Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi dan Chanyeol berdiri ragu di depan kamar Kyungsoo. Setelah pertengkaran mereka semalam, Chanyeol pergi memutari jalan, membawa mobilnya entah ke mana dan baru pulang sekarang.

Chanyeol menepis keraguannya, lalu meraih handle pintu dan membukanya perlahan. Pemandangan tubuh Kyungsoo yang meringkuk di atas tempat tidur adalah hal pertama yang menyambut Chanyeol. Gadis itu tidur dengan peluh menghiasi dahinya, sementara selimutnya terbelit di antara kedua kakinya. Chanyeol melangkah mendekat, mengamati wajah kelelahan Kyungsoo yang terlihat pucat dengan rasa bersalah yang semakin menggunung.

Seharusnya dirinya pulang. Seharusnya dirinya tidak meninggalkan Kyungsoo. Dan seharusnya dirinya menawarkan ketenangan, tempat beristirahat untuk Kyungsoo, bukan sebuah pertengkaran.

Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menepis rambut yang menutupi mata Kyungsoo, namun menahannya sebelum benar-benar menyentuh Kyungsoo. Dalam hati Chanyeol bertanya-tanya, berapa lama Kyungsoo tidur semalam? Mengingat mimpi buruk itu masih terus datang dan Kyungsoo baru bisa kembali tidur ketika Chanyeol menemaninya.

Chanyeol mulai melangkah pergi ketika sebuah suara menghentikannya.

"Chan?"

Chanyeol kembali membalikkan tubuh, tepat ketika Kyungsoo berlari ke arahnya. Refleks Chanyeol membuka lengannya dan merengkuh tubuh mungil Kyungsoo ke dalam pelukannya. Tak ada kalimat yang mereka ucapkan, namun mereka tahu pelukan itu adalah tanda perdamaian mereka.

Chanyeol mendongakkan wajah Kyungsoo, lalu membisikkan permintaan maafnya tepat di atas bibir Kyungsoo.

.

.

.

"Terima kasih sudah bersedia membantuku hari ini ," ucap Kris.

Chanyeol hanya mengangguk. Mereka terus melangkah meneliti berbagai macam kamera satu persatu. Bantuan yang dimaksud Kris adalah membantu memilihkan sebuah kamera.

"Bagaimana keadaan Kyungsoo?" tanya Kyungsoo kemudian.

"Entahlah. Kurasa ia akan baik-baik saja. Ia masih tidur ketika aku pergi tadi," jawab Chanyeol.

Kris mengangkat sebuah kamera berwarna hitam, lalu berkata, "Tadi malam adalah pertama kalinya aku melihat Kyungsoo kehilangan kontrol. Bahkan tujuh tahun yang lalu, Kyungsoo hanya menangis dalam diam. Juga saat pemakaman Bibi Yoona, Kyungsoo hanya diam. Terkadang aku berpikir Kyungsoo adalah Putri Salju yang sesungguhnya."

Chanyeol terdiam sesaat, kemudian mengganti topik dengan bertanya, "Apakah kau sudah menemukan ayahmu?"

"Belum. Aku benar-benar tidak tahu ia pergi ke mana. Tidak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya," jawab Kris.

"Ia menghilang tepat setelah pemakaman ibu Kyungsoo, bukan?"

"Ya. Benar."

Percakapan Chanyeol dan Kris terputus karena suara tawa dari sisi kanan mereka. Ternyata dua orang wanita dengan rambut dicat cokelat terang sedang memerhatikan mereka dengan ketertarikan yang sama sekali tidak disembunyikan. Chanyeol tidak terkejut dengan hal itu; ia sudah sering mengalaminya. Namun reaksi Kris benar-benar membuat Chanyeol terkejut, karena Kris mengabaikan para wanita itu secara sempurna. Bahkan tanpa satu kedipan mata. Kris benar-benar mengabaikan mereka.

"Kau tidak menganggap mereka menarik?" tanya Chanyeol penasaran.

"Tidak," jawab Kris tanpa ragu.

Chanyeol tetap menatap Kris dengan tidak mengerti. Karena sejauh yang Chanyeol tahu, Kris tidak mempunyai kekasih. Hal ini sering diungkit oleh Jongdae yang tak lelah menggoda adiknya sebagai penyuka sesama jenis dan terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan membedah tubuh manusia.

"Jangan berpikiran seperti Jongdae. Aku benar-benar normal," ucap Kris datar.

