita pulang! Aku lapar, aku mau buat mapo doufu-" ucapnya sembari berlari kecil menuju tepi sungai.

"Shu."

"E-Eh? Hwaaa!" Kakinya yang sedikit basah membuatnya terpeleset namun beruntung aku langsung menahannya dengan kuat. Kugenggam pergelangan tangannya dan tanganku yang bebas menahan punggungnya. Dari rona wajahnya yang semakin menggelap, kurasa dia sedikit terkejut saat aku memanggil namanya. Merasa canggung akibat posisi saat ini, aku melepas sentuhanku dari punggungnya. Namun aku masih menahan pergelangan tangannya. "Ah. hampir saja. Ada apa, Tong?"

Apakah ini waktu yang tepat? Apakah dia akan menjawab pengakuan perasaanku ini? Aku tak berani menjawab itu. Tapi tetap saja, aku muak menahan perasaan yang menjengkelkan ini. Aku ingin ia mengetahuinya. Aku menginginkannya. Aku ingin membuatnya tertawa lebih dari biasanya...

Tapi, seharusnya aku menahan diri. Sebentar lagi kami akan perang. Tapi tetap saja, aku muak menahan ini!

"Shu... dengar."

"Y-Ya?" Genggamanku pada pergelangan tangannya semakin erat.

"...aku... men-ugh!" Sebuah batu kecil tepat mengenai kepalaku. Dan tidak sengaja, genggamanku terlepas dari tangannya.

"Oi oi, kalian berdua! Kalian tidak sadar bahwa kalian setiap hari cuma kencan mulu, hah?" Sialan, itu suara yang tidak ingin aku dengar seumur hidup. Dia datang menggangguku pada waktu yang tidak tepat.

"G-Gan Ning!? A-Apa yang kau bicarakan!? M-M-Mana mungkin orang sepertiku kencan dengan Ling Tong!? Dasar bodoh!" Bentak An Shu panik dan melempar batu sebanyak-banyaknya.

"Kau ini mengejekku atau berada di pihakku sih!?" Bentakku pada gadis yang tepat berada didepanku yang masih terus melempar batu pada mantan bawahan Huang Zu tersebut.

"Oi! Hentikan!" Bentaknya sambil menghindar. "Perempuan aneh! Kubilang hentika-ugh!" Batu yang lebih besar dari telapak tangan Shu tepat mengenai dahi mantan bajak laut tersebut sehingga dia jatuh pingsan.

"Ah, hebat. Apa dia sudah mati?" Tanyaku.

"Kurasa pingsan..." jawab An Shu.

Berkat landak busuk itu, aku tidak sempat menyatakan perasaanku. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Mungkin aku bisa menyatakannya saat kami sudah pulang. "Kita pulang..."

"Tapi dia..." ucap An Shu menunjuk mayat(?) mantan bajak laut tersebut.

"Biarkan saja dia mati membusuk disana." Jawabku.

"Oi..." Setetes keringat turun menuju pipinya.

-XXX-

Akhirnya perang pun tiba. Malam ini, Zhuge Liang akan berdoa di altar yang berada jauh dari markas utama. Namun, jaraknya juga lumayan dekat dari markas sebelah barat daya milik musuh. Aku, Shu, dan si landak busuk akan mengantarkan pria bernama Zhuge Liang tersebut. Dan hebatnya lagi, Zhuge Liang sudah menyiapkan seratus ribu panah selama tiga hari. Hal itu membuat Tuan Penasehat semakin tak nyaman bekerjasama dengan Zhuge Liang. Aku tak tahu mengapa.

"...hah." Aku menghela napas panjang dan menyandarkan kepalaku ke dinding. Bagaimanapun juga, ini benar-benar menggelikan, bahkan aku tidak sempat menyatakan perasaanku pada Shu sampai sekarang! Padahal dia tinggal satu atap denganku tapi kenapa!? Aku punya banyak kesempatan! "Sial, sial...!" Gumamku berulang kali.

