Natal meruapakan suatu momen yang sangat dinantikan oleh semua orang. Berkumpul bersama teman dan keluarga, menikmati santapan lezat di tengah malam bersalju dan pastinya memberikan hadiah kepada orang-orang yang dicintai merupakan suatu kesenangan tersindiri dalam momen setahun sekali tersebut. Sayangnya tak semua orang dapat merayakan Natal dengan indahnya.

Ketika semua orang larut dalam kesenangannya masing-masing, seorang anak dengan pakaian compang-camping yang tak enak dipandang, hanya bisa duduk di bawah sebuah pohon berusaha melindungi tubuh kecilnya dari guyuran hujan salju. Lambo kecil yang waktu itu berusia delapan tahun hanya bisa memandang iri ketika seorang anak seumuran dengannya tengah tersenyum bahagia karena diberikan hadiah natal oleh kedua orang tuannya.

Udara dingin serta salju yang semakin lebat memaksa Lambo berusaha mengumpulkan kehangatan dengan memeluk dirinya kuat-kuat—walau sampai kapanpun badan kecilnya akan selalu merasa kedinginanan akibat pakiaan yang terlalu tipis untuk musim seperti ini. Orang-orang yang lewat pun hanya memandang lalu sosok Lambo di bawah pohon itu. Tak ada satupun dari mereka yang mengulurkan kehangatan untuk anak kecil yang malang tersebut. Lambo sendiri juga tak begitu mengharapkan mereka karena ia sudah terbiasa menjalani hidup seperti ini selama tiga tahun belakangan.

Hidup tanpa ada orang yang peduli pada dirinya …

Lambo berdiri dan berjalan menjauhi pusat keramaian kota. Kedua kaki kecilnya berjalan tanpa alas kaki yang melindunginya dari dinginnya malam natal. Dengan langkah seakan dirinya bisa pingsan kapan saja, Lambo pun terus berjalan menembus hujan salju. Kedua netranya menatap kosong jalanan yang sudah ia hafal karena setiap malam natal ia selalu melewatinya. Sama seperti keadaan sebelumnya, orang-orang hanya memandang tanpa niat untuk berbelas kasih pada Lambo, bahkan ada yang diantara mereka memandang sinis Lambo seakan anak kecil yang telah melewati kejamnya dunia itu adalah monster yang menakutkan.

Setelah berjalan selama setengah jam lamanya, akhirnya Lambo sampai juga di sebuah tempat sepi di tengah hutan. Tak ada tanda-tanda manusia lain selain dirinya, hanya hewan-hewan malam yang memuali aktifitasnya. Lambo melepas tudung kepala yang menjadi satu-satunya pelindung dirinya dari serangan salju yang semakin lama semakin lebat. Bocah malang itupun memandang kosong dua batu yang ditumpuk di atas dua gundungkan tanah. sebuah bunga berwarna putih ia keluarkan dari balik sakunya dan diletakan di masing-masing gundukan tanah di depannya.

"Selamat Natal Papa …. Mama ….".

Lambo pun berjongkok dan memandang kedua kuburan ayah dan ibunya. Awalnya ia hanya diam mematung, namun sebutir air mata menetes—mengalir di pelupuk wajahnya. Walau ia sudah sering melewati masa-masa ini, tetap saja hatinya selalu teriris begitu melihat kedua gundukan yang menjadi satu-satunya penghubung dirinya dan kedua orangtuanya.

"Kenapa …. Kenapa Lambo ditinggal sendirian?"

Suasana sunyi menyelimuti tempat itu. Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan lirih Lambo. Hanya ada tatapan hewan malam yang menatap sang bocah yang kini sudah ambruk—tak kuat menahan pahitnya dunia dingin ini.

"Apakah Lambo dibenci sehingga tak boleh bersama papa dan mama? Kenapa setiap Lambo berdoa agar Tuhan mencabut nyawa Lambo, Tuhan tak pernah mengabulkannya? Bukannya Papa dan Mama selalu bilang bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan orang-orang yang tersakati? Lambo terksakiti … tapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa Lambo?"