Chanyeol tersenyum tipis, meski hatinya masih menyelipkan tanda tanya besar.

"Aku hanya mencintai seseorang yang tidak seharusnya kucintai dan sialnya, aku tidak bisa berhenti," tambah Kris kemudian. Suaranya terdengar muram, hingga Chanyeol memutuskan untuk pura-pura tidak mendengarnya.

Dua jam kemudian, Chanyeol sudah sampai di rumah. Setelah mengingatkan Kris untuk tidak melupakan pekerjaan mereka besok pagi, Chanyeol melangkah turun dari mobil Kris. Tanpa prasangka Chanyeol memasuki rumahnya dan berjalan mencari Kyungsoo.

Chanyeol menemukan gadis itu di dapur. Bersama dengan tumpukan piring yang menggunung juga kondisi dapur yang menyiratkan baru saja terjadi peperangan di sana.

"Kyungie, apa yang terjadi?" tanya Chanyeol bingung.

"Tidak perlu khawatir, aku akan membereskannya nanti. Sekarang, tugasmu adalah mencicipi masakanku," jawab Kyungsoo riang.

Kyungsoo menyeret Chanyeol menuju ruang makan, lalu memintanya—lebih tepatnya memaksa—untuk mencoba semangkuk sup asparagus di hadapannya. Setelah satu suapan pertama, yang memperlihatkan kerutan di kening Chanyeol, Kyungsoo tahu ia sudah gagal. Kyungsoo memang tidak memiliki bakat memasak sama sekali. Namun dalam upayanya untuk berbaikan dengan Chanyeol, Kyungsoo ingin mencobanya. Ternyata hasilnya benar-benar mengecewakan.

Chanyeol yang merasakan perubahan mood Kyungsoo langsung memberikan seulas senyum. Chanyeol tidak peduli pada rasa masakannya, yang penting adalah niat Kyungsoo untuk membuatkan sesuatu untuknya. Maka Chanyeol tidak membahas insiden dapur maupun masakan lebih jauh. Chanyeol justru menarik Kyungsoo hingga duduk di pangkuannya, lalu mengangkat tangan kiri Kyungsoo yang tersembunyi di balik tubuhnya.

Chanyeol melihat beberapa bekas luka di sana. Luka karena sayatan pisau. Tanpa mengatakan apa pun, Chanyeol menempelkan bibirnya di setiap luka dengan lembut.

"Ini adalah tangan yang cantik. Tercantik yang pernah kulihat," gumam Chanyeol lembut.

Kyungsoo menunduk untuk mengecup bibir Chanyeol, lalu tersenyum. Seketika melupakan setiap luka yang berdenyut di tangannya. Karena Kyungsoo sudah menemukan obatnya; Park Chanyeol.

.

.

.

Kyungsoo membuka matanya ketika merasakan guncangan di bahunya. Samar-samar sinar matahari mulai mengintip dari celah tirai di kamarnya. Kyungsoo terkejut menyadari dirinya tidur dengan lelap semalam. Benar-benar tanpa mimpi buruk. Kyungsoo yakin hal itu berkaitan dengan lengan seseorang yang memeluknya sepanjang malam.

"Kyungie, bangun. Aku memiliki kejutan untukmu," ucap Chanyeol bersemangat.

Kyungsoo melancarkan protes, namun Chanyeol berhasil menariknya turun dari tempat tidur. Akhirnya dengan mata setengah mengantuk Kyungsoo mengikuti Chanyeol. Pria itu membawanya menuju halaman depan rumah. Begitu Kyungsoo melihat kejutannya, seruan gembira langsung lolos dari bibirnya. Karena kini, di atas rerumputan hijau, berdiri gagah sebuah ayunan berukuran besar berwarna hitam yang terbuat dari besi.

"Aku rasa pekerjaanku sudah selesai. Selamat bersenang-senang," pamit Kris seraya melambaikan tangannya.

Chanyeol membalas lambaian tangan Kris, sementara Kyungsoo masih terkesima. Gadis itu mulai meloncat-loncat, sebelum akhirnya memeluk Chanyeol erat-erat.

"Aku menyukainya! Terima kasih, Chanie!" pekik Kyungsoo.

