Chapter 10 – Full Moon as Red as Blood
.
Summary
Akhirnya Yona dkk sampai di Sensui, tempat Lily berada, selain untuk memenuhi permintaan Lily, mereka juga ingin mencari seseorang yang telah menyuruh para bandit untuk menangkap gadis berambut merah yang ia cari. Tak disangka, saat mereka tiba di Sensui, ternyata mereka langsung menemukan orang yang ingin mereka cari karena orang itu menculik Lily. Saat Yona dkk hendak menyelamatkan Lily ke tempat dimana Lily disekap, terdapat garis pembatas alias kekkai yang membuat mereka tak bisa lewat, kecuali Zeno, Yona dan Hazuki sehingga Hak dan yang lain terpaksa mempercayakan Yona dan Lily pada Zeno dan Hazuki. Pada saat bulan purnama di malam itu berubah menjadi merah, saat itu pula darah kembali tumpah.
Sesampainya di Sensui, mereka segera ke kediaman Lily. Tapi setibanya disana, mereka dibuat terkejut karena Ramul menyambut mereka dan langsung meminta bantuan.
"tenang dulu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kija.
Singkat cerita, selagi Lily pergi dari Sensui dan Yona dkk disibukkan insiden di Xing, masuk laporan ke kemiliteran di wilayah suku air bahwa terjadi penculikan yang berujung pada pembunuhan berantai. Korbannya adalah keluarga bangsawan dan saudagar kaya, dan kali ini Lily yang diculik.
"nona Tetora dan nona Ayura pergi mencari nona Lily ke tempat yang diberitahukan si penculik berdasarkan surat peringatan dan mereka berdua masih belum kembali hingga kini..." ujar Ramul setelah menjelaskan modus operandi si penculik dimana mereka hanya punya waktu 24 jam untuk menemukan Lily.
"sebelumnya, kenapa kalian bisa tahu kalau penculikan dan pembunuhan berantai ini ulah orang yang sama?" tanya Yun.
"oh, karena si penculik akan meninggalkan tanda pada korban yang ia bunuh setelah ia culik... setelah si penculik melakukan penculikan dan mengirimkan surat peringatan untuk meminta tebusan, mereka akan mengambil uang tebusan dan memberitahu tempat keberadaan korban yang ia culik... jika tak bisa menemukan orang yang diculik dalam 24 jam setelah ia mengambil uang tebusan dan memberitahukan lokasi korban penculikan, orang yang diculik akan dibunuh, selama ini korban penculikan dibunuh dengan cara yang sama, yaitu dipenggal kepalanya... semua surat yang dikirimkan si penculik memiliki sebuah simbol yang sama pada akhir surat sehingga kami memperkirakan kalau si penculik dan pembunuh berantai merupakan orang yang sama...".
Mendengar penjelasan Ramul, Hazuki meminta Ramul memperlihatkan surat yang dikirimkan oleh si penculik. Terdapat tanda mata satu yang ditulis dengan tinta merah sementara tulisan di kertas itu ditulis dengan tinta hitam.
"tanda ini... ini bukan tinta, tapi darah..." ujar Hak melihat surat itu.
"sudah berapa lama Tetora dan Ayura pergi?" tanya Jae Ha.
"itu dikirimkan pagi tadi dan keduanya langsung pergi setelah memberikan itu pada kami, tapi sampai sekarang mereka belum kembali" ujar Ramul.
"itu berarti kita hanya punya waktu sampai besok pagi" ujar Kija.
"dan sebentar lagi matahari terbenam, akan sulit melakukan pencarian" ujar Yona.
"minta saja Seiryuu melihat dimana lokasi mereka sekarang" ujar Zeno.
Ramul membawa mereka ke hutan tempat Ayura dan Tetora pergi "mereka masuk ke hutan ini...".
"hanya berdua? Kenapa kalian tak mendampingi mereka?" tanya Kija.
"sebenarnya kami sudah mencoba mengirim pasukan kami, tapi..." ujar Ramul mengulurkan telapak tangannya ke samping "anda akan mengerti apa yang terjadi saat kami mencoba masuk ke hutan...".
Begitu Yona dkk mencoba masuk, muncul kekkai yang membatasi gunung, mengelilingi hutan. Muncul semacam tulisan pada kekkai yang ada di gunung itu.
"apa ini? siapapun tidak diizinkan masuk ke hutan ini kecuali wanita dan yang berusia di atas 80 tahun..." ujar Yun.
"aku mengerti, sepertinya ini ilmu sihir gabungan dari mantera dan kekkai... jenis ini hanya bisa hilang jika kita jatuhkan si pemakai ilmu sihir... yang berarti, kecuali yang diizinkan, tak ada yang bisa masuk ke hutan... cerdas juga" ujar Hazuki.