"Oi, kenapa dia? Padahal belum mulai si ekor kuda udah stress gitu?" Aku mendengar pria berisik yang selalu membawa bel itu membicarakanku.

"Mana kutahu..." jawab An Shu datar. Gadis itu pun datang menghampiriku. "Tong? Ada apa?" Tanya gadis itu sembari menepuk pelan punggungku. "Apa kau mabuk laut?"

"Bodoh. Kita 'kan tidak berada diatas kapal..." ucapku membalikkan badan setelah mengurut dahiku. "Dimana Zhuge Liang? Dia belum datang?"

"Sepertinya begitu. Tuan Kumis Lele itu kenapa lama sekali ya?" Ia memiringkan kepalanya dengan jari telunjuk berada di dagunya.

"Jangan seenaknya beri gelar aneh pada orang, oi." Balasku dengan nada datar.

"Ah, terserah." Gadis bersurai biru gelap itu menaikkan bahu.

Mengingat perang sebelumnya, ia sangat ragu untuk melawan musuh yang dihadapannya. Apa kali ini akan terulang lagi? "...oi." ucapku memanggilnya.

"Duh! Sudah kubilang panggil aku 'Shu'! Namaku 'Shu'!" Bentaknya kesal sambil menghentakkan sebelah kakinya dan berkacak pinggang.

"Baik baik, Shu! Aku sudah tahu namamu, bodoh! Dengarkan aku!" Sebelum bicara kuurut dahiku untuk menenangkan diri. "Kali ini kau jangan sampai ragu melawan musuh yang menghalangimu. Sudah kubilang sebelumnya, bukan? Mereka sudah memilih jalan mereka sendiri-"

"Dan aku sudah memilih jalan hidupku. Benar?" Sambungnya dengan senyuman tipis terulas pada wajahnya. "Aku mengerti... kali ini aku akan berusaha lebih giat!"

Yah, dia sering mengulang kalimat itu. Dia pekerja keras, seperti yang pernah Tuan Sun Quan katakan. "Dan juga..."

"Ng?"

Tidak, mengungkapkan perasaanku saat ini sangat tidak tepat. Dia pasti akan kehilangan konsentrasi untuk menghadapi perang yang sebentar lagi akan dimulai. "Kau jangan sampai mati... ada yang ingin kukatakan padamu setelah perang ini usai. Mengerti?"

Dia menaikkan kedua alisnya kemudian senyumnya melebar. "Tentu saja! Ling Tong juga jangan sampai mati, ya!"

"Aku tidak pernah berniat untuk mati, bodoh." Ucapku tertawa pelan kemudian mengacak rambutnya.

"Uwaaa! Jangan rambutku!" Pekiknya kemudian menggigit tanganku. "Ah! Itu dia 'Tuan Kumis Lele'!"

Nama itu lagi...

Pria yang membawa kipas dari bulu putih tersebut menghampiri kami. "Apakah kalian yang akan mengantariku ke altar? Mohon kerjasamanya..." ucap pria itu. Wow, lihat... siapa yang paling santai disini, eh?

"Baik~!" Ucap An Shu bersiap-siap mengambil sepasang emeici yang ia simpan pada kantong dibalik rok pendeknya.

"Ou!" Ucap si landak busuk mengambil senjata flail miliknya.

"Kuharap kau tidak membuat kami kerepotan, landak busuk." Ucapku sambil menyiapkan sanjiegun. Para prajurit segera membuka gerbang markas.

"Haaah!? Apa kau bilang!?" Bentaknya.

"Nah! Ini bukan saatnya bertengkar, Tuan-tuan. Bukankah kita harus cepat membawa Tuan Kumis Lele ini ke altar? Jadi jangan main-main!" Ucap An Shu mendorong wajah landak itu dan berdiri tepat diantara kami.

"Nona, namaku Zhuge Liang." Ucap pria yang An Shu anggap 'Tuan Kumis Lele' tersebut.