Tawa Chanyeol terlepas demi melihat kegembiraan meluap-luap di wajah gadisnya. Tanpa berpikir panjang Chanyeol menyambar bibir Kyungsoo yang masih mengembangkan senyum. Pada mulanya ciuman itu seringan bulu, namun seiring berjalannya waktu dan tidak ada satu pun dari mereka yang melepasnya, ciuman itu berubah semakin menuntut. Membuai mereka menuju batas yang selama ini baru satu kali mereka lewati.

Chanyeol menarik bibirnya, kemudian menatap Kyungsoo tanpa menyembunyikan apa pun. Kyungsoo sungguh dapat melihatnya di dalam mata hitam-kecoklatan milik Chanyeol. Hasrat untuk memiliki. Dan Kyungsoo tidak mampu menolaknya. Tidak ketika Kyungsoo pun ingin memiliki Chanyeol sepenuhnya.

"Tempat tidur?" bisik Kyungsoo.

Tanpa kata Chanyeol menuntun Kyungsoo kembali ke dalam rumah. Chanyeol membawa Kyungsoo menuju kamarnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Begitu pintu tertutup, Chanyeol kembali memagut bibir Kyungsoo. Tangannya bergerak untuk menarik gaun tidur yang dikenakan Kyungsoo, hingga dalam hitungan detik Kyunhsoo berdiri hanya dalam bra dan celana dalamnya.

"Kau tidak suka tempat tidur?" tanya Kyungsoo dengan napas terengah.

Mendengar itu Chanyeol tersenyum, lalu menyalakan shower dan mengatur temperaturnya menjadi hangat. Setelah itu tangan Chanyeol bergerak cepat melucuti baju yang menempel di tubuhnya dan senyumnya semakin lebar ketika melihat ekspresi wajah Kyungsoo.

"Chan…"

Chanyeol menyela ucapan Kyungsoo dengan satu ciuman menuntut. Tangan mereka mulai menjelajah, hingga akhirnya Kyungsoo bergantung sepenuhnya pada Chanyeol dan lelaki itu mendorongnya ke bawah shower. Chanyeol melarikan bibirnya menuju leher Kyungsoo, mengapresiasi desahan Kyungsoo dengan melepas kait bra-nya. Pemandangan indah payudara Kyungsoo segera menyambutnya dan Chanyeol tidak membuang waktu untuk mencicipinya.

"Chan!"

Chanyeol menjentikkan lidahnya di puting Kyungsoo, sementara tangan lainnya bergerak menurunkan celana dalam Kyungsoo. Dalam hitungan detik, jemari Chanyeol menguasai daerah intim Kyungsoo yang berdenyut.

Kyungsoo menarik rambut Chanyeol, bibirnya mencari. Mereka kembali berciuman sementara dua jari Chanyeol terkubur di antara kedua kaki Kyungsoo. Tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya Kyungsoo mengerang dan satu jeritan lolos dari bibirnya.

Ketika Kyungsoo mampu membuka mata, ia melihat sepasang mata hitam-kecoklatan yang nampak berkabut. Diiringi seulas senyum menggoda. Mau tak mau pipi Kyungsoo bersemu, membuat Kyungsoo menundukkan pandangannya dan melihat bukti gairah Chanyeol yang berdiri tegak menantangnya.

Bibir Chanyeol berlari ke pipinya, lalu Chanyeol berbisik, "Aku suka melihat pipimu memerah."

Kyungsoo menurunkan kakinya yang melingkari pinggang Chanyeol, kemudian membiarkan tangannya terulur ke tempat kakinya berada sebelumnya. Kyungsoo tidak menyentuh kejantanan Chanyeol—sedikit pun tidak—namun Kyungsoo bisa merasakan getaran yang merambati tubuh tegap di hadapannya.

"Bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Kyungsoo seraya mendongak menatap Chanyeol.

Chanyeol mengangguk.

Kyungsoo melarikan jarinya perlahan, hampir seperti sentuhan angin, lalu tanpa peringatan Kyungsoo menggenggamnya. Mendatangkan geraman rendah dari dada Chanyeol. Kyungsoo langsung menarik tangannya, namun Chanyeol kembali meletakkannya di tempat semula. Kini tangan mereka berdua bertaut, dengan tangan Kyungsoo menyentuh kejantanan Chanyeol sementara tangan Chanyeol membantunya untuk bisa memegang seluruhnya.

"Kau sangat besar. Jemariku tidak bisa memegangmu seluruhnya," gumam Kyungsoo polos.

Chanyeol mengerang, lalu membalas, "Jangan mengatakan hal semacam itu atau aku akan benar-benar mempermalukan diriku."