Serentatan pertanyaan terucap dibibir pucat Lambo. Tak ada yang menjawab hanya ada kesunyian yang menyelimuti. Tanpa sadar bocah kecil itu tertidur dengan tangisan yang tak henti, perlahan salju menutupi tubuh kecilnya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya ia terbangun dengan pakaian baru dan sebungkus makanan hangat di sampingnya, sebuah hadiah yang bisa ia dapat setahun sekali di malam ketika kedua orang tuanya mati tertembak. Lambo pun berjalan meninggalkan kedua kuburan orang tuanya, menjalani kerasnya dunia.

Lambo tak mempercayai dongeng ….

Lambo tak mempercayai Tuhan ….

Lambo tak mempercayai siapapun …

Lambo hanya ingin bersama ayah dan ibunya ….

. Setidaknya itulah yang dipirkan Lambo kecil selama menjalani pahitnya kehidupan ….

Sampai pada suatu ketika, berberapa tahun mendatang di hari yang sama. Sebuah tangan terjulur di depannya. Sebuah uluran tangan yang merubah nasib Lambo kecil.

.

Act 10

.

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

.

##Special Chapter ##←

"Bocah Iblis Bagian 01"

Pemuda berusia tiga belas tahun tersebut tengah memandang pria tua yang ada di hadapannya dengan tatapan dingin. Salah satu tangannya kini sedang memainkan pisau kecil favoritnya dengan sesekali melakukan gerakan yang membuat pria tua di hadapannya itu menjerit ketakutan. Bagaimana tidak, kini pria tersebut sedang berhadapan dengan seorang Hitman yang baru-baru ini terkenal akan kesadisannya dalam mebantai para mafia yang menjadi targetnya. Walau usia bisa dikatakan merupakan usia anak-anak, namun keahliannya dalam membunuh tak kalah hebat dengan para hitman dewasa yang profesional sekalipun. Maka dari itu bocah yang bernama Lambo itu sering disebut sebagai Bocah Iblis mengingat sudah banyak target buruannya berakhir dengan cara yang tragis.

"A-ampuni aku … a-akan kuberikan apapun asal kau jangan membunuhku".

Tanpa memperdulikan jabatannya yang merupakan seorang bos Mafia yang terkenal berdarah dingin, Alfonso Monterego memohon ampun atas nyawanya kepada sosok bocah berusia tiga belas tahun tersebut. Lambo sendiri tetap menatap pria di depannya dengan tatapan dingin yang menusuk. Dengan cepatnya ia menebas leher Alfonso hingga kepala sang bos mafia terlepas dari tempatnya. Saking cepatnya Lambo menebaskan pisaunya, kepala Alfonso yang sudah terlepas itu saja masih sempatnya mengucapkan berberapa kata. Tanpa rasa jijik, Lambo megambil kepala itu dan membawanya seperti seorang jagal hewan ternak. Bocah itu berjalan menyusuri lorong-lorong tanpa memperdulikan ratusan jasad yang ia sudah habisi terlebih dahulu. Lambo pun keluar dari markas mafia tersebut dengan tenangnya, seolah tak terjadi apapun.

"Selalu saja … memenggal kepala dan menggantungnya di atas pagar besi".

Lambo pun menoleh dan terlihat seorang gadis seumuran dengannya tengah bersandar di dinding. Gadis itu memakai pakaian tradisional ala cina. Rambut hitam yang dikepang dua senada dengan warna mata yang menghanyutkan. Kulit yang putih tanpa bekas luka lecet sedikitpun—menandakan sang gadis giat menjaga kecantikan tubuhnya. Lambo pun hanya memandangnya sekilas sebelum berjalan dan melakukan apa yang diucapkan sang gadis—memanjat pagar dengan cekatan dan menancapkan kepala Alfonso di atas pagar.

"Kau itu … bisakah sekali-kali berpiralaku seperti seroang remaja berumur tiga belas tahun?". Ucap Sang gadis. "Kalau kau bersikap seperti ini terus, bisa-bisa kau akan tumbuh menjadi seorang psycho lo~~".

Tanpa diduga Lambo sudah berdiri di belakang sang gadis cina dengan mengarahkan pisau kecilnya ke leher sang gadis, padahal berberapa detik yang lalu ia masih berada di atas pagar. Gadis cina itu tetap tenang tanpa peduli kalau kepalanya akan bernasib sama dengan kepala pria tua yang sedang menggantung bagai pajangan di atas sana.

"Ho~~~ jadi Lambo-chan sudah berani menantangaku? Kau lupa dengan siapa yang sudah menolongmu huh?".