"jadi yang bisa masuk hanya Zeno, nona dan ratu?" gumam Zeno.
"kenapa kau jadi ikut-ikutan memanggilku ratu, Zeno?".
"kalau begitu, nona besar?".
"baik, baik, terserah kau sajalah..." ujar Hazuki mengayunkan tangan.
Hak berpikir sejenak "Hazuki, apa jadinya jika kugunakan Kokuryu?".
"tidak boleh!?" teriak Yona dan Yun.
"jangan?! Kau mau mati lagi, apa?!" ujar Kija mencengkram kepala Hak dan Shina memegang bahu Hak.
"masalah mengendalikan kedua hewan buas dalam tubuhmu itu... untuk sekarang, karena situasi darurat, Yona..." ujar Hazuki menoleh ke arah Yona "bisa bayangkan bagaimana sosok gadis yang bernama An Lily itu?".
Setelah Yona melakukan apa yang diminta Hazuki, Hazuki mendorong Yona dan Zeno keluar kekkai "kalau begitu, mudah... aku cukup membawanya lari setelah menemukannya... Yona, kau tinggal saja di tempat yang aman disini...".
"tunggu, kau mau pergi sendiri? jangan nekad?!" protes Hak.
"tidak apa-apa... jika bertemu dengan mereka, maka aku cukup membunuhnya...".
Melihat sorot mata Hazuki yang dingin, Yona merasa tak bisa membiarkannya "tapi...".
"nyawa temanmu yang berharga dalam bahaya, memang ada pilihan lain? Lagipula, ini bukan pertama kali aku terjebak dalam situasi berbahaya begini..." ujar Hazuki garuk-garuk kepala dan menyentil dahi Yona "membunuh satu nyawa atau seribu nyawa, itu sama saja bagiku... sekali tanganmu dilumuri darah, darah yang menempel takkan hilang... lebih baik kau diam saja di tempat aman, tuan putri...".
"posisi kita sama, jadi jangan memanggilku tuan putri dan biarkan aku ikut denganmu!? apa artinya teman bagimu, jika kau bertarung sendirian?" ujar Yona maju dan menatap Hazuki.
"Zeno juga ikut~" ujar Zeno mengikuti Yona.
Hazuki menghela napas berat "kau ini susah dibilangin, ya...".
"menyerah saja, sekalinya dia bilang ikut, dia takkan mengubah keputusannya..." ujar Yun melambaikan tangan.
"nona Hazuki, apa anda... tahu siapa penjahat yang melakukan penculikan dan pembunuhan berantai ini?" tanya Kija.
"ekspresimu saat melihat tanda itu, itu jelas-jelas ekpresi yang mengatakan kalau kau tahu siapa yang bergerak di balik kekacauan ini, terlihat dari keyakinan di sorot matamu" ujar Jae Ha.
"dan yang terpenting, meski hanya sesaat... terasa hawa membunuh darimu... meski kau berusaha menyembunyikannya setelahnya" ujar Hak.
"benar, aku mengenalnya... dia buronan kerajaan Xing yang pernah kuburu, jika kita beranggapan bahwa gadis berambut merah itu dicari olehnya, maka kemungkinan dia mengincarku..." ujar Hazuki berdecak pinggang dan menghela napas "dia mantan algojo di kerajaan Xing, setelah bertahun-tahun menyiksa tahanan dan melakukan eksekusi hukuman mati pada tahanan sebagai tugasnya, sepertinya itu menjadi hobi baginya... merasa tak puas melakukannya di penjara, dia melakukannya pada warga biasa dan menjadi buronan... saat aku menemukannya pertama kali, dia baru saja memenggal kepala seorang wanita yang hamil muda... kau bisa tebak reaksiku setelahnya, andai Kyouka yang tak ingin melihatku membunuh orang tak menahanku, dia sudah mati di tanganku saat itu... sayang sekali, dia lolos saat kami ingin menangkapnya, meski setelah itu tak terdengar lagi kabar soal dia di kerajaan Xing... dia masih hidup dan akan kupastikan dia mati kali ini".
Yona menggenggam tangan Hazuki "aku takkan melarangmu membunuhnya, tapi Lily adalah temanku yang berharga... aku tak ingin kehilangannya, jadi biarkan aku menyelamatkan Lily sementara kau menyelesaikan urusanmu... lagipula, kurasa tak masalah karena ada Zeno".
Hak dan yang lain terpaksa mempercayakan masalah ini pada mereka bertiga.
