Misa: makasi review nya ^^ cinta segitiga? (*tring! lampu di otak wa nyala tiba-tiba)
black roses 00: ahahaha, ga cm lu xun, ling tong ma gan ning jg, jd sepi y.. (bilang aja lg butek *keplaak) tenang, tenang, skrg wa balikin mereka, wa munculin lgi dh XD btw, ni cerita beneran jd panjang y?
MrsGoldenweek: yayaya, wa baca n wa suka, mantab, update y.. XD
for all: makasie yaaa... wa juga suka ma quan d ch 9 (catet, sblm balik dr kota-yg pas adu argumen ma shangxiang ^^) terusss, setela dpikir2 jadinya malah ky gini..hehe.. abis ni bakal ada kejadian kaya yang dibilang kakek.. well, enjoy..
...
Sesampainya di gerbang istana,
"Hey! Kalian bersenang-senang tanpa mengajakku! Aku kembali dan hanya menemukan Zhou Tai sedang berlatih pedang. Lalu Da dan Xiao yang sedang menjahit. Pemandangan yang membosankan!" Sambut Gan Ning dengan bersungut-sungut.
"Apa boleh buat, kami hanya ingin mengajak Yu Na berkeliling. Lagipula kau kan sedang ditugaskan Xing Ba." Jawab Sun Quan sambil membantuku turun dari kuda. Gan Ning masih cemberut tapi kemudian dia bertanya,
"Siapa kedua orang ini?" Saat ia melihat Xiao En dan ibunya.
"Ooh mereka orang yang akan bekerja di istana." Jawab Shang Xiang. Lalu ia memerintahkan pengawal untuk membawa kedua orang itu ke ruang khusus pengawal dan ruang khusus pelayan. Setelah memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, ibu dan anak itu mengikuti pengawal.
"Kapan kau kembali?" Tanya Sun Quan pada Gan Ning saat kami melintasi lorong istana. "Sore ini." Jawab Gan Ning. "Bahkan harusnya siang tadi, kalau saja Taishi Ci tidak pulang dulu melihat ibunya. Tuan Sun Jian dan Sun Ce berhasil di provinsi Jing, tapi mereka berencana menetap dulu disana beberapa hari. Bo Yan dan Gong Ji baru akan sampai besok. Entah apa yang mereka kerjakan disana. Sementara para Jendral lain mungkin juga akan sampai besok." Lanjutnya.
"Kenapa ayah tidak langsung pulang saja ya?" Tanya Shang Xiang pada kakaknya. "Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Sun Quan. Sementara aku hanya diam. Kami kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
...
"Fiona.." Aku terbangun, suara kakek!
"Kakek? Kakek, kakek kenapa?" Aku terkejut melihat kakek berlumuran darah. Sudah kubilang aku benci darah!
"Tidak apa-apa. Ada yang harus kukatakan padamu. Dengarkan. Akan ada pertumpahan darah. Kau harus bisa bertahan hidup disini. Aku tidak tahu berapa lama, nanti portalnya akan muncul kembali. Uhuk.." Dia terbatuk dan lagi-lagi muntah darah.
"Kakeekk.." Dia memegang pundakku.
"Kau memiliki musou untuk menyembuhkan luka orang, tapi tidak bisa menghidupkan orang mati. Gunakan kekuatanmu saat dibutuhkan. Kau.. Harus bertahan hidup.. Satu hal lagi, jangan mengubah sejarah.." Aku tidak mengerti. "A..apa maksudnya kek?" Tapi kakek tiba-tiba menghilang lagi. "Kakek? Kakeekk..?"
...
Astaga, aku bermimpi lagi. Saat bangkit untuk mengambil minum mataku tertuju pada sesuatu di atas meja. Wah, rangkaian bunga anyelir putih yang cantik! Dan, hm? Ada bingkisan kecil diantara bunga-bunga ini. Saat kubuka ternyata isinya jepitan rambut yang sangat cantik, ditengahnya dihiasi bunga kecil dari batuan yg berkilau. Untuk siapa ya? Untukku?
Tok..tok..tok.. "Nona Li, sudah bangun?"
"Ah bibi Chu masuklah." Sahutku. Bibi Chu masuk. "Selamat pagi nona. Aku membawakan teh untukmu."
"Bi, ini untuk siapa?" Tanyaku menunjuk rangkaian bunga tersebut.
"Hm? Bunga yang cantik ya, bibi rasa ini untukmu, karena diletakkan di kamarmu nona Li."