"Tunjukan padaku, Chanie," pinta Kyungsoo.

Chanyeol mengerjap. Otaknya tidak mampu berpikir jernih.

"Tunjukan padaku cara memuaskanmu," jelas Kyungsoo lembut.

Seluruh kendali diri Chanyeol lenyap begitu mendengar ucapan Kyungsoo. Tangannya yang menyelimuti tangan Kyungsoo mulai bergerak, menunjukkan cara untuk mencapai kepuasannya. Di antara guyuran air, Chanyeol dapat mendengar setiap erangannya maupun napas tercekat gadis di hadapannya. Chanyeol membuka matanya, namun pemandangan di hadapannya sama sekali tidak diduganya; Kyungsoo tengah menatap dirinya yang berada dalam genggaman mereka dengan mata setengah tertutup juga desahan menggoda. Tanpa bisa dicegah Chanyeol mengeluarkan benihnya diiringi dengan erangan keras. Chanyeol bersumpah belum pernah keluar sekuat itu seumur hidupnya.

Mereka terdiam sesaat, membiarkan air membasuh sisa-sisa dari bukti gairah Chanyeol. Setelah itu mereka saling menyabuni, juga menyentuh bagian-bagian tubuh lainnya hingga erangan juga desahan kembali terdengar.

"Aku rasa ini waktu yang tepat untuk pindah ke tempat tidur," ucap Kyungsoo seraya mematikan shower. Napasnya masih berkejaran hingga kalimatnya terdengar lebih menggoda daripada yang diinginkannya.

"Ide bagus," balas Chanyeol seraya mengangkat tubuh Kyungsoo dan membawanya ke tempat tidur.

Kyungsoo tertawa ketika Chanyeol menjatuhkannya di antara bantal-batal, lalu tubuh Chanyeol menyelimuti tubuhnya yang masih basah.

"Apakah kau membutuhkan sumbangan handuk untuk kamar mandimu?" goda Kyungsoo.

"Aku tidak memerlukan handuk selama kau berada di sekitarku. Karena kau akan membuatku berkeringat kembali sayang," sahut Chanyeol seraya menciumi bahu Kyungsoo.

Bibir Chanyeol menjelajah semakin rendah, namun melewatkan puting Kyungsoo yang menegak. Belum sempat Kyungsoo protes, bibir Chanyeol sudah menemukan titik sensitif yang membuat Kyungsoo menjerit; bagian bawah payudaranya. Ketika bibir Chanyeol menghisap kulitnya, Kyungsoo tidak bisa menahan reaksinya. Pinggul Kyungsoo terangkat dan Kyungsoo mendesah lebih keras ketika kewanitaannya yang berdenyut bergesekan dengan paha Chanyeol. Mereka terkurung dalam gerakan itu hingga akhirnya Kyungsoo kembali mencapai puncak.

Chanyeol kembali mencium bibir Kyungsoo, menyatukan setiap lekuk tubuh mereka dalam prosesnya.

"Kyungsoo, aku menginginkanmu," bisik Chanyeol di antara ciumannya.

"Ya, Chan. Ya," sahut Kyungsoo.

Chanyeol menarik tubuhnya sesaat, sementara tangannya terulur untuk mengambil sesuatu di laci nakasnya. Dalam hitungan detik pelindung sudah terpasang dan Chanyeol kembali menindih tubuh Kyungsoo.

"Kau yakin? Kau tidak perlu melakukannya jika kau tidak mau," ucap Chanyeol.

Kyungsoo membuka matanya. "Aku menginginkamu, Park Chanyeol," sahutnya tanpa ragu.

Chanyeol kembali mencium Kyungsoo, lalu kejantanannya mulai mencari jalan masuk untuk mempersatukan tubuh mereka. Ciuman mereka terhenti ketika milik Chanyeol mulai memasuki kehangatan yang disediakan Kyungsoo. Chanyeol menusuk semakin dalam, lalu tiba-tiba gerakannya terhenti.

Kyungsoo masih perawan.

Chanyeol mengerang frustrasi, namun tubuhnya berhasil berhenti. Susah payah Chanyeol berusaha mengumpulkan pikirannya yang berserakan, lalu menatap Kyungsoo di bawahnya.

"Aku memercayaimu," bisik Kyungsoo lembut.

"Kyungie-a…"

"Lakukan, Chanie. Aku memercayaimu."