Lambo masih tetap tak bergeming dan mengarahkan mata pisau miliknya ke leher putih tersebut. Sekali saja ia beregerak goresan dikuti dengan darah segar pasti akan segera tercipta. "Tch! Kau gadis yang merepotkan I-pin". Lanjutnya beranjak pergi meninggalkan I-pin yang tersenyum padannya.

Walau sudah tiga tahun lamanya mereka hidup bersama—lebih tepatnya hidup sebagai senpai dan kohai. Tak pernah sekalipun Lambo menunjukan sebuah senyuman pada orang-orang disekitarnya. Pemuda berambut hitam itu selalu memandang apapun dengan tatapan dingin dan memancarkan aura negatif sehingga sedikit atau bahkan tak ada sama sekali yang mau berteman dengan Lambo. Hanya I-Pin lah satu-satunya yang mau menjadi partner Lambo dalam menjalan berberapa misi. Ia sendiri juga tak tahu kenapa bisa merasa cocok dengan pemuda seumuran dengannya tersebut.

Perlu diketahui I-pin dan Lambo adalah hitman yang masuk dalam sindikat yang bernama Yamur, sebuah sekelompok Hitman yang telah diakui kekuatannya. Sehingga , tak jarang banyak orang, kelompok, atapun Pemerintahan suatu Negara menyawa jasa Yamur untuk menjalan berbagai macam misi.

Diantara berberapa anggota Yaḡmur, Lambo dan I-pin merupakan salah satu dari sekian banyak anggota yang kemampuannya tak patut diragukan lagi. Hampir semua misi yang diberikan mereka selalu sukses tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Sehingga walau hanya tim yang terdiri dari anak-anak, tak ada satupun yang meremehkan mereka jika kau sudah kenal siapa itu Lambo dan I-pin.

"Tentu saja Mr. Perdana Mentri. Seluruh anggota family Monterego telah dimusnahkan tanpa jejak. Seperti semboyan yaḡmur, 'bergerak bagai hujan yang menghanyutkan jejak'. Anda tak perlu khawatir akan pihak kepolisaan atau aliansi mereka tahu bahwa andalah dalang di balik semua ini …". I-pin pun mendengar dengan serius setiap kata yang terucap klien mereka di seberang telepon—walau gadis itu sama sekali tak menunjukan ekspresi serius sedikitpun. " … dan aku harap anda segera mengirim setengah bagian sisanya dari biaya penyewaan jasa kami". I-pin terus berceloteh riang dengan klienya sebelum menutup telepon. Gadis keturunan Cina itu langsung berlari menuju Lambo yang sudah lebih dulu pergi dari tempat berdarah ini.

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

Orang-orang berbalut pakaian tebal memenuhi jalanan Kota Milan lebih tepatnya kawasan Duomo yang terkenal dengan berbagai macam butik mulai dari butik terkenal hingga biasa—semua tersedia lengkap disana. I-pin yang notabane adalah seorang wanita pasti akan langsung berbinar-binar ketika mengunjungi Doumo, apalagi melihat berberapa pakian yang terpajang di etelase toko. Walau dirinya seorang pembunuh berdarah dingin, tetap saja di adalah seorang wanita yang akan terpikat dengan mempercantik diri.

"Ne ne Lambo! Kau lihat itu!" tunjuk I-pin dengan antusias pada salah satu pakaian yang dipajang di etelase toko. "Pasti akan sangat cantik bila aku mengenakannya di pesta Natal esok!".

Lambo tak memperdulikan dan terus saja berjalan—walau ia sempat melirik tapi langsung alihkan wajahnya sebelum gadis itu sadar. Tiga puluh menit sudah Lambo dibuat stress dengan kelakuan rekan misinya itu. Tiap kali ia melewati salah satu outlet, pasti ada saja celotehan berisik yang membuat telinganya sakit. Inilah mengapa ia benci mengambil misi di Negara-negara seperti Itali atau Perancis yang terkenal dengan pusat mode. Lambo pasti akan dipaksa untuk menemaninya berkeliling dan menjadi pesuruh untuk membawakan semua belanjaanya.

"OI! Apa kau tak bisa jaga sikap?". Lambo mendesis memandang I-pin yang kini telah beralih pada outlet lain. "kau itu masih bocah berumur tiga belas tahun! Bersikaplah selayaknya bocah tiga belas tahun!".