"Ups, aku lupa. Maaf ya, Tuan Zhuge Liang!" Sahutnya sembari memukul ringan kepalanya. Kulihat gerbang kini sudah terbuka lebar dan para prajurit Wu mulai menyerang. "Yuk! Aku maju duluan!" An Shu langsung maju mendahului kami. Tidak biasanya dia seperti ini...

"Oi! Tunggu!" Teriakku menyusulnya. Sekumpulan prajurit Cao Cao menghalangi jalan kami menuju altar. Kulihat An Shu tak ragu-ragu menyerang musuh dihadapannya. Dia bergerak sangat cepat dan lincah.

"Jangan menghalangi kami atau kalian akan menyesal!" Bentaknya sambil terus menyerang musuh.

Saat perang di Jiangxia yang merupakan perang pertamanya. Dia tak tega membunuh bahkan melukai musuh, tangannya tidak berhenti bergemetar, wajahnya memucat dan menganggap dirinya tak berguna bagi orang lain. Saat itu, aku menyuruhnya untuk menetap di markas utama untuk menenangkan diri. Tapi dengan keberanian yang masih ia miliki, dia terus ikut bersamaku.

Tapi kali ini dia benar-benar berubah, sangat. Dia tak ragu untuk menusuk, menendang, dan menebas musuh dihadapannya. Ia benar-benar tidak ragu sama sekali. Bahkan, sorot matanya berubah tajam. Aku belum pernah melihatnya dengan mata seperti itu.

"Hebat juga kau, perempuan aneh! Jadi selama ini kau menyembunyikan taringmu, ya? Baiklah, aku juga tidak akan kalah darimu!" Ucap mantan bajak laut itu sembari terus menyerang para prajurit berarmor biru dihadapannya.

Aku langsung menyerang komandan dari pasukan tersebut dan memberinya tendangan pada dadanya sehingga ia terpental jauh. "Tong! Pinjam punggungmu sebentar!" Teriak An Shu berlari mendekatiku.

"Apa?-Tunggu oi!" Ia menginjak paha kemudian punggungku dan melompat. Ia terbang di udara kemudian menerjang komandan yang masih tersungkur tersebut. Emeici-nya tepat menusuk kedua bahunya.

Komandan tersebut berteriak kesakitan, An Shu langsung menghindar serangan tombaknya dengan mudah. "Sialan! Semuanya mundur!" Teriak komandan Wei tersebut pada semua prajuritnya yang tersisa.

"Takkan kubiarkan!" Teriak An Shu. Ia mengambil tombak milik prajurit musuh yang sudah mati, kemudian melemparnya tepat mengenai punggung komandan tersebut. An Shu kembali menerjang, tumit sepatunya tepat menginjak ujung kayu tombak sehingga tusukan pada tubuh musuh semakin dalam dan komandan tersebut kembali jatuh. Gadis itu belum selesai, kemudian dia menebas lehernya dengan sepasang emeici-nya. Para prajurit mundur ketakutan.

"S-Semuanya mundur! MUNDUR!" pekik prajurit tersebut berlarian menjauhi An Shu. Namun, dia masih menyerang prajurit yang tersisa.

"Oi... sejak kapan dia menjadi kuat seperti itu?" Ucap Gan Ning yang terkesima melihat cara bertarung An Shu.

"Aku juga baru tahu." Jawabku sambil terus menyerang musuh dihadapanku.

"Nona An Shu bermaksud mengalahkan semua musuh agar tidak ada yang bisa melaporkan bahwa kita akan pergi menuju altar." Ucap Zhuge Liang dengan suara tenang khasnya.

"Begitu ya?" Jawab Gan Ning manggut.

Nah, aku sudah tahu itu. Tapi bagaimanapun juga, dia terlihat jauh lebih kuat dari yang dulu. Setelah dia sudah selesai mengalahkan sisa prajurit musuh, ia membalikkan badan kearah kami. "Oke! Mari kita menuju altar secepatnya!"

Sorot matanya kembali seperti awal, begitu pula senyum khasnya terulas di wajah. "Oi, perempuan aneh. Tadi itu benar-benar hebat! Kau tidak merasa belas kasihan sedikitpun pada musuh? Padahal dulu kau tidak berani membunuh musuh bahkan melukai mereka sedikitpun."