Milik Kyungsoo mengetat di sekitarnya dengan menyakitkan, hingga Chanyeol tak berdaya. Dengan satu gerakan cepat Chanyeol menerobos masuk dan Kyungsoo menjerit. Chanyeol langsung membeku. Kabut kenikmatannya terusir demi mendengar jerit kesakitan Kyungsoo. Chanyeol berusaha menahan dirinya, sementara tangannya membelai tulang pinggul Kyungsoo dan bibirnya menggoda lekuk di pangkal leher Kyungsoo.

Setelah menit yang terasa seabad, akhirnya tubuh Kyungsoo melemas dan menerima Chanyeol seutuhnya. Kali ini Chanyeol tidak bisa menahannya lagi. Chanyeol mulai bergerak, dengan pelan pada awalnya, hingga benar-benar bergerak dalam tubuh Kyungsoo.

Sementara itu Kyungsoo tidak bisa merasakan hal lain selain pergerakan tubuh Chanyeol di atasnya, juga milik Chanyeoll di dalamnya. Kyungsoo terhanyut dalam setiap kecup, juga tenggelam bersama setiap desah. Kyungsoo memberikan seluruh dirinya untuk Chanyeol. Karena Kyungsoo sungguh memercayainya.

Beberapa saat kemudian suara tubuh bergerak di kamar Chanyeol digantikan dengan erangan kepuasan Kyungsoo dan Chanyeol yang membisikkan nama satu sama lain.

.

.

.

Kyungsoo melarikan jarinya menyusuri wajah Chanyeol. Mata hitam-kecoklatan yang dipujanya itu masih tertutup, namun Kyungsoo tidak peduli. Seulas senyum terukir manis di wajah Kyungsoo mengingat apa yang baru saja mereka lakukan pagi ini. Kyungsoo tidak menyangka ia akan mendapat pengalaman pertama seindah itu. Kyungsoo bahkan sama sekali tidak menyangka hidupnya akan menjadi lebih baik setelah tujuh tahun dijalaninya bersama luka. Dan semua itu karena Park Chanyeol.

Kyungsoo menyisir rambut pirang gelap Chanyeol yang berada di tengkuknya, lalu beringsut lebih dekat. Berada dalam lingkup dekapan Chanyeol yang sempurna.

"Hmm. Selamat pagi sayang," sapa Chanyeol parau.

Kyungsoo terkikik—pertama kalinya seumur hidupnya—lalu membalas, "Selamat sore, Chanie."

Chanyeol langsung membuka matanya. "Oh, sial. Aku tidak tahu mengapa aku bisa tertidur selama ini. Seperti orang koma."

Kyungsoo tetap tersenyum, tidak membalas.

Chanyeol menyentuh bahu Kyungsoo, kemudian menatapnya lekat-lekat dengan kekhawatiran yang tidak disembunyikan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol lembut.

"Tentu. Aku masih bisa merasakanmu di dalam tubuhku," jawab Kyungsoo.

Chanyeol mengerang seraya menutup wajahnya, membuat Kyungsoo tertawa lepas. Kemudian Kyungsoo menarik tangan Chanyeol dan mendaratkan ciuman manis di bibir lelaki tersebut. Otomatis tangan Chanyeol menyentuh pinggang Kyungsoo, membuat Kyungsoo mengerang.

"Aku rasa kita tidak akan pernah pergi dari tempat tidur ini," bisik Chanyeol seraya mengecup daun telinga Kyungsoo

"Ide bagus," balas Kyungsoo terengah.

"Dan aku akan menelepon Tao besok. Mengatakan bahwa kau sakit," lanjut Chanyeol.

"Aku belum pernah mendengar ide yang lebih bagus dari itu."

"Percayalah, kau akan lebih sering mendengar ide bagus semacam itu bersamaku."

Kyungsoo tertawa demi mendengar nada pongah dalam suara Chanyeol. Tangan Kyungsoo menarik bantal di bawah kepala Chanyeol, lalu melemparkan bantal tersebut ke arah Chanyeol dengan telak. Chanyeol segera menyambar bantal lainnya dan tidak membutuhkan waktu lama hingga Chanyeol memenangkan pertempuran bantal itu.

Chanyeol tertawa puas, sementara Kyungsoo mencebikkan bibirnya. Baru saja Chanyeol menghentikan tawanya, suara gemuruh dari perut Kyungsoo mengisi keheningan, membuat tawa Chanyeol kembali pecah.