"Lalu siapa yang meletakkannya? Kenapa dia tidak membangunkanku? Kapan dia meletakkannya? Untuk apa?"
Aku memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Bibi Chu hanya tersenyum, "Bibi juga tidak tahu. Tapi dari cara meletakkannya sepertinya dari seorang pria. Mungkin seseorang yang menyukaimu nona Li." Wajahku memerah, "Eeh? Bukan Da atau Xiao?"
"Karena ini sepertinya dirangkai sangat teliti dan penuh perasaan. Lihatlah. Dia benar-benar sangat berusaha, menurutku dia sangat menyukaimu. Dan, ada hadiah juga ya?" Tanyanya saat melihat kotak kecil berisi jepitan itu. "Nona ternyata memiliki pengagum rahasia ya." Sambungnya sambil tersenyum. Aku cemberut. "Kenapa harus dirahasiakan?" Tanyaku.
"Mungkin dia malu, atau tidak yakin kau akan membalas perasaannya."
"Lalu bagaimana aku bisa mengetahuinya? Bagaimana aku bisa berterima kasih padanya?"
"Anu.. Menurut bibi, nona pakai saja jepitan ini. Nanti mungkin bisa terlihat perubahan wajah orang yang memberi ini."
"Aaah, ya! Benar bi! Kenapa tidak terpikirkan olehku ya? Terimakasih bibi Chu." Aku memeluknya.
"Hahahaha, ya, ya, nanti kalau sudah tahu jangan lupa beritahu bibi ya, bibi juga ingin tahu."
"Aaah bibi ini ternyata juga penasaran ya, hahahaa.. Aku mau mandi dulu." Bibi Chu mengangguk dan menyiapkan perlengkapan mandiku.
"Yuuu Naa.. Ayo sarapaaan.." Teriak Gan Ning tepat saat aku selesai merapikan rambutku. "Wah, sudah dijemput nona Li. Jangan lupa nanti beritahu aku ya." Bisik bibi Chu. Aku tertawa, aku saja tidak yakin, lalu aku berjalan keluar menemui Gan Ning.
Ternyata dia tidak sendiri, ada Sun Quan bersamanya. Aku pun memberi hormat. "Tidak perlu begitu padaku Yu Na, tolong perlakukan aku sama seperti yang lain." Pintanya.
"Ta..tapi, a..anda kan.."
"Karena aku seorang pangeran?" Belum sampai kalimatku sudah dipotongnya. Aku mengangguk.
"Tapi aku merasa ada jarak, dan aku tidak ingin itu. Jadi kumohon, jangan memberi hormat padaku seperti tadi. Kau tidak melakukannya pada Xing Ba kan?" Aku menggeleng. Seorang pangeran memohon? What the...?
"Ayo, aku sudah lapar. Yang lain juga pasti sudah menunggu. Hari ini yang memimpin kau Zhong Mou, karena tuan Sun dan Bo Fu belum kembali. Hey, Yu Na jepitan mu bagus, cocok sekali!" Kata Gan Ning padaku. Aku tersenyum, "Terima kasih." Hmm bukan dia, batinku. Sementara Sun Quan hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Jangan-jangan.. Ah tidak mungkin! Tadinya aku sempat berpikir itu dari Lu Xun tapi dia kan belum kembali. Zhou Tai tidak mungkin! Masa orang yang cuma bicara sepatah dua patah itu bisa seromantis ini? Taishi Ci juga kurasa bukan, kami tidak begitu dekat. Apa paman Wang? Jiaaaahh, tidak mungkin! Bukan Sun Quan kan? Ta.. Tapi dari sikapnya.. Ma.. Masa sih..? Tapi kalau benar begitu.. Aarrgh.. Berbagai perkiraan itu menemaniku selama berjalan ke ruang utama.
Saat akan memasuki ruang utama aku melihat seseorang setengah berlari di depan kami.. "Hey, Gong Ji!" Teriak Gan Ning. Yang dipanggilpun melihatnya. "Kau tidak mengatakan sudah kembali." Lanjutnya. "Untuk apa?" Tanya Ling Tong dengan wajah bingung. "Master Lu Meng juga tidak mengatakan padaku kalau sudah kembali. Kenapa aku harus lapor padamu? Lagipula aku baru saja kembali dan aku lapar! Quan cepatlah.." Tambahnya memelas.