I-pin tersenyum mengejek ketika Lambo menasehati dirinya tentang kelakuannya tak wajar. Sadarkah dia lah yang lebih tak wajar. "Oh ayolah Lambo~~ apa salahnya bersikap dewasa? Lagipula kita telah selesai melaksanankan misi bukan? daripada itu harusnya kau sadar diri, mana ada bocah tiga belas tahun yang meghabiskan waktu berbelanja senjata-senjata di pasar gelap".

Seakan tak peduli bahwa mereka berada di pusat keramaian, I-pin dengan lantangnya mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tak pantas diucapkan anak seumuran mereka. Lambo merutuki kobodohan I-pin yang selalu bicara tanpa peduli suasana. Pemuda itu langsung berjalan tak memperdulikan I-pin yang berteriak memanggilnya dari belakang.

"Mou~~ Lambo selalu saja jahat pada I-pin!" ucap sebal I-pin ketika berhasil mengerjar partnernya tersebut. Lambo hanya terus berjalan tanpa memperdulikan I-pin yang tengah menceramahinya. Ia sudah biasa menhadapi I-pin, bila gadis itu sudah masuk mode ceramah.

Langkahnya terhenti ketika manik hijaunya menakap sosok gadis kecil berusia kurang lebih tujuh tahun tengah menggandeng tangan adiknya yang terus menangis.

Gadis kecil yang memiliki perawakan seperti gadis penjual korek api itu tengah menjajakan barang dagangannya yang berupa sapu tangan berbagai macam warna. Dengan giat ia berusah untuk menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang agar mau membali sapu tangannya walau hanya sahelai. Sayangnya tak satupun dari orang-orang tersebut membeli barang dagangan sang gadis kecil. Bahkan untuk sekedar berempati ataupun menaggapinya saja tak ada.

Lambo pun memisahkan dirinya dari I-pin yang masih sibuk mengoceh. Kedua kakinya melangkah menuju gadis kecil tersebut. Merasa mendapatkan pelanggan, gadis kecil itupun menatap Lambo dan berniat menawarkan barang dagannya. Namun begitu melihat wajah Lambo yang tak bersahabat, membuat sang gadis kembali mengurungkan niatnya.

"Apa yang kau jual?" Tanya Lambo to the point. Walau ia sendiri sudah tahu barang dagangan milik gadis tersebut.

"A-ano … a-aku menjual sapu tangan rajutan buatan ibu kami". Ucap gadis itu sedikit menunduk—takut melihat wajah Lambo yang cukup menyeramkan untuk bocah berumur tigas belas tahun.

Lambo mengangguk kecil dan melihat sapu tangan yang dimaksudkan sang gadis itu. Sapu tangan itu terlipat rapi dengan pilihan berbagai warna yang menurut Lambo terlalu mencolok—Lambo lebih suka warna yang bersifat muram seperti warna hitam. Tak hanya itu saja setiap sudut sapu tangan terdapat huruf alfabet yang disulam begitu rapi dan indah. Ia pun mengambil salah satu sapu tangan berwarna hijau cerah dengan huruf I latin yang tersulam rapi di salah satu sudut.

"Berapa harganya?"

"€2".

Lambo sedikit terkejut, untuk sapu tangan secantik ini, gadis tersebut menjual dengan harga yang bisa dikatakan sangat murah. Kalau saja ia tahu harga sapu tangan sejenis dijual cukup mahal di toko-toko, mungkin harga yang dikenakan bisa mendekati harga toko. Namun yang Lambo saksikan sekarang adalah harga yang ditawarkan tak menyampai setengah dari harga yang sepantasnya.

"Kenapa dijual murah? Sapu tangan macam ini bisa kau jual dengan harga yang lebih tinggi".

Mendengar ucapan Lambo, tiba-tiba gadis itu menangis—berbalik dengan sang adik yang sudah terdiam dan memandang kakaknya bingung. Andai saja Lambo memiliki sedikit perasaan yang peka, bocah itu mungkin akan gelagapan—takut dikira sedang menggoda anak-anak seperti yang dilakukan orang-orang Pedofil. Namun sayangnya hati sang hitman kecil sudah terlalu membeku untuk merasakan perasaan semacam itu.