"Chanie! Aku lapar, berhenti menertawakanku!" seru Kyungsoo kesal.

Melihat bibir Kyungsoo yang semakin maju ke depan membuat Chanyeol tak bisa menahan dirinya lagi. Chanyeol menenggelamkan bibir Kyungsoo dan membiarkan getar tawa dari dadanya mengalir ke dalam diri Kyungsoo. Sebelum ciuman mereka menjadi semakin panas, Chanyeol segera menarik dirinya dan turun dari tempat tidur. Bukan karena Chanyeol ingin, namun Chanyeol sadar ia harus bertanggung jawab terhadap perut Kyungsoo yang kini lagi-lagi berbunyi nyaring.

Chanyeol membuka lemarinya, mengambil celana jeans dan sebuah t-shirt berwarna hitam. Setelah memakai jeans-nya, Chanyeol menghampiri Kyungsoo.

"Angkat tanganmu," ucap Chanyeol.

Kyungsoo mengangkat tangannya dan Chanyeol memakaikan t-shirt itu. Membuat senyum Kyungsoo terulas manis. Chanyeol membalas senyum itu, lalu menarik tubuh Kyungsoo dan menggendongnya menuju dapur.

"Aku bisa berjalan, Chan! Turunkan aku!" seru Kyungsoo di antara tawanya.

"Jadilah gadis baik dan biarkan aku menjadi pria bertanggung jawab," sahut Chanyeol. Mereka sudah memasuki dapur dan Chanyeol mendudukkan Kyungsoo di kursi pantry, lalu Chanyeol bertanya, "Kau ingin makan apa sayang?"

"Pancake!" jawab Kyungsoo bersemangat.

"Kau serius? Ini sudah waktunya makan malam. Kau tidak ingin sesuatu yang lain? Aku bisa memasak apa pun yang kau inginkan," balas Chanyeol.

Kyungsoo memutar matanya. "Aku tahu kau bisa melakukan nyaris segala hal, tapi aku ingin pancake. Dengan sirup cokelat yang banyak," sahut Kyungsoo.

Chanyeol tertawa pelan, lalu mulai menyiapkan bahan-bahan dan sibuk bersenandung. Kyungsoo hanya melihatnya dalam diam, bersama senyum yang enggan menghilang dari wajah cantiknya. Setelah beberapa menit, Kyungsoo turun dari kursi pantry dan menghampiri Chanyeol. Kyungsoo mengulurkan jari telunjuknya ke dalam margarin, lalu memasukkan jari itu ke dalam mulutnya. Ketika Kyungsoo melakukannya untuk yang kedua kali, Kyungsoo menyadari tatapan Chanyeol.

"Kyungie-a, apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol.

Kyungsoo mengerjap, jarinya menggantung di udara. "Maaf, kau pasti menganggapnya menjijikkan. Hanya saja aku memiliki kebiasaan semacam ini ketika ibuku membuat pancake," jawab Kyungsoo pelan.

Chanyeol melangkah mendekati Kyungsoo, lalu memeluk pinggang Kyungsoo dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya menggenggam pergelangan tangan Kyungsoo yang menggantung di udara.

"Menjijikkan? Tidak, Kyungie. Kau membuatku gila. Betapa aku berharap menjadi jarimu saat ini," bisik Chanyeol. Bibir Chanyeol mengatup di sekeliling jari telunjuk Kyungsoo, lalu menghisapnya.

Kyungsoo terpana. Jantungnya berdebar begitu cepat. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benak Kyungsoo. Tangannya yang bebas meraup tepung dari meja dapur, lalu Kyungsoo melepaskan diri dari pelukan Chanyeol dan melempar tepungnya. Tepat mengenai dada bidang Chanyeol. Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi syok Chanyeol.

"Jadi kau ingin bermain kotor ya?" tanya Chanyeol seraya meraup tepung dan berjalan mendekati Kyungsoo.

Kyungsoo langsung berlari dan lemparan tepung dari Chanyeol mengenai punggungnya. Pertempuran tepung itu terus berlangsung, hingga dapur mereka diselimuti bubuk-bubuk putih yang berterbangan di sekitar mereka. Diiringi pekikan juga tawa berderai. Ketika akhirnya Chanyeol berhasil menangkap Kyungsoo, tanpa ragu Chanyeol mengusap margarin di pipi Kyungsoo.