"Baiklah, baiklah.. Kita akan segera makan kalau semua sudah berkumpul." Sahut Quan.
"Semua sudah menunggu kecuali Bo Yan, anak itu masih menyempatkan diri mandi dulu setelah melakukan hal aneh itu semalaman." Jawab Ling Tong.
"Hal aneh?" Tanya Quan.
"Errr.. Mmm.. Maksudku.. Di.. Dia tidak tidur, ya.. Ya.. Mungkin dia memikirkan strategi baru.." Ling Tong seperti baru sadar dan berusaha menyembunyikan sesuatu. Hm? Benda apa itu yang dia sembunyikan di balik bajunya? Ling Tong dengan cepat menyembunyikan benda kecil itu. Ah, aku tidak melihat jelas.
"Ya sudahlah, anak itu kan memang aneh. Ayo, kita sebaiknya menunggu di dalam." Ajak Gan Ning. Kami pun masuk ke ruang utama dan menunggu yang lainnya.
Di dalam ternyata master Lu Meng, Zhou Tai, Taishi Ci, Shang Xiang dan Qiaos sudah menunggu. Sun Quan duduk di bangkunya tuan Sun Jian, sementara aku berjalan ke arah bangkuku. Saat melewati Shang Xiang yang duduk di bangkunya Sun Quan, Shang Xiang tersenyum usil kepadaku, "Bagaimana rasanya dibangunkan Gan Ning?" Tanyanya.
"Ha..?"
"Pasti dia melakukan hal aneh kan?"
"Ti..tidak juga.."
"Hey, Shang Xiang, aku membangunkannya dengan penuh perasaan.." Bantah Gan Ning.
"Tidak mungkin.. Sudah 5 orang yang jadi korbanmu. Paling tidak kau pasti meneriakinya kan?" Balas Shang Xiang.
"Aku tidak mungkin meneriakinya, aku hanya memanggilnya dengan sepenuh hati." Shang Xiang sweatdrop. Ling Tong baru akan berbicara tapi terhenti karena tiba-tiba Lu Xun muncul sambil terengah-engah. Benda tadi yang sempat dia keluarkan kembali disembunyikan di balik bajunya. Apa itu ya?
"Ma..maaf, aku terlambat.." Kata Lu Xun.
"Tidak apa-apa Bo Yan, duduklah.." Jawab Sun Quan. Lu Xun mengangguk dan mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan kebangkunya. Lalu..
"Ehm, karena banyak bangku yang kosong sebaiknya kalian tempati saja. Kalau seperti ini jadi terasa aneh." Suara Sun Quan menghentikan langkah Lu Xun. Sementara yang lain saling berpandangan. Memang sih jadi terlihat bolong-bolong dan berjarak kalau kami menempati bangku masing-masing. Tapi, menempati bangku Jendral senior..?
"Ada apa? Ayolah, hari ini aku yang memimpin. Dan aku tidak ingin ada jarak karena kalian semua sudah seperti keluargaku." Lanjutnya.
Lu Meng menggeser duduknya. Sementara bangku disebelahnya dibiarkan kosong.
Da dan Xiao kemudian duduk berhadapan.
"Tidak masalah." Sahut Gan Ning sambil berdiri dan berjalan ke arah bangku Jendral Huang Gai di sisi sebelah kiri Sun Quan. "Hari ini aku menjadi Huang Gai." Ling Tong mengikutinya dan duduk di bangku Zhou Yu. Zhou Tai dan Taishi Ci juga pindah ke bangku sisi kanan Sun Quan. Lu Xun duduk disebelah Ling Tong. Aku? Aku memilih duduk di sebelah Taishi Ci, kan hanya tinggal pindah beberapa bangku. Daripada harus berputar duduk disisi kanan. Taishi Ci tersenyum dan menggeserkan bangku untukku. Aku mengucapkan terima kasih. Hmm, ternyata dia baik juga. Nah, begitulah urutannya. Saat duduk aku baru sadar kalau aku tepat berhadapan dengan Lu Xun. Eh? Kenapa dia terus melihatku seperti itu? A..apa ada yang salah? Aku hanya bisa menunduk, mata itu.. Jadi grogi nih..!
"Yu Na? Kau baik-baik saja..?" Aku tidak mendengar apa yang ditanyakan Sun Quan hingga Taishi Ci menepuk pundakku. "Ha? Eh, ya..ya.. Ada apa?"