"kurasa, kehidupan yang dijalani adikmu cukup keras..." ujar Jae Ha melihat sosok punggung mereka bertiga yang berlari meninggalkan tempat itu.
"kau bicara begitu karena melihat dinginnya sorot mata nona Hazuki barusan?" gumam Kija yang berpendapat sama.
Hak hanya diam, tapi bukan berarti ia tak memikirkannya. Sebagai kakak kembar Hazuki, Hak sudah terpisah selama 15 tahun dan ia buta soal apa yang terjadi pada Hazuki dalam kurun waktu tersebut sehingga ia sendiri tak tahu harus bicara apa soal adik kembarnya. Yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menunggu sementara Shina bertugas sebagai pemantau. Untungnya, lokasi Zeno, Yona dan Hazuki saat ini masih masuk dalam jarak pandang Shina sehingga mereka masih bisa mengetahui apa yang terjadi dari tempat mereka saat ini. Sejauh ini Yona dan Hazuki masih belum bertemu siapapun, sedangkan Zeno berjalan di depan untuk berjaga-jaga.
Tiba-tiba, Zeno berhenti dengan mata terbelalak "...Kaya?".
Detik berikutnya, saat Zeno berlari menghampiri bayangan seseorang yang ia lihat, ia terkena jebakan jaring. Saat Hazuki berhasil mengeluarkan Zeno dari jaring, muncul seorang pria kekar bertubuh besar bersama 3 pria yang masing-masing menahan Lily, Ayura dan Tetora yang diikat.
"Lily, Ayura, Tetora!?".
"Yona, jangan kemari?! Pria gila itu berbahaya?!" teriak Lily.
"benar, ikuti apa katanya, nona... aku hanya punya urusan denganmu, Scarlet..." ujar pria yang terlihat sebagai pemimpin mereka, ia mengacungkan pedangnya ke arah Hazuki.
Hazuki menyeringai "kau memanggilku begitu lagi, Kubikiri... sebelumnya, kenapa kau memanggilku begitu?".
"karena itu warna rambutmu yang indah, merah seperti darah...".
Hazuki memainkan rambutnya dan tersenyum sinis "baru-baru ini, ada beberapa bandit yang menyerang kami dalam perjalananku kemari... apa itu kau?".
"itu memang aku, karena aku ingin bertemu denganmu... aku jatuh cinta pada sosokmu yang begitu cantik, angkuh dan kejam sejak pertama kali bertemu... sejak terakhir kali melihat sosokmu, aku merindukanmu... sambil menunggu saat bisa bertemu kembali denganmu, aku bermain-main sedikit...".
"kau jatuh cinta pada wanita yang berusaha membunuhmu? dasar sinting... tapi baguslah..." ujar Hazuki menghunuskan pedangnya dan menyeringai "karena sama seperti kau, aku juga ingin bertemu denganmu... aku sangat merindukanmu, untuk membunuhmu...".
"tak sabaran sekali... tenang saja, aku akan menjadikan kepalamu sebagai koleksi terbaikku?!" ujar Kubikiri mengayunkan pedangnya.
"Yona, Zeno, urus Lily dan kedua pengawalnya saat aku menghadapi si gila ini?!" ujar Hazuki menghadapi Kubikiri.
"hebat..." komentar Shina yang melihat pertarungan Hazuki dan Kubikiri dari jauh.
"Shina, perlihatkan padaku apa yang kau lihat" ujar Hak memegang bahu Shina dari belakang.
"tunggu, apa maksudmu, Hak?" tanya Kija.
Tampaknya Hak mendapat telepati, mirip dengan Reishi milik Hazuki, bedanya saat ini Hak hanya bisa sebatas melihat dan memperlihatkan apa yang ada di dalam pikirannya atau orang lain dengan sentuhan. Jae Ha, Kija dan Yun yang juga penasaran ikut melihat apa yang dilihat Shina melalui Hak.
Terlihat Zeno dan Yona berhasil menyelamatkan Lily, Ayura dan Tetora setelah Yona dan Zeno melumpuhkan ke-3 pria itu dan melepaskan tali yang mengikat mereka bertiga. Saat Tetora dan Ayura mengikat ke-3 pria itu, Yona melindungi Lily dan Zeno ikut membantu Hazuki. Anehnya, saat Kubikiri melompat ke belakang dan menatap mereka semua, mereka semua berhenti bergerak termasuk Zeno yang hampir memukul Kubikiri.
Kubikiri menusuk Zeno dan melontarkan Zeno ke semak-semak di belakangnya sambil tertawa keras "kalian terkejut? Ini ilusi penglihatan... seseorang yang paling kau cintai akan muncul di hadapan kalian... kalian akan tenggelam dalam kenangan kalian sendiri dan bersatu kembali dengan seseorang yang paling berharga baginya... sekali terkena, ilusi ini tak mudah untuk dipatahkan...".