"Nah, aku berhasil menjadi pemenang lagi. Semoga beruntung di pertempuran selanjutnya," bisik Chanyeol sebelum melepaskan Kyungsoo.

"Kau membuatku kotor, Chan. Astaga, apa yang harus kulakukan dengan rambutku?" keluh Kyungsoo seraya menyentuh rambut hitamnya yang kini dihiasi tepung.

Chanyeol tertawa, lalu mengecup puncak kepala Kyungsoo.

"Bagaimana jika sekarang kau mandi, sementara aku kembali membuatkan pancake-mu? Aku rasa cara ini lebih aman. Kau tidak akan mengalihkan perhatianku," ucap Chanyeol.

Kyungsoo mendesah dengan berlebihan, lalu berjinjit dan menempelkan bibirnya sekilas di bibir Chanyeol sebelum akhirnya melangkah menuju kamarnya.

Setengah jam kemudian, Kyungsoo kembali turun ke lantai bawah dan menemukan Chanyeol sudah menyiapkan pancake-nya di coffee table yang berada di depan televisi. Chanyeol menepuk sofa, membuat Kyungsoo segera menghampiri Chanyeol dan duduk di sisinya. Chanyeol mengulurkan piring kepada Kyungsoo dan Kyungsoo terkejut ketika melihat pancake-nya yang tersiram sirup cokelat sudah terpotong rapi. Tentu saja, Chanyeol pasti melakukannya. Seharusnya Kyungsoo tidak perlu terkejut, karena Chanyeol selalu memastikan bahwa segalanya sempurna untuk Kyungsoo.

Kyungsoo menyuap potongan pertama dan erangannya terdengar.

"Ini adalah pancake terlezat nomor dua yang pernah kurasakan," gumam Kyungsoo.

"Nomor dua?" balas Chanyeol dengan alis terangkat.

"Hmm. Yang pertama adalah pancake buatan ibuku."

Ketika Chanyeol tidak juga menyahut dan masih menatapnya lekat, Kyungsoo menoleh.

"Sweater-mu memiliki lubang," ucap Chanyeol menjawab tatapan bertanya Kyungsoo.

Kyungsoo melihat lubang di lengan sweater-nya. Hasil kecerobohannya beberapa bulan yang lalu. Sweater itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya, yang dirajut dengan segenap cinta. Sweater itu berwarna peach dengan gradasi warna oranye tua di bawahnya. Sweater yang meskipun memiliki lubang, tetap akan menjadi sweater paling berharga yang dimiliki Kyungsoo.

Kyungsoo kembali menatap Chanyeol. "Aku tahu. Tapi ini adalah sweater kesayanganku. Hadiah dari ibuku. Aku hanya ingin memakai sweater yang dirajut oleh orang yang mencintaiku. Jadi kau tidak perlu repot-repot menyuruhku untuk membeli yang baru. Karena aku tidak akan mau," sahut Kyungsoo tegas.

Chanyeol hanya terdiam, begitu pula Kyungsoo. Setelah menghabiskan pancake di piring masing-masing, barulah Kyungsoo membuka suara kembali.

"Apakah kau bisa merajut?" tanya Kyungsoo penasaran. Pasalnya, pria yang duduk di sisinya ini nyaris bisa melakukan segala hal dan ia begitu senang memamerkan kemampuannya pada Kyungsoo. Namun ketika Kyungsoo melihat Chanyeol mengerjap dan tidak menjawabnya, Kyungsoo yakin dugaannya benar.

"Sudah kuduga! Akhirnya aku menemukan satu hal yang tidak kau kuasai. Kau benar-benar tidak bisa merajut, bukan? Kurasa ini adalah sebuah kegagalan besar yang mencoreng kesempurnaanmu, Park Chanyeol," ucap Kyungsoo dengan tawa berderai.

"Hei, tidak ada yang salah dengan tidak bisa merajut. Lagi pula aku yakin kau juga tidak bisa merajut," protes Chanyeol.

Namun Kyungsoo tidak memedulikan protesan Chanyeol dan terus menggodanya tentang fakta itu. Chanyeol mendesah frustrasi, lalu menangkap pinggang Kyungsoo dan menggelitiknya hingga tawa Kyungsoo berubah menjadi jeritan geli. Sisa malam itu dihabiskan mereka dengan tawa hingga masalah merajut itu pun terlupakan seutuhnya.

.

.

.

.

.

.

T.B.C

.

.

.

jangan lupa tinggalkan jejak :)

-GOMAWO-