"Tuan Sun Quan bertanya padamu." Jawabnya. Aku melihat Sun Quan.
"Ma..maafkan aku pangeran Sun Quan." Aduh, dia tanya apa tadi?
"Kau tidak apa-apa Yu Na? Apa kau sakit?" Tanya Sun Quan. Semua melihat ke arahku.
"Ah..eh..ti..tidak..a..aku baik-baik saja."
"Kalau kau kurang sehat sebaiknya kembali beristirahat saja.." Kata Shang Xiang cemas. "Pelayan akan mengantarkan makananmu."
"Eh? Ta..tapi sungguh, aku tidak apa-apa, aku hanya tidak mendengar apa yang ditanyakan pangeran Sun Quan." Jawabku. Kenapa mereka mencemaskanku? Sun Quan tersenyum lalu mengulangi pertanyaannya.
"Begitu. Aku tadi bertanya apa kau mau duduk disebelah master Lu Meng? Bangkunya kosong karena temannya terlambat datang."
"Ah? Su..sungguh sebuah kehormatan, ta..tapi, aku disini saja pangeran Quan." Jawabku kemudian. Yang benar saja! Masa duduk di bangku strategis kerajaan? Aku kan orang biasa.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Mungkin dia ingin lebih mengenal Taishi Ci." Celetuk Ling Tong. He? Aku cuma tidak mau repot pindah bangku. Sun Quan tersenyum, "Baiklah, kalau begitu mari kita segera makan."
Saat makan Taishi Ci memperhatikan tanganku, lah aku kan risih, jadi sebaiknya kutanya saja,
"Maaf, Taishi Ci, apa ada yang aneh..?"
Dia terkejut. Semua menoleh ke arah kami. "Eh.. Tidak, hanya saja.." Jawabnya. "Hanya saja cara kau memegang sumpit mengingatkanku pada ibu."
"Hey, kau kan baru saja menemui ibumu. Lagipula Yu Na tidak tua seperti ibumu." Sorak Gan Ning.
Taishi Ci nyengir. "Aku tidak mengatakan Yu Na seperti ibu, tapi caranya memegang sumpit itu yang seperti ibu. Aku pikir Yu Na pasti lebih cocok jadi adikku. Kalau saja dia mau.."
Ah? Ada orang yang bersedia jadi kakakku! Aku akan punya kakak laki-laki yang kuat dan gagah! Benarkah yang kudengar barusan? Aku menatapnya tak percaya.
"Be..benarkah?" Tanyaku. Taishi Ci melongo. "Apa?"
"Yang tadi.. jadi adikmu.."
"Ahahaha, itu.. Tidak apa-apa kalau kau tidak suka Yu Na, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya."
"Bukan begitu! Aku.. Ingin punya kakak laki-laki! Jadi..a..aku kira tadi.." Tiba-tiba dia memegang bahuku. Kalimatku terhenti.
"Kau tidak bercanda kan? Aku dari dulu ingin punya adik perempuan yang bisa kulindungi. Aku selalu iri dengan kedekatan Sun bersaudara. Saat melihatmu, aku membayangkan kau lah sosok adik bagiku. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Karena mungkin kau tidak akan suka dan tidak mau. Sekarang, kau sudah tahu kan.." Suasana hening.
"Makanya aku bilang, kalau kau tidak suka.."
"A..aku suka!" Teriakku. Taishi Ci menatapku. Matanya berbinar. "Benarkah?"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, mulai hari ini kita bersaudara! Aku kakakmu dan kau adikku! Aku berjanji akan selalu menjagamu. Hey, kalau ada waktu aku akan mengajakmu menemui ibu." Lanjutnya sambil menepuk bahuku.
"Ehm.." Suara Sun Quan mengagetkan kami. Mengingatkanku kalau kami masih di ruang makan. "Ma..maaf.."
"Hmm.. Sepertinya mereka bisa jadi saudara yang kompak. Laki-laki yang ingin mendekati Yu Na harus berhadapan dulu dengan Taishi Ci," kata Lu Meng.
"Kasihan.." Gumam Gan Ning.
"Itu benar." Sahut Taishi Ci bangga.
"Hahahaha.. Memang seharusnya begitu kan? Untuk membuktikan kesungguhan mereka. Kalau begitu mari bersulang untuk persaudaraan Taishi Ci dan Yu Na." Lanjut Sun Quan. Kami pun bersulang. Aku senang sekali hari ini. Mendapat kejutan manis di pagi hari, melihat Lu Xun kembali, dan sekarang, punya kakak laki-laki yang akan selalu menjagaku. Tuhan benar-benar baik.. Sesaat aku lupa pada apa yang dikatakan kakek..