Landak busuk ini memiliki pemikiran yang sama denganku? Menjijikkan...

An Shu menggeleng. "Bodoh. Tentu saja aku kasihan pada mereka. Lagipula ini baru pemanasan. Ayo cepat!" Dia pun langsung pergi mendahului kami.

Dia sudah paham bagaimana situasi perang dan masih merasa belas kasihan pada musuh. Aku tidak tahu dia telah berubah atau belum.

-XXX-

Kami sampai di altar, Zhuge Liang langsung mulai sembahyang untuk mengubah arah angin. Sebelumnya dia meminta kami untuk menjaganya sampai arah anginnya berubah arah.

"Kuharap dia bisa melakukannya lebih cepat." Keluhku.

"Ling Tong, lihat itu." An Shu berdiri dekat tebing.

"Ng? Ada apa?"tanyaku sembari menghampirinya.

"Sepertinya mereka sudah tahu kalau kita berada disini. Kita lawan mereka?" Tanya si landak busuk.

"Jumlah mereka terlalu banyak-"

"Wah wah~ Apa yang kalian dilakukan di tempat seperti ini? Bisakah kalian memberitahu kami rencana menawan kalian?" Seorang pria yang bertubuh tinggi muncul dihadapan kami serta pasukannya. Ia menggunakan senjata cakar yang panjang kemudian jendral tersebut tertawa pelan. "Kurasa aku harus memaksa kalian. Namaku Zhang Junyi, mari kita bertarung dengan mulia~"

"... ... ..." Kami bertiga hanya terdiam memandang jendral Wei tersebut. Cara bicara dan gayanya sangat aneh dan menjijikkan.

"Orang-orang di Wei ternyata ada yang tidak waras, ya?" Tanya An Shu.

"Mana kutahu." Jawab Gan Ning.

"Yah, kita tak punya pilihan lain, bukan? Kita kalahkan mereka." Sahutku sambil memasang kuda-kuda, begitu pula, An Shu dan si landak.

"Majulah, wahai pendekar Sun Wu-" Tiba-tiba An Shu langsung menerjangnya dan berusaha menusuk pria tersebut namun gagal. Ia menangkis serangannya. "Oh astaga. Apa yang si manis ini lakukan pada medan perang seperti ini?"

"Bodoh. Seharusnya kau sudah tahu jawabannya...!" An Shu melepas serangannya sehingga membuat pria itu kehilangan posisi bertahannya. Kemudian dengan cepat menendangnya hingga jendral tersebut jauh terpental.

Namun jendral Wei tersebut dengan cepat jungkir balik, kemudian langsung menerjangnya. Ia berputar kearahnya dengan ujung cakar melukai lengan kiri An Shu. "Kuhh..!"

"Ini baru permulaan, nona manis. Nah, mari kita menari bersama~" ucap pria itu membalikkan badannya kearahnya.

"Ukh... Cih."

"Perempuan aneh!" Teriak si landak.

"Shu!" Aku langsung menghampirinya.

"Tidak apa, Ling Tong. Aku baik-baik saja!" Ia pun berdiri dan menyeka darah pada lengannya. Ia kembali memasang kuda-kuda. "Jumlah pasukan itu bukan apa-apa! Seberapa kuat mereka itu tidak penting bagiku! Aku akan mengalahkan mereka!"

"Bodoh. Bukan hanya kau yang bertarung disini." Jawabku.

"Jangan lupakan aku, perempuan aneh!" Sahut si landak.

An Shu tertawa kecil. "Benar juga ya. Nah, ayo kita beri mereka pelajaran!"

-XXX-

To Be Continued

-XXX-

A/N : Begin the battle! Maaf kalau action-nya kurang terasa~ Saya usahakan chapter depannya lebih sengit wkwkwk.

Btw, hiks... gak ada review? Author jadi kehilangan semangat lagi hweee. Siapa saja yang ikhlas, mohon berikan review! See you next chapter!