"jadi rupanya Zeno melihat Kaya karena ilusi itu..." ujar Zeno keluar dari semak-semak "sekarang bagaimana? aku tak bisa menyerangnya sembarangan meski aku tahu sosok Kaya di hadapanku ini hanya ilusi...".
"benar, tak peduli seberapa kuat orang itu, tak mungkin ada seseorang yang akan membunuh orang yang paling ia cintai?!" ujar Kubikiri maju dan mengayunkan pedangnya pada Hazuki.
"Hazuki!?" teriak Yona mengarahkan anak panahnya "tidak bisa!? meski aku tahu sosok Hak di hadapanku adalah ilusi, tapi...".
Tak disangka, Hazuki sama sekali tak gentar, ia menebas Kubikiri dan berhasil melukai bahu Kubikiri.
Kubikiri yang terkejut berlutut sambil menahan luka di bahunya "tak mungkin... seharusnya kau melihat seseorang yang kau cintai!? Kenapa tak mempan...".
"mempan, karena aku memang melihat orang yang kucintai... aku sangat ingin bertemu dengan orang itu karena aku sangat merindukannya... meski ini ilusi, tak masalah..." sahut Hazuki maju sambil menggoreskan ujung pedangnya ke tanah dan menatap tajam "tapi... justru karena aku sangat mencintainya... aku ingin sekali membunuhnya secepat mungkin...".
Kubikiri berdiri, ia tak ingin pasrah saja dibunuh dan kembali melawan.
"akan kuselesaikan dengan cepat... Yona, tutup matamu..." ujar Hazuki tersenyum saat melihat ke belakang.
Melalui Shina, Hak dan yang lain melihat Hazuki berhasil mematahkan pedang Kubikiri.
"matilah..." gumam Hazuki sebelum menebas leher Kubikiri.
Melihat Kubikiri sekarat, Hazuki menatapnya "Kubikiri... ah, bukan... Goon, terima kasih... karena berkat ilusimu, aku bisa melihat sosoknya sekali lagi...".
"tidak kusangka... kau tahu namaku... andai kau yang menjadi ratu kerajaan Xing... terima kasih... tuan putri..." ujar Kubikiri (si pemotong kepala), Goon yang tersenyum sambil meneteskan air mata sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Melihat punggung Hazuki dari belakang, Yona merasa khawatir dan menghampirinya karena lagi-lagi, ia merasakan hal yang sama, perasaan khawatir yang muncul karena satu hal yang ia rasakan dari Hazuki "Hazuki...".
"Yona, kumohon... jangan tanyakan apapun dan jangan katakan apapun..." ujar Hazuki mendongak.
"tapi..." ujar Yona memegang lengan Hazuki, ia terbelalak saat melihat Hazuki menatap bulan purnama sambil meneteskan air mata.
Hazuki menyeka air matanya dan tersenyum sambil menepuk kepala Yona "tenang saja, aku tak apa-apa... ini hanya karena aku terkejut... jangan katakan apa yang kau lihat pada kakakku, ya?".
Yona tidak tahu harus bereaksi apa selain menganggukkan kepala dan memeluk Hazuki "iya".
Sayangnya, mereka tak tahu kalau Hak melihat semuanya melalui mata Shina.
"Hazuki... dia menangis..." ujar Shina menoleh ke arah Hak yang menggelengkan kepala "tolong, jangan tanyakan apapun padanya... biar aku yang akan menginterogasinya...".
Sebelum mereka kembali, Hazuki sempat menghipnotis Tetora dan Ayura agar keduanya tutup mulut, sementara Lily dan Zeno diminta oleh Yona untuk tutup mulut.
Begitu tiba di tepi gunung, setelah memastikan Yona baik-baik saja, Hak memeluk Hazuki dan berbisik "jangan nangis sendirian, bukan hanya kau yang menderita...".
Teringat apa yang terjadi barusan, Hazuki menangis, air matanya terus keluar tanpa bisa ia kontrol sambil memeluk Hak. Hak hanya bisa diam sambil menepuk-nepuk punggung, kepala dan rambut Hazuki yang terus menangis di gendongannya selama mereka berjalan ke kediaman Lily. Setibanya di kediaman Lily, Hazuki sudah terlelap karena kelelahan menangis. Merasa khawatir dengan Hazuki, Yona akhirnya meminta Hak dan Hazuki tidur bersama di kamar Lily, dimana Yona dan Lily tidur di atas ranjang Lily sementara Hak tidur di kasur yang digelar di atas lantai bersama Hazuki.