Setelah beristirahat sebentar akan ada latihan. Semacam sparing partner. Mereka akan saling berhadapan satu lawan satu untuk mengasah kemampuan bertarung. Para cowo itu berpencar untuk menyiapkan perlengkapannya. Shang Xiang ingin ikut dan memaksaku untuk ikut. Qiaos juga ikut katanya. Aku terpaksa mengikuti kemauannya, meskipun aku sama sekali tidak bisa berkelahi. Saat akan menuju tempat latihan, sebuah suara memanggilku,
"Na..!" Suara Lu Xun, suara yang kurindukan, astaga, sepertinya aku menyukainya. Aku melihat ke arah suara itu, dia menuju ke arahku setengah berlari sambil membawa beberapa gulungan kertas.
"Ya..?" Sahutku.
"Kau akan ikut bertarung?" Tanyanya sambil berjalan beriringan denganku dan Shang Xiang.
"Ahaha.. Mana mungkin.. Aku kan tidak bisa bertarung.. Aku akan menjadi cheerleader saja." Jawabku sambil nyengir kuda.
"Menjadi..apa?" Shang Xiang dan Lu Xun terlihat bingung. Ups, aku salah bicara lagi. Tiba-tiba,
"Shang Xiang! Ooii," Teriakan Gan Ning yang berlari ke arah kami menghentikan langkah kami bertiga. "Apa?" Gertak Shang Xiang.
"Kau melupakan senjatamu!" Sahut Gan Ning.
"Senjata apa?" Shang Xiang bingung.
"Senjata.. Aahh, sudahlah, Quan menyuruhku memanggilmu.." Kata Gan Ning sambil menarik tangan Shang Xiang, meninggalkan aku dan Xun yang saling berpandangan bingung. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke ruang latihan. Setelah diam beberapa saat, Lu Xun berkata,
"Jepitan itu cocok di rambutmu.."
Aku terkejut sekaligus malu dipuji begitu. "...terima kasih.." Jawabku.
"Apa..kau..su..suka?" Tanyanya ragu-ragu. Apa? Ja..jangan-jangan dia yang..
"Jadi.. Ini.." Aku menatapnya.
"Ng.. A..aku membelinya saat perjalanan pulang di Xu Chiang. Tadinya aku hanya menemani Gong Ji mencari hadiah untuk orang yang disukainya, lalu aku melihat jepitan ini.. Aku tidak tahu warna yang kau suka. Ta.. Tapi aku pikir ini cocok untukmu.. Aku harap kau suka.." Lagi-lagi wajahnya memerah. Tentu saja aku suka! Sangat suka! "Ya.. Te.. terima kasih ya.." Jawabku sambil menunduk. Pasti wajahku sudah semerah tomat! Aku tidak mau dia melihatnya!
"Aku senang kau memakainya.."
"Ngg.. Lalu.. Bunga itu..?"
"Oh itu, hahahaha, pasti jelek sekali ya, aku benar-benar tidak berbakat, padahal sudah diajari Gong Ji. Tapi hasilnya malah seperti itu. Hahahaha.." Dia tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Jadi kau merangkainya sendiri? Tidak jelek kok, sangat indah.. Aku menyukainya.."
"Benarkah?"
"Ya.."
"Nngg.. Na.. Aku.. aku.."
"Kakak Li!" Tiba-tiba sebuah suara memanggilku. Xiao En, dengan baju prajuritnya! "Waaa.. Xiao En! Kau sudah jadi prajurit yang gagah!" Ujarku padanya.
"Aaa.. Aku ini masih calon prajurit. Lagipula ini kan berkat kakak Li, aku ingin berterima kasih pada kakak. Kalau waktu itu tidak ada kakak, aku pasti sudah mati." Jawabnya sambil memberi hormat padaku dan Xun.
"Eh jangan berkata begitu, mana ibumu?" Tanyaku, sementara Lu Xun menatap kami bingung.
"Ibu sedang menjahit, katanya ingin menjahit sesuatu untuk kakak Li, sebagai tanda terima kasih."
"Aah, tidak perlu begituu.."