"Su-sudah tiga hari tak ada satupun orang yang mau membeli sapu tangan ini" jelas gadis itu dengan sedikit terisak-isak. "Ibu kami sedang sakit dan membutuhkan obat, belum lagi adik ku ini ingin mendapatkan hadiah kado natal. Jadi aku terpaksa menjual dengan harga murah agar cepat mendapat uang untuk membeli obat dan kado untuk adik kecilku".

Lambo terdiam. Ia tahu gadis di depannya ini tidaklah berbohong. Ia tahu karena pernah merasakan kehidupan keras yang dilalui gadis tersebut. Lambo benar-benar membenci dunia ini, kenapa mereka yang berhati mulia dan tak tahu apa-apa harus merasakan pahitnya kehidupan, sedangkan mereka yang tamak dan hanya memikirkan dirinya sendiri terus mendapatkan nikmat yang melimpah ruah.

Lambo tak percaya adanya Tuhan atau segala hal yang pernah ia dengar ketika seorang pastur tengah memberi ceramah. Kalau memang Tuhan selalu melindungi orang-orang baik, kenapa masih ada orang-orang baik di luar sana yang terus merasakan penderitaan. Dunia ini busuk dan Lambo paham betul akan hal itu. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kehiduapan yang layak adalah berjuang sendiri tanpa perlu menggantungkan pada orang lain termasuk meminta doa pada Tuhan. Karena Lambo tak percaya dengan keberadaan Tuhan.

Ia pun menepuk pelan bahu sang gadis dan menampilkan sebuah senyuman yang sangat jarang ia tunjukan pada orang lain—bahkan termasuk I-pin sendiri. "Tunggu disini sebentar. Ada yang ingin kuberikan padamu".

Gadis itupun mengagguk dan tanpa menunggu waktu Lambo segera melesat pada salah satu toko yang ada. Tanpa ia sadari I-pin sejak tadi terus memandang Lambo. Gadis keturunan cina itu tersenyum ketika Lambo menunjukan rasa pedulinya pada orang lain dengan caranya sendiri.

"Nampaknya Natal kali ini akan lebih ramai dari biasanya".

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

Sesampainya di Hotel, Lambo langsung masuk kamar dimana ia menginap, mengunci rapat-rapat dan membiarkan I-pin yang berada diluar dengan segala kebodohan yang ia miliki. Bagaimana tidak, setelah memberikan banyak bungkusan berupa pakaian baru, maianan dan tak lupa uang dalam jumlah yang cukup banyak pada sang gadis penjual sapu tangan, selama sisa perjalan menuju hotel dimana mereka menginap I-pin terus-terusan menggodannya hingga kepalanya seresah akan pecah kapanpun.

Gadis keturunan cina itu memang selalu mencuri kesempatan bila mendapati Lambo tengah melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dari biasanya—melakukan hal-hal yang tak membuat Lambo seperti boneka tanpa jiwa.

Ia benar-benar tak paham bagaimana bisa gadis berisik macam I-pin bisa dikenal sebagai seorang Hitman jenius yang selalu dapat menyelesaikan misi tanpa kecacatan sedikitpun. Tingkah lakunya yang kekakanakan lebih mirip seperti gadis biasa berusia tiga belas tahun daripada seorang hitman. Berbeda dengan dirinya yang jauh dari kata bocah tiga belas tahun yang normal.

Namun sebegitu tak sukannya Lambo pada sosok I-pin, ia tak bisa memungkiri bahwa gadis itulah yang telah merubah hidupnya, menyelamatkannya dari jurang kebusukan dunia kesedihan. Lambo masih mengingat ketika ia pertama kali bertemu I-pin, ketika ia masih berupa seorang bocah menyedihkan yang selalu mendatangi makam kedua orang taunya di hari natal. Waktu ia berharap mati untuk kesekian kalinnya, walau ia sendiri tahu harapannya tak akan pernah terkabul. Namun malam itu berbeda, sebuah tangan putih terjulur kepadanya, seorang gadis seumuran dengannya menatapnya dengan sebuah senyum seperti seorang malaikat.

Ayo kita rubah dunia yang tak adil ini bersama.