"Tidak apa-apa kakak Li, itu hanya hadiah kecil tanda terima kasih. Ng.. Anu, maaf, apakah Anda Jendral Taishi Ci? Anda ternyata masih sangat muda. Oiya, namaku Xiao En, prajurit baru di unit Anda.." Katanya kemudian sambil memberi hormat pada Xun.
"Bukan. Namaku Lu Xun." Jawab Xun masih dengan raut bingung.
"Oh? Maafkan aku, Jendral Lu Xun."
"Jangan memanggilku Jendral. Aku juga masih belajar, sama sepertimu." Ujarnya merendah. Xiao En memandangnya tidak percaya.
"Xun, tapi kau kan seorang.." Kalimatku terputus karena jari telunjuknya tiba-tiba menutup mulutku. Sambil menggelengkan kepala dan mengeluarkan senyum mautnya dia berkata,"Aku masih belajar."
"Begitu. Oya kakak Li, kenapa tidak bersama pangeran Sun Quan?" Tanya Xiao En. Heh? Kenapa aku harus bersama Quan?
"Bukannya tadi beliau bersama Gan Ning dan kakak Xiang?" Aku malah balik bertanya.
"Tapi tadi aku berpapasan dengannya. Aku ingin berterima kasih tapi beliau terlihat terburu-buru. Apa kalian bertengkar? Jangan-jangan cemburu melihatmu dan Jendral Lu.."
Heeeh? Bicara apa anak ini?
"Xiao En, mana mungkin begituu.." Ujarku.
"Ta..tapi..bukannya kakak Li dan pangeran.. Wa..waktu itu seperti.. Beliau sangat memperhatikan kakak Li.. Ja.. Jadi aku mengira.." Anak itu malah ngomong ga jelas. Duh,dia salah paham..
"Xiao En, itu tidak mungkin, pangeran Sun Quan sudah menganggapku seperti adiknya sendiri" Aku membuat kesimpulan sendiri. Sudahlah, anggap saja begitu.
"Oh begitu.. Jadi, yang mana?" Tanyanya.
"Apanya?"
"Kakak.. Kau berjanji akan mengenalkanku padanya.."
"Sudah kubilang tidak ada!"
"Ah.. Aku tahu.. Kakak pasti malu.. Jangan-jangan.."
"Xiao En, sudah kubilang kan?"
"Baiklah, baiklah, ah.. Aku harus kembali ke kamp, dan kakak juga sepertinya ada keperluan ya? Kalau begitu aku pergi dulu. Jendral Lu, jaga kakak Li ya.." Katanya kemudian sambil melambaikan tangannya. Lu Xun tersenyum dan mengangguk.
"Xiao En.. Dasar.." Gumamku.
"Dia anak yang baik. Sepertinya dia sangat menyukaimu, Na. Seperti kakak dan adik. Kalian kenal dimana? " Tanya Xun sambil berjalan.
"Di kota, waktu itu kakak Xiang dan pangeran Sun Quan mengajakku. Saat kalian ditugaskan."
"Oh.. Lalu, dia mengatakan kau menolongnya? Memangnya terjadi sesuatu?"
"Sebenarnya tidak begitu. Aku hanya memberikan kantong uangku padanya. Waktu itu dia ingin membeli obat untuk ibunya yang sakit. Tapi uangnya direbut para preman pasar.."
"Hmm begitu.. Lalu?"
"Ya.. Begitu, jadi bukan aku yang menolongnya. Tapi ada kakak cantik yang membantu kami dari preman-preman itu.."
"Kakak cantik?"
"Ya, dia sangat cantik, dan dia hebat! Dia bisa mengalahkan 3 orang preman dalam waktu singkat. Tapi.. Dia langsung pergi setelah mengalahkan preman itu. Aku bahkan tidak sempat menanyakan namanya.."
Xun hanya tersenyum mendengar semua penjelasanku.
"Kenapa tersenyum begitu?" Tanyaku.
"Aku senang melihatmu bersemangat. Seperti bintang di timur Wu." Jawabnya. "Sepertinya kau sangat mengagumi wanita itu ya?"
"Tentu saja! Dia wanita yang hebat.."
"Umm.."
Dan kami pun sampai ditempat latihan dimana semua orang ternyata sudah berkumpul. Loh? Mereka lewat mana? Tadi aku hanya bersama Xun saja. Pasti ada jalan pintas lain! Atau, jangan-jangan anak ini menipuku lagi dengan membawaku berputar-putar. Ih, menyebalkan! Tapi aku suka XD