Entah apa yang dipikirkan Lambo waktu itu. Ia mau saja menerima uluran tersebut—membiarkan sang gadis menariknya ke sebuah mobil hitam. Esoknya ia tahu bahwa gadis itu bernama I-pin dan yang lebih mengejutkannya lagi, gadis itu adalah seroang calon hitman yang dididik secara langsung oleh organasi yaḡmur. Sejak itulah kehidupan Lambo berubah. Dia bukan lagi bocah menyedihkan yang selalu ingin mati. Lambo telah tumbuh menjadi sosok Hitman yang berjuang untuk hidup demi dirinya sendiri. Membuktikan pada orang-orang bahwa ia bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Tanpa sadar Lambo tertidur di atas sofa yang tersedia di kamar itu. Pikirannya sudah melayang pada masa lalunya, selain itu pekerjaan hari ini yang cukup berat membuat bocah itu langsung tertidur bagai bayi manis. I-pin pun nampak sudah kembali ke kamarnya—melihat suara ribut gadis itu tak terdengar lagi dari luar.

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

Pagi itu Lambo sengaja untuk bangun kesiangan. Biasanya bocah yang memiliki nama mirip dengan salah satu merek mobil terkenal tersebut selalu bangun sebelum matahari terbit—sekedar utuk olahraga agar badan tak kaku ketika menebas target ketika menjalankan misi.

Dengan langkah malas, Lambo berjalan bagai orang mabuk menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan wajah. Dirasa cukup rapi, ia pun membongkar pakaian yang berada di koper—memilih pakian casual, menginta hari ini mereka akan terbang ke Jerman.

Lambo pun meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju kamar I-pin yang tak jauh dari kamarnya menginap. Mereka mengambil kamar berbeda dengan alasan tak ada kecocokan satu sama lain bila sekamar. Ada saja hal-hal yang mereka ributkan bila sekamar. Pernah sekali ketika mereka terpaksa sekamar karena waktu itu kamar hotel hampir semua telah terisi penuh. Tak sampai dua jam lamanya sebuah suara tembakan terdengar dari kamar Lambo dan I-pin. Mereka saling melepas tembakan hanya gara-gara berebut siapa yang mandi terlebih dahulu. Untung saja mereka seorang Hitman, sehingga petugas Hotel tak mau repot-repot menegur mereka, walau pada akhirnya mereka tetap membayar uang ganti rugi.

Katika hampir mencapai kamar i-pin ia melihat gadis yang sedang ia cari berlari dengan tergesa-gesa menuju Lift. I-pin tak menyahut ketika Lambo memanggil namanya, nampaknya gadis itu terlalu fokus pada sesuatu yang membuat ia sampai tergesa-gesa seperti itu. Lambo pun hanya mendecih tak suka dan mengikuti kemana I-pin pergi.

Dilihat dari nomor lantai yang dituju oleh I-pin, ia pun segera beranjak ke lift satunya dan memencet nomor lantai yang sama. Tak sampai lima menit, Lambo telah sampai ke lantai dua. Netra hijuanya melihat sekilas I-pin sebelum gadis itu menghilang dibalik tikungan lorong. Lambo pun mempercepat langkahnya, dilihat dari gelagat I-pin yang tak seperti biasanya, Lambo berpikir pasti ada sesuatu yang tak beres. Ia pun melihat I-pin masuk ke dalam restoran yang tersedia di dalam hotel.

Saat akan masuk ke dalam restoran, kedua indra pendengarannya menangkap suara yang sangat familiar sekaligus ia benci. Lambo mengurunggkan niatnya dan mencari jendela—berusaha mengintip dan memastikan bahwa apa yang didengarnya adalah salah. Ketika ia menemukan jendela yang dimaksud kedua netra hijau itu langsung membulat terkejut begitu melihat I-pin tengah bercengkrama dengan sesorang dari balik jendela tersebut.

"Apa yang dilakukan orang itu disini!"

Lambo menatap Balphegor dari balik jendela dengan tatapan marah. Seorang hitman yang sama dengannya sekaligus seorang yang selalu ingin Lambo bunuh.

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

Bersambung …

##############################################################

Wow tak menyangka bisa lanjut hingga Chapter 10!

Padahal ide tentang nie fanfic terlintas setelah membaca salah satu manga berjudul Plantinum End

Terima kasih atas kritik serta saran yang diberikan! Terlebih lagi pada kalian yang telah mengikuti dan menjadikan fanfic ini sebagai fanfic favorit kalian!

Sekali lagi Koro-kun mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